Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PENDAHULUAN

KELUARGA DENGAN ANAK USIA


SEKOLAH
(GASTRITIS)

Dosen Pembimbing: Ns. Rina Puspitas Sari, M.Kep., Sp.Kep.Kom

Disusun oleh:

PUTRI AGUSTIANINGRUM

NIM: 20317115

POGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

(STIKes) YATSI TANGERANG

TAHUN 2020
LAPORAN PENDAHULUAN

KELUARGA DENGAN ANAK USIA

SEKOLAH

A. DEFINISI
Anak usia sekolah merupakan suatu periode yang dimulai saat anak masuk sekolah
dasar sekitar usia 6 tahun sampai menunjukan tanda akhir masa kanak-kanak yaitu 12 tahun.
Langkah perkembangan selama anak mengembangkan kompetensi dalamketrampilan
fisik, kognitif, dan psikososial. Selama masa ini anak menjadi lebih baik dalam berbagai hal,
misalnya mereka dapat berlari dengan cepat dan lebih jauh sesuai perkembangan kecakapan
dan daya tahannya (Berkey, 2019).

B. BATASAN
Tahap perkembangan keluarga keempat dimulai saat anak masuk sekolah pada usia 6
tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai jumlah
anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas disekolah
masing-masing anak memiliki aktivitas dan minat sendiri. Demikian pula orangtua yang
mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak. Untuk itu keluarga perlu bekerjasama
untuk mencapai tugas perkembangan (Friedman, 2010).

C. KARAKTERISTIK
(Netty, 2017)
Anak usia sekolah disebut sebagai masa akhir anak-anak sejak usia 6 tahun dengan
ciri-ciri sebagai berikut :
1. Label yang digunakan oleh orang tua
a. Usia yang menyulitkan karena anak tidak mau lagi menuruti perintah dan lebih
dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada orang tua ataupun anggota keluarga
lainnya.
b. Usia tidak rapi karena anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam
penampilan.
c. Usia bertengkar karena banyak terjadi pertengkaran antar keluarga dan membuat
suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
2. Label yang digunakan pendidik/guru
a. Usia sekolah dasar : anak diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang
dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa
dan mempelajari perbagai ketrampilan penting tertentu baik kurikuler maupu
ekstrakurikuler
b. Periode kritis dalam berprestasi : anak membentuk kebiasaan untuk mencapai
sukses, tidak sukses, atau sangat sukses yang cenderung menetap sampai
dewasa.
3. Label yang digunakan oleh ahli psikologi
a. Usia berkelompok : perhatian utama anak tertuju pada keinginan diterima oleh
teman-teman sebaya sebagai anggota kelompok.
b. Usia penyesuaian diri : anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui
oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan berperilaku.
c. Usia kreatif :suatu masa yang akan menentukan apakah anak akan menjadi
konformis (pencipta karya baru) atau tidak.
d. Usia bermain : suatu masa yang mempunyai keinginan bermain yang sangat besar
karena adanya minat dan kegiatan untuk bermain.

D. TUGAS PERKEMBANGAN
Ketika anak memasuki usia sekolah, orangtua sebenarnya merasa bahwa tahapan ini
lebih berkurang kadar sibuknya, karena pekerjaan rumah sudah dapat berjalan secara rutin.
Anak secara umum merasa puas mengenai hubungannya dengan orangtua dan mulai terlibat
dalam aktivitas rumah tangga.
1. Mendukung perkembangan anak
Mendukung perkembangan anak dilakukan dengan cara membiarkan anak untuk
pergi dan bergabung dengan dunia di luar rumahnya. Semakin lama, akan semakin
sedikit waktu anak tersebut berada di rumahnya. Sejak pagi hingga siang anak harus
bersekolah, kemudian setelah itu tidak jarang anak mengikuti kegiatan olahraga atau
klub-klub tertentu bersama dengan grupnya, sehingga anak pulang ke rumah dalam
keadaan lelah pada malam hari untuk beristirahat. Belum lagi ajakan temannya untuk
menginap di rumahnya, berlibur bersama, ikut camp, mengunjungi kerabat pada hari
libur, dan sebagainya. Semua kegiatan tersebut diatas sangat baik untuk perkembangan
anak dalam hal kemandirian, memperluas pengalaman dan untuk perkembangan
kepribadiannya.
Orangtua harus mendukung hubungan ini, karena penelitian membuktikan bahwa
anak dengan dukungan yang sangat baik dari anggota keluarganya akan memegang
teguh norma, nilai dan identifikasi terhadap keluarganya bahkan ketika mereka sedang
berinteraksi dengan orang lain. Seorang ibu yang memiliki hubungan pertemanan yang
hangat akan lebih mudah untuk membiarkan anaknya bergabung dengan dunia luar.
2. Menyediakan Tempat Tinggal yang Cocok dan Memperhatikan Kesehatan Anak
Keluarga dengan anak usia sekolah mencari tempat tinggal yang sesuai dengan
kemampuan mereka. Mereka lebih menyukai rumah yang dapat diperluas dan
memungkinkan penggunaan energi secara efisien yang dekat dengan sekolah dan job
security. Hauenstein dalam penelitiannya membagi populasi menjadi dua macam
yaitu:
a. High stress neighborhoods : ditandai dengan crowded, susunan keluarga
mengalami kesulitan membuat suatu pertemuan
b. Low stress neighborhoods : kebanyakan adalah keluarga-keluarga yang stabil,
jalan-jalan yang aman.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa tak seorangpun yang ingin tinggal di area yang
tinggi tingkat kriminal yang sangat membahayakan anak-anak dan juga orang dewasa.
Yang sering tinggal di area seperti ini biasanya adalah keluarga yang tidak bekerja
(pengangguran) dan punya masalah-masalah dalam perkawinan. Dapat dilihat bahwa
menyediakan tempat tinggal yang sesuai adalah suatu tugas yang berat dan memberi
tantangan terutama dalam situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang.
Keluarga dengan anak sekolah kebanyakan menginginkan mempunyai rumah
sendiri. Akan tetapi, biaya untuk memiliki rumah sendiri selalu meningkat dari waktu
ke waktu. Adanya biaya pindah keluarga rata-rata meningkat begitu cepat, banyak
keluarga yang tetap berada di tempat tinggalnya tanpa mencoba untuk meningkatkan
keadaan tempat tinggal mereka. Pada waktu biaya untuk tempat tinggal semakin
tinggi, beberapa keluarga muda mampu membeli sebuah rumah tanpa bantuan dari
kerabatnya. Hal itu tidak aneh karena biasanya keluarga muda paling banyak
menerima dukungan dari keluarganya.
Menjaga kesehatan anak usia sekolah memerlukan suntikan untuk mencegah
adanya penyakit menular dan peduli pada anak yang sakit atau pemulihan dari
kecelakaan. Banyak sistem sekolah yang mengharuskan bukti imunisasi anak sebelum
menerima mereka kesekolah tiap tahun. Dipteria, tetanus, pertusis, polio, campak,
gondok dan rubella (MMR) adalah imunisasi yang biasanya diperlukan bagi anak dari
TK sampai SMA. Oleh karena itu, adalah tanggung jawab keluarga untuk menemui
dokter keluarga atau melalui departemen kesehatan negara atau klinik.
3. Komunikasi di Dalam Keluarga dengan Anak Usia Sekolah
Keluarga adalah sebuah sarana komunikasi untuk anak usia sekolah. Kebanyakan
anak senang menceritakan pengalaman mereka, banyak bertanya, dan
mengekspresikan sesuatu. Studi longitudinal mengindikasikan masalah awal seperti
destructiveness, temper tantrums dan overactivity menurun secara cepat di usia
sekolah.
Komunikasi orangtua-anak didukung saat anak merasa bebas menanyakan atau
berbicara hal personal tentang masalah pubertas yang dialami dan tentang peer
mereka. Orang tua yang dapat menjawab pertanyaan dan terbuka dengan anaknya akan
menjaga komunikasi yang baik. Penerimaan orangtua terhadap perasaan real mereka
sama baiknya pada anak dapat memunculkan ekspresi yang sehat dari emosi seperti
fear (takut), anxiety (cemas), resentment, anger (marah) dan cemburu.
Sibling coalition dimana anak dikontrol secara kuat dia'alnya sebagai mekanisme
bagi anak agar terikat bersama yang mungkin ikatan sepanjang hidup antar saudara.
Anak yang pertama lahir dapat memiliki orangtua yang seutuhnya dan terus berlanjut
menjadi anak yang unik dalam keluarga. Anak yang paling akhir, oleh orangtuanya
cenderung diberikan banyak toleransi. Anak tengah merasa bahwa orangtuanya lebih
banyak menghukum daripada memberi dukungan padanya dibandingkan anak tertua
dan anak terakhir. Dalam studi tentang selfesteem, anak tengah memiliki tingkat yang
rendah selfesteem-nya dibandingkan anak pertama dan terakhir.
Fungsi dari rumah dapat juga melayani emosi-emosi yang dikondisikan kembali
oleh anggota keluarga pada saat ia berada di luar seperti sekolah dibandingkan ia harus
meluapkan emosi di luar rumah yang akan mengganggu ketenangan di sekitar rumah.
Dengana danya komunikasi maka cinta akan mengalir dalam keluarga tersebut
menggantikan rasa marah atau energi negatif lainnya dengan energi yang positif.
(Friedman et al., 2010)
1. Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan
mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat
2. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga

E. MASALAH KESEHATAN
(Baharun, 2016)
Masalah yang mungkin terjadi pada anak usia sekolah adalah:
1. Masalah penglihatan, pendengaran, wicara
2. Kesulitan belajar
3. Gangguan tingkah laku
4. Perawatan gigi yang tidak adekuat
5. Penganiayaan dan menelantarkan anak
6. Penyalahgunaan zat
7. Penyakit Menular
8. Persaingan antara kakak-adik
9. Masalah kemanan anak
Masalah keperawatan yang mungkin muncul:
1. Resiko cedera
2. Resiko Trauma
3. Resiko Keracunan
4. Resiko Infeksi
5. Gangguan Penanganan Pemeliharaan Rumah
6. Perubahan menjadi Orang tua
7. Perubahan Pertumbuhan dan Perkembangan
8. Gangguan Komunikasi verbal

F. INTERVENSI KEPERAWATAN
Selain mempelajara masalah, perawat dan guru akan mendeteksi banyak defek visual,
pendengaran, bicara, gangguan perilaku, perawatan gigi yang adekuat, penganiayaan anak,
penyalahgunaan zat dan penyakit menular diantara populasi anak sekolah. Perawat juga
berperan sebagai narasumber bagi guru sekolah, memungkinkan guru untuk dapat
menangani kebutuhan kesehatan muridnya yang sudah umum dan bersifat lebih individual
secara efektif.

Bagi anak-anak yang memiliki masalah perilaku, perawat sekolah, klinik, dokter, dan
lembaga komunitas harus aktif mencari keterlibatan orang tua dan memberikan konsleing
suportif. Melakukan rujukan ke konseling atau terapi keluarga sering kali sangat berguna
dalam membantu keluarga menyadari adanya masalah keluarga yang dapat dengan buruk
mempengaruhi anak usia sekolah. Ketika orangtua mampu membuat kerangka ulang
masalah perilaku anak dalam sebuah masalah keluarga dan menyelesaikan tindakan untuk
menyelesaikan masalah dengan focus tersebut, sering kali menghasilkan fungsi keluarga dan
juga perilaku anak yang lebih sehat.
Intervensi keperawatan pada masalah keluarga dengan anak usia sekolah menurut
Capernito, 2018 yaitu:
1. Monitor perkembangan anak masa kanak-kanak, perujukan bila ada indikasi
2. Pendidik dalam tindakan pertolongan pertama dan kedaruratan
3. Koordinator dengan layanan pediatri
4. Penyedia imunisasi
5. Konselor pada nutrisi dan latihan
6. Pendidik dalam isu pemecahan masalah mengenai kebiasaan kesehatan
7. Pendidik tentang hygiene perawatan gigi
8. Konselor pada keamanan lingkungan dirumah
9. Fasilitator dalam hubungan interpersonal
DAFTAR PUSTAKA

Baharun, H. (2016). Pendidikan Anak dalam Keluarga; Telaah Epistemologis. Jurnal Pedidikan,
3(2), 96–107.

Berkey, K. M., & Hanson, S. M. (2019). Pocket Guide to Family Assessment and Intervention.
St. Louis: Mosby

Capernito, L.J. (2018). Diagnosa keperawatan. Jakarta: EGC

Friedman, M. M., Bowden, V. R., & Jones, E. G. (2010). Buku AJar Keperawatan Keluarga:
Riset, Teori & Praktik (5th ed.). Jakarta: EGC.

Netty Herawati, (2017). Konsep Keluarga. Jakarta: FIK UI


FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

PENGKAJIAN

Tanggal : 18 November 2020


RT / RW : 010 / 005
Kelurahan : Desa Saga
A. Data Umum
a. Nama Kepala Keluarga : Tn. B
b. Alamat dan No. Telp : Villa Balaraja Blok M2 No. 8 / 081282177xxx
c. Komposisi Keluarga :
No Nama Jenis Kelamin Usia Hub. Pekerjaan Pendidikan
Keluarga

1. Tn. B L 42 th Suami Tidak SMA


Bekerja

2. Ny. A P 38 th Istri Ibu Rumah SMA


Tangga

3. An. W P 12 th Anak Siswa SD

Genogram :

Ny. S Ny. E
Tn. H Tn. A

Ny. A Ny. D Ny. R


Tn. K Tn. B Tn. F

An. W
Keterangan :

: Laki-laki : Meninggal : Klien

: Perempuan ----------- : Tinggal Serumah ===== : Menikah

Keterangan : jelaskan tentang keadaan keluarga

1. Tipe Keluarga
Keluarga Ny. A memiliki tipe keluarga inti (nuclear family) karena terdiri dari
ayah, ibu, dan anak yang tinggal dalam satu rumah.

2. Suku dan budaya


Keluarga Ny. A berasal dari suku jawa, Yogyakarta. Jika sakit keluarga Ny. A
terkadang membiarkan hingga sembuh dan hanya mengkonsumsi obat warung yang biasa
dikonsumsi.

3. Agama
Anggota keluarga Ny. A beragama islam. Ny. A dan suami selalu mengajarkan
anaknya untuk selalu dekat dengan Allah S.W.T, mengingatkan anaknya untuk sholat 5
waktu, sering mengusahakan sholat berjamaah dan setiap malam jumat seluruh anggota
keluarga membaca yasin bersama.

4. Status sosial ekonomi keluarga


Suami Ny. A yaitu Tn. B tidak bekerja dengan pekerjaan tetap. Penghasilan yang
diperoleh dari panggilan sebagai tukang bangunan sebesar ± 120 ribu/hari. Ny. A hanya
sebagai ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan sampingan. Penghasilan Tn.
B digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, bayar tagihan listrik, air dan
lain-lain. Alat transportasi keluarga Ny. A yaitu 1 motor pribadi.
5. Aktifitas rekreasi keluarga
Kegiatan yang dilakukan keluarga Ny. A untuk rekreasi adalah menonton TV,
makan bersama dan mengobrol di teras rumah. Terkadang keluarga Ny. A berkumpul
dengan sanak saudara saat acara keluarga dan lebaran.
An. W mengatakan setiap hari ia bermain dengan teman sebaya satu komplek dan
belajar di malam hari.

B. Riwayat Perkembangan Keluarga


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Ny. A memiliki 1 orang anak yaitu perempuan. Saat ini anaknya berusia 12 tahun
dan masih bersekolah di bangku SD.

2. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Tahap perkembangan keluarga Ny. A masih belum terpenuhi karena Tn. B harus
membiayai anaknya. An. W masih dalam tahap perkembangan anak usia sekolah.

3. Riwayat keluarga inti


Tn. B sering mengeluh telapak kaki kiri terasa sakit saat berjalan. Tn. B tidak
langsung memeriksakan dirinya ke dokter, ia hanya menganggap keluhan yang dirasa
akan sembuh sendiri. Ny. A juga beranggapan bahwa sakit Tn. B tidak terlau serius.
Ny. A menderita gastritis sudah 2 tahun. Ny. A mengatakan tidak boleh telat
makan dan sudah tidak bisa makan makanan pedas sedikit pun. Ny A mengeluh mual,
sakit perut, nyeri ulu hati dirasa seperti diremas-remas dan hilang timbul. Ketika nyeri
ulu hatinya kambuh, ia hanya mengkonsumsi obat penurun asam lambung dari warung
yang biasa ia konsumsi. Bila keluhan dirasa lama, Ny. A hanya mengalihkannya dengan
tidur karena Ny. A menganggap dengan tidur keluhan yang dirasa akan hilang sendiri.
An. W tidak memiliki riwayat penyakit dan tidak ada masalah kesehatan. Hanya
saja, ketika mengeluh tidak enak badan, An. W meminta Ny. A untuk mengerik
punggungnya dengan minyak kayu putih. Setelah itu, An. W mengkonsumsi obat
antangin.
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Orang tua dari Tn. B tidak memiliki riwayat penyakit. Namun, Orang tua dari Ny.
A memiliki riwayat asam urat.

C. Keadaan Lingkungan
1. Karakteristik Rumah (termasuk denah rumah)
Tempat tinggal keluarga Ny. A memiliki luas 60 m, tipe rumah 21, dan milik
sendiri. Rumah Ny. A memiliki ruangan sebanyak 6 ruangan, ventilasi cukup dengan
pemanfaatan ruangan seperti 1 teras, 1 ruang tamu sekaligus ruang keluarga, 2 kamar
tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Rumah Ny. A memiliki 1 septitank, jarak septitank
dengan sumber air ± 10 m. Keluarga Ny. A menggunakan sumber air minum dari PDAM,
tersedia tempat sampah rumah tangga yang terletak di depan rumah dan biasanya
diangkut oleh petugas TPA (Tempat Pembuangan Akhir) setiap hari senin. Lingkungan
rumah Ny. A cukup bersih dan jarak rumah dengan jalan raya cukup jauh.

Keterangan:

Teras : Pintu
Ruang Tamu dan Ruang Keluarga
: Jendela

: Septitank
Kamar 1
Kamar 2

Dapur WC

2. Karakteristik tetangga dan komunitas


Keluarga Ny. A tinggal di daerah perumahan, tetangga yang ada di sekitar rumah
semuanya ramah dan saling tolong-menolong satu sama lain. Ibu-ibu sekitar memiliki
kebiasaan mengadakan turnamen dan latihan voli setiap sore hari, arisan RT dan
pengajian rutin bulanan setiap 1 bulan sekali yang diadakan di masjid dekat rumah.
Bapak-bapak sekitar juga sering mengadakan turnamen dan latihan voli serta kerja bakti
membersihkan lingkungan setiap 1 bulan sekali dan kegiatan ronda yang diadakan secara
bergulir.

3. Mobilitas geografis keluarga


Keluarga Ny. A sudah menempati rumah itu sejak 5 tahun yang lalu. Tn. B lahir
dan besar di Bantul, Yogyakarta sedangkan Ny. A lahir di kota Yogyakarta dan besar di
Jakarta sejak berumur 10 tahun. Tn. B kemudian merantau ke Tangerang untuk mencari
pekerjaan sedangkan Ny. A pindah dari Jakarta ke Tangerang untuk menetap. Setelah
menikah, Tn. B dan Ny. A memutuskan untuk tetap tinggal dalam satu perumahan
dengan orang tua Ny. A.

4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat


Biasanya Ny. A mengikuti arisan RT sebulan sekali, pengajian rutin bulanan dan
kegiatan masak bersama jika ada acara hajatan. Sedangkan Tn. B sering mengikuti
kegiatan voli setiap sore hari, bermain karambol dan catur bersama tetangga lainnya serta
mengikuti ronda yang diadakan secara bergulir.
An. W mengatakan bahwa ia memiliki banyak teman dari berbagai usia mulai dari
TK, SD hingga SMP. An. W juga mengatakan setiap hari ia bermain di luar rumah
hingga terkadang belajar larut malam. Ny. A sering memberi nasihat kepada An. W untuk
mengatur jadwal bermain dan belajarnya karen An. W akan mengikuti ujian nasional. Ny.
A berharap An. W mengikuti arahan dari Ny. A untuk belajar.

5. Sistem pendukung keluarga


Semua anggota keluarga dalam kondisi sehat. Anggota keluarga saling
menyayangi dan membantu satu sama lain. Keluarga Ny. A memiliki fasilitas : Televisi,
MCK, tempat tidur yang nyaman, sumber air bersih, dan motor sebagai sarana
transportasi dan untuk masalah kesehatan, keluarga Ny. A memiliki askes BPJS untuk
membantu biaya pengobatan.
D. Struktur Keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Keluarga Ny. A dalam kesehariannya menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa
Jawa. Ny. A selalu berusaha membangun komunikasi yang baik dengan anaknya karena
akan menginjak usia remaja.

2. Struktur kekuatan keluarga


Saudara-saudara dari Tn. B dan Ny. A selalu siap membantu apabila keluarga Ny.
A membutuhkan pertolongan.

3. Struktur peran
- Tn. B
Peran formal : sebagai suami dari istri, sebagai kepala keluarga, ayah, pelindung
dan pemberi rasa aman dalam keluarga, sebagai anggota
masyarakat.
Peran informal : pengambil keputusan tertinggi di rumah.
- Ny. A
Peran formal : sebagai istri dari suami, ibu, mengurus rumah tangga, mendidik
anak-anak
Peran informal : sebagai pendamai antar anggota keluarga.
- An. W
Peran formal : sebagai anak dan siswa SD.
Peran informal : sebagai penghibur hati orang tua.

4. Nilai dan norma agama


Keluarga Ny. A menganut agama islam dan norma yang berlaku di masyarakat
dan adat istiadat orang Jawa. Keluarga Ny. A sangat mematuhi peraturan yang ada di
rumah seperti anak perempuannya tidak boleh keluar setelah maghrib. Tn. B dan Ny. A
juga mengajarkan pentingnya bersikap sopan santun dengan orang lain.
E. Fungsi Keluarga
1. Fungsi afektif
Tn. B dan Ny. A selalu menyayangi dan memberikan perhatian kepada anak satu-
satunya. Tn. B dan Ny. A selalu bergantian untuk mengantar dan menjemput An. W ke
sekolah.

2. Fungsi sosialisasi
Interaksi keluarga Ny. A sangat baik, saling mendukung, saling tolong menolong
dan bahagia bersama. Keluarga Ny. A selalu menerapkan sopan santun dalam berperilaku
kepada tetangga dan cukup aktif dalam masyarakat. Tn. B dan Ny. A sering mengobrol di
depan rumah dengan tetangga diwaktu senggang.

3. Fungsi perawatan kesehatan


a. Pola istirahat/ tidur
Keluarga Ny. A jarang sekali untuk tidur siang. An. W selalu bermain dan tidak
menuruti perintah orang tua untuk tidur siang. Keluarga Ny. A juga selalu tidur diatas
jam 10 malam kecuali disaat sedang lelah, keluarga Ny. A bisa tidur pada jam 9
malam.

b. Pola diet/makanan
Keluarga Ny. A makan 3x sehari dengan nasi, terkadang sayur tumis atau sayur
berkuah dan lauk seperti ikan atau ayam. Keluarga Ny. A jarang mengkonsumsi
buah.

c. Pola eliminasi
Keluarg Ny. A memiliki kebiasaan BAB setiap hari pada pagi hari setelah bangun
tidur. Ny. A juga mengatakan untuk BAK sering ketika minumnya banyak bisa sehari
3-5 kali. Keluarga Ny. A tidak memiliki masalah BAK dan BAB.

d. Pola aktivitas
Ny. A mengatakan kegiatan sehari-hari mengurus rumah tangga, suami dan
anaknya. Tn. B mencari kesibukan ketika tidak ada panggilan kerja. An. W bermain
saat siang dan belajar saat malam hari.
e. Pengkajian 5 tugas kesehatan keluarga
1) Kemampuan keluarga mengenal kesehatan
Keluarga Ny. A mengatakan tidak mengerti sakit apa yang dikeluhkan
oleh Tn. B. Baik itu mengenai pengertian, tanda gejala, penyebab maupun
pengobatannya. Ny. A hanya tahu bahwa suaminya mengeluh sakit pada
telapak kaki saat berjalan karena faktor usia dan mungkin kelelahan serta
dapat sembuh dengan sendirinya. Tn. B akan beristirahat jika merasa
keluhannya terasa.

2) Kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan


yang tepat
Keluarga Ny. A mengetahui tentang masing-masing penyakit yang pernah
mereka derita namun tidak langsung berobat ke dokter terdekat melainkan
hanya mengkonsumsi obat warung yang biasa dikonsumsi.

3) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit


Ny. A mengatakan bila terasa nyeri ulu hati maka Ny. A langsung
mengkonsumsi obat penurun asam lambung yang dibeli di warung dan
beristiratah. An. W ikut membantu ibunya seperti dengan sigap membelikan
obat ibunya di warung.

4) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat


Keluarga Ny. A menyadari pentingnya kebersihan lingkungan. Oleh
karena itu, keluarga selalu menjaga kebersihan rumahnya dengan menyapu,
mengepel dan menguras bak mandi seminggu sekali.

5) Kemampuan keluarga mengguanakan fasilitas kesehatan yang ada di


masyarakat
Ny. A mengatakan sudah mengetahui fasilitas pelayanan kesehatan namun
juga menyadari belum maksimal dalam memanfaatkannya.
4. Fungsi reproduksi
Jumlah anak Tn. B dan Ny. A hanya memiliki 1 anak perempuan. Ny. A masih
mengalami haid 1 bulan sekali dan tidak merasakan nyeri haid. Ny. A juga menggunakan
KB berupa pil. An. W belum mengalami haid.

5. Fungsi ekonomi
Ny. A mengatakan masih mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari walaupun
terkadang keluarganya meminjam pada koperasi RT. Ny. A juga mengatakan harus pintar
mengatur keuangan untuk keseharian keluarga dan biaya sekolah anaknya.

F. Stress dan Koping Keluarga


1. Stressor yang dimiliki / jangka pendek
Tn. B dan Ny. A memikirkan biaya untuk melanjutkan sekolah bagi anaknya. Ny.
A juga harus pintar mengurus keuangan. Ny. A mengatakan khawatir dengan perilaku
anaknya yang akan menginjak remaja karena terkadang tidak menuruti perkataannya. Ny.
A juga mengatakan An. W selalu mengikuti teman-temannya dalam berbiacara kasar.

2. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah


Tn. B berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah
anaknya dengan bekerja keras. Ny. A berusaha membantu Tn. B saat kelelahan dengan
memijatnya di rumah.
Tn. B berusaha untuk tidak stress dan beristirahat agar nyeri yang dirasa tidak
kambuh. Ny. A selalu berusaha makan tepat waktu untuk menghindari nyeri ulu hatinya
kambuh. Ny. A juga selalu mengontrol keadaan An. W walaupun sedang bermain di luar
rumah untuk mengingatkannya makan. Ny. A sering memberikan nasihat kepada An. W
untuk mengurangi bermain dan konsisten dalam belajar karena ia akan menghadapi ujian
nasional. Ny. A juga sering mengontrol ketika An. W bermain dengan teman-temannya.
3. Strategi koping yang digunakan
Bila ada permasalahan, keluarga Tn. B berusaha untuk selalu menyelesaikannya
dengan bermusyawarah dan tetap tenang dalam berfikir. Namun, keputusan tertinggi
tetap berada di tangan Tn. B sebagai kepala rumah tangga secara adil.

4. Strategi adaptasi fungsional dan disfungsional


Keluarga tidak pernah menggunakan kekerasan, perlakuan kejam kepada anak
dan istrinya ataupun memberikan ancaman-ancaman dalam menyelesaikan masalah.

G. Pemeriksaan Fisik
Nama Anggota Keluarga
No Variabel
Tn. B Ny. A An. W

1. Riwayat Gout Arthritis Gastritis Tidak ada


penyakit saat ini

2. Keluhan yang Nyeri pada telapak Mual, sakit perut, Tidak ada
dirasakan kaki kiri saat nyeri ulu hati
berjalan dirasa seperti
diremas-remas dan
hilang timbul

3. TTV TD : 110/80 mmHg TD : 120/80 TD : 100/80 mmHg


RR: 22 x/menit mmHg RR: 20 RR: 18 x/menit
N: 80 x/menit x/menit N: 75 x/menit
S : 36oC N: 85 x/menit S : 36,5oC
S : 36,5oC
4. Status Gizi BB : 60 kg BB : 60 kg BB : 55 kg
TB : 170 cm TB : 155 cm TB : 159 cm
BMI : 20,7 (ideal) BMI : 25 (gemuk) BMI : 21,8 (ideal)
5. Integumen Warna kulit coklat, Warna kulit coklat, Warna kulit coklat,
kulit teraba hangat kulit teraba hangat kulit teraba hangat
tidak ada luka, tidak ada luka, tidak ada luka,
tidak ada gatal – tidak ada gatal – tidak ada gatal –
gatal, turgor gatal, turgor gatal, turgor
kulit elastis kulit elastis kulit elastis

6. Mulut dan Kemampuan bicara Kemampuan bicara Kemampuan bicara


Tenggorokkan baik, mukosa baik, mukosa bibir baik, mukosa
lembap, tidak kering, tidak lembap, tidak
menggunakan gigi menggunakan gigi menggunakan gigi
palsu, klien dapat palsu, warna lidah palsu, klien dapat
makan dan putih, klien dapat makan dan
menelan yang baik makan dan menelan yang baik
menelan yang
baik, nafas bau

6. Kepala Rambut hitam, Rambut hitam, Rambut hitam,


tidak ada uban, tidak ditemukan ikal, panjang dan
pendek dan bersih uban, ikal, bersih
panjang dan bersih

7. Mata Kedua mata Kedua mata Kedua mata


simetris, simetris, simetris,
konjungtiva an- konjungtiva an- konjungtiva an-
anemis, sklera anemis, sklera anemis, sklera
tidak ikterik, tidak ikterik, tidak ikterik,
penglihatan baik, penglihatan baik, penglihatan baik,
apabila membaca apabila membaca apabila membaca
tidak menggunakan tidak menggunakan tidak menggunakan
kacamata. kacamata. kacamata.

8. Hidung Hidung simetris, Hidung simetris, Hidung simetris,


tidak ada polip, tidak ada tidak ada polip,
tidak sinusitis, polip, tidak tidak sinusitis,
sinusitis,
penciuman baik. penciuman baik. penciuman baik.

9. Paru-Paru I : Pengembangan I : Pengembangan I : Pengembangan


paru simetris paru simetris paru simetris
P : Vokal P : Vokal P : Vokal
Premitus sama Premitus sama Premitus sama
P : Redup P : Redup P : Redup
A : Vesikuler A : Vesikuler A : Vesikuler
10. Jantung I : Tampak pulsasi I : Tampak pulsasi I : Tampak pulsasi
P : Ictus cordis tak P : Ictus cordis tak P : Ictus cordis tak
teraba CRT <3 teraba, CRT <3 teraba, CRT <3
detik detik detik
P : Pekak P : Pekak P : Pekak
A : lup dup A : lup dup A : lup dup
11. Abdomen I : Simetris I : Simetris I : Simetris
A : Refluk 10x/mnt A : Refluk A : Refluk 12x/mnt
P : Tidak ada nyeri 15x/mnt P : Ada P : Tidak ada nyeri
tekan nyeri tekan tekan
P : Timpani di ulu hati P : Timpani
P : Timpani
12. Genetalia Tidak terpasang Tidak terpasang Tidak terpasang
kateter, tidak kateter, tidak kateter, tidak
terdapat hemoroid terdapat hemoroid terdapat hemoroid

13. Ekstermitas Pada ekstremitas Pada ekstremitas Pada ekstremitas


atas dan bawah atas dan bawah atas dan bawah
tidak ada tidak ada tidak ada
pembengkakan, pembengkakan, pembengkakan,
pergerakan aktif pergerakan aktif pergerakan aktif.
Tonus otot: Tonus otot: Tonus otot:

5 5 5 5 5 5

5 5 5 5 5 5
H. Harapan Keluarga
1. Terhadap masalah kesehatannya
Keluarga Ny. A berharap keluhan yang dirasa saat ini tidak berkepanjangan dan
dapat diatasi sendiri.

2. Terhadap petugas kesehatan yang ada


Keluarga Ny. A juga berharap petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan
yang baik, tepat, dan cepat kepada siapa saja yang membutuhkan. Tidak membeda-
bedakan seseorang dalam memberikan pelayanan kesehatan, miskin maupun kaya.

I. Analisa Data
No DATA Diagnosa Keperawatan
1. Ds: Kategori: Perilaku
- Ny. A mengatakan penyakit Subkategori: Penyuluhan dan
gastritis dapat sembuh sendiri Pembelajaran
- Ny. A mengatakan ketika sakit D.0111 Defisit Pengetahuan
tidak langsung berobat, hanya
mengkonsumsi obat yang biasa
dikonsumsi dan beristirahat
- Ny. A mengatakan bahwa tidak
mengerti terhadap penyakit yang
dideritanya
- Ny. A mengatakan juga tidak
mengerti penyakit yang dirasa Tn.
B
- Ny. A mengatakan bahwa penyakit
Tn. B hanya karena faktor usia dan
kelelahan
-
Do:
- Ny. A tampak tidak dapat
menjelaskan penyakit yang diderita
Tn. B mulai dari pengertian,
penyebab, tanda dan gejala serta
cara pengobatannya
- Ny. A tampak menunjukkan obat
yang biasa keluarganya konsumsi
- Ny. A tampak tidak bertanya
mengenai masalah kesehatan
keluarganya
2. Ds: Kategori: Psikologi
- Ny. A mengatakan menderita Subkategori: Nyeri dan Kenyamanan
gastritis sudah 2 tahun D.0077 Nyeri Akut
- Ny. A mengatakan sudah tidak bisa
makan makanan pedas
- Ny. A mengatakan mual, sakit
perut, dan nyeri pada ulu hati
- P: nyeri ulu hati ketika telat makan
dan makan makanan pedas
Q: seperti diremas-remas
R: nyeri pada ulu hati
S: skala 3
T: nyeri hilang timbul
Do:
- Ny. A tampak gelisah dan tidak
nyaman
- Ny. A tampak terkadang meringis
mengeluh nyeri pada ulu hati
- TD: 120/80 mmHg
- RR: 20 x/menit
- N: 85 x/menit
- S : 36,5oC
- Refluk abdomen 15x/mnt
- Ny. A tampak ada nyeri tekan di
ulu hati
3. Ds: Kategori: Perilaku
- An. W mengatakan bahwa ia setiap Subkategori: Penyuluhan dan
hari bermain dan hanya belajar Pembelajaran
dimalam hari D.0114 Ketidakpatuhan
- Ny. A mengatakan khawatir dengan
pendidikan An. W yang tidak
menurutinya untuk mengurangi
bermain dan konsisten dalam
belajar karena akan menghadapi
ujian nasional
Do:
- An. W tampak tidak fokus saat
dikaji dan ingin segera bermain
- An. W tampak langsung bermain
setelah selesai dikaji

J. Rumusan Diagnosa Keluarga


1. D.0111 Defisit Pengetahuan
2. D.0077 Nyeri Akut
3. D.0114 Ketidakpatuhan
K. Skoring Diagnosa keperawatan Keluarga
1. Defisit Pengetahuan
No. Kriteria Score Bobot Nilai Pembenaran

1. Sifat masalah: 2 1 Kurang mengetahui


ancaman kesehatan tentang sakit yang
diderita Tn. B dan Ny. A
yaitu gastritis

Kemungkinan masalah 1 2 Ny. A mengatakan tidak


dapat diubah: ingin ke dokter dan
sebagian/cukup cukup mengkonsumsi
obat yang biasa
dikonsumsi

Potensi masalah untuk 3 1 Masalah kesehatan


dicegah: tinggi keluarga Ny. A dapat
diatasi oleh keluarga,
terutama bila Ny. A
mengatur pola makan

Menonjolnya masalah: 1 2 keluarga Ny. A


ada masalah, tetapi menanggapi masalah
tidak perlu ditangani kesehatan keluarganya
tidak terlalu
mengganggu

Total
2. Nyeri Akut
No. Kriteria Score Bobot Nilai Pembenaran

2. Sifat masalah: Masalah sudah sering


tidak/kurang sehat terjadi Ny. A sering
merasakan mual, sakit
3 1 perut dan nyeri ulu hati

Kemungkinan masalah Ny. A beranggapan jika


dapat diubah: mudah nyeri dan mualnya
kambuh, ia
1 2 mengkonsumsi obat
penurun asam lambung
yang biasa dikonsumsi

Potensi masalah untuk Gastritis yang diderita


dicegah: cukup Ny. A dikarenakan Ny.
A telat makan
2 1

Menonjolnya masalah: Ny. A menanggapi


masalah berat, harus bahwa gastritis dapat
2 2
segera ditangani menganggu aktivitasnya

Total
3. Ketidakpatuhan
No. Kriteria Score Bobot Nilai Pembenaran

3. Sifat masalah: An. W memiliki


ancaman kesehatan kerentanan terhadap
pendidikan karena selalu
2 1 bermain dan tidak
menuruti perkataan
orang tuanya

Kemungkinan masalah Ny. A mengatakan


dapat diubah: mudah bahwa dengan kesabaran
menasihati An. W dapat
2 2 mengubah kebiasaan
bermainnya

Potensi masalah untuk Ny. A selalu memantau


dicegah: cukup keseharian anaknya
mulai dari pola tidur,
2 1 bermain dan belajarnya

Menonjolnya masalah: Masalah tidak dirasakan


masalah tidak karena Ny. A
dirasakan beranggapan itu adalah
0 2 0 hal wajar pada usia anak
sekolah

Total
L. Intervensi keperawatan keluarga (bisa menggunakan NOC NIC atau SLKI SIKI)
No SLKI SIKI

1. L.12111 Tingkat Pengetahuan I.12360 Bimbingan Sistem Kesehatan

1. Perilaku sesuai dengan 1. Bantu keluarga mengidentifikasi


pengetahuan (3-5) masalah kesehatan
2. Verbalisasi minat 2. Bimbing untuk mengembangkan kemampuan
dalam belajar (3-5) memecahkan masalah kesehatan secara
3. Persepsi yang keliru mandiri
terhadap masalah (3-5) 3. Libatkan anggota keluarga dalam pemenuhan
kebutuhan kesehatan
4. Berikan motivasi untuk terus menciptakan
rumah yang bersih dan sehat
5. Berikan motivasi pada keluarga pentingnya
fasilitas pelayanan kesehatan saat
terganggunya
kesehatan
2. L.08066 Tingkat Nyeri I.09326 Terapi Relaksasi

1. Keluhan nyeri (3-5) 1. Jelaskan tujuan dan manfaat terapi relaksasi


2. Meringis (3-5) yang efektif digunakan seperti napas dalam
3. Mual (3-5) dan murottal
2. Berikan terapi relaksasi napas dalam
sebagai strategi penunjang kesehatan
3. Anjurkan sering mengulangi teknik
relaksasi napas dalam dan murottal
4. Berikan motivasi untuk menciptakan
lingkungan yang tenang dan tanpa gangguan
seperti pencahayaan dan suhu ruangan
5. Anjurkan memanfaatkan pelayanan
kesehatan jika keluhan sudah dirasa tidak
dapat teratasi secara mandiri
3. L.12110 Tingkat Kepatuhan I.10334 Konseling

1. Verbalisasi mengikuti 1. Bantu keluarga mengenal perilaku anak


anjuran (3-5) usia sekolah
2. Perilaku menjalankan 2. Bina orang tua dalam mengatasi prilaku
anjuran (3-5) anak sekolah dengan mengekspresikan
3. Perilaku mengikuti perasaan antar anak dan orang tua
program pengobatan (3- 3. Berikan motivasi keluarga dalam
5) pengembangan keterampilan bagi anak
usia sekolah untuk mengisi kesehariannya
4. Berikan privasi bagi keluarga ketika
mengatasi prilaku anak usia sekolah
5. Anjurkan penggunaan pelayanan kesehatan
untuk lebih lanjut dalam mengatasi prilaku
ketika menyimpang

M. CATATAN
KEPERAWATAN Hari ke-1
Senin, 23 November 2020
No. Implementasi Evaluasi Paraf
1. 1. Membantu keluarga S:
mengidentifikasi Ny. A mengatakan belum
masalah kesehatan sepenuhnya mengerti penjelasan
2. Membimbing untuk perawat mengenai apa yang harus Putri. A
mengembangkan dilakukan keluarganya dalam
kemampuan memecahkan mengatasi masalah kesehatan
masalah kesehatan secara O:
mandiri Ny. A tampak tidak dapat
3. Melibatkan anggota keluarga menjawab pertanyaan
dalam pemenuhan kebutuhan perawat tentang masalah
kesehatan kesehatan
keluarganya
4. Memberikan motivasi untuk A:
terus menciptakan rumah Masalah keperawatan deficit
yang bersih dan sehat pengetahuan belum teratasi
5. Memberikan motivasi pada P:
keluarga pentingnya Lanjutkan intervensi
fasilitas pelayanan 1. Bantu keluarga
kesehatan saat terganggunya mengidentifikasi kembali
kesehatan masalah kesehatan
2. Bimbing untuk
mengembangkan
kemampuan memecahkan
masalah kesehatan secara
mandiri
3. Libatkan anggota keluarga
dalam pemenuhan kebutuhan
kesehatan
4. Berikan motivasi pada
keluarga pentingnya
fasilitas pelayanan
kesehatan saat
terganggunya kesehatan
2. 1. Menjelaskan tujuan dan S:
manfaat terapi relaksasi Ny. A mengatakan belum
yang efektif digunakan merasakan apa-apa setelah
seperti napas dalam dan diajarkan terapi napas dalam Putri. A
murottal O:
2. Memberikan terapi Ny. A tampak tidak fokus
relaksasi napas dalam dan saat melakukan terapi napas
murottal sebagai strategi dalam dan mendengar
penunjang kesehatan murrotal
3. Menganjurkan sering A:
mengulangi teknik Masalah keperawatan nyeri
relaksasi napas dalam dan akut belum teratasi
murottal
4. Memberikan motivasi untuk
menciptakan lingkungan P:
yang tenang dan tanpa Lanjutkan intervensi
gangguan seperti 1. Jelaskan kembali tujuan
pencahayaan dan suhu dan manfaat terapi relaksasi
ruangan napas dalam dan murottal
5. Menganjurkan 2. Berikan terapi relaksasi
memanfaatkan pelayanan napas dan murottal dalam
kesehatan jika keluhan sudah sebagai strategi penunjang
dirasa tidak dapat teratasi kesehatan
secara mandiri 3. Anjurkan sering mengulangi
teknik relaksasi napas
dalam dan murottal
4. Berikan motivasi untuk
menciptakan lingkungan
yang tenang dan tanpa
gangguan seperti
pencahayaan dan suhu
ruangan
5. Anjurkan memanfaatkan
pelayanan kesehatan jika
keluhan sudah dirasa
tidak
dapat teratasi secara mandiri
3. 1. Membantu keluarga S:
mengenal perilaku anak Ny. A mengatakan khawatir
usia sekolah dengan perilaku An. W karena
2. Membina orang tua dalam sering bermain dan tidak fokus Putri. A
mengatasi prilaku anak belajar
sekolah dengan O:

mengekspresikan Ny. A tampak cemas saat

perasaan antar anak dan mengungkapkan perasaannya

orang tua
3. Memberikan motivasi A:

keluarga dalam
pengembangan keterampilan Masalah keperawatan
bagi anak usia sekolah untuk ketidakpatuhan belum teratasi
mengisi kesehariannya P:
4. Memberikan privasi bagi Lanjutkan intervensi
keluarga ketika mengatasi 1. Bantu keluarga mengenal
prilaku anak usia sekolah perilaku anak usia sekolah
5. Menganjurkan penggunaan 2. Bina orang tua dalam
pelayanan kesehatan untuk mengatasi prilaku anak
lebih lanjut dalam mengatasi sekolah dengan
prilaku ketika menyimpang mengekspresikan
perasaan antar anak dan
orang tua
3. Berikan motivasi keluarga
dalam pengembangan
keterampilan bagi anak
usia sekolah untuk mengisi
kesehariannya
4. Berikan privasi bagi
keluarga ketika mengatasi
prilaku anak usia sekolah
5. Anjurkan penggunaan
pelayanan kesehatan untuk
lebih lanjut dalam mengatasi
prilaku ketika menyimpang

Hari ke-2
Selasa, 24 November 2020
No. Implementasi Evaluasi Paraf
1. 1. Membimbing kembali untuk S:
mengembangkan Ny. A mengatakan besok akan
kemampuan memecahkan berobat ke dokter untuk
masalah kesehatan secara mendapat Putri. A
penangan medis
mandiri O:
2. Melibatkan anggota keluarga Ny. A tampak sedikit bisa
dalam pemenuhan kebutuhan menjelaskan kembali penjelasan
kesehatan yang sudah diberi perawat
3. Memberikan motivasi pada walaupun terkadang lupa
keluarga pentingnya A:
fasilitas pelayanan Masalah keperawatan deficit
kesehatan saat terganggunya pengetahuan teratasi sebagian
kesehatan P:
Lanjutkan intervensi
1. Bimbing kembali untuk
mengembangkan
kemampuan memecahkan
masalah kesehatan secara
mandiri
2. Libatkan anggota keluarga
dalam pemenuhan kebutuhan
kesehatan
3. Berikan motivasi pada
keluarga pentingnya
fasilitas pelayanan
kesehatan saat
terganggunya kesehatan
2. 1. Memberikan terapi S:
relaksasi napas dan murottal Ny. A mengatakan sebelum tidur
dalam sebagai strategi ia mencoba mempraktikan teknik
penunjang kesehatan napas dan mendengar murrotal Putri. A
2. Menganjurkan sering dalam ketika nyerinya kambuh
mengulangi teknik O:
relaksasi napas dalam dan Ny. A tampak antusias mengikuti
murottal teknik napas dalam dan
3. Memberikan motivasi untuk mendengar murottal
menciptakan lingkungan
yang tenang dan tanpa A:
gangguan seperti Masalah keperawatan nyeri
pencahayaan dan suhu akut teratasi sebagian
ruangan P:
Lanjutkan intervensi
1. Berikan terapi relaksasi
napas dan murottal dalam
sebagai strategi penunjang
kesehatan
2. Anjurkan sering mengulangi
teknik relaksasi napas
dalam dan murottal
3. Berikan motivasi untuk
menciptakan lingkungan
yang tenang dan tanpa
gangguan seperti
pencahayaan dan suhu
ruangan
3. 1. Memberikan motivasi S:
keluarga dalam Ny. A mengatakan An. W akan
pengembangan keterampilan berniat fokus belajar untuk
bagi anak usia sekolah untuk ujiannya setelah semalam Putri. A
mengisi kesehariannya berbicara antar anak dan orang
2. Memberikan privasi bagi tua
keluarga ketika mengatasi O:
prilaku anak usia sekolah Ny. A tampak lega setelah An. W
3. Menganjurkan penggunaan mau menuruti nasihatnya
pelayanan kesehatan untuk A:
lebih lanjut dalam mengatasi Masalah keperawatan
prilaku ketika menyimpang ketidakpatuhan teratasi sebagian
P:
Lanjutkan intervensi
1. Berikan motivasi keluarga
dalam pengembangan
keterampilan bagi anak
usia sekolah untuk mengisi
kesehariannya
2. Berikan privasi bagi
keluarga ketika mengatasi
prilaku anak usia sekolah
3. Anjurkan penggunaan
pelayanan kesehatan untuk
lebih lanjut dalam mengatasi
prilaku ketika menyimpang

Hari ke-3
Rabu, 25 November 2020
No. Implementasi Evaluasi Paraf
1. 1. Membimbing kembali S:
untuk mengembangkan Ny. A mengatakan tadi pagi
kemampuan memecahkan sudah berobat ke puskesmas dan
masalah kesehatan secara merasa lega sudah diberi obat Putri. A
mandiri O:
2. Melibatkan anggota keluarga Ny. A tampak senang sudah
dalam pemenuhan kebutuhan diberikan penjelasan dan motivasi

kesehatan pentingnya fasilitas pelayanan

3. Memberikan motivasi pada kesehatan

keluarga pentingnya A:

fasilitas pelayanan Masalah keperawatan deficit

kesehatan saat terganggunya pengetahuan teratasi

kesehatan
P:
Hentikan intervensi
2. 1. Memberikan terapi S:
relaksasi napas dan murottal Ny. A mengatakan setelah
dalam sebagai strategi kunjung beberapa hari ini nyeri
penunjang kesehatan berkurang dan ia sudah bisa Putri. A
2. Menganjurkan sering melakukan teknik napas dan
mengulangi teknik murottal dengan sendiri
relaksasi napas dalam dan O:
murottal Ny. A tampak senang karena
3. Memberikan motivasi untuk nyerinya sudah berkurang
menciptakan lingkungan A:
yang tenang dan tanpa Masalah keperawatan nyeri
gangguan seperti akut teratasi
pencahayaan dan suhu P:
ruangan Hentikan intervensi
3. 1. Memberikan motivasi S:
keluarga dalam Ny. A mengatakan An. W setelah
pengembangan keterampilan perawat pulang tengah belajar dan
bagi anak usia sekolah untuk menolak bermain dengan teman- Putri. A
mengisi kesehariannya temannya
2. Memberikan privasi bagi O:
keluarga ketika mengatasi Ny. A tampak senang setelah An.
prilaku anak usia sekolah W terlihat belajar
3. Menganjurkan penggunaan A:
pelayanan kesehatan untuk Masalah keperawatan
lebih lanjut dalam mengatasi ketidakpatuhan teratasi
prilaku ketika menyimpang P:
Hentikan intervensi

Anda mungkin juga menyukai