Anda di halaman 1dari 29

COVER

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KORBAN KDRT

DOSEN PENGAMPUH
Ns. Nur Uyun. I Biahimo, M.Kep

DI SUSUN OLEH :
Kelompok 2
1. Amelia Pakaya
2. Anisa Radjab
3. Chintarai Mukminat Abubakar
4. Dessy Purwaningsih U. Laguna
5. Dian Putri Anggraini
6. Febriani R. Karim
7. Febriyanti Nalole
8. Firanti Nur Djafar
9. Fitrananda Napu

FAKULTAS ILMU KESSEHATAN


PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
NIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO
2020

i
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena rahmat-Nyalah
kami kelompok 2 dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ASKEP
KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA’’ dengan tepat waktu. Makalah ini
dibuat sebagai proses belajar bagi kami semua namun insyaallah dapat bermanfaat
bagi kita semua.
Kelompok memohon maaf bila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini
dikarenakan kami masih dalam proses belajar. Kami berharap makalah ini dapat
diterima dengan baik.

Gorontalo, novenber 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER...............................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................iii
BAB I.................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan....................................................................................................................2
BAB II...............................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................................3
A. Definisi...................................................................................................................3
B. Etiologic.................................................................................................................4
C. Patofisiologi...........................................................................................................5
D. Menifestasi Klinis..................................................................................................5
E. Siklus KDRT..........................................................................................................6
F. Bentuk-bentuk KDRT............................................................................................7
G. Karakteristik KDRT...........................................................................................8
H. Penatalaksanaan...............................................................................................10
BAB III............................................................................................................................11
TINJAUAN KASUS........................................................................................................11
A. Pengkajian............................................................................................................11
B. Analisa Data.........................................................................................................12
C. Diagnose Keperawatan.........................................................................................15
D. Intervensi..............................................................................................................15
E. Evaluasi................................................................................................................17
BAB IV............................................................................................................................19
PENUTUP.......................................................................................................................19
A. Kesimpulan..........................................................................................................19
B. Saran....................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................21
DOKUMENTASI............................................................................................................22

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan
berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan
kepribadian setiap anggota keluarga. Keluarga memerlukan organisasi tersendiri
dan perlu kepala rumah tangga sebagai tokoh penting yang memimpin keluarga
disamping beberapa anggota keluarga lainnya. Anggota keluarga terdiri dari
Ayah, ibu, dan anak merupakan sebuah satu kesatuan yang memiliki hubungan
yang sangat baik. Hubungan baik ini ditandai dengan adanya keserasian dalam
hubungan timbal balik antar semua anggota/individu dalam keluarga. Sebuah
keluarga disebut harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang
ditandai dengan tidak adanya konflik, ketegangan, kekecewaan dan kepuasan
terhadap keadaan (fisik, mental, emosi dan sosial) seluruh anggota keluarga.
Keluarga disebut disharmonis apabila terjadi sebaliknya. 
Ketegangan maupun konflik antara suami dan istri maupun orang tua dengan
anak merupakan hal yang wajar dalam sebuah keluarga atau rumah tangga. Tidak
ada rumah tangga yang berjalan tanpa konflik namun konflik dalam rumah tangga
bukanlah sesuatu yang menakutkan. Hampir semua keluarga pernah
mengalaminya. Yang mejadi berbeda adalah bagaimana cara mengatasi dan
menyelesaikan hal tersebut.
Setiap keluarga memiliki cara untuk menyelesaikan masalahnya masing-
masing. Apabila masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota
keluarga akan mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan
mengerti perasaan, kepribadian dan pengendalian emosi tiap anggota keluarga
sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam keluarga. Penyelesaian konflik secara
sehat terjadi bila masing-masing anggota keluarga tidak mengedepankan
kepentingan pribadi, mencari akar permasalahan dan membuat solusi yang sama-
sama menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar.
Disisi lain, apabila konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan
semakin sering terjadi dalam keluarga.

1
Penyelesaian masalah dilakukan dengan marah yang berlebih-lebihan,
hentakan-hentakan fisik sebagai pelampiasan kemarahan, teriakan dan makian
maupun ekspresi wajah menyeramkan. Terkadang muncul perilaku seperti
menyerang, memaksa, mengancam atau melakukan kekerasan fisik. Perilaku
seperti ini dapat dikatakan pada tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
yang diartikan  setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan
hukum dalam lingkup rumah tangga.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar mengenai kekerasan dalam rumah
tangga(KDRT) ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan jiwa pada pasien kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT) ?

C. Tujuan
Untuk mengetahuai konsep-konsep dasar mengenai kekerasan dalam rumah
tangga serta asuhan keperawatan jiwa untuk pasien kekerasan dalam rumah
tangga.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Perilaku kekerasan dalam keluarga adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat mebahayakan secara fisik terhadap perempuan
maupun anak. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau
marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995)
Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang
No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga,
memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang
berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan
hukum dalam lingkup rumah tangga.
Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan perlindungan
hukum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan
bahwa:

1. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari
segala bentuk  kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-
undang Republik Indonesia tahun 1945.
2. Bahwa segala bentuk kekerasan, terutama Kekerasan dalam rumah tangga
merupakan pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan terhadap martabat
kemanusiaan serta bentuk deskriminasi yang harus dihapus.
3. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah
perempuan, hal itu harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau
masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman
kekerasan, penyiksaan, atau perlakuan yang merendahkan derajat dan
martabat kemanusiaan.
4. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a, huruf b,
huruf c, dan huruf d perlu dibentuk Undang-undang tentang penghapusan

3
kekerasan dalam rumah tangga.

Tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap isteri sebenarnya merupakan


unsur yang berat dalam tindak pidana, dasar hukumnya adalah KUHP (kitab
undang-undang hukum pidana) pasal 356 yang secara garis besar isi pasal yang
berbunyi: “Barang siapa yang melakukan penganiayaan terhadap ayah, ibu,
isteri atau anak diancam hukuman pidana”

B. Etiologic

1. Faktor internal korban: disebabkan oleh korban itu sendiri.

a. Sikap provokatif korban

Sikap korban yang dengan sengaja maupun tidak membuat pelaku marah. Contoh:
pecemburu, suka ngomel, pengabaian pengurusan rumah tangga, penuntut, suka
bertengkar, kurang menghargai suami, ketergantungan dan berpegang pada tradisi
atau adat.

b. Faktor eksternal korban

1) Sifat pribadi pelaku.

Contohnya: jiwa terganggu, perassaan tertekan, kurang percaya diri,


skizofrenia, pencemburu, sensitive.

2) Tekanan hidup.

Contohnya: akibat adanya konflik, beratnya penderitaan perkawinan, tidak


mempunyai pekerjaan, merassa lebih lemah dari istri

3) Ketimpangan gender dan social.

Laki –laki merasa lebih istimewa dibanding perempuan, merasa lebih berharga,
lebih tinggi peran dan kedudukannya. Wanita sering dipandang fungsinya
hanya mengurus rumah tangga dan merawat anak.

4) Masalah keuangan.

Sering kali wanita menuntut lebih banyak kepada suaminya, sedangkan

4
suaminya tidak mampu memenuhinya.
5) Budaya petrnalistic yang kuat dan pemahaman budaya yang salah.
Budaya paternalistic menganggap kaum laki-laki sebagai pemegang
kekuasaan sehingga terjadi diskriminasi pada wanita, pemahaman
budaya yang salah bahwa wanita adlah milik suami, harus memenuhi
semeua keinginan suami, bahwa laki-laki lebh berkuasa

C. Patofisiologi
FAKTOR PRESDIPOSISI

FAKTOR INTERNAL KORBAN FAKTOR EXTERNAL KORBAN

KEKERASAN PADA KORBAN

TRAUMA FISIK GANGGUAN TRAUMA PSIKOLOGIS


SEXSUAL DAN
LUKA PADA
GANGGUAN
TUBUH DAN
KESEHATAN
ALAT
REPRODUKSI Dx.KECEMASAN

MEKANISME SUSAH MAKAN, SUSAH


KECACATAN KOPING TIDAK TIDUR
YANG EFEKTIF
PERMANEN

GANGGUAN Dx.RISIKO Dx.GANGGUAN


Dx. GANGGUAN
MENTAL NUTRISI POLA TIDUR
CITRA TUBUH
KURANG DARI
KEBUTUHAN

Dx. ISOLASI SOSIAL Dx. RISIKO HARGA Dx.DEFISIT PERAWATAN


DIRI DIRI
RENDAH

5
D. Menifestasi Klinis
Gejala-gejala istri yang mengalami kekerasan adalah merasa rendah diri,
cemas, penuh rasa takut, sedih, putus asa, terlihat lebih tua dari usianya, sering
merasa sakit kepala, mengalami kesulitan tidur, mengeluh nyeri yang tidak jelas
penyebabnya, kesemutan, nyeri perut, dan bersikap agresif tanpa penyebab yang
jelas. Jika anda membaca gejalagejaladi atas, tentu anda akan menyadari bahwa
akibat kekerasan yang paling fatal adalah merusak kondisi psikologis yang waktu
penyembuhannya tidak pernah dapat dipastikan.

E. Siklus KDRT
Secara umum kekerasan dalam rumah tangga mengikuti suatu siklus, yang
terjadi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ketegangan muncul dari
konflik atau ketidaksepakatan kecil, yang menjadikan wanita mengeluh, pasif,
atau menarik diri.
Fase 1
Munculnya ketegangan, konflik,
pertentangan, pertengkaran verbal
fase III
keduanya merasa lega, pria seringkali
mengungkapkan rasa cinta, penyesalan
yang mendalam, berperilaku baik, meminta maaf,
mengungkapkan janji tidak akan mengulangi
perbuatan kasarnya
wanita mengeluh, pasif, atau menarik
diri untuk mengelak dari kemarahan
pria.

pria melihatnya sebagai suatu


kelemahan, marah dengan sikap
wanita yang menagcuhkan dirinya,
dan menyebabkan kemarahnnya

6
memuncak
wanita seringkali menunda untuk segera mencari
pertolongan, meminimalkan cedera yang terjadi,
dalam keadaan syok atau tidak percaya

fase II
insiden pemukulan akut terjadi dengan tindak kekerasan verbal, fisik,
dan seksual; berlangsung dalam beberapa jam sampai 24 jam atau lebih

F. Bentuk-bentuk KDRT
Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri
dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam :

1. Kekerasan fisik

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau
luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah
menampar, memukul, meludahi, menarik rambut (menjambak), menendang,
menyudut dengan rokok, memukul/melukai dengan senjata, dan sebagainya.
Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur-bilur, muka lebam, gigi patah
atau bekas luka lainnya.

2. Kekerasan psikologis / emosional

Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan


ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,
rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Perilaku
kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan,
komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir
istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut-nakuti sebagai sarana
memaksakan kehendak.

3. Kekerasan seksual

Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan

7
batinnya, memaksa melakukan hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri,
tidak memperhatikan kepuasan pihak istri. Kekerasan seksual berat, berupa:

a. Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ


seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang
menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.
b. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat
korban tidak menghendaki.
c. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan
atau menyakitkan.
d. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan
atau tujuan tertentu.
e. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi
ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi.
f. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat
yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera.
g. Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti
komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara
non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya
yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat
melecehkan dan atau menghina korban. Melakukan repitisi kekerasan
seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat.
h. Kekerasan ekonomi
Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya,
padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau
perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan
kepada orang tersebut. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi
nafkah istri, bahkan menghabiskan uang istri. Kekerasan Ekonomi Berat,
yakni tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana
ekonomi berupa:
1) Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran.
2) Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya.

8
3) Mengambi l tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban,
merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.
Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja
yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi
atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya.

G. Karakteristik KDRT
1. Isolasi social

Anggota keluarga merahasiakan kekerasan dan sering kali tidak mengundang


orang lain datanng kerumah mereka atau tidak mengatakan kepada orang lain apa
yang terjadi. Anak dan wanita yang mengalami penganiyaan sering kali diancam
oleh penganiaya bahwa mereka akan lebih disakiti jika mengungkapkan rahasia
tersebut. Anak-anak mungkin diancam bahwa ibu, saudara kandung atau hewan
peliharaan mereka kan dibunuh jika oranng diluar keluarga mengetahui
penganiayaan tersebut. Mereka ditakuti agar mereka menyimpan  rahasia atau
mencegah orang lain mencampuri “ urusan keluarga yang pribadi

2. Kekuasaan dan control

Anggota keluarga yang mengalami penganiayaan hampir selalu berada dalam


posisi berkuasa daan memilki kendali terhadap korban, baik korban adalah anak,
pasangan, atau lansia. Penganiaya bukan hanya menggunakan kekuatan fisik
terhadap korban, tetapi juga kontrol ekonomi dan sosial. Penganiaya sering kali
adalah satu-satunya anggota keluarga yang membuat keputusan, mengeluarkan
uang, atau diijinkan untuk meluangkan waktu diluar rumah dengan orang lain.
Penganiaya melakukan penganiayaan emosional dengan meremehkan atau
menyalahkan korban dan sering mengancam korban. Setiap indikasi kemandirian
atau ketidakpatuhan anggota keluarga, baik yang nyata atau dibayangkan,
biasanya menyebabkan peningkatan prilaku kekerasan (singer at al, 1995).

3. Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan yang lain

9
Ada hubungan antara penyalahgunaan zat, terutama alkohol, dengan kekerasan
dalam keluarga. Hal ini tidak menunjukkan sebab dan akibat-alkohol tidak
menyebabkan individu menjadi penganiaya sebalik, penganiaya juga cenderung
menggunakan alkohol atau obat-obatan lain. 50-90% pria yang memukul
pasangannya dalam rumah tangga juga memiliki riwayat penyalahgunaan zat.
Jumah wanita yang mengalami penganiayaan dan mencari pelarian dengan
menggunakan alkohol mencapai 50 %. Akan tetapi, banyak peneliti yakin bahwa
alkohol dapat menguurangi inhibisi dan membuat perilaku kekerasan lebiih intens
atau sering (denham, 1995).

Alkohol juga disebut sebagai faktor dalam kasus pemerkosaan terhadap


pasangan kencan atau pemerkosaan oleh orang yang dikenal. CDC’s division of
violence prevention melaporkan bahwa studi mengidentifikasi penggunaan
alkohol atau obat yang berlebiihan yang dikaitkan dengan penganiayaan seksual.

4. Proses transmisi antargenerasi

Berarti bahwa pola prilaku kekerasan diteruskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya melalui model peran dan pembelajaran sosial (humphreeys, 1997;tyra,
1996). Transmisi antargenerasi  menunjukkan bahwa kekerasan dalam keluarga
merupakan suatu pola yang dipelajari. Misalnya, anak-anak yang menyaksikan
kekerasan dalam keluarga akan belajar dari melihat orang tua mereka bahwa
kekerasan ialah cara menyelesaikan konflik dan bagian integral dalam suatu
hubungan dekat. Akan tetapi tidaak semua orang menyaksikan kekerasan dalam
keluarga menjadi penganiayaa atau pelaku kekerasan ketika dewasa sehingga
faktor tunggal ini saja tidak menjelaskan prilku kekerasan yang terus ada.

H. Penatalaksanaan

1. Pendekatan individu.

Dengan cara menambah pemahaman agama.

2. Pendekatan social.

Melingkupi pendekatan partisipasi masyarakat dalam melporkan kejadian dan


waspada setiap tindakan kekerasan pada perempuan.

10
3. Pendekatan medis.

Untuk memberikan pelayanan dan perawatan baik secara fisik atau kejiwaan.

4. Pendekatan hukum.

Tentunya yang bertanggung jawab masalah ini adalah pemerintah untuk selalu
mencari, menanggapi secara sigap terhadap setiap laporan atau penemuan kasus
kekerasan dan kejahatan serta menghukumnya dengan ketentuan hukum yang
berlaku.

11
BAB III

TINJAUAN KASUS
KASUS
Ny. C 36 tahun datang ke poli kebidanan dengan kakak kandungnya untuk
memeriksakan kehamilannya. Ny. C tampak memar pada pipi kiri, Ny C sering
tampak melamun, pandangan kosong, lebih sering dan hanya menjawab
pertanyaan dengan singkat. Saat ditanya tentang suaminya dia hanya diam dan
meneteskan air mata. Menurut kakak Ny. C, Ny. C sedang hamil 4 minggu, suami
Ny.C tidak bekerja, Ny.C bekerja sebagai karyawan di bank swasta. Tadi malam
Ny.C dan suaminya bertengkar karena Ny. C terlambat pulang karena rapat. Ny.C
sudah menjelaskan tentang alasan keterlambatan pulangnya, tetapi suaminya tidak
percaya, karena marah Ny.C didorong hingga jatuh dan pipinya terbentur kujung
meja. Karena khawatir dengan kondisi kandungannya kakak Ny.C membawa
Ny.C ke poli kebidanan.

A. Pengkajian
Data demografi :
Biodata klien :
Nama : Ny. C
Umur : 36 tahun
Agama : islam
Alamat : jl. Jati
Status perkawinan : kawin

PENGUMPULA DATA

1. Ny. C nampak memar pada pipi kiri


2. Ny, C nampak sering melamun
3. Pandangan kosong
4. Hanya menjawab pertanyaan dengan singkat
5. Saat ditanyai tentang suaminya klien hanya diam dan meneteskan air mata
6. Kakak Ny, C mengatakan klien sedang hamil 4 bulan

12
7. Kakak klien mengatakan suami klien tidak bekerja
8. Kakak klien mengatakan semalam klien bertengkar dengan suaminya
karena klien terlambat pulang
9. Kakak klien mengatakan klien didorong suaminya sampai pipin klien
terbentur ujung meja
10. Kakak klien mengatakan karena merasa khawatir dengan kandungannya
sehingga klien memeriksakan kandungannya ke poli kebidanan
11. Kakak klien mengatakan klien bekerja sebagai karyawan di Bank

DATA FOKUS
DS :

1. Kakak Ny, C mengatakan klien sedang hamil 4 bulan


2. Kakak klien mengatakan suami klien tidak bekerja
3. Kakak klien mengatakan semalam klien bertengkar dengan suaminya
karena klien terlambat pulang
4. Kakak klien mengatakan klien didorong suaminya sampai pipi klien
terbentur ujung meja
5. Kakak klien mengatakan karena merasa khawatir dengan kandungannya
sehingga klien memeriksakan kandungannya ke poli kebidanan
6. Kakak klien mengatakan klien bekerja sebagai karyawan di Bank

DO:

1. Ny. C nampak memar pada pipi kiri


2. Ny, C nampak sering melamun
3. Pandangan kosong
4. Hanya menjawab pertanyaan dengan singkat
5. Saat ditanyai tentang suaminya klien hanya diam dan meneteskan air mata.

B. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1 DS : Kecemasan Isolasi sosial yang
1. Kakak klien berhubungan dengan status

13
mengatakan mental
karena merasa
khawatir
dengan
kandungannya
sehingga klien
memeriksakan
kandungannya
ke poli
kebidanan
DO :
1. Ny, C nampak
sering
melamun
2. Pandangan
kosong
3. Hanya
menjawab
pertanyaan
dengan singkat
4. Saat ditanyai
tentang
suaminya klien
hanya diam
dan
meneteskan air
mata

2 DS : Cedera Gangguan citra tubuh


1. Kakak klien berhubungan dengan
mengatakan perubahan struktur/bentuk
semalam klien tubuh (trauma)
bertengkar

14
dengan
suaminya
karena klien
terlambat
pulang
2. Kakak klien
mengatakan
klien didorong
suaminya
sampai pipi
klien terbentur
ujung meja
DO :
1. Ny. C nampak
memar pada
pipi kiri

3 DS : Ketidakberdayaan Koping tidak efektif


1. Kakak Ny, C berhubungan dengan
mengatakan ketidakpercayaan terhadap
klien sedang kemampuan diri mengatasi
hamil 4 bulan masalah
2. Kakak klien
mengatakan
suami klien
tidak bekerja
3. Kakak klien
mengatakan
klien bekerja
sebagai
karyawan di
Bank
DO :

15
1. Ny, C nampak
sering
melamun
2. Pandangan
kosong

C. Diagnose Keperawatan
1. Isolasi sosial yang berhubungan dengan status mental.
2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur/bentuk
tubuh (trauma).
3. Koping tidak efektif berhubungan dengan ketidakpercayaan terhadap
kemampuan diri mengatasi masalah

D. Intervensi

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi


Dx (SDKI) (SLKI) (SIKI)
D.0121
Isolasi sosial yang Setelah dilakukan I.13498
berhubungan dengan tindakan Dalam 3x24 jam
Promosi sosialisasi
status mental. keterlibatan social
meningkat dengan Tindakan
kriteria hasil :
Observasi
1. Minat interaksi
 Identifikasi
meningkat
kemampuan
2. Minat terhadap
melakukan
akttivitas meningkat
interaksi dengan
3. Perilaku menarik diri
orang lain.
menurun
 Identifikasi
4. Efek murung/sedih
hambatan
menurun
melakukan
5. Kontak mata
interaksi dengan
membaik
orang lain.
Terapeutik

 Motivasi
meningkatkan
keterlibatan
dalam suatu

16
hubungan.
 Motivasi
berinteraksi
diluar
lingkungan.
Edukasi

 Anjurkan
berinteraksi
dengan orang
lain.
 Latih
mengekspresikan
merah dengan
tepat.
D.0083
Gangguan citra tubuh Setelah dilakukan I.09305
berhubungan dengan tindakan Dalam 3x24 jam
Promosi citra tubuh
perubahan struktur/bentuk citra tubuh meningkat
dengan kriteria hasil : Tindakan
tubuh (trauma).
1. Bagian tubuh Observasi
membaik
 Identifikasi
2. Verbalisasi perasaan
perubahan citra
negative tentang
tubuh yang
perubahan tubuh
mengakibatkan
menurun
isolasi social.
3. Verbalisasi
kekhawatiran pada Terapeutik
penolakan/reaksi
 Diskusi
orang lain menurun
perubahan tubuh
4. Hubungan social
dan fungsinya.
membaik
 Diskusi kondisi
stress yang
mempengaruhi
citra tubuh
(mis.luka).
Edukasi

 Latih
pengungkapan
kemampuan diri
kepada orang
lain maupun
kelompok.

17
D.0096
Koping tidak efektif Setelah dilakukan I.09265
berhubungan dengan tindakan Dalam 3x24 jam
Dukungan
ketidakpercayaan status koping membaik
pengambilan
terhadap kemampuan diri dengan kriteria hasil ;
keputusan
mengatasi masalah 1. Perilaku koping
Tindakan
adaptif meningkat.
2. Verbalisasi Observasi
kemampuan
 Identifikasi
menghadapi masalah
presepsi
meningkat.
mengenai
3. Partisipasi social
masalah dan
meningkat.
informasi yang
4. Kemampuan
memicu konflik.
membina hubungan
meningkat. Terapeutik

 Fasilitasi melihat
situasi secara
realistic.
 Fasilitasi
pengambilan
keputusan secara
kolaboraif.
Edukasi

 Informasikan
alternative solusi
secara jelas.
Kolaborasi

 Kolaborasi
dengan tenaga
kesehatan lain
dalam
memfasilitasi
pengambilan
keputusan.

E. Evaluasi

Pemulihan dari trauma penganiayaan membutuhkan waktu yang lama, dengan


periode kambuh. Tanda-tanda kemajuan bisa berupa mencari keamanan,
mengakui kebutuhan akan pertolongan, dan mengekspresikan rasa takut. Wanita

18
tersebut dapat mengidentifikasi kekuatan yang ada pada dirinya dan sistem
dukungan yang tersedia, mengklarifikasi nilai-nilai dan kepercayaannya, merasa
patut dihargai, memahami dan berusaha memperoleh hak-hak perlindungan
hukum. Cedera fisik mendapatkan perawatan segera. Ketika wanita dalam kondisi
hamil, janin dan anak-anak lainya dilindungi dari penganiayaan. Ia membuat
pilihan dari berbagai alternatif yang tersedia dan menjalani keputusan tersebut.
Seiring dengan ia dapat melewati langkah ini, ia membangun suatu rasa
pengendalian terhadap kehidupannya danmerasa cukup aman untuk hidup dengan
normal.

19
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Seharusnya seorang suami dan istri harus banyak bertanya dan belajar, seperti
membaca buku yang memang isi bukunya itu bercerita tentang bagaimana cara
menerapkan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.
Di dalam sebuah rumah tangga butuh komunikasi yang baik antara suami dan
istri, agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. Jika di dalam
sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah
pihak, itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah tangga.
Seharusnya seorang suami dan istri bisa mengimbangi kebutuhan psikis, di mana
kebutuhan itu sangat mempengaruhi keinginan kedua belah pihak yang
bertentangan. Seorang suami atau istri harus bisa saling menghargai pendapat
pasangannya masing-masing.
Untuk mempertahankan sebuah hubungan, butuh rasa saling percaya,
pengertian, saling menghargai dan sebagainya. Begitu juga halnya dalam rumah
tangga harus dilandasi dengan rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa saling
percaya, maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. Jika tidak ada rasa
kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan
rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. Tidak sedikit seorang suami yang
sifat seperti itu, terkadang suami juga melarang istrinya untuk beraktivitas di luar
rumah. Karena mungkin takut istrinya diambil orang atau yang lainnya. jika sudah
begitu kegiatan seorang istri jadi terbatas. Kurang bergaul dan berbaur dengan
orang lain. Ini adalah dampak dari sikap seorang suami yang memiliki sifat
cemburu yang terlalu tinggi. Banyak contoh yang kita lihat dilingkungan kita,
kajadian seperti itu. Sifat rasa cemburu bisa menimbukan kekerasan dalam rumah
tangga.
Dari uraian yang sudah di atas dapat disimpulkan bahwa kekerasan terhadap
perempuan berdampak besar terhadap pertumbuhan ,perkembangan ,kesehatan

20
fisik maupun psikologis,interaksi social.Sehingga dapat menurunkan kualitas
hidup perempuan.

B. Saran

Dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar
tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan. Tidak hanya satu pihak
yang bisa memicu konflik di dalam rumah tangga, bisa suami maupun istri.
Sebelum kita melihat kesalahan orang lain, marilah kita berkaca pada diri kita
sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita, sehingga menimbulkan
perubahan sifat yang terjadi pada pasangan kita masing-masing.
Melihat kenyataan dimasyarakat, maka seharusnya pemerintah semakin
menggalakkan program aktif dan nyata dalam upaya promotif, prepentif, maupun
kuratif. Selain itu, diperlukan perlindungan hokum yang jelas dan sah serta
pengawasan yang tepat sehingga hukum benar-benar melindungi korban.
Untuk mencapai hasil yang maksimal maka perlu peningkatan kerjasama yang
sinergris antara professional yang terlibat, pemerintah, serta peran aktif keluarga
korban juga masyarakat.

21
DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.).


St.Louis Mosby Year Book, 1995.

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC,
1999.

Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999.

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr.


Amino Gonohutomo, 2003

Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung,


RSJP Bandung, 2000.

22
DOKUMENTASI

23
24
25
26