Anda di halaman 1dari 3

1.

Salah satu cara penggunaan transfer elektronik adalah menggunakan internet


banking atau mobile banking sebagai aplikasinya. Uraikan pendapat saudara
mengenai keamanan dari penggunaan aplikasi tersebut?
Jawaban: Internet banking atau mobile banking adalah kegiatan yang melakukan
transaksi, pembayaran, dan transaksi lainnya melalui internet dengan website milik
bank yang dilengkapi sistem keamanan. Menurut pendapat saya, mengenai sistem
keamanan dari penggunaan aplikasi ini yaitu nasabah harus teliti sebelum
menggunakan layanan internet banking atau mobile banking terutama masalah
keamanan dari layanan internet banking atau mobile banking tersebut. Untuk
keamanan internet banking atau mobile banking minimal harus ada komponen-
komponen keamanan sebagai berikut:
1) User id dan password dalam aplikasi tersebut.
2) Website Internet harus menggunakan SSL dan algoritma yang berlapis.
3) Otentikasi kedua, sebaiknya menggunakan token.
4) Sistem dilengkapi dengan Auto Logoff.
5) Semua aktifitas tercatat oleh sistem.
2. Bagaimana pengaturan pajak transaksi online menurut RUU Omnibus Law? apakah
jika ini diberlakukan akan memberi nilai positif terutama terhadap perkembangan
kegiatan siber? Jelaskan!
Jawaban: Omnibus Law merupakan sebuah produk hukum menyatukan beberapa
jenis peraturan hukum yang berbeda dan ragam. Perubahan undang-undang
tersebut bertujuan untuk mengantisipasi perubahan di bidang digital ekonomi serta
mempersiapkan sistem perpajakan yang kompetitif. Dalam ranah perpajakan
peraturan yang akan di jadikan Omnibus Law adalah UU Ketentuan Umum
Perpajakan, UU Pajak penghasilan (PPh), UU Retribusi Daerah, UU Pajak daerah, UU
Pemda yang akan berubah dengan ada nya penerapan Omnibus Law. 
Di dalam RUU Omnibus Law ini juga akan mengatur mengenai sistem teritori untuk
penghasilan yang diperoleh dari luar negeri yaitu untuk wajib pajak yang
penghasilannya berasal dari luar negeri baik dalam bentuk dividen maupun
penghasilan setelah pajak dari usahanya. Badan usaha tetapnya di luar negeri,
dividen tersebut tidak dikenakan pajak di Indonesia. Kemudian bagi warga negara
asing yang memenuhi kreteria sebagai subjek pajak dalam negeri, dimana bertempat
tinggal selama 183 hari di Indonesia maka akan dianggap subjek pajak dalam negeri.
Selanjutnya menurut pemerintah untuk pengaturan sanksi dimana akan di
berlakukan secara flat yang akan memiliki nilai berbeda dari 2%, lalu bagi bidang
yang melakukan perdagangan namun tidak berada di Indoneisa atau berada di
Indonesia maka akan dianggap sebagai subjek pajak luar negeri sehingga
berkewajiban untuk menyetor dan melaporkan PPN kepada otoritas pajak di
Indonesia. Lalu untuk pajak transaksi elektronik yang dikenakan kepada subjek pajak
luar negeri diatur ketentuan badan sebagai Bentuk Usaha Tetap yang bedasarkan
sumber penerimaan pajak yang disebut sebagai economic presents, bukan dari sisi
keberadaanya.
Perubahan yang dilakukan berikut nya adalah tentang rasionalitas pajak daerah,
yang bertujuan untuk kembali mengatur kewenangan pemerintah pusat dalam
menentukan tarif pajak daerah secara rasional. Terakhir dalam RUU tersebut
dikumpulkan seluruh fasilitas perpajakan dalam 1 bagian yang termasuk
pengurangan dan pembebesan PPh, Tax holiday, super deduction dan PPh untuk
kawasan ekonomi khusus, pengurangan serta pembebasan pajak daerah akan diatur
dalam bagian ini.
Jika pengaturan pajak transaksi online menurut RUU Omnibus Law ini diberlakukan
maka akan memberi nilai positif yakni untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di
Indonesia dengan harapan dengan banyaknya insentif serta kemudahan birokrasi
dalam pelayanan pembayaran pajak, wajib pajak menjadi semakin sadar dan mau
ikut berpartisipasi aktif dalam meningkatkan penerimaan pajak negara sehingga bisa
membantu meningkatkan nilai belanja pemerintah. Dengan begitu, jika lolos dan
berhasil, Omnibus Law akan menjadi terobosan mutakhir dan bersejarah bagi
Indonesia, baik segi hukum, penerimaan pajak, maupun dampaknya terhadap
pertumbuhan ekonomi, bahkan kemajuan Indonesia. Dan terhadap perkembangan
kegiatan siber akan diatasi dengan sistem keamanaan yang akan diperketat oleh
pemerintah.
3. Bagaimana perlindungan hukum yang diberikan kepada nasabah yang menggunakan
transaksi online? Jelaskan!
Jawaban: Perlindungan hukum yang diberikan oleh bank kepada pengguna jasa
layanan perbankan (nasabah) diatur berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998
terdiri atas:
1) Penyediaan informasi mengenai kemungkinan timbulnya risiko kerugian
nasabah, yang dimaksudkan agar akses untuk memperoleh informasi perihal
kegiatan usaha dan kondisi bank menjadi lebih terbuka yang sekaligus
menjamin adanya transparansi dalam dunia Perbankan.
2) Rahasia bank, yang dimaksudkan agar kepercayaan masyarakat lahir apabila
dari bank ada jaminan bahwa pengetahuan bank tentang simpanan dan
keadaan keuangan nasabah tidak akan disalahgunakan.
3) Dibentuknya Lembaga Penjamin Simpanan dan mewajibkan setiap bank
menjamin dana masyarakat yang disimpan dalam bank bersangkutan.

Anda mungkin juga menyukai