Anda di halaman 1dari 11

REVIEW JURNAL

Mata Kuliah :

TEKNOLOGI PENGECORAN

DISUSUN OLEH :
Mangaratua Siboro (5193121016)
Andrian Ricy Hutapea (5193121004)
Octavianus Samosir (5192421005)
Ari purba
Timotius waduwu
Sultan hutabarat

PROGRAM STUDI S1 Pend.TEKNIK MESIN


JURUSAN TEKNIK MESIN,FT
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat
menyelesaikan tugas Review Jurnal terhadap salah satu jurnal. Tugas jurnal review ini bertujuan
untuk mengetahui hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dan kelebihan serta kekurangan
yang terdapat di dalam jurnal tersebut.

Di dalam makalah terdapat informasi mengenai hasil penelitian jurnal, kelebihan dan
kekurangan jurnal. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Dan juga penulis
mengharapkan adanya kritikan dan saran yang membangun jika ada kesalahan dalam penulisan
makalah ini.

Medan,10 Januari 2021

Kelompok 8
PEMBAHASAN

1. ANALISIS JURNAL

Judul jurnal 1 PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TUANG TERHADAP


KETANGGUHAN IMPAK DAN STRUKTUR MIKRO PADA
PENGECORAN ALUMINIUM
Volume & halaman 6 hlm
Tahun 2017
Penulis Mohammad Tofa Wijaya
Reviewer Kelompok 8
Tanggal 10 januari 2021
Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh temperatur tuang
terhadap ketangguhan impak dan struktur mikro hasil pengecoran paduan
aluminium dengan menggunakan cetakan pasir
Subjek penelitian Bahan penelitian ini adalah paduan alumunium dari scrap aluminium,
kemudian dilebur dan dituang ke dalam cetakan dengan variasi temperatur
tuang dari 660 °C, 700 °C dan 740 °C. Pengujian impak dilakukan untuk
mengetahui ketangguhan impak pada hasil coran dengan menggunakan alat uji
impak Charpy (ASTM E 23-02a).
Metode penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi temperatur tuang pada saat
pengecoran berpengaruh terhadap nilai ketangguhan impak dan struktur mikro
hasil coran. Dari tiga variasi temperatur tuang yang dilakukan, semakin tinggi
temperatur tuang maka nilai ketangguhan impaknya juga semakin meningkat.
Struktur mikro yang terbentuk dari logam paduan aluminium coran secara
umum memiliki bentuk struktur mikro berupa struktur dendrite.
Defenisi Temperatur tuang adalah salah satu unsur penting yang harus diperhatikan
dalam memproduksi produk pengecoran yang berkualitas tinggi, karena faktor
ini sangat berpengaruh terhadap kualitas coran yang meliputi mikrostruktur dan
sifat mekanis sehingga didapatkan hasil coran yang mempunyai sifat fisik yang
baik. Temperatur tuang merupakan salah satu variabel dari sekian banyak
variabel yang terdapat pada proses pengecoran. Variabel ini penting karena jika
temperatur tuang terlalu rendah maka rongga cetakan tidak akan terisi penuh
dimana logam cair akan membeku terlebih dahulu pada saluran masuk, dan jika
temperatur tuang terlalu tinggi maka hal ini akan mengakibatkan penyusutan
dan kehilangan akan keakuratan dimensi coran
Hasil penelitian Pengujian ketangguhan impak hasil coran paduan aluminium pada variasi
temperatur tuang 660 °C, 700 °C dan 740° C dilakukan dengan menggunakan
mesin uji impak charpy. Besarnya energi serap dan nilai ketangguhan impak
dari hasil uji impak
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut : 1) Variasi temperatur tuang pada saat pengecoran
berpengaruh terhadap nilai ketangguhan impak dan struktur mikro hasil coran.
2) Dari tiga variasi temperatur tuang yang dilakukan, semakin tinggi
temperatur tuang maka nilai ketangguhan impaknya juga semakin meningkat.
3) Struktur mikro yang terbentuk dari logam paduan aluminium coran secara
umum memiliki bentuk struktur mikro berupa struktur dendrite.

Judul PENGARUH PENGECORAN ULANG TERHADAP KEKUATAN TARIK


DAN KEKERASAN PADA ALUMINIUM COR DENGAN CETAKAN
Jurnal 2 PASIR
Volume & halaman 5 hlm
Tahun 2010
Penulis Helmy Purwanto, Mulyonorejo
Reviewer Kelompok 8
Tanggal 10 januari 2021
Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengecoran ulang terhadap
kekuatan tarik dan kekerasan pada aluminium
Subjek penelitian Bahan yang digunakan adalah aluminium yang beredar di pasaran. Material
dilebur diatas tungku pengecoran dan dituang pada temperatur 7500C dengan
menggunakan cetakan pasir. Hasil pengecoran kemudian dibuat spesimen
pengujian tarik menurut standart JIS Z 2201 No. 14 untuk pengujian tarik dan
spesimen pengujian kekerasan. Pengecoran ulang dilakukan tiga kali dengan
kondisi penuangan yang sama dan masing-masing masing pengecoran dibuat
tiga spesimen.
Metode penelitian Dari hasil pengujian bahwa untuk pengecoran ulang I terhadap pengecoran
ulang II kekuatan tarik turun 3.9% dan kekerasannya turun 5.1% dan setelah
dilakukan pengecoran ulang III kekuatan tarik turun sekitar 8.9 % dan
kekerasannya turun sekitar 27 %. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah
bahwa pengecoran ulang akan menurunkan kekuatan tarik dan kekerasan
aluminium cor.
Defenisi Pengecoran ulang adalah pengecoran yang menggunakan material daur ulang
yang sudah tidak terpakai untuk di tuang kembali. Pengecoran ulang biasanya
dilakukan didalam industri-industri kecil dengan menggunakan dapur
sederhana dengan menggunakan tungku api dengan pembakaran menggunakan
minyak tanah. Metode pengecoran yang digunakan biasanya menggunakan
pengecoran tuang (grafity casting) dan dengan cetakan pasir.
Hasil penelitian Hasil pengecoran suatu komponen pada saat digunakan kadang mengalami
beban tarik sehingga peralatan tersebut harus mendapatkan jaminan terhadap
kerusakan akibat tarikan yang dikenakan, sehingga aman dalam penggunaan
atau bahkan mempunyai usia pakai (life time) lebih lama. Untuk itu tentunya
perlu diketahui sifat mekanis dari material yang digunakan agar konstruksi
nantinya tidak mengalami kegagalan.
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian pada proses pengecoran ulang pada aluminium
murni dengan menggunakan cetakan pasir dan temperatur tuang 750oC dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengecoran ulang menyebabkan
penurunan pada kekutan tarik yaitu dari pengecoran I ke pengecoran II turun
sekitar 3.9 % sedang penurunan dari pengecoran ulang II ke pengecoran III
turun 8.9%atau rata-rata penurunan setelah dilakukan pengecoran ulang adalah
6.4 %. 2. Pengecoran ulang juga berpengaruh pada penurunan regangan. Rata-
rata penurunannya sebesar 11 % . 3. Pengecoran ulang juga menurunkan
kekerasan material dari pengecoran I ke pengecoran II turun dari 19.3 BHN
menjadi 18.03 BHN atau turun sebesar 5.1% dan dari pengecoran ulang II ke
pengecoran ulang III turun dari 18.03 BHN menjadi 13.1 BHN atau turun
sebesar 27 %.

Judul PENGARUH MODEL SISTEM SALURAN PADA PROSES


PENGECORAN LOGAM Al-Si DENGAN PENGGUNAAN 15%
Jurnal 3 LUMPUR PORONG, SIDOARJO SEBAGAI PENGIKAT PASIR
CETAK TERHADAP CACAT COR FLUIDITAS DAN KEKERASAN
COR
Volume dan Halaman 11 Halaman
Tahun 2015
Penulis Fajar Febrianto Kusuma Palagan
Reviewer Kelompok 8

Tanggal 10 januari 2021


Tujuan Penelitiaan Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji saluran masuk terhadap fluiditas,
cacat cor dan kekerasan paduan alumunium yang menggunakan pasir cetak

Subjek Penelitian Bahan baku penelitian ini adalah paduan alumunium yang berasal dari
piston bekas (Al-Si). Menggunakan pasir malang dan sebagai pengikatnya
adalah lumpur Porong Sidoarjo (Lapindo) sebanyak 15 %. Pada penelitian
ini akan dikaji letak masuknya logam cair yaitu saluran langsung, saluran
samping dan saluran bawah.Metode penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimental.

Metode penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian pre-experimental dengan


menggunakan model one-shot case study, dimana sekelompok sampel
diberi sebuah perlakuan (treatment) dan selanjutnya diobservasi seperti
yang tertuang (Test). Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah: Variabel bebas yaitu sistem saluran, dengan besar sistem saluran
langsung, saluran samping, dan saluran bawah.
Defenisi Pengecoran merupakan salah satu proses pembentukan bahan baku / bahan
benda kerja dengan proses peleburan/pencairan logam di dalam tungku
peleburan yang kemudian hasil peleburan di masukkan kedalam cetakan.

Hasil Penelitian Fluiditas merupakan kemampuan logam cair untuk mengalir di dalam
cetakan. Pola yang digunakan mengikuti prinsip Birmingham yang
menggunakan pelat-pelat dengan ketebalan berbeda. Prinsip ini menitik
beratkan pada pengukuran panjang dalam penilaian terhadap fluiditas
benda cor

Kesimpulan Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilaksanakan,
dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Berdasarkan data yang diperoleh
dari hasil uji fluiditas, spesimen coran yang menggunakan saluran samping
memiliki fluiditas yang paling baik. Hal ini disebabkan oleh ukuran total
yang dimiliki oleh saluran samping yang paling mendekati ukuran total
yang dimiliki oleh pola. Ukuran yang dimiliki oleh saluran samping
meliputi panjang total 797.9 mm, lebar total 82.5 mm dan tebal total 20.7
mm

Judul ANALISIS HASIL PENGECORAN LOGAM AL-SI MENGGUNAKAN


LUMPUR LAPINDO SEBAGAI PENGIKAT PASIR CETAK
Jurnal 4
Volume & Halaman 11 hlm.
Tahun 2014
Penulis Poppy Puspitasari, Abdurrohman Khafiddin
Reviewer Kelompok 8 M

Tanggal 10 Januari 2021

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hasil pengecoran dengan


membandingkan fluiditas dan kualitas coran. Selain itu juga bertujuan untuk
mengetahui pengaruh lumpur lapindo terhadap kekerasan permukaan dan
Tujuan Penelitian cacat coran pada logam paduan Al-Si
Dari hasil analisa cacat cor secara kasat mata menunjukkan bahwa spesimen
coran yang menggunakan campuran lumpur lapindo sebesar 15% memiliki
cacat cor yang paling sedikit dan paling kecil bila dibandingkan dengan
spesimen lainnya. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa
lumpur lapindo dapat menjadi kandidat terbaik pengganti bahan pengikat
bentonit pada pengecoran pasir (sand casting) karena memiliki kecekatan
Subjek Penelitian yang baik untuk bahan pengikat.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode


kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan
menggunakan jenis penelitian eksperimental. Subjek penelitian adalah lumpur
lapindo, bahan aluminium (Al-Si). Teknik analisis data deskriptif untuk
mengetahui tingkat kekerasan, fluiditas, foto mikro dan makro untuk
mengetahui cacat porositas dalam. Hasil penelitian yang diperoleh, nilai
fluiditas paling tinggi terdapat pada spesimen coran yang menggunakan
campuran lumpur lapindo sebesar 7% yaitu 793,50 mm dari pola sebenarnya
yaitu 200 mm. Sedangkan yang paling rendah terdapat pada spesimen coran
yang menggunakan campuran lumpur lapindo sebesar 13% yaitu 748,80 mm
dari pola sebenarnya yaitu 200 mm. Tingkat kekerasan tertinggi terdapat pada
spesimen coran yang menggunakan campuran lumpur lapindo sebesar 15%
Metode Penelitian dengan rata-rata nilai kekerasan 131,36 HV.

Defenisi Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa lumpur lapindo
dapat menjadi kandidat terbaik pengganti bahan pengikat bentonit pada
pengecoran pasir (sand casting) karena memiliki kecekatan yang baik untuk
bahan pengikat.
Hasil penelitian cair untuk mengalir di dalam cetakan. Pola yang digunakan mengikuti prinsip
Birmingham yang menggunakan pelat-pelat dengan ketebalan berbeda.
Prinsip ini menitikberatkan pada pengukuran panjang dalam penilaian
terhadap fluiditas benda cor.

Kesimpulan Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilaksanakan,
dapat disimpulkan sebagai berikut: Berdasarkan data yang diperoleh dari
hasil uji fluiditas, spesimen coran yang menggunakan campuran lumpur
lapindo sebesar 7% memiliki panjang total 793,50 mm, campuran lumpur
lapindo 10% memiliki panjang total 783,10 mm, campuran lumpur lapindo
13% memiliki panjang total 748,8 mm. Spesimen dengan campuran lumpur
lapindo sebesar 7% memiliki fluiditas yang

Judul jurnal 5 PENGARUH MODEL SISTEM SALURAN PADA PROSES


PENGECORAN ALUMINIUM DAUR ULANG TERHADAP STRUKTUR
MIKRO DAN KEKERASAN CORAN PULLI DIAMETER 76 mm
DENGAN CETAKAN PASIR
Volume & halaman 7 hlm
Tahun 2014
Penulis K. Roziqin H. Purwanto I. Syafa’at
Reviewer Kelompok 8
Tanggal 10 januari 2021
Tujuan penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengecoran secara bentuk
visual, struktur mikro dan kekerasan terhadap variasi sistem saluran
Subjek penelitian Penelitian dilakukan dengan membuat tiga macam sistem saluran dengan
temperatur tuang 700 o C. Hasil menunjukkan bahwa dari ketiga model sistem
saluran tersebut pola saluran A dan pola saluran C tidak terdapat cacat
penyusutan, sedangkan hasil coran pada pola saluran B masih terdapat cacat
penyusutan yang terletak dibagian tengah coran
Metode penelitian Pada pengamatan struktur mikro, pola saluran C lebih sedikit cacat
porositasnya dibandingkan dengan pola saluran A dan B. Pada Uji kekerasan
menunjukkan bahwa pola saluran A pada spesimen A1 dan A3 mempunyai
kekerasan yang paling tinggi diantara spesimen yang lain yaitu sebesar 77,40
BHN. Sedangkan kekerasan terendah terdapat pada pola saluran C yaitu pada
spesimen C2 sebesar 74,40 BHN. Hal tersebut karena laju pembekuan terakhir
terletak pada bagian tengah coran. Jadi semakin lama laju pembekuannya
semakin rendah kekerasannya.
Defenisi Pengecoran merupakan salah satu proses pembentukan bahan baku / bahan
benda kerja dengan proses peleburan/pencairan logam di dalam tungku
peleburan yang kemudian hasil peleburan di masukkan kedalam cetakan.
Tahapan dalam proses
Hasil penelitian Pemeriksaan kualitas hasil cor dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah
satunya melalui pemeriksaan rupa yang dilakukan dengan penglihatan. Dalam
pemeriksaan ini yang diteliti adalah berbagai macam cacat yang dapat terlihat
pada permukaan benda hasil cor
Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, pengujian dan analisa dapat disimpulkan sebagai
berikut; 1. Dari ketiga model sistem saluran tersebut hasil coran dapat
dikatakan bahwa pola saluran A dan pola saluran C tidak terdapat cacat
penyusutan, sedangkan hasil coran pada pola saluran B masih terdapat cacat
penyusutan yang terletak ditengah coran. Cacat penyusutan terjadi akibat gas
dan uap air terjebak didalam rongga cetakan yang tidak dapat keluar. 2. Dari
hasil pengamatan struktur mikro pada ketiga sistem saluran tersebut adalah
cacat porositas terjadi akibat gas yang terbawa dalam logam cair selama
pencairan terjebak didalam rongga cetakan. Hasil struktur mikro pada pola
saluran C lebih sedikit cacat porositasnya dibandingkan dengan pola saluran A
dan paling banyak cacat porositasnya terdapat pada pola saluran B. 3. Hasil
pengujian kekerasan terlihat bahwa spesimen A1 dan A3 mempunyai
kekerasan yang paling tinggi diantara spesimen yang lain yaitu sebesar 77,4
BHN. Sedangkan kekerasan terendah terdapat pada spesimen C2 yaitu sebesar
74,4 BHN. Hal ini dikarenakan laju pembekuan terakhir terletak pada sumbu
tengah coran. Jadi semakin lama laju pembekuannya semakin rendah
kekerasannya.