Anda di halaman 1dari 6

1.

Pengertian Perkembangan Sosial Emosional pada Bayi


Perkembangan sosial adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain,
mulai dari orang tua, saudara, hingga masyarakat luas. Sementara perkembangan
emosional adalah luapan perasaan ketika bayi berinteraksi dengan orang lain. Dengan
demikian, perkembangan social emosional adalah kepekaan anak untuk memahami
perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat dipahami bahwa perkembangan social emosional
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, membahas perkembangan emosi
harus bersinggungan dengan perkembangan sosial bayi. Demikian pula sebaliknya,
membahas perkembangan social harus melibatkan emosional. Sebab, keduanya
terintegrasi dalam bingkai kejiwaan yang utuh.

2. Pola Dan Variasi Perkembangan Emosi Pada Bayi


Pola emosi yang lazim pada masa bayi adalah sebagai berikut :
a. Kemarahan
Perangsang yang membangkitkan kemarahan bayi adalah campur tangan terhadap
gerakan-gerakan mencoba menghalangi keinginannya. Tanggapan marah mengambil
bentuk menjerit, meronta-ronta, menendang kaki, mengibaskan tangan, dan memukul
apa saja yang ada didekatnya. Pada tahun kedua bayi dapat juga melonjak-lonjak,
guling-guling, meronta-ronta dan menahan nafas.
b. Ketakutan
Perangasang yang dapat membangkitkan ketakutan bayi adalah adalah suara keras,
orang, barang, dan situasi asing, ruangan gelap, tempat tinggi. Pada usia 8 bulan
sampai 1 tahun, bayi akan menangis terhadap benda, situasi, atau orang yang asing.
Tanggapan rasa takut pada masa bayi terdiri dari upaya menjauhan diri dari
perangsang yang menakutkan dengan merengek, menangis dan menahan nafas.
c. Rasa ingin tahu
Bayi mudah mengungkapkan rasa ingin tahunya terutama melalui ekspresi wajah
menegangkan otot muka, membuka mulut, dan menjulurkan lidah. Kemudian, bayi
akan menangkap barang yang membangkitkan rasa ingin tahunya tersebut.
Memegang, membolak balik dan melempar.
d. Kegembiraan
Pada usia 8 minggu bayi akan tersenyum dalam tidur pulas jika merasa kenyang,
hangat dan nyaman. Pada bulan kedua dan ketiga, bayi bereaksi pada orang yang
mengajaknya bercanda, menggelitik, dan memperhatikannya. Mereka
mengungkapkan rasa senang atau kegembiraanya dengan tersenyum serta
menggerakkan lengan dan kakinya.
e. Afeksi
Setiap orang mengajak bayi bermain, mengurus kebutuhan jasmaninya, atau
memperlihatkan afeksi akan merupakan perangsang untuk afeksi mereka. Umumnya
bayi mengungkapkan afeksinya dengan memeluk, menepuk dan mencium barang atau
orang yang dicintainya. Pada usia 1-3 tahun, emosi bayi bisa dipengaruhi maka anak
dapat turut menyayangi, mengasihi ataupun membenci sesuatu.
Masih mengutip Hurlock, secara umum pola perkembangan emosi bayi meliputi 9
aspek, yaitu :
a. Rasa takut, yaitu perasaan yang khas pada bayi. Hampir setiap fase usia. Seorang
anak mengalami ketakutan dengan kadar yang berbeda-beda. rangsangan yang
umumnya menimbulkan rasa takut pada bayi adalah suara yang terlalu keras, binatang
menemyeramkan, kamar gelap, tempat yang tinggi, dan kesendirian.
b. Rasa malu, yaitu ketakutan yang dilandasi dengan menarik diri dan hubungan orang
lain yang tidak dikenal. Rasa malu ini selalu disebabkan oleh sesama manusia, bukan
benda atau binatang dan hal-hal lainnya. Rasa malu baru akan dimiliki bayi pada usia
diatas 6 bulan. Alasanya, pada usia ini bayi telah mengenal orang yang sering dilihat
dan orang yang asing sama sekali. Namun jika bayi tersebut selalu berhubungan
dengan orang banyak, maka rasa malu tersebut akan hilang dengan sendirinya. Sebab,
ia tahu bahwa sering kali orang asing baginya bisa jadi teman bermain yang asyik.
c. Rasa khawatir, yaitu khayalan ketakutan atau gelisah tanpa alasan. Khawatir tidak
langsung ditimbulkan rangsangan dalam lingkungan, tetapi merupakan produk
pikiran anak itu sendiri. Perasaan ini timbul karena membayangkan situasi yang
berbahaya yang mungkin akan meningkat. Reaksi yang ditimbulkan adalah ekspresi
melalui wajah yang tampak khawatir.
d. Rasa cemas, yaitu keadaan mental yang tidak berkenaan dengan sakit yang
mengancam atau yang dibayangkan. Rasa cemas ditandai dengan kekhawatiran,
ketidakenakan, dan prasangka tidak berdaya atau pesimis. Reaksi yang ditimbukan
adalah murung, dan lain sebagainya.
e. Rasa marah, yaitu penolakan yang kuat terhadap apa yang tidak ia sukai. Umumnya
situasi yang menimbulkan kemarahan meliputi berbagai macam batasan, keinginan
dan menghalangi gerak anak.
f. Rasa cemburu, yaitu perasaan ketika anak kehilangan kasih sayang, seperti terbaginya
kasih sayang ibunya kepada saudaranya, ayahnya kepada orang lain.
g. Rasa duka cita, yaitu suatu kesengsaraan emosional (trauma psikis) yaitu hilangnya
sesuatu yang ia cintai. Dalam bentuknya yang lebih ringan, hilangnya nikmat yang
terhadap hal-hal yang ada di depannya dan lain sebagainya.
h. Rasa ingin tahu yaitu setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka
menaruh minat terhadap segala sesuatu dilingkungan mereka, termasuk diri mereka
sendiri.
i. Rasa kegembiraan dan kesenangan, yaitu emosi keriangan atau rasa bahagia. Di
kalangan bayi, emosi kegembiraan ini berasal dari fisik yag sehat, situasi yang ganjil,
persamaan yang mengasyikan, dan lain-lain. Reaksi yang diekspresikan adalah
tersenyum, mendengkut, mengoceh, merangkak, berjalan, atau bahkan berlari.

Pola perkembangan emosi pada bayi dapat diramalkan (Hurlock, 1978. 210). Secara
umum perkembangan emosi pada bayi yaitu :

Pada masa bayi keterangsangan umum bayi sudah dapat dibedakan menjadi reaksi yang
sederhana dan mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi tidak
menyenangkan diwujudkan dengan bentuk menangis dan aktivitas lain. Sebaliknya,
reaksi menyenangkan. Bentuk-bentuk emosi seperti gembira, marah, takut, dan bahagia
adalah ekspresi khas yang ada pada masa bayi. Seiring bertambahnya usia anak, reaksi
emosi cenderung dapat dibedakan, bila arah anak akan cenderung melempar barang
atau menegejangkan tubuh. Adapun reaksi menyenangkan biasnya ditampakkan anak
melalui kegiatan tersenyum, atau reaksi sepontan yang lain. Dengan bertambahnya
kemampuan bahasa anak, maka anak akan cenderung mampu mengungkapkan perasaan
anak sesuai dengan tingkat perkembangan usaha anak.
Adapun menurut Desmita (2005 : 116), menjelaskan pola perkembangan emosi anak
dimulai sejak anak berada dalam kandungan (prenatal). Dan setelah lahir pola
perkembangan emosi disertai dengan :
a. Perkembangan temperamen
Perkembangan merupakan salah satu dimensi psikologis yang berhubungan dengan
aktivitas fisik dan emosional serta merespons. Secara sederhana temperamen dapat
diartikan sebagai perbedaan kualitas dan intensitas respons emosional serta peraturan
diri yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang relati stabil
dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi, yang dipengaruhi oleh
interaksi antara pembawaan, kematangan, dan pengalaman. Konsistensi tempramen
ini dibentuk oleh faktor keturunan, kematangan, dan pengalaman terutama pola
pengasuhan orang tua.
b. Perkembangan Kedekatan (Attachment)
Menurut Herbet (dalam Desmita. 2005: 120) attachment diartikan sebagai ikatan
antar dua individu atau lebih, sifatnya adalah hubungan psikologis yang
didiskriminatif dan spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam
rentang waktu dan ruang tertentu. Adapun Seifrt dan Hoflnung (dalam Desmita 2005:
122) menjelaskan attachment sebagai hubungan timbale balik yang sama kuat antara
ibu dan anak, walaupun satu sama lain berbeda dalam memenuhi kebutuhan
kedekatan fisik dan emosionalnya. Attachement ata kedekatan muncul karena adanya
hubungan fisik antara anak dan orang tua atau anggota keluarga. Rasa kedekatan ini
terbagi dua yaitu : rasa kedekatan ini terbagi menjadi dua yaitu : kedekatan yang
aman (secure attachment) dan ketertarikan yang tidak aman (insecure attachment).
c. Perkembangan Rasa Percaya (trust)
Pada perkembangan anak mengalami rsa percaya dan rasa tidak percaya. Rasa
percaya akan cenderung memnculkan rasa man dan percaya diri pada anak.
Begitupun rasa tidak percaya akan berakibat pada rasa tidak tidak aman dan
ketidakpercayaan diri pada anak.
d. Perkembangan Otonomi
Menurut otonomi (dalam Desmita 2005: 125), merujuk perkembangan otonomi
sebagai kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang
dapat memerintah, mengasai, dan membentuk dirinya sendiri. adapun menurut
Erikson (dalam Desmita, 2005: 126), otonomi atau kemandirian merupakan tahap
kedua perkembangan psikososial yang berlangsung pada masa bayi dan masa baru
pandai berjalan. Otonomi berkembang sesuai dengan perkembangan kemampuan
mental dan motorik anak.

Adapun variasi emosional pada masing-masing bayi berbeda-beda, perbedaan ini


dipengaruhi oleh bebrapa hal diantaranya :
a. Keadaan fisik bayi. Anak yang sehat yang cenderung kurang emosional dibandingkan
dengan anak yang kurang sehat.
b. Reaksi sosial terhadap perilaku emosional. Reaksi sosial yang tidak menyenangkan
akan mengakibatkan reaksi emosi anak jarang tampak dan terwujud dibandingkan
dengan apabia reaksi sosial yang diterima anak menyenangkan.
c. Kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan dengan jenis kelamin sejenis mengakibatkan
semakin seringnya pelampiasan emosi dan lebih kuat.
d. Jumlah anggota keluarga. Jumlah anggota keluarga besar cenderung berpotensi besar
menimbulkan emosi dibandingkan keluarga kecil.
e. Cara mendidik anak. Cara mendidik otoriter mendorong rasa cemas dan takut.
Adapun cara mendidik permisif (serba boleh) dan demokratis mendorong
berkembangnya semangat dan rasa kasih sayang.
f. Status sosial-ekonomi keluarga. Anak dengan status sosial ekonomi yang rendah
cenderung lebih mengembangkan rasa takut dibandingkan dengan anak yang memilih
keluarga dengan status sosial ekonomi yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/12790559/Perkembangan_Sosioemosional_Pada_Masa_Bayi