Anda di halaman 1dari 4

KERANGKA ACUAN KEGIATAN KELAS IBU HAMIL

UPTD PUSKESMAS KECAMATAN PONTIANAK SELATAN


TAHUN 2015

I. PENDAHULUAN
Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang
kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang
bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai
kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, mitos,
penyakit menular dan akte kelahiran (Depkes RI, 2009). Kelas ibu hamil adalah
kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 20 minggu s/d 32
minggu dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu hamil akan
belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak
secara menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal
dan berkesinambungan (Depkes RI, 2009).
Setiap ibu hamil diwajibkan memiliki buku KIA, karena di buku ini terdapat
beberapa informasi tentang kehamilan.Akan tetapi, tidak semua informasi
penting termuat di buku KIA. Untuk itu, dibentuklah program Kelas Ibu Hamil.
Kelas Ibu merupakan salah satu kegiatan penting dalam penerapan Buku KIA
dimasyarakat sebagai upaya pembelajaran ibu, suaminya dan keluarga agar
memahami Buku KIA melalui metode kegiatan belajar bersama dalam kelas
yang di fasilitasi oleh petugas kesehatan untuk mempersiapkan ibu hamil
menghadapi persalinan yang aman dan nyaman. Beberapa kegiatan seperti
senam ibu hamil, latihan pernafasan pada persalinan dan cara menyusui bayi
juga diberikan minat ibu-ibu hamil agar datang mengikuti Kelas Ibu Hamil
tersebut (Depkes RI : 2009).

II. PENGORGANISASIAN DAN TATA HUBUNGAN


A. Pengorganisasian

Kepala Lurah dan LS


Puskesmas terkait

Penanngungjawab
UKM
KADER

Tim pelaksana Ibu hamil

B. Tata Hubungan dan alur pelaporan


1. Tata Hubungan kerja
Kepala Puskesmas bertugas menentukan kebijakan tentang pelaksanaan
SMD di Puskesmas dan wilayah kerjanya dengan membentuk SK dan tim
SMD, mendukung penganggaran da pengadaan sarana seperti dana dan
ATK untuk pelaksanaan SMD di masyarakat. Selain itu kepala
puskesmas melakukan koordinasi dengan pihak lintas sektoral dalam
pelaksanaan SMD serta hasil SMD.
Lurah dan lintas sektoral bertugas menyampaikan dan mengkoordinir/
menggerakkan timnya untuk melaksanakan SMD sesuai dengan hasil
rapat koordinasi dengan kepala Puskesmas baik berupa penyampaian
tertulis maupun melalui forum pertemuan.
Pelaksana internal terdiri dari pihak Puskesmas, kader dan RW/ RT
bertugas melaksanakan SMD melalui wawancara kepada masyarakat
diwilayah kerjanya.
Koordinator Tim SMD menyiapkan kerangka acuan kegiatan, surat
edaran dan instrument SMD serta kebutuhan dalam pelaksanaan SMD
serta hasil SMD.

2. Pelaporan
Pelaporan hasil pelaksanaan dikoordinir oleh tim SMD dimana bertugas
merekap hasil, membuat jadwal pembahasan hasil dan rapat selanjutnya
sampai diperoleh keputusan bersama anata puskesmas dan lintas
sektoral dan masyarakat.

III. TATA NILAI


1. Orientasi pelayanan
2. Integritas
3. Komitmen
4. Disiplin
5. Kerjasama
6. Kepemimpinan

IV. TUJUAN
1. Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami
tentang kehamilan, perubahan tubuh, dan keluhan selama
kehamilan,perawatan kehamilan,persalinan,perawatan nifas, KB pasca
persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat
setempat,penyakit menular dan akte kelahiran. MANFAAT KELAS IBU
HAMIL Bagi ibu hamil dan keluarganya : merupakan sarana untuk
mendapatkan teman, bertanya,mampu mempraktekkan, serta membantu ibu
dalam menghadapi persalinan dengan aman dan nyaman.
2. Terjadinya interaksi dan berbagi pengalaman antar peserta (ibu hamil
dengan ibu hamil) dan antar ibu hamil dengan petugas kesehatan/bidan
tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan,
perawatan kehamilan, persalinan, Perawatan Nifas, KB pasca persalinan,
perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat,
penyakit menular dan akte kelahiran.
3. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang kehamilan,
perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan.
4. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang perawatan
kehamilan.
5. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang persalinan.
6. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang perawatan
nifas.
7. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang KB pasca
salin.
8. Meningkatkan pemahaman, sikap dan prilaku ibu hamil tentang perawatan
bayi baru lahir.
9. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang mitos/
keprcayaan/ adat istiadat setempat yang berkaitan dengan kesehatan ibu
hamil dan anak.
10. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang penyakit
menular (IMS, informasi dasar HIV-AIDS dan pencegahan dan penanganan
malaria pada ibu hamil)
11. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang akte
kelahiran.

V. SASARAN
Peserta kelas ibu hamil sebaiknya ibu hamil pada umur kehamilan 20 s/d 32
minggu, karena pada umur kehamilan ini kondisi ibu sudah kuat, tidak takut
terjadi keguguran, efektif untuk melakukan senam hamil. Jumlah peserta kelas
ibu hamil maksimal sebanyak 10 orang setiap kelas. Suami/keluarga ikut serta
minimal 1 kali pertemuan sehingga dapat mengikuti berbagai materi yang
penting, misalnya materi tentang persiapan persalinan atau materi yang lainnya
(Depkes RI, 2009).

VI. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


1. Melakukan identifikasi terhadap ibu hamil yang ada di wilayah kerja. Ini
dimaksudkan untuk mengetahui berapa jumlah ibu hamil dan umur
kehamilannya sehingga dapat menentukan jumlah peserta setiap kelas ibu
hamil dan berapa kelas yang akan dikembangkan dalam kurun waktu
tertentu misalnya selama satu tahun.
2. Mempersiapkan tempat dan sarana pelaksanaan kelas ibu hamil, misalnya
tempat di puskesmas atau polindes, kantor desa/balai pertemuan, posyandu
atau di rumah salah seorang warga masyarakat. Sarana belajar
menggunakan kursi, tikar, karpet, VCD player dan lain-lain jika tersedia.
3. Mempersiapkan materi, alat bantu penyuluhan dan jadwal pelaksanaan
kelas ibu hamil serta mempelajari materi yang akan disampaikan.
4. Persiapan peserta kelas ibu hamil, mengundang ibu hamil umur antara 20
sampai 32 minggu.
5. Siapkan tim pelaksana kelas ibu hamil yaitu siapa saja fasilitatornya dan
nara sumber jika diperlukan.
6. Membuat rencana pelaksanan kegiatan.
7. Akhir pertemuan dilakukan senam ibu hamil, sebagai kegiatan/materi ekstra.
8. Menentukan waktu pertemuan, yang disesuaikan dengan kesiapan ibu-ibu,
bisa dilakukan pada pagi atau sore hari dengan lama waktu pertemuan 120
menit termasuk senam hamil 15-20 menit
9. Pertemuan kelas ibu hamil dibagi menjadi 4 kelas

VII. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


1. Penyuluhan
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

VIII. JADWAL PELAKSANAAN

IX. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN


1. Dicatat dalam kohort ibu hamil
2. Pelaporan ke dinas kesehatan

X. PENUTUP
Demikian Kerangka Acuan Kegiatan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Pontianak, Desember 2015

Kepala UPTD Puskesmas Kecamatan


Pontianak Selatan.

Drg. Popong Solihat


NIP. 197402272002122002