Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN LENGKAP

PRAKTEK KERJA LAPANGAN INDUSTRI

PT. ISMUT FITOMEDIKA INDONESIA & UPT. MATERIA MEDIKA BATU

Oleh :

NAMA : NUR HAFIZAH. M

NIM : NH0517054

KELAS : B

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NANI HASANUDDIN
PROGRAM STUDI DIPLOMATIGA FARMASI
MAKASSAR
2020
LEMBAR PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR

Saya panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Dimana yang

telah melimpahkan hidayahnya dan memberi saya kesempatan untuk menyelesaikan

laporan PKL (Praktek Kerja Lapangan) industri yang telah saya buat ini.

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan didalam

menyelesaikan PKL (Praktek Kerja Lapangan) bagi para Mahasiswa. Praktek kerja

lapangan ini adalah salah satu bentuk atau upaya dalam menjalin kerjasama yang baik

didalam bidang farmasi khususnya produk herbal yang diproduksi PT. Ismut

Fitomedika Indonesia dan UPT. Materia Medika Batu. Dengan begitu, kami harap

praktek kerja lapangan ini akan memberi banyak manfaat serta motivasi bagi saya

dan para mahasiswa khusunya maupun bagi para pembaca.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak -pihak

yang terkait PKL semoga ilmu yang didapatkan bisa penulis manfaatkan untuk diri

sendiri dan orang lain.

Makassar, 14 Agustus 2020


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .......................................................................... i


HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................... ii
KATA PENGANTAR ............................................................................ iii
KATA DAFTAR ISI .............................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................ 1
B. Rumusan Masalah................................................................... 3
C. Tujuan Praktek Kerja Lapangan............................................. 3
D. Manfaat Praktek Kerja Lapangan........................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Industri......................................................... 5
B. Tinjauan Umum Obat Tradisional.......................................... 10
C. Tinjauan Umum PT. Ismut Fitomedika Indonesia (IFI)......... 14
D. Tinjauan Umum UPT. Materia Medika Batu (MMB) ........... 17
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
A. Jadwal Kegiatan PKL............................................................. 25
B. Kegiatan PKL......................................................................... 25
BAB IV PEMBAHASAN
A. Profil PT. Ismut Fitomedika Indonesia................................... 28
B. Profil UPT. Materia Medika Batu (MMB)............................. 30
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................ 34
B. Saran ...................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 35
LAMPIRAN GAMBAR......................................................................... 36
LAMPIRAN DOKUMENTASI.............................................................. 40
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri farmasi yang ada di Indonesia juga memiliki peran yang cukup

penting dalam pembangunan kesehatan, terutama dalam hal penyediaan obat-

obatan. Pelayanan kesehatan yang memadai dapat dapat menunjukan

pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang lebih berkualitas. Salah satu

indikator dari tercapainya pelayanan kesehatan yang bermutu adalah ketersediaan

obat. Obat merupakan bahan yang digunakan untuk menyembuhkan, mengurangi

gejala, memeperlambat keparahan, atau mencegah suatu penyakit. Dengan

demikian obat memiliki peran dalam meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat. Obat dirancang untuk dapat dikonsumsi oleh manusia sehinga harus

dibuat dengan cara yang baik agar dihasilkan produk yang bermutu dan tidak

membahayakan kesehatan. Industri farmasi, sebagai penghasilan obat, memiliki

peran dan tanggung jawab yang penting dalam mewujudkan tersedianya obat

dalam jumlah, jenis dan kualitas yang memadai. Sering dengan meningkatnya

pendidikan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, persyaratan

mutu obat semakin diperketat. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh obat yang

berkhasiat (efficacy), aman (safety), dan bermutu (quality) dalam dosis yang

digunakan untuk tujuan pengobatan (Novita sari, 2019).

Industri farmasi merupakan penentu dalam ketersediaan obat di mana

industri farmasi berperan dalam memproduksi, dan mendistribusikan obat untuk

1
2

dapat memenuhi kebutuhan pasar dan masyarakat. Dalam memproduksi

suatu obat, setiap industri farmasi harus dapat memenuhi Cara pembuatan Obat

yang Baik (CPOB) agar dapat menjamin dan menghasilkan produk yang

bermutu. Perkembangan yang sangat pesat dan teknologi farmasi dewasa ini

mengakibatkan perubahan-perubahan yang sangat cepat pula dalam konsep serta

persyaratan CPOB. Produk yang bermutu tidak dapat ditentukan berdasarkan

pemeriksaan produk akhir saja, melainkan setiap komponen yang berhubungan

dengan proses produksi, mulai dari penyiapan bahan baku, bahan kemas, proses

pembuatan, pengemasan, termasuk bangunan dan personil harus mengikuti Cara

Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). CPOB merupakan pedoman pembuatan

obat bagi industri farmasi di Indonesia yang bertujuan untuk menjamin obat yang

dibuat secara konsisten dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai

dengan tujuan penggunanya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan

pengendalian mutu (Novita sari, 2019).

Berdasarkan Peraturan Pemerinta No.51 tahun 2009 tentang pekerjan

kefarmasihan, tiga posisi kunci dalam industri farmasi, yaitu penanggung jawab

pengawasan mutu, pemastian mutu, dan produksi harus ditangani oleh seorang

apoteker. Dengan demikian, apoteker dalam industri farmasi memegang peran

yang penting. Peran tersebut dimulai dari segi perencanaan produksi, proses

produksi, pengawasan mutu dan pengelolahan manejmen industri farmasi

PT. Ismut Fitomedika Indonesia adalah perusahaan Industri herbal berbasis

farmasi. Seluruh produk Ismut dijamin aman dikonsumsi orang tua juga anak-

2
3

anak dan bebas efek samping. Produk herbal ini tidak menyebabkan overdosis

dan tidak mengandung bahan kimia. Bahan baku berasal dari poliherbal, bahan

baku murni dari bahan alam. Produk kami semua telah terdaftar pada BPOM.

Materia Medica Batu (MMB) merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis

(UPT) dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur yang berlokasi di Kota Batu.

Pada pertengahan tahun 1970 terjadi perubahan status kepemilikan Materia

Medica dari milik swasta menjadi milik pemerintah yaitu Dinas Kesehatan

Daerah Provinsi Jawa Timur Direktorat Farmasi Jawa Timur. Setelah tahun 1978

dengan berfungsinya Direktorat Daerah farmasi Jawa Timur menjadi Sub Balai

Pengawasan Obat dan Makanan (POM), yang sekarang menjadi Balai Besar

POM Surabaya, maka pengelolaan Materia Medica Batu diserahkan kepada

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur hingga sekarang.

Dari latar belakang diatas yang sudah dijabarkan, kegiatan praktek kerja

lapangan industri dilakukan agar mahasiswa dapat melihat langsung kegiatan

produksi yang dilakukan dilapangan dan dapat dibandingkan dengan teori yang

didapat saat perkuliahan. Praktek kerja lapangan diharapkan teori dapat

diterapkan dilapangan dan dunia kerja yang dapat dipakai di perusahaan farmasi

atau instansi yang terkait. Kegiatan ini wajib diikuti bagi setiap mahasiswa DIII

farmasi yang merupakan salah satu syarat kelulusan.

Hal tersebut yang melatar belakangi saya mendapat kesempatan praktek

kerja lapangan, sehingga memiliki gambaran sebenarnya di dunia farmasi untuk

manjadi seorang tenaga ahli di bidang farmasi. Saya sendiri mengikuti kegiatan
4

PKL tersebut di PT. Ismut Fitomedika Indonesia (IFI) yang berlokasi di daerah

Towata, Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan pada

tanggal 7 agustus 2020 dan UPT. Materia Medika Batu (MMB) secara virtual

pada tanggal 10 agustus 2020.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah untuk Praktek

Kerja Lapangan ini adalah “Bagaimana mahasiswa bisa mendapatkan gambaran

tentang produksi pembuatan obat yang ada di industri PT. Ismut Fitomedika

Indonesia dan UPT. Materia Medika Batu yang sesuai dengan persyaratan

CPOB”.

C. Tujuan Praktek Kerja Lapangan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum pada praktek kerja lapangan (PKL) ini adalah untuk dapat

memahami cara produksi sediaan herbal di industri PT. Ismut Fitomedika

Indonesia secara langsung dan UPT. Materia Medika Batu secara daring.

2. Tujuan khusus

a. Untuk dapat mempelajari cara pembuatan obat di industri PT. Ismut

Fitomedika Indonesia dan UPT. Materia Medika Batu.

b. Untuk dapat mengetahui sediaan herbal yang diproduksi di PT. Ismut

Fitomedika Indonesia dan UPT. Materia Medika Batu.


5

D. Manfaat Praktek Kerja Lapangan

Adapun manfaat dari Praktek Kerja Lapangan ini bagi saya adalah sebagai

sarana untuk dapat menambah ilmu tentang cara pembuatan obat tradisinal yang

baik di industri dan sebagai salah satu syarat kami dapat lulus dari institusi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Industri

1. Pengertian Industri Farmasi

Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri KesehatanNo.

1799/Menkes/XII/2010 adalah badan usaha yang memiliki izin dariMentri

Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahanobat.

Pembuatan obat adalah seluruh tahapan kegiatan dalammenghasilkan obat

yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahanpengemas, produksi,

pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian mutusampai diperoleh obat

untuk didistribusikan (Depkes, 2010)

Industri farmasi dibagi dalam dua kelompok yaitu industri padatmodal

dan industri padat karya. Industri padat modal adalah industri

yangmenggunakan mesin-mesin produksi dalam jumlah yang lebih besar

daripada jumlah tenaga kerjanya, sedangkan industri padat karya

lebih banyak menggunakan tenaga manusia dari pada tenaga mesin (Hikmah,

2015)

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang

digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau

keadaan patologidalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,

penyembuhan,pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk

manusia. Bahanobat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun tidak

6
7

berkhasiat yangdigunakan dalam pengolahan obat dengan standar dan mutu

sebagai bahan baku obat (Hikmah, 2015)

2. Izin usaha industri farmasi

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi, proses pembuatan obat

dan/atau bahan obat hanya dapat dilakukan oleh industri farmasi.Setiap

pendirian industri farmasi wajib memperoleh izin industri farmasi dari

Direktur Jenderal. Direktur Jenderal yang dimaksud adalah Direktur Jenderal

pada Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang

pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan. Persyaratan untuk memperoleh

izin industri farmasi sebagaimana yang tercantum dalam Permenkes RI No.

1799/Menkes/Per/IX/2010 adalah sebagai berikut:

1. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas

2. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat

3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak

4. Memiliki paling sedikit 3 (tiga) orang apoteker Warga Negara Indonesia

masing-masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan

pengawasan mutu

5. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung ataupun tidak

langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang

kefarmasian.
8

Dikecualikan dari persyaratan di atas poin 1 dan 2, bagi pemohon izin

industri farmasi milik Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara

Republik Indonesia (Depkes, 2010)

3. Tata Cara Pemberian izin industri farmasi

Berdasarkan Permenkes RI No. 1799/Menkes/Per/IX/2010, untuk

memperoleh izin usaha industri farmasi diperlukan persetujuan prinsip.

Permohonan persetujuan prinsip diajukan secara tertulis kepada Direktur

Jenderal. Persetujuan prinsip diberikan oleh Direktur Jenderal setelah

pemohon memperoleh persetujuan Rencana Induk Pembangunan (RIP) dari

Kepala Badan. Dalam hal permohonan persetujuan prinsip telah diberikan,

pemohon dapat langsung melakukan persiapan, pembangunan, pengadaan,

pemasangan, dan instalasi peralatan, termasuk produksi percobaan dengan

memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan. Persetujuan prinsip

ini berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diubah berdasarkan permohonan

dari pemohon izin industri farmasi yang bersangkutan.

4. Penyelenggaraan Industri Farmasi

Suatu industri farmasi mempunyai fungsi:

a. Pembuatan obat dan/atau bahan obat

b. Pendidikan dan pelatihan

c. Penelitian dan pengembangan

Izin industri farmasi berlaku untuk seterusnya selama industri farmasi

yang bersangkutan masih berproduksi dan memenuhi ketentuan peraturan


9

perundang-undangan (Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

1799/Menkes/Per/XII/2010).

5. Pencabutan izin usaha industri

Pencabutan izin usaha industri farmasi dilakukan apabila industri yang

bersangkutan melakukan pelanggaran :

a. Melakukan pemindah tanganan hak milik izin usaha industri farmasidan

perluasan tanpa izin.

b. Tidak menyampaikan informasi industri secara berturut-turut 3 kali atau

dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar.

c. Melakukan pemindahan lokasi usaha industri farmasi tanpapersetujuan

tertulis terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

d. Dengan sengaja memproduksi obat jadi atau bahan baku yang

tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku (obat palsu).

e. Tidak memenuhi ketentuan dalam izin usaha industri farmasi.

6. Pembinaan dan Pengawasan Industri Farmasi

Pembinaan terhadap pengembangan Industri Farmasi dilakukan oleh

Direktur Jenderal, sedangkan pengawasan dilakukan oleh Kepala Badan.

Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Permenkes RI No.

1799/Menkes/Per/IX/2010 dapat dikenakan sanksi administratif berupa :

a. Peringatan secara tertulis

b. Larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk

penarikan kembali obat atau bahan obat dari peredaran bagi obat atau
10

bahan obat yang tidak memenuhi standar dan persyaratan keamanan,

khasiat/manfaat, atau mutu

c. Perintah pemusnahan obat atau bahan obat, jika terbukti tidak memenuhi

persyaratan keamanan, khasiat/manfaat, atau mutu

d. Penghentian sementara kegiatan

e. Pembekuan izin industri farmasi

f. Pencabutan izin industri farmasi

7. Manajemen Mutu

Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai

dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam

izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang membahayakan

penggunanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif. Manajemen

mutu bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu

“Kebijakan Mutu” yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua

jajaran di semua departemen di dalam perusahaan, para pemasok, dan para

distributor.

Untuk melaksanakan Kebijakan Mutu dibutuhkan 2 unsur dasar:

a. Sistem mutu yang mengatur struktur organisasi, tanggung jawab dan

kewajiban, semua sumber daya yang diperlukan, semua prosedur yang

mengatur proses yang ada.

b. Tindakan sistematis untuk melaksanakan sistem mutu, yang disebut

pemastian mutu atau quality assurance.


11

(Hikmah, 2015)

8. Personalia

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 51 tahun 2009, industri

farmasi harus memiliki 3 (tiga) orang apoteker sebagai penanggung jawab

masing-masing pada bidang pemastian mutu, produksi, dan pengawasan mutu

setiap produksi Sediaan Farmasi.

Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan

penerapan system pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang

benar. sebab itu industri farmasi farmasi bertanggung jawab untuk

menyediakan personil yang terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk

melaksanakan semua tugas (Hikmah, 2015)

9. Bangunan dan Fasilitas

Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat memiliki ukuran,rancang

bangun, konstruksi, serta letak yang memadai agar memudahkandalam

pelaksanaan kerja, pelaksanaan kebersihan, dan pemeliharaan yangbaik. Tiap

sarana kerja hendaknya memadai, sehingga setiap resikoterjadinya kekeliruan,

pencemaran silang dan berbagai kesalahan lainyang dapat menurunkan mutu

obat dapat dihindari (Hikmah, 2015)

B. Tinjauan Umum Obat Tradisional

a. Sejarah Obat Tradisional

Indonesia merupakan negara tropis dengan jumlah tanaman yang sangat

banyak. Keanekaragaman hayati Indonesia merupakan nomor dua setelah


12

Brasilia. Sekitar 80% tanaman yang ada didunia berada di Indonesia.

Diperkirakan terdapat 25.000-30.000 spesies tanaman di Indonesia (Sutrisna,

2016).

Penggunaan obat tradisional oleh nenek moyang bangsa Indonesia telah

berlangsung lama. Beberapa relief yang ada di candi Borobudur menjadi bukti

hal ini. Dugaan ini juga diperkuat dengan ditemukan resep tanaman obat yang

ditulis tahun 991-1016 pada daun lontar di Bali (Sutrisna, 2016).

b. Definisi Obat Tradisional

Obat tradisional adalah obat jadi yang berasal dari tumbuhan, hewan,

dan mineral atau sediaan galenik, obat berdasarkan pengalaman empiris turun

temurun. Obat Tradisional, yang beredar di Indonesia dikategorikan menjadi 3

golongan yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

1) Jamu

Jamu adalah sediaan obat bahan alam, status keamanan dan

khasiatnya dibuktikan secara empiris. Aman sesuai dengan persyaratan

yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris, dan

memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Contoh : Pilkita®, Laxing®,

Keji Beling®, Curcuma Tablet® (Permenkes No. 6, 2016)


13

2) Obat Herbal Terstandar

Obat Herbal Terstandar adalah sediaan bahan yang telah

distandardisasi bahan baku yang digunakan dalam produk jadi, harus

memenuhi persyaratan aman dan mutu sesuai dengan persyaratan yang

berlaku serta klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/praklinik (Permenkes

No. 6, 2016)

Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat

dibuktikan secara ilmiah/praklinik, telah dilakukan standarisasi terhadap

bahan baku yang digunakan dalam produk jadi. Memenuhi persyaratan

mutu yang berlaku. Contoh : Lelap®, Diapet®, Tolak Angin®, Antangin

JRG®.

3) Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah

distandardisasi, status keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara

ilmiah melalui uji klinik (Permenkes No. 6, 2016)

Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat

dibuktikan secara uji klinik, telah dilakukan standarisasi terhadap bahan


14

baku yang digunakan dalam produk jadi, memenuhi persyaratan mutu yang

berlaku. Contoh : Stimuno®, Nodiar®, Tensigard®

Tumbuhan dalam formularium ini merupakan tumbuhan obat asli

Indonesia yang sudah memiliki bukti keamanan (LD50) dan manfaatnya

terbukti secara empiris. Ramuan obat tradisional tidak boleh digunakan dalam

keadaan kegawatdaruratan dan keadaan yang potensial membahayakan jiwa

(Menkes No. HK.01.07, 2017)

Indonesia merupakan negara dengan biodeversitas terbesar kedua

setelah Brazilia. Jumlah jenis tanaman di Indonesia diperkirakan lebih dari

30.000. Sekitar 7500 merupakan tanaman obat. Baru sekitar kurang dari 2000

tanaman obat telah diidentifi kasi. Masyarakat baru menggunakan 1200 jenis

tanaman obat, sedang industri baru memanfaatkan sekitar 300 jenis. Data ini

menunjukkan betapa masih terbuka sangat luas pemanfaatan tanaman obat

untuk dikembangkan sebagai obat tradisional (Sutrisna, 2016).

Obat herbal ternyata bukan hanya digunakan dinegara berkembang

tetapi juga mulai digunakan di negara maju. Data WHO menyatakan bahwa

obat herbal digunakan sekitar 60% penduduk di negara maju, dan sekiatar

80% penduduk negara berkembang (Sutrisna, 2016).

c. Keunggulan Dan Kelemahan Obat Tradisional

1. Keunggulan obat tradisional/obat bahan alam dibanding obat modern atara

lain:
15

 Adanya banyak senyawa aktif dalam obat bahan alam sehingga

menimbulkan efek komplementer/saling melengkapi

 Karena banyak senywa aktif, maka memungkinkan obat bahan alam

memiliki banyak efek farmakologis

 Karena sebagain besar obat tardisonal dalam bentuk crude

extract/ekstrak kasar maka kandungan senyawa juga relatif sedikit tetapi

banyak macamnya. Hal ini menyebabkan jika muncul efek samping

relatif ringan

2. Kelemahan obat tradisional:

 Masih sedikit obat tradisional yang sudah dibuktikan dengan penelitian

ilmiah dalam bentuk uji klinis

 Kurangnya standarisasi bahan obat tradisional

 Resistensi dari para pelaku kesehatan /dokter karena belum adanya uji

klinis tadi

(Sutrisna, 2016).

C. Tinjauan Umum PT. Ismut Fitomedika Indonesia (IFI)

a. Sejarah PT. Ismut Fitomedika Indonesia (IFI)

PT. Ismut Fitomedika Indonesia adalah perusahaan industri herbal

berbasis farmasi. Perusahaan ini berdiri 24 Desember 2015 dengan teknologi

dan inovasi serta didukung SDM yang ahli sehingga mampu memproduksi

obat yang berkualitas tinggi. Nama ISMUT adalah singkatan dari bahasa Arab
16

–  Ihdinas siratal mustaqim yang mengandung arti “Tunjukkan kami jalan

yang lurus”. Kami berusaha menjalankan perusahaan ini dengan baik agar

dapat memberi kontribusi di bidang Kesehatan dengan komitmen yang

tertuang dalam Visi dan Misi kami.

b. Produk PT. Ismut Fitomedika Indonesia

Adapun beberapa produk yang diproduksi Pt. Ismut Fitomedika

Indonesia takalar:

1) Ifalmin

Kemasan : Dus. 5 blister @10 kapsul

Komposisi : Mengandung ekstrak ikan toman (Channa micropeltes)

Indikasi : Memperbaiki kondisi dan memelihara kesehatan tubuh

2) Fibrolivit

Kemasan : Botol @50 kapsul

Komposisi : Mengandung ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza

rhizoma) dan katimaha (Kleinhovia hospita)

Indikasi : Membentuk memelihara kesehatan fungsi hati dan fungsi

lambung (maag). Efektif menghilangkan keluhan ulkus

peptikum (tukak lambung). GERD dan penyakit gartritis

lainnya.

3) Spondyloss

Kemasan : 50 kapsul
17

Komposisi : Mengandung ceplukan (Physalis angulata)

Indikasi : Membantu memelihara kesehatan, untuk pencegahan

dan pengobatan pada disfungsi jantung, menormalkan kadar

LDL dan mencegah radika bebas pada kardiovaskular,

4) Gluliped

Kemasan : Botol @30 kapsul

Kandungan : Mengandung ekstrak bunga matahari meksiko (Helianthus

annuus L)

Indikasi : Memperbaiki fungsi pancreas untuk mengendalikan kadar

gula darah

5) Strovit

Kemasan : 5 blister @10 kapsul

Kandungan : Mengandung buah nanas (Ananas comosus) dan jintan

hitam/habatussauda (Nigella sativa)

Indikasi : Berkhasiat sebagai antiinflamasi yang efektif pada

pengobatan sinusitis

6) Cheral

Kemasan : 30 kapsul

Kandungan : Mengandung kunyit (Curcuma longa) dan meniran

(Phyllanthus niruri)
18

Indikasi : Membantu mengobati kista, mioma uteri, tumor dan kanker,

juga efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh


19

7) Gluvigen

Kemasan : 30 kapsul

Kandungan : Mengandung kulit dan sisik ikan toman (Channa micropeltes)

Indikasi : Efektif untuk membantu penyembuhan hernia serta

mengembalikan kondisi jaringan tubuh yang lemah atau rusak

Sumber : https://ismutfitomedika.com/

D. Tinjauan Umum UPT. Materia Medika Batu (MMB)

a. Sejarah UPT. Materia Medika Batu (MMB)

Materia Medica didirikan sejak tahun 1960 oleh almarhum Bapak

R.M.Santoso. Beliau juga merupakan salah satu pendiri Hortus Medicus

Tawangmangu yang sekarang berubah nama menjadi Balai Besar Penelitian

dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO2T) di

Tawangmangu. Awal berdirinya Materia Medica didasarkan hasil pengamatan

beliau tentang tanaman obat di Indonesia yang tidak dapat dikoleksi pada satu

daerah saja. Hal ini disebabkan oleh perbedaan daya adaptasi tanaman obat

terhadap lingkungan (iklim).

Pengelolaan kebun percobaan MMB dilakukan oleh Yayasan Farmasi

bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Jawa Timur. Namun, Bapak

R.M.Santoso meninggal dunia pada tahun 1963 sebelum kebun percobaan

tersebut dapat dikelola dengan sempurna. Sebagai upaya menjaga

kelangsungan pengelolaan kebun percobaan MMB, Dr. Moedarsono

(Inspektur Dinas Kesehatan Jawa Timur) menunjuk R.Suhendro (Kepala


20

Dinas Perkebunan Rakyat Kabupaten Malang) sebagai pimpinan sementara

kebun MMB. Masa jabatan R.Suhendro berlaku sampai MMB mendapat

pimpinan yang baru.

Pada tahun 1964, Ir.N.V.Darmago terpilih sebagai pimpinan baru MMB.

Pada tahun 1970 atas permohonan sendiri NV Darmago, meletakkan jabatan,

kemudian selaku pimpinan Materia Medica Batu dipegang oleh Ir. Wahyu

Soeprapto. Pada pertengahan tahun 1970 terjadi perubahan status kepemilikan

Materia Medica dari milik swasta menjadi milik pemerintah yaitu Dinas

Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Timur Direktorat Farmasi Jawa Timur.

Setelah tahun 1978 dengan berfungsinya Direktorat Daerah farmasi Jawa

Timur menjadi Sub Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM), yang

sekarang menjadi Balai Besar POM Surabaya, maka pengelolaan Materia

Medica Batu diserahkan kepada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur hingga

sekarang.

b. Kegiatan Dan Layanan

 Program Kerja UPT Materia Medica Batu

1. Pelayanan informasi Tanaman Obat Alam Indonesia (obat tradisional).

2. Penelitian tanaman obat dan tanaman yang mengandung bahan baku

obat, yang berkaitan dengan budidaya dan identifikasi kandungan bahan

aktif. Untuk tujuan ini, materia medica mempunyai 2 laboratorium

utama, yaitu Lab. Fitokimia dan Lab. Kultur Jaringan Tanaman.


21

3. Pembinaan kepada kelompok tani dan PKK berkaitan dengan

pemanfataan dan budidaya tanaman obat. Materia medica aktif

mengadakan penyuluhan ke beberapa daerah, misal penyuluhan di Kota

Mojokerto dan di Kabupaten Malang Selatan.

4. Pelayanan contoh ekstrak dan simplisia tanaman obat tradisional yang

terstandarisasi. Materia medica menyediakan berbagai macam simplisia

(kering dan serbuk), serta ekstrak.

5. Pelayanan konsultasi kesehatan terhadap pemanfaatan tanaman obat.

6. Pelaksanaan budidaya tanaman obat.

7. Balai Materia Medica menjadi percontohan IKOT Jawa Timur.

8. Wisata ilmiah tanaman obat. Kami juga menerima kunjungan dari

beberapa sekolah, perguruan tinggi, kelompok PKK, dll.

Kegiatan ekstraksi bahan aktif tanaman obat di laboratorium fitokimia, MMB

Kunjungan ke Materia Medica Batu


22

 Fasilitas

Tanaman merupakan salah satu sumber senyawa kimia yang penting

dalam pengobatan. Umumnya senyawa kimia berupa senyawa metabolit

sekunder seperti alkaloid, flavonoid, fenolik, terpenoid, steroid dan lain-

lain. Dalam pemanfaatannya kita dapat mengambil seluruh zat yang

terdapat pada bahan Tanaman atau diambil beberapa zat yang dibutuhkan

saja.Untuk dapat mengambil atau memperoleh zat tersebut dapat

dilakaukan dengan berbagai proses salah satunya yaitu dengan proses

Ekstraksi. UPT Materia Medica Batu melakukan Proses ekstraksi Tanaman

Obat dengan menggunakan metode:

1. Maserasi modifikasi dengan mesin pengaduk (Stirrer)

2. Soxhletasi

Ekstrak murni akan diperoleh dengan memisahkan ekstrak dari cairan

penyarinya yaitu dengan menggunakan alat Rotavapor.


23

Sampai saat ini, Materia Medica Batu memiliki 525 jenis tanaman obat.

Jumlah itu akan terus bertambah seiring dengan terus diadakannya kegiatan

eksplorasi. Koleksi tanaman obat di MMB di antaranya adalah:

Nama
No Nama Latin Kegunaan
Daerah
1 Adas Foeniculum Ekspektoran, antibakteri, pelancar
vulgare ASI
2 Alang- Imperata cylindrica Peluruh seni, demam, menurunkan
alang asam urat
3 Asam Tamarindus indica Obat demam, cacingan,
antikolesterol, obat batuk, obat luka
baru
4 Bayam Amaranthus Memperbaiki pencernaan,
caudatus mengurangi pendarahan waktu
haid, penambah darah
5 Bawang Allium porrum Obat batuk
prey
6 Besaran/ Morus alba Hipertensi, obat batuk dan selesma,
murbei diabetes, anemia, hepatitis
7 Binahong Anredera cordifolia Memulihkan stamina, vitalitas,
menyembuhkan luka
8 Bidara Ipomoea mammosa Demam, batuk, radang
upas/ doro tenggorokan, typhus, sembelit
upas
9 Blimbing Averrhoa bilimbi Hipertensi, rematik, sariawan,
wuluh memperbaiki fungsi pencernaan
10 Brotowali Tinospora crispa Rematik, demam, antidiabetes,
peluruh air seni
11 Buah naga Hylocereus Antikolesterol, penawar
ostaricensis karsinogen, antioksidan,
memperlancar pencernaan
12 Cabe jawa Piper retrofractum Mengobati kembung, sakit gigi,
radang mulut, parem setelah
melahirkan
13 Cakar Selaginela Antikanker, batuk, hepatitis,
ayam/ doederleinii rematik
ande-ande
24

lumut
14 Cengkeh Syzigium Pelega perut, obat batuk
aromaticum
15 Ciplukan Physalis minima Obat gusi berdarah, obat bisul

16 Coklat Theobroma cacao Wasir, cacing kremi, tekanan darah


rendah, pusing
17 Cola Cola nitida Disentri, migrain, menambah nafsu
makan, penyegar, obat batuk, asma,
bronchitis
18 Daun Gynura segetum Melancarkan sirkulasi,
dewa menghentikan perdarahan (batuk,
mimisan, muntah darah)
19 Daun Desmodium Wasir, abses, sakit pinggang, dan
duduk triquetrum pegal-pegal
20 Daun Erythrina Penenang, pelancar ASI
syaraf subumbrans
21 Dewandar Eugenia uniflora Obat diare, sariawan
u
22 Ekor Acalypha hispida Penutup luka, hemostatis, diuretik,
kucing sariawan
23 Ganyong Canna edulis Obat lambung

24 Gempur Ruellia napifera Batu empedu, batu ginjal, wasir,


batu peluruh seni
25 Greges Equisetum debile Radang mata, sakit persendian, obat
otot/ luka, memperkuat otot
rumput
betung
26 Iler Coleus Ambeien, diabetes, demam,
scutellaroides sembelit, terlambat haid
27 Iris Iris pallida Penguat gigi, radang tenggorokan,
gusi bengkak, penghalus kulit
28 Jahe Zingiber sp. Obat batuk, memperkuat
emprit pencernaan, hati bengkak
29 Jahe Zingiber officinale Sinusitis, pereda kejang, penambah
merah var. Rubrum vitalitas, antikanker
25

30 Jambu biji Psidium guajava Meningkatkan trombosit, antivirus,


antidiare
31 Jati Guazoma ulmifolia Pelangsing, antikolestrol
belanda
32 Jeruk nipis Citrus aurantifolia Obat batuk, sakit panas, perut
mulas, antikeriput
33 Jeruk Citrus hystrix Obat batuk, influenza, antiseptik,
purut mengatasi badan letih dan lemah
setelah sakit
34 Jinten Nigella sativa Diuretik, karminatif, mengatasi
hitam mata suram, sakit perut, dan
cacingan
35 Juwet/ Eugenia cumini Antidiabetes, obat mencret dan haid
jamblang tidak teratur
36 Kapulogo Amomum Mengatasi perut kembung, radang
cardamomum tenggorokan, batuk, suara parau
37 Kapulogo Cardamomum Pelega perut, kosmetik
sabrang officinale
38 Kayu Cinnamomum Anti hipertensi, membangkitkan
manis burmani nafsu makan, rematik, obat mencret
39 Kayu putih Melaleuca cajuputi Obat masuk angin, penghangat
badan
40 Kayu rapet Parameria Obat disentri, keputihan,
laevigata mengecilkan rahim setelah
melahirkan, obat haid tidak teratur
41 Kayu Caesalpinia sappan Mengobati luka, radang mata, TBC
secang
42 Keji Strobilantes crispus Peluruh air seni, antidiabetes, obat
beling/ sakit kuning, ambeien,
ngokilo antikolesterol
43 Kemangi Ocimum canum Insektisida nabati, obat sariawan,
bau nafas, dan bau badan
44 Kencur Kaempferia Penambah nafsu makan, obat batuk,
galangal obat radang lambung, tonikum,
ekspektoran, keseleo
45 Kepel Stelecocarpus Obat radang ginjal, peluruh air seni
burahol
46 Kersen/ Muntingia calabura Obat batuh dan peluruh dahak, obat
keres sakit kuning
26

47 Kesumba Bixa orelana Obat mencret, obat sakit kuning,


keling peluruh keringat, memperbaiki
pencernaan
48 Ki cong Quassima amara Obat demam, malaria, lambung
corang/ lemah, dan membunuh kutu kepala
buntu silit
49 Kluwek Pangium edule Antiseptik, disinfektan, obat cacing
kremi, penawar keracunan makanan
50 Konfre Symphytium Obat hipertensi, diabetes, batuk,
officinale rematik, menyembuhkan luka,
bisul, wasir, gangrene, tumor

Sumber : https://materiamedicabatu.wordpress.com/profil/
BAB III

PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

A. Jadwal Kegiatan PKL

Adapun jadwal kegiatan PKL yang dilaksanakan pada hari Jumat tanggal

7 Agustus 2020 PT. Ismut Fitomedika Indonesia & Senin tanggal 10 Agustus

2020 UPT. Materia Medika Batu.

B. Kegiatan PKL

a. Kunjungan secara langsung PT. Ismut Fitomedika Indonesia

1. Memasuki ruang ganti (Pria/Wanita), menggunakan jas laboratorium,

masker, penutup kepala dan alas kaki sendal yang sudah disediakan.

2. Memasuki ruangan pengumpulan simplisia, yaitu tempat penyimpanan

simplisia yang disimpan pada suhu 20oC dengan kelembaban 27%-38%.

3. Ruang ekstraksi, didalamnya terdapat beberapa mesin yang digunakan

selama proses produksi, yaitu mesin dengan skala maserasi dengan

kekuatan mencapai 2600 mpm. Sediaan daun diekstraksi selama 2 jam

dan ikan selama 30 menit diekstraksi, menggunakan nanoteknologi.

4. Ruang pengeringan, terdapat penyaring udara agar meminimalisir

kontaminasi udara yang masuk.

5. Ruang crusher ekstrak, sebagai tempat untuk melakukan pemeriksaan

keseragaman bobot dan bentuk sediaan yang diproduksi.

6. Ruang kimia fisika, merupakan laboratorium yang digunakan untuk

menganalisis kadar air, pemeriksaan mikrobiologi.

26
27

7. Ruang persediaan, didalamnya terdapat tempat penampung bubuk sediaan

sampel yang digunakan dalam produksi dengan suhu 15oC.

8. Ruang pencampuran bahan (Mixing powder), sebagai tempat mencampur

formula dengan beberapa bahan, hasil dari mixing powder dibawa

kemesin filling kapsul secara otomatis kemudian dibawa ke mesin poles

untuk dibersihkan sediaan kapsul yang sudah di filling.

9. Ruang pengemasan (Blistering), menggunakan mesin secara otomatis

dibuat setiap 1 jam sebanyak 15.000 blister.

10. Ruang pengemasan sekunder, yaitu tempat pemberian expire date dengan

menggunakan mesin kemudian dimasukkan kedalam dos/packing lalu

masuk area gudang untuk dipasarkan. Terdapat area reject untuk barang

yang rusak.

b. Melalui platform zoom UPT. Materia Medika Batu (MMB)

1. Melakukan registrasi.

2. Pembukaan oleh ketua Stikes Nani Hasanuddin Makassar.

3. Pemberian materi pertama dan video (Pembuatan Sabun Padat Herbal)

oleh narasumber bapak Rocky Fahriar Reza, S.Farm., Apt

4. Pemberian materi kedua dan video (Pembuatan Simplisia Tanaman) oleh

narasumber ibu Dyaninta Yudhiarini, S.Farm., Apt

5. Pemberian materi ketiga dan video (Pengujian Cemaran Mikroba) oleh

narasumber ibu Siti Mudaliana, S.Si

6. Pembukaan sesi diskusi (Tanya/jawab) untuk mahasiswa PKL.


28

7. Penutupan.
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Profil PT. Ismut Fitomedika Indonesia

PT. Ismut Fitomedika Indonesia adalah perusahaan Industri herbal berbasis

farmasi. Perusahaan ini berdiri 24 Desember 2015 dengan teknologi dan inovasi

serta didukung SDM yang ahli sehingga mampu memproduksi obat yang

berkualitas tinggi. Nama ISMUT adalah singkatan dari bahasa Arab –  Ihdinas

siratal mustaqim yang mengandung arti “Tunjukkan kami jalan yang lurus”.

Kami berusaha menjalankan perusahaan ini dengan baik agar dapat memberi

kontribusi di bidang Kesehatan dengan komitmen yang tertuang dalam Visi dan

Misi kami.

a. Visi

Menjadi perusahaan industri herbal yang unggul, terkemuka dan

terdepan dalam kualitas guna meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia

dan dunia.

b. Misi

1. Menjalankan perusahaan secara professional dengan kualitas produk yang

tinggi berbasis riset dan layanan prima.

2. Mengembangkan SDM yang handal, jujur, bertanggung jawab dan

memiliki kinerja tinggi untuk kemajuan dan kesejahteraan perusahaan dan

karyawan.

29
30

c. Deskripsi kegiatan praktik

1. Produksi

Bagunan yang memproduksi sediaan, dimana kegiatan produksi

meliputi alur proses pembuatan dimulai dari pengadaan bahan awal

termasuk penyiapan bahan baku (gudang), pengolahan sampai pengemasan

untuk menghasilkan produk jadi.

2. Quality qontrol (QC)

Pengawasan mutu (QC) adalah bagian yang sangat penting dalam

pelaksaan CpOTB di industry farmasi karen abagian inilah yang berwenag

untuk melakukan atau meluluskan produk jadi. Sehingga produk yang

dihasilkan sellau dapat memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan

melalui serangkaian pngujia dan penanganan. Syarta mutu tersebut adalah

spsifikasi, identitas, dan karakteristik sesuai standar yang ditetapkan.

3. Research and development (R&D)

Bagian yang diperlukan bagi sebuah perusahaan untuk selalu

melakukan penelituan ang dapat menghasilkan produk- produk baru.

4. Personalia

Adapun kegiatan personalia meliputi:

a. Pengadaan serta pengendalian sumber daya manusia (SDM) mencakup

sistem rekruitmen tenaga kerja, perjanjian kontrakm cuti, dan pendataan

pegawai.

b. Perencanaan program pelatihan pegawai beserta pengelolaan sertifikat


31

pelatihan

c. Koordinasi antar unit kerja

d. Sistem pengkajian

e. Pelaksanaan evaluasi kerja serta penetapan intensif dan sanksi

Proses produksi mengunakan teknologi farmasi terbaru serta pemilihan

bahan baku adalah yang membedakan kami. Produk obat-obatan ISMUT

diproses dengan menggunakan nanoteknologi, sehingga mampu menghasilkan

produk yang memiliki bentuk sediaan granul yang sangat kecil sehingga mudah

diserap tubuh. Semakin kecil partikel obat, maka semakin mudah juga diserap

tubuh, teknologi ini dinamakan nanopartikel.

Seluruh produk Ismut dijamin aman dikonsumsi orang tua juga anak-anak

dan bebas efek samping. Produk herbal ini tidak menyebabkan overdosis dan

tidak mengandung bahan kimia. Bahan baku berasal dari poliherbal, bahan baku

murni dari bahan alam. Produk kami semua telah terdaftar pada BPOM.

Hasil analisis yang dilakukan di Laboratorium Fisiologi Struktur dan

Perkembangan Hewan, jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya pada

sampel Ifalmin dengan menggunakan metode analisis Spektrofotometer-DiaSys.

B. Profil UPT. Materia Medika Batu (MMB)

Materia Medica Batu (MMB) merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis

(UPT) dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur yang berlokasi di Kota Batu.

Balai Materia Medica Batu terletak di lingkungan Desa Pesanggrahan yang letak

lokasinya berbatasan dengan Kelurahan Ngaglik di wilayah Kota Batu.


32

Berdasarkan letak geografisnya Balai Materia Medica terletak pada ketinggian ±

875 D.P.L dengan suhu ± 20 – 25 C.

Balai Materia Medica Batu yang terletak di Jl. Lahor No. 87 Batu memiliki

luas tanah dan bangunan seluas 2.1 Ha. Pada tahun 2002, Balai Materia Medica

mengalami perluasan lahan sejalan dengan program pengembangan Balai

Materia Medica Batu. Tugas pokok BMM adalah penyuluhan dan pengelolaan

Tanaman Obat meliputi Tanaman Obat Tradisional dan Tanaman Obat yang

mengandung bahan baku obat.

a. Visi UPT Materia Medica Batu

Tumbuhan obat asli Indonesia dimanfaatkan sebagai obat bahan alami

unggulan bangsa Indonesia.

b. Misi UPT Materia Medica Batu

 Meningkatkan promosi pemanfaatan tanaman obat sebagai bahan baku

alam Indonesia

 Mengembangkan monografi dan standar mutu baik simplisia maupun

ekstrak

 Membantu penyusunan parmakope herbal Indonesia

 Mengembangkan penelitian dasar tanaman obat alam Indonesia

 Mempertahankan plasma nuftah tanaman obat alam Indonesia

 Memperkokoh jaringan kerjasama antar lembaga penelitian dan industri

terkait
33

 Mengembangkan database tanaman obat alam Indonesia

c. Deskripsi kegiatan praktik

1. Pembuatan sabun herbal padat

Menurut Permenkes RI No.1176/MENKES/PER/VII/2010 Kosmetik

adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh manusia

(epidermis, rambut, kuku dan organ genital bagian luar) atau gigi dan

mukosa mulut terutama untuk mmebersihkan, mewangikan, mengubha

penanapilan dan atau memperbaiki bau badan, melindungi atau memelihara

tuubuh pada kondisi baik. Sabun merupakan salah satu contoh kosmetik.

Bahan utama dalam pembuatan sabun yakni minyak/lemak dan alkali

juga dapat ditambahkan zat aditif lainnya. Cara pembuatan sabun herbal

padat yaitu dilarutkan alkali padasuhu 38oCkemudian dicampur dengan

minyak/lemak hingga homogeny dan kemudian ditambahkan zat aditif satu

per satu masukan dalam cetakan, biarkan selama satu hari kemudian

dipotong sesuai selera dan diangin- anginkan kembali.

2. Pembuatan simplisia

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan simplisia harus

berdasarkan CPOTB (cara pembuatan obat tradisional yang baik):

d. Manajemen mutu

e. Personalia

f. Bangunan
34

g. Peralatan

h. Sanitasi dan hygiene

i. Penyiapan bahan baku

j. Pengelolaan dan pengemasan

k. Pengawasan mutu

l. Inspeksi diri

m. Dokumentasi

n. Penanganan keluhan terhadap produk penarikan kembali produk

3. Pengujian mikrobiologi

Pengujian cemaran mikroba dilakukan dengan melihat angka

lempeng total. Dimana pada umumnya mikroba yang tumbuh pada

simplisia yakni mikroba aerob dengan nilai ALT ≤5x107 dan jamur/kapang

dengan nilai ALT ≤5x105


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan setelah melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan

pada industri farmasi PT. Ismut Fitomedika Indonesia dan UPT Material

Medika Batu dapat disimpulkan bahwa:

1. Mahasiswa memahami cara pembuatan obat herbal di industri PT. Ismut

Fitomedika Indonesia secara langsung dan UPT. Materia Medika Batu

secara daring.

2. Mahasiswa mengetahui sediaan herbal yang diproduksi di PT. Ismut

Fitomedika Indonesia dan UPT. Materia Medika

B. Saran

Adapun saran yang dapat saya berikan untuk PT. Ismut Fitomedika

Indonesia dan UPT. Materia Medika Batu agar kedepannya produk yang

dihasilkan herbal yang unggul, terkemuka dan terdepan dalam kualitas

terkhusus produk herbal.

35
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Mentri KesehatanRepublik

Indonesia No.1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang IndustriFarmasi.

Jakarta: Ikatan Apoteker Indonesia; 2010.

Hikmah. 2015. Pengelolaan Indistri Farmasi. Universitas Sumatera Utara : Sumatera

Utara

https://ismutfitomedika.com/

https://materiamedicabatu.wordpress.com/profil/

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No. 6 Tahun 2016 Tentang Formularium Obat Herbal

Asli Indonesia. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/187/2017 Tentang

Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. Menteri Kesehatan

Republik Indonesia. Jakarta.

Sutrisna, EM. 2016. Herbal Medicine. Muhammadiyah University Press : Surakarta.

36
LAMPIRAN GAMBAR

1. Produk PT. Ismut Fitomedika Indonesia

No Produk Kandungan/Khasiat
1. Mengandung kunyit dan meniran,
membantu mengobati kista,
mioma uteri, tumor dan kanker,
juga efektif untuk meningkatkan
daya tahan tubuh
2. Mengandung ekstrak temulawak
dan kahutanan dan dapat
membentuk dan memelihara
kesehatan fungsi hati dan fungsi
lambung (maag). Efektif
menghilangkan keluhan ulkus
peptikum (tukak lambung).
GERD dan penyakit gartritis
lainnya.
3. Mengandung nanas dan jintan
hitam, berkhasiat sebagai
antiinflamasi yang efektif pada
pengobatan sinusitis
4. Mengandung ceplukan membantu

memelihara kesehatan, untuk

pencegahan dan pengobatan pada

disfungsi jantung/kardiovaskuler,

menormalkan kadar LDL dan

mencegah radikal bebas pada

37
38

kardiovaskuler.
5. Mengandung kulit dan sisik ikan
toman, efektif untuk membantu
penyembuhan hernia serta
mengembalikan kondisi jaringan
tubuh yang lemah atau rusak.
6. Mengandung ikan toman dan
bermanfaat untuk memperbaiki
kondisi dan memelihara kesehatan
tubuh

7. Mengandung ekstrak bunga


matahari, memperbaiki fungsi
pancreas untuk mengendalikan
kadar gula darah
39

LAMIPRAN PEMBUATAN SABUN ADAT HERBAL

NOMOR ALAT
1.

Timbangan analitik

2.

Masker
3.

Cetakan sabun
4.

Wadah
40

5.

Spatula
6.

Handblender
7.

Gelas kimia
8.

Handscoon
41

LAMPIRAN DOKUMENTASI