Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN


DENGAN (Gangguan Rasa Aman dan Nyaman)
Disusun untuk memenuhi tugas laporan individu praktek profesi ners
Departemen Keperawatan Dasar
di RSUD Sidoarjo

Oleh:

Nama : Dian Permatasari


NIM : 200714901293

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES WIDYAGAMA HUSADA
MALANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN DYSPEPSI DENGAN MASALAH


KEPERAWATAN NYERI AKUT
DI RSUD SIDOARJO

DISUSUN OLEH

DIAN PERMATASARI
200714901293

Disetujui Oleh

Pembimbing Institusi Pembimbing Wahana Praktik

(.........................................) (.....................................)
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Potter & Perry, 2006 mengungkapkan kenyamanan/rasa nyaman adalah suatu
keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan
ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari).
Ketidaknyamanan adalah keadaan ketika individu mengalami sensasi yang tidak
menyenangkan dalam berespon terhadap suatu ransangan.
Aman adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis. Pemenuhan
kebutuhan keamanan dilakukan untuk menjaga tubuh bebas dari kecelakaan baik
pasien, perawat atau petugas lainnya yang bekerja untuk pemenuhan kebutuhan
tersebut (Asmadi, 2008).
Perubahan kenyamanan adalah keadaan dimana individu mengalami sensasi yang
tidak menyenangkan dan berespon terhadap suatu rangsangan yang berbahaya
(Carpenito, 2006).
B. Fisiologi Sistem/fungsi Normal Sistem Rasa Aman dan Nyaman
Pada saat impuls ketidaknyamanan naik ke medula spinalis menuju kebatang otak
dan thalamus, sistem saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian dari
respon stress. Stimulasi pada cabang simpatis pada sistem saraf otonom
menghasilkan respon fisiologis.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keamanan dan Kenyamanan
1. Emosi
Kecemasan, depresi dan marah akan mudah terjadi dan mempengaruhi
keamanan dan kenyamanan
2. Status mobilisasi
Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot dan kesadaran menurun
memudahkan terjadinya resiko injury
3. Gangguan persepsi sensory
Mempengaruhi adaptasi terhadap rangsangan yangberbahaya seperti
gangguan penciuman dan penglihatan
4. Keadaan imunitas
Gangguan ini akan menimbulkan daya tahan tubuh kurang sehingga mudah
terserang penyakit
5. Tingkat kesadarn
Pada pasien koma, respon akan menurun terhadap rangsangan
6. Gangguan tingkat pengetahuan
Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi
sebelumnya.
D. Macam-macam Gangguan Yang Mungkin Terjadi Pada Rasa Aman dan
Nyaman
1. Jatuh
Jatuh merupakan 90% jenis kecelakaan dilaporkan dari seluruh kecelakaan
yang terjadi di rumah sakit. Resiko jatuh lebih besar dialami pasien lansia
2. Oksigen
Kebutuhan fisiologis yang terdiri dari kebutuhan terhadap oksigen akan
mempengaruhi keamanan pasien
3. Pencahayaan
Rumah sakit merupakan sarana pelayanan publik yang penting. Tata
pencahayaan dalam ruang rawat inap dapat mempengaruhi kenyamanan
pasien rawat inap

E. Manifestasi Klinis
1. Vakolasi
a. Mengaduh
b. Menangis
c. Sesak nafas
d. Mendengkur
2. Ekspresi Wajah
a. Meringis
b. Mengeletuk gigi
c. Mengernyit dahi
d. Menutup mata, mulut dengan rapat
e. Menggigit bibir
3. Gerakan Tubuh
a. Gelisah
b. Imobilisasi
c. Ketegangan otot
d. Peningkatan gerakan jari dan tangan
e. Gerakan ritmik atau gerakan menggosok
f. Gerakan melindungi bagian tubuh
4. Interaksi Sosial
a. Menghindari percakapan
b. Focus hanya pada aktivitas untuk menghilangkan nyeri
c. Menghindar kontak social
d. Penurunan rentang perhatian

F. Komplikasi
1. Hipovolemik
2. Hipertermi
3. Masalah Mobilisasi
4. Hipertensi
5. Edema Pulmonal
6. Kejang

G. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan diagnostik sangat penting dilakukan agar dapat mengetahui apakah
ada perubahan bentuk atau fungsi dari bagian tubuh pasien yang dapat
menyebabkan timbulnya rasa aman dan nyaman seperti :
1. Melakukan pemeriksaan laboratorium dan radiologi
2. Menggunakan skala nyeri
a. Ringan= Skala nyeri 1-3 : Secara objektif pasien masih dapat berkomunikasi
dengan baik
b. Sedang= Skala nyeri 4-6 : Secara objektif pasien dapat menunjukkan lokasi
nyeri, masih merespon dan dapat mengikuti instruksi yang diberikan
c. Berat= Skala nyeri 7-9 : Secara objektif pasien masih bisa merespon, namun
terkadang klien tidak mengikuti instruksi yang diberikan.
d. Nyeri sangat berat= Skala 10 : Secara objektif pasien tidak mampu
berkomunikasi dan klien merespon dengan cara memukul.

H. Penatalaksanaan
1. Relaksasi
Relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress.
Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi rasa tidak
nyaman atau nyeri stress fisik dan emosi pada nyeri. Dalam imajinasi
terbimbing klien menciptakan kesan dalam pikiran, berkonsentrasi pada kesan
tersebut sehingga secara bertahap klien dapat mengurangi rasa nyerinya.
2. Teknik imajinasi
Biofeedback merupakan terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan
individu informasi tentang respon fisiologis misalnya tekanan darah.Hipnosis
diri dapat membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif
dan dapat mengurangi ditraksi. Mengurangi persepsi nyeri adalah suatu cara
sederhana untuk meningkatkan rasa nyaman dengan membuang atau
mencegah stimulus nyeri.

3. Teknik Distraksi
Teknik distraksi adalah pengalihan dari focus perhatian terhadap nyeri ke
stimulus yang lain. Ada beberapa jenis distraksi yaitu ditraksi visual (melihat
pertandingan, menonton televise,dll), distraksi pendengaran (mendengarkan
music, suara gemericik air), distraksi pernafasan ( bernafas ritmik), distraksi
intelektual (bermain kartu).
4. Terapi dengan pemberian analgesic
Pemberian obat analgesic sangat membantu dalam manajemen nyeri seperti
pemberian obat analgesik non opioid (aspirin, ibuprofen) yang bekerja pada
saraf perifer di daerah luka dan menurunkan tingkatan inflamasi, dan
analgesic opioid (morfin, kodein) yang dapat meningkatkan mood dan
perasaan pasien menjadi lebih nyaman walaupun terdapat nyeri.
5. Immobilisasi
Biasanya korban tidur di splint yang biasanya diterapkan pada saat kontraktur
atau terjadi ketidakseimbangan otot dan mencegah terjadinya penyakit baru
seperti decubitus

I. Gangguan Rasa Nyaman Akibat Nyeri


1. Pengertian Nyeri
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan
akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial (Smatzler & Bare,
2002). Nyeri adalah suatu sensori subyektif dan pengalaman emosional yang
tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi
kerusakan IASP (dalam Potter & Perry, 2006). Nyeri adalah segala sesuatu
yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja
seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri (Mc Caffery dalam Potter &
Perry, 2006).
Nyeri adalah nyeri sangat tidak menyenangkan dan merupakan sensasi yang
asangat personal yang tidak dapat dibagi dengan orang lain. Nyeri dapat
memenuhi pikiran seseorang. Namun nyeri adalah konsep yang sulit untuk
dikomunikasikan oleh seorang klien. Nyeri lebih dari sekedar sebuah
gejala:nyeri merupakan masalah yang memiliki prioritas tinggi. Nyeri
menandakan bahaya fisiologis dan psikologis bagi kesehatan dan pemulihan.
Nyeri berat dianggap sebagai situasi darurat yang patut mendapat perhatian
dan penanganan yang tepat.
Nyeri dapat diklasifikasikan menjadi nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut
adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut, penyakit atau intervensi bedah
dan memiliki awitan yang cepat, dengan intensitas yang bervariasi ( ringan
sampai berat) dan berlangsung singkat ( kurang dari enam bulan dan
menghilang dengan atau tanpa pengobatan setelah keadaan pulih pada area
yang rusak. Nyeri kronis adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap
sepanjang suatu periode waktu. Nyeri yang disebabkan oleh adanya kausa
keganasan seperti kanker yang tidak terkontrol atau non keganasan. Nyeri
kronik berlangsung lama (lebih dari enam bulan ) dan akan berlanjut walaupun
pasien diberi pengobatan atau penyakit tampak sembuh. Karakteristik nyeri
kronis adalah area nyeri tidak mudah diidentifikasi, intensitas nyeri sukar untuk
diturunkan, rasa nyeri biasanya meningkat, sifat nyeri kurang jelas, dan
kemungkinan kecil untuk sembuh atau hilang. Nyeri kronis non maligna
biasanya dikaitkan dengan nyeri akibat kerusakan jaringan yang non progresif
atau telah mengalami penyembuhan.
2. Sifat Nyeri
Walaupun nyeri merupakan sebuah pengalaman universal,sifat pastinya tetap
menjadi sebuah misteri. Diketahui bahwa nyeri sangat bersifat subjektif dan
individual dan bahwa nyeri merupakan salah satu mekanisme pertahanan
tubuh yang menandakan adanya masalah. Nyeri yang tidak ditangani
menyebabkan bahaya fisiologis dan psikologis bagi kesehatan dan
penyembuhannya.
3. Fisiologi Nyeri
Menurut Potter & Perry (2006), terdapat tiga komponen fisiologis dalam nyeri
yaitu resepsi, persepsi, dan reaksi. Stimulus penghasil nyeri mengirimkan
impuls melalui serabut saraf perifer. Serabut nyeri memasuki medula spinalis
dan menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan akhirnya sampai di
dalam masa berwarna abu-abu di medula spinalis. Terdapat pesan nyeri dapat
berinteraksi dengan sel-sel saraf inhibitor, mencegah stimulus nyeri sehingga
tidak mencapai otak atau ditransmisi tanpa hambatan ke korteks serebral,
maka otak menginterpretasi kualitas nyeri dan memproses informasi tentang
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki serta asosiasi kebudayaan dalam
upaya mempersiapkan nyeri.
4. Teori Pengontrolan Nyeri (Gate Kontrol)
Teori Gate Kontrol dari Melzack dan Wall (1965), mengusulkan bahwa impuls
nyeri dapat diatur atau bahkan dihambat oleh mekanisme pertahanan
disepanjang sistem saraf pusat. Mekanisme pertahanan dapat ditemukan di
sel-sel gelatinosa substansia di dalam kornu dorsalis pada medula spinalis,
talamus, dan sistem limbik. Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori
dan serabut kontrol desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron
delta-A dan C melepaskan substansi P untuk menstransmisikan impuls melalui
mekanisme petahanan. Neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang
melepaskan neurotransmiter penghambat. Apabila masukan yang dominan
berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme pertahanan.
Apabila masukan yang dominan berasal dari serabut delta-A dan serabut C,
maka akan membuka pertahanan tersebut dan klien akan mempersepsikan
nyeri.
Saat impuls diantarkan ke otak, terdapat pusat korteks yang lebih tinggi di otak
yang memodifikasi persepsi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat
endogen, seperti endorfin dan dinorfin, suatu pembunuh nyeri alami yang
berasal dari tubuh. Neuromodulator ini menutup mekanisme pertahanan
dengan menghambat pelepasan substansi P.
5. Respon Terhadap Nyeri
a. Respon fisiologis
Pada saat impuls nyeri naik ke medula spinalis menuju ke batang
otak dan talamus, sistem saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian
dari respon stres. Nyeri dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri
yang superfisial menimbulkan reaksi “flight-atau-fight”, yang merupakan
sindrom adaptasi umum. Stimulasi pada cabang simpatis pada sistem saraf
otonom menghasilkan respon fisiologis. Apabila nyeri berlangsung terus-
menerus secara tipikal akan melibatkan organ-organ viseral, sistem saraf
parasimpatis menghasilkan suatu aksi. Respon fisiologis terhadap nyeri
sangat membahayakan individu. Kecuali pada kasus-kasus nyeri berat
yang menyebabkan individu mengalami syok, kebanyakan individu
mencapai tingkat adaptasi, yaitu tanda-tanda fisik kembali normal. Dengan
demikian klien yang mengalami nyeri tidak akan selalu memperlihatkan
tanda-tanda fisik.
b. Respon Perilaku
Sensasi nyeri terjadi ketika merasakan nyeri. Gerakan tubuh yang
khas dan ekspresi wajah yang mengindikasikan nyeri dapat ditunjukkan
oleh pasien sebagai respon perilaku terhadap nyeri. Respon tersebut
seperti mengkerutkan dahi, gelisah, memalingkan wajah ketika diajak
bicara.
6. Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri
a. Usia
Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri,
khususnya pada anak-anak dan lansia. Anak kecil mempunyai kesulitan
memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan
nyeri. Anak-anak juga mengalami kesulitan secara verbal dalam
mengungkapkan dan mengekspresikan nyeri. Sedangkan pasien yang
berusia lanjut, memiliki resiko tinggi mengalami situasi yang membuat
mereka merasakan nyeri akibat adanya komplikasi penyakit dan
degeneratif.
b. Jenis kelamin
Beberapa kebudayaan yang mempengaruhi jenis kelamin misalnya
menganggap bahwa seorang anak laki-laki harus berani dan tidak boleh
menangis, sedangkan anak perempuan boleh menangis dalam situasi yang
sama. Namun secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara
bermakna dalam berespon terhadap nyeri.
c. Kebudayaan
Beberapa kebudayaan yakin bahwa memperlihatkan nyeri adalah
sesuatu yang alamiah. Kebudayaan lain cenderung untuk melatih perilaku
yang tertutup (introvert). Sosialisasi budaya menentukan perilaku psikologis
seseorang. Dengan demikian hal ini dapat mempengaruhi pengeluaran
fisiologis opial endogen sehingga terjadilah persepsi nyeri.
d. Makna nyeri
Individu akan mempersepsikan nyeri berbeda-beda apabila nyeri
tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan
tantangan. Makna nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara
seseorang beradaptasi terhadap nyeri.
e. Perhatian
Tingkat seorang pasien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan
dengan nyeri yang meningkat sedangkan upaya pengalihan (distraksi)
dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.
f. Ansietas
Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri tetapi nyeri juga
dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Apabila rasa cemas tidak
mendapat perhatian dapat menimbulkan suatu masalah penatalaksanaan
nyeri yang serius.
g. Keletihan
Rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan
menurunkan kemampuan koping sehingga meningkatkan persepsi nyeri.
h. Pengalaman sebelumnya
Setiap individu belajar dari pengalaman nyeri sebelumnya namun
tidak selalu berarti bahwa individu tersebut akan menerima nyeri dengan
lebih mudah di masa datang.
i. Gaya koping
Individu yang memiiiki lokus kendali internal mempersepsikan diri
mereka sebagai individu yang dapat mengendalikan lingkungan mereka
dan hasil akhir suatu peristiwa seperti nyeri. Sebaliknya, individu yang
memiliki lokus kendali eksternal mempersepsikan faktor lain di dalam
lingkungan mereka seperti perawat sebagai individu yang bertanggung
jawab terhadap hasil akhir suatu peristiwa.
j. Dukungan keluarga dan sosial
Kehadiran orang-orang terdekat pasien dan bagaimana sikap mereka
terhadap pasien mempengaruhi respon nyeri. Pasien dengan nyeri
memerlukan dukungan, bantuan dan perlindungan walaupun nyeri tetap
dirasakan namun kehadiran orang yang dicintai akan meminimalkan
kesepian dan ketakutan.
7. Perbedaan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis

NYERI AKUT NYERI KRONIS


a. Ringan sampai berat a. Ringan sampai berat
b. Respons sistem saraf simpatik : b. Respons sistem saraf
1. Peningkatan denyut nadi parasimpatik :
2. Peningkatan frekuensi 1. Tanda-tanda vital normal
pernapasan 2. Kulit kering,hangat
3. Peningkatan tekanan darah 3. Pupil normal atau dilatasi
c. Klien tampak gelisah dan cemas 4. Terus berlanjut setelah
d. Klien menunjukkan perilaku yang penyembuhan
mengindikasikan rasa nyeri : c. Klien tampak depresi dan
menangis,menggosok area nyeri, menarik diri
memegang area nyeri d. Klien sering kali tidak
e. Terlokalisasi menyebutkan rasa nyeri kecuali
f. Tajam : seperti ditusuk, disayat, ditanya
8. di cubit, dll e. Menyebar
f. Tumpul : ngilu,linu,nyeri,dll
Pengukuran Nyeri
a. Skala Deskriptif
Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale, VDS) merupakan
sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsian yang
tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Pendeskripsi ini
dirangking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”.
b. Skala penilaian numerik
Numerical Rating Scale (NRS) menilai nyeri dengan menggunakan
skala 0-10. Skala ini sangat efektif untuk digunakan saat mengkaji
intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik.
c. Skala Analog Visual
Visual Analog Scale (VAS) merupakan suatu garis lurus yang
mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan memiliki alat pendeskripsi
verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberikan kebebasan penuh pada
pasien untuk mengidentifikasi keparahan nyeri.
Untuk mengukur skala nyeri pada pasien pra operasi apendisitis,
peneliti menggunakan skala nyeri numerik. Karena skala nyeri numerik
paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan
sesudah diberikan teknik relaksasi progresif. Selain itu selisih antara
penurunan dan peningkatan nyeri lebih mudah diketahui dibanding skala
yang lain.
(pathway Dyspepsia)

DISPEPSIA

Dispepsia Organik Dispepsia Fungsional

Stress Kopi & alkohol

Respon mukosa lambung


Perangsangan
saraf simpatis NV
(Nervus Vagus)

vasodilatasi mukosa gaster Eksfeliasi


(Pengelupasan)

↑ Produksi HCL di lambung

HCL kontak dengan


Ansietas
Mual mukosa gaster

Defisit Nutrisi

Perubahan pada
Muntah Nyeri Akut
kesehatan

Defisit pengetahuan
Risiko ketidakefektifan
Kekurangan cairan
volume cairan
(Pathway Gangguan Nyeri Akut)

Stimulus Nyeri

Kram abdomen,
mual, muntah

Spasme Otot

Timbul nyeri Skala Nyeri

Nyeri Akut
0 : Tidak Nyeri
1-3 : Nyeri Ringan
4-6 : Nyeri Sedang
7-9 : Nyeri Berat Terkontrol
10 : Nyeri Berat Tak Terkontrol

Otot pengunyah lemah Sering terjaga akibat nyeri Lemas

Nafsu makan menurun Istirahat tidak cukup Tirah Baring

Defisit Nutrisi Gangguan Pola Intoleransi


Tidur Aktivitas
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2016). Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Aman Nyaman Praktik


Keterampilan Dasar Dalam Keperawatan.
A Potter, & Perry, A. G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
Dan Praktik, edisi 4, Volume.2. Jakarta: EGC.
Kemenkes. (2016). Asuhan Keperawatan Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman.
Nurarif A.H dan Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatn Praktis. Jakarta: Mediaction
Wartonah, Tarwoto. 2010. Kebutuhan Dasar manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
PENGKAJIAN DASAR KEPERAWATAN

Nama Mahasiswa : Dian Permatasari Tempat Praktik : RSUD Sidoarjo


NIM : 200714901293 Tgl. Praktik : 12 Oktober 2020

A. Identitas Klien
Nama : Ny. K. . . No. RM :Dn 05872**...........
Usia : 42. . tahun Tgl. Masuk :10 Oktober 2020...
Jenis kelamin : Laki-laki........................ Tgl. Pengkajian :12 Oktober 2020...
Alamat :Jalan Candi Badut ......... Sumber informasi : Pasien.................
No. telepon :08962989768................. Nama klg. dekat yg bisa dihubungi:........
Status pernikahan :Menikah.......................... Tn. L......................
Agama :Islam................................ Status... : Suami..................
Suku :Jawa................................ Alamat.. :Jalan Candi badut
Pendidikan :D3.................................... No. telepon :02587875864.......
Pekerjaan :Wiraswasta...................... Pendidikan :S1.........................
Lama berkerja :< 2 tahun.......................... Pekerjaan :Guru.....................
B. Status kesehatan Saat Ini
1. Keluhan utama : klien mengeluh nyeri pada perut/ ulu hati, nyeri seperti
ditusuk-tusuk, tenggorokan seperti terbakar, mual dan
tidak nafsu makan..............................................................
2. Lama keluhan : nyeri mulai tanggal 10 Oktober............................................
3. Kualitas keluhan : Klien melakukan aktifitas di tempat tidur karena kaki
mengalami luka akibat kecelakaan
4. Faktor pencetus : Klien mengeluh nyeri saat digerakkan.................................
5. Faktor pemberat : Klien mengeluh nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri
berlangsung terus-menerus, dan kurang saat tidak bergerak......................................
6. Upaya yg. telah dilakukan : klien melakukan tirah baring.............................................
7. Diagnosa medis :
a. Dyspepsia................................................ Tanggal.....................................
b. ................................................................ Tanggal.....................................
c. ................................................................ Tanggal.....................................
C. Riwayat Kesehatan Saat Ini
Pada tanggal 10 september 2020 pukul 13.00 WIB klien datang ke IGD RSUD dengan
keluhan nyeri pada ulu hati, klien mengatakan perut perih seperti ditusuk-tusuk,
tenggorokan seperti terbakar, mual dan tidak nafsu makan. Klien dipindahkan diruang
rawat inap dengan diagnosa medis dyspepsia.................................................................

D. Riwayat Kesehatan Terdahulu


1. Penyakit yg pernah dialami:
a. Kecelakaan (jenis & waktu) : Klien tidak perna mengalami kecelakaan....
b. Operasi (jenis & waktu) : Klien tidak perna melakukan operasi...........
c. Penyakit:
 Kronis : Klien menderita memiliki penyakit hipertensi sejak 3
tahun yang lalu................................................................
 Akut : Tidak Ada Riwayat Penyakit Akut yang dimiliki klien.........

d. Terakhir masuki RS :.....................................................................


2. Alergi (obat, makanan, plester, dll):
Tipe Reaksi Tindakan
Klien tidak alergi obat atau Klien tidak alergi obat atau.... Klien tidak alergi
makanan...................... makanan............................... obat atau makanan....
3. Imunisasi:
( ) BCG ( ) Hepatitis
( ) Polio ( ) Campak
( ) DPT (√) tidak terkaji
4. Kebiasaan:
Jenis Frekuensi Jumlah Lamanya
Merokok setelah makan........... 3 batang/hari................... 1 jam...............................
Kopi Tidak Pernah............. Tidak Pernah................... Tidak Pernah...................
Alkohol Tidak Pernah............. Tidak Pernah................... Tidak Pernah...................
5. Obat-obatan yg digunakan:
Jenis: Diuretika Tiaszida Lamanya: 3 Tahun Dosis: 1x1 hari
Klien mengatakan tidak mengkonsumsi obat-obat atau jamu tradisional yang dibeli di
warung sejak 10 tahun terakhir ini dan hanya mengkonsumsi obat hipertensi.
E. Riwayat Keluarga
Keluarga mengatakan tidak ada penyakit keturunan seperti hipertensi, diabetes, atau
asma................................................................................................................................
GENOGRAM
X X X X
Ket:

Laki-laki =
Perempuan =
Klien =
Meninggal = X
Garis Keturunan =
Garis Serumah= - - - - -
Garis Perkawinan =

F. Riwayat Lingkungan
Jenis Rumah Pekerjaan
 Kebersihan Bersih, disapu dan dipel 1x/hari Tidak Bekerja
 Bahaya Baik Tiak Bekerja
kecelakaan Baik
 Polusi Baik Tidak Bekerja
 Ventilasi Baik Tidak Bekerja
 Pencahayaan Baik Tidak Bekerja
G. Pola Aktifitas-Latihan
Rumah Rumah Sakit
 Makan/minum Tidak Ada Masalah (0)........... Ada Masalah (3)..........
 Mandi Tidak Ada Masalah (0)........... Ada Masalah (2)..........
 Berpakaian/berdandan Tidak Ada Masalah (0)........... Tidak Ada Masalah (0)
 Toileting Tidak Ada Masalah (0)........... Ada Masalah (2)..........
 Mobilitas di tempat tidur Tidak Ada Masalah (0)........... Tidak Ada Masalah (0)
 Berpindah Tidak Ada Masalah (0)........... Tidak Ada Masalah (0)
 Berjalan Tidak Ada Masalah (0)........... Ada Masalah (2)..........
 Naik tangga Tidak Ada Masalah (0)........... Ada Masalah (2)..........
Pemberian Skor: 0 = mandiri, 1 = alat bantu, 2 = dibantu orang lain, 3 = dibantu orang lain, 4 = tidak
mampu
H. Pola Nutrisi Metabolik
Rumah Rumah Sakit
 Jenis diit/makanan Diet garam Diet garama
 Frekuensi/pola 3x/hari 3x/hari
 Porsi yang dihabiskan 1 porsi ¼ porsi
 Komposisi menu Nasi ayam, lauk, sayur Bubur, sayur, buah
 Pantangan Tidak ada Tidak ada
 Napsu makan Baik Baik
 Fluktiuasi BB 6bln terakhir 52 kg 51 kg
 Jenis minuman Air putih, teh Air putih, teh
 Frekuensi/pola Sampai habis Sampai habis
 Gelas yang dihabiskan 5 gelas/hari 2-3 gelas/hari
 Sukar menelan Tidak ada ada
 Pemakaian gigi palsu Tidak ada Tidak ada
 Rwt peyembuhan luka Tidak ada Tidak ada

I. Pola Eliminasi
Rumah Rumah Sakit
 BAB:
- Frekuensi/pola 2x sehari..................................... 1x sehari...............
- Konsistensi cair.............................................. padat......................
- Warna & bau khas............................................ khas.......................
- Kesulitan Tidak Ada................................... Tidak Ada...............
- Upaya mengatasi Tidak Ada.................................... Tidak Ada...............
 BAK:
- Frekuensi/pola >5x sehari................................... < 3x sehari.............
- Konsistensi cair.............................................. cair........................
- Warna & bau khas............................................ khas.......................
- Kesulitan Tidak ada.................................... Tidak ada...............
- Upaya mengatasi Tidak Ada.................................... Tidak Ada...............
J. Pola Tidur-Istirahat
Rumah Rumah Sakit
 Tidur siang:Lamanya 2 jam 30 menit....................... 1 jam........................
- Jam …s/d… jam 12.30 s/d 15.00.............. jam 13.30 s/d 14.30
- Kenyamanan stlh. tidur badan terasa segar............... badan terasa lelah. .
 Tidur malam: Lamanya 7 jam .................................... 2 jam 30 menit.........
- Jam …s/d… jam 22.00 s/d 05.00.............. jam 23.00 s/d 01.30
- Kenyamanan stlh. tidur Nyaman................................ Kurang Nyaman.....
- Kebiasaan sblm. tidur Tidak Ada............................. Tidak Ada...............
- Kesulitan Tidak Ada............................. Tidak Ada...............
- Upaya mengatasi Tidak Ada............................. Tidak Ada...............
K. Pola Kebersihan Diri
Rumah Rumah Sakit
 Mandi/frekuensi 2x/hari 1x/hari
 Penggunaan sabun Menggunakan sabun Menggunakan air hangat
 Keramas/frekuensi 2x/minggu Tidak bisa dilakukan dikarenakan
kaki klien terluka
 Penggunaan shampoo Menggunakan shampoo menggunakan shampoo
 Gosok gigi/frekuensi 2x/hari 2x/hari
 Penggunaan odol Menggunakan odol menggunakan odol
 Ganti baju/frekuensi 2x/hari 1x/hari
 Memotong kuku/frekuensi 1x/minggu Belum potong kuku selama di RS
 Kesulitan Mandiri Dibantu oleh keluarga
 Upaya yang dilakukan Mandiri Dibantu oleh keluarga

L. Pola Toleransi-Koping Stres


1. Pengambilan keputusan: (√) sendiri ( ) dibantu orang lain, sebutkan,................
2. Masalah utama terkait dengan perawatan di RS atau penyakit (biaya, perawatan diri,
dll):
Tidak ada masalah yang muncul
3. Yang biasa dilakukan apabila stress/mengalami masalah: Duduk dengan pasangan
dan dibicarakan berdua................................................................................................
4. Harapan setelah menjalani perawatan: bisa kembali pulih dengan cepat....................
5. Perubahan yang dirasa setelah sakit:tidak terkaji........................................................
M. Konsep Diri
1. Gambaran diri: klien menerima penyakitnya dengan ikhlas dan menggapnya
sebagai cobaan dari Allah SWT..................................................................................
2. Ideal diri: Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang agar bisa berkumpul
dengan keluarga..........................................................................................................
3. Harga diri: Klien mengatakan memerlukan bantuan tim tenaga medis agar bisa
cepat pulih dari penyakitnya........................................................................................
4. Peran: Klien dirumahnya berperan sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya...............
5. Identitas diri: klien adalah seorang ibu dengan 3 orang anak dan seorang istri dari
seorang suami.............................................................................................................
N. Pola Peran & Hubungan
1. Peran dalam keluarga pasien menjadi istri, dan ibu....................................................
2. Sistem pendukung:suami/istri/anak/tetangga/teman/saudara/tidak ada/lain-lain,
sebutkan: Anak............................................................................................................

3. Kesulitan dalam keluarga: ( ) Hub. dengan orang tua ( ) Hub.dengan


pasangan
( ) Hub. dengan sanak saudara ( ) Hub.dengan
anak
(√ ) Lain-lain sebutkan,Tidak ada masalah
4. Masalah tentang peran/hubungan dengan keluarga selama perawatan di RS: suami
menggantikan peran ibu yang dibantu juga oleh anak-anaknya..................................
5. Upaya yg dilakukan untuk mengatasi: Komunikasi dengan lancar dan terjalin dari 2
arah.............................................................................................................................
O. Pola Komunikasi
1. Bicara: (√) Normal ( )Bahasa utama:Indonesia......................
( ) Tidak jelas ( ) Bahasa daerah: Jawa....
( ) Bicara berputar-putar ( ) Rentang perhatian:........
(√) Mampu mengerti pembicaraan orang lain( ) Afek: Baik......................
2. Tempat tinggal:
(√) Sendiri
( ) Kos/asrama
( ) Bersama orang lain, yaitu:....................................................................................
3. Kehidupan keluarga
a. Adat istiadat yg dianut:Jawa...................................................................................
b. Pantangan & agama yg dianut: Tidak ada..............................................................
c. Penghasilan keluarga: ( ) < Rp. 250.000 ( ) Rp. 1 juta – 1.5
juta
( ) Rp. 250.000 – 500.000 ( ) Rp. 1.5 juta – 2
juta
( ) Rp. 500.000 – 1 juta (√) > 2 juta

P. Pola Seksualitas
1. Masalah dalam hubungan seksual selama sakit: (√) tidak ada ( ) ada
2. Upaya yang dilakukan pasangan:
(√) perhatian ( ) sentuhan ( ) lain-lain, seperti, .......................................
Q. Pola Nilai & Kepercayaan
1. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting untuk Anda, Ya/Tidak
2. Kegiatan agama/kepercayaan yg dilakukan dirumah (jenis & frekuensi):setiap hari
rabu pasien mengikuti kegiatan keagamaan disekitar rumah......................................
3. Kegiatan agama/kepercayaan tidak dapat dilakukan di RS: Tidak dapat mengikuti
kegiatan keagamaan...................................................................................................
4. Harapan klien terhadap perawat untuk melaksanakan ibadahnya:segera sembuh
agar bisa mengikuti kegiatan keagamaan disekitar rumah .........................................
R. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum: Baik..................................................................................................
 Kesadaran: Compos mentis......................................................................................
 Tanda-tanda vital: - Tekanan darah :150/100 mmH - Suhu :36,8 oC
- Nadi: 80… x/meni - RR :22 x/menit
 Tinggi badan: 152 cm.. Berat Badan: 51 kg
2. Kepala & Leher
a. Kepala:
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak
ada nyeri kepala, persebaran rambut merata dan semua berwarna hitam........................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
b. Mata:
Pupil mata kanan dan kiri berespon terhadap cahaya, konjungtiva tidak anemis....
c. Hidung:
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.......................................

d. Mulut & tenggorokan:


Tenggorokan terasa panas dan mukosa bibir kering.........................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................

e. Telinga:
Pendengaran normal, bentuk telinga normal..........................................................

f. Leher:
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
..........................................................................................................................................................
3. Thorak & Dada:
 Jantung
- Inspeksi: Tidak tampak iktus jantung..................................................................
- Palpasi: iktus tidak teraba...................................................................................
- Perkusi: Suara dullness......................................................................................
- Auskultasi: Suara S1 dan S2 normal, tunggal, regular lup dup, tak ada mur-
mur.....................................................................................................................
 Paru
- Inspeksi: Tidak menggunakan alat bantu pernafasan (otot-otot bantu
pernafasan tidak ada).........................................................................................
- Palpasi: Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama............................
- Perkusi: Suara ketok sonor, tak ada redup atau suara tambahan lainnya..........
- Auskultasi: Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.

4. Payudara & Ketiak


Tidak ada benjolan, simetris................................................................................

5. Punggung & Tulang Belakang


Tidak ada perubahan bentuk tulang belakang.....................................................

6. Abdomen
 Inspeksi: Terdapat penegangan, Tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak ada
retraksi dada Bentuk datar, simetris,.........................................................................
 Palpasi: Nyeri tekan, Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.. .
 Perkusi: Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.......................................
 Auskultasi: Peristaltik usus ± 33 kali/menit................................................................

7. Genetalia & Anus


 Inspeksi:Tidak ada masalah .....................................................................................
 Palpasi: Tidak ada masalah......................................................................................

8. Ekstermitas
 Atas: tidak ada masalah pada ekstermitas atas (5/5)................................................
 Bawah: ektermitas dekstra mengalami penurunan kekuatan otot (4/4).......................

9. Sistem Neorologi
Pada refeks fisiologis tidak ada kaku kuduk, pada ektermitas dekstra mengalami
penurunan kekuatan otot, ada pergerakan sendi tetapi pasien tidak mampu
melawan gravitasi ...................................................................................................

10. Kulit & Kuku


 Kulit dan kuku: Warna sawo matang, turgor kulit baik, CRT <3 detik.

S. Hasil Pemeriksaan Penunjang


Hasil Lab:
HB 13,4 gr/dl, Leukosit 44.500 /mm3, HCT 39 vol%, OT/PT 19/20 U/L, Ureum/ kreatinin
43 mg/dl, Kreatinin 0,90, DGS 120 mg/dl.

T. Terapi
Inf. RL 20 tmp, Ranitidin 2x1 mg, Ceptriaxone 2x1 mg, Ondansentron 3x1 mg,
keterolac 3x1 gr, Curcuma 3x1 tab .................................................................................

U. Persepsi Klien Terhadap Penyakitnya


Klien mengatakan semua yang terjadi kepadanya adalah kehendak Allah SWT dan
menerima semuanya dengan hati ikhlas dan sabar.........................................................

V. Kesimpulan
Klien didiagnosa dengan dyspepsia, dengan keluhan nyeri pada perut/ ulu seperti
ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 7, tenggorokan seperti terbakar, mual dan tidak nafsu
makan. Klien sudah dirawat inap selama 3 hari di RSUD Sidoarjo .................................

W.Perencanaan Pulang
 Tujuan pulang: jika kondisi klien telah pulih, klien akan pulang ke rumah di jalan
candi badut malang.....................................................................................................
 Transportasi pulang: Kendaraan pribadi......................................................................
 Dukungan keluarga: Seluruh anggota keluarga (suami dan anak)..............................
 Antisipasi bantuan biaya setelah pulang: Pasien menggunakan BPJS kelas 1...........
 Antisipasi masalah perawatan diri setalah pulang: Pembatasan aktivitas, asupan
cairan dan kebutuhan nutrisi........................................................................................
 Pengobatan: mengkonsumsi obat yang sudah diresepkan oleh tim medis..................
 Rawat jalan ke: Poli Penyakit dalam............................................................................
 Hal-hal yang perlu diperhatikan di rumah: Pembatasan aktivitas sehari-hari klien......
 Keterangan lain: Tidak ada..........................................................................................
ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah Keperawatan


DX
1 Data Subjektif: Nyeri Akut berhubungan
Stimulus Nyeri dengan Agen Pencedera
 Pasien mengatakan nyeri Fisiologis ditandai dengan
pada perut/ ulu hati pasien mengeluh nyeri.
 Pasien mengatakan nyeri
Kram abdomen,
nyeri mual,
perihmuntah
dan seperti di
tusuk- tusuk

Spasme Otot
Data Objektif:
 Pasien tampak meringis
Timbul nyeri
kesakitan
 Pasien tampak memegangi
area perut
Nyeri Akut
 Nyeri tekan abdomen
 Skala nyeri
P: nyeri timbul saat bergerak
Q: seperti ditusuk-tusuk
R: nyeri tidak menyebar
S: skala nyeri 7 dari 1-10
T: nyeri terus-menerus

2 Data Subjektif: Defisit Nutrisi berhubungan


dengan Ketidakmampuan
Nyeri
 Pasien akut
mengatakan mual Menelan Makanan ditandai
dan tidak nafsu makan dengan Nafsu Makan Menurun.

 Otot
Pasien mengatakan
pengunyah lemas
lemah

Data Objektif:
Nafsu makan menurun
 Keadaan umum: cukup
 Bising usus 33x
Defisit
 Nyeri telan Nutrisi
 Porsi makan menurun
3 Data Subjektif: Intoleransi Aktivitas
Nyeri akut
berhubungan dengan Tirah
 Pasien mengatakan lemas
Baring ditandai dengan Pasien
merasa lelah.
Data Objektif:
Lemas
 Kekuatan otot
5 5
Tirah Baring
4 4

4. Data Subjektif:
Nyeri akut Gangguan Pola Tidur
 Pasien mengatakan porsi berhubungan dengan kurang
tidurnya berkurang kontrol tidur ditandai dengan
Sering terjaga akibat 4-5 jam
nyeri
 Pasien mengatakan sering Nyeri.
terbangun akibat nyeri
Istirahat tidak cukup
Data Objektif:
- Gangguan Pola
Tidur
Diagnosa Keperawatan

No DX Diagnosa Keperawatan

Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisiologis ditandai dengan pasien
1
mengeluh nyeri
Defisit Nutrisi berhubungan dengan Ketidakmampuan Menelan Makanan ditandai dengan
2
Nafsu Makan Menurun
3 Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Tirah Baring ditandai dengan Pasien merasa lelah
4 Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kurang kontrol tidur ditandai dengan Nyeri.
Intervensi
No Diagnosa SLKI SIKI
1 Nyeri Akut SLKI : Tingkat Nyeri (L. 08066) SIKI: Manajemen Nyeri (I.
berhubungan Setelah diberikan tindakan
08238)
dengan Agen keperawatan selama 1x24 jam Observasi:
Pencedera fisiologis diharapkan rasa nyeri pasien
1. Identifikasi lokasi,
ditandai dengan berkurang/teratasi, dengan kriteria karakteristik, durasi,
pasien mengeluh hasil : frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri. No Indikator 1 2 3 4 5 nyeri
1 Keluhan √ √ √ √ 2. Identifikasi skala nyeri
Kategori: Psikologis Nyeri 3. Identifikasi respon nyeri
Subkategori: Nyeri 2 Meringis √ √ √ √ √ non verbal
dan Kenyamanan 3 Mual √ √ √ √ √ 4. Identifikasi faktor yang
D. 0077 4 Muntah √ √ √ √ √ memperberat dan
Keterangan penilaian : memperingan nyeri
1. Menurun 5. Identifikasi pengetahuan
2. Cukup Menurun dan keyakinan tentang nyeri
3. Sedang 6. Identifikasi pengaruh nyeri
4. Cukup Meningkat pada kualitas hidup
5. Meningkat 7. Monitor efek samping
penggunaan analgetik.
No Indikator 1 2 3 4 5 Terapeutik:
1 Tekanan √ √ √ √ √ 1. Berikan teknik
Darah nonfarmakologis untuk
2 Nafsu √ √ √ √ √ menurangi rasa nyeri
Makanan 2. Fasilitasi istirahat dan tidur
Keterangan penilaian :
3. Pertimbangkan jenis dan
1. Memburuk
sumber nyeri dalam pemilihan
2. Cukup Memburuk
strategi meredakan nyeri
3. Sedang
Edukasi:
4. Cukup Membaik
1. Jelaskan penyebab, periode,
5. Membaik
dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi
meredahkan nyeri
3. Anjurkan monitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
5. Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu

SIKI: Perawatan Kenyamanan


(I. 08238)
Observasi:
1. Identifikasi gejala yang
tidak menyenangkan (mis.
Mual, nyeri)
2. Identifikasi masalah
emosional dan spiritual
Terapeutik:
1. Berikan posisi nyaman
2. Berikan kompres dingin
atau hangat
3. Ciptakan lingkungan yang
nyaman
4. Diskusikan mengenai
situasi dan pilihan terapi/
pengobatan yang diinginkan
Edukasi:
1. Jelaskan mengenai kondisi
dan pilihan terapi/ pengoatan
2. Ajarkan terapi relaksasi
3. Ajarkan latihan pernafasan
4. Ajarkan teknik distraksi dan
imajinasi terbimbing
Kolaborasi:
Kolaborasi pemberian analgetik,
jika perlu
2 Defisit Nutrisi SLKI : Status Nutrisi (L. 03030) SIKI: Manajemen Nutrisi (I.
berhubungan Setelah diberikan tindakan 03119)
dengan keperawatan selama 1x24 jam Observasi:
Ketidakmampuan diharapkan asupan nutrisi pasien 1. Identifikasi status nutrisi.
Menelan Makanan berkurang/teratasi, dengan kriteria 2. Identifikasi kebutuhan
ditandai dengan hasil : kalori dan jenis nutrien
Nafsu Makan No Indikator 1 2 3 4 5 3. Identifikasi alergu dan
Menurun. 1 Frekuensi √ √ √ √ √ intoleransi makanan
makan 4. Monitor asupan makanan
Kategori: Fisiologis 2 Nafsu √ √ √ √ √ 5. Monitor hasil pemeriksaan
Subkategori: Nutrisi Makan laboratorium.
dan Cairan 3 Bising √ √ √ √ √ Terapeutik:
D. 0019 Usus 1. Lakukan oral hygiene
4 Membran √ √ √ √ √ sebelum makan, jika perlu
Mukosa 2. Berikan makanan tinggi serat
Keterangan penilaian : untuk mencegah konstipasi
1. Memburuk 3. Berikan makanan tinggi
2. Cukup Memburuk kalori dan tinggi protein.
3. Sedang Edukasi:
4. Cukup Membaik 1. Anjurkan posisi duduk, jika
5. Membaik mampu
Kolaborasi:
1 Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan (mis.
Pereda nyeri
2 Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrien yang
dibutuhkan, jika perlu
3 Intoleransi Aktivitas SLKI : Tingkat Keletihan (L. 05046) SIKI: Manajemen Energi (I.
berhubungan Setelah diberikan tindakan 05178)
dengan Tirah Baring keperawatan selama 2x24 jam Observasi:
ditandai dengan diharapkan masalah aktivitas pasien 1. Identifikasi gangguan fungsi
Pasien merasa lelah. dapat teratasi, dengan kriteria hasil: tubuh yang mengakibatkan
No Indikator 1 2 3 4 5 kelelahan
Kategori: Fisiologis 1 Lesu √ 2. Monitor kelelahan fisik dan
Subkategori: 2 Sakit √ emosional
Aktivitas/ Istirahat Tenggorokan 3. Monitor pola dan jam tidur
D. 0056 Keterangan penilaian : 4. Monitor lokasi dan
1. Meningkat ketidaknyamanan selama
2. Cukup Meningkat melakukan aktivitas
3. Sedang Terapeutik:
4. Cukup Menurun 1. Sediakan lingkungan nyaman
5. Menurun dan rendah stimulus
2. Lakukan latihan gerak
No Indikator 1 2 3 4 5 rentang pasif atau aktif
1 Selera √ √ √ √ √ 3. Fasilitasi duduk di sisi tempat
Makan tidur, jika tidak dapat
2 Pola √ √ √ √ √ berpindah atau berjalan.
Istirahat Edukasi:
Keterangan penilaian :
1. Anjurkan tirah baring
1. Memburuk
2. Anjurkan melakukan aktivitas
2. Cukup Memburuk
secara bertahap
3. Sedang
3. Anjurkan menghubungi
4. Cukup Membaik
perawat jika tanda dan gejala
5. Membaik
kelelahan tidak berkurang
4. Ajarkan strategi koping untuk
mengurangi stress
Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
asupan makanan.

SIKI: Terapi Aktivitas (I. 051786)


Observasi:
1. Identifikasi defisit tingkat
aktivitas
2. Identifikasi strategi
meningkat kan partisipasi
daam aktivitas
3. Identifikasi sumber daya
untuk aktivitas yang
diinginkan
Terapeutik:
1. Fasilitasi makna aktivitas
yang dipilih
2. Tingkatkan aktivitas fisik
untuk memelihara berat
badan, jika perlu
3. Libatkan keluarga dalam
aktivitas, jika perlu
4. Fasilitasi pengembangan
motivasi dan penguatan diri
5. Jadwalkan aktivitas dalam
rutinitas sehari-hari
Edukasi:
1. Jelaskan metode aktivitas
fisik sehari-hari, jika perlu
2. Ajarkan cara melakukan
aktivitas yang dipilih
3. Anjurkan melakukan fisik,
sosial, spiritual, dan kognitif
dalam menjaga fungsi dan
kesehatan
4. Gangguan Pola SLKI : Pola Tidur (L. 05045) SIKI: Dukungan Tidur (I. 05174)
Tidur berhubungan Setelah diberikan tindakan Observasi:
dengan kurang keperawatan selama 1x24 jam 1. Identifikasi Pola aktivitas
kontrol tidur ditandai diharapkan masalah pola tidur pasien dan tidur
dengan Nyeri. dapat teratasi, dengan kriteria hasil: 2. Identifikasi faktor
No Indikator 1 2 3 4 5 prngganggu tidur
Kategori: Fisiologis 1 Keluhan sulit √ √ √ √ √ 3. Identifikasi obat tidur yang
Subkategori: tidur dikonsumsi
Aktivitas/ Istirahat 2 Keluhan √ √ √ √ √ Terapeutik:
D. 0055 sering 1. Modifikasi lingkungan
terjaga 2. Batasi waktu tidur siang, jika
3 Keluhan √ √ √ √ √ perlu
istirahat tidak 3. Fasilitasi menghilangkan
cukup stres sebelum tidur
4. Lakukan prosedur untuk
Keterangan penilaian : meningkatkan kenyamanan
1. Menurun 5. Sesuaikan pemberian jadwal
2. Cukup Menurun obat
3. Sedang Edukasi:
4. Cukup Meningkat 1. Jelaskan pentingnya tidur
5. Meningkat cukup selama sakit
2. Ajarkan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur
3. Ajarkan relaksasi otot
autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya