Anda di halaman 1dari 29

Realisasi Pelaksanaan Program

b. Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi


1)  Pengembangan Kapasitas Pranata Pengukuran, Standarisasi, Pengujian dan Kualitas
Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.39.000.000,-   realisasi Rp.38.478.700,-   SDM: 6
orang
Keluaran (outputs) : terwujudnya pengembangan sistem inovasi teknologi industri yang
mendukung sistem produksi IKM melalui bantuan peralatan untuk
  3 IKM
Hasil (outcomes) : meningkatnya kapasitas dan kualitas produk IKM
Manfaat (benefits) : meningkatnya daya saing produk industri kecil
Dampak (impacts) : meningkatnya pendapatan dan perkembangan usaha industri kecil

2)  Pengembangan Sistem Inovasi Teknologi Industri/Pembinaan Kemampuan Teknologi


Industri
Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.500.000.000,-   realisasi Rp.489.095.000,-   SDM:
6 orang
Keluaran (outputs) : terwujudnya pengembangan sistem inovasi teknologi industri yang
mendukung sistem produksi IKM melalui bantuan peralatan 37
  paket untuk 5 jenis industri
Hasil (outcomes) : meningkatnya kapasitas dan kualitas produk IKM
Manfaat (benefits) : meningkatnya daya saing produk industri kecil
Dampak (impacts) : meningkatnya pendapatan dan perkembangan usaha industri kecil

3)  Gugus Kendali Mutu


Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.20.299.200,-   realisasi Rp.17.559.200,-   SDM: 6
orang
Keluaran (outputs) : terwujudnya penerapan Gugus Kendali Mutu bagi IKM serat
  tumbuhan dan IKM olahan pangan
Hasil (outcomes) : menurunnya jumlah produk yang rusak
Manfaat (benefits) : meningkatnya daya saing produk industri kecil
Dampak (impacts) : meningkatnya pendapatan dan perkembangan usaha industri kecil

Realisasi Pelaksanaan Program


c. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah
1)  Penyusunan Kebijakan Industri Terkait dan Industri Penunjang Industri Kecil dan
Mengengah
  Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.18.751.300,-   realisasi Rp.10.302.000,-   SDM: 0
orang
Keluaran (outputs) : terwujudnya penyempurnaan dokumen KIID dan tindak lanjut
implementasi kebijakan industri terkait dan industri penunjang
KIID
Hasil (outcomes) : kebijakan pengembangan inti industri
Manfaat (benefits) : terwujudnya panduan/acuan pengembangan industri gula kelapa
kristal
Dampak (impacts) : meningkatnya kualitas dan kuantitas produk gula kristal yang
mengacu baku mutu/SNI

2)  Fasilitasi Kerjasama Kemitraan Industri Mikro, Kecil dan Menengah dengan Swasta
Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.53.000.000,-   realisasi Rp.51.499.150,-   SDM: 6
orang
Keluaran (outputs) : terlaksananya fasilitasi kerjasama kemitraan industri mikro, kecil
dan menengah dengan swasta melalui pameran tingkat kabupaten,
propinsi dan nasional
 
Hasil (outcomes) : terdesiminasikannya produk IKM
Manfaat (benefits) : meningkatnya peluang pasar produk industri baik tingkat regional,
nasional, maupun internasional
Dampak (impacts) : meningkatnya motivasi dan wawasan usaha perajin industri dan
meningkatnya daya saing produk

3)  Pembinaan Mutu dan Design Produk Industri Kecil


Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.57.060.000,-   realisasi Rp.55.095.900,-   SDM: 6
orang
Keluaran (outputs) : terwujudnya peningkatan mutu dan desain produk industri kecil
produk herbal
 
Hasil (outcomes) : meningkatnya kemampuan kelompok IKM produk herbal
Manfaat (benefits) : meningkatnya daya saing produk IKM produk herbal
Dampak (impacts) : meningkatnya pendapatan dan perkembangan usaha IKM produk
herbal

4)  Pengembangan usaha industri kecil


Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.115.209.900,-   realisasi Rp.114.481.700,-   SDM:
6 orang
Keluaran (outputs) : tercapainya pengembangan usaha industri kecil produk unggulan
berupa pembinaan usaha dan bantuan peralatan
Hasil (outcomes) : meningkatnya kemampuan produksi kelompok usaha IKM batu
 
andesit dan gula semut
Manfaat (benefits) : meningkatnya daya saing produk kelompok IKM batu andesit dan
gula semut
Dampak (impacts) : meningkatnya pendapatan dan perkembangan usaha kelompok IKM
batu andesit dan gula semut

5)  Pembinaan Perijinan Usaha Industri


  Masukan (inputs) : dana alokasi Rp.22.000.000,-   realisasi Rp.22.000.000,-   SDM: 6
orang
Keluaran (outputs) : tercapainya peningkatan jumlah pengrajin yang belum memiliki
perizinan melalui pembinaan perizinan
Hasil (outcomes) : meningkatnya jumlah perajin yang memiliki ijin usaha
Manfaat (benefits) : industri kecil mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum
Dampak (impacts) : memudahkan pengawasan produksi bagi pemerintah

peran ukm terhadap pertumbuhan dan perekonomian di Indonesia

ABSTRAK

                             
Feni oktaviani 38209533

Peran UKM Terhadap Perekonomian dan pertumbuhan di Indonesia


Universitas  Gunadarma

Kata Kunci :  peran serta UKM ( usaha kecil menengah ) bagi perekonomian dan pertumbuhan di
Indonesia.

Dari pengalaman dan pengamatan sejak 30 tahun sejak tahun 1956, tergambar dengan jelas
bahwa diindonesia setiap tahun lahir dan tenggelam sekian ribu perusahaan terutama perusahaan
kecil. Di kota – kota besar bangkit generasi perusahaan baru baik besar maupun kecil, dan hal ini
sangat melegakkan dan member harapan. Tetapi jika meneliti lnih lanjut perkembangan dan
dunia usaha yang ada di Indonesia , terutama perusahaan yang dikelola keluarga, baik
perusahaan besar dan peruahaan kecil banyak yang tidak bertahan lama dan sukses sampai
generasi kedua.
Peran Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia sangat besar dan telah terbukti
menyelamatkan perekonomian bangsa pada saat dilanda krisis ekonomi tahun 1997, kata Dewan
Pimpinan Pusat Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (DPP HIPPI), Suryo B.Sulisto,MBA.
Usaha Kecil Menengah atau lazim kita kenal sebagai UKM mempunyai banyak peranan penting
dalam perekonomian. Salah satu peranannya yang paling krusial dalam pertumbuhan ekonomi
adalah menstimulus dinamisasi ekonomi. Karakternya yang fleksibel dan cakap membuat UKM
dapat direkayasa untuk mengganti lingkungan bisnis yang lebih baik daripada perusahaan-
perusahaan besar. Dalam banyak kasus, dari sejumlah UKM yang baru pertama kali memasuki
pasar, di antaranya dapat menjadi besar karena kesuksesannya dalam beroperasi, dan dengan
inilah indonesia mampu tumbuh menjadi negara yang mempunyai kekuatan dalam bidang UKM.

Bab 1. Pendahuluan
Fenomena yang cukup menarik dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan pengalam
perusahaan kecil di Indonesia ialah yang dikelola oleh keturunan Tionghoa dan Arab. Fenomena
ini di ungkapkan oleh H.Probosutedjo. seorang pengusaha nasional. Dapat kita amati bahwa
disetiap kota kecamatan, pasar – pasar, dan terutama kota ukuran besar dan sedang hamper
semua kehidupan ekonomi dikelola oleh keturunan Tionghoa dan sukses secara
berkesinambungan. Mereka berhasil dan “survive” dalam berbagai gelombang krisis ekonomi
dan bahkan lebih Berjaya lagi selama 20 tahun terakhir. Beberapa diantara mereka telah berhasil
dengan tenang dan Berjaya memasuki generasi kedua atau ketiga atau telah menjadi perusahaan
besar yang modern dan bertaraf nasional bahkan internasional.
Menurut hasil sensus terakhir pada saat ini jumlah penduduk yang tinggal di kota umumnya
terdiri dari pegawai negeri maupun swasta, ataupun karywan di pabrik. Pada saat ini, sesuai
dengan uud 1945 pasal 33,hamper semua sector penting kehidupan ekonomi Indonesia di pegang
atau dikelola oleh Negara. Itulah sebabnya hamper semua tambang, perkebunan besar,
transportasi (udara, laut, darat ), kantor pos, bank devisa, listrik, pasar, bahan bakar,
telekomunikasi, distribusi pangan, kespor-impor, asuransi dikuasai dan atau dikelola oleh Negara
baik langsung maupun lewat organisasi dagang,
Sejarah telah membuktikan bahwa Negara di modern pun diabad computer ini eksistensi
perusahaan kecil yang terjamin. Keyakinan ini semakin mendasar melihat tekad pemerintah RI
membina perusahaan kecil serta adanya kecendrungan pemerintah untuk mengadakan liberalisasi
ekonomi.
Menurut fakta sejarah sejak ratusan tahun yang lalu,mayoritas masyarakat Indonesia hidup dari
kegiatan pertanian.

Sejarah telah menunjukkan bahwa Usaha Kecil  (UKM) di Indonesia tetap eksis dan berkembang
dengan adanya krisis ekonomi yang telah melanda negeri ini sejak tahun 1997, bahkan menjadi
katup penyelamat bagi pemulihan ekonomi bangsa karena kemampuannya memberikan
sumbangan yang cukup signifikan pada PDB maupun penyerapan tenaga kerja. Data tahun 2003
menunjukkan bahwa jumlah UKM secara nasional ada 42,4 juta dengan memberikan sumbangan
terhadap PDB mencapai Rp.1.013,5 trillun (56,7% dari total PDB) dan kemampuan penyerapan
tenaga kerja sebesar 79 juta jiwa (BDS LPPM UNS, 2005). Kecenderungan kemampuan UKM
memberikan sumbangan yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian suatu negara
tidak saja terjadi di Indonesia dan negara-negara berkembang namun juga terjadi di negara-
negara maju pada saatsaat negara tersebut membangun kemajuan perekonomiannya sampai
sekarang.
Kondisi demikian mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menetapkan tahun 2004
sebagai tahun International microfinance. Hal ini dimasudkan tidak saja untuk menunjukkan
keberpihakan badan dunia tersebut terhadap UKM namun juga dalam rangka mendorong negara
berkembang untuk lebih memberikan perhatian pada pemberdayaan UKM dengan cara
memberikan berbagai stimulan dan fasilitasi. Sejalan dengan program PBB tersebut, pemerintah
Indonesia menetapkan tahun 2005 sebagai “Tahun UMKM Indonesia” dengan melakukan
berbagai instrumen dan program fasilitasi pemberdayaan UKM di tingkat nasional, sedangkan
untuk di daerah diharapkan dilakukan oleh pemerintah daerah. Kebijakan pemerintah dewasa ini
telah cukup menunjukkan keberpihakan pada usaha kecil dan menengah.

Banyak sudah upaya dan langkah-langkah pemerintah menyangkut pemberdayaan pada usaha
kecil dan menengah dalam lima tahun terakhir ini. kebijakan pemerintah untuk berpihak kepada
UKM itu merupakan langkah yang sangat tepat guna membangkitkan perekonomian bangsa dan
Negara, di negara-negara majupun, baik di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Italia, UKM lah
yang menjadi pilar utama perekonomian negara. Keadaan itu hanya mungkin terjadi karena
pemerintahan daripada negara-negara tersebut mempunyai kebijakan yang mendukung
terciptanya kondisi dimana usaha kecil menengah mereka menjadi sangat sehat dan kuat.

BAB 2. Pembahasaan
            Sejak badai krisis yang menerpa perekonomian Indonesia pada tahun 1997, pelaku
ekonomi dipaksa untuk berusaha lebih keras untuk bertahan , kehancuran mulai terlihat parah
karena sebelumnya pemerintah orde baru terlalu memfokuskan perekonomian pada para
konglomerat, hutang-hutang yang seharusnya dapat memacu roda ekonomi Indonesia berbalik
menjadi suatu jeratan yang mencekik perekonomian Indonesia. UKM, sebagai salah satu elemen
perekonomian Indonesia, boleh jadi akan menjadi harapan yang indah sebagai benteng pengganti
bagi perekonomian Indonesia, UKM yang dulunya sering menjadi korban dari kebijakan
Pemerintah Orde Baru yang mementingkan konglomerat dan pengusaha besar, nampaknya telah
terbiasa dengan kemandirian dan tidak terlalu tergantung dengan pemerintah. UKM nampaknya
harus dipersiapkan sebagai benteng yang kokoh dan tangguh bagi perekonomian Indonesia. 

Peran UKM dalam Perekonomian Indonesia

            Usaha Kecil Menengah atau lazim kita kenal sebagai UKM mempunyai banyak peranan
penting dalam perekonomian. Salah satu peranannya yang paling krusial dalam pertumbuhan
ekonomi adalah menstimulus dinamisasi ekonomi. Karakternya yang fleksibel dan cakap
membuat UKM dapat direkayasa untuk mengganti lingkungan bisnis yang lebih baik daripada
perusahaan-perusahaan besar. Dalam banyak kasus, dari sejumlah UKM yang baru pertama kali
memasuki pasar, di antaranya dapat menjadi besar karena kesuksesannya dalam beroperasi.

            Sejak krisis moneter yang diawali tahun 1997, hampir 80% usaha besar mengalami
kebangkrutan dan melakukan PHK massal terhadap karyawannya. Berbeda dengan UKM yang
tetap bertahan di dalam krisis dengan segala keterbatasannya. UKM dianggap sektor usaha yang
tidak cengeng dan tahan banting.Selain itu sebagai sektor usaha yang dijalankan dalam tataran
bawah, UKM berperan besar dalam mengurangi angka pengangguran, bahkan fenomena PHK
menjadikan para pekerja yang menjadi korban dipaksa untuk berfikir lebih jauh dan banyak yang
beralih melirik sektor UKM ini. Produk-produk UKM, setidaknya memberikan kontribusi bagi
pertumbuhan ekonomi dan pendapatan nasional, karena tidak sedikit produk-produk UKM itu
yang mampu menembus pasar internasional.
Sekarang ini lembaga-lembaga donor internasional semuanya mendukung perkembangan
UKM. Ada yang melihatnya sebagai wahana untuk menciptakan kesempatan kerja (ILO), ada
yang melihatnya sebagai penjabaran komitmen mereka (IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan
Asia) untuk memerangi kemiskinan di negara-negara berkembang. Di Asia, perkembangan
sektor UKM ini juga dilihat sebagai salah suatu jalan keluar dari krisis ekonomi. Para donor
multilateral dan bilateral (antara lain Jepang) semuanya akan menyediakan dana dan bantuan
teknis untuk pengembangan sektor ini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Propinsi Jawa Barat dengan Badan Pusat Statistik Propinsi Jawa Barat tahun 2000, jumlah
kelompok usaha kecil di Provinsi Jawa Barat adalah 6.751.999 unit atau merupakan 99,89% dari
keseluruhan jumlah kelompok usaha yang ada. Penyebaran kelompok usaha kecil ini masih
didominasi oleh sektor pertanian dengan jumlah usaha/rumah tangga sebanyak 4.094.672 unit.
SEJARAH perekonomian telah ditinjau kembali untuk mengkaji ulang peranan usaha skala
kecil – menengah (UKM). Beberapa kesimpulan, setidak-tidaknya hipotesis telah ditarik
mengenai hal ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat sebagaimana terjadi di
Jepang, telah dikaitkan dengan besaran sektor usaha kecil. Kedua, dalam penciptaan lapangan
kerja di Amerika Serikat sejak perang dunia II, sumbangan UKM ternyata tak bisa diabaikan.
(D.L. Birch, 1979)
Krisis yang terjadi di Indonesia pada 1997 merupakan momen yang sangat menakutkan bagi
perekonomian Indonesia. Krisis ini telah mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor
ekonomi berubah. Usaha besar satu persatu pailit karena bahan baku impor meningkat secara
drastis, biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang
menurun dan berfluktuasi. Sektor perbankan yang ikut terpuruk turut memperparah sektor
industri dari sisi permodalan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi meneruskan usaha
karena tingkat bunga yang tinggi. Berbeda dengan UKM yang sebagian besar tetap bertahan,
bahkan cendrung bertambah.
Ada beberapa alasan mengapa UKM dapat bertahan di tengah krisis moneter 1997 lalu. Pertama,
sebagian besar UKM memproduksi barang konsumsi dan jasa-jasa dengan elastitas permintaan
terhadap pendapatan yang rendah, maka tingkat pendapatan rata-rata masyarakat tidak banyak
berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. Sebaliknya kenaikan tingkat
pendapatan juga tidak berpengaruh pada permintaan. Kedua, sebagian besar UKM tidak
mendapat modal dari bank. Implikasinya keterpurukan sektor perbankan dan naiknya suku
bunga, tidak banyak mempengaruhi sektor ini. Berbeda dengan sektor perbankan bermasalah,
maka UKM ikut terganggu kegiatan usahanya. Sedangkan usaha berkala besar dapat bertahan. Di
Indonesia, UKM mempergunakan modal sendiri dari tabungan dan aksesnya terhadap perbankan
sangat rendah.
Terbukti saat krisis global yang terjadi beberapa waktu lalu, UKM hadir sebagai suatu solusi dari
sistem perekonomian yang sehat. UKM merupakan salah satu sektor industri yang sedikit bahkan
tidak sama sekali terkena dampak krisis global yang melanda dunia. Dengan bukti ini, jelas
bahwa UKM dapat diperhitungkan dalam meningkatkan kekompetitifan pasar dan stabilisasi
sistem ekonomi yang ada.
Kegiatan UKM meliputi berbagai kegiatan ekonomi, namun sebagian besar berbentuk usaha
kecil yang bergerak disektor pertanian. Pada 1996, data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan,
jumlah UKM sebanyak 38,9 juta dengan rincian: sektor pertanian berjumlah 22,5 juta (57,9%);
sektor industri pengolahan 2,7 juta (6,9%); sektor perdagangan, rumah makan dan hotel
sebanyak 9,5 juta (24%); dan sisanya bergerak di bidang lain. Dari segi nilai ekspor nasional
(BPS, 1998), Indonesia jauh tertinggal bila dibandingkan ekspor usaha kecil negara-negara lain,
seperti Taiwan (65%), China (50%), Vietnam (20%), Hongkong (17%), dan Singapura (17%).
Oleh karena itu, perlu dibuat kebijakan yang tepat untuk mendukung UKM seperti antara lain:
perijinan, teknologi, struktur, manajemen, pelatihan dan pembiayaan.
Dalam pembangunan ekonomi di Indonesia UKM selalu digambarkan sebagai sektor yang
mempunyai peranan penting, karena sebagian besar jumlah penduduknya berpendidikan rendah
dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sektor tradisional maupun modern. Peranan usaha
kecil tersebut menjadi bagian yang diutamakan dalam setiap perencanaan tahapan pembangunan
yang dikelola oleh dua departemen yaitu Departemen Perindustrian dan Perdagangan, serta .
Departemen Koperasi dan UKM. Namun, usaha pengembangan yang telah dilaksanakan masih
belum memuaskan hasilnya karena pada kenyataannya kemajuan UKM sangat kecil
dibandingkan dengan kemajuan yang sudah dicapai usaha besar. Pelaksanaan kebijaksanaan
UKM oleh pemerintah selama Orde Baru, sedikit saja yang dilaksanakan, lebih banyak hanya
merupakan semboyan saja sehingga hasilnya sangat tidak memuaskan. Pemerintah lebih
berpihak pada pengusaha besar hampir di semua sektor, antara lain perdagangan, perbankan,
kehutanan, pertanian dan industri.
Peran Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia sangat besar dengan UKM pengangguran
akibat angkatan kerja yang tidak terserap dalam dunia kerja menjadi berkurang dan telah terbukti
menyelamatkan perekonomian bangsa pada saat dilanda krisis ekonomi tahun 1997, kata Dewan
Pimpinan Pusat Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (DPP HIPPI), Suryo B.Sulisto,MBA.

UKM lah yang justru dapat tetap survive dan bertahan sedangkan perusahaan - perusahaan besar
yang begitu luar biasanya mendapat dukungan dari pemerintah masa lalu ternyata tidak mampu
menghadapi krisis bahkan banyak yang collapse dan berguguran.

Sektor UKM telah dipromosikan dan dijadikan sebagai agenda utama pembangunan ekonomi
Indonesia. Sektor UKM telah terbukti tangguh, ketika terjadi Krisis Ekonomi 1998, hanya sektor
UKM yang bertahan dari kolapsnya ekonomi, sementara sektor yang lebih besar justru tumbang
oleh krisis. Mudradjad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2008
mengemukakan bahwa UKM terbukti tahan terhadap krisis dan mampu survive karena :

1.     Tidak memiliki utang luar negeri.

2.     Tidak banyak utang ke perbankan karena mereka dianggap unbankable.

3.     Menggunakan input lokal.

4.     Berorientasi ekspor. Selama 1997-2006, jumlah perusahaan berskala UKM mencapai 99% dari

keseluruhan unit usaha di Indonesia.

5.     jumlah perusahaan berskala UKM mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha di Indonesia.

Sumbangan UKM terhadap produk domestik bruto mencapai 54%-57%.  Sumbangan UKM
terhadap penyerapan tenaga kerja sekitar 96%. Sebanyak 91% UKM melakukan kegiatan ekspor
melalui pihak ketiga eksportir/pedagang perantara. Hanya 8,8% yang berhubungan langsung
dengan pembeli/importir di luar negeri.
1 kualitas jasa juga dapat dimaksimalkan dengan adanya penguasaan teknologi. Penguasaan
teknologi ini dapat memberikan kontribusi positif dalam pengelolaan, sehingga organisasi dapat
lebih terkontrol dengan mudah. Oleh sebab itu, organisasi harus selalu mengikuti dinamika
perubahan teknologi yang terjadi.

Kebijakan pemerintah dewasa ini telah cukup menunjukkan keberpihakan pada usaha kecil dan
menengah. Banyak sudah upaya dan langkah-langkah pemerintah menyangkut pemberdayaan
pada usaha kecil dan menengah dalam lima tahun terakhir ini.

Namun kiranya perlu kita bertanya sudah sejauh manakah langkah-langkah dan upaya-upaya
pemerintah tersebut telah memperlihatkan hasil yang nyata didalam membawa dan menempatkan
UKM kita pada taraf yang mapan, sehat dan kuat? juga, sampai sejauh manakah sudah dicapai
tingkat daya saing UKM kita di dalam percaturan perekonomian di tingkat nasional, regional
maupun global ? .

Adalah fakta yang kita semua ketahui bahwa ratusan trilyun harus ditanggung rakyat untuk
menyelamatkan bank-bank swasta yang saat inipun masih membebani APBN kita untuk
pembayaran bunga bond rekap mereka.

Kebijakan pemerintah untuk berpihak kepada UKM itu merupakan langkah yang sangat tepat
guna membangkitkan perekonomian bangsa dan negara.Sebagai usaha kecil yang ikut didalam
pembangunan perekonomian bangsa, UKM harus menjalin kerjasama bisnis secara profesional,
bersih, transparan dan bertanggung jawab dengan pemerintah daerah, pusat maupun negara luar .

Oleh karena itu sebagai pengusaha dan juga anggota HIPPI diharapkan untuk tidak terlibat dalam
praktek-praktek yang tidak terpuji seperti penyelundupan, penjarahan hutan, penggelapan pajak
dan lain sebagainya.
Peran negara dalam bidang ekonomi harusnya tidak boleh diminimalkan, negara yang
diwakilkan oleh pemerintah sudah selayak mempunyai peran yang maksimal dalam bidang
ekonomi.
Melalui berbagai kebijakan pemerintah, negara memberikan jaminan hukum dan perundang-
undangan. Apalagi terhadap kegiatan ekonomi yang potensial seperti UKM.

Memang harus diakui akibat sistem ekonomi pembangunan “pro growth” terjadang
memunculkan citra yang kurang baik terhadap pemerintah. Pemerintah dianggap tidak
mengayomi UKM.

Misalnya Kebijakan CAFTA, beberapa kalangan menilai kebijakan ini tidak menguntungkan
bagi dunia UKM Indonesia. kebijakan CAFTA kontradiksi dengan kebijakan pemerintah yang
berupaya memajukan UKM Indonesia.

Dengan mengakomodir CAFTA, pemerintah sama saja membunuh usaha kecil yang tidak
mampu bersaing dengan produk China yang membanjiri Indonesia.

Meski demikian bukan berarti Pemerintah selalu mengeluarkan kebijakan yang merugikan
UKM, jika dicermati banyak juga kebijakan yang dibuat pemerintah terkait kemajuan UKM
Indonesia.

Pemerintah telah sejak lama melakukan pembinaan terhadap usaha kecil, menengah dan
koperasi. Pembinaan terhadap kelompok usaha ini semenjak kemerdekaan telah mengalami
perubahan beberapa.

Pemerintah sesungguhnya telah melakukan beragam usaha memajukan UKM dengan program
pokok pembinaan usaha kecil, menengah, dan koperasi. Setidaknya dapat dilihat dari tiga sisi:

Pertama, program penciptaan iklim usaha yang kondusif. Program ini bertujuan untuk membuka
kesempatan berusaha seluas-luasnya, serta menjamin kepastian usahan dengan memperhatikan
kaidah efisiensi ekonomi sebagai prasyarat untuk berkembangnya UKM dan koperasi.

Kedua, program peningkatan akses kepada sumber daya produktif. Tujuan program ini adalah
meningkatkan kemampuan UKM dalam memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi
sumber daya, terutama sumber daya lokal yang tersedia.

Ketiga, program pengembangan kewirausahaan dan pelaku UKM berkeunggulan kompetitif.


Tujuannya untuk mengembangkan perilaku kewirausahaan serta meningkatkan daya saing
UKMK. (*) Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan mengatakan, program kampanye
cinta produk lokal/dalam negeri diproyeksi mampu menumbuhkan sekitar 600.000 UKM baru di
Indonesia. Dengan kampanye cinta produk dalam negeri, saya perkirakan minimal akan tumbuh.
Ia mengatakan, jika seluruh masyarakat di Indonesia yang berjumlah lebih kurang 230 juta jiwa
menggunakan produk dalam negeri, akan sangat potensial mendorong pertumbuhan UKM baru.

Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia, dinilainya, merupakan pasar yang sangat
potensial untuk digarap oleh UKM lokal. "Untuk itu, perlu dorongan dari kita semua dan kita
harus mendukung untuk mengampanyekan produk dalam negeri," katanya.

Penggunaan produk dalam negeri, kata dia, harus menjadi komitmen bersama di kalangan
masyarakat.

Ia berpendapat, setiap masyarakat harus menyadari bahwa mencintai dan menggunakan produk
dalam negeri merupakan upaya nyata untuk memperkuat kinerja industri dan UKM di dalam
negeri.

Apalagi di tengah gempuran produk asing, khususnya China, yang unggul dalam produktivitas
dan harga yang murah, kampanye produk dalam negeri harus dilakukan secara serius, kata Sjarif.
Ia menyatakan, pihaknya bersama kementerian/lembaga lain telah berkomitmen untuk
menggunakan produk dalam negeri dan mengampanyekan gerakan gemar produk Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2009, jumlah UKM di Indonesia sebanyak
520.220 unit, sedangkan jumlah koperasi sampai dengan pertengahan 2009 sebanyak 166.100
unit yang tersebar di seluruh Indonesia.(kompas.com)  
Dalam melihat peranan usaha kecil ke depan dan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai
posisi tersebut, maka paling tidak ada dua pertanyaan besar yang harus dijawab : Pertama,
apakah UKM mampu menjadi mesin pertumbuhan sebagaimana diharapkan oleh gerakan UKM
di dunia yang sudah terbukti berhasil di negara-negara maju; Kedua, apakah UKM mampu 
menjadi instrumen utama bagi pemulihan ekonomi Indonesia, terutama memecahkan persoalan
pengangguran.

Kadang – kadang harapan yang dibebankan kepada UKM juga terlampau berat, karena
kinerjanya semasa krisis yang mengesankan. Disamping pangsa relatif yang membesar yang
diikuti oleh tumbuhnya usaha baru juga memberikan harapan baru. Sebagaimana diketahui
selama tahun 2000 telah terjadi tambahan usaha baru yang cukup besar dimana diharapkan
mereka ini berasal dari sektor modern/besar dan terkena PHK kemudian menerjuni usaha
mandiri. Dengan demikian mereka ini disertai kualitas SDM yang lebih baik dan bahkan
mempunyai permodalan sendiri, karena sebagian dari mereka ini berasal dari sektor
keuangan/perbankan

Mengingat populasi terbesar dari unit usaha yang mengembang pada penyediaan
lapangan kerja adalah usaha kecil, maka fokus pembahasan selanjutnya akan ditujukan pada
usaha kecil. Tinjauan terhadap keberadaan usaha kecil diberbagai sektor ekonomi dalam
pembentukan PBD menjadi dasar pemahaman kita terhadap kekuatan dan kelemahannya,
selanjutnya potensinya sebagai motor pertumbuhan perlu ditelaah lebih dalam agar kita mampu
menemu kenali persyaratan yang diperlukan untuk pengembangannya.       

Kelompok Usaha dan Pembentukan Nilai Tambah

          Selama ini yang lazim kita lakukan adalah membuat analisis sumbangan sektor–sektor
ekonomi dalam pembentukan PDB. Untuk menilai posisi strategis kelompok usaha terutama
usaha kecil hanya akan dapat diperlihatkan melalui konstribusi kelompok usaha menurut sektor
ekonomi. Dengan melihat kelompok usaha ini akan mampu melihat kemampuan potensial
kelompok usaha dalam menghasilkan pertumbuhan.

          Proses transformasi struktural perekonomian kita memang telah berhasil menggeser
dominasi sektor pertanian, sehingga sampai dengan menjelang krisis ekonomi (1997) sumbangan
sektor pertanian tinggal 16 % saja, sementara sektor industri telah mencapai hampir 27 % dan
menjadi penyumbang terbesar dari perekonomian kita. Ini artinya sektor industri telah
mengalami pertumbuhan yang pesat selama tiga dasa warsa sebelum krisis semasa pemerintahan
Orde Baru. Apabila hanya sepintas melihat perkembangan ini, dengan transformasi struktural
dari pertanian ke industri, maka semua kelompok usaha akan ikut menikmati kemajuan yang
sama. Sehingga kelompok industri manufaktur skala kecil juga mengalami kemajuan yang sama.

          Secara makro proses pemulihan ekonomi Indonesia belum terjadi karena indeks output
pada tahun 2001 ini belum kembali pada tingkat sebelum krisis (1997), Perkembangan yang
terjadi pada grafik 1 memperlihatkan bahwa indeks PDB keseluruhan baru mencapai 95% dari
tingkat produksi 1997. Sektor yang tumbuh dengan krisis adalah sektor listrik, gas, air minum
yang pada 4 tahun terakhir ini tumbuh dengan rata-rata diatas 5%/tahun. Hal ini antar lain
disamping output yang meningkat terutama disebabkan oleh penyesuaian harga yang terus
berjalan.

          Jika kita cermati secara lebih rinci penyumbang PDB atas dasar sektor pelaku usaha akan
terlihat jelas adanya ketimpangan tersebut. Tabel 1 menyajikan perbandingan peran 5 besar
penyumbang PDB menurut sektor dan kelompok usaha, Sejak sebelum krisis ekonomi, hingga
mulai meredanya krisis terlihat bahwa ranking 1 (satu) penyumbang PDB adalah kelompok
usaha besar pada sektor industri pengolahan dengan sumbangan berkisar 17-19 % selama 1997-
2001. Ini berarti bahwa untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi semata, ekonomi kita tetap
bersandar pada bangkitnya kembali industri pengolahan besar dengan aset diatas Rp. 10 miliar di
luar tanah dan bangunan. Sektor industri skala besar hanya terpukul pada saat puncak krisis
1998, dimana pertumbuhan ekonomi kita mengalami pertumbuhan negatif 13,4% ketika itu. Dan
setelah itu ketika pemulihan ekonomi mulai bergerak maka kelompok ini kembali mengambil
porsi nya.

Pertanyaan yang menarik adalah apakah industri kecil dan menengah tidak bangkit,
padahal pada kelompok usaha kecil di seluruh sektor telah mengalami pergeseran peran dengan
sumbangan terhadap PDB yang meningkat dari 38,90% pada tahun 1996 atau 40,45% pada tahun
1997 menjadi 43,08% pada tahun 1999 ? Pada sektor industri pengolahan ternyata tidak terjadi
perubahan sumbangan usaha kecil yang nyata yakni : 3,90%, 4,03%, 3,85%, 3,74% dan 3,79%
berturut–turut untuk tahun 1997, 1998, 1999, 2000 dan 2001. Berarti secara riil tidak ada
kemajuan yang berarti bagi peran industri kecil, yang terjadi justru kemerosotan pada beberapa
kelompok industri. Dengan gambaran ini memang belum dapat disimpulkan bahwa industri kecil
mampu menjadi motor pertumbuhan, sementara industri skala menengah keadaannya jauh lebih
parah di banding usaha kecil, sehingga tidak mampu memanfaatkan momentum untuk mengisi
kemunduran dari usaha besar dan paling terpukul pada saat krisis memuncak pada tahun 1998-
1999. Salah satu sebabnya diduga dikarenakan tingginya ketergantungan usaha menengah
terhadap usaha besar, baik karena ketergantungan sebagai industri sub-kontrak maupun
ketergantungan pasar dan bahan baku terhadap industri besar.                                          
            Selanjutnya penyumbang terbesar kedua adalah kelompok usaha kecil sektor pertanian
yang menyumbang sekitar 13-17 % selama periode 1997-2001. Hal yang menarik adalah posisi
relatif usaha kecil sektor pertanian yang sangat bergerak cepat dimasa krisis dan kembali
merosot ke posisi sebelum krisis. Hal ini perlu mendapatkan penelahaan yang mendalam. Salah
satu alasan yang dapat diterima adalah rendahnya harga output produk primer pertanian yang
bersamaan dengan naiknya harga input, terutama yang bersumber dari impor. Sektor pertanian
yang sangat di dominasi pertanian pangan memang sangat terbatas kemampuannya untuk
menjadi sumber pertumbuhan, terutama beras. Pangsa relatif yang membesar terutama
disebabkan kemunduran sektor lain ketika pertanian tidak terlalu terpukul, paling tidak tingkat
produksi fisiknya. Jika pada tahun 1997 Usaha Kecil sektor pertanian menyumbang sebesar
13,30% pada tahun 1998 dan 1999 meningkat mendekati  17 %, maka pada tahun 2001
diperkirakan akan terus kembali menjadi 13,93 % saja. Keadaan ini akan berlanjut sejalan
dengan menurunnya peran sektor pertanian dalam pembentukan PDB.

            Jika diperhatikan lebih lanjut dari tabel 1 maka sektor perdagangan hotel dan restoran
kelompok usaha kecil pada saat sebelum krisis menunjukan ranking ke 3 (tiga) dalam
sumbangannya pada pembentukan PDB, berarti Usaha Kecil sektor ini sangat penting bagi
pembentukan PDB dan penyediaan lapangan kerja dengan sumbangan diatas 11 % terhadap PDB
kita. Namun sejak dua tahun terakhir ketika krisis mulai pulih posisi ranking ke 3 (tiga) mulai
digusur oleh sektor pertambangan kelompok usaha besar. Dengan demikian peran Usaha Kecil 
sektor perdagangan hotel dan restoran sebagai sumber pertumbuhan juga semakin merosot,
sehingga lampu merah sudah hampir tiba peran kelompok usaha kecil porsinya untuk
menghasilkan sumbangan bagi pertumbuhan PDB semakin kurang dominan. Sektor
pertambangan usaha besar bahkan sudah mendekati Usaha Kecil sektor pertanian.

 Sektor jasa-jasa menempati urutan kelima dengan sumbangan sekitar 4-5 % dan didominasi oleh
usaha besar. Sektor ini nampaknya tidak terlalu penting dalam menyumbang pertumbuhan,
namun jasanya sangat vital untuk mendukung pertumbuhan. Sektor jasa-jasa ini memiliki kaitan
yang luas dalam proses produksi dan distribusi dan memberikan dukungan yang sangat berarti.
Sektor jasa yang besar adalah jasa yang dihasilkan oleh pemerintah, karena peran pemerintah
dalam pengeluaran juga mempunyai peran yang penting.             
Pelajaran menarik dari hasil penelaahan ini adalah bahwa dalam proses transisi yang terjadi
selama krisis, kemajuan relatif yang dicapai oleh UKM hanya karena mandegnya usaha besar.
Usaha menengah tidak mungkin bergerak tanpa dukungan jasa keuangan perbankan yang
fleksible sehingga ketika bank rontok maka usaha menengah juga tidak mampu berbuat apa-apa,
usaha kecil bertahan karena dia harus hidup.

 
Hambatan Usaha Kecil sebagai Motor Pertumbuhan

            Memperhatikan analisis pada bagian sebelumnya dapat kita catat bahwa potensi usaha
kecil sebagai motor pertumbuhan ekonomi bagi pemulihan krisis ekonomi. Untuk dapat
mencerna secara tepat faktor-faktor yang menjadi kendala bagi ekspansi usaha kecil maka
diperlukan pendalaman dengan membuat disagregrasi kelompok usaha kecil. Sebagaimana
diketahui sesuai hasil pengolahan data tahun 1993 dari sektor usaha kecil sekitar 97% terdiri dari
usaha kecil-kecil (mikro) dengan omset dibawah Rp. 50 juta,-. Dengan demikian mayoritas
usaha kecil adalah usaha mikro dan sebagian terbesar berada di sektor pertanian dan
perdagangan, hotel dan restoran.
            Masalah mendasar yang membatasi ekspansi usaha kecil adalah realitas bahwa
produktivitasnya rendah sebagaimana diperlihatkan oleh nilai tambah/tenaga kerja. Secara
keseluruhan perbandingan nilai tambah/tenaga kerja untuk usaha kecil hanya sekitar seper
duaratus (1/200) kali nilai tambah/tenaga kerja untuk usaha besar. Jika dilihat periode sebelum
krisis dan keadaan pada saat ini ketika mulai ada upaya ke arah pemulihan ekonomi. Pada tahun
2001, mengecil menjadi 0,55. Hal ini menunjukkan bahwa potensi untuk menutup gap antara
produktivitas UK dan UB malah menjadi semakin tipis, atau jurang perbedaan produktivitas
(nilai tambah/tenaga kerja) akan tetap besar.
            Sudah menjadi pengertian umum bahwa produktivitas sektor industri, terutama industri
pengolahan seharusnya mempunyai nilai tambah yang lebih besar. Sebenarnya sektor pertanian
memiliki produktivitas terendah dalam pembentukan nilai tambah terutama di kelompok usaha
kecil yang hanya merupakan sekitar tiga perempat produktivitas usaha kecil secara keseluruhan
yang didominasi oleh usaha pertanian. Namun pengalaman Indonesia dimasa krisis menunjukan,
bahwa yang terjadi sebaliknya dengan demikian dalam suasana krisis masih sangat sulit
mengharapkan sektor industri kecil kita untuk diharapkan menjadi motor pertumbuhan untuk
pemulihan ekonomi.
            Pembentukan nilai tambah/tenaga kerja untuk kelompok usaha yang sama (usaha kecil)
diberbagai sektor dapat menggambarkan potensi peningkatan produktivitas melalui transformasi
dari sektor tradisional ke sektor modern misalnya dari sektor pertanian ke sektor industri dan
perdagangan. Rasio nilai tambah/TK untuk UK-pertanian dibanding UK-Industri pengolahan
mengalami peningkatan dari 0,74 pada tahun 1997 menjadi 0,82 pada tahun 2001. Peningkatan
ini menggambarkan bahwa industri pengolahan semasa krisis tidak memberikan kontribusi nyata
dalam perbaikan produktivitas dibanding usaha kecil di sektor pertanian. Alasan lain yang dapat
menjelaskan fenomena tersebut adalah kenyataan bahwa di sektor industri selama krisis sebagian
besar berproduksi dibawah kapasitas penuh atau bahkan menganggur sehingga nilai tambah/TK
tidak memunjukkan peningkatan yang berarti.
              Pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah apakah sub-sektor industri kecil mampu di
gerakan dalam jangka pendek, karena terbukti selama tiga tahun melewati krisis
kecenderungannya sama yakni sekedar bertahan dari keterpurukan lebih parah. Untuk melihat
potensi relatif sektor industri sebagai instrumen transformasi sektor tradisional (pertanian) ke
modern (industri pengolahan) atau proses ke lanjutan untuk nilai tambah, maka dapat dilihat
kemajuan relatif produktivitas kedua sektor untuk usaha kecil. Rasio nilai tambah/tenaga kerja
pada tahun 1997 sebesar 0,55 berubah menjadi 0,56 pada tahun 2001 ini berarti tidak terjadi
kemajuan yang berarti dalam perbaikan produktivitas, atau krisis justru menyebabkan “back
push” atau dorongan ke belakang ke sektor tradisional. Secara empiris kesimpulan ini juga
didukung oleh banyaknya profesional dari sektor modern yang terkena dampak krisis kembali
melakukan alih usaha ke sektor agribisnis, karena pasarnya jelas dan peluangnya  masih cukup
besar.  
Hambatan untuk meningkatkan produktivitas usaha kecil mikro tidak terlepas dari
kemampuan mengadopsi teknologi termasuk untuk alih usaha, alih kegiatan, alih komoditas.
Karena selama ini meskipun mereka telah mengalami transformasi dari sektor pertanian ke non
pertanian namun tetap dalam papan bawah. Apabila keadaan ini tidak dapat didobrak maka yang
terjadi adalah apapun program yang dicurahkan bagi pengembangan usaha mikro tidak berhasil
meningkatkan nilai tambah. Atau jika berhasil nilai tambah tersebut diserap oleh sektor lain yang
menyediakan input atau jasa pendukung bagi usaha mikro. Gambaran ini mengindikasikan
bahwa industri kecil tidak dapat memikul harapan yang terlampau besar untuk menjadi motor
pertumbuhan.
  
Prasyarat Bagi Memajukan UKM        
            Posisi UKM, terutama usaha kecil di dominasi oleh dua sektor yakni sektor pertanian dan
perdagangan hotel dan restoran, sehingga fokus lebih besar juga harus ditujukan kepada kedua
kelompok ini. Pada sektor perdagangan, hotel dan restoran persoalannya sangat rumit karena
sektor ini sangat mudah dimasuki oleh UK baru meskipun dengan keterampilan rendah.
Sehingga barrier perbaikan produktivitas  sangat tinggi karena adanya kompetisi yang tajam
terutama di sub – sektor perdagangan eceran.
            Untuk sektor pertanian untuk mendobrak kungkungan produktivitas/TK yang rendah
harus disertai dengan perubahan mendasar paradigma pengembangan pertanian. Mendorong
pertumbuhan produktivitas fisik tanpa diimbangi dengan pergeseran pada kegiatan bernilai
tambah tinggi hanya akan sia – sia. Untuk itu peningkatan kapasitas serap atau kepadatan
investasi disektor pertanian harus menjadi acuan baru untuk menggerakkan pertanian. Sub sektor
pertanian tanaman pangan harus didorong untuk menghasilkan produk – produk yang bernilai
tambah tinggi dan kekangan melalui program komoditas perlu dilonggarkan. Hal ini sejalan
dengan semangat keterbukaan dalam perdagangan, sehingga berbagai hambatan tarif dengan cara
perlahan harus mulai diturunkan.             
            Jika dilihat struktur usaha kecil, maka dapat dipisah kan menjadi dua kelompok besar
yaitu usaha mikro dan usaha kecil. Berdasarkan perkiraan BPS (2001) terdapat lebih dari 40 juta
unit usaha dan hanya 57,473 usaha menengah serta 2095 usaha besar. Jika perubahan besar
dalam distribusi antara usaha mikro dan usaha kecil dalam kelompok usaha yang memiliki omset
dibawah Rp. 1 miliar tidak banyak berubah, maka sebenarnya jumlah usaha kecil yang memiliki
omset diatas Rp. 50 juta/tahun hanya dibawah 1 juta sementara 39 juta lainnya adalah usaha
mikro yang omset nya hanya berada dibawah Rp. 50 juta/tahun dan populasi terbesar berada di
sektor pertanian (rumah tangga) dan perdagangan umum, terutama perdagangan eceran. Untuk
membangun UKM di Indonesia agar dapat menjadi mesin pertumbuhan diperlukan reformasi
kebijakan yang mendasar.  
Prof. Urata yang memimpin misi ahli pemerintah Jepang untuk membantu merumuskan
kebijakan UKM dalam rangka pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun 1999-2000,
mengemukakan bahwa potensi UKM Indonesia cukup besar untuk pemulihan ekonomi. Namun
pemerintah harus menentukan pilihan yang menjadi fokus perhatian yaitu pada UKM yang
viable saja. UKM viable yang dimaksud adalah mereka yang dengan sentuhan sedikit saja akan
mampu berkembang sebagaimana lazimnya usaha yang mampu bersaing di pasar Internasional
dan mampu memanfaatkan jasa perbankan modern. Kelompok  ini sangat berbeda dengan
kelompok mikro yang memiliki motif utama untuk bertahan atau “Survival” untuk menopang
kehidupan mereka.  
Reformasi kebijakan pembinaan yang diperlukan termasuk pemisahan atau
pengembangan usaha kecil (usaha mikro) untuk tujuan penanggulan kemiskinan dan usaha
pengembangan UKM untuk tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan ekspor. Penanganan
ini akan sangat penting untuk menghindari kesimpang siuran konsep dan strategi pembinaan
yang dapat membingungkan bagi khalayak sasaran dan para pelaksana di daerah. Masalah ini
secara khusus memang memerlukan peninjauan yang mendalam, karena adanya “dismatching”
antara undang-undang, pengorganisasian pembinaan oleh pemerintah dan tuntutan pasar.
Masalah UKM tidak dapat dikerjakan oleh satu instansi saja, tetapi juga bukan merupakan kerja
semua instansi.  
Secara legal setiap usaha yang ada di berbagai sektor ekonomi menurut pengertian UU
No.9/1995 dapat dikategorikan sebagai usaha kecil sepanjang omset nya berada di bawah Rp. 1
miliar, memiliki aset kurang dari Rp. 200 juta di luar tanah dan bangunan dan bukan merupakan
anak perusahaan dari usaha besar. Cakupan yang luas dan melebar memang menyebabkan fokus
pengembangan sering tidak efektif, karena karakter dan orientasi bisnis yang dijalankan oleh
para pemilik usaha, jika digunakan basis penyediaan pembiayaan sebagai pengolah pakar maka
usaha kecil dalam pengertian UU No. 9/1995 dapat dibedakan menjadi tiga kelompok:  
1.         Kelompok usaha mikro dengan omset dibawah Rp. 50 juta yang diperkirakan merupakan 97 %
dari seluruh populasi usaha kecil.
2.        Kelompok usaha kecil dengan omset antara Rp. 50 juta – Rp. 500 juta yang jumlahnya relatif
kecil hanya sekitar 2 % dari seluruh populasi usaha kecil.
3.        Kelompok usaha kecil menengah mungkin dapat kita sebut usaha mikro yang memiliki omset
antara Rp. 500 juta – Rp. 1 miliar dan relatif sangat kecil jumlahnya yaitu kurang dari 1 % atau
tepatnya sekitar 0,5 % saja
Dalam kelompok usaha mikro sendiri sebenarnya masih terdapat perbedaan yang
mencolok dalam setiap lapisan skala bisnis. Namun demikian kelompok usaha mikro ini dapat
kita golongkan ke dalam program penyediaan lapangan kerja untuk penanggulangan kemiskinan.
Dalam kaitan ini didalamnya termasuk pada orientasi yang bersifat penciptaan katup pengaman
dan penciptaan dinamika kelompok untuk perbaikan produktivitas. Arah dari program ini adalah
menahan agar tidak terjadi kemerosotan taraf hidup ke arah jurang yang lebih dalam, sehingga
tidak menimbulkan korban bagi perekonomian secara keseluruhan sehingga dapat digolongkan
dalam kelompok jaring pengaman sosial.  
Bagi usaha mikro yang merupakan kegiatan ekonomi riel, namun masih menghadapi
kendala struktural akibat kungkungan tradisi dan pengaruh kebijakan pembangunan di masa lalu.
Salah satu bukti kuat terjadinya kungkungan tersebut adalah rendahnya produktivitas per tenaga
kerja. Untuk mengangkat mereka dari kungkungan tersebut memang harus dilakukan dengan
penetapan prioritas yang tajam. Sebagai contoh di sektor pertanian rakyat, upaya khusus untuk
melihat berbagai kemungkinan mengangkat petani lahan luas (di atas 1 hektar) untuk dapat
keluar dari kelompok usaha mikro yang omset nya hanya berada dibawah Rp. 50 juta,-/tahun.  
Strategi dasar pembinaan usaha kecil untuk pertumbuhan, haruslah berani menetapkan
sasaran individual untuk mengangkat usaha mikro potensial menjadi usaha kecil. Penciptaan
usaha kecil baru ini mempunyai posisi kunci sebagai pendobrak kebekuan kungkungan
produktivitas rendah. Memperbanyak jumlah usaha mikro untuk keluar dari kelompoknya akan
membuat gerakan “Big Impact” dari bawah dari usaha kecil sendiri.  
Untuk penciptaan basis UKM yang kokoh pendekatan pengembangan Klaster
Bisnis/Industri perlu ditumbuh kembangkan. Kehadiran klaster yang senergik dari kegiatan hulu
ke hilir, atau antara kegiatan inti (pokok) dengan kegiatan pendukung, penyediaan bahan baku
dan outlet pemasaran akan mempercepat dinamika usaha di dalam klaster tersebut, termasuk
interaksi dengan usaha besar yang ada di kawasan tersebut atau terkait. Pendekatan klastering ini
pada dasarnya untuk mengefektifkan pola pengembangan dengan menjadikannya sebagai titik
pertumbuhan bagi bisnis UKM. Inti dari strategy penciptaan klaster yang terpadu dan kokoh
adalah membangun suatu sinergi untuk mencapai suatu “broad base economic growth” atau
pertumbuhan ekonomi dengan basis yang luas.   
Dari sisi dukungan yang diperlukan maka prasyarat utama adalah bahwa dalam semangat
otonomi setiap pemerintah daerah harus memberikan dukungan administratif dan lingkungan
kondusif bagi berkembangnya bisnis UKM. Ini menjadi mutlak karena dengan otonomi daerah
maka kewenangan pengaturan pemerintahan dan pembangunan secara lokal berada di daerah.
Kebijakan makro dan moneter secara nasional hanya bersifat memberikan arah dan sinyal alokasi
sumberdaya dan kesepakatan internasional terhadap dunia bisnis di daerah.  
Dukungan lain yang penting adalah dukungan non finansial dalam pengembangan bisnis
UKM. Sejumlah praktek terbaik dalam persuasi UKM melalui inkubator, kawasan berikat,
konsultasi bisnis maupun hubungan bisnis antar pengusaha dalam klaster harus dijadikan
pelajaran untuk mencari kesesuaian dengan jenis kegiatan atau industri dan kultur masyarakat
pengusaha, termasuk didalamya pengalaman kegagalan lingkungan industri yang mencoba
memindahkan lokasi untuk penciptaan klaster. Klaster yang inovatif akan tumbuh dengan
perkembangan kultur yang mendukung. Dukungan pengembangan bisnis semacam ini harus
ditumbuhkan menjadi suatu bisnis yang berorientasi komersial.  
Dan akhirnya dukungan finansial yang meluas harus didasarkan pada prinsip intermediasi
yang efesien. Berbagai lembaga pembiayaan yang sesuai harus  ditumbuhkan dan menjangkau
klaster-klaster yang telah berkembang, sehingga pilar bagi tumbuhnya bisnis UKM yang
didukung oleh kesatuan sistem produksi dan keberadaan bisnis jasa pengembangan bisnis serta
keuangan menjadi benar-benar hadir di kawasan klaster di maksud. Lembaga pembiayaan
dimaksud dapat berupa bank, lembaga keuangan bukan bank dan lembaga-lembaga keuangan
masyarakat sendiri (lokal).  
Dengan dua basis pendekatan tadi akan tercipta lapisan pengusaha yang dapat menjadi
lokomotif penarik bagi kemajuan masing-masing lapisan pengusaha. Sasarannya jelas
memperbanyak pengusaha mikro yang dapat segera lepas dari tiap usaha mikro dan selanjutnya
menjadikan klaster sebagai satuan bisnis yang layak dan mampu berkembang (Viable).
Persyaratan ini yang harus dipenuhi untuk menjadikan usaha kecil sebagai motor pertumbuhan.

LANGKAH-LANGKAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK UKM

Seperti dikatakan Korten (1980) di depan, bahwa titik pusat perhatian masa pasca industri adalah
pada pendekatan ke arah pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat. Pembangunan yang
memihak rakyat menekankan nilai pentingnya prakarsa dan perbedaan lokal. Kesejahteraan dan
realisasi diri manusia merupakan jantung konsep pembangunan yang memihak rakyat. Perasaan
berharga diri adalah sama pentingnya bagi pencapaian mutu hidup yang tinggi.

Inilah awal mula pijakan bahwa pemberdayaan bagi masyarakat sangatlah penting (termasuk
UKM), walaupun hal ini menurut Wirutomo, dkk (2003) bisa disebut sebagai hanya suatu
konteks pemecahan masalah ketegangan hubungan antar Negara (state) dengan masyarakat
(community) yaitu untuk menggeser tanggungjawab Negara dalam menanggulangi masalah
(termasuk kemiskinan) di masyarakat. Hal tersebut menurutnya hanya bisa apabila didukung
oleh kelembagaan lokal yang memiliki kapasitas dan kapabilitas sesuai dengan dinamika dan
tuntutan kebutuhan masyarakat. Secara konseptual pemberdayaan UKM terutama dapat
dilakukan dengan sistempemberdayaan pelaku UKM itu sendiri. Keberhasilan pemberdayaan
sangat bergantung pada partisipasi UKM sebagai pelaku maupun stakeholder lain yang turutserta
dan berperan dalam pengembangannya. Dalam hal ini lebih banyak menitikberatkan pada
metode “bottom up”, dimana perencanaan lebih diupayakan menjawab kebutuhan sasaran dan
dilakukan secara partisipatif. Dalam praktek pemberdayaan UKM, untuk menggugah partisipasi
masyarakat sasaran langkahlangkah yang dilakukan (Karsidi, 2005), adalah:

1. Identifikasi Potensi

2. Analisis Kebutuhan

3. Rencana Kerja Bersama

4. Pelaksanaan Program Kerja Bersama

5. Monitoring dan Evaluasi.

Identifikasi potensi, dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik Sumberdaya Manusia (SDM)


UKM dan lingkungan internalnya baik lingkungan sosial, ekonomi dan Sumberdaya Alam
(SDA) khususnya yang terkait dengan usahanya, maupun lingkungan eksternal UKM. Dengan
langkah ini diharapkan setiap gerak kemajuan dapat bertumpu dan memanfaatkan kemampuan
dan potensi wilayah masing-masing. Dalam identifikasi ini melibatkan stakeholder UKM dan
tokoh masyarakat maupun instansi terkait.
Analisis kebutuhan, tahapan analisis ini dilakukan oleh perwakilan UKM yang dapat difasilitasi
oleh Perguruan Tinggi/LSM/Swasta, maupun instansi terkait tentang berbagai kebutuhan dan
kecenderungan produk dan pasar. Dengan pola analisis kebutuhan semacam ini diharapkan
mampu mendorong terwujudnya manifestasi kebutuhan UKM selaku individu pengusaha dan
sebagai anggota kelompok. Dengan demikian antara individu pelaku UKM dan kelompok dapat
diharapkan saling beriringan dan saling mendukung dalam mencapai tujuan kemajuan bersama.

Rencana program kerja bersama, setelah kebutuhan dapat ditentukan maka kemudian disusun
sebuah rencana program kerja bersama untuk mencapai kondisi yang diinginkan berdasarkan
skala prioritas yang ditetapkan bersama. Dalam tahap ini baik Perguruan Tinggi/LSM/Swasta,
maupun instansi terkait sebagai fasilitator.

Pelaksanaan program kerja bersama, jikalau program kerja telah disepakati maka langkah
berikutnya adalah pelaksanaan program kerja. Dalam tahap ini fungsi instansi pemerintah terkait
selaku fasilitator, sedangkan Perguruan Tinggi/LSM/Swasta dapat bertindak selaku pemberi jasa
konsultansi. Sebagai konsultan, idealnya Perguruan Tinggi harus mendapatkan jasa dari layanan
yang diberikan kepada UKM. Kebutuhan akan permodalan UKM salah satunya dapat dipenuhi
dengan memperankan fungsi fasilitasi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) bagi pengrajin
maupun kelompok. KKMB ini lahir sebagai perubahan paradigma baru
terhadap UKM dari perbankan (lihat tabel 2), bahwa:

1. UKM mempunyai potensi menabung

2. Bank perlu aktif menjemput Bola

3. UKM membutuhkan kemudahan memperoleh kredit/layanan perbankan

4. Bank perlu memobilisasi tabungan dari UKM

5. Biaya dapat ditekan melalui pendekatan kelompok

6. Risiko dapat ditekan melalui pendekatan kelompok


Selain Bank memberikan kredit sebagai tugas utamanya, Bank dapat membantuUKM dengan
memberikan pendampingan (Technical Assistant/TA) baik dilakukan oleh Bank sendiri atau
bekerjasama dengan pendamping yang dibentuk oleh Perguruan Tinggi/LSM/Swasta.

Monitoring dan evaluasi, berfungsi tidak saja untuk mengetahui hasil pelaksanaan program
kerja bersama apakah yang dikerjakan sudah sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan
bersama, namun juga untuk membuat penyesuaian-penyusuaian jika diperlukan sesuai dengan
perubahan kondisi lingkungan.

PERLUASAN DAN PENERUSAN USAHA


Dari pengamatan selam 30  tahun, penulis melihat kenyataan bahwa , walau kebanyakan
perusahaan kecil tetap kecil atau hilang dari peredaran, toh sebagian besar ada yang berkembang
dan ada yang menjadi besar dan jaya. Tetapi banyak perusahaan kecil menemui kebuntuan ketika
bernjak menjadi besar. Hal ini sangat  mengejutkan dan sangat disayangkan secara rasional akan
hilangnya lapangan pekerjaan, pajak dan pajak potensial serta dampak social lainnya, yaitu yang
menyangkut pensuplai atau penyalur pada perusahaan itu.
Banyak orang, baik pengusaha itu sendiri, pejabat pemerintah dan masyarakat umum kurang
menyadari saling kaitan mata rantai perusahaan dan kehidupan masyarakat. Rontoknya salah
seorang pengusahana akan menjadi suatu kerugian secara langsung maupun secara tidak
langsung baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat.

Bab 3. Penutup
  
Usaha kecil dalam keadaannya yang ada tidak mungkin dijadikan motor pertumbuhan
karena populasi terbesar adalah usaha mikro yang pada intinya hanya bersifat sub sistem. Untuk
keluar dari jebakan ini maka strategi dasar adalah membebaskan diri untuk keluar dari usaha
mikro secara  meluas. Untuk pengembangan usaha kecil yang berdaya saing maka pendekatan
klaster bisnis usaha kecil / industri kecil dapat dijadikan dasar penciptaan dinamika yang luas
bagi penciptaan basis pertumbuhan yang luas (broad base economic growth). 
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. UKM dengan jumlah unit usaha berjumlah besar tersebut memiliki peran lebih besar memberikan
kontribusi pada perekonomian nasional dibanding UB.
2.   Melalui simulasi peningkatan jumlah unit usaha, peran UKM terlihat pada kenaikan investasi,
kemajuan teknologi, kenaikan produksi, ekspor, dan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi baik
pada sektor-sektor ekonomi berorientasi domestik maupun pada sektor-sektor berorientasi
ekspor. Kenaikan yang terjadi pada sektor berorientasi ekspor jauh lebih tinggi dibanding sector
berorientasi domestik kecuali investasi

DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Pusat Statistik (BPS) ; Pengukuran dan Analisis Ekonomi Kinerja Penyerapan
Tenaga Kerja, Nilai Tambah dan Ekspor Usaha Kecil dan Menengah, BPS, Jakarta,
September 2001;
2. Badan Pusat Statistik (BPS) ; Pengukuran Perkembangan Modal Tetap Bruto (Investasi)
Usaha Kecil Menengah, BPS-BPSKPKM,, Jakarta, Indonesia, Oktober 2001;
3.  Noer Soetrisno; Science and Technology Policy and Strategy For Establishing ST
Business Program : The Indonesia’s SME Perspective, The International Journal of
IIFTIHAR, January 2001;
4. Shunjiro Urata; Policy Recommendation for SME Promotion in The Republic of
Indonesia, Report of Study team under JICA program, July 2000.
5. Tulus Tambunan T.H, Dr ; Kinerja Ekspor Manufaktur Indonesia, Kompartemen Industri
Logam Dasar & Mesin dan LP3E Kadin Indonesia, Jakarta, Indonesia 2001.

Efisiensi Energi tidak hanya dapat dilakukan di industri-industri skala besar; bahkan industri
skala kecil menengah pun memiliki potensi untuk melakukan hal tersebut. Hanya saja, skala
produksinya yang kecil membuat industri-industri seperti ini tidak mendapatkan banyak
perhatian. Bercermin dengan keadaan tersebut, Institute for Essential Services Reform (IESR)
bersama dengan Kementerian Perindustrian, didukung oleh Kedutaan Besar Inggris di Indonesia,
mengadakan sebuah lokakarya (workshop) mengenai Efisiensi Energi di Industri Kecil
Menengah, yang bertempat di Hotel Lumire pada tanggal 27 Maret 2012 yang lalu. Lokakarya
ini memaparkan kegiatan-kegiatan Industri Kecil dan Menengah yang dilakukan di Indonesia
serta kaitannya dengan efisiensi energi. Diharapkan melalui kegiatan ini para peserta dapat saling
bertukar pikiran dan pengalaman, untuk membuat benchmarking dari konsumsi energi di Industri
Kecil Menengah. Beberapa pemaparan yang disampaikan  dan narasumber yang hadir pada
lokakarya tersebut adalah :

1. Efisiensi dan Diversifikasi Energi di Industri Kecil dan Menengah oleh Ir. Luciawati
Sunarjo, MT, Kepala Bidang Pengkajian Industri Hijau
2. Potensi dan regulasi efisiensi energi oleh Harris, ST dari Direktorat Jenderal Konservasi
Energi, Kementerian ESDM
3. Potensi Penurunan Emisi GRK di Industri Kecil Menengah oleh Ir. Sinta D. Sirait, MSc.,
Kepala Bidang Pengkajian Industri Hijau
4. Potensi dan Tantangan Industri Kecil Menengah Nasional oleh Rismawarni Marcel,
Direktur Pusat Produksi Bersih Nasional
5. Teknologi inovatif (energy efficiency dan low carbon) untuk Industri Kecil Menengah
oleh Rafles Simatupang, Direktur Tigapena Sigma Energi

Workshop ini dibuka oleh Ibu Ir. Tri Reni Budiharti selaku Kepala Pusat Pengkajian Industri
Hijau dan Lingkungan Hidup Kementerian Perindustrian; Bapak Ir. Sanusi selaku Kepala Bagian
Program Evaluasi dan Pelaporan Kementerian Perindustrian; serta Bapak Fabby Tumiwa selaku
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR).

Kebijakan Pengembangan Industri Hijau

Kebijakan pengembangan industri hijau mulai dikembangkan atas dasar kesadaran warga negara
terhadap dampak negatif berupa permasalahan lingkungan akibat dari limbah industri serta
pemanfaatan sumber daya alam yang tidak efisien. Selain itu juga, keterbatasan sumber daya
alam, mengenai krisis energi dan menurunnya daya dukung lingkungan, juga menjadi salah satu
pemicu untuk Indonesia saat mulai menerapkan industri hijau (green industry). Disetujuinya
Peraturan Presiden nomor 61 tahun 2011, mengenai Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi
Gas Rumah Kaca, dan 71 tahun 2011, mengenai Inventori Gas Rumah Kaca, menjadi beberapa
pondasi kebijakan agar industri dapat berkontribusi dalam pengurangan emisi dan penggunaan
listrik.

Ibu Luciawati mengemukakan bahwa di dalam RUU Perindustrian, yang dimaksud dengan
Industri Hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya-upaya
efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu
menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat
memberikan manfaat bagi masyarakat.

Lebih jauh lagi Ibu Lucia mengatakan bahwa, terkadang, yang disebut dengan industri hijau
tidak melulu harus penggunaan teknologi yang baru. Dengan melalukan pengelolaan
internal/housekeeping, industri juga dapat mencapai kategori industri hijau.
Tentu saja penerapan industri hijau (terutama untuk skala industri kecil menengah), mengubah
industrinya menjadi industri hijau: meningkatkan profitabilitas (keuntungan) dengan
menggunakan efisiensi sehingga biaya operasionalya bisa berkurang.

Dalam pengembangannya, terdapat beberapa tantangan dan strategi pengembangan industri hijau
yang ditawarkan: (1) Penggantian mesin, (2) Penghargaan bagi kalangan industri yang telah
mewujudkan industri hijau, (3) Insentif dirumuskan dengan cara menerapkan pola insentif bagi
industri untuk menerapkan industri hijau. Strategi pengembangan yang dikemukakan oleh
Kemenperin adalah pengembangan kerjasama internasional terkait dengan perumusan kebijakan
dan pendanaan dalam pembangunan dan pengembangan  industri hijau, memperkuat kapasitas
institusi untuk mengembangkan industri hijau, membangun koordinasi antara pemerintah,
masyarakat, dan sektor swasta, mensosialisasikan kebijakan dan regulasi teknis yang terkait,
serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, transfer teknologi, serta memperkuat
penelitian dan pengembangan.

Kementerian Perindustrian memiliki beberapa agenda untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan


industri hijau, di antaranya adalah:

1. Aspek teknologi: menggunakan mesin ramah lingkungan melalui program restrukturisasi


permesinan untuk industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki dan gula
2. Peningkatan kapasitas: memberikan pelatihan kepada pelaku industri dan aparatur, serta
menyusun pedoman teknis produksi bersih
3. Pemberlakuan kebijakan teknis: perlindungan terhadap lapisan ozon melalui
pengendalian penggunaan Bahan Perusak Ozon (BPO) secara bertahap sebagaimana
tercantum dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 33 tahun 2007 tentang larangan
memproduksi bahan perusak lapisan ozon serta memproduksi dengan menggunakan BPO

Kebijakan Energi di Industri Kecil Menengah

Menurut data yang dipaparkan oleh Bapak Haris dari Direktorat Jenderal Energi Baru
Terbarukan dan Konservasi Energi, pertumbuhan permintaan energi di Indonesia mencapai 7%
per tahun, termasuk di dalamnya pertumbuhan permintaan untuk industri kecil dan menengah.
Penggunaan energi di Indonesia pun dinilai belum efisien dimana penggunaan energi primer
yang tercatat adalah 46,8% berasal dari minyak bumi; 23,9% batu bara; 1,2% berasal dari panas
bumi; dan 3,8% dari air. Komposisi pemanfaatan energi primer seperti di atas menghasilkan
CO2 hingga 370 juta ton CO2.

Idealnya, energi per kapita yang diinginkan untuk dimiliki oleh Indonesia seharusnya meningkat
(saat ini ada di level 3,34 BOE[1] per kapita)[2]; namun, bukan berarti harus boros, karena
peningkatan angka ini seharusnya sangat berkaitan dengan produktivitas.

Tekait dengan kebijakan energi yang berlaku di Indonesia saat ini, arah yang diberlakukan
adalah penggunaan energi terbarukan hingga 25%. Walau demikian, butuh upaya besar dalam
mencapainya, dimana konservasi energi juga memainkan peran penting dan harus dilakukan.
Apabila konservasi energi tidak dilakukan, maka penggunaan energi dapat mencapai 4 kali lipat
dari yang ada saat ini. Perlu dicermati pula, bahwa Undang Undang No. 30/2007 mengenai
Energi, pasal 25 mengenai konservasi energi, tidak hanya mencakup konservasi energi saja,
namun juga konservasi energi sampai tahap produksi.

Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Kementerian Perindustrian juga menyadari mengenai potensi penurunan gas rumah kaca melalui
industri-industri yang ada; baik skala besar, maupun skala kecil. Dalam pemaparan Ibu Ir. Sinta
D. Sirait, MSc., berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2011, Industri ditargetkan
untuk menurunkan 0,001 Giga ton CO2 ekivalen untuk skenario penurunan emisi sukarela
sebesar 26%, atau 0,005 Giga ton CO2 ekivalen untuk skenario penurunan emisi gas rumah kaca
hingga 41%. Untuk mendukung hal tersebut Industri Kecil Menengah juga memiliki peran dalam
pencapaian target yang telah ditetapkan.

Potensi dan Tantangan IKM Nasional

Lokakarya ini juga memamparkan beberapa kasus nyata dari kegiatan energi efisiensi. Salah
satunya adalah kegiatan energi efisiensi sebagai hasil dari PPBN (Pusat Produksi Bersih
Nasional) yang pada tahun 2011 memfasilitasi penerapan produksi bersih di 200 UKM Batik.
Dampak dari kegiatan ini meliputi:

-        Penghematan lebih dari Rp. 1,7 miliar

-        Penghematan minyak tanah sebesar 22 ton minyak tanah

-        Pengurangan emisi CO2 ekivalen sebesar 95 ton

-        Penghematan penggunaan solar hingga 12473 L

-        Penghematan penggunaan air hingga lebih dari 1 juta liter

-        Penghematan penggunaan gas sebesar 6607 kg

Beberapa hal yang dilakukan guna menerapkan hal tersebut adalah dengan melihat sumber
permasalahan dengan cara yang lebih baik, mengembangkan teknologi tepat guna, dan
melakukan pembinaan dengan intensif. Pada kesempatan ini, Ibu Rismawati Marcel
memapaparkan permasalahan di Industri Kecil Menengah pada umumnya, meliputi:

1. Internal
1. Kurangnya kesadaran dari IKM mengenai pentingnya penghematan energi
2. Kebiasaan kerja IKM yang kurang efisien
3. Keterbatasan informasi dan pengetahuan IKM untuk menerapkan efisiensi energi
4. Keterbatasan dana IKM untuk investasi teknologi yang efisien
5. Eksternal
1. Ketersediaan sumber daya yang makin terbatas
2. Meningkatnya harga sumber daya
3. Persaingan usaha yang semakin ketat
4. Tuntutan pasar akan produk yang murah dan ramah lingkungan

Seringkali permasalahan tersebut tidak pernah disasar pada saat pengucuran dana berlangsung.
Dana-dana yang ditujukan untuk industri kecil dan menengah lebih banyak digunakan untuk
implementasi proyek tanpa memperhitungkan aspek kontinyuitas dari kegiatan itu sendiri serta
dampaknya bagi masyarakatnya. Padahal, apabila dapat dipertahankan, maka keuntungan-
keuntungan yang didapat akan sangat banyak.

Teknologi Inovatif (energy efficiency dan low carbon) untuk Industri Kecil Menengah
(IKM)

Selain dari usaha pembatikan, penggunaan teknologi yang inovatif juga dapat menuntun kita
pada efisiensi energi yang pada saat yang bersamaan mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah
satu teknologi inovatif yang dikembangkan saat ini adalah boiler dan furnace untuk industri
keramik.

Beberapa boiler dan/atau furnace dinilai tidak efisien karena  umur dan sistem yang digunakan
sudah tua (lebih dari 20 tahun), efisiensi teknologi yang digunakan rendah, juga kurangnya
manajemen dari sisi operasi dan pemeliharaan. Kurangnya kesadaran merupakan hal yang paling
penting untuk dicermati, terutama karena banyak orang beranggapan bahwa teknologi dengan
efisiensi yang tinggi, memerlukan investasi yang tinggi juga, namun tidak memperhitungkan
biaya operasional yang dapat dihemat.

Selain itu, fluktuasi proses produksi, control and monitoring yang masih beroperasi manual, over
size/capacity, serta kurangnya pemahaman terhadap teknik konservasi energi.