Anda di halaman 1dari 17

BANGUNAN PENGATURAN SUNGAI

Tugas Pengembangan Sumber Daya Air – TB317


KHAIRUL FIKRI
(1700371)

Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Departemen Teknik Sipil,


Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudi No. 207, Bandung
Email: khairulfikri@upi.edu

1. Tanggul
Tanggul adalah salah satu bangunan di sepanjang sungai yang betujuan
dalam usaha melindungi kehidupan dan harta benda masyarakat yang
disebabkan oleh meluapnya air dari alur sungai. Tanggul adalah suatu konstruksi
yang dibuat untuk mencegah banjir di dataran yang dilindungi. Bagaimanapun,
tanggul juga mengungkung aliran air sungai, menghasilkan aloran yang lebih dan
muka air lebih tinggi. Tanggul juga dapat ditemukan di sepanjang pantai, dimana
gumuk / gundukan pasir pantainya tidak cukup kuat, di sepanjang sungai untuk
melindungi banjir, di sepanjang danau atau polder. Tanggul juga dibuat untuk
tujuan empoldering / membentuk batasan perlindungan untuk suatu area yang
tergenang serta suatu perlindungan militer. Tanggul bisa jadi pekerjaan tanah yang
permanen atau hanya konstruksi darurat, biasanya terbuat dari kantong pasir
sehingga secara cepat saat banjir.

Gambar 1. Konstruksi Tanggul


Gambar 2. Konstruksi Tanggul Sungai
Jenis-jenis tanggul diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Tanggul utama, bangunan tanggul disepanjang kanan-kiri sungai guna
menampung debit banjir rencana.
b. Tanggul sekunder, tanggul yang dibangun sejajar tanggung utama. Berfungsi
untuk pertahanan kedua, andaikan terjadi bobolan pada tanggul utama.
Tergantung pada pentingnya suatu areal yang dilindungi kadang-kadang
dibangun pula tanggul tersier.
c. Tanggul terbuka, tanggul yang dibangun secara tidak menerus (terputus-
putus). Pada sungai-sungai yang deras arusnya, biasanya dapat dibangun
tanggul-tanggul yang tidak menerus, tetapi terputus-putus. Dengan demikian
puncak banjir yang tinggi tetapi periode waktunya pendek dapat dipotong,
karena sebagian banjir mengalir keluar melalui celah-celah antara tanggul-
tanggul tersebut memasuki areal-areal di belakang tanggul yang dipersiapkan
untuk penampungan banjir sementara. Biasanya areal-areal penampungan
tersebut dikelilingi tanggul-tanggul pula.
d. Tanggul pemisah, dibangun antara dua sungai yang berdekatan, agar aliran
tidak saling mengganggu.
e. Tanggu melingkar, tanggul yang dibangun untuk melindungi areal yang tidak
terlalu luas secara melingkar.
f. Tanggul sirip, tanggul dibangun untuk melindungi areal pertanian pada
daerah bantaran, bisa sebagai penghambat kecepatan arus.
g. Tanggul pengarah, tanggul pengarah arus.
Adapun berikut adalah tahapan dari perancangan tanggul.
a. Persiapan
1) Pemilihan tempat pembangunan tanggul
a) Pemilihan lokasi tanggul dipilih pada lokasi yang kedap air
b) Arah trase tanggul
Dalam menentukan arah trase tanggul agar diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Pilihlah penampang sungai yang paling efektif dengan kapasitas
pengaliran maksimum.
2. Agar trase searah dengan arah arus sungai dan dihindarkan
terjadinya belokan yang tajam.
3. Diusahakan agar arah trase tanggul kiri dan tanggul kanan separalel
mungkin dengan alur sungai.
4. Pada sungai-sungai yang arusnya tidak besar, diusahakanagar
kurva alirannya stabil.
2) Orientasi lapangan yakni penyesuaian antara tempat yang memenuhi
kriteria dengan lokasi sebenarnya.
3) Konsultasi. Konsultasi dengan berbagai pihak yang terkait baik formal
maupun non formal untuk memperoleh masukan sebelum lokasi dan tipe
tanggul ditetapkan.
b. Pengumpulan data dan informasi lapangan
1) Data primer
Data primer diperoleh dengan cara survey dan pengukuran lapangan,
meliputi sebagai berikut :
a) Topografi lokasi bangunan
b) Penutupan lahan dan pola tanam
c) Tanah (jenis, tekstur, permeabilitas)
d) Luas DTA
e) Jumlah, kepadatan dan pendapatan penduduk dan tingkat harga/upah
disekitar lokasi
2) Data sekunder,  dapat diperoleh dengan cara pengumpulan data yang telah
ada/tersedia baik di instansi pemerintah, swasta dsb meliputi :
a) Administrasi wilayah
b) Curah hujan (jumlah, intensitas dan hari hujan)
c) Erosi dan sedimentasi
d) Adat istiadat masyarakat disekitar lokasi
c. Pengolahan dan analisa data/informasi.
Dari hasil pengumpulan data dan informasi di lapangan dilakukan pengolahan
dan analisa, sebagai berikut :
1) Dari data tanah, erosi/sedimentasi, topografi, curah hujan dan luas DTA
kita bisa mendapatkan :
a) lokasi tanggul yang tepat yang memenuhi standar kriteria yang telah
kita tetapkan sebelumnya.
b) Bahan yang kita perlukan. Bahan yang biasanya dipergunakan dalam
pembuatan tanggul adalah tanah. Namun untuk memperkuat tanggul
kita dapat juga menambahkan pasir, bamboo dan batu. Penentuan sifat
– sifat mekanis bambu berdasarkan persyaratan bahwa bambu yang
digunakan dalam pembangunan merupakan bahan bangunan yang
kering dengan kadar air 12%. Hal ini merupakan kadar air
kesetimbangan pada kelembepan udara 70% yang dapat dianggap
sebagai nilai rata – rata yang wajar pada iklim tropis. Pasir dipilih
karena pasir biasanya  digunakan sebagai agregat halus dalam
campuran beton, bahan spesi perekat pasangan bata maupun keramik,
pasir urug, screed lantai dan lain – lain. Bahan yang sangat cocok
untuk pembangunan tanggul adalah tanah dengan karakteristik sebagai
berikut:
1. Dalam keadaan jenuh air mampu bertahan terhadap gejala gelincir
dan longsor.
2. Pada waktu banjir yang lama tidak rembes atau bocor.
3. Penggalian, transportasi dan pemadatannya mudah.
4. Tidak terjadi retak-retak yang membayakan kesetabilan tubuh
tanggul.
5. Bebas dari bahan-bahan organis. seperti akar-akaran, pohon-
pohonan dan rumput-rumputan.
c) Spesifikasi tanggul yang diperlukan. Meliputi panjang, tinggi,
kemiringan dan lainnya. Tinggi tambahan diperlukan dalam
pembuatan tanggul untuk menampung loncatan air dari permukaan air
sungai yang sedang mengalir, yang diakibatkan oleh adanya ombak
gelombang dan loncatan hidrolis pada saat banjir. Pada daerah yang
padat, dimana perolehan areal tanah untuk tempat kedudukan tanggul
sangat sukar daan mahal, pembangunan tanggul dengan mercu yang
tidak lebar dan dengan lerengnya yang agak curam cukup memadai.
Penentuan kemiringan lereng tanggul merupakan tahapan yang paling
penting dalam perencanaan tanggul dan sangat erat kaitannya dengan
infiltrasi air dalam tubuh tanggul tersebut. Dalam keadaan biasa tanpa
perkuatan lereng tanggul direncanakan dengan kemiringan 1 : 2 atau
lebih kecil.
2) Dari data jumlah penduduk, mata pencaharian, pendapatan serta adat
istiadat diolah dan dianalisa menjadi informasi:
a) Potensi ketersediaan tenaga kerja.Tenaga kerja yang kita perlukan
diantaranya aadalah orang yang ahli dalam teknik geodesi (untuk
meneliti kekuatan dan penyerapan tanah), teknik kelautan (untuk
membangun tanggul dan menentukan bahan-bahan yang kita
perlukan), teknik planologi (untuk mengetahui dampak pembuatan
tanggul bagi masyarakat), teknik lingkungan (untuk mengetahui
dampak pembuatan tanggul bagi lingkungan), teknik metereologi
(menghitung kuatnya aliran air) dan tukang-tukang lain yang
membantu.
b) Standar satuan biaya/upah yang berlaku. Standar ini dapat kita
sesuaikan dengan kondisi masyarakat di daerah sana.
d. Pembuatan tanggul
1. Persiapan
a) Penyiapan Kelembagaan
1. Pertemuan dengan masyarakat/kelompok dalam rangka sosialisasi
rencana pelaksanaan pembuatan dam pengendali.
2. Pembentukan organisasi dan penyusunan program kerja.
b) Pengadaan sarana dan prasarana
Pengadaan peralatan/sapras diutamakan untuk jenis peralatan dan
bahan habis pakai.
c) Penataan areal kerja
1. Pembersihan lapangan
2. Pengukuran kembali
3. Pemasangan patok batas
4. Pembuatan tanggul
e. Pelaksanaan Pembuatan Dam Pengendali

Gambar 3. Pembangunan Tanggul Sungai Bengawan Solo di Desa Widang


Pembuatan dan pemeliharaan tanggul sungai adalah sangat penting untuk
menjaga sungai tetap berfungsi dengan baik. Perkuatan tanggul seperti pembuatan
bronjong, plengsengan dan pemasangan tiang pancang merupakan pemeliharaan
tanggul agar tidak terjadi kelongsoran.tanggul.

2. Perkuatan Lereng
Perkuatan lereng (revertment) adalah bangunan yang ditempatkan pada
permukaan suatu lereng guna melindungi suatu tebing alur sungai atau
permukaan lereng tanggul dan secara keseluruhan berperan meningkatkan
stabilitas alur sungai atau tubuh tanggul yang dilindunginya.
Telah terjadi pengembangan yang sangat lanjut terhadap konstruksi, salah satu
bangunan persungaian yang sangat vital ini dan pada saat ini telah dimungkinkan
memilih salah satu konstruksi, bahan dan cara pelaksanaan yang paling cocok
disesuaikan dengan berbagai kondisi setempat. Walaupun demikian konstruksi
perkuatn lereng secara terus menerus dikembangkan dan disempurnakan.

Gambar 4. Perkuatan Lereng Turap


Pemilihan tipe perkuatan lereng yang cocok untuk suatu sungai haruslah dipilih
dari beberapa tipe yang ada dengan memperbandingkan satu dengan lainnya serta
dengan memperhatikan sulit tidaknya keadaan lapangan ditinjau dari pelaksanaan.
Tipe perkuatan lereng yang pernah dibangun dengan hasil yang cukup baik yaitu
sebagai berikut.
a. Tipe pondasi rendah
b. Tipe pondasi tinggi
c. Tipe turap pancang baja
d. Tipe turap papan
e. Tipe turap beton
f. Tipe turap pancang beton

Gambar 5. Pondasi Perkuatan Lereng


Klasifikasi perkuatan lereng berdasarkan lokasi, perkuatan lereng terdiri atas 3
jenis yaitu : perkuatan lereng tanggul (levee revetment), perkuatan tebing sungai
(low water revetment) dan perkuatan lereng menerus (high water revetment).
a. Perkuatan Lereng Tanggul
Dibangun pada permukaan lereng tanggul guna melindungi terhadap gerusan
arus sungai dan konstruksi yang kuat perlu dibuat pada tanggul-tanggul yang
sangat dekat dengan tebing alur sungai atau apabila diperkirakan terjadi
pukulan air (water hammer).
b. Perkuatan Tebing Sungai
Perkuatan semaeam ini diadakan pada tebing alur sungai, guna melindungi
tebing tersebut terhadap gerusan arus sungai dan meneegah proses meander
pada alur sungai. Selain itu harus diadakan pengamanan-pengamanan terhadap
kemungkinan kerusakan terhadap bangunan semaeam ini, karena disaat
terjadinya banjir bangunan tersebut akan tenggelam seluruhnya.
c. Perkuatan Lereng Menerus
Perkuatan lereng menerus dibangun pada lereng tanggul dan tebing sungai
seeara menerus (pada bagian sungai yang tidak ada bantarannya).
Konstruksi perkuatan lereng dapat dikombinasi dengan : pelindung lereng,
pondasi dan pelindung kaki, sambungan,konsolidasi, pelindung mercu.

Gambar 6. Concrete revertment


Pemilihan tipe perkuatan lereng yang cocok untuk suatu sungai haruslah dipilih
dari beberapa tipe yang ada dengan memperbandingkan satu dengan lainnya serta
dengan memperhatikan sulit tidaknya keadaan lapangan ditinjau dari pelaksanaan.
Gambar 7. Perkuatan Lereng dengan Turap Pancang Baja

Gambar 8. Perkuatan Lereng Sementara

3. Konsolidasi Pondasi
Konsolidasi pondasi (foundation consolidation) adalah suatu bangunan yang
ditempatkan didepan bagian atas pondasi atau yang berupa pelindung kaki
perkuatan lereng, agar dapat mengurangi kecepatan arus air di depan
perkuaran lereng.

Gambar 9. Hamparan Lindung Batu


Konsolidasi pondasi adalah suatu bangunan yang ditempatkan didepan bagian
atas pondasi atau yang berupa pelindung kaki perkuatan lereng, agar dapat
mengurangi kecepatan arus air didepan perkuatan lereng, mencegah gerusan dasar
sungai didepan perkuatan lereng dan melindungi perkuatan lereng secara
keseluruhan.
Gambar 10. Konsolidasi Pondasi dari Blok Beton

Gambar 11. Konsolidasi Pondasi dengan Blok Beton Pra Cetak


Jenis dan Konstruksi pada Konsolidasi Pondasi
a. Lapis Lindung Batu
Lapis lindung batu atau rip-rap merupakan konstruksi konsolidasi pondasi
yang paling sederhana diantara berbagai jenis konsolidasi pondasi. Apabila
disekitar lokasi pekerjaan terdapat bahan batu yang beratnya melebihi berat
dari batu dasar sungai, maka bahan batu tersebut dapat digunakan tanpa
kekhawatiran akan hanyut dan pelaksanaanya sangat mudah serta merupakan
konstruksi yang mudah dengan fleksibilitas yang tinggi dan sangat awet.
b. Matras Anyaman Ranting
Biasanya digunakan sebagai konsolidasi pondasi pada sungai-sungai yang
tidak deras arusnya dan biaya pembuatan cukup rendah.
c. Matras Anyaman Ranting Tunggal
Matras jenis ini mempunyai konstruksi yang lebih sederhana. Dalam hal ini
satu atau dua lapisan dahan ditempatkan diatas kisi dasar, patok-patok
ditancapkan tanpa kisi atas, pagar dibuat dan selanjutnya batu pecah sebagai
pemberat dituang diatas lapisan tersebut.
d. Matras Balok Kayu
Dipergunakan pada sungai-sungai yang arusnya deras. Disamping untuk
konsolidasi ondasi matras jenis ini, dapat dipergunakan pula sebagai bangunan
sadap atau sebagai bendung konsolidasi.
4. Krib
Krib adalah bangunan yang dibuat mulai dari tebing sungai ke arah tengah
guna mengatur arus sungai dan tujuan utamanya adalah:
a. Mengatur arah arus sungai.
b. Mengurangi kecepatan arus sungai sepanjang tebing sungai, mempercepat
sedimentasi dan menjamin keamanan tanggul atau tebing sungai terhadap
gerusan.
c. Mempertahankan lebar dan kedalaman air pada alur sungai.
d. Mengkonsentrasikan arus sungai dan memudahka penyadapan.

Gambar 12. Penggunaan Krib


Krib diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Krib Permeable
Pada tipe permeable, air dapat mengalir melalui krib. Bangunan ini akan
melindungi tebing terhadap gerusan arus sungai dengan cara meredam energy
yang terkandung dalam aliran sepanjang tebing sungai dan bersamaan dengai
itu mengndapkan sendimen yang terkandung dalam aliran. Krib permeable
terbagi dalam beberapa jenis, antara lain jenis tiang pancang, rangka pyramid,
dan jenis rangka kotak.
Gambar 13. Krib Permeable
Krib permeable disebut juga dengan krib lolos air. Krib lolos air adalah krib
yang diantara bagian-bagian konstruksinya dapat dilewati aliran, sehingga
kecepatannya akan berkurang karena terjadinya gesekan dengan bagian
konstruksi krib tersebut dan memungkinkan adanya endapan angkutan muatan
di tempat ini.
b. Krib Impermeable
Krib dengan konstruksi tipe impermeable disebut juga krib padat atau krib
tidak lolos air, sebab air sungai tidak dapat mengalir melalui tubuh krib.

Gambar 14. Krib Inpermeable


Bangunan ini digunakan untuk membelokkan arah arus sungai dan karenanya
sering terjadi gerusan yang cukup dalam di depan ujung krib atau bagian
sungai di sebelah hilirnya. Untuk mencegah gerusan, di pertimbangkan
penempatan pelindung dengan konstruksi fleksibel seperti matras atau
hamparan pelindung batu sebagai pelengkap dari krib padat.
c. Krib Semi Permeable
Krib semi permeable ini berfungsi ganda yaitu sebagai krib permeable dan
krib padat. Biasanya bagian yang padat terletak disebelah bawah dan berfungsi
pula sebagai pondasi. Sedangkan bagian atasnya merupakan konstruksi yang
permeable disesuaikan dengan fungsi dan kondisi setempat. Krib semi
permeable disebut juga dengan Krib semi lulus air adalah krib yang dibentuk
oleh susunan pasangan batu kosong sehingga rembesan air masih dapat terjadi
antara batu-batu kosong.
d. Krib Silang dan Memanjang
Krib yang formasinya tegak lurus atau hamper tegak lrus sungai dapat
merintangi arus dan dinamakan krib melintang. Sedangkan krib yang
formasinya hamper sejajar arah arus sungai di sebut krib memanjang.

Gambar 15. Krib Blok Beton Pra Cetak

Gambar 16. Dinding Krib


Dalam mempersiapkan perencanaan krib, diperlukan survey mengenai
topografi, debit dan kecepatan aliran sungai dan transportasi sedimen yang ada
disungai. Tipe dan cara pembuatan krib ditetapkan secara empiris dengan
memperhatikan pengalaman masalalu dalam pembuatan krib yang hamper sejenis.
Secara umum, hal-hal yang perlu di perhatikan dalam perencanaan krib adalah
sebagai berikut:
a. Karena cara pembuatan krib sangat tergantung pada resim sungai, perlu
diperoleh data mengenai pengalaman pembuatan krib pada sungai yang sama
atau hampir sama, kemudahan pelaksanaanya dan besarnya pembiyayaan.
b. Untuk mengurangi turbulensi aliran pada sungai yang terlalu lebar, maka
permukaan air sungai normal harus dinaikan dengan krib yang panjang,
dengan memperhatikan biaya pelaksanaan dan pemeliharaannya.
c. Jika krib yang akan dibangun dimaksud pula untuk melindungi tebing
sungai terhadap pukulan air, panjang krib harus diperhitungkan pula terhadap
timbulnya pukulan air pada tebing sungai di seberangnya.
d. Krib tidak berfungsi baik pada sungai keeil dan sempit alurnya.
e. Apabila pembuatan krib dimaksudkan untuk menaikan permukaan normal
air sungai, perlu dipertimbangkan kapasitasnya disaat terjadinya debit yang
lebih besar atau debit banjir.
Tipe krib yang cocok untuk suatu lokasi haruslah ditentukan berdasarkan
resim sungai pada lokasi tersebut dengan memperhatikan tujuan pembuatannya,
tingkat kesulitan dan jangka waktu pelaksapannya. Jadi hal-hal yang perlu
diperhatikan dan dipelajari adalah bentuk denah, kemiringan memanjang dan
bentuk penampung lintang krib, elevasi muka air, debit, keeepatan arus baban
dasar dan arab pergeseran pada sungai. Selanjutnya tipe krib ditetapkan
berdasarkan fungsi hidrolika dari krib, pengalaman-pengalaman yang pemah ada
dan contoh-contoh bangunan krib-krib yang dibuat di waktu-waktu yang lalu.
Dalam proses penentuaqn tipe kirb diperlukan perhatian khusus pada hal-hal
sebagai berikut :
a. Krib permeabel yang rendah dengan konsolidasi pondasi biasanya cukup
memadai untuk melindungi tebing sungai.
b. Krib tidak cocok untuk sungai-sungai yang sempit alumya atau untuk
sungai-sungai kecil.

5. Ambang
Ambang atau drempel (ground sill) adalah bangunan yang meyilang sungai
untuk menjaga agar dasar sungai tidak turun terlalu berkelibihan.
Gambar 17. Posisi Ambang Sungai
Bangunan ini direncanakan berupa ambang atau lantai dan berfungsi untuk
mengendalikan ketinggian dan kemiringan dasar sungai, agar dapat mengurangi
atau menghentikan degradasi sungai. Bangunan ini juga dibangun untuk menjaga
agar dasar sungai tidak turun terlalu berlebihan.
a. Tipe ambang: Ambang datar (bed gindle work): terjunan (elevasi mercu)
rendah dan berfungsi untuk menjaga agar permukaan dasar sungai tidak
turun lagi.
b. Ambang pelimpah: mempunyai terjunan yang tinggi dan fungsinya untuk
lebih melandaikan kemiringan dasar sungai.

Gambar 18. Ambang (Ground Skill)


Gambar 19. Ambang

Anda mungkin juga menyukai