Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP

METODE PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN


MOTIVASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA
SMAN 1 PANGKALAN KERINCI, RIAU

Amelia Pramitasari, Yeniar Indriana, Jati Ariati


Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Jl. Prof Sudharto. SH, Kampus Tembalang, Semarang, 50275

amelia_psycho@yahoo.com ; yeni_farhani@yahoo.co.id ; jatiariati@undip.ac.id

Abstrak

Biologi merupakan salah satu pelajaran yang sangat penting dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Biologi
tumbuh seiring perkembangan zaman dan teknologi dan memiliki prosepek yang menjanjikan. Untuk dapat berhasil dan
menghasilkan hasil yang optimal dalam pelajaran Biologi, guru perlu memperhatikan metode pembelajaran yang
digunakan sehingga motivasi siswa untuk belajar Biologi dapat meningkat. Motivasi belajar Biologi adalah keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan
dan memberikan arah pada kegiatan belajar pada pelajaran Biologi, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek
belajar dapat dicapai. Salah satu metode pembelajaran yang kemungkinan dapat meningkatkan motivasi belajar adalah
metode pembelajaran kontekstual. Penerapan metode pembelajaran kontekstual ini pada pelajaran Biologi akan dinilai
oleh siswa baik secara kognitif maupun afektif. Persepsi siswa terhadap metode pembelajaran kontekstual akan
mempengaruhi perilaku belajar siswa. Siswa yang memiliki persepsi positif akan memiliki motivasi belajar Biologi
yang tinggi sedangkan siswa yang memiliki persepsi yang negatif terhadap pembelajaran kontekstual memiliki motivasi
belajar Biologi yang rendah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci berjumlah
153 orang siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh. Alat ukur yang digunakan adalah skala
persepsi terhadap pembelajaran kontekstual yang berjumlah 29 aitem (α = 0.919) dan skala motivasi belajar Biologi
yang berjumlah 29 aitem (α = 0.914). Hasil analisis data dengan metode analisis regresi sederhana menunjukkan hasil
rxy sebesar 0.804 dengan p = 0.000 (p<0.05). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang
signifikan antara persepsi terhadap metode pembelajaran kontekstual dengan motivasi belajar Biologi. Efektifitas
regresi dalam penelitian ini adalah sebesar 64.7%, artinya motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA 64.7%
ditentukan oleh persepsi terhadap pembelajaran kontekstual.

Kata kunci: persepsi, pembelajaran kontekstual, motivasi belajar Biologi, siswa kelas XI IPA

PENDAHULUAN Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk


meningkatkan motivasi belajar diantaranya
Keberhasilan dalam belajar, seorang siswa adalah dengan memberikan variasi dalam
perlu memiliki motivasi untuk belajar. Dengan metode pembelajaran dan dengan mengaitkan
adanya motivasi, siswa menjadi lebih memiliki antara materi atau kegiatan pembelajaran
gairah, merasa senang, dan bersemangat dalam dengan kehidupan sehari-hari siswa, termasuk
menjalani kegiatan pembelajaran sehingga penerapan materi terkait dengan jurusan atau
kegiatan pembelajaranpun dapat berjalan pekerjaan yang diinginkan oleh siswa yang
dengan lancar dan siswapun dapat memahami disebut dengan metode pembelajaran
pelajaran dengan lebih baik. kontekstual.

92
93 Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011

Peningkatan prestasi siswa terkait dengan varietas tanaman yang tahan terhadap
metode pembelajaran, antara lain: active perubahan lingkungan, memahami dan
engagement (keterikatan dengan subjek menopang fungsi ekosistem dan
pelajaran), better recall (terjadi peningkatan keanekaragaman hayati dalam menghadapi
dalam hasil ujian dan memperoleh peringkat perubahan yang cepat, memperluas alternatif-
yang lebih tinggi), ownership of learning (rasa alternatif dalam menghasilkan bahan bakar,
kepemilikan terhadap pembelajaran yang dan menghasilkan alat yang dapat mengawasi
mereka lakukan), dan metakognisi (tingkat kesehatan individu dan menyembuhkan
pemikiran yang lebih tinggi dan mencakup berbagai penyakit.
regulasi diri dari proses kognitif (Lynch &
Studdard, 2003, h.58-63). Untuk penggunaan Saat ini telah banyak ditemukan penemuan-
metode pembelajaran kontekstual dalam penemuan dalam Biologi baru termasuk yang
pelajaran Biologi sendiri, siswa terlihat lebih berasal dari Indonesia, antara lain: penggunaan
kompak dengan teman sebayanya dengan ampas kopi, minyak kedelai, minyak kelapa
adanya kerjasama dalam melaksanakan tugas sawit, minyak kacang, dan minyak sayuran
yang diberikan (partner study) (Ketter & lainnya serta lemak hewani dan bahkan
Arnold, 2003, h.17). minyak bekas menggoreng dari restoran cepat
saji sebagai bahan alternatif dalam
Di Indonesia, pembelajaran kontekstual memproduksi Biosolar. Biosolar tersebut dapat
merupakan salah satu strategi pembelajaran digunakan sebagai bahan bakar alternatif pada
yang disarankan dalam kurikulum tingkat mesin-mesin diesel (Rustamiaji, 2009).
satuan pendidikan (KTSP). Salah satu sekolah Sumber energi alternatif lainnya adalah
yang telah menerapkan strategi pembelajaran pemanfaatan Biogas sebagai energi alternatif
ini adalah SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau. yang dihasilkan dari berbagai macam limbah
SMA N 1 Pangkalan Kerinci merupakan salah organik seperti sampah biomassa, kotoran
satu sekolah di provinsi Riau yang terpilih manusia, kotoran hewan (Pambudi, 2011).
menjadi sekolah rintisan Pendidikan Berbasis Salah satu kotoran hewan yang telah
Keunggulan Lokal (PBKL) pada tahun 2007 digunakan dalam menghasilkan Biogas adalah
dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional kotoran Sapi (Metrotvnews.com, 2011).
(RSBI) pada tahun 2010.
Berdasarkan informasi dari wakil kepala
Pelajaran Biologi merupakan salah satu mata sekolah yang juga merupakan guru Biologi di
pelajaran bidang IPA yang sangat penting dan SMAN 1 Pangkalan Kerinci, mata pelajaran
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. yang telah menerapkan metode pembelajaran
PISA menyebutkan bahwa pemahaman kontekstual secara menyeluruh di sekolah ini
mengenai IPA merupakan senjata penting bagi adalah Biologi. Salah satu bentuk aplikasi dari
individu untuk meraih tujuannya (The metode pembelajaran kontekstual ini adalah
Programme for International Student dengan diikutsertakannya siswa kelas XI IPA
Assessment, PISA, 2007, h.12). dalam proses pendaftaran siswa baru. Siswa
kelas XI IPA bertugas sebagai bagian dari
Menurut komite Biologi baru abad 21 (2009, panitia dan ikut dalam melakukan tes darah
h.3-5) di Amerika, Biologi memiliki potensi dan tes urin bagi siswa baru di bawah
dalam menemukan solusi terhadap kebutuhan pengawasan petugas dari puskesmas. Oleh
masyarakat yaitu dalam produksi makanan, sebab itu, fokus penelitian ini adalah
perlindungan terhadap lingkungan, pelaksanaan metode pembelajaran kontekstual
pembaharuan energi, dan peningkatan dalam pada pelajaran Biologi.
kesehatan manusia. Biologi baru berperan
antara lain dalam menghasilkan pendekatan Metode pembelajaran kontekstual yang
yang lebih efektif dalam mengembangkan digunakan oleh guru saat pelajaran Biologi
Pramitasari, Indriana, dan Ariati, Hubungan antara Persepsi terhadap Metode Kontekstual 94
dengan Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau

akan dipersepsi oleh siswa kelas XI IPA. mengoptimalkan motivasi belajarnya dan
Siswa sebagai subjek belajar adalah unik. membantu guru dalam mengidentifikasi
Mereka memiliki kepribadian dan sikap yang persepsi siswa terhadap metode pembelajaran
berbeda antara satu sama lain sehingga siswa guru dan motivasi belajar Biologi.
dapat memiliki persepsi yang berbeda terhadap
metode pembelajaran sehingga perilaku yang Motivasi Belajar Biologi
munculpun akan berbeda.
Motivasi belajar dapat dikatakan sebagai
Siswa yang menjadi subjek penelitian ini keseluruhan daya penggerak di dalam diri
adalah siswa kelas XI IPA SMA. Siswa kelas siswa yang menimbulkan kegiatan belajar,
XI merupakan siswa yang telah terbagi yang menjamin kelangsungan dari kegiatan
kelasnya berdasarkan minat dan bakat siswa dan yang memberikan arah pada kegiatan
yaitu kelas IPA dan IPS. belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh
subjek belajar itu dapat dicapai (Sardiman,
Dari data yang diperoleh, sebagian siswa 2001, h.73). Yamin (2008, h.92) mengatakan
menyatakan termotivasi untuk belajar Biologi bahwa motivasi belajar merupakan daya
dengan menggunakan metode pembelajaran penggerak psikis dari dalam diri seseorang
kontekstual meskipun banyak juga siswa yang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan
melaporkan belum puas dengan pelajaran menambah ketrampilan serta pengalaman.
Biologi yang diajarkan dan ada beberapa yang Motivasi mendorong dan mengarahkan minat
tidak puas dengan metode pembelajaran yang belajar untuk mencapai suatu tujuan. Siswa
digunakan. Penelitian lain menyebutkan akan bersungguh-sungguh belajar karena
bahwa terdapat hubungan antara persepsi termotivasi mencari prestasi, mendapatkan
siswa terhadap strategi yang digunakan oleh kedudukan dalam jabatan, menjadi politikus,
guru dalam proses pembelajaran berhubungan dan memecahkan masalah.
dengan sikap dan motivasi siswa (Bernaus &
Gardner, 2008, h.399). Oleh sebab itu, peneliti Aspek-aspek motivasi belajar menurut
tertarik untuk mengetahui hubungan antara Sardiman (2001, h.73) meliputi:
persepsi terhadap metode pembelajaran a. Menimbulkan kegiatan belajar
kontekstual dengan motivasi belajar Biologi Keinginan siswa untuk melakukan kegiatan
siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan belajar Biologi.
Kerinci. b. Menjamin kelangsungan belajar
Kemauan siswa untuk mempertahankan
Masalah yang diajukan dalam penelitian ini kegiatan belajarnya pada pelajaran Biologi.
adalah: a) Apakah terdapat hubungan antara Siswa akan tetap meneruskan kegiatan
persepsi terhadap metode pembelajaran belajarnya meskipun terdapat hambatan
kontekstual dengan motivasi belajar Biologi ataupun rintangan yang menghalang.
siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan c. Mengarahkan kegiatan belajar
Kerinci? b) Seberapa besar sumbangan efektif Kemauan siswa untuk mengarahkan
yang diberikan oleh variabel persepsi terhadap kegiatan belajarnya dalam pelajaran Biologi
metode pembelajaran kontekstual terhadap demi mencapai suatu tujuan tertentu dalam
veriabel motivasi belajar Biologi pada siswa belajar.
kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci?
Persepsi terhadap Metode Pembelajaran
Manfaat dari penelitian ini ada dua, secara Kontekstual
teoritis dan praktis. Secara teoritis,
Memberikan sumbangan kepada dunia Menurut Irwanto (2002, h.71), persepsi
psikologi khususnya psikologi pendidikan. merupakan proses diterimanya rangsang
Secara praktis, Membantu peserta didik dalam (objek, kualitas, hubungan antar gejala,
95 Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011

maupun peristiwa) sampai rangsang itu tumbuh dan berkembang, mencapai


disadari dan dimengerti. Rakhmad (2005, standar yang tinggi, dan menggunakan
h.51) menyatakan persepsi adalah pengalaman penilaian autentik.
tentang objek peristiwa atau hubungan-
hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan Hubungan antara Persepsi terhadap
pesan. Metode Pembelajaran Kontekstual dengan
Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI
Menurut definisi awal yang dikemukakan IPA
oleh Universitas Ohio (dalam Berns &
Erickson, 2001, h.2), pembelajaran Pembelajaran kontekstual merupakan salah
kontekstual merupakan sebuah konsep satu topik hangat dalam dunia pendidikan saat
pembelajaran-pengajaran yang membantu ini (Johnson, 2009, h.31). Di Indonesia sendiri,
guru-guru menghubungkan materi pelajaran metode pembelajaran kontekstual telah mulai
dengan situasi dunia nyata; dan memotivasi diterapkan di sekolah-sekolah, salah satunya di
siswa untuk membuat hubungan antara SMAN 1 Pangkalan Kerinci.
pengetahuan dan aplikasinya pada kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga, warga Beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh
negara, dan pekerja dan terlibat dalam para ahli menunjukkan korelasi yang positif
pekerjaan dimana pembelajaran dibutuhkan. terhadap penggunaan metode pembelajaran
kontekstual ini di sekolah. Salah satunya
Aspek persepsi terhadap pembelajaran adalah penggunaan metode CTL dalam
kontektual yang digunakan adalah gabungan pelajaran Biologi pada siswa SMA. Ketter dan
aspek persepsi dari Coren dkk dan komponen Arnold (2003, h.17) menemukan bahwa
pembelajaran kontekstual dari Johnson. kemampuan siswa dalam menyelesaikan
Adapun gabungan kedua aspek tersebut masalah (student problem-solving)
adalah: berkembang dengan baik karena adanya
a. Aspek kognisi pembelajaran Biologi secara langsung. Selain
Berkaitan dengan bagaimana pandangan itu, siswa terlihat lebih kompak dengan teman
individu terhadap komponen pembelajaran sebayanya dengan adanya kerja sama dalam
kontekstual, antara lain: membuat melaksanakan tugas yang diberikan (partner
keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, study).
melakukan pekerjaan yang berarti,
melakukan pembelajaran yang diatur Pembelajaran kontekstual merupakan suatu
sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan strategi pembelajaran yang menekankan
kreatif, membantu individu untuk tumbuh kepada proses keterlibatan siswa secara penuh
dan berkembang, mencapai standar yang untuk dapat menemukan materi yang
tinggi, dan menggunakan penilaian dipelajarinya dan menghubungkannya dengan
autentik. situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
b. Aspek afeksi siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan
Berkaitan dengan bagaimana penilaian mereka (Sanjaya, 2008, h.255).
individu berkaitan dengan perasaan dan Metode pembelajaran kontekstual yang
emosinya terhadap komponen diterapkan dalam pelajaran Biologi nantinya
pembelajaran kontekstual, antara lain: akan dipersepsikan oleh siswa kelas XI IPA.
membuat keterkaitan-keterkaitan yang Persepsi merupakan pengalaman tentang objek
bermakna, melakukan pekerjaan yang peristiwa atau hubungan-hubungan yang
berarti, melakukan pembelajaran yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi
diatur sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan menafsirkan pesan (Rakhmad, 2005,
dan kreatif, membantu individu untuk
Pramitasari, Indriana, dan Ariati, Hubungan antara Persepsi terhadap Metode Kontekstual 96
dengan Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau

h.51). Siswa akan mempersepsi metode Seperti siswa yang telah memilih profesional
pembelajaran kontekstual secara afeksi dan program, siswa kelas XI IPA juga telah
kognisi. Persepsi siswa secara kognisi yaitu memilih jurusan yang mereka inginkan dengan
berkaitan dengan bagaimana pandangan siswa harapan dapat mempersiapkan diri dengan
terhadap metode pembelajaran kontekstual baik untuk jurusan atau pekerjaan yang akan
yang diterapkan pada pelajaran Biologi. ditekuni di masa depan. Ada banyak jenis
Persepsi siswa secara afektif adalah bagaimana jurusan atau pekerjaan yang membutuhkan
penilaian siswa terhadap pembelajaran pengetahuan IPA khususnya Biologi, antara
kontekstual pada pelajaran Biologi yang lain Kedokteran, Farmasi, MIPA, Pertanian,
terkait dengan perasaan dan emosinya. Teknik Pangan, Psikologi, Kesehatan
Masyarakat, Pertanian, dan lainnya. Oleh
Persepsi bersifat individual. Kotler dan Keller sebab itu, relevance yang dibangun lewat
(2007, h.228) mengatakan bahwa persepsi metode pembelajaran kontekstual sebaiknya
sangat beragam antara individu satu dengan berkaitan dengan jurusan atau pekerjaan yang
yang lain yang mengalami realitas yang sama. ingin ditekuni oleh siswa di masa depan
Seseorang dapat memiliki persepsi yang sehingga motivasi belajar Biologi siswa
berbeda terhadap objek yang sama. Dengan meningkat.
adanya individual differences maka stimulus
yang diterima siswa berupa metode Nilsen (2009, h.553) menambahkan bahwa
pembelajaran kontekstual akan dipersepsi dengan mengetahui nilai atau kegunaan dari
berbeda baik secara afeksi maupun kognisi. setiap mata pelajaran dan bagaimana
Ada siswa yang memiliki persepsi yang positif pengaplikasiannya dikehidupan sehari-hari,
dan adapula siswa yang memiliki persepsi siswa akan menjadi lebih tertarik terhadap
yang negatif terhadap pembelajaran mata pelajaran Biologi sehingga dapat
kontekstual. meningkatkan motivasi belajar siswa.
Selanjutnya, Nilsen (2009, h.548) mengatakan
Kember, Ho, dan Hong (2008, h.249) bahwa dalam meningkatkan motivasi belajar
mengatakan bahwa salah satu faktor yang siswa, seorang guru juga perlu dalam
mempengaruhi motivasi belajar adalah menumbuhkan kebahagiaan (excitement),
relevance. Relevance adalah persepsi siswa minat, dan antusiasme terhadap pembelajaran.
terhadap kepuasan kebutuhan personal dalam
hubungannya dengan instruksi atau jika Selain persepsi terhadap kepuasan kebutuhan
keinginan atau tujuan diterima dan berkaitan personal dalam kaitannya dengan instruksi
dengan kegiatan yang diinstruksikan (dalam yang diberikan yaitu dengan mengetahui nilai
Kember, Ho, & Hong, 2008, h.251). Dengan pelajaran dan berhubungan dengan jurusan
demikian, siswa akan termotivasi untuk belajar atau pekerjaan yang ingin ditekuni, pendapat
biologi jika kepuasan dirasakan karena siswa mengenai efisien atau efektifnya suatu
kebutuhan personalnya terpenuhi lewat metode pembelajaran ikut mempengaruhi
instruksi atau tugas yang diberikan. motivasi belajar siswa (Boekaerts, 2002, h.8).
Ketika siswa merasa bahwa metode
Kember, Ho, dan Hong (2008, h.254) pembelajaran tersebut efektif dan efisien ini
mengatakan bahwa siswa dapat dapat menurun akan meningkatkan motivasi belajar
motivasi belajarnya jika tidak dapat melihat Biologinya dan sebaliknya jika siswa merasa
bagaimana teori diaplikasikan pada disiplin metode pembelajaran tersebut tidak efektif dan
ilmu dan pekerjaan. Sejak siswa telah memilih efisien maka motivasi belajar Biologinya akan
telah memilih profesional program, siswa turun.
memiliki harapan bahwa profesional program
ini dapat mempersiapkan diri dengan baik Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
untuk pekerjaan di masa depan. siswa yang memiliki persepsi yang positif
97 Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011

terhadap pembelajaran kontekstual merasa METODE


bahwa lewat pembelajaran kontekstual,
tumbuh kebahagiaan, minat, dan antusiasme Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah
siswa terhadap pelajaran Biologi. Lewat tugas Persepsi terhadap Metode Pembelajaran
yang diberikan, siswa merasa kebutuhan Kontekstual dan Motivasi Belajar Biologi.
personalnya terpuaskan. Salah satu kebutuhan Penelitian ini dikenakan pada siswa kelas XI
personal siswa adalah harapan akan jurusan IPA SMAN 1 Pangkalan kerinci. Jumlah
atau pekerjaan yang akan ditekuninya di masa subyek penelitian 153 siswa yang terdiri dari 5
depan sejak mereka telah memulai peminatan kelas dengan rincian: XI IPA 1 sebanyak 29
terhadap bidang IPA. Selain itu, siswa yang siswa , XI IPA 2 sebanyak 30 siswa, XI IPA 3
memiliki persepsi positif terhadap sebanyak 32 siswa, XI IPA 4 sebanyak 30
pembelajaran kontekstual menganggap bahwa siswa dan XI IPA 5 sebanyak 32 siswa. Total
metode pembelajaran yang diberikan oleh guru sampel yang digunakan untuk penelitian ini
efektif dan efisien sehingga dapat tiga kelas dan dua kelas digunakan untuk
meningkatkan motivasi belajar biologi siswa. ujicoba.

Sebaliknya siswa-siswa yang memiliki


persepsi yang negatif terhadap pembelajaran Metode pengumpulan data yang digunakan
kontekstual merasa bahwa lewat dalam penelitian ini adalah metode self-report
pembelajaran kontekstual kebutuhan dengan menggunakan alat ukur skala.
personalnya tidak terpuaskan sehingga tidak Penelitian ini menggunakan dua macam skala,
menumbuhkan kebahagiaan, minat, dan yaitu skala persepsi terhadap metode
antuasme siswa terhadap pelajaran Biologi. pembelajaran kontekstual dan skala motivasi
Sejak siswa telah memilih peminatan belajar biologi. Alat ukur yang digunakan pada
terhadap pelajaran IPA mereka berharap penelitian, adalah skala sikap model Likert
bahwa tugas atau instruksi yang diberikan dengan empat pilihan jawaban.
oleh guru tidak hanya dapat diaplikasikan
pada kehidupan sehari-hari tetapi juga Respons yang diharapkan diperoleh dari
berhubungan dengan jurusan atau pekerjaan subjek adalah taraf kesetujuan atau
yang ingin ditekuni di masa depan. Ketika ketidaksetujuan dalam empat alternatif
siswa tidak dapat melihat bagaimana teori jawaban, yaitu : Sangat Setuju (SS), Setuju
yang dipelajarinya diaplikasikan dalam (S), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju
bidang ilmu dan pekerjaan, motivasi belajar (STS). Pemberian skor terhadap aitem
biologinya dapat menurun. Selain itu, siswa favorable adalah Sangat Setuju (SS) = 4,
juga menganggap bahwa metode Setuju (S) = 3, Tidak Setuju (TS) = 2, Sangat
pembelajaran yang diberikan oleh guru tidak Tidak Setuju (STS) = 1. Pemberian skor
efektif dan efisien sehingga menurunkan terhadap aitem unfavorable adalah Sangat
motivasi siswa. Setuju (SS) = 1, Setuju (S) = 2, Tidak Setuju
(TS) = 3, Sangat Tidak Setuju (STS)= 4.
Hipotesis
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ada hubungan antara persepsi siswa terhadap
metode pembelajaran kontekstual dengan Hasil pengujian hipotesis dengan analisis
motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA regresi sederhana pada penelitian ini
SMAN 1 Pangkalan Kerinci. Siswa akan menunjukkan rxy = 0,804 dengan p = 0,000
termotivasi untuk belajar ketika memiliki (p<0,05). Hasil dari penelitian ini sesuai
persepsi yang positif terhadap pembelajaran dengan hipotesis yang diajukan, bahwa
kontekstual, dan sebaliknya. terdapat hubungan positf yang signifikan
antara variable persepsi terhadap pembelajaran
Pramitasari, Indriana, dan Ariati, Hubungan antara Persepsi terhadap Metode Kontekstual 98
dengan Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau

kontekstual dengan motivasi belajar Biologi. Kember, Ho, dan Hong (2008, h.249)
Semakin positif persepsi terhadap metode mengatakan bahwa motivasi siswa dapat
pembelajaran kontekstual maka semakin tinggi menurun jika siswa tidak dapat melihat
motivasi belajar Biologi, sebaliknya semakin bagaimana teori diaplikasikan dalam disiplin
negatif persepsi siswa terhadap pembelajaran ilmu dan pekerjaan. Nilsen (2009, h.553) juga
kontekstual maka akan membuat motivasi mengatakan bahwa siswa dengan mengetahui
belajarnya semakin rendah. Dari hasil nilai atau kegunaan dari setiap mata pelajaran
penelitian juga diketahui bahwa persepsi dan bagaimana pengaplikasiannya di
terhadap pembelajaran kontekstual memberi kehidupan sehari-hari, siswa akan menjadi
sumbangan efektif sebesar 64,7% terhadap lebih tertarik terhadap Biologi sehingga dapat
motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA meningkatkan motivasi belajar siswa. Sejak
SMAN 1 Pangkalan Kerinci. Ini menandakan siswa kelas XI IPA telah memilih jurusan yang
persepsi siswa terhadap pembelajaran sesuai bakat dan keinginannya, siswa memiliki
kontekstual memiliki pengaruh yang besar harapan bahwa apa yang dipelajarinya saat ini
terhadap motivasi belajar Biologi sedangkan dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk
sisanya 35.3% dipengaruhi oleh faktor-faktor jurusan yang akan dipilihnya saat kuliah atau
yang lainnya. pekerjaan di masa depan.
Hasil penelitian ini sesuai yang diungkapkan Biologi merupakan salah satu mata pelajaran
oleh Lepper (dalam Lumsden, 2010) bahwa yang sering ditemukan di dalam aplikasi
lewat contextualizing learning motivasi belajar kehidupan sehari-hari tetapi juga memiliki
siswa dapat meningkat. Salah satu faktor yang peran yang sangat besar terhadap ilmu lainnya.
mempengaruhi motivasi belajar adalah Berdasarkan data yang diperoleh dari
relevance. Relevance dapat membantu siswa penelitian, hampir rata-rata siswa memiliki
dalam melihat bagaimana kemampuan mereka minat yang cukup besar terhadap pekerjaan
bisa diaplikasikan di dunia nyata sehingga yang bersinggungan dengan Biologi, antara
dapat meningkatkan motivasi belajar. lain: Dokter, Bidan, Dokter gigi, Guru,
Relanvance adalah persepsi siswa terhadap Apoteker, Psikolog, dan lain-lain. Dengan
kepuasan kebutuhannya terkait hubungannya adanya ketertarikan terhadap pekerjaan yang
dengan instruksi atau tugas yang diberikan. berhubungan dengan Biologi ini maka
Relevance dapat dibangun dengan cara siswapun memiliki harapan bahwa tugas atau
mengaplikasikan teori lewat praktek, materi Biologi yang mereka pelajari dapat
membangun relevance melalui kasus lokal, membantu mempersiapkan diri untuk
menghubungkan materi lewat aplikasi sehari- mencapai cita-cita yang diinginkan.
hari, dan menghubungkan dengan isu-isu yang
sedang hangat dibicarakan yang Seperti yang dikatakan oleh Kember, Ho, dan
keseluruhannya dapat ditemukan dalam Hong (2008, h.249) mengatakan bahwa
metode pembelajaran kontekstual. motivasi siswa dapat menurun jika siswa tidak
dapat melihat bagaimana teori diaplikasikan
Metode Pembelajaran kontekstual merupakan dalam disiplin ilmu dan pekerjaan. Untuk itu
suatu strategi pembelajaran yang menekankan diperlukan sebuah metode pembelajaran untuk
kepada proses keterlibatan siswa secara penuh membantu siswa mengaplikasikan materi yang
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
dipelajarinya dan menghubungkannya dengan Metode pembelajaran kontekstual terdiri dari
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong delapan komponen, yaitu: membuat
siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,
mereka (Sanjaya, 2008, h.255). melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan
pekerjaan yang diatur sendiri, bekerja sama,
berpikir kritis dan kreatif, membantu individu
99 Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011

tumbuh dan berkembang, mencapai standar pembelajaran tersebut tidak efektif dan efisien
yang tinggi, dan menggunakan penilaian maka motivasi belajar Biologinya akan turun.
autentik. Contoh dari komponen pembelajaran Dengan hasil penelitian yang menunjukkan
kontekstual diantaranya adalah dengan persepsi yang sangat positif dari rata-rata
membangun keterkaitan antara materi dengan subjek penelitian, menunjukkan bahwa siswa
kehidupan nyata, memberikan tugas merasa bahwa penggunaan metode
kelompok, mengajak siswa untuk terlibat aktif pembelajaran kontekstual sebagai metode
dalam kegiatan diskusi dan persentasi, dan pembelajaran yang digunakan dalam pelajaran
memberikan penilaian dari berbagai aspek Biologi adalah efektif dan efisien sehingga
seperti ujian, tugas portofolio, persentasi, dan sesuai dengan hasil penelitian yang ada
lain-lain. Kedelapan komponen ini saling motivasi belajar Biologi siswa kelas XI IPA
melengkapi satu sama lain sehingga siswa pun semakin tinggi.
tidak hanya mengetahui manfaat dari materi
yang dipelajarinya tetapi juga dapat Berdasarkan hasil penelitian lain yang
mengembangkan kemampuan yang terhadap penggunaan metode pembelajaran
dimilikinya sehingga menjadi lebih baik. kontekstual dalam pelajaran Biologi pada
siswa SMA diketahui bahwa kemampuan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah
terhadap pelajaran Biologi pada siswa kelas XI berkembang dengan baik karena adanya
IPA, siswa tidak hanya menunjukkan persepsi pembelajaran Biologi secara langsung. Selain
yang sangat positif terhadap pembelajaran itu, siswa terlihat lebih kompak dengan teman
kontekstual tetapi juga memiliki motivasi sebayanya dengan adanya kerjasama dalam
belajar Biologi yang juga sangat tinggi. Dari melaksanakan tugas yang diberikan (partner
hasil penelitian diketahui bahwa ada 36 siswa study) (Ketter & Arnold, 2003, h.17).
berada pada kategori positif dan 56 siswa
berada pada kategori sangat positif untuk Penelitian lainnya diperoleh hasil bahwa
persepsi terhadap metode pembelajaran dengan diterapkannya metode pembelajaran
kontekstual. Meskipun pada awal, 20 dari 25 kontekstual, terjadi peningkatan prestasi siswa,
siswa menyatakan belum puas dengan antara lain: active engagement (keterikatan
pelajaran Biologi di sekolah tetapi siswa tetap dengan subjek pelajaran), better recall (terjadi
memiliki persepsi yang sangat positif terhadap peningkatan dalam hasil ujian dan
pembelajaran kontekstual. Untuk motivasi memperoleh peringkat yang lebih tinggi),
belajar Biologi diketahui ada sembilan siswa ownership of learning (rasa kepemilikan
berada pada kategori sedang, 40 siswa pada terhadap pembelajaran yang mereka lakukan),
kategori tinggi dan 43 siswa berada pada dan metakognisi (tingkat pemikiran yang lebih
kategori sangat tinggi. Hasil penelitian ini tinggi dan mencakup regulasi diri dari proses
tidak jauh berbeda dengan data awal kepada kognitif.
25 siswa dimana 23 siswa menyatakan bahwa
Selain itu, sebelumnya telah pernah dilakukan
mereka merasa termotivasi untuk belajar
penelitian tentang hubungan antara persepsi
Biologi.
terhadap pembelajaran dengan minat belajar
Boekaerts (2002, h.8) mengatakan bahwa matematika pada siswa SMP kelas tujuh. Hasil
pendapat siswa mengenai efisien dan penelitian tersebut menunjukkan hasil yang
efektifnya suatu metode pembelajaran ikut juga positif. Persepsi terhadap pembelajaran
mempengaruhi motivasi belajar siswa. Ketika kontekstual juga memberikan sumbangan
siswa merasa bahwa metode pembelajaran efektif yang sangat besar yaitu sebesar 59,6%
tersebut efektif dan efisien ini akan terhadap minat belajar matematika (Astuti,
meningkatkan motivasi belajar Biologinya dan 2010). Antara minat dan motivasi memiliki
sebaliknya jika siswa merasa metode hubungan yang sangat dekat. Djiwandono
Pramitasari, Indriana, dan Ariati, Hubungan antara Persepsi terhadap Metode Kontekstual 100
dengan Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau

(2002, h.365) mengatakan bahwa cara yang kontekstual maka semakin rendah motivasi
kelihatan logis untuk memotivasi siswa selama belajar Biologi siswa kelas XI IPA.
pelajaran adalah menghubungkan pengalaman
belajar dengan minat siswa. Motivasi dan Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat
minat sama-sama memiliki peranan dalam direkomendasikan beberapa saran sebagai
keberhasilan sebuah proses belajar. Dengan berikut:
adanya motivasi dan minat belajar yang tinggi, 1. Bagi Siswa kelas XI IPA
maka proses belajar-mengajar akan berjalan Bagi siswa diharapkan mampu
semakin baik dan menghasilkan hasil yang mempertahankan motivasi belajar Biogi
semakin baik. dengan tetap melaksanakan dan
bertanggung jawab terhadap tugas-tugas
Dari penelitian ini dan dari penelitian lainnya yang diberikan oleh guru serta berusaha
tentang penggunaan metode pembelajaran untuk meningkatkan dan mengembangkan
kontekstual diketahui bahwa metode ini kemampuan serta potensi yang dimiliki.
memberikan banyak keuntungan kepada siswa. 2. Bagi Sekolah
Keuntungan yang diperoleh antara lain adalah Dengan adanya hasil positif yang diperoleh
dengan meningkatnya motivasi belajar Biologi dari penggunaan metode pembelajaran
siswa, lewat metode pembelajaran kontekstual kontekstual untuk itu diharapkan bagi pihak
siswa tidak hanya diajarkan tentang teori tetapi sekolah untuk dapat menerapkan metode
diajak dalam praktik ke lapangan dan pembelajaran kontekstual ini pada mata
mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya pelajaran lainnya.
dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, lewat 3. Bagi Peneliti Lain
metode pembelajaran kontekstual Bagi peneliti yang tertarik untuk
kemammpuan siswa dalam menyelesaikan mengangkat masalah motivasi belajar
masalah berkembang dengan baik, siswa disarankan untuk memperhatikan faktor-
mampu bekerja sama dengan teman faktor yang berkontribusi terhadap motivasi
sebayanya, tumbuh keterikatan dengan subjek belajar, seperti unfavorable motivational
pelajaran dan rasa kepemilikan terhadap belief impede learning, favourable
pembelajaran yang mereka lakukan, dan motivational belief facilitate learning,
terjadi peningkatan dalam hasil ujian dan student belief about goal orientation,
memperoleh peringkat yang lebih tinggi. different belief about affort affect learning
intentions, goal setting and appraisal,
KESIMPULAN DAN SARAN striving for goals and willpower, dan
keeping multiple goals in harmoni.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan,
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan positif yang signifikan antara DAFTAR PUSTAKA
persepsi terhadap pembelajaran kontekstual
dengan motivasi belajar Biologi. Pernyataan Astuti, M. (2010). Hubungan antara Persepsi
tersebut mengandung arti bahwa hipotesis
terhadap Pembelajaran Kontekstual
yang menyatakan adanya hubungan positif
yang signifikan antara persepsi terhadap dengan Minat Belajar Matematika pada
pembelajaran kontekstual dengan motivasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 18
belajar Biologi diterima. Arah hubungan Semarang. Skripsi. (Tidak diterbitkan).
bersifat positif, artinya semakin positif Universitas Diponegoro.
persepsi terhadap pembelajaran kontekstual
maka semakin tinggi motivasi belajar Biologi Bernaus, M. & Gardner, R. C. (2008). Teacher
siswa kelas XI IPA dan sebaliknya, semakin motivation strategies, student
negatif persepsi terhadap pembelajaran perception, student motivation, and
101 Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No.1, April 2011

english achievement. The Modern School Science Novice Teacher.


Language Journal, 92, iii, 387-401. Diunduh pada tanggal 4 April 2010
darihttp://www.coe.uga.edu/ctl/casestu
Berns, R.G. & Erickson, P.M. (2001). dy/Arnold.pdf
Contextual Teaching and Learning:
Preparing Student for the New Kotler, P. & Keller, K.L. (2007). Manajemen
Ekonomy. Diunduh pada tanggal 1 Pemasaran. Edisi 12. Jilid I. Jakarta:
Maret 2010 dari Indeks.
http://www.cord.org/uploadedfiles/
NCCTE_ Highlight 05- Lynch, R. L. & Studdard, S. S. (2003).
ContextualTeachingLearning.pdf. Novice Teacher Implementation of
Contextual Teaching and Learning:
Boekaerts, M. (2002). Motivation to Learn. Analysis of Eight Case Studies in
Diunduh pada tangga 22 Mei 2010 Classrooms. Diunduh pada tanggal 4
dari: http://www.ibe.unesco.org April 2010 dari
/publications/ Educational http://www.coe.uga.edu/ctl/casestudy/
PracticesSeries Pdf /prac10e.pdf. CrossCase.pdf.

Coren, S., Ward, L.M. & Enss, J.T. (1999). Lumsden, L. S. (1994). Student Motivation to
Sensation and Perception. 5th ed. New Learn. Eric Digest, no 92. Diunduh
York: Harcourtd Collage Publisher. pada tanggal 31 Juli 2010 dari
http://eric.uoregon.edu/pdf /digests/
Djiwandono, S.E.W. (2002). Psikologi digest092.pdf.
Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia. Nilsen, H. (2009). Influence on student
academic behaviour through
Johnson, E.B. (2002). Contextual Teaching motivation, self-efficacy and value-
and Learning: Menjadikan Kegiatan expectation: an action research project
Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan to improve learning. Issues in
Bermakna. Bandung: Mizan Learning Informing Science and Information
Center (MLC). Technology, vol 6, 545-556.
Irwanto. (2002). Psikologi Umum: Buku Pambudi, N. A. (2008). Pemanfaatan biogas
Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT sebagai energi alternatif. [online].
Prenhallindo. Diambil tanggal 10 Juli 2011. Diambil
Kember, D., Ho, A. & Hong, C. (2008). The dari http://www.dikti.org/?q=node/99.
importance of establishing relevance in Rakhmat, J. (2005). Psikologi Komunikasi
motivation student learning. Active Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja
Learning in Higher Education. 9(3). Rosdakarya.
249-261.
Rustamiaji, T. 2009. Ampas Kopi Sebagai
Ketter, C.T. & Arnold, J. (2003). Bahan Alternatif Bahan Biosolar.
Implementing Contextual Teaching and [online]. Diambil tanggal 10 Juli 2011.
Learning: Case Study of Nancy, a High Diambil dari http://www.chem-is-
Pramitasari, Indriana, dan Ariati, Hubungan antara Persepsi terhadap Metode Kontekstual 102
dengan Motivasi Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau

try.org/artikel_kimia/biokimia/ampas- tanggal 10 Juli 2011 dari


kopi-sebagai-bahan-alternatif-bahan- http://www.metrotvnews.com/read/new
biosolar/. s/2011/07/03/56644/Baru-10-Persen-
Kotoran-Sapi-Dimanfaatkan-Menjadi-
Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran: Biogas/.
Berorientasi Standar Pendidikan.
Jakarta: Kencana. ------. 2007. The Programme for International
Student Assessment (PISA). Diunduh
Sardiman, A.M. (2001). Interaksi dan motivasi pada tanggal 19 April 2010 dari
belajar mengajar. Jakarta: Grafindo http://www.pisa.oecd.org/dataoecd/15/
Persada. 13/39725224.pdf.
-------. Baru 10 Persen Kotoran Sapi -----. 2009. A New Biology for The 21st
Dimanfaatkan Menjadi Biogas (2011, 3 Century. Washington, D.C: The
Juli). Metrotvnews.com. Diakses pada National Academic Press.