Anda di halaman 1dari 9

KEANEKARAGAMAN ADAT DAN BUDAYA

MASYARAKAT INDONESIA
(KLIPING)

Disusun Oleh :
Nama : Mufidah Sucining Rahayu
Kelas : 7B
No Absen : 19

SMP NEGERI 1 EROMOKO, KAB. WONOGIRI


TAHUN PELAJARAN 2020/2021
BENTUK KEANEKARAGAMAN ADAT DI INDONESIA
1. Pengertian Adat Istiadat
Secara etimologi, dalam hal ini adat berasal dari bahasa Arab yang berarti “kebiasaan”,
jadi secara etimologi adat dapat didefinisikan sebagai perbuatan yang dilakukan berulang-ulang
lalu menjadi suatu kebiasaan yang tetap dan dihormati orang, maka kebiasaan itu menjadi adat.
Adat merupakan kebiasaan-kebiasaan yang tumbuh dan terbentuk dari suatu masyarakat atau
daerah yang dianggap memiliki naili dan dijunjung serta di patuhi masyarakat pendukungnya.
2. Macam-macam Adat Istiadat
Adat istiadat bisa berbentuk tertulis dan tidak tertulis. Contoh adat istiadat yang tertulis antara
lain adalah:
 piagam-piagam raja (surat pengesahan raja, kepala adat)
 peraturan persekutuan hukum adat yang tertulis seperti penataran desa, agama desa,
awig-awig (peraturan subak di Pulau Bali).
Kriteria yang paling menentukan bagi konsepsi tradisi itu adalah bahwa tradisi diciptakan
melalui tindakan dan kelakuan orang-orang melalui fikiran dan imaginasi orang-orang yang
diteruskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya
3. Jenis Adat Istiadat Indonesia
a. Adat Rambu Solo – Tana Toraja (Sulawesi Selatan)
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling
penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara
pemakamannya akan semakin mahal. Upacara kematian ini disebut Rambu Solo’. Rambu
Solo’ merupakan acara tradisi yang sangat meriah di Tana Toraja, karena memakan
waktu berhari-hari untuk merayakannya.
Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada
sebuah padang rumput yang luas, Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar
setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang
bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan
cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal
di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan
ke Puya.
b. Adat Pasola (Nusa Tenggara Barat)
Tradisi perang-perangan dengan menunggang kuda sambil menyerang lawan
dengan lembing ini bisa kita saksikan dengan mengunjungi Pulau Sumba di Provinsi
Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini disebut dengan nama Pasola. Nama Pasola berasal dari
kata “sola” atau “hola”, yang berarti lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar.
Acara melempar lembing kayu ini dilakukan para pemuda desa di Sumba dari atas kuda
yang sedang dipacu kencang yang berlawanan arah. Permainan ketangkasan saling
melempar lembing kayu dari atas punggung kuda ini merupakan bagian dari serangkaian
upacara tradisional, yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli
yang mereka sebut Marapu yaitu agama lokal masyarakat Sumba.
Kegiatan Pasola ini biasanya diadakan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Sumba
Barat dan Sumba Barat Daya melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat. Untuk
ritual Pasola sendiri biasanya dilaksanakan setiap awal bulan Februari, akan tetapi
perhitungan penentuan tanggal Pasola dihitung mulai dari munculnya bulan purnama dan
setelah itu acara pelaksanaan Pasola akan ditentukan oleh Rato Nyale yang merupakan
orang penting dalam hal penentuan tanggal pelaksanaan pasola Pasola. Budaya yang
kental dan pertimbangan Rato.
Pasola sendiri dilaksanakan di padang yang luas, disaksikan oleh warga dari
kedua kelompok yang bertanding, masyarakat umum, dan wisatawan asing maupun lokal.
Setiap kelompok warga terdiri lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak yang dibuat
dari kayu berujung tumpul dan berdiameter kira-kira 1,5 cm

c. Festival Tabuik
Adalah perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharam) yaitu mengenang
kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad Saw yaitu Saidina Hassan bin
Ali yang wafat diracun serta Saidina Husein bin Ali yang gugur dalam peperangan
dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Iraq tanggal 10 Muharam 61
Hijrah (681 Masehi).
Tradisi mengenang kematian cucu Rasulullah tersebut menyebar ke sejumlah negara
dengan cara yang berbeda-beda. Di Indonesia, selain di Pariaman, ritual mengenang
peristiwa tersebut juga diadakan di Bengkulu.
Awalnya Tabuik sebagai simbol ritual bagi pengikut Syi’ah untuk mengumpulkan
potongan-potongan tubuh Imam Husein dan selama ritual itu para peserta berteriak
“Hayya Husein, hayya Husein” atau yang berarti “Hidup Husein, hidup Husein”. Akan
tetapi, di Pariaman teriakan tersebut telah berganti dimana para pengusung dan peserta
Tabuik akan berteriak “Hoyak Hussein, hoyak Hussein” sambil menggoyang-goyangkan
menara Tabuik yang berbentuk menara dan bersayap serta sebuah kepala manusia.
Festival Tabuik masuk kalender acara wisata Sumatra Barat dan kalender acara wisata
nasional. Puluhan ribu orang dari pelosok Sumatra Barat dan perantau datang ke
Pariaman hanya ingin melihat Festival Tabuik selama 14 hari. Upacara tabuik dapat
dihadiri hingga sekitar 6.000 orang per hari dan 90.000 orang saat puncak acara.
d. Adat Ngaben (Bali)
Ngaben adalah suatu upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di
Bali, upacara ini dilakukan untuk menyucian roh leluhur orang sudah wafat menuju
ketempat peristirahatan terakhir dengan cara melakukan pembakaran jenazah.
Upacara Ngaben ini dianggap sangat penting bagi umat Hindu di Bali, karena
upacara Ngaben merupakan perujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang
ditinggalkan, juga menyangkut status sosial dari keluarga dan orang yang meninggal.
Dengan Ngaben, keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh/arwah dari
perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia dan menghantarkannya menuju surga
abadi dan kembali berenkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda.Ngaben dilakukan
dengan beberapa rangkaian upacara, terdiri dari berbagai rupa sesajen dengan tidak lupa
dibubuhi simbol-simbol layaknya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu di Bali.
Upacara Ngaben biasa nya dilalukan secara besar besaran, ini semua memerlukan
waktu yang lama, tenaga yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit dan bisa
mengakibatkan Ngaben sering dilakukan dalam waktu yang lama setelah kematian.
e. Adat Kenduren (Jawa Tengah)
Kenduren, sering disebut juga kenduri, upacara adat yang satu ini adalah salah
satu acara adat yang diadakan sebagai perwujudan dari rasa syukur kepada tuhan, atas
terkabulnya do’a dan harapan. Meski Kenduren sebenarnya sangat banyak macamnya,
namun secara garis besar kenduren adalah adat istiadat untuk bersyukur. Misal pada acara
Kenduren Weton, seperti namannya “weton” yang berarti keluar, itu digunakan untuk
acara bersyukur hari kelahiran atau weton kelahiran, ada juga yang hampir satu set atau
satu paket, disebut dengan Kenduri Sa’ban dan kenduri Ba’dan.
Kenduren diadakan hanya dengan mengundang para tetangga sebelah, untuk
berdo’a bersama dan bersyukur, Kenduren biasanya dihadiri oleh para lelaki dewasa
khususnya yang telah berumah tangga, biasanya bila pemilik acara beragama muslim,
maka kenduren akan berisi dengan pengajian, dan dihidangkan pula makanan-makanan
khas yang biasanya ada dalam acara Kenduren, meliputi, nasi kuning yang sering dibuat
menjadi tumpeng, telur, abon, ayam, sayur dan buah pisang. Tentunya yang sangat khas
dalam acara Kenduren yakni adalah hidanganya. Meski hidanganya tak semewah seperti
acara-acara adat lainya, namun inilah perwujudan rasa syukur yang dimaksudkan oleh
Kenduren itu sendiri.
BENTUK KEBERAGAMAN BUDAYA DI INDONESIA

A. Pengertian Keberagaman

Keberagaman adalah istilah yang tak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia
merupakan salah satu contoh keberagaman yang nyata. Salah satu bentuk keberagaman adalah
kekayaan budaya, suku, bahasa, dan karakteristik bangsa.

Keberagaman adalah bukan hanya tentang perbedaan. Konsep keragaman mencakup


penerimaan dan penghormatan. Keberagaman adalah bagian yang turut diciptakan masyarakat di
suatu demografi. 

Di Indonesia, keberagaman adalah bagian dari Identitas Bangsa. Banyak faktor yang
menyebabkan keberagaman terjadi. Memahami keberagaman adalah kemampuan penting yang
harus dimiliki setiap warga negara. Keberagaman adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dalam
masyarakat multikultural.

B. Faktor-Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia

Keberagaman di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berikut factor factor


penyebab keberagaman di Indonesia.

1. Letak geografis. Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki ribuan pulau.
Luas wilayah Indonesia yang besar berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang
dimiliki kondisi itu, menjadikan sumber keberagaman tercipta, seperti suku, budaya, ras,
dan golongan. Dengan kondisi tersebut menimbulkan perbedaan dalam masyarakat di
Indonesia.
2. Kondisi iklim dan alam yang berbeda. Kondisi iklim dan alam antarwilayah di
Indonesia berbeda-beda. Perbedaan musim hujan dan kemarau antardaerah, perbedaan
kondisi alam seperti pantai, pegunungan mengakibatkan perbedaan pada masyarakat.
3. Pengaruh kebudayaan asing. Keberagaman juga bisa muncul karena pengaruh
kebudayaan asing yang memiliki ciri yang berbeda. Biasanya lewat komunikasi atau
mereka datang ke Indonesia. Hal tersebut menjadikan terjadinya akulturasi atau
pencampuran unsur kebudayaan asing dengan kebudayaan Indonesia.
4. Agama. Keberagaman agama di tengah-tengah masyarakat menunjukkan Bangsa
Indonesia adalah bangsa yang religius. Semua agama meyakini akan keberadaan dan
kekuasaan Tuhan. Akan tetapi, sistem keyakinan dan ibadah antara satu agama dengan
agama yang lain berbeda.
5. Sejarah. Sejarah merupakan satu di antara faktor penyebab keberagaman masyarakat
Indonesia. Tiap wilayah bisa memiliki perjalanan sejarahnya sendiri. Misalnya, wilayah
yang memiliki riwayat sejarah kerajaan Islam akan memiliki ciri khas budaya khusus
terkait sejarah ini.
6. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan. Faktor penyebab keberagaman
masyarakat Indonesia yang terakhir adalah bagaimana sikap masyarakat terhadap
perubahan yang ada. Sikap masyarakat sangat berpengaruh terhadap pembentukan
budaya dan keberagaman. Ada masyarakat yang bisa menerima ada juga masyarakat
yang menutup. Perbedaan inilah yang menciptakan keberagaman budaya dan pandangan
di Indonesia.
C. Bentuk Keberagaman Budaya di Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan karena terdiri dari banyak pulau. Hal tersebut
menjadikan Indonesia memiliki keragaman budaya. Lalu, Indonesia juga terdiri dari 34 provinsi
yang memiliki adat dan budaya yang khas di setiap daerah.

Keragaman budaya tersebut antara lain keragaman bahasa, rumah adat, pakaian adat,
tarian daerah, senjata tradisional, lagu daerah, alat music dan upacara adat. Keragaman budaya
tersebut merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus kita syukuri dan kita lestarikan.

1. Bahasa

Bahasa daerah di Indonesia sangat beragam. Jumlahnya sangat banyak karena


setiap provinsi memiliki beberapa bahasa daerah sekaligus. Bangsa Indonesia secara garis
besar mempunyai 2 bahasa yaitu bahasa nasional dan bahasa daerah. Indonesia memiliki
lebih dari 746 bahasa daerah, sebab tiap daerahnya mempunyai bahasa tersendiri.
contohnya : bahasa Aceh, bahasa Madura bahasa Jawa, bahasa Kalimantan, bahasa Bali,
bahasa Papua, dan masih banyak lainnya

2. Rumah Adat

Salah satu bentuk keragaman budaya Indonesia dapat dilihat dari rumah adat di
tiap tiap daerahnya. Rumah adat dibangun dengan wujud dan cara yang sama dari
generasi ke generasi tanpa atau sedikit mengalami perubahan. Rumah adat tradisional
sampai saat ini masih ada yang ditinggali, tapi juga ada yang digunakan untuk upacara
adat.

Dalam penentuan bentuk rumah berdasarkan keadaan geografis, pemanfaatan


hasil alam yang ada sebagai bahan bangunan, maupun memperhatikan terwujudnya
rumah yang sehat dengan penentuan arah rumah berdasarkan arah mata angin dan sinar
matahari. Kebanyakan rumah adat di Indonesia memang dibuat sesuai kondisi alam
sekitarnya. selain itu juga disesuaikan dengan adat istiadat atau nilai-nilai agama yang
dianut. Rumah adat merupakan cerminan budaya yang terbentuk dari tradisi dalam
masyarakat, seperti adaptasi atau cara hidup, ekonomi, dan religinya.

Di Indonesia setiap daerah mempunyai rumah tradisional yang beragam


berdasarkan wilayah dan sukunya. Misalnya, rumah gadang di Sumatera Barat, gapura
candi bentar yang merupakan rumah adat Bali, rumah joglo khas Jawa Tengah, rumah
panjang khas masyarakat Kalimantan Barat, dan sebagainya.

3. Pakaian Adat

Keragaman budaya Indonesia selanjutnya adalah pakaian adat. Pakaian adat atau
tradisional berfungsi untuk mengekspresikan identitas. Pakaian adat ada yang digunakan
untuk acara sehari-hari maupun untuk upacara-upacara adat. Masyarakat menggunakan
pakaian adat setempat ketika ada kegiatan adat. Biasa nya kita mudah untuk mengenali
pakaian adat yang digunakan tiap-tiap daerah.

Misalnya, baju bodo khas suku Bugis dan Makassar, ulos dari Sumatera Utara,
pakaian adat betawi khas DKI Jakarta, kebaya Jawa dengan jarik batik khas Jawa
Tengah, pakaian adat king baba dan king bibinge dari Kalimatan Barat.

4. Tarian Dan Pertunjukan

Dalam bidang seni Indonesia juga memiliki beragam tarian yang mempunyai daya
tarik tersendiri. Tidak hanya dinikmati turis lokal, budaya tari Indonesia bahkan dikenal
sampe keluar negeri. Tari rakyat atau tari tradisional adalah tarian yang tumbuh di
kalangan rakyat, ragam tarian rakyat tumbuh menurut letak geografis, seperti daerah
pegunungan, dan pesisir pantai, hal ini yang membedakan bentuk dan dinamika
tariannya.Tiap daerah mempunyai tarian adat masing-masing dengan peruntukan yang
berbeda. Ada tarian untuk menyambut tamu agung, menyambut panen, upacara kematian,
upacara keagamaan, dan sebagainya.

Sebut saja, tari Saman dari daerah Aceh, tari kecak dan pendet dari Bali, tari
jaipong dari Jawa Barat, tari reog Ponorogo dari Jawa Timur, tari topeng Betawi dari
Jakarta, tari piring dari Sumatera Barat, tari maengket dari Sulawesi Utara, dan
sebagainya.

5. Senjata Tradisional

Dalam sebuah kegiatan adat atau lainnya, kadang kadang juga diperlihatkan
senjata daerah masing-masing. Senjata tradisional tak hanya digunakan sebagai alat
berlindung dari serangan musuh, tapi juga digunakan dalam kegiatan berladang dan
berburu. Dulunya memang senjata daerah ini digunakan oleh masyarakat untuk mengusir
penjajah dan melindungi diri. Namun, sejata daerah sudah sedikit berubah fungsinya.
Beberapa daerah sudah menjadikan senjata sebagai pelengkap baju daerah untuk upacara
besar adat.

Pada saat ini, senjata tradisional telah menjadi identitas bangsa yang turut
memperkaya kebudayaan Nusantara. Misalnya rencong khas masyarakat Aceh, golok
khas Betawi, kujang khas Jawa Barat, keris khas Jawa Tengah, celurit asli Madura, dan
badik dari Sulawesi.

6. Lagu Daerah dan Alat Musik Daerah

Lagu tradisional adalah lagu yang berasal dari daerah tertentu. Lagu daerah mirip
dengan lagu kebangsaan namun statusnya hanya bersifat kedaerahan dengan lirik dan
bahasa asal daerah masing-masing.

Lagu daerah atau musik daerah atau lagu kedaerahan, adalah lagu atau musik
yang berasal dari suatu daerah tertentu dan menjadi populer dinyanyikan baik oleh rakyat
daerah tersebut maupun rakyat lainnya. Lagu tradisional umumnya menceritakan nilai
kehidupan masyarakatnya dan memiliki makna mendalam.

Contoh lagu tradisional yang terkenal di Indonesia adalah Rasa Sayange asal
Maluku, Gundul-gundul Pacul dan Bapak Pucung dari Jawa Tengah, Bungong Jeumpa
dari Aceh, Ayam Den Lapeh dari Sumatera Barat, Anging Mammiri dari Sulawesi
Selatan.

Setiap daerah memiliki alat musik tradisional khas masing-masing daerah, seperti
angklung, bedug, calung, gamelan, kolintang, tifa, tamborin, saluang, sasando, dan
sebagainya.

7. Upacara Adat

Salah satu keragaman budaya Indonesia lainnya yaitu upacara adat yang ada di
setiap daerahnya. Upacara adat adalah salah satu tradisi yang dianggap memiliki nilai-
nilai bagi masyarakat sekitar.

Selain sebagai cara manusia untuk berhubungan dengan para leluhur dan Sang
Pencipta, upacara adat juga menjadi perwujudan manusia untuk menyesuaikan diri
terhadap alam dan lingkungannya dalam arti luas.

Contohnya, upacara ruwatan dalam tradisi Jawa untuk menyucikan seseorang dari
kesialan. Upacara sekaten oleh masyarakat Yogyakarta dilakukan untuk memperingati
kelahiran Nabi Muhammad. Kemudian upacara Ngaben di Bali dengan melakukan
kremasi jenazah, dan upacara bakar batu di Papua yang bertujuan untuk bersyukur,
bersilaturahim, atau menyambut tamu penting.

D. Semboyan Bhenika Tunggal Ika Sebagai Pemersatu Keberagaman

Bhinneka Tunggal Ika dalam keberagaman sosial di Indonesia adalah sebagai pemersatu,
perekat berbagai budaya dari suku bangsa di Indonesia.

Di dalam UUD 1945 menjelaskan bahwa Lambang Negara Indonesia adalah Garuda
Pancasila dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh
Sudharnoto sebagai lagu wajib perjuangan Indonesia.

Burung Garuda melambangkan kekuatan. Warna emas pada burung Garuda


melambangkan kemuliaan. Perisai di tengah melambangkan pertahanan bangsa Indonesia. Setiap
simbol pada perisai melambangkan setiap ajaran Pancasila, yaitu:

1. Bintang melambangkan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa


2. Rantai melambangkan prinsip Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Pohon Beringin melambangkan prinsip Persatuan Indonesia
4. Kepala Banteng melambangkan prinsip Demokrasi yang Dipimpin oleh Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Padi dan Kapas melambangkan sila Keadilan Sosial bagi Rakyat Seluruh dari Indonesia