Anda di halaman 1dari 33

I.

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3,
yaitu: Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali; Masalah yang belum
dapat diselesaikan (un-finished); dan Masalah gizi yang sudah meningkat dan
mengancam kesehatan masyarakat (emerging). Stunting tidak hanya disebabkan oleh
satu faktor saja tetapi disebabkan oleh banyak faktor, dimana faktor-faktor tersebut
saling berhubungan satu dengan lainnya. Ada tiga faktor utama penyebab stunting
yaitu asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam
makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air), riwayat berat
badan lahir rendah (BBLR), dan riwayat penyakit. Secara garis besar penyebab
stunting dapat dikelompokkan kedalam 3 tingkatan yaitu tingkat masyarakat, rumah
tangga (keluarga), dan individu.
Di dunia, lebih dari 2 juta kematian anak dibawah umur 5 tahun berhubungan
langsung dengan gizi buruk terutama akibat stunting dan wasting, dan sekitar 1 juta
kematian akibat kekurangan vitamin A dan zinc. Satu dari tiga anak berusia di bawah
5 tahun atau sekitar 178 juta anak yang hidup di negara miskin dan berkembang
mengalami kekerdilan (stunted), 111,6 juta hidup di Asia dan 56,9 juta hidup di
Afrika. Sedangkan menurut data yang dikeluarkan oleh UNICEF, terdapat sekitar
195 juta anak yang hidup di negara miskin dan berkembang mengalami stunting
(Shashidar, 2009).
Di Asia, angka kejadian stunting tinggi yaitu sekitar 36 % dengan prevalensi
kejadian tertinggi berada di kawasan Asia Selatan. Di Asia Selatan, setengah dari
jumlah total anak d ibawah 5 tahun mengalami stunted, dimana sekitar 61 juta dari
jumlah total anak di bawah 5 tahun yang mengalami stunted terjadi di India
(Reduction of stunting, 2010).
Di Indonesia, diperkirakan 7,8 juta anak berusia dibawah 5 tahun mengalami
stunting, data ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF dan
memposisikan Indonesia masuk kedalam 5 besar negara dengan jumlah anak di
bawah 5 tahun yang mengalami stunting tinggi. Hasil Riskesdas 2007 menunjukkan
angka kejadian stunting secara nasional sebesar 36,7 % yang berarti 1 dari 3 anak d
ibawah 5 tahun mengalami stunting. Meskipun telah terjadi penurunan angka

1
kejadian stunting pada Riskesdas 2010 menjadi 35,7 %, namun di beberapa Provinsi
di Indonesia terutama di kawasan timur Indonesia menunjukkan peningkatan angka
kejadian stunting.
Salah satu penyebab tidak langsung dari masalah stunting adalah pemberian
asi ekslusif. Berbagai hasil penelitian menyatakan bahwa tidak diberikannya asi
secara eksklusif sangat berhubungan erat dengan angka kejadian stunting.

B. PERUMUSAN MASALAH
Apakah terdapat hubungan antara pemberian asi eksklusif dengan angka
kejadian stunting di Posyandu Budi Rahayu 1 Desa Karanganyar Kecamatan
Karanganyar?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan antara pemberian asi eksklusif dengan angka
kejadian stunting di Posyandu Budi Rahayu 1 Desa Karanganyar Kecamatan
Karanganyar.
2. Tujuan Khusus
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk:
a. Mengetahui presentase balita stunting di Posyandu Budi Rahayu 1 Desa
Karanganyar
b. Mengetahui pemberian asi eksklusif di Posyandu Budi Rahayu 1 Desa
Karanganyar

D. MANFAAT
1. Manfaat Teoritis
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah pengembangan ilmu di bidang
gizi khususnya stunting beserta beberapa faktor yang mempengaruhinya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi masyarakat
Hasil penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi
masyarakat dalam memperbaiki status gizi sejak dini sehingga mencegah
terjadinya stunting.

2
b. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
untuk penyusunan strategi dan kebijakan dalam penyusunan program gizi
dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
c. Bagi pendidikan
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi tambahan kepustakaan dalam
pengembangan ilmu di bidang gizi.
d. Bagi peneliti
Peneliti dapat memperoleh pengalaman baru dalam merumuskan, melakukan
dan menyusun penelitian, serta dapat mengaplikasikan hasil penelitian dalam
kehidupan sehari-hari.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Stunting
Menurut data yang dilansir WHO, 178 juta anak di bawah lima tahun
mengalami stunting. Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat
pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan
populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan dimana
tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih
pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). stunting
adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD), ditandai dengan
terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai
tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia anak. stunting merupakan
kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan
sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak (Dinkes Sumsel).
Balita Pendek (Stunting) adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
PB/U atau TB/U dimana dalam standar antropometri penilaian status gizi anak,
hasil pengukuran tersebut berada pada ambang batas (Z-Score) <-2 SD sampai
dengan -3 SD (pendek/ stunting) dan <-3 SD (sangat pendek / severely stunting).
Stunting adalah perawakan pendek yang timbul akibat malnutrisi yang lama
(Candra, 2013). Menurut Millennium Challenge Account-Indonesia, stunting
adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang
dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru
nampak saat anak berusia dua tahun. Kekurangan gizi pada usia dini
meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah
sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif
para penderita juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka
panjang bagi Indonesia.

Stunting yang telah tejadi bila tidak diimbangi dengan tumbuh kejar
mengakibatkan menurunnya pertumbuhan, masalah stunting merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan,

4
kematian dan hambatan pada pertumbuhan baik motorik maupun mental.
Stunting dibentuk oleh growth faltering dan catcth up growth yang tidak
memadai yang mencerminkan ketidakmampuan untuk mencapai pertumbuhan
optimal, hal tersebut mengungkapkan bahwa kelompok balita yang lahir dengan
berat badan normal dapat mengalami stunting bila pemenuhan kebutuhan
selanjutnya tidak terpenuhi dengan baik.

B. Gejala Stunting
Menurut Dinas Kesehatan anak yang mengalami stunting ini memiliki
ciri-ciri atau gejala-gejala sebagai berikut:
a. Anak yang stunted, pada usia 8-10 tahun lebih terkekang/tertekan (lebih
pendiam, tidak banyak melakukan eye-contact) dibandingkan dengan anak
non-stunted jika ditempatkan dalam situasi penuh tekanan.
b. Anak dengan kekurangan protein dan energi kronis (stunting)
menampilkan performa yang buruk pada tes perhatian dan memori belajar,
tetapi masih baik dalam koordinasi dan kecepatan gerak.
c. Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah 5cm/tahun
decimal
d. Tanda tanda pubertas terlambat (payudara, menarche, rambut pubis,
rambut ketiak, panjangnya testis dan volume testis
e. Wajah tampak lebih muda dari umurnya
f. Pertumbuhan gigi yang terlambat

C. Klasifikasi Stunting

Menurut Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan cara
penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan dengan berbagai
macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat
umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan
adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U),
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) yang dinyatakan dengan standar
deviasi unit z (Z- score). Stunting dapat diketahui bila seorang balita sudah
5
ditimbang berat badannya dan diukur panjang atau tinggi badannya, lalu
dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada dibawah normal. Jadi secara
fisik balita akan lebih pendek dibandingkan balita seumurnya.
Penghitungan ini menggunakan standar Z score dari WHO. Normal,
pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat
pendek) (Nailis, 2016).
Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan indikator tinggi badan
per umur (TB/U).
I. Sangat pendek : Zscore < -3,0
II. Pendek : Zscore < -2,0 s.d. Zscore ≥ -3,0
III. Normal : Zscore ≥ -2,0 13
Dan di bawah ini merupakan klasifikasi status gizi stunting berdasarkan
indikator TB/U dan BB/TB.
I. Pendek-kurus : -Zscore TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB < -2,0
II. Pendek-normal : Z-score TB/U < -2,0 dan Zscore BB/TB antara -
2,0 s/d 2,0
III. Pendek-gemuk : Z-score ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0

D. Penyebab Stunting
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada anak.
Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari diri anak itu sendiri maupun dari luar
diri anak tersebut. Faktor penyebab stunting adalah asupan gizi dan adanya
penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah pola asuh,
pelayanan kesehatan, ketersedian pangan, faktor budaya, ekonomi dan masih
banyak lagi faktor lainnya (Bappenas R.I, 2013).
1. Faktor Langsung
1) Asupan Gizi Balita

Saat ini Indonesia mengahadapi masalah gizi ganda,


permasalahan gizi ganda tersebut adalah adanya masalah kurang gizi
dilain pihak masalah kegemukan atau gizi lebih telah meningkat.
Keadaan gizi dibagi menjadi 3 berdasarkan pemenuhan asupannya
6
yaitu:
a) Kelebihan gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat
pemenuhan asupan zat gizi yang lebih banyak dari
kebutuhan seperti gizi lebih, obesitas atau kegemukan.
b) Gizi baik adalah suatu keadaan yang muncul akibat
pemenuhan asupan zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan.
c) Kurang gizi adalah suatu keadaan yang muncul akibat
pemenuhan asupan zat gizi yang lebih sedikit dari
kebutuhan seperti gizi kurang dan buruk, pendek, kurus
dan sangat kurus (Depkes R.I, 2008).
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tubuh balita. Masa kritis ini
merupakan masa saat balita akan mengalami tumbuh kembang dan
tumbuh kejar. Balita yang mengalami kekurangan gizi sebelumnya
masih dapat diperbaiki dengan asupan yang baik sehingga dapat
melakukan tumbuh kejar sesuai dengan perkembangannya. Namun
apabila intervensinya terlambat balita tidak akan dapat mengejar
keterlambatan pertumbuhannya yang disebut dengan gagal tumbuh.
Begitu pula dengan balita yang normal kemungkinan terjadi gangguan
pertumbuhan bila asupan yang diterima tidak mencukupi. Dalam
penelitian yang menganalisis hasil Riskesdas menyatakan bahwa
konsumsi energi balita berpengaruh terhadap kejadian balita pendek,
selain itu pada level rumah tangga konsumsi energi rumah tangga di
bawah rata-rata merupakan penyebab terjadinya anak balita pendek.

Dalam upaya penanganan masalah stunting ini, khusus untuk bayi


dan anak telah dikembangkan standar emas makanan bayi dalam
pemenuhan kebutuhan gizinya yaitu 1) Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
yang harus dilakukan sesegera mungkin setelah melahirkan; 2)
Memberikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan tanpa
pemberian makanan dan minuman tambahan lainnya; 3) Pemberian
makanan pendamping ASI yang berasal dari makanan keluarga,
diberikan tepat waktu mulai bayi berusia 6 bulan; dan 4) Pemberian
ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun (Bappenas R.I, 2013).
7
Asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu
pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebaliknya asupan gizi yang
kurang dapat menyebabkan kekurangan gizi salah salah satunya dapat
menyebabkan stunting.
2) Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penyebab
langsung stunting, Kaitan antara penyakit infeksi dengan pemenuhan
asupan gizi tidak dapat dipisahkan. Adanya penyakit infeksi akan
memperburuk keadaan bila terjadi kekurangan asupan gizi. Anak balita
dengan kurang gizi akan lebih mudah terkena penyakit infeksi.
Penyakit infeksi akan ikut menambah kebutuhan akan zat gizi untuk
membantu perlawanan terhadap penyakit ini sendiri. Pemenuhan zat
gizi yang sudah sesuai dengan kebutuhan namun penyakit infeksi yang
diderita tidak tertangani akan tidak dapat memperbaiki status
kesehatan dan status gizi anak balita. Untuk itu penanganan terhadap
penyakit infeksi yang diderita sedini mungkin akan membantu
perbaikan gizi dengan diiimbangi pemenuhan asupan yang sesuai
dengan kebutuhan anak balita.

Penyakit infeksi yang sering diderita balita seperti cacingan,


Infeksi saluran pernafasan Atas (ISPA), diare dan infeksi lainnya sangat
erat hubungannya dengan status mutu pelayanan kesehatan dasar
khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku sehat
(Bappenas R.I, 2013). Ada beberapa penelitian yang meneliti tentang
hubungan penyakit infeksi dengan stunting yang menyatakan bahwa
diare merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada anak
usia dibawah 5 tahun.
2. Faktor Tidak Langsung
1. Ketersediaan Pangan
Ketersediaan pangan yang kurang dapat berakibat pada
kurangnya pemenuhan asupan nutrisi dalam keluarga itu sendiri. Rata-
rata asupan kalori dan protein anak balita di Indonesia masih di bawah
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dapat mengakibatkan anak balita
perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata
8
tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek dari pada
standar rujukan WHO 2005 (Bappenas R.I, 2013). Oleh karena itu
penanganan masalah gizi ini tidak hanya melibatkan sektor kesehatan
saja namun juga melibatkan lintas sektor lainnya.
Ketersediaan pangan merupakan faktor penyebab kejadian
stunting, ketersediaan pangan di rumah tangga dipengaruhi oleh
pendapatan keluarga, pendapatan keluarga yang lebih rendah dan
biaya yang digunakan untuk pengeluaran pangan yang lebih rendah
merupakan beberapa ciri rumah tangga dengan anak pendek.
Penelitian di Semarang Timur juga menyatakan bahwa pendapatan
perkapita yang rendah merupakan faktor risiko kejadian stunting
(Nasikhah dan Margawati, 2012). Selain itu penelitian yang dilakukan
di Maluku Utara dan di Nepal menyatakan bahwa stunting
dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah faktor sosial
ekonomi yaitu defisit pangan dalam keluarga (Ramli et all, 2009;
Paudel et all, 2012).
2. Status Gizi Ibu saat Hamil
Status gizi ibu saat hamil dipengaruhi oleh banyak faktor,
faktor tersebut dapat terjadi sebelum kehamilan maupun selama
kehamilan. Beberapa indikator pengukuran seperti 1) kadar
hemoglobin (Hb) yang menunjukkan gambaran kadar Hb dalam darah
untuk menentukan anemia atau tidak; 2) Lingkar Lengan Atas (LILA)
yaitu gambaran pemenuhan gizi masa lalu dari ibu untuk menentukan
KEK atau tidak; 3) hasil pengukuran berat badan untuk menentukan
kenaikan berat badan selama hamil yang dibandingkan dengan IMT
ibu sebelum hamil.
a) Pengukuran LILA
Pengukuran LILA dilakukan pada ibu hamil untuk
mengetahui status KEK ibu tersebut. KEK merupakan suatu
keadaan yang menunjukkan kekurangan energi dan protein dalam
jangka waktu yang lama (Kemenkes R.I, 2013). Faktor predisposisi
yang menyebabkan KEK adalah asupan nutrisi yang kurang dan
adanya faktor medis seperti terdapatnya penyakit kronis. KEK pada

9
ibu hamil dapat berbahaya baik bagi ibu maupun bayi, risiko pada
saat prsalinan dan keadaan yang lemah dan cepat lelah saat hamil
sering dialami oleh ibu yang mengalami KEK (Direktorat Bina
Gizi dan KIA, 2012).
Pada wanita hamil dan WUS digunakan ambang batas
LILA <23,5 cm dikategorikan risiko KEK (Kemenkes R.I, 2013).
Pengukuran LILA ini dilakukan dengan mengukur lengan atas ibu
hamil tangan yang jarang digunakan dengan menggunakan alat
pengukur LILA.
Penelitian di Sulawesi Barat menyatakan bahwa faktor yang
berhubungan dengan kejadian KEK adalah pengetahuan, pola
makan, makanan pantangan dan status anemia (Rahmaniar dkk,
2013). Kekurangan energi secara kronis menyebabkan cadangan
zat gizi yang dibutuhkan oleh janin dalam kandungan tidak adekuat
sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan baik
pertumbuhan maupun perkembangannya. Status KEK ini dapat
memprediksi hasil luaran nantinya, ibu yang mengalami KEK
mengakibatkan masalah kekurangan gizi pada bayi saat masih
dalam kandungan sehingga melahirkan bayi dengan panjang badan
pendek. Selain itu, ibu hamil dengan KEK berisiko melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Panjang badan lahir
rendah dan BBLR dapat menyebabkan stunting bila asupan gizi
tidak adekuat. Hubungan antara stunting dan KEK telah diteliti di
Yogyakarta dengan hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa ibu
hamil dengan riwayat KEK saat hamil dapat meningkatkan risiko
kejadian stunting pada anak balita usia 6-24 bulan.
b) Kadar Hemoglobin
Pemeriksaan darah dilakukan pada ibu hamil untuk
mengetahui kadar Hb ibu sehingga dapat diketahui status anemia
yang dialami ibu saat hamil. Anemia pada saat kehamilan
merupakan suatu kondisi terjadinya kekurangan sel darah merah
atau hemoglobin (Hb) pada saat kehamilan. Ada banyak faktor
predisposisi dari anemia tersebut yaitu diet rendah zat besi, vitamin

10
B12, dan asam folat, adanya penyakit gastrointestinal, serta adanya
penyakit kronis ataupun adanya riwayat dari keluarga sendiri.
Ibu hamil dengan anemia sering dijumpai karena pada saat
kehamilan keperluan akan zat makanan bertambah dan terjadi
perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang. Nilai cut-
off anemia ibu hamil adalah bila hasil pemeriksaan Hb<11,0 g/dl
(Kemenkes R.I, 2013) penyebab anemia pada ibu hamil adalah
karena gangguan penyerapan pada pencernaan, kurangnya asupan
zat besi dan protein dari makanan, perdarahan akut maupun kronis,
meningkatkan kebutuhan zat besi, kekurangan asam folat dan
vitamin, menjalankan diet miskin zat besi pola makan yang kurang
baik maupun karena kelainan pada sumsum tulang belakang.
Akibat anemia bagi janin adalah hambatan pada
pertumbuhan janin, bayi lahir prematur, bayi lahir dengan BBLR,
serta lahir dengan cadangan zat besi kurang sedangkan akibat dari
anemia bagi ibu hamil dapat menimbulkan komplikasi, gangguan
pada saat persalinan dan dapat membahayakan kondisi ibu seperti
pingsan, bahkan sampai pada kematian (Direktorat Bina Gizi dan
KIA, 2012). Kadar hemoglobin saat ibu hamil berhubungan dengan
panjang bayi yang nantinya akan dilahirkan, semakin tinggi kadar
Hb semakin panjang ukuran bayi yang akan dilahirkan.
Prematuritas, dan BBLR juga merupakan faktor risiko kejadian
stunting, sehingga secara tidak langsung anemia pada ibu hamil
dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita.
c) Kenaikan Berat Badan Ibu saat Hamil
Menurut Almatsier, Ibu hamil akan membutuhkan
tambahan energi dari pada ibu yang tidak hamil, penambahan
tersebut dibedakan berdasarkan umur kehamilannya yaitu: 1)
Trimester I ibu hamil membutuhkan tambahan energi 150- 200
kal/hari; 2) Trimester II ibu hamil membutuhkan tambahan energi
250-350 kal/hari; 3) Trimester III ibu hamil membutuhkan
tambahan energi 400 kal/hari dan jumlah cairan yang dibutuhkan
minimal 1500 ml/hari. Penambahan berat badan ibu hamil

11
dihubungkan dengan IMT saat sebelum ibu belum hamil. Apabila
IMT ibu sebelum hamil dalam status kurang gizi maka
penambahan berat badan seharusnya lebih banyak dibandingkan
dengan ibu yang status gizinya normal atau status gizi lebih.
Penambahan berat badan ibu selama kehamilan berbeda pada
masing–masing trimester. Pada trimester pertama berat badan
bertambah 1,5-2 Kg, trimester kedua 4-6 Kg dan trimester ketiga
berat badan bertambah 6-8 Kg. Total kenaikan berat badan ibu
selama hamil sekitar 9-12 Kg (Direktorat Bina Gizi dan KIA,
2012).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Yongky tahun 2004
menyatakan bahwa pertambahan berat badan saat hamil merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi status kelahiran bayi
(BBLR). Penambahan berat badan saat hamil perlu dikontrol
karena apabila berlebih dapat menyebabkan obesitas pada bayi
sebaliknya apabila kurang dapat menyebabkan bayi lahir dengan
berat badan rendah, prematur yang merupakan faktor risiko
kejadian stunting pada anak balita.
d) Berat Badan Lahir
Berat badan lahir sangat terkait dengan pertumbuhan dan
perkembangan jangka panjang anak balita, pada penelitian yang
dilakukan oleh Anisa tahun 2012 menyimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara berat lahir dengan kejadian
stunting pada balita di Kelurahan Kalibaru. Bayi yang lahir dengan
berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram, bayi dengan berat badan lahir rendah
akan mengalami hambatan pada pertumbuhan dan
perkembangannya serta kemungkinan terjadi kemunduran fungsi
intelektualnya selain itu bayi lebih rentan terkena infeksi dan
terjadi hipotermi (Direktorat Bina Gizi dan KIA, 2012).
Banyak penelitian yang telah meneliti tentang hubungan
antara BBLR dengan kejadian stunting diantaranya yaitu penelitian
di Klungkung dan di Yogyakarta menyatakan hal yang sama bahwa

12
ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian stunting.
Selain itu, penelitian yang dilakukan di Malawi juga menyatakan
prediktor terkuat kejadian stunting adalah BBLR.
e) Panjang Badan Lahir
Asupan gizi ibu yang kurang adekuat sebelum masa
kehamilan menyebabkan gangguan pertumbuhan pada janin
sehingga dapat menyebabkan bayi lahir dengan panjang badan lahir
pendek. Bayi yang dilahirkan memiliki panjang badan lahir normal
bila panjang badan lahir bayi tersebut berada pada panjang 48-52
cm (Kemenkes R.I, 2013).
Penentuan asupan yang baik sangat penting untuk mengejar
panjang badan yang seharusnya. Berat badan lahir, panjang badan
lahir, usia kehamilan dan pola asuh merupakan beberapa faktor
yang mempengaruhi kejadian stunting. Panjang badan lahir
merupakan salah satu faktor risiko kejadian stunting pada balita.
Menurut Riskesdas tahun 2013 kategori panjang badan lahir
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu <48 cm, 48-52 cm, dan >52 cm,
panjang badan lahir pendek adalah bayi yang lahir dengan panjang
<48 cm (Kemenkes R.I, 2013). Panjang badan lahir pendek
dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi bayi tersebut saat masih dalam
kandungan.
f) ASI Eksklusif
ASI Eksklusif menurut Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) tanpa
menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman
lain yang diberikan kepada bayi sejak baru dilahirkan selama 6
bulan (Kemenkes R.I, 2012). Pemenuhan kebutuhan bayi 0-6 bulan
telah dapat terpenuhi dengan pemberian ASI saja. Menyusui
eksklusif juga penting karena pada usia ini, makanan selain ASI
belum mampu dicerna oleh enzim-enzim yang ada di dalam usus
selain itu pengeluaran sisa pembakaran makanan belum bisa
dilakukan dengan baik karena ginjal belum sempurna (Kemenkes

13
R.I, 2013). Manfaat dari ASI Eksklusif ini sendiri sangat banyak
mulai dari peningkatan kekebalan tubuh, pemenuhan kebutuhan
gizi, murah, mudah, bersih, higienis serta dapat meningkatkan
jalinan atau ikatan batin antara ibu dan anak.
Penelitian yang dilakukan di Kota Banda Aceh menyatakan
bahwa kejadian stunting disebabkan oleh rendahnya pendapatan
keluarga, pemberian ASI yang tidak eksklusif, pemberian MP-ASI
yang kurang baik, imunisasi yang tidak lengkap dengan faktor yang
paling dominan pengaruhnya adalah pemberian ASI yang tidak
eksklusif. Hal serupa dinyatakan pula oleh Arifin pada tahun 2012
dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa kejadian stunting
dipengaruhi oleh berat badan saat lahir, asupan gizi balita,
pemberian ASI, riwayat penyakit infeksi, pengetahuan gizi ibu
balita, pendapatan keluarga, jarak antar kelahiran namun faktor
yang paling dominan adalah pemberian ASI (Arifin dkk, 2013).
Berarti dengan pemberian ASI eksklusif kepada bayi dapat
menurunkan kemungkinan kejadian stunting pada balita, hal ini
juga tertuang pada gerakan 1000 HPK yang dicanangkan oleh
pemerintah Republik Indonesia.
g) MP-ASI
Kebutuhan anak balita akan pemenuhan nutrisi bertambah
seiring pertambahan umurnya. ASI eksklusif hanya dapat
memenuhi kebutuhan nutrisi balita sampai usia 6 bulan, selanjutnya
ASI hanya mampu memenuhi kebutuhan energi sekitar 60-70% dan
sangat sedikit mengandung mikronutrien sehingga memerlukan
tambahan makanan lain yang biasa disebut makanan pendamping
ASI (MP-ASI). Pengertian dari MP-ASI menurut WHO adalah
makanan/minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang
diberikan selama pemberian makanan peralihan yaitu pada saat
makanan/ minuman lain yang diberikan bersamaan
dengan pemberian ASI kepada bayi.
Pemberian MP-ASI merupakan proses transisi dimulainya
pemberian makanan khusus selain ASI secara bertahap jenis,

14
jumlah, frekuensi maupun tekstur dan kosistensinya sampai seluruh
kebutuhan gizi anak dipenuhi oleh makanan keluarga. Jenis MP-
ASI ada dua yaitu MP-ASI yang dibuat secara khusus baik buatan
rumah tangga atau pabrik dan makanan biasa dimakan keluarga
yang dimodifikasi agar mudah dimakan oleh bayi. MP-ASI yang
tepat diberikan secara bertahap sesuai dengan usia anak baik jenis
maupun jumlahnya. Resiko terkena penyakit infeksi akibat
pemberian MP-ASI terlalu dini disebabkan karena usus yang belum
siap menerima makanan serta kebersihan yang kurang. Menurut
Global Strategy for infant and Young Child Feeding ada 4
persyaratan pemberian MP-ASI yaitu:
1. Tepat waktu yaitu pemberian MP-ASI dimulai saat
kebutuhan energi gizi melebihi yang di dapat dari ASI
yaitu pada umur 6 bulan.
2. Adekuat yaitu pemberian MP-ASI harus cukup energi,
protein, dan mikronutrien sesuai dengan kebutuhan.
3. Tepat cara pemberian yaitu pemberian MP-ASI sejalan
dengan tanda lapar dan nafsu makan yang ditunjukkan
serta frekuensi dan cara pemberiannya sesuai dengan
umur
4. Aman yaitu pemberian MP-ASI harus diawasi baik dari
penyimpanan, persiapan, dan saat diberikan MP-ASI
harus higienis.
Penelitian yang dilakukan di Purwokerto, menyatakan
bahwa usia makan pertama merupakan faktor resiko terhadap
kejadian stunting pada balita. Pemberian MP-ASI terlalu dini dapat
meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti diare hal ini terjadi
karena MP-ASI yang diberikan tidak sebersih dan mudah dicerna
seperti ASI. Zat gizi seperti zink dan tembaga serta air yang hilang
selama diare jika tidak diganti akan terjadi malabsorbsi zat gizi
selama diare yang dapat menimbulkan dehidrasi parah, malnutrisi,
gagal tumbuh bahkan kematian (Meilyasari dan Isnawati, 2014)

15
III. METODE PENELITIAN

A. KERANGKA PENELITIAN

Variabel Terikat
Variabel Bebas

Asi Eksklusif Kejadian Stunting


Ekonomi

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

B. VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel Bebas
Variabel bebas yang diteliti pada penelitian ini adalah pemberian asi eksklusif
2. Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah kejadian stunting pada anak usia 0-59
bulan.

C. HIPOTESIS PENELITIAN
Terdapat hubungan antara pemberian asi eksklusif dengan kejadian stunting di
Posyandu Budi Rahayu 1 Karanganyar.

D. DEFINISI OPERASIONAL DAN SKALA PENGUKURAN


Tabel 3.1Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional Satuan Skala
No Variabel
Variabel Variabel Pengukuran
1. Pemberian Air susu ibu yang diberikan Kategorik
1. ASI tidak
Asi kepada bayi lahir sampai bayi eksklusif Ordinal
Eksklusif berusia 6 bulan tanpa diberikan2.ASI
makanan dan minuman lain eksklusif
2. Stunting Stunting (Pendek) adalah suatu 1. Stunting Kategorik
indikator keadaangizi anak 2. Normal Nominal
yang ditentukan secara
antropometri
berdasarkanindeks TB/U atau
PB/U dengan menggunakan
klasifikasi WHO length/height

16
for age sesuai usia dan jenis
kelamin sebagai berikut:
- Stunting bila z-score <-2SD
- Normal bila z-score ≥- 2SD.

E. DESAIN PENELITIAN
Jenis penelitian ini termasuk penelitian analitik observasional dengan
pendekatan crosss ectional. Desain penelitian cross-sectional adalah penelitian yang
dilakukan pada satu waktu dan satu kali untuk mencari hubungan antara variabel
bebas (pemberian asi eksklusif) dengan variabel terikat (kejadian stunting).

F. SUBJEK PENELITIAN
1. Populasi
Seluruh balita dan orangtua pada Posyandu Budi Rahayu 1 Desa
Karanganyar Kecamatan Karanganyar.
2. Sampel
Pada penelitian ini, kriteria responden yang dijadikan sampel penelitian sebagai
berikut:
a. Kriteria Inklusi
1) Seluruh balita yang terdata di Posyandu Budi Rahayu 1
2) Ibu, ayah, atau anggota keluarga lain yang mengasuh balita yang terdata di
Posyandu Budi Rahayu 1.
b. Kriteria Eksklusi
1) Balita yang memiliki riwayat penyakit endokrin seperti hipotiroid,
hipertiroid, dan sindrom cushing.
2) Balita yang memiliki penyakit yang bekaitan dengan kelainan kromosom
seperti sindrom down dan sindrom turner.
3) Balita yang memiliki riwayat kelainan kongenital pada saluran
pencernaan seperti megakolon kongenital, atresia esophagus, atresia ani,
omfalokel, dan gastroschisis.
Besar sampel yang dibutuhkan pada penelitian ini ditentukan dengan rumus
berikut:
Jika populasi (N) diketahui

17
Keterangan:
n : besarsampel
N : besar populasi
Z(1-a/2) : nilai sebaran normal baku, besarnya tergantung
tingkat kepercayaan (TK).
Jika TK 90%=1,64, TK95%=1,96, TK99%=2,57.
P : Proporsi kejadian, jika tidak diketahui
dianjurkan menggunakan =0,5
d : besar penyimpangan ; 0,01 ;0,05 dan 0,1

n = 91(1,96)2 x 0,5(1-0,5)
91(0,1)2 + (1,96)2 x 0,5(1-0,5)
n = 87,39
0.91 1,1879
n = 41,65 ~ 42
Maka besar sampel minimal yang diperlukan untuk mengetahui proporsi balita
stunting pada Posyandu Budi Rahayu 1 sebanyak 42 balita. Perkiraan 10% akan
lepas pengamatan (lost of follow up), maka besar sampel yang digunakan
berdasarkan perhitungan adalah 46 balita. Teknik sampling yang digunakan pada
penelitian ini adalah consecutive sampling.

G. INSTRUMEN PENELITIAN DAN TEKNIK PENGAMBILAN DATA


1. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitianadalah alat-alat yang digunakan selama penelitian
untuk bahan pengumpulan data (Notoadmojo, 2010). Instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner yang disediakan berisi tentang
identitas responden (nama, umur, pekerjaan, tingkat pendidikan), penghasilan
rata-rata per bulan, dan jumlah tanggungan dalam keluarga.
2. Teknik Pengumpulan Data
a. Data Primer

18
Untuk memperoleh data primer yang diperlukan, maka teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara langsung dengan pedoman
kuesioner penelitian. Selain itu, dokumentasi juga dilakukan guna
pengambilan gambar responden saat memberikan informasi.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh selain dari responden
penelitian. Data sekunder pada penelitian ini berasal dari data profil
kesehatan Puskesmas Karanganyar 2016 dan melihat literatur terkait.

H. PROSEDUR PENELITIAN
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan merupakan tahap mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan dalam penelitian, yaitu mempersiapkan lembar kuesioner yang berisi
pertanyaan, alat ukur untuk mengukur tinggi atau panjang badan, dan
perlengkapan untuk dokumentasi.
2. Tahap Pelaksanaan
a. Menetapkanresponden penelitian sesuai jumlah sampel.
b. Peneliti mendatangicalon responden penelitian menjelaskan maksud dan
tujuan penelitiserta menanyakan kesediaan menjadi responden penelitian.
c. Penelitimemberikanlembarpersetujuankepadarespondenapabilabersedia
menjadi responen penelitian.
d. Penelitimembacakan pertanyaan dalam kuesioner
e. Peneliti melakukan pengukuran tinggi atau panjang badan sampel
f. Penelitimelakukanpengolahandananalisisdataberdasarkanseluruhinformasi
yangtelah dikumpulkan.
3. Tahap pengolahan data
a. Editing, peneliti melakukan pengecekan kemungkinan terjadi kesalahan pada
data yang sudah terkumpul dan kuesioner yang akan digunakan dalam
penelitian.
b. Coding, meberikan kode-kode tertentu sehingga mempermudah dalam proses
pengolahan data.
c. Tabulating, penyusunan data dalam bentuk table agar mudah dijumlah,
disusun, dan ditata untuk disajikan dan dianalisis.

19
d. Processing, memasukan data dan memproses data agar dapat dianalisa ke
dalam program komputer.
e. Cleaning, pengecekan kembali data data yang sudah di entry apakah
terdapat kesalahanatau tidak.
4. Tahap analisis data
a. Analisis univariat, dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian
untuk mendapatkan gambaran distribusi dan frekuensi dari masing-masing
variabel yaitu pekerjaan, pendapatan, dan kejadian stunting pada balita
Posyandu Budi Rahayu 1 Desa Karanganyar
b. Analisis bivariat, dilakukan untuk melihat hubungan antar dua variable
(bebas danterikat). Apakah variable tersebut mempunyai hubungan yang
signifikan atau tidak. Dalam analisis ini, digunakan ujichi- square, uji
signifikan menggunakan batas kemaknaaan α=0,05 dengan taraf signifikan
95%. Aturan yang berlaku untuk interpretasi uji Chi-Square pada analisis
menggunakan SPSS adalah sebagai berikut :
1) Jika pada tabel silang 2x2 dijumpai Expected Count kurang dari 5 lebih
dari 20% jumlah sel, maka uji hipotesis yang digunakan adalah uji
alternative Chi- Square, yaitu uji Fisher. Hasil yang dibaca pada bagian
Fisher’s Exact Test.
2) Pada table selain 2x2 atau 2xk maka dilakukan penggabungan sel,
kemudian kembali ulangi analisis dengan uji Chi-Square.
3) Jika pada table silang 2x2 tidak dijumpai Expected Count kurang dari
5atau dijumpai tetapi tidak lebih dari 20%jumlah sel, maka uji hipotesis
yang digunakan adalah uji Chi-Square. Hasil yang dibaca pada bagian
Continuity Correction.
4) Jika table silang selain 2x2 tidak dijumpai Expected Count kurang dari 5
atau dijumpai tetapi tidak lebih dari 20% jumlah sel, maka uji
hipotesis yang digunakan adalah uji Chi-Square. Hasil yang dibaca pada
bagian PearsonChi- Square.
5) Hasil uji Chi-Square dilihat dengan nilai p. Jika nilaip <0,05maka Ho
ditolak dan Ha diterima, yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
antara variabel bebas dan variabel terikat.

20
I. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan 8-29 Juni 2018 bertempat di Desa
Karanganyar Kecamatan Karanganyar.

21
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Pembahasan


Penelitian mengenai hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian
stunting dilaksanakan tanggal 8-29 juni 2018 di posyandu Budi Rahayu 1 desa
karanganyar kecamatan karanganyar. Pada penelitian ini diperoleh 47 sample yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran
karakteristik responden penelitian Berikut ini adalah hasil dan pembahasannya.

1. Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin


Tabel 4.1 jenis kelamin
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Laki – laki 21 55,32%
Perempuan 26 44,68%

gambar 4.1 jenis kelamin

Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden


menurut jenis kelamin terdiri dari 26 orang (55,32%) perempuan dan 21 orang (44,68%)
laki-laki.

22
2. Karakteristik Responden Menurut pendidikan orang tua
Tabel 4. 2 Pendidikan orang tua
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Tamat SD 18 37,63
Tamat SLTP 12 26.17
Tamat SLTA 15 31.91
Perguruan Tinggi 2 4,29

Gambar 4.2 pendidikan orang tua


Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden
menurut pendidikan orang tua terdiri dari tamat SD 18 orang (37,63%), tamat SLTP 12
orang (26,17%), tamat SLTA 15 orang (31,91%) dan lulusan perguruan tinggi 2 orang
(4,29%).
3. Karakteristik Responden Menurut status gizi
Tabel 4.3 Status gizi berdasarkan tinggi badan sesuai usia
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Stunting 20 42,55
Normal 27 57,45

Gambar 4.3 Status gizi berdasarkan tinggi badan sesuai usia

23
Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden berdasarkan
status gizi tinggi badan sesuai usia terdiri dari 20 orang (42,55%) stunting dan 27 orang
(57,45%) normal.
.
4. Karakteristik Responden Menurut pendapatan
Tabel 4.4 Pendapatan orang tua
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Di atas UMR 20 42,55
Di bawah UMR 27 57,45

Gambar 4.4 Pendapatan orang tua

Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden


menurut pendapatan orang tua terdiri dari 20 orang (42,55%) di atas UMR dan 27 orang
(57,45%) di bawah UMR.

5. Karakteristik Responden Menurut tingkat ekonomi


Tabel 4.5 Ekonomi
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Menengah ke atas 10 21,28
Menengah ke bawah 37 78,72

24
Gambar 4.5 tingkat ekonomi
Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden
menurut tingkat ekonomi terdiri dari 10 orang (21,28%) menengah ke atas dan 37
orang (78,72%) menengah ke bawah.

6. Karakteristik Responden Menurut pemberian ASI


Tabel 4.6 pemberian ASI
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Eksklusif 41 87,23
Tidak eksklusif 6 12,27

Gambar 4.6 pemberian ASI


Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden
menurut pemberian ASI terdiri dari 41 orang (87,23%) ASI eksklusif dan 6 orang
(12,27%) tidak eksklusif.

7. Karakteristik Responden Menurut pemberian imunisasi

25
Tabel 4.7 pemberian Imunisasi
Jenis kelamin Frekuensi
n %
Tidak Lengkap 1 2,13
Lengkap 46 97,87

Gambar 4.7 Pemberian imunisasi


Hasil penelitian pada responden menunjukkan bahwa distribusi responden
menurut pemberian imunisasi terdiri dari 46 orang (97,87%) lengkap dan 1 orang
(2,13%) tidak lengkap.

8. Hasil uji dengan Chi square


Tabel 4.8 hasil uji Chi-Square

26
Tabel di atas menunjukan hasil uji statistik menggunakan chi-square yang
menguji hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap stunting. hasilnya
menunjukan angka p= 0,201 dimana hasil p lebih besar dari pada 0,05 dimana
hasil tersebut menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan terhadap
terjadinya stunting dengan pemberian ASI.
Hasil yang tidak signifikan dari penelitian ini menunjukan bahwa
kejadian stunting yang terjadi di wilayah posyandu Budi Rahayu desa
karanganyar terjadi bukan disebabkan oleh karena pemberian ASI, karena
berdasarkan data yang di dapatkan dari 47 responden, 41 orang (87,23%) ASI
eksklusif dan 6 orang (12,27%) tidak eksklusif. lebih banyak Ibu di desa
karanganyar yang memberikan ASI eksklusif kepada bayi mereka daripada yang
tidak eksklusif.
Terjadinya stunting di di wilayah posyandu Budi Rahayu desa
karanganyar bisa disebabkan oleh faktor yang lain, karena banyak faktor yang
dapat menyebabkan kejadian stunting. faktor-faktor yang dapat menyebabkan
kejadian stunting adalah imunisasi, pengetahuan, ekonomi, pendapatan, pola asuh,
penyakit kronis dan asupan gizi. Pada penelitian ini faktor yang memungkinkan
penyebab terjadinya stunting jika dilihat dari karakteristik responden adalah
tingkat ekonomi. Hasil distribusi yang di dapatkan pada tingkat ekonomi
responden terdiri dari 10 orang (21,28%) menengah ke atas dan 37 orang
(78,72%) menengah ke bawah. lebih banyak responden dengan tingkat ekonomi
menengah ke bawah. Masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah
cenderung memiliki pola asuh yang kurang, asupan gizi yang tidak terpenuhi serta
sanitasi yang buruk.

27
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Balita di wilayah Posyandu Budi Rahayu desa karanganyar dari 47 orang


yang diletiti sebanyak orang mengalami stunting. hasil analisis data dengan uji
chi square menunjukan bahwa tidak signifikan dimana p >0,05 yaitu 0, sehingga
tidak adanya hubungan pemberian asi eksklusif dengan kejadian stunting di
wilayah tersebut.

B. Saran
1. Perlu dilakukan evaluasi ulang kepada ibu yang memiliki balita baik yang
sudah mengikuti kelas balita maupun belum mengikuti kelas balita terkait
pengetahuan tentang gizi terutama bagi para ibu dengan balita stunting
2. Perlu adanya kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dalam hal ini
kabupaten, kecamatan, desa, serta Puskesmas selaku penyelenggara kesehatan
kecamatan dalam melakukan Kerangka Intervensi Stunting (Intervensi Gizi
Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif) dalam rangka menekan angka kejadian
stunting di Kecamatan Karanganyar khususnya daerah kerja Posyandu Budi
Rahayu 1

28
DAFTAR PUSTAKA

Arifi n, D. Z., Irdasari, S. Y., & Handayana, S. (2012). Analisis Sebaran


dan Faktor Risiko Stunting pada Balita di Kabupaten Purwakarta.
Tersedia: http://www.pustaka.unpad.ac.id.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan


RI. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013.
[Online]. Tersedia:
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas
%20 2013.pdf

Candra, A. (2013). Hubungan underlying factors dengan kejadian stunting


pada anak 1-2 tahun. Journal of Nutrition and Health, Vol.1, No.1. Diakses
dari http://www.ejournal.undip.ac.id

Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar


Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2007. www.scribd.com/Laporan_
Hasil_ Riskesdas_ NTT_ 2007.pdf

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Laporan Riset


Kesehatan Dasar tahun 2013. Jakarta: Balitbangkes

Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Kemenkes RI
no195/MENKES/SK/XII/2010: Standar Antropometri Penilaian Status
Gizi Anak. Jakarta; 2011. 14.

Dinas Kesehatan Sumatera Selatan.


Tersedia:
http://dinkes.sumselprov.go.id/download/unggah/stunting_anak-2016-01-
04.pdf

Meilyasari, F. & Isnawati, M. (2014). Faktor risiko kejadian stunting pada


balita usia 12 bulan di Desa Purwokerto Kecamatan Patebon, Kabupaten

29
Kendal. Journal of Nutrition College, 3(2), 16-25. Tersedia:
http://www,ejournals1.undip.ac.id

Millennium Challenge Account – Indonesia. Backgrounder : Stunting Dan


Masa Depan Indonesia. [Online]. Tersedia: http://mca-indonesia.go.id/wp-
content/uploads/2015/01/BackgrounderStunting-ID.pdf

Nailis, Anisa. (2016). Hubungan Konsumsi Ikan dengan Kejadian Stunting


pada Anak Usia 2-4 Tahun. Thesis. Fakultas Kedokteran. Universitas
Diponegoro. Semarang

Nasikhah, R dan Margawati, A. (2012). Faktor risiko kejadian stunting


pada balita usia 24-36 bulan di Kecamatan Semarang Timur. Journal of
Nutrition College,1(1). Tersedia: http:// www.ejournal-s1.undip.ac.id

Ramli, Agho, K. E., Inder, K. J., Bowe, S. J. Jacobs, J. & Dibley, M. J.


(2009). Prevalence And Risk Factors For Stunting And Severe Stunting
Among Under-Fi Ves In North Maluku Province Of Indonesia. BMC
Pediatrics, 9-64. doi:10.1186/1471-2431-9-64

30
31
LAMPIRAN

1. ASI Eksklusif

32
2. Chi Square

33