Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN TUGAS AKHIR

STUDI LITERATUR TINGKAT PENGETAHUAN


MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN OBAT
ANTIBIOTIK

NUR HAFIZAH. M
NH0517054

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2020

i
LAPORAN TUGAS AKHIR

STUDI LITERATUR TINGKAT PENGETAHUAN


MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN OBAT
ANTIBIOTIK

NUR HAFIZAH. M
NH0517054

Laporan Tugas Akhir ini diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya Farmasi (A.Md.Farm)

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2020

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa laporan Tugas Akhir

dengan judul “Studi Literatur Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap

Penggunaan Obat Antibiotik” telah disetujui untuk disajikan dihadapan tim penguji

pada Ujian Akhir Program Studi D III Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nani

Hasanuddin Makassar untuk memproleh gelar Ahli Madya Farmasi (A.md.,Farm).

Makassar, 06 Agustus 2020

Tim Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Rezky Yalatri Wirastuty, S.Farm.,M.Si.,Apt Ns.Erna Kadrianti, S.Kep.,M.Kep


NIDN: 0928088903 NIDN: 0915108601
Program Studi D III Farmasi
Ketua,

Muthmainnah B, S.Si.,M.Si.,Apt
NIDN: 0911028103

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Tugas Akhir ini dengan Judul “Studi Literatur Tingkat Pengetahuan

Masyarakat Terhadap Penggunaan Obat Antibiotik” telah dipertahankan dihadapan

Tim Penguji pada Ujian Akhir Program studi D III Farmasi STIKES Nani

Hasanuddin Makassar yang diselenggarakan pada Hari Sabtu Tanggal 08 Agustus

2020.

Tim Penguji

Ketua : Rezky Yalatri Wirastuty, S.farm.,M.Si.,Apt (………………..)

Sekertaris : Ns.Erna Kadrianti, S.Kep.,M.Kep (………………..)

Anggota1 : Maulita Indisari, S.Si.,M.Si.,Apt (………………..)

STIKES Nani Hasanuddin Makassar


Ketua,

Sri Darmawan, SKM.,M.Kes


NIDN. 0923087803

iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Nur Hafizah. M

Nim : NH0517054

Judul LTA :”Studi Literatur Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap

Penggunaan Obat Antibiotik”, menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulis

Laporan Tugas Akhir ini berdasarkan hasil Penelitian, pemikiran dan pemaparan asli

dari saya sendiri, baik untuk naskah laporan maupun kegiatan Programming yang

tercantum sebagai bagian dari Laporan Tugas Akhir ini. Jika terdapat karya orang

lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas. Demikian pernyataan ini saya buat

dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan

ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademi

berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena karya tulis ini dan sanksi lain

sesuai dengan peraturan yang berlaku di STIKES Nani Hasanuddin Makassar.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak

manapun.

Makassar, 28 Juli 2020


Yang membuat pernyataan,

Nur Hafizah M

v
ABSTRAK

Nur hafizah. M “Studi Literatur Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap


Penggunaan Obat Antibiotik” (Dibimbing oleh : Rezki Yalatri Wirastuty, Erna
Kadrianti).
Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau dihasilkannya
secara sintetik yang dapat membunuh dan menghambat perkembangan
mikroorganisme. Indikasi dari antibiotika yaitu untuk penyakit yang diakibatkan oleh
infeksi bakteri, sehingga pemberian antibiotika dianjurkan untuk pasien yang
menderita gejala akibat infeksi bakteri. Ketidaktepatan dosis antibiotika berisiko
terhadap munculnya resistensi kuman terhadap antibiotika. Salah satu faktor yang
menyebabkan kesalahan penggunaan antibiotik adalah kurangnya pengetahuan
antibiotik itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan
masyarakat terhadap penggunaan obat antibiotik. Penelitian ini bersifat deskriptif
dengan menggunakan metode studi literatur. Literatur-literatur yang digunakan
merupakan terbitan tahun 2015-2020. Berdasarkan hasil dari beberapa penelitian
yang dilakukan di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan antibiotik masih dalam kategori
sedang.
KataKunci : Pengetahuan, Antibiotik, Masyarakat

vi
ABSTRACT

Nur hafizah M "Literature Study of Community Knowledge Levels on the Use


of Antibiotic Drugs" (Supervised by Rezki Yalatri Wirastuty, Erna Kadrianti).
Antibiotics are substances that are produced by microorganisms or produced
synthetically that can kill and inhibit the development of microorganisms. Indications
of antibiotics are for diseases caused by bacterial infections, so antibiotics are
recommended for patients suffering from symptoms due to bacterial infections.
Inaccuracy of antibiotic doses risks the emergence of germ resistance to antibiotics.
One of the factors causing antibiotic misuse is the lack of knowledge of antibiotics
themselves. This study aims to determine the level of public knowledge about the use
of antibiotic drugs. This research is descriptive in nature using the literature study
method. The literature used is a 2015-2020 issue. Based on the results of several
studies conducted in several regions in Indonesia, it shows that the level of public
knowledge on the use of antibiotics is still in the moderate category.
Keywords: Knowledge, Antibiotics, Society

vii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin puji syukur penulis panjatkan kepada Allah

subhanawata’ala atas limpahan rahmat yang telah diberikan yang jumlahnya tak

terhitung oleh akal manusia yang seandainya lautan dijadikan sebagai tinta dan

pepohonan di daratan dijadikan sebagai kertas untuk menulis semua rahmat yang

diberikan, ia tak akan cukup. Dengan rahmat yang diberikan oleh-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini dengan judul “Studi Literatur

Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Obat Antibiotik”

Tak lupa pula saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

Ayahanda Drs.H.Mappeasse, MM dan Ibunda Satirah, S.Ag yang selalu memberi

dukungan doa, moral dan finansial tanpa lelah, sungguh bakti yang bagaimanapun

tidak akan pernah bisa membalas segala jasa dan pengorbanannya sampai akhir

hayatku.

Teriring Doa untuk Alm. Ibu Hj. Nani Russa, SKM, M.Si. Selaku pendiri

Yayasan Pendidikan Nani Hasanuddin Makassar. Pada kesempatan ini pula, penulis

mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Yahya Haskas, SH., M.K selaku Ketua Yayasan Pendidikan Nani Hasanuddin

Makassar yang memberikan kesempatan pada kami mengikuti pendidikan di

STIKES Nani Hasanuddin Makassar.

viii
2. Sri Darmawan, SKM.,M.Kes selaku Ketua STIKES Nani Hasanuddin Makassar

yang telah memberi perhatian dan bimbingannya selama ini.

3. Muthmainnah B., S.Si., Apt selaku Ketua Program Studi D III Farmasi STIKES

Nani Hasanuddin Makassar yang telah memberi perhatian dan bimbingannya

selama ini.

4. Rezky Yalatri Wirastuty, S.farm.,M.Si.,Apt selaku pembimbing I atas segala

perhatian dan bimbingan yang telah diberikan selama proses penyelesaian

Laporan Tugas Akhir ini

5. Ns.Erna Kadrianti, S.Kep.,M.Kep selaku pembimbing II atas segala perhatian

dan bimbingan yang telah diberikan selama proses penyelesaian Laporan Tugas

Akhir ini.

6. Maulita Indisari, S.Si.,M.Si.,Apt selaku penguji yang telah memberikan

masukan dan saran dalam penyempurnaan Laporan Tugas Akhir ini

7. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Farmasi STIKES Nani Hasanudddin Makassar

yang telah membantu memberikan motivasi dan arahan selama mengikuti

pendidikan.

8. Staf STIKES Nani Hasanuddin Makassar yang telah banyak membantu mulai dari

administrasi pendidikan sampai penyelesaian tugas akhir.

9. Kepada keluargaku Jelita dan Nurliah Achmad yang banyak membantu dalam

penyusunan Laporan Tugas Akhir ini.

ix
10. Kepada teman-temanku Selviyana Karim Wali, Nirwana dan Rani Muhidin

Goru yang selalu membantu dan saling memotivasi dalam menyelesaikan

Laporan Tugas Akhir ini

11. Rekan-rekan mahasiswa reguler D III Farmasi Stikes Nani Hasanuddin Makassar.

12. Seluruh pihak yang tidak sempat disebutkan satu per satu yang telah membantu

selama penyusunan Laporan Tugas Akhir ini

Penulis menyadari Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan,

oleh karena itu penulis butuh kritik, saran yang sifatnya membangun sangat

penulis harapkan demi perkembangan ilmu pengetahuan di masa yang akan

datang. Akhir kata, semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi kita

semua sebagai mestinya. Aamiin.

Makassar, 28 Juli 2020

Nur Hafizah. M
NH0517054

x
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .......................................................................... i


HALAMAN JUDUL............................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................... iii
HALAMAN PENGESAHAN................................................................. iv
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN........................................... v
ABSTRAK ............................................................................................. vi
KATA PENGANTAR ............................................................................ viii
DAFTAR ISI........................................................................................... ix
DAFTAR TABEL .................................................................................. xiii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xv
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................ xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian ................................................................... 3
D. Manfaat penelitian.................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Obat ........................................................................................ 4
B. Antibiotik ............................................................................... 4
C. Prinsip Penggunaan Antibiotik .............................................. 15
D. Pengetahuan ........................................................................... 20
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian ..................................... 27
B. Hubungan Antar Variabel ...................................................... 28
C. Identifikasi Variabel............................................................... 28
D. Definisi Operasional............................................................... 29

xi
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis Metode Penelitian.......................................................... 30
B. Waktu Penelitian..................................................................... 30
C. Populasi dan Sampel............................................................... 30
D. Alur Penelitian ....................................................................... 31
E. Analisis dan Pengolahan Data................................................ 32
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil ....................................................................................... 33
B. Pembahasan ........................................................................... 35
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 39
B. Saran ...................................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 40
LAMPIRAN............................................................................................ 43

xii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1. Tabel 1. Hasil penelitian.................................................................. 33
2. Table 2. Mapping Jurnal.................................................................. 44

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar . Halaman

1. Gambar 1. Struktur Kimia Penisilin................................................. 7


2. Gambar 2. Struktur Kimia Sefalosporin........................................... 9
3. Gambar 3. Struktur Kimia Kloramfenikol....................................... 10
4. Gambar 4. Struktur Kimia Tetrasiklin............................................. 11
5. Gambar 5. Struktur Kimia Aminoglikosida..................................... 12
6. Gambar 6. Skema Variabel Independen dan Variabel Dependen ... 12
7. Gambar 6. Flowchart...................................................................... 31

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1. Skema Kerja..................................................................................... 43
2. Mapping Jurnal................................................................................. 44

xiv
DAFTAR SINGKATAN

No Istilah Singkatan dari


1. WHO World Health Organization
2. Depkes Departemen Kesehatan
3. 7-ACA 7-aminocephalosporanic acid

4. PABA Paba-aminobenzoic Acid

5. KHM Kadar Hambat Minimal

6. MIC Minimum Inhibitory Concentration

7. DAGUSIBU Dapatkan, Gunakan, Simpan dan Buang


8. μg/mL Mikrogram Per Mililiter
9. Kemenkes Kementerian Kesehatan
10. RISKESDAS Riset Kesehatan Dasar

11. MDR-TB Multidrug-Resistent Tuberculosis

12. KIE Komunikasi, Informasi dan Edukasi

13. Puskesdes Pusat Kesehatan Desa

14. Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat

15. UPTD Unit Pelaksana Teknis Daerah

16. ISPA Infeksi Saluran Pernapasan Akut

17. RT Rukun Tetangga

18. RW Rukun Warga

19 BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

xv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penggunaan antibiotik saat ini masih sangat tinggi karena penyakit infeksi

masih mendominasi. Penyakit infeksi menjadi penyebab kematian terbesar di

dunia anak-anak dan dewasa muda. Menurut Badan POM (2011) di negara

berkembang, penyakit infeksi menyebabkan lebih dari 13 juta kematian per

tahun. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2012) di Indonesia, penyakit infeksi

menduduki daftar sepuluh penyakit terbanyak. Sedangkan menurut Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 terdapat 28,1% penyakit infeksi di

Indonesia (Kusuma, 2017)

Antibiotika merupakan golongan obat yang sangat diperlukan untuk

mengatasi penyakit infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional

tersebut dapat menimbulkan masalah besar berupa bakteri kebal terhadap

antibiotik dengan kata lain terjadinya resistensi antibiotik. Menurut Peraturan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/ XII/2011

resistensi adalah kemampuan bakteri untuk menetralisir dan melemahkan daya

kerja antibiotik (Songgigilan dkk, 2020)

Berdasarkan Laporan terakhir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam

“Antimicrobial Resistance: Global Report on Surveillance” menunjukkan bahwa

1
2

Asia Tenggara memiliki angka tertinggi dalam kasus resistensi antibotik di

dunia. (Kementerian Kesehatan RI, 2015)

Resistensi antibiotik menyebabkan kemampuan suatu antibiotik dalam

mengobati infeksi menurun. Selain itu, resistensi antibiotik menyebabkan

terjadinya masalah lain, yakni peningkatan angka kesakitan dan kematian,

bertambahnya biaya dan lama perawatan, serta meningkatnya efek samping dari

penggunaan obat ganda dan dosis tinggi Kusuma, 2017).

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2015) Penggunaan antibiotika yang

bijak dan rasional dapat mengurangi beban penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Sebaliknya, penggunaan antibiotika secara luas pada manusia dan hewan yang

tidak sesuai indikasi, mengakibatkan meningkatnya resistensi antibiotika secara

signifikan. Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai manfaat, cara

penggunaan, dan dampak dari penggunaan antibiotik masih rendah (Kusuma,

2017).

Salah satu penyebab penggunaan obat antibiotik yang tidak rasional adalah

karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik yang

baik dan benar. Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dilakukannya penelitian

berupa pengkajian studi literatur tingkat pengetahuan masyarakat terhadap

penggunaan obat antibiotik.


3

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat terhadap

penggunaan obat antibiotik.

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat

pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat antibiotik.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Ilmu Pengetahuan

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah kepada

masyarakat terkait penggunaan obat antibiotik.

2. Bagi Institusi

Diharapkan dengan hasil ini dapat memberikan sumbangan

pengetahuan dibidang pendidikan Farmasi serta dapat dijadikan masukan

untuk penelitian selanjutnya.

3. Bagi Peneliti

Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan

serta pemahaman peneliti tentang penggunaan obat antibiotik.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Obat

1. Definisi Obat

Obat adalah suatu bahan/paduan bahan yang dimaksudkan untuk

digunakan dalam menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangkan,

menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau

kelainan badania dan rohaniah pada manusia atau hewan, memperelok bahan

atau bagian badan manusia (Murtini, 2016).

B. Antibiotik

1. Definisi Antibiotik

Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau

dihasilkannya secara sintetik yang dapat membunuh dan menghambat

perkembangan mikroorganisme (Yuanita, 2019).

2. Golongan Antibiotik (Indijah & Fajri, 2016)

a. Beta-Laktam

1) Penisilin

Penisilin berasal dari jamur Penisilium notatum yang pertama kali

ditemukan tahun 1929 oleh Alexander Fleming. Penisilin

digolongkan ke dalam antibiotik beta-laktam karena mempunyai ciri

terdapat cincin beta-laktam di dalam struktur kimianya, yang


5

berperan penting dalam aktivitas biologis senyawa ini. Apabila cincin

beta-laktam secara enzimatis dipisah oleh enzim betalaktamase yang

dihasilkan bakteri, maka produk yang dihasilkannya akan berkurang

aktivitas antibakterinya. Seperti halnya semua antibiotik golongan

beta-laktam, kerja penisilin menghambat pertumbuhan bakteri

dengan jalan menghambat tahap spesifik dalam sintesis dinding sel

bakteri.

Gambar 1. Struktur Kimia Penisilin (Sumber: Lullmann, Color Atlas of Pharmacology,

271 dalam Indijah & Fajri, 2016)

a) Benzil penisilin (penisilin G)

Benzil penisilin mempunyai efek bakterisid yang kuat, dengan

spektrum kerja yang sempit terutama pada bakteri gram positif.

Benzil penisilin digunakan pada radang paru, radang otak,

profilaksis penyakit sifilis, endokarditis, dan gonorea.


6

b) Kloksasilin

Kloksasilin merupakan derivat (turunan) penisilin yang tahan

asam dan enzim betalaktamase. Sifat kloksasilin yang tahan

asam menyebabkan obat ini dapat digunakan secara oral.

Kloksasilin mempunyai spektrum kerja yang sempit.

c) Ampisilin

Ampisilin merupakan antibiotik golongan penisilin yang

mempunyai spektrum kerja luas, yang aktif pada bakteri gram

positif dan bakteri gram negatif. Ampisilin digunakan pada

infeksi saluran napas, saluran cerna, saluran kemih, kulit,

gonore, dan infeksi pada bagian lunak, seperti otot.

d) Amoksisilin

Amoksisilin mempunyai aktivitas yang sama dengan ampisilin.

2) Sefalosporin

Sefalosporin termasuk antibiotika beta laktam yang struktur, khasiat

dan sifat yang mirip dengan penisilin. Sefalosporin dihasilkan oleh

Cephalosporium acremonium. Inti dasar sefalosporin adalah asam 7-

aminosefalosporanat (7-ACA). Sefalosporin mempunyai spektrum

kerja yang luas, dan berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan

kuman. Mekanisme kerja sefalosporin ialah menghambat sintesis

dinding sel mikroba.


7

Gambar 2. Struktur Kimia Sefalosporin (Sumber: Lullmann, Color Atlas of

Pharmacology, 271 dalam Indijah & Fajri, 2016)

Menurut khasiat antimikrobanya dan resistensinya terhadap enzim

betalaktamase sefalosporin digolongkan menjadi:

a) Generasi 1: Aktif terhadap cocci gram positif, tidak tahan

terhadap betalaktamase Contoh: sefalotin, sefazolin, sefradin,

sefaleksin, dan sefadroksil.

b) Generasi 2: Lebih aktif terhadap kuman gram negatif, termasuk

H. influenzae, proteus, klebsiella, gonococci, dan kuman yang

resisten terhadap amoksisilin. Agak tahan terhadap

betalaktamase. Khasiat terhadap kuman gram positif lebih kurang

sama dengan generasi 1. Contoh: sefaklor, sefamandol,

sefmetazol, dan sefuroksim.

c) Generasi 3: Aktivitas terhadap kuman gram negatif lebih kuat dan

lebih luas meliputi pseudomonas dan bacteroides. Lebih resisten

terhadap betalaktamase, Contoh: sefoperazon, sefotaksim,

seftizoksim, seftriakson, sefotiam, sefiksim, dan sefprozil.


8

d) Generasi 4: Sangat resisten terhadap betalaktamase, dan sefepim

sangat aktif terhadap pseudomonas. Contoh: sefepim, sefpirom.

3) Kloramfenikol

Kloramfenikol berasal dari jamur Streptomyces venezuela dan

pertamakali disintesis pada tahun 1949. Kloramfenikol merupakan

antimikroba dengan spektrum luas. Kloramfenikol umumnya bersifat

bakteriostatis terhadap enterobacter dan staphilococus aureus,

bakterisid terhadap Str. pneumoniae, neisseria meningiditis, H.

influenzae. Mekanisme kerja kloramfenikol dengan menghambat

sintesis protein kuman.

Gambar 3. Struktur Kimia Kloramfenikol (Sumber: Lullmann, Color Atlas of

Pharmacology, 277 dalam Indijah & Fajri, 2016)

4) Tetrasiklin

Tetrasiklin merupakan suatu kelompok besar obat dengan struktur

dasar dan aktivitas yang serupa. Tetrasiklin dihasilkan oleh

streptomyces aureofaciens (klortetrasiklin) dan streptomyces rimosus

(oksitetrasiklin). Tetrasiklin merupakan antimikroba dengan

spektrum kerja yang luas. Tetrasiklin bersifat bakteriostatis untuk


9

banyak bakteri gram positif, negatif, ricketsia, klamidia, mikoplasma

serta untuk beberapa protozoa. Hanya melalui injeksi intravena dapat

dicapai kadar plasma yang bakterisid lemah. Mekanisme kerja

tetrasiklin berdasarkan hambatan sintesis protein pada bakteri

Gambar 4. Struktur Kimia Tetrasiklin (Sumber: Lullmann, Color Atlas of Pharmacology,

277 dalam Indijah & Fajri, 2016)

a) Tetrasiklin

Tetrasiklin diindikasikan untuk infeksi saluran napas, acne,

infeksi saluran kemih, Helicobacter pylori, dan disentri basiler.

b) Doksisiklin

Doksisiklin berkhasiat bakteriostatis terhadap kuman yang

resisten terhadap tetrasiklin dan atau penisilin. Doksisiklin

diindikasikan untuk penyakit kelamin (gonore, sifilis, chlamidia),

plasmodium falciparum dan profilaksisnya.

5) Aminoglikosida
10

Antibiotik golongan aminoglikosida dihasilkan oleh jenis fungi

streptomyces dan micromonospora. Semua turunannya mengandung

gula amino yang saling terikat dengan ikatan glikosida.

Aminoglikosida bersifat bakterisid dan merupakan antimikroba

dengan spektrum luas terutama pada bakteri gram negatif.

Mekanisme kerja aminoglikosida menghambat sintesis protein

kuman dengan cara ini terikat pada ribosom subunit 30s dan

menyebabkan salah baca kode genetik yang menyebabkan

terganggunya sintesis protein.

Gambar 5. Struktur Kimia Aminoglikosida (Sumber: Lullmann, Color Atlas of

Pharmacology, 281 dalam Indijah & Fajri, 2016)

Antibiotik golongan aminoglikosida digolongkan menjadi:

a) Antibiotik yang mengandung satu molekul gula amino:

streptomisin.
11

b) Antibiotik yang mengandung dua molekul gula amino yang

dihubungkan oleh molekul sikloheksana: kanamisin dan

turunannya (amikasin, dibekasin), gentamisin dan turunannya

(netilmisin, tobramisin).

c) Antibiotik yang mengandung tiga molekul gula amino: neomisin,

framisetin, dan paromomisin.

6) Makrolida dan Linkomisin

Makrolida merupakan suatu kelompok senyawa dengan ciri

mempunyai cincin lakton di mana terkait gula-gula deoksi. Obat yang

merupakan prototipe golongan ini adalah eritromisin yang diambil

dari Streptomyces erytheus. Kelompok antibiotika ini terdiri dari

eritromisin dengan derivatnya (klaritomisin, roxitromisin,

azitromisin, dan diritromisin), spiramisin. Linkomisin dan

klindamisin secara kimiawi berbeda dengan eritromisin, tetapi mirip

aktivitas, mekanisme kerja, dan pola resistensinya Golongan

makrolida bersifat bakteriostatis terhadap bakteri gram positif.

Mekanisme kerja golongan ini menghambat sintesis protein kuman

dengan cara berikatan secara reversibel dengan ribosom subunit 50s.

3. Mekanisme Kerja

Menurut Indijah & Fajri (2016), mekanisme kerja antibiotik adalah:


12

a. Menghambat metabolisme sel mikroba Mikroba membutuhkan asam folat

untuk kelangsungan hidupnya. Bila sintesis asam folat dari PABA

dihambat oleh antimikroba maka kelangsungan hidupnya akan terganggu.

Dengan mekanisme kerja ini diperoleh efek bakteriostatik. Contoh obat:

sulfonamide, trimetoprim, asam p-aminosalisilat, dan sulfonamide.

b. Menghambat sintesis dinding sel mikroba Contoh obat: penisilin,

sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin. Dinding sel terdiri

dari polipeptidoglikan, bila sintesis polipeptidoglikan dihambat maka

dapat menyebabkan dinding sel lisis oleh karena tekanan osmosis dalam

sel yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan diluar sel.

c. Mengganggu keutuhan membran sel mikroba Kerusakan membran sel

menyebabkan keluarnya berbagai komponen penting dari dalam sel

mikroba, seperti protein, asam nukleat, nukleotida dan lain-lain. Contoh

obat: polimiksin, gol polien serta berbagai antimikroba golongan

kemoterapetik.

d. Menghambat sintesis protein sel mikroba untuk kehidupannya sel

mikroba perlu mensintesis berbagai protein. Obat antibiotik diatas

menghambat pembentukan protein, atau mengakibatkan terbentuknya

protein yang abnormal dan nonfungsional. Contoh obat: aminoglikosida,

makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.


13

e. Menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba. Contoh obat rifampisin,

dan golongan kuinolon.

C. Prinsip Penggunaan Antibiotik (Kementerian Kesehatan RI, 2011)

1. Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan pada Penggunaan

Antibiotik

1. Resistensi Mikroorganisme Terhadap Antibiotik

1) Resistensi adalah kemampuan bakteri untuk menetralisir dan

melemahkan daya kerja antibiotik. Hal ini dapat terjadi dengan

beberapa cara, yaitu (Drlica & Perlin, 2011 (Kementerian Kesehatan

RI, 2011):

a) Merusak antibiotik dengan enzim yang diproduksi.

b) Mengubah reseptor titik tangkap antibiotik.

c) Mengubah fisiko-kimiawi target sasaran antibiotik pada sel

bakteri.

d) Antibiotik tidak dapat menembus dinding sel, akibat perubahan

sifat dinding sel bakteri.

e) Antibiotik masuk ke dalam sel bakteri, namun segera

dikeluarkan

f) dari dalam sel melalui mekanisme transport aktif ke luar sel.

2) Satuan resistensi dinyatakan dalam satuan KHM (Kadar Hambat

Minimal) atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC) yaitu kadar


14

terendah antibiotik (μg/mL) yang mampu menghambat tumbuh dan

berkembangnya bakteri. Peningkatan nilai KHM menggambarkan

tahap awal menuju resisten.

3) Enzim perusak antibiotik khusus terhadap golongan beta-laktam,

pertama dikenal pada Tahun 1945 dengan nama penisilinase yang

ditemukan pada Staphylococcus aureus dari pasien yang mendapat

pengobatan penisilin. Masalah serupa juga ditemukan pada pasien

terinfeksi Escherichia coli yang mendapat terapi ampisilin (Acar and

Goldstein, 1998; dalam Kementerian Kesehatan RI, 2011). Resistensi

terhadap golongan beta-laktam antara lain terjadi karena perubahan

atau mutasi gen penyandi protein (Penicillin Binding Protein, PBP).

Ikatan obat golongan beta-laktam pada PBP akan menghambat

sintesis dinding sel bakteri sehingga sel mengalami lisis.

4) Peningkatan kejadian resistensi bakteri terhadap antibiotik bisa

terjadi dengan 2 cara, yaitu:

a) Mekanisme Selection Pressure. Jika bakteri resisten tersebut

berbiak secara duplikasi setiap 20-30 menit (untuk bakteri yang

berbiak cepat), maka dalam 1-2 hari, seseorang tersebut dipenuhi

oleh bakteri resisten. Jika seseorang terinfeksi oleh bakteri yang

resisten maka upaya penanganan infeksi dengan antibiotic

semakin sulit.
15

b) Penyebaran resistensi ke bakteri yang non-resisten

melaluiplasmid. Hal ini dapat disebarkan antar kuman

sekelompok maupun dari satu orang ke orang lain.

5) Ada dua strategi pencegahan peningkatan bakteri resisten:

a) Untuk selection pressure dapat diatasi melalui penggunaan

antibiotik secara bijak (prudent use of antibiotics).

b) Untuk penyebaran bakteri resisten melalui plasmid dapat

diatasidengan meningkatkan ketaatan terhadap prinsip-prinsip

kewaspadaan standar (universal precaution).

2. Faktor Interaksi dan Efek Samping Obat

Pemberian antibiotik secara bersamaan dengan antibiotik lain, obat lain

atau makanan dapat menimbulkan efek yang tidak diharapkan. Efek dari

interaksi yang dapat terjadi cukup beragam mulai dari yang ringan seperti

penurunan absorpsi obat atau penundaan absorpsi hingga meningkatkan

efek toksik obat lainnya. Sebagai contoh pemberian siprofloksasin

bersama dengan teofilin dapat meningkatkan kadar teofilin dan dapat

berisiko terjadinya henti jantung atau kerusakan otak permanen.

Demikian juga pemberian doksisiklin bersama dengan digoksin akan

meningkatkan efek toksik dari digoksin yang bisa fatal bagi pasien. Data

interaksi obat-antibiotik sebagaimana diuraikan di bawah ini.


16

3. Faktor Biaya Antibiotik yang tersedia di Indonesia bisa dalam bentuk

obat generik, obat merek dagang, obat originator atau obat yang masih

dalam lindungan hak paten (obat paten). Harga antibiotik pun sangat

beragam. Harga antibiotik dengan kandungan yang sama bisa berbeda

hingga 100 kali lebih mahal dibanding generiknya. Apalagi untuk sediaan

parenteral yang bisa 1000 kali lebih mahal dari sediaan oral dengan

kandungan yang sama. Peresepan antibiotik yang mahal, dengan harga di

luar batas kemampuan keuangan pasien akan berdampak pada tidak

terbelinya antibiotik oleh pasien, sehingga mengakibatkan terjadinya

kegagalan terapi. Setepat apa pun antibiotik yang diresepkan apabila jauh

dari tingkat kemampuan keuangan pasien tentu tidak akan bermanfaat.

2. Prinsip Penggunaan Antibiotik Bijak (Prudent)

a. Penggunaan antibiotik bijak yaitu penggunaan antibiotik dengan

spektrum sempit, pada indikasi yang ketat dengan dosis yang adekuat,

interval dan lama pemberian yang tepat.

b. Kebijakan penggunaan antibiotik (antibiotic policy) ditandai dengan

pembatasan penggunaan antibiotik dan mengutamakan penggunaan

antibiotik lini pertama.

c. Pembatasan penggunaan antibiotik dapat dilakukan dengan menerapkan

pedoman penggunaan antibiotik, penerapan penggunaan antibiotik secara


17

terbatas (restricted), dan penerapan kewenangan dalam penggunaan

antibiotik tertentu (reserved antibiotics).

d. Indikasi ketat penggunaan antibiotik dimulai dengan menegakkan

diagnosis penyakit infeksi, menggunakan informasi klinis dan hasil

pemeriksaan laboratorium seperti mikrobiologi, serologi, dan penunjang

lainnya. Antibiotik tidak diberikan pada penyakit infeksi yang disebabkan

oleh virus atau penyakit yang dapat sembuh sendiri (self-limited).

e. Pemilihan jenis antibiotik harus berdasar pada:

1) Informasi tentang spektrum kuman penyebab infeksi dan pola

kepekaan kuman terhadap antibiotik.

2) Hasil pemeriksaan mikrobiologi atau perkiraan kuman penyebab

infeksi.

3) Profil farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik.

4) Melakukan de-eskalasi setelah mempertimbangkan hasil

mikrobiologi dan keadaan klinis pasien serta ketersediaan obat.

5) Cost effective: obat dipilih atas dasar yang paling cost effective dan

aman.

f. Penerapan penggunaan antibiotik secara bijak dilakukan dengan beberapa

langkah sebagai berikut:

1) Meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terhadap penggunaan

antibiotik secara bijak.


18

2) Meningkatkan ketersediaan dan mutu fasilitas penunjang, dengan

penguatan pada laboratorium hematologi, imunologi, dan

mikrobiologi atau laboratorium lain yang berkaitan dengan penyakit

infeksi.

3) Menjamin ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten di bidang

infeksi.

4) Mengembangkan sistem penanganan penyakit infeksi secara tim

(team work).

5) Membentuk tim pengendali dan pemantau penggunaan antibiotik

secara bijak yang bersifat multi disiplin.

6) Memantau penggunaan antibiotik secara intensif dan

berkesinambungan.

7) Menetapkan kebijakan dan pedoman penggunaan antibiotik secara

lebih rinci di tingkat nasional, rumah sakit, fasilitas pelayanan

kesehatan lainnya dan masyarakat.

D. Pengetahuan

1. Definisi

Menurut Soekanto (2002), pengetahuan merupakan hasil dari tahu,

merupakan domain yang penting dalam membentuk tindakan seseorang

(over behavior). Proses kognitif meliputi ingatan, pikiran, persepsi, simbo-

simbol penalaran dan pemecahan masalah. (Lestari, L., 2015)


19

2. Tingkat pengetahuan

Tingkat pengetahuan adalah tingkat seberapa kedalaman seseorang

dapat menghadapi, mendalami, memperdalam perhatian seperti sebagaimana

manusia menyelesaikan masalah tentang konsep-konsep baru dan

kemampuan dalam belajar dikelas. Untuk mengukur tingkat pengetahuan

seseorang secara rinci terdiri dari enam tingkatan (Lestari, L., 2015):

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang dipelajari sebelumnya.

Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali

(recall) sesuatu spesifik dari sesuatu bahan yang diterima atau dipelajari.

b. Memahami (comprehension)

Kemampuan untuk menjelaskan tentang objek yang diketahui dan

mengimprestasikan materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada suatu kondisi atau situasi nyata.

d. Analisis (analysis)

Kemampuan untuk menjabarkan materi ke dalam komponen-komponen,

tapi masih dalam suatu stuktur tersebut dan masih ada kaitannya satu

sma lain.
20

e. Sintesis (syntesis)

Kemampuan meletakkan atau menhubungkan bagian-bagian di dalam

suatu bentuk keseluruhan yang baru atau menyusun fomulasi baru dari

formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

3. Factor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut (Lestari, L.,

2015):

a. Tingkat pendidikan, yakni upaya untuk memberikan pengetahuan

sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat.

b. Informasi, seseorang yang mendapatkan informasi lebih banyak akan

menambah pengetahuan yang lebih luas.

c. Pengalaman, yakni sesuatu yang pernah dilakukan seseorang akan

menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat informal.

d. Budaya, tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan yang

meliputi sikap dan kepercayaan,

e. Sosial ekonomi, yakni kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan

hidupnya.
21

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut

Maaliono dkk. (2007) dalam Lestari, L., 2015) adalah:

a. Sosial ekonomi

Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang

bila ekonomi baik, tingkat pendidikan tinggi maka tingkat pengetahuan

akan tinggi juga.

b. Kultur (budaya dan agama)

Budaya sangat berpengaruhi terhadap tingkat pengetahuan seseorang

karena informasi yang baru akan disaring sesuai atau tidaknya dengan

budaya yang ada apapun agama yang dianut.

c. Pendidikan

Semakin tinggi pendidikan maka akan mudah menerima hal baru dan

akan mudah menyesuaikan dengan hal yang baru.

d. Pengalaman

Pengalaman disini berkaitan dengan umur dan pendidikan individu.

Pendidikan yang tinggi, maka pengalaman akan lebih luas, sedangkan

semakin tua umur seseorang maka pengalamannya akan semakin banyak.

4. Cara-cara memperoleh pengetahuan

Cara-cara memperoleh pengetahuan dengan 2 cara yaitu (Lestari, L., 2015):

a. Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan

1) Cara coba salah (Trial and Eror)


22

Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan

mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan

dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan

apabila kemungkinan ini tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan

yang lain sehingga masalah ini dapat dipecahkan.

2) Cara kekuasaan atau otoritas

Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-

pemimpin baik formal atau informal, ahli agama, pemegang

pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima,

mempunyai uang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas,

tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik

berdasarkan fakta empiris ataupun penalaran sendiri.

3) Cara berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya

memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan

yang pernah dihadapi dimasa lalu.

b. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan

Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih populer atau disebut

metologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis

Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven.


23

Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini

kita dengan penelitian ilmiah.

5. Jenis Pengetahuan

Menurut Bagaskoro (2019), terdapat empat jenis:

a. Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang tertanam dalam diri

seseorang dalam bentuk pengalaman dan berisi faktor-faktor yang tidak

bersifat nyata seperti keyakinan pribadi, perspektif dan prinsip.

b. Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan

atau disimpan dalam wujud nyata berupa media atau semacamnya.

c. Pengetahuan Empiris

Pengetahuan empiris adalah pengetahuan yang lebih menekankan

pengamatan dan pengalaman indrawi atau pengetahuan aposteriori.

d. Pengetahuan Rasionalisme

Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang diperoleh melalui

akal budi.

6. Kategori pengetahuan

Menurut teori Arikunto (2016) dalam (Songgigilan dkk, 2020) kategori

pengetahuan terdiri dari:


24

a. Pengetahuan tiap responden dikatakan baik jika % pertanyaan yang

dijawab benar oleh responden >76%

b. Pengetahuan tiap responden dikatakan sedang jika % pertanyaan yang

dijawab benar oleh responden 56-75%

c. Pengetahuan tiap responden dikatakan kurang jika % pertanyaan yang

dijawab benar oleh responden <56%.


BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran dan Variabel Penelitian

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini dihasilkan setelah orang

melakukan pengindraan pada suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (Nurmala dkk, 2018).

Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau

dihasilkannya secara sintetik yang dapat membunuh dan menghambat

perkembangan mikroorganisme (Yuanita, 2019).

Masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-

aspek tertentu, misalnya teritorial, bangsa, golongan dan sebagainya (Yulianthi,

2015).

Literatur merupakan sumber data pada penelitian sedangkan review

literatur merupakan proses meletakkan, mendapatkan, membaca, dan

mengevaluasi literatur penelitian terkait dengan ketertarikan peneliti (Manzilati,

2017).

25
26

B. Hubungan Antar Variabel

Pengetahuan
Masyarakat Antibiotik

Gambar 6. Skema Hubungan Variabel Independen dan Variabel Dependen

Keterangan

: Variabel bebas (independen)

: Variabel terikat (dependen)

C. Identifikasi Variabel

1. Variabel Independen

Variabel independen (variabel bebas) yaitu variabel yang menjadi sebab

terjadinya atau terpengaruhnya variabel terikat (Christalina, 2018). Variabel

independen pada penelitian ini yaitu pengetahuan masyarakat

2. Variabel dependen

Variabel dependen adalah variabel terikat yang dipengaruhi karena

adanya variabel bebas (Christalina, 2018). Variabel dependen pada penelitian

ini yaitu Antibiotik


27

D. Definisi Operasional

1. Pengetahuan adalah suatu pemahaman yang terkait antibiotik

2. Masyarakat adalah sekelompok orang yang berasal dari beberapa daerah di

Indonesia.

3. Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dapat membunuh

dan menghambat perkembangan mikroorganisme lain


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan studi

literatur yaitu dengan mengumpulkan data atau literatur yang berkaitan dengan

objek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan. Telaah yang

dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya tertumpu

pada penelaan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustakaan yang

relevan

B. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni-Juli 2020

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh teori-teori baik dari buku

maupun jurnal yang mendukung penelitian ini yaitu tentang tingkat

pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat antibiotik.

2. Sampel

Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah teori-teori yang

bersumber dari buku maupun jurnal dengan batas waktu lima tahun terakhir

yaitu 2015-2020 tentang tingkat pengetahuan masyarakat terhadap

penggunaan obat antibiotik.

28
29

D. Alur Penelitian

Di bawah ini merupakan alur penelitian yang digambarkan dalam bentuk

Flowchart diagram:

Mulai

Studi Literatur

Mencari literatur (Sumber: Google scholar)

Mengumpulkan Literatur Menggunakan kata kunci Tingkat


Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Obat Antibiotik

Hasil pencarian jurnal ditemukan berdasarkan kata kunci tingkat


pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat Antibiotik

Jurnal disaring berdasarkan tahun terbit

Jurnal penelitian 5 tahun terakhir

Hasil pencarian berdasarkan tahun terbit 5 tahun terakhir

Tidak
Jurnal penelitian disaring sesuai
kriteria

Iya
Hasil pencarian memenuhi Kriteria
30

Menganalisis hasil jurnal

Kesimpulan & Saran

Selesai

Gambar 7. Flowchart

Penelitian ini dilakukan dengan cara analisis literatur dengan pengumpulan

data menggunakan google scholar untuk mendapatkan jurnal atau literatur

kemudian melakukan penyaringan jurnal berdasarkan tahun terbit yaitu 5 tahun

terakhir, batas tahun terbit jurnal dari tahun 2015-2020.

E. Analisis dan Pengolahan Data

Cara pengolahan data yaitu dengan mengumpulkan data-data atau literatur

yang berhubungan dengan penelitian ini. Data-data yang sudah sudah diperoleh

kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif.

Metode analisis deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-

fakta yang kemudian disusun dengan analisis, tidak semata-mata menguraikan,

melainkan juga memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya.


BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Penelitian

No Nama Penulis Judul Tingkat

Tahun Pengetahuan

Antibiotik
1. Nurfadillah Hubungan Tingkat Pendidikan Kategori

Sapirdin, Ida Responden dengan Tingkat Tinggi:

Adhayanti, Pengetahuan Tentang Penggunaan SD dan SMP

Asyhaari Asyikin Antibiotika di Kelurahan Buntu 57,3%,

dan Muhammad Sugi Kecamatan Alla’ Kabupaten SMA 66,7%,

Saud (2017). Enrekang. dan

D3/D3/S1/S2

/S3 61,8%.

31
32

2. Guntur Satrio Tingkat Pengetahuan Masyarakat Kategori

Pratomo dan Desa Anjir Mambulau Tengah Kurang:

Nuria Ayu Dewi Terhadap Penggunaan Antibiotik. Usia 18-60

(2018). tahun

34,50 %.

3. Mahardhika A.C. Tingkat Pengetahuan Pasien Rawat Kategori

Dewi dan Yeni Jalan Tentang Penggunaan Baik:

Farida (2018). Antibiotika di Puskesmas Wilayah Puskesmas

Karanganyer. Karanganyar

81,8% dan

Puskesmas

Ngargoyoso

76,4%.
4. Heny Puspasari, Tingkat Pengetahuan Tentang Kategori

Siti Harida dan “DAGUSIBU” Obat Antibiotik baik:

Dwi Fitriyani pada Masyarakat Desa Sungai sangat baik

(2018). Awan Kiri Kecamatan Muara 25%, baik 60

Pawan Kabupaten Ketapang Tahun % dan cukup

2017. baik 15%.

5. Rahma Yulia, Studi Tingkat Pengetahuan Kategori

Rika Putri dan Masyarakat Terhadap Penggunaan Cukup:


33

Rino Wahyudi Antibiotik di Puskesmas Rasimah kurang 17%,

(2019). Ahmad Bukittinggi. cukup 60%,

dan baik

23%.
6. Swingly Diego Evaluasi Tingkat Pengetahuan Kategori

Songgigilan, Pasien Pada Penggunaan Obat sedang:

Jeane Mongie, Antibiotik di Apotek UNO 1 Kota 68.05%

Randy Tampa’i Manado.

dan Sonny D.

Untun (2020).
7. Inchristy Victoria Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Kategori

Kondoj, Widya Sikap Terhadap Penggunaan kurang: 69%.

Astuty Lolo, Antibiotik Di Apotek Kimia Farma

Imam Jayanto 396 Tuminting Kota Manado

(2020)
8. Tri Damayanti, Tingkat Pengetahuan Masyarakat Kategori
Sari Yanti, Hindi Terhadap Antibiotik Di Puskesmas rendah: 55 %.
Amrullah (2019) Beringin Raya Kota Bengkulu

9. Nur Yeti Syarifah Gambaran Tingkat Pengetahuan Kategori


(2016) Masyaraat Terhadap Perilaku cukup:
Penggunaan Antibiotik Di Desa baik 30,4%,
Grumbul Gede Selomartani cukup 56,5%
Kalasan dan kurang
13,0%

B.
35

C. Pembahasan

Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau

dihasilkannya secara sintetik yang dapat membunuh dan menghambat

perkembangan mikroorganisme (Yuanita, 2019). Menurut Kemenkes (2011)

indikasi dari antibiotika yaitu untuk penyakit yang diakibatkan oleh infeksi

bakteri, sehingga pemberian antibiotika dianjurkan untuk pasien yang menderita

gejala akibat infeksi bakteri. Ketidaktepatan pemilihan terapi pengobatan

merupakan faktor penggunaan obat yang irasional, hal ini sering terjadi pada

penggunaan antibiotika (Dewi & Farida, 2018)

Antibiotika merupakan golongan obat yang sangat diperlukan untuk

mengatasi penyakit infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional

tersebut dapat menimbulkan masalah besar berupa bakteri kebal terhadap

antibiotik dengan kata lain terjadinya resistensi antibiotik. Menurut Peraturan

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2406/MENKES/PER/ XII/2011

Resistensi adalah kemampuan bakteri untuk menetralisir dan melemahkan daya

kerja antibiotik (Songgigilan dkk, 2020)

Ketidaktepatan dosis antibiotika berisiko terhadap munculnya resistensi

kuman terhadap antibiotika. Menurut Kemenkes (2011) resistensi antibiotika

timbul oleh cara/durasi penggunaan dan dosis antibiotika yang tidak tepat,

sehingga akibat dari pemakaian antibiotika yang berlebih, kurang maupun tidak

sesuai indikasi. Durasi penggunaan antibiotika yang tepat adalah sampai obat
36

habis, durasi penggunaan obat erat kaitannya dengan dosis dan waktu

penghentian antibiotika. Penghentian antibiotika yang tepat adalah ketika obat

sudah habis, bukan ketika gejala klinis menunjukkan bahwa pasien sudah

sembuh. Sehingga, pada peresepan antibiotika diperlukan informasi bahwa obat

harus diminum sampai habis selama satu kurun waktu pengobatan, meskipun

gejala klinis sudah mereda/hilang (Dewi & Farida, 2018)

Salah satu faktor yang menyebabkan kesalahan penggunaan antibiotik

adalah kurangnya pengetahuan akan antibiotik itu sendiri (Yulia dkk, 2019).

Pengetahuan dalam penggunaan obat DAGUSIBU merupakan hal yang

terpenting karena pengetahuan merupakan salah satu cara agar dapat

menggunakan obat, menyimpan, mendapatkan, dan membuang obat sesuai

dengan konsep DAGUSIBU (Puspasari dkk, 2018). Berdasarkan penelitian

(Dewi & Farida, 2018) gambaran tingkat pengetahuan responden, rata-rata

pengetahuan yang perlu ditingkatkan adalah mengenai contoh penyakit yang

membutuhkan antibiotika, durasi pengunaan antibiotika, penghentian antibiotika

dan cara memperoleh antibiotika.

Menurut (Sapirdin dkk, 2017) tingkat pengetahuan masyarakat tentang

penggunaan antibiotika di Kelurahan Buntu Sugi Kecamatan Alla’ Kabupaten

Enrekang termasuk dalam kategori tinggi. Tingkat pengetahuan untuk

masyarakat dengan tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) adalah 57,3%, untuk

masyarakat dengan tingkat pendidikan menengah (SMA) yaitu 66,7% dan untuk
37

tingkat pendidikan tinggi (D3/D3/S1/S2/S3) adalah 61,8%. Sedangkan tingkat

pengetahuan Masyarakat Desa Anjir Mambulau Tengah terhadap penggunaan

antibiotik yaitu pada usia 18-60 tahun masuk dalam kategori tingkat pengetahuan

kurang dengan nilai persentase 34,50 % (Pratomo & Dewi, 2018).

Menurut Yulia dkk, (2019) tingkat pengetahuan masyarakat di Puskesmas

Rasimah Ahmad Bukittinggi terhadap penggunaan antibiotik berada dalam

kategori kurang sebanyak 17 orang (17%), sedangkan pada kategori cukup

sebanyak 60 orang (60%) dan pada kategori baik sebanyak 23 orang (23%). Jadi

dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik

berada dalam kategori cukup. Sedangkan pada salah satu apotek di Manado,

(Songgigilan, 2020) memperoleh hasil sebesar 68.05%, sehingga dapat

disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan pasien diapotek UNO 1 Kota Manado

tentang penggunaan antibiotika termasuk kategori sedang.

Dewi & Farida (2018), menyatakan bahwa tingkat pengetahuan pasien

rawat jalan tentang penggunaan antibiotika di Puskesmas Ngargoyoso dan di

Puskesmas Karanganyar dalam kategori baik yaitu 81,8% (Puskesmas

Karanganyar) dan 76,4% (Puskesmas Ngargoyoso). Sedangkan penelitian

tentang DAGUSIBU antibiotik yang dilakukan Puspasari dkk, (2018) pada

masyarakat desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan Kabupaten

Ketapang Tahun 2017 menyatakan tingkat pengetahuan tentang DAGUSIBU

obat Antibiotik berada dalam kategori sangat baik sebanyak 25% responden,
38

sedangkan pada kategori baik sebanyak 60 % responden dan pada kategori cukup

baik sebanyak 15% responden. Jadi Tingkat Pengetahuan DAGUSIBU Obat

Antibiotik Pada Masyarakat Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan

Kabupaten Ketapang Tahun 2017 dapat disimpulkan sudah baik. DAGUSIBU

(Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) adalah program gerakan keluarga sadar

obat yang diprakarsai oleh Ikatan Apoteker Indonesia dalam mencapai

pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan obat dengan benar

(Prasetya dkk, 2019).

Menurut Kondoj dkk, (2020) persentase tingkat pengetahuan antibiotik

pada pengunjung Apotek Kimia Farma 396 Tuminting kota Manado masih

kategori kurang dengan persentase sebesar 69%, sedangkan menurut Damayanti

dkk, (2019) berdasarkan penelitiannya yang dilakukan di Puskesmas Beringin

Raya Kota Bengkulu dengan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap antibiotik

masuk dalam kategori rendah yaitu 55 %. Penelitian serupa juga dilakukan oleh

Syarifah (2016) di Desa Grumbul Gede Selomartani Kalasan dengan Gambaran

tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotik terbagi menjadi

tiga kelompok, baik 14 orang (30,4%), cukup 26 orang (56,5%) dan kurang 6

orang (13,0%) sehingga dapat disimpulkan kategori pengetahuan cukup.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dari beberapa jurnal,

didapatkan persentase rata-rata berada dalam rentang skor 56%-75%. Hal ini

menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat


39

Antibiotik termasuk dalam kategori sedang (cukup). Berhubung karena semakin

tinggi pendidikan seseorang semakin mudah memahami dan menyerap informasi

yang disampaikan, sehingga semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu

ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak mutlak

berpengetahuan rendah pula, karena pengetahuan tidak hanya diperoleh dari

pendidikan formal akan tetapi dapat juga diperoleh dari pendidikan non formal.

Pendidikan non formal yang lazim digunakan untuk berkomunikasi dan

mendapatkan informasi, diantaranya adalah televisi, radio, surat kabar atau

koran, majala, internet website, dan sebagainya. Selain itu masyarakat juga sudah

mendapatkan edukasi dari petugas kesehatan tentang obat Antibiotik.


BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa jurnal dapat disimpulkan bahwa

tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan obat antibiotik masih

dalam kategori sedang (cukup).

B. Saran

Diperlukan adanya sosialisai tentang penggunaan obat antibiotik yang baik

dan benar, serta dampak buruk jika penggunaan antibiotik yang kurang tepat.

40
DAFTAR PUSTAKA

Bagaskoro. 2019. Pengantar Teknologi Informatika dan Komunikasi Data.


Yogyakarta: Deepublish Publisher. https://books.google.co.id/books?
id=F8ysDwAAQBAJ&pg=PA44&dq=pengetahuan+pengantar+teknologi&hl
=id&sa=X&ved=2ahUKEwjWlKWguO7qAhXRfH0KHTs7CDgQ6AEwAHo
ECAUQAg#v=onepage&q=pengetahuan%20pengantar
%20teknologi&f=false. Diakses tanggal 03 Juli 2020
Christalina, C. 2018. Pengaruh Pengalaman dan Karakter Sumber Daya Manusia
Konsultan Manajemen Konstruksi Terhadap Kualitas Pekerjaan pada Proyek
di Kabupaten Pandeglang. Jurnal Fondasi 7(1): 87-98
Damayanti, T., Yanti, S., Amrullah, H. 2019. Tingkat Pengetahuan Masyarakat
Terhadap Antibiotik Di Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu. Jurnal
Ilmiah Farmacy, 6(1), 191-196. http://jurnal.akfar-
alfatah.ac.id/index.php/jiphar/article/view/24/0. Diakses tanggal 09 Agustus
2020
Dewi, M.A.C., Farida, Y. 2018. Tingkat Pengetahuan Pasien Rawat Jalan Tentang
Penggunaan Antibiotika di Puskesmas Wilayah Karanganyer. Journal of
Pharmaceutical Science and Clinical Research, 01, 27-35.
https://jurnal.uns.ac.id/jpscr/article/view/15102. Diakses tanggal 01 Juli 2020
Indijah, S.W., Fajri, P. 2016. Farmakologi.Jakarta: Kesehatan Republik Indonesia.
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-
content/uploads/2017/08/Farmakologi-Komprehensif.pdf. Diakses tanggal 02
Juli 2020
Kusuma, F. 2017. Karakteristik Pengguna Antibiotik Tanpa Resep Dokter di
Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Angkatan 2017. Skripsi. Tidak diterbitkan. Fakultas Kedokteran. Universitas
Hasanuddin Makassar: Makassar.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 2406/Menkes/Per/Xii/2011 Tentang Pedoman Umum Penggunaan
Antibiotik.Jakarta: Mentri Kesehatan Republik Indonesia.
http://iai.id/library/pelayanan/permenkes-no-2406-thn-2016-ttg-pedoman-
umum-penggunaan-antibiotik. Diakses tanggal 02 Juli 2020
Kementerian Kesehatan RI. 2015. Penggunaan Antibiotik Bijak dan Rasional
Kurangi Beban Penyakit Infeksi.
https://www.kemkes.go.id/article/view/15081100001/penggunaan-antibiotik-

41
42

bijak-dan-rasional-kurangi-beban-penyakit-infeksi.html. Diakses tanggal 27 Juli 2020


Kondoj, I. V., Lolo, W. A., Jayanto, I. 2020. Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan
Sikap Terhadap Penggunaan Antibiotik Di Apotek Kimia Farma 396
Tuminting Kota Manado. Pharmacon, 9(2), 294-301.
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/pharmacon/article/view/29284. Diakses
tanggal 09 Agustus 2020
Lestari, T. 2015. Kumpulan Teori Untuk Kajian Pustaka Penelitian Kesehatan.
Yogyakarta: Nuha Medika
Manzilati, A. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: Univetsitas Brawijaya
Press
Murtini, G. 2016. Farmestika Dasar. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-
content/uploads/2017/08/Farmestika-Komprehensif.pdf. Diakses tanggal 02
Juli 2020
Nurmala, I., dkk. 2018. Promosi Kesehatan. Surabaya: Airlangga University Press.
https://books.google.co.id/books?
id=SGvIDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=PROMOSI+KESEHATAN
&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwibvuGRx-
7qAhVDcCsKHd0mA7wQ6AEwAHoECAYQAg#v=onepage&q=PROMOSI
%20KESEHATAN&f=false. Diakses tanggal 08 Juli 2020
Pratomo, G.S., Dewi, N.A. (2018). Tingkat Pengetahuan Masyarakat Desa Anjir
Mambulau Tengah Terhadap Penggunaan Antibiotik.Jurnal Surya Medika,
4(1), 79-89.
http://journal.umpalangkaraya.ac.id/index.php/jsm/article/view/354/338.
Diakses tanggal 01 Juli 2020.
Prasetya, F., Jumakil, Sidiq, N.M. 2019. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan;
Penguatan dan Inovasi Pelayanan Kesehatan dalam Era Revolusi Industri
4.0. Kendari: UHO EduPress. https://books.google.co.id/books?
id=lpPsDwAAQBAJ&pg=PA173&dq=dagusibu+adalah&hl=id&sa=X&ved=
2ahUKEwi90aXK_u_qAhWKaCsKHVUQChcQ6AEwAHoECAQQAg#v=on
epage&q=dagusibu%20adalah&f=false. Diakses tanggal 09 Juli 2020
43

Puspasari, H., Harda, S., Fitriyani, D. 2018. Tingkat Pengetahuan Tentang


“DAGUSIBU” Obat Antibiotik pada Masyarakat Desa Sungai Awan Kiri
Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang Tahun 2017. Open Journal
Systems STF Muhammadiyah Cirebon, 3(1), 11-18.
http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/980628. Diakses tanggal 01
Juli 2020
Sapirdin, N., Adhayanti, I., Asyikin, A., Saud, M. 2017. Hubungan Tingkat
Pendidikan Responden dengan Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan
Antibiotika di Kelurahan Buntu Sugi Kecamatan Alla’ Kabupaten
Enrekang.Makassar: Media Farmasi, 8(1), 92-98. http://farmasi.poltekkes-
mks.ac.id/index.php/media-farmasi/mediaapril2017/153-hubungan-tingkat-
pendidikan-responden-dengan-tingkat-pengetahuan-tentang-penggunaan-
antibiotika-di-kelurahan-buntu-sugi-kecamatan-alla-kabupaten-enrekang.
Diakses tanggal 29 Juni 2020
Songgigilan, S.D., Mongie, J., Tampa’I, R., Untu, S.D. 2020. Evaluasi Tingkat
Pengetahuan Pasien Pada Penggunaan Obat Antibiotik di Apotek UNO 1
Kota Manado.Jurnal Biofarmasetika Tropis, 3(1), 97-100.
https://journal.fmipaukit.ac.id/index.php/jbt/article/view/263. Diakses tanggal
01 Juli 2020
Syarifah, N. Y. 2016. Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyaraat Terhadap
Perilaku Penggunaan Antibiotik Di Desa Grumbul Gede Selomartani
Kalasan. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(2), 616-625.
http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/502340. Diakses tanggal 09
Agustus 2020

Yuanita, T. 2019. Flare Up Endodontic. Surabaya: Airlangga University Press.


https://books.google.co.id/books?
id=amvIDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Flare+Up+Endodontic&hl=i
d&sa=X&ved=2ahUKEwjC186pze7qAhWJILcAHSrZDcQQ6AEwAHoECA
IQAg#v=onepage&q=Flare%20Up%20Endodontic&f=false. Diakses tanggal
02 Juli 2020
Yulianthi. 2015. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta: Deepublish Publisher.
https://books.google.co.id/books?
id=aMCVDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Ilmu+Sosial+Budaya+Das
ar&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwi-
wYOCzu7qAhW1IbcAHXT8BDYQ6AEwAnoECAQQAg#v=onepage&q=Il
mu%20Sosial%20Budaya%20Dasar&f=false. Diakses tanggal 09 Juli 2020
44

Yulia, R., Putri, R., Wahyudi, R. 2019. Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat
Terhadap Penggunaan Antibiotik di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi.
Jurnal of Pharmaceutical and Sciences, 2(2), 43-48.
https://www.researchgate.net/publication/341970221_STUDI_TINGKAT_PE
NGETAHUAN_MASYARAKAT_TERHADAP_PENGGUNAAN_ANTIBI
OTIK_DI_PUSKESMAS_RASIMAH_AHMAD_BUKITTINGGI. Diakses
tanggal 01 Juli 2020
45

LAMPIRAN

1. Skema Kerja

Studi Literatur

Mencari literatur (Sumber: Google scholar)

Mengumpulkan Literatur Menggunakan kata kunci Tingkat


Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan Obat Antibiotik

Hasil pencarian ditemukan sebanyak ± 150 jurnal

Jurnal disaring berdasarkan tahun terbit yaitu 5 tahun terakhir

Hasil pencarian ditemukan sebanyak 92 jurnal

Jurnal penelitian yang disaring sesuai kriteria

Hasil pencarian yang relevan ditemukan sebanyak 9 jurnal jurnal

Menganalisis hasil jurnal

Kesimpulan & Saran


46

2. Mapping Jurnal
Tabel 2. Mapping Jurnal
Judul Hubungan Tingkat Pendidikan Responden dengan Tingkat
Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotika di Kelurahan Buntu
Sugi Kecamatan Alla’ Kabupaten Enrekang.
Volume dan Vol. 08. Halaman 92-98
Halaman
Tahun 2017
Penulis Nurfadillah Sapirdin, Ida Adhayanti, Asyhaari Asyikin dan
Muhammad Saud.
Latar Penggunaan antibiotika secara sembarangan, akan memperbesar
Belakang kemungkinan terjadinya resistensi yaitu keadaan dimana bakteri
kebal terhadap antibiotika tersebut sehingga penyakit oleh bakteri
tersebut akan sulit diatasi. Apabila resistensi terhadap pengobatan
terus berlanjut tersebar luas, dunia yang sangat telah maju dan
canggih ini akan kembali ke masa-masa kegelapan kedokteran
seperti sebelum ditemukannya antibiotika (Apua, 2011).
Berdasarkan Laporan terakhir dari Badan Kesehatan Dunia (WHO)
dalam “Antimicrobial Resistance: Global Report on Surveillance”
menunjukkan bahwa Asia Tenggara memiliki angka tertinggi dalam
kasus resistensi antibotik di dunia. Dan menurut data WHO, pada
tahun 2013 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent
tuberculosis (MDR-TB) di dunia (Depkes, 2015). Berdasarkan
observasi awal yang telah dilakukan di Kelurahan Buntu Sugi
Kecamatan Alla Kabupaten Enrekang, sebagian masyarakat
menggunakan antibiotika tidak sesuai dosis seperti hanya
menggunakan dua atau tiga biji saja, setelah gejala penyakit hilang
maka penggunaan antibiotika dihentikan. Hal ini menunjukkan
47

tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotika kemungkinan


masih rendah. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang
antibiotika mungkin disebabkan karena beberapa faktor seperti
umur, jenis kelamin, status ekonomi serta tingkat pendidikan
masyarakat. Oleh karena itu, akan dilakukan penelitian mengenai
hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan
masyarakat tentang antibiotika di Kelurahan Buntu Sugi Kecamatan
Alla Kabupaten Enrekang.
Tujuan Mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan
dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan
antibiotika di Kelurahan Buntu Sugi tentang penggunaan antibiotika
yang rasional.
Metode Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan populasi
Penelitian masyarakat Kelurahan Buntu Sugi Kecamatan Alla’ Kabupaten
Enrekang dan sampel sebanyak 100 orang yang dihitung
menggunakan rumus slovin. Instrument yang digunakan adalah
kuisioner sedangkan pengolahan datanya menggunakan skala
Guttman.
Hasil Tingkat pengetahuan untuk masyarakat dengan tingkat pendidikan
dasar (SD dan SMP) adalah 57,3%, untuk masyarakat dengan
tingkat pendidikan menengah (SMA) yaitu 66,7% dan untuk tingkat
pendidikan tinggi (D3/D3/S1/S2/S3) adalah 61,8%.
Kelebihan Metode penelitian dan hasil dipaparkan dengan cukup jelas oleh
penulis
Kekurangan Berdasarkan daftar pustaka yang dicantumkan penulis, terdapat
beberapa sumber yang hanya diperoleh dari wordpress dan
wikipedia, dimana sumber tersebut belum terjamin kebenaran dan
keasliannya.
Kesimpulan Berdasarkan penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat
pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotika di
48

Kelurahan Buntu Sugi Kecamatan Alla’ Kabupaten Enrekang


termasuk dalam kategori tinggi.

Judul Tingkat Pengetahuan Masyarakat Desa Anjir Mambulau Tengah


Terhadap Penggunaan Antibiotik.
Volume dan Vol. 04. Halaman 79-89
Halaman
Tahun 2018
Penulis Guntur Satrio Pratomo dan Nuria Ayu Dewi
Latar Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013 menyebutkan bahwa
Belakang proporsi rumah tangga yang menyimpan antibiotik tanpa resep
dokter di Kalimantan Tengah yaitu sebesar 93,4 %, nilai ini paling
besar diantara semua provinsi di Indonesia. Sekarang ini antibiotik
telah digunakan secara bebas dan luas oleh masyarakat tanpa
mengetahui dampak dari pemakaian tanpa aturan. Penggunaan tanpa
aturan mengakibatkan keefektifan dari antibiotik akan berkurang.
Saat ini kejadian yang sering dijumpai dimasyarakat, penggunaan
antibiotik sudah tidak asing lagi dimana masyarakat menggunakan
antibiotik layaknya menggunakan obat-obat bebas. Sebagian
masyarakat menggunakan antibiotik sebagai pengobatan sendiri
(swamedikasi) tanpa adanya peresepan dari dokter dan pengetahuan
terhadap penggunaan antibiotik. Hal ini terjadi mungkin disebabkan
adanya kekeliruan mengenai anggapan bahwa antibiotik dapat
mengobati segala macam penyakit yang sedang mereka derita tanpa
mengetahui dengan jelas indikasi obat danpenyebab penyakitnya, Di
desa Anjir Mambulau Tengah kecamatan kapuas Timur Kabupaten
Kapuas sebagian besar masyarakatnya berpendidikan tingkat
sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA). Mata
pencaharian masyarakatnya rata-rata adalah sebagai petani dan
sebagian kecil sebagai pedagang, desa ini belum memiliki sarana
49

kesehatan seperti apotek, toko obat, dan puskesmas, dimana hanya


ada 1 Puskesdes yang memberikan pelayanan kepada pasien dengan
sangat terbatas yaitu waktu pelayanannya yang hanya buka pada
hari senin-jumat pada pukul 08.00-11.00WIB Puskesdes tersebut
pun tidak memiliki tenaga kefarmasian dimana hanya ada 1 orang
bidan dan 1 orang perawat sehingga pemberian Komunikasi,
Informasi dan Edukasi (KIE) tentang antibiotik masih jarang
diberikan kepada pasien di sarana kesehatan tersebut, sehingga
masyarakat lebih memilih untuk membeli antibiotik sendiri di
warung-warung terdekat.
Tujuan Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat di Desa Anjir
Mambulau tentang penggunaan obat khususnya obat golongan
antibiotik.
Metode Metode penelitian deskriptif menggunakan alat berupa kuisioner
Penelitian dan teknik analisa presentase.
Hasil Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Desa Anjir Mambulau
Tengah Terhadap Penggunaan Antibiotik yaitu pada usia 18-60
Tahun masuk dalam kategori tingkat pengetahuan Kurang dengan
nilai persentase 34,50%, Pengukuran pengetahuan responden
didasarkan pada jawaban responden dari semua pertanyaan yang
diberikan.
Kelebihan Metode penelitian dan hasil dipaparkan dengan cukup jelas oleh
penulis
Kekurangan Latar belakang tidak disusun secara singkat padat dan jelas, hal ini
membuat pembaca menjadi sulit untuk mencari poin inti yang
melatar belakangi dilakukannya penelitian tersebut.
Kesimpulan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Desa Anjir Mambulau Tengah
Terhadap Penggunaan Antibiotik masuk dalam kategori tingkat
pengetahuan Kurang.

Judul Tingkat Pengetahuan Pasien Rawat Jalan Tentang Penggunaan


50

Antibiotika di Puskesmas Wilayah Karanganyer.


Volume dan Vol. 01. Halaman 27-35
Halaman
Tahun 2018
Penulis Mahardhika A.C. Dewi dan Yeni Farida.
Latar Berdasarkan penelitian Ardhany et.al. (2016), tingkat pengetahuan
Belakang masyarakat Desa Basawang RT 03 Kecamatan Teluk Sampit
tentang penggunaan antibiotika sebagai pengobatan pada tahun
2016 termasuk dalam kriteria “Tingkat Pengetahuan Cukup” dengan
persentase sebesar 50,33% (115 responden). Kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang penggunaan antibiotika ini
memperburuk kejadian resistensi antibiotika, cara masyarakat yang
mengonsumsi antibiotika tidak rutin dan tidak sampai habis dengan
alasan sembuh merupakan faktor pendukung resistensi (Kemenkes,
2011b; Candra, 2011). Untuk mengatasi hal tersebut Pemerintah
Indonesia menggerakan program rasionalitas penggunaan
antibiotika yang didukung di Kabupaten Karanganyar.
Penanggulangan resistensi antibiotika dilakukan di unit pelayanan
kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit yang sering
melakukan peresepan antibiotika. Berdasarkan uraian tersebut
mendasari peneliti melakukan studi lebih lanjut mengenai tingkat
pengetahuan pasien khususnya pasien rawat jalan tentang
penggunaan antibiotika di Puskesmas Karanganyar dan Puskesmas
Ngargoyoso.
Tujuan Mengetahui tingkat pengetahuan pasien khusunya pasien rawat jalan
tentang penggunaan antibiotika di Puskesmas Karanganyer dan
Puskesmas Ngargoyoso.
Metode Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian analitik non
Penelitian eksperimental dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel
diperoleh menggunakan metode accidental sampling. Penentuan
51

sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin. Data


dikumpulkan menggunakan kuisioner.
Hasil Tingkat pengetahuan pasien rawat jalan tentang penggunaan
antibiotika di Puskesmas Ngargoyoso dan di Puskesmas
Karanganyar dalam kategori baik yaitu 81,8% (Puskesmas
Karanganyar) dan 76,4% (Puskesmas Ngargoyoso). Akan tetapi,
terdapat beberapa pengetahuan yang dirasa perlu ditingkatkan
seperti jenis penyakit apa saja yang perlu membutuhkan antibiotika,
cara mendapatkan obat antibiotika yang benar, durasi penggunaan
obat antibiotika dan waktu penghentian obat antibiotika.
Kelebihan Jurnal disusun dengan singkat dan jelas, sehingga sangat mudah
untuk dipahami, semua data yang diperoleh ditampilkan dengan
lengkap dalam jurnal dengan sangat baik.
Kekurangan Data hanya diperoleh dari kuisioner pada penelitian sebelumnya
yang dilakukan pada tahun 2010.
Kesimpulan Tingkat pengetahuan pasien rawat jalan tentang penggunaan
antibiotika di Puskesmas Ngargoyoso dan di Puskesmas
Karanganyar dalam kategori baik.

Judul Tingkat Pengetahuan Tentang “DAGUSIBU” Obat Antibiotik pada


Masyarakat Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan
Kabupaten Ketapang Tahun 2017.
Volume dan Vol. 03. Halaman 11-18
Halaman
Tahun 2018
Penulis Heny Puspasari, Siti Harida dan Dwi Fitriyani.
Latar Penggunan antibiotik akan menguntungkan dan memberikan efek
Belakang bila diresepkan dan dikonsumsi sesuai dengan aturan, namun
sekarang ini antibiotik telah digunakan secara bebas dan luas oleh
masyarakat tanpa mengetahui dampak dari pemakaian tanpa aturan,
penggunaan tanpa aturan mengakibatkan keefektifan dari antibiotik
52

akan berkurang (Yarta et al, 2015). Pembelian antibiotik tanpa resep


dokter di apotek (7%). Pengetahuan dalam penggunaan obat
DAGUSIBU merupakan hal yang terpenting karena pengetahuan
merupakan salah satu cara agar dapat menggunakan obat,
menyimpan, mendapatkan, dan membuang obat sesuai dengan
konsep DAGUSIBU. Desa Sungai Awan kiri merupakan Desa yang
terletak didaerah Kecamatan Muara pawan Kabupaten Ketapang
Provinsi Kalimantan Barat, penggunaan antibiotik oleh masyarakat
di daerah Desa Sungai Awan Kiri ini cukup tinggi. Data yang
diperoleh dari UPTD Puskesmas Desa Sungai Awan Kiri
Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang Tahun 2016
menyebutkan bahwa yang termasuk dalam 10 besar penyakit paling
banyak diderita oleh masyarakat yang berkunjung ke UPTD
Puskesmas Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan
Kabupaten Ketapang adalah penyakit Dispepsia 4.175 orang, ISPA
2.914 orang, Dermatitis kontak alergi 1.338 orang, Hipertensi
Esensial 9.846 orang, dan Batuk 823 orang. Penyakit ini tentunya
diperlukan antibiotik sebagai pengobatan. Berdasarkan data yang
telah didapat dari UPTD Puskesmas Sungai Awan Kiri belum
pernah dilakukan penelitian mengenai Tingkat Pengetahuan Tentang
DAGUSIBU Obat Antibiotik pada Masyarakat Desa Sungai Awan
Kiri Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang, hal inilah yang
melatar belakangi penelitian ini.
Tujuan Mengetahui tingkat pengetahuan tentang DAGUSIBU obat
antibiotic pada masyarakat Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan
Muara Pawan Kabupaten Ketapang tahun 2017.
Metode Penelitian survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner. Subjek
Penelitian 100 orang Masyarakat Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara
Pawan Kabupaten Ketapang, yaitu (usia 18-66 tahun, berakal sehat,
53

bersedia menjadi responden dan bisa membaca dan menulis).


Pengetahuan diukur dari tiga kelompok didistribusikan
pengetahuannya berdasarkan karakteristik responden yakni jenis
kelamin, umur, pendidikan terakhir, pekerjaan dan RT/RW. Analisi
ini mengahasilkan distribusi Frekuensi dan persentase dari tiap
variabel (Notoadmodjo, 2010).
Hasil Tingkat pengetahuan tentang DAGUSIBU obat Antibiotik pada
masyarakat desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan
Kabupaten Ketapang Tahun 2017 berada dalam kategori sangat baik
sebanyak 25% responden, sedangkan pada kategori baik sebanyak
60% responden dan pada kategori cukup baik sebanyak 15%
responden. Jadi Tingkat Pengetahuan DAGUSIBU Obat Antibiotik
Pada Masyarakat Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan
Kabupaten Ketapang Tahun 2017 dapat disimpulkan sudah baik.
Kelebihan Penjelasan terkait hal yang melatarbelakangi dilakukannya
penelitian mudah dipahami.
Kekurangan Peneliti tidak mencantumkan secara jelas terkait pertanyaan apa saja
yang diberikan kepada responden. Selain itu peneliti juga tidak
menjelaskan terkait cara penilaian hingga dapat menyimpulkan
jawaban tersebut dalam kategori sangat baik, baik, cukup baik,
kurang, sangat kurang.
Kesimpulan Tingkat Pengetahuan DAGUSIBU Obat Antibiotik Pada
Masyarakat Desa Sungai Awan Kiri Kecamatan Muara Pawan
Kabupaten Ketapang Tahun 2017 dapat disimpulkan sudah baik.

Judul Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Penggunaan


Antibiotik di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi.
Volume dan Vol. 02. Halaman 43-48
Halaman
Tahun 2019
Penulis Rahma Yulia, Rika Putri dan Rino Wahyudi.
54

Latar Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013
Belakang yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan di Indonesia
menunjukkan 86,1% rumah tangga di Indonesia menyimpan
antibiotik di rumah tanpa resep dokter, khusus di provinsi Sumatera
Barat terdapat sekitar 85,2% rumah tangga menyimpan antibiotik di
rumah. Antibiotik biasanya dibeli untuk mengobati penyakit ringan
seperti batuk-pilek, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, gatal,
sakit gigi, dan demam. Antibiotik yang digunakan untuk penyakit-
penyakit tersebut hanya untuk satu hingga dua hari pengobatan
(Widayati et al., 2011). Berbagai studi menemukan sebanyak 40-
62% peresepan antibiotik di Indonesia tidak tepat (Kemenkes RI,
2011). Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan
permasalahan kesehatan dan menjadi ancaman global bagi
kesehatan terutama masalah resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Resistensi adalah kemampuan bakteri dalam menetralisir dan
melemahkan daya kerja antibiotik (Kemenkes RI, 2011). Menurut
WHO (2015) angka kematian akibat resistensi antimikroba sampai
tahun 2014 sekitar 700.000 orang per tahun. Hal ini mengakibatkan
pengobatan menjadi tidak efektif, peningkatan morbiditas maupun
mortalitas pasien, dan peningkatan biaya kesehatan (Fernandez,
2013). Salah satu faktor yang menyebabkan kesalahan penggunaan
antibiotik adalah kurangnya pengetahuan akan antibiotik itu sendiri.
Tingkat pengetahuan masyarakat tentang antibiotik telah diteliti di
berbagai tempat. Sementara itu penelitian serupa belum pernah
dilakukan di Puskesmas Rasimah Ahmad sehingga perlu diketahui
tingkat pengetahuan tentang antibiotik pada masyarakat di
puskesmas tersebut. Berdasarkan uraian di atas penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat
55

terhadap penggunaan antibiotik di Puskesmas Rasimah Ahmad


Bukittinggi.
Tujuan Mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan
antibiotic di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi.
Metode Metode deskriptif dengan desain cross sectional. Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi pada bulan
Maret sampai bulan Mei 2019. Teknik pengambilan sampel pada
penelitian ini yaitu dengan Accidental sampling dengan kriteria
inklusi yaitu berusia 17-65 tahun, masyarakat di wilayah kerja
puskesmas, bersedia mengisi responden, dan bisa membaca dan
menulis. Pengambilan data menggunakan kuesioner jumlah
responden 100. Data yang diperoleh dari kuesioner tersebut
dianalisis secara deskriptif. Kategori tingkat pengetahuan yaitu
kategori baik jika nilainya ≥ 75%, kategori cukup jika nilainya 56-
74% dan kategori kurang jika nilainya < 55%.
Hasil Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari 100 responden,
tingkat pengetahuan masyarakat di Puskesmas Rasimah Ahmad
Bukittinggi terhadap penggunaan antibiotik berada dalam kategori
kurang sebanyak 17 orang (17%), sedangkan pada kategori cukup
sebanyak 60 orang (60%) dan pada kategori baik sebanyak 23 orang
(23%). Jadi dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan
masyarakat tentang antibiotik berada dalam kategori cukup.
Kelebihan Penjelasan terkait metode dan hasil yang diperoleh mudah
dipahami.
Kekurangan Tidak adanya pertanyaan terkait faktor apa saja yang dapat
menyebabkan terjadinya resistensi.
Kesimpulan Tingkat pengetahuan masyarakat di Puskesmas Rasimah Ahmad
Bukittinggi tentang antibiotik berada dalam kategori cukup.

Judul Evaluasi Tingkat Pengetahuan Pasien Pada Penggunaan Obat


Antibiotik di Apotek UNO 1 Kota Manado.
56

Volume dan Vol. 03. Halaman 97-100


Halaman
Tahun 2020
Penulis Swingly Diego Songgigilan, Jeane Mongie, Randy Tampa’i dan
Sonny D. Untu.
Latar Antibiotika merupakan golongan obat yang sangat diperlukan untuk
Belakang mengatasi penyakit infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang
tidak rasional tersebut dapat menimbulkan masalah besar berupa
bakteri kebal terhadap antibiotic dengan kata lain terjadinya
resistensi antibiotik. Pengetahuan akan penggunaan obat-obatan
masih kurang, obat tidak dapat digunakan sembarangan tanpa ada
indikasi penyakit yang jelas. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam penggunaan obat yaitu indikasi, dosis, cara
penggunaan serta efek sampingnya, karena bila hal tersebut
diabaikan maka akan menimbulkan efek yang merugikan bagi
kesehatan. Salah satu obat yang harus diperhatikan penggunaannya
adalah antibiotika Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa
Manurunge Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone terhadap 100
responden di diperoleh persentase skor sebesar 55.4%. Hal ini
menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat Desa
Manurunge Kecamatan Ulaweng Kabupaten Boneterhadap
pegetahuan tentang antibiotic termasuk rendah. Penelitian serupa
juga tentang penggunaan antibiotik di Kabupaten Klaten, dari 127
responden masih ditemukan banyak yang memiliki tingkat
pengetahuan kurang. Dari observasi yang sudah dilakukan di apotek
uno 1 ada beberapa pasien yang bertanya mengenai obat antibiotik,
dan juga sebagian resep yang sudah tercover oleh BPJS, juga belum
perna dilakukan penelitian yang berkaitan dengan tingkat
pengetahuan tentang penggunaanantibiotik yang ada di apotek UNO
57

1 Kota Manado. Hal ini mendasari penulis untuk melakukan


penelitian di apotek UNO 1 kota manado.
Tujuan Mengetahui tingkat pengetahuan pasien pada penggunaan obat
antibiotic di Apotek UNO 1 Kota Manado.
Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan
Penelitian deskriptif. Dimana pengambilan sampeldiambil dengan
teknikInsidentalPenelitianini dilaksanakan di Apotek UNO 1 Kota
Manado, mulai bulan Agustus selama 2 minggu. Populasi dalam
penelitian ini adalah masyarakat yang ada di kota manado
khususnya di pasien yang datang ke apotek uno 1 kota manado.
Penentuan sampel diambil dengan menggunakan teknik Insidental
Responden diperoleh sebanyak 65 orang. Alat ukur yang digunakan
adalah kuesioner
Hasil Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan
diperoleh hasil sebesar 68.05%, sehingga dapat disimpulkan bahwa
tingkat pengetahuan pasien diapotek UNO 1 Kota Manado tentang
penggunaan antibiotika termasuk kategori sedang.
Kelebihan Metode mudah dipahami
Kekurangan Jenis pertanyaan yang diberikan kepada responden terlalu sedikit.
Kesimpulan Tingkat pengetahuan pasien diapotek UNO 1 Kota Manado tentang
penggunaan antibiotika termasuk kategori sedang.

Judul Pengaruh Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Penggunaan


Antibiotik Di Apotek Kimia Farma 396 Tuminting Kota Manado
Volume dan Vol. 09. Halaman 294-301
Halaman
Tahun 2020
Penulis Inchristy Victoria Kondoj, Widya Astuty Lolo, Imam Jayanto
Latar Penelitian menunjukkan bahwa terdapat 77% antibiotik dibeli tanpa
Belakang resep dokter. Antibiotik tersebut dibeli untuk mengobati gejala flu,
demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan gejala sakit
58

ringan lainnya (Widayati et al., 2012). Penggunaan antibiotik


memerlukan pengetahuan dan sikap tentang cara pemakaian yang
tepat. Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lampung Timur
memberikan hasil sebesar 65% tingkat pengetahuan masyarakat
terhadap antibiotik baik dan sebesar 60% sikap positif terhadap
penggunaan antibiotik (Pratiwi, 2018). Sedangkan penelitian yang
dilakukan di Kabupaten Aceh Besar diperoleh hasil bahwa tingkat
pengetahuan masyarakat terhadap antibiotik masih kurang (54%)
dan sikap terhadap penggunaan antibiotik juga masih kurang (57%)
(Rahmawati, 2017). Inilah yang menyebabkan pentingnya
pengetahuan masyarakat tentang penggunaanantibiotik. Berdasarkan
latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian tentang Pengaruh
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Penggunaan Antibiotik di
Apotek Kimia Farma 396 Tuminting kota Manado.
Tujuan Mengetahui tingkat pengetahuan dan Sikap Terhadap Penggunaan
Antibiotik di Apotek Kimia Farma 396 Tuminting kota Manado
Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif.
Penelitian Menggunakan alat berupa lembar kuisioner, yg dilakukan di Apotek
Kimia Farma 396 Tuminting kota Manado mulai bulan Desember
sampai Juni 2020. Bahan berupa data primer yang diperoleh dari
responden serta apoteker pengelola sedangkan data sekunder berupa
jurnal dan ertikel yang mendukung penelitian. Pemilihan sampel
menggunakan teknik accidental sampling
Hasil Persentase tingkat pengetahuan antibiotik di masyarakat pengunjung
Apotek Kimia Farma 396 Tuminting kota Manado masih kurang
dengan persentase sebesar 69%.
Kelebihan Secara keseluruhan sangat mudah untuk dipahami
Kekurangan Sejauh ini peneliti belum menemukan kekurangan pada jurnal ini
Kesimpulan Tingkat pengetahuan masyarakat pengunjung Apotek Kimia Farma
396 Tuminting kota Manado masih kurang.
59

Judul Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Antibiotik Di


Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu
Volume dan Vol. 06. Halaman 191-196
Halaman
Tahun 2019
Penulis Tri Damayanti, Sari Yanti, Hindi Amrullah
Latar Masyarakat memainkan peranan penting dalam penyebaran
Belakang resistensi bakteri terhadap antibiotik. Sebagai upaya untuk
mengurangi resistensi antibiotik adalah dengan mendidik
masyarakat tentang penggunaan antibiotik. Ini akan menjadi
kampanye mengatasi fakta bahwa antibiotik tidak menyembuhkan
batuk biasa atau pilek Menurut Menteri Kesehatan Republik
Indonesia (2011), Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 27
negara dengan beban tinggi kekebalan obat terhadap kuman
Multidrug Resistance (MDR) di dunia berdasarkan data World
Health Organization (WHO) tahun 2009. Di Indonesia, menurunnya
kesadaran akan penggunaan antibiotik secara rasional. Guru Besar
Farmakologi dari Universitas Gadjah Mada Iwan Dwiprahasto
mengatakan penggunaan antibiotik tidak rasional dalam kasus
infeksi saluran pernapasan akut mencapai 94 persen dan diare 87
persen. Sebaliknya untuk penyakit yang membutuhkan antibiotik
namun hanya 20 persen yang mendapatkan antibiotik. Hasil
penelitian lain yang dilakukan di 56 puskesmas di 3 kawasan di
Aceh tahun 2010 menunjukkan, 60 persen anak tidak membutuhkan
diresepkan antibiotik. Menurut San et al (2011) sejumlah studi
menunjukkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
tentang antibiotik adalah salah satu penyebab terjadinya resistensi
antibiotik. Penggunaan obat antibiotik yang tidak rasional adalah
60

alasan utama untuk peningkatan dan penyebaran resistensi antibiotik


(Suaifan, 2012). Berdasarkan uraian dari latar belakang, peneliti
tertarik untuk mengetahui pengetahuan masyarakat terhadap
penggunaan antibiotic
Tujuan Mengetahui pengetahuan masyarakat terhadap penggunaan
antibiotik.
Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif.
Penelitian Menggunakan alat berupa lembar kuisioner, penelitian dilakukan di
Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu yang dilakukan pada
bulan Desember 2017-Februari 2018. Sampel dalam penelitian ini
adalah 92 sampel dari 120 kunjungan pasien selama 3 bulan. Data
primer diperoleh dari responden sedangkan data sekunder berupa
data yang diambil dari Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu
berupa data kunjungan di Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu.
Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan
pengambilan sampel secara purposive sampling
Hasil Dari hasil penelitian didapatlah tingkat pengetahuan masyarakat
terhadap antibiotik di Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu
berpengetahuan rendah yaitu 55 %.
Kelebihan Metode penelitian mudah dipahami
Kekurangan Penggunaan kaliamat sulit untuk dimengerti serta tidak adanya
kesimpulan dan saran yang dimasukkan dalam jurnal.
Kesimpulan Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap antibiotik di Puskesmas
Beringin Raya Kota Bengkulu berpengetahuan rendah.

Judul Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyaraat Terhadap Perilaku


Penggunaan Antibiotik di Desa Grumbul Gede Selomartani
Kalasan.
Volume dan Vol. 09. Halaman 616-625
Halaman
Tahun 2016
61

Penulis Nur Yeti Syarifah


Latar Ketidaktepatan penggunaan antibakteri terjadi dalam situasi klinis
Belakang yang bervariasi, termasuk ketidakpatuhan pasien (noncompliency)
dan pengobatan sendiri oleh pasien yang seharusnya diresepkan
oleh dokter (Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di kota-kota besar di
Negara Bagian Eropa Selatan, sekitar 50% orang dewasa dan 18%
anak-anak menghentikan minumnya lebih awal. Lebih dari 10%
dewasa tidak mengikuti dosis yang benar dan sekitar 55% dewasa
serta 7,3% menyimpan sisa antibiotik (Mitsi, Jelastopulu,
Basiaris, Skoutelis dan Gogosa, 2005. Dampak dari pola
penggunaan yang salah adalah meningkatnya resistensi bakteri
dan peningkatan efek samping yang tidak diinginkan
(Departemen Kesehatan RI,2005. Sebuah studi penelitian di
Yogyakarta menunjukkan pembelian antibiotik tanpa resepdi
apotek (7%). Amoksilin merupakan antibiotik yang paling banyak
dibelisecara bebas sebesar (77%) selain ampisilin, tetrasiklin,
fradiomisin gramisidin dan ciprofloksasin. Antibiotika tersebut
rata-rata dibeli untuk mengobati gejala flu, demam, batuk, sakit
tenggorokan, sakit kepala,dan gejala sakit ringan lainnya dengan
lama penggunaan sebagian besarkurang dari lima hari (Widayati,
2011). Dari penelitian tersebut terlihat tingkat pengetahuan dan
perilaku masyarakat tentang penggunaan antibiotic masih belum
cukup memadai, hanya sekitar setengah dari masyarakat yang
memiliki pengetahuan yang cukup. Sebagai sasaran pelayanan
kesehatan dasar masyarakat adalah sasaran yang membutuhkan
pelayanan kesehatan. Oleh karena itu penulis ingin melakukan
penelitian pada masyarakat Dusun Grumbul Gede, Kelurahan
Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman.
62

Tujuan Mengetahui pengetahuan masyarakat Dusun Grumbul Gede,


Kelurahan Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman
penggunaan antibiotik.
Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode
Penelitian deskripsi fanalitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Random
Sampling dengan besaran sampel 46 responden. Instrumen
penelitian menggunakan kuesioner serta analisa data korelasi Chi-
Square.
Hasil Gambaran tingkat pengetahuan masyarakat tentang penggunaan
antibiotik yang baik yaitu 14 orang (30,4%) dan yang cukup yaitu
26 orang (56,5%), sedangkan yang kurang yaitu 6 orang (13,0%).
Kelebihan Metode penelitian singkat dan jelas
Kekurangan Pemaparan latar belakang terlalu Panjang.
Kesimpulan Presentase tertinggi Tingkat pengetahuan masyarakat terhadap
antibiotik di Dusun Grumbul Gede, Kelurahan Selomartani,
Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman adalah kategori cukup.