Anda di halaman 1dari 15

NAMA : HENDRY JUNIARTO ADA’

NIM : 041361425
KELAS : HUKUM PIDANA 4B
KODE/MATA KULIAH : HKUM4203/HUKUM PIDANA

Tugas tambahan untuk memperbaiki kehadiran yaitu mebuat rangkuman terhadap modul setiap
ketidakhadiran!

Rangkuman Modul 1

1. Pengertian Hukum
Paling tidak ada sembilan pengertian hukum yang lasim dan dikenal masyarakat:
a. Hukum dalam arti sebagai ilmu prengetahuan (ilmu hukum) yang berarti juga sebagai
ilmu kaidah (normwissenschaft).
b. Hukum dalam arti sebagai disiplin yaitu ajaran hukum mengenai fenomena masyarakat
atau ajaran kenyataan atau gejala-gejala hukum yang ada dan yang hidup dalam
masyarakat.
c. Hukum dalam arti sebagai kaidah atau peraturan hidup yang menetapkan bagaimana
manusia seharusnya bertingkahlaku dalam hidup bermasyarakat.
d. Hukum dalam arti sebagai tata hukum yaitu keseluruhan aturan hukum yang berlaku
sekarang atau yang positif berlaku disuatu tempat dan pada suatu waktu.
e. Hukum dalam arti sebagai petugas hukum. Dalam konteks ini lebih banyak merupakan
anggapan dari sebagian warga masyarakat yang awam hukum (the man in the street).
f. Hukum dalam arti keputusan penguasa. Artinya hukum merupakan keseluruhan
ketentuan-ketentuan hukum yang dibuat, ditetapkan atau diputuskan oleh pihak penguasa
yang berwenang.
g. Hukum dalam arti proses pemerintahan yang berarti aktifitas dari lembaga administrative
aatu lembaga eksekutif dalam menyelenggarakan pemerintahan.
h. Hukum dalam arti sebgai perilaku yang teratur, dalam hal ini perilaku individu yang satu
terhadap yang lain secara biasa, wajar dan rasional, yang secara terus menerus dilakukan
dan pada akhirnya menimbulkan suatu ikatan yang diterima sebagai suatu keharusan.
i. Hukum dalam arti sebagai jalinan nilai-nilai yaitu untuk mewujudkan keseimbangan atau
keserasian antara pasangan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.

2. Fungsi Hukum
a. Mendefenisikan hubungan antara anggota-anggota masyarakat.
b. Menjinakkan kekuasaan yang telanjang dan menunjukkan bagaimana mengatur
kekuasaan itu.
c. Menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul, baik antara individu, maupun antara
individu dengan kelompok.
d. Melakukan redefenisi hubungan antara individu-individu dan kelompok dalam kondisi
kehidupan yang telah berubah.

3. Pengertian Pidana
Secara sederhana pidana didefenisikan sebagai suatu penderitaan yang sengaja diberikan
oleh Negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat atas perbuatan-perbuatan
yang mana menurut aturan hukum pidana adalah perbuatan yang dilarang.

4. Pengertian Hukum Pidana


Moeljatno memberi pengertian hukum pidana sebagai bagian dari keseluruhan hukum
yang belaku disuatu Negara yang megadakan dasar-dasar dan mengatur ketentuan tentang
perbuatan yang tida boleh dilakukan, dilarang dengan diseratai ancaman pidana bagi
barang siapa yang melakukan. Kapan dan dalam hal apa kepada mereka yang telah
melanggar larangan itu dapat dikenakan sanksi pedana.

5. Pembagian Hukum Pidana


a. Hukum pidana materiil aturan yang berisi perbuatan-perbuatan yang tidak boleh
dilakukan atau perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan dengan disertai ancaman
pidana. Sedangkan hukum pidana formil adalah aturan mengenai cara bagaimana
menegakkan hukum pidana materiil melalui suatu proses peradilan pidana.
b. Hukum pidana objektif yang juga disebut sebagai jus poenale sebagai perintah dan
larangan yang pelanggaran terhadap larangan dan norma tersebut diancam pidana oleh
badan yang berhak; ketentuan-ketentuan mengenai upaya-upaya yang dapat digunakan
jika norma itu dilanggar yang disebut sebagai hukum penitentiaire tentang hukum dan
sanksi dan aturan-aturan yang menentukan kapan dan dimana berlakunya norma tersebut.
Sedangkan hukum pidana yang subjektif atau jus puniendi adalah hak Negara untuk
menuntut pidana, hak untuk menjatuhkan pidana dan hak untuk melaksanakan pidana.
c. Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang ditunjukkan dan berlaku untuk semua
warga Negara sebagai subjek hukum tanpa membeda-bedakan kualitas pribadi subjek
hukum tertentu. Hukum pidana khusus dapat didasarkan atas dasar subjek hukumnya
maupun atas dasar pengaturannya. Dilihat dari subjek hukumnya, hukum pidana khusus
adalah hukum pidana yang dibentuk oleh Negara hanya dikhususkan berlaku bagi subjek
hukum tertentu. Dilihat dari pengaturannya, hukum pidana khusus adalah ketentuan-
ketentuan hukum pidana yang secara materiil menyimpang dari KUHP atau secara formil
menyimpang dari KUHAP. Atas dasar pengaturan tersebut, hukum pidana khusus dibagai
manjadi 2 bagian yaitu hukum pidana khusus dalam Undang-Undang pidana dan hukum
pidana khusus bukan dalam Undang-Undang pidana.
d. Hukum pidana nasional yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia yang disebut sebagai
unifikasi hukum pidana. Hukum pidana nasional ini baik meliputi hukum pidana materiil
maupun hukum pidana formil, baik hukum pidana umum maupun hukum pidana khusus.
Hukum pidana lokal adalah ketentuan hukum pidana yang dimuat dalam peraturan
daerah. Hukum pidana internasional yang penegakannya dilakukan oleh Negara atas
dasar kerjasama internasional atau oleh masyarakat internasional melalui suatu lembaga
internasional baik yang bersifat permanen maupun yang bersifat ad-hoc.
e. Hukum pidana tertulis disebut juga dengan hukum pidana Undang-Undang yang terdiri
dari hukum pidana kodifikasi seperti KUHP dan KUHAP dan hukum pidana diluar
kodifikasi, yang tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan. Hukum pidana tidak
tertulis disebut juga hukum pidana adat yang keberlakuanya dipertahankan dan dapat
dipaksakan oleh masyarakat adat setempat.

Pengertian Ilmu Hukum Pidana


Ilmu pengetahuan mengenai suatu bagian khusus dari hukum, yakni hukum pidana.
Kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kejahatan.
Objek Ilmu Hukum Pidana
Objek ilmu hukum pidana adalah aturan-aturan pidana positif yang berlaku disuatu Negara.

Tujuan Ilmu Hukum Pidana


Mengetahui objektivitas dari hukum pidana positif.

Rangkuman Modul 2

1. Beberapa pendapat yang ditemukan tentang fungsi/tugas hukum pidana.

Ada dua macam:

a. Untuk menakut-nakuti setiap orang agar mereka tidak melakukan perbuatan pidana
(fungsi preventif).
b. Untuk mendidik orang yang telah melakukan perbuatan yang tergolong perbuatan pidana
agar mereka mejadi orang yang baik dan dapat diterima kembali dalam masyarakat
(fungsi represif).

2. Menurut para ahli tujuan hukum pidana adalah:


a. Memenuhi rasa keadilan (Wirjono Prodjodikoro)
b. Melindungi masyarakat/social defence (Tirtaadmidjaya)
c. Melindungi kepentingan individu (HAM) dan kepentingan masyarakat dengan Negara
(Kanter dan Sianturi)
d. Menyelesaikan konflik (Barda Nawawi)

3. Tujuan Pidana (Menurut literatur Inggris R3D):


a. Reformation, yaitu memperbaiki atau merehabilitasi penjahat menjadi orang baik dan
berguna bagi masyarakat. Namun, ini tidak menjamin karena masih banyak juga
residivis.
b. Restraint, yaitu mengasingkan pelanggar dari masyarakat sehingga timbul rasa aman
masyarakat.
c. Retribution, yaitu pembalasan terhadap pelanggaran karena telah melakukan kejahatan
d. Deterrence, yaitu menjera atau mencegah sehingga baik terdakwa sebagai individual
maupun orang lain yang potensi menjadi penjahat akan jera atau takut untuk melakukan
kejahatan, melihat pidana yang dijatuhkn kepada terdakwa.

4. Menurut Sudarto fungsi hukum pidana itu dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Fungsi yang umum
Hukum pidana merupakan salah satu bagian dari hukum, oleh karena itu, fungsi hukum
pidana juga sama dengan fungsi hukum pada umumnya, yaitu untuk mengatur hidup
kemasyarakatan atau untuk menyelenggarakan tata dalam masyarakat.
b. Fungsi yang khusu
Fungsi khusus bagi hukum pidana adalah untuk melindungi kepentingan hukum terhadap
perbuatan yang hendak memperkosanya (recatsquterschutz) dengan sanksi yang berupa
pidana yang sifatnya lebih tajam jika dibandingkan dengan sanksi yang terdapat pada
cabang hukum lainnya.

5. Adami Chazawi menyebutkan bahwa sebagai bagian dari hukum publik hukum pidana
berfungsi:
a. Melindungi kepentingan hukum dari perbuatan atau perbuatan-perbuatan yang
menyerang atau memperkosa kentingan hukum tersebut.
b. Memberi dasar legitimasi bagi Negara dalam rangka Negara menjalankan fungsi
perlindungan atas berbagai kepentingan hukum.
c. Mengatur dan membatasi kekuasaan Negara dalam rangka Negara melaksanakan fungsi
perlindungan atas kepentingan hukum.
1) Tujuan hukum pidana meberi sistem dalam bagian-bagian yang banyak dari hukum
yaitu azas-azas dihubungkan satu sama lain sehingga dapat dimasukkan dalam satu
sistem.
2) Pada prinsipnya sesuai dengan sikap hukum pidana sebagai hukum publik tujuan
pokok diadakannya hukum pidana ialah melindungi kepentingan-kepentingan
masyarakat sebagai suatu kolektiviteit dari perubahan-perubahan yang
mengancamnya atau bahkan merugikannya baik itu datang dari perseorangan maupun
kelompok orang (suatu organisasi).
3) Salah satu cara untuk mecapai tujuan hukum pidana adalah memidana seseorang yang
telah melakukan tindak pidana. Dasar pembenar penjatuhan pidana bertolak pangkal
dan pemikiran sebagai berikut:
a) Ketuhanan (Theologis)
b) Falsafah (Wijsbegeerte)
c) Perlindungan hukum (Juridis)
4) Teori hukum pidana dibagai dalam 3 jenis, yaitu:
a) Teori Mutlak
b) Teori Relatif
c) Teori Gabungan
d. Mengatur konsep mengenai tujuan diadakannya hukum pidana di atas sebenarnya
tercermin (termanifestasi) dalam tiga aliran pokok yang pernah berkembang dalam
hukum pidana. Tiga aliran pokok tersebut ialah:
1) Aliran klasik
2) Aliran modern
3) Aliran neoklasik/neomodern

Rangkuman Modul 3
1. Pengertian pembuatan pidana
Pembuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan yang mana disertai ancaman
(sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan
tersebut.
2. Pengertian Strafbaarfeit
Suatu perbuatan yang oleh hukum diancam dengan hukuman, bertentngan dengan
hukum, dilakukan oleh orang yang bersalah dan orang itu dianggap bertanggung jawab atas
perbuatannya.
Perbedaan Prinsip Perbuatan Pidana dan Strafbaarfeit
Perbuatan pidana yang pokok pengertian harus mengenai perbuatan, yang dalam hal ini tidak
mungkin mengenai orang yang melakukan perbuatan, sebagaimana yang dinyatakan oleh
Prof. Moeljatno di atas yang memisahkan antara perbuatan dan pembuatnya. Pokok
pengertian pada perbuatan dan apakah inkonkrito yang melakukan perbuatan tadi sungguh-
sungguh dijatuhi pidana atau tidak, itu sudah di luar arti perbuatan pidana.
Pada perkembangannya telah tumbuh pemikiran baru tentang Strafbaarfeit, yang menurut
pandangan Pompe, Jonkers dan Vos, telah tumbuh pemikiran tentang pemisahan antara “de
strafbaarfeit van heit feit” dan “de strafbaarfeit van de dader”, dengan perkataan lain bahwa
adanya pemisahan antara “perbuatan yang dilarang dengan ancaman pidana” dan orang yang
melanggar larangan yang dapat dipidana” yang dalam hal ini satu pihak tentang perbuatan
pidana dan di pihak lain tentang kesalahan. Dengan adanya pemisahan antara perbuatan dan
pembuatan merupakan termasuk aliaran /paham dualistis.
3. Elemen-elemen Perbuatan Pidana
a. Elemen-elemen Perbuatan Pidana secara mendasar terdiri dari bagian objektif dan bagian
subjektif.
b. Elemen-elemen perbuatan pidana menurut Simons adalah:
1) Perbuatan manusia (positif atau negative, berbuat atau tidak berbuat atau
membiarkan)
2) Diancam dengan pidana (strafbaar gesteld)
3) Melawan hukum (onrechtmatig)
4) Dilakukan dengan kesalahan (met schuld in verband stand)
5) Oleh orang yang mampu bertanggung jawab (toerekeningsvatoaar person)
4. Elemen-elemen Perbuatan Pidana menurut Moeljatno:
a. Perbuatan (manusia)
b. Memenuhi rumusan dalam Undang-Undang (syarat formil)
c. Bersifat melawan hukum syarat materiil.

Rangkuman Modul 4
1. Sejarah Asas Legalitas
a. Asas legalitas diciptakan oleh seorang ahli hukum Jerman bernama Paul Johan Anslem
von Feuerbach (1775-1833)
b. Asas Legalitas berdasarkan adagiun nullum delictum, nulla poena sine praevia legi
poenali yang berarti tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa Undang-Undang
sebelumnya.
c. Asa legalitas lahir untuk melindungi kepentingan individu dari kesewenag-wenangan
Negara sesuai dengan tujuan hukum pidana menurut aliran klasik.
d. Asas legalitas yang diajarkan oleh Paul Johan Anslem von Feuerbach, menghendaki
penjerahan tidak melalui pengenaan pidana, namun melalui ancaman pidana di dalam
perundang-undangan sehingga harus dicantumkan dengan jelas kejadian dan pidanya,
e. Teori asas legalitasnya Paul Johan Anslem von Feuerbach ini kemudian dikenal dengan
psycologische dwang yang berarti untuk menetukan perbuatan-perbuatan yang dilarang
dalam suatu Undang-Undang pidana, tidak hanya perbuatan tersebut dituliskan dengan
jelas dalam Undang-Undang pidana tetapi juga mengenai macamnya pidana yang
diancamkan. Kali ini dimaksud agar orang yang akan melakukan perbuatan pidana
mengetahui lebih dahulu perihal pidana yang diancamkan sehingga ada perasaan takut
terhadap sanksi pidana yang diancamkan dan diharapkan tidak melakukan perbuatan
tersebut.
f. Pada hakikatnya ruh dari asas legalitas terdapat dalam ajaran agama.
g. Dalam perkembangan tuntutan keadilan asa legalitas ini disimpangi di beberapa Negara.
h. Sejarah perkembangan asas legalitas dalam hukum pidana dengan segala faktor yang
mempengaruhinya terdapat empat macam sifat ajaran yang dikandung oleh asas
legalitas:1) asas legalitas hukum pidana yang menitik beratkan pada perlindungan
individu untuk memperooleh kepastian dan persamaan hukum; 2) Asas legalitas hukum
pidana yang menitikberatkan pada dasar dan tujuan pemidanaan agar dengan sanksi
pidana itu hukum pidana bermanfaat bagi masyarakat sehingga tidak ada pelanggaran
hukum yang dilakukan oleh masyarakat; 3) Asas legalitas hukum pidana yang
menitikberatkan tidak hanya pada ketentuan tentang perbuatan pidana saja aagar orang
menghindari perbuatan tersebut tetapi juga harus diatur mengenai ancaman pidanya agar
penguasa tidak sewenag-wenang dalam menjatuhkan pidana; 4) Asas legalitas hukum
pidana yang menitikberatkan pada perlindungan hukum kepada Negara dan masyarakat.
Asas legalitas disini bukan hanya kejahatan yang ditetapkan oleh Undang-Undang saja
akan tetapi menurut ketentuan hukum berdasarkan ukuran dapat membahayakan
masyarakat.
2. Pengertian asas legalitas
a. Pengertian asas legalitas adalah tidak ada perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas
kekuatan Undang-Undang pidana yang ada sebelum perbuatan dilakukan
b. Kata ‘perbuatan’ dalam asas legalitas dapat bersifat positif maupun negatif. Perbuatan
bersifat positif berarti melakukan sesuatu yang dilarang, sedangkan perbuatan yang
bersifat negatif mengandung arti tiak melakukan sesuatu yang diwajibkan oelh Undang-
Undang.
c. Melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dikenal dengan istilah
delik komisi, sedangkan tidak melakukan perbuatan yang diwajibkan oleh undang-
undang dikenal dengan delik omisi.
d. Kata ‘pemrbuatan pidana’ dalam asas legalitas merujuk pada pengertian perbuatan pidana
yaitu ada perbuatan yang dilarang menurut ketentuan undang-undang dan ada ancaman
bagi barang siapa yang melakukan.
e. Kata ‘undang-undang pidana’ dalam asas legalitas tidak hanya kitab undang-undang
pidana, tetapi juga seluruh undang-undang pidana yang tertulis, umum maupun khusus,
baik perundang-undangan yang dikodifikasi ataupun tidak dikodifikasi. Undang-undang
di sini tidak hanya dalam pengertian formal tetapi juga dalam pengertian materiil.

3. Makna yang tergantung Dalam Asas legalitas


a. Ada empat makna yang terkandung dalam asas legalitas: 1) Nullum crimen, noela poena
sine lege praevia. Artinya tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-
undang sebelumnya. Konsekuensi dari makna ini adalah ketentuan hukum pidana tidak
boleh berlaku surut; 2) Nullum crimen, nulla poena sine lage certa. Artinya, tidak ada
perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa aturan undang-undang yang jelas. Konsekuensi
selanjutnya dari makna ini adalah bahwa rumusan perbuatan pidana harus jelas sehingga
tidak bersifat multi tafsir yang dapat membahayakan bagi kepastian hukum; 3) Nullum
crimen, nulla peona sine lege scripta. Artinya, tidak ada perbuatan pidana, tidak ada
pidana tanpa undang-undang tertulis. Konsekuensi dari makna ini adalah semua
ketentuan pidana harus tertulis. Dengan kata lain, baik perbuatan yang dilarang, maupun
pidana yang diancam terhadap perbuatan yang dilarang harus tertulis secara eksplisit
dalam undang-undang ; 4) Nullum crimen, noela poena sine lege stricta. Artinya, tidak
ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-unang yang ketat. Konsekuensi dari
makna ini secara implisit tidak memperbolehkan analogi. Ketentuan pidana harus
ditafsirkan secara ketat sehingga tidak menimbulkan perbuatan pidana baru.
b. Empat makna yang terkandung dalam asas ini. Dua dari yang pertama ditujukan kepada
pembuat undang-undang dan dua yang lainnya merupakan pedoman bagi hakim.
Pertama, bahwa pembuat undang-undang tidak boleh memberlakukan suatu ketentuan
pidana berlaku mundur. Kedua, bahwa semua perbuatan yang dilarang harus dimuat
dalam rumusan delik yang sejelas-jelasnya. Ketiga, hakim dilarang menyatakan bahwa
terdakwa melakukan perbuatan pidana didasarkan pada hukum tidak tertulis atau hukum
kebiasaan. Keempat, terhadap peraturan hukum pidana dilarang diterapkan analogi.

4. Asas Legalitas Dalam Konteks Hukum Pidana Nasional Dan Hukum Pidana Internasional
a. Asas legalitas dalam hubungannya dengan hukum pidana nasional biasanya dituangkan
dalam Undang-Undang Dasar suatu Negara dan di dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana masing-masing Negara.
b. Asas legalitas dalam hubungannya dengan hukum pidana internasional harus diterapkan
dengan standar yang berbeda dengan hukum pidana nasional yang berkaitan dengan
tanggung jawab pidana individu terhadap kejahatan-kejahatan internasional. Hukum
pidana internasional. Hukum pidana internasional tidak dikodifiksikan seperti halnya
hukum pidana nasional tetapi juga bersumber dari hukum kebiasaan internasional. Oleh
karena itu, asas legalitas tidak mengikat seluruhnya dalam hubungannya dengan
kejahatan-kejahatan di bawah hukum Internasional.
c. Dalam hukumannya dengan hukum pidana nasional, asas legalitas menganut prinsip yang
fundamental yaitu larangan terhadap ex post facto dalam hukum pidana dan larangan
penerapan sanksi pidana secara retroaktif serta analogi dalam yudisial interpretasi. Oleh
karena itu, aturan hukum pidana tidak boleh bersifat ambigu. Akan tetapi, dalam
hubungannya dengan hukum pidana internasional, yang sumber hukumnya berasal dari
kebiasaan internasioanal, asas legalitas tidaklah dapat diterapkan seperti sistem hukum
pidana nasional.
d. Asas legalitas dalam hubungannya dengan hukum pidana internasioanl tertuang dalam
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Kovenan Hak-Hak Sipil Dan Politik, Konvensi
Eropa Hak Asasi Manusia, Konvensi Amerika Hak Asasi Manusia, Piagam Afrika
Tentang Hak Asasi Manusia Dan Hak Penduduk dan Statuta Roma.

5. Pembatasan Asas Legalitas


a. Pembatasan terhadap asas legalitas disebut dengan istilah pembatasan terhadap asa lex
termporis delicti.
b. Pembatas terhadap asas legalitas terkait perubahan peraturan perundang-undangan maka
harus diterapkan aturan yang paling menguntungkan.
c. Terkait perubahan peraturan perundang-undangan ada tiga teori:
1) Ajaran formil yang menyatakan bahwa ‘perubahan perundang-undangan’ hanya jika
terdapat perubahan redaksi dalam undang-undang pidana.
2) Ajaran materiil terbatas yang menyatakan bahwa makna ‘perubahan perundang-
undangan’ adalah setiap perubahan keyakinan hukum pada pembuat undang-undang.
3) Ajaran materiil tidak terbatas menyatakan bahwa setiap perubahan, baik dalam
keyakinan hukum pembuat undang-undang maupun dalam keadaan karena waktu.
d. Maksud aturan yang paling meringankan, kiranya tidak hanya mengenai pemidanaan
semata, namun juga termasuk segala sesuatu yang mempunyai pengaruh atas penilaian
suatu delik termasuk kaidah pidana dan ketentuan-ketentuan dapat dituntut-tidaknya
pelaku.

Rangkuman Modul 5

1. Defenisi Asas Teritorial


Asas teritorial adalah asas yang menegaskan bahwa hukum pidana suatu Negara mutlak
berlaku di wilayah Negara yang bersangkutan terhadap semua orang, baik terhadap warga
Negara sendiri maupun terhadap warga Negara asing yang melalukan tindak pidana di
wilayah Negara tersebut.
2. Asas-asas Ektra Teritorial/kekebalan dan hak-hak istimewa (Immunity and Previlege).
a. Kepala Negara asing dan anggota keluarganya.
b. Pejabat-pejabat perwakilan asing dan keluarganya
c. Pejabat-pejabat pemerintahan Negara asing yang bersatu diplomatik yang dalam
perjalanan melalui Negara-negara lain atau menuju Negara lain.
d. Satu angkatan bersenjata yang tertinpin.
e. Pejabat-pejabat badan internasional.
f. Kapal-kapal perang dan pesawat udara militer/ABK diatas kapal maupun di luar kapal.

3. Perluasan Teritorial Berdasarkan Prinsip Teknis


a. Wilayah laut Indonesia sebelum tahun 1957, menurut “Territoriale zee en maritime
kringen ordonatie” adalah 3 mil laut yang dihitung dari batas garis pasang surut (lag
water” sesuai dengan hukum kebiasaan internasional.
b. Pada saat berjalan Kabinet Karya di bawah predana mentri Juanda pada tanggal 13
Desember 1957, dikeluarkan pengumuman yang intinya “menyatakan bahwa batas
teritorial Indonesia lebarnya 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan
titi-titik yang terluar dari pulau negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan
undang-undang”.
c. Ketentuan Pasal 2 diperluas oleh Pasal 3 termasuk melakukan tindak pidana dalam
“kendaraan air Indonesia dan pesawat udara Indonesia”. Perluasan berlakunya hukum
Indonesia menurut Pasal 3 semula hanyalah pada atau dalam kendaraan air Indonesia
saja, baru dengan UU No.4 Tahun 1976 diperluas juga dengan di dalam pesawat udara
Indonesia.

4. Perluasan Teritorial Berdasarkan Prinsip Kewarganegaraa:


a. Asan Nasional Aktif
Asas nasional aktif bertumpu pada kewarganegaraan pembuat hukum pidana mengikuti
kewarganegaraannya kemampuan ia berada. Inti asas ini tercantum di pasal 5 KHUP;
b. Asas Nasional Pasif
Asas nasional pasif adalah asas yang menyatakan berlakunya undang-undang hukum
pidana Indonesia di luar wilayah negara, bagi setiap orang, warga negara atau orang asing
yang melanggar kepentingan hukum Indonesia, atau melakukan perbuatan pidana yang
membahayakan kepentingan nasional Indonesia di luar negeri.
5. Perluasan Teritorial Berdasarkan Prinsip Proteksi
a. Pasal KUHP (setelah diubah dan ditambah berdasarkan Undang-Undang No. 4 Tahun
1976) “Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap
orang yang melakukan di luar Indonesia”.
b. Dalam Pasal 4 KUHP ini terkandung asas melindungi kepentingan yaitu melindungi
kepentingan nasional dan melindungi kepentingan internasional (universal). Pasal ini
menentukan berlakunya hukum pidana nasional bagi setiap orang (baik warga negara
Indonesia maupun warga negara asing) yang di luar Indonesia melakukan kejahatan yang
disebutkan dalam pasal tersebut.

6. Perluasan Teritorial Berdasarkan Prinsip Universal


a. Asas universal adalah asas yang menyatakan setiap orang yang melakukan perbuatan
pidana dapat dituntut undang-undang hukum pidana Indonesia di luar wilayah negara
untuk kepentingan hukum bagi seluruh dunia.
b. Melindungi kepentingan internasional (kepentingan universal) karena rumusan pasal 4
ke-2 KUHP (mengenai kejahatan pemalsuan mata uang atau kertas) dan pasal ke-4
KUHP (mengenai pembajakan kapal laut dan pembajakan pesawat udara) tidak
menyebutkan mata uang atau uang kertas negara yang dipalsukan atau kapal laut dan
pesawat terbang negara yang dibajak.

Rangkuman Modul 6
1. Apakah Melawan Hukum itu?
Negara kesatua Republik Indonesia adalah negara hukum, bukan negara kekuasaan, oleh
sebab itu setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum. Dalam
pergaulan sehari-hari di masyarakat kita sering mendengar kata-kata “Anda telah melakukan
perbuatan melawan hukum”, namun banyak orang tidak mengerti hal sesungguhnya arti
perbuatan melawan hukum itu.
2. Unsur Melawan Hukum
Salah satu unsur perbuatan pidana adalah unsur sifat melawan hukum. Unsur itu merupakan
suatu penilaian objektif terhadap perbuatan dan bukan terhadap si pembuat. Untuk
menentukan apakah suatu perbuatan dikatakan perbuatan melawan hukum diperlukan unsur-
unsur:
a. Perbuatan tersebut melawan hukum
b. Harus ada kesalahan pada pelaku
c. Harus ada kerugian

3. Sifat Melawan Hukum


a. Ajaran Sifat Melawan Hukum Formal: menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan
melawan atau bertentangan dengan undang-undang (hukum tertulis).
b. Ajaran Sifat Melawan Hukum Materiil: menurut ajaran ini melawan hukum sama dengan
bertentangan dengan undang-undang (hukum tertulis) dan juga bertentangan dengan
hukum yang tidak tertulis termasuk tata susila dan sebagainya.
c. Menurut D. Schaffmeister, et.al., pengertian melawan hukum itu ada 4 kelompok yaitu:
1) Sifat melawan hukum secara umum
2) Sifat melawan hukum secara khusus
3) Sifat melawan hukum secara materil
4) Sifat melawan hukum secara formil

4. Pengertia Melawan Hukum


a. Menurut bahasa Belanda, melawan hukum adalah wederrechtelijk (weder: bertentangan
dengan, melawan; recht: hukum).
b. Simon: melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum pada umumnya.
c. Noyon: melawan hukum berarti bertentangan dengan hak subyektif orang lai.
d. Pompe: melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum dengan pengertian yang
lebih luas, bukan hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga dengan hukum
yang tidak tertulis.
e. Van hamel: melawan hukum adalah onrechmatig atau tanpa hak/wewenang.
f. Hoge raad: dari arrest-arrestnya dapat disimpulkan, menurut HR melawan hukum
adalah tanpa hak atau tanpa kewenangan. (arrest 18-12-1911 W 9263).
g. Lamintang: Ia mengatakan, dalam bahasa Indonesia kata wederrechtelijk itu berarti
“secara tidak sah” yang dapat meliputi pengertian “bertentangan dengan hukum objektif”
“bertentangan dengan hak orang lain atau hukum subjektif”.

5. Apakah Melawan Hukum Dalam Hukum Perdata sama dengan Melawan Hukum dalam
Hukum Pidana?
Dalam hukum pidana, untuk perbuatan melawan hukum atau yang disebut dengan istilah
“perbuatan pidana” mempunyai arti, konotasi dan pengaturan hukum yang berbeda sama
sekali dengan perbuatan melawan hukum secara perdata.