Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

KEPRIBADIAN MENURUT CARL GUSTAV JUNG

Dosen Pengampu : Siti Syawaliah, M.Psi.,Psikolog

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2

Muhammad Akbar Amir 4518091013

Friniar 4518091053

Shekinah Priska Hutapea 4518091126

Suci Paramitha 4518091132

Meliyana 4518091160

KELAS C

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS BOSOWA

2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kehendak-Nya
kami sebagai kelompok 2 dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kepribadian Menurut
Carl Gustav Jung”.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas pembelajaran perkuliahan semester
dua pada mata kuliah Psikologi Kepribadian. Hasil yang ingin dicapai agar dapat mengetahui
serta memahami Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung.
Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan-
kekurangan yang mungkin di luar dari pengetahuan . Untuk itu, kritik dan saran yang
membangun dari Dosen Pengampu dan teman – teman sangat penulis harapkan, sebagai
pelajaran bagi penulis untuk kedepannya bisa lebih baik.

Makassar, Maret 2019

Kelompok 2

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………1

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………...2

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………….……..3

A. Latar Belakang…………………………………………………………………….….…3
B. Rumusan Masalah……………………………………………………………………….3
C. Tujuan Penulisan………………………………………………………………………..4

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………5

A. Biografi Carl Gustav Jung………………………………………………………………5


B. Struktur Kepribadian Carl Gustav Jung…………………………………………………6
C. Dinamika kepribadian Carl Gustav Jung………………………………………….…….8
D. Perkembangan Kepribadian Carl Gustav Jung…………………………………………12
E. Pandangan Kepribadian Yang Sehat Menurut Carl Gustav Jung………………………14

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………15

A. Kesimpulan…………………………………………………………………………..…15
B. Saran…………………………………………………………………………………….15

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………...…..16

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu psikologi adalah Carl
Gustav Jung, beliau adalah orang pertama yang menciptakan aliran psikologi analitis,
yaitu aliran psikologi yang menjelaskan bahwa kepribadian manusia sebagai individuasi,
symbol, ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, arketipe, kompleks, persona, id,
ego, dan super-ego, bayangan, anima dan animus, dan diri.
Carl Gustav Jung adalah orang pertama yang menyebut bahwa kepribadian manusia
terdiri dari kepribadian ekstrovert (Kecenderungan yang mengarahkan kepribadian yang
lebih banyak keluar daripada kedalam diri sendiri) dan Introvert (suatu orientasi kedalam
diri sendiri). Carl Gustav Jung juga membagi 4 fungsi kepribadian manusia yaitu fungsi
berfikir, pengindera, intuitif, dan perasa. Dalam pandangan Carl Gustaf Jung pemahaman
tentang kepribadian/psyche, dapat diperoleh melalui eksplorasi dunia mimpi, seni,
mitologi, agama serta filsafat
Dalam perjalanan karirnya Carl Gustav Jung merupakan sahabat dari Sigmund Freud,
yang merupakah penemu teori psikoanalisis. Keduanya merupakan tokoh yang pernah
bekerja sama dalam organisasi psikoanalisis, tetapi karena adanya pertentangan diantara
mereka, akhirnya mereka berpisah. Kemudian setelah kejadian itu lahirlah teori analitis
ciptaan Jung.
Didalam Makalah ini penulis akan menyajikan konsep kepribadian menurut Carl
Gustav Jung, meliputi Struktur Kepribadian, Dinamika Kepribadian, Perkembangan
Kepribadian, dan Pandangan Kepribadian yang sehat. Selain itu juga akan dipaparkan
sekilas tentang biografi Jung. Dan mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan dapat dijadikan referensi untuk menambah ilmu pengetahuan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa biografi Carl Gustaf Jung ?
2. Apa Struktur Kepribadian menurut Carl Gustaf Jung ?

4
3. Apa Perkembangan Kepribadian menurut Carl Gustav Jung ?
4. Apa Dinamika Kepribadian menurut Carl Gustav Jung ?
5. Bagaimana Pandangan Kepribadian yang sehat menurut Carl Gustav Jung ?

C. Tujuan Penulisan
1. Menguraikan biografi Carl Gustaf Jung ?
2. Memaparkan Struktur Kepribadian menurut Carl Gustaf Jung ?
3. Menjelaskan Perkembangan Kepribadian menurut Carl Gustav Jung ?
4. Menjelaskan Dinamika Kepribadian menurut Carl Gustav Jung ?
5. Menjelaskan Pandangan Kepribadian yang sehat menurut Carl Gustav Jung ?

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Biografi Carl Gustaf Jung

Carl Gustav Jung lahir pada tanggal 26 Juli 1875 di


sebuah desa kecil di Swiss bernama Kessewil.
Ayahnya bernama Paul Jung, seorang pendeta desa
dan ibunya bernama Emilie Preiswerk Jung. Dia
lahir di tengah keluarga besar yang cukup
berpendidikan. Diantara anggota keluarga besar
Jung senior adanya yang jadi pendeta dan punya
pemikiran eksentrik.
Jung senior mulai mengajari Jung bahasa latin ketika dia berumur 6 tahun, dan inilah
yang menjadi awal minatnya pada bahasa dan sastra—khususnya sastra kuno. Disamping
bahasa-bahasa Eropa Barat modern, Jung dapat membaca beberapa bahasa kuno,
termasuk sanskerta, bahasa asli kitab suci umat Hindu.
Semasa remaja, Jung adalah seorang yang penyendiri, tertutup dan sedikit tidak
peduli dengan masalah sekolah, apalagi dia tidak punya semangat bersaing. Dia
kemudian dimasukan ke sekolah asrama di Basel, Swiss. Di sini dia merasa tertekan
karena dicemburui oleh teman-temannya. Lalu dia mulai sering bolos dan pulang ke
rumah dengan alasan sakit, mulai belajar hidup dalam perasaan tertekan.
Walaupun awalnya bidang yang dia pilih adalah arkeologi, namun dia masuk ke
fakultas kedokteran di University of Basel. Karena bekerja bersama Neurolog terkenal,
Kraft-Ebing, dia kemudian menetapkan psikiatri sebagai kariri pilihannya.
Setelah lulus, dia bekerja di Burghoeltzli Mental Hospital di Zurich di bawah bimbingan
Eugene Blueler, seorang pakar dan penemu nama skizofrenia. Tahun 1903, dia menikahi
Emma Rauschenbach. Dia juga mengajar di University Zurich, membuka praktik psikiatri
dan menemukan beberapa istilah yang masih tetap dipakai sampai sekarang.

6
Setelah sekian lama mengagumi Freud, baru pada tahun 1907 dia dapat bertemu
dengannya. Kisah mereka berdua berlanjut setelah pertemuan pertama ini, bahkan Freud
membatalkan kegiatannya hari itu dan mereka ngobrol selama 13 jam. Dampak
pertemuan ini sangat luar biasa bagi kedua pemikir ini. Freud akhirnya menyadari bahwa
Jung-lah “putra mahkota” psikoanalisis dan pewaris tahtanya.
Tapi Jung tidak sepenuhnya berpengang pada teori Freud. Hubungan mereka merenggang
pada tahun 1909, sewaktu keduanya pergi ke Amerika. Dalam sebuah pertemuan,
keduanya berdebat panjang tentang mimpi masing-masing, dan Freud mulai membantah
analisis Jung dengan cara yang tidak cantik. Akhirnya dia menyerah dan mengusulkan
agar perdebatan mereka dihentikan, kalau dia tidak ingin otoritasnya hancur. Jung sangat
kecewa dengan kejadian ini.
Perang dua pertama adalah masa-masa menyakitkan bagi Jung. Tapi masa ini jga
menjadi batu loncatan baginya untuk melahirkan teori-teori kepribadian yang tiada
duanya di dunia.
Setelah perang berakhir, Jung melakukan perjalanan ke berbagai negara, misalnya, ke
suku-suku primitif di Afrika, Amerika,dan India. Dia pensiun tahun 1946 dan mulai
menarik diri dari kehidupan umum setelah istrinya meninggal tahun 1955. Carl Gustav
Jung meninggal pada tanggal 6 Juni 1961 di Zurich.

B. Struktur Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung


Carl Gustav Jung tidak berbicara tentang kepribadian melainkan tentang psyche.
Adapun yang dimaksud dengan psyche, Jung (Calvin S. Hall dan Gardener Lindzey,
1985: 109) menjelaskan bahwa:
“psyche embraces all tought, feeling, and behavior, conscious and unconscious”.
Kepribadian itu adalah seluruh pemikiran, perasaan, dan perilaku yang nyata baik yang
disadari maupun yang tidak disadari.

7
STRUKTUR KEPRIBADIAN JUNG

MACAM MACAM KESADARAN EGO


SISTEM
KETIDAKSADARAN PRIBADI

PSYCHE
KOLEKTIF

KOMPONEN SISTEM PIKIRAN

FUNGSI JIWA
PERASAAN

PENGINDERAAN

INTUISI

SIKAP JIWA EKSTROVERT

INTROVERT

Kepribadian atau psyche (istilah yang dipakai Jung


untuk kepribadian) tersusun dari sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat
kesadaran: ego beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat tak sadar
pribadi, dan arketipe beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif.

8
Disamping sistem-sistem yang terkait dengan fungsinya masing-masing. Terdapat
sikap jiwa (introvert dan ekstrovert) dan fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pengindraan, dan
intuisi)
1. Sikap jiwa
Sikap jiwa menurut Jung terbagi menjadi 2 yaitu:
a. Introvert
 sikap introvert mengarahkan orang kedunia dalam, dunia subyektif
 cenderung menarik diri dari lingkungan
 lemah dalam penyesuaian social
 lebih menyukai dengan kegiatan dalam rumah

b. Ekstrovert
 Sikap ekstrovert mengarahkan orang kedunia luar, dunia obyektif
 Minatnya terhadap situasi sosial kuat
 Suka bergaul, ramah, dan cepat menyesuaikan diri
 Dapat menjalin hubungan baik dengan orang lain sekalipun ada masalah

2. Fungsi jiwa
Fungsi jiwa adalah sesuatu bentuk aktivitas kejiwaan yang secara teoritis tetap
meskipun limgkungannya berbeda-beda. Fungsi kejiwaan dibedakan menjadi 2 yaitu:
a. Fungsi jiwa rasional, adalah fungsi jiwa yang bekerja dengan penilaian dan terdiri
dari:
 Pikiran : menilai benar atau salah
 Perasaan : menilai menyenangkan atau tak menyenangkan
b. Fungsi jiwa irasional, adalah fungsi jiwa yang bekerja tanpa penilaian dan terdiri
dari:
 Penginderaan : sadar indrawi
 Intuisi : tak sadar naluriah

Menurut Jung pada dasarnya setiap individu memiliki empat fungsi jiwa
tersebut, tetapi biasanya hanya salah satu fungsi saja yang berkembang atau

9
dominan. Fungsi jiwa yang berkembang paling menonjol tersebut merupakan
fungsi superior dan menentukan tipe individu yang bersangkutan.

C. Dinamika Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung


Dinamika kepribadian itu disebabkan oleh energy psikis yang disebut libido. Libido
itu adalah intensitas kejadian psikis yang hanya dapat diketahui lewat peristiwa psikis.
Pengertian libido ini sama dengan pengertian energy dalam ilmu alam yaitu sebagai
abstraksi (gambaran) yang menyatakan relasi dinamis.
Disamping ada penambahan dan pengurangan energy, dalam sistem kepribadian
itu juga ada perubahan distribusi energy sebagai pengaruh dari luar. Misalnya adanya
perubahan yang mendadak dalam dunia luar membawa perubahan dalam orientasi,
pengamatan, dan sebagainya. Kenyataan bahwa kepribadian adalah sistem yang dapat
dipengaruhi atau dimodifikasi oleh sumber dari luar menunjukkan bahwa kepribadian
tidak pernah mencapai stabilitas yang sempurna, yang dicapai hanyalah stabilitas yang
nisbi, stabilitas untuk sementara.
Kepribadian dikatakan sebagai suatu sistem energy yang tertutup karena
kepribadian mempunyai prinsip mengatur diri sendiri atas dasar hukum tertentu. Hukum
pokok yang terdapat dalam sistem kepribadian adalah hukum kebalikan atau lebih
tepatnya hukum pasangan berlawanan. Jung berpendapat bahwa tidak ada suatu sistem
kepribadian yang mengatur diri sendiri tanpa kebalikan. Dalam struktur kepribadian
terdapat pasangan berlawanan: pikiran-perasaan, pendriaan-intuisi, kesadaran-
ketidaksadaran, dalam keadaan bangun-dalam keadaan mimpi, anima-animus, aku-
bayang-bayang, dan sebagainya.
Dalam dinamika kepribadian ada dua prinsip pokok yaitu prinsip ekuivalens dan
entropi. Prinsip ekuivalens itu analog dengan hukum penyimpanan energy dalam
thermodinamika yang mula-mula dirumuskan oleh Helmholtz yang menyatakan bahwa
jumlah energy itu selalu tetap hanya distribusinya yang berubah. Prinsip ekuivalens
dalam kepribadian menyatakan bahwa apabila sesuatu nilai menurun atau hilang, maka
jumlah energy yang didukung oleh nilai itu tidak hilang dari kepribadian melainkan akan
muncul kembali dalam nilai baru. Jadi dalam seluruh sistem kepribadian itu banyaknya
energy tetap hanya distribusinya yang berubah.

10
Berdasarkan prinsip ekuivalens tersebut maka hal-hal yang berpasangan-
berlawanan itu berhubungan secara komplementer atau kompesatoris, artinya
pengurangan energy pada suatu aspek berarti penambahan pada aspek pasangan
lawannya. Misalnya apabila penghargaan seseorang terhadap sesuatu nilai turun, maka
dia akan menghargai yang lain. Selanjutnya apabila energy dalam kesadaran bertambah
maka energy dalam ketidaksadaran berkurang.
Perlu diingat bahwa hukum penyimpanan energy itu tidak dapat berlaku mutlak
pada sistem kepribadian itu, karena kepribadian tidak seluruhnya tertutup.pertambahan
atau pengurangan energy pada kepribadian adalah mungkin. Naik turunnya sesuatu nilai
tidak hanya bergantung pada perpindahan energy dari satu aspek ke aspek lainnya, akan
tetapi juga karena pertambahan dari luar atau karena pengurangan sebab digunakan.

Prinsip kedua dalam thermodinamika adalah entropi. Prinsip ini mengatakan


bahwa apabila dua benda yang berlainan panasnya bersentuhan, maka panas akan
mengalir dari yang lebih panas pada yang lebih dingin. Bekerjanya prinsip entropi ini
menghasilkan keseimbangan kekuatan. Benda yang dipanaskan berkurang energinya dan
mengalir pada yang lebih dingin sampai kedua benda itu sama panasnya. Prinsip ini
diambil oleh Jung menggambarkan dinamika kepribadian itu selalu menuju
keseimbangan.
Apabila ada dua nilai (intensitas energy) tidak sama kekuatannya, maka energy
akan mengalir dari yang lebih kuat ke yang lebih lemah sampai keduanya seimbang.
Namun demikian karena kepribadian itu bukanlah sistem yang tertutup sama sekali,
pertambahan dan pengurangan energy terhadapnya adalah mungkin, dan ini akan
mengganggu keseimbangan. Kendatipun keseimbangan kekuatan yang permanen dalam
kepribadian tidak pernah tercapai, tetapi hal ini merupakan keadaan ideal yang selalu
dituju ini adalah diri yaitu kondisi energy yang didistribusikan secara seimbang dalam
seluruh kepribadian. Prinsip entropi inilah yang menimbulkan hubungan kompensatoris
antara pasangan yang berlawanan seperti telah dijelaskan diatas. Aspek yang lemah akan
berusaha memperbaiki statusnya dengan menggunakan aspek yang kuat (pasangan
lawannya) dan ini akan menimbulkan ketegangan dalam kepribadian.

11
Gerak energy dalam kepribadian itu mempunyai arah, gerakannya itu dapat
dibedakan antara gerak progresif dan gerak regresif. Gerak progresif adalah gerak ke
kesadaran dan berbentuk proses penyesuaian yang terus menerus terhadap tuntutan
kehidupan sadar. Adapun gerak regresif disebabkan oleh kegagalan penyesuaian secara
sadar dan terbangunnya ketidaksadaran melalui kompleks. Hal ini mengakibatkan
individu kembali pada fase perkembangan yang telah dilewatinya atau menderita
neurosis.
Dari penjelasan diatas kesannya bahwa progresif itu mempunyai nilai positif dan
regresif itu mempunyai nilai negative. Namun demikian, itu seluruhnya tidak benar
karena menurut Jung baik regresif maupun progresif dibutuhkan oleh individu.
Selanjutnya Jung menjelaskan bahwa progresif terjadi atas dasar keharusan individu
menyesuaikan diri terhadap dunia luar . adapun regresif terjadi atas dasar keharusann
individu menyesuaikan diri ke dalam diri sendiri.
Kedua gerak energy progresif dan regresif adalah bentuk yang seharusnya ada
pada kejadian psikis yang wajar. Progresif dan regersif hanya alat atau fase dalam
bekerjanya energy. Regresif merupakan pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai
dalam diri individu, tetapi dapat juga merupakan jalan untuk dapat memperkaya jiwa
dengan cara memanggil gambaran yang ada dalam ketidaksadaran ke dalam kesadaran.
Keempat fungsi jiwa (pikiran, perasaan, pendrian, dan intuisi) yang pokok dan
kedua sikap jiwa (ekstravers dan introvers) serta berbagai sistem yang membentuk
keseluruhan kepribadian berinteraksi satu sama lain dalam tiga macam cara yaitu sebagai
berikut.
a. Sesuatu aspek atau sistem mengkompensasikan kelemahannya terhadap yang lain.
b. Sesuatu aspek atau sistem menentang aspek atau sistem yang lain.
c. Satu atau dua sistem mungkin bersatu untuk membentuk sintesis.
Kompensasi dapat terjadi pada pasangan berlawanan dan dengan mudah dapat
ditunjukkan dalam hal fungsi jiwa dan sikap jiwa. Orang yang pikirannya sangat
berkembang, perasaannya sangat tidak berkembang. Kondisi ini menimbukan ketegangan
yang mengganggu keseimbangan jiwa dan perasaan itu butuh kompensasi. Orang yang
ekstravers ketidaksadarannya introvers. Orang yang perhatiannya (secara sadar)
mengutamakan dunia luar menyebabkan penyesuaian ke dunia dalam berkurang. Ini juga

12
mengganggu keseimbangan jiwa dan menuntut kompensasi. Orang yang terlalu
berkembang sifat jantannya maka sifat betinanya akan terdesak ke dalam alam
ketidaksadaran, kelembutannya serta kehalusannya tidak tampak keluar.
Pertentangan atau perlawanan terjadi antara berbagai aspek dalam kepribadian,
antara pikiran dan perasaan, antara intuisi dengan pendrian, antara aku dengan baying-
bayang, antara persona dan anima atau animus. Pasangan di atas itu selalu saling
berlawanan, berhubungan secara komplementer dan kompensatoris. Ini menyebabkan
psyche atau kepribadian itu selalu dinamis.
Akan tetapi aspek yang berpasangan berlawanan itu tidak selamanya bertentangan,
melainkan dapat juga saling menarik atau mengadakan integrasi atau sintesis. Contoh
yang dikemukakan Jung ialah sepasang suami-istri yang kadang-kala bertengkar, tetapi
selalu kembali rukun, saling mencaci, saling membutuhkan. Persatuan pasangan
berlawanan itu dimungkinkan oleh transcendent function. Fungsi transenden ini
mempunyai kemampuan untuk mempersatukan segala kecenderungan yang saling
berlawanan dan mengolahnya menjadi kesatuan yang sempurna dan ideal. Tujuan fungsi
transenden ialah mewujudkan manusia sempurna, realisasi serta aktualisasi segala aspek
yang tersembunyi dalam kegelapan keridaksadaran. Fungsi inilah yang mendorong
manusia mengejar kesempurnaan kepribadian.

D. Perkembangan Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung


Jung tidak berbicara mengenai perkembangan kepribadian dalam cara seperti yang
dilakukan oleh kebanyakan ahli kepribadian. Dia berbicara perkembangan umat dan
manusia menuju ke taraf yang lebih sempurna. Jung yakin bahwa manusia selalu maju
atau mengejar kemajuan, dari taraf perkembangan yang kurang sempurna ke taraf yang
lebih sempurna dan menuju taraf diferensiasi yang lebih tinggi. Tujuan perkembangan
manusia itu adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri berarti diferensiasi sempurna dan
saling hubungan yang selaras seluruh aspek kepribadian manusia. Ini berarti psyche,
memiliki pusat baru yaitu diri yang menggantikan tempat aku.
Segala evolusi sebagaimana manifes dalam perkembangan psikis sejak zaman
organisme masih sangat primitif sampai timbulnya umat manusia adalah suatu langkah

13
maju yang terus-menerus. Manusia primitif maju kepada manusia yang berekebudayaan
kompleks dan manusia yang berkebudayaan kompleks akan maju terus.
Dalam memandang perkembangan kepribadian, Freud adalah ahli yang
menekankan masa lampau atau kausalitas, sedangkan Adler adalah ahli yang
berpandangan telelogis yang menekankan peranan masa depan dengan segala cita-
citanya. Jung berpendapat bahwa kedua pandangan itu kedua-duanya harus diambil,
kausalitas dan teleologi kedua-duanya penting dalam memandang perkembangan
kepribadian.
Masa kini tidak hanya ditentukan oleh masa lampau (kausalitas), tidak pula hanya
ditentukan oleh masa depan/datang (teleologi), tetapi oleh kedua-duanya. Seorang ahli
psikologi di dalam memahami kehidupan psikis berdimensi ganda. Dimensi yang satu
memandang masa lampaunya manusia, sedangkan dimensi yang lainnya lagi memandang
masa depannya. Pada suatu sisi membuat gambaran mengenai apa yang terjadi di masa
lampau, pada sisi lain menggambarkan apa yang akan terjadi di masa datang sejauh orang
menciptakan masa depannya.
Di dalam proses perkembangan kepribadian, dapat terjadi gerak maju (progresi) atau
gerak mundur (regresi). Apa yang dimaksud dengan progresi oleh Jung adalah bahwa aku
sadar dapat menyesuaikan diri secara memuaskan baik terhadap tuntutan dunia luar
maupun kebutuhan ketidaksadarannya. Dalam progresi normal, kekuatan penghalang
dipersatukan secara selaras dan dikoordinasikan oleh proses kejiwaan. Apabila gerak
maju ini terganggu oleh satu atau dua rintangan dan mencegah libido untuk digunakan
secara maju dalam orientasi ekstraves, maka libido memenuat regresi, kembali ke fase
yang telah dilewati atau masuk ketidaksadaran yang berorientasi introvers.
Regresi tidak selalu berarti negatif. Regresi mungkin dibantu oleh aku untuk dapat
menemukan jalan untuk mengatasi rintangan yang dihadapinya. Hal ini mugkin terjadi
karena ketidaksadaran (baik ketidaksadaran pribadi maupun kolektif) berisikan
pengetahuan dan kebijaksaan mengenai masa lampau individual maupun masa lampau
jenis (kolektif) yang dilupakan atau ditekan. Dengan melakukan gerak mundur sang aku
mungkin menemukan pengetahuan di dalam ketidaksadaran untuk mengatasi frustasi
yang dihadapinya.

14
Dalam perkembangan kepribadian, terjadi energi psikis yang dipindahkan, artinya
dapat ditransfer dari satu aspek atau sistem ke aspek atau sistem lain. Transfer energi
psikis ini berlansung atas dasar prinsip pokok dinamikan yaitu ekuivalens dan entropi.
Transfer yang progresif disebut sublimasi, yaitu transfer dari proses yang lebih primitif,
instinktif, dan rendah diferensiasinya (aktualisasinya) ke proses yang bersifat kultural,
spiritual, dan tinggi diferensiasinya.
Apabila penggunaan energi baik secara instinktif maupun secara lain itu dibendung.
Maka terjadilah represi. Energi psikis dengan paksa dimasukkan ke dalam
ketidaksadaran. Energi psikis yang ditekan ini sesuai dengan prinsip penyimpanan energi
tidak lenyap, tetapi selalu mencari jalan ke luar.
Dalam pandangan Jung,sublimasi dan represi adalah dua hal yang berlawanan.
Sublimasi itu progresif, menyebabkan jiwa bergerak maju dan menambah rasionalitas.
Adapaun represi itu regresif, menyebabkan jiwa bergerak mundur dan menghasilkan
irrasionalitas. Namun demikian bagi Jung represi itu tetap mempunyai nilai positif.
Jung berpendapat bahwa kepribadian itu mempunyai kecenderungan untuk
berkembang ke arah suatu kebulatan yang stabil. Perkembangan kepribadian ini adalah
pembeberan kebulatan asli (realisasi atau penemuan diri) yang semula tidak punya
diferensiasi dan tujuan. Supaya tujuan perkembangan ini dapat tercapai, maka semua
aspek kepribadian harus mengalami diferensiasi dan berkembang sepenuhnya. Apabila
ada salah satu aspek kepribadian yang diabaikan, maka aspek kepribadian yang diabaikan
itu akan menjadi perintang dan akan berusaha merampas energi dari sistem atau aspek
peribadi yang lebih berkembang atau lebih tinggi diferensiasinya. Apabila rintangan yang
ada dalam diri seseorang itu terlalu banyak, maka orang tersebut dapat menderita
neorosis.
Untuk mencapai kepribadian yang integral serta sehat, maka setiap sistem atau aspek
kepribadian itu harus mencapai tahap diferensiasi dan berkembang sepenuhnya. Proses
diferensiasi dan berkembang secara penuh ini disebut proses pembentukan diri atau
penemuan diri. Jung menyebutkan proses pembentukan diri ini sebagai proses
individuasi.

E. Pandangan Kepribadian yang Sehat Menurut Carl Gustav Jung

15
Carl Gustav Jung mengemukakan manusia yang sehat secara psikologi/mental melalui
Psikoanalisnya yang diistilahkan “individuasi”, manusia yang matang karena sudah
melewati jalan berliku, panjang, dan penuh kesukaran untuk menyadari dirinya yang
sejati, manusia yang mampu membawa ketidaksadarannya kedalam kesadaran, mampu
menyadari keberadaan dialektika dalam kepribadiannya,antara persona dengan
anima/animusnya/arketipenya,antara ego dengan shadownya dan mengintegrasikan
semuanya kedalam diri yang sebenarnya. Dengan kata lain pribadi yang sehat adalah
pribadi yang menjadi dirinya sendiri. Mereka mampu mengungkapkan dirinya secara
utuh.. Ciri-ciri orang serupa itu adalah adanya penerimaan dan toleransi terhadap kodrat
manusia, dapat menerima apa yang tidak diketahui dan misterius, serta memiliki
kepribadian universal

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Carl Gustav Jung menyebut kepribadian dengan istilah psyche, dia adalah
pencipta aliran Psikologi analitis, yaitu aliran psikologi yang menjelaskan bahwa
kepribadian manusia sebagai individuasi, symbol, ketidaksadaran pribadi,
ketidaksadaran kolektif, arketipe, kompleks, persona, id, ego, dan super-ego,
bayangan, anima dan animus, dan diri. Dalam pandangan Carl Gustaf Jung
pemahaman tentang kepribadian/psyche, dapat diperoleh melalui eksplorasi dunia
mimpi, seni, mitologi, agama serta filsafat. Carl Gustaf Jung adalah orang pertama
yang merumuskan bahwa sikap jiwa atau kepribadian manusia dengan istilah
Ekstovert (Kecenderungan yang mengarahkan kepribadian yang lebih banyak keluar

16
daripada kedalam diri sendiri) dan Introvert (suatu orientasi kedalam diri sendiri).
Carl Gustaf Jung juga menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia yaitu
fungsi berfikir, pengindera, intuitif, dan perasa. Carl Gustaf Jung adalah sahabat dari
Sigmud Freud yang mengembangkan aliran Psikoanalisis, dimana keduanya pernah
bekerjasama dalam organisasi psikoanalisis.

B. Saran
1. Agar psikologi kepribadian dapat terus dipelajari dan dikembangkan oleh kaum
pelajar.
2. Agar Psikologi kepribadain dapat tetap menjadi salah satu ilmu yang sangat
berperan dalam bidang ilmu pengetahuan.
3. Agar kedepannya dapat tercipta tokoh-tokoh atau penemu-penemu baru dalam
perkembangan ilmu psikologi kepribadian sehingga tercipta aliran-aliran atau
teori-teori baru.

DAFTAR PUSTAKA

Boeree, G. C. (2017). Personality Theories : Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog


Dunia. Jogjakarta: Prismasophie.

Kuntjojo. (2009). Psikologi Kepribadian. Kediri: Universitas Nusantara PGRI Kediri.

LN, S. Y., & Nurihsan, A. J. (2012). Teori Kepribadian. Bandung: Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia dengan PT Remaja Rosdakarya.

Yustinus. (1991). Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

17
18