Anda di halaman 1dari 18

1

A. JUDUL
Pembuatan Biodiesel dari Bahan Baku Minyak Nyamplung dengan Menggunakan
Katalis Heterogen Cangkang Kerang.

B. LATAR BELAKANG MASALAH


Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional mengalami peningkatan.
Tahun 2004 mencapai 26,9 milyar liter. Tahun 2010 diperkirakan mencapai 34,71 milyar
liter (Dedeh Murniasih, 2009). Peningkatan laju konsumsi BBM tidak sejalan dengan
produksi minyak bumi di dalam negeri yang semakin menurun, sehingga perlu diambil
langkah-langkah untuk mendapatkan sumber energi alternatif.
Krisis energi ini mendorong munculnya berbagai energi alternatif seperti biodiesel,
bioethanol dan fuelcell. Meskipun biodiesel bukan energi alternatif yang terbarukan, akan
tetapi minyak nyamplung sebagai bahan baku pembuatan biodiesel dan dengan pemakaian
katalis heterogen merupakan teknologi terbarukan dalam pembuatan biodiesel.
Bahan baku pembuatan biodiesel dapat berasal dari minyak jarak, minyak kelapa
sawit, minyak biji matahari, minyak goreng bekas (minyak jelantah) dan minyak
nyamplung. Penggunaan jarak terkendala produksi yang rendah karena minyak yang
dihasilkan hanya 1.892 liter/ha/tahun. Sedangkan minyak sawit mencapai 5.950
liter/ha/tahun, tetapi berkompetisi dengan pangan dan oleokimia lain. Permasalahan
tersebut memacu pencarian bahan alternatif lain salah satunya nyamplung. Nyamplung
dapat menghasilkan 100 kg biji/pohon/tahun dan 4.585 kg minyak biji nyamplung/ha/tahun
(Dedeh Murniasih, 2009). Minyak nyamplung memang mempunyai rendemen yang tinggi
di bandingkan dengan tanaman – tanaman lain yang digunakan sebagai bahan baku
pembuatan biodiesel (jarak pagar 40-60%, Sawit 46-54 %; dan Nyamplung 40-73 %)
(Masyhud, 2008).
Minyak nyamplung ditinjau dari prospek pengembangan, antara lain adalah
tanaman nyamplung tumbuh dan tersebar merata secara alami di Indonesia; regenerasi
mudah dan berbuah sepanjang tahun menunjukkan daya survival yang tinggi terhadap
lingkungan; tanaman relatif mudah dibudidayakan baik tanaman sejenis (monoculture) atau
2

hutan campuran (mixed-forest); cocok di daerah beriklim kering, permudaan alami banyak,
dan berbuah sepanjang tahun.
Biodiesel dihasilkan dari reaksi transesterifikasi dari trigliserida dengan alkohol dan
ditambahkan katalis untuk mempercepat reaksi. Produksi biodiesel dengan katalis homogen
menghasilkan rendemen yang tinggi dan waktu reaksi yang cepat. Namun permasalahan
yang timbul adalah diperlukannya teknologi yang lebih rumit untuk mendukung proses
pemisahan produk dari campuran katalis. Sementara dengan katalis heterogen, proses
pemisahan dapat berlangsung lebih cepat dan katalis dapat diregenerasi kembali.

C. PERUMUSAN MASALAH
Kebutuhan pembuatan biodiesel saat ini masih terkendala oleh rendemen tanaman
bahan baku yang rendah, persaingan bahan baku untuk kepentingan pangan, dan mahalnya
biaya produksi seperti harga katalis, serta proses tambahan jika menggunakan katalis
homogen. Oleh karena itu, penulis terinspirasi untuk membuat biodesel dengan bahan baku
dari tanaman yang kurang diketahui masyarakat namun ternyata berpotensial menghasilkan
minyak berendemen tinggi dengan menggunakan katalis dari limbah industri makanan yang
biasanya oleh kebanyakan orang dinilai tidak berguna lagi sehinga dibuang begitu saja dan
hal ini dapat mencemari lingkungan. Karenanya penulis berkeinginan melakukan penelitian
mengenai “Pembuatan Biodiesel dari Bahan Baku Minyak Nyamplung dengan
Menggunakan Katalis Cangkang Kerang”.

D. TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :
a) Membuat biodiesel dari minyak nyamplung secara batch dengan katalis heterogen
cangkang kerang.
b) Memanfaatkan biji tanaman nyamplung dan cangkang kerang yang dihasilkan
c) Menciptakan energi yang terbarukan dengan bahan baku berendemen tinggi,
sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
d) Memperoleh kondisi operasi optimum dalam pembuatan biodiesel dari minyak
nyamplung dengan menggunakan cangkang kerang sebagai katalis heterogen padat.
3

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN


Dalam penelitian ini, hasil yang diharapkan adalah:
a) Dapat menghasilkan biodiesel dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan standar
b) Dapat memanfaatkan tanaman biji nyamplung dan cangkang kerang
c) Dapat mengurangi kebutuhan energi dari minyak bumi

F. KEGUNAAN
Kegunaan dari Pembuatan Biodiesel dari Bahan Baku Minyak Nyamplung dengan
Katalis Cangkang Kerang yaitu:
a) Sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
b) Dapat memanfaatkan limbah cangkang kerang
c) Teknologi terbarukan dalam proses pembuatan biodiesel dengan menggunakan
bahan baku minyak nyamplung

G. TINJAUAN PUSTAKA
Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono--alkyl ester dari
rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin
diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan
(Wikipedia, 2010).
Keuntungan pemakaian biodiesel antara lain, dihasilkan dari sumber daya energi
terbarukan dan ketersediaan bahan bakunya terjamin, bilangan setana tinggi (bilangan yang
menunjukkan ukuran baik tidaknya kualitas solar berdasar sifat kecepatan bakar dalam
ruang bakar mesin), viskositas tinggi sehingga mempunyai sifat pelumasan yang lebih baik
daripada solar sehingga memperpanjang umur pakai mesin. Selain itu keuntungan biodiesel
juga dapat diproduksi secara lokal, mempunyai kandungan sulfur yang rendah, menurunkan
tingkat opasiti asap, menurunkan emisi gas buang dan yang terakhir keuntungannya adalah
pencampuran biodiesel dengan petroleum diesel dapat meningkatkan biodegradibility
petroleum diesel sampai 500 %.
4

Biodiesel memiliki karakteristik yang hampir sama dengan bahan bakar fosil solar.
Biodiesel dapat dihasilkan melalui reaksi transesterifikasi trigliserida yang berasal dari
minyak nabati atau lemak hewan dan reaksi esterifikasi asam lemak bebas (free fatty acid)
yang terdapat dalam minyak nyamplung dengan alcohol primer seperti metanol atau etanol.

Bahan baku
Trigliserida
Minyak atau lemak adalah substansi yang bersifat non soluble di air (hidrofobik)
terbuat dari satu mol gliserol dan tiga mol asam lemak. Minyak atau lemak juga biasa
dikenal sebagai trigliserida (Sonntag, 1979). Struktur kimia trigliserida disajikan pada
Gambar 1.

Gambar 1. Struktur Kimia Trigliserida


R1, R2, dan R3 merupakan rantai hidrokarbon yang berupa asam lemak dengan jumlah
atom C lebih besar dari sepuluh. Senyawa inilah yang akan dikonversi menjadi ester
melalui reaksi transesterifikasi. Sifat-sifat trigliserida yaitu:
1) Jika dihidrolisis menggunakan basa terjadi proses penyabunan (saponifikasi);
2) Untuk lemak yang rantainya panjang bila terurai oleh mikroorganisme akan terjadi
pembusukan (rancidity) yaitu terjadi peruraian gugus-gugus yang sederhana menjadi
bentuk keton dan aldehid. Trigliserida memiliki kandungan asam lemak jenuh dan asam
lemak takjenuh. Asam lemak jenuh yang lebih banyak akan menyebabkan bilangan setana
naik. Sebaliknya jika kandungan asam lemak tak jenuh yang lebih banyak akan
menghasilkan produk dengan bilangan setana yang kecil.
5

Nyamplung
Nyamplung termasuk dalam marga Callophylum yang mempunyai sebaran cukup
luas di dunia. Distribusi pohon nyamplung di Indonesia, mulai Sumatera Barat, Riau,
Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua. Selain itu, pohon tersebut juga
ditemui di wilayah Malaysia, Filipina, Thailand, dan Papua Nugini.
Nyamplung sebenarnya sudah berkembang sejak jaman Kerajaan Majapahit dengan
nama hitaullo dan digunakan sebagai alat penerang dalam pertemuan warga. Bagian
nyamplung yang berpotensi sebagai bahan baku biodiesel yaitu bagian bijinya. Biji
nyamplung berbentuk bulat tebal dan keras, berukuran relatif besar berdiameter 2,5-4 cm,
daging biji tipis dan biji yang telah kering dapat tahan disimpan selama 1 bulan, inti biji
mengandung minyak berwarna kuning kecoklatan.

Gambar 2. Tanaman Nyamplung


Sentra produksi minyak nyamplung yang ada di Indonesia masih sangat minim, salah
satu produsen yang aktif memproduksi minyak nyamplung berada di Desa Paturejo,
Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dan di Desa Bulu Agung, Kabupaten Banyuwangi,
Jawa Timur. Produsen tersebut juga aktif memproduksi biokerosene dan biodiesel dengan
bahan baku minyak nyamplung.
Biodiesel yang dihasilkan dari minyak nyamplung mempunyai beberapa keunggulan
yaitu diantaranya:
1. Rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (Jarak
pagar : 40-60%, sawit : 46 – 54%; dan nyamplung 40-73%)
6

2. Seluruh parameter kualitas biodiesel telah sesuai dengan standar SNI 04-7182-2006 dan
ASTMD 6751
3. Minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak
tanah. Dalam uji untuk mendidihkan air, ternyata minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml,
sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml.
4. Mempunyai keunggulan kompetitif di masa depan antara lain :
a. Biodiesel nyamplung dapat digunakan sebagai pencampur solar dengan komposisi
tertentu, bahkan dapat digunakan 100% apabila teknologi pengolahan tepat;
b. Kualitas emisi lebih baik dari solar;
c. Dapat digunakan sebagai biokarosen pengganti minyak tanah.

Alkohol
Alkohol digunakan sebagai reaktan dalam reaksi esterifikasi maupun transesterifikasi.
Alkohol yang sering digunakan adalah metanol dan etanol. Dalam skala industri, metanol
lebih banyak digunakan karena harganya lebih murah daripada alkohol yang lain. Selain itu
methanol memiliki sifat yang lebih reaktif dibandingkan dengan jenis alkohol lainnya.
Alkohol diumpankan dalam reaksi esterifikasi maupun transesterifikasi dalam jumlah
berlebih untuk mendapatkan konversi maksimum. Pemakaian alkohol yang berlebih tentu
saja menambah biaya produksi pembuatan biodiesel, oleh karena itu alkohol sisa di daur
ulang.

Katalis
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu
tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis
berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk.
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama yaitu katalis homogen dan
katalis heterogen. Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam fase berbeda dengan
pereaksi dalam reaksi yang dikatalisinya, sedangkan katalis homogen berada dalam fase
yang sama.
7

Salah satu cara untuk meningkatkan efiensi adalah dengan menggunakan katalis
heterogen. Pada prinsipnya perbedaan katalis homogen dengan katalis heterogen ialah pada
katalis heterogen material katalis dapat diambil kembali (tidak hilang) dan dapat digunakan
kembali sebagai katalis sehingga proses pembuatan biodiesel menjadi lebih sederhana dan
lebih murah. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan katalis heterogen
untuk proses transesterifikasi.

Cangkang Kerang
Cangkang kerang mengandung kadar kalsium karbonat (CaCO3) yang lebih tinggi di
banding cangkang telur, keramik, batu gamping atau bahan lainnya. Hal ini terlihat dari
tingkat kekerasan cangkang kerang. Semakin keras cangkang, maka semakin tinggi tingkat
kandungan kalsium karbonat (CaCO3) nya.
Cangkang kerang yang dijadikan sebagai katalis dalam pembuatan biodiesl
mengalami perlakuan pemanasan terlebih dahulu untuk mengubah struktur yang ada
dalamnya. Reaksi perlakuan pemanasan pada cangkang kerang
MgCO3- MgO- Ca(OH)2-Mg(OH)2-CaCO3 → -MgO-CaO
Ukuran katalis sangat berhubungan dengan luas kontak permukaan yang berdampak pada
reaksi, karena semakin besar luas kontak permukaan akan semakin cepat proses berlansung.
Shuli Yan dkk menggunakan katalis heterogen padat pada pembuatan biodiesel dari minyak
biji lobak dengan ukuran 0,3-0,8 mm yang menghasilkan konversi 92%.

Gliserol
Gliserol adalah senyawa gliserida yang paling sederhana, dengan hidroksil yang
bersifat hidrofilik dan higroskopik. Gliserol merupakan komponen yang menyusun
berbagai macam lipid, termasuk trigliserida. Gliserol terasa manis saat dikecap, namun
bersifat racun. Gliserol dapat diperoleh dari proses saponifikasi lemak hewan,
transesterifikasi pembuatan bahan bakar biodiesel dan proses epiklorohidrin serta proses
pengolahan minyak goring (Wikipedia, 2010).
Gliserol merupakan produk hasil samping pembuatan biodiesel yang paling penting
tetapi memiliki nilai ekonomis yang rendah karena masih mengandung impurities antara
8

lain metanol, asam lemak (sebagai sabun) dan garam. Crude gliserol didapatkan dari hasil
proses transesterifikasi trigliserida dengan larutan metoksida pada proses pembuatan
biodiesel.

Proses Pembuatan Biodiesel dari Minyak Nyamplung


Proses pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel sangat tergantung dari kadar
asam lemak bebas awal minyak nyamplung setelah deguming (refined oil). Ada 2 kategori
proses pengolahan minyak nyamplung berdasarkan klasifikasi kompleks atau kerumitan
pengolahannya yaitu:
 Proses Transesterifikasi, proses ini digunakan apabila kadar FFA dari refined oil ≤
1%
 Proses Esterifikasi-Transesterifikasi, proses ini digunakan apabila kadar FFA dari
refined oil berkisar antara > 2%
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi antara asam lemak bebas dengan alkohol
membentuk ester dan air. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi endoterm sehingga
memerlukan pasokan kalor dari luar. Temperatur untuk pemanasan tidak terlalu tinggi yaitu
55-60oC (Kac, 2001).
Menurut penelitian Dyah R dan Ali Zibbeni pada tahun 2009, minyak nyamplung
memiliki kandungan FFA sebesar 5,1972% kadar FFA yang diperoleh tersebut telah sesuai
dengan penelitian terdahulu oleh Sylvie Crane, et. al. (2005), yang menyebutkan bahwa
minyak dari biji nyamplung (Calophyllum inophyllum) memiliki kadar FFA sebesar 5,1%.
Karena kadar FFA minyak nyamplung lebih dari 2%, minyak harus melalui proses
esterifikasi dengan katalis asam untuk mengurangi kandungan FFA hingga kurang dari 2%.
Apabila proses yang digunakan langsung transesterifikasi maka asam lemak bebas bukan
diubah menjadi biodiesel, tetapi menjadi sabun. Dengan reaksi esterifikasi, kandungan
asam lemak bebas dapat dihilangkan dan diperoleh tambahan ester. Secara umum reaksi
esterifikasi adalah sebagai berikut :

asam lemak bebas alkohol ester air


9

Reaksi transesterifikasi sering disebut reaksi alkoholisis, yaitu reaksi antara


trigliserida dengan alkohol menghasilkan ester dan gliserin. Alkohol yang sering digunakan
adalah metanol, etanol, dan isopropanol. Secara keseluruhan reaksi transesterifikasi adalah
sebagai berikut :

Trigliserida 3 (alkohol) gliserin 3 (ester)

Trigliserida bereaksi dengan alkohol membentuk ester dan gliserin. Kedua produk
reaksi ini membentuk dua fasa yang mudah dipisahkan. Fasa gliserin terletak dibawah dan
fasa ester alkil diatas. Ester dapat dimurnikan lebih lanjut untuk memperoleh biodiesel yang
sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Gliserin dimurnikan sebagai produk samping
pembuatan biodiesel. Gliserin merupakan senyawa penting dalam industri. Gliserin banyak
digunakan sebagai pelarut, bahan kosmetik, sabun cair, dan lain-lain. Menurut hasil
penelitian yang dilakukan oleh J.Y. Nurin Andyna pada tahun 2009, 100 gram minyak
nyamplung dapat menghasilkan 45 gram biodiesel dengan menggunakan katalis NaOH.
Mekanisme katalisis dengan katalis padat seperti CaO pada suatu reaksi
transesterifikasi dapat dilihat di bawah ini :
10

Gambar 3. Mekanisme Reaksi Transesterifikasi dengan Katalis CaO

Pada reaksi transesterifikasi, langkah awal reaksi yang terjadi adalah proton dari
metanol berikatan dengan katalis CaO membentuk ion metoksida. Ion metoksida
menyerang karbonil karbon pada molekul trigliserida yang mengawali pembentukkan
alkoksi karbonil intermediet. Lalu alkoksi karbonil intermediet dibagi menjadi dua molekul
yaitu FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dan anion dari trigliserida. Anion dari trigliserida
berikatan dengan ion H+ membentuk digliserida dan pembentukan kembali CaO. Proses ini
mengalami perulangan, digliserida pada tahap 3 menjadi monogliserida dan akhirnya
gliserol (Kouzudkk, 2008).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Transesterifikasi


Proses transesterifikasi di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Suhu
Kecepatan reaksi secara kuat dipengaruhi oleh temperatur reaksi pada ummnya reaksi
ini dapat dijalankan pada suhu mendekati titik didih metanol (65oC) pada tekanan atmosfer.
2. Waktu reaksi
Semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak produk yang dihasilkan karena ini
akan memberikan kesempatan rektan untuk bertumbukan satu sama lain. Namun setelah
kesetimbangan tercapai tambahan waktu reaksi tidak akan mempengaruhi reaksi (Azis,
2005).
3. Katalis
Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasi
reaksi namun tidak menggeser letak kesetimbangan. Tanpa katalis, rekasi transesterifikasi
11

baru dapat berjalan pada suhu sekitar 250°C. Penggunaan katalis padat dapat
meminimalisir resiko terjadinya reaksi penyabunan dan memudahkan pada proses
pemisahan produk. Namun penggunaan katalis padat yang berlebihan dapat mengurangi
persen perolehan karena katalis padat akan mengadsorbsi produk yang terbentuk (Huaping
dkk, 2006).
4. Perbandingan Reaktan
Variabel penting lain yang mempengaruhi hasil ester adalah rasio molar antara
alkohol dan minyak nabati. Stoikiometri reaksi menggunakan rasio molar alkohol-minyak =
1 : 6. Terlalu banyak alkohol yang dipakai menyebabkan biodiesel mempunyai viskositas
yang rendah dibandingkan viskositas solar juga akan menurunkan titik nyala (flash point).
Hal ini disebabkan karena pengaruh sifat-sifat alkohol yang mudah terbakar. Perbandingan
alkohol minyak = 1 : 2,2 (etanol : minyak) didapatkan campuran reaksi yang bagus
(Kusmiyati, 1995).

H. METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan selama 4 bulan sedangkan untuk tempat pelaksanaan
dilakukan di Politeknik Negeri Bandung oleh 3 orang mahasiswa dan satu orang
pembimbing. Adapun analisa produk biodiesel yang dihasilkan dilakukan di laboratorium
di luar Politeknik Negeri Bandung dan di laboratorium Politeknik Negeri Bandung .

Materi Penelitian
Persiapan Peralatan
Persiapan yang dilakukan adalah peminjaman alat-alat dan perakitan sistem proses
pembuatan biodiesel secara batch. Peralatan tersebut meliputi seperangkan alat esterifiksai
dan alat transesterifikasi. Peralatan yang dipinjam sebagian besar berasal dari Laboratorium
Satuan Proses Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Bandung.
12

Persiapan Bahan Baku


Bahan baku yang perlu dipersiapkan pada pembuatan biodiesel ini diantaranya
minyak nyamplung, metanol,asam sulfat dan cangkang kerang. Minyak nyamplung tersebut
berasal dari biji nyamplung yang mengalami proses pengkulitan, pengeringan,
pengepresan, dan degumming. Bahan baku yang akan digunakan mengalami proses
perlakuan awal, dan perhitungan kebutuhan untuk tahap operasi dengan variasi yang telah
ditentukan. Proses perlakuan awal bahan baku mencakup :
1) Perlakuan awal cangkang kerang
Cangkang kerang dihaluskan dengan Grinding dan dilakukan Sizing untuk
mendapatkan batu kapur dengan ukuran 0,355-0,630 mm. Treatment cangkang kerang
dilanjutkan dengan proses pemanasan dalam tungku/furnance dengan suhu 800oC selama 2
jam.
2) Perlakuan awal Minyak Nyamplung
Minyak nyamplung terlebih dahulu diuji kadar asam lemak bebasnya (FFA) dengan
cara menimbang sebanyak 28,2 ± 0,2 gram minyak nyamplung dalam erlenmeyer
kemudian menambahkan alkohol netral panas sebanyak 50 mL dan indikator
phenolphtalein (PP) sebanyak 2 mL lalu mentitrasi dengan larutan NaOH 0,1 N yang telah
distandardisasi sampai warna merah jambu tercapai dan tidak hilang selama 30 detik. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui perlu atau tidaknya melakukan proses esterifikasi.
Apabila kandungan FFA dalam minyak nyamplung sekitar > 2 % dilakukan proses
esterifikasi. Proses esterifikasi dilakukan dengan menambahkan metanol teknis dalam
perbandingan molar metanol terhadap berat FFA 20:1 dan menggunakan katalis H2SO4 1%
dipanaskan pada suhu 60oC selama 1 jam dengan disertai pengadukan di dalam reaktor labu
leher tiga yang tertutup rapat dilengkapi dengan sistem distilasi untuk metanol menguap.
Miyak nyamplung untuk proses pembuatan biodiesel disaring untuk
menghilangkan kotoran padat atau partikel-partikel besar kemudian dianalisa angka asam
lemak bebas, pH, viskositas, densitas, dan nilai kalornya. Setelah itu dilakukan pemanasan
pada suhu 120oC selama 15 menit untuk menghilangkan air.
13

Cara Kerja dan Rancangan Percobaan


Tahap Operasi
Proses pembuatan biodiesel ini dilakukan secara batch. Cangkang kerang yang telah
mengalami perlakuan awal dan metanol diaduk dalam reaktor selama 30 menit. Minyak
nyamplung yang sudah melalui reaksi esterifikasi dan telah melalui pemanasan 120oC
dimasukan ke dalam reaktor dan diaduk dengan metanol kemudian dipanaskan pada suhu
60oc. Penelitian pembuatan biodiesel ini dilakukan dengan jumlah katalis, komposisi,
waktu, dan suhu reaksi yang berbeda, diantaranya :
1) Jumlah katalis 4%, 6%, 8%, dan 10% (% berat katalis terhadap minyak)
2) Komposisi bahan baku,
Komposisi reaktan divariasikan yaitu antara mol rasio metanol dan minyak
nyamplung. Rasio tersebut diantaranya 3:1, 6:1, 12:1, dan 15:1.
3) Waktu reaksi yaitu 1, 2, 3, dan 5 jam.
4) Temperatur reaksi yaitu 50, 60, dan 65oC.

Tahap Pemurnian Produk


Setelah reaksi transesterifikasi selesai diperoleh dua produk utama, yaitu metil ester
(biodiesel) dan gliserol. Produk biodiesel yang dihasilkan belum murni karena masih
mengandung metanol, minyak nyamplung yang tidak bereaksi, cangkang kerang, dan
gliserol, sehingga harus dilakukan pemurnian.
Langkah awal untuk pemurnian produk adalah pemisahan awal cangkang kerang
dari metanol, biodiesel, minyak nyamplung yang tidak bereaksi, dan gliserol dengan cara
settling katalis dengan gravitasi. Proses selanjutnya adalah pemisahan lanjut cangkang
kerang dari hasil reaksi transesterifikasi dengan menggunakan proses penyaringan.
Filtrat hasil penyaringan diendapkan selama 3 – 4 jam dalam corong pisah untuk
memisahkan metanol, gliserol, biodiesel, minyak yang tidak bereaksi dan cangkang kerang
yang lolos dari hasil penyaringan. Air yang terbentuk di bawah permukaan biodiesel dicuci
dengan menambahkan asam asetat glasial sebesar 0,01%, dicuci air hangat dengan suhu
60oC, dan kemudian sisa air diuapkan. Metanol yang tersisa dikeluarkan dan disatukan
dengan larutan metanol yang terdestilasi untuk digunakan dalam proses berikutnya.
14

Analisis Data
Tahap analisa produk yang dilakukan terdiri dari :
1) Pengukuran pH dilakukan dengan pH indikator.
2) Pengukuran viskositas dengan viskometer digital Brookfield.
3) Pengukuran bilangan asam menggunakan metoda titrimetri.
4) Pengukuran densitas dengan mengunakan piknometer.
5) Pengukuran titik nyala (flash point) dilakukan dengan alat Flash point tester.
6) Pengukuran nilai kalor dilakukan dengan Bom kalorimeter.

I. JADWAL KEGIATAN

Waktu pelaksanaan “ Pembuatan Biodiesel dari Bahan Baku Minyak Nyamplung


dengan Menggunakan Katalis Heterogen Cangkang Kerang ”
Tabel 1. Rencana Kegiatan
Bulan ke-
Jenis kegiatan
1 2 3 4
Study literatur
Persiapan alat dan bahan
Tahap operasi yaitu pembuatan biodiesel
Tahap pemurnian produk
Tahap analisa produk
Pengumpulan data
Penyusunan Karya tulis

J. RANCANGAN BIAYA
Tabel 2. Rincian Biaya Bahan Pakai
No. Nama Bahan Jumlah Biaya per satuan Total
1 Minyak Nyamplung 15 L Rp. 4.500,00 Rp. 67.500,00
2 Methanol teknis 20 L Rp. 16.000,00 Rp. 320.000,00
3 Asam Sulfat 2L Rp. 15.000,00 Rp. 30.000,00
4 Cangkang kerang 5 kg Rp. 2.500,00 Rp. 12.500,00
5 Paraffin 6L Rp. 55.000,00 Rp. 330.000,00
6 Aquadest 40 L Rp. 3.000,00 Rp. 120.000,00
7 Phenoptaleint 1 pkg Rp. 100.000,00 Rp 100.000,00
8 Asam Asetat Glacial 1L Rp. 90.000,00 Rp. 90.000,00
15

9 Ethanol 2L Rp. 20.000,00 Rp. 40.000,00


10 Tissue gulung 5 Rp. 3.000,00 Rp. 15.000,00
11 NaOH 1L Rp. 10.0000 Rp. 10.0000,00
Jumlah : Rp. 1.135.000,-

Tabel 3. Rincian Biaya Analisa


No. Jenis Analisa Jumlah Biaya per satuan Total
1 Bilangan Asam 20 sampel Rp. 25.000,00 Rp. 500.000,00
2 Density 20 sampel Rp. 20.000,00 Rp. 400.000,00
3 Viskositas 20 sampel Rp. 40.000,00 Rp. 800.000,00
4 Nilai Kalor 5 sampel Rp. 150.000,00 Rp. 750.000,00
5 Flash Point 10 sampel Rp. 40.000,00 Rp. 400.000,00
6 Gas Chromatografi 10 sampel Rp. 130.000,00 Rp. 1.300.000,00
7 Kadar Air 20 sampel Rp. 10.000,00 Rp. 200.000,00
Jumlah : Rp.4.350.000,-

Tabel 4. Rincian Biaya Lain - Lain


No. Keterangan Total
1 Study literatur Rp. 100.000 ,-
2 Download internet Rp. 200.000 ,-
3 Pembuatan Laporan Rp. 300.000 ,-
4 Transportasi Rp. 800.000,-
5 Penyewaan Furnace Rp. 100.000,-
Jumlah : Rp. 1.500.000,-

Keterangan biaya transportasi :


(transportasi Bandung – Jawa Tengah (pp) x 2) + (transportasi daerah bandung)
= (300.000 x 2) + 200.000 = Rp.800.000,-
Jumlah Total Anggaran Dana : 1.135.000 + 4.350.000 + 1.500.000 = Rp.6.985.000,-
16

K. DAFTAR PUSTAKA
Andyna, J.Y. Nurin. 2009. Pembuatan Biodiesel Dari Minyak Biji Nyamplung
(Calophyllum inophyllum). http://digilib.itb.ac.id.
Ayu, Dyah dan Ali Zibbeni. 2009. Pengaruh Stir Washing, Bubble Washing, dan Dry
Washing Terhadap Kadar Metil Ester dalam Biodiesel dari Biji Nyamplung
(Calophyllum inophyllum). Surabaya : Institut Teknologi Surabaya.
Bustomi, Sofwan dkk. 2008. Nyamplung (Callophyllum inophyllum L) Sumber Energi
Biofuel yang Potensial. Jakarta : Departemen Kehutanan
Crane, Sylvie, et. Al. 2005. Composition of Fatty Acids Triacylglycerols and
Unsaponifiable Matter in Callophyllum callaba L. Oil from Guadeloupe.
Phytochemistry Vol. 66 : 1825 – 1831
Kouzu, Masato, Takekazu Kasuno dkk. 2008. Calcium Oxide as a Solid Base Caltalyst for
Transesterification of Soybean Oil and Its Application to Biodiesesl Production (on
line). http://www.sciencedirect.com.
Liu, Xuejun, He, Huayang dkk. 2007. Transesterification of Soybean Oil to Biodiesel Using
CaO as a Solid Base Catalyst (on line). http://www.sciencedirect.com
Mukti, Rendi dan Herti Nur Arianti. 2009. Pemanfaatan Limbah Cangkang Kerang
Sebagai Katalis Heterogen dalam Pembuatan Biodiesel dari Bahan Baku Minyak
Goreng Bekas (Wate Cooking Oil). Bandung : Jurusan Teknik Kimia
Murniasih, Dedeh. 2009. Kajian Proses Produksi Biodiesel dari Minyak Biji Nyamplung.
Bogor : Institut Pertanian Bogor
Ngamcharussrivachai, Chawalit dkk. 2007. Modified Dolomites as Catalysts for Palm
Kernel Oil Transesterification. http://www.elsevier.com
Yan, Lu, Liang. 2007. Supported CaO Catalysts Used in the Transesterification of
Rapessed Oil for the Purpose of Biodiesel Production. http://www.sciencedirect.com.
Yoeswono, dkk.2008.kinetics of Palm Oil Tranesterification in Methanol with Potasium
Hydroxide as A Catatyst. Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada
Yulistina, Citra dan Lidya Elizabeth. 2008. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa
dengan Katalis Kalsium Oksida. Bandung: Jurusan Teknik Kimia.
17

L. LAMPIRAN
Nama dan Biodata Ketua serta Anggota Kelompok
1. Ketua Pelaksana Kegiatan
a) Nama Lengkap : Shinta Aningditya
b) NIM : 08401025
c) Jurusan / Program Studi : Teknik Kimia / Teknik Kimia
d) Universitas/Institut/Politeknik : Politeknik Negeri Bandung
e) Alamat Rumah : Jl Paseban Raya no 11 Panghegar Permai 2
Bandung
f) No. Tel./HP : 085624704415
g) Alamat Email : im_shinta@yahoo.com

Tanda Tangan

Shinta Aningditya
NIM. 08401025

2. Anggota Pelaksana
Anggota 1
a) Nama Lengkap : Mira Anisa
b) NIM : 08401016
c) Jurusan / Program Studi : Teknik Kimia / Teknik Kimia
d) Universitas/Institut/Politeknik : Politeknik Negeri Bandung
e) Alamat Rumah : Jl Raya Bandung Km.9 No. 98 Cianjur
f) No. Tel./HP : 085222280175
g) Alamat Email : miraanisa@gmail.com

Tanda Tangan

Mira Anisa
08401016
18

Anggota 2
a) Nama Lengkap : Ade Trie Nugraha
b) NIM : 091411066
c) Jurusan / Program Studi : Teknik Kimia / Teknik Kimia
d) Universitas/Institut/Politeknik : Politeknik Negeri Bandung
e) Alamat Rumah : Jln. Situgunting Timur 2 No. 41 Bandung
f) No. Tel./HP : 085722211134
g) Alamat Email : adetrienugraha@gmail.com

Tanda Tangan

Ade Trie Nugraha


091411066

Nama dan Biodata Dosen Pendamping


a) Nama Lengkap : Rispiandi, ST
b) NIP : 196910161995121001
c) Golongan Pangkat :III C
d) Jabatan Fungsional : Lektor
e) Jabatan Struktural : Wali Kelas
f) Jurusan /Program Studi : Teknik Kimia / D-III Teknik Kimia
g) Perguruan Tinggi : Politeknik Negeri Bandung
h) Bidang Keahlian : Sistem Pemroses
i) Alamat Rumah : Jln . Awiligar Raya No. 144 RT. 05 RW. 10
Bandung
j) No Telp/HP : 022 – 2533163 /0817623580

Tanda Tangan

Rispiandi, ST
NIP. 196910161995121001