Anda di halaman 1dari 28

V.

BESARAN RANCANGAN

5.1. Pengertian Umum

Dalam kaitannya dengan rencana pembuatan bangunan air, besaran rancangan


yang harus didapatkan malalui kegiatan analisis hidrologi secara umum dapat berupa
debit banjir rancangan (design flood) atau debit andalan (dependable flow). Banjir
rancangan adalah besarnya debit banjir yang ditetapkan sebagai dasar penentuan
kapasitas dan mendimensi bangunan-bangunan hidraulik (termasuk bangunan di
sungai), sedemikian hingga kerusakan yang dapat ditimbulkan baik langsung
maupun tidak langsung oleh banjir tidak boleh terjadi selama besaran banjir tidak
terlampaui (Sri Harto, 1993). Banjir rancangan ini dapat berupa debit puncak,
volume banjir, ataupun hidrograf banjir. Debit andalan merupakan informasi
menyangkut jumlah ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan dengan tingkat resiko
tertentu sesuai dengan tetapan rancangan. Seringkali sebuah bangunan air
memerlukan kedua besaran rancangan tersebut untuk keperluan desain bangunan
maupun penetapan pola operasi penggunaan air yang optimal. Pada diktat ini akan
diuraikan hal-hal terkait dengan penentuan banjir rancangan. Untuk masalah debit
andalan, uraian tentang analisis hidrologi yang lebih detil menyangkut simulasi
proses pengalihrgaman hujan menjadi aliran yang umumnya menggunakan model
hidrologi.
Besarnya banjir rancangan dinyatakan dalam debit banjir sungai dengan kala
ulang tertentu. Kala ulang debit adalah suatu kurun waktu berulang dimana debit
yang terjadi menyamai atau melampaui besarnya debit banjir yang ditetapkan (banjir
rancangan). Sebagai contoh adalah apabila ditetapkan banjir rancangan dengan kala
ulang T tahun, maka dapat diartikan bahwa probabilitas kejadian debit banjir yang
sama atau melampaui dari debit banjir rancangan setiap tahunnya rata-rata adalah
sebesar 1/T. pernyataan tersebut dapat pula dikatakan bahwa periode ulang rata-rata
kejadian debit banjir sama atau melampaui debit banjir rancangan adalah sekali
setiap T tahun.

79
5.2. Pemilihan Kala Ulang Banjir Rancangan

Pemilihan besarnya kala ulang banjir rancangan untuk setiap jenis bangunan
tidak terdapat kriteria dan pedoman yang definitif. Kala ulang tersebut harus dapat
menghasilkan rancangan yang memuaskan (Sri Harto, 1993), dalam arti bahwa
bangunan hidraulik yang dibangun masih harus dapat berfungsi dengan baik minimal
selama waktu yang ditetapkan, baik struktural maupun fungsional. Pengambilan
keputusan dalam menetapkan kala ulang banjir rancangan paling tidak harus
didasrkan pada hasil analisis ekonomi (benefit cost analysis) sebagai salah satu
pertimbangan non-teknis. Umumnya debit banjir rancangan ditetapkan berdasarkan
beberapa pertimbangan berikut:
a. ukuran dan jenis proyek,
b. ketersediaan data,
c. ketersediaan dana,
d. kepentingan daerah yang dilindungi,
e. resiko kegagalan yang dapat ditimbulkan,
f. kadang bahkan juga kebijaksanaan politik.

Apabila dikaitkan dengan faktor resiko kegagalan, maka dapat digunakan


rumus sederhana berikut ini.

R  1  1  1 / T  L

dengan: R = resiko kegagalan,


T = kala ulang (tahun),
L = umur bangunan/proyek (tahun).

Secara umum banjir rancangan ditetapkan berdasarkan pertimbangan hidro-


ekonomi, yaitu terkait dengan hal-hal berikut ini.
a. Urgensi bangunan air terkait dengan resiko kegagalan fungsi bangunan.
b. Ekonomi dengan memperhatikan kemampuan penyediaan dana untuk pembuatan
bangunan air yang dirancang.

80
Untuk membuat bangunan air dengan resiko kegagalan minimal berarti
antisipasi terhadap penyebabnya (termasuk banjir) akan menunjuk pada nilai besaran
rancangan yang besar. Konsekuensinya tentu saja biaya pembangunan bangunan air
tersebut mahal, karena harus menyediakan fasilitas antisipasi kerusakan/kegagalan
fungsi bangunan dengan dimensi atau kekuatan yang cukup besar. Akan tetapi
bangunan tersebut mempunyai resiko kerugian/dampak akibat kegagalan yang kecil.
Terkait dengan pengertian resiko kegagalan, besarnya banjir rancangan secara
hidrologi ditunjukkan dengan nilai kala ulang (return period). Pengertian kala ulang
banjir dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut ini.
Misal diketahui debit banjir di sungai X untuk kala ulang T tahun adalah Q
m3/dt. Pernyataan ini berarti bahwa probabilitas nilai rerata rentang waktu
perulangan kejadian dimana debit sungai X lebih besar atau sama dengan Q m 3/dt
adalah T tahun. Secara grafis penjelasan tentang pengertian kala ulang tersebut dapat
dilukiskan dengan gambar di bawah ini.

1 2 3 2 2 1 3 1 2 1 1

QT Q = 50 m3/dt

1 2 3 . . . . 18 19 20
Tahun ke
QT = 50 m3/dt.
T = [ 1+2+3+2+2+1+3+1+2+1+1] / 11 = 1,73 tahun.

Gambar 5.1. Grafik ilustrasi pengertian kala ulang.

Dalam praktek perancangan bangunan air, penetapan nilai T dapat mengikuti


standar perancangan yang berlaku. Apabila belum tersedia pedoman yang spesifik
dan pertimbangan ekonomi dipandang lebih dominan, maka pembuat keputusan
dapat menempuh pendekatan analisis ekonomi teknik dengan masukan hitungan
hidrologi. Sajian grafis di bawah ini merupakan ilustrasi sedehana tentang penetapan
nilai kala ulang banjir rancangan dengan pendekatan tersebut.

81
Cost (Milyard)

Total cost

Const. cost

Risk cost
Gambar 5.2. Grafik ilustrasi penentuan kala ulang secara hidro-ekonomi

Sebagai gambaran lebih lanjut, berikut disajikan tabel Tyang


T optimal memuat beberapa
(tahun)
nilai kala ulang banjir rancangan yang digunakan Departeman Pekerjaan Umum
untuk berbagai bangunan di sungai (Srimoerni Doelchomid, 1987).

Tabel 5.1. Kala ulang banjir rancangan untuk bangunan di sungai

Jenis Bangunan Kala Ulang Banjir Rancangan (tahun)


Min. total cost
Bendung sungai besar sekali 100

Bendung sungai sedang 50

Bendung sungai kecil 25

Tanggul sungai besar/daerah penting 25

Tanggul sungai kecil/daerah kurang penting 10

Jembatan jalan penting 25

Jembatan jalan tidak penting 10

Definisi dan pengertian kala ulang seperti yang diuraikan di atas juga berlaku
untuk besaran hujan rancangan. Pengertian ini biasanya diterapkan pada analisis

82
hidrologi untuk menghitung debit banjir berdasarkan data hujan. Dalam hal ini
ditetapkan terlebih dahulu besarnya hujan rancangan. Prosedur tersebut berarti
menggunakan anggapan bahwa kala ulang hujan akan sama dengan kala ulang debit
banjir yang terjadi akibat adanya hujan yang besarnya sama dengan hujan rancangan
yang ditetapkan. Meskipun anggapan ini tidak selalu benar, akan tetapi cara tersebut
dalam praktek masih dapat digunakan. Penelitian menyangkut hubungan kedua
besaran hidrologi tersebut sampai sekarang belum dapat memberikan hasil yang
dapat digunakan sebagai pedoman.
Menegaskan kembali uraian pada bab I, besarnya debit banjir rancangan ini
akan menentukan besaran-besaran rancangan yang lain, seperti tinggi muka air banjir
dan elevasi dasar jembatan. Pada prinsipnya informasi tersebut diperlukan untuk
dapat menetapkan dimensi rancangan dan tata letak dari konstruksi jembatan kereta
api agar aman terhadap pengaruh negatif dari peristiwa banjir serta pengaruh lain
akibat proses morfologi sungai yang akan terjadi pada lokasi dimana jembatan kereta
api akan dibangun. Untuk itu, selain debit banjir juga diperlukan besaran debit
dominan sungai, yaitu besarnya debit sungai yang diperkirakan akan menyebabkan
adanya angkutan sedimen maksimum. Hal ini dikaitkan dengan proses perubahan
geometri sungai yang harus diantisipasi, karena dapat membahayakan stabilitas
bangunan jembatan kereta api, seperti gerusan dasar dan tebing, longsoran tebing dan
lain-lain.
Besarnya debit dominan dapat diperoleh dari analisis angkutan sedimen lokal
bardasarkan garis massa debit (flow duration curve) dan kurva liku sedimen
(sediment rating curve). Untuk mendapatkan garis massa debit dapat diturunkan dari
garis debit tahunan yang merupakan hasil perataan dari catatan data debit yang
panjang, misal 20 tahun. Apabila tidak tersedia data aliran/debit yang panjang, maka
diperlukan cara tertentu, yang dalam analisis hidrologi dapat dilakukan dengan
model matematik (model hidrologi) berdasarkan data hujan dan data karakteristik
DAS.

83
Garis massa debit ini juga dapat dipergunakan untuk menghitung perkiraan
angkutan sedimen dasar (bed load) tahunan. Prosedur dan beberapa metoda untuk
menentukan debit banjir rancangan, garis massa debit, debit dominan dan angkutan
sedimen tahunan lokal, dijelaskan pada uraian di sub bab berikutnya.

5.3. Penentuan Debit Banjir Rancangan

Dalam praktek analisis hidrologi terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh
untuk menetapkan debit banjir rancangan. Masing-masing cara akan sangat
dipengaruhi oleh beberapa factor berikut (Sri Harto, 1993):
a. ketersediaan data,
b. tingkat kesulitan yang dikehendaki,
c. kesesuaian cara dengan DAS yang ditinjau.

Cara analisis dapat dikelompokkan menjadi tiga metode (Gupta, 1967), yaitu:
a. cara empirik,
b. cara statistik,
c. analisis dengan model hidrologi.

5.3.1. Penentuan debit banjir rancangan cara empirik


Cara empirik adalah metode pendekatan dengan rumus rasional. Cara ini
diterapkan apabila tidak tersedia data debit yang cukup panjang tetapi tersedia data
hujan harian yang panjang. Terdapat empat metode perhitungan banjir rancangan
yang dikembangkan berdasarkan prinsip pendekatan rasional (Muhadi, 1987), yaitu:
metode Rasional, metode Der Weduwen, metode Melchior dan metode Haspers.
Penulis menunjuk dua macam cara yang akan diuraikan pada tulisan ini, yaitu
metode Der Weduwen dan metode Melchior seperti yang dipergunakan dalam
Standar Perencanaan Irigasi KP-01, yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal
Pengairan Departemen Pekerjaan Umum tahun 1986.

84
1. Metode Rasional

Metode yang umum dijumpai adalah dengan rumus empiris hubungan hujan-
aliran seperti rumus Rasional. Cara ini menggunakan anggapan bahwa debit
maksimum pada alur tinjauan akibat hujan merata terjadi pada saat akumulasi
limpasan permukaan dicapai. Besarnya limpasan permukaan diperhitungkan
merupakan komponen curah hujan efektif yang diestimasi berdasarkan koefisien
aliran permukaan dan dianggap linier terhadap intensitas hujan. Dengan anggapan
tersebut rumus Rasional dapat dituliskan sebagai berikut ini.

QT  C  I T  A

dengan:
QT : debit maksimum dengan kala ulang T tahun,
C : koefisien aliran permukaan,
IT : intensitas hujan dengan kala ulang T tahun,
A : luas daerah tangkapan hujan.

Penggunaan rumus Rasional mengandung asumsi bahwa hidrograf aliran banjir


berbentuk segitiga simetri dengan waktu naik mencapai debit puncak (rising limb)
dan waktu pada sisi resesi sama, yaitu sebesar waktu konsentrasi (t c) seperti
ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

I = Itc
I
Qp
Q

tc tc

Gambar 5.3. Tipikal bentuk hidrograf banjir cara Rasional

85
Memperhatikan rumus di atas, maka diperlukan penetapan nilai intensitas hujan
yang dianggap mewakili kondisi saat terjadinya debit maksimum, yaitu pada durasi
sama dengan waktu konsentrasi (waktu dari mulainya hujan sampai dengan kondisi
akumulasi limpasan permukaan pada titik tinjau dicapai). Untuk itu diperlukan
informasi karakteristik hujan di lokasi yang ditinjau berupa kurva yang menunjukkan
hubungan antara intensitas, durasi dan ala ulang hujan (IDF). Kurva ini dapat dibuat
dengan beberapa rumus empiris, antara lain yang cukup dikenal terapan di Indonesia
adalah rumus Mononobe sebagai berikut:

2
 R 24   24  3
I   T
t
T
   
 24   t 

dengan:
ItT : intensitas curah hujan pada durasi t untuk kala ulang T tahun (mm/jam),
t : durasi curah hujan (jam),
R24T : curah hujan harian maksimum dengan kala ulang T tahun (mm).

Nilai durasi hujan (t) yang memberikan debit maksimum dianggap sama dengan
nilai waktu konsentrasi (tc). Nilai tc tergantung dari karakteristik aliran permukaan
dan aliran di alur/sungai, yaitu merupakan nilai maksimum dari jumlah waktu aliran
air mulai dari ujung daerah tangkapan ke ujung alur dan waktu aliran sepanjang alur.
Beberapa rumus empiris perkiraan nilai tc dapat digunakan sesuai dengan kondisi
permukaan aliran dan topografi. Berikut disajikan contoh kurva IDF hasil
pengolahan data curah hujan di stasiun Duri, propinsi Riau yang didasarkan pada
hujan harian maksimum dengan kala ulang 5, 10 dan 25 tahun.

86
Tabel 5.2. Intensitas hujan dengan kala Ulang 5, 10 dan 25 tahun

It pada beberapa kala ulang (mm/jam)


t (menit)
5 tahun 10 tahun 25 tahun
5 238.28 270.80 314.41
10 150.11 170.59 198.06
15 114.56 130.19 151.15
20 94.56 107.47 124.77
45 55.07 62.59 72.67
60 45.46 51.67 59.98
120 28.64 32.55 37.79
180 21.86 24.84 28.84
360 13.77 15.65 18.17
720 8.67 9.84 11.44

1000

800
Intensitas Hujan(mm/jam)

600 5 tahun
10 tahun
400 25 tahun

200

0
0
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
550
600
650
700

Lama Hujan (menit)

Gambar 5.4. Kurva IDF di Duri dengan kala ulang 5, 10 dan 25 tahun

87
2. Rumus banjir Melchior

Rumus banjir Melchior dikenalkan pertama kali pada tahun 1914 dan berlaku
untuk DAS dengan luas sampai 1000 km2. Rumus-rumus yang digunakan adalah
sebagai berikut:

QT    qT A

dimana: QT = debit banjir dengan kala ulang T tahun (m3/det),


 = koefisien aliran,
qT = curah hujan harian rancangan dengan kala ulang T tahun (mm),
 = koefisien pengurangan daerah untuk curah hujan DAS,
A = luas DAS (km2).

Besarnya  dapat didekati dengan memperhatikan kondisi tanah penutup


(tataguna lahan) dan kelompok hidrologi tanah seperti pada Tabel 5.3. Nilai qT
ditetapkan berdasarkan data curah hujan harian maksimum untuk beberapa tahun.
Cara analisis adalah dengan pendekatan statistik yang umumnya digunakan metode
analisis frekuensi. Uraian tentang metode analisis frekuensi dapat dilihat pada sub
bab 5.3.2.

Tabel 5.3. Harga koefisien aliran

Kelompok hidrologis tanah


Tanah penutup
C D
Hutan lebat (vegetasi dikembangkan dengan 0,60 0,70
baik)
Hutan dengan kelebatan sedang (vegetasi 0,65 0,75
dikembangkan cukup baik)
Tanaman ladang dan daerah gundul 0,75 0,80

Sumber: Standar Perencanaan Irigasi, KP-01, 1986.

Curah hujan qT ditentukan sebagai hujan terpusat (point rainfall) yang


selanjutnya dikonversi menjadi hujan untuk seluruh luas daerah hujan (hujan rata-

88
rata DAS), yaitu qT. Untuk luas daerah hujan F = 0 dan lama hujan t = 24 jam serta
curah hujan qT = 200 mm, diperoleh hasil hitungan sebagai berikut:

qT = (0,2 x 1000 x 1000)/(24 x 3600) = 2,31 m3/det.km2

Untuk nilai qT yang lain, harga qT dapat dihitung secara proposional. Sebagai
contoh untuk qT = 240 mm, harga qT menjadi:

qT = (240/200) x 2,31 = 2,77 m3/det.km2

Dalam penerapannya, harga t diambil untuk lama waktu konsentrasi, yaitu tc


yang dapat diperkirakan dari tabel berikut ini.

Tabel 5.4. Perkiraan harga tc

F (km2) tc (jam) F (km2) tc (jam)


100 7,0 500 12,0
150 7,5 700 14,0
200 8,5 1000 16,0
300 10,0 1500 18,0
400 11,0 3000 24,0

Sumber: Standar Perencanaan Irigasi, KP-01, 1986.

Rumus tc oleh Melchior ditetapkan sebagai berikut:

t c  0,186 LQ 0, 2 I 0, 4

dengan: tc = waktu konsentrasi (jam),


L = panjang sungai (km),
Q = debit puncak (m3/det),
I = kemiringan rata-rata sungai.

Kemiringan rata-rata dasar sungai ditentukan dengan tidak memperhitungkan


10 % bagian hulu dari sungai seperti pada gambar 5.5 berikut ini.

89
Gambar 5.5. Penentuan kemiringan rata-rata sungai
(Sumber: Standar Perencanaan Irigasi KP-01, 1986)

Prosedur hitungan dengan rumus banjir Melchior dipermudah dengan


nomogram luas daerah hujan Melchior seperti pada Gambar 5.6. Luas F dapat
dihitung dengan menggambarkan elips yang mengelilingi batas DAS dengan as
pendek sekurang-kurangnya 2/3 dari as yang panjang. Contoh penentuan elips luas
daerah hujan dapat dilihat pada Gambar 5.7.
Langkah-langkah hitungan debit puncak Qt dapat ditempuh sebagai berikut:
(1) tentukan besarnya curah hujan sehari untuk kala ulang rencana yang dipilih,
(2) tentukan  untuk daerah pengaliran menurut Tabel 5.2.,
(3) hitung A, F, L dan I untuk daerah pengaliran,
(4) buat perkiraan harga pertama waktu konsentrasi t0 berdasarkan Tabel 5.3.,
(5) ambil harga tc= t0 untuk menetapkan qT dari Gambar 5.2., kemudian hitung nilai
Q0 =   qT A,
(6) hitung tc menurut rumus untuk Q = Q0,
(7) gunakan tc untuk mengulangi langkah (4), (5) dan (6) sampai diperoleh tc
mendekati t0,
(8) hitung debit puncak QT untuk harga akhir tc.

90
Gambar 5.6. Luas daerah curah hujan Melchior
(Sumber: Standar Perencanaan Irigasi KP-01, 1986)

91
Gambar 5.7. Perhitungan luas daerah hujan
(Sumber: Standar Perencanaan Irigasi KP-01, 1986)

2. Rumus banjir Der Weduwen

Metode perhitungan banjir Der Weduwen diterbitkan pertama kali pada tahun
1937. Metode ini cocok untuk DAS dengan luas sampai 100 km2. Rumus-rumus
yang digunakan adalah sebagai berikut ini.

QT    qT A
 4,1 
 1  
   qT  7  

  t  1 
120  A  t  9 
 
120  A
RT 67,65
qT  
240  t  0,45

t  0,25 LQ 0,123 I 0, 25

dimana: QT = debit banjir dengan kala ulang T tahun (m3/det),


RT = curah hujan harian maksimum dengan kala ulang T tahun (mm),
 = koefisien aliran,

92
qT = curah hujan rancangan, yaitu curah hujan harian dengan kala ulang T
tahun (mm),
 = koefisien pengurangan daerah untuk curah hujan DAS,
A = luas DAS (km2),
t = lamanya hujan (jam),
L = panjang sungai,
I = gradien sungai.

Prosedur hitungan dilakukan dengan cara coba ulang berkali-kali mengikuti


langkah-langkah berikut:

(1) hitung A, L dan I dari peta garis tinggi DAS dan substitusikan dalam persamaan,
(2) tentukan nilai perkiraan Q0, kemudian hitung t, qT,  dan  serta tentukan nilai
QT,
(3) apabila nilai QT belum mendekati Q0, ulangi langkah 1 dan 2 dengan
menggunakan QT sebagai Q0 untuk hitungan awal,
(4) debit puncak yang diambil adalah QT hasil perhitungan iterasi terakhir (terbaik)
yang didapatkan.

Untuk mempermudah hitungan, nilai awal Q0 dapat ditentukan berdasarkan


nomogram seperti disajikan pada lampiran 1 yang dapat dilakukan secara interpolasi.

Selain dengan cara-cara seperti diuraikan di atas, kadang juga digunakan cara
hidrograf satuan atau hidrograf satuan sintetik, yaitu dengan memanfaatkan
hubungan empiris antara hujan dan beberapa parameter DAS. Dengan cara ini
keluaran analisis adalah hidrograf banjir yang dapat diketahui debit banjir puncaknya
sebagai debit banjir rancangan. Untuk analisis dengan hidrograf satuan dapat dipakai
cara polinomial atau cara Collins. Pendekatan cara analitis tersebut, pada dasarnya
dapat diterapkan apabila tersedia data curah hujan dan data debit pada periode waktu
pencatatannya yang sama dengan kualitas dan ketelitian yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk keperluan analisis hidrologi.

93
Sedangkan untuk hidrograf satuan sintetik terdapat banyak rumus empiris
seperti: hidrograf satuan cara Snyder (Snyder Synthetic Unit Hydrograph),
Nakayasu, rumus SCS dan Hidrograf Satuan Sintetik Gama I (Sri Harto, 1985).
Khusus untuk Hidrograf Satuan Sintetik Gama I, metode tersebut dikembangkan
berdasarkan penelitian beberapa DAS di Jawa dan Sumatera, yang dalam
penggunaannya cukup praktis dan menunjukkan keragaan hasil yang cukup baik.
Uraian rinci tentang cara penetapan dan penggunaan hidrograf satuan sintetik untuk
penetapan banjir rancangan tidak diberikan pada diktat ini, namun akan dapat
dipelajari pada cakupan materi kuliah Applied Hydrology.

3. Contoh hitungan

Berikut diberikan contoh hitungan untuk kedua rumus empiris yang telah
diuraikan di atas.

a. Contoh hitungan debit banjir rancangan dengan metode Melchior


Diketahui data sebagai berikut:
 luas DAS, A = 150 km2,
 panjang sungai, L = 18 km,
 kemiringan rata-rata sungai, I = 0,005,
 luas daerah hujan, F = 180 km2,
 curah hujan harian maksimum dengan kala ulang 50 tahun, q50 = 220 mm,
 koefisien pengaliran  = 0,6.

Dengan data tersebut dapat dihitung debit banjir rancangan untuk Q50 dengan
cara coba ulang sebagai berikut:
(1) berdasarkan Tabel 5.3. untuk A (A = F) = 150 km2 diperoleh t0 = 7,5 jam,
(2) dari nomogram pada lampiran 1 untuk qT = 200 mm dan t = 7,5 jam didapat
harga qT = 4,6 m3/det. km2,
(3) maka, untuk qT = 220 mm didapat qT = (220/200) x 4,6 = 5,06 m3/det. km2,
(4) dengan rumus dapat dihitung, Q0 = 0,6 x 5,06 x 150 = 455,4 m3/det.,

94
(5) tc menurut rumus dapat dihitung, didapat tc = 8,2 jam (masih > 7,5 jam),
(6) ambil t0 = 8,2 jam, dengan prosedur sama dengan langkah (1) s.d (4) diperoleh
harga qT = 4,84 m3/det. km2 dan Q0 = 435,6 m3/det.,
(7) selanjutnya tc menurut rumus didapat sebesar 8,27 jam ( 8,2 jam),
(8) jadi nilai debit banjir rancangan Q50 adalah 435,6 m3/det.

b. Contoh hitungan debit banjir rancangan dengan metode Der Weduwen


Diketahui data sebagai berikut:
 luas DAS, A = 25 km2,
 panjang dan kemiringan rerata sungai L = 7 km, I = 0,005,
 curah hujan harian maksimum dengan kala ulang 5 tahun, R5 = 80 mm.

Dengan data tersebut dapat dihitung debit banjir rancangan untuk Q5 dengan
cara coba ulang sebagai berikut:

(1) dari lampiran 1 untuk A = 25 km2 dan I = 0,005 diperoleh Q0 = 43 m3/det,


(2) nilai t, qT, ,  dapat dihitung sebagai berikut:
(3) t = 0,25 x 7 x 43-0,125 x 0,005-0,25 = 4,113 jam,
qT = 80/240 x 67,5 / (4,113 + 1,45) = 4,045 m3/det. km2,
 = [120 + 25(4,113 + 1)/(4,113 + 9)] / (120 + 25) = 0,895
 = 1 – [4,1 /(0,895 x 4,045 + 7)] = 0,614
(4) maka Q5 = 0,614 x 0,895 x 4,045 x 25 = 55,55 m3/det (> 43 m3/det),
(5) dengan menggunakan prosedur sama seperti pada langkah (2) s.d. (4), untuk
nilai awal Q0 = 55,55 m3/det, akan didapat:
t = 3,983 jam,
qT = 4,141 m3/det. km2,
 = 0,894,
 = 0,626,
Q5 = 57,941 m3/det (> 55,55 m3/det),
(6) selanjutnya iterasi diulang lagi dengan nilai awal Q0 = 57,941 m3/det yang
akhirnya akan didapat sebagai berikut:

95
t = 3,9621 jam,
qT = 4,167 m3/det. km2,
 = 0,894,
 = 0,618,
Q5 = 57,556 m3/det ( 57,941 m3/det),
(7) dengan demikian nilai debit banjir rancangan Q5 adalah = 57,556 m3/det.

5.3.2. Penentuan debit banjir rancangan cara statistik


Analisis hidrologi untuk menentukan debit banjir rancangan dengan cara
statistik dianggap paling baik, karena didasarkan pada data terukur di sungai, yaitu
catatan debit banjir yang pernah terjadi. Dalam hal ini tersirat pengertian bahwa
analisis dilakukan secara langsung pada data debit, tidak melalui hubungan empiris
antar beberapa parameter DAS dan hujan seperti halnya pada cara empirik. Oleh
karena itu sampai saat ini masih dianggap cukup dapat diandalkan. Meskipun
demikian, ketelitian hasil juga akan sangat dipengaruhi oleh data yang tersedia, baik
tentang kuantitas (panjang data), kualitas atau ketelitiannya.
Analisis statistik untuk menentukan banjir rancangan dengan metode analisis
frekuensi dapat dilakukan secara grafis atau menggunakan rumus distribusi frekuensi
teoritik. Cara kedua lebih umum keberlakuannya untuk kasus dimana data yang
tersedia cukup panjang dan kualitasnya memenuhi syarat untuk analisis statistik.
Berikut diuraikan beberapa rumus distribusi frekuensi yang umum dipakai dalam
analisis hidrologi, yaitu Normal, Log Normal, Log Pearson tipe III dan Gumbel.

1. Analisis frekuensi dengan rumus distribusi frekuensi teoritik

Parameter statistik data debit banjir maksimum tahunan yang perlu


diperkirakan untuk pemilihan distribusi yang sesuai dengan sebaran data adalah
sebagai berikut ini.
1
X n
 Mean atau harga tengah, n Xi
i 1

96
n  n 
2 
2   
X 
 i   i  / n  X
 Simpangan baku, i 1

 i 1  

S
 n  1

S
 Koefisien variansi, Cv 
X

 
n
n 3
 Asimetri (skewness), C s   Xi  X
 n  1 n  2  S 3
i 1

n2
 
n 4
 Kurtosis, Ck   Xi  X
 n  1 n  2  n  3 S 4
i 1

Keterangan: n adalah jumlah data yang dianalisis.

Berikut disajikan uraian singkat tentang sifat-sifat khas dari setiap macam
distribusi frekuensi tersebut.

a. Distribusi Normal
Ciri khas distribusi Normal adalah:
 Skewness Cs  0,00
 Kurtosis Ck = 3,00
 Prob X  (X – S ) = 15,87 %
 Prob X  X = 50,00 %
 Prob X  (X + S ) = 84,14 %

b. Distribusi Log Normal


Sifat statistik distribusi Log Normal adalah:
 Cs  3 Cv
 Cs > 0
Persamaan garis teoritik probabilitas: X T  X  K T .S

dengan: XT = debit banjir maksimum dengan kala ulang T tahun,


KT = faktor frekuensi,
S = simpangan baku.

97
Lampiran 2 menyajikan nilai KT untuk beberapa nilai probabilitas tertentu.

c. Distribusi Gumbel
Ciri khas statistik distribusi Gumbel adalah:
 Cs  1,396
 Ck  5,4002
Persamaan garis teoritik probabilitasnya adalah: X T  X  S /  n  Y  Yn 
dengan: Y = reduced variate,
Yn = mean dari reduced variate,
n = simpangan baku reduced variate,
n = banyaknya data.

Nilai Y untuk beberapa harga T (kala ulang) dapat dilihat pada Tabel 5.5,
sedangkan harga Yn dan n untuk beberapa nilai n dapat dilihat pada lampiran 3.

Tabel 5.5. Nilai Reduced Variate (Y) untuk beberapa nilai kala ulang (T)

Kala ulang T (tahun) Reduced variate Y


2 0,3665
5 1,4999
10 2,2502
25 3,1985
50 3,9019
100 4,6001

Sumber: Srimoerni Doelchomid, 1986.

d. Distribusi Log Pearson III


Sifat statistik distribusi ini adalah:
 jika tidak menunjukkan sifat-sifat seperti pada ketiga distribusi di atas,
 garis teoritik probabilitasnya berupa garis lengkung.

Secara umum, persamaan garis teoritik probabilitas untuk analisis frekuensi


dapat dinyatakan dengan rumus sederhana sebagai berikut (Han, 1977):

98
X T  X  S .K T

dengan: XT = besaran (dapat debit atau hujan) dengan kala ulang T tahun,
X = besaran rata-rata,
S = simpangan baku,
KT = faktor frekuensi untuk kala ulang T tahun.

Lampiran 4 menyajikan nilai KT untuk distribusi Log Pearson tipe III. Untuk
menetapkan distribusi terpilih sesuai dengan sebaran data, digunakan uji Chi-kuadrat
dan uji Smirnov-Kolmogorov sebagai berikut ini.

e. Uji Chi-Kuadrat
Pada dasarnya uji ini merupakan pengecekan terhadap penyimpangan rerata
dari data yang dianalisis berdasarkan distribusi terpilih. Penyimpangan tersebut
diukur dari perbedaan antara nilai probabilitas setiap variat X menurut hitungan
dengan pendekatan empiris. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

K   Ef  Of  2 
2   
i 1 
 Ef  i

dengan: 2 = harga Chi-kuadrat,


Ef = frekuensi yang diharapkan untuk kelas i,
Of = frekuensi terbaca pada kelas i,
K = banyaknya kelas.

Harga 2 harus lebih kecil dari harga 2 kritik yang dapat diambil dari tabel di
lampiran 5 untuk derajat nyata () tertentu dan derajat kebebasan (DK) tertentu.
Umumnya digunakan derajat nyata 5 % dan untuk distribusi Chi-Kuadrat. Nilai DK
ditetapkan berdasarkan K dan jumlah parameter distribusi (p) dengan rumus berikut:

DK = K – p - 1

99
f. Uji Smirnov-Kolmogorov
Pengujian dilakukan dengan mencari nilai selisih probabilitas tiap variat X
menurut distribusi empiris dan teoritik, yaitu i. Harga i maksimum harus lebih
kecil dari  kritik yang dapat dicari dari Tabel 5.6 sebagai berikut ini.

Tabel 5.6. Nilai  kritik untuk uji Smirnov Kolmogorov

n  0.20 0.10 0.05 0.01


5 0.45 0.51 0.56 0.67
10 0.32 0.37 0.41 0.49
15 0.27 0.30 0.34 0.40
20 0.23 0.26 0.29 0.36
25 0.21 0.24 0.27 0.32
30 0.19 0.22 0.24 0.29
35 0.18 0.20 0.23 0.27
40 0.17 0.19 0.21 0.25
45 0.16 0.18 0.20 0.24
50 0.15 0.17 0.19 0.23
1,07 1.22 1.36 1.63
n > 50
n n n n

Sumber: Charles T. Haan, 1993

g. Hitungan analisis frekuensi


Hitungan analisis frekuensi dilakukan dengan urutan sebagai berikut ini:
(1) hitung parameter statistik data yang dianalisis, meliputi: X , S, Cv, Cs, dan
Ck,
(2) berdasarkan nilai-nilai parameter statistik terhitung, perkirakan distribusi
yang cocok dengan sebaran data,
(3) urutkan data dari kecil ke besar (atau sebaliknya),
(4) dengan kertas probabilitas yang sesuai untuk distribusi terpilih, plotkan data
dengan nilai probabilitas variat Xi sebagai berikut:

prob (Xi  X) = m/(n+1)

dengan: m = urutan data dari kecil ke besar (1 s.d. n),

100
n = jumlah data,
(5) tarik garis teoritik dan lakukan uji Chi-kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov,
(6) apabila syarat uji dipenuhi, tentukan besaran rancangan yang dicari untuk
kala ulang yang ditetapkan (QT atau RT),
(7) jika syarat uji tidak dipenuhi, pilih distribusi yang lain dan analisis dapat
dilakukan seperti pada langkah (1) s.d. (6).

h. Contoh hitungan
Berikut disajikan contoh analisis frekuensi untuk mencari besarnya debit banjir
rancangan berdasarkan data debit yang tersedia dari suatu setasiun pengukuran
hidrometri. Contoh ini diambil dari buku: Mengenal Dasar Hidrologi Terapan (Sri
Harto, 1984). Data tersedia adalah catatan data debit banjir maksimum tahunan
sebanyak 40 (catatan selama 40 tahun), yang setelah diurutkan diperolh hasil seperti
pada Tabel 5.7.
Dari data di table tersebut dapat dihitung nilai parameter statistik yang hasilnya
adalah sebagai berikut:
 mean : Q = 1088,1 m3/det,
 simpangan baku : S = 317,617 m3/det,
 skewness : Cs = 0,1079,
 kurtosis : Ck = 2,2864.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai Cs sangat kecil, maka dipilih distribusi
Normal. Dari pengujian terhadap nilai variat Q didapat hasil sebagai berikut:

Q + S = 1405,7 m3/det,
Q – S = 770,5 m3/det.

Selanjutnya data tersebut diplot pada kertas probabilitas untuk distribusi


Normal yang hasilnya dapat ditunjukkan pada Gambar 5.8. Uji Chi-Kuadrat
dilakukan dengan mengambil banyaknya kelas K adalah 5 seperti ditunjukkan pada
Tabel 5.8.

101
Tabel 5.7. Data debit maksimum tahunan (annual maximum series)

m Q (m3/det) m/(n+1) m Q (m3/det) m/(n+1)


1 530 0.0243 21 1138 0.5122
2 569 0.0486 22 1138 0.5366
3 577 0.0730 23 1142 0.5610
4 639 0.0974 24 1156 0.5854
5 666 0.1218 25 1165 0.6098
6 667 0.1462 26 1171 0. 6342
7 709 0.1706 27 1172 0.6586
8 742 0.1950 28 1202 0.6830
9 817 0.2194 29 1207 0.7074
10 825 0.2438 30 1270 0.7318
11 861 0.2682 31 1275 0.7562
12 884 0.2962 32 1306 0.7805
13 949 0.3170 33 1323 0.8049
14 962 0.3414 34 1391 0.8293
15 964 0.3658 35 1433 0.8537
16 1041 0.3902 36 1544 0.8781
17 1077 0.4142 37 1553 0.9025
18 1116 0.4390 38 1673 0.9269
19 1118 0.4634 39 1677 0.9512
20 1135 0.4878 40 1740 0.9756

Sumber: Sri Harto, 1984

Tabel 5.8. Hasil uji Chi-kuadrat

Probabilitas Ef Of Ef - Of (Ef - Of)2/Ef


P ≤0,2 8 9 1 0,125
0,2 < P ≤0,4 8 7 1 0,125
0,4 < P ≤0,6 8 8 0 0,000
0,6 < P ≤0,8 8 9 1 0,125
0,8 < P ≤1,0 8 7 1 0,125
Jumlah 40 40 0,500

102
Gambar 5.8. Ploting variat Q pada kertas probabilitas distribusi Normal

103
Dari tabel di atas didapat harga 2 sebesar 0,50. Untuk jumlah interval K = 5,
maka derajat kebebasan DK = K-P-1 = 2, dengan P adalah parameter distribusi
(untuk distribusi Normal P=2). Dengan  = 0,05 dari lampiran 5 diperoleh nilai 2
kritik sebesar 5,991 yang berarti syarat uji dapat dipenuhi (2 < 2 kritik).
Untuk uji Smirnov-Kolmogorov dapat dicermati hasil ploting titik variat Q
seperti ditunjukkan pada Gambar 5.8. Dari gambar tersebut didapatkan Δmaksimum
sebesar 0,10. Untuk n = 40 dan  = 0,05 berdasarkan Tabel 5.8 didapat nilai Δkritik
sebesar 0,21 (> maks.). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua syarat uji
kesesuaian distribusi dipenuhi. Selanjutnya dapat ditentukan besarnya debit banjir
untuk beberapa nilai kala ulang. Pada Gambar 5.8 ditunjukkan contoh untuk Q25
dengan cara sebagai berikut:
(1) T = 25 tahun, berarti probabilitas (Q ≥Q25) = 100/25 % = 4 %,
(2) tarik garis vertikal ke bawah dari angka 4 pada skala absis atas sampai
memotong garis probabilitas teoritik kemudian tarik garis horisontal dari titik
perpotongan tersebut ke skala debit pada sumbu ordinat,
(3) besarnya Q25 dapat dibaca, yaitu 1.640 m3/det.

Pada contoh di atas, data banjir yang digunakan adalah catatan debit banjir
maksimum tahunan (annual maximum series). Untuk mendapatkan hasil yang teliti,
analisis dengan rumus distribusi teoritik dapat diterapkan apabila tersedia data yang
relatif cukup panjang. Batasan umum adalah 20 tahun dan apabila ketersediaan data
kurang, maka dapat ditempuh dengan cara menetapkan nilai debit banjir ambang
(Treshold). Debit banjir yang lebih besar dari nilai ambang tersebut dapat digunakan
untuk hitungan analisis frekuensi. Dengan cara ini data debit banjir dapat bertambah,
karena kemungkinan dalam satu tahun akan terdapat lebih dari satu data debit banjir
yang lebih besar dari nilai debit banjir ambang. Rangkaian data debit banjir yang
ditetapkan dengan cara tersebut dinamakan seri data parsial (partial series).
Hubungan antara kala ulang hasil analisis frekuensi dengan data “annual series” dan
dengan data “partial series” dapat disajikan pada rumus berikut ini (Chow, 1964).

104
1
Tp 
 ln Ta  ln Ta  1 
dengan : Tp = kala ulang untuk data “partial series”,
Ta = kala ulang untuk data “annual series”.

2. Analisis frekuensi dengan cara grafis

Pada prinsipnya analisis frekuensi dengan cara grafis mirip dengan cara
menggunakan distribusi frekuensi teoritik. Cara ini diterapkan terutama untuk
tersedia minimum 20 tahun dan kala ulang yang ditinjau tidak boleh lebih besar dari
panjang data tersedia (T ≤n). Prosedur hitungan sama dengan langkah-langkah pada
cara menggunakan distribusi frekuensi teoritik, hanya saja penarikan garis teoritik
dapat dilakukan secara langsung dengan pendekatan pandangan mata tanpa disertai
uji Chi-kuadrat maupun Smirnov-Kolmogorov.
Untuk data yang kurang dari 20 tahun dapat diturunkan seri data parsial dengan
menggunakan rumus Rasional, Hidrograf Satuan atau dengan model hidrologi yang
lain. Untuk itu diperlukan data hujan ekstrim sebagai masukan model dalam
menentukan debit banjir tambahan (selain debit banjir maksimum tahunan). Apabila
tidak terdapat data debit banjir sama sekali, dapat ditempuh dengan menentukan
dahulu curah hujan rancangan, kemudian diteruskan dengan hitungan debit banjir
rancangan dengan metode Rasional, Hidrograf Satuan atau model hidrologi lain yang
sesuai dengan daerah tinjauan. Jadi dalam kasus ini analisis frekuensi diterapkan
untuk menentukan curah hujan rancangan.

5.3.3. Penentuan debit banjir rancangan dengan model hidrologi


Pengertian model hidrologi dalam cara ini adalah model hujan-aliran (rainfall-
runoff model). Pada prinsipnya model hidrologi tersebut adalah suatu tiruan dari
sistem hidrologi (sistem DAS) yang kompleks, yakni hubungan antara masukan
sistem, parameter DAS dan keluaran berupa debit sungai yang dapat dinyatakan
dalam debit banjir atau hidrograf banjir.
Penggunaan model hidrologi umumnya diterapkan pada kasus dimana
ketersediaan data debit terukur sangat minim, sedangkan data hujan dan karakteristik

105
DAS cukup memadai, baik panjang, jenis maupun kualitasnya. Setiap model hujan-
aliran dibuat dengan konsep dasar yang sama, yaitu perumusan neraca air (water
balance) pada zona hidrologi yang ditinjau dengan merinci besarnya setiap unsur
aliran. Prinsip ini dapat diterapkan dengan cara mengkuantifikasi besarnya setiap
unsur aliran sungai berdasarkan sumbernya dengan memperhatikan proses yang
terjadi. Pada diktat ini tidak diuraikan secara rinci mengenai penggunaan model
hidrologi tersebut, mengingat bahasan masalah ini memerlukan penjelasan lebih detil
cukup banyak menyangkut penurunan dan pendekatan rumus matematik untuk setiap
proses dalam daur hidrologi. Sebagai informasi tambahan, beberapa model hidrologi
yang sering digunakan untuk analisis dan hitungan debit banjir rancangan di
Indonesia adalah SSARR Model, Tank Model, SWM-IV, HEC-HMS, WMS dan
lain-lain. Model tersebut banyak digunakan untuk keperluan analisis hidrologi dalam
rangka kegiatan perancangan bangunan air yang besar, seperti waduk/bendungan,
bangunan pelimpah (spillway), tanggul banjir, bendung gerak dan lain sebagainya
yang memerlukan informasi debit maksimum untuk banjir rancangan dan juga
hidrograf banjir rancangan serta beberapa karakteristik tentang debit sungai di lokasi
bangunan air yang akan dibuat.

106