Anda di halaman 1dari 1

Nama : Denisyah Tria Putri Firdaus

NIM : 200421622059
Off : CC

Contoh transaksi syariah

Salah satu contoh transaksi syariah adalah charge card dan syariah card (kartu kredit
syariah). Dalam buku Akuntansi Syariah (Sri Nurhayati, Wasilah) edisi5, Charge card adalah
fasilitas kartu talangan yang digunakan oleh pemegang kartu sebagai alat pembayaran atau
pengambilan uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak
yang memberikan talangan pada waktu yang ditetapkan. Sedangkan syariah card adalah kartu
yang berfungsi seperti kartu kredit dengan hubungan hukum antara para pihak berdasarkan
prinsip syariah.

Kedua jenis kartu tersebut memiliki pola pembiayaan seperti kartu debit dan kartu
kredit pada bank konvensional. Charge card dan syariah card tidak mengenakan bunga, tetapi
mengenakan fee atas keanggotaan dan transaksi yang dilakukan. Selain itu, perbedaan dengan
milik bank konvensional adalah charge card harus dibayar penih saat tagihan diterima (tidak
ada minimum payment) serta didak dapat di roll over seperti kartu kredit.

Dewan syariah nasional-MUI melalui fatwa No. 42/DSN MUI/V/2004 dan No.
54/DSN MUI/X/2006 menyetujui penerapan layanan kedua kartu tersebut kepada masyarakat
melalui 3 akad kafalah, ijarah dan akad qardh.
- Akad kufalah, dimana penerbit kartu bertindak sebagai penjamin (kafil) bagi
pemegang kartu terhadap merchant atas semua kewajiban bayar yang timbul dari
transaksi antara pemegang kartu dengan merchant dan penarikan tunai dari bank/ATM
selain bank penerbit kartu. Atas pemberian kufalah penerbit kartu mendapatkan fee
(ujrah kafalah).
- Akad qardh, dimana penerbit kartu bertindak sebagai pemberi pinjaman kepada
pemegang kartu melalui penarikan tunai dari bank/ATM bank penerbit kartu.
- Akad ijarah, penerbit kartu bertindak sebagai penyedia jasa sistem pembayaran dan
pelayanan terhadap pemegang kartu. Atas ijarah ini, pemegang kartu dikenakan
membership fee.

Walaupun dengan akad ini diperbolehkan, DSN-MUI memberi banyak batasan atas
transaksi tersebut seperti tidak menimbulkan riba, tidak digunakan untuk transaksi yang tidak
sesuai dengan syariah, tidak mendorong pengeluaran yang berlebihan, melihat kemampuan
finansial pemegang kartu utama dan tidak memberikan fasilitas yang bertentangan dengan
syariah, dan tidak mengakibatkan utang yang tidak pernah lunas. Ta’widh dibolehkan sebagai
ganti rugi atas hal-hal yang sudah ditanggung oleh penerbit kartu.

Sumber hukum
- Q.S Al-isra’ : 26-27
- Hadis nabi tentang jenazah yang mempunyai hutang.