Anda di halaman 1dari 22

AUDITING II

“AUDIT SIKLUS PEROLEHAN MODAL DAN


PENGEMBALIAN”

Dosen Pengampu :

Pusvita Indria Mei Susilowati S.E., M.S.A. Ak.

Disusun oleh Kelompok 6:

1. Ayu Lestari (1810313120039)


2. Meilisa Permata Sari (1810313120035)
3. Muhammad Rizhan Dani (1810313310047)
4. Nor Hanifa Aziza (1810313120053)
5. Shelviyana Ega Safitri (1810313320003)

KELAS B

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

2020
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul “Audit Siklus Perolehan Modal dan Pengembalian” tepat pada waktunya.
Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Pusvita Indria Mei Susilowati S.E.,
M.S.A. Ak. selaku dosen pengampu mata kuliah Auditing II yang telah memberikan banyak
bimbingan serta masukan yang bermanfaat dalam proses pembuatan makalah ini.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Auditing II. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembaca
dan juga bagi penulis.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan maupun segi tata bahasanya. Oleh karena itu saran
dan kritik yang membangun sangat kami harapkan dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan
maupun motivasi bagi pembaca.

Banjarmasin, 04 November 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................................2

BAB I....................................................................................................................................................4

PENDAHULUAN................................................................................................................................4

1.1 Latar Belakang...................................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................................5

1.3 Tujuan Penulisan...............................................................................................................5

BAB II..................................................................................................................................................6

PEMBAHASAN...................................................................................................................................6

A. AKUN-AKUN DALAM SIKLUS...............................................................................................6

B. UTANG WESEL..........................................................................................................................8

a. Pengendalian Internal.........................................................................................................8

b. Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi...........................................9

c. Prosedur Analitis...............................................................................................................10

d. Pengujian Rinci Saldo........................................................................................................10

C. EKUITAS PEMILIK.................................................................................................................13

a. Pengendalian Internal............................................................................................................14

b. Pengauditan Modal Saham dan Agio Saham....................................................................16

c. Pengauditan Dividen..........................................................................................................18

d. Pengauditan Laba Ditahan................................................................................................19

BAB III...............................................................................................................................................20

PENUTUP..........................................................................................................................................20

A. Kesimpulan................................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................21

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Siklus transaksi yang akan kita bahas dalam buku ini adalah siklus perolehan
modal dan pengembaliannya yang menyangkut perolehan modal melalui pinjaman.
berbunga dan ekuitas pemegang saham serta pengembalian modal. Siklus ini juga
mencakup pembayaran bunga dan dividen.

Empat karakteristik siklus perolehan modal dan pengembaliannya


mempengaruhi akun-akun tersebut:

1. Hanya relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi saldo-saldo akun, tetapi setiap
transaksi seringkali sangat material. Sebagai contoh: perusahaan jarang
menerbitkan obligasi, tetapi begitu obligasi diterbitkan, jumlahnya biasanya
material. Oleh karena ukuran yang besar itulah, sebagai bagian dari pemeriksaan
atas saldo atau daftar kebanyakan akun yang ada dalam siklus ini berisi saldo
awal, transaksi yang terjadi sepanjang tahun yang di audit, dan saldo akhir tahun.
2. Kesalahan penyajian atau penghilangan satu transaksi saja bisa material akibatnya,
tekanan utama auditor dalam pengauditan akun-akun tersebut seringkali
diletakkan pada tujuan audit saldo kelengkapan dan ketelitian.
3. Terdapat hubungan hukum antara entitas klien dengan pemegang saham, obligasi
atau dokumen lain serupa itu. Dalam pengauditan transaksi-transaksi dalam siklus
ini, auditor harus sangat cermat untuk memastikan bahwa persyaratan hukum yang
mempengaruhi laporan keuangan telah terpenuhi dan disajikan dan di ungkapkan
dengan memadai.
4. Terdapat hubungan langsung antara akun bunga dan dividen dengan kewajiban
dan ekuitas. Dalam mengaudit kewajiban bunga auditor harus secara simultan
memeriksa pula beban bunga dan utang bunga. Demikian pula halnya dalam
pengauditan ekuitas pemilik, diumumkan, dan utang dividen.

4
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana karakteristik siklus perolehan modal dan pengembaliannya?
b. Bagaimana audit atas saldo utang?
c. Bagaimana audit atas saldo akun wesel bayar?
d. Bagaimana audit atas akun ekuitas?

1.3 Tujuan Penulisan


a. Untuk mengetahui bagaimana karakteristik siklus perolehan modal dan
pengembalian?
b. Untuk mengetahui bagaimana audit atas saldo utang?
c. Untuk mengetahui bagaimana audit atas saldo akun wesel bayar?
d. Untuk mengetahui bagaimana audit atas akun ekuitas?

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. AKUN-AKUN DALAM SIKLUS


Empat karakteristik siklus perolehan modal dan pengembaliannya mempengaruhi
akun-akun tersebut:

1. Hanya relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi saldo-saldo akun, tetapi


setiap transaksi seringkali sangat material. Sebagai contoh: perusahaan
jarang menerbitkan obligasi, tetapi begitu obligasi diterbitkan, jumlahnya
biasanya material. Oleh karena ukuran yang besar itulah, sebagai bagian dari
pemeriksaan atas saldo atau daftar kebanyakan akun yang ada dalam siklus
ini berisi saldo awal, transaksi yang terjadi sepanjang tahun yang di audit,
dan saldo akhir tahun.
2. Kesalahan penyajian atau penghilangan satu transaksi saja bisa material
akibatnya, tekanan utama auditor dalam pengauditan akun-akun tersebut
seringkali diletakkan pada tujuan audit saldo kelengkapan dan ketelitian.
3. Terdapat hubungan hukum antara entitas klien dengan pemegang saham,
obligasi atau dokumen lain serupa itu. Dalam pengauditan transaksi-
transaksi dalam siklus ini, auditor harus sangat cermat untuk memastikan
bahwa persyaratan hukum yang mempengaruhi laporan keuangan telah
terpenuhi dan disajikan dan di ungkapkan dengan memadai.
4. Terdapat hubungan langsung antara akun bunga dan dividen dengan
kewajiban dan ekuitas. Dalam mengaudit kewajiban bunga auditor harus
secara simultan memeriksa pula beban bunga dan utang bunga. Demikian
pula halnya dalam pengauditan ekuitas pemilik, diumumkan, dan utang
dividen.

Akun-akun dalam siklus perolehan modal dan pengembaliannya tergantung pada tipe
operasi bisnis perusahaan dan bagaimana operasi tersebut didanai. Semua perseroan memiliki
modal saham dan laba ditahan, tetapi hanya sedikit yang memiliki saham preferen, agio
saham, dan saham dibeli kembali (treasury stock). Seperti halnya siklus yang lain, kas

6
merupakan akun yang penting dalam siklus ini karena baik dalam perolehan modal maupun
dalam pengembaliannya selalu melibatkan akun kas. Karakteristik yang unik dari siklus
perolehan modal dan pengembaliannya mempengaruhi bagaimana auditor memeriksa akun-
akun dalam siklus ini. Siklus ini biasanya mencakup akun-akun di bawah ini:

 Utang wesel  Kas di Bank


 Utang kontrak  Modal saham-biasa
 Utang hipotik  Modal saham-preferen
 Utang obligasi  Agio saham
 Beban bunga  Laba Ditahan
 Laba Ditahan Disisihkan  Modal pemilik (perseorangan)
 Saham Dibeli Kembali  Modal sekutu (persekutuan)
 Dividen Diumumkan

Metodologi untuk perancangan pengujian rinci saldo untuk akun dalam siklus
perolehan modal dan pengembaliannya sama dengan metodologi yang diikuti untuk akun-
akun lainnya.

Sebagai contoh, dalam menentukan pengujian rinci saldo utang wesel, auditor
mempertimbangkan risiko bisnis, materialitas pelaksanaan, risiko inheren, hasil dari
pengujian pengendaiian dan pengujian substantif transaksi, dan hasil dari prosedur
analitis.

Auditor biasanya menetapkan materialitas pada tingkat rendah karena pada umumnya
dimungkinkan untuk mengaudit secara lengkap saldo akun dan transaksi yang mempengaruhi
saldo akun utang wesel. Demikian pula, auditor biasanya menetapkan risiko inheren pada
tingkat rendah karena nilai akun yang benar biasanya mudah ditentukan. Demikian pula,
auditor biasanya lebih menekankan pada tujuan audit saldo kelengkapan untuk saldo akun
utang wesel dan tujuan kelengkapan untuk pengungkapan utang wesel, seperti jaminan dan
pembatasan penggunaan utang wesel. Karena siklus ini hanya berisi sedikit transaksi, risiko
pengendalian dan hasil pengujian substantif transaksi biasanya kurang penting untuk
perancangan pengujian rinci saldo untuk akun seperti utang wesel.

Untuk memahami dengan baik prosedur audit untuk banyak akun dalam siklus
perolehan modal dan pengembaliannya, sejumlah akun terpilih yang merupakan bagian

7
signifikan dari siklus ini pada umumnya, akan dibahas pada bab ini. Di bawah ini akan
dibahas (1) pengauditan utang wesel dan beban bunga yang bersangkutan untuk memberi
gambaran pinjaman berbunga, dan (2) pengauditan modal saham biasa, agio saham biasa,
dividen, dan laba ditahan untuk menggambarkan akun-akun ekuitas.

B. UTANG WESEL
Utang Wesel adalah kewajiban legal kepada seorang kreditor yang terdiri dari
pokok pinjaman dan bunganya, yang mungkin dijamin atau tidak dijamin dengan
aset. Biasanya wesel diterbitkan untuk suatu tertentu antara satu bulan sampai satu
tahun, tapi ada juga yang jangka waktunya lebih panjang. Wesel diterbitkan untuk
berbagai macam tujuan, dan properti atau aset lain dijadikan sebagai jaminan
pinjaman, seperti misalnya sekuritas, piutang usaha, persediaan, dan aset tetap.
Pokok Pinjaman dan tingkat bunga wesel harus dicantumkan dalam perjanjian kredit
untuk wesel jangka pendek, pembayaran pokok untuk bunga hanya diminta ketika
wesel jatuh tempo. untuk wesel lebih dari 90 hari, bunga biasanya dibayar secara
bulanan atau kwartalan.
Auditor biasanya melakukan pengujian atas pembayaran pokok pinjaman dan
bunganya sebagai bagian dari pengauditan siklus pembelian dan pembayaran, karena
pembayaran dicatat jurnal pengeluaran kas. Akan tetapi dalam banyak kasus, karena
transaksi jarang terjadi, tidak ada transaksi modal yang dimasukkan dalam sampel
oleh auditor untuk pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi. Oleh
karena itu, auditor biasanya menguji transaksi ini sebagai bagian dari siklus
pembelian dan pembayaran.
Tujuan pengauditan atas utang wesel adalah untuk menentukan apakah:

 Pengendalian internal atas utang wesel memadai.


 Transaksi yang menyangkut pokok pinjaman dan bunga wesel telah diotorisasi
dengan benar dan telah dicatat sesuai dengan keenam tujuan audit transaksi.
 Kewajiban untuk utang wesel dan bunga yang bersangkutan serta utang bunga telah
ditetapkan dengan benar sebagaimana dirumuskan dalam kedelapan tujuan audit
saldo (catatan: Tujuan "nilai bersih bisa direalisasi" tidak diterapkan pada
pengauditan akun kewajiban).
 Pengungkapan yang berkaitan dengan utang wesel dan bunga wesel terkait
memenuhi keempat tujuan audit penyajian dan pengungkapan.

8
a. Pengendalian Internal
Ada empat pengendalian internal bagi utang wesel, yaitu:

1. Penerbitan wesel harus mendapat otorisasi lebih dahulu. Kewenangan pemberian


persetujuan penerbitan wesel berada pada dewan komisaris atau manajemen tingkat
tinggi. Biasanya diperlukan beberapa tandatangan persetujuan dalam perjanjian
kredit yang mencakup jumlah pinjaman, tingkat bunga, tanggal pembayaran bunga
dan angsuran, dan aset yang dijadikan agunan. Apabila wesel diperbaharui
(diperpanjang), diperlukan persetujuan yang sama seperti halnya penerbitan wesel
baru.
2. Terdapat pengendalian yang memadai untuk pembayaran pokok pinjaman maupun
bunganya. Pembayaran bunga periodik dan pembayaran angsuran pokok pinjaman
harus diawasi melalui siklus pembelian dan pembayaran. Pada saat wesel
diterbitkan, bagian akuntansi harus menerima suatu copy wesel, sama seperti halnya
ketika ia menerima copy faktur dari penjual dan laporan penerimaan barang. Bagian
utang akan secara otomatis menerbitkan check atau electronic funds transfer untuk
wesel yang telah jatuh tempo, dengan cara yang sama seperti ketika ia menyiapkan
pembayaran untuk pembelian barang dan jasa. Suatu copy wesel akan menjadi
dokumen pendukung pembayaran wesel.
3. Dokumen dan catatan yang memadai. Hal ini menyangkut penyelenggaraan catatan
pembantu dan pengawasan atas dokumen wesel yang telah dibayar oleh pejabat yang
ditunjuk. Wesel yang telah dilunasi harus diberi tanda "LUNAS" dan disimpan oleh
pejabat yang berwenang.
4. Verifikasi independen secara periodik. Secara periodik catatan detil wesel harus
direkonsiliasi dengan buku besar dan dibandingkan dengan catatan yang
diselenggarakan oleh pemegang wesel oleh seseorang yang tidak bertanggungjawab
untuk menyelenggarakan catatan detil. Pada saat yang sama, seseorang yang
independen harus melakukan perhitungan ulang biaya bunga wesel untuk menguji
ketelitian catatan pembukuan.

b. Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi


Pengujian transaksi utang wesel menyangkut penerbitan wesel dan Pembayaran
kembali pokok pinjaman dan bunganya. Pengujian audit ini merupakan bagian dari
pengujian pengendalian dan substantif transaksi penerimaan kas. Tambahan pengujian

9
pengendalian dan pengujian substantif transaksi seringkali juga dilakukan sebagai bagian
dari pengujian. Pengujian pengendalian atas utang wesel beserta bunganya dititik beratkan
pada pengujian atas empat pengendalian seperti telah diuraikan di atas. Selain itu, auditor
juga harus memeriksa ketelitian catatan penerimaan dari pencairan pinjaman serta
pembayaran kembali pokok pinjaman dan bunganya.

c. Prosedur Analitis
Prosedur analitis penting dalam pengauditan utang wesel karena pengujian rinci beban
bunga dan utang bunga seringkali dapat ditiadakan apabila hasilnya memuaskan. Tabel 19-1
melukiskan tipikal prosedur analitis untuk utang wesel dan akun bunga yang bersangkutan.

Prediksi independen auditor atas beban bunga, dengan menggunakan saldo utang
berjalan dan tingkat bunga, akan membantu audit dalam menilai kewajaran beban bunga dan
juga menguji kemungkinan adanya utang wesel yang tidak dicatat. Apabila beban bunga
sesungguhnya jauh lebih besar dari estimasi auditor, salah satu kemungkinan hal itu
disebabkan pembayaran bunga dilakukan atas utang wesel yang tidak dicatat.

Tabel 19-1 Prosedur Analitis untuk Utang Wesel

Prosedur Analitis Kemungkinan Kesalahan Penyajian


Hitung kembali rata-rata beban bunga atas Kesalahan penyajian beban bunga dan utang
dasar tingkat bunga rata-rata dan saldo. bunga atau penghilangan utang wesel.
Membandingkan wesel individual yang Penghilangan atau kesalahan penyajian
masih berjalan dengan tahun lalu. utang wesel.
Membandingkan total saldo dalam akun
Kesalahan penyajian beban bunga dan utang
utang wesel, beban bunga, dan utang bunga
bunga wesel.
dengan tahun lalu.

d. Pengujian Rinci Saldo


Titik tolak yang biasa dilakukan dalam pengauditan utang wesel adalah daftar utang
wesel dan utang bunga wesel yang diterima auditor dari klien. Apabila terjadi sejumlah
transaksi yang menyangkut utang wesel selama tahun yang di audit, akan menjadi tidak
praktis bagi auditor untuk menggunakan skedul seperti itu. Dalam situasi demikian, biasanya
akan meminta klien untuk membuat suatu skedul yang berisi wesel-wesel yang masih
memiliki saldo yang belum dibayar pada akhir tahun, menunjukkan deskripsi setiap wesel,
saldo akhir tahun, dan saldo akhir tahun utang bunga, termasuk agunan dan tingkat bunga.

10
Ada dua tujuan audit saldo yang penting dalam audit atas utang wesel:

1. Utang wesel yang ada telah dicatat dan dilaporkan (kelengkapan)


2. Utang wesel yang tercantum dalam daftar telah dicatat dengan akurat (ketelitian)

Tujuan-tujuan diatas sangat vital karena kesalahan penyajian bisa material walaupun
yang salah catat atau ditiadakan hanya menyangkut satu buah wesel. Tabel 19-2 di bawah ini
melukiskan prosedur-prosedur yang lazim dilakukan untuk tujuan kelengkapan utang wesel.
Apabila pengendalian internal atas utang wesel tidak efektif, auditor harus memperluas
prosedur untuk menguji kemungkinan adanya utang wesel yang tidak dicatat. Sebagai
contoh, auditor bisa mengirim konfirmasi kepada kreditur yang dimasa lalu yang pernah
memberi kredit wesel tetapi pada tahun ini tidak tercantum dalam daftar utang wesel.
Auditor juga bisa menganalisis beban bunga yang dibayarkan kepada kreditur tetap kreditur
tersebut tidak tercantum namanya dalam daftar utang wesel, dar mereview notulen rapat
dewan komisaris untuk memeriksa kemungkinan adanya wesel yang telah mendapat
persetujuan tetapi tidak dicatat.

Selain tujuan audit saldo, empat tujuan audit penyajian dan pengungkapan juga penting
untuk utang wesel karena standar akuntansi keuangan mensyaratkan catatan kaki yang
memadai yang menjelaskan ketentuan-ketentuan berkenaan dengan utang wesel yang sedang
berjalan serta aset yang dijadikan agunan pinjaman, Apabila pinjaman menghendaki adanya
pembatasan signifikan atas aktivitas perusahaan, maka hal tersebut harus pula diungkapkan
dalam catatan kaki. Apabila auditor telah melaksanakan pengujian rinci saldo untuk tujuan
audit saldo, maka bukti yang díperohh dalam pengujian tersebut akan sangat membantu
auditor dalam mencapai tujuan audit penyajian dan pengungkapan.

Tabel 19-2 Tujuan Audit Saldo dan Pengujian Rinci Saldo untuk Utang Wesel dan
Bunga

Prosedur Pengujian Rinci


Tujuan Audit Saldo Komentar
Saldo
Utang wesel yang tercantum -Jumlahkan ke bawah daftar Hal ini sering dilakukan pada
dalam daftar utang wesel utang wesel dan utang bunga. seluruh wesel yang ada karena
cocok dengan register utang -Telusur totalnya ke buku populasinya hanya sedikit,
wesel atau master file klien, besar. atau apabila cukup banyak
dan totalnya telah dijumlah -Telusur utang wesel bisa dilakukan dengan

11
dengan benar dan cocok individual ke master file. menggunakan perangkat lunak
dengan buku besar (kecocokan audit.
Utang wesel yang tercantum -Konfirmasi utang wesel.
dalam daftar utang wesel -Periksa otorisasi pada copy
Tujuan keberadaan tidak
benar-benar ada (keberadaan) duplikat wesel.
begitu penting dibandingkan
-Periksa persetujuan
dengan tujuan kelengkapan
pengambilan kredit dalam
dan ketelitian.
notulen rapat perusahaan.

Utang wesel yang ada telah -Periksa pembayaran wesel Tujuan ini penting untuk
dicantumkan dalam daftar setelah akhir tahun buku untuk mengungkapkan kemungkinan
utang wesel (kelengkapan) memastikan bahwa wesel adanya kekeliruan dan
tersebut tercantum sebagai kecurangan. Ketiga prosedur
utang pada akhir tahun yang ini lazim dilakukan pada
diperiksa. kebanyakan audit. Tambahan
-Dapatkan konfirmasi bank prosedur untuk mencari
standar yang mencakup kewajiban yang tidak dicatat
referensi spesifik tentang diperlukan apabila
keberadaan utang wesel dari pengendalian internal lemah.
semua bank yang berkaitan
dengan utang wesel
perusahaan.
-Review rekonsiliasi bank
untuk wesel baru yang
dikreditkan langsung ke akun
bank oleh bank.
Utang wesel dan utang bunga -Periksa pokok pinjaman dan Dalam kasus-kasus tertentu
yang tercantum dalam daftar bunga wesel pada duplikat perlu dilakukan perhitungan,
sungguh-sungguh akurat copy wesel. dengan menggunakan metode
(ketelitian) -Konfirmasi utang wesel, nilai sekarang (present value)
tingkat bunga, dan tanggal atas bunga dan pokok
terakhir pembayaran bunga pinjaman. Sebagai contoh,
yang telah dilakukan kepada apabila peralatan dibeli

12
pemegang wesel. dengan menggunakan utang
Utang wesel yang tercantum -Periksa tanggal
-Rekalkulasi jatuh
utang pada
bunga. wesel.
dalam daftar utang wesel telah duplikat copy wesel untuk
digolongkan dengan benar memastikan apakah sebagian
(penggolongan) atau seluruh utang wesel telah
menjadi utang jangka pendek.
-Review wesel untuk
memastikan apakah wesel
tersebut merupakan utang
wesel atau utang usaha dengan
pihak berelasi.  
Utang wesel telah dilaporkan -Periksa duplikat copy wesel Wesel harus dilaporkan
pada periode yang tepat (pisah untuk menentukan apakah sebagai utang periode ini,
batas) wesel bertanggal sebelum atau apabila wesel bertanggal
tepat pada tanggal neraca. sebelum atau tepat pada
tanggal neraca.
Perusahaan mempunyai Periksa wesel untuk  
kewajiban untuk membayar menentukan apakah
utang wesel. perusahaan mempunyai
kewajiban untuk membayar.

C. EKUITAS PEMILIK
Ekuitas adalah tuntutan pemilik terhadap aktiva perusahaan. Dalam perusahaan
perorangan atau persekutuan, ekuitas pemilik seringkali dipecah menjadi akun yang berbeda
untuk mencatat nilai sisa ekuitas pemilik (owner's capital balance) dan pengambilan pribadi
(the owner's withdrawals). Ada perbedaan penting antara pengauditan ekuitas pemilik pada
perseroan publik dengan perseroan tertutup. Pada perusahaan perseroan tertutup yang
pemegang sahamnya biasanya hanya sedikit, transaksi yang menyangkut akun modal selama
satu periode jarang sekali terjadi. Transaksi yang mempengaruhi ekuitas pemilik hanyalah
berupa perubahan ekuitas pemilik karena adanya laba atau rugi tahunan dan pembagian
dividen (kalau ada). Perseroan Tertutup jarang membayar dividen, dan auditor hanya
membutuhkan waktu sedikit untuk memeriksa ekuitas pemilik, walaupun auditor tetap harus
menguji catatan perusahaan.

13
Sebaliknya dalam perusahaan perseroan public , verifikasi ekuitas pemilik jauh lebih
kompleks karena perusahaan memiliki pemegang saham yang banyak dan sering terjadi
perubahan individu yang memegang saham.

a. Pengendalian Internal
Sejumlah pengendalian internal penting sekali bagi ekuitas pemilik. Dibawah ini akan
dibahas :

1. Otorisasi Transaksi Secara Tepat


Berikut adalah sejumlah transaksi yang biasanya memerlukan otorisasi khusus:
 Penerbitan Modal Saham. Pengotorisasian meliputi jenis ekuitas yang
diterbitkan (apakah saham preferen atau saham biasa), jumlah saham yang akan
diterbitkan, nilai per saham, preferensi saham yang bukan saham biasa, dan
tanggal penerbitan.
 Pembelian Kembali Modal Saham. Pembelian kembali saham biasa atau saham
preferen, saat pembelian kembali, dan jumlah yang harus dibayar untuk saham-
saham tersebut harus mendapat otorisasi dari dewan komisaris.
 Pengumuman Dividen. Dewan komisaris harus mengotorisasi bentuk dividen
(apakah dividen tunai atau dividen saham), jumlah dividen per lembar saham,
dan tanggal pencatatan dan tanggal pembayaran dividen.
2. Pembukuan Dan Pemisahan Tugas Yang Tepat
Apabila perusahaan menangani sendiri catatan transaksi saham dan saham yang
beredar, pengendalian internal harus memadai untuk memastikan bahwa:
 Pemegang saham sesungguhnya diakui dalam catatan perusahaan
 Jumlah dividen yang benar dibayarkan kepada pemegang yang memiliki saham
perusahaan pada tanggal pencatatan dividen.
 Potensi terjadinya kecurangan asset di minimalkan.

Penugasan personel yang tepat, prosedur pembukuan yang memadai, dan


verifikasi informasi dalam catatan internal secara independen adalah pengendalian
penting untuk tujuan ini. Klien juga harus memiliki kebijakan yang dirumuskan
secara baik untuk penyiapan sertifikat saham dan pencatatan transaksi modal
saham.

Pada waktu menerbitkan dan mencatat modal saham, klien harus menaati
peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta ketentuan-ketentuan dalam
14
dasar perusahaan. Nilai pari saham, jumlah saham yang diotorisasi untuk
diterbitkan perusahaan, serta pajak yang harus dibayar berkenaan dengan
penerbitan saham semua berpengaruh terhadap penerbitan dan pencatatan.

Sebagai cara untuk buku mengawasi sertifikat saham modal dan saham,
banyak perusahaan menyelenggarakan buku sertifikat saham dan master modal file
saham para pemegang perusahaan. Catatan sertifikat saham mencatat saham para
pemegang diterbitkan dan saham yang dibeli kembali sepanjang perjalanan
perusahaan. Catatan transaksi modal saham mencakup nomor sertifíkat saham,
jumlah saham yang diterbitkan, nama pemegang saham, dan tanggal penerbitan
saham harus mencatat sertifikat saham yang ditarik kembali dan tanggal
penarikannya.

Master file modal saham para pemegang saham adalah catatan saham
beredar pada suatu saat tertentu. Master file berfungsi sebagai pengecheck
ketelitian catatan sertifikat saham dan saldo modal saham biasa dibuku besar.
Selain itu Master File ini juga berguna sebagai dasar untuk pembayaran dividen.

Pengendalian internal yang mempengaruhi pembayaran dividen meliputi :

 Check untuk pembayaran dividen hendaknya disiapkan berdasarkan catatan


sertifikat saham oleh seseorang yang tidak bertangung jawab atas catatan modal
saham.
 Setelah Check disiapkan, selanjutnya dilakukan verifikasi independen tentang
nama pemegang saham dan jumlah rupiah yang tertulis pada check serta
rekonsialiasi jumlah total check untuk pembayaran dividen dengan total dividen
yang diotorisasi dalam notulen rapat.
 Sebaiknya diselanggarakan akun imprest dividen yang terpisah untuk mencegah
pembayaran dividen yang lebih besar daripada jumlah yang diotorisasi.

3. Registrar Independen dan Agen Transfer Saham


Setiap Perusahaan dengan saham terdaftar di Bursa Efek Indonesia diwajibkan
memiliki registrar independen sebagai pengendalian untuk mencegah penerbitan
saham yang tidak sesuai dengan peraturan. Tanggungjawab registrar independen
adalah memastikan bahwa saham diterbitkan perusahaan sesuai dengan ketentuan
yang tercantum dalam anggaran dasar perusahaan setelah mendapat otorisasi dari

15
dewan komisaris apabila terjadi perubahan dalam pemilikan saham. Registrar
bertanggung jawab untuk menandatangani semua sertifikat saham baru yang
diterbitkan dan memastikan bahwa sertifikat saham yang lama telah diterima dan
dinyatakan tidak berlaku. Sebelum sertifikat pengganti diterbitkan.
Banyak perseroan besar juga menggunakan jasa agen transfer saham untuk
menyelenggarakan pencatatan saham, termasuk mendokumentasikan perpindahan
(transfer) pemilikan saham. Penggunaan agen transfer saham akan membantu
penanganan catatan dengan cara meletakkan di tangan pihak organisasi independen
dan mengurangi biaya pencatatan dengan menggunakan tenaga spesialis. Banyak
juga perusahaan yang menggunakan jasa agen transfer untuk pembayaran dividen
tunai kepada pemegang saham. Hal ini juga meningkatkan pengendalian internal.

b. Pengauditan Modal Saham dan Agio Saham


Empat hal yang menjadi perhatian utama auditor dalam pengauditan modal saham dan
agio saham :
1. Transaksi yang terjadi telah dibukukan (tujuan transaksi kelengkapan)
2. Transaksi modal saham terbukukan sungguh-sungguh terjadi
3. Modal saham telah dicatat dengan akurat (tujuan audit saldo ketelitian)
4. Modal saham telah disajikan dan diungkapkan dengan tepat

Dua hal pertama menyangkut pengujian pengendalian dan pengujian substantive


golongan transaksi, sedangkan dua hal berikutnya menyangkut pengujian detil saldo dan
pengungkapan yang bersangkutan.

1. Transaksi Yang Terjadi Telah Dibukukan

Tujuan ini dapat dengan mudah dicapai apabila perusahaan klien menggunakan
registrar independen atau agen transfer. Auditor bisa mengirimkan konfirmasi kepada
mereka untuk menanyakan transaksi apa yang telah terjadi dan keakuratan transaksi
yang ada, dan kemudian memastikan apakah semua transaksi itu telah terjadi. Untuk
dapat mengetahui adanya penerbitan atau pembelian kembali saham, auditor juga
mereview notulen rapat dewan komisaris, terutama menjelang akhir tahun buku, dan
memeriksa buku catatan saham yang diselenggarakan perusahaan.

16
2. Transaksi Modal Saham Terbukukan Sungguh-Sungguh Terjadi dan Dicatat
dengan Tepat

Pengujian yang ekstensif dibutuhkan untuk transaksi-transaksi yang menyangkut


penerbitan modal saham seperti misalnya penerbitan saham baru secara tunai, merger
dengan perusahaan lain lewat pertukaran saham, saham donasi, dan pembelian kembali
saham.

Auditor memeriksa keakuratan catatan transaksi modal saham yang dilakukan


secara tunai dengan cara mengirim konfirmasi kepada agen transfer dan menelusur
jumlah transaksi yang tercatat dipembukuan ke penerimaan kas. Selain itu auditor harus
memeriksa apakah jumlah yang benar telah di kreditkan ke modal saham dan agio
saham dengan mengacu ke anggaran dasar perusahaan untuk menentukan nilai pari atau
nilai ditetapkan modal saham. Bagaimana pun pengendaliannya, biasanya auditor akan
memeriksa seluruh transaksi modal saham karena materialitasnya dan bersifat
permanen dalam pembukuan. Tujuan transaksi keberadaan biasanya dapat diuji dengan
memeriksa otorisasi sebagaimana tercantum dalam notulen rapat dewan komisaris.

Pengauditan transaksi modal saham seperti dividen saham, pemerolehan property


dalam transaksi modal saham, merger, atau transaksi non-tunai lainnya tidaklah mudah
karena dibutuhkan keahlian teknis tertentu dan seringkali dibutuhkan pertimbangan
untuk menentukan penilaian yang tepat.

3. Modal Saham Dibukukan dengan Tepat

Setelah auditor puas bahwa jumlah saham yang beredar telah ditentukan dengan
benar, nilai pari terbukukan dalam akun modal saham dapat diperiksa dengan
mengalikan jumlah lembar saham dengan nilai pari saham. Saldo akhir dalam akun agio
saham adalah jumlah residual. Ini bisa diaudit dengan memeriksa jumlah transaksi
selama tahun yang diperiksa dan menambahkan atau mengurangkannya dari saldo awal
akun. Sebagai contoh, dalam suatu transaksi merger, auditor kadang-kadang perlu
melakukan penelitian untuk menentukan perlakuan akuntansi yang sesuai dan
penentuan penilaian transaksi yang tepat, setelah mempertimbangkan semua aspek
dalam merger tersebut.

Pertimbangan penting ketika mengaudit tujuan audit saldo tentang ketelitian untuk
modal saham adalah memeriksa kebenaran jumlah saham yang digunakan dalam

17
perhitungan laba per lembar saham, tidak sulit untuk menentukan jumlah saham yang
benar untuk digunakan dalam perhitungan, apabila perusahaan hanya memiliki satu
golongan saham dengan jumlah transaksi yang tidak banyak. Masalah akan menjadi
kompleks apabila terjadi sekuritas yang dapat dikonversi (convertible securities) , opsi
saham , atau waran saham yang beredar.

4. Modal Saham Disajikan dan Diungkapkan dengan Tepat

Sumber informasi terpenting untuk menentukan apakah keempat tujuan penyajian


dan pengungkapan untuk aktivitas modal saham telah terpenuhi adalah anggaran dasar
perusahaan, notulen rapat dewan komisaris, dan analisis auditor tentang transaksi
modal saham. Auditor harus memastikan bahwa setiap golongan saham telah
dideskripsikan dengan tepat termasuk jumlah saham yang diterbitkan dan semua hak
yang melekat pada setiap golongan saham. auditor juga harus memeriksa ketepatan
penyajian dan pengungkapan opsi saham, waran saham, dan sekuritas bias dikonvensi
dengan memeriksa dokumen-dokumen atau bukti-bukti lain yang memuat kesepakatan
yang bersangkutan.

c. Pengauditan Dividen
Titik berat pengauditan dividen adalah pada transaksi dividen , bukan pada saldo
akhir,kecuali apabila terdapat utang dividen. tujuan audit transaksi untuk transaksi-transaksi
relevan untuk dividen. Namun demikian, dividen biasanya diaudit seratus persen. Tujuan
terpenting, termasuk yang berkaitan dengan utang dividen adalah :

1. Dividen terbukukan sungguh-sungguh terjadi (keterjadian)


2. Dividen yang ada telah tercatat ( kelengkapan )
3. Dividen telah dicatat dengan akurat ( ketelitian )
4. Dividen dibayarkan kepada pemegang saham yang ada / yang berhak ( keterjadian )
5. Utang dividen telah tercatat ( kelengkapan )
6. Utang dividen telah dicatat dengan akurat ( ketelitian )

Auditor bisa memeriksa keterjadian dividen yang telah dibukukan dengan


pengawasan otorisasi pada notulen rapat dewan komisaris tentang dividen per lembar
saham dan tanggal pembayaran dividen, Dalam melakukan hal tersebut, auditor harus
waspada terhadap kemungkinan tidak ada yang namanya dividen yang telah
diumumkan, terutama beberapa waktu menjelang akhir tahun. Prosedur audit yang
sangat berkaitan dengan adalah mereview arsip audit permanen untuk menentukan

18
apakah terdapat hak pembayaran dividen dalam perjanjian obligasi atau provisi saham
preferen.

Ketelitian pengumuman dividen dapat diaudit dengan melakukan rekalkulasi


jumlah berdasarkan dividen per lembar saham dikalikan dengan jumlah saham yang
diukur. Apabila klien menggunakan agen transfer untuk membayar dividen, total
dividen dapat ditelusur ke jurnal pengeluaran ke agen tersebut dan juga di konfirmasi,

Pengujian untuk utang dividen harus dilakukan bersamaan dengan


perigumuman utang dividen. Semua dividen yang belum dibayar harus sebagai
kewajiban.

d. Pengauditan Laba Ditahan


Pada kebanyakan perusahaan transaksi-transaksi yang menyangkut laba ditahan
hanyalah pencatatan laba bersih untuk tahun buku yang bersangkutan dan pengumuman
dividen . perubahan lain dalam laba ditahan bias berupa koreksi laba tahun yang lalu,
penyesuaian tahun yang lalu yang didebetkan atau dikreditkan langsung ke laba ditahan, dan
penetapan atau penghentian penyisihan (appropriation) laba ditahan.
Untuk memulai pengauditan atas laba laba, auditor pertama-tama menganalisis
laba selama periode yang diaudit. Audit skedul yang menunjukkan analisis, biasanya
merupakan bagian dari arsip permanen, mencakup semua transaksi yang
mempengaruhi akun ini. Untuk mengaudit pengkreditan atas laba selama pendapatan
untuk laba bersih yang diperoleh tahun yang diaudit (atau pendebetan jika terjadi rugi
bersih), auditor hanya perlu menelusur ayat jurnal dalam laba laba laba bersih yang
diperoleh dalam laporan laba-rugi. Sudah barang tentu prosedur ini harus dilakukan
pada akhir audit, ketika semua ayat jurnal yang mempengaruhi laba bersih telah
selesai dilakukan.

Dalam mengaudit pendebetan dan pengkreditan atas laba ditahan selain yang
disebabkan oleh laba bersih dan dividen, auditor harus memastikan apakah transaksi-
transaksi telah dimasukkan. Sebagai contoh penyesuaian terhadap kejadian tahun lalu
dapat dimasukkan ke dalam laba ditahan hanya apabila hal tersebut sesuai dengan
ketentuan dalam standar akuntansi keuangan.

Setelah auditor yakin bahwa transaksi-transaksi terbukukan sudah


digolongkan dengan benar sebagai transaksi laba ditahan, tahap berikutnya adalah
memutuskan apakah transaksi-transaksi tersebut telah dicatat dengan benar. Bukti

19
audit yang diperlukan untuk menentukan akurasi tergantung pada pada sifat transaksi.
Auditor juga harus mengevaluasi apakah ada transaksi yang seharusnya dimasukkan
tetapi tidak dibukukan.

20
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Karakteristik siklus perolehan modal dan pengembaliannya:


a. Relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi akun saldo-saldo perkiraan di atas tetapi
seringkali transaksi jumlahnya material.
b. Tidak di masukkannya satu transaksi yang jumlahnya tersendiri mungkin material
c. Terdapat hubungan hukum antara satuan klien dan pemegang saham atau obligasi
dokumen serupa.
d. Terdapat hubungan langsung antara dividen bunga dan dividen dengan peminjaman
modal.
Metode pengujian terinci atas utang usaha yaitu:

a. Mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi hutang usaha.


b. Menilai risiko pengendalian serta merancang dan melaksanakan pengujian
pengendalian substantif transaksi.
c. Merancang dan melaksanakan prosedur analitik.
d. Merancang dan dan melaksanakan pengujian terinci atas saldo hutang usaha.

Tujuan pemeriksaan auditor atas wesel bayar adalah

a. Menentukan struktur intern terhadap atas wesel bayar cukup memadai.


b. Transaksi-transaksi yang melibatkan pokok bunga secara memadai serta dan telah di
catat dengan tujuan audit yang spesifik.

21
DAFTAR PUSTAKA

AL. Jusup Haryono 2014 Auditing II (Pengauditan berbasis ISA) , Yogyakarta :


STIE YKPN

https://www.kompasiana.com/yokianang/570540c8c523bd9d0908f92b/auditing-
2-siklus-perolehan-modal-dan-pembayaran-kembali?page=all

22

Anda mungkin juga menyukai