Anda di halaman 1dari 119

MAKALAH

LAPORAN KASUS MINGGU KE-3

“ Asuhan Keperawatan Pada An.U Dengan Diagnosa Diare”


Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Profesi Keperawatan Anak

Disusun Oleh :

PUSPARINI ANGGITA AYUNINGTYAS

2041312021

PRODI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2020

i
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus minggu ke-3

untuk memenuhi tugas profesi siklus ‘Keperawatan Anak'.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Ns. Deswita, M.Kep,

Sp.Kep.An dan ibu Dr, Ns. Meri Neherta, S.Kep, M.Biomed selaku dosen

pembimbing pada kelompok C pada sikulus Keperawatan Anak ini. Penulis juga

mengucapkan terima kasih kepada teman – teman sejawat yang berada pada

kelompok C, yang sudah mau bertukar pikiran untuk menyempurnakan makalah

ini. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis

harapkan demi perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat

bermanfaat bagi pembaca.

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover

Kata Pengantar...............................................................................................ii

Daftar Isi..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................3
C. Tujuan...................................................................................................3
D. Manfaat.................................................................................................3

BAB II KONSEP DASAR TEORITIS.........................................................4

A. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan..................................................4


B. Definisi Diare .......................................................................................11
C. Etiologi Diare........................................................................................13
D. Patofisiologi Diare................................................................................15
E. Manifestasi klinis Diare........................................................................16
F. Penatalaksanaan Diare..........................................................................17
G. Farmakologi untuk Diare......................................................................18
H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan....................................................31

BAB III STUDI KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATAN....................47

A. Kasus.....................................................................................................47
B. Pengkajian.............................................................................................54
C. Diagnosa keperawatan (NANDA), DO dan DS...................................57
D. Intervensi Keperawatan (NOC-NIC)....................................................57
E. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.............................................58

BAB IV PEMBAHASAN...............................................................................62

A. Pengkajian.............................................................................................62
B. Diagnosa...............................................................................................63
C. Intervensi..............................................................................................66
D. Implementasi.........................................................................................66
E. Evaluasi.................................................................................................66

BAB V PENUTUP..........................................................................................68

A. Kesimpulan...........................................................................................68
B. Saran.....................................................................................................69

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………. 70

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian pada

bayi dan anak balita (Kemenkes RI, 2015). Diare adalah buang air besar sebanyak

tiga kali atau lebih dalam satu hari dengan konsistensi cair (Brandt, et al, 2015). Diare

saat ini masih menjadi masalah yang sulit untuk ditanggulangi

Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, angka

kematian akibat diare pada balita di Nigeria dan India sebanyak 42% dan angka

kesakitan balita dengan diare sebanyak 39%. Menurut WHO, Penyakit diare adalah

penyebab utama kematian kedua pada anak di bawah lima tahun, dan bertanggung

jawab untuk membunuh sekitar 525.000 anak setiap tahun. Penyakit diare adalah

penyebab utama kematian anak dan morbiditas di dunia, dan sebagian besar hasil dari

makanan dan sumber air yang terkontaminasi. Di seluruh dunia, 780 juta orang tidak

memiliki akses ke air minum yang lebih baik dan 2,5 miliar tidak memiliki sanitasi

yang lebih baik. Diare akibat infeksi tersebar luas di seluruh negara berkembang

(WHO, 2017). Mayoritas kematian ini 15% disebabkan oleh pneumonia diikuti

dengan diare sebanyak 9% (UNICEF, 2016). Perkiraan angka kematian anak-anak

akibat diare di Nigeria adalah sekitar 151, 700–175.000 per tahun (Dairo dalam

Omele, 2019).

Di Indonesia menurut KEMENKES RI 2018, penyakit diare merupakan penyakit

endemis dan juga merupakan penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB)

1
disertai dengan kematian. Pada tahun 2018 terjadi 10 kali KLB yang tersebar di 8

provinsi, 8 kabupaten/kota dengan jumlah penderita 756 orang dan kematian 36 orang

(CFR 4,76%). Angka kematian (CFR) diharapkan <1%, saat KLB angka CFR masih

cukup tinggi (>1%), sedangkan pada tahun 2018 CFR Diare mengalami peningkatan

dibanding tahun 2017 yaitu menjadi 4,76%.

Berdasarkan Survey morbiditas diare pada tahun 2014 insiden diare pada balita

yaitu 27%, dan tahun 2016 diperkirakan jumlah penderita sebanyak 46,4%

(Kementerian kesehatan Republik Indonesia, 2016). Target SDGs pada tahun 2030

mengakhiri kematian bayi dan balita dengan upaya mengurangi angka kematian bayi

dengan 12/1000 kelahiran hidup dan angka kematian anak bawah lima tahun 25/1000

kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2015).

Menurut Brandt et al (2015), penyebab diare yaitu faktor Infeksi (Bakteri, virus,

parasit), gangguan penyerapan makanan dan minuman di usus seperti penyerapan

karbohidrat, lemak dan protein, faktor makanan seperti makanan basi, beracun, alergi

terhadap makanan, faktor psikologis seperti cemas, takut dan terkejut. Penyebab lain

dari diare adalah rotavirus, kualitas air minum, kebersihan dan sanitasi (Gul R,

Hussain, Ali W,et al, 2017). Diare berdampak buruk jika tidak diatasi. Apabila diare

tidak teratasi, maka dapat menimbulkan kejang, gangguan irama jantung sampai

pendarahan di otak, apabila dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) berat bisa

menyebabkan kematian (Barr & Smith, 2014).

2
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah landasan teoritis penyakit dan asuhan keperawatannya?


2. Bagaimanakah proses perjalanan penyakit/ WOC yang dialami kasus?
3. Bagaimanakah pengkajian MTBS, dan status gizi dari kasus?
4. Apakah pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk melengkapi data
pengkajian keperawatan pada kasus?
6. Bagaimana analisa kasus serta diagnosa keperawatan yang muncul?
C. Tujuan

1. Mengetahui landasan teoritis penyakit dan asuhan keperawatannya


2. Mengetahui proses perjalanan penyakit/ WOC yang dialami kasus
3. Mengetahui pengkajian MTBS, DDST, dan CDC
4. Mengetahui pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan
5. Mengetahui analisa kasus serta diagnosa keperawatan yang muncul
D. Manfaat

1. Bagi Keluarga pasien


Sebagai tambahan pengetahuan bagi keluarga untuk memahami keadaan
pasien sehingga dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan masalah
serta ikut memperhatikan dan melaksanakan tindakan yang diberikan oleh
perawat.
2. Bagi instansi pendidikan
Laporan ini dapat digunakan sebagai tambahan dan referensi bagi mata kuliah
keperawatan anak khususnya pengetahuan pada klien diare
3. Bagi pelayanan keperawatan
Laporan ini diharapkan dapat membantu perawat dalam menentukan

diagnosa dan intervensi keperawatan yang tepat pada klien dengan diare

3
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Anatomi dan Fisiologi

Anatomi saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring),

kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus.

Fisiologi sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut

sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima

makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zatzat gizi ke

dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau

4
merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Anatomi dan fisiologi sistem pencernaan

yaitu :

1. Mulut

Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air.

Mulut merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap dan jalan

masuk untuk system pencernaan yang berakhir di anus. Bagian dalam dari

mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa

yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan sederhana terdiri dari manis,

asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung,

terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan

(incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi

bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah

akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-

enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung

antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan

menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar

dan berlanjut secara otomatis.

2. Tenggorokan (Faring)

Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan.

Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe yang

banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap

5
infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan,

letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang

belakang keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan

perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan

rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium.

Tekak terdiri dari bagian superior yaitu bagian yang sama tinggi dengan

hidung, bagian media yaitu bagian yang sama tinggi dengan mulut dan

bagian inferior yaitu bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian

superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang

menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian media disebut

orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar lidah. Bagian inferior

disebut laringofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.

3. Kerongkongan (Esofagus)

Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang

dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung.

Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses

peristaltik.

Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut

histologi, esofagus dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian superior

(sebagian besar adalah otot rangka), bagian tengah (campuran otot rangka

dan otot halus), serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus).

6
4. Lambung

Merupakan organ otot berongga yang besar, yang terdiri dari tiga

bagian yaitu kardia, fundus dan antrium. Lambung berfungsi sebagai

gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur

makanan dengan enzimenzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan

3 zat penting yaitu lendir, asam klorida (HCL), dan prekusor pepsin (enzim

yang memecahkan protein). Lendir melindungi sel – sel lambung dari

kerusakan oleh asam lambung dan asam klorida menciptakan suasana yang

sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein.

Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap

infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.

5. Usus halus (usus kecil)

Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang

terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan

pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena

porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air

(yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna).

Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna

protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus terdiri dari lapisan mukosa

(sebelah dalam), lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang dan

lapisan serosa. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari

7
(duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). a. Usus

Dua Belas Jari (Duodenum)

Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang

terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).

Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus,

dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum treitz. Usus dua

belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus

seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal

berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara

saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Lambung melepaskan

makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian

pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui

sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika

penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti

mengalirkan makanan.

b. Usus Kosong (Jejenum)

Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di antara

usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada

manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 12 meter

adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan usus penyerapan

8
digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam usus

kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang

memperluas permukaan dari usus.

c. Usus Penyerapan (Illeum)

Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada

sistem pencernaan manusia ileum memiliki panjang sekitar 2- 4 m dan

terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu.

Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi

menyerap vitamin B12 dan garam empedu.

6. Usus Besar (Kolon)

Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan

rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar

terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens

(kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Banyaknya bakteri

yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan

membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga

berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting

untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa

menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya

terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan

terjadilah diare.

9
7. Rektum dan Anus

Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar

(setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai

tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena

tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika

kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul

keinginan untuk buang air besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum

karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu sistem saraf

yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi

Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke

usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi

tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan

terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini,

tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam

pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan

lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari

tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian

lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter.

Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar) yang

merupakan fungsi utama anus (Pearce, 1999).

10
B. Definisi

Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan

lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau

dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 2002). Diare adalah peningkatan

frekuensi atau penurunan konsistensi feses, diare pada anak dapat bersifat akut atau

kronik (Carman, 2016).

Diare merupakan buang air besar encer lebih dari 3 x sehari dan diare terbagi 2

berdasarkan mula dan lamanya, yakni diare akut dan kronis (WHO, 2015). Menurut

Brunner & Suddarth (2014), diare yaitu kondisi peningkatan frekwensi defekasi

(lebih dari 3 kali sehari), peningkatan jumlah feses (lebih dari 200 g per hari) dan

perubahan konsistensi (cair). Diare adalah gangguan buang air besar/BAB ditandai

dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai

dengan darah dan atau lender (KemenKes RI, 2015).

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa diare adalah gejala

kelainan sistem pencernaan, absorbsi, maupun fungsi sekresi dimana pasien

mengalami kelainan sistem pencernaan, absorbsi, maupun fungsi sekresi dimana

pasien mengalami kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja dengan frekuensi

buang air besar lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak

dengan konsistensi feses cair, dapat berwarna hijau bercampur lendir atau darah, atau

lendir saja.

Diare diklasifikasikan dalam empat kelompok yaitu:

11
1. Diare akut: diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya

kurang dari tujuh hari.

2. Disentri; diare yang disertai darah dalam tinjanya

3. Diare persisten; diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara

terus - menerus

4. Diare dengan masalah lain; anak yang menderita diare (diare akut dan

persisten) mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi

atau penyakit lainnya.

Menurut Wong (2009) diare dapat diklasifikasikan menjadi :

a. Diare Akut
Diare akut merupakan penyebab utama keadaan sakit pada anak-anak

dan balita. Diare akut adalah keadaan peningkatan dan perubahan tiba-

tiba frekuensi defekasi yang sering disebabkan oleh agens infeksius

dalam traktus GI. Keadaan ini dapat menyertai infeksi saluran napas

atas atau saluran kemih, terapi antibiotik atau pemberian obat

pencahar (laktasif). Diare akut biasanya sembuh sendiri (lamanya sakit

kurang dari 14 hari) dan akan mereda tanpa terapi yang spesifik jika

dehidrasi tidak terjadi.

b. Diare Kronik

Diare kronik merupakan keadaan meningkatnya frekuensi defekasi dan

kandungan air dalam feses dengan lamanya sakit lebih dari 14 hari.

12
Kerap kali diare kronis terjadi karena keadaan kronis seperti sindrom

malabsorpsi, penyakit inflasi usus, defisiensi kekebalan, alergi

makanan, intoleransi laktosa atau diare nonspesifik yang kronis, atau

sebagai akibat dari pelaksanaan diare akut yang memadai.

C. Etiologi

Menurut A. Aziz (2007), Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor,

yaitu :

a. Faktor infeksi

Proses ini dapat diawali dengan adanya mikroorganisme (kuman) yang

masuk kedalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam

usus dan merusak sel mukosa intestinal yang dapat menurunkan daerah

permukaan intestinal sehingga terjadinya perubahan kapasitas dari

intestinal yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi intestinal dalam

absorbsi cairan dan elektrolit. Adanya toksin bakteri juga akan

menyebabkan sistem transpor menjadi aktif dalam usus, sehingga sel

mukosa mengalami iritasi dan akhirnya sekresi cairan dan elektrolit akan

meningkat.

1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan

penyebab utama diare pada anak.

2) Infeksi bakteri: oleh bakteri Vibro, E.coli, Salmonella,Shigella,

Campylobacter, Yersinia, Aeromonas.

13
3) Infeksi virus: oleh virus Enterovirus (Virus ECHO, Coxsackie

poliomyelitis), Adenovirus, Ratavirus, Astrovirus.

4) Infestasi parasite: oleh cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris,

Strongyloides), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia,

Trichomonas hominis), jamur (candida albicans).

5) Infeksi parental yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat

pencernaan, seperti Otitis media akut (OMA), Tonsilofaringitis,

Bronkopneumonia, Ensifalitis, keadaan ini terutama terdapat pada bayi

dan anak berumur di bawah 2 tahun.

b. Faktor malabsorbsi

Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan

tekanan osmotic meningkat kemudian akan terjadi pergeseran air dan

elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus

sehingga terjadilah diare.

1. Malabsorbsi karbohidrat: Disakarida (Intoleransi laktosa, maltose, dan

sukrosa), munosakarida (intoleransi lukosa, fruktosa dan galaktosa).

Pada bayi dan anak yang tersering ialah intoleransi laktosa.

2. Malabsorbsi lemak.

3. Malabsorbsi protein.

c. Faktor makanan

14
Dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak mampu diserap dengan baik

dan dapat terjadi peningkatan peristaltic usus yang akhirnya menyebabkan

penurunan kesempatan untuk menyerap makanan seperti makanan basi,

beracun, dan alergi terhadap makanan.

d. Faktor psikologis

Dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltic usus yang dapat

mempengaruhi proses penyerapan makanan seperti : rasa takut dan cemas.

e. Faktor imunodefisiensi

f. Faktor penyakit usus, colitis ulcerative, croho disease, enterocilitis.

g. Faktor obat-obatan, antibiotic

D. Patofisiologi

Mekanisme dasar penyebab diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat

terdapatnya makanan atau zat yang tidak bisa diserap akan mengakibatkan tekanan

osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit

kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus

untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

Kedua karena rangsangan tertentu (misalnya toksin) di dinding usus akan

terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya

diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. Ketiga gangguan

motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya

kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga terjadi diare sebaliknya bila

15
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang

selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Selain itu diare juga terjadi, akibat

masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati

rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, selanjutnya

mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang kemudian

akan menimbulkan diare.

E. Manifestasi Klinis

Nelwan (2014) menyebutkan tanda dan gejala yang dapat dijumpai pada

anak dengan diare yaitu :

- BAB lebih dari 3 kali sehari

- Badan lemah dan lemas

- Tidak nafsu makan

- Turgor kulit jelek

- Membrane mukosa bibir kering

- Mata cekung

- Feses terdapat darah atau lender

- Nyeri perut

- Terkadang dapat dijumpai demam, mual, dan muntah

1. Diare akut

- Akan hilang dalam waktu 72 jam dari onset

16
- Onset yang tak terduga dari buang air besar encer, gas-gas dalam perut,

rasa tidak enak, nyeri perut

- Nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi pada perut

- Demam

2. Diare kronik

- Serangan lebih sering selama 2-3 periode yang lebih panjang

- Penurunan BB dan nafsu makan

- Demam indikasi terjadi infeksi

- Dehidrasi tanda-tandanya hipotensi takikardi, denyut lemah

F. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan feses juga dilakukan untuk mengetahui :

- Leukosit polimorfonuklear, yang membedakan antara infeksi bakteri

dan infeksi virus.

- Kultur feses positif terhadap organisme yang merugikan.

- Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dapat menegaskan

keberatan rotavirus dalam feses.

- Nilai pH feses dibaah 6 dan adanya substansi yang berkurang dapat

diketahui adanya malaborbsi karbohidrat.

b. Pemeriksaan darah rutin, LED (laju endap darah), atau CPR (C-reactive

17
protein) untuk memberikan informasi mengenai tanda infeksi atau

inflamasi.

c. Analisa Gas Darah (AGD) yang menunjukan asidosis metabolic.

d. Pemeriksaan fungsi ginjal dan elektrolit untuk menilai gangguan

keseimbangan cairan dan elektrolit.

e. Pemeriksaan kolonoskopi untuk mengetahui penyebab diare.

H. Komplikasi

1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

2. Renjatan hipovolemik.

3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,

perubahan pada elektro kardiagram).

4. Hipoglikemia.

5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase

karena kerusakan vili mukosa, usus halus

6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga

mengalami kelaparan.

G.Penatalaksanaan

Menurut Ngastiyah (2014) penatalaksanaan yaitu:

18
1. Penatalaksanaan Medis

a. Dehidrasi sebagai prioritas utama pengobatan. Empat hal penting yang

perlu diperhatikan:

1) Jenis cairan: oral: pedialyte atau oralit, ricelyte. Parenteral: NaCl,

isotonic, infuse RL

2). Jumlah cairan yang diberikan sesuai dengan cairan yang

dikeluarkan.

3). Jalan masuk atau cairan pemberian

a). Cairan per oral, pada pasien dehidrasi ringan dan sedang cairan

diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan

NaHCO3, KCL, dan glukosa.

b). Cairan parenteral, pada umumnya cairan Ringer Laktat (RL)

selalu tersedia di fasilitas kesehatan dimana saja. Mengenai

beberapa banyak cairan yang diberikan tergantung dari berat

ringan dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan

sesuai dengan umur dan berat badannya.

4). Jadwal pemberian cairan

Diberikan 2 jam pertama, selanjutnya dilakukan penilaian

kembali status hidrasi untuk menghitung kebutuhan cairan.

19
Identifikasi penyebab diare. Terapi sistemik seperti pemberian

obat anti diare, obat anti mortilitas dan sekresi usus, antimetik.

b. Pengobatan dieretic

Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan

kurang dari 7 kg jenis makanan: susu (ASI atau susu formula yang

mengandung laktosa rendah ada asam lemak tidak jenuh, misalnyta

LLM. Almiron atau sejenis lainnya). Makan setengah padat (bubur)

atau makan padat (nasi tim), bila anak tidak mau minum susu karena

dirumah tidak biasa. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan

yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa atau

asam lemak yang berantai sedang atau tidak jenuh.

2. Penatalaksanaan keperawatan

a). Bila dehidrasi masih ringan

Berikan minum sebanyak-banyaknya, 1 gelas setiap kali setelah

pasien defekasi. Cairan mengandung elektrolit, seperti oralit. Bila

tidak ada oralit dapat diberikan larutan garam dan 1 gelas air

matang yang agak dingin dilarutkan dalam satu sendok teh gula

pasir dan 1 jumput garam dapur. Jika anak terus muntah tidak

mau minum sama sekali perlu diberikan melalui sonde. Bila

cairan per oral tidak dapat dilakukan, dipasang infuse dengan cairan

20
Ringer Laktat (RL) atau cairan lain (atas persetujuan dokter). Yang

penting diperhatikan adalah apakah tetesan berjalan lancar

terutama pada jam-jam pertama karena diperlukan untuk

mengatasi dehidrasi.

b). Pada dehidrasi berat

Selama 4 jam pertama tetesan lebih cepat.untuk mengetahui

kebutuhan sesuai dengan yang diperhitungkan, jumlah cairan yang

masuk tubuh dapat dihitung dengan cara:

(1) Jumlah tetesan per menit dikali 60, dibagi 15/20 (sesuai set

infuse yang dipakai). Berikan tanda batas cairan pada botol

infuse waktu memantaunya.

(2) Perhatikan tanda vital: denyut nadi, pernapasan, suhu.

(3) Perhatikan frekuensi buang air besar anak apakah masih

sering, encer atau sudah berubah konsistensinya.

(4) Berikan minum teh atau oralit 1-2 sendok jam untuk

mencegah bibir dan selaput lendir mulut kering.

(5) Jika dehidrasi telah terjadi, infus dihentikan, pasien diberikan

makan lunak atau secara realimentasi.

Penanganan diare lainya yaitu dengan rencana terapi A, B, dan C sebagai

berikut:

1. Rencana terapi A

21
Penanganan diare rumah, dengan menjelaskan pada ibu tentang 4

aturan perawatan di rumah:

a. Beri cairan tambahan

1). Jelaskan pada ibu, untuk

a) Beri ASI lebih sering danlebih lama pada setiap kali

pemberian.

b). Jika anak memperoleh ASI Eksklusif, berikan oralit atau air

matang sebagai tambahan.

c). Jika anak tidak memperoleh ASI Eksklusif, berikan 1

atau lebih cairan berikut ini: oralit, cairan makanan (kuah

sayur, air tajin). Atau air matang.

Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6

bungkus oralit (200 ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukkan

kepada ibu beberapa banyak oralit atau caian lain yang harus

diberikan setiap kali anak berak:

22
Katakan kepada ibu:

a). Agar meminum sedikit-sedikit tapi sering dari

mangkuk/cairan/gelas.

b). Jika anak muntah, tunggu 10 menit. Kemudian lanjutkan lagi

lebih lambat.

c). Lanjutakan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

b. Beri tablet Zinc selam 10 hari.

c. Lanjutkan pemberian makanan

d. Kapan harus kembali konseling bagi ibu.

2. Rencana terapi B

Penanganan dehidrasi ringan/sedang dengan oralit. Berikan oralit di

klinik sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam.

23
Tabel 2.2 Pemberian Oralit (Sumber: MTBS, 2015)

Umur 1 - < 2 tahun 2 - < 5


4 - ≤ 12 bulan
≤4 bulan tahun
Berat < 6 kg 6 -< 10 kg 10 - < 12 kg 12- 19 kg

Jumla 200 -400ml 400-700ml 700 - 900 ml 900-1400ml

h
a). Tentukan jumlah oralit untuk 3 jam pertama

1). Jika anak menginginkan, boleh diberikan lebih banyak dari pedoman

diatas.

2). Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menyusu, berikan

juga 100-200 ml air matang selama periode ini.

b). Tunjukan cara memberikan larutan oralit

1). Minumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/gelas

2). Jika anak muntah, tunggu 10 menit . Kemudian berikan lagi lebih

lambat.

3). Lanjutkan ASI selama anak mau

c). Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut

1). Umur <6 bulan: 10 mg/hari

2). Umur ≥6 bulan: 20 mg/hari

24
d). Setelah 3 jam

1). Ulangi penilaian dan klasifikasi kembali derajat dehidrasinya.

2). Pilih rencana terapi yang seusuai untuk melanjutkan pengobatan.

3). Mulai memberi makan anak.

e). Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai

1). Tunjukan cara menyiapkan cairan oralit di rumah

2). Tunjukan beberapa banyak oralit yang harus diberikan dirumah

untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan.

3). Beri oralit yang cukup untuk dehidrasi dengan menambahkan 6

bungkus lagi

4). Jelas 4 aturan perawatan diare dirumah (lihat rencana terapi A).

3. Rencana terapi C

Penanganan dehidrasi berat dengan cepat, yaitu dengan:

a. Memberikan cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum,

beri oralit melalui mulut sementara infuse dipersipakan. Beri

ml/kg cairan Ringer Laktat atau jika tersedia, gunakan cairan NaCl

yang dibagi sebagai berikut:

25
Tabel 1.3 Pemberian cairan (Sumber: MTBS, 2015)

Pemberian Pemberian
Umur Pertama 30 mg Berikut 70 mg ml/kg
ml/kg selama selama
Bayi(dibawah umur 1 jam 5 jam
12 bulan)
Anak 3 menit 2 jam
b. Ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangatlah lemah atau tidak teraba

Periksa kembali anak setiap15-30 menit. Jika nadi belum

teraba, beri tetesan lebih cepat.

c. Beri oralit (kira-kira 5 m/kg/jam) segera setelah anak mau minum:

biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri juga

tablet Zinc.

d. Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam.

Klasifikasi dehidrasi dan pilih rencana terapi yang sesuai untuk

melanjutkan pengobatan.

e. Rujuk segera untuk pengobatan intravena, jika tidak ada

fasilitas untuk pemebrian cairan intravena terdekat (dalam 30

menit).

f. Jika anak bisa minum, bekali ibu larutan oralit dan tunjukan

cara meminumkan pada anaknya sedikit demi sedikit selama

dalam perjalanan menuju klinik.

26
g. Jika perawat sudah terlatih mengunakan pipa orogastik untuk

rehidrasi, mulailah melakukan rehidrasi dengan oralit melalui

pipa nasogastrik atau mulut: beri 20 ml/kg/jam selama 6 jam (total

120 ml/kg).

h. Periksa kembali anak setiap1-2 jam:

1). Jika anak muntah terus atau perut makin kembung, beri

cairan lebih lambat.

2). Jika setelah 3 jam keadaan hidrasi tidak membaik, rujuk

anak untuk pengobatan intravena.

i. Sesudah 6 jam, periksa kembali anak. Klasifikasi dehidrasi.

Kemudian tentukan rencana terapi sesuai (A, B, atau C) untuk

melanjutkan pengobatan.

4. Pemberian tablet Zinc untuk semua penderita diare

a. Pastikan semua anak yang menderita diare mendapatkan tablet

Zinc sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan.

b. Dosis tablet Zinc (1 tablet – 20 mg). berikan dosis tunggal selama 10

hari

c. Cara pemberian tablet Zinc

1). Larutan tablet dengan sedikit air atau ASI dalam sendok teh

(tablet akan larut) 30 detik), segera berikan kepada anak.

27
2). Apabila anak muntah sekitar setengah jam setelah pemebrian

tablet Zinc, ulangi pemeberian dengan cara memberikan

potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis

penuh.

3). Ingatkan ibu untuk memberikan tablet Zinc setiap hari

selama 10 hari penuh, meskipun diare sudah berhenti, karena

Zinc selain memberi pengobatan juga dapat memberikan

perlindungan terhadap diare selama 2-3 bulan ke depan.

5. Pemberian Probiotik Pada Penderita Diare

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang diberikan sebagai

suplemen makanan yang memberikan pengaruh menguntungkan pada

penderita dengan memperbaiki keseimbangan mikroorganisme usus,

akan terjadi peningkatan kolonisasi bakteri probiotik di dalam lumen.

Saluran cerna. Probiotik dapat meningkatkan produksi musin

mukosa usus sehingga meningkatkan respons imun alami (innate

immunity). Probiotik menghasilkan ion hidrogen yang menurunkan

pH usus dengan memproduksi asam laktat sehingga menghambat

pertumbuhan bakteri pathogen. Probiotik saat ini banyak digunakan

sebagai salah satu terapi suportif diare akut. Hal ini berdasarkan

perannya dalam menjaga keseimbangan flora usus normal yang

28
mendasari terjadinya diare. Probiotik aman dan efetif dalam

mencegah dan mengobati diare akut pada anak.

6. Kebutuhan nutrisi

Pasien yang menderita diare biasanya juga menderita anoreksia

sehingga masukan nutrisinya menjadi kurang. Kekurangan kebutuhan

nutrisi akan bertambah jika, pasien mengalami muntah-muntah atau

diare lama, keadaan ini menyebabkan makin menurunnya daya tahan

tubuh sehingga penyembuhan tidak lekas tercapai, bahkan dapat

timbul komplikasi. Pada pasien yang menderita malabsorbsi

pemberian jenis makan yang menyebabakan malabsorbsi harus

dihindarkan. Pemberian makanan harus mempertimbangkan umur

berat badan dan kemampuan anak menerimanya. Pada umumnya

anak umur 1 tahun sudah bisa makan makanan biasa, dianjurkan

makan bubur tanpa sayuran pada saat masih diare, dan minum teh.

Besoknya jika kondisinya telah membaik boleh diberi wortel, daging

yang tidak berlemak

29
J. WOC Diare

30
H. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian Keperawatan

1. Identitas

Perlu diperhatikan adalah usia. Episode diare terjadi pada 2 tahun pertama

kehidupan. Insiden paling tinggi adalah golongan umur 6-11 bulan.

Kebanyakan kuman usus merangsang kekebalan terhadap infeksi, hal ini

membantu menjelaskan penurunan insidence penyakit pada anak yang lebih

besar. Pada umur 2 tahun atau lebih imunitas aktif mulai terbentuk.

Kebanyakan kasus karena infeksi usus asimptomatik dan kuman enteric

menyebar terutama klien tidak menyadari adanya infeksi. Status ekonomi

juga berpengaruh terutama dilihat dari pola makan dan perawatannya .

2. Keluhan Utama

Biasanya BAB lebih dari 3 x

3. Riwayat Penyakit Sekarang

Biasanya BAB warna kuning kehijauan, bercamour lendir dan darah atau

lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran

: 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari

14 hari (diare kronis).

4. Riwayat Penyakit Dahulu

31
Biasanya Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau

kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit

menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.

5. Riwayat Nutrisi

Pada anak usia toddler makanan yang diberikan seperti pada orang dewasa,

porsi yang diberikan 3 kali setiap hari dengan tambahan buah dan susu.

kekurangan gizi pada anak usia toddler sangat rentan,. Cara pengelolahan

makanan yang baik, menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, kebiasan

cuci tangan,

6. Riwayat Kesehatan Keluarga

Biasanya ada salah satu keluarga yang mengalami diare.

7. Riwayat Kesehatan Lingkungan

Penyimpanan makanan pada suhu kamar, kurang menjaga kebersihan,

lingkungan tempat tinggal.

8. Riwayat Pertumbuhan dan perkembangan

a. Pertumbuhan

 Kenaikan BB karena umur 1 –3 tahun berkisar antara 1,5-2,5 kg

(rata - rata 2 kg), PB 6-10 cm (rata-rata 8 cm) pertahun.

 Kenaikan linkar kepala : 12cm ditahun pertama dan 2 cm

ditahun kedua dan seterusnya.

32
 Tumbuh gigi 8 buah : tambahan gigi susu; geraham pertama dan

gigi taring, seluruhnya berjumlah 14 – 16 buah

 Erupsi gigi : geraham perama menusul gigi taring.

b. Perkembangan

 Tahap perkembangan Psikoseksual menurut Sigmund Freud.

9. Pemeriksaan Fisik

a. pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan

mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,

b. keadaan umum : klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.

c. Kepala : ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak

umur 1 tahun lebih

d. Mata : cekung, kering, sangat cekung

e. Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic

meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum

normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit

atau kelihatan bisa minum

f. Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena

asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)

g. Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi

menurun pada diare sedang .

33
h. Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu

meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok),

capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.

i. Sistem perkemihan : urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/

24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.

j. Dampak hospitalisasi : semua anak sakit yang MRS bisa mengalami

stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap

tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan

kemudian menerima

10. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium

 feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida

 Serum elektrolit : Hiponatremi, Hipernatremi, hipokalemi

 AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2

meningkat, HCO3 menurun )

 Faal ginjal : UC meningkat (GGA)

b. Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni

11. Penatalaksanaan Diare

a. Rehidrasi

34
 Jenis cairan

1) Cara rehidrasi oral

 Formula lengkap (NaCl, NaHCO3, KCl dan Glukosa) seperti

orali, pedyalit setiap kali diare.

 Formula sederhana ( NaCl dan sukrosa) 2) Cara parenteral

 Cairan I : RL dan NS

 Cairan II : D5 ¼ salin,nabic. KCL

D5 : RL = 4 : 1 + KCL

D5 + 6 cc NaCl 15 % + Nabic (7 mEq/lt) + KCL

 HSD (half strengh darrow) D ½ 2,5 NS cairan khusus pada

diare usia > 3 bulan.

 Jalan pemberian

1) Oral (dehidrasi sedang, anak mau minum, kesadaran baik) 2) Intra

gastric ( bila anak tak mau minum,makan, kesadran menurun)  Jumlah

Cairan ; tergantung pada :

1) Defisit ( derajat dehidrasi)

2) Kehilangan sesaat (concurrent less) 3) Rumatan (maintenance).

 Jadwal / kecepatan cairan

35
1) Pada anak usia 1- 5 tahun dengan pemberian 3 gelas bila berat

badanya kurang lebih 13 kg : maka pemberianya adalah :

 BB (kg) x 50 cc

 BB (kg) x 10 – 20 = 130 – 260 cc setiap diare = 1 gls

2) Terapi standar pada anak dengan diare sedang : + 50 cc/kg/3 jam

atau

5 tetes/kg/mnt

c. Terapi

1) obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30

mg, klorpromazine 0,5 – 1 mg / kg BB/hari

2) obat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide

3) antibiotik : bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta

d. Dietetik

1) Umur > 1 tahun dengan BB>7 kg, makanan padat / makanan cair

atau susu

2) Dalam keadaan malbasorbsi berat serta alergi protein susu sapi dapat

diberi elemen atau semi elemental formula.

e. Supportif

Vitamin A 200.000. IU/IM, usia 1 – 5 tahun

36
C. Diagnosa Keperawatan

NANDA NOC NIC


Diare Bowel Elimination Diarhea Management :
Definisi : pasase feses yang lunak dan Electrolyte and Acid Base Balance Monitor tanda dan gejala diare.
tidak berbentuk. Fluid Balance Ukur keluaran BAB atau diare
Observasi turgor kulit
Batasan karakteristik : Evaluasi intke makanan yang masuk
- Minimal 3 kali defekasi per hari. Criteria hasil : Evaluasi efek samping penggunaan obat-
- Nyeri abdomen. BAB tidak lebih dari 3 kali sehari. obatan
- Kram. Feses berbentuk. Identifikasi factor penyebab diare
- Bising usus hiperaktif Mencegah iritasi daerah sekitar rectal. Ajarkan klien teknik mengurangi stress.
Diare (-) Anjurkan klien atau keluarga untuk konsumsi
Factor yang berhubungan : Mempertahankan turgor kulit tetap makanan yang rendah serat, tinggi protein,
- Psikologis (kecemasan, tingkat stress baik. dan tinggi kalori.
tinggi). Intruksikan klien atau keluarga untuk
- Situasional (alkoholisme, radiasi menhindari penggunaan lakstif.
toksik, efek, samping obat-obatan). Konsultasikan dengan dokter
- Fisiologis (malabsorbsi, inflamasi, apabila ada kenaikan bising usus.
parasit, iritasi).
00002 1004 1100
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang Status nutrisi Manajemen nutrisi
dari kebutuhan tubuh Definisi :Sejauh mana nutrisi dicerna dan Definisi : Menyediakan dan meningkatkan
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk diserap untuk memenuhi kebutuhan intake nutrisi yang seimbang
memenuhi kebutuhan metabolik metabolik Aktivitas :
Batasan karakteristik :  Tentukan status nutrisi gizi pasien dan
-Berat badan 20% atau lebih dibawah 1 = sangat menyimpang dari rentang normal kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi
rentang berat badan ideal 5 = tidak menyimpang dari rentang normal  Identifikasi adanya alergi atau intoleransi
-Bising usus hiperaktif makanan yang dimiliki pasien
-Cepat kenyang setelah makan Skala outcome :  Tebtukan apa yang menjadi preferen pasien
-Diare Asupan gizi 1 2 3 4 5  Instruksikan pasien mengenai kebutuhan
-Gangguan sensasi rasa Asupan makanan 1 2 3 4 5 nutrisi
-Kehilangan rambut berlebihan Asupan cairan 1 2 3 4 5  Benu pasien menentukan pedoman dan
-Kelemahan otot pengunyah Energi 1 2 3 4 5 piramida makanan yang paling cocok dalam
Rasio berat badan/tinggi badan 1 2 3 4 pemenuhan kebutuhan nutrisi
-Kelemahan otot untuk menelan
5
37
-Kerapuhan kapiler Hidrasi 1 2 3 4 5  Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi
-Kesalahan informasi yang dibutuhkan
-Kesalahan persepsi 1014  Berikan pilihan makanan yang lebih sehat,
-Ketidakmampuan memakan makanan Nafsu Makan jika diperlukan
-Kram abdomen Definisi : keinginan untuk makan  Atur diet yang diperlukan ciptakan
-Kurang minat pada makanan lingkungan yng optimal pada saat
-Membrane mukosa pucat 1 = sangat terganggu mengkonsumsi makanan
5 = tidak terganggu  Lakukan atau bantu pasien terkait perawatan
-Nyeri abdomen
-Penurunan berat badan dengan asupan mulut sebelum makan
Skala outcome  Pastikan pasien menggunakan gigi palsu
adekuat
Hasrat/keinginan untuk makan yang pas, dengan cara yang tepat
-Sariawan rongga mulut Mencari makanan
-Tonus otot menurun  Beri obat sebelum makan
Menyenangi makanan
 Anjurkan pasien untuk duduk pada posisi
Masukan makanan
Factor yang berhubungan : tegak di kursi jika memungkinkan
Energy untuk makan
-Factor biologis  Pastikan makanan di sajikan dengan keadaan
Intake makanan
-Factor ekonomi yang menarik
Intake nutrisi
-Gangguanpsikososial Intake cairan  Anjurkan keluarga membawa makanan
-Ketidakmampuan makan Rangsangan untuk makan favorit
-Keridakmampuan mencerna makanan  Bantu pasien membuka kemasan makanan
-Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient 1802  Anjurkan pasien memodifikasi diet
-Kurang asupan makanan Pengetahuan : Diet yang disarankan  Anjurkan psien kebutuhan diet yang
Definisi : tingkat pemahaman yang diperlukan
disampaikan tentang diet yang  Anjurkan psien terkait kebutuhan makanan
direkomendasikan oleh seorang professional tertentu
kesehatan untuk kondisi kesehatan tertentu  Tawarkan makanan ringan padat gizi
 Pastikan diet mencakup makanan tinggi
1 = tidak ada pengetahuan kandungan serat
5 = pengetahuan sangat banyak  Monitor kalori dan asupan makanan
 Monitor kecenderungan terjadinya
Skala outcome penurunan BB
Diet yang dianjurkan 1 2 3 4 5  Anjurkan pasien mengontrol klaori
Manfaat diet1 2 3 4 5  Dorong bagaimana cara menyiapkan
Manfaat diet yang dianjurkan 1 2 3 4 5 makanan
Tujuan diet 1 2 3 4 5  Bantu psien mengakses program gizi
Hubungan antara diet,olahraga, berat badan  Berikan arahan
12345
38
Makanan yang diperbolehkan dalam diet 1 2
345 5614
Makannan yang tidak diperbolehkan dalam Pengajaran : Peresepan diet
diet 1 2 3 4 5 Definisi : mempersiapkan pasien agar
Makanan yang dihindari dalam diet 1 2 3 4 5 dapatmengikuti diet yang telah disarankan
Cairan yang dihindari dalam diet 1 2 3 4 5
Makansesuai dengan keyakinan dan budaya Aktivitas
12345  Kaji tingkat pengetahuanpasien mengenai
Distribusi intake makanan yang diet yang disarankan
direkomendasikan sepanjang hari 1 2 3 4 5  Kaji pola makanpasien saat ini dan
Porsi makan yang direkomendasikan 1 2 3 4 sebelumnya, termasuk makanan yang
5 disukai dan pola makan saat ini
Interpretasi lebel gizi pada kemasan 1 2 3 4  Kaji pasien dan keluarga mengenai
5 pandangan kebudayaan dan factor lain
Pedoman untuk persiapan makanan 1 2 3 4 yang mempengaruhi kemauan pasien
5 dalam mengikuti diet yang disarankan
Persiapan menu berdasarkan diet yang  Kaji adanya keterbatasan finansial yang
dianjurkan 1 2 3 4 5 dapat mempengaruhi pembelian makanan
Strategi untuk megubah kebiasaan diet 1 2 3 yang diasarankan
45  Ajarkanpasien nama-nama makanan yang
Rencana diet untuk situasi sosial 1 2 3 4 5 sesuai dengan diet yang disarankan
Strategi untuk situasi yang mempengaruhi  Jelaskan pada pasien mengenai tujuan
intake makanan dan cairan 1 2 3 4 5 kepatuhan terhadap diet yang disarankan
Teknik pemantauan sendiri 1 2 3 4 5 terkait kesehatan secara umum
Interaksi potensial obat dan makanan 1 2 3 4
 Informasikan kepada pasien jangka waktu
5
diet yang disarankan
Interaksi potensial obat hernal dan makanan
 Ajarkan pasien untuk membuat dietary
12345
makanana yang dikonsumsi, jika
Staregi meningkatkan kepatuhan diet 1 2 3 4
diperlukan
5
 Instruksikan pasien menghindari makana
yang dipantang dan mengonsumsi
makanan yang diperbolehkan
 Informasikan kepada pasien untuk
kemungkinan interaksi obat dan makanan
yang akan tersaji
 Bantu pasien untuk memilih makanan
39
kesukaan yang sesuai dengan diet yang
disarankan
 Bantu pasien untuk mengganti bumbu
masakan yang pasien sukai ke dalam diet
yang disarankan
 Instruksikan pasien untuk membaca label
dan memilih makanan yang sesuai
 Observasi keinginan pasien untuk memilih
makanan
 Instruksikan kepada pasien untuk
merencanakan diet yang sesuai
 Sediakan contoh menu makanan yang
sesuai
 Rekomendasikan beberapa buku resep
makanan yang sesuai dengan diet yang
disarankan
 Dukung informasikan yang disapaikan
tenaga kesehatan lain
 Tekankan pentingnya pemantauan yang
berkelanjutan dan beritahu pasien jika
harus merubah program diet yang
disarankan segera mungkin
 Rujukpasien ke ahligizi jika diperluka
 Libatkan pasien dan keluarga
00044 1101 6550
Kerusakan Integritas Jaringan Integritas Jaringan : Kulit & Membran Perlindungan Infeksi
Definisi : Cedera pada membran mukosa, Mukosa Definisi : Pencegahan dan deteksi dini infeksi
kornea, sistem integumen, fascia Definisi : Keutuhan struktur dan fungsi pada pasien berisiko.
muskular, otot, tendon, tulang, kartilago, fisiologis kulit dan selaput lendir secara
kapsul sendi dan ligamen. normal. Aktivitas :
- Monitor adanya tanda dan gejala infeksi
Batasan Karakteristik : Skala Outcome : sistemik dan lokal.
- Nyeri akut 1 : Sangat terganggu - Monitor kerentanan terhadap infeksi.
- Perdarahan 5 : Tidak terganggu - Berikan perawatan kulit yang tepat untuk
- Jaringan rusak area edema.
- Hematoma Indikator : - Periksa kulit dan selaput lendir untuk
40
- Area lokal panas 110101 Suhu kulit adanya kemerahan, kehangatan ekstrim
- Kemerahan 110102 Sensasi atau drainase.
- Kerusakan jaringan 110103 Elastisitas - Periksa kondisi setiap sayatan bedah atau
110104 Hidrasi luka.
Faktor Yang Berhubungan : 110106 Keringat - Tingkatkan asuapan nutrisi yang cukup.
- Agens cedera kimiawi 110108 Tekstur - Anjurkan asupan cairan dengan tepat.
- Kelebihan volume cairan 110109 Ketebalan - Anjurkan istirahat.
- Kelembapan 110113 Integritas kulit - Pantau adanya perubahan tingkat energi
- Status nutrisi tidak seimbang atau malaise.
- Kekurangan volume cairan Skala Outcome : - Instruksikan pasien untuk minum
- Kurang pengetahuan tentang 1 : Berat antibiotik yang diresepkan.
pemeliharaan integritas jaringan. 5 : Tidak ada - Ajarkan pasien dan keluarga mengenai
- Kurang pengetahuan tentang perbedaan antara infeksi virus dengan
perlindungan intehritas jaringan. Indikator : infeksi bakteri.
110115 Lesi pada kulit - Ajarkan pasien dan keluarga mengenai
110116 Lesi pada membran tanda dan gejala infeksi.
110117 Jaringan parut - Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana
110119 Pengelupasan kulit cara menghindari infeksi.
110120 Penebalan kulit
110122 Wajah pucat
110123 Nekrosis
00007 0801 3740
Hipertermia Termoregulasi Perawatan demam
Definisi : Definisi : Definisi :
Suhu inti tubuh diatas kisaran normal Keseimbangan antara produksi panas, Manajemen gejala dan kondisi terkait yang
diural karena kegagalan termoregulasi mendapatkan panas, dan kehilangan panas berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh
Skala outcome dimediasi oleh pirogen endogen
1 = sangat terganggu Aktivitas :
5 = tidak terganggu  Pantau suhu dan tanda-tanda vital
Berat badan  Monitor warna kulit dan suhu
1 2 3 4 5  Monitor asupan dan keluaran
Thermogenesis yang tidak menggigil  Beri obat atau cairan IV
1 2 3 4 5  Jangan beri aspirin untuk anak anak
Mengambil postur retensi panas untuk  Tutup pasien dengan selimut atau pakaian
hipotermia ringan, tergantung fase demam
1 2 3 4 5
 Dorong konsumsi cairan
Mengambil postur kehilangan panas untuk
41
hipertermia  Fasilitasi istirahat, terapkan pembatasan
1 2 3 4 5 aktivitas
Penyapihan dari inkubator bayi ke box bayi  Berikan oksigen yang sesuai
1 2 3 4 5  Mandikan pasien dengan spons hangat
Keseimbangan asam basa dengan hati-hati
1 2 3 4 5  Tingkatkan sirkulasi udara
 Pantau komplikasi-komplikasi yang
1 = berat berhubungan dengan demam serta tanda
5 = tidak ada dan gejala kondisi penyebab demam
Suhu tidak stabil  Pastikan tanda lain dari infeksi
1 2 3 4 5
 Pastikan langkah keamanan pasien
Hipertermia
 Lembabkan bibir dan mukosa hiidung yang
1 2 3 4 5
kering
Hipotermia
1 2 3 4 5
Napas tidak teratur
1 2 3 4 5
Takipnea
1 2 3 4 5
Kegelisahan
1 2 3 4 5
Kelesuan
1 2 3 4 5
Perubahan warna kulit
1 2 3 4 5
Dehidrasi
1 2 3 4 5
Glukosa darah tidak stabil
1 2 3 4 5
Hiperbilirubinemia
1 2 3 4 5

00027 0602 4180


Kekurangan volume cairan Hidrasi Manajemen hipovolemi
Definisi : Definisi : Definisi :
Penurunan intravaskuler, interstisial, Ketersediaan air yang cukup dalam Ekspansi dari volume cairan intravaskuler
dan/atau intraseluler ini mengacu pada kompartemen intraseluler dan ekstraseluler pada pasien yang cairannya berkurang
42
dehidrasi, kehilagan cairan saja tanpa tubuh Aktivitas :
perubahan kadar natrium Skala outcome  Timbang berat badan dalam waktu yang
1 = sangat terganggu bersamaan
5 = tidak terganggu  Monitor status hemodinamik
Turgor kulit  Monitor tanda-tanda dehidrasi
1 2 3 4 5  Monitor adanya hipotensi ortotastik dan
Membran mukosa lembab pusing saat berdiri
1 2 3 4 5  Monitor adanya hipotensi
Intake cairan  Monitor adanya sumber kehilangan cairan
1 2 3 4 5
 Monitor asupan dan pengeluaran
Output urin
 Monitor area akses memasukkan alat
1 2 3 4 5
Serum sodium  Monitor adanya bukti laboratorium terkait
1 2 3 4 5 adanya kehilangan darah
Perfusi jaringan  Monitor bukti laboratorium dari adanya
1 2 3 4 5 hemokonsentrasi
Fungsi kognisi  Monitor adanya buktilaboratorium cidera
1 2 3 4 5 akut
 Dukung asupan cairan oral
1 = berat  Tawarkan pilihan minum setiap sampai 2
5 = tidak ada jam
Haus  Jaga kepatenan akses IV
1 2 3 4 5  Hitung kebutuhan cairan didasarkan pada
Warna urin keruh area permukaan tubuh
1 2 3 4 5  Berikkan caira IV isotonik
Bola mata cekung dan lemah  Berikan cairan hipotonik IV yang
1 2 3 4 5 diresepkan
Fontanel cekung  Berikan collid suspension
1 2 3 4 5  Berikan produk darah yang diresepkan
Penurunan tekanan darah  Monitor tanda reaksi tranfussi darah
1 2 3 4 5  Lakukan autotranfusiuntuk kehilangan
Nadi cepat dan lemah darah
1 2 3 4 5  Monitor bukti hipovolemia
Peningkatan hematokrit
 Berikan cairan IV pada suhu kamar
1 2 3 4 5
 Gunakan pompa IV
Peningkatan nitrogen ureum darah
1 2 3 4 5  Monitor integritas kulit
43
Kehilangan berat badan  Tingkatkan integritas kulit
1 2 3 4 5  Bantu pasien ambulasi yang tepat
Otot tegang  Intruksikan perubahan posisi secara
1 2 3 4 5 mendadak
Otor berkedut  Implementasikan posisi trendelenburg
1 2 3 4 5  Monitor rongga ulut dari kekeringan
Diare  Sediakan cairan oral
1 2 3 4 5
 Fasilitasi kebersihan mulut
Peningkatan suhu tubuh
 Posisikan untuk perfusi perifer
1 2 3 4 5
 Berikan vasodilator
 Berikan atrial natrium peptide
 Intruksikan pada keluarga untuk mencatat
intake dan output
 Intruksikan tindakan mengatasi
hipovolemia
00126 1854 1100
Defisiensi Pengetahuan Pengetahuan : Diet yang sehat Manajemen nutrisi
Definisi : ketiadaan atau defisiensi Definisi : tingkatpemahaman yang Definisi : Menyediakan dan meningkatkan
informasi kognitif yang berkaitan dengan disampaikan tentang makanan bergizi intake nutrisi yang seimbang
topic tertentu seimbang Aktivitas :
- Tentukan status nutrisi gizi pasien dan
Batasan karakteristik Skala Outcome : kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi
- Ketidakakuratan melakukan tes 1= tidak ada pengetahuan - Identifikasi adanya alergi atau intoleransi
- Ketidak akuratan mengkuti peritah 5 = pengetahuan sangat banyak makanan yang dimiliki pasien
- Perilaku tidak tepat - Tentukan apa yang menjadi preferen
Indikator : pasien
Faktor yang berhubungan Tujuan diet yang bsa dicapai - Instruksikan pasien mengenai kebutuhan
- Gangguan fungsi kognitif Dipertahankan 2, di tingkatkan 5 nutrisi
- Gangguan memori Intake cairan yang sesuai dengan kebutuhan - Bantu pasien menentukan pedoman dan
- Kurang informasi metabolic piramida makanan yang paling cocok
- Kurang minat untuk belajar Dipertahankan 2, di tingkatkan 5 dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
Intake nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan - Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi
- Kurang sumber pengetahuan
individu yang dibutuhkan
- Salah pengertian terhadap orang lain
Dipertahankan 2, di tingkatkan 5 - Berikan pilihan makanan yang lebih
Pedoman gizi yang direkomendasikan
- Anjurkan pasien memodifikasi diet
Dipertahankan 3, di tingkatkan 5
44
Pedoman untuk porsi makan - Anjurkan psien kebutuhan diet yang
Dipertahankan 3, di tingkatkan 5 diperlukan
- Anjurkan psien terkait kebutuhan makanan
tertentu

45
Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan

mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan

keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat serta bukan atas petunjuk

tenaga kesehatan yang lain. Sedangkan tindakan kolaborasi adalah tindakan

keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau

petugas kesehatan lain.

Evaluasi Keperawatan

Evaluasi segala kriteria hasil apakah sudah tercapai atau belum tercapai dengan

melaksanakan intervensi. Apabila criteria hasil telah tercapai maka pasien akan

mampu beraktivitas secara normal dan mandiri, tanda-tanda vital berada dalam

rentang normal, tidak ada tanda dan gejala penyakit yang mengarah pada kondisi

yang lebih berat, pasien merasa aman dan nyaman serta pasien dan keluarga

mendapatkan informasi terkait penyakit, diagnosis, dan tindakan yang akan

dilakukan. Eveluasi keperawatan merupakan proses untuk meninjau diagnose dan

intervensi yang telah dilakukan.

46
BAB III

STUDI KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATAN

Format Asuhan Keperawatan pada Anak

Nama Mahasiswa : Pusparini Anggita Ayuningtyas


NBP : 2041312021
Tempat Praktek :-
Tanggal Pengkajian : 20 November 2020

I. IDENTITAS DATA
Nama Anak : An. U BB/TB : 21kg / 128cm
TTL/ Usia : Pasaman Baru, 17 Agustus 2011/9 tahun, 3 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan Anak : Sekolah Dasar
Anak ke :3
Nama Ibu : Ny. S
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMA
Alamat : Pasaman Baru
Diagnosis Medis : Diare

II. KELUHAN UTAMA


(Yang dirasakan saat pengkajian) : Ibu Pasien mengatakan sejak 1 hari yang lalu An.U
mengeluhkan mencret, sakit perut, frekuensi BAB 4-5x dalam sehari, konsistensi encer kadang
berair, ibu pasien mengatakan anaknya susah untuk makan, untuk mual dan muntah tidak ada, anak
masih tampak lemas dan pucat
III. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
1. Prenatal : Selama hamil Ny.S memeriksakan kehamilannya di praktik bidan dan Rumah
Sakit, Ny.S memeriksakan kehamilannya saat ada keluhan saja, namun memeriksakan kehamilan setiap
bulan. Metode kelahiran An.A yaitu kelahiran caesar dan bernafas spontan
2. Intranatal : An.U lahir dengan umur kehaimilan cukup bulan, lahir normal di Rumah Sakit
ditolong oleh Dokter Kandungan dengan BBL : 2800 gram dan dalam kondisi sehat
3. Postnatal : pemeriksaan bayi dan masa nifas dilakukan oleh dokter, dan kondisi Ny.S pada
saat itu dalam kondisi sehat
IV. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI
47
Ibu mengatakan anak mencret, anak mengeluh sakit perut, tidak selera makan, RR : 24 x/menit, N : 108
X/menit dan suhu : 37oC, TD; 110/60 mmhg. Ibu anak mengatakan anaknya tidak nafsu makan, makan
hanya sedikit, minum kurang. An. U mengatakan susah untuk tidur karena perutnya terasa sakit dan
sering BAB ke kamar mandi. Ibu pasien mengatakan bahwa anaknya memakan jajanan yang pedas
yaitu bakso bakar dan membeli minuman warung dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Ibu
mengatkan bingung kenapa anaknya bisa mencret padahal sebelumnya anaknya sering jajan di luar.
Selain itu, ibu juga takut membawa anaknya berobat ke RS dikarenakan kondisi saat ini yang sedang
pandemic Covid-19.

V. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


1. Penyakit yang diderita sebelumnya : Demam, batuk, pilek
2. Pernah dirawat di RS : belum pernah
3. Obat-obatan yang pernah digunakan : obat sirup pereda panas, obat batuk dan pilek
4. Alergi : Tidak ada alergi
5. Kecelakaan : tidak ada
6. Riwayat imunisasi : pasien mendapatkan imunisasi lengkap

VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA Disertai


genogram 3 (tiga) generasi

VII. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG

• Kemandirian dan bergaul :

Ibu mengatakan An. U dapat bersosialisasi dan bergaul serta bermain dengan teman sebaya di
lingkungan sekitar rumahnya. An. U sudah mampu melakukan pekerjaan rumah secara mandiri
seperti menyapu rumah, membersihkan kamar, dan membereskan mainannya sendiri.
• Motorik kasar :
An. U dapat menari, bermain sepeda dan lompat tali.

• Motorik halus :

An. U sudah mampu menggambar, mengarang, menghasilkan bentuk dari kertas origami.
• Kognitif dan bahasa :
An. U sangat aktif dalam bertanya, lebih focus dan gemar pada membaca dan menghafal. Saat

48
membicarakan atau menggambarkan sesuatu An. U sudah mulai lebih ekspresif dengan
menggunakan bahasa tubuh ataupun ekspresi muka.
• Psikososial :
Ibu mengatakan An. U dapat bekerja sama dengan teman-temannya, dan lebih banyak menghabiskan
waktu bermain dengan teman-tamnnya serta lebih mendengarkan saran dari teman-temannya
dibandingkan orang tuanya.

VIII. RIWAYAT SOSIAL


1. Yang mengasuh klien : kedua orangtua klien
2. Hubungan dengan anggota keluarga : Ibu mengatakan anak memiliki kedekatan hubungan dengan
anggota keluarga inti (ayah dan ibu) maupun keluarga besar, saling menyayangi sepupu maupun
saudara-saudaranya.
3. Hubungan dengan teman sebaya : baik, klien memiliki hubungan dengan teman sebaya yang baik,
anak pandai bergaul dan memiliki banyak teman di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal
4. Pembawaan secara umum : ramah, ceria, dan riang
5. Lingkungan rumah : Rumah klien tampak bersih dan rapi, sampah selalu dibuang pada pembuangan
sampah, Rumah permanen, jamban di dalam rumah, sumber air sumur gali, halaman rumah bersih.
IX. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : anak tampak sedikit lemas dan pucat, keadaan umum sedang (TTV: TD: 110/60
mmHg, RR: 24x/menit, suhu : 370C, dan Nadi 104x/menit)
2. TB/ BB (cm) : TB : 128cm, BB : 21 kg
3. Kepala
a. Lingkar kepala : 51 cm
b. Rambut :
Kebersihan : rambut bersih dan wangi
Warna : .hitam
Tekstur : halus
Distribusi rambut : merata di seluruh permukaan kepala
Kuat/mudah tercabut : kuat
4. Mata :
a. Simetris : Ya
b. Sclera : tidak ikterik
c. Konjungtiva : anemis
d. Palpebra : tidak ada oedem palpebra
e. Pupil : Ukuran 2 mm Bentuk isokor
f. Reaksi Cahaya : positif kiri dan kanan, pupil mengecil saat diberikan cahaya
49
5. Telinga :
a. Simetris : Ya
b. Serumen : tidak ada pengeluaran serumen
c. Pendengaran : Dalam batas normal (baik)
6. Hidung :
a. Septum simetris : Ya
b. Sekret : Ada (normal)
c. Polip : tidak ada
7. Mulut :
a. Kebersihan : Bersih
b. Warna Bibir : Pucat
c. Kelembapan : kering
d. Lidah : Bersih, tidak ada keputihan
e. Gigi : putih dan sedang masa pergantian gigi ke gigi dewasa
8. Leher
a. Kelenjer Getah Bening : tidak ada pembesaran kelenjer getah bening
b. Kelenjer Tiroid : normal, tidak ada pembengkakan
c. JVP : tidak ada JVP
9. Dada
a. Inspeksi : dada simetris, warna dada sama dengan kulit di sekitarnya
b. Palpasi : pengembangan dada simetris kiri kanan, tidak teraba ictus cordis
10. Jantung
a. Inspeksi : Bentuk normal, tidak ada lesi dan benjolan, warna sama dengan kulit sekitar
abdomen, tidak ada asites
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
c. Perkusi : Terdengar bunyi timpani dan pekak
c. Auskultasi : tidak ada bunyi gallop, murmur, bunyi jantung ke 3, Ritme reguler, PMI dalam
batas normal
11. Paru-paru
a. Inspeksi : tidak terdapat otot bantu napas, pengembangan dada simetris kiri dan kanan,
kedalaman napas dangkal
b. Palpasi : tidak ada masa, tidak ada pembengkakan
c. Perkusi : suara sonor dikedua lapang
d. Auskultasi : suara nafas vesikuler

50
12. Abdomen
a. Inspeksi : tidak tidak membuncit, warna kulit pucat, lesi (-)
b. Palpasi : terdapat nyeri tekan pada perut, edema (-)
c. Perkusi : suara timpani, dan pekak pada bagian liver
d. Auskultasi : bising usus 20x/menit
13. Punggung : Bentuk : simetris, pengembangan simetris kiri dan kanan
14. Ekstremitas :
Kekuatan dan tonus otot : 555 555
555 555
Refleks-refleks :
a. Atas : edema (-), lesi (-), CRT <2 detik, akral hangat,namun sedikit pucat
b. Bawah : edema (-), lesi (-), CRT <2 detik, akral teraba hangat
15. Genitalia : tidak diperiksa
16. Kulit:
Warna : sedikit pucat Tugor sedikit kering Integritas kering Elastisitas: tidak elastis
17. Pemeriksaan neurologis :
Berkaitan dengan kasus seperti meningitis, kejang dll : tidak ada riwayat kejang

X. PEMERIKSAAN PERTUMBUHAN
- STATUS GIZI (terlampir)
BB = 21 kg
TB = 128 cm

Status gizi berdasarkan CDC yaitu BB berdasarkan Usia


= BB actual / BB ideal x 100%
= 72, 41% = 72% (Gizi Kurang)
Interpretasi : Gizi Kurang TB berdasarkan Usia
= TB actual / TB ideal x 100%
= 120cm / 147cm x 100%
= 96,24% = 96% (Gizi Baik)
Interpretasi : Gizi Normal IMT = 12,8
Standar indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) anak perempuan usia 9 tahun 3 bulan
berada pada rentang -3SD sampai -2SD dengan interpretasi : kurus)

XI. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL

Menurut Erickson tahap perkembangan pskososial pada anak usia 6-12 tahun adalah Industry vs
51
Inferiority, di mana anak akan semakin membandingkan dirinya dengan orang lain terutama dengan
teman sebayanya dan lebih mementingkan hubungan pertemanan serta anak lebih memperkuat
posisinya di dalam hubungan pertemananya. Pada An. U ditemukan bahwa anak lebih banyak
menghabiskan waktu bermain dengan teman-teman sebayanya dan lebih mendengarkan saran dari
teman-temannya. Perkembangan anak sesuai dengan usia tumbuh kembangnya (motoric kasar, motoric
halus, berbicara dan personal sosial). Dalam hal perkembangan dimana anak tidak kehilangan masa
tumbuh kembang baik secara psikis maupun sosial perkembangan nya dengan teman sebaya.
Perkembangan fisiknya juga tidak terhambat walaupun dengan penyakit yang diderita anak.

XII. PEMERIKSAAN CAIRAN


- Intake : ± 1200 cc (minum 5-6 gelas/hari)
- output : ± 570 cc (BAK 5-6 x/hari)
- ± 500 cc (BAB 3-5 X /hari, konsistensi encer dan mucus)
XIII. PEMERIKSAAN SPIRITUAL
Anak masih mengerjakan ibadahnya seperti sholat, namun untuk mengaji di TPA ibu mengatakan
kemarin anak tidak pergi karena lemas dan masih sering ke wc

XIV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Laboratorium : .tidak ada
2. Rontgen : tidak ada
3. Lain-lain :-

XV. KEBUTUHAN DASAR SEHARI-HARI

No Jenis Kebutuhan Sebelum sakit Saat sakit

1 Makan Jumlah : ± 1600k kalori Jumlah : ± 900k kalori Kurang


Makan 3x/hari (nasi, lauk, dan nafsu makan, anak hanya mau
buah) dengan porsi satu piring makan sedikit.
nasi habis. Makan 3 kali sehari dengan
Ditambah dengan konsumsi porsi setengah piring tidak
snack dan jajanan. dihabiskan.
2 Minum Jumlah : ± 1600cc/hari Jumlah : ± 1200cc/hari
Frekuensi : ± 7-8 kali/hari Frekuensi ± 5-6 kali/hari
Jenis : air putih, susu coklat, Jenis : air putih dan teh
teh, dan sirup hangat.
3 Tidur Nyenyak Kurang nyenyak dan sering
Tidur malam : ±7-8 jam terbangun
Tidur siang : ± 1-2 jam Tidur malam : ± 5-6 jam
Tidur siang : tidak ada tidur
siang
4 Mandi Mandiri, frekuensi 2x sehari Mandiri, frekuensi 2x sehari
5 Eliminasi Mandiri Mandiri
52
Frekuensi BAB : 1-2 x sehari Frekuensi BAB : 3-5 x sehari
Jumlah BAB : ± 200cc/hari Jumlah BAB : ± 500cc/hari
Konsistensi : feses lunak Konsistensi : feses cair
Frekuensi BAK : 4-5x sehari Frekuensi BAK : 3-4x sehari
Jumlah BAK : 540 cc/jam Jumlah BAK : 540 cc/jam
Konsistensi : warna bening Konsistensi : warna kuning
kekuningan
6 Bermain Bermain dengan teman sebaya Saat nyeri tidak dapat bermain
dan yang lebih tua di dan dengan teman sebaya dan
lingkungan sekolah maupun yang lebih tua, Tidur-tiduran
tempat tinggal didalam rumah,terkadang
sambil menonton TV

XVI. RINGKASAN RIWAYAT KEPERAWATAN


An. U mengatakan perutnya sakit dan mencret sudah sejak 1 hari yang lalu, frekuensi BAB 3-5 kali
sehari dengan konsistensi cair. Ibu mengatakan anaknya tidak nafsu makan, makan hanya sedikit,
minum kurang. Ibu mengatakan anaknya sudah diberi obat entrostop anak tetapi masih saja mencret. An.
U mengatakan sebelum sakit perut, ia bermain di luar rumah dan jajan bakso bakar minuman warung
lebih banyak dibandingkan biasanya. Ibu mengatkan bingung kenapa anaknya bisa mencret padahal
sebelumnya anaknya sering jajan di luar. Selain itu, ibu juga takut membawa anaknya berobat ke RS
dikarenakan kondisi saat ini yang sedang pandemic Covid-19.Saat dilakukan pemeriksaan tanda-tanda
vital didapatkan hasil S : 37°C, N : 108x/menit, RR : 24x/menit, TD: 110/60 mmHg An. U tampak lesu,
membrane mukosa pucat, bising usus hiperaktif (+), nyeri tekan (+) pada abdomen.

XVII. ANALISIS DATA (minimal 3 masalah keperawatan)


No. Data Patofisiologi Masalah
1 DS: Faktor Diare
- Ibu mengatakan anak mencret, penyerapan
frekuensi BAB 3-5 kali/ hari makanan
- Ibu klien menyatakan sebelum
Peningkatan
mencret anak banyak makan makanan
mobilitas usus
yang pedas seperti baksobakar dan
minuman warung dalamjumlah yang
Gangguan absorpsi
lebih banyak dari biasanya
nutrisi & cairan
- An.U mengatakan perutnya sering
intestinal
berbunyi dan menandakan ia akan
BAB Diare
DO :
- Bising usus 20 x/ menit
- An.U tampak sering memegang
perut
53
- BAB konsistensi encer dan
bermukus
- Anak lemas
- Anak pucat, CRT <2 detik
2 DS : Diare Resiko defisit volume
- ibu mengatakan anak mencret, cairan
Peningkatan
frekuensi BAB 3-5 kali/ hari
sekresi cairan
- ibu mengatakan anak minum 6 gelas
sehari, anak tidak mau minum susu
DO : Kehilangan volume
- Turgor kulit sedang cairan secara aktif
- Mukosa bibir kering
- Anak tampak lemas
Kekurangan volume
- RR : 24x/menit
cairan
- Nadi:104 x/ menit
- Suhu : 37◦ C
- TD : 110/60 mmHg

3 DS : Kurang terpapar Kurang Pengetahuan


- Ibu klien menyatakan sebelum sumber informasi
mencret anak makanan yang
pedas seperti bakso bakar dan Kurang pengetahuan

minuman warung dalam jumlah


yang lebih banyak dari biasanya
- Ibu menyatakan anak belum
diberikan obat untuk mengurangi
frekuensi BAB
- Ibu mengatakan lupa takaran
untukmembuat oralit
- Ibu memberikan teh hangat tanpa
gula untuk anaknya
DO :
- Ibu klien bertanya-tanya mengenai
pembuatan oralit sederhana di rumah
54
55
D. Diagnosa keperawatan

NANDA NOC NIC


00013 0503 Eliminasi Usus Management Diare :
Diare b.d. iritasi pada
0601 Keseimbangan Cairan & Elektrolit - Monitor tanda dan gejala diare.
gastrointestinal
- Identifikasi factor penyebab diare
Definisi: pasase feses yang lunak dan tidak Kriteria hasil :
- Observasi turgor kulit
berbentuk. - BAB tidak lebih dari 3 kali sehari. - Intruksikan keluarga untuk mencatat
- Feses berbentuk. warna, volume, frekuensi dan konsistensi
- Mencegah iritasi daerah sekitar feses.
rectal. - Evaluasi intake makanan yang masuk
- Diare (-)
- Evaluasi efek samping penggunaan obat-
- Mempertahankan turgor kulit tetap obatan
baik. - Berikan makanan dalam porsi kecildan
- Bising usus normal lebih sering serta tingkatkan porsi secara
bertahap.
- Ajarkan klien teknik mengurangi stress.
- Anjurkan klien atau keluarga untuk
konsumsi makanan yang rendah serat,
tinggi protein, dan tinggi kalori.
- Intruksikan klien atau keluarga untuk
menhindari
penggunaan lakstif.
00027 - Keseimbangan Cairan Management Cairan :
Kekurangan volume cairan b.d. asupan
- Hydrasi - Monitor status hidrasi
intake cairan yang tidak adekuat
- Control Resiko - Monitor TTV
Definisi : Penurunan intravaskuler,
- Monitor intake dan output cairan
interstisial, dan/atau intraseluler ini
Kriteria Hasil : - Monitor makanan yang dikonsumsi
mengacu pada dehidrasi, kehilagan cairan
- Timbang BB
saja tanpa perubahan kadar natrium - TTV dalam rentang normal.
- Dorong intake oral
- Tidak ada tanda-tanda dehidrasi
- Monitor status gizi
- Turgor kulit baik
- Tawari makanan ringan
- Membrane mukosa lembab
- Dukung keluarga unutk membantu
- Mual dan muntah tidak ada
56
- Anoreksia (-) dalam pemberian makan dengan baik.
- Konsultasikan dengan dokter jika tanda
dan
gejala semakin memburuk.
00126 - Pengetahuan : Perilaku Kesehatan Pendidikan Kesehatan :
Defisiensi Pengetahuan b.d. kurang
- Pengetahuan : Manajemen - Tentukan pengetahuan kesehatan dan
terpapar sumber informasi
Penyakit Akut gaya hidup
Definisi : ketiadaan atau defisiensi
- Perilaku Patuh perilaku saat ini pada individu, keluarga,
informasi kognitif yang berkaitan dengan
atau kelompok.
topic tertentu
- Identifikasi sumber daya yang
Kriteria hasil :
diperlukan untuk melaksanakan program.
- Perilaku sesuai anjuran. - Sediakan materi dan media
- Kemampuan menjelaskan pendidikan kesehatan.
pengetahuan tentang suatu topic. - Jadwalkan pendidikan kesehatan
- Perilaku sesuai dengan sesuai kesepakatan.
pengetahuan. - Berikan kesempatan untuk
- Verbalisasi minat dalam belajar bertanya saat memberikan intervensi
kesehatan.
- Kembangkan materi pendidikan yang
tersedia dan sesuai dengan audiens.
- Libatkan individu, keluarga, dan
kelompok dalam perencanaan dan
rencana implementasi
gaya hidup atau modifikasi prilaku
kesehatan

57
E. XX. CAPAIAN PERKEMBANGAN

No Paraf
Hari/Tanggal, Implementasi Evaluasi
Dx. Perawat
Jam
I Jumat, 20-11- - Memonitor tanda dan gejala S : Klien mengatakan perutnya Anggita
2020 diare. masih sakit, Ibu mengatakan
Jam 10.00 WIB anak masih mencret, BAB 4x
- Mengidentifikasi factor
sehari dengan konsistensi cair, ibu
penyebab diare
mengatakan anak makan bakso
- Mengobservasi turgor kulit
bakar dan minuman warung yang
- Mengintruksikan klien atau
lebih banyak dibandingkan hari
ibu untuk mencatat warna,
biasanya,ibu mengatakan anak
volume, frekuensi dan
masih lemas dan belum nafsu
konsistensi feses.
makan
- Mengajarkan ibu penggunaan
O : bertanya kepada ibu
obat anti diare (oralit).
bagaaimana kondisi anak,
- Menganjurkan ibu untuk
mengidentifikasi faktor penyebab
memperhatikan
diare anak adalah berasal dari
kebersihan makanan yang
makanan yang tidak seperti
dikonsumsi anak.
biasanya dimakan oleh anak,
meminta ibu untuk mencatat
warna, banyaknya anak ke WC,
dan feses anak, mengajarkan ibu
tentang pembuatan orait (4-5
bungkus oralit selama 4 jam, 1
bungkus oralit = 1 gelas 200 ml),
Mukosa bibir kering, Turgor kulit
sedang, Bising usu hiperaktif (+)
A : masalah belum teratasi
P:intervensi dilanjutkan dengan
management diare dan pantau
pola defekasi.
2 Jumat, 20-11- - Memonitor status hidrasi S : Klien mengatakan masih Anggita
2020 (kelembapan mukosa, kurang nafsu makan, Ibu
Jam 11.30 WIB frekuensi nadi dan mengatakan anak minum ± 5- 6
pernapasan) gelas/hari, Ibu mengatakan anak
- Memonitor intake dan output tidak ada muntah, ibu mengatakan
cairan anak masih lemas.
- Menganjurkan ibu untuk O : Mukosa bibir kering dilihat
selalu meningkatkan asupan pada bibir anak, TTV N=108
cairan dan makanan pada x/menit dengan meraba pada arteri
anak radialis, RR=24x/menit dihitung
- Menganjurkan ibu untuk selama 1menit, menghitung
memberika anak makanan jumlah minum anak dan asupan
ringan. yang lainnya serta mencatat
- Menganjurkan ibu untuk frekuensi anak BAB,
memberikan anak makanan menganjurkan ibu untuk
dalam porsi kecil dan lebih meningkatkan asupan cairan
sering serta tingkatkan porsi dengan memberikan anak lebih
58
secara bertahap. sering minum dan makan dengan
porsi setengah dari biasanya
namun sering serta makanan
ringan seperti biskuit
A : masalah mulai teratasi
P : intervensi dilanjutkan
dengan manajemen cairan dan
pantau intake output makanan
dan cairan pada anak
3 Jumat, 20-11- - Mengidentifikasi S : Ibu mengatakan sudah paham Anggita
2020 pengetahuan kesehatan dan mengenai penyebab diare pada
Jam 16.00 WIB gaya hidup perilaku pada anaknya.
klien dan keluarga. O : memberitahu ibu tentang gaya
- Menyampaikan kepada ibu hidup yang sebaiknya dilakukan
mengenai kondisi anak secara di rumah (menjelaskan phbs),
tepat. menyampaikan kepadaibu tentang
- Menjelaskan kepada ibu kondisi anak mengalami penyakit
mengenai penyebab anak diare yang disebabkan makanan
diare. yang tidak biasa dimakan anak
- Menjelaskan kepada ibu dan kurag bersihnya jajanan di
mengenai tanda gan gejala luar rumah, menjelaskan tanda
diare pada anak. dan gejala yang dialami anak
- Memberikan informasi (sakitperut, mencret, tidak nafsu
kepada ibu cara menangani makan, dan nyeri pada
anak diare. perut)merupakan respon dari
- Mendiskusikan perubahan penyakit, menjelaskan
gaya hidup yang diperlukan penanganan diare pada ibu (anak
untuk mencegah komplikasi harus dibawa ke pelayanan
penyakit kesehatan apabila anak tidak
yang lebih parah. sadar, tidak bisa minum atau
malas minum; apabila anak masih
dapat minum dan masih sadar
maka berikan anak oralit),
menjelaskan pada ibu untuk
mengontrol makanan yang
dimakan anak untuk mencegah
kejadian terulang, Ibu dapat
menyebutkan penyebab diare,
tanda dan gejala diare serta
cara menangani diare dengan
tepat, Ibu tampak focus dan
antusias selama Diskusi
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan dengan
pemantauan kondisi anak dan
diskusikan perubahan gaya
hidup yang sehat.
1 Sabtu, 21-11- - Memonitor tanda dan gejala S : Klien mengatakan perutnya Anggita
2020 diare. masih terasa sedikit sakit, Ibu
Jam 07.00 WIB mengatakan diare anak sudah
59
mulai berkurang, BAB 3x sehari
- Mengobservasi turgor kulit
dengan konsistensi cair.
- Mengevaluasi intake
O : menjelaskan kepada inu untuk
makanan yang masuk pada
memantau anak dan
anak
memberikanoralit jika masih
mencret, Mukosa bibir lembab,
Turgor kulit sedang, Bising usus
normal
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan dengan
management diare dan pantau
pola defekasi klien.
2 Sabtu, 21-11- - Memonitor status hidrasi S : Klien mengatakan masih Anggita
2020 (kelembapan mukosa, kurang nafsu makan, Ibu
Jam 07.15 WIB frekuensi nadi dan mengatakan anak minum ± 7-8
pernapasan) gelas/hari, Ibu mengatakan anak
- Memonitor intake dan output sudah mulai minum banyak
cairan namun masih sedikit makan.
O : Mukosa bibir lembab, TTV :
N=87x/menit, RR=21x/menit,
Konjungtiva anemis (+/+)
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan dengan
manajemen cairan dan pantau
intake output makanan dan
cairan pada anak.
3 Sabtu, 21-11- - Memberikan informasi S : Ibu mengatakan sudah paham Anggita
2020 kepada ibu cara mencegah mengenai cara mencegah diare
Jam 07.30 WIB diare pada anak. pada anak dan cara mencuci
- ibu dan anak cara mencuci tangan.
tangan yang baik dan benar. O : menjelaskan teknik mencuci
- Mengajurkan ibu untuk tangan kepada ibu dan anak (6
menerapkan PHBS pada langkah cuci tangan
keluarga dan lingkungan menggunakan sabun dan air
sekitar rumah. mengalir), menjelaskan kepada
ibu tentang PHBS, Ibu dapat
menyebutkan cara mencegah
diare dengan benar, Ibu dan anak
dapat mempraktikan cara mencuci
tangan yang baik dan benar.
A : masalah teratasi
P : intervensi tidak dilanjutkan
1 Minggu, 21-11- - Memonitor tanda dan gejala S : Klien mengatakan sakit Anggita
2020 diare. perutnya sudah mulai berkurang,
Jam 13.00 WIB Ibu mengatakan diare anak sudah
- Mengobservasi turgor kulit
mulai berkurang, BAB 2x sehari
Mengintruksikan klien
dengan konsistensi lembek.
frekuensi dan konsistensi
O : Mukosa bibir lembab,
feses.
Turgor kulit sedang, Bising usus

60
normal
- Mengevaluasi intake
A : masalah teratasi sebagian
makanan yang masuk pada
P : intervensi dilanjutkan dengan
anak
management diare dan pantau
pola defekasi klien.
2 - Memonitor status S : Ibu mengatakan anak sudah
hidrasi mulai minum banyak dan sudah
(kelembapan mukosa, mau menghabiskan makanannya.,
nadi dan pernapasan) Ibu mengatakan anak minum ± 7-
8gelas/hari
- Memonitor intake dan output
O : Mukosa bibir lembab, TTV :
cairan
N=88x/menit, RR=22x/menit,
Konjungtiva tidak anemis
A : masalah sudah teratasi.
P : intervensi dilanjutkan dengan
manajemen cairan dan pantau
intake output makanan dan
cairan pada anak.

61
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Pengkajian adalah tahap proses mengumpulkan data yang relevan dan continue

tentang respon manusia, status kesehatan, kekuatan dan masalah pasien. Tujuan dari

pengkajian adalah untuk memproses informasi tentang keadaan kesehatan pasien,

menentukan masalah keperawatan dan kesehatan pasien, menilai keadaan kesehatan

pasien, membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah

berikutnya (Potter&Perry, 2006). Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 20

November 2020, An. U mengatakan perutnya sakit dan mencret sudah sejak 1 hari

yang lalu, frekuensi BAB 3-5 kali sehari dengan konsistensi cair. Kasus ini sesuai

dengan pendapat KemenKes RI (2015) yang menyatakan bahwa diare adalah

gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali sehari dengan

konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lender. Menurut Wong

(2009) diare dapat diklasifikasikan berdasarkan lama durasinya yaitu diare akut dan

diare kronik. Diare akut terjadi selama kurang dari 14 hari sementara diare kronik

terjadi selama lebih dari 14 hari. An. U menderita diare akut, hal ini dikarenakan

rentang durasi terjadinya diare pada An. U yaitu kurang dari 14 hari.

Menurut Brandt et al (2015), penyebab diare yaitu faktor infeksi (Bakteri, virus,

parasit), gangguan penyerapan makanan dan minuman di usus seperti penyerapan

62
karbohidrat, lemak dan protein, faktor makanan seperti makanan basi, beracun, alergi

terhadap makanan, faktor psikologis seperti cemas, takut dan terkejut. Penyebab lain

dari diare adalah rotavirus, kualitas air minum, kebersihan dan sanitasi (Gul R,

Hussain, Ali W,et al, 2017). Pada kasus kelolaan, ditemukan data bahwa An. U

mengatakan sebelum sakit perut, ia bermain di luar rumah dan jajan bakso bakar dan

minuman warung yang lebih banyak dibandingkan dengan hari biasanya. Hal ini

dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab diare pada anak adalah factor makanan

(jajanan) yang terlalu pedas atau pengelolaan yang tidak higien, kualitas minuman

yang tidak dimasak hingga matang, serta kebersihan tangan anak yang tidak baik

dikarenakan anak bermain di luar.

Ibu mengatakan anaknya tidak nafsu makan, makan hanya sedikit, minum kurang.

An. U mengatakan susah untuk tidur karena perutnya terasa sakit dan sering BAB ke

kamar mandi. An. U tampak lesu, membrane mukosa pucat, nyeri tekan (+) pada

abdomen, dan bising usus hiperaktif (+). Hal ini sesuai dengan pendapat Nelwan

(2014) yang menyebutkan tanda dan gejala yang dapat dijumpai pada anak dengan

diare yaitu : BAB lebih dari 3 kali sehari, badan lemah dan lemas, tidak nafsu makan,

membrane mukosa bibir kering, nyeri perut, terkadang dapat dijumpai demam, mual,

dan muntah. Namun pada An. U tidak dijumpai adanya demam.

B. Diagnosa Keperawatan

63
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis tentang respon individu,

keluarga atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang actual dan potensial

atau proses kehidupan. Tujuannya adalah mengarahkan rencana asuhan

keperawatan untuk membantu klien dan keluarga beradaptasi terhadap penyakit

dan menghilangkan masalah keperawatan kesehatan (Potter&Perry, 2006).

Pada kasus An.A diagnosa pertama yang diangkat yaitu diare berhubungan

dengan iritasi gastrointestinal. Hal ini disebabkan karena sang anak diare sejak 1

hari yang lalu dengan frekuensi 3-5 kali sehari. Menurut Herdman, T. (2018),

diare adalah pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk. Adapun batasan

karakteristiknya yaitu nyeri abdomen, ada dorongan untuk defekasi, kram, bising

usus hiperaktif, defekasi feses cair > 3 dalam 24 jam. Populasi beresiko terjadinya

diare antara lain terpapar pada kontaminan, terpapar pada toksin, terpapar pada

persiapan makan tidak higienis. Dalam kasus didapatkan data An. U mengeluhkan

sakit perut, BAB 3-5 kali sehari, nyeri tekan (+) pada abdomen, bising usus

hiperaktif (+). Sementara itu pada kasus An.Z termasuk pada populasi yang

beresiko terpapar pada makanan yang tidak higienis akibat dari jajan yang

sembarangan. Berdasarkan data yang ditemukan dan batasan karakteristik maka

sesuai jika diangkat diagnose keperawatan diare b.d. iritasi pada gastrointestinal

Diagnosa kedua yang diangkat yaitu resiko deficit volume cairan berhubungan

dengan kehilangan volume cairan secara akitf/output yang berlebih. pada kasus

ditemukan data BAB 3-5x/hari dengan konsisensi cair, ibu mengatakan klien

64
tidak nafsu makan, makan hanya sedikit, minum kurang, muntah satu kali, klien

tampak lesu dan lemah, konjungtiva subanemis (+/+), membrane mukosa pucat

dan kering. Hal ini ditandai dengan mukosa bibir sang anak yang tampak kering,

turgor kulit yang sedang, dan anak tampak lemas. Hal ini sesuai dengan

pengertian dari resiko kekurangan volume cairan yaitu rentan mengalami

penurunan volume cairan intravaskuler, intrasitial, dan/atau intraselular yang dpat

mengganggu kesehatan, di mana kondisi terkaitnya adalah kehilangan cairan

aktif, gangguan yang memengaruhi absorpsi cairan dan asupan cairan (Herdman,

T, 2018).

Diagnosa keperawatan yang ketiga adalah kurang pengetahuan berhubungan dengan

kurang terpajan informasi. Salah satu aspek yang mempengaruhi terjadinya diare

pada anak adalah tingkat pengetahuan ibu. Pada kasus ditemukan data bahwa

sebelum sakit perut, klien bermain di luar rumah dan jajan bakso bakar dengan

saos cabe dan beli minum air es syirup, ibu mengatakan bingung kenapa anaknya

bisa mencret padahal sebelumnya anaknya sering jajan di luar, ibu klien takut

membawa anaknya berobat ke RS dikarenakan kondisi saat ini yang sedang

pandemic Covid-19. Berdasarkan kasus dapat dianalisa bahwa ibu tidak

mengetahui factor penyebab terjadinya diare pada anak. Hal ini sesuai dengan

factor yang berhubungan dengan diagnose defisiensi pengetahuan yaitu adanya

kuranga informasi dan kurangnya sumber pengetahuan (Herdman, T, 2018).

65
C. Implementasi Keperawatan

Dalam asuhan keperawatan, perawat haruslah melakukan tindakan keperawatan

yang sesuai dengan kondisi klien. Berdasarkan kasus untuk mengatasi diare dapat

dilakukan manajemen diare di mana salah satu tindakannya yaitu mengajarkan ibu

untuk penggunaan obat anti diare (oralit) dan menganjurkan ibu untuk tidak

memberikan anak makanan yang pedas dan asam. Untuk diagnose resiko kekurangan

volume cairan intervensi yang dapat diimplementasikan yaitu manajemen cairan

dengan tindakannya yaitu menganjurkan ibu untuk selalu meningkatkan asupan

cairan dan makanan pada anak, menganjurkan ibu untuk memberikan anak makanan

dalam porsi kecil dan lebih sering serta tingkatkan porsi secara bertahap, dan

menganjurkan ibu untuk meningkatkan nafsu makan anak dengan cara membujuk

anak dan menemani anak ketika makan. Sedangkan untuk masalah keperawatan

defisiensi pengetahuan, tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan

pengetahuan ibu adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan mengenai

penanganna diare pada anak serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

D. Evaluasi Keperawatan

Selama pemberian intervensi selama 3 hari, evluasi yang diperoleh evaluasi yaitu

diare anak sudah tidak ada lagi, BAB 2x sehari dengan konsistensi lembek, An. U

sudah banyak minum (±7-8 hari), anak sudah mau menghabiskan porsi makanannya,

keluhan sakit perut sudah mulai berkurang, bising usus normal, konjungtiva tidak

66
anemis, mukosa bibir lembab. Hal ini menunjukkan bahwa sudah tercapai criteria

hasil yang diharapkan dan masalah keperawatan diare dan resiko kekurangan volume

cairan sudah dapat teratasi. Sementara itu untuk masalah keperawatan defisiensi

pengetahuan, evaluasi yang diperoleh yaitu tingkat pengetahuan ibu bertambah, ibu

paham mengenai factor penyebab diare, cara penangan dan pencegahan diare serta

ibu dapat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Analisa untuk masalah

keperawatan defisiensi pengetahuan yaitu masalah sudah dapat teratasi.

67
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Diare adalah gangguan buang air besar/BAB ditandai dengan BAB lebih dari 3

kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah dan atau lender

(KemenKes RI, 2015). Penyebab diare yaitu faktor infeksi (Bakteri, virus, parasit),

gangguan penyerapan makanan dan minuman di usus seperti penyerapan karbohidrat,

lemak dan protein, faktor makanan seperti makanan basi, beracun, alergi terhadap

makanan, faktor psikologis seperti cemas, takut dan terkejut (Brandt et al, 2015).

Hasil pengkajian didapatkan data frekuensi BAB klien 3-5 kali sehari dengan

konsistensi cair, adanya keluhan nyeri pada abdomen, anoreksia (+), mukosa bibir

kering, bising usus hiperaktif (+), muntah 1 kali, konjungtiva sub anemis (+/+), klien

tampak lesu dan lemah.

Diagnose keperawatan yang dapat diangkat yaitu diare b.d. iritasi pada

gastrointestinal, resiko kekurangan volume cairan b.d. asupan intake cairan yang

tidak adekuat, dan defisiensi pengetahuan b.d. kurang terpapar sumber informasi.

Intervensi keperawatan yang dapat diimplementasikan yaitu manajemen diare,

manajemen cairan, dan pemberian pendidikan kesehatan.

68
Evaluasi yang diperoleh yaitu masalah keperawatan yang diangkat dapat teratasi

seluruhnya, dan kondisi kesehatan anak semakin membaik.

B. Saran

Penyakit diare dapat menyerang siapa saja terutama pada anak-anak, maka oleh

sebab itu mulailah menghilangkan dan memperbaiki kebiasaan dan gaya hidup yang

berisiko menjadi yang lebih baik. Perhatikan dan tingkatkan perilaku hidup bersih

dan sehat, selalu terapkan cuci tangan dengan baik dan benar, perhatikan kualitas

makanan dan minuman yang akan dikonsumsi, serta tingkatkan intake cairan dan

nutrisi. Sementara itu untuk tenaga keperawatan dalam melakukan asuhan

keperawatan hendaknya evaluasi keperawaatan dilakukan secara langsung kepada

klien dan keluarga sehingga perkembangan kondisi klien dapat diketahui dan

dipantau secara langsung oleh perawat.

69
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2014). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 12.

Jakarta : EGC.
Bulecheck, dkk. (2013). Nursing Intervention Classification Sixth Edition. USA
: Elsevier.

Herdman, T. Heather. (2018). Nanda Diagnosis Keperawatan : Defenisi dan


Klasifikasi 2018-2020. Jakarta : EGC.

Moorhead, dkk. (2013). Nursing Outcomes Classification Fifth Edition. USA :


Elsevier.

Nelwan, E. J. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta : Internal
Publishing.

Potter & Perry. (2013). Fundamental of Nursing : Concept, Process and


Practice Edisi 7 Vol. 3. Jakarta : EGC.

Tarwoto & Watonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusai dan Proses


Keperawatan.

Jakarta : Salemba Medika.


Wong, Donna L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6. Jakarta :
EGC.

70
Lampiran 1

TELAAH JURNAL

TENTANG DIARE PADA ANAK

Jurnal 1

Judul Jurnal Hubungan Perilaku Cuci Tangan Terhadap


Kejadian Diare Pada Siswa di Sekolah
Dasar Negeri Ciputat 02
Penulis 1. Alif Nurul Rosyidah
Daftar Pustaka Rosyidah, A. N. (2019). Hubungan Perilaku Cuci

Tangan Terhadap Kejadian Diare Pada Siswa


di Sekolah Dasar Negeri Ciputat 02. JIKO
(Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi) Vol. 3 No. 1
(2019).
Penerbit JIKO (Jurnal Ilmiah Keperawatan Orthopedi)
Kata Kunci Pengetahuan, Perilaku, Cuci Tangan, Kejadian Diare
Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan yang memiliki perilaku
cuci tangan yang baik sebesar 44.6% dan yang
memiliki perilaku kurang sebesar 55.4%. Anak SD
yang menderita diare dalam tiga bulan terakhir sebesar
80.4%, sedangkan anak yang tidak menderita diare
dalam tiga bulan terakhir sebesar 19.6%. Hasil uji
statistik menunjukan (p = 0.015) artinya ada hubungan
antara perilaku cuci tangan terhadap kejadian diare.
Pembahasan Analisa bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji
Fisher. Hasil uji statistik menunjukan ada hubungan
antara variabel perilaku cuci tangan dengan variabel
kejadian diare (p = 0,015). Dimana perilaku yang baik
maka kemungkinan terkena diare kecil, sedangkan
perilaku yang kurang baik maka semakin besar

71
kemungkinan untuk terkena diare.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini
gambaran karakteristik siswa di SDN Ciputat 02 yang
menjadi responden dalam penelitian ini, yaitu:
persentase jenis kelamin laki-laki sebesar 42,9% dan
perempuan sebesar 57,1%, sedangkan untuk umur
berkisar antara 9- 12 tahun. Sebagian besar responden
(96,4%) memiliki pengetahuan yang baik tentang
mencuci tangan. Tingkat pengetahuan responden
tersebut dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan
praktik hidup bersih dan sehat. Hal ini terjadi karena
pengetahuan merupakan bekal yang paling esensial
dalam pembentukan perilaku seseorang. Sebagian
besar responden (55,4%) memiliki perilaku yang
kurang tentang mencuci tangan di sekolah. Hal ini
disebabkan minimnya fasilitas untuk mencuci tangan,
seperti: keran air ditempat strategis, sabun, dan poster
tentang mencuci tangan. Sebagian kecil responden
(19,6%) pernah mengalami diare selama tiga bulan
terakhir. Hal ini disebabkan minimnya kebiasaan
mencuci tangan dengan air mengalir dan
menggunakan sabun. Hasil uji statistik pada penelitian
ini menunjukan ada hubungan antara variabel perilaku
mencuci tangan dengan variabel kejadian diare (p =
0.015).
Dapat disimpulkan bahwa perilaku mencuci tangan
yang baik maka kemungkinan terkena diare kecil,
sedangkan perilaku mencuci tangan yang kurang baik

72
maka semakin besar kemungkinan untuk terkena
diare.
Jurnal 2

Judul Jurnal Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs)


Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah
Dasar (SD)
Penulis 1. Widiantoro saputro
2. Lia yulia budiarti
3. Herawati
Daftar Pustaka Saputro. W, dkk. (2013). Perilaku Hidup Bersih

Dan Sehat (Phbs) Dengan Kejadian Diare


Pada Anak Sekolah Dasar (SD). DK
Vol.01/No.01/Maret/2013
Penerbit Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Kata Kunci Anak sekolah dasar, diare, perilaku hidup bersih dan
sehat
Hasil Penelitian Hasil penelitian didapatkan anak PHBS baik yaitu 161
anak, dengan diare sebanyak 57 (35,4%) dan tidak
diare sebanyak 104 (64,6%). Anak PHBS tidak baik
yaitu 39 anak dengan diare sebanyak 34 (87,2%) dan
tidak diare sebanyak 5 (12,8%). Hasil uji Chi-square
didapatkan nilai p-value = 0,000. Nilai Odds Ratio
(OR) = 0,081 (0,030-0,218). Dapat disimpulan bahwa
terdapat hubungan yang antara PHBS anak sekolah
dengan kejadian diare pada sekolah dasar di wilayah
kerja Puskesmas Banjarbaru Utara.
Pembahasan Terdapat hubungan yang bermakna antara PHBS anak
sekolah dengan kejadian diare pada sekolah dasar di
wilayah kerja Puskesmas Banjarbaru Utara. Nilai
Odds Ratio (OR) = 0,081 (0,030-0,218) artinya PHBS

73
anak merupakan faktor protektif untuk penyakit diare.
Anak SD yang mengalami diare 0,081 kali
kemungkinan pada anak SD yang tidak melakukan
PHBS dibandingkan dengan anak SD yang melakukan
PHBS pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Ira Indrianty
(2011) yang menyebutkan bahwa pengetahuan,
kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan mengkonsumsi
jajanan dan PHBS dapat mempengaruhi kejadian
diare pada anak sekolah dasar . Kurangnya perilaku
hidup sehat itu mengundang munculnya kebiasaan
tidak sehat di masyarakat yang cenderung
mengabaikan keselamatan diri dan lingkungan
sehingga memudahkan terjadinya penularan penyakit.
Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan angka
kejadian diare lebih besar pada anak yang mempunyai
PHBS tidak baik dan angka kejadian diare lebih kecil
pada anak yang mempunyai PHBS baik.
Hasil ini dijelaskan oleh Lawrance Green (1980),
menyatakan bahwa perilaku kesehatan seseorang
ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan dan
tradisi sebagai faktor predisposisi disamping faktor
pendukung seperti lingkungan fisik, prasarana dan
faktor pendorong yaitu sikap dan perilaku petugas
kesehatan atau petugas lainnya.
Anak SD yang memiliki pengetahuan, sikap dan
kebiasaan yang baik akan membuat anak belajar untuk
mampu melakukan secara mandiri melindungi dirinya

74
dari berbagai ancaman kesehatan. Pengetahuan, sikap
dan kebiasaan yang baik akan mendorong anak untuk
melakukan PHBS di sekolah. Dengan masih
banyaknya anak yang memiliki pengetahuan, sikap
dan kebiasaan yang kurang baik berarti anak
mempunyai potensi yang besar untuk terkena diare
akibat tidak melakukan PHBS dengan baik
Hasil penelitian Irawati, dkk (1998), menunjukkan
bahwa murid SD masih belum dapat memilih
makanan jajanan yang sehat dan bersih, hal tersebut
tercermin dari makanan jajanan yang dikonsumsi
murid SD di sekolah masih banyak yang mengandung
pewarna sintetik, logam berat, bakteri patogen dan
lain-lain. Selain itu murid SD juga belum terbiasa
mencuci tangan sebelum menjamah makanan.
Selanjutnya hasil penelitian Wulandari (2009),
menyatakan ada hubungan yang signifikan antara
sumber air minum dengan kejadian diare. Anak yang
memiliki kebiasaan cuci tangan dengan air mengalir
dan sabun dalam kehidupan sehari-hari dapat
mencegah anak dari penyakit diare. Anak ketika di
rumah diajarkan oleh orangtuanya untuk mencuci
tangan, demikian pula ketika di sekolah anak
mendapatkan pendidikan mengenai kesehatan dari
guru dan petugas kesehatan.
Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat menjadi salah
satu cara yang paling efektif untuk mencegah infeksi
di negara berkembang, bukti epidemiologi terkini

75
menunjukkan bahwa CTPS sebelum penanganan
makanan dan setelah buang air besar mencegah sekitar
30-47% diare pada anak (17), dan 85% penyakit yang
disebabkan secara fecal-oral dapat dicegah dengan
pasokan air bersih, terutama penyakit diare. Anak
yang mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir
dan dengan sabun dapat membunuh bakteri atau virus
penyebab diare yang ada di tangan setelah beraktivitas
misalnya bermain, buang air besar atau kecil,
membuangsampah. Hal ini dijelaskan dari hasil
penelitian Cairncross sandy, et al (2010) menyatakan
dengan mencuci tangan dengan sabun dan
meningkatkan kualitas air dapat menurunkan resiko
terkenanya penyakit diare sekitar 48% dan 17% (18)
selanjutnya hasil penelitian Farida dan Shofyatul
(2008) bahwa cuci tangan dengan sabun triclosan
padat baru, antiseptik etanol (tanpa air) dan irgasan
(tanpa air) menunjukan penurunan angka kuman yang
bermakna menjadi 14,48; 2,67; 6,27 (19).
Sampah merupakan sumber penyakit dan tempat
berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat,
nyamuk, tikus, kecoa yang dapat menyebabkan
seseorang terkenapenyakit, salah satunya adalah diare.
Anak yang melakukan tindakan 3M serta membuang
sampah pada tempatnya dapat mencegah penularan
penyakit. Hal ini dapat dijelaskan dari hasil penelitian
Rahmawaty (2004) yang menyatakan hasil jenis
pembuangan sampah dan saluran pembuangan air

76
limbah berpengaruh dengan kejadian diare.
Tersedianya fasilitas yang memadai di sekolah seperti
tempat sampah di setiap ruang kelas berperan dalam
mencegah timbulnya penyakit diare. Dengan
tersedianya tempat sampah akan mendorong perilaku
anak untuk membuang sampah pada tempatnya
sehingga pengelolaan sampah sangat penting, untuk
mencegah penularan penyakit diare.
Jurnal 3

Judul Jurnal Pengaruh Terapi Bermain Origami terhadap


Tingkat Kecemasan pada Anak Prasekolah dengan
Hospitalisasi di Ruang Aster RSD dr. Soebandi
Jember
Penulis 1. Ririn Halimatus Sa’diah
2. Ratna Sari Hardiani
3. Rondhianto
Daftar Pustaka Halimatussa’dah. R,dkk. (2014). Pengaruh Terapi
Bermain Origami terhadap Tingkat Kecemasan pada
Anak Prasekolah dengan Hospitalisasi di Ruang Aster
RSD dr. Soebandi Jember). e-Jurnal Pustaka
Kesehatan, vol. 2 (no. 3) September, 2014
Penerbit e-Jurnal Pustaka Kesehatan
Kata Kunci Hospitalisasi, Kecemasan, Terapi bermain origami
Hasil Penelitian kontrol yaitu 0,157, sedangkan hasil uji mann whitney
u test menunjukkan bahwa p value 0,001 (p < α ; α =
0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
terapi bermain origami terhadap tingkat kecemasan
pada anak prsekolah dengan hospitalisasi di Ruang
Aster RSD dr. Soebandi Jember.
Pembahasan Kecemasan anak prasekolah selama menjalani proses
hospitalisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu

77
usia perkembangan, jenis kelamin, lama dirawat,
pengalaman dirawat sebelumnya, sistem pendukung,
dan mekanisme koping. Kecemasan pada anak
prasekolah akan mengaktivasi hipotalamus dan
selanjutnya melepaskan hormon Corticotropic
Realising Hormone (CRH). CRH menyebabkan
hipofise anterior mengeluarkan Adenocorticotropic
Hormone (ACTH). ACTH merangsang korteks
adrenal melepaskan kortisol. Kortisol mendorong
perlawanan terhadap stres, membantu perkembangan
otot dan pembentukan glukosa baru (glukoneogenesis)
untuk diubah menjadi energi dalam menghadapi
stressor. Selain itu, kortisol juga berfungsi dalam
metabolisme lemak, metabolisme protein, stabilisasi
lisosom, mempertahankan tubuh dari reaksi alergi dan
peradangan.
Pemberian terapi bermain origami pada pasien anak
prasekolah yang dirawat di rumah sakit memberikan
manfaat untuk mengembangkan kemampuan motorik
halus anak, sekaligus merangsang kreativitas anak.
Terapi bermain origami memberikan kesempatan pada
anak untuk membuat berbagai bentuk dari hasil
melipat kertas dan pada usia ini, anak akan merasa
bangga dengan sesuatu yang telah dihasilkan.
Hal ini sesuai dengan teori tahap perkembangan
psikososial anak prasekolah yang mengemukakan
bahwa anak prasekolah mulai mengembangkan
keinginannya dengan cara mengeksplorasi lingkungan

78
sekitar. Anak juga akan merasa puas dan bangga
dengan kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu
sebagai prestasinya. Perasaan bangga membantu anak
meningkatkan peran dirinya selama menjalani proses
hospitalisasi sehingga perasaan hilang kendali karena
pembatasan aktivitas pada anak dapat
diatasi/dihilangkan.
Jika stressor kecemasan berupa kehilangan kendali
dapat diatasi maka tingkat kecemasan pada anak dapat
menurun. Terapi bermain origami yang diberikan pada
anak prasekolah yang dirawat di rumah sakit akan
memberikan perasaan senang dan nyaman. Aguilera-
Perez & Whetsell menyatakan bahwa anak yang
merasa nyaman saat menjalani rawat inap akan
membuat anak dapat beradaptasi terhadap stressor
kecemasanselama hospitalisasi seperti perpisahan
dengan lingkungan rumah, permainan dan teman
sepermainan. Jika stressor kecemasan berupa
perpisahan dapat diatasi maka tingkat kecemasan pada
anak dapat menurun. Perasaan nyaman juga akan
merangsang tubuh untuk mengeluarkan hormon
endorphin.
Peningkatan endorphin dapat mempengaruhi suasana
hati dan dapat menurunkan kecemasan pasien.
Hormon endorphin merupakan hormon yang
diproduksi oleh bagian hipotalamus di otak. Hormon
ini menyebabkan otot menjadi rileks, sistem imun
meningkat dan kadar oksigen dalam darah naik

79
sehingga dapat membuat pasien cenderung mengantuk
dan dapat beristirahat dengan tenang. Hormon ini juga
memperkuat sistem kekebalan tubuh untuk melawan
infeksi dan dikenal sebagai morfin tubuh yang
menimbulkan efek sensasi yang sehat dan nyaman.
Selain mengeluarkan hormon endorphin tubuh juga
mengeluarkan GABA dan Enkephalin. Zat-zat ini
dapat menimbulkan efek analgesia sehingga nyeri
pada anak prasekolah yang sakit dapat dikurangi atau
dihilangkan. Jika stressor kecemasan yang dialami
anak prasekolah dapat diatasi maka kecemasan yang
dialami anak dapat menurun.

80
Lampiran 2

KONSEP PENDIDIKAN KESEHATAN


(SAP)
“SATUAN ACARA PENYULUHAN”

Pokok Bahasan : Penyakit diare


Waktu : 1 x 30 Menit
Hari/ tanggal : Jumat / 20 November 2020
Tempat : Rumah An. U dan Ny.S
Sasaran : Penderita diare

Penyuluh : Pusparini Anggita Ayuningtyas, S.Kep

A. Latar Belakang
Diare merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan
dehidrasi. Diare di negara-negara berkembang merupakan salah satu
faktor yang dapat mengakibatkan kematian pada anak. Penyakit diare
sering menyerang bayi dan balita, bila tidak segera diatasi akan
mengakibatkakan dehidrasi yang dapat mengakibatkan pada kematian.
Banyak faktor resiko yang diduga menjadi penyebab diare pada anak-
anak. Salah satu faktor resiko yang diteliti adalah faktor lingkungan yang
meliputi ; sarana air bersih, sanitasi, jamban, pembuangan air limbah,
kualitas bakterologis air, dan kondisi rumha.

Penanganan yang tepat pada diare, akan menurunkan derajat


keparahan penyakit. Diare dapat diatasi dengan menjaga kebersihan dan
mengolah makanan yang sehat dan bersih dan anjuran pada ibu untuk
mencegah dan menangani diare secara cepat dan tepat agar angka morbiditas
dan mortalitas diare menurun (Soebagyo & Santoso, 2010). Sementara itu
untuk pencegahan diare dapat diupayakan melalui berbagai cara umum dan

81
khusus/imunisasi. Yang dimaksud dengan cara umum antara lain adalah
peningkatan higiene dan sanitasi karena peningkatan higiene dan sanitasi
dapat menurunkan insiden diare. mengonsumsi air yang bersih yang sudah
direbus terlebih dahulu, mencuci tangan setelah BAB dan atau setelah
bekerja, memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai 2
tahun (Kasaluhe et al, 2015). Selain itu juga dapat dengan cara memberikan
makanan pendamping ASI sesuai umur, untuk mencegah dehidrasi bila
perlu, diberikan infus cairan untuk dehidrasi, buang air besar dijamban,
membuang tinja bayi dengan benar.(Depkes RI, 2015).

B. Tujuan

1. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan keluarga klien dapat


mengethui tentang cara pencegahan dan penanganan dini diare pada bayi
dan balita.
2. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan keluarga klien mampu :

a. menjelaskan pengertian diare

b. menjelaskan penyebab diare

c. menjelaskan tanda dan gejala diare

d. menjelaskan cara penanganan diare

e. menjelaskan pencegahan diare

C. Pelaksanaan Kegiatan

1. Materi (Terlampir)

1. Pengertian Diare

82
2. Penyebab Diare

3. Tanda dan Gejala Diare

4. Akibat lanjut dari diare

5. Penatalaksanaan Diare

6. Pencegahan Diare

2. Sasaran / Target

Sasaran: Ibu atau keluarga An.U

3. Metoda

a. Ceramah

b. Tanya Jawab

c. Diskusi

4. Media :

a. Leaflet
5. Waktu dan Tempat

Hari / Tanggal : jumat/ 20 November 2020


Tempat : Rumah Klien

D. Kegiatan Penyuluhan

NO. Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Waktu


I Pembukaan

- Mahasiswa memberikan - Menjawab salam 5 menit


salam
- Mendengar dan
- Mahasiswa Memperhatikan

83
memperkenalkan diri
- Mahasiswa menjelaskan - Mendengar dan
tentang topik penyuluhan Memperhatikan
- Mahasiswa membuat kontrak
- Mahasiswa menjelaskan - Mendengar dan
tujuan penyuluhan Memperhatikan
II Pelaksanaan

- Menggali pengetahuan - Mengemukakan pendapat 30 menit


peserta tentang
pengertian diare
- Memberikan - Mendengar dan
reinforcement dan Memperhatikan
meluruskan konsep
- Menjelaskan tentang - Mendengar dan
pengertian diare Memperhatikan
- Menggali pengetahuan - Mengemukakan pendapat
tentang penyebab diare
Menjelaskan tentang
penyebab diare

- Menjelaskan tentang tanda - Mendengar dan


dan gejala diare Memperhatikan
- Menjelaskan - Mendengar dan
penatalaksanaan penyakit Memperhatikan
diare
- Menjelaskan tentang upaya - Mendengar dan
pencegahan diare pada anak Memperhatikan
dengan :
1.selalu mencuci tangan

84
sebelum dan setelah makan. - Mendengar dan
Anak harus diajarkan untuk Memperhatikan
mencari tangan sedangkan - Mendengar dan
bayi harus sering dilap Memperhatikan
tangannya.
2.menjaga kebersihan
makanan, minuman dan
tempat tinggal
- 3. - Memberikan
reinforcement pada ibu atau
keluarga yang memberikan
pertanyaan
III Penutup

- Mahasiswa menyimpulkan - Bersama pemateri 10 menit


materi menyimpulkan materi
Mahasiswa mengadakan - Menjawab pertanyaan
evaluasi tentang pengertian, - Mendengar dan
penyebab, tanda dan gejala, Memperhatikan
penatalaksanaan serta cara
pencegahan diare

- Mahasiswa menyimpulkan - Menjawab salam

hasil diskusi

- Mahasiswa memberikan
salam
E. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Klien hadir ditempat penyuluhan.
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di rumah klien.

85
2. Evaluasi Proses
a. Klien antusias terhadap materi penyuluhan.
b. Klien mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai
c. klien dapat mempraktekkan teknik cuci tangan dengan benar
d. Klien mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
3. Evaluasi Hasil
Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% klien mampu mengerti dan memahami
penyuluhan yang diberikan sesuai dengan tujuan khusu

86
Lampiran Materi :

1.1. Pengertian
Menurut World Healt Organization (WHO, 2005), penyakit diare adalah
suatu penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang
lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih
dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai
dengan muntah atau tinja yang berdarah. Penyakit ini paling sering dijumpai
pada anak balita, terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, dimana seorang anak
bisa mengalami 1-3 episode diare berat (Simatupang, 2004).
Diare adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dan 3 kali sehari,
disertai konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang
berlangsung kurang dan satu minggu (Juffrie, dkk, 2010).
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau
tidak seperti biasanya. Dan dapat disimpulkan bahwa diare adalah buang air
besar yang bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari 3 kali perhari dan
konsistensi dari tinja yang melembek sampai mencair.

1.2. Penyebab Diare

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan timbulnya diare (Simatupang,


2005). Diare disebabkan oleh masuknya kuman kedalam tubuh melalui
perantara hewan, kuman yang berada dalam makanan, air, melalui tubuh (tidak
mencuci tangan waktu makan). Berikut adalah faktor penyebab lainnya, yaitu :

1. Efek samping obat-obatan tertentu


2. Faktor malabsorbsi. Malabsorbsi ini pada zat yang mengandung karbohidrat,
lemak, dan protein.
3. Konsumsi alkohol dan kopi yang berlebihan

87
4. Faktor makanan. Faktor makanan ini yang seringkali bisa menyebabkan
terjadinya diare. Diantaranya yaitu akibat dari makanan basi, beracun, terlalu
banyak lemak, sayuran dimasak kurang matang.
5. Minum air tidak masak
6. Makan jajanan yang tidak bersih
7. Berak disembarang tempat
8. Makan dengan tangan kotor
9. Faktor psikologis. Psikologis ini ternyata juga berpengaruh keada angka
kejadian dari diare. Diantara faktor psikologis yang mempengaruhi
terjadinya diare adalah rasa takut, cemas, dan gelisah.

1.3. Bahaya Diare

Saat terjadi diare, feses yang dikeluarkan oleh penderita memiliki


kandungan air yang sangat tinggi (sangat encer). Selain itu, frekuensi buang air
besar pun meningkat secara drastis. Dalam sehari penderita bisa kehilangan lima
liter cairan tubuh. Penderita juga dapat kehilangan zat mineral (elektrolit) yang
terlarut dalam cairan tubuh. Padahal bersama cairan tubuh, elektrolit berperan
dalam menjaga agar fungsi tubuh senantiasa normal.

Karena kehilangan cukup banyak cairan tubuh, penderita bisa mengalami


dehidrasi. Dehidrasi berkelanjutan yang terjadi pada anak-anak atau balita dapat
mengakibatkan kematian. Namun pada orang dewasa, kematian akibat dehidrasi
jarang ditemukan.

Tingkat dehidrasi dapat dilihat dari gejala-gejala yang menunjukkan


hilangnya cairan tubuh. Pada tahap awal dehidrasi, penderita akan merasakan
mulut kering dan rasa haus yang berlebihan. Adapun tanda-tanda dehidrasi
selanjutnya tergantung pada tingkat dehidrasi yang dialami penderita.

88
1.4. Penanganan Diare
Diare menyebabkan khilangan cairan dan elektrolit sehingga penderita
harus diberi cairan sebanyak mungkin untuk mengganti cairan yang hilang.
Sebagai pertolongan pertama, diberi cairan rumah tangga seperti tajin, air sayur,
air matang, teh. Disamping itu, harus diberi cairan elektrolit berupa oralit. Jka
tidak ada oralit, bisa menggunakan larutan gula garam. Cara pembuatannya
sebagai berikut : satu sendok teh munjung gula pasir, seperempat sendok teh
muntung garam, dilarutkan dalam satu gelas air matang (200cc). Selanjutnya
penderita diberi minum.

1.5. Nutrisi bagi penderita Diare


Kondisi peristaltik usus yang tidak memungkinkan, maka perlu diberi
makanan yang lunak untuk membantu peristaltik usus. Bagi bayi yang
menyusui, ASI tetap diberikan dan PASI diencerkan.
Diet BRAT adalah singkatan dari Banana, Rice, Applesuace, and Toast
(pisang, nasi, saus apel, dan roti panggang). Makanan tersebut penting
dikonsumsi terutama 24 jam pertama diare yang dapat membantu meringankan
diare serta memberikan vitamin penting, mineral, dan karbohidrat yang mudah
dicerna (diserap).
Bisa disimpulkan, makanan yang baik dikonsumsi saat diare antara lain :
a. Pisang
b. Beras
c. Sereal
d. Saus apel
e. Apel
f. Teh
g. Roti dan jelly

89
h. Yoghurt
i. Kentang rebus
j. Asupan cairan dan elektrolit (LGG / Oralit )
Menu diatas baik dikonsumsi untuk orang dewasa dan anak-anak, namun
mengenai makanan untuk bayi diare dibawah usia 12 bulan harus berkonsultasi
terlebih dahulu dengan dokter.

Hindari makanan berikut ini saat diare, yaitu:

a. Makanan berlemak : gorengan dan makanan yang bersantan kental


b. Susu, mentega, es krim, dan keju
c. Minuman alkohol dan kafein
d. Pemanis buatan
e. Makanan yang menyebabkan gas berlebih : kubis atau kol, kacang-kacangan,
brokoli, dan kembang kol.

1.6. Pencegahan Diare

Adapun pencegahan diare adalah :

a) Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan


b) Menutup makanan dan minuman
c) Mencuci buah atau sayuran sebelum dimakan atau dimasak
d) Selalu minum air yang sudah dimasak
e) Menjaga kebersihan lingkungan : rumah, aliran air, sampah di buang pada
tempatnya dan ditutup
f) Makan makanan yang sehat dan bergizi

Bila telah dilakukan upaya pertolongan pertama namun diare masih terus
berlangsung segera bawa penderita ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

90
1.7. Teknik cuci tangan

Cuci tangan 7 langkah adalah tata cara mencuci tangan menggunakan


sabun untuk membersihkan jari-jari, telapak dan punggung tangan dari semua
kotoran, kuman serta bakteri jahat penyebab penyakit

Cuci tangan 7 langkah merupakan cara membersihkan tangan sesuai


prosedur yang benar untuk membunuh kuman penyebab penyakit. Dengan
mencuci tangan paki sabun baik sebelum makan ataupun sebelum memuali
pekerjaan, akan menjaga kesehatan tubuh dan mencegah penyebaran penyakit
melalui kuman yang menempel di tangan. Berikut langkah cuci tangan yang baik
dan benar :

1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan tangan memakai air


yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak
tangan secara lembut

2. Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian

91
3. Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih

4. Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan

5. Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian

6. Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan

92
7. Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara
memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan
dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk bersih
atau tisu.
1.8. Cara pembuatan dan takaran pemberian oralit
Bahan – bahan yang dibutuhkan untuk membuat oralit adalah :
 1 sendok teh gula
 Seperempat (1/4) sendok teh garam
 1 gelas air putih (200 ml)

Cara membuatnya adalah dengan melarutkan bahan-bahan di atas yaitu 1


sendok teh gula dan seperempat sendok teh garam ke dalam 1 gelas air putih
(200 ml). Kemudian aduk perlahan hingga semuanya larut lalu bisa diminum.

93
Untuk memberian oralit, tentu ada takarannya sehingga tidak terlalu
berlebihan yang malah akan membahayakan. Dan juga jangan terlalu sedikit
sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal. Berikut aturannya :
 Untuk anak di bawah 1 tahun, 3 jam pertama diberikan 1,5 gelas oralit.
Selanjutnya 0,5 gelas setiap kali selesai berak/mencret
 Untuk anak di bawah 5 tahun (balita), 2 jam pertama diberikan 3 gelas oralit.
Selanjutnya 1 gelas setiap kali selesai berak/mencret
 Untuk anak di atas 5 tahun, 3 jam pertama diberikan 6 gelas oralit.
Selanjutnya 1,5 gelas setiap kali selesai berak/mencret
 Untuk anak di atas 12 tahun dan dewasa, 3 jam pertama diberikan 12 gelas
oralit. Selanjutnya 2 gelas setiap kali selesai berak/mencret.

Itulah cara pemberian oralit untuk menghindari dari dehidrasi akibat diare.

94
Lampiran 3

SATUAN ACARA PENGAJARAN

Terapi Bermain Origami Pada Anak Yang Mengalami Hospitalisasi di Ruang


Perawatan Kronik Anak RSUP Dr.M.Djamil Padan

A. Latar Belakang
Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai
dengan tahap perkembangan, bukan ordes mini, juga bukan merupakan harta atau
kekayaan orang tua yang dapat dinilai secara sosial ekonomi, melainkan masa
depan bangsa yang berhak atas pelayanan kesehatan secara individual. Anak
membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan
dasarnya dan untuk belajar mandiri (UNICEF, 2017). Anak sebagai orang atau
manusia yang mempunyai pikiran, sikap, perasaan dan minat yang berbeda
dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan.

Anak sakit yang dirawat di Rumah Sakit umumnya mengalami krisis oleh
karena seorang anak akan mengalami stress akibat terjadi perubahan lingkungan
serta anak mengalami keterbatasan untuk mengatasi stress (Rushworth, 2017).
Krisis ini dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu usia perkembangan anak,
pengalaman masa lalu tentang penyakit, perpisahan atau perawatan di rumah
sakit, support system serta keseriusan penyakit dan ancaman perawatan (Dewalt,
2009).

Hospitalisasi biasanya memberikan pengalaman yang menakutkan bagi


anak. Semakin muda usia anak, semakin kurang kemampuannya beradaptasi,
sehingga timbul hal yang menakutkan. Semakin muda usia anak dan semakin
lama anak mengalami hospitalisasi maka dampak psikologis yang terjadi salah
satunya adalah peningkatan kecemasan yanng berhubungan erat dengan

95
perpisahan dengan saudara atau teman-temannya dan akibat pemindahan dari
lingkungan yang sudah akrab dan sesuai dengannya (Whaley and Wong, 2001).
Stress yang dialami seorang anak saat dirawat di Rumah Sakit perlu mendapatkan
perhatian dan pemecahannya agar saat di rawat seorang anak mengetahui dan
kooperatif dalam menghadapi permasalahan yang terjadi saat di rawat. Salah satu
cara untuk menghadapi permasalahan terutama mengurangi rasa perlukaan dan
rasa sakit akibat tindakan invasif yang harus dilakukannya adalah bermain.

Aktifitas bermain merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak


secara optimal. Bermain merupakan cara alamiah bagi anak untuk
mengungkapkan konflik dari dirinya. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi
merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih, dan
lain sebagainya. Anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan
fisik, mental dan perkembangan emosinya.

Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk


membantu anak mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan
ketakutan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan baginya. Bermain pada
masa pra sekolah adalah kegiatan serius, yang merupakan bagian penting dalam
perkembangan tahun-tahun pertama masa kanak-kanak. Hampir sebagian besar
dari waktu mereka dihabiskan untuk bermain (Elizabeth B Hurlock, 2000). Dalam
bermain di rumah sakit mempunyai fungsi penting yaitu menghilangkan
kecemasan, dimana lingkungan rumah sakit membangkitkan ketakutan yang tidak
dapat dihindarkan (Sacharin, 2003).

Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini
tetap dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Pada saat
dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak
menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut
merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi

96
beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan
melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang
dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan dapat mengalihkan
rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangannya
melakukan permainan. Tujuan bermain di rumah sakit pada prinsipnya adalah agar
dapat melanjutkan fase pertumbuhan dan perkembangan secara optimal,
mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap
stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan anak
seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada
saat anak sakit atau anak di rumah sakit (Wong, 2014).

Melihat pentingnya bermain bagi seorang anak terutama anak yang mengalami
hospitalisasi, maka saya akan mengadakan terapi bermain origami dengan sasaran
usia sekolah yang berada di ruang rawat inap anak kronik lantai 3 RSUP Dr. M.
Djamil Padang. Kami berharap dengan diadakannya terapi bermain ini, anak yang
dirawat tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai tahap tumbuh
kembangnya.

B. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti terapi bermain origami anak diharapkan dapat
mengurangi dampak hospitalisasi pada anak dan anak dapat melanjutkan
tahapan perkembangan sesuai dengan usia selama perawatan di rumah
sakit.
b. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti terapi bermain musik anak diharapkan :
- anak dapat mengikuti terapi bermain sampai selesai
- ketakutan dan kejenuhan pada anak selama dirawat berkurang
- anak mampu mengekspresikan perasaan, keinginan dan ide selama
menjalani perawatan

97
C. Sasaran
Sasaran dari kegiatan TAK ini adalah sebagai berikut:

1) Anak usia sekolah 1 orang.


2) Anak yang dirawat di ruang kronik anak RSUP Dr.M.Djamil Padang
3) Anak tidak mempunyai keterbatasan (fisik atau akibat terapi lain) yang
dapat menghalangi proses terapi bermain.
4) Kooperatif dan mampu mengikuti proses kegiatan sampai selesai.
5) Anak yang mau berpartisipasi dalam terapi bermain origami
D. Jadwal Pelaksanaan
1) Hari / Tanggal : Rabu /25 November 2020
2) Waktu : 16.00 WIB
3) Tempat : rumah Ny.S dan An.U
E. Media
1) Kertas Origami
F. Kegiatan Bermain
Kegiatan TAK Kegiatan Peserta Waktu
o
Fase Orientasi
1. Mengucapkan salam dan  Mendengarkan kontrak 5 menit
memperkenalkan diri
2. Menyampaikan tujuan  Mendengarkan tujuan dari
dan maksud dari penyuluhan
kegiatan
3. Menjelaskan kontrak
waktu dan mekanisme  Mendengarkan kontrak.
kegiatan bermain.
4. Menjelaskan cara
bermain dengan
membuat origami  Mendengarkan instruksi
Fase Kerja
 Menjelaskan cara terapi  Mendengar dan 5 menit
bermain origami memperhatikan

98
 Memberikan contoh cara  Mendengarkan dan
terapi bermain origami memperhatikan
 Membagikan kertas  Mengungkapkan apa
oriigami kepada anak dan yang akan dirasakan saat
memotivasi untuk membuat origami
mengungkapkan perasaan
saat mendengarkan musik
 Mendampingi anak saat  Anak dapat bertanya
terapi bermain origami pada fasilitator apabila
ragu

Penutup
 Mengevaluasi respon 5 Menit
anak setelah terapi  Menyampaikan respon
bermain origami selama kegiatan
 Memberikan
reinforcement positif  Menerima reinforcement
kepada anak positif
 Memberi kesempatan
kepada peserta TAK  Bertanya dan mampu
untuk bertanya menjawab pertanyaan
 Bertanya kepada peserta
TAK bagaimana  Menyampaikan perasaan
perasaannya setelah setelah kegiatan
mengikuti TAK
 Menutup pertemuan dan
memberi salam
 Menjawab salam
G. Pengorganisasian
Pembimbing Pendidikan : Ns. Deswita, M.Kep, Sp.Kep.An
Leader : Pusparini Anggita Ayuningtyas
Demonstrator : Pusparini Anggita Ayuningtyas
Faslitator : Pusparini Anggita Ayuningtyas
Observer & Notulen : Pusparini Anggita Ayuningtyas

H. Uraian Tugas
1) Leader, tugasnya:
a) Membuka acara permainan

99
b) Memperkenalkan diri dan anggota kelompok
c) Menjelaskan tujuan dari kegiatan
d) Kontrak waktu dan acara
e) Mengatur jalannya permainan mulai dari pembukaan sampai selesai.
f) Mengarahkan permainan.
g) Memandu proses permainan.
2) Presentator, tugasnya :
a) Menyampaikan pelaksanaan dari TAK yang akan dilakukan
b) Menjelaskan materi TAK
c) Menjawab pertanyaan anggota TAK
3) Fasilitator, tugasnya:
a) Membimbing anak bermain.
b) Memberi motivasi dan semangat kepada anak dalam membentuk
objek dengan lego
c) Memperhatikan respon anak saat bermain lego
d) Mengajak anak untuk bersosialisasi dengan perawat dan keluarganya.
4) Observer, tugasnya:
a) Mengawasi jalannya permainan.
b) Mencatat proses kegiatan dari awal hingga akhir permainan.
c) Mencatat situasi penghambat dan pendukung proses bermain.
I. Skema Penatalaksanaan Terapi Bermain
Terapi bermain ini dilakukan di rumah An.U dan Ny.S dengan setting tempat
sebagai berikut :

: peserta

: fasilitator

100
J. Kriteria Evaluasi
1) Evaluasi Struktur
a. Kesiapan media dan tempat
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan di Ruang rawat Inap Anak
(kronik)
c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum
terapi bermain dilaksanakan
2) Evaluasi Proses
a. Leader dapat memimpin jalannya permainan, dilakukan dengan tertib
dan teratur
b. Fasilitator dapat memfasilitasi dan memotivasi anak dalam permainan
c. anak dapat mengikuti permainan secara aktif dari awal sampai akhir
3) Evaluasi Hasil
a. Anak memahami permainan yang telah dimainkan.
b. Anak merasa terlepas dari ketegangan dan stress selama hospitalisasi,
anak dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi
terapi bermain origami)
c. Anak dapat berintraksi dengan anak lain dan perawat
Lampiran Materi

A. Pengertian Bermain
Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau
mempraktekkan ketrampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa (Aziz A,
2013).

Bermain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau


mempraktikkan keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berpilaku dewasa. (aziz alimul,
2009)

101
Bermain origami merupakan permainan yang dapat diterapkan pada anak
usia prasekolah yang mengalami hospitalisasi karena sesuai dengan prinsip
permainan yang ada dirumah sakit yaitu tidak membutuhkan energi banyak,
singkat, sederhana, aman dan murah.

B. Tujuan Bermain
Tujuan bermain pada anak yaitu memberikan kesenangan maupun
mengembangkan imajinsi anak. Sebagai suatu aktifitas yang memberikan
stimulus dalam kemampuan keterampilan, kognitif, dan afektif sehingga anak
akan selau mengenal dunia, maupun mengembangkan kematangan fisik,
emosional, dan mental sehingga akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang
kreatif, cerdas dan penuh inovatif (Soetjiningsih, 2007)

Tujuan bermain di rumah sakit pada prinsipnya adalah agar dapat


melanjutkan fase pertumbuhan dan perkembangan secara optimal,
mengembangkan kreatifitas anak, dan dapat beradaptasi lebih efektif terhadap
stress. Bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan kesejahteraan anak
seperti kebutuhan perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada
saat anak sakit atau anak di rumah sakit..

Dengan melipat kertas menjadi objek yang ornamental pada bermain


origami akan mengembangkan daya cipta dan memberikan rasa senang pada
anak sehingga akan membantu anak menurunkan pikiran cemas, takut, sedih,
tegang dan nyeri.

C. Cara Pelaksanaan
Perawat akan mencontohkan cara membuat suatu objek origami sehingga
memiliki arti, kemudian diikuti oleh anak-anak untuk membuat sebuah objek
origami yang bermakna sesuai kreativitas anak atau berdasarkan instruksi
pemandu TAK.

102
D. Karakteristik Bermain
1. Sederhana
2. Imaginative
3. Kreatif
4. Meransang kognitif
E. Usia
Usia 6 sampai 12 tahun
F. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-
motorik, perkembangan intelektual, perkembangan sosial, perkembangan
kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain
sebagai terapi (Hurlock, E B., 2012)

1. Perkembangan Sensoris – Motorik


Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik merupakan
komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting
untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan yang digunakan
untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensoris-motorik dan alat
permainan untuk anak usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu
perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun halus.

2. Perkembangan Intelektual
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan manipulasi
terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal
warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain
pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada saat anak
bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat
memperbaikinya maka ia telah belajar memecahkan masalahnya melalui
eksplorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini, anak
menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin

103
sering anak melakukan eksplorasi seperti ini akan semakin terlatih
kemampuan intelektualnya.

3. Perkembangan Social
Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan social dan belajar memecahkan masalah dari
hubungan tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar
berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar
tentang nilai social yang ada pada kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada
anak usia sekolah dan remaja. Meskipun demikian, anak usia toddler dan
prasekolah adalah tahapan awal bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya
dilingkungan keluarga.

4. Perkembangan Kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan
mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk
merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang
satu alat permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin
berkembang.

5. Perkembangan Kesadaran Diri


Melalui bermain, anak mengembangkan kemampuannya dalam
mengatur mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal
kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji
kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak
tingkah lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan
temannya sehingga temannya menangis, anak akan belajar mengembangkan

104
diri bahwa perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang
tua untuk menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya
dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari
perilakunya terhadap orang lain

6. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya, terutama
dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga
dapat diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-
aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain
anak juga akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang
benar dan mana yang salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala
tindakan yang telah dilakukannya. Misalnya, merebut mainan teman
merupakan perbuatan yang tidak baik dan membereskan alat permainan
sesudah bermain adalah membelajarkan anak untuk bertanggung-jawab
terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai dengan kemampuan
kognitifnya, bagi anak usia toddler, prasekolah, dan sekolah,permainan adalah
media yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan
memberikan nasihat..

7. Bermain Sebagai Terapi


Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih,
dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang
dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan
rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari
ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan
anak akan depat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan
relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan. Dengan demikian,

105
permainan adalah media komunikasi antar anak dengan orang lain, termasuk
dengan perawat atau petugas kesehatan dirumah sakit.Perawat dapat mengkaji
perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang ditunjukkan
selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang ditunjukkan anak
dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya.

G. Hal-hal yang Harus Diperhatikan


1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin  bermain. Jangan
memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit
H. Bentuk-bentuk Permainan Menurut Usia
1. Usia 0 – 12 bulan
Tujuannya adalah :

· Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap,


menggenggam.
· Melatih kerjasama mata dan tangan.
· Melatih kerjasama mata dan telinga.
· Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
· Melatih mengenal sumber asal suara.
· Melatih kepekaan perabaan.
· Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :

·         Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.

·         Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.

106
·         Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.

·         Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.

·         Alat permainan berupa selimut dan boneka.

2. Usia 13 – 24 bulan
Tujuannya adalah :

·    Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.

· Memperkenalkan sumber suara.


· Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
· Melatih imajinasinya.
· Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk
kegiatan yang menarik
Alat permainan yang dianjurkan:

· Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.


· Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
· Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang
tidak mudah pecah, sendok botol plastik, ember, waskom, air), puzzle-
puzzle besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk dicoret-
coret, krayon/pensil berwarna.
3. Usia 25 – 36  bulan
Tujuannya adalah ;

· Menyalurkan emosi atau perasaan anak.


· Mengembangkan keterampilan berbahasa.
· Melatih motorik halus dan kasar.
· Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan
membedakan warna).

107
· Melatih kerjasama mata dan tangan.
· Melatih daya imajinansi.
· Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :

· Alat-alat untuk bermain seperti balok lego


· Lilin yang dapat dibentuk
· Pasel (puzzel) sederhana.
· Manik-manik ukuran besar.
· Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
· Bola
4. Usia 32 – 72 bulan
Tujuannya adalah  :

· Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.


· Mengembangkan kemampuan berbahasa.
· Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
· Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura
(sandiwara).
· Membedakan benda dengan permukaan.
· Mengembangkan kepercayaan diri.
· Mengembangkan kreativitas.
· Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
· Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan
kasar.
· Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar
rumahnya.
· Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal :
pengertian mengenai terapung dan tenggelam.
· Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong

108
Alat permainan yang dianjurkan :

· Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak,


alat gambar & tulis, kertas untuk belajar melipat, gunting, air, dll.
· Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.
5. Usia 6 – 12 tahun
Tujuannya adalah  :
· Mengembangkan imajinasi dan mengingat peraturan permainan
· Dapat  mengatur strategi dan kecermatan pada anak.
· Melatih kemampuan anak bersosialisasi
· Menumbuhkan sportivitaspada anak
· Dapat mengurangi kecemasan dan ketegangan pada anak
Alat permainan yang dianjurkan :

· Berbagai benda dari sekitar rumah, kartu, boneka, robot, buku, alat olah
raga, alat untuk melukis, pekerjaan tangan,alat gambar & tulis, kertas untuk
belajar melipat, gunting, air, ular tangga, puzzle dll.
· Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.
I. Faktor Yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi / keterbatasan
2. Status kesehatan, anak sakit perkembangan psikomotor kognitif terganggu
3. Jenis kelamin
4. Lingkungan  lokasi, negara, kultur
5. Alat permainan  senang dapat menggunakan
6. Intelegensia dan status sosial ekonomi
J. Prinsip Bermain Di Rumah Sakit
1. Tidak banyak energi, singkat dan sederhana
2. Tidak mengganggu jadwal kegiatan keperawatan dan medis
3. Tidak ada kontra indikasi dengan kondisi penyakit pasien
4. Permainan harus sesuai dengan tahap tumbuh kembang pasien

109
5. Jenis permainan disesuaikan dengan kesenangan anak
6. Permainan melibatkan orang tua untuk melancarkan proses kegiatan
K. Hambatan Yang Mungkin Muncul
1. Usia antar pasien tidak dalam satu kelompok usia
2. Pasien tidak kooperatif atau tidak antusias terhadap permainan
3. Adanya jadwal kegiatan pemeriksaan terhadap pasien pada waktu yang
bersamaan.
L. Antisipasi Hambatan
1. Mencari pasien dengan kelompok usia yang sama
2. Libatkan orang tua dalam proses terapi bermain
3. Jika anak tidak kooperatif, ajak anak bermain secara perlahan-lahan
4. Perawat lebih aktif dalam memfokuskan pasien terhadap permainan
5. Kolaborasi jadwal kegiatan pemeriksaan pasien dengan tenaga kesehatan
lainnya. (Markum, dkk., 2015)
.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz .2013. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika.

Champbell. (2015). Psikologi Anak. Jakarta: PT Indeks

Hayati, Nur. 2012. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta:EGC

Hurlock, E B. 2012. Perkembangan Anak Jilid III. Jakarta : Erlangga

Kliegman, Robert M., 2000, Ilmu Keshatan Anak Nelson Vol 3, Editor Bahasa


Indonesia: A. Samik Wahab-Ed.15 Jakarta: EGC

Kodiriya, N. S., et all. 2019. The effectiviness of playing origami therapy to reduce
anxiety pediatric patients hospitalized. Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu
Kesehatan. Volume 4, Nomor 2, Hal : 151-160

Markum, dkk. 2015. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : IDI

110
Lanni, D. 2014. Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak. Jakarta : Salemba
Medika.

Potter, P. A, Perry. (2013). Fundamental of Nursing (edisi 4). Jakarta: EGC

Pribadi, T., Et All. 2018. Reduction of anxiety in children facing hospitalization by


play therapy: origami and puzzle in lampung-indonesia. Malahayati
International Journal Of Nursing And Health Science. Volume 01, No.1,
March 2018: 29-35
Rushworth, 2017. Hospitalisation in Children with Adrenal Insufficiency and
Hypopituitarism:Is There a Differential Burden Between Boys and Girls and
Between Age Group. Hormon Research in Pediatrics.

Soetjiningsih. 2014. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC

Staf Pengajar IKA FKUI. 2002. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Vol. 3.Jakarta :

FKUI.

UNICEF. 2017. A Child is a Child :Protecting Children on the Move from


Violence, Abuse and Exploitation.

111
Lampiran 4

BB anak : 21 kg TB anak : 128 cm

BB menurut umur : 29 kg TB menurut umur : 133 cm

BBanak/BBumur x 100% TBanak/TBumur x 100%

21/29 x 100% 128/133 x 100%

72% (Gizi Kurang) 96% (gizi baik)

112
Lampiran 5

Pengkajian dan Pemeriksaan Fisik

113
Pendidikan Kesehatan : Mengenai Diare

Terapi bermain : Melipat Kertas Origami

114
115
116