Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


SEHAT JIWA PADA USIA SEKOLAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan individu Praktek Profesi Ners
Departemen Keperawatan Jiwa

Oleh:

Nama : Dian Permatasari


NIM : 2007.14901.293

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2021
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


SEHAT JIWA PADA USIA SEKOLAH

Hari :
Tanggal :

Disusun oleh:

Nama : Dian Permatasari


NIM : 2007.14901.293

Disetujui oleh:

Penguji Pendidikan Penguji Lahan

( ) ( )
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Defenisi Anak Usia Sekolah


Masa usia sekolah sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung
dari usia enam hingga kira-kira usia dua belas tahun. Karakteristik utama usia
sekolah adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam
banyak segi dan bidang, diantaranya perbedaan dalam intelegensi,
kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan
perkembangan fisik (Untario, 2004).
Selanjutnya seorang anak mulai bersekolah dimana ia akan memperoleh
pendidikan secara formal dari guru/pengajar/pendidik. Sekolah adalah tempat
sesudah keluarga dimana anak akan memperoleh pendidikan. Oleh karena
itu sekolah merupakan lembaga yang sangat penting didalam pembentukan
kepribadian anak dan menentukan mutu anak tersebut dikemudian hari.
Menurut Nasution (1993, dalam Djamarah, 2008) masa usia sekolah
sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun
hingga kira-kira sebelas atau duabelas tahun. Usia ini ditandai dengan
mulainya anak masuk sekolah dasar dan dimulainya sejarah baru dalam
kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya.
Para guru mengenal masa ini sebagai masa sekolah oleh karena pada usia
inilah anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal, tetapi bisa
juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar
maupun masa matang untuk sekolah. Disebut masa matang untuk belajar
karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu, sedangkan disebut
masa matang untuk sekolah karena anak sudah menamatkan taman kanak-
kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya dan anak
sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru yang dapat diberikan dari
sekolah.
Masa usia sekolah dianggap oleh Suryabrata (2008) sebagai masa
intelektual atau masa keserasian bersekolah. Tetapi dia tidak berani
mengatakan pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah
dasar. Kesukaran penentuan ketepatan umur matang untuk masuk sekolah
dasar disebabkan kematangan itu tidak hanya ditentukan oleh umur semata,
tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti yang sudah
dibahas sebelumnya.
Defenisi-defenisi yang telah diungkapkan oleh beberapa ahli di atas, jika
disimpulkan mengatakan bahwa usia sekolah adalah usia yang sangat
penting dalam perjalanan hidup anak, karena usia inilah pertama sekali anak
diperkenalkan dengan dunia pendidikan formal, dimana dalam pendidikan
formal anak sudah dituntut mampu menerapkan intelektualnya. Dalam masa
ini juga anak mengalami pertumbuhan fisik serta perkembangan emosional
dan sosial, anak senang berkumpul dengan teman sebaya untuk melakukan
sosialisasi. Rentang umur usia sekolah antara enam sampai dua belas tahun
sesuai dengan pendapat Nasution (1993, dalam Djamarah, 2008).
Sekolah berperan sebagai agens untuk mentransmisikan nilai-nilai
masyarakat pada setiap generasi selanjutnya dan mengatur berbagai
hubungan dengan teman sebaya. Sebagai agens sosialisasi kedua setelah
keluarga, sekolah memberikan pengaruh besar pada perkembangan sosial
anak. Masuk sekolah menyebabkan terputusnya struktur dunia anak. Bagi
sebagian besar anak, masuk sekolah merupakan pengalaman pertama
mereka untuk menyesuaikan diri dengan pola kelompok yang dipaksakan
oleh orang dewasa selain orang tua dan yang memiliki tanggung jawab
terhadap banyak anak secara konstan mengawasi anak per individu. Anak
ingin pergi ke sekolah dan biasanya menyesuaikan diri terhadap kondisi yang
baru dengan sedikit kesulitan. Penyesuaian yang berhasil secara langsung
berhubungan dengan kematangan fisik dan emosional anak, dan kesiapan
orangtua dalam menerima perpisahan karena anak sudah masuk sekolah.
Selain itu sebagian besar anak telah memiliki pengalaman dari perawatan
sehari-hari, pengalaman prasekolah (mis, playgroup dan taman kanak-
kanak).
Guru dalam hal ini memfasilitasi transisi dari rumah ke sekolah, guru
harus memiliki karakteristik kepribadian yang memungkinkan mereka
memenuhi kebutuhan anak yang lebih kecil. Guru seperti halnya orangtua,
memperhatikan kesejahteraan psikologis dan emosional anak. Walaupun
fungsi guru dan orangtua berbeda, keduanya memberikan batasan perilaku
dan keduanya berada pada posisi untuk menguatkan standar perilaku.
Namun, tanggung jawab utama guru adalah menstimulasi dan membimbing
perkembangan intelektual anak, dan bukan memberikan kesejahteraan fisik
anak diluar lingkungan sekolah. Guru bersama- sama orangtua memberi
pengaruh dalam menentukan sikap dan nilai anak. Guru yang membuat
pernyataan pendukung yang meyakinkan atau memuji anak menggunakan
pernyataan yang dapt diterima dan jelas yang membantu anak memperhalus
ide dan perasaanya, serta memberikan bimbingan yang membantu anak
mecahkan masalahnya sendiri untuk memperluas dan mengembangkan
konsep diri positif pada anak usia sekolah (Wong, 2008).

B. Karakteristik Anak Usia Sekolah


Karakteristik pada masa usia sekolah ini dapat diperinci menjadi 2 fase :
1. Masa kelas rendah sekolah dasar (6 - 9 tahun) dengan karakteristik :
a. Adanya korelasi yang tinggi antara keadaan jasmani dan prestasi
sekolah.
b. Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan.
c. Ada kecenderungan memuji diri sendiri.
d. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain.
e. Jika tidak dapat menyelesaikan sesuatu maka sesuatu tersebut tidak
dianggap penting, misalnya dalam mengerjakan soal, jika soal
tersebut tidak mampu dijawab maka soal itu dianggap tidak penting.
f. Anak menghendaki nilai-nilai (angka rapor, skor) yang baik, tanpa
mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau
tidak.
2. Masa kelas tinggi sekolah dasar (9 - 13 tahun), dengan karakteristik :
a. Adanya perhatian kepada kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
b. Amat realistik, ingin tahu, ingin belajar.
c. Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal dan mata
pelajaran khusus.
d. Membutuhkan bantuan guru atau orang dewasa lainnnya untuk
menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya.
e. Anak memandang nilai (angka rapor) adalah ukuran yang tepat
mengenaiprestasi sekolahnya.
f. Gemar membentuk kelompok-kelompok sebaya, biasanya untuk
dapatbermain bersama dan sering membuat peraturan sendiri:
 Karakteristik- karakteristik ini diperjelas lagi oleh beberapa teori dari
ahli psikologi, dimana para ahli memandang anak dari beberapa
sudut pandang dan dalam bahasan ini akan peneliti uraikan dari
aspek psikososial saja karena berhubungan dengan masalah yang
akan diteliti.

C. Tugas – tugas Perkembangan pada Masa Sekolah


1. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan
Melalui pertumbuhan fisik dan otak, anak belajar dan berlari semakin
stabil, makin mantap dan cepat. Pada masa sekolah anak sudah sampai
pada taraf penguasaan otot, sehingga sudah dapat berbaris, melakukan
senam pagi dan permainan-permainan ringan, seperti sepak bola, loncat
tali, berenang, dan sebagainya.
a. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri
sebagai makhluk biologis. Hakikat tugas ini ialah:
 mengembangkan kebiasaan untuk memelihara badan, meliputi
kebersihan, keselamatan diri, dan kesehatan
 mengembangkan sikap positif terhadap jenis kelaminnya (pria
atau wanita) dan juga menerima dirinya (baik rupa wajahnya
maupun postur tubuhnya) secara positif.
2. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya
Yakni belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru
serta teman-teman sebayanya. Pergaulan anak di sekolah atau teman
sebayanya mungkin diwarnai perasaan senang, karena secara kebetulan
temannya itu berbudi baik, tetapi mungkin juga diwarnai oleh perasaan
tidak senang karena teman sepermainannya suka mengganggu atau
nakal.
3. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya
Apabila anak sudah masuk sekolah, perbedaan jenis kelamin akan
semakin tampak. Dari segi permainan umpamanya akan tampak bahwa
anak laki-laki tidak akan memperbolehkan anak perempuan mengikuti
permainnan khas yang laki-laki, seperti main kelereng, main bola, dan
layang-layang.
4. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
Salah satu sebab masa usia 6-12 tahun disebut masa sekolah karena
pertumbuhan jasmani dan perkembangan rohaninya sudah cukup
matang untuk menerima pengajaran. Untuk dapat hidup dalam
masyarakat yang berbudaya, paling sedikit anak harus tamat sekolah
dasar (SD), karena dari sekolah dasar anak sudah memperoleh
keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung.
5. Belajar mengembangkan sikap sehari-hari
Apabila kita sudah melihat sesuatu, mendengar, mengecap, mencium,
dan mengalami, tinggallah suatu ingatan pada kita. Ingatan mengenai
pengamatn yang telah lalu itu disebut konsep (tanggapan). Demikianlah
kita mempunyai tanggapan tentang ayah, ibu, rumah, pakaian, buku,
sekolah, dan juga mengenai gerak-gerik yang dilakukan, seperti
berbicara, berjalan, berenang, dan menulis. Bertambahnya pengalaman
akan menambah perbendaharaan konsep pada anak. Tak perlu diuraikan
lagi bahwa dalam kehidupan sangat banyak konsep yang dibutuhkan.
Semakin bertambah pengetahuan, semakin bertambah pula konsep yang
diperoleh. Tugas sekolah yaitu menanamkan konsep-konsep yang jelas
dan benar. Konsep-konsep itu meliputi kaidah-kaidah atau ajaran agama
(moral), ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan sebagainya. Untuk
mengembangkan tugas perkembangan anak ini, maka guru dalam
mendidik/ mengajar di sekolah sebaiknya memberikan bimbingan kepada
anak untuk:
 Banyak melihat, mendengar, dan mengalami sebanyak-banyaknya
tentang sesuatu yang bermanfaat untuk peningkatan ilmu dan
kehidupan bermasyarakat.
 Banyak membaca buku-buku atau media cetak lainnya. Semakin
dipahami konsep-konsep tersebut, semakin mudah untuk
memperbincangkannya dan semakin mudah pula bagi anak untuk
mempergunakannya pada waktu berpikir.
6. Mengembangkan kata hati
Hakikat tugas ini ialah mengambangkan sikap dan perasaan yang
berhubungan dengan norma-norma agama. Hal ini menyangkut
penerimaan dan penghargaan terhadap peraturan agama (moral) disertai
dengan perasaan senang untuk melakukan tau tidak melakukannya.
Tugas perkembangan ini berhubungan dengan masalah benar-salah,
boleh-tidak boleh, seperti jujur itu baik, bohong itu buruk, dan sebagainya.
7. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
Hakikat tugas ini adalah untuk dapat menjadi orang yang berdiri sendiri
dalam arti dapat membuat rencana, berbuat untuk masa sekarang dan
masa yang akan datang bebas dari pengaruh orangtua dan orang lain.
8. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan
lembaga- lembaga
Hakikat tugas ini ialah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan
menghargai hak orang lain. Umpamanya, mengembangkan sikap tolong-
menolong, sikap tengggang rasa, mau bekerjasama dengan orang lain,
toleransi terhadap pendapat orang lain dan menghargai hak orang lain
(Yusuf, 2006)

D. Teori Perkembangan Anak Usia Sekolah


1. Teori Perkembangan Psikososial Erik Erikson.
Menurut Erickson (2000, dalam Keliat, 2006) perkembangan
psikososial anak usia sekolah adalah peningkatan kemampuan anak usia
7-12 tahun dalam berbagai hal, termasuk interaksi dan prestasi belajar
dalam menghasilkan suatu karya berdasarkan kemampuan diri sendiri.
Tantangan psikososial untuk tahun- tahun sekolah inilah yang disebut
Erikson industry versus inferiority (ketekunan versus perasaan rendah
diri). Anak mulai melihat hubungan antara ketekunan dan perasaan
senang bila sebuah pekerjaan selesai. Kemampuan anak untuk
berpindah-pindah antara dunia rumah, lingkungan tempat tinggal, dan
sekolah serta untuk menguasai hal-hal akademis, kegiatan kelompok dan
teman-teman akan menumbuhkan perasaan kompeten. Kesulitan dalam
menghadapi tantangan ini dapat menghasilkan perasaan rendah diri.
Dengan kata lain pencapaian kemampuan ini akan membuat anak bangga
terhadap dirinya. Hambatan atau kegagalan mencapai kemampuan ini
menyebabkan anak merasa rendah diri.
Hubungan dengan teman sebaya sehari-hari memberikan interaksi
sosial paling penting untuk anak usia sekolah. Untuk pertama kalinya,
anak mampu bergabung dalam aktivitas kelompok dengan antusiasme
yang tidak terbatas dan artisipasi yang mantap. Pengalaman berharga
dipelajari dari interaksi sehari-hari dengan teman sebaya. Pertama, anak
belajar menghargai beberapa perbedaan sudut pandang yang
ditunjukkan dalam kelompok teman sebaya. Pada saat anak berinterakasi
dengan teman sebaya yang memandang dunia ini secara berbeda, anak
mulai menyadari bahwa sudut pandang mereka memiliki keterbatasan.
Dampaknya, anak belajar untuk berdebat, membujuk, berunding,
bekerjasama, dan berkompromi untuk mempertahankan persahabatan.
Kedua, anak bertambah sensitif terhadap norma sosial dan tekanan
dari kelompok teman sebaya. Kelompok teman sebaya menetapkan
standar untuk menerima dan menolak, dan anak-anak mungkin ingin
memodifikasi perilaku mereka agar dapat diterima kelompok. Kebutuhan
untuk diterima teman sebaya menjadi pengaruh kuat untuk penyesuaian.
Ketiga, interaksi diantara teman sebaya berperan penting dalam
pembentukan hubungan persahabatan dengan teman sesama jenis.
Periode usia sekolah adalah waktu ketika anak memiliki “sahabat” yaitu
teman tempat berbagi rahasia, lelucon pribadi, dan petualangan; mereka
saling membantu jika temannya menghadapi masalah. (Wong, 2008)
Erickson (2000, dalam Keliat, 2006) mengatakan bahwa anak usia
sekolah tertarik terhadap pencapaian hasil belajar. Mereka
mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan
pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun pada usia ini membutuhkan
keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang
dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan
dapat memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri,
sehingga dapat mengakibatkan kesulitan belajar pada anak (Untario,
2004).
Tugas perkembangan pada usia sekolah ini menurut Erickson adalah
menyelesaikan tugas (sekolah atau rumah) yang diberikan, mempunyai
rasa bersaing, senang berkelompok dengan teman sebaya, mempunyai
sahabat karib, dan berperan dalam kegiatan kelompok. Sedangkan
penyimpangan perkembangan pada anak usia sekolah tidak mau
mengerjakan tugas sekolah atau membangkang pada orangtua, tidak ada
kemauan untuk bersaing, terkesan malas, tidak mau terlibat dalam
kegiatan kelompok dan memisahkan diri dari sekolah dan teman- teman
sepermainan Nasution (1993, dalam Djamarah, 2008).
Menurut Paris dan Cunningham (1996, dalam Woolfolk, 2009), cara
anak menghadapi tantangan-tantangan ini memiliki implikasi pada
pengalaman sekolah selanjutnya. Dua diantara prediktor terbaik untuk
drop out dari sekolah adalah rata-rata nilai yang rendah di kelas 3 dan
pernah tinggal kelas di SD. Kemudian Entwisle dan Alexander (1998,
dalam Woolfolk, 2009) mengemukakan “Seberapa sukses anak di
Sekolah Dasar penting bagi kesuksesan mereka di masa depan dibanding
prestasi sekolah di waktu-waktu lainnya”. Oleh karena itu, anak usia
sekolah harus lebih diperhatikan sehingga pada masa dewasa anak tidak
mengalami hambatan dalam prestasi dan sosialisasi.
2. Teori Perkembangan Kognitif Piaget.
Piaget (1985, dalam Woolfolk, 2009) mengidentifikasi tahapan
perkembangan intelektual yang dilalui anak pada usia sekolah
adalah tahap op erasional kongkrit. Pada tahap ini anak
mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta
perseptual, artinya anak mampu berpikir logis, tetapi masih terbatas
pada objek-objek kongkrit dan mampu melakukan penilaian terhadap
sesuatu hal yang kongkrit, atau dengan kata lain prinsip bahwa jumlah
atau banyaknya sesuatu tetap sama meskipun penataan atau
penampilannya diubah, selama tidak ada yang ditambahkan atau
diambil. Operasi penting lain yang dikuasai pada tahap ini adalah
pengelompokan. Pengelompokan bergantung pada kemampuan anak
untuk memfokuskan perhatiannya pada salah satu karakteristik objek
diantara sejumlah karakteristik (misalnya,warna) yang ada dan
mengelompokkan objek-objek menurut karakteristik itu. Anak pada tahap
ini juga memiliki kemampuan mengurutkan, artinya membuat anak
mampu melakukan penataan urut mulai dari besar sampai kecil atau
sebaliknya. Pemahaman tentang ini memungkinkan anak untuk
mengonstruksikan rangkaian-rangkaian logis yang A < B < C (A lebih
kecil daripada B lebih kecil daripada C).
Kemampuan yang dimiliki anak untuk menangani operasi-operasi
seperti penilaian, pengelompokan dan pengurutan pada tahap
operasional kongkrit dapat mengembangkan sistem berpikir yang
lengkap dan sangat logis. Akan tetapi sistem berpikir ini masih dikaitkan
dengan realitas fisik. Logikanya didasarkan pada situasi-situasi kongkrit
yang dapat diorganisasikan, dikelompokkan atau dimanipulasi.
Perkembangan afektif utama selama tahap operasional kongkrit
adalah penilaian perasaan. Perkembangan tersebut merupakan
peningkatan cara berpikir efektif. Dengan kata lain dapat dinyatakan
bahwa penyusunan konsep pada anak muncul dari suatu penilaian
terhadap kondisi yang memungkinkan anak untuk meyakini bahwa motif
akan mampu membuat keputusan moral.
Bertitik tolak pada perkembangan psikososial dan kognitif anak usia
sekolah tersebut, menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik
sendiri, dimana proses berpikirnya belum dapat dipisahkan dari dunia
kongkrit atau hal- hal yang faktual, sedangkan perkembangan
psikososial anak usia sekolah masih berpijak pada prinsip yang sama
dimana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal- hal yang diamati. Pada
usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak
hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan
dalam kehidupan yang nyata di lingkungan masyarakat.
Seperti dikatakan Darmodjo (1992, dalam Djamarah, 2008) anak
usia sekolah adalah anak yang sedang mengalami pertumbuhan baik
pertumbuhanintelektual, emosional maupun pertumbuhan fisik, dimana
kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak
sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari tiga
aspek tersebut. Dengan perbedaan karakteristik tersebut diharapkan
praktisi pendidikan dapat mengemas perencanaan dan pengalaman
belajar yang akan diberikan kepada anak didik sehingga semua anak
dapat memahami materi pelajaran walaupun adanya perbedaan
tersebut, karena tidak dapat dipungkiri perkembangan anak
berhubungan erat dengan proses belajarnya.
E. PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH
1. Fisik dan motoric
BB 16-23,6 kg, TB 106,6-123,5 cm, pemunculan gigi insisor mandibula
tengah kehilangan gigi pertama, sering kembali menggigit jari, lebih
menyadari tangan sebagai alat, suka menggambar, melukis dan
mewarnai.
a. Stimulasi motorik kasar yang bisa dilakukan:
 Bermain kasti, basket, dan bola kaki. Kegiatan ini sangat baik untuk
melatih keterampilan menggunakan otot kaki. Anak juga belajar
mengenal adanya aturan main, sportivitas, kompetisi dan kerja sama
dalam sebuah tim.
 Berenang. Manfaat dari kegiatan ini sangat banyak karena melatih
semua unsur motorik kasar anak. Anak pun mendapat pelajaran dan
latihan mengenai perbedaan berat jenis maupun keseimbangan
tubuh.
 Lompat jauh. Manfaatnya hampir sama dengan bermain bola kaki
dan sejenisnya. Pada kegiatan ini anak mendapatkan point
plus, yaitu prediksi terhadap jarak.
 Lari maraton. Manfaatnya mirip sekali dengan lompat jauh, hanya
caranya yang berbeda.
 Kegiatan outbound. Seperti halnya berenang, maka dengan ber-
outbound semua kemampuan motorik kasar dilatih. Malahan anak
bisa mendapatkan hal yang lain, seperti keberanian, survival, dan
kedekatan dengan Maha Pencipta serta kesadaran pentingnya
menjaga keharmonisan antara manusia dengan hewan dan
tumbuhan.
b. Stimulasi motorik halus:
 Menggambar, melukis dengan berbagai media.
 Membuat kerajinan dari tanah liat.
 Membuat seni kerajinan tangan, misalnya membuat boneka dari
kain perca.
 Bermain alat musik seperti gitar, biola, piano dan sebagainya.
2. Mental
Mengembangkan konsep angka, mengetahui pagi atau siang, mengetahui
bagaimana yang cantik, jelek dr wajah, mematuhi 3 perintah sekaligus,
mengetahui tangan kanan dan kiri, mendefinisikan objek umum spt garpu,
kursi.
3. Adaptif
Pada saat bermain: memotong, melipat, menjahit dengan kasar bila diberi
jarum, mandi tanpa pengawasan, tidur sendiri, membaca dari ingatan, dan
menikmati permainan mengeja.
4. Personal-sosial
Dapat berbagi dan bekerjasama dengan lebih baik, mempunyai cara
sendiri untuk melakukan sesuatu, sering cemburu terhadap adik,
meningkatkan sosialisasi, dan akan curang untuk menang.
5. Stimulasi Kognitif
Sebelum menstimulasi kognisi anak, orang tua harus mengetahui terlebih
dulu perkembangan kognitifnya sesuai usia. Misalnya, untuk anak balita
perkembangan kognitifnya berkaitan dengan perkembangan berbagai
konsep dasar seperti mengenal bau, warna, huruf, angka, serta
pengetahuan umum yang akrab dengan kehidupan sehari-harinya.
Disamping itu perkembangan kognitif berkaitan erat dengan
perkembangan bahasa. Kegiatan yang bisa orang tua lakukan guna
menstimulasi kognisi anak adalah:
a. Mengadakan acara mendongeng.
b. Membaca buku cerita, baik dilakukan oleh orang tua atau si anak sendiri.
c. Menceritakan kembali suatu kisah dari buku cerita yang sudah dia baca.
d. Sharing mengenai pengalaman sehari-hari yang bisa dilakukan secara
verbal, gambar atau tulisan.
e. Berdiskusi tentang suatu tema.
f. Khusus anak-anak mengoptimalkan fungsi otak” otak kanan untuk
menstimulasi kemampuan kognitif dapat dilakukan melalui
kegiatan music & movement (gerak dan lagu) atau dengan memainkan
alat musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama.
6. Stimulasi Afeksi
Stimulasi afeksi dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan
interpersonal maupun intrapersonal anak balita maupun 6-12 tahun.
Manfaat utamanya adalah mengembangkan rasa percaya diri, memupuk
kemandirian, mengetahui dan menjalani aturan, memahami orang lain, dan
mau berbagi. Cara memberikan stimulasi bisa dengan cara sebagai
berikut:
a. Biarkan anak melakukan sendiri apa yang bisa ia lakukan.
b. Buatlah kesepakatan tentang berbagai hal yang baik/boleh dan tidak,
serta konsekuensinya. Tentu dengan bahasa yang bisa dipahami anak.
c. Berikan penghargaan untuk hal-hal yang dapat dilakukanya dengan
baik atau lebih baik dari sebelumnya. Bisa juga ketika anak dapat
mengikuti aturan (terutama pada awal mula diterapkan suatu aturan).
d. Berikan konsekuensi negatif atau punishment terhadap tingkah laku
anak yang kurang baik atau tidak sesuai dengan aturan. Untuk hal ini
perlu mempertimbangkan usia anak.
e. Berikan perhatian untuk berbagai reaksi emosi anak. Contoh, saat dia
sedih, gembira, marah, berikanlah respons yang sesuai dengan
kebutuhannya kala itu.
f. Anak difasilitasi untuk bermain peran.
g. Biasakan anak untuk mampu mengungkapkan perasaanya, baik
secara verbal, tulisan, ataupun gambar.
h. Biasakan mau berbagi dalam setiap kesempatan.
i. Khusus untuk anak 6-12 tahun, mulai perkenalkan dengan berbagai
permainan dalam rangka mengenalkan aturan main, sportivitas, dan
kompetisi.
7. Stimulasi Spiritual
Sifat spiritual berkaitan erat dengan kesadaran adanya Sang Pencipta. Di
sinilah anak belajar tentang kewajiban tertentu sebagai hamba Tuhan
sesuai ajaran agama masing-masing. Selain itu kecerdasan spiritual juga
berkaitan dengan pemahaman bahwa ia menjadi bagian dari alam
semesta. Di sini anak memiliki peran tertentu supaya bisa hidup harmonis
dengan seluruh makhluk Tuhan. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk
menumbuhkembangkan kecerdasan spritual anak balita dan usia 6-12
tahun adalah sebagai berikut:
a. Lakukan diskusi bahwa semua benda di sekitarnya ada yang
menciptakan. Contoh, “Siapa yang membuat meja ini?” anak
menjawab, “Tukang kayu.” Lalu kita berikan lagi pemahaman padanya
“Apakah sama meja ini dengan tukang kayu yang membuatnya?”
b. Mengaitkan materi-materi pelajaran atau hal-hal di sekitarnya dengan
kebesaran Tuhan, terlebih pada pelajaran ilmu pasti.
c. Memutarkan video tentang berbagai hal yang menakjubkan di alam
dengan kebesaran Sang Pencipta.
d. Menceritakan kisah manusia-manusia pilihan Tuhan.
e. Berdiskusi tentang berbagai hal dan apa yang dapat anak lakukan
sebagai manusia yang memiliki kelebihan dibanding makhluk lain di
muka bumi.
f. Meminta anak untuk membuat karangan tentang berbagai
pengalamannya ketika sedang mengalami kesulitan dan apa yang dia
lakukan. Ketika menemukan jalan keluar dari kesulitan tersebut, kaitkan
dengan betapa Tuhan itu sangat pengasih dan pemurah.
g. Memberikan pendidikan agama sekaligus membiasakannya
menjalankan ibadah yang dianjurkan dan diwajibkan.
Namun tak hanya itu yang bisa menjamin anak menjadi cerdas.
Lingkungan di mana anak berada sangat memegang peranan penting
untuk membentuknya menjadi anak yang bahagia dan sehat. Jika bicara
ideal, beginilah seharusnya lingkungan anak balita dan anak usia 6-12
tahun:
a. Dilengkapi dengan fasilitas yang mendukung, di antaranya arena
bermain lengkap dengan prasarananya.
b. Lingkungan harus ramah anak, sekaligus memberi jaminan atas
kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan keleluasaan bergerak.
c. Jika hal tersebut tidak memungkinkan untuk diwujudkan, cukuplah
membuat lingkungan yang bisa menerima dan memberi toleransi pada
anak dalam berkegiatan. Temanilah selalu anak saat berekplorasi.
Biarkan dia bebas memilih apa yang akan dikerjakan sepanjang tetap
dalam koridor keamanan, kesehatan, dan kebaikan.
Jawablah sebisa mungkin setiap pertanyaan anak. Jika tidak bisa, ajak
anak bersama-sama mencari tahu jawaban dari sumber yang bisa
dipercaya, semisal mencarinya dalam kamus atau bertanya pada
pakarnya.
G. Konsep askep
1. Pengkajian
Pengkajian pada keluarga :
a. Identitas : nama KK, alamat, pekerjaan
b. Riwayat dan tahap perkembangan
c. Lingkungan : rumah, lingkungan, sistem sosial
d. Struktur keluarga : komunikasi, peran anggota
e. Penyebab masalah keluarga dan koping
f. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga
Pengkajian Fokus pada Anak Usia Sekolah
a. Bagaimana karakteristik teman bermain ?
b. Berapa lama anak menghabiskan waktunya di sekolah ?
c. Bagaimana stimulasi terhadap tum-bang anak dan ada kah sarana
yang dimiliki?
d. Bagaimana temperamen anak saat ini ?
e. Bagaimana pola anak jika menginginkan suatu barang ?
f. Bagaimana pola orangtua menghadapi permintaan anak ?
g. Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini ?
h. Kegiatan apa yang diikuti anak selain kegiatan di sekolah ?
i. Sudahkah memperoleh imunisasi ulangan selama di sekolah ?
j. Pernahkah mendapat kecelakaan selama di sekolah atau di rumah saat
bermain?
k. Adakah penyakit yang muncul dan dialami anak selama masa ini ?
l. Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah dan kalau ada, apa
jenisnya ?
m. Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luangnya ?
n. Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga ?

2. Diagnosa Keperawatan:
Kesiapan peningkatan perkembangan Sekolah

3. Intervensi Keperawatan
a. Tujuan
 Mempertahankan pemenuhan kebutuhan fisik yang optimal
 Mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus
 Mengembangkan keterampilan berbahasa
 Mengembangkan keterampilan adaptasi psikososial
 Pembentukan identitas dan peran sesuai jenis kelamin
 Mengembangkan kecerdasan
 Mengembangkan nilai-nilai moral
 Meningkatkan peran serta keluarga dengan meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan
b. Tindakan Keperawatan
 Pemenuhan Kebutuhan Fisik yang Optimal
 Kaji pemenuhan kebutuhan fisik anak
 Ajarkan pemberian makanan dengan gizi yang seimbang
 Kaji pemberian vitamin dan imunisasi ulang (booster)
 Ajarkan kebersihan diri
 Mengembangkan Keterampilan Motorik Kasar dan Halus
 Kaji kemampuan motorik kasar dan halus anak
 Fasilitasi anak untuk bermain yang menggunakan motorik kasar
(kejar-kejaran, papan seluncur, sepak bola, dll)
 Fasilitasi anak untuk bermain yang menggunakan motorik halus
(menggambar, menulis, mewarnai, menyusun balok, dll)
 Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk anak
 Mengembangkan Keterampilan Bahasa
 Kaji keterampilan bahasa yang disukai anak
 Berikan kesempatan anak bicara dan bercerita
 Sering mengajak anak berkomunikasi
 Ajari anak belajar membaca
 Belajar bernyanyi
 Mengembangkan Keterampilan Adaptasi Psikososial
 Kaji keterampilan adaptasi psikososial anak
 Berikan kesempatan anak bermain dengan teman sebaya
 Berikan dorongan dan kesempatan untuk perkembangan
 Latih anak berhubungan dengan orang lain yang lebih dewasa
 Membentuk Identitas Peran sesuai Jenis Kelamin
 Kaji identitas dan peran sesuai dengan jenis kelamin
 Ajari mengenal bagian-bagian tubuh
 Ajari mengenal jenis kelamin sendiri dan membedakan jenis
kelamin anak lain
 Berikan pakaian dan mainan yang sesuai dengan jenis kelamin
 Mengembangkan Kecerdasan
 Kaji perkembangan kecerdasan anak
 Bimbing anak dengan imajinasinya untuk menggali kemampuan
yang dimiliki
 Bimbing anak belajar keterampilan baru
 Berikan kesempatan dan bimbing anak membantu pekerjaan
rumah sederhana
 Ajari pengenalan benda, warna, huruf, angka
 Latih membaca, menggambar, dan berhitung
 Mengembangkan Nilai Moral
 Kaji nilai-nilai moral yang sudah diajarkan pada anak
 Ajarkan dan latih menerapkan nilai agama dan budaya yang
positif
 Kenalkan anak pada nilai-nilai yang baik dan yang tidak
 Barikan pujian atas nilai-nilai positif yang dilakukan anak
 Latih kedisiplinan
 Meningkatkan peran serta keluarga dalam meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan
 Tanyakan kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak
 Tanyakan upaya yang sudah dilakukan keluarga terhadap anak
 Berikan reincforcement atas upaya positif yang sudah
dilakukan keluarga
 Ajarkan keluarga untuk secara rutin membawa anaknya ke
tempat pelayanan kesehatan terdekat
 Ajarkan pada keluarga untuk memberikan makanan bergizi
seimbang
 Berikan pendidikan kesehatan tentang tugas perkembangan
anak normal pada usia pra sekolah
DAFTAR PUSTAKA

Adriana, D (2013). Tumbuh kembang & terapi bermain anak. Jakarta : Salemba
Medika.
Apriastuti, D.A. (2013). Analisis Tingkat Pendidikan dan Pola Asuh Orang Tua
dengan Perkembangan Anak Usia 48-60 Bulan. Jurnal Ilmiah
Kebidanan.Vol. 4. No. 1 Juni 2013, hal 1-14.
Dewi, R.C.,& Oktiawati,A.,& Saputri,L.D (2015). Teori & Konsep Tumbuh
Kembang Bayi. Toddler, Anak dan Usia Remaja. Yogyakarta : Huha Medika.
Kusumaningtyas, K & Sri, W. (2016). Faktor Pendapatan dan Pendidikan Keluarga
Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak usia 3-4 tahun.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes, Vol. VII No. 1 Januari 2016, hal
53-59.

Anda mungkin juga menyukai