Anda di halaman 1dari 27

Sabtu, 26 September 2020

Notulensi Ngobrol Santuy

“6 Tugas KKNI”

D iselenggarakan oleh : HMJ FBS Universitas Negeri Medan

Pemateri : Rizaldy Putra

Boy Pratama Sembiring

Alda Marsya Ayudia

Moderator : Tasya Aulia Rahmah

Tips Kuliah

1. Orang Tua

2. Management Waktu dan Prioritas

3. Buat Target dan Capaian di Masa Kuliah

4. Asah Softskill dengan Berorganisasi

5. Tingkatkan Literasi

6. Jangan takut mencoba hal baru (Keluar dari jalur nyaman)

7. Cari Lingkungan Pertemanan yang 4M mendukung, menantang, menegur, menjaga

8. Jadilah seorang Achiever (fokus pada sasaran dan impian) bukan Mediocre (pribadi rata-rata,
mudah bosan)

9. Olahraga dan Liburan

Apa itu KKNI?

KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan
nasional, sistem pelatihan kerja nasional dan sistem penilaian kesetaraan nasional, yang dimiliki
Indonesia untuk menghasilkan sumberdaya manusia dari capaian pembelajaran, yang dimiliki setiap
insan pekerja Indonesia dalam menciptakan hasil karya serta kontribusi yang bermutu di bidang
pekerjaannya masing-masing.

KKNI menyatakan sembilan (9) jenjang kualifikasi sumberdaya manusia Indonesia yang produktif,
yang secara komprehensif mempertimbangkan dua sisi penting relevansi pendidikan dan pelatihan
yaitu kebutuhan kompetensi kerja (job competence) dalam ranah dunia kerja serta capaian
pembelajaran yang dihasilkan oleh suatu proses pendidikan.

ii
Manfaat KKNI

1. Menetapkan kualifikasi capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan


formal, nonformal, informal atau pengalaman kerja;
2. Menetapkan skema pengakuan kualifikasi capaian pembelajaran yang diperoleh melalui
pendidikan formal, nonformal, informal atau pengalaman kerja;
3. Menyetarakan kualifikasi di antara capaian pembelajaran yang diperoleh melalui
pendidikan formal, nonformal, informal atau pengalaman kerja;
4. Mengembangkan metode dan sistem pengakuan kualifikasi sumberdaya manusia dari
negara lain yang akan bekerja di Indonesia.

Dampak Penerapan KKNI

1. Meningkatnya kuantitas sumberdaya manusia Indonesia yang bermutu dan berdaya


saing internasional agar dapat menjamin terjadinya peningkatan aksesibilitas sumberdaya
manusia Indonesia ke pasar kerja nasional dan internasional;
2. Meningkatnya kontribusi capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan
formal, nonformal, informal atau pengalaman kerja dalam pertumbuhan ekonomi nasional;
3. Meningkatnya mobilitas akademik untuk meningkatkan saling pengertian dan solidaritas
dan kerjasama pendidikan tinggi antar negara di dunia;
4. Meningkatnya pengakuan negara-negara lain baik secara bilateral, regional maupun
internasional kepada Indonesia tanpa meninggalkan ciri dan kepribadian bangsa
Indonesia.

KKNI diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2012.

Berikut ini adalah contoh poin-poin capaian pembelajaran yang diharapkan dari seseorang yang
memiliki kualifikasi KKNI level 6 (alias, setara S-1):
1) Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan IPTEKS pada bidangnya dalam
penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi
2) Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian
khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan
penyelesaian masalah prosedural
3) Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu
memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok
4) Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil
kerja organisasi.

Bentuk 6 Tugas KKNI

1. Tugas Rutin (TR)


2. Critikal Book Review (CBR)
3. Critikal Jurnal Review (CJR)
4. Mini Riset (MR)
5. Rekaya Ide (RI)
6. Projek (PR)

iii
TUGAS RUTIN

Tugas Rutin adalah tugas yang secara rutin diberikan oleh dosen untuk melatihkan sikap,
pengetahuan dan keterampilan tertentu, yang dapat terdiri dari pengerjaan soal-soal yang sesuai
dengan capaian pembelajaran.

SISTEMATIKA
PENGERTIAN PROSES INDIKATOR PENILAIAN
PELAPORAN

• Melatihkan • Dilakukan pada Disesuaikan • Sikap (S)


semua setiap dengan jenis • Pengetahuan
kompetensi pertemuan a) tugas. • Keterampilan
(SKP) dan kuliah; b)
produk. responsi dan
• Entry point tutorial; c)
(entry seminar; d)
condition) praktikum,
terhadap 5 tugas praktik studio,
lainnya. praktik
bengkel, atau
praktik
lapangan baik
mandiri
maupun
kelompok, atau
terstruktur.
• Ditetapkan
berbasis
kompetensi,
materi dan
penilaian

iv
CRITICAL BOOK REVIEW

Critical book review adalah tugas yang berisi deskripsi dan analisis tentang isi buku, kesimpulan dan
critical position mahasiswa, yang dapat terdiri dari 1 (satu) bab buku teks atau 1 (satu) buku teks
secara keseluruhan. Dalam hal ini mahasiswa perlu membandingan buku-buku lainnya yang relevan
agar secara kritis dapat mereview tugas yang diberikan oleh dosen.

PENGERTIAN PROSES PELAPORAN INDIKATOR PENILAIAN

Mengkaji buku  Dosen menetapkan I. Pengantar 1. Ringkasan masalah, pertanyaan dan isu
berdasarkan buku utama dan II. Ringkasan 2. Mempertimbangkan Konteks dan Asumsi
konsep atau buku pendukung isi buku 3. Berkomunikasi perspektif sendiri, hipotesis
teori yang  Mahasiswa wajib III. Keunggulan dugaan
dipelajari dalam berkelompok Buku 4. Analisis Data Pendukung dan bukti
suatu mata dalam proses (a). Keterkaitan 5. Menggunakan Perspektif dan dugaan lainn
kuliah untuk pemahaman tetapi antar Bab 6. Mengkaji kesimpulan,
menentukan melaporkan hasil (b). implikasi, dan konsekuensi
critical position mandiri. Kemutakhiran 7. Berkomunikasi Efektif
yang melakukan isi buku
kajian. IV. Kelemahan
buku
(a). Keterkaitan
antar Bab
(b).
Kemutakhiran
buku
V. Implikasi
terhadap:
(a).
Teori/Konsep
(b). Program
pembangunan
di Indonesia
(c). Analisis
mahasiswa
(posisi kritis
mahasiswa)
VI. Kesimpulan
dan Saran
Kepustakaan

v
CRITICAL BOOK REPORT
Mata Kuliah : Apresiasi Puisi

Dosen Pengampu :
Mhd. Anggie Januarsyah Daulay, S.S., M.Hum.

D
i
s
u
s
u
n

Oleh :

BOY PRATAMA SEMBIRING

NIM . xxxxxxxxx

Sastra Indonesia – A 2017

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA


JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2018

vi
KATA PENGANTAR

Puji Syukur atas khadirat Allah SWT. karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dalam mata kuliah Apresiasi Puisi. Makalah ini dibuat
untuk memenuhi salah satu tugas Critical Book Report.

Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai sastra khususnya dalam bidang pemahaman mengenai
pentingnya pengaruh apresiasi puisi bagi mahasiswa sastra Indonesia.

Penulis menyadari bahwa makalah ini mungkin belumlah sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan
makalah ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, 16 September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i

DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

A. IDENTITAS BUKU UTAMA............................................................. 1

B. IDENTITAS BUKU PEMBANDING................................................. 1

BAB II RINGKASAN BUKU ......................................................................... 2

A. RINGKASAN BUKU UTAMA.......................................................... 2

B. RINGKASAN BUKU PEMBANDING............................................. 3

BAB III PENILAIAN BUKU .......................................................................... 4

A. BUKU UTAMA................................................................................... 4

B. BUKU PEMBANDING....................................................................... 4

BAB IV PENUTUP........................................................................................... 6

A. KESIMPULAN.................................................................................... 6

B. SARAN................................................................................................. 6

LAMPIRAN ...................................................................................................... 7

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. IDENTITAS BUKU UTAMA

Judul : Apresisasi Puisi

Penulis : Mhd. Anggie Januarsyah Daulay, S.S., M.Hum.

Penerbit : UNIMED PRESS

Tahun terbit : 2018

Kota terbit : Medan

Materi : Pendekatan Ekspresif

B. IDENTITAS BUKU PEMBANDING

Judul : Memahami Puisi Dari Apresiasi Menuju Kajian

Penulis : Imelda Olivia Wisang, S.Pd.,M.Pd.

Penerbit : Penerbit Ombak

Tahun terbit : 2014

Kota terbit : Yogyakarta

Materi : Pendekatan Ekspresif


BAB II
RINGKASAN BUKU

A. RINGKASAN BUKU UTAMA

Pendekatan ekspresif adaiah pendekatan dalam kajian sastra yang menitikberatkan


kajiannya pada ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981: 189) Selden
(1985: 52) mengungkapkan bahwa karya sastra adalah anak kehidupan kreatif seorang
penulis dan mengungkapkan pribadi pengarang.

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan karya sastra dengan jalan menghubungkan karya
sastra dengan pengarangnya.

Pendekatan ekspresif menitikberatkan pengarang, dan orientasi ekspresif memandang


karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan sebagai hasil imajinasi pengarang,
pikiran-pikiran, dan perasaannya. Orientasi ini cenderung menimbang karya sastra dengan
keasliannya, kesejatiannya, atau kecocokan dengan visium atau keadaan pikiran dan kejiwaan
pengarang.

Teori ekspresif sastra (The expressive theory of literature) adalah sebuah teori yang
memandang sebuah karya sastra terutama sebagai pernyataan atau ekspresi dunia batin
pengarangnya.

Atmazaki (199034-35) mengatakan bahwa pementingan aspek ekspresif ini disebabkan


oieh alasan-alasan berikut.

1. Pengarang adalah orang pandai;


2. Kata author berarti pengarang, yang bila ditambah akhiran -ity berarti berwenang atau
berkuasa; dan
3. Pengarang adalah ora ng yang mempunyai kepekaan terhadap persoalan, punya
wawasan kemanusiaan yang tinggi dan dalam.

Pendektan ekspresif mengenai batin atau perasaan seseorang yang kemudian


diekspresikan dan dituangkan ke dalam bentuk karya dan tulisan hingga membentuk sebuah
karya sastra yang bernilai rasa tersendiri, dan menurut isi kandungan yang ingin disampaikan
oleh pengarang (berupa karya seni). Karena karya sastra tidak dapat hadir bila tidak ada yang
menciptakannya, sehingga pencipta karya sastra sangat penting kedudukannya dalam
kegiatan kajian dan apresiasi sastra, pikiran, dan perasaan pengarang.

ii
Pikiran dan perasaan pengarang adalah sumber utama dan pokok masalah dalam suatu
novel. Pendekatan ekspresif ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan
pengarang dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, imajinasi, dan spontanitasnya.

Adapun kerangka pendekatan ekspresif sebagaimana diuraikan Atmazaki (1990:36)


sebagai berikut:

1. Pendekatan ekspresif berhubungan erat dengan kajian sastra sebagai karya yang dekat
dengan sejarah, terutama sejarah yang berhubungan dengan kehidupan pengarangnya;
dan

2. Karya sastra dianggap sebagai pancaran kepribadian pengarang.

Teeuw (1984) menyatakan bahwa karya sastra tidak bisa dikaji dengan mengabaikan
kajian terhadap latar belakang sejarah dan sistem sastra : semesta, pembaca, dan penulis.
Informasi tentang penulis memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan kajian dan
apresiasi sastra. lni dikarenakan karya sastra pada hakikatnya adalah tuangan pengalaman
penulis (Teeuw, 1984; Selden, 1985; Roekhan, 1995; Eneste, 1982).

B. RINGKASAN BUKU PEMBANDING


1. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang mengutamakan pada penuturan penyair


sebagai subjek ekspresi. Dalam pendekatan ini sastra dikembalikan pada kedalaman
emosi serta suasana batin penyair. Pendekatan ekspresif pada dasarnya memiliki peranan
menonjol pada masa romantik. Pendekatan ekspresif tidak semata-mata memberikan
perhatian terhadap bagaimana karya sastra itu diciptakan, tetapi juga pada bentukbentuk
apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Ratna, (2006: 69) mengatakan
wilayah studi ekspresif adalah diri penyair, pikiran, dan perasaan, dan hasil-hasil
ciptaannya.

Pendekatan ini digunakan secara dominan pada abad ke-19 pada zaman Romantik. Di
Belanda dikenal melalui angkatan 1880 (80an), di Indonesia melalui angkatan 1930 (30-
an) yaitu pada periode Pujangga Baru yang dipelopori Tatengkeng, Amir Hamzah, Sanusi
Pane yang didominasi puisi lirik. Teeuw (1988: 168-169) mengatakan tradisi ini masih

iii
berlanjut hingga Sutadji Calzoum Bachri, yang tidak terbatas pada cipta sastra tetapi juga
pada kritik sastra.

Pendekatan ekspresif membuktikan bahwa aliran romantik cenderung tertarik pada


masa purba, masa lampau, masa primitif kehidupan manusia. Pendekatah ini dapat
menggali ciri-ciri individuaIisme, nasionalisme, komunisme, feminisme dalam karya,
baik katya satra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.

iv
BAB III
PENILAIAN BUKU

A. BUKU UTAMA
1. Kelebihan Buku
a. Penulis dalam menyajikan buku ini selalu disertai sumber, jadi setiap teori
ataupun pendapat selalu disertai dengan sumber. Hal ini tentu menjadikan
pembaca yakin bahwa buku ini sangat terpercaya dan layak dipertanggung
jawabkan.
b. Dalam penyajian, penulis menggunakan bahasa formal dengan pemilihan
sasaran pembaca yang tepat yaitu mahasiswa yang mempermudah pembaca
memahami isi buku dengan baik.
2. Kekurangan Buku
a. Bahasa yang dipergunakan terlalu kaku sehingga sulit dipahami.
b. Ada beberapa kalimat yang masih membutuhkan penjelasan namun tidak
dijelaskan.
c. Dalam menjelaskan sekema pengajaran tidak begitu mendetail, sehingga
pembaca sulit memahami isi buku tersebut.

B. BUKU PEMBANDING (BUKU KEDUA)


1. Kelebihan Buku
a. Memuat banyak pendapat-pendapat para ahli, sehingga dapat memperluas
wawasan pembaca.
b. Pembahasan di dalam buku sangat terstruktur sehingga pola pikir pembaca
menjadi terarah.
c. Materi yang terdapat dalam buku sangat cocok untuk dibaca dan dipelajari
oleh mahasiswa.
2. Kekurangan Buku
a. Bahasa yang digunakan penulis dalam buku ini kurang dapat dipahami, serta
terdapat kalimat yang terpotong/ tidak lengkap.
b. Tidak terdapat penjelasan yang mendetail dalam menjelaskan pola pengajaran.
c. Kata-kata yang digunakan banyak yang tidak sempurna, terbelit-belit serta
membingunggkan.

v
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang mengutamakan pada penuturan penyair


sebagai subjek ekspresi. Dalam pendekatan ini sastra dikembalikan pada kedalaman emosi
serta suasana batin penyair.
Pendekatan ekspresif adaiah pendekatan dalam kajian sastra yang menitikberatkan
kajiannya pada ekspresi perasaan atau temperamen penulis.

B. SARAN

1. Sebaiknya penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami.


2. Akan lebih mudah dipahami jika terdapat penjelasan lebih rinci mengenai hal terkait.
3. Ketika menulis sebuah buku, sebaiknya meminimalisir penggunakan kata yang
bertele-tele dan memeriksa kembali buku agar tidak terdapat kesalahan penulisan.

vi
LAMPIRAN
A. BUKU UTAMA

B. BUKU PEMBANDING

vii
CRITICAL JOURNAL REVIEW

Critical Journal review adalah tugas mereview secara kritis seluruh komponen dari suatu
hasil penelitian dalam jurnal dengan cara menganalisis temuan utama, keunggulan dan kelemahan
yang ada dalam penelitian tersebut.

PENGERTIAN PROSES
Mereview (semua komponen suatu laporan) • Dosen menetapkan artikel dalam jurnal atau
riset atau journal secara kritis dengan tujuan laporan hasil penelitian untuk direview. Jika
utama menemukan keunggulan dan mahasiswa memilih sendiri maka harus di
kelemahan dari suatu riset/journal serta memperoleh persetujuan dosen.
menampilkan saran yang relevan untuk • Mahasiswa dapat menggunakan artikel lain
mempertahankan kekuatan dan mengatasi untuk melengkapi argumentasi.
kelemahan riset/jurnal itu. • Mahasiswa wajib berkelompok saat proses
pemahaman, tetapi melaporkan hasil secara
mandiri.

SISTEMATIKA LAPORAN INDIKATOR PENILAIAN

I. Pengantar 1. Ringkasan latar belakang masalah penelitian


II. Ringkasan artikel/hasil penelitian 2. Mempertimbangkan Konteks dan Asumsi
III. Keunggulan penelitian 3. Berkomunikasi
a) Kegayutan antar elemen perspektif sendiri,
b) Originalitas temuan hipotesis, atau dugaan
c) Kemutakhiran masalah 4. Analisis Data Pendukung dan bukti
d) Kohesi dan koherensi isi penelitian 5. Menggunakan Perspektif dan posisi lainnya
IV Kelemahan penelitian 6. Mengkaji kesimpulan,
a) Kegayutan antar elemen implikasi, dan konsekuensi
b) Originalitas temuan 7. Berkomunikasi Efektif
c) Kemutakhiran masalah
d) Kohesi dan koherensi isi penelitian
V. Implikasi terhadap:
a) Teori
b) Program pembangunan di
Indonesia
c) Pembahasan dan Analisis
VI Kesimpulan dan saran
Pustaka

KATEGORI/LEVEL PENILAIAN : EMERGING (1-2), DEVELOPING (3-4), MASTERING (5-6)

CRITICAL JOURNAL REPORT


viii
Dosen Pengampu :
Dr. ABDURAHMAN ADISAPUTERA., M.Hum

D
i
s
u
s
u
n

oleh:

Boy Pratama Sembiring

NIM. xxxxxxxxx

Sastra Indonesia – A 2017

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA


JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2018

ix
BAB I
PENDAHULUAN

A. INFORMASI JURNAL UTAMA

Judul Artikel : Penerapan Prinsip Hukum Di Indonesia


Judul Jurnal : Sosiohumaniora, Vol 18, No 2.
Penulis : Haposan Siallagan
ISSN :-
Tahun Terbit : Juli 2016

B. INFORMASI JURNAL KEDUA

Judul Artikel : Epistemologi Negara Hukum Indonesia (Rekonseptualisasi Hukum


Indonesia)
Judul Jurnal : Seminar nasional hukum, vol 2, no 1.
Penulis : sulaiman
ISSN :-
Tahun Terbit : 2016

C. INFORMASI JURNAL KETIGA

Judul Artikel : Peran guru Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Mengembangkan


Nilai Moral yang Terkandung Dalam Materi Demokrasi di kelas VIII
SMP negeri raya Kepulauan Kabupaten Bengkayang
Judul Jurnal : Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan
Penulis : Syarif Firmansyah, Hendra Sulistiawan
ISSN : 2337-8891
Tahun Terbit : Juni 2017

10
BAB II
PEMBAHASAN

A. RINGKASAN JURNAL PERTAMA :

Perkembangan sistem ketatanegaraan sejumlah negara belakangan ini menunjukkan


bahwa begitu banyak negara yang kemudian menjadikan konsepsi tentang negara hukum
sebagai konsep ideal dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu
menunjukkan bahwa betapa sentralnya posisi dan kedudukan hukum dalam perjalanan
kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam rangka mengatur kehidupan suatu
negara menjadi lebih baik.

Hukum menjadi sesuatu yang sangat urgen untuk menata kehidupan manusia.
Sesungguhnya, konsepsi negara hukum sendiri sudah lama menjadi bahan perbincangan
para ahli. Bahkan pada zaman Yunani Kuno, konsepsi negara hukum sudah mulai
diperdebatkan dan dijadikan diskusi berkelanjutan sebagai salah satu landasan kehidupan
manusia. Plato maupun Aristoteles pada masa kejayaannya sudah memandang negara
hukum sebagai salah satu pembahasan yang cukup menarik serta diprediksi akan menjadi
diskusi menarik di kemudian hari.

Hal itu pun terbukti bahwa saat ini, konsep negara hukum selalu saja mendapat porsi
pembahasan yang sangat menonjol dalam sistem ketatanegaraan suatu negara. Hanya
saja, pada saat awal munculnya pembahasan negara hukum, konsep dimaksud masih
hanya ditujukan sebatas upaya atau perjuangan dalam rangka menentang kekuasaan raja
yang begitu absolut. Artinya, cakrawala pemahaman tentang negara hukum ketika itu
masih hanya terbatas pada upaya mengendalikan pergerakan kekuasaan raja yang begitu
besar. Kala itu, kekuasaan suatu negara selalu bertumpu pada raja, sehingga kemudian
sangat rentan melahirkan kesewenang-wenangan. Atas dasar pertimbangan demikian,
maka upaya membatasi kekuasaan raja menjadi sangat urgen demi masa depan dan
eksisnya suatu negara. Tanpa adanya pembatasan kekuasaan raja, maka menjadi sangat
sulit untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Oleh sebab itu, prinsip utama negara
hukum selalu dipandang sebagai upaya pembatasan kekuasaan para penguasa serta dalam
rangka menjaga dan melindungi hak asasi manusia. Sebagaimana dikemukakan Janpatar
Simamora (2014:549), bahwa pada umumnya konsepsi tentang negara hukum selalu
berkiblat pada dua tradisi hukum yang berbeda, yaitu common law system dan civil law

11
system. Kedua sistem hukum tersebut menggunakan istilah yang berbeda pula, yaitu
rechtsstaat dan the rule of law. Dalam sistem hukum Eropa Kontinental, istilah rechtsstaat
juga disebut dengan istilah lain seperti concept of legality atau etat de droit.

Adapun untuk istilah the rule of law menjadi populer setelah diterbitkannya buku AV.
Dicey pada tahun 1885 dengan judul Introducion to Study of the Law of the Constitution.
Kedua paham tersebut, yaitu rechtsstaat dan the rule of law memiliki latar belakang
sistem hukum yang berbeda.

B. RINGKASAN JURNAL KEDUA :

Freidrich pernah mengingatkan bahwa hukum dan aturan hukum perundang-


undangan, harusnya adil, tapi kenyataannya, seringkali tidak Menyangkut dengan adil
inilah, dalam sejumlah buku, Satjipto Rahardjo selalu menyinggung mengenai posisi nilai
liberal. Kata ini sangat penting dan selalu disebut.

Terkait dengan posisi dengan negara hukum, Satjipto Rahardjo mengingatkan bahwa
negara hukum dibentuk hanya bertumpu pada bentuk atau format hukum, melainkan
melibatkan cara hidup atau kultur Melirik pada konsep yang lebih luas. Dalam sejumlah
literatur yang lain, setidaknya terdapat lima macam konsep negara hukum di dunia
Pertama, negara hukum menurut Quran dan Sunnah, atau oleh Majid Khadduri disebut
sebagai nomokrasi Islam. Menurut Afzal Iqbal, masa demikian pernah berlangsung
selama seribu tahun, terutama ketika di Eropa sedang Abad Pertengahan. Kedua, negara
hukum menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan dengan rechtsstaat,
diterapkan di Belanda, Jerman, dan Perancis. Dalam hal ini, negara dibatasi terlibat
urusan kesejahteraan Ketiga, konsep rule of law yang diterapkan di negara-negara Anglo-
Saxon, antara lain Inggris dan Amerika Serikat.

Dalam rule of law, supremasi hukum menjadi sesuatu yang sangat esensial Keempat,
konsep socialist legality yang sebelumnya diterapkan di Uni Soviet. Kelima, konsep
negara hukum Pancasila.

Dalam konteks Indonesia, dengan konstitusi ekonomi mengarah bahwa negara


Indonesia menganut negara kesejahteraan. Konsep welfare state yang awalnya
berkembang di negara-negara Eropa, kemudian meluas ke seluruh dunia. Konsep welfare
state sendiri sebenarnya sudah muncul benih-benihnya pada abad ke-14 dan abad ke- 15,

12
dimulai dari proses perkembangan welfare state klasik (politzei staat), liberale staat,
hingga welfare state modern akhir abad ke-19 dan abad ke- 20.27 Menurut Asshiddiqie,
negara kesejahteraan memikul tanggung jawab sosial ekonomi yang lebih besar dan luas,
untuk menyejahterakan rakyat banyak. Faktor kesejahteraan rakyat menjadi penentu
penyelenggaraan negara kesejah-teraan tersebut.

Namun demikian, melalui penguasaan dan pemanfaatan sumberdaya alam, selama


lebih 60 tahun merdeka, pengaturannya malah menghasilkan ketidakadilan. Sangat
penting orientasi keadilan, walau Gustav Radbruch (1878-1949), menyebutkan selain
keadilan (gerechtigkeit), terdapat juga nilai kemanfaatan (zweckmaeszigkeit) dan
kepastian hukum (rechtssicherkeit).

C. RINGKASAN JURNAL KETIGA :

Pada dasarnya nilai moral merupakan sesuatu yang abstrak, yang mempunyai ciri
tertentu dan dapat dilihat dari tingkah laku, memiliki kaitan dengan istilah fakta, tindakan,
norma, moral, cita cita, keyakinan dan kebutuhan. Nilai itu ada tetapi tidak mudah
dipahami. Sifatnya yang abstrak dan tersembunyi di belakang fakta menjadi salah satu
penyebab sulitnya dipahami. Ketika manusia dibiicarakan, pemikiran klasik dalasm
psikologi sampai pada proses belajar seseorang, maka jawabannnya adalah faktor bawaan
atau faktor lingkunagn diaman kedua faktor tersebut paling Pada dasarnya nilai moral
merupakan sesuatu yang abstrak ,yang mempunyaiciri-ciri terteberpengaruh terhadap
perkemabangan diri manusia.

Faktor bawaan dan faktor lingkungan sangat erat kaitannya dalam proses perolehan
nilai moral seseorang dalam kehidupannya. Pada dasarnya perolehan nilai moral
dipandang sebagai proses regenerasi dari sifat-sifat bawaan yang dimiliki seseorang.
Dapat dikatakan bahwa nilai moral sebagai kontinuitas dari proses psikologis lainnya
seperti persepsi, sikap, dan keyakinan pada diri seseorang. Di lain pihak, ada pula yang
mengatakan bahwa perolehan nilai moral sebagai interaksi sosial antara individu dengan
lingkungannya.

Cara pandang seperti ini lebih menekankan pada peran dunia luar sebagai faktor yang
memfasilitasi sistem nilai. Peran orang tua, guru, masyarakat sekitar dan sistem nilai
moral yang dipelihara dalam lingkungan tempat ia tinggal merupakan faktor-faktor
penting bagi proses pemilikan nilai moral pada diri individu. Dalam pandangan filsafat,

13
nilai moral sering dihubungkan dengan masalah kebaikan. Sesuatu dikatakan mempunyai
nilai moral apabila sesuatu itu berguna, benar (nilai kebenaran), indah (nilai estetika),
baik (nilai moral), religius (nilai religi), dan sebagainya. Nilai moral merupakan sesuatu
yang ideal dan bersifat baik. Oleh karena itulah nilai dianggap sebagai sesuatu yang
abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indera.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka Fraenkel (dalam Hamid Darmadi, 2007: 27)
menyatakan bahwa nilai moral ini adanya dalam “people’s minds” (angan-angan
manusia) serta berlainan dengan lainnya. Adapun pendapat yang mirip dengan pandangan
Fraenkel ini adalah Rokeah, yang menyatakan bahwa nilai moral merupakan sesuatu yang
berharga yang dianggap bernilai, adil, baik dan indah serta menjadi pedoman atau
pegangan diri. Selanjutnya menurut Imam Al Ghazali, (dalam Hamid Darmadi, 2007: 27)
menyatakan bahwa keberadaan nilai moral ini dalam “lubuk hati” (Al Qolbu) serta
menyatu/bersatu raga di dalamnya menjadi suara dan hati atau hati nurani (the conscience
of man). Nilai moral manusia baru akan menjadi satu pribadi dan bersatu raga menjadi
sistem organik dan personal apabila sudah mencapai tahap sebagai keyakinan diri atau
prinsip serta tersusun sebagai sistem keyakinan (belief system). Hal ini harus benar-benar
diyakini dan menjadi jati dirinya.Siswa dikatakan bermoral jika mereka memiliki
kesadaran moral, yaitu dapat menilai hal-hal yang baik dan buruk.

Hal-hal yang boleh dilakukan serta hal-hal yang etis dan tidak etis. Siswa yang
bermoral dengan sendirinya akan tampak dalam penilaian atau penalaran moralnya serta
pada perilakunya yang baik, benar, dan sesuai dengan etika. Artinya, ada kesatuan antara
penalaran moral dengan perilaku moralnya.Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka
peneliti menyimpulkan bahwa“Untuk memiliki moralitas yang baik dan benar, seseorang
tidak cukup sekedar telah melakukan tindakan yang dapat dinilai baik dan benar.
Seseorang dapat dikatakan sungguh-sungguh bermoral apabila tindakannya disertai
dengan tindakan dan pemahaman akan kebaikan yang tertanam dalam tindakan tersebut
”untuk itu penulis menerapkannya pada materi demokrasi. Berdasarkan hasil observasi
yang penulis lakukan di Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Kepulauan
Kabupaten Bengkayang terlihat bahwa kemampuan guru, khususnya Pendidikan
Kewarganegaraan dalam memberikan pemahaman tentang nilai dan moral pada siswa
masih belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari sikap dan tingkah laku siswa sehari-hari.

BAB III

14
PENILAIAN JURNAL

C. PENILAIAN JURNAL PERTAMA

1. Kelebihan Jurnal
a. Ide yang diangkat dalam penelitian ini cukup menarik
b. Judul artikel sesuai dengan pemaparan yang disampaikan penulis pada pembahasan
c. Tujuan yang dipaparkan cukup jelas

2. Kekurangan Jurnal
a. Adanya teori yang tidak berhubungan dengan hasil penelitian

D. PENILAIAN JURNAL KEDUA

1. Kelebihan Jurnal
a. Ide yang diangkat dalam penelitian ini cukup menarik
b. Judul artikel sesuai dengan pemaparan yang disampaikan penulis pada pembahasan
c. Tujuan yang dipaparkan cukup jelas

2. Kekurangan Jurnal
a. Adanya teori yang tidak berhubungan dengan hasil penelitian
b. Penggunaan EYD yang tidak sempurna
c. Menggunakan teori yang tidak jelas

E. PENILAIAN JURNAL KEDUA

1. Kelebihan Jurnal
a. Ide yang diangkat dalam penelitian ini cukup menarik
b. Judul artikel sesuai dengan pemaparan yang disampaikan penulis pada pembahasan
c. Tujuan yang dipaparkan cukup jelas

2. Kekurangan Jurnal
a. Adanya teori yang tidak berhubungan dengan hasil penelitian
b. Penggunaan EYD yang tidak sempurna

BAB IV

15
PENUTUP

A. SIMPULAN

Kelebihan dan kekurangan ketiga artikel ilmiah ini memang ada. Tetapi terlepas dari itu
semua, kedua artikel ini sangat baik untuk dijadikan bahan referensi untuk penelitian
selanjutnya. Karena materi yang dibahas cukup penting serta pemaparan yang terstruktur
sehingga tidak membingungkan. Kekurangannya hanya terletak kajian teori yang
memaparkan materi yang tidak berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.

B. SARAN
1. Sebaiknya penulis menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

2. Dalam skema yang terdapat di dalam jurnal, akan lebih mudah dipahami jika
teradapat penjelasan lebih rinci mengenai hal terkait.

16
MINI RISET
PENELITIAN KECIL

PENELITIAN DILAKUKAN DENGAN SKALA TERBATAS. BIASA DILAKUKAN BERKELOMPOK. NAMUN ADA
JUGA YANG BERSIFAT INDIVIDU.

BERKAITAN DENGAN MATAKULIAH

PENELITIAN DILAKUKAN BERKAITAN DENGAN MATERI PERKULIAHAN.

LAPORAN YANG SISTEMATIS

LAPORAN DITULIS DENGAN 5 BAB.

BAB I PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

PENGUMPULAN TUGAS

PENGUMPULAN MR BIASA PADA PERTEMUAN 10 SAMPAI 13.

CONTOH

Matakuliah : KETERAMPILAN BAHASA RESEPTIF

Judul : ANALISIS KETERBACAAN BUKU TEKS BAHASA INDONESIA


SMA/MA/SMK/MAK KELAS XI DENGAN FORMULA FRY AND
RAYGOR.

BAB I : Latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat.

BAB II : Landasan teori ( teori keterbacaan buku, teori buku teks, teori
formula fry raygor). Teori dapat diambil melalui buku atau artkel ilmiah
dalam jurnal tersinta.

BAB III : Pendekatan penelitian, objek penelitian, teknik pengambilan data,


teknik analisis data.

BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan.

BAB V : Simpulan dan penutup.

Daftar pustaka : harus sesuai dengan rujukan yang ada dalam isi laporan.

17
REKAYASA IDE
GAGASAN ATAU IDE YANG TERSUSUN

PENGEMBANGAN GAGASAN/PENGAJUAN IDE (BERUPA SOLUSI PERMASALAHAN). IDE


DIKEMBANGKAN BERDASARKAN MASALAH YANG DIKEMUKAKAN.

BERKAITAN DENGAN MATAKULIAH

PENGEMBANGAN GAGASAN/PENGAJUAN IDE BERKAITAN DENGAN MATERI PERKULIAHAN

LAPORAN YANG SISTEMATIS

SECARA UMUM LAPORAN RI BIASA DITULIS DENGAN :

BAB I PENDAHULUAN

BAB II IDENTIFIKASI PERMASALAHAN

BAB III SOLUSI DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENUTUP

PENGUMPULAN TUGAS

PENGUMPULAN MR BIASA PADA PERTEMUAN 9 SAMPAI 11

CONTOH

Matakuliah : KETERAMPILAN BAHASA PRODUKTIF

Judul : UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA BAGI

PESERTA DIDIK

BAB I : rasionalisasi permasalahan, tujuan, dan manfaat.

BAB II : Identifikasi permasalahan (permasalahan umum dan


permasalaahan sesuai tema).

BAB III : solusi dan pembahasan permasalahan.

BAB IV : Simpulan dan penutup.

Daftar pustaka : harus sesuai dengan rujukan yang ada dalam isi laporan.

18
PROJEK
MENGHASILKAN PRODUK ATAU MELAKSANAKAN KEGIATAN

TUGAS PROJEK BIASANYA BERUPA PRODUK MATAKULIAH SEPERTI BUKU, LAPORAN PROJEK,
DSB. NAMUN PROJEK JUGA SERING DIBUAT DALAM BENTUK PELAKSANAAN KEGIATAN.

BERKAITAN DENGAN MATAKULIAH

TUGAS PROJEK BERKAITAN MATAKULIAH BERSANGKUTAN.

LAPORAN YANG RELATIF

LAPORAN PROJEK BIASA BERBENTUK BUKU, ARTIKEL, DAN LAINNYA. PROJEK BIASANYA
TUGAS LANJUTAN DARI MR.

PROJEK DALAM BENTUK KEGIATAN BIASANYA AKAN DIKOORDINASIKAN OLEH DOSEN DAN
PERANGKAT KELAS.

PENGUMPULAN TUGAS

PENGUMPULAN ATAU PELAKSANAAN PROJEK BIASA DIKUMPUL/DILAKSANAKAN PADA


PERTEMUAN KE-16

19