Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

DIGESTI
22 September 2020

Kelompok 5 :
Fina Ryan Lestari (4401418020)
Umi Rizqiyani (4401418039)
Nurul Aulia Zahra (4401418064)

Rombel Pendidikan Biologi A 2018

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020
DIGESTI

A. Tanggal Praktikum : Selasa, 22 September 2020


B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetaui adanya karbohidrat dan
lemak yang terkandung dalam berbagai bagian usus hewan .

C. Landasan Teori
Berdasarkan susunan kimianya zat-zat makanan dikelompokkan dalam 3
kelompok, yaitu : lemak, protein dan karbohidrat. Karbohidrat berfungsi sebagai
penghasil kalori, bahan pembentuk protein dan lemak. Protein berfungsi untuk
membangun jaringan baru dan mengganti yang rusak. Lemak berguna sebagai
penghasil energi terbesar, pelarut vitamin dan zat lain serta pelindung tubuh. Bahan-
bahan makanan selanjutya akan dicerna dalam saluran pencernaan dengan bantuan
enzim-enzim pencernaan menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh. Karena
keterbatasanketerbatasan yang ada dalam praktikum daring maka tidak semua zat-zat
makanan tersebut bisa diuji (Isnaeni, 2006).
Karbohidrat merupakan komponen bahan makanan yang penting dan
merupakan sumber energi yang utama. Dalam tubuh, karbohidrat berfungsi untuk
mencegah timbulnya ketosis, mencegah pemecahan protein tubuh yang berlebihan,
mencegah kehilangan mineral, dan untuk membantu metabolisme lemak dan protein
(Karasov, 2013). Lipid adalah sekelompok senyawa organik yang terdapat dalam
tumbuhan, hewan, atau manusia dan memegang peranan penting dalam struktur dan
fungsi sel. Lipid mempunyai sifat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
organik nonpolar seperti eter, kloroform, aseton, dan benzena. Lemak dan minyak
merupakan bagian terbesar dan terpenting kelompok lipid, yaitu sebagai komponen
makanan utama bagi organisme hidup (Mahmud, 2015).
Sistem pencernaan merupakan salah satu komponen penting dalam menunjang
kehidupan karena sistem pencernaan terdiri dari semua organ yang berfungsi untuk
mengunyah, menelan, mencerna dan mengabsorpsi makanan serta mengeliminasi
makanan yang tidak dapat dicerna tubuh (Watson, 2002). Sistem pencernaan atau
digesti terdiri atas saluran pencernaan, kelenjar-kelenjar yang berhubungan. Susunan
saluran pencernaan terdiri atas rongga mulut, faring (tekak), esophagus
(kerongkongan), lambung (ventriculus), usus halus (intestinum minor), usus besar
(intestinum mayor), rectum dan anus. Makanan mengalami proses pencernaan sejak
makanan berada di dalam mulut hingga proses pengeluaran sisa makanan hasil
pencernaan (Irianto, 2004).
Selama dalam proses pencernaan, makanan dihancurkan menjadi zat-zat
sederhana yang dapat diserap dan digunakan sel jaringan tubuh. Berbagai perubahan
sifat makanan terjadi karena kerja berbagai enzim yang terkandung dalam berbagai
pencerna cairan. Setiap jenis zat ini mempunyai tugas khusus menyaring dan bekerja
atas satu jenis makanan dan tidak mempunyai pengaruh terhadap jenis lainnya
(Evelyn, 2008). Fungsi utama sistem digesti adalah menyediakan zat nutrisi yang
sudah dicerna secara berkesinambungan untuk di distribusikan ke dalam sel melalui
sirkulasi dengan unsur-unsur air, elektrolit dan zat gizi. Sebelum zat ini diserap oleh
tubuh, makanan harus bergerak sepanjang saluran pencernaan (Syarifuddin, 2009).
Proses pencernaan makanan pada usus halus meliputi pencernaan pati,
glukosa, sakarida, maltosa dan sukrosa yang dicernakan menjadi gula-gula sederhana.
Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum, jejunum dan ileum. Duodenum
memiliki lipatan mukosa yang melingkar dan memiliki banyak vili, jejunum mirip
dengan daerah duodenum. Ukuran vili jejunum lebih langsing dan jumlahnya lebih
sedikit daripada duodenum. Ileum mirip dengan jejunum, vili pada ileum membentuk
kelompok. Ileum tidak memiliki lipatan-lipatan mukosa. Dinding ileum distal terdiri
dari tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis dan tunika serosa
(Udoumoh, 2017). Usus halus relatif panjang, ini memungkinkan kontak yang lama
antara makanan dan enzim-enzim pencernaan serta hasil-hasil pencernaan dan sel-sel
absorptif epitel. Usus halus merupakan saluran pencernaan yang dimulai dari
duodenum dan berakhir di permulaan usus besar. Penyerapan makanan terjadi di usus
halus, selaput lendir usus halus memiliki jonjot yang lembut dan menonjol seperti jari
fungsinya sebagai penggerak aliran pakan dan juga untuk menaikkan permukaan
penyerapan sari makanan ( Zainuddin, 2015). Aktivitas enzim di duodenum, jejunum
dan ileum bervariasi secara signifikan berdasarkan segmen usia dimana aktivitas
enzim meningkat secara cepat dalam jejunum dibandingkan dengan duodenum dna
ileum untuk sukrase dan aktivitas maltase (Dong, 2017).
Berdasarkan sifat-sifat karbohidrat dan reaksi-reaksi kimia yang spesifik,
karbohidrat dapat dianalisis menggunakan uji benedict digunakan untuk
mengidentifikasi karbohidrat melalui reaksi gula pereduksi. Larutan alkali dari
tembaga direduksi oleh gula yang mengandung gugus aldehida atau keton bebas,
dengan membentuk kupro oksida berwarna. Larutan benedict dilakukan pada suasana
basa yang menyebabkan terjadinya transformasi isomerik. Pada suasana basa, reduksi
ion Cu2+ dari CuSO4 oleh gula pereduksi akan berlangsung dengan cepat dan
membentuk Cu2O yang merupakan endapan merah bata. Selain dengan uji benedict,
karbohidrat dapat diidentifikasi dengan uji molisch, uji seliwanoff, uji fehling, dan uji
iodium. Bahan yang mengandung karbohidrat ketika diuji dengan iodium berubah
menjadi biru keunguan atau biru tua. Kondensasi iodium dengan karbohidrat pada uji
karbohidrat, monosakarida dapat menghasilkan warna yang khas. Hal ini disebabkan
karena dalam larutan pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks
karena adanya ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini
menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat
masuk ke dalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua. Menguji
kandungan lemak dapat dilakukan untuk mengetahui sifat, kelarutan, dan jenis lipid
dalam suatu bahan. Menguji lemak dalam suatu bahan makanan dapat dilakukan
dengan mengoleskan bahan pada kertas. Jika kertas menjadi trasnparan atau buram,
maka bahan yang diuji mengandung lemak yang diindikasikan dengan adanya noda-
noda minyak. Pengujian lemak dapat juga menggunakan etanol dan air, dengan cara
memasukkan etanol kedalam air, apabila dalam larutan tersebut terjadi emulsi putih
keruh berarti bahan makanan tersebut mengandung lemak (Zainuddin, 2016).
D. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Penumbuk
2. Pengaduk
3. Pipet
4. Tabung reaksi dan rak
5. Bunsen
6. Penjepit tabung dan gelas piala (beker glass)
b. Bahan
1. Usus hewan (ayam)
2. Betadin/yodium
3. Kertas HVS

E. Cara Kerja

Keluarkan isi masing-


masing bagian usus
Siapkan usum ayam Bagilah usus menjadi hewan tersebut dan
yang belum 3 bagian duodenum, masukkan ke dalam
dibersihkan isinya illeum dan colon wadah yang berbeda yang
berbeda-beda beri label
sesuai bagian isi usus
yang diambil.

Untuk uji kandungan karbohidrat gunakan


betadin/yodium, teteskan minimal 5-10
tetes larutan betadin/yodium pada isi Uji kandungan
usus. Gunakan zat makanan yg karbohidrat dan
mengandung karbohidrat (misal lemak pada masing-
Nasi/ubi/kentang) sebagai kontrol. Amati masing isi bagian usus
dan catat perubahan warna yang terjadi
dalam tabel

Untuk uji lemak, gunakan kertas HVS dengan cara mengoleskan isi usus pada
kertas HVS dengan luas olesan kira-kira satu lingkaran koin mata uang Rp 500,
angin-anginkan, kemudian diterawangkan, catat dan amati perubahan yg terjadi
pada kertas HVS. Gunakan minyak goreng sebagai pembanding. Kandungan
lemak diindikasikan dengan adanya noda-noda minyak pada kertas.

Hasil kegiatan
praktikum difoto dan
dilampirkan dalam
laporan
F. Data Pengamatan
1. Uji Karbohidrat (larutan betadin)
Praktikan 1
Zat uji Warna awal Warna setelah di uji
Makanan yang
Putih Biru Ungu
mengandung karbo
Isi duodenum Kuning Biru keunguan
Isi illeum Kuning Biru tua
Isi colon Kuning Krem
Praktikan 2
Zat uji Warna awal Warna setelah di uji
Makanan yang
Putih Biru Ungu
mengandung karbo
Isi duodenum Kuning Cerah Merah Kebiruan
Isi illeum Kuning Kecokelatan Merah Keunguan
Isi colon Cokelat Merah Kecokelatan
Praktikan 3
Zat uji Warna awal Warna setelah di uji
Makanan yang
Putih Biru Ungu
mengandung karbo
Isi duodenum Cokelat Cerah Kuning Keunguan
Isi illeum Cokelat Kuning Keunguan
Isi colon Cokelat Kehijauan Merah Kecokelatan
2. Uji Kandungan Lemak
Praktikan 1
Zat uji Kandungan lemak
Minyak goreng Ada
Isi duodenum Ada
Isi illeum Ada
Isi colon Tidak ada
Praktikan 2
Zat uji Kandungan lemak
Minyak goreng Ada
Isi duodenum Ada
Isi illeum Ada
Isi colon Ada
Praktikan 3
Zat uji Kandungan lemak
Minyak goreng Ada
Isi duodenum Ada
Isi illeum Ada
Isi colon Ada
G. Analisis Data
Analisis data uji karbohidrat
Dari ketiga bagian usus yang diuji karbohidrat, yakni duodenum,
jejunum/ileum, dan colon, ketiganya terdapat zat karbohidrat namun dengan kadar
yang berbeda. Hasil yang diperoleh ketiga praktikan berbeda antara satu sama lain.
Praktikan pertama menghasilkan perubahan warna dengan uji zat karbohidrat
(pengujian menggunakan iodine) antara lain duodenum (dari kuning ke biru
keunguan), ileum (dari kuning ke biru tua), dan colon (dari kuning ke krem).
Praktikan kedua menghasilkan urutan keberadaan zat karbohidrat antara lain
duodenum (dari kuning cerah ke merah kebiruan), ileum (dari kuning kecokelatan ke
merah keunguan), dan colon (dari cokelat ke merah kecokelatan). Praktikan ketiga
menghasilkan urutan keberadaan zat karbohidrat antara lain duodenum (dari cokelat
cerah ke kuning keunguan), ileum (dari cokelat ke kuning keunguan), dan colon (dari
cokelat kehijauan ke merah kecokelatan).
Analisis data uji lemak
Sementara itu, dari ketiga usus yang diuji lemak, yakni duodenum,
jejunum/ileum, dan colon, ketiganya terdapat zat lemak namun dengan kadar yang
berbeda. Dan hasil yang diperoleh ketiga praktikan pun berbeda antara satu sama lain.
Praktikan pertama menghasilkan urutan keberadaan zat lemak (mulai dari tertinggi
hingga terendah) antara lain duodenum (ada lemak), ileum (ada lemak), dan colon
(tidak ada lemak). Praktikan kedua menghasilkan urutan keberadaan zat lemak (mulai
dari tertinggi hingga terendah) antara lain ileum (ada lemak), duodenum (ada lemak),
dan colon (ada lemak). Praktikan ketiga menghasilkan urutan keberadaan zat lemak
(mulai dari tertinggi hingga terendah) antara lain duodenum (ada lemak), ileum (ada
lemak), dan colon (ada lemak).
H. Pembahasan
Uji Karbohidrat
Pada praktikum yang telah dilakukan, sampel yang akan diuji kandungan
karbohidratnya yaitu diambil dari isi bagian duodenum, jejenum/ileum, dan pada
bagian kolon. Sampel tersebut berupa makanan hasil pencernaan ayam yang masih
ada di ususnya. Pada umumnya makanan mengandung tiga unsur yaitu karbohidrat,
lemak dan protein. Dari ketiga unsur tersebut yang merupakan sumber energi utama
ialah karbohidrat. Karbohidrat ialah senyawa organik dengan fungsi utama sebagai
sumber energi bagi kebutuhan sel-sel dan jaringan tubuh. Peran utama karbohidrat di
dalam tubuh ialah menyediakan glukosa bagi sel-sel tubuh, yang kemudian diubah
menjadi energi.
Secara keseluruhan berdasarkan hasil data dan analisis data, menunjukan
bahwa hasil pencernaan makanan yang diambil dari bagian duodenum usus ayam
hasilnya sedikit beraksi dengan iodin. Cairan iodin hanya sedikit menunjukan
perubahan warna yaitu timbul dari semburat warna biru keunguan, merah keunguan,
hingga kuning keunguan, namun segera hilang ketika diaduk. Meskipun begitu, hasil
yang didapatkan cukup memberikan informasi bahwa dalam duodenum isi
pencernaannya mengandung karbohidrat.
Warna biru keunguan dan biru tua tersebut menandakan bahwa bahan yang
diuji dengan menggunakan larutan betadin mengandung karbohirat. Hal ini sama
seperti dengan bahan kontrol (nasi) yang diuji dengan larutan betadin berubah warna
menjadi biru keunguan. Bahan yang mengandung karbohidrat ketika diuji dengan
larutan betadin berubah menjadi biru keunguan atau biru tua. Kondensasi
yodium/betadin dengan karbohidrat pada uji karbohidrat, monosakarida dapat
menghasilkan warna yang khas. Hal ini disebabkan karena dalam larutan pati terdapat
unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan
konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat
membentuk kompleks dengan molekul yodium/betadin yang dapat masuk ke dalam
spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut.

Pada uji karbohidrat terhadap isi pencernaan yang ada di bagian ileum/jejenum
menunjukan variasi perubahan warna diantara hasil yang diperoleh praktikan. Berasal
dari warna dasar yaitu kuning kecokelatan setelah ditetesi dengan betadine
menunjukan perubahan warna. Secara keseluruhan dari ketiga praktikan menunjukan
hasil perubahan warna menjadi biru-merah keunguan-kuning keunguan yang tidak
bertahan lama dan segera pudar setelah diberi perlakuan pengadukan. Meskipun
begitu, hasil yang didapatkan cukup memberikan informasi bahwa dibagian
ileum/jejenum isi pencernaannya mengandung karbohidrat. Berdasarkan kontras
warnanya menunjukan bahwa kandungan karbohidratnya sedikit, jadi berbanding
lurus antara kandungan karbohidrat dengan ketajaman perubahan warna setelah
ditetesi betadine. Itulah mengapa isi pencernaan bagian ileum tidak begitu mencolok
perubahan warnannya setelah ditetesi betadine karena bagian ini kemungkinan
karbohidrat yang notabene polisakarida sudah terpecah menjadi monosakarida yang
segera diserap dan diedarkan melalui pembuluh darah. Jadi keberadaan polisakarida
pada bagian ileum sudah sangat sedikit atau mungkin sudah tidak ada karena sudah
dikonversi menjadi molekur yang lebih sederhana.

Pada uji karbohidrat isi pencernaan bagian kolon menunjukan perubahan yang
tidak signifikan. Warna dasar isi kolon yaitu kuning hingga cokelat kehijauan, dan
setelah ditetesi dengan betadine secara keseluruhan menunjukan warna yang tetap
yaitu cokelat. Adapun warna merah yang merupakan warna dari betadine itu sendiri
yang segera hilang setelah diberi pengadukan. Berdasarkan hasil ini dapat diketahui
bahwa isi kolon tidak memiliki kandungan karbohidrat.
Hasil yang menunjukan kontras warna yang berbeda-beda karena sampel isi
diambil dari bagian usus yang berbeda yaitu duodenum, jejenum/ileum, dan kolon.
Yang kita tahu bahwa tiap bagian usus ayam memiliki fungsi spesifik yang berbeda.
Pada bagian duodenum terjadi pencernaan yang paling aktif dengan proses
hidrolisis dari nutrien kasar berupa pati, lemak, dan protein. Penyerapan hasil akhir
dari proses ini sebagian besar terjadi di duodenum. Duodenum merupakan tempat
sekresi enzim dari pankreas dan getah empedu dari hati. Getah empedu mengandung
garam empedu dan lemak dalam bentuk kholesitokinin-pankreosimin berisi kolesterol
dan fosfolipid. Duodenum berbentuk loop melingkari pankreas berakhir di saluran
dari hati dan pankreas masuk ke usus halus.
Jejunum dan ileum meupakan kelanjutan dari duodenum. Pada bagian ini
proses pencernaan dan penyerapan zat makanan yang belum diselesaikan pada
duodenum dilanjutkan sampai tinggal bahan yang tidak dapat tercerna. Ileum
merupakan bagian usus halus yang paling banyak melakukan absorbsi. Sepanjang
permukaan ileum terdapat banyak vili. Permukaan vili terdapat mikrovili yang
berfungsi untuk mengabsorbsi hasil pencernaan.
Pakan yang telah diserap dalam usus halus masuk ke dalam coecum. Coecum
pada unggas ada 2, yaitu pada bagian kiri dan kanan. Di dalam terjadi pencernaan
secara mikrobiologik karena dalam coecum terdapat mikrobia-mikrobia yang mampu
membantu pencernaan terutama pencernaan serat kasar. Sekum terdiri atas dua seka
atau saluran buntu yang berukuran panjang 20 cm. beberapa nutrien yang tidak
tercerna mengalami dekomposisi oleh mikrobia sekum, tetapi jumlah dan
penyerapannya kecil sekali. Pada bagian sekum juga terjadi digesti serat kasar yang
dilakukan oleh bakteri pencerna serat kasar.
Usus besar atau disebut juga intestinum crassum merupakan tempat untuk
absorbsi air kembali sebelum feses dikeluarkan dari tubuh agar feses menjadi tidak
terlalu lembek ataupun tidak terlalu keras sehingga tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Usus besar berfungsi sebagai tempat absorbsi air dari sisa-sisa makanan.
Itulah mengapa hasil uji karbohidrat yang paling menunjukan kontras warna
reaktif dengan betadin adalah isi duodenum dengan isi ileum, hal ini dikarenakan
pada dua bagian ini masih terdapat karbohidrat dengan kandungan yang sedikit. Bisa
jadi dikarenakan jenis pakan ayam adalah pellet yang mengandung protein tinggi, jadi
kadar karbohidratnya rendah, alhasil ketika di uji karbohidrat menujukan perubahan
warna hanya sedikit semburat biru tua. Pada bagian kolon sudah tidak ada
karbohidrat, hal ini dibuktikan dengan hasil uji yang tidak menujukan perubahan
warna yang siginifikan. Isi kolon adalah sisa pencernaan yang sudah tidak dibutuhkan
lagi oleh tubuh. Sehingga tidak ada kandungan polisakarida di dalamnya, yang ada
hanyalah serat kasar.

Uji Lemak
Pada praktikum uji lemak, didapatkan hasil bahwa bagian usus yang
mengandung lemak adalah bagian duodenum dan illeum. Hal ini ditandai dengan
adanya noda-noda minyak pada kertas diolesi dengan bagian isi usus ayam pada
bagian tersebut. Adanya noda-noda minyak ini mengindikasikan bahwa bahan
tersebut mengandung lemak sama seperti dengan bahan kontrol (minyak goreng).
Lemak dapat didegradasi oleh enzim yang mencerna lemak, oleh sebab itu
tidak ada proses pencernaan yang terjadi pada lemak sebelum mencapai duodenum.
Karena duodenum terdapat enzim pencerna lemak yaitu enzim lipase yang berasal
dari porilipase yang tidak aktif dan diaktifkan oleh enzim colipase. Enzim lipase
dihasilkan oleh pankreas. Lipase pada unggas starter belum begitu aktif. Penyerapan asam
lemak atau gliserol sendiri membutuhkan bantuan dari enzim lipase. Sedangkan
enzim lipase sendiri belum aktif secara menyeluruh. Sehingga kinerja enzim lipase
perlu aktif terlebih dahulu. Duodenum menjadi tempat yang dapat mengaktifkan
enzim lipase. Apabila sudah aktif maka proses hidrolisis lemak akan berjalan.
Ileum merupakan bagian usus halus dimana terjadi proses penyerapan
makanan dalam sistem digesti. Sedangkan pada bagian colon tidak terjadi proses
pencernaan maupun penyerapan, yang terjadi hanyalah proses pembusukan sisa-sisa
hasil pencernaan.
Itulah mengapa ketika diuji keberadaan lemak dari sampel isi yang diambil
dari duodenum menunjukan hasil yang positif yaitu menimbulkan noda bekas minyak
yang lebih banyak dibanding dengan noda pada uji bagian jejenum dan kolon.
Sebagian besar lemak dalam pakan adalah trigliserida, sedangkan selebihnya
adalah fosfolipid dan kolesterol. Saat lemak masuk ke dalam duodenum, maka
mukosa duodenum akan menghasilkan hormon enterogastrik yang menghambat
sekresi getah pencernaan dan memperlambat proses pengadukan. Lemak yang
diemulsikan oleh garam empedu dirombak oleh esterase yang memecah ikatan ester
antara asam lemak dengan gliserol. Garam-garam empedu mengemulsikan butir-butir
lemak menjadi butir yang lebih kecil kemudian dipecah oleh enzim lipase pankreatik
menjadi digliserida, monogliserida, asam-asam lemak bebas dan gliserol. Absorpsi
lemak dan asam lemak tidak seperti hasil akhir pencernaan, karena zat-zat ini tidak
larut dalam air. Penyerapan lemak dilakukan dengan mengkombinasikan dengan
garam empedu. Garam empedu dibebaskan dalam sel mukosa dan dipergunakan asam
lemak dan gliserol untuk bersenyawa dengan fosfat untuk membentuk fosfolipid.
Fosfolipid distabilisasi dengan protein dan dilepaskan dalam sistem getah bening
sebagai globul-globul kecil yang disebut kilomikron yang kemudian dibawah ke
aliran darah.
Dari praktikum ini, cukup memberikan informasi bahwa terjadi pencernaan
karbohidrat di dalam duodenum dan ileum/jejenum, sedangkan pada bagian kolon
tidak terjadi pencernaan karbohidrat. Selain itu, terjadi pencernaan lemak dimana
bagian yang aktif menjadi tempat pencernaan lemak adalah pada bagian duodenum
dan jejenum.
Sebagian besar pencernaan dan absorbs nutrisi terjadi di dalam usus halus.
Proses pencernaan dibantu oleh kelenjar intestinal yang mengahasilkan mucin
berfungsi sebagai pelicin dan enzim sukrase memecah sukrosa menjadi glukosa,
fruktosa, maltase memecah maltosa menjadi glukose, eripsin memecah bentuk
intermediet protein menjadi asam amino. Pencernaan karbohidrat di mulai dari mulut
dengan pelumas saliva, di dalam gizzard secara mekanis dan hidrólisis, dilanjutkan di
dalam usus halus oleh enzim pankreas, empedu serta getah usus. Proses pencernaan
ini hanya mampu menghidrolisis karbohidrat sederhana sedangkan serat kasar tidak
mampu didegradasi. Oleh karena itu sebagian serat kasar lewat dari organ pencernaan
utama masuk ke organ bagian akhir saluran pencernaan (sekum, rectum, kolon) pada
bagian miles terjadi pencernaan fermentasi.
Pencernaan fermentatif pada ternak unggas berlangsung dibagian organ
pencernaan tembolok, sekum, rectum dan kolon. Fermentasi terjadi oleh adanya serat
kasar pakan dalam bagian saluran pencernaan tersebut. Mikroflora saluran pencernaan
berasal dari luar tubuh yang masuk bersama makanan, yang mampu tumbuh baik di
dalam saluran pencernaan dan dapat beradaptasi, tumbuh berkembang di dalam
saluran pencernaan.

I. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, bagian usus yang mengandung
karbohidrat adalah duodenum dan illeum. Sedangkan bagian usus yang mengandung
lemak adalah duodenum dan illeum. Dan bagian usus yang sedikit atau tidak
mengandung karbohidrat dan lemak adalan Kolon. Selain itu dapat disimpulkan pula
bahwa pada bagian duodenum dan jejenum/ileum terjadi proses pencernaan
karbohidrat dan lemak, sedangkan pada bagian kolon hanya ada pencernaan
fermentatif serat kasar dengan bantuan mikroba.
J. Pertanyaan
1. Bagian isi usus hewan yang mana, yang paling banyak mengandung karbohidrat
dan lemak? Mengapa? Jelaskan!
Jawab : Bagian usus ayam yang mengandung karbohidrat dan lemak adalah
bagian usus halus terutama duodenum dan illeum. Karena pada bagian ini terjadi
pencernaan yang paling aktif dengan proses hidrolisis dari nutrien kasar berupa
pati, lemak, dan protein. Penyerapan hasil akhir dari proses ini sebagian besar
terjadi di duodenum. Duodenum merupakan tempat sekresi enzim dari pankreas
dan getah empedu dari hati. Getah empedu mengandung garam empedu dan lemak
dalam bentuk kholesitokinin-pankreosimin berisi kolesterol dan fosfolipid. Lemak
dapat didegradasi oleh enzim yang mencerna lemak, oleh sebab itu tidak ada
proses pencernaan yang terjadi pada lemak sebelum mencapai duodenum. Karena
duodenum terdapat enzim pencerna lemak yaitu enzim lipase yang berasal dari
porilipase yang tidak aktif dan diaktifkan oleh enzim kolipase.
2. Bagian isi usus hewan yang mana yang paling sedikit/tidak ada kandungan
karbohidrat dan lemak ? Mengapa ? Jelaskan!
Jawab : Bagian usus ayam yang tidak ada kandungan karbohidrat dan lemak
adalah colon. Karena pada bagian tersebut tidak terjadi proses pencernaan dan
penyerapan, yang terjadi hanyalah proses pembusukan sisa-sisa hasil pencernaan.
Beberapa nutrien yang tidak tercerna dalam usus halus mengalami dekomposisi
oleh mikrobia sekum akan tetapi jumlah dan penyerapannya sangat kecil. Pakan
yang masuk ke dalam sekum akan terjadi proses pencernaan secara mikrobiologik
karena di dalam sekum terdapat beberapa mikrobia yang mampu membantu
pencernaan terutama pencernaan serat kasar.
3. Jelaskan reaksi kimia yang terjadi sehingga bahan yang mengandung karbohidrat
menghasilkan warna biru gelap jika direksikan dengan yodium/lugol
Jawab :

Kondensasi yodium/betadin dengan karbohidrat pada uji karbohidrat,


monosakarida dapat menghasilkan warna yang khas. Hal ini disebabkan karena dalam
larutan pati terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya
ikatan dengan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati
dapat membentuk kompleks dengan molekul yodium/betadin yang dapat masuk ke
dalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut.
K. Daftar Pustaka
Dong, X.Y, Y. M. Wang, L. Dai, M. M. M. Azzam, C. Wang and X. T. Zou.
2017. Posthatch development of intestinal morphology and digestive enzyme
activities in domestic pigeons (Columba livia). Journal Poultry Production
Department Vol. 3 (1).
Evelyn, 2008. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Media Pustaka
Utama.
Irianto, Kus. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia. Bandung: Yramawidjaya.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius: Yogyakarta
Karasov, William H. and Angela E. Douglas. 2013. Comparative Digestive
Physiology. Journal Compr Physiol. Vol. 3(2) : 741-783
Mahmud, Muhammad Abdullahi, Peter Shaba, Sani Abdullahi Shehu, Abubakar
Danmaigaro, James Gana and Wosilat Abdussalam. 2015. Gross
Morphological and Morphometric Studies on Dogestive Tracts of Three
Nigerian Indigenous Geotypes of Chicken with Special Reference to sexual
Dimorphism. Journal of World’s Poultry Research. Vol 5 (2) : 32-41.
Syarifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran.
Udoumoh, Anietie Francis, Udensi Maduabuchi Igwebuike dan Wilfred Ikechukwu
Ugwouke. 2017. Morphological features of the distal ileum and ceca of the
common pigeon ( Columba livia). Journal of Experimental and Clinical
Anatomy. Vol 10910 : 9-11
Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Jakarta: EGC.
Zainuddin, Dian Masyita, Fitriani, Firda Muharrami, Sri Wahyuni, Roslizawaty dan
Mulyadi Adam. 2015. Gambaran Histologi Kelenjar Tembolok Ayam
Kmapung, Bebek, dan Merpati. Jurnal Medika Veterinaria. Vol 9(1) : 68-70.
Zainuddin, Dian Masyita, Fitriani, Firda Muharrami, Sri Wahyuni, Roslizawaty dan
Mulyadi Adam. 2016. Gambaran Histologi Kelenjar Intestinal pada
Duodenum Ayam Kampung (Gallus domesticus), Merpati (Columba
domesticus) dan Bebek ( Anser anser Domesticus). Jurnal Medika Veterinaria.
Vol 10 (1) : 9-11
L. Lampiran
Praktikan= Fina Ryan Lestari

Isi masing-masing bagian usus


Bagian usus ayam yang belum
dikeluarkan dan ditempatkan
dibersihkan isinya
diwadah yang berbeda

Masing-masing isi usus ayam Hasil akhir warna isi usus


diuji dengan larutan bertadin ayam setelah di uji dengan
5-10 tetes larutan betadine

Mengoleskan isi usus ayam Hasil akhir uji lemak masing-


pada kertas HVS dengan luas masing isi usus ayam setelah
olesan kira-kira satu lingkaran di angin-anginkan
koin mata uang
Praktikan= Nurul Aulia Zahra

Bagian-bagian usus ayam


Isi usus ayam sebelum diuji
(duodenum, jejunum/ileum, colon

Uji lemak pada isi usus ayam


(minyak sebagai control lemak)

Uji karbohidrat pada isi usus ayam (nasi


sebagai control karbohidrat)

Praktikan= Umi Rizqiyani


Organ usus ayam meliputi duodenum,
jejenum/ileum, dan kolon
Isi bagian dalam
dikeluarkan

Nasi ditetesi betadine/iodin Isi jejenum yang ditetesi Isi duodenum yang ditetesi
sebagai kontrol dengan betadine dengan betadine

Isi kolon ditetesi dengan Membandingkan hasil uji dengan


betadine/iodin kontrol

Uji lemak pada isi duodenum, jejenum, Hasil uji lemak menunjukan noda
dan kolon minyak

Anda mungkin juga menyukai