Anda di halaman 1dari 95

MAKALAH

LAPORAN KASUS 1 MTBS

“ Asuhan Keperawatan Pada An.H Dengan Diagnosa Batuk dan Pilek”


Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Profesi Keperawatan Anak

Disusun Oleh :

PUSPARINI ANGGITA AYUNINGTYAS

2041312021

PRODI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2020

i
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan pendahuluan kasus

MTBS 1 untuk memenuhi tugas profesi siklus ‘Keperawatan Anak'.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu Ns. Deswita, M.Kep,

Sp.Kep.An dan ibu Dr, Ns. Meri Neherta, S.Kep, M.Biomed selaku dosen

pembimbing pada kelompok C pada sikulus Keperawatan Anak ini. Penulis juga

mengucapkan terima kasih kepada teman – teman sejawat yang berada pada

kelompok C, yang sudah mau bertukar pikiran untuk menyempurnakan makalah

ini. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis

harapkan demi perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat

bermanfaat bagi pembaca.

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover
Kata Pengantar...............................................................................................ii
Daftar Isi..........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................2

BAB II KONSEP DASAR TEORITIS.........................................................3


A. Definisi Common Cold.........................................................................3
B. Etiologi Common Cold.........................................................................5
C. Patofisiologi Common Cold..................................................................6
D. Manifestasi klinis Common Cold..........................................................8
E. Penatalaksanaan Common Cold............................................................9
F. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan....................................................13

BAB III STUDI KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATAN....................35


A. Kasus.....................................................................................................35
B. Pengkajian.............................................................................................40
C. Diagnosa keperawatan (NANDA), DO dan DS...................................42
D. Intervensi Keperawatan (NOC-NIC)....................................................42
E. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.............................................47

BAB IV PEMBAHASAN...............................................................................53
A. Pengkajian.............................................................................................53
B. Diagnosa...............................................................................................54
C. Intervensi..............................................................................................56
D. Implementasi.........................................................................................58
E. Evaluasi.................................................................................................60

BAB V PENUTUP..........................................................................................67
A. Kesimpulan...........................................................................................62
B. Saran.....................................................................................................63

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………. 65

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Batuk pilek merupakan gangguan saluran pernafasan atas yang

paling sering mengenai bayi dan anak. Bayi yang masih sangat muda akan

sangat mudah tertular, penularan masih tetap terjadi karena seseorang yang

pilek akan sering memegang hidungnya karena rasa gatal atau membuang

ingusnya. Jika tidak segera mencuci tangan akan menjadi sumber penularan.

Batuk pilek adalah infeksi primer nasofaring dan hidung yang sering

mengenai bayi dan anak.

Menurut WHO (World Health Organization = organisasi kesehatan

dunia), pengeluaran lendir atau gejala pilek terjadi pada penyakit flu ringan

disebabkan karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus atau coronavirus.

Penyakit ini dapat disertai demam pada anak selama beberapa sampai tiga

hari. Sedangkan pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus

pada saluran napas bagian atas (Wiraguna, 2009). Penyakit batuk pilek juga

dapat mengenai orang dewasa tetapi berbeda karakteristiknya. Pada bayi dan

anak penyakit ini cenderung berlangsung lebih berat karena karena infeksi

mencangkup daerah sinus paranasal, telinga tengah, dan nasofaring disertai

demam tinggi, sedangkan pada orang dewasa hanya terbatas, dan tidak

menimbulkan demam yang tinggi.

Infeksi Saluran Pernafasan Atas atau yang selanjutnya disingkat ISPA sering
1
terjadi pada anak-anak. Penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia

diperkirakan 3-6 kali per tahun (rata-rata 4 kali per tahun), artinya seorang

balita rata-rata mendapatkan serangan batuk pilek sebanyak 3-6 kali setahun.

ISPA merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh anak-anak.

ISPA adalah suatu infeksi pada saluran nafas atas yang disebabkan oleh

masuknya mikroorganisme (bakteri dan virus) kedalam organ pernafasan

yang berlangsung selama 14 hari (Depkes RI, 2002). ISPA sangat umum

terjadi pada bayi dan anak- anak, sebagian besar disebabkan oleh virus, dan

sehingga tidak ada pengobatan khusus (Purssell, 2009). Flu biasa

didefinisikan sebagai ISPA yang ditandai dengan pilek, batuk ringan, dan

demam ringan (Manal, 2008). ISPA di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

sebanyak 62.588 penderita pada balita pada tahun ini.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah landasan teoritis penyakit dan asuhan keperawatannya?


2. Bagaimanakah proses perjalanan penyakit/ WOC yang dialami kasus?
3. Bagaimanakah pengkajian MTBS, DDST, CDC dari kasus?
4. Apakah pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk melengkapi
data pengkajian keperawatan pada kasus?
6. Bagaimana analisa kasus serta diagnosa keperawatan yang muncul?

C. Tujuan

1. Mengetahui landasan teoritis penyakit dan asuhan keperawatannya


2. Mengetahui proses perjalanan penyakit/ WOC yang dialami kasus
3. Mengetahui pengkajian MTBS, DDST, dan CDC
4. Mengetahui pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan
2
5. Mengetahui analisa kasus serta diagnosa keperawatan yang muncul

3
BAB II

KONSEP DASAR TEORITIS

A. Definisi

Common Cold adalah suatu infeksi virus pada selaput hidung dan

nasofaring, sinus dan saluran udara yang besar yang sering mengenai bayi

dan anak. Common cold dikenal juga dengan istilah"pilek". Penyakit batuk

pilek pada balita cenderung berlangsung lebih berat karena infeksi mencakup

daerah sinus paranasal, telinga bawah, dan nasofaring disertai demam yang

tinggi. Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited diseased yang sembuh

sendiri 5- 6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lain. Batuk pilek adalah

infeksi virus yang menyerang saluran nafas atas (hidung sampai tenggookan)

dan menimbulkan gejala ingus meler atau hidung mampet, batuk sering

disertai demam dan sakit kepala.

Anak dan bayi sering terjadi common cold dibandingkan orang dewasa.

Bayi lebih rentan terkena common cold dibandingkan anak yang lebih besar.

Dalam 1 tahun bayi bisa terkena common cold hingga 7 kali atau bahkan

lebih. Penyebabnya adalah bayi lebih mudah tertular oleh saudaranya atau

orang dewasa di sekitarnya selain itu daya tahan tubuh bayi relatif lebih

rendah. oleh karena itu,penting untuk mencegah penularan ke bayi dan anak

ketika ada orang dewasa di sekitarnya sedang sakit.

4
B. Etiologi

Belum diketahui apa yang menyebabkan seseorang lebih mudah tertular

pilek. Namun Penyebab batuk pilek hampir selalu disebabkan oleh virus. Lebih

dari dua ratus virus dikenal sebagai penyebab batuk-pilek (termasuk rhinovirus,

virus parainfluenza, dan virus sinsitial pernafasan), dan diduga ada lebih dari

1.500 virus batuk pilek atau kombinasi virus. Karena anak balita belum

mempunyai banyak kesempatan untuk membangun daya tahan tubuh terhadap

virus-virus ini, maka anak balita sangat peka terhadap batuk pilek.

Berbagai virus yang menyebabkan terjadinya common cold:

1.  Rhinovirus

2.  Virus influenza A, B, C

3.  Virus Parainfluenza

4.  Virus sinsisial pernafasan.

Semuanyanya mudah ditularkan melalui ludah yang dibatukkan atau

dibersinkan oleh penderita lewat udara,yang kemudian masuk melalui saluran

pernapasan orang yang ditularkan lalu menginfeksi pada bagian tubuh yang

pertahanannya melemah.

Common  cold biasanya tidak berbahaya dan kebanyakan dapat

sembuh dengan sendirinya. pada suatu saat dibandingkan waktu lain.

Dalam keadaaan dingin tidak menyebabkan common cold akan tetapi

karena menghirup udara dingin tingkat produksi lendir naik secara signifikan,

dan menyebabkan beberapa lendir atau cairan keluar dari hidung anda. Ketika

5
udara dingin, tubuh akan memberi respon dengan meningkatkan suplai darah

ke hidung anda untuk menghangatkan area di sekitar hidung.Meningkatnya

aliran darah ke hidung ini tidak hanya membantu untuk menghangatkan

udara yang dingin, namun juga secara tidak langsung menyebabkan efek

samping dimana kelenjar yang menghasilkan lendir di hidung anda

mendapatkan suplai darah yang lebih banyak dari biasanya.

Hal ini akan menyebabkan kelenjar-kelenjar tersebut memproduksi

lendir atau cairan lebih banyak dari keadaan normal dan sebagian cairan yang

berlebihan tersebut akan meluber keluar dari hidung.

Setelah anda kembali ke lingkungan dengan udara yang hangat,

pembuluh darah kecil di hidung anda akan kembali menyempit dan kelenjar

yang menghasilkan lendir akan kembali memproduksi lendir dalam tingkat

normal.

Kedinginan tidak menyebabkan pilek atau meningkatkan resiko untuk

tertular penyakit common cold, tetapi common cold bisa tertular jika kondisi

tubuh kurang sehat sehingga rentan terhadap penyakit.

Kelelahan, gizi buruk, anemia, dan kedinginan. Walaupun umur bukan factor

yang menentukan daya rentan, namun infeksi sekunder purulen lebih banyak

dijumpai pada anak kecil. Penyakit ini sering diderita pada waktu pergantian

musim.

C. Patofisiologi

Batuk dan pilek merupakan suatu respon tubuh yang diciptakan untuk

6
membuang benda asing, termasuk virus, bakteri, debu, lendir, dan partikel

kecil lain yang berusaha mengotori saluran nafas dimulai dari tenggorokan

hingga paru- paru. Batuk menjaga saluran nafas tetap bersih agar seseorang

tidak mengalami sesak nafas. Ingus atau lendir yang diproduksi saat seseorang

mengalami batuk pilek adalah upaya tubuh mengeluarkan benda asing,

termasuk partikel virus dan bakteri dari saluran napas atas manusia.

Terjadinya pembengkakan pada submukosa hidung yang disertai

vasodilatasi pembuluh darah. Terdapat infiltrasi leukosit, mula-mula sel

monokleus kemudian juga polimorfonukleus. Sel epitel superfisial banyak

yang lepas dan regenerasi epitel sel baru terjadi setelah lewat stadium akut.

Banyak virus yang dapat menyebabkan batuk pilek, tetapi yang paling

sering adalah rinovirus (terdapat 100 jenis rinovirus berbeda yang dapat

menginfeksi manusia, diikuti dengan respiratory sincytial virus (RSV), dan

adenovirus. Virus yang masuk ke tubuh dan menginfiltrasi saluran nafas di

hidung sampai tenggorokan kita akan memicu rangkaian reaksi sitem imun

(pertahanan tubuh) dan bermanifestasi sebagai gejala-gejala yang dialami.

7
.

D. Manifestasi Klinis

Batuk pilek mempunyai gejala seperti pilek, batuk sedikit dan

kadang- kadang bersin. Keluar sekret yang cair dan jernih dari hidung.

Bila terjadi infeksi sekunder oleh kokus seket menjadi kental dan purulen.

Sekret ini sangat menggangu anak. Sumbatan hidung menyebabkan anak

bernafas dari mulut dan mengakibatkannya gelisah. Pada anak yang lebih

besar kadang-kadang didapatkan keluhan nyeri otot dan pusing.

Gejala mulai timbul dalam waktu 1-3 hari setelah terinfeksi.

Biasanya gejala awal berupa:

1.    Rasa tidak enak di hidung

2.    Rasa tidak enak di tenggorokan


8
3.    Bersin-bersin

4.    Tenggorokan gatal

5.    Hidung meler (pengeluaran bersifat cair dan bening) dan tersumbat

6.    Batuk

7.    Suara serak

8.    Cemas

9.    Sakit kepala

10. Demam (biasanya ringan, tidak lebih dari 380C)

11. Sesak nafas

Biasanya tidak timbul demam, tetapi demam yang ringan bisa

muncul pada saat terjadinya gejala.Hidung mengeluarkan cairan yang

encer dan jernih dan pada hari-hari pertama jumlahnya sangat banyak

sehingga mengganggu penderita.

Selanjutnya sekret hidung menjadi lebih kental, berwarna kuning-

hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak.Gejala biasanya akan menghilang

dalam waktu 4-10 hari, meskipun batuk dengan atau tanpa dahak

seringkali berlangsung sampai minggu kedua.

E. Penatalaksanaan

a. Pencegahan Batuk Pilek

1. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan

2. Sebaiknya sering mencuci tangan (Membiasakan anak mencuci tangan

sebelum dan sesudah memegang sesuatu yang telah tersentuh oleh

9
orang yang sedang terinfeksi batuk pilek), membuang tisu kotor pada

tempatnya serta membersihkan permukaan barang-barang.

3. Vitamin C dosis tinggi (2000 mg per hari) belum terbukti bisa

mengurangi resiko tertular atau mengurangi jumlah virus yang

dikeluarkan oleh seorang penderita

4. Menjaga pola hidup sehat

5. Hindari asap rokok

6. Menjauhi penggunaan kompor kayu yang mengotori udara karena asap

dari pembakaran kayu dapat mengurangi daya tahan anak sehingga ank

mudah terserang batuk pilek

7. Sebisa mungkin menjauhi anak balita dari orang yang sedang terkena

batuk pilek

b. Pengobatan :

1. Usahakan untuk beristirahat dan selalu dalam keadaan hangat dan

nyaman, serta diusakahan agar tidak menularkan penyakitnya kepada

orang lain.

2. Jika terdapat demam atau gejala yang berat, maka penderita harus

menjalani tirah baring di rumah.

3. Minum banyak cairan guna membantu mengencerkan sekret hidung

sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan/dibuang.

4. Untuk meringankan nyeri atau demam dapat diberikan asetaminofen

atau ibuprofen.

5. Pada penderita dengan riwayat alergi, dapat diberikan antihistamin.


10
6. Menghirup uap atau kabut dari suatu vaporizer bisa membantu

mengencerkan sekret dan mengurangi sesak di dada.

7. Mencuci rongga hidung dengan larutan garam isotonik bisa membantu

mengeluarkan sekret yang kental

8. Batuk merupakan satu-satunya cara untuk membuang sekret dan debris

dari saluran pernafasan. Oleh karena itu sebaiknya batuk tidak perlu

diobati, kecuali jika sangat mengganggu dan menyebabkan penderita

susah tidur. Jika batuknya hebat, bisa diberikan obat anti batuk

9. Antibiotik tidak efektif untuk mengobati common cold, antibiotik hanya

diberikan jika terjadi suatu infeksi bakteri.

c. Metode farmakologi.

1. Dekongestan

Bertujuan melegakan hidung tersumbat. Obat jenis ini mempunyai efek

samping jantung berdebar-debar dan mmembuat anak gelisah.

2. Antihistamin

Ditunjukan untuk meredakan gejala bersin-bersin. Beberapa

antihistamin yang dapat diperoleh tanpa resep dokter antara lain:

klorfenon (CTM), promethazin, triprolidin, dll. Dosis CTM untuk anak

uur 2-6 tahun 1 mg.

3. Antipiretik

Dapat digunakan jika anak mengalami demam dan rewel. Inilah satu-

satunya jenis obat yang paling aman digunakan dan diperbolehkan

untuk diminum saat anak mengalami batuk pilek. (Arikunto,2018 :100).


11
Dosis yang dapat diberikan untuk anak 2 – 6 tahun adalah 1 – 2 sendok

teh atau 120 – 250 mg.

F. Komplikasi

Common cold di sebabkan infeksi virus. Antibiotic tidak bermanfaat

dalam pengobatan common cold. Anti biotic hanya berfungsi pada infeksi

bakteri. efektif mempercepat penyembuhan. Pemberian obat batuk pilek pada

bayi justru mempunyai resiko timbulnya efek samping obat.

Common cold dapat sembuh dengan sendirinya sehingga tidak

memerlukan pengobatan khusus,yang lebih penting di perlukan anak dan bayi

adalah pemberian cairan atau imun lebih banyak dan pemantauan kondisi

emergensi.

Komplikasi bisa memperpanjang terjadinya gejala:

1. Infeksi saluran udara (trakea) disertai sesak di dada dan rasa terbakar

2. Gangguan pernafasan yang lebih berat terjadi pada penderita bronkitis atau

asma yang menetap

3. Infeksi bakteri pada telinga, sinus atau saluran udara (infeksi

trakeobronkial).

4. Otitis media (infeksi telinga). Sekitar 5-15% anak yang terkena common

cold terjadi infeksi pada telinga bagian tengah.penyebabnya adalah adanya

saluran yang menghubungkan antara tenggorokan dan rongga telinga.

5. Komplikasi tersebut lebih sering terjadi pada anak atau bayi dengan factor

resikao tertentu :

12
a. Anak berusia kurang dari 2 tahun, karena daya tahan tubuh rendah

b. Anak menderita penyakit immunodefisiensi (daya tahan tubuh rendah)

c. Anak mendapatkan pengobatan kortikosteroid jangka panjang

d. Anak menderita penyakit kronik seperti jantung

G. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan darah dilakukan apabila gejala sudah berlangsung

selama lebih 10 hari atau dengan demam > 37,8°C. Pemeriksaan darah ini

dilakukan untuk melihat leukositis.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA COMMON COLD

A. PENGKAJIAN

a. Data Subjektif

1) Identitas Klien

Identitas klien meliputi nama, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,

status perkawinan, agama, suku / bangsa, alamat, tanggal dan jam

masuk rumah sakit, diagnosa medik.

2) Keluhan utama

Keluhan Ibu dengan anak batuk pilek biasanya anak rewel, susah

makan, dan demam.

3) Riwayat penyakit sekarang

13
Anak mengalami batuk pilek sejak kapan, dan obat apa yang telah di

berikan.

4) Riwayat penyakit dahulu

Apakah sebelumnya anak pernah menderita sakit seperti ini, berapa

lama, selain itu sakit apa yang pernah di derita anak.

5) Riwayat penyakit keluarga

Adakah anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini, atau

menderita penyakit lain yang bisa menular, contohnya TBC.

6) Pola Kesehatan Funsional Gordon

1. Pola persepsi kesehatan / penanganan kesehatan

Biasanya sabagian orang tua kurang begitu peduli terhadapnya bila terkena

CC

2. Pola nutrisi – metabolism

Anak biasanya mengalami anoreksia

3. Pola eliminasi

Eliminasi urine / BAK

Terjadi penurunan

Eliminasi alvi / BAB

Terjadi penuruan

4. Pola aktivitas-latihan

Sebagian anak akan mengurangi aktivitasnya.

14
5. Pola istirahat tidur

Anak akan sering bangun saat tidur.

b. Data Objektif

1) Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Cukup

Kesadaran : CM

TTV : TD : <120/80 mmHg

N : x/mnt

RR : x/mnt

S : >37,5oC

2) Pemeriksaan Fisik Head To Toe

1. Kepala

Inspeksi : Lihat warna rambut berwarna, kulit kepal

Palpasi : ada benjolan apa tidak

2. Mata

Inspeksi : Berair, sclera putih, konjungtiva pucat

3. Hidung

Inspeksi : Keluar cairan encer hingga purulen, pernapasan cuping

hidung.

4. Telinga

Inspeksi : Ada serumen apa tidak

Palpasi : Tekstur pina, helix kenyal.

5. Mulut
15
Inspeksi : Lidah putih, mukosa bibir kering,

6. Leher

Inspeksi : Simetris apa tidak

Palpasi : Kelenjar limfe tidak teraba, kelenjar tiroid tidak

membesar.

7. Paru

Inspeksi : Bentuk dada simetris

Palpasi : Vokal fremitus kanan kiri sama

Perkusi : Sonor

Auskultasi : Ronchi Basah +

8. Jantung

Inspeksi : Ictus kordis terlihat

Palpasi : PMI teraba

Perkusi : Pekak

Auskultasi : S1 S2 bunyi tunggal

9. Abdomen

Inspeksi : simetris, tidak ada luka bekas operasi

Auskultasi : Bising usus normal

Palpasi : Suepel

Perkusi : Timpani

10. Ekstremitas

Inspeksi : Atas /bawah simetris, jari lengkap, tidak ada gangguan

pergerakan.
16
11. Integumen

Turgor kulit kurang, kulit terasa panas.

Pemeriksaan Penunjang

a. Foto Thorax k/p

b. Tes Darah Lengkap

Terapi Pengobatan

1) Oral

Antibiotik : Amoxicilin syrup

Sedativum : CTM

Obat batuk : Antitusif

Penambah nafsu makan : Vit. B complek

Vitamin : Vit. C

2) Suction k/p

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

a) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan atau akumulasi

secret.

b) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual muntah dan anoreksia.

c) Ketidakseimbangan Cairan elektrolit b.d peningkatan peristaltic usus.

d) Kelemahan b.d oksigen jaringan menurun.

e) Resti infeksi b.d masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh.

17
C. NANDA, NOC, NIC

18
NANDA NOC NIC
00031 0410 3250
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas Kepatenan Jalan Nafas Peningkatan (Manajemen) Batuk
Definisi: Ketidakmampuan membersihkan Definisi : Definisi :
sekresi atau obstruksi dari saluran nafas saluran trakeobronkial yang terbuka dan lancer Meningkatkan inhalasi dalam oleh pasien yang
untuk pertukaran udara akan memicu tekanan yang tinggi dalam intra-
untuk mempertahankan bersihan jalan
Kriteria Hasil : toraks dan penekanan pada bagian bawah
nafas 1 = Deviasi berat dari kisaran normal, parenkim paru untuk dapat
Batasan karakteristik: 5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal mengeluarkanudara yang kuat
- Batuk yang tidak efektif Frekuensi pernafasan 1 2 3 4 5 Aktivitas-aktivitas :
- Dyspnea Irama pernapasan 1 2 3 4 5  Monitor fungsi paru, terutama kapasitas
- Gelisah Kedalaman inspirasi 1 2 3 4 5 vital, tekanan inspirasi maksimal,
- Ortopnea Kemampuan untuk mengeluarkan secret 1 tekanan volume ekspirasi 1 detik (FEV1)
- Penurunan bunyi nafas 2345 dan FEV1/ FVC sesuai dengan
- Perubahan frekuensi nafas kebutuhan
- Perubahan pola nafas 1 = Sangat berat, 5 = Tidak ada  Damping pasien untuk bisa duduk pada
Ansietas 1 2 3 4 5 posisi dengan kepala sedikit lurus, bahu
- Sianosis
Ketakutan 1 2 3 4 5 relaks dan lutut ditekuk atau posisi fleksi
- Sputum dalam jumlah yang  Dukung pasien menarik nafas dalam
berlebihan Tersedak 1 2 3 4 5
Suara nafas tambahan 1 2 3 4 5 beberapa kali
- Suara nafas tambahan  Dukung pasien untuk melakukan nafas
Pernafasan cuping hidung 1 2 3 4 5
- Tidak ada batuk dalam, tahan selama 2 detik, bungkukkan
Mendesah 1 2 3 4 5
- Faktor yang berhubungan: ke depan, tahan 2 detik dan batukkan 2-3
Dispnea saat istirahat 1 2 3 4 5
a. Lingkungan Dispnea dengan aktivitas ringan 1 2 3 4 5
kali
1) Perokok Penggunaan otot bantu nafas 1 2 3 4 5  Minta pasien untuk menarik nafas dalam,
2) Perokok pasif Batuk 1 2 3 4 5
bungkukkan ke depan, lakukan tiga atau
3) Terpajan asap empat kali hembusan (untuk membuka
Akumulasi sputum 1 2 3 4 5 area glottis)
b. Obstruksi jalan nafas Respirasi agonal 1 2 3 4 5  Minta pasien untuk menarik nafas dalam
19
1) Adanya jalan nafas buatan beberapa kali, keluarkan perlahan dan
2) Benda asing dalam jalan nafas batukkan di akhir ekshalasi
3) Eksudat dalam alveoli [penghembusan]
4) Hyperplasia pada dinding brokus  Lakukakn teknik ‘chest wall rib spring’
5) Mukus berlebihan selama fase ekspirasi melalui maneuver
6) Penyakit paru obstruksi kronis batuk, sesuai dengan kebutuhan
7) Sekresi yang tertahan  Tekan perut di bawah xiphoid dengan
8) Spasme jalan nafas tangan terbuka sembari membantu pasien
untuk fleksi kedepan selama batuk
c. Fisiologis:
1) Asma  Minta pasien untuk batuk dilanjutkan
dengan beberapa periode nafas dalam
2) Infeksi
3) Jalan nafas alergik  Dukung penggunakan incentive
spirometry, sesuai dengan kebutuhan
 Dukung hidrasi cairan yang sistemik,
sesuai dengan kebutuhan
 Dampingi pasien menggunakan bantal
atau selimut yang dilipat untuk menahan
perut saat batuk

Manajemen Jalan Nafas Aktivitas-


Aktivitas:
 Buka jalan nafas dengan teknik
head thin atau jaaw thrust, sebagai
mana mestinya.
 Posisikan pasien untuk
meminimalkan ventilasi
 Identifikasi kebutuhan
aktual/potensial pasien untuk

20
memasukkan alat membuka jalan
nafas
 Buang secret dengan memotivasi
pasien untuk melakukan batuk atau
menyedot Lendir
 Motivasi pasien untuk bernafas pelan,
dalam, berputar dan batuk
 Instruksikan bagaimana agar bisa
melakukan batuk efektif
 Auskultasi suara nafas, catat area yang
ventilasinya menurun atau tidazk ada
dan adanya suara tambahan
 Posisikan untuk meringankan sesak
nafas
 Monitor status pernafasaan dan
oksigenasi, sebagaimana mestinya

Fisioterapi Dada
Definisi: Membantu pasien untuk
mengeluarkan sekresi di jalan nafas dengan
cara perkusi, vibrasi dan pengaliran postural
Aktivitas-Aktivitas:
 Kenali ada tidaknya
kontraindikasin dilakukannya
fisioterapi dada pada pasien
 Lakukan fisioterapi dada minimal
dua jam setelah makan
 Jelaskan tujuan dan prosedur
21
tindakan fisioterapi dada kepada
pasien
 Dekatkan alat-alat yang diperlukan
 Monitor status respirasi dan kardiologi
 Monitor jumlah dan karakteristik sputum
 Tentukan segmen paru yang mana berisi
sekret berlebih
 Posisikan segmen patu yang
akan dilakukan fisioterapi dada
 Gunakan bantal untuk menopang
posisi pasien
 Tepuk dada dengan teratur dan cepat
dengan menggunakan telapak
tangan yang dikuncupkan di atas
area yang ditentukan selama 3-5
hari, hindari perkusi di atas tulang
belakang, ginjal, payudara, area
insisi.
 Getarkan dengan cepat dan kuat
dengan telapak tangan
 Instruksikan pasien untuk
mengeluarkan nafas dengan teknik
nafas dalam
 Anjurkan untuk batuk selama
dan setelah tindakan

22
 Sedot sputum
00002 1009 1100
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang Status nutrisi : asupan nutrisi Manajemen nutrisi
dari kebutuhan tubuh Definisi :Asupan gizi untuk memenuhi Definisi : Menyediakan dan meningkatkan
Definisi: Asupan nutrisi tidak cukup untuk kebutuhan-kebutuhan metabolic intake nutrisi yang seimbang
memenuhi kebutuhan metabolik Aktivitas :
Batasan karakteristik : 1 = tidak adekuat  Tentukan status nutrisi gizi pasien dan
-Berat badan 20% atau lebih dibawah 5 = sepenuhnya adekuat kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi
rentang berat badan ideal  Identifikasi adanya alergi atau intoleransi
-Bising usus hiperaktif Skala outcome : makanan yang dimiliki pasien
-Cepat kenyang setelah makan Asupan Kalori 1 2 3 4 5  Tebtukan apa yang menjadi preferen
-Diare Asupan protein 1 2 3 4 5 pasien
-Gangguan sensasi rasa Asupan lemak 1 2 3 4 5  Instruksikan pasien mengenai kebutuhan
-Kehilangan rambut berlebihan Asupan karbohidrat 1 2 3 4 5 nutrisi
-Kelemahan otot pengunyah Asupan serat 1 2 3 4 5  Benu pasien menentukan pedoman dan
Asupan vitamin 1 2 3 4 5 piramida makanan yang paling cocok
-Kelemahan otot untuk menelan
Asupan mineral 1 2 3 4 5 dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
-Kerapuhan kapiler
Asupan natrium 1 2 3 4 5  Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi
-Kesalahan informasi
-Kesalahan persepsi yang dibutuhkan
-Ketidakmampuan memakan makanan  Berikan pilihan makanan yang lebih
-Kram abdomen sehat, jika diperlukan
-Kurang minat pada makanan  Atur diet yang diperlukan ciptakan
-Membrane mukosa pucat lingkungan yng optimal pada saat
mengkonsumsi makanan
-Nyeri abdomen
 Lakukan atau bantu pasien terkait
-Penurunan berat badan dengan asupan
perawatan mulut sebelum makan
23
adekuat  Pastikan pasien menggunakan gigi palsu
-Sariawan rongga mulut yang pas, dengan cara yang tepat
-Tonus otot menurun  Beri obat sebelum makan
 Anjurkan pasien untuk duduk pada posisi
Factor yang berhubungan : tegak di kursi jika memungkinkan
-Factor biologis  Pastikan makanan di sajikan dengan
-Factor ekonomi keadaan yang menarik
-Gangguanpsikososial  Anjurkan keluarga membawa makanan
-Ketidakmampuan makan favorit
-Keridakmampuan mencerna makanan  Bantu pasien membuka kemasan
-Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrient makanan
-Kurang asupan makanan  Anjurkan pasien memodifikasi diet
 Anjurkan psien kebutuhan diet yang
diperlukan
 Anjurkan psien terkait kebutuhan
makanan tertentu
 Tawarkan makanan ringan padat gizi
 Pastikan diet mencakup makanan tinggi
kandungan serat
 Monitor kalori dan asupan makanan
 Monitor kecenderungan terjadinya
penurunan BB
 Anjurkan pasien mengontrol klaori
 Dorong bagaimana cara menyiapkan
makanan
 Bantu psien mengakses program gizi
24
 Berikan arahan
00004 0703 6540
Risiko Infeksi Keparahan infeksi Kontrol infeksi
Definisi : Definisi : Definisi :
Rentan mengalami invasi dan multiplikasi Keparahan tanda dan gejala infeksi Meminimalkan penerimaan transmisi agen
organisme patogenik yang dapat 1 = berat infeksi
mengganggu kesehatan 5 = tidak ada Aktivitas :
Skala outcome :  Alokasikan kesesuaian luas ruangan per
Factor risiko Kemerahan 1 2 3 4 5 pasien
- Kurang pengetahuan untuk Ventrikel yang tidak mengeras  Bersihkan lingkungan dengan baik
menghindari perjalanan pathogen permukaannya1 2 3 4 5  Ganti peralatan perawatan per pasien
- Malnutrisi Cairan luka yang berbau busuk1 2 3 4 sesuai protokol institusi
- Obesitas 5  Isolasi orang dengan penyakit menular
- Penyakit kronis Sputum virulen 1 2 3 4 5  Tematkan isolasi sesuai dengan tindakan
- Prosedur invasive Drainase pirulen 1 2 3 4 5 pencegahan yang sesuai
Pertahanan tubuh tidak adekuat Demam1 2 3 4 5  Pertahankan teknik isolasi yang sesuai
- Gangguan integritas kulit Hipotermi 1 2 3 4 5
 Batasi jumlah pengunjung
- Gangguan peristalsis Ketidakstabilan suhu 1 2 3 4 5
 Ajarkan cara mencuci tangan
Nyeri 1 2 3 4 5
- Merokok  Anjurkan pasien mengenai teknik
Jaringan lunak 1 2 3 4 5
- Pecahnya ketuban dini mencuci tangan yang tepat
Gejala-gejala gastrointestinal1 2 3 4 5
- Pecahnya ketuban lambat Limfadenopati 1 2 3 4 5  Anjurkan pengujung mencuci tangan saat
- Penurunan kerja siliaris Malaise 1 2 3 4 5 masuk dan keluar ruangan
- Perubahan pH sekresi Gangguan kognisi yang tidak bisa  Gunakan sbun antimikroba
- Statis cairan tubuh dijelaskan 1 2 3 4 5  Cuci tangan sebelum dan sesudah
Pertahanan tubuh sekunder tidak adekuat Lethargy 1 2 3 4 5 kegiatan
Ÿ Imunosupresi Hilang nafsu makan 1 2 3 4 5  Lakukan tindakan pencegahan
25
Ÿ Leukopenia Infiltrasi x-ray dada 1 2 3 4 5  Pakai sarung tangan
Ÿ Penurunanhemoglobin Koloisasi pada alat bantu akses vaskuler 1 Pakai pakaian ganti atau jubah
Ÿ Supresi respon inflamasi 2 3 4 5  Pakai sarung tangan steril
Ÿ Vaksinasi tidak adekuat Kolonisasi kultur sputum 1 2 3 4 5  Gosok kulit pasien dengan sabun
Pemajaran terhadap pathogen meningkat Kolonisasi kultur cairan serebrospinal 1 2 antibakteri
Ÿ Terpajan pada wabah 3 4 5  Cukur dan siapkan daerah yang akan
Kolonisasi kultur area luka 1 2 3 4 5 dberikan perawatan invasif
Kolonisasi kultur urin 1 2 3 4 5  Jaga lingkungan aseptik yang optimal
Kolonisasi kultur feses 1 2 3 4 5 selama penusukan
Peningkatan jumlah sel darah putih 1 2
 Jaga lingkungan aseptik saat mengganti
3 4 5
tabung
Depresi jumlah sel darah putih 1 2 3 4
 Jaga sistem yang tertutup saat memonitor
5
hemodinamik invasif
0802  Ganti IV perifer dan tempat saluran
Tanda-tanda vital penghubung serta balutnnnya
Definisi :  Pastikan penaganan aseptik dari semua
Tingkat suhu, denyut nadi, respirasi, dan saluran
tekanan darah berada dalam kisaran  Gunakan kateterisasi intermitten
normal  Ajarkan pasien agar mendapatkan
Skala outcome spesimen urin
1 = deviasi kisaran normal  Dorong batuk dn bernafasa dalam yang
5 = tidak ada deviasi tepat
Suhu tubuh 1 2 3 4 5  Tingkatkan intake nutrisi
Irama jantung apical 1 2 3 4 5  Dorong inteke cairan yang sesuai
Denyut jantung radial 1 2 3 4 5  Dorong untuk beristirahat
Tingkat pernapasan 1 2 3 4 5  Berikan terapi antibiotik yang sesuai
26
Irama pernapasan 1 2 3 4 5  Berikan imunisasi sesuai
 Anjurkan pasien meminum antibiotik
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
 Ajarkan cra peghindaran infeksi
 Promosikan pengawetan dan persispan
makanan

Vital Sign Monitoring


Aktifitas:
- Monitor TD, nadi Suhu dan RR
- Catat adanya fluktuasi tekanan darah
- Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk atau berdiri
- Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
- Monitor TD, nadi, suhu dan RR
sebelum dan sesduah aktivitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor adanya pulpus paradoksus
- Monitor adanya pulpus alterans
- Monitor jumlah & irama jantung
- Monitor bunyi jantung
- Monitor frekuensi dan irama pernafasan
- Monitor adanya cushing triad (tekanan
27
nadi yang meleba, bradikardia,
peningkatan sistolik).
- Monitor suhu, warna, dan kelembaban
kulit.
- Identifikasi penyebab dadi penurunan
vital sign
00214 2010 5820
Gangguan Rasa Nyaman Status kenyamanan : Fisik Pengurangan kecemasan
Definisi : Merasa kurang nyaman, lega Definisi : kenyamanan fisik yang Definisi : menanganiketakutan,
dan sempurna dalam dimensi fisik, berkaitan dengan sensasi tubuh dan kecemasan,tekanan, firasat, terkait dengan
psikospiritual, lingkungan, budaya, mekanisma homeostatis sumber-sumber bahaya yang
dan/atau sosial. Skala outcome teridentifikasi
1 = sangat terganggu Aktivitas :
Batasan karakteristik: 5 = tidak terganggu  Gunakan pendekatan yang tenang
- Ansietas Indicator : dan meyakinkan
- Berkeluh kesah Kontol terhadap gejala 1 2 3 4 5  Nyatakan denganjelas harapan
- Gangguan pola tidur Kesejahteraan fisik 1 2 3 4 5 terhadapperilakupasien
- Gatal Relaksasi otot 1 2 3 4 5  Jelaskansemua prosedur termasuk
- Gejala distress Posisi yang nyaman 1 2 3 4 5 sensasi yang dirasakan yang
- Gelisah Baju yang nyaman 1 2 3 4 5 mungkin akan dialamiklien selama
- Iritabilitas Perawatan pribadi dan kebersihan 1 2 3 4 prosedur
5  Pahami situasi krisis yang terjadi
- Ketidakmampuan untuk relaks
Intake cairan 1 2 3 4 5 pada perspektif klien
- Kurang puas dengan keadaan
Intake makanan 1 2 3 4 5  Berikan informasi factual terhadap
- Menangis Tigkat energy1 2 3 4 5
- Merasa dingin diagnosis, perawatan, prognosis
Suhu tubuh 1 2 3 4 5  Berada di sisi klien untuk
- Merasa kurang senang dengan situasi
28
- Merasa hangat Kepatetanan jalan napas 1 2 3 4 5 meningkatkan rasa nyama
- Merasa lapar Saturasi oksigen 1 2 3 4 5  Dorong keluarga untuk mendampingi
- Merasa tdak nyaman klien dengan carayang tepat
- Merintih 1= berat  Lakukan usapan punggung danleher
- Takut 5= tidak ada dengan cara yang tepat
Gatalgatal 1 2 3 4 5  Berikan objekyang menunjukkan
Factor yang berhubungan Sesaknapas 1 2 3 4 5 rasa nyaman
- Gejala terkait penyakit Perasaan sulit bernapas 1 2 3 4 5  Dorong aktivitas yang
- Kurang control situasi Sindrom RIS 1 2 3 4 5 tidakkompetitif secara tepat
Nyeri otot 1 2 3 4 5  Jauhakan peralatan perawatan dari
- Kurang pengendalian lingkungan
Sakit kepala 1 2 3 4 5 klien
- Program pengobatan
Mual 1 2 3 4 5  Dengarkanklien
- Stimuli lingkungan yang mengganggu Muntah 1 2 3 4 5
- Sumber daya tidak adekuat Inkotinensia urine 1 2 3 4 5  Puji perilaku yang baiksecara tepat
(finansal,pengetahuan, dan sosial)  Ciptakan atmosfer rasa aman untuk
Inkontinensia usus 1 2 3 4 5
memberikan kenyamanan
Diare 1 2 3 4 5
Konstipasi 1 2 3 4 5  Dorong verbalisasi perasaan persepsi
ketakutan
1608  Identifikasi pada saat terjadi
Kontrol gejala perubahan tingkat kecemasan
Definisi : tindakan seseorang unuk  Berikanaktivitas pengganti yang
mengurangi perubahan fungsi fisik dan bertujuan mengurangi tekanan
emosi yang dirasakan  Bantu klien dan keluarga
Skalaoutcome mengindentifikasi situasi yang
1 = tidak pernah menunjukkan memicu kecemasan
5 = secara konsisten menunjukkan  Control stimulus untuk kebutuhan
Indicator : klien secara tepat

29
Memantau munculnya gejala 1 2 3 4 5  Dukung pengunaan mekanisme
Memantau lama bertahannya gejala 1 2 3 4 koping yang sesuai
5  Kaji tanda verbal dan non verbal
Memantau keparaghan gejala 1 2 3 4 5 kecemasan
Memantau frekuensi gejala 1 2 3 4 5
Memantau variasi gejala 1 2 3 4 5 5440
Melakukan tndakan pencegahan 1 2 3 4 5 Peningkata system dukungan
Melakukan tindakan untuk mengurangi Definisi : fasilitasi dukungan bagi pasien
gejala 1 2 3 4 5 oleh keluarga, teman-teman, dan
Mendapatkan perawatan kesehatan ketika masyarakat
gejala yang berbahaya muncul 1 2 3 4 5 Aktivitas :
Mengguanakan sumbersumber yang  Identifikasi respon psikologis
tersedia 1 2 3 4 5 terhadapsituasi dan ketersediaan
Menggunakan buku harian untuk system dukungan
memantau gejala dari waktu ke waktu 1 2  Tentukan kecukupan dari jaringan
345 sosialyang ada
Melaporkan gejala yang dapat dikontrol 1  Identifikasi tingkat dukungan keluarga,
2345 dukungan keuangan, dan sumber daya
lainnya
0004  Tentukanhambatan terhadap system
Tidur dukungan yang tidakterpakai dann
Definisi : periode alami mengistirahatkan dukungan yang dimanfaatkan
kesadaran dalam memulihkan tubuh
 Monitor situasi keluarga saat ini dan
Skala outcome :
jaringan dukugan
1 = sangat terganggu
 Sediakan layanan dengan sikap peduli
5 = tidak terganggu
dan mendukung
Indicator :
 Identifikasi sumber daya yag tersedia
30
Jam tidur 1 2 3 4 5 terkait dukungan pemberi perawatan
Jam tidur yang diobservasi 1 2 3 4 5
Kualitas tidur 1 2 3 4 5 6828
Efisiensi tidur 1 2 3 4 5 Peningkatan tidur
Tidur rutin 1 2 3 4 5  Tentukan pola tidur /aktivitas pasien
Tidur dari awal sampai habis di malam
hari secara konsisten 1 2 3 4 5  Perkirakan tidur/siklus bangun pasien
Perasaan segar setelah tidur 1 2 3 4 5 di dalam perawatan perencanaan
Mudah bangun pada saat yang tepat 1 2 3  Jelaskan pentingnya tidur yang
45 cukup selama kehamilan
Tempat tidur yang nyaman 1 2 3 4 5 ,penyakit,tekanan psikososial dan
lain lain
Suhu runagan yangnyaman 1 2 3 4 5
 Tentukan efek dari obat yang di
komsumsi pasien terhadap pola
1 = berat tidur
5 = tidak ada  Monitor atau catat pola tidur pasien dan
Kesulitan memulai tidur 1 2 3 4 5 jumlah jam tidur
Tidur yang terputus 1 2 3 4 5  Anjurkan pasien untuk memantau
Tidur yang tidaktepat 1 2 3 4 5 pola tidur
Apnea saat tidur 1 2 3 4 5  Monitor partispasi dalam kegiatan
Ketergatungan pada bantuan tidur 1 2 3 4 yang melelahkan selama terjaga untuk
5 mencegah penat yang berlebihan
Mimpi buruk 1 2 3 4 5  Bantu untuk menghilangkan situasi
Buang air kecil dimalm hari 1 2 3 4 5 stres sebelum tidur
Mengorok 1 2 3 4 5
 Monitor makanan sebelum tidur
Nyeri 1 2 3 4 5 dan intake minuman yang dapat
memfasilitasi /menganggu tidur
 Anjurkan pasien untuk menghindari
31
makanan sebelum tidur dan minuman
yang meganggu tidur
 Sesuaikan jadwalpemberian obat
untuk mendukung tidur/siklus bangun
tidur
 Dorong penggunaan obat tidur yang
tidak mengandung zat penekan
tidur rem
 Atur rangsangan lingkungan
untuk mempertahankan siklus
siang dan malam yang normal
 Diskusikan dengan pasien dan
keluarga mengenai teknik untuk
meningkat kan
 tidur
00126 1854 1100
Defisiensi Pengetahuan Pengetahuan : Diet yang sehat Manajemen nutrisi
Definisi : ketiadaan atau defisiensi Definisi : tingkatpemahaman yang Definisi : Menyediakan dan meningkatkan
informasi kognitif yang berkaitan dengan disampaikan tentang makanan bergizi intake nutrisi yang seimbang
topic tertentu seimbang Aktivitas :
- Tentukan status nutrisi gizi pasien dan
Batasan karakteristik Skala Outcome : kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi
- Ketidakakuratan melakukan tes 1= tidak ada pengetahuan - Identifikasi adanya alergi atau
- Ketidak akuratan mengkuti peritah 5 = pengetahuan sangat banyak intoleransi makanan yang dimiliki
- Perilaku tidak tepat pasien
Indikator : - Tentukan apa yang menjadi preferen
Faktor yang berhubungan Tujuan diet yang bsa dicapai pasien
- Gangguan fungsi kognitif Dipertahankan 2, di tingkatkan 5 - Instruksikan pasien mengenai
32
- Gangguan memori Intake cairan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi
- Kurang informasi kebutuhan metabolic - Bantu pasien menentukan pedoman dan
- Kurang minat untuk belajar Dipertahankan 2, di tingkatkan 5 piramida makanan yang paling cocok
- Kurang sumber pengetahuan Intake nutrisi yang sesuai dengan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
- Salah pengertian terhadap orang lain kebutuhan individu - Tentukan jumlah kalori dan jenis
Dipertahankan 2, di tingkatkan 5 nutrisi yang dibutuhkan
Pedoman gizi yang direkomendasikan - Berikan pilihan makanan yang lebih
Dipertahankan 3, di tingkatkan 5 - Anjurkan pasien memodifikasi diet
Pedoman untuk porsi makan - Anjurkan psien kebutuhan diet yang
Dipertahankan 3, di tingkatkan 5 diperlukan
- Anjurkan psien terkait kebutuhan
makanan tertentu

1.

33
D.IMPLEMENTASI

Implementasi merupakan tindakan pelaksanaan dari intervensi yang

telah dibuat untuk mengatasi diagnosa keperawatan yang telah ada.

E.EVALUASI

S : Berisi keluhan pasien, berasal dari pasien sendiri atau orang tua

pasien

O : Data yang diambil dari hasil observasi

A : Pernyataan masalah sudah teratasi atau sebagian atau belum

teratasi

P : Rencana tindakan untuk mengatasi keluhan pasie

34
BAB III

STUDI KASUS DAN ASUHAN KEPERAWATA

Format Asuhan Keperawatan pada Anak


Nama Mahasiswa : Pusparini Anggita Ayuningtyas
NBP : 2041312021
Tempat Praktek :-
Tanggal Pengkajian : 10 November 2020

I. IDENTITAS DATA
Nama Anak : Mohammad Habibullah Solihin BB/TB : 10kg / 83cm
TTL/ Usia : Pasaman Baru, 19 September 2018 / 2 tahun, 2 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan Anak : belum sekolah
Anak ke :3
Nama Ibu : Silvia Harika
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. M.Natsir No. 257, Pasaman Baru, Pasaman Barat
Diagnosis Medis : Batuk dan Pilek

II. KELUHAN UTAMA


(Yang dirasakan saat pengkajian) : Ibu mengeluhkan anak batuk dan pilek, anak rewel dan
gelisah apabila terasa pileknya sudh menyumbat rongga hidung, anak tidak nyenyak tidur, susah
makan, dan demam ringan yang sering terjadi pada malam hari.
III. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
1. Prenatal : Selama hamil Ny.A memeriksakan kehamilannya di praktik bidan
dikampungnya, Ny.A memeriksakan kehamilannya saat ada keluhan saja. Metode kelahiran An.H
yaitu kelahiran normal dan bernafas spontan
2. Intranatal : An.H lahir dengan umur kehamilan cukup bulan, lahir normal di Rumah Sakit
ditolong oleh dokterkandungan dengan BBL : 3700 gram dan dalam kondisi sehat
3. Postnatal : pemeriksaan bayii dan masa nifas dilakukan oleh dokter, dan kondisi Ny.A
pada saat itu dalam kondisi sehat
IV. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI
Anak mengalami batuk pilek sejak 2 hari yag lalu dan demam sejak 3 hari yang lalu, dan obat yang
diberikan kepada anak adalah sirup pereda panas, dan batuk pilek
35
V. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
1. Penyakit yang diderita sebelumnya : tidak ada penyakit yang mengancam jiwa, namun sekedar
demam tinggi, batuk dan pilek
2. Pernah dirawat di RS : tidak pernah, hanya berobat ke bidan dekat rumah
3. Obat-obatan yang pernah digunakan : obat sirup pereda panas, obat batuk dan pilek
4. Alergi : Telur puyuh
5. Kecelakaan : jatuh pada saat bermain, namun tidak memiliki cedera yang serius (luka dan
memar)
6. Riwayat imunisasi : pasien tidak mendapatkan imunisasi

VI. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Disertai genogram 3 (tiga) generasi

VII. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG


1. Kemandirian dan bergaul : Anak mudah akrab dengan orang lain yang lebih tua dari segi umur
dantidak takut untuk berinteraksi dengan orang lain
2. Motorik Kasar : baik
3. Motorik Halus : baik
4. Kognitif dan Bahasa : baik/ Bahasa Indonesia
5. Psikososial : dapat berinteraksi dengan baik dan perhatian
6. Lain-lain :-

VIII. RIWAYAT SOSIAL


1. Yang mengasuh klien : nenek dan kedua orangtua klien
2. Hubungan dengan anggota keluarga : orang tua kandung klien dan nenek dari ayah klien
3. Hubungan dengan teman sebaya : baik, klien memiliki hubungan dengan teman sebaya denagna
baik
4. Pembawaan secara umum : ceria dan riang
5. Lingkungan rumah : rumah klien bersih dari sampah, tidak ada rumput yang tinggi di halaman
pekarangan rumah, rumah rapi dan bersih, kedaan sirkulasi udara rumah baik dengan sinar matahari
pagi melalui pintu depan rumah
IX. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : anak tampak sedikit lemas dan terkadang terlikat menyeka hidungnya
36
menggunakan tangan dan sesekali batuk berdahak, mukosa hidung memerah, (TTV: TD: 90/60
mmHg, RR: 30x/menit, suhu : 36,70C, dan Nadi 104x/menit)
2. TB/ BB (cm) : TB : 83cm, BB : 10 kg
3. Kepala
a. Lingkar kepala : 51 cm
b. Rambut :
Kebersihan : rambut bersih dan wangi
Warna : .hitam
Tekstur : halus
Distribusi rambut : merata di seluruh permukaan kepala
Kuat/mudah tercabut : kuat
4. Mata :
a. Simetris : Ya
b. Sclera : tidak ikterik
c. Konjungtiva : anemis
d. Palpebra :-
e. Pupil : Ukuran 2 mm Bentuk lingkaran
f. Reaksi Cahaya : baik, pupil mengecil saat diberikan cahaya
5. Telinga :
a. Simetris : Ya
b. Serumen : tidak ada pengeluaran serumen
c. Pendengaran : Dalam batas normal (baik)
6. Hidung :
a. Septum simetris : Ya
b. Sekret : Ada (terdapat lendir putih, terkadang serumen bening)
c. Polip : tidak ada
7. Mulut :
a. Kebersihan : Bersih
b. Warna Bibir : Pink
c. Kelembapan : Lembab
d. Lidah : Bersih, tidak ada keputihan
e. Gigi : putih dan masih belum lengkap
8. Leher
a. Kelenjer Getah Bening : tidak ada pembesaran kelenjer getah bening

37
b. Kelenjer Tiroid : normal, tidak ada pembengkakan
c. JVP : tidak ada JVP
9. Dada
a. Inspeksi : dada simetris, warna dada sama dengan kulit di sekitarnya
b. Palpasi : pengembangan dada simetris kiri kanan, tidak teraba ictus cordis
10. Jantung
a. Inspeksi : Bentuk normal, tidak ada lesi dan benjolan, warna sama dengan kulit sekitar
abdomen, tidak ada asites
b. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
c. Perkusi : Terdengar bunyi timpani dan pekak
c. Auskultasi : tidak ada bunyi gallop, murmur, bunyi jantung ke 3, Ritme reguler, PMI
dalam batas normal
11. Paru-paru
a. Inspeksi : terdapat otot bantu saat bernapas
b. Palpasi : tidak ada masa, tidak ada pembengkakan
c. Perkusi : suara sonor
d. Auskultasi : suara ronkhi +/+, wheezing -/-
12. Abdomen
a. Inspeksi : tidak tampak ada kelainan, benjolan atau luka
b. Palpasi : tidak ada nyeri tekan, supel
c. Perkusi : timpani
d. Auskultasi : bising usus (+) nornal
13. Punggung : Bentuk : simetris, pengembangan simetris kiri dan kanan
14. Ekstremitas :
Kekuatan dan tonus otot : 555 555
555 555
Refleks-refleks :
a. Atas : edema (-), lesi (-), CRT<2 detik
b. Bawah : edema (-), lesi (-), CRT<2 detik
15. Genitalia : bersih dan tidak terdapat kelainan
16. Kulit:
Warna : kecoklatan Tugor lembab Integritas tidak kering Elastisitas: elastis
17. Pemeriksaan neurologis :
Berkaitan dengan kasus seperti meningitis, kejang dll

38
X. PEMERIKSAAN PERTUMBUHAN
- STATUS GIZI (terlampir)
- DDST (terlampir)

XI. PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL

Perkembangan anak sesuai dengan usia tumbuh kembangnya (motoric kasar, motoric halus,
berbicara dan personal sosial)

XII. PEMERIKSAAN CAIRAN

Intake cairan anak sedikit dan output cairan menurun, ibu mengatakan pada saat sakit anak malas
untuk minum dan mengatakan pada saat pipis hanya sedikit.
XIII. PEMERIKSAAN SPIRITUAL
Tidakdikaji

XIV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Laboratorium : .tidak ada
2. Rontgen : tidak ada
3. Lain-lain :-

XV. KEBUTUHAN DASAR SEHARI-HARI

No Jenis Kebutuhan Sebelum sakit Saat sakit

1 Makan Anak makan 3x1 menghabiskan Anak makan tetap 3x1 namun
porsi makan (bubur 1 piring hanya menghabiskan setengah
kecil) sampai 2/3 dari porsi biasanya
2 Minum Anak minum air mineral, Anak malas untuk minum
minuman warung, dan ASI
3 Tidur Nyenyak Kurang nyenyak dan sering
terbangun
4 Mandi Dibantu orang tua Dibantu orang tua
5 Eliminasi Dibantu orang tua Dibantu orang tua
6 Bermain Bermain dengan teman sebaya Bermain dengan teman sebaya
dan lebih tua di sekitar rumah dan lebih tua di rumah saja,
pada saat hidung tersumbat
anak reweh dan tidak ingin
bermain

XVI. RINGKASAN RIWAYAT KEPERAWATAN


(Berisikan tentang alasan masuk RS, identitas klien, BB dan TB, TTV, semua data/ pengkajian yang
abnormal/data fokus dan nantinya akan dimasukkan sebagai DO dan DS)

39
XVII. ANALISIS DATA (minimal 3 masalah keperawatan)
No. Data Patofisiologi Masalah
DO : Sekresi yang tertahan Ketidakefektifan bersihan
- An.H tampak gelisah jalan napas
- An.H batuk namun tidak efektif
dalam mengeluarkan sputum
- Rhonki +/+
- Adanya otot bantu nafas
- RR : 30x/i
DS:
- Ibu pasien mengatakan anak gelisah
dan rewel apabila cairan yang di
hidung menutupi rongga hidungnya
- Ibu pasien mengatakan anak batuk
namun sulit untuk mengeluarkan
dahak
- Ibu pasien mengatakan secret selalu
penuh pada pagi hari
DO : Gejala terkait penyakit Gangguan Rasa Nyaman
- An. H Rewel
- An.H sering menangis dan terlihat
tidak nyaman dengan hidungnya
- An.H sering menyeka hidung dengan
menggunakan tangannya
- Terdapat secret putih kental pada
hidung An.H
- Terkadang An.H merintih
DS :
- Ibu pasien mengatakan anak rewel
dan tidak bisa tenang
- Ibu pasien mengatakan anak sulit
tidur, tidur tidak nyenyak dan sering
terbangun
- Ibu pasien mengatakan anak lebih
sering menagis dan tidak mau
ditinggaloleh orang tuanya
DO : Gangguan psikologis Ketidakseimbangan
- BB : 10 kg Faktor biologis nutrisi : kurang dari
- TB: 83cm kebutuhan tubuh
- Anak tampak lemas
- Anak tampak gelisah
- Anak tidak menghabiskan porsi
makan seperti biasanya
- Anak rewel
DS:
- Ibu mengatakan anak tidak
menghasbiskan porsi makannya,
porsi yang diberikan seperti biasanya
40
- Ibu mengatakan anak lemas dan
rewel
- Ibu mengatakan anak malas untuk
minum

DO : Respon iflamasi mukosa Risiko Infeksi


- TTV: hidung
TD: 90/60 mmHg,
RR: 30x/menit,
suhu : 36,70C,
Nadi 104x/menit
- Ada (terdapat lendir putih, terkadang
serumen bening)
- Mukosa hidung memerah
DS :
- Ibu mengatakan Anak rewel
- ibu pasien mengatakan anak
terkadang deman namun demam
biasanya muncul pada pagi hari
menjelang malam
- demam muncul hanya sebentar tak
lebih dari 30menit dan turun apabila
anak diberikan minum
- ibu mengatakan anak gelisah apabila
terasa pileknya sudah menyumbat
rongga hidung

41
XVIII. DIAGNOSIS KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS (NANDA)

XIX. ASUHAN KEPERAWATAN

Hari/
Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
tanggal
Selasa- 00031 0410 3250
Kamis Ketidakefektifan bersihan Kepatenan Jalan Nafas Peningkatan (Manajemen) Batuk
10-12 jalan nafas Definisi : Aktivitas-aktivitas :
Novembe Definisi: Ketidakmampuan saluran trakeobronkial yang terbuka dan lancer untuk  Dukung pasien menarik nafas dalam beberapa kali
pertukaran udara  Dukung pasien untuk melakukan nafas dalam, tahan
r 2020 membersihkan sekresi atau
Kriteria Hasil : selama 2 detik, bungkukkan ke depan, tahan 2 detik
obstruksi dari saluran nafas untuk 1 = Deviasi berat dari kisaran normal,
mempertahankan bersihan jalan 5 = Tidak ada deviasi dari kisaran normal dan batukkan 2-3 kali
nafas  Minta pasien untuk menarik nafas dalam beberapa kali,
Indicator :
keluarkan perlahan dan batukkan di akhir ekshalasi
Kemampuan untuk mengeluarkan secret [penghembusan]
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5  Lakukakn teknik ‘chest wall rib spring’ selama fase
ekspirasi melalui maneuver batuk, sesuai dengan
1 = Sangat berat, 5 = Tidak ada
kebutuhan
Suara nafas tambahan
 Dampingi pasien menggunakan bantal atau selimut
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5 yang dilipat untuk menahan perut saat batuk
Penggunaan otot bantu nafas
Dipertahankan pada 4 ditingkatkan ke 5 Manajemen Jalan Nafas
Batuk Aktivitas-Aktivitas:
Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4  Buang secret dengan memotivasi pasien untuk
Akumulasi sputum melakukan batuk atau menyedot Lendir
Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4  Instruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk
efektif
 Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya
menurun atau tidazk ada dan adanya suara tambahan

Fisioterapi Dada

42
Aktivitas-aktivitas :
 Kenali ada tidaknya kontraindikasi dilakukannya
fisioterapi dada pada pasien
 Lakukan fisioterapi dada minimal dua jam setelah
makan
 Tentukan segmen paru yang mana berisi sekret
berlebih
 Anjurkan untuk batuk selama dan setelah
tindakan
Selasa- 00214 2010 5820
Kamis Gangguan Rasa Nyaman Status kenyamanan : Fisik Pengurangan kecemasan
10-12 Definisi : Merasa kurang Definisi : kenyamanan fisik yang berkaitan dengan Aktivitas :
Novembe nyaman, lega dan sempurna sensasi tubuh dan mekanisma homeostatis  Pahami situasi krisis yang terjadi pada perspektif
r 2020 dalam dimensi fisik, Skala outcome klien
psikospiritual, lingkungan, 1 = sangat terganggu  Berikan informasi factual terhadap diagnosis,
budaya, dan/atau sosial. 5 = tidak terganggu perawatan, prognosis
Indicator :  Dorong keluarga untuk mendampingi klien
Kontol terhadap gejala dengan cara yang tepat
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 4  Ciptakan atmosfer rasa aman untuk memberikan
Intake cairan kenyamanan
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5  Dorong verbalisasi perasaan persepsi ketakutan
Intake makanan  Dukung pengunaan mekanisme koping yang
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5 sesuai
Suhu tubuh
 Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan
Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 5
5440
1608
Peningkata system dukungan
Kontrol gejala
Aktivitas :
Definisi : tindakan seseorang unuk mengurangi
 Identifikasi respon psikologis terhadap situasi dan
perubahan fungsi fisik dan emosi yang dirasakan
ketersediaan system dukungan
Skalaoutcome
1 = tidak pernah menunjukkan  Identifikasi tingkat dukungan keluarga, dukungan
keuangan, dan sumber daya lainnya
43
5 = secara konsisten menunjukkan  Tentukan hambatan terhadap system dukungan
Indicator : yang tidak terpakai dan dukungan yang
Memantau munculnya gejala, lama bertahannya gejala, dimanfaatkan
keparahan gejala, frekuensi gejala  Sediakan layanan dengan sikap peduli dan
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5 mendukung
Melakukan tindakan pencegahan  Identifikasi sumber daya yag tersedia terkait
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 4 dukungan pemberi perawatan
Melakukan tindakan untuk mengurangi gejala
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 4 6828
Mendapatkan perawatan kesehatan ketika gejala yang Peningkatan tidur
berbahaya muncul
 Tentukan pola tidur /aktivitas pasien
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5
 Perkirakan tidur/siklus bangun pasien di dalam
Melaporkan gejala yang dapat dikontrol
perawatan perencanaan
Dipertahankan pada 4 ditingkatkan ke 5  Monitor atau catat pola tidur pasien dan jumlah jam
tidur
0004  Monitor makanan sebelum tidur dan intake
Tidur minuman yang dapat memfasilitasi /menganggu
Definisi : periode alami mengistirahatkan kesadaran tidur
dalam memulihkan tubuh  Atur rangsangan lingkungan untuk
Skala outcome : mempertahankan siklus siang dan malam yang
1 = sangat terganggu normal
5 = tidak terganggu  Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai
Indicator : teknik untuk meningkat kan Tidur
Kualitas tidur
Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4
Tidur dari awal sampai habis di malam hari secara
konsisten
Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4
Selasa- 00002 1009 1100
Kamis Ketidakseimbangan nutrisi : Status nutrisi : asupan nutrisi Manajemen nutrisi
10-12 kurang dari kebutuhan tubuh Definisi :Asupan gizi untuk memenuhi kebutuhan- Definisi : Menyediakan dan meningkatkan intake
Novembe Definisi: Asupan nutrisi tidak kebutuhan metabolic nutrisi yang seimbang
r 2020 cukup untuk memenuhi Aktivitas :
44
kebutuhan metabolik 1 = tidak adekuat  Tentukan status nutrisi gizi pasien dan kemampuan
5 = sepenuhnya adekuat pemenuhan kebutuhan gizi
 Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan
Skala outcome : yang dimiliki pasien
Asupan Kalori  Berikan pilihan makanan yang lebih sehat, jika
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5 diperlukan
Asupan protein  Pastikan makanan di sajikan dengan keadaan yang
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5 menarik
Asupan karbohidrat  Anjurkan keluarga membawa makanan favorit
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5  Bantu pasien membuka kemasan makanan
Asupan serat
 Tawarkan makanan ringan padat gizi
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5
 Monitor kecenderungan terjadinya penurunan BB
Asupan vitamin
Dipertahankan pada 4 ditingkatkan ke  Dorong bagaimana cara menyiapkan makanan
Asupan mineral  Bantu psien mengakses program gizi
Dipertahankan pada 2 ditingkatkan ke 4  Berikan arahan

00004 0703 6540


Risiko Infeksi Keparahan infeksi Kontrol infeksi
Definisi : Definisi : Aktivitas :
Rentan mengalami invasi dan Keparahan tanda dan gejala infeksi  Bersihkan lingkungan dengan baik
multiplikasi organisme 1 = berat  Ajarkan cara mencuci tangan
patogenik yang dapat 5 = tidak ada  Anjurkan pasien dan keluarga mengenai teknik
mengganggu kesehatan Skala outcome : mencuci tangan yang tepat
Demam  Lakukan tindakan pencegahan
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5  Gosok kulit pasien dengan sabun antibakteri
Ÿ Ketidakstabilan suhu  Dorong batuk dn bernafasa dalam yang tepat
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5
 Tingkatkan intake nutrisi
Hilang nafsu makan
 Dorong inteke cairan yang sesuai
Dipertahankan pada 3 ditingkatkan ke 5
Kolonisasi kultur sputum  Berikan imunisasi sesuai
Dipertahankan pada 4 ditingkatkan ke 5  Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara peghindaran infeksi
45
0802  Promosikan pengawetan dan persiapan makanan
Tanda-tanda vital
Definisi : Vital Sign Monitoring
Tingkat suhu, denyut nadi, respirasi, dan tekanan darah Aktifitas:
berada dalam kisaran normal - Monitor TD, nadi Suhu dan RR
Skala outcome - Monitor frekuensi dan irama pernafasan
1 = deviasi kisaran normal - Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit.
5 = tidak ada deviasi
Suhu tubuh
Dipertahankan pada 4 ditingkatkan ke 5
Tingkat pernapasan
Dipertahankan pada 4 ditingkatkan ke 5

46
XX. CATATAN PERKEMBANGAN
No Hari/ Paraf
Dx. Tanggal Implementasi Evaluasi
Perawat
1 Selasa/10-11-  Auskultasi suara nafas, S: ibu pasien mengatakan saat
2020 catat area yang bernapas ada suara berat yang
ventilasinya menurun berasal dari tenggorokan
atau tidak ada dan O: rhonki +/+
adanya suara tambahan A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan dengan
pemberian manajemen batuk (batuk
efektif atau fisioterapi dada)
4  Monitor TD, nadi Suhu S: ibu pasien mengatakan anak
dan RR terkadang deman namun demam
 Monitor frekuensi dan biasanya muncul pada pagi hari
irama pernafasan menjelang malam, namun demam
munculhanya sebentar tak lebih
 Monitor suhu, warna, dari 30menit dan turun apabila
dan kelembaban kulit. anak diberikan minum, ibu
mengatakan anak kadang sulit
bernapas
O: pernapasan anak terhambat
akibat adanya sekret pada rongga
hidung, anak terlihat ingin batuk
namun secret tidak ada, suhu anak
36,7 C, RR: 30x/i, irama
pernapasan cepat, kulit lembab
A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan dengan
pemberian intervesi batuk efektif
dan atau fisioterapi dada, serta
monitor kembali TTV
1  Lakukan fisioterapi dada S : ibu pasien mengatakan anak
minimal dua jam setelah terlihat lebih tenang saat dilakukan
makan fisioterapi dada
O: segmen paru yang berisisekret
 Tentukan segmen paru
yang mana berisi sekret adalah segmen kanan, pasien
berlebih tampak membatukkan pada saat
 Anjurkan untuk batuk selesai fisioterapi,pasien
selama dan setelah mengeluarkan sekretnya, pasien
tindakan terlihat nyaman saat sekret keluar
A: masalah mulai teratasi
P :intervensidi lanjutkan monitor
pernapasan dan jalan napas apabila
masih terdapat secret

2  Berikan informasi S : Orangtua pasien mengatakan


factual terhadap sudah paham terhadap informasi
diagnosis, perawatan, yang diberikanperawat
prognosis O : Orangtua pasien terlihat
 Dorong keluarga untuk pahamdandapat mengulangi
47
mendampingi klien penjelasan perawat tentang
dengan cara yang tepat Memantau munculnya gejala, lama
bertahannya gejala, keparahan
gejala, frekuensi gejala, cara
Melakukan tindakan pencegahan,
dancara Melakukan tindakan untuk
mengurangi gejala
A : masalah mulai teratasi
P : intervensi dilanjutkan dengan
mengontrol gejala dan
melaporkannya
2  Perkirakan tidur/siklus S:orang tua pasien mengatakan
bangun pasien di dalam pasien tidur malam pukul setengah
perawatan perencanaan 10 atau jam 10, saat sakit mudah
 Monitor atau catat pola terbangun dan rewel
tidur pasien dan jumlah O: pola tidur pasien menjadi
jam tidur terganggu karna adanya sekret
yang menjadikan tidak nyaman
saat istirahat, perkiraan tidur
pasien dalam perencanaan mampu
mencapai tidur dengan nyamandan
tidak terbangun
A: masalah belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan dengan
peningkatan tidur dan merangsang
lingkungan agar lebih nyaman
1 Rabu, 11-11-  Auskultasi suara nafas, S: ibu pasien mengatakan saat
2020 catat area yang anak sudah tidak kesulitan saat
ventilasinya menurun mengeluarkan sekret dan tidak ada
atau tidak ada dan adanya suara berat pada daerah
suara tambahan tenggorokan
O: suara ronkhi sudah tidak ada
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan
4  Monitor TD, nadi Suhu S: ibu pasien mengatakan anak
dan RR terasa demam ringan tadi malam
 Monitor frekuensi dan dan turun apabila saat diberikan
irama pernafasan minum dan obat penurun demam
sirup, anak masih kesulitan untuk
 Monitor suhu, warna, mengeluarkan sekret batuk namun
dan kelembaban kulit. tak separah kemarin sebelum
pemberian terapi fisioterapi dada
O: anak terlihat ingin batuk namun
secret masih sulit untuk keluar,
suhu anak 36,5 C, RR: 28x/i,
irama pernapasan mulai normal,
kulit lembab
A: masalah mulai teratasi
P: intervensi dilanjutkan dengan
pemberian intervesi batuk efektif

48
monitor kembali TTV
2  Dorong keluarga untuk S : Orangtua pasien melaporkan
mendampingi klien tanda gejala yang masih muncul
dengan cara yang tepat pada anak (batuk dan demam),
 Dorong verbalisasi orang tua mengatakan batuk
perasaan persepsi berkurang dan ia merasa senang
ketakutan anaknya mulai pulih, orang tua
 Dukung pengunaan mengatakan tetap semangat
mekanisme koping melakukan pemantauan dan
yang sesuai tindakan pencegahan gejala
O : Orangtua pasien menjelaskan
gejala demamyang muncul
langsung ditangani dengan
pemberian kompres hangat, serta
untuk batuk orang tua melakukan
yang dilakukan perawat
A : masalah teratasi
P : intervensi dilanjutkan dengan
menitor batuk dan pilek pasien
1  Dukung pasien menarik S: ibu pasien mengatakan belum
nafas dalam beberapa pernah mencobakan batuk secara
kali efektifkepada anaknya, ibu
 Dukung pasien untuk mengatakan setelah diberi
melakukan nafas dalam, penjelasan ibu paham dan akan
tahan selama 2 detik, melakukan kegiatan yg sama agar
bungkukkan ke depan, anak dapat mengeluarkan
tahan 2 detik dan sekretnya
batukkan 2-3 kali
O: anak mau mengikuti yang
dicontohkan perawat dengan
bantuan ibu pasien,pasien mampu
membatukkan dan mengeluarkan
sekretnya
A: masalah mulai teratasi
P: intervensidilanjutkan monitor
kegiatan batuk efektif
2  Atur rangsangan S: orang tua mengatakan anak
lingkungan untuk lebih suka tidur dikamar kakaknya
mempertahankan siklus karena keadaan kamar yang terang
siang dan malam yang dan ventilasi udara yang baik,
normal anak diajak untuk tidur dikamar
 Diskusikan dengan tersebut agar tidurnya lebih pulas,
pasien dan keluarga orang tua mengatakan paham cara
mengenai teknik untuk meningkatkan tidur anak
meningkat kan Tidur
O: orang tua tampakpaham dan
mempertahankan lingkungan yang
nyaman untuk tidur anaknya
A: masalah mulai teratasi
P: intervensi dilanjutkan dengan
monitor hasil intervensi saat ini

49
3  Identifikasi adanya S: orang tua mengatakan anaknya
alergi atau intoleransi tidak bisa makan telur puyuh, anak
makanan yang dimiliki biasanya makan bubur dan sayur,
pasien orang tua mengatakan akan
 Berikan pilihan memodifikasi tampilan makan
makanan yang lebih agar anak mau untuk makan dan
sehat, jika diperlukan mengembalikan nafsu makan anak
 Pastikan makanan di O: orang tua tampak paham,
sajikan dengan terlihat anak makan disuapi orang
keadaan yang menarik tua dengan bubur yang dicampur
dengan wortel dan brokoli
A: masalah mulai teratasi
P:monitor hasil modifikasi
penyajian makanan dan
melanjutkan intervensi
4  Bersihkan lingkungan S: orang tua mengatakan
dengan baik mempertahankan kebersihan
 Anjurkan pasien dan rumah, orang tua mengatakandapat
keluarga mengenai menirukan cuci tangan yang benar,
teknik mencuci tangan orang tua mengatakan menjauhkan
yang tepat anaknya dari lingkungan yang
 Lakukan tindakan dapat memerburuk keadaan
pencegahan anaknya seperti anak lebih diawasi
saat bermain
O: orang tua tampakmengikuti
sesuai intruksi perawat cara cuci
tangan, dan tampak paham
A: masalah mulai teratasi
P: monitor kegiatan cuci tangan
4 Kamis,12-11-  Monitor TD, nadi Suhu S: ibu pasien mengatakan anak
2020 dan RR tidak adademam lagi sejak
 Monitor frekuensi dan kemarin anak sudah dapat
irama pernafasan bernapas normal, anak sudah bisa
bermain dengan temannya lagi di
 Monitor suhu, warna, halaman rumah
dan kelembaban kulit. O: pernapasan anak normal, anak
tidak kesulitan bernapas, anak
sudah tidak gelisah, anak terlihat
sudah tidakbatuk, suhu anak 36,5
C, RR: 28x/i, irama pernapasan
normal, kulit lembab, anak tidak
pucat
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan
1  Dukung pasien menarik S: ibu melakukan kegiatan yg
nafas dalam beberapa sama sesering mungkin agar anak
kali dapat mengeluarkan sekretnya,
 Dukung pasien untuk dan ibu mengatakan anak tidak
melakukan nafas dalam, batuk lagi
tahan selama 2 detik, O: , anak tidak kesulitan bernapas,
bungkukkan ke depan,
50
tahan 2 detik dan anak sudah tidak gelisah, anak
batukkan 2-3 kali terlihat sudah tidak batuk
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan
2  Atur rangsangan S: orang tua mengatakan anak
lingkungan untuk terlihat lebih segar setelah
mempertahankan siklus dipertahankan untuktidur di
siang dan malam yang ruangan yang sama dengan apa
normal yang dia inginkan
O: orang tua tampak paham dan
mempertahankan lingkungan yang
nyaman untuk tidur anaknya
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan

3  Pastikan makanan di S: orang tua mengatakan


sajikan dengan makandengan lahap saat diberikan
keadaan yang menarik tampilanyang menarik
O: orang tua tampak paham,
terlihat anak makan disuapi orang
tua dan habis
A: masalah teratasi
P:intervensi dilanjutkan
3  Tawarkan makanan S: orang tua mengatakan makanan
ringan padat gizi cemilankesukaananaknya kue,anak
makan roti biasanya dihabiskan
O: anak tampak diberikan roti
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak
dilanjutkan

4  Anjurkan pasien dan S: orang tua mengatakan


keluarga mengenai mempertahankan cuci tangan yang
teknik mencuci tangan dan mengajarkan anaknya cuci
yang tepat tangan setelah dan sebelum
kegiatan
O: orang tua tampakmengikuti
sesuai intruksi perawat cara cuci
tangan, dan tampak paham
A: masalah teratasi
P: intervensi tidak dilanjutkan

51
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap proses mengumpulkan data yang relevan dan

continue tentang respon manusia, status kesehatan, kekuatan dan masalah pasien.

Tujuan dari pengkajian adalah untuk memproses informasi tentang keadaan

kesehatan pasien, menentukan masalah keperawatan dan kesehatan pasien,

menilai keadaan kesehatan pasien, membuat keputusan yang tepat dalam

menentukan langkah-langkah berikutnya (Potter&Perry, 2006). Saat dilakukan

pengkajian keluhan utama yang dirasakan pasien adalah Ibu mengeluhkan anak

batuk dan pilek, anak rewel dan gelisah apabila terasa pileknya sudh menyumbat

rongga hidung, anak tidak nyenyak tidur, susah makan, dan demam ringan yang

sering terjadi pada malam hari anak tampak sedikit lemas dan terkadang terlikat

menyeka hidungnya menggunakan tangan dan sesekali batuk berdahak. Pada

pasien yang mengalami Common Cold menimbulkan gejala umumnya seperti

pilek, batuk sedikit dan kadang- kadang bersin. Keluar sekret yang cair dan jernih

dari hidung. Bila terjadi infeksi sekunder oleh kokus seket menjadi kental dan

purulen. Sekret ini sangat menggangu anak. Sumbatan hidung menyebabkan anak

bernafas dari mulut dan mengakibatkannya gelisah. Pada anak yang lebih besar

kadang-kadang didapatkan keluhan nyeri otot dan pusing.

Gejala mulai timbul dalam waktu 1-3 hari setelah terinfeksi.

biasanya gejala awal berupa: rasa tidak enak di hidung, rasa tidak enak di

tenggorokan, bersin-bersin, tenggorokan gatal, hidung meler (pengeluaran


bersifat cair dan bening) dan tersumbat, batuk, suara serak, cemas, sakit kepala,

demam (biasanya ringan, tidak lebih dari 380c), dan sesak nafas.

Dari teori diatas, pada kasus An. A mengalami demam ringan pada sore

dan malam hari yang tidak lebh dari 30 menit, namun dapat ditangani dengan

memberikan air minum pada anak dan memberikan sirup pereda panas. Menurut

teori biasanya tidak timbul demam, tetapi demam yang ringan bisa muncul pada

saat terjadinya gejala.Hidung mengeluarkan cairan yang encer dan jernih dan

pada hari-hari pertama jumlahnya sangat banyak sehingga mengganggu

penderita. Selanjutnya sekret hidung menjadi lebih kental, berwarna kuning-

hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak.Gejala biasanya akan menghilang

dalam waktu 4-10 hari, meskipun batuk dengan atau tanpa dahak seringkali

berlangsung sampai minggu kedua.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis tentang respon

individu, keluarga atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang actual dan

potensial atau proses kehidupan. Tujuannya adalah mengarahkan rencana

asuhan keperawatan untuk membantu klien dan keluarga beradaptasi terhadap

penyakit dan menghilangkan masalah keperawatan kesehatan (Potter&Perry,

2006).

Masalah keperawatan yang ditegakkan sesuai kasus An.H yang pertama

adalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Alasannya mengacu pada data

pengkajian data subjektif dari orang tua pasien, antara lain Ibu pasien

mengatakan anak gelisah dan rewel apabila cairan yang di hidung menutupi

rongga hidungnya, Ibu pasien mengatakan anak batuk namun sulit untuk
53
mengeluarkan dahak, Ibu pasien mengatakan secret selalu penuh pada pagi hari.

Batasan karakteristik penurunan curah jantung sendiri menurut NANDA (2018)

yaitu berhubungan dengan sekresi yang tertahan. Data objektif yang didapatkan

pada pasien adalah tampak gelisah, batuk namun tidak efektif dalam

mengeluarkan sputum, terdengar bunyi Rhonki +/+, Adanya otot bantu nafas,

danjumlah pernapasan dalam1 menit sebanyak 30x/i.

Diagnosa prioritas kedua adalah gangguan rasa nyaman berhubungan

dengan gejala terkaitt penyakit. Gangguan rasa nyaman adalah merasa kurang

nyaman, lega dan sempurna dalam dimensi fisik, psikospiritual, lingkungan,

budaya, dan/atau sosial. (NANDA, 2018). Alasan mengangkat gangguan rasa

nyaman mengacu pada data pengkajian yaitu data subjektif Ibu pasien

mengatakan anak rewel dan tidak bisa tenang, Ibu pasien mengatakan anak sulit

tidur, tidur tidak nyenyak dan sering terbangun, Ibu pasien mengatakan anak

lebih sering menagis dan tidak mau ditinggaloleh orang tuanya . Data

objektifnya An. H Rewel, An.H sering menangis dan terlihat tidak nyaman

dengan hidungnya, An.H sering menyeka hidung dengan menggunakan

tangannya, Terdapat secret putih kental pada hidung An.H, Terkadang An.H

merintih.

Diagnosa prioritas ketiga adalah ketidakefektifan nutrisi : kurang dari

kebutuhan tubuh. Alasan megangkat diagnosa ini yaitu dengan adanya data

subjektif antara lain Ibu mengatakan anak tidak menghasbiskan porsi makannya,

porsi yang diberikan seperti biasanya, Ibu mengatakan anak lemas dan rewel,

Ibu mengatakan anak malas untuk minum. Data objektifnya adalah BB : 10 kg,

54
TB: 83cm, Anak tampak lemas, Anak tampak gelisah, Anak tidak menghabiskan

porsi makan seperti biasanya, dan Anak rewel.

Diagnosa prioritas keempat yaitu resiko infeksi berhubungan dengan.

Resiko infeksi adalah rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme

patogenik yang dapat mengganggu kesehatan (NANDA, 2018). Alasan

mengangkat masalah risiko infeksi, mengacu pada data pengkajian subjektif

antara lain ibu mengatakan anak rewel, ibu pasien mengatakan anak terkadang

deman namun demam biasanya muncul pada pagi hari menjelang malam,

demam muncul hanya sebentar tak lebih dari 30 menit dan turun apabila anak

diberikan minum, ibu mengatakan anak gelisah apabila terasa pileknya sudah

menyumbat rongga hidung. Data objektif diperoleh TTV pasien : TD: 90/60

mmhg, rr: 30x/menit, suhu : 36,70c, nadi 104x/menit, ada (terdapat lendir putih,

terkadang serumen bening), dan mukosa hidung memerah.

C. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan adalah suatu proses di dalam pemecahan masalah yang

merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana

dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan

keperawatan. Pembahasan dari intervensi yang meliputi tujuan, kriteria hasil dan

tindakan yaitu pada diagnose keperawatan (Dermawan, 2012).

Intervensi yang akan dilakukan pada diagnosa ketidakefektifan bersihan

jalan nafas berhubungan dengan sekresi yang berlebihan adalah peningkatan

manajemen batuk, manajemen jalan nafas, dan fisioterapi dada. Dengan kriteria

hasil yang diaharapkan yaitu pasien dapat meningkakan kemampuan untuk

mengeluarkan secret, tidak ada Suara nafas tambahan, Penggunaan otot bantu
55
nafas, Batuk berkurang dan hilang Akumulasi sputum baik dan sputum dapat

keluar. Salah satu intervensi yang mudah diberikan pada anak dan keluarga

adalah tindakan batuk efektif. Batuk efektif merupakan batuk yang dilakukan

dengan sengaja. Namun dibandingkan dengan batuk biasa, batuk efektif

dilakukan melalui gerakan yang terencana atau dilatih terlebih dahulu, sehingga

menghambat berbagai penghalang atau menghilangkan penutup saluran

pernapasan. Teknik batuk efektif akan memberikan banyak manfaat, diantaranya

untuk melonggarkan dan melegakan saluran pernapasan maupun mengatasi

sesak napas akibat adanya lendir yang memenuhi saluran pernapasan. Lendir

baik dalam bentuk dahak (sputum) maupun sekret dalam hidung, timbul akibat

adanya infeksi pada saluran pernapasan maupun karena sejumlah penyakit yang

diderita oleh seorang individu.

Intervensi yang dilakukan pada diagnosa gangguan rasa nyaman adalah

pengurangan kecemasan dengan kriteria hasil yang darapkan mampu mengontol

terhadap gejala yang timbul, mampu mempertahankan intake cairan dan intake

makanan, mampu mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal.

peningkatan system dukungan dengan kriteria hasil yang darapkan mampu

memantau munculnya gejala, lama bertahannya gejala, keparahan gejala,

frekuensi gejala, dapat melakukan tindakan pencegahan, dapat melakukan

tindakan untuk mengurangi gejala , memastikan mendapatkan perawatan

kesehatan ketika gejala yang berbahaya muncul , dan mampu melaporkan gejala

yang dapat dikontrol. Tidur dengan kriteria hasil yang darapkan mampu

meningkatkan kualitas tidur, mampu mempertahankan tidur dari awal sampai

habis di malam hari secara konsisten.


56
Intervensi yang dilakukan pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh adalah manajemen nutrisi. Manajemen nutrisi

adalah asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic

sehingga kiteria hasil yang diharapkan yaitu mampu mempertahankan

keadekuatan Asupan Kalori, protein, karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral

pada anak.

Intervensi yang dilakukan pada diagnosa risiko infeksi adalah control

infeksi. Dengan kiteria hasil yang diharapkan yaitu anka tidak demam lagi

demam, ksuhu stabil, tidak ada lagi kehilang nafsu makan, tidak ada kolonisasi

kultur sputum, mempertahankan suhu tubuh dan tingkat pernapasan dalam

kisaran normal.

D. Implementasi keperawatan

Implementasi adalah serangkaian pelaksanaan rencana tindakan

keperawatan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan

yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baikyang menggambarkan kriteria

hasil dalam rentang yang diharapkan (Potter & Perry, 2006).

Tindakan yang dilakukan pada diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan

nafas berhubungan dengan sekresi yang berlebihan yaitu auskultasi suara nafas,

catat area yang ventilasinya menurun atau tidak ada dan adanya suara tambahan,

lakukan fisioterapi dada minimal dua jam setelah makan, tentukan segmen paru

yang mana berisi sekret berlebih, anjurkan untuk batuk selama dan setelah

tindakan, dukung pasien menarik nafas dalam beberapa kali, dan dukung pasien

untuk melakukan nafas dalam, tahan selama 2 detik, bungkukkan ke depan,

tahan 2 detik dan batukkan 2-3 kali


57
Tindakan yang dilakukan pada diagnosa gangguan rasa nyaman yaitu

berikan informasi factual terhadap diagnosis, perawatan, prognosis, dorong

keluarga untuk mendampingi klien dengan cara yang tepat, perkirakan

tidur/siklus bangun pasien di dalam perawatan perencanaan, monitor atau catat

pola tidur pasien dan jumlah jam tidur, dorong keluarga untuk mendampingi

klien dengan cara yang tepat, dorong verbalisasi perasaan persepsi ketakutan,

dukung pengunaan mekanisme koping yang sesuai, atur rangsangan lingkungan

untuk mempertahankan siklus siang dan malam yang normal, dan diskusikan

dengan pasien dan keluarga mengenai teknik untuk meningkat kan tidur.

Tindakan yang dilakukan pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh yaitu identifikasi adanya alergi atau intoleransi

makanan yang dimiliki pasien, berikan pilihan makanan yang lebih sehat, jika

diperlukan, pastikan makanan di sajikan dengan keadaan yang menarik dan

tawarkan makanan ringan padat gizi.

Tindakan yang dilakukan pada risiko infeksi yaitu monitor TD, nadi suhu

dan rr, monitor frekuensi dan irama pernafasan, monitor suhu, warna, dan

kelembaban kulit, bersihkan lingkungan dengan baik, anjurkan pasien dan

keluarga mengenai teknik mencuci tangan yang tepat, lakukan tindakan

pencegahan dan anjurkan pasien dan keluarga mengenai teknik mencuci tangan

yang tepat.

E. Evaluasi Keperawatan

Tahap yang terakhir dalam proses keperawatan yaitu evaluasi tindakan.

Dimana evaluasi keperawatan adalah proses keperawatan mengukur respon

pasien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan pasien ke arah pencapaian


58
tujuan. Perawat mengevaluasi setiap kemajuan dan pemulihan pasien. Evaluasi

merupakan aspek penting proses keperawatan karena kesimpulan yang ditarik

dari evaluasi menentukan apakah intervensi keperawatn harus diakhiri,

dilanjutkan atau diubah (Potter&Perry, 2006). Evaluasi adalah membandingkan

suatu hasil atau perbuatan dengan standar untuk tujuan pengambilan keputusan

yang tepat sejauh mana tujuan tercapai. Evaluasi yang akan dilakukan sesuai

dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat

dilaksanakan dengan SOAP, subjective, objective, analisa, planning.

(Dermawan, 2012).

Evaluasi terakhir dilakukan pada tanggal 12 November 2020, dengan

hasil pada diagnosa pertama ibu melakukan kegiatan yg sama sesering mungkin

agar anak dapat mengeluarkan sekretnya, dan ibu mengatakan anak tidak batuk

lagi. Pada diagnosa kerusakan gangguan rasa nyaman orang tua mengatakan

anak terlihat lebih segar setelah dipertahankan untuktidur di ruangan yang sama

dengan apa yang dia inginkan, anak tidak kesulitan bernapas, anak sudah tidak

gelisah, anak terlihat sudah tidak batuk, orang tua tampak paham dan

mempertahankan lingkungan yang nyaman untuk tidur anaknya. Selanjutnya

untuk diagnose ketidakseimbangan nutrsi kurang dari kebutuhan tubuh orang tua

mengatakan makandengan lahap saat diberikan tampilanyang menarik, orang tua

mengatakan makanan cemilankesukaananaknya kue,anak makan roti biasanya

dihabiskan, orang tua tampak paham, terlihat anak makan disuapi orang tua dan

habis, dan anak tampak diberikan roti dan dihabiskan. Untuk diagnose terakhir

yaitu risiko infeksi ibu pasien mengatakan anak tidak adademam lagi sejak

kemarin anak sudah dapat bernapas normal, anak sudah bisa bermain dengan
59
temannya lagi di halaman rumah, pernapasan anak normal, anak tidak kesulitan

bernapas, anak sudah tidak gelisah, anak terlihat sudah tidakbatuk, suhu anak

36,5 C, RR: 28x/i, irama pernapasan normal, kulit lembab, anak tidak pucat,

orang tua mengatakan mempertahankan cuci tangan yang dan mengajarkan

anaknya cuci tangan setelah dan sebelum kegiatan, orang tua tampakmengikuti

sesuai intruksi perawat cara cuci tangan, dan tampak paham.

60
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengkajian

Hasil pengkajian yang didapatkan bahwa Ibu mengeluhkan anak

batuk dan pilek, anak rewel dan gelisah apabila terasa pileknya sudh

menyumbat rongga hidung, anak tidak nyenyak tidur, susah makan,

dan demam ringan yang sering terjadi pada malam hari anak tampak

sedikit lemas dan terkadang terlikat menyeka hidungnya

menggunakan tangan dan sesekali batuk berdahak.

2. Diagnosa Keperawatan

Dignosa keperawatan pada kasus diatas ketidakefektifan

bersihanjalan nafas berhubungan dengan sekresi yang tertahan,

gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit,

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, dan resiko

infeksi.

3. Intervensi Keperawatan

Intervensi yang diangkat pada diagnosa ketidakefektifan

bersihanjalan nafas berhubungan dengan sekresi yang tertahan adalah

peningkatan manajemen batuk, manajemen jalan nafas, dan fisioterapi

dada. Pada diagnosa gangguan rasa nyaman berhubungan dengan

gejala terkait penyakit intervensi yang diberikan adalah pengurangan

61
kecemasan, peningkatan system dukungan,dan peningkatan tidur.

Intervesi yang diberikan untuk diagnosa ketidakseimbangan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh adalah manajemen nutrisi, dan pada

diagnosa risiko infeksi adalah control infeksi.

4. Implementasi Keperawatan

Semua tindakan keperawatan sudah dilakukan sesuai dengan

rencana keperawatan yang disusun. Masalah keperawatan sudah

teratasi secara keseluruhan. Namun, orang tua tetapkan dianjurkan

balik ke pelayanan kesehatan terdekat apabila anak mengalami

kejadian yang sama ataupun lebih parah.

5. Evaluasi keperawatan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, hasil evaluasi yang

didapatkan pasien telah mulai kembali keatifitas semula, anak kembali

bermain dengan teman sebaya, dan anak sudah tidaklagi rewel dan

merasakan demam.

B. Saran

1. Bagi Penulis

Setelah melakukan tindakan keperawatan pada pasien dan keluarga

dengan batuk dan pilek diharapkan penulis dapat lebih mengetahui dan

menambah wawasan tentang cara pemeberian asuhan keperawatan

kepada pasien dan keluarga dengan keluhan batuk dan pilek.

2. Bagi Institusi Pendidikan

62
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang

lebih berkualitas sehingga menghasilkan perawat yang profesional,

terampil, inovatif dan bermutu dalam memberikan asuhan keperawatan

secara komprehensif berdasarkan ilmu dan kode etik keperawatan.

63
DAFTAR PUSTAKA

Ngastiyah,2003.Perawatan Anak Sakit edisi 2.EGC:Jakarta

Sacharing, Rosa M.1996.Prinsip Keperawatan Pediatrik.Jakarta:EGC

Sheila S.R dan Taylor Cyntia M.2003.Diagnosa Keperawatan dengan Rencana

Asuhan.Jakarta:EGC

Diagnosa Keperawatan : Definisi Keperawatan 2018-2020. Jakarta: EGC

NIC. (2016). Nursing Interventions Classification. Edisi keenam.

NOC. (2016). Nursing Outcomes Classification. Edisi kelima

Potter & Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta. Buku

Kedokteran: EGC

http://askepdangue.blogspot.com/2012/10/askep-dengue.html

http://sauyunankomunika.blogspot.com/2011/05/pilek-penanganan-common-cold-

pada-anak.html

64
Lampiran 1
Format MTBS

65
66
67
TINDAKAN PENGOBATAN
Batuk Bukan Pneumonia
1. Beri pereda tenggorokan dan pereda batuk yang aman
Bahan aman yang dianjurkan:
- ASI eksklusif sampai umur 6 bulan
- Kecap manis atau madu dicampur dengan air jeruk nipis (Madu tidak
dianjurkan untuk anak umur < 1 tahun)
2. Obat yang tidak dianjurkan:
- Semua jenis obat batuk yang dijual bebas yang mengandung atropin,
codein dan derivatnya atau alkohol
- Obat-obatan dekongestan oral dan nasal
3. Nasihati kapan kembali segera
Anak dengan Batuk : Bukan Pneumonia kembali jika :
- Napas cepat
- Sukar bernapas
4. Kunjungan ulang 2 hari jika tidak ada perbaikan
Non endemis malaria dan tidak ada riwayat bepergian ke daerah malaria
1. Beri satu dosis parasetamol untuk demam ≥ 38,5 °C
Setiap 6 jam sampai demam hilang dengan dosis ¼ tablet 500mg, atau 1
tablet 100mg, atau 5ml (1 sdk takar) sirup 120mg/5ml
2. Obati penyebab lain dari demam
3. Nasihati kapan kembali segera
4. Kunjungan ulang 2 hari jika tetap demam
5. Jika demam berlanjut lebih dari 7 hari, RUJUK untuk penilaian lebih
lanjut
Demam mungkin bukan DBD
1. Obati penyebab lain dari demam
2. Beri dosis pertama parasetamol, jika demam tinggi (≥ 38,5 ° C), tidak
boleh golongan salisilat dan ibuprofen
Setiap 6 jam sampai demam hilang dengan dosis ¼ tablet 500mg, atau 1
tablet 100mg, atau 5ml (1 sdk takar) sirup 120mg/5ml
3. Nasihati kapan kembali segera,Jika:
- Ada tanda-tanda perdarahan
- Ujung ekstremitas dingin
- Nyeri uluh hati atau gelisah
- Ada penurunan kesadaran
- Muntah yang terus menerus
- Pada hari ke 3-5 saat suhu turun dan anak tampak lemas
- Kunjungan ulang 2 hari jika tetap demam

68
Gizi baik
1. Jika anak berumur kurang dari 2 tahun, lakukan penilaian pemberian
makan dan nasihati sesuai “Anjuran Makan untuk Anak Sehat Maupun
Sakit”. Bila ada masalah pemberian makan, kunjungan ulang 7 hari
- Menilai Cara Pemberian Makan
Tanyakan tentang cara pemberian makan anak. Bandingkan jawaban ibu
dengan ANJURAN MAKAN UNTUK ANAK SEHAT MAUPUN
SAKIT, Tanyakan :
1) Apakah anak mendapat makanan atau minuman lain?
• Makanan atau minuman apa?
• Berapa kali sehari?
2) Alat apa yang digunakan untuk memberi makan/minum anak?
• Jika anak gizi kurang atau gizi buruk tanpa komplikasi :
• Berapa banyak makanan/minuman yang diberikan kepada anak?
3) Apakah anak mendapat porsi sendiri?
• Siapa yang memberi makan anak dan bagaimana caranya?
• Makanan apa yang tersedia di rumah?
• Selama anak sakit, apakah pemberian makanan berubah? Bila ya,
bagaimana?

- Anjuran makan untuk anak sehat maupun sakit


1) Berikan variasi makanan keluarga, termasuk sumber makanan hewani dan
buah- buahan kaya vitamin A, serta sayuran
2) Berikan setidaknya 1 mangkuk setiap kali makan (250 ml)
3) Berikan 3-4 kali setiap hari
4) Tawari 1-2 kali makanan selingan di antara waktu makan
5) Jika anak menolak makanan baru, tawari untuk mencicipi beberapa kali.
Tunjukkan bahwa Ibu juga menyukai makanan tersebut.
6) Bersabarlah.
7) Bicara pada anak selama memberi makan dan jaga kontak mata dengan
anak.
8) Menasihati Ibu tentang Masalah Pemberian Makan
9) Jika pemberian makan anak tidak sesuai dengan "Anjuran Makan untuk
Anak Sehat Maupun Sakit": Nasihati ibu cara pemberian makan sesuai
kelompok umur anak
10) Jika anak tidak diberi makan secara aktif, nasihati ibu untuk:
11) Duduk di dekat anak, membujuk agar mau makan, jika perlu menyuapi
anak
12) Memberi anak porsi makan yang cukup dengan piring/mangkuk tersendiri
sesuai dengan kelompok umur
13) Memberi makanan kaya gizi yang disukai anak
14) Jika ibu merubah pemberian makan selama anak sakit:
15) Beritahu ibu untuk tidak merubah pemberian makan selama anak saki

69
16) Nasihati ibu untuk memberi makanan sesuai kelompok umur dan kondisi
anak

2. Anjurkan untuk menimbang berat badan anak setiap bulan


Lampiran 2
Grafik WHO-NCHS

70
Lampiran 3

71
Format Peniaian DDST dan Interpretasinya

72
Interpretasi DDST pada An.H
1. Personal sosial
Sudah mampu menyuapi boneka dengan benar »L
Sudah mampu membuka pakaian (celana) » L
Sudah mampu menggunakan sendokdan garpu »L
Sudah mampu membantu membersihkan dirumah (ibu mengatakan An.H
mampu merapikan mainan apabila disuruh) » L
Sudah mampu main bola dengan orang lain/pemeriksa »L
Sudah mampu menyatakan keinginan »L
Sudah mampu tepuk tangan » L
Sudah mampu makan sendiri » L

2. Adaptif-Motorik Halus
Sudah mampu menyusun menara dari 6 kubus » Sedang berkembang
Sudah mampu menyusun menara dari 4 kubus »L
Sudah mampu menyusun menara dari 2 kubus »L
Sudah mampu mencoret-coret »L
Sudah mampu membenturkan 2 kubus »L
Sudah mampu mengambil 1 kubus » L
Sudah mampumemindahkan kubus » L

3. Bahasa
Sudah mampu berbicara dengan dimengerti » L
Sudah mampu menyebutkan kombinasi kata » L
Sudah mampu menyebutkan 3 kata » L
Sudah mampu menyebutkan 2 kata » L
Sudah mampu menyebutkan 1 kata » L
Sudah mampu menyebutkan ayah/ibu secara spesifik » L
Sudah mampu mengoceh dengan lawan bicara »L
Sudah mampu menoleh kea rah sumber suara »L

4. Motorik Kasar
Sudah mampu melemparkan bolakeatas » L
Sudah mampu menlompat kecil » L
Sudah mampu lari » L
Sudah mampu berjalan mundur » L
Sudah mampu berjalan dengan baik » L
Sudah mampu membungkuk dan berdiri » L
Sudah mampu berdiri sendiri » L

Interpretasi hasil tes secara keseluruhan : Normal atau OK

73
Lampiran 4
Grafik CDC

74
75
Lampiran 5
SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Tema : Teknik nafas dalam dan batuk efektif

Sasaran : Orang tua Anak

Hari/tanggal : Selasa/8 Oktober 20013

Waktu : 19.00 – 19.30 WIB (30 menit)

Tempat : Rumah Orang tua aanak

A. Latar Belakang
Batuk merupakan gerakan refleks yang bersifat reaktif terhadap
masuknya benda asing ke dalam saluran pernapasan. Gerakan ini terjadi
atau dilakukan tubuh sebagai mekanisme alamiah untuk melindungi organ
paru-paru. Batuk terjadi sebagai akibat stimulasi mekanik atau kimia pada
nervus aferen pada percabangan bronkus. Batuk secara terkekeh-tekeh
dapat menyebabkan seseorang kehilangan banyak energi, sulit untuk
mengeluarkan dahak dan dapat mengiritasi tenggorokan.

Sebagian besar orang mencari pertolongan medis agar batuk cepat


mereda, sementara itu ada orang yang takut batuknya menjadi penyakit
yang serius. Batuk mempengaruhi interaksi personal dan sosial,
mengganggu tidur dan sering menyebabkan ketidaknyamanan pada
tenggorakan dan dinding dada. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, kita
dapat menggunakan teknik batuk efektif dan pemberian obat pelega batuk.

Batuk efektif merupakan batuk yang dilakukan dengan sengaja.


Namun dibandingkan dengan batuk biasa, batuk efektif dilakukan melalui

76
gerakan yang terencana atau dilatih terlebih dahulu, sehingga menghambat
berbagai penghalang atau menghilangkan penutup saluran pernapasan.

Teknik batuk efektif akan memberikan banyak manfaat, diantaranya


untuk melonggarkan dan melegakan saluran pernapasan maupun
mengatasi sesak napas akibat adanya lendir yang memenuhi saluran
pernapasan. Lendir baik dalam bentuk dahak (sputum) maupun sekret
dalam hidung, timbul akibat adanya infeksi pada saluran pernapasan
maupun karena sejumlah penyakit yang diderita oleh seorang individu.

Selain itu pemberian obat pelega batuk dapat mempercepat batuk


mereda, apalagi dengan keadaan anak yang sulit untuk mengontrol
kegiatannya. Batuk mungkin sangat berarti pada penularan penyakit
melalui udara ( air borne infection ). Batuk merupakan salah satu gejala
penyakit saluran nafas disamping sesak, mengi, dan sakit dada. Tetapi,
batuk juga bisa sebagai penyebab penyakit ataupun memang penyakit yang
disebabkan oleh virus. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan
pengetahuan yang benar mengenai penggunaan jenis obat batuk terhadap
jenis batuk yang diderita. Karena, diketahui bahwa obat batuk tidak bisa
disamaratakan untuk semua jenis batuk

Berdasarkan data yang didapat dari pengkajian pada orang tua dan
anak pada tanggal 10 november 2020, ditemukan keluhan pada anak yaitu
batu namun kesulitan dalam mengeluarkan dahak dan pilek. Oleh karena
itu, penulis tertarik mengangkat topik “Latihan Batuk Efektif dan
Pemberian Obat batuk” agar keluarga lebih mengenal batuk efektif dan
memahami serta mampu mengaplikasikan teknik batuk efektif dan tepat
dalam pemberian obat batuk.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum

77
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan pasien dan
keluarga memahami dan memperagakan teknik batuk efektif dan memberikan
obat batik untuk mempercepat pengeluaran sekret.

2. Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran mampu:

a. Menjelaskan penggertian batuk efeketif dan pemberian obat batuk


b. Menjelaskan tujuan batuk efektif dan pemberian obat batuk
c. Menjelaskan teknik batuk efektif dan pemberian obat batuk
d. Mampu memperagakan teknik batuk efektif
e. Mampu menjelaskan cara pemberian obat batuk
C. Pokok Bahasan
Teknik Batuk Efektif

Pemberian Obat Batuk

D. Sub Pokok Bahasan


a. Pengertian batuk efeketif dan pemberian obat batuk
b. Tujuan batuk efektif dan pemberian obat batuk
c. Teknik batuk efektif dan pemberian obat batuk
E. Metode
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Diskusi dan tanya jawab
F. Media dan Alat
1. Media : lembar balik dan leaflet
2. Alat : Tissue/sapu tangan, wadah tertutup untuk penampungan
dahak dan gelas berisi air hangat dan contoh obat batuk
G. Proses Pelaksanaan

No Tahapan & Waktu Kegiatan Penyaji Kegiatan Audien


.

78
1. Pembukaan  Memberi salam  Menjawab salam
(5 menit)  Memperkenalkan diri  Mendengarkan dan
 Melakukan kontrak memperhatikan
waktu  Menyepakati kontrak
 Menjelaskan tujuan  Memperhatikan dan
dan materi yang akan mendengarkan
diberikan
2. Kegiatan  Menggali  Menanggapi dan
(20 menit) pengetahuan audien menjelaskan
tentang nafas dalam
batuk efektif dan  Memperhatikan dan
pemberian obat batuk mendengarkan
 Memberikan  Memperhatikan dan
reinforcement positif mendengarkan
 Menjelaskan
pengertian batuk  Memperhatikan dan
efektif mendengarkan
 Menjelaskan tujuan  Memperhatikan dan
Nafas dalam dan mendengarkan
batuk efektif  Memperhatikan dan
 Menjelaskan teknik mendengarkan
nafas dalam dan  Mendemontrasikan
batuk efektif batuk efektif
 Mendemonstrasikan  Memberikan
teknik nafas dalam pertanyaan
dan batuk efektif dan
cara pemberian obat  Memperhatikan dan
batuk mendengarkan
 Memberi kesempatan  Memberikan jawaban
audien untuk
bertanya
 Memberikan
kesempatan pada  Memperhatikan dan
audien lain untuk mendengarkan
menjawab
 Memberikan
reinforcement positif  Memperhatikan dan
dan meluruskan mendengarkan
konsep
3. Penutup  Evaluasi validasi  Menyimak
(5 menit)  Menyimpulkan  Memperhatikan dan
bersama-sama mendengarkan
 Mengucapkan terima  Memperhatikan dan
kasih mendengarkan
79
 Mengucapkan salam  Menjawab salam
penutup

G. Pengorganisasian
a. Penyaji : Anggita, S.Kep
I. Uraian Tugas
a. Penyaji sekaligus moderator
- Bertanggung jawab dalam kelancaran diskusi pada penyuluhan
- Memperkenalkan diri
- Menyepakati bahasa yang akan digunakan selama penyuluhan
dengan audien
- Menyampaikan kontrak waktu
- Merangkum semua audien sesuai kontrak
- Mengarahkan diskusi pada hal yang terkait pada tujuan diskusi
- Menganalisis penyajian
- Bertangung jawab memberikan penyuluhan
- Memahami topik penyuluhan
- Meexplore pengetahuan audien tentang batuk efektif dan pemberian
obat batuk
- Menjelaskan dan mendemonstrasikan teknik batuk efektif dengan
bahasa yang mudah dipahami oleh audien
- Memberikan reinforcement positif atas partisipasi aktif audien
J. Setting Tempat

Penyaji

Pasien

Keluarga pasien
80
K. Evaluasi

Evaluasi akan dilakukan adalah:

1. Evaluasi Struktur
a. Persiapan dilaksanakan sebelum pelaksanaan kegiatan.
b. Kontrak dengan peserta pada H-1, diulangi kontrak pada hari H.
c. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sesuai satuan acara penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
Orang tua antusias dalam menyimak uraian materi penyuluhan tentang
latihan batuk efektif dan pemberian obat batuk

3. Evaluasi Hasil
Setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit peserta mampu
a. 80% sasaran mampu menyebutkan pengertian batuk efektif dengan dan
pemberian obat batuk benar
b. 60% sasaran mampu menjelaskan tujuan batuk efektif
c. 60% sasaram mampu menjelaskan teknik dan mendemonstrasikan batuk
efektif dengan benar
d. 60% sasaran mampu menjelaskan kembali dosis obat batuk yang diberikan
Materi

NAFAS DALAM DAN BATUK EFEKTIK

A. Pengertian
1. Nafas dalam
Latihan nafas dalam adalah bernapas dengan perlahan dan
menggunakan diafragma, sehingga memungkinkan abdomen terangkat
perlahan dan dada mengembang penuh (Parsudi, dkk., 2002)
2. Batuk Efeketif
Batuk efektif merupakan suatu metode batuk dengan benar dimana dapat
energi dapat dihemat sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan
dahak secara maksimal (Smeltzer, 2001).
81
B. Tujuan Teknik nafas dalam dan Batuk Efektif
1. Mengurangi nyeri luka operasi saat batuk

2. Membebaskan jalan nafas dari akumulasi sekret

3. Mengeluarkan sputum untuk pemeriksaan diagnostik laboratorium

4. Mengurangi sesak nafas akibat akumulasi secret

5. Meningkatkan distribusi ventilasi.

6. Meningkatkan volume paru

7. Memfasilitasi pembersihan saluran napas

C. Indikasi teknik nafas dalam dan batuk efektif


Dilakukan pada pasien seperti :COPD/PPOK, Emphysema, Fibrosis, Asma,
chest infection, pasien bedrest atau post operasi
D. Kontra indikasi batuk efektif
1. Tension pneumotoraks
2. Hemoptisis
3. Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi,
hipertensi, infark miokard akut infark dan aritmia.
4. Edema paru
5. Efusi pleura yang luas
E. Alat dan Bahan yang disediakan
1. Tissue/sapu tangan
2. Wadah tertutup berisi cairan desinfektan (air sabun / detergen, air
bayclin, air lisol) atau pasir.
3. Gelas berisi air hangat
E. Cara Mempersiapkan Tempat Untuk Membuang Dahak

82
1. Siapkan tempat pembuangan dahak: kaleng berisi cairan desinfektan yang
dicampur dengan air (air sabun / detergen, air bayclin, air lisol) atau pasir
2. Isi cairan sebanyak 1/3 kaleng
3. Buang dahak ke tempat tersebut
4. Bersihkan kaleng tiap 2 atau 3 kali sehari.
5. Buang isi kaleng bila berisi pasir : kubur dibawah tanah
6. Bila berisi air desinfektan : buang di lubang WC, siram
7. Bersihkan kaleng dengan sabun

D. Tehnik nafas dalam


1. menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung
(bukan menarik napas dalam) dengan mulut tertutup
2. kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut
dengan posisi seperti bersiul
3. Dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi
tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung
akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian tekanan
ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus sehingga dapat
mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu
ekspirasi

E. Teknik Batuk Efektif


1. Tarik nafas dalam 4-5 kali
2. Pada tarikan nafas dalam yang terakhir, nafas ditahan selama 1-2 detik
3. Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukkan dengan kuat dan
spontan
4. Keluarkan dahak dengan bunyi “ha..ha..ha” atau “huf..huf..huf..”
5. Lakukan berulang kali sesuai kebutuhan
Pemberian Obat Batuk

83
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2380/A/SK/VI/1983 dan

Peraturan Menteri Kesehatan RI No.925/Menkes/Per/X/1993 tentang

Daftar Perubahan Golongan Obat Nomor 1 memuat ketetapan mengenai

obat-obat yang masuk kedalam daftar obat “W” dan pengertian tentang

obat bebas terbatas. Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat

diserahkan kepada pemakainya tanpa resep dokter jika penyerahannya

memenuhi persyaratan sebagai berikut :

- Obat tersebut hanya boleh dijual dengan bungkus asli danri pabriknya atau

pembuatnya.

- Pada penyerahannya oleh pembuat atau penjual harus mencantumkan

tanda peringatan yang tercetak sesuai contoh. Tanda peringatan tersebut

berwarna hitam, berukuran panjang 5 cm, lebar 2 cm, dan memuat tulisan

pemberitahuan berwarna putih.

A. Penandaan

Tanda khusus untuk obat bebas terbatas adalah sebagai berikut :

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI, obat yang ditetapkan sebagai obat

bebas terbatas adalah sebagai berikut :

a. Obat bebas terbatas dengan tanda peringatan Nomor 1 (P No. 1)

84
Contoh : Obat batuk

Tanda peringatan yang harus ada pada kemasan obat-obat tersebut adalah sebagai

berikut :

B. Beberapa Contoh Obat Yang Beredar Dipasaran

11. Benadryl DMP

Kandungan:

- Difenhidramin (antihistamin, antitusif)

- Dektrometorfan (antitusif)Fenilefrin (dekongestan)

- Ammonium klorida (ekspektoran)

- Natrium sitrat (ekspektoran)

 Indikasi : Mengurangi batuk yang parah dan membandel serta gangguan

saluran pernafasan yang disebabkan oleh pilek, alergi, atau bronkitis

 Kontra Indikasi : Gangguan fungsi hati atau ginjal.

85
 Efek Samping : Mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan saluran

pencernaan.

 Dosis : Dewasa : 3-4 kali sehari 1-2 sendok teh. Anak-anak : 3-4 kali

sehari ½-1 sendok teh .

2.    Vicks Formula 44

Kandungan :

- Dekstrometorfan (antitusif)

- Doksilamin (antihistamin, antitusif)

 Indikasi: Meredakan batuk yang tidak berdahak atau yang menimbulkan

rasa sakit.

 Kontra Indikasi: Penderita hipersensitif, terhadap obat ini.

 Efek Samping : Jarang menyebabkan kantul. Mual, pusing, konstipasi.

 Aturan Pakai :

1. Dewasa: 12 tahun ke atas: 1 sendok takar 3 kali sehari.

2. Anak-anak: 6 - 11 tahun: ½ sendok takar 3 kali sehari.

86
3. Atau gunakan sesuai petunjuk dokter

(1 sendok takar = 5 mL)

3. Wood Ekspektoran

Kandungan :

- Bromhexin (ekspektoran)

- Guaifenesin (ekspektoran)

 Indikasi: Meredakan gejala batuk produktif , bronchitis atau emfisema.

 Kontra indikasi: Ulkus Gi, Hamil, menyusui

 Efek Samping: Gangguan Pencernaan

 Dosis: Dewasa dan Anak >12 tahun sehari 3x10 ml. Anak 6-12 thn sehari

3-5 ml

C. Tips Menggunakan Obat Batuk yang Efektif

Karakteristik batuk Pilihlah yang Contoh obat


mengandung
87
Kering (tanpa disertai Antitusif Dekstrometorfan, atau noskapin
dahak)
Bromheksin, gliseril guaiakolat (GG,
Disertai dahak Ekspektoran atau guaifenesin), ambroksol,
karbosistein, atau ammonium klorida
Akibat alergi dan disertai Antihistamin Difenhidramin, klorfeniramin (CTM),
dengan hidung meler doksilamin, feniramin, atau tripolidin
Disertai dengan napas yang Fenil propanol amin, efedrin,
tidak lega Dekongestan pseudoefedrin, etilefedrin, atau
fenilefrin 

88
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, S. (2001). Buku ajar keperawtan medikal bedah. Jakarta: EGC.


Perry & Potter. Funamental Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kowalak , J. (2011). Buku ajar patofisiologi. Jakarta: EGC.
Rab, T. (2010). Ilmu penyakit paru. Jakarta: TIM.
Tamsuri, A. (2008). Asuhan keperawatan klien gangguan pernafasan. Jakarta:
EGC.
Ruli S.H, S.Si, Apt,. dkk,. 2013, Undang-Undang Kesehatan untuk SMK Farmasi,
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Meity T. Q., dkk., 2011, Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar, Jakarta : Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan

89
Lampiran 6
Dokumentasi Kegiatan

90
91
Lampiran 4

Link YouTube Video

1. Video Pengisian Format MTBS

https://youtu.be/NaQKhJMPQpA

2. Video Penilaian DDST

https://youtu.be/rsLc8b5DWos

92