Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN

Oleh :

Ni Made Mastini Padmi ( P07120218 007 )


I Gede Agus Surya Raditya ( P07120218 008 )
Gusti Ayu Putri Diah S. ( P07120218 009 )

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLTEKKES KEMENKES DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

2020
KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi Pengertian
Penyakit Jantung Bawaan memiliki beberapa pengertian.Penyakit jantung bawaan
merupakan suatu kelainan jantung yang terjadi sejak bayi lahir (Kasron, 2012). Selain
itu ada juga yang berpendapat penyakit jantung bawaan merupakan suatu penyakit
kelainan jantung dimana paling sering ditemukan pada bayi dan anak (Djer, 2014)
sedangkan menurut Rilantono (2013) mengatakan penyakit jantung bawaan suatu
cacat jantung yang dibawa sejak lahir dengan kelainan pada struktur jantung atau
fungsi sirkulasi jantung.
2. Penyebab/factor predisposisi
Penyebab terjadinya penyakit hantung bawaan karena faktor prenatal :
1. Faktor prenatal
a. Ibu menderita penyakit infeksi
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih tua dari 40-tahun
d. Ibu menederita penyakit diabetes militus (DM) yang memerlukan insulin
2. Faktor Genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menederita penyakit jantung bawaan
b. Ayah / ibu menderita penyakit jantung bawaan
c. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain
d. Mempunyai penyimpangan pada kromosom, misalnya pada sindroma Down
3. Faktor lingkungan
a. Paparan lingkungan yang tidak baik, misalnya menghirup asap rokok
b. Rubella, infeksi virus ini pada kehamilan trimester I, akan menyebabkan PJB
c. Diabetes , bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang menederita diabetes
tidak terkontrol mempunyai risiko sekitar 3-5% untuk mengalami PJB
d. Alkohol
e. Ectasy dan obat-obatan lain seperti diazepam, corticasteroid dll
3. Patofisiologi ( Pohon Masalah )
4. Klasifikasi

PJB dapat dibagi menjadi 2 golongan besar, yaitu


1. Golongan PJB Asianotik (tidak biru)
a. Defek Septum Atrium / Atrial Septum Defect (ASD)
Atrial Septal Defect (ASD) adalah terdapatnya hubungan antara atrium
kanan dengan atrium kiri yang tidak ditutup oleh katup. Biasanya anak
dengan DSA tidak terlihat menderita kelainan jantung karena pertumbuhan
dan perkembangannya biasa seperti anak lain yang tidak ada kelainan. Hanya
pada pirau kiri ke kanan yang sangat besar pada stres anak cepat lelah dan
mengeluh dispnea, dan sering memdapat infeksi saluran napas.
b. Defek Septum Ventrikel (VSD)
Ventricular septum defect (VSD) merupakan suatu keadaan adanya lubang
disekat jantung yang memisahkan ruang ventrikel (bilik) kanan dan kiri .
Lubang ini mengakibatkan kebocoran aliran darah dari bilik kiri yang
memiliki tekanan lebih besar melalui bilik kanan langsung masuk ke
pembuluh nadi paru (arteri pulmonalis).
c. Duktus Arteriosus Paten (PDA)
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada
janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada
bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah
lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3
minggu.
d. Stenosis Pulmonal (PS)
Stenosis Katup Pulmonal adalah suatu kerusakan katup jantung yang
ditandai dengan penyempitan (stenosis) katup pulmonal. Katup pulmonal
terdiri dari tiga jaringan kelopak yang tipis yang dikenal sebagai daun katup
yang tersusun seperti kaki tripod. Ketika ruang jantung kanan bawah
(ventrikel kanan) berkontraksi, daun katup ini terbuka, memungkinkan darah
mengalir dari ventrikel kanan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis. Pada
stenosis katup pulmonal, satu atau lebih daun katup tersebut mungkin rusak,
terlalu tebal atau tidak terpisah satu dengan lainnya sebagimana mestinya.
2. Golongan PJB Sianotik (biru)
a. Tetralogi of Fallot (TOF)
Tetralogi fallot (TF) adalah kelainan jantung dengan gangguan sianosis yang
ditandai dengan kombinasi 4 hal yang abnormal meliputi defek septum
ventrikel, stenosis pulmonal, overriding aorta, dan hipertrofi ventrikel kanan.
b. Transposition of the Great Arteries (TGA)
Kelainan jantung bawaan TGA (Transposition Of The Great Arteries)
merupakan kelainan pada jantung berupa adanya pemindahan asl dari aorta
dan arteri pulmonalis; aorta keluar dari ventrikel kanan dan arteri pulmonalis
dari ventrikel kiri. (Persify, 2014)

5. Gejala Klinis
Manifestasi klinis kelainan jantung kongenital sangat bervariasi, tergantung
macam kelainannya. Kelainan yang menyebabkan penurunan aliran darah ke paru
atau percampuran darah berkadar tinggi zat asam dengan darah kotor dapat
menimbulkan sianosis, ditandai oleh kebiruan di kulit, kuku jari, bibir, dan lidah.
Beberapa jenis kelainan jantung kongenital juga dapat menyebabkan gagal
jantung. Kelainan ini menyebabkan terjadinya aliran darah dari sisi jantung kiri ke sisi
jantung kanan yang secara progresif meningkatkan beban jantung. Gejala dari gagal
jantung berupa menurut Sudarti dan Endang (2010) adalah sebagai berikut:
1. Nafas Cepat, bibir biru
2. Sulit makan dan menyusu
3. Berat badan rendah
4. Infeksi pernafasan berulang
5. Toleransi gerak badan yang rendah

6. Pemeriksaan Fisik
Meliputi : inspeksi, palpasi, perkusi & auskultasi
Dari hasil pemeriksaan fisik pada penyakit jantung congenital (CHD) adalah:
Bayi baru lahir berukuran kecil dan berat badan kurang, anak terlihat pucat,
banyak keringat bercucuran, ujung-ujung jari hiperemik,
- Diameter dada bertambah, sering terlihat penonjolan dada kiri
- Tanda yang menonjol adalah nafas pendek dan retraksi pada jugulum,
selaintrakostal dan region epigastrium.
- Pada anak yang kurus terlihat impuls jantung yang hiperdinamik
- Anak sering mengalami kelelahan dan infeksi saluran pernafasan atas
- Neonatus menunjukkan tanda-tanda respiratory distress seperti mendengkur,
dan retraksi.
- Pusing, tanda-tanda ini lebih nampak apabila pemenuhan kebutuhan terhadap
O2 tidak terpenuhi ditandai dengan adanya murmur sistolik yang terdengar
pada batas kiri sternum
- Adanya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah lebih tinggi pada lengan
daripada kaki. Denyut nadi pada lengan atas terasa kuat, tetapi lemah pada
popliteal dan femoral.

7. Pemeriksaan Diagnostic/Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi
oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan
hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA menunjukkan peningkatan tekanan partial
karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan
PH.pasien dengan Hn dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi
besi.
2. Radiologis
Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah pulmonal, tidak ada
pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak apeks jantung terangkat
sehingga seperti sepatu.
3. EKG
Pada EKG sumbu QRS hampir selalu berdeviasi ke kanan. Tampak pula
hipertrofi ventrikel kanan. Pada anak besar dijumpai P pulmonal
4. Echocardiography
Memperlihatkan dilatasi aorta, overriding aorta dengan dilatasi ventrikel
kanan,penurunan ukuran arteri pulmonalis & penurunan aliran darah ke paru-paru.
5. Kateterisasi
mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer.
Mendeteksi adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan ventrikel
kanan, dengan tekanan pulmonalis normal atau rendah.
8. Diagnose/ criteria diagnosis
Diagnosis penyakit jantung bawaan ditegakkan berdasarkan pada anamnesis,
pemeriksaan fisis, pemeriksaan penunjang dasar serta lanjutan. Pemeriksaan
penunjang dasar yang penting untuk penyakit jantung bawaan adalah foto rontgen
dada, elektrokardiografi, dan pemeriksaan laboratorium rutin. Pemeriksaan lanjutan
(untuk penyakit jantung bawaan) mencakup ekokardiografi dan kateterisasi jantung.
Kombinasi ke dua pemeriksaan lanjutan tersebut untuk visualisasi dan konfirmasi
morfologi dan pato-anatomi masing-masing jenis penyakit jantung bawaan
memungkinkan ketepatan diagnosis.

9. Terapi/tindakan penanganan
1. Penatalaksanaan konservatif
Restriksi cairan dan pemberian obat-obatan : furosemid
2. Pembedahan : oprasi penutupan depek pemotongan atau pengikatan duktus
3. Obat vasodialator
4. Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu koterisasi jantung

10. Komplikasi
1. Sindrom Eisenmenger
2. Endokarditis
3. Obstruksi Pembuluh darah pulmonal
4. CHF
5. Hepatomegali
6. Enterokolitis nekrosis
7. Perdarahan gastrointestinal
8. Hiperkalemia
9. Aritmia
10.Gagal tumbuh

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian ( data subyektif/objektif )


Data Subjektif :
1. Pasien/ keluarga mengeluh sulit makan dan menyusu
2. Pasien/ keluarga mengeluh mudah lelah
3. Pasien/ keluarga mengeluh nyeri
Data Objektif :
1. Tampak nafas cepat, bibir biru
2. Tampak berat badan rendah
3. Tampak infeksi pernafasan berulang
4. Tampak toleransi gerak badan yang rendah
5. Tampak terdengar bunyi mur-mur persisten
6. Takhikardi
7. Hipoksemia

4. Diagnose keperawatan yang mungkin muncul


1. Perfusi Perifer Tidak Efektif
Definisi
Penurunan sirkulasi darah pada level kapiler yang dapat mengganggu
metabolisme tubuh.
Penyebab
1) Hiperglikemia
2) Penurunan konsentrasi hemoglobin
3) Peningkatan tekanan darah
4) Kekurangan volume cairan
5) Penurunan aliran arteri dan/atau vena
6) Kurang terpapar informasi tentang factor ( mis, merokok, gaya hidup
menoton, trauma, obesitas, asupan garam, imobilitas )
7) Kurang terpapar informasi tentang proses penyakit ( mis, diabetes mellitus,
hyperlipidemia )
8) Kurang aktivitas fisik

Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif

( tidak tersedia )

Objektif

1) Pengisian kapiler >3 detik


2) Nadi perifer menurun atau tidak teraba
3) Akral teraba dingin
4) Warba kulit pucat
5) Turgor kulit menurun

Gejala dan Tanda Minor

Subjektif

1) Parastesia
2) Nyeri ekstremitas ( klaudikasi intermiten )

Objektif

1) Edema
2) Penyembuhan luka lambat
3) Indeks ankle-brachial , 0,90
4) Bruit femoral

Kondisi Klinis Terkait

1) Tromboflebitis
2) Diabetes mellitus
3) Anemia
4) Gagal jantung kongestif
5) Trombosis arteri
6) Varises
7) Trombosis vena dalam
8) Sindrom kompartemen

2. Nyeri Akut
Definisi
Pengalaman sensorik dan emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan
actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas
ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
Penyebab
1) Agen pencedera fisiologis ( mis : inflamasi, iskemia, neoplasma)
2) Agen pencedera kimiawi (mis : terbakar, bahan kimia iritan)
3) Agen pencedera fisik (mis : abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat
berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan)

Gejala dan Tanda Mayor

1) Mengeluh nyeri
2) Tampak meringis
3) Bersikap protektif (mis : waspada, posisi menghindari nyeri)
4) Gelisah
5) Frekuensi nadi meningkat
6) Sulit tidur

Gejala dan tanda Minor

1) Tekanan darah meningkat


2) Pola nafas berubah
3) Nafsu makan berubah
4) Proses berfikir terganggu
5) Menarik diri
6) Berfokus pada diri sendiri
7) Diaforesis

Kondisi Klinis Terkait

1) Kondisi pembedahan
2) Cedera traumatis
3) Infeksi
4) Sindrom coroner akut
5) Glaukoma
3. Rencana asuhan keperawatan meliputi : Tujuan Keperawatan, Intevensi dan Rasional Tindakan

1. Perfusi Perifer Setelah dilakukan asuhan keperawatan Perawatan Sirkulasi


Tidak Efektif selama ……. X …… diharapkan
Observasi
perfusi perifer meningkat berkurang
dengan kriteria hasil : 1. Untuk mengetahui
 Periksa sirkulasi perifer
keadaan nadi, edeman,
Perfusi perifer (mis. Nadi perifer, pengisian kapiler,warna
edema, pengisian kapiler, dan suhu pasien
 Kekuatan nadi perifer meningkat warna, suhu)
 Penyembuhan luka meningkat  Monitor panas,
 Sensasi meningkat kemerahan, nyeri atau 2. Untuk mengetahui rentang
 Warna kulit pucat menurun bengkak pada ekstermitas suhu, nyeri atau bengkak
 Edema perifer menurun pada ekstremitas pasien
 Monitor hasil
 Nyeri ekstremitas menurun 3. Untuk data acuan dalam
laboratorium yang
 Parastesia menurun melakukan tindakan
dibutuhkan
 kelemahan otot menurun berikutnya
 Kram otot menurun Terapeutik
 Bruit fermoralis menurun
 Nekrosis menurun  Hindari pemasangan infus 4. Untuk mengurangi
 Pengisian kapiler membaik atau pengambilan darah terjadinya gangguan pada
 Akral membaik diarea keterbatasan perfusi sirkulasi
 Turgor kulit membaik 5. Untuk kecukupan volume
 Hindari pengukuran tekanan
 Tekanan darah sistolik membaik cairan pada tubuh pasien
darah pada ekstremitas
 Tekanan darah diastolik membaik
dengan keterbatasan perfusi
 Tekanan arteri rata-rata membaik
 Indeks ankle-brachial membaik  Lakukan hidrasi

Edukasi

 Ajarkan program diet untuk 6. Untuk membantu proses


memperbaiki sirkulasi (mis. perbaikan sirkulasi
Rendah lemak jenuh,
minyak ikan, omega3)
 Infromasikan tanda dan
gejala darurat yang harus 7. Agar pasien dan keluarga
dilaporkan (mis. Rasa sakit mengetahui apa tanda dan
yang tidak hilang saat gejala yang harus segera di
istirahat, luka tidak sembuh, tangani pada penyakit
hilangnya rasa) yang dideritanya

1. Nyeri Akut Setelah dilakukan asuhan keperawatan Manajemen Nyeri 1. Untuk mengetahui lokasi,
selama ……. X …… diharapkan nyeri durasi, frekuensi, kualitas,
Observasi
akut berkurang dengan kriteria hasil :
 Identifikasi lokasi, intensitas nyeri
Tingkat Nyeri karakteristik, durasi, 2. Mengetahui rentang skala
frekuensi, kualitas,
 Keluhan nyeri menurun nyeri pasien
intensitas nyeri
 Meringis menurun 3. Untuk mengetahui respon
 Identifikasi skala nyeri
 Sikap protektif menurun
 Identifikasi respon nyeri non verbal dari pasien
 Gelisah menurun non verbal
 Kesulitan tidur menurun 4. Untuk mengetahui faktor
 Identifikasi faktor yang
 Menarik diri menurun memperberat dan yang memperberat dan
 Berfokus pada diri sendiri memperingan nyeri memperingan nyeri pada
menurun  Identifikasi pengetahuan pasien
 Diaforesis menurun dan keyakinan tentang
 Perasaan depresi (tertekan) 5. Untuk mengetahui
nyeri
menurun  Identifikasi pengaruh pengetahuan dan
 Perasaan takut mengalami budaya terhadap repson keyakinan pasien tentang
cidera berulang menurun nyeri
 Anoreksia menurun  Identifikasi pengaruh nyeri
 Frekuensi nadi membaik nyeri terhadap kualitas 6. Untuk mengetahui
 Pola nafas membaik hidup
pengaruh budaya terhadap
 Tekanan darah membaik  Monitor keberhasilan
terapi komplementer respon pasien
 Proses berpikir membaik
 Fokus membaik yang sudah diberikan 7. Untuk mengetahui kualitas
 Fungsi berkemih membaik  Monitor efek samping hidup terhadap nyeri
 Perilaku membaik penggunaan analgetik
Terapeutik 8. Untuk mengawasi
 Nafsu makan membaik
 Berikan teknik non keberhasilan terapi
 Pola tidur membaik
farmakologis untuk komplementer yang sudah
mengurangi rasa nyeri
diberikan
(mis : TENS, hypnosis,
akupresure, terapi 9. Untuk mengawasi efek
music, biofeedback, samping terhadap
terapi pijat, aromaterapi,
penggunaan analgetik
teknik imajinasi
terbimbing, kompres 10. Untuk mengurangi rasa
hangat atau dingin, nyeri pada pasien
terapi bermain) 11. Untuk mengontrol
 Kontrol lingkungn yang
lingkungan dan membantu
memperberat rasa nyeri
(mis : suhu ruangan, mengurangi rasa nyeri
pencahayaan, 12. Untuk membantu memberi
kebisingan)
rasa nyaman istirahat tidur
 Fasilitasi istirahat dan
tidur pada pasien
 Pertimbangkan jenis 13. Untuk mengetahui strategi
dan sumber nyeri dalam yang diambil dalam
pemeliharaan strategi mengurangi rasa nyeri
meredakan nyeri
14. Agar pasien mengetahui
Edukasi
 Jelaskan penyebab, penyebab, periode, dan
periode, dan pemicu pemicu nyeri
nyeri
15. Agar pasien bisa
 Jelaskan strategi
meredakan nyeri mengawasi nyeri secara
 Anjurkan memonitor mandiri
nyeri secara mandiri 16. Agar pasien dapat
 Anjurkan menggunakan
meminimalisir rasa nyeri
analgetik secara tepat
 Ajarkan teknik 17. Untuk mengurangi rasa
nonfarmakaologis untuk nyeri
mengurangi rasa nyeri
18. Untuk membantu
Kolaborasi
 Memberikan analgetik mengurangi rasa nyeri
jika perlu 19. Untuk membantu
mengurangi rasa nyeri
DAFTAR PUSTAKA

Djer, M Mulyadi. 2014.PenangananPenyakit Jantung BawaanTanpa Operasi


(KardiologiInterveni) Petunjuk Praktis Menangani Pasien Dan Mengeduksi Keluarga.
Jakarta: Sagung Ceto.
Irnizarifka. 2011.Buku SakuJantungDasar.Bogor : Penerbit GhaliaIndonesia.
Kasron. 2012. Kelainan Dan Penyakit Jantung Pencegahan Serta Pengobatannya.Yogjakarta :
Nuha Medika
Sudarti dan Endang. 2010. Kebidanan Neonatus, bayi dan anak balita untuk mahasiswa
kebidanan. Yogyakarta: numed .

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1.
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia : Jakarta.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1.
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia : Jakarta.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1. Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia : Jakarta.