Anda di halaman 1dari 9

LAUNDRY

NO DOKUMEN NO REVISI HALAMAN


RUMAH SAKIT LAPANGAN
KARANGKEMBANG
PENYAKIT CORONA VIRUS SOP COVID 00 1/3
DISEASE 2019
(COVID-19)
Ditetapkan :
TANGGAL TERBIT Kepala Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR dr. Akhmad Rizal
JANUARI 2021 NIP. 19850324 191412 1 003

Pengertian Merupakan tata laksana pencucian semua linen, baju OK dan lain-lain yang
dipergunakan oleh RS dengan pengelolaan dan tatalaksana harus baikdan
benar sesuai standar pencucian (infeksius dan non infeksius)
Tujuan Sebagai acuan untuk untuk penatalaksanaan laundry di RS
Kebijakan SK Bupati Lamongan Nomor 188/1/Kep/413.013/2021 Tentang Rumah
Sakit Lapangan dan Rumah sakit Pengampu Penyakit Corona Virus
Disease 2019 (COVID-19) Di Kabupaten Lamongan
Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019
Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
Hk.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan Dan
Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
Prosedur Persyaratan Laundry Rumah Sakit :
a. Letak laundry harus memiliki akses yang mudah ke ruang rawat inap
dan ruang sterilisasi.
b. Laundry harus memiliki akses yang terpisah untuk linen kotor dan linen
bersih
c. Laundry harus memiliki saluran pembuangan limbah cair yang
dilengkapi dengan pengolahan awal (pre-treatment) khusus sebelum
dialirkan ke instalasi pengolahan air limbah rumah sakit.
d. Suhu air panas untuk pencucian 70°C dalam waktu 25 menit atau 95°C
dalam waktu 10 menit
e. Penggunaan jenis deterjen dan disinfektan untuk proses pencucian
yang ramah lingkungan agar limbah cair yang dihasilkan mudah terurai
oleh lingkungan
f. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak
mengandung total aerobical microbial count < 20 CFU / 10x10 cm
persegi.
Tata laksana laundry Rumah Sakit :
1. Pengumpulan
1) Pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius dimulai dari
sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastik sesuai
jenisnya serta diberi label.
2) Menghitung dan mencatata linen diruangan.
3) Dilarang melakukan perendaman linen kotor diruang sumber.
2. Penerimaan
1) Mencatat linen yang diterima dan telah dipilah antara infeksius dan
non infeksius.
2) Linen dipilah berdasarkan tingkat kekotorannya.
3. Pencucian
1) Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas
mesin cuci dan kebutuhan deterjen dan disinfektan.
2) Membersihkan linen kotor dari tinja, urin, darah dan muntahan
dengan menggunakan mesin cuci infeksius.
3) Mencuci dikelompokkan berdaskan tingkat kekotorannya.
4) Pengeringan linen dengan mesin pengering (dryer) sehingga
didapat hasil pengeringan yang baik.
5) Penyetrikaan dengan mesin setrika uap, mesin flat ironer sehingga
didapat hasil setrika yang baik.
6) Linen bersih harus ditata sesuai jenisnya dan sistem stok linen
(minimal 4 bagian) dengan sistem firs in first out.
4. Distribusi dilakukan berdasarkan kartu tanda terima dari petugas
penerima, kemuadian petugas menyerahkan linen bersih kepada
petugas ruangan sesuai kartu tanda terima.
5. Pengangkutan
1) Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan
kantong yang diguanakan untuk membungkus linen kotor.
2) Menggunkan kereta yang berbeda dan tertutup antara linen bersih
dan linen kotor. Untuk kereta linen kotor didesain dengan pintu
membuka keatas dan untuk linen bersih dengan pintu membuka
kesamping dan pad setiap sudut sambungan permukaan kereta
harus ditutup dengan pelapis (siller) yang kuat agar tidak bocor.
3) Kereta dorong harus dicuci dengan disinfektan setelah digunakan
mengangkut linen kotor.
4) Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan
bersamaan.
5) Linen bersih diangkut dengan kereta dorong yang berbeda warna.
6) Rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersediri,
pengangkutannya dari dan ketempat laundry harus menggunakan
mobil khusus.
6. Petugas yang bekerja dalam pengelolaan laundry linen harus
menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, apron,
sepatu boot, penutup kelapa, selain itu dilakukan pemeriksaan
kesehatan secara berkala, serta harus memperoleh imunisasi hepatitis
B setiap 6 (enam) bulan sekali.
7. Untuk rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri,
pencuciannya dapat bekerjasama dengan pihak lain dan pihak lain
tersebut harus mematuhi persyaratan sesuai ketentuan perundang-
undangan, serta dilakukan pengawasan penyelenggaraan linen secara
rutin oleh pihak rumah sakit.
Unit terkait Seluruh instalasi rumah sakit
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI (PPI)

NO DOKUMEN NO REVISI HALAMAN


RUMAH SAKIT LAPANGAN
KARANGKEMBANG
PENYAKIT CORONA VIRUS SOP COVID 00 1/6
DISEASE 2019
(COVID-19)
Ditetapkan :
TANGGAL TERBIT Kepala Rumah Sakit
STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR dr. Akhmad Rizal
JANUARI 2021 NIP. 19850324 191412 1 003

Pengertian 1. Infeksi adalah berkembang biaknya penyakit pada hospes disertai


timbulnya respon imunologik dengan gejala klinik atau tanpa gejala
klinik.
2. Pencegahan infeksi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk
menghindari terjadinya resiko penularan infeksi mikroorganisme dari
lingkungan pasien dan tenaga kesehatan.
Tujuan Sebagai acuan untuk pencegahan dan pengendalian infeksi dan
memberikan perlindungan bagi pasien dan tenaga kesehatan.
Kebijakan  SK Bupati Lamongan Nomor 188/1/Kep/413.013/2021 Tentang Rumah
Sakit Lapangan dan Rumah sakit Pengampu Penyakit Corona Virus
Disease 2019 (COVID-19) Di Kabupaten Lamongan
 Sebagai pedoman dalam upaya pencegahan dan penularan infeksi
Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
2017 Tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
Hk.01.07/Menkes/413/2020 Tentang Pedoman Pencegahan Dan
Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
Prosedur 1. Kebersihan Tangan
 Kuku harus selalu terpotong pendek, tidak boleh memakai
perhiasan dan tidak boleh memakai kuku palsu saat merawat
pasien.
 Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir harus dilakukan
dengan 6 (enam) langkah pada saat :
- Sebelum dan setelah melepas sarung tangan
- Sebelum tindakan aseptis : pemasangan cateter intravena,
kateter urine dan vaskuler perifer
- Sebelum dan setelah kontak langsung dengan kulit pasien
- Setelah menyentuh darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi kulit
yang tidak utuh, ganti verband
- Setelah kontak dengan lingkungan dan benda mati (alat medis,
tempat tidur, meja, saklar lampu) di area pasien.
- Setelah makan, minum dan setelah menggunakan toilet.
- Bila kontak dengan diduga spora, karena alkohol, klorhexidin,
iodoform aktifikasnya lemah terhadap spora.
- Sebelum keluar ruangan pasien.
 Cuci tangan bisa dilakukan dengan sabun dan air mengalir atau
dengan alkohol handscrub (bila tangan tidak tampak kotor).

2. Alat Pelindung Diri (APD) :


a. Sarung tangan
b. Masker
c. Kaca mata pelindung
d. Pelindung wajah
e. Gaun
f. Overall
g. Sepatu tertutup
 Gunakan APD sesuai ukuran dan jenis tindakan.
 Gunakan APD yang sesuai, bila ada kemungkinan terkontaminasi
darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresidan bahan terkontaminasi,
mucus membrane dan kulit yang tidak utuh, kulit utuh yang
potensial terkontaminasi.
 Pakai sarung tangan sekali pakai saat merawat pasien.
 Pakai sarung tangan sekali pakai atau pakai ulang untuk
memebersihkan lingkungan
 Lepaskan sarung tangan segera setalah selesai sebelum
menyentuh benda dan permukaan yang tidak terkontaminasi
sebelum beralih ke pasien lain.
 Jangan memakai sarung tangan yang sama untuk pasien yang
berbeda
 Gantilah sarung tangan bila tangan berpindah dari area tubuh
terkontaminasi ke area bersih.
 Pakailah kaca mata google untuk melindungi konjungtiva, mucus
membrane mata, hidung, mulutselama melaksanakan prosedur dan
aktifitas perawatan pasien yang beresiko terjadi cipratan atau
semprotan dari darah, cairan tubuh, sekresi dan ekskresi.
 Secara umum, dapat digunakan masker bedah untuk mencegah
transmisi melalui partikel besar dari droplet  saat kontak (< 3m)  dari
pasien saat batuk atau bersin. Pakailah selama tindakan  yang 
menimbulkan aerosol  walaupun  pada pasien  tidak di duga infeksi.
 Kenakan gaun (bersih, tidak steril) untuk melindungi kulit,
mencegah baju menjadi kotor, kulit terkontaminasi selama merawat
pasien yang memungkinkan terjadinya percikan atau semprotan
cairan tubuh pasien.
 Bila gaun tembus cairan, perlu dilapisi apron tahan cairan
mengantisipasi semprotan atau cipratan cairan infeksius.
 Pakaliah overal untuk seragam dalam perawatan pasien isolasi
khusus, terutama untuk perawatan pada pasien Covid-19.
 Pakailah sepatu boot untuk melindungi kaki dari cipratan atau
semprotan dari darah, cairan tubuh, sekresi dan ekresi.
3. Peralatan perawatan pasien
 Buat SOP untuk menampung, transportasi, pengelolaan peralatan
yang mungkin terkontaminasi darah atau cairan tubuh.
 Lepaskan bahan organic dari peralatan dengan bahan pembersih
yang sesuai sebelum di Disinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) atau
disterilkan.
 Tangani peralatan pasien yang terkena darah, cairan tubuh,
sekresi, ekskresi dengan benar sehingga kulit dan mucus
membrane terlindungi, cegah baju terkontaminasi, cegah transfer
mikroba ke pasien lain dan lingkungan.
 Pastikan peralatan yang telah dipakai untuk pasien infeksius telah
dibersihkan dan tidak dipakai untuk pasien lain. Pastikan peralatan
sekali pakai dibuang dan dimusnahkan secara benar dan peralatan
pakai ulang diproses dengan benar.
 Peralatan yang terkontaminasi didesinfeksi setelah dipakai dan
selanjutnya di DTT atau sterilisasi sesuai dengan kebutuhan.
 Bersihkan dan disinfeksi yang benar peralatan terapi pernafasan
terutama setelah dipakai pasien infeksi saluran nafas, bila perlu
memakai sungkup disposable.
 Alat makan dicuci dengan detergen setiap setelah makan benda
disposable dibuang di tempat sampah.
4. Pengendalian lingkungan
 Fasilitas kesehatan harus membuat dan melaksanakan prosedur
rutin untuk pembersihan, desinfeksi permukaan lingkungan tempat
tidur, peralatan disamping tempat tidur dan pinggirannya,
permukaan yang sering tersentuh dan pastikan kegiatan ini
dimonitor (diawasi secara rutin dan berkala).
 Pembersihan harus mengawali desinfeksi. Benda dan permukaan
tidak dapat didesinfeksi sebelum dibersihkan dari bahan organic
(ekskresi, sekresi pasien, kotoran).
 Disinfeksi yang biasa dipakai : NA Hipoklorit (pemutih), alkohol,
komponen phenol, komponen ammonium, quarternary, komponen
peroxigen. Ikuti aturan pabrik cairan desinfektan, waktu kontak dan
cara pengencerannya.
Pembersihan area sekitar pasien :
 Pembersihan permukaan horizontal sekitar pasien harus dilakukan
secara rutin setiap hari dan lebih teliti setiap pasien pulang.
 Untuk mencegah terjadinya aerosolisasi pathogen infeksi saluran
nafa, hindari sapu tapi gunakan cara basah (kain basah).
 Ganti cairan pembersih, lap kain, kepala mop setelah dipakai
(terkontaminasi).
 Peralatan pembersih harus dibersihkan, dikeringkan tiap kali
setelah dipakai, Mop dicuci, dikeringkan tiap hari sebelum disimpan
dan dipakai kembali.
 Untuk mempermudah pembersihan bebaskan area psien dari
benda-benda atau peralatan yang tidak perlu.
 Jangan lakukan fogging dengan disinfektan, tidak terbukti
mengendakikan infeksi dan bisa berbahaya.
5. Penataaksanaan Linen
 Letakkan linen kedalam kantong linen, hindari menyortir linen di
ruang rawat pasien.
 Cuci linen dengan air panas 70°C, minimal 25 menit, bila diapaki
suhu < 70°C pilih zat kimia yang sesuai.
 Petugas yang menangani linen harus mengenakan APD yang
sesuai.
6. Kesehatan Karyawan
 Setiap petugas harus waspada dalam bekerja untuk mencegah luka
atau cedera saat melakukan tindakan menggunakan jarum, scalpel
dan alat tajam lain, saat melakukan prosedur, saat membersihkan
instrumen dan saat membuang jarum.
 Jangan tutup / recap jarum yang telah diapakai, memanipulasi
jarum dengan tangan, menekuk jarum, mematahkan, melepaskan
jarum dari spuit. Buang jarum, spuit, pisau scalpel dan peralatan
tajam habis pakai kedalam wadah tahan tusukan / safety box
sebelum dibuang ke dalam incenerator.
 Pakai mouthpiece, resusitasi bag atau peralatan ventilasi lain
pengganti metode resusitasi mulut ke mulut.
 Jangan mengarahkan bagian tajam jarum kebagian tubuh selain
akan menyuntik.
7. Penempatan Pasien
 Tempatkan pasien yang potensial mengkontaminasi lingkungan
atau yang tidak diharapkan menjaga kebersihan ke dalam ruang
rawat inap yang terpisah.
 Bila ruang isolai tidak memungkinkan, upayakan agar prinsip
pemisahan tetap terjadi
 Cara penempatan sesuai jenis kewaspadaan terhadap transmisi
infeksi.
8. Hygiene Respirasi (Etika Batuk)
Pasien, petugas, pengunjung dengan gejala infeksi saluran nafas
harus:
 Wajib memakai masker kain / masker medis
 Menutup mulut dan hidung dengan lengan atas saat batuk atau
bersin.
 Pakai tisu, saputangan, masker kain/ masker medis untuk dipakai
menutup mulut saat batuk. Apabila telah kotor buang ke tempat
sampah (terlebih dahulu dialpisi kantong plastik) yang tertutup atau
dicuci (untuk sapu tangan dan masker kain).
 Lakukan cuci tangan sesuai standar
 Manajemen fasilitas kesehatan berkewajiban melakukan promosi
kesehatan terkait hygiene respirasi atau etika batuk dalam rangka
pencegahan penyakit covid-19
 Promosi dilakukan kepada semua petugas, pasien, keluarga
dengan infeksi saluran pernafasan.
 Edukasi akan pentingnya kandungan aerosol dan sekresi dari
saluran nafas dalam mencegah transmisi penyakit saluran
pernafasan.
 Menyediakan sarana untuk kebersihan tangan : alkohol handrub,
wastafel-antiseptic, tissue towel, terutama area tunggu harus
diprioritaskan.
9. Praktek Menyuntik yang Aman
 Pakai jarum yang steril, sekali pakai tiap kali penyuntikanuntuk
mencegah kontaminasi pada peralatan injeksi dan terapi. Bila
memungkinkan gunakan juga vial sekai pakai walaupun multidose.
Jarum atau spuit yang diapaki ulang untuk mengambil obat dalam
vial multidose dapat menimbulkan kontaminasi mikroba yang dapat
menyebar saat obat dipakai untuk pasien lain.

Unit terkait 1. Farmasi


2. Poned
3. Laboratorium
4. Pelayanan Umum
5. Pelayanan Gigi
6. UGD
7. KIA/KB
8. Rawat Inap
9. Rawat Inap Isolasi
10. Pengelolaan Laundry
11. Pengelolaan sampah infeksius / petugas kebersihan

Anda mungkin juga menyukai