Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI UMUM 1

REGULASI SUHU TUBUH DAN KADAR CO2 DAN O2 DALAM DARAH

OLEH :

KELOMPOK 2

Asa Bijak Iswara 20312241042

Isnania Agustianingrum 20312244001

Matsna Farha Fuadana 20312241049

Muhammad Farras Adhi Wicaksana 20312241048

Nabila Dwi Oktafiani 20312244006

PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2020
A. Judul
Regulasi suhu tubuh dan kadar CO2 dan O2 dalam darah

B. Tujuan
1. Memberikan contoh regulasi dalam tubuh manusia
2. Menjelaskan mekanisme termoregulasi manusia

C. Dasar Teori
1. Penjelasan homeostasis
Homeostasis adalah kemampuan tubuh untuk beradaptasi dan menjaga
keseimbangan kondisi cairan di dalam tubuh terhadap perubahan lingkungan
sekitar(Pahar, 2018). Sedangkan menurut Caon(2018), ​homeostasis is the
body’s automatic tendency to maintain a relatively constant internal
environment in terms of temperature, cardiac output, ion concentration,
concentration of wastes, etc.
2. Mekanisme homeostasis pada tubuh manusia
a. Suhu dingin
Bagi individu yang beristirahat tanpa baju suhu ruang ideal adalah
sekitar 28- 30°C. Dalam keadaan tersebut suhu kulit berkisar sekitar 33°C,
sedangkan suhu inti berkisar sekitar 37°C, dan gradien antara suhu inti dan
suhu kulit cukup adekuat untuk pengeluaran kelebihan panas metabolik dari
jaringan yang aktif. Bila suhu ruang turun maka gradien antara suhu kulit dan
suhu ruang meningkat, hal ini menyebabkan peningkatan pengeluaran panas
melalui konveksi dan radiasi sehingga suhu kulit menurun. Dengan demikian
darah vena yang kembali dari superfisial mempunyai suhu yang lebih rendah
dan sebagian panas dari darah arteri berpindah ke darah vena. Adanya sistem
counter-current antara arteri yang terletak lebih dalam dengan vena yang
terletak lebih superfisial mencegah pendinginan bagian inti tubuh. Di
samping itu terjadi vasokonstriksi terutama pada bagian akral, dan
konduktans suhu tubuh terhadap lingkungan menurun. Dengan vasokonstriksi
perifer kemampuan isolator kulit dan jaringan subkutan dapat meningkat
sampai enam kali. Vasokonstriksi ini terutama terjadi pada ujung jari tangan
dan kaki (Kukus,2009:113).
Mekanisme untuk mempertahankan keseimbangan suhu tubuh adalah
dengan meningkatkan laju metabolisme, yaitu dengan kontraksi otot (refleks
menggigil). Pada keadaan menggigil terjadi aktivasi sinkron hampir semua
kelompok otot bahkan otot antagonis saling berkontraksi sehingga efisiensi
mekanik nol dan energi panas yang dihasilkan relatif tinggi. Dengan
mekanisme ini laju metabolik dapat meningkat 2-4 kali dibandingkan dengan
laju metabolik istirahat. Sedangkan kegiatan otot dinamik biasa dapat
meningkatkan laju metabolik sebesar 10 kali lipat atau lebih
(Kukus,2009:113).
b. Suhu panas
Pada individu istirahat tanpa baju yang dipapar terhadap panas (suhu
ruang di atas 28°C), atau selama melakukan kerja otot, panas tubuh
cenderung meningkat. Terjadi vasodilatasi kulit, arus balik darah berlangsung
melalui vena superfisial dan konduktans jaringan meningkat. Dalam zona
nyaman arus darah kulit berkisar sekitar 5% dari volume semenit jantung.
Sedangkan dalam keadaan panas hebat dapat meningkat sampai 20% atau
lebih dan dapat meningkatkan suhu kulit. Bila suhu lingkungan sekitarnya
lebih rendah dari suhu kulit, maka pengeluaran panas melalui konveksi dan
radiasi akan meningkat. Bila beban panas cukup besar maka kelenjar keringat
akan diaktifkan dan keringat yang keluar dievaporasi sehingga suhu kulit
menurun (Kukus,2009:114).
Panas tubuh diperoleh dari lingkungan dan dihasilkan melalui
metabolisme, kelebihan muatan panas ini harus dikeluarkan untuk menjaga
suhu inti badan sekitar 37°C, sehingga proses ini disebut termoregulasi.
Respon termoregulasi refleks dan semi refleks yang diintegrasikan di dalam
otak tersebut mencakup perubahan otonom, endokrin dan perilaku. Suatu
peningkatan dalam suhu darah kurang dari 10°C mengaktivasi
reseptor-reseptor panas di hipotalamus dan perifer yang memberi sinyal pada
pusat termoregulator hipotalamus. Hipotalamus sendiri sering dipandang
sebagai penyeimbang dan pengontrol suhu tubuh, dan juga memprakarsai
terjadinya respon menggigil serta penyempitan maupun pelebaran pembuluh
darah (Kukus,2009:114).
Ahlman dan Karvonen (1961) melaporkan bahwa kerja fisik dapat
kembali menginduksi pengeluaran keringat, dan keringat akan terhenti selama
stimulasi termal yang berulang dalam proses mandi sauna, supresi keringat
ini berkaitan dengan kulit yang basah. Tindakan mengeringkan kulit dengan
handuk atau meningkatkan gerak udara sekitar akan meningkatkan laju
pengeluaran keringat. Keringat yang sudah terevaporasi akan meninggalkan
solut tetap melekat pada kulit dan meningkatkan tekanan osmotik kulit.
Keadaan ini tampaknya meningkatkan sekresi keringat, namun perlu diingat
bahwa keringat mengandung berbagai garam, dan pengeluaran keringat yang
berlebihan dapat menimbulkan kehilangan garam dalam jumlah yang cukup
besar (Kukus,2009:115).
3. Mekanisme respon tubuh
Respon tubuh terhadap perubahan suhu berupa respon saraf otonom
dan tingkah laku. Respon saraf otonom antara lain berkeringat, vasokonstriksi
dan menggigil. Gejala menggigil dapat terlihat berbeda derajat dan
intensitasnya, kontraksi halus dapat terlihat pada otot-otot wajah, khususnya
pada otot masseter dan meluas ke leher, badan, dan ekstremitas. Kontraksi itu
halus dan cepat, tetapi tidak akan berkembang menjadi kejang(Ganong, 2008).
Kombinasi antara gangguan termoregulasi yang diakibatkan oleh tindakan
anestesi dan paparan suhu lingkungan yang rendah akan mengakibatkan
hipotermia pada pasien yang mengalami pembedahan.

Menurut Dugdale (2008) Secara garis besar mekanisme penurunan


suhu tubuh selama anestesi terjadi melalui:
1) Kehilangan panas pada kulit oleh karena proses radiasi, konveksi,
konduksi, dan evaporasi yang lebih lanjut menyebabkan redistribusi panas inti
tubuh ke perifer.
2) Produksi panas tubuh menurun akibat penurunan laju metabolisme.
4. Faktor internal dan eksternal yg mempengaruhi homeostasis
Faktor internal yang mempengaruhi homeostasis, intrinsik atau internal
berarti “dalam” adalah kontrol yang menyatu atau inhern pada suatu organ.
Misalnya, otot yang aktif dengan cepat memerlukan O2 dan menghasilkan CO2,
serta energi untuk menunjang aktivitas kontraktilnya. Aktivitas otot tersebut
cenderung menurunkan konsentrasi O22 dan meningkatkan konsentrasi CO2 di
dalam otot. Keadaan tersebut akan mempengaruhi secara langsung pada otot polos
dinding pembuluh darah yang memasok O2 kepada otot.
Faktor eksternal yang mempengaruhi homeostasis, eksentrik atau eksternal
berarti “luar” adalah mekanisme regulasi yang berada di luar suatu organ yang
mengatur aktivitas organ tersebut. Kontrol eksternal berbagai organ dan sistem
dilaksanakan dengan baik oleh sistem saraf dan sistem endokrin, yaitu dua sistem
kontrol utama dalam tubuh. Kontrol eksternal memungkinkan regulasi yang
terkondisikan dari beberapa organ ke arah tujuan utama, tidak seperti kontrol
internal yang melayani sendiri satu organ dimana gangguan itu terjadi mekanisme
regulasi yang terkoordinasi adalah penting untuk memelihara keadaan konstan
yang dinamis dalam lingkungan internal sebagai keseluruhan (Basoeki.1999)
Faktor eksternal yang harus dijaga secara homeostatik adalah :
1. Kondisi Molekul makanan
2. Konsentrasi CO2 dan O2
3. pH
4. Konsentrasi garam dan elektrolit lainnya
5. Suhu
(Soewolo.2003)

5. Sistem regulasi tubuh dan contohnya


Semua kegiatan dan kerja alat-alat dalam tubuh kita diatur dalam
sistem regulasi (koordinasi). Regulasi merupakan cara semua organ dan sistem
tubuh bekerja sama secara efisien. Sistem ini terbagi atas tiga bagian, yaitu
melalui sistem saraf, hormon dan alat indera. Pengaturan sistem saraf diatur
oleh urat saraf sedangkan pengaturan sistem hormon melalui darah
(​Safitri,2004​).
a. Termoregulasi
Termoregulasi berasal dari kata “thermos” yang berarti panas dan
“regulation” yang berarti pengaturan. Termoregulasi merupakan usaha untuk
mempertahankan keseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas
sehingga suhu tubuh tetap konstan dan dalam batas normal (Yunanto, 2008
dan Vander, 2011 dalam Anita S., 2019:27).
Manusia merupakan makhluk homoiothermal yang berarti dapat
mengatur suhu tubuh sendiri untuk mencapai suatu ekuilibrium
(keseimbangan) sehingga suhu tubuh cenderung konstan yang tidak banyak
terpengaruh oleh suhu lingkungan. Enzim manusia bekerja efektif pada suhu
37 ºC. Pusat pengaturan suhu ada di otak bagian hipotalamus. Terdapat
beberapa efektor yang terlibat dimana antar mamalia bervariasi. Temperatur
diatur dengan beberapa mekanisme. Fluktuasi temperatur dideteksi oleh
reseptor yang disebut termoreseptor, contohnya adalah kulit. Jika kita terlalu
panas atau dingin baik karena pengaruh dari lingkungan luar atau dalam
tubuh kita, maka termoreseptor akan mengirimkan impuls saraf ke
hipotalamus. Selanjutnya Hypothalamus akan mengirimkan pesan respon ke
efektor seperti kulit untuk meningkatkan atau mengurangi hilangnya panas
dari permukaan dengan :

1) Peningkatan suhu tubuh direspon dengan berdirinya bulu rambut


(piloereksi) karena kontraksi otot-otot kulit sedangkan menurunnya suhu
tubuh direspon dengan penahanan panas tubuh dengan mendatarnya bulu
rambut karena relaksasi otot-otot kulit.
2) Kelenjar-kelenjar di bawah kulit akan mensekresi keringat ke permukaan
kulit untuk meningkatkan hilangnya panas dengan evaporasi jika suhu
tubuh meningkat. Sekresi keringat akan berhenti jika suhu tubuh sudah
kembali normal.
3) Pembuluh darah yang mengaliri kulit akan melebar untuk membawa
lebih banyak panas keluar tubuh (vasodilatasi) jika suhu tubuh
meningkat, dan pembuluh darah akan mengkerut (vasokonstriksi) untuk
meminimalkan hilangnya panas lewat kulit jika suhu tubuh sudah normal
kembali.
Jika terjadi penurunan suhu yang berkepanjangan, maka
hypothalamus akan meningkatkan sekresi hormon TRH untuk menstimulasi
pengeluaran TSH oleh hipofisis yang akan menstimulasi kenaikan sekresi
hormone tiroksin oleh kelenjar tiroid. Hormon ini akan memacu metabolisme
yang memiliki produk sampingan energi panas. Selain itu,mekanisme non
spesifik lain untuk mengatasi penurunan suhu tubuh adalah dengan kontraksi
otot-otot ekstremitas (menggigil) untuk memproduksi panas (​Safitri: 2004)​ .

b. Regulasi cairan Tubuh ( Osmoregulasi )


Osmoregulasi adalah suatu proses untuk mempertahankan
keseimbangan cairan, air, dan elektrolit dalam tubuh kita. Spesifik,
osmoregulasi adalah pengaturan konsentrasi cairan di pembuluh darah dan
secara efektif juga mengatur jumlah air yang tersedia untuk diserap sel tubuh.
Pengaturan homeostasis cairan tubuh dilakukan dengan mekanisme sebagai
berikut :

1) Perubahan konsentrasi cairan dideteksi oleh osmoreseptor sistem


sirkulasi ke hypothalamus untuk mengaktifkan umpan balik negatif.
2) Hypothalamus kemudian mengirimkan sinyal kimiawi ke kelenjar
hipofisis untuk mensekresi hormon ADH (Antidiuretic Hormone) yang
akan bekerja pada organ target ginjal dimana ginjal bertanggung jawab
untuk menstabilkan konsentrasi cairan tubuh (​Safitri : 2004​).
3) Ketika hormon ADH mencapai organ target, terjadi perubahan pada
ginjal yaitu menjadi kurang atau lebih bersifat permeabel terhadap air.

c. Pengaturan Kadar Glukosa Darah ( Glukoregulasi )


Ada 2 hormon yang berperan penting dalam pengaturan kadar glukosa
darah yaitu insulin yang dihasilkan oleh sel β islet langerhans pada pankreas
dan glukagon yang dihasilkan oleh sel α islet langerhans pada pankreas.
Insulin akan menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan memasukkannya
sel maupun merangsang hati untuk menyimpan kelebihannya dalam bentuk
glikogen. Sedangkan glukagon akan menstimulasi hati untuk membongkar
glikogen jika tubuh mengalami kekurangan glukosa (Pertiwi, 2008).
6. Tingkatan aktivitas
Menurut Kasyunnil Kamal (2019:51) tingkat aktivitas yang dilakukan,
digolongkan dalam tiga tingkatan, yaitu kerja berat, kerja sedang dan kerja
ringan.

7. Sistem tubuh yang berkaitan dengan homeostasis


Homeostasis terdiri atas homeostasis fisiologi dan psikologi. Dalam
tubuh manusia, homeostasis fisiologi dapat dikendalikan oleh sistem endokrin
dan sistem saraf otonom (Musrifatul dan Aziz, 2008)

8. Penjelasan mengenai suhu tubuh, denyut nadi, dan frekuensi pernafasan


a. Suhu tubuh
Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi
oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan keluar. Suhu
permukaan berfluktuasi bergantung pada aliran darah ke kulit dan jumlah
panas yang hilang ke lingkungan luar. Karena fluktuasi suhu permukaan ini
suhu yang dapat diterima berkisar dari 36°C sampai 38°C. suhu normal
rata-rata bervariasi tergantung lokasi pengukuran. Keseimbangan suhu tubuh
diregulasi oleh mekanisme fisiologis dan perilaku. Agar suhu tubuh tetap
konstan dan berada pada batasan normal, hubungan antara produksi panas
dan pengeluaran panas harus dipertahankan (Agus,2018:1).
b. Denyut nadi
Denyut nadi adalah suatu gelombang yang teraba pada arteri bila
darah dipompa keluar jantung. Denyut ini mudah diraba di suatu tempat
dimana ada arteri melintas. Darah yang didorong ke arah aorta sistol tidak
hanya bergerak maju dalam pembuluh darah, tapi juga menimbulkan
gelombang bertekanan yang berjalan sepanjang arteri. Gelombang yang
bertekanan meregang di dinding arteri sepanjang perjalanannya dan regangan
itu dapat diraba sebagai denyut nadi. Denyut yang teraba bukan darah yang
dipompa oleh jantung masuk ke aorta melainkan gelombang tekanan yang
dialihkan dari aorta yang merambat lebih cepat daripada darah itu sendiri
(Kasenda dkk, 2014:1).
Pada jantung manusia normal, tiap-tiap denyut berasal dari nodus SA
(irama sinus normal). Semakin besar metabolisme dalam suatu organ, maka
makin besar aliran darahnya. Hal ini menyebabkan kompensasi jantung
dengan mempercepat denyutnya dan memperbesar banyaknya aliran darah
yang dipompakan dari jantung ke seluruh tubuh (Kasenda dkk, 2014:2).
c. Frekuensi pernapasan
Jumlah udara yang keluar masuk ke paru-paru setiap kali bernapas
disebut sebagai frekuensi pernapasan. Pada umumnya,frekuensi pernapasan
manusia setiap menitnya sebanyak 15-18 kali (Fernandez,2017:21).
Kecepatan pernapasan (frekuensi pernapasan) dipengaruhi oleh jenis kelamin,
umur, suhu tubuh, posisi tubuh maupun kegiatan. Frekuensi pernapasan pada
orang dewasa normal dan sehat berkisar antara 15 - 20 per menit. Pada kaum
pria, frekuensi pernapasan ini lebih kecil daripada frekuensi pernapasan pada
wanita. Jadi, pernapasan wanita lebih cepat daripada pernapasan laki-laki.
Semakin tua umur seseorang, frekuensi pernapasan semakin berkurang atau
semakin lambat. Semakin tinggi tubuh semakin meningkat frekuensi
pernapasan. Frekuensi pernapasan orang yang berbaring lebih rendah
daripada orang yang duduk atau berdiri. Demikian pula orang yang tidak
melakukan kegiatan (sedang beristirahat) frekuensi pernapasannya lebih
rendah daripada orang yang bekerja keras. Kekurangan O2 menyebabkan
kecepatan pernapasan bertambah, sedangkan bila konsentrasi CO2 bertambah
kecepatan pernapasan bertambah pula (Prasetyo,2003:6-7).
Gerakan pernapasan diatur oleh sistem saraf pusat pada medulla
oblongata (sumsum penyambung) yang terdiri dari pusat inspirasi dan pusat
ekspirasi. Kedua pusat ini bekerja bergantian sehingga terjadi ritme
pernapasan. Saraf pusat juga dapat mempengaruhi dalamnya pernapasan,
meskipun terbatas. Misalnya bila kita menahan atau berhenti bernapas sampai
batas waktu tertentu. dari frekuensi pengeluaran impuls dari paru jantung
(Prasetyo,2003:6-7).

9. Frekuensi pernapasan dan faktor yang mempengaruhi suhu tubuh


Frekuensi Frekuensi Pernafasan, perbedaan frekuensi atau irama dapat
dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan berat tubuh. Irama atau frekuensi
dasar respirasi ditentukan oleh sistem saraf . Ukuran rongga dada dipengaruhi
oleh kegiatan otot pernafasan. Otot-otot ini berkontraksi dan relaksasi sebagai
respon impuls saraf yang di transmisi kepadanya dari pusat otak
(Soewolo,2003).
Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh, suhu tubuh yang tinggi
meningkatkan frekuensi respirasi. Semakin tinggi suhu tubuh (demam) maka
frekuensi akan semakin cepat. Di lingkungan yang panas tubuh mengalami
peningkatan metabolisme untuk mempertahankan suhu agar tetap stabil. Untuk
itu tubuh harus lebih banyak mengeluarkan keringat agar menurunkan suhu
tubuh. Aktivitas ini membutuhkan energi yang dihasilkan dari peristiwa
oksidasi dengan menggunakan oksigen sehingga akan dibutuhkan oksigen
yang lebih banyak untuk meningkatkan frekuensi (Alvyanto.2009)

10. Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut nadi


Banyak hal yang mempengaruhi frekuensi denyut nadi di antaranya
adalah jenis kelamin, umur, posisi tubuh, dan aktivitas fisik. Frekuensi denyut
nadi istirahat anak laki-laki lebih rendah daripada anak perempuan seusianya.
Pada umur 2-7 tahun anak laki-laki memiliki rata-rata denyut nadi istirahat
sebesar 97 denyut per menit, sedangkan anak perempuan memiliki rata-rata 98
denyut per menit (McArdle et al., dalam Sandi, I.N., 2016:2).
Anak laki-laki pada umur 8-14 tahun, mempunyai rata-rata frekuensi
denyut nadi istirahat 76 denyut per menit sedangkan anak perempuan sebanyak
94 denyut permenit. Rerata denyut nadi istirahat anak laki-laki pada umur
21-28 tahun adalah 73 denyut per menit sedangkan anak perempuan sebesar 80
denyut per menit. Orang laki-laki pada usia tua yaitu 70-77 tahun, mempunyai
rata-rata frekuensi denyut nadi istirahat 67 denyut per menit sedangkan
perempuan 81 denyut per menit (McArdle et al., dalam Sandi, I.N., 2016:2).
Pengaruh umur terhadap frekuensi denyut nadi istirahat dapat dilihat
dari denyut nadi istirahat pada bayi baru lahir yang berkisar sebesar 140 denyut
permenit, pada tahun pertama sebesar 120 denyut permenit, setelah tahun
kedua sebanyak 110 denyut permenit, pada umur lima tahun denyut nadi
sebanyak 96-100 denyut permenit, pada umur 10 tahun denyut nadi sebanyak
80-90 denyut per menit, sedangkan orang dewasa memiliki denyut nadi
istirahat sebanyak 60-80 denyut per menit ( Pearce, EC., 2012).
Frekuensi denyut nadi anak-anak lebih tinggi dibandingkan dengan
orang dewasa, baik denyut nadi istirahat, denyut nadi latihan atau kerja
maupun denyut nadi maksimal. Di samping itu, kemampuan adaptasi terhadap
penyesuaian peredaran darah perifer saat olahraga lebih baik. Perbedaan ini
menyebabkan kandungan O2 dalam darah arteri dan vena meningkat. Hal ini
menunjukkan bahwa ekstraksi dari O2 di dalam jaringan tubuh pada anak-anak
lebih efisien dibandingkan dengan orang dewasa (McArdle et al., dalam Sandi,
I.N., 2016:3).
Frekuensi denyut nadi pada posisi tidur berbeda dibandingkan dengan
posisi duduk dan berbeda pula dengan posisi berdiri. Hasil penelitian yang
telah dilakukan, terjadi penurunan frekuensi denyut nadi dari posisi berdiri ke
posisi duduk sebesar 8,7 denyut permenit dan terjadi peningkatan dari posisi
duduk ke posisi berdiri sebesar 12,0 denyut permenit 13 (Anderson, R., et al.,
2016).
Dinyatakan bahwa, ketika terdapat beberapa gerakan pada saat berdiri
atau saat duduk, akan meningkatkan denyut nadi sebanyak 5-10 denyut
permenit. Perubahan dari duduk ke berdiri atau sebaliknya dari berdiri ke
duduk disebabkan karena aktivitas dari reflek sinus karotis (McWilliam, JA.
dalam Sandi, I.N., 2016:3).

11. Faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi pernapasan


Menurut Irnaningtyas dalam Anggraini, P.D., (2017:26-27) faktor yang
mempengaruhi frekuensi pernapasan pada manusia yaitu :
a. Jenis kelamin
Kecepatan pernapasan pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki, hal
ini disebabkan paru-paru pada laki-laki dewasa sehat rata-rata mampu
menampung udara sekitar 5, 7 liter, sedangkan pada wanita hanya sekitar 4, 7
liter.
b. Umur
Bayi dan balita memiliki frekuensi bernapas lebih banyak dibanding
orang dewasa. Hal itu disebabkan volume paru paru yang relatif kecil dan
sel-sel tubuh sedang berkembang sehingga membutuhkan banyak oksigen.
Orang tua juga memiliki frekuensi napas lebih banyak karena kontraksi
otot-otot dada dan diafragma tidak sebaik saat masih muda,
sehingga udara pernapasan lebih sedikit
c. Suhu Tubuh
Semakin tinggi suhu tubuh, semakin cepat frekuensi pernapasannya.
Hal ini berhubungan erat dengan peningkatan proses metabolisme tubuh.
d. Posisi dan Aktivitas Tubuh
Frekuensi pernapasan pada saat posisi tubuh berdiri lebih banyak atau
lebih tinggi dibandingkan posisi tubuh duduk. Posisi tubuh berdiri
menyebabkan otot-otot kaki kontraksi untuk menjaga tubuh agar tetap tegak,
sehingga diperlukan oksigen yang berpengaruh pada peningkatan frekuensi
pernapasan.
e. Emosi, Rasa Sakit Ketakutan
Hal ini menyebabkan impuls yang merangsang pusat pernapasan,
sehingga penghirupan udara semakin kuat.
f. Ketinggian Tempat
Tempat yang tinggi memiliki kadar oksigen yang rendah, sehingga
jumlah oksigen yang dihirup lebih sedikit.

12. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh


Banyak faktor yang mempengaruhi suhu tubuh, diantaranya:
a. Usia. Pengaturan suhu tubuh tidak stabil sampai pubertas, lansia sangat
sensitif terhadap suhu yang ekstrim.
b. Olahraga. Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan
pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan
metabolisme dan produksi panas.
c. Kadar hormon. Wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar dari
pria.
d. Irama sirkadian. Suhu tubuh secara normal berubah secara normal 0,5°
sampai 1° selama 24 jam, titik terendah pada pukul 1-4 dini hari.
e. Lingkungan. Bila suhu dikaji dalam ruangan yang sangat hangat, suhu tubuh
akan naik. Bila klien berada di luar lingkungan tanpa baju hangat, suhu tubuh
mungkin rendah. Bayi dan lansia paling sering dipengaruhi oleh suhu
lingkungan karena mekanisme suhu mereka kurang efisien.
f. Stres. Stres fisik dan emosional meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi
hormonal dan persarafan (Sulistiyono,2018:2).
D. Metode Praktikum
1. Tempat dan Waktu Praktikum
a. Tempat : Rumah praktikan
b. Waktu : Selasa, 17 November 2020
2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Thermometer
2) Stopwatch
b. Bahan
4 Naracoba putra dan putri
3. Prosedur
E. Data Hasil
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3
F. Pembahasan
Pada praktikum yang berjudul Regulasi Tubuh dan Kadar CO2 dan O2
dalam darah kali ini bertujuan untuk memberikan contoh regulasi dalam tubuh
manusia dan menjelaskan mekanisme termoregulasi manusia. Adapun
langkah-langkah yang dilakukan yaitu, menentukan 2 orang naracoba (1 orang
putra dan 1 orang putri). Kemudian mengukur suhu tubuh awal naracoba
(sebelum melakukan aktivitas). Selanjutnya mengukur frekuensi nadinya setiap
menit sebagai frekuensi nadi awal. Mengukur frekuensi respirasinya (inspirasi
atau ekspirasinya) per menit. Kemudian mengamati ada tidaknya keringat pada
naracoba (nyatakan dengan sedikit, banyak, atau tidak ada). Selanjutnya
meminta naracoba untuk melakukan aktivitas ringan (misalnya jalan ditempat)
selama 5 menit. Kemudian mengukur suhu, frekuensi nadi, dan frekuensi
respirasi serta banyaknya keringat. Berikutnya mengulangi langkah keenam
tetapi dengan aktivitas yang lebih berat yaitu lari.. Kemudian meminta dua
data dari kelompok lain dengan aktivitas berat yang sama dan aktivitas berat
yang berbeda dan membuat tabulasi data juga mengorganisasikan data
sehingga tampak perbandingan antara data dari putri dan putra. Mendiskusikan
dengan teman menggunakan referensi untuk menjelaskan fenomena tersebut.
Pada tabel pertama dengan 4 naracoba lelaki, yaitu Novel, Aksa,
Andhika, dan Surya serta 4 naracoba perempuan, yaitu Nina, Hesti, Nandariza,
dan Nada. Aktivitas ringan yang dilakukan adalah jalan ditempat. Sementara
itu, aktivitas berat yang dilakukan adalah lari selama 5 menit. Pada aktivitas
jalan ditempat selama lima menit.
Sebelum melakukan aktivitas jalan di tempat suhu kedelapan naracoba
berkisar antara 35°C hingga 36 °C . Frekuensi denyut nadi tercepat yaitu pada
naracoba Surya sebesar 84/menit dan frekunsi denyut nadi terlambat yaitu pada
naracoba Hesti yaitu 54/menit. Frekunsi napas pada delapan naracoba
berbeda-beda berkisar antara 13/menit hingga 32/menit. Frekuensi napas
terlambat yaitu pada naracoba Novel yaitu 13/menit sedangkan frekuensi napas
tercepat pada naracoba Nina 32/menit. Jumlah keringat pada saat sebelum
dilakukan aktivitas jalan di tempat hanya ditemukan sedikit pada semua
naracoba.
Setelah dilakukan aktivitas jalan di tempat selama 5 menit terjadi
perubahan pada indikator suhu, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernapasan,
dan jumlah keringat kedelapan naracoba. Peningkatan suhu yang signifikan
terjadi para setiap naracoba berkisar antara 36°C hingga 37°C. Grafik
perubahan frekuensi denyut nadi sebelum dan sesudah dilakukan aktivitas
jalan di tempat dapat dilihat sebagai berikut.
1. Novel 5. Nina
2. Aksa 6. Hesti
3. Andhika 7. Nandariza
4. Surya 8. Nada

Pada indikator yang kedua yaitu frekuensi denyut nadi naracoba yang
mengalami perubahan pada setiap naracoba. Frekuensi denyut nadi antara
70/menit hingga 100/menit . Grafik perubahan frekuensi denyut nadi sebelum
dan sesudah dilakukan aktivitas jalan di tempat dapat dilihat sebagai berikut.
1. Novel 5. Nina
2. Aksa 6. Hesti
3. Andhika 7. Nandariza
4. Surya 8. Nada

Pada indikator yang ketiga yaitu frekuensi pernafasan naracoba yang


mengalami perubahan pada setiap naracoba. Frekuensi pernafasan 15/menit
hingga 35/menit. Grafik perubahan frekuensi pernafasan sebelum dan sesudah
dilakukan aktivitas jalan di tempat dapat dilihat sebagai berikut.

1. Novel 5. Nina
2. Aksa 6. Hesti
3. Andhika 7. Nandariza
4. Surya 8. Nada

Jumlah keringat setelah aktivitas jalan di tempat selama lima menit


juga mengalami peningkatan. Namun ada bebrapa naracoba yang tidak terjadi
bertambahnya keringat yaitu Novel, Aska ,Andhika, Hesti dan Nada.
Sementara peningkatan jumlah keringat dari semula terdapat sedikit keringat
menjadi terdapat keringat berjumlah sedang terjadi pada naracoba Surya, Nina
dan Nandariza.
Sementara itu, pada saat sebelum melakukan aktivitas berat suhu
kedelapan naracoba berkisar antara 35°C hingga 36°C. Frekuensi denyut nadi
tercepat yaitu pada naracoba Surya sebesar 107/menit dan frekuensi denyut
nadi terlambat yaitu pada naracoba Hesti sebesar 53/menit. Sesuai dengan
literatur yang dikemukakan oleh ( Pearce, EC., 2012) bahwa orang dewasa
memiliki denyut nadi istirahat sebanyak 60-80 denyut per menit, maka
naracoba yang memiliki frekuensi denyut nadi tidak normal adalah Novel,
Aksa, Surya, Nina, dan Hesti.
Frekuensi napas pada delapan naracoba berbeda-beda berkisar antara
13/menit hingga 39/menit. Sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh
(Prasetyo,2003:6-7) bahwa frekuensi pernapasan pada orang dewasa normal
dan sehat berkisar antara 15 - 20 per menit, maka naracoba yang memiliki
frekuensi pernapasan normal hanya Hesti yaitu sebesar 19/menit. Jumlah
keringat pada saat sebelum dilakukan aktivitas lari hanya ditemukan sedikit
pada naracoba Surya, Nandariza, dan Nina.
Setelah dilakukan aktivitas berat yaitu lari selama 5 menit terjadi
perubahan pada indikator suhu, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernapasan,
dan jumlah keringat kedelapan naracoba. Peningkatan suhu yang signifikan
terjadi para naracoba Andhika yaitu sebesar 1,5°C yang semula memiliki suhu
35,5°C berubah menjadi 37°C. Grafik perubahan suhu sebelum dan sesudah
dilakukan aktivitas lari dapat dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
5. Novel 5. Nina
6. Aksa 6. Hesti
7. Andhika 7. Nandariza
8. Surya 8. Nada
Pada indikator yang kedua yaitu frekuensi denyut nadi naracoba yang
mengalami perubahan signifikan adalah naracoba Novel yaitu sebesar 31/menit
yang semula memiliki frekuensi denyut nadi sebesar 85/menit menjadi
116/menit. Grafik perubahan frekuensi denyut nadi sebelum dan sesudah
melakukan aktivitas lari dapat dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
1. Novel 5. Nina
2. Aksa 6. Hesti
3. Andhika 7. Nandariza
4. Surya 8. Nada
Naracoba yang mengalami perubahan signifikan pada frekuensi
pernapasan adalah naracoba Nina yaitu sebesar 36/menit yang semula
memiliki frekuensi pernapasan sebesar 32/menit menjadi 68/menit. Grafik
perubahan frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah dilakukan aktivitas lari
dapat dilihat sebagai berikut.
Keterangan :
1. Novel 5. Nina
2. Aksa 6. Hesti
3. Andhika 7. Nandariza
4. Surya 8. Nada

Jumlah keringat setelah aktivitas lari selama lima menit juga


mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah keringat dari semula tidak ada
keringat menjadi terdapat sedikit keringat terjadi pada naracoba novel, aksa.
Andhika, Hesti, dan Nada. Sementara peningkatan jumlah keringat dari semula
terdapat sedikit keringat menjadi terdapat keringat berjumlah sedang terjadi
pada naracoba Surya, Nina, dan Nandariza.

Berdasarkan hasil tersebut, hal tersebut sesuai dengan literatur diatas


bahwa tubuh melakukan termoregulasi yang merupakan usaha untuk
mempertahankan keseimbangan antara produksi panas dan pengeluaran panas
sehingga suhu tubuh tetap konstan dan dalam batas normal (Yunanto, 2008 dan
Vander, 2011 dalam Anita S., 2019:27). Selain itu literatur yang dikemukakan
oleh (McArdle et al., dalam Sandi, I.N., 2016:2) bahwa banyak hal yang
mempengaruhi frekuensi denyut nadi di antaranya adalah jenis kelamin, umur,
posisi tubuh, dan aktivitas fisik.
Hal tersebut juga sesuai dengan literatur yang dikemukakan oleh
(Alvyanto,2008) bahwa suhu tubuh yang tinggi meningkatkan frekuensi
respirasi. Untuk itu tubuh harus lebih banyak mengeluarkan keringat agar
menurunkan suhu tubuh.

Pada tabel kedua dengan 4 naracoba perempuan yaitu Zahra, Izah,


Aprilya, dan Dea serta 4 naracoba laki-laki yaitu Yusuf, Ayyasy, Bayu dan
Anang. Kedelapan naracoba tersebut melakukan aktivitas ringan yaitu jalan
ditempat selama 5 menit. Sementara itu, aktivitas berat yang dilakukan adalah
lari selama 5 menit. Pada aktivitas jalan ditempat selama lima menit, suhu awal
kedelapan naracoba berkisar 35°C hingga 36°C. Sedangkan suhu setelah
melakukan aktivitas berada pada kisaran lebih dari 36°C. Ini menunjukkan
bahwa setelah melakukan aktivitas, tubuh cenderung memiliki kenaikan suhu.
Selanjutnya pada perubahan frekuensi pernapasan, dari kedelapan
naracoba semuanya mengalami peningkatan frekuensi pernapasan, kemudian
dari keempat naracoba laki-laki ditemukan adanya perubahan signifikan yaitu
pada naracoba Bayu sebesar 9/menit. Begitupula pada naracoba perempuan
sebesar 9/menit dengan naracoba Izah. Dari data suhu dan juga frekuensi
pernapasan ditemukan adanya keterikatan bahwa bila suhu meningkat maka
frekuensi pernapasan atau respirasi juga meningkat. Hal ini sesuai dengan teori
yang menyatakan bahwa suhu tubuh yang tinggi meningkatkan frekuensi
respirasi. Semakin tinggi suhu tubuh (demam) maka frekuensi akan semakin
cepat. Di lingkungan yang panas tubuh mengalami peningkatan metabolisme
untuk mempertahankan suhu agar tetap stabil. Untuk itu tubuh harus lebih
banyak mengeluarkan keringat agar menurunkan suhu tubuh. Aktivitas ini
membutuhkan energi yang dihasilkan dari peristiwa oksidasi dengan
menggunakan oksigen sehingga akan dibutuhkan oksigen yang lebih banyak
untuk meningkatkan frekuensi (Alvyanto, 2009).
Sedangkan frekuensi denyut nadi sebelum melakukan aktivitas dari
keempat naracoba laki-laki berkisar antara 72/menit hingga 87/menit. Dari
keempat perubahan frekuensi denyut nadi tersebut, ditemukan perubahan
signifikan pada naracoba Ayyasy yaitu frekuensi denyut nadi awal 85/menit
menjadi 117/menit. Kemudian pada naracoba perempuan, ditemukan
perubahan frekuensi denyut nadi rata-rata yaitu 8/menit. Sesuai dengan
literatur yang dikemukakan oleh ( Pearce, EC., 2012) bahwa orang dewasa
memiliki denyut nadi istirahat sebanyak 60-80 denyut per menit. Jumlah
keringat kedelapan naracoba sebelum melakukan aktivitas yaitu sedikit,
dilambangkan dengan simbol (+). Sedangkan setelah melakukan aktivitas jalan
ditempat, diketahui jumlah keringat pada 7 naracoba yaitu sedang atau (++) hal
ini disebabkan karena semakin berat aktivitas yang dilakukan maka
pengeluaran keringat semakin banyak, sedangkan 1 naracoba yaitu Anang
hanya memiliki jumlah keringat sedikit (+).
Sementara itu pada percobaan dengan kegiatan berlari selama 5 menit
diperoleh peningkatan suhu pada delapan naracoba. Suhu yang didapatkan
yaitu berkisar 35°C hin​gga 36°C. Sama halnya dengan aktivitas jalan ditempat,
suhu memiliki kaitan dengan frekuensi nadi, jumlah keringat dan juga
pernapasan. Dari hal tersebut dapat dinyatakan bahwa percobaan sesuai dengan
teori menurut Alvyanto (2009) semakin tinggi suhu tubuh (demam) maka
frekuensi akan semakin cepat. Di lingkungan yang panas tubuh mengalami
peningkatan metabolisme untuk mempertahankan suhu agar tetap stabil. Untuk
itu tubuh harus lebih banyak mengeluarkan keringat agar menurunkan suhu
tubuh. Aktivitas ini membutuhkan energi yang dihasilkan dari peristiwa
oksidasi dengan menggunakan oksigen sehingga akan dibutuhkan oksigen
yang lebih banyak untuk meningkatkan frekuensi.
Frekuensi nadi dari kedelapan naracoba mengalami peningkatan. Dari
naracoba laki-laki didapatkan kenaikan yang signifikan yaitu 79/menit hingga
134/menit pada naracoba Bayu. Sedangkan naracoba perempuan didapatkan
kenaikan signifikan pada naracoba Aprilya yaitu 72/menit hingga 107/menit.
Begitu pula dari hasil frekuensi pernapasan juga mengalami peningkatan pada
setiap naracoba. Tak hanya itu jumlah keringat juga mengalami peningkatan
dari sebelum melakukan aktivitas dan sesudah melakukan. Pada awalnya
(sebelum melakukan aktivitas) ketujuh naracoba memiliki jumlah keringat
sedikit (+), sedangkan naracoba Bayu memiliki jumlah keringat sedang (++).
Setelah melakukan lari dari keenam naracoba memiliki jumlah keringat banyak
(+++), sedangkan pada naracoba Bayu dan Izah memiliki jumlah keringat
sangat banyak (++++)
Pada indikator yang pertama yaitu perubahan suhu sesudah dan
sebelum melakukan aktivitas ringan. Naracoba yang mengalami perubahan
signifikan adalah naracoba Anang yaitu sebesar 0,5°C yang semula memiliki
suhu tubuh sebesar 35,5°C menjadi 36°C. Grafik perubahan suhu sebelum dan
sesudah dilakukan aktivitas jalan ditempat dapat dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
1. Zahra 5. Yusuf
2. Izah 6. Ayyasy
3. Aprilya 7. Bayu
4. Dea 8. Anang

Pada indikator yang kedua yaitu perubahan frekuensi denyut


nadi sesudah dan sebelum melakukan aktivitas ringan. Naracoba yang
mengalami perubahan signifikan adalah naracoba Ayyasy yaitu sebesar
32/menit yang semula memiliki frekuensi denyut nadi sebesar 74/menit
menjadi 110/menit. Grafik perubahan frekuensi denyut nadi sebelum
dan sesudah melakukan aktivitas jalan ditempat dapat dilihat sebagai
berikut.
Keterangan :
1. Zahra 5. Yusuf
2. Izah 6. Ayyasy
3. Aprilya 7. Bayu
4. Dea 8. Anang

Pada indikator yang ketiga yaitu perubahan frekuensi


pernapasan sesudah dan sebelum melakukan aktivitas ringan. Naracoba
yang mengalami perubahan signifikan adalah naracoba Bayu dan Izah
yaitu sebesar 9/menit yang semula Bayu memiliki frekuensi pernapasan
sebesar 22/menit menjadi 31/menit. Sedangkan Izah memiliki frekuensi
awal 18/menit menjadi 27/menit. Grafik perubahan frekuensi
pernapasan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas jalan ditempat
dapat dilihat sebagai berikut.
Keterangan :
1. Zahra 5. Yusuf
2. Izah 6. Ayyasy
3. Aprilya 7. Bayu
4. Dea 8. Anang

Selanjutnya pada indikator perubahan suhu sesudah dan sebelum


melakukan aktivitas berat. Naracoba yang mengalami perubahan signifikan
adalah naracoba Anang yaitu sebesar 0,7°C yang semula memiliki suhu tubuh
sebesar 35,6°C menjadi 36,3°C. Grafik perubahan suhu sebelum dan sesudah
melakukan aktivitas lari dapat dilihat sebagai berikut.
Keterangan :
1. Bayu 5. Dea
2. Yusuf 6. Aprilya
3. Ayyasy 7. Zahra
4. Anang 8. Izah
Kemudian pada indikator perubahan frekuensi denyut nadi sesudah dan
sebelum melakukan aktivitas berat. Naracoba yang mengalami perubahan
signifikan adalah naracoba Bayu yaitu sebesar 55/menit yang semula memiliki
frekuensi denyut nadi sebesar 79/menit menjadi 134/menit. Grafik perubahan
frekuensi denyut nadi sebelum dan sesudah melakukan aktivitas lari dapat
dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
1. Bayu 5. Dea
2. Yusuf 6. Aprilya
3. Ayyasy 7. Zahra
4. Anang 8. Izah

Pada indikator yang ketiga yaitu perubahan frekuensi


pernapasan sesudah dan sebelum melakukan aktivitas berat. Naracoba
yang mengalami perubahan signifikan adalah naracoba April dan Izah
yaitu sebesar 40/menit yang semula April memiliki frekuensi
pernapasan sebesar 18/menit menjadi 58/menit. Sedangkan Izah
memiliki frekuensi awal 19/menit menjadi 59/menit. Grafik perubahan
frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas lari
dapat dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
1. Bayu 5. Dea
2. Yusuf 6. Aprilya
3. Ayyasy 7. Zahra
4. Anang 8. Izah

Pada tabel ketiga ini, data didapat dari kelompok lain dengan
perbedaan aktivitas, terutama pada aktivitas beratnya. Pada aktivitasnya,
terdapat data aktivitas ringan yaitu jalan di tempat selama 5 menit sedangkan
aktivitas beratnya yaitu squat jump selama 2 menit. Seperti pada tabel,
praktikan mengukur suhu, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan
jumlah keringat yang dihasilkan baik sebelum maupun sesudah aktivitas.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan pada naracoba putra,


pengukuran suhu badan dilakukan dengan meletakkan termometer di antara
lengan (ketiak) dan dapatkan hasil sebagai berikut:

Data suhu tubuh naracoba putra yang diperoleh sebelum melakukan


aktivitas ringan(dalam keadaan normal) adalah sebagai berikut:
1. Aditya : 35°C
2. Yudha : 36,4°C
3. Devan : 36°C
4. Abid : 34°C
Dari hasil percobaan diatas, rata-rata suhu tubuh naracoba putra
sebelum melakukan aktivitas adalah 35,3˚C dan suhu awal tertinggi terdapat
pada naracoba 2 yaitu 36,4˚C dan suhu awal terendah terdapat pada naracoba
4 yaitu 34°C. Setelah melakukan aktivitas jalan di tempat, terjadi perubahan
suhu seperti berikut :

1. Aditya : 35,5 ˚C
2. Yudha: 36,6˚C
3. Devan : 36˚C
4. Abid : 35˚C

Suhu tubuh tertinggi setelah aktivitas terdapat pada naracoba 2 yaitu


36,6˚C dan suhu terendah terdapat pada naracoba 4. Perbedaan suhu tertinggi
dan terendah baik pada sebelum maupun sesudah aktivitas ternyata terdapat
pada naracoba yang sama, namun pada naracoba 4 mengalami kenaikan suhu
paling tinggi sebesar 1˚C. Selain itu, terdapat juga naracoba yaitu naracoba 3
yang suhu tubuhnya tidak berubah baik sebelum maupun setelah melakukan
aktivitas.

Selanjutnya praktikan mengukur suhu awal naracoba putra sebelum


melakukan aktivitas berat. Didapat suhu awal sebagai berikut:

1. Aditya : 35˚C
2. Yudha : 36˚C
3. Devan : 36˚C
4. Abid : 34˚C

Dari hasil percobaan diatas, rata-rata suhu tubuh naracoba putra


sebelum melakukan aktivitas berat adalah 35,2˚C dan suhu awal tertinggi
terdapat pada naracoba 2 dan 3 yaitu 36˚C dan suhu awal terendah terdapat
pada naracoba 4 yaitu 34°C. Setelah melakukan aktivitas squat jump, terjadi
perubahan suhu seperti berikut :
1. Aditya : 35,2˚C
2. Yudha : 36,2˚C
3. Devan : 36,2˚C
4. Abid : 35˚C

Suhu tubuh tertinggi setelah aktivitas terdapat pada naracoba 2 dan 3


yaitu 36,2˚C dan suhu terendah terdapat pada naracoba 4. Perbedaan suhu
tertinggi dan terendah baik pada sebelum maupun sesudah aktivitas ternyata
terdapat pada naracoba yang sama, namun pada naracoba 4 mengalami
kenaikan suhu paling tinggi sebesar 1˚C. Hal yang serupa juga terjadi pada
naracoba perempuan yaitu terjadi peningkatan suhu sebelum melakukan
aktivitas dan sesudah melakukan aktivitas ringan serta sebelum melakukan
aktivitas berat dan sesudah aktivitas berat.

Pada naracoba puri didapatkan hasil suhu awal yaitu:


Keterangan :
1. Aditya 5. Kilana
2. Yudha 6. Isti
3. Devan 7. Sofi
4. Abid 8. Amerda

Pada percobaan juga dilakukan pengukuran denyut nadi sesudah dan


sebelum melakukan aktivitas.
Sebelum melakukan aktivitas jalan di tempat suhu kedelapan naracoba
berkisar antara 35°C hingga 36 °C . Frekuensi denyut nadi tercepat yaitu pada
naracoba Kilana dan Isti sebesar 73/menit dan frekunsi denyut nadi terlambat
yaitu pada naracoba Yudha yaitu 60/menit. Frekuensi napas pada delapan
naracoba berbeda-beda berkisar antara 21/menit hingga 28/menit. Jumlah
keringat pada saat sebelum dilakukan aktivitas jalan di tempat tidak ditemukan
pada semua naracoba.
Setelah dilakukan aktivitas jalan di tempat selama 5 menit terjadi
perubahan pada indikator suhu, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernapasan,
dan jumlah keringat kedelapan naracoba. Peningkatan suhu yang signifikan
terjadi para setiap naracoba Abid sebesar 1 °C. Grafik perubahan frekuensi
denyut nadi sebelum dan sesudah dilakukan aktivitas jalan di tempat dapat
dilihat sebagai berikut.

Grafik perubahan frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah dilakukan


aktivitas squat jump dapat dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
1. Aditya 5. Kilana
2. Yudha 6. Isti
3. Devan 7. Sofi
4. Abid 8. Amerda

Berdasarkan data hasil didapatkan bahwa perubahan frekuensi denyut


nadi dari keempat naracoba mengalami kenaikan, begitu pula pada perubahan
frekuensi pernapasan juga mengalami kenaikan. Naracoba yang mengalami
perubahan signifikan pada frekuensi pernapasan adalah naracoba Aditya yaitu
sebesar 30/menit yang semula memiliki frekuensi pernapasan sebesar 26/menit
menjadi 56/menit. Grafik perubahan frekuensi pernapasan sebelum dan
sesudah dilakukan aktivitas jalan ditempat dapat dilihat sebagai berikut.

Grafik perubahan frekuensi pernapasan sebelum dan sesudah dilakukan


aktivitas squat jump dapat dilihat sebagai berikut.

Keterangan :
1. Aditya 5. Kilana
2. Yudha 6. Isti
3. Devan 7. Sofi
4. Abid 8. Amerda

G. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Regulasi dalam tubuh manusia meliputi:
● Osmoregulasi, contoh dari osmoregulasi adalah pembuangan urine
● Glukoregulasi, contoh dari glukoregulasi adalah perubahan glukosa
menjadi insulin dan sebaliknya
● Termoregulasi, contoh dari termoregulasi adalah kontraksi otot-otot
ekstremitas (menggigil) untuk memproduksi panas,
2. Mekanisme termoregulasi dalam tubuh manusia sebagai berikut :
● Peningkatan suhu tubuh direspon dengan berdirinya bulu rambut
(piloereksi) karena kontraksi otot-otot kulit sedangkan menurunnya
suhu tubuh direspon dengan penahanan panas tubuh dengan
mendatarnya bulu rambut karena relaksasi otot-otot kulit.
● Kelenjar-kelenjar di bawah kulit akan mensekresi keringat ke
permukaan kulit untuk meningkatkan hilangnya panas dengan
evaporasi jika suhu tubuh meningkat. Sekresi keringat akan berhenti
jika suhu tubuh sudah kembali normal.
● Pembuluh darah yang mengaliri kulit akan melebar untuk membawa
lebih banyak panas keluar tubuh (vasodilatasi) jika suhu tubuh
meningkat, dan pembuluh darah akan mengkerut (vasokonstriksi) untuk
meminimalkan hilangnya panas lewat kulit jika suhu tubuh sudah
normal kembali.
H. DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Safitri. 2004. Biologi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga.

Anderson, R., Breunig, K., Foundling, P., Johnson, R., Smith, L., Sundstrom, M. 2016.
Body Position and Effect on Heart Rate, Blood Pressure, and Respiration Rate
After Induced Acute Mental Stress. New York: University of
Wisconsin-Madison.

Anggraeni, D. P. (2017). ​Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia


Interaktif Visual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Sistem
Pernafasan (Doctoral dissertation, FKIP UNPAS) diundug dari
http://repository.unpas.ac.id/31153/ pada tanggal 21 November 2020 pukul
22.30 WIB.

Basoeki, soejono .1999. ​Fisiologi Manusia.​ Malang : UNM.

Fernandez, Gregory James. 2017. ​Sistem Pernapasan. Penelitian Dalam Rangka


Menjalani Kepaniteraan Klinik Madya Penyakit Dalam. Bali: Universitas
Udayana.

Kamal, Kasyunnil. 2019. ​Penerapan Sistem Kesehatan di Industri Hulu Migas.​ Jakarta:
Universitas Indonesia.

Kasenda, Ivanny. Sylviah Marunduh dan Herlina Wungouw. 2014. ​Perbandingan


Denyut Nadi Antara Penduduk Yang Tinggal di Dataran Tinggi dan Dataran
Rendah. ​Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 2, Nomor 2, Juli 2014. Manado:
Fakultas Kedokteran. Universitas Sam Ratulangi.

Kukus, Yondri. Wenny Supit dan Fransiska Lintong. 2009. ​Suhu Tubuh: Homeostasis
dan Efek Terhadap Kinerja Tubuh Manusia. Jurnal Biomedik, Volume 1,
Nomor 2, Juli 2009, hlm. 107-118. Manado: Fakultas Kedokteran. Universitas
Sam Ratulangi. Diakses melalui
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/view/824 Pada Jumat,
20 November 2020 pukul 20.32 WIB.

McArdle, WD., Katch, FI., Katch, VL. 2010. Exercise Physiology: Nutrition, Energy,
and Human Performance. Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins.

McWilliam, JA. 1933. Postural Effects on Heart Rate and blood Pressure. Journal
Experimental Physiology. Vol. 23. No. 1: 1-33.

Musrifatul dan Aziz. 2008. ​Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan Edisi
2​. Jakarta: Salemba Medika.

Pearce, EC. 2012. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedik. Jakarta: PT Gramedia.
Pertiwi, Kartika Ratna. 2008. Hand Out Biologi Umum Regulasi Jurusan Pendidikan
.Biologi Semester 1. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi UNY

Prasetyo, Yudik. 2003. ​Adaptasi Sistem Pernapasan Terhadap Latihan. Y ​ ogyakarta :


Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses melalui
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132308484/Adaptasi_Sistem_Pernapasa
n_Terhadap__Latihan.pdf​ pada Ahad, 22 November 2020 pukul 20.54 WIB.

Sandi, I. N. (2016). Pengaruh Latihan Fisik Terhadap Frekuensi Denyut Nadi. Sport and
Fitness Journal, 4(2), 1-6 diunduh dari
https://ojs.unud.ac.id/index.php/sport/article/download/24030/15688 pada
tanggal 22 November 2020 pukul 21.19 WIB.

Sarwono Prawirahardjo. 2001. Etika Kedokteran Indonesia.Jakarta:Yayasan Bina


Pustaka.

Soewolo. 2003. ​Fisiologi Manusia.​ Malang : Universitas Negri Malang Press

​ idoarjo : Akademi
Sulistyowati, Agus. 2018. ​Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital. S
Keperawatan Kerta Cendekia.
I. Lampiran

Anda mungkin juga menyukai