Anda di halaman 1dari 5

Nama : Muhammad Haritsah

Nim : 131911009

Tugas : kewarganegaraan

Soal

1. Demokrasi apa yang diterapkan di Indonesia !


2. Tahapan-tahapan demokrasi yang diberlakukan Indonesia !
3. Keberhasilan dan kegagalan diterapnnya system demokrasi dan solusi nya
bagaimana ?

Jawaban

1. sejauh ini prinsip atau sistem demokrasi merupakan pilihan tepat untuk
negara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengingat
masyarakatnya yang sangat pluralis. Oleh karena itu, sejauh ini Demokrasi
Pancasila yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 merupakan sistem pemerintahan yang paling mungkin diterapkan di
Indonesia dibandingkan dengan konsep Demokrasi Liberal, Demokrasi
Kapitalis, dan Demokrasi Terpimpin yang dalam catatan sejarah perjalanan
bangsa pernah gagal diterapkan di Indonesia.
Demokrasi Pancasila merupakan representasi dari realitas masyarakat
Indonesia yang memiliki ciri beragam atau multikultural, namun tetap
menempatkan budaya gotong royong dan persatuan di atas segala
perbedaan. Penerapan konsep musyawarah untuk mencapai suatu mufakat
yang selama ini kita kenal di masyarakat juga merupakan bukti bahwa
Demokrasi Pancasila bertujuan untuk mengutamakan keselarasan,
keseimbangan, dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun
golongan.

2. Dilihat alur sejarah politik di Indonesia , yaitu :


a. Pemerintahan masa revolusi kemerdekaan Indonesia ( 1945-1949)
b. Pemerintahan parlamenter (1949-1959)
c. Pemerintahan demokrasi terpimpin (1959-1965)
d. Pemerintahan orde baru (1965-1998)
e. Pemerintahan orde reformasi (1998-kini)
DEMOKRASI PARLEMENTER (LIBERAL)
Diberlakukannya UUD 1945 pada periode pertama yaitu tahun 1945-1949, adalah
awal mula dipraktikannya demokrasi ini. Namun, demokrasi parlementer ini tidak
berjalan dengan baik. Kehidupan politik dan pemerintahan pada masa itu tidak
stabil, akibatnya program-program yang dibuat pemerintah tidak bisa dijalankan
dengan baik dan berkesinambungan. Akhirnya demokrasi ini berakhir secara
yuridis pada 5 Juli 1959, bersamaan dengan pemberlakuan kembali UUD 1945.

DEMOKRASI TERPIMPIN
Pada tanggal 22 April 1959, Presiden Soekarno memberikan amanat kepada
konstituante tentang pokok-pokok demokrasi terpimpin. Ada 5 pokok demokrasi
terpimpin, di antaranya:

1. Demokrasi terpimpin bukanlah diktator.


2. Demokrasi terpimpin cocok dengan kepribadian dan dasar hidup bangsa
Indonesia.
3. Demokrasi terpimpin berarti demokrasi di segala persoalan kenegaraan
dan kemasyarakatan, meliputi politik, sosial, dan ekonomi.
4. Inti daripada pimpinan dalam demokrasi terpimpin adalah
permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
5. Pada demokrasi terpimpin, oposisi diharuskan dapat melahirkan pendapat
yang sehat dan membangun.

Kalau dilihat dari beberapa poin di atas, demokrasi terpimpin tidaklah


bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Akan tetapi, konsep-konsep
tersebut tidak direalisasikan sebagaimana mestinya. Sehingga demokrasi
terpimpin seringkali menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, dan budaya
bangsa.

DEMOKRASI PANCASILA PADA ERA ORDE BARU


Demokrasi pancasila lahir atas berbagai bentuk permasalahan yang dialami
bangsa Indonesia selama berlakunya demokrasi parlementer dan demokrasi
terpimpin. Demokrasi Pancasila itu pangkalnya adalah kekeluargaan dan gotong
royong. Kalau kamu main ke sebuah desa kamu pasti akan melihat semangat
kekeluargaan yang ada pada masyarakat desa, dan itu sudah lama dianut oleh
mereka.

Jadi, hal paling penting dalam demokrasi Pancasila adalah nilai-nilai yang
menjunjung tinggi kemanusiaan sesuai dengan martabat dan harkat manusia,
menjamin persatuan dan kesatuan bangsa, mengutamakan musyawarah, rasa
tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaan
masing-masing, dan mewujudkan keadilan sosial.
Akan tetapi, dalam praktiknya, demokrasi Pancasila pada masa Orde Baru ini
banyak menyimpang dari prinsip demokrasi pancasila itu sendiri.

Pelanggaran Demokrasi Era Orde Baru

1. Penyelenggaraan pemilu yang tidak jujur dan tidak adil


2. Kurangnya jaminan kebebasan mengemukakan pendapat
3. Pembredelan sejumlah media yang mengkritik pemerintah
4. Kriminalisasi terhadap individu maupun kelompok yang tidak sependapat
dengan pemerintah
5. Maraknya praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme
6. Pengekangan diskusi-diskusi kampus
7. Sistem kepartaian yang berat sebelah dan tidak otonom
8. Penculikan dan penghilangan paksa sejumlah aktivis

DEMOKRASI PANCASILA PADA ERA REFORMASI


Perbedaan demokrasi Pancasila pada era reformasi dengan era orde baru
terletak pada aturan pelaksanaannya. Kalau kita lihat pada peraturan perundang-
undangan dan praktik pelaksanaannya, banyak lho perubahan yang terjadi.
Kebanyakan, perubahannya itu terletak pada perbaikan kebijakan-kebijakan yang
dirasa kurang sejalan dengan konsep demokrasi.

Nah beberapa perubahannya itu seperti:

1. Pemilihan umum yang lebih demokratis


2. Lembaga demokrasi lebih berfungsi
3. Mewujudkan kehidupan yang lebih demokratis. Seperti halnya peraturan-
peraturan yang dijalankan serta hukum.
4. Memaknai demokrasi pancasila sebagai nilai-nilai budaya politik yang
memengaruhi sikap hidup politik pendukungnya
5. Partai-partai politik kini lebih dapat mandiri

Nah, begitulah kiranya Squad konsep demokrasi yang berjalan di Negara kita ini.
Kamu tahu Soetan Sjahrir? Itu lho Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia
kita, nah ia menuangkan gagasan dan konsepsinya tentang demokrasi ke dalam
sebuah buku berjudul 'Perjuangan Kita'. Sjahrir mengatakan kalau individualisme
adalah elemen terpenting dalam negara dan sistem yang demokratis.

3. Keberhasilan dan kegagalan


a. Masa demokrasi Liberal 1950 – 1959
Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang
atau berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala
eksekutif. Masa demokrasi ini peranan parlemen, akuntabilitas
politik sangat tinggi dan berkembangnya partai-partai politik.
Namun demikian praktik demokrasi pada masa ini dinilai gagal
disebabkan :
• Dominannya partai politik
• Landasan sosial ekonomi yang masih lemah
• Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS
1950
Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 :
• Bubarkan konstituante
• Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950
• Pembentukan MPRS dan DPAS

b. Keberhasilan yang capai di masa Demokrasi terpimpin;


1. Berhasil menumpas pemberontakan DI/TII yang telah
berlangsung 14 tahun.
2. Berhasil menyatukan Irian Barat kepangkuan Indonesia dari
phak Belanda.
3. Demokrasi Pancasila di Masa Orde Baru 11 Maret 1966 - 21
Mei 1998
c. Demokrasi Pancasila juga mengatur adanya hubungan yang harmonis
antar eksekutif dan legislatif, sehingga keseimbangan yang wajar
antara konsensus (kesepakatan) dan konflik akan tercipta. Oleh
karena itu, Lembaga eksekutif dan legislatif cenderung tidak bisa
saling menjatuhkan.
Penyebab kegagalan Pelaksanaan Demokrasi Pancasila mengalami
kegagalan karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan
terdapat banyak penyelewengan. Dalam jurnal ilmiah Demokrasi
dalam Sejarah Ketatanegaraan RI (2014) karya Arif Wijaya, faktor
penyebab kegagalan Demokrasi Pancasila adalah : Rotasi kekuasaan
eksekutif yang bisa dikatakan tidak ada Rekrutmen politik yang
tertutup Pemilu yang jauh dari semangat demokratis Pelanggaran
HAM Praktik KKN yang merajalela Demokrasi Pancasila runtuh
bersamaan dengan kejatuhan Orde Baru pada 1998. Krisis ekonomi,
pelanggaran HAM dan KKN yang menggerogoti Indonesia
menyebabkan pergerakan protes massa secara masif pada
pertengahan tahun 90-an yang menuntut adanya reformasi. 21 Mei
1998 Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden dan
menyerahkan mandat kekuasaannya kepada BJ Habibie.
Solusi nya
Jika demokrasi juga mencakup sikap budaya dan tidak sekedar tatanan
politik yang hanya diimplementasikan dalam teks-teks politik, maka
pemberdayaan berpolitik menjadi salah satu prasyarat penting pula
dalam membangun demokrasi. Dengan kata lain, untuk memasuki iklim
demokrasi yang benar dan baik perlu pendewasaan, sebab untuk
mendirikan (sistem) demokrasi bukan hanya perlu kebebasan
berserikat. Bukan pula hanya kualitas pers yang bebas, tetapi juga
kualitas ketanggapan pembacanya. Bukan hanya kebebasan mimbar atau
kebebasan berbicara semata, tapi juga kedewasaan pembicaraannya.
Jangan hanya muncul tuntutan terhadap perbaikan kualitas legislatif
yang bisa menyuarakan hati nurani rakyat, tetapi juga kualitas