Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

REPRODUKSI JANTAN
Selasa, 3 November 2020

Kelompok 5 :

Fina Ryan Lestari (4401418020)


Umi Rizqiyani (4401418039)
Nurul Aulia Zahra (4401418064)

Rombel Pendidikan Biologi A 2018

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2020
REPRODUKSI JANTAN
A. Tanggal praktikum: 3 November 2020
B. Tujuan
 Menghitung konsentrasi jumlah spermatozoa
 Mengamati morfologi spermatozoa
C. Landasan teori
Fertilisasi internal memerlukan perilaku kooperatif, yang mengarah ke kopulasi.
Fertilisasi internal juga memerlukan system reproduksi yang canggih, termasuk organ
kopulasi yang mengirimkan sperma dan reseptakel atau penyangga untuk penimpanannya
dan pengangkutannya menuju telur yang matang. Untuk bereproduksi secara seksual, hewan
harus mempunyai sitem yang menghasilkan gamet dari satu jenis kelamin ke gamet dengan
jenis kelamin lain yang berbeda. Pada sebagian besar spesies mamalia, organ reproduksi
eksternal jantan adalah skrotum dan penis. Organ reproduksi internal terdiri atas gonad yang
menghasilkan gamet (sel-sel sperma) dan hormone, kelenjar aksesoris yang mensekresikan
produk yang esensial bagi pergerakan sperma, dan sekumpulan duktus yang membawa
sperma dan sekresi glandular (Campbell et al., 2003).
Lebih lanjut, Adnan (2010) menjelaskan bahwa organ reproduksi jantan terdiri dari
testis, tubulus seminiferus, dan epididimis. Testis merupakan organ utama pada jantan,
biasanya berpasangan dan fungsi adalah menghasilkan sperma dan hormon reproduksi
jantan utamanya androgen. Tubulus seminifeus terdiri atas jaringan ikat fibrosa, lamina
basalis, dan epitel germinitivum. Epitel germinal terdiri dari 4-8 lapisan sel yang menempati
ruang antara membrane basalis dan lumen tubulus. Epididimis dibatasi oleh jaringan ikat
pada bagian luar, lapisan otot polos ditengah, dan epitel berlapis banyak bersilia di bagian
dalam. Pada tikus dan tikus, testis hanya terdiri dari satu ruangan saja. Di dalam testis
terdapat saluran-saluran halus yang melilit disebut tubulus seminiferus, tempat
berlangsungnya spermatogenesis.
Spermatogenesis merupakan proses perkembangan sel-sel spermatogenik yang
terdiri dari 3 tahap yaitu, tahap spermatositogenesis atau proliferasi, tahap meiosis dan
spermiogenesis. Spermatositogenesis merupakan proliferasi sel induk spermatogonia yang
membelah secara mitosis menghasilkan spermatosit primer. Spermatosit primer mengalami
pembelahan meiosis I menjadi spermatosit sekunder. Pembelahan meiosis I terdiri dari
profase, metafase, anafse dan telofase. Profase dari spermatosit primer dibedakan menjadi
leptoten, zigoten, pakiten, diploten dan diakinesis. Spermatosit pakiten merupakan sel yang
mudah diamati karena memiliki kromatid tebal, memendek, dan ukuran relatif besar
dibandingkan sel spermatogenik yang lainnya. Pada pembelahan meiosis II spermatosit
sekunder menjadi spermatid. Spermatid mengalami perubahan morfologi dari bentuk bulat
menjadi bentuk oval dan berekor yaitu spermatozoa melalui proses spermatogenesis yang
ditunjukkan pada Spermatozoa yang baru dibentuk ini bersifat immotiledan tidak bisa
mengadakan fertilisasi. Spermatozoa menjadi motile saat melewati epidimis dan setelah
melewati sistem reproduksi betina spermatozoa mengadakan fertilisasi.
Kualitas sperma sangat penting bagi individu untuk mempertahankan generasinya
dengan proses perkawinan. Fertilitas atau kesuburan dipengaruhi oleh kondisi atau kualitas
sperma. Menurut Arsyad dan Hayati (dalam Ashafahani et al., 2010), kualitas sperma
meliputi beberapa aspek yaitu; jumlah sperma, normalitas atau morfologi, motilitas atau
daya gerak, dan viabilitas atau daya tahan.
Objek praktikum ini menggunakan tikus. Penyebab pemakaiannya sebagai objek
penelitian adalah karena tikus memiliki proses reproduksi yang tidak terlalu lama, jangka
waktu hidup yang hanya berkisar antara dua hingga tiga tahun, mudah adaptasi, dan juga
karena perilaku tikus itu sendiri. Hewan ini sangat gampang beradaptasi dengan lingkungan
baru. Struktur tubuh tikus juga mudah dipahami; Perubahan pada struktur anatomi, fisiologi,
dan genetika pada tikus saat percobaan lebih mudah dipahami oleh para peneliti.
Prosedur pemeriksaan kualitas spermatozoa yaitu motilitas, konsentrasi dan
morfologi spermatozoa dilakukan pada masing-masing kelompok. Suspensi sperma-tozoa
diambil menggunakan disceting kit untuk mengambil organ testis dan cauda epididimis.
Cauda epididimis dipisahkan dengan cara memotong bagian proksimal corpus epididimis
dan bagian distal vas deferens. Selanjutnya cauda epididimis dimasukkan kedalam cawan
petri berisi 1 ml NaCl 0,9%, bagian proksimal cauda dipotong sedikit dengan gunting lalu
cauda ditekan perlahan hingga sekresi cairan epididimis keluar dan tersuspensi dengan NaCl
0,9%.
Suspensi spermatozoa dari cauda epididimis digunakan untuk peng amatan kualitas
spermatozoa yang meliputi, konsentrasi, motilitas dan morfologi sper-matozoa. Pengamatan
jumlah spermatozoa dilakukan dengan cara suspensi spermatozoa terlebih dahulu
dihomogenkan. Selanjutnya diambil sebanyak 0.005ml dan dimasukkan kedalam gelas
obyek sitometer Thoma yang berkotak-kotak dan telah ditutup dengan kaca penutupnya.
Kemudian, diteteskan suspensi spermatozoa tepat pada pinggir gelas penutup hingga cairan
menyebar ke seluruh sudut penutup kemudian dilihat dibawah mikroskop cahaya dengan
pembesaran 45x10 serta dihitung jumlah spermatozoa pada lima lapangan pandang.
Pengamatan pada motilitas spermatozoa dilakukan dengan cara suspensi spermatozoa
diteteskan pada alat bilik hitung improved neubauer dan diamati dibawah mikroskop dengan
pembesaran 400 kali, lalu nilai pergerakan spermatozoa yang terjadi. Pada pengamatan
morfologi spermatozoa dilakukan dengan cara hasil suspensi spermatozoa diteteskan di atas
gelas objek, dibuat preparat apus dan dikeringkan di udara, sediaan difiksasi dengan metanol
selama 3-5 menit, kemudian diwarnai dengan giemsa 3% selama 45 menit. preparat dicuci
dan dikeringkan. Diamati dengan mikroskop pembesaran 40x10, lihat kelainan bentuk yang
terlihat (Elfira, 2010).
Berbagai hewan dipakai dalam pengujian sistem reproduksi jantan, masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun demikian tikus paling banyak digunakan untuk
keperluan ini atas beberapa alasan. Tikus merupakan hewan model yang menyerupai
manusia dari segi tertentu. Hewan ini juga mudah dipelihara dan dibiakkan. Tambahan lagi,
tikustelah digunakan sebagai hewan uji dalam skrining suatu senyawa untuk mengetahui
efek farmakologi meliputi distribusi, mekanisme, dan toksisitasnya. Penggunaannya secara
luas dalam penelitian telah menghasilkan data biologi yang cukup lengkap.
Beberapa metode penilaian sistem reproduksi jantan telah dikembangkan. Salah satu
yang umum digunakan ialah analisis kualitas sperma. Analisis kualitas sperma dapat
memberikan kita informasi tentang status kesuburan organ genital jantan. Selain diperlukan
dalam kajian deskriptif tentang gambaran sperma suatu hewan, penilaian ini juga digunakan
dalam kajian toksikologi atau farmakologi suatu bahan terhadap kesuburan jantan. Analisis
ini dapat menunjukan peningkatan atau penurunan kesuburan suatu hewan uji. Tujuan dari
analisis kualiti sperma ialah untuk menilai parameter deskriptif dari sampel sperma hewan
uji. Kualitas yang umumnya dinilai ialah bilangan sperma (kepekatan/konsentrasi sperma),
morfologi sperma, dan motilitas sperma.
D. Alat dan Bahan
Alat Fungsi
Perangkat alat bedah Untuk membedah tikus/mencit dan pengambilan vas deferens
Kaca objek dan deck glas Untuk meletakan objek yang akan diamati
Mikroskop Untuk pengamatan objek dengan perbesaran tertentu
Hemositometer Untuk membantu perhitungan spermatozoa
Hand counter Untuk membantu perhitungan jumlah spermatozoa
Bak paraffin Untuk meletakan tikus yang akan dibedah
Bahan Fungsi
Tikus/mencit Untuk diambil bagian vas deferens
NaCl fisiologis Untuk menyeimbangkan dan mempertankan kondisi fisiologi
vas deferens
Eosin Untuk mewarnai sel spermatozoa
Kertas pH Untuk mengetes pH dari cairan

E. Cara Kerja
Mempersiapkan alat tulis dan menonton video praktikum yang telah diberikan oleh
asistan lab.

Mengamati foto tampilran mikroskop bilik hitung neubauer yang sudah diisi dengan
“larutan stok” dengan pengenceran sebesar 200 kali

Memperhatikan kotak-kotak pasa bilik hitung (seperti saat menghitung sel darah merah)
yang tampak pada foto tersebut, dan menentukan area hitung sperma, seperti petunjuk
pada gambar di file panduan.

Setelah area hitung ditentukan, menghitung sperma yang terdapat pada area hitung
tersebut dengan mengikuti alur pola seperti gambar berikut ini:

Konsentrasi spermatozoa = jumlah spermatozoa terhitung dalam 5 bidang kotak (S) x


factor multiplikasi (10.000) X factor pengenceran (200 kali). Rumus menghitung
konsentrasi spermatozoa: (S) x 10.000x 200=….. juta/ml suspense. Data di analisis
dan dilakukan pembahasan.
F. Data praktikum

Kiri Kanan Kiri Kanan Jumlah Konsentrasi


No. Nama Tengah
atas atas bawah bawah spermatozoa (juta/ml)
Fina Ryan 2 4 5 3 3 17 34.000.000
1.
Lestari
Umi 0 4 3 0 4 11 22.000.000
2.
Rizqiyani
Nurul 3 6 5 3 3 20 40.000.000
3. Aulia
Zahra
Rata-rata 32.000.000
Tabel a. hasil perhitungan jumlah spermatozoa dan konsentrasi

Praktikan Jumlah Tipe spermatozoa


sspermatozoa
Fina Ryan L. 1 Small head
3 Normal head
Umi Rizqiyani 2 Normal
2 Small head
Nurul A.Z 2 Condenses acrosome
2 Normal
Tabel b. pengamatan morfologi spermatozoa

G. Analisis data

Analisis kuantitatif

Perhitungan sperma per masing-masing praktikan didapatkan hasil perhitungan berikut ini :
Praktikan 1 Fina Ryan L
Jumlah Spermatozoa = (S) x 10.000 x 200
= 17 x 10.000 x 200
= 34.000.000 /ml suspensi
Praktikan 2 Umi Rizqiyani
Jumlah Spermatozoa = (S) x 10.000 x 200
= 11 x 10.000 x 200
= 22.000.000 /ml suspensi
Praktikan 3 Nurul Aulia Zahra
Jumlah Spermatozoa = (S) x 10.000 x 200
= 20 x 10.000 x 200
= 40.000.000 /ml suspensi
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 1+𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 2+𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛 3
Rata-rata jumlah hitung spermatozoa = 3
34.000.000+22.000.000+40.000.000
=
3
96.000.000
= 3
= 32.000.000/ml suspensi
Analisis kualitatif

Praktikan Foto Jenis spermatozoa


Fina Ryan L 1.small head
2. normal
3. normal
2 4.normal
Spermatozoa memiliki tiga
bagian : kepala, bagian tengah,
dan ekor.
3 Dengan pengecatan giemsa,
spermatozoa normal nampak
4 berbentuk oval dengan bagian
1
ujung lebih terang dan bagian
pangkal dekat leher gelap.
Small head memiliki bentuk
kepala yang kecil
Umi 1.small head
Rizqiyani
2 2.small head
3.normal
4.normal
Spermatozoa memiliki tiga
bagian : kepala, bagian tengah,
dan ekor.
3 Dengan pengecatan giemsa,
spermatozoa normal nampak
berbentuk oval dengan bagian
4 1 ujung lebih terang dan bagian
pangkal dekat leher gelap
Small head memiliki bentuk
kepala yang kecil
Nurul A.Z 1. condenses head
2.condenses head
3.normal
2 4.normal
Spermatozoa memiliki tiga
bagian : kepala, bagian tengah,
dan ekor.
Dengan pengecatan giemsa,
4 spermatozoa normal nampak
3 1 berbentuk oval dengan bagian
ujung lebih terang dan bagian
pangkal dekat leher gelap.
Sperma dengan akrosom
terkondensasi, memiliki
kandungan DNA yang
terkondensasi.
Tabel c. pengamatan morfologi spermatozoa
H. Pembahasan
Pada praktikum ini mengenai reproduksi jantan, praktikum ini bertujuan untuk
mengamati morfologi dan menghitung konsentrasi spermatozoa. Dengan menggunakan
hewan mencit maka didapatkan data gambar bilik kamar neubauer yang selanjutnya
dilakukan perhitungan dan analisis data.
Berdasarkan data yang tersajikan pad tabel a menunjukan bahwa hasil dari
perhitungan jumlah spermatozoa bervariasi antar hasil praktikan. Namun secara keseluruhan
didapatkan konsentasi rata-rata spermatozoa adalah 32.000.000 juta/ml. Terdapat perbedaan
hasil jumlah perhitungan spermatozoa dikarenakan antar praktikan memiliki tingkat
ketelitian mata yang berbeda-beda, serta adanya perbedaan presepsi mengenai spermatozoa
utuh yang layak hitung. Selain itu kualitas gambar juga mempengaruhi hasil perhitungan
dimana ada beberapa bagian di dalam kotak yang tidak terlihat jelas. Faktor kualitas hasil
pewarnaan preparat yang dihasilkan juga akan mempengaruhi hasil perhitungan.
Berdasarkan tabel b yang berisi data hasil pengamatan morfologi, menunjukan
bahwa pada antar praktikan memiliki hasil pengamatan yang berbeda. Seperti yang telah
dianalisis sebelumnya bahwa hal ini dikarenakan kualitas gambar yang kurang tajam
resolusinya, meskipun masih bisa diamati bagian kepala dan ekornya, namun tidak begitu
jelas untuk pengamatan sedetail strukturnya. Selain itu, antar praktikan memiliki presepsi
yang berbeda-beda mengenai morfologi spermatozoa yang diamati.
Berkaitan dengan kegiatan perhitungan jumlah konsentrasi spermatozoa pada
reproduksi jantan (tikus/mencit), perlu diketahu mengenai proses spermatogenesis. Jika
dibandingkan dengan manusia jantan, pada prinsipnya sama jika dibandingkan dengan
tikus/mencit jantan. Proses spermatogenesis dalam tubuh pria dewasa diatur dan dikontrol
oleh sel sertoli. Dalam sel sertoli tikus dewasa, pembentukan spermatozoa terjadi selama 19-
20 hari. Dipengaruhi oleh FSH yang mengatur sel sertoli, spermatogenesis adalah proses
pembentukan sel sperma yang terjadi di epitelium (tubul) seminiferi dibawah kontrol
hormon gonadotropin dari hipofisis (pituitari bagian depan). Tubuli seminiferi terdiri atas sel
sertoli dan sel germinalis. Spermatogenesis terjadi dalam tiga fase, yaitu fase
spermatogonial, fase meiosis, dan fase spermiogenesis yang membutuhkan waktu 13-14
hari.
Konsentrasi spermatozoa dalam semen harus cukup agar proses fertilisasi dapat
terjadi. Kelompok mencit yang diiradiasi memiliki konsentrasi spermatozoa dibawah 20 juta
per mL semen, sehingga dianggap infertile sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nuraini,
et al (2012) yang menyatakan bahwa, sperma dianggap normal apabila konsentrasi
spermatozoa lebih dari 20 juta per mL semen dan dianggap infertile apabila konsentrasi
sperma kurang dari 20 juta per mL semen. Sehingga kelompok mencit yang diiradiasi
mengalami kemandulan (infertile), karena konsentrasi sperma kurang dari 20 juta per mL
semen.
Perkembangan seorang manusia diawali dengan pembuahan , yaitu suatu proses
dimana spermatozoa dari pria dan oosit dari wanita bergabung membentuk suatu organisme
baru yaitu zigot. Spermatogenesis disebut juga sebagai tahap poliferasi atau perbanyakan.
Proses pembentukan gamet (sel kelamin) disebut gametogenesis. Proses pembentukan
spermatozoa (sel kelamin jantan) berlangsung di dalam testis yang terdapat di scrotum.
Testis adalah alat kelamin utama yang berjumlah sepasang, terletak di dalam scrotum, suatu
kantung di luar rongga tubuh. Pada awal pertumbuhan, testis berada dalam rongga abdomen,
kemudian turun ke scrotum. Ketika turun, testis ikut terbawa lapisan rongga tubuh
(peritoneum) bersama otot dinding abdomen. Testis menghasilkan gamet berupa
spermatozoa. Spermatozoa yang dihasilkan oleh testis, bersama sedikit plasma semen
disalurkan keluar tubuh lewat saluran yaitu: tubulus rectus, rete testis, ductus efferen,
epididimis, vas deferens, dan urethra. Epididimis adalah simpanan dan tempat pematangan
(maturasi) spermatozoa. Vas deferens menampung spermatozoa yang sudah matang dalam
epididimis beserta cairan semen yang dihasilkan prostat dan vesicular seminalis. Urethra
adalah pipa kemih luar yang juga menyalurkan semen keluar tubuh. Di pembuluh ini juga
bermuara dua kelenjar kecil yang juga menghasilkan cairan mani, yaitu: bulbourethralis dan
littre. Penis adalah alat penghantar semen ke genital wanita. Bagian ujung urethra berada
dalam penis.
Epididimis kauda melekat ke satu sisi testis dari anterior ke posterior.dari luar
tampak seperti pembuluh besar berbentuk seperti satu pembuluh besar berbentuk seperti
huruf S terbalik, sebetulnya ia terdiri dari pembuluh (vas) yang melilit-lilit yang dibungkus
oleh jaringan pengikat sehingga menjadi satu bangunan. Terdiri atas tiga bagian caput,
corpus, dan cauda. Caput ada di depan tempat bermuara vasa efferensia. Corpus
adalah bagian tengah dan memanjang ramping disepanjang sisi testis. Cauda adalah bagian
ujung atau ekor, berbentuk huruf U, ujungnya bertemu vas deferens.
FSH dan LH bekerja merangsang perkembangan testis. FSH bekerja untuk
mempengaruhi tubulus seminiferus dan sel sertoli. Penurunan berat testis berhubungan
dengan penyusutan tubulus seminiferus sebagai tempat utama proses spermatogenesis yang
menghasilkan spermatozoa. Sel sertoli berfungsi dalam proses pembentukan ABP
(Androgen Binding Protein) yang fungsinya sebagai reseptor untuk mengikat testosteron
bebas dalam darah untuk proses spermatogenesis, sedangkan LH (luteinizing hormone)
bekerja pada sel leydig untuk menghasilkan testosteron yang berfungsi untuk proses
spermatogenesis.
Pada tikus jantan apabila sekresi hormon-hormon gonodotropin yaitu FSH dan
LH menurun akan mempengaruhi perkembangan testis sehingga kemungkinan akan
menurunkan kadar testosteron dan mempengaruhi proses spermatogenesis. Pada saat
praktikum ada penggunaan NaCl dengan konsentrasi tertentu. Epididimis kauda diletakkan
pada cawan petri yang sudah berisi NaCl 0,9 %. NaCl digunakan karena larutan NaCl
merupakan larutan fisiologis yaitu suatu larutan istonik yang menjaga histologi sel agar tidak
rusak.
Berdasarkan pengamatan morfologi spermatozoa, dihasilkan variasi hasil yang
berbeda antar ketiga praktikan. Pada tabel b yang telah disajikan, menunjukan bahwa pada
praktikan 1 dan 2 menilai bahwa terdapat sperma dengan morfologi small head, sedangkan
pada praktikan 3 menilai bahwa terdapat spermatozoa yang condensed acrosome.
Spermatozoa memiliki tiga bagian : kepala yang ditudungi akrosom, bagian
tengah, dan ekor. Kepala terutama terdiri dari nukleus, yang mengandung informasi genetik
sperma. Akrosom, menutupi dua pertiga anterior dari nukleus, merupakan vesikel terisi
enzim yang memungkinkan sperma menembus oosit sekunder saat fertilisasi. Akrosom
merupakan modifikasi lisosom, dibentuk oleh agregasi vesikel-vesikel yang diproduksi oleh
kompleks golgi-retikulum endoplasma sebelum organel ini disingkirkan. Enzim akrosomal
tetap inaktif sampai sperma kontak dengan ovum.
Mobilitas spermatozoa dihasilkan oleh suatu ekor panjang mirip cambuk
(flagellum) yang gerakannya dijalankan oleh energi ATP yang dihasilkan oleh mitokondria
yang terkonsentrasi di bagian tengah sperma. Flagellum mempunyai tiga komponen utama,
yaitu :
a.Sebuah sentral skeletonyang terbentuk dari 11 mikrotubulus, yang disebut axonema
b.Sebuah membran tipis yang menyelimuti axonema
c.Mitokondria yang mengelilingi bagian proksimal dari axonema.
Morfologi merupakan salah satu dari pemeriksaan spermatozoa dan termasuk
pemeriksaan mikroskopis selain pemeriksaan jumlah dan motilitas spermatozoa. Penilaian
morfologi sperma dilakukan dengan sediaan hapus sperma yang diwarnai dengan giemsa di
baca dengan pembesaran 1000x.
Kriteria morfologi sperma disebut normal bila :
a. Kepala berbentuk oval, akrosom menutupi sepertiga panjangnya, panjang 3-5 mikron,
lebar setengah sampai dengan dua pertiga panjang kepala
b. Midpiece berukuran langsing (kurang dari setangah lebar kepala), panjang 2 kali panjang
kepala dan berada dalam satu garis panjang sumbu kepala
c. Ekor mempunyai batas tegas, berupa garis panjang 9 kali panjang kepala
Menurut Toelihere (1985), mengklasifikasikan abnormalitas dalamabnormalitas
primer dan sekunder. Abnormalitas primer meliputi kepala yangterlampau besar
(macrocephlalic), kepala terlampau kecil (microcephalic), kepalapendek melebar, pipih
memanjang dan piriformis; kepala rangkap, ekor ganda; bagian tengah melipat,
membengkok, membesar, piriformis; atau bertaut abaxial pada pangkal kepala; dan ekor
melingkar, putus atau terbelah. Abnormalitas sekunder termasuk ekor yang putus, kepala
tanpa ekor, bagian tengah yang melipat, adanya butiran-butiran protoplasma proksimal atau
distal dan akrosom yang terlepas.

Adapun faktor yang mempengaruhi morfologi sperma antara lain :

1. Suhu
Suhu memegang peranan penting pada spermatogenesis. Pada mamalia
spermatazoa hanya dapat diproduksi bila suhu testis 29-30’C, sedikitnya. 1,5-2.0C·
dibawah suhu dalam tubuh, kenaikan suhu beberapa derajat akan menghambat proses
spermatogenesis,sebaliknya suhu rendah akan meningkatkan spermatogenesis pada
manusia.
2. Kebiasaan buruk (merokok,dll)
Asap rokok dapat memberikan dampak buruk terhadap fungsi reproduksi pria
karena terdapat radikal bebas yang dapat merusak sel. Radikal bebas merupakan suatu
molekul yang tidak stabil akibat kehilangan elektron, dan dapat menyebabkan kerusakan
DNA pada berbagai sel tubuh.
3. Usia
Umur mempengaruhi kesuburan dimana pada usia tertentu tingkat kesuburan
seorang pria akan mulai menurun secara perlahan-lahan. Kesuburan pria ini diawali saat
memasuki usia pubertas ditandai dengan perkembangan organ reproduksi pria, rata-rata
umur 12 tahun. Perkembangan organ reproduksi pria mencapai keadaan stabil umur 20
tahun. Tingkat kesuburan akan bertambah sesuai dengan pertambahan umur dan akan
mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Setelah usia 25 tahun kesuburan pria mulai
menurun secara perlahan-lahan, dimana keadaan ini disebabkan karena perubahan bentuk
dan faal organ reproduksi.
4. Alkohol
Dalam testis, alkohol dapat mempengaruhi sel-sel leydig yang memproduksi dan
mengeluarkan testosteron. Alkohol juga menganggu fungsi sel Sertoli testis yang
memainkan peranan penting dalam pematangan sperma. Dalam kelenjar hipofisis,
alkohol dapat menurunkan produksi, rilis, dan/atau kegiatan LH dan FSH.
5. Obat Gonadotoksik
Beberapa penelitian menunjukkan adanya sejumlah zat pestisida yang toksin
terhadap gonad, antara lain imidakloprid, organofosfat, organoklorin, 7 karbamat,
fumigan, dan beberapa herbisida serta fungisida. Obat-obatan tertentu seperti marijuana,
heroin, kokain juga dapat menekan fungsi reproduksi pria.
6. Nutrisi
Kandungan nutrisi kaya oksidan, misalnya makanan yang mengandung vitamin C,
vitamin E, polifenol, flavonoid, dan jenis-jenis antioksidan lain dapat memperbaiki
kualitas sperma karena mencegah kerusakan sel gonad akibat radikal bebas
7. Varicocele
Aliran darah vena abnormal dari skrotum meningkatkan produk sisa metabolisme
dan mengurang ketersediaan okisgen dan nutrisi yang diperlukan untuk perkembangan
sperma.
Pada praktikum ini, meskipun tidak melakukan pengamatan motilitas
spermatozoa, namun alangkah baiknya jika mengetahui mengenai hal ini. Motilitas
spermatozoa berkaitan dengan penurunan kadar LH yang menyebabkan gangguan terhadap
sekresi testosteron oleh sel Leydig. Disamping berperan dalam spermatogenesis, hormon
testosteron juga berperan dalam maturasi spermatozoa di epididymis. Dengan adanya
gangguan terhadap sekresi testosteron maka kualitas spermatozoa seperti motilitas
spermatozoa menjadi terganggu.
Berdasarkan teori yang telah dijelaskan, sesuai dengan bentuk morfologi
spermatozoa dan pola metaboliknya yang khusus dengan dasar produksi energispermatozoa
hidup dapat mendorong dirinya sendiri maju ke depan di dalamlingkungan zat cair. Motilitas
telah sejak lama dikenal sebagai alat untukmemindahkan spermatozoa melalui saluran
reproduksi hewan betina. Transport kilat spermatozoa dari serviks ke infundibulum terjadi
secara otomatik (meski pada spermatozoa tidak motil) karena rangsangan oxitocyn, terhadap
konsentrasi saluran reproduksi. Motilitas spermatozoa di dalam infundibulum bertugas
sebagai alat penyebaran spermatozoa secara acak ke seluruh daerah saluran kelamin betina,
dimana terdapat ovum yang mampu dibuahi, jadi menjamin kepastian secara statik
pertemuan spermatozoa dengan ovum. Faktor-faktor yang mempengaruhi
motilitasspermatozoa adalah umur sperma, maturasi (pematangan) sperma, penyimpanan
energi ATP (Adenosin Triphosfat), agen aktif, biofisik dan fisiologik, cairan suspensi dan
adanya rangsangan hambatan.

Ulasan video

Terkait pembahasan selanjutnya, yaitu mengenai prosedur praktikum hitung


konsentrasi spermatozoa. Ulasan berikut mengenai prosedur hitung konsentrasi spermatozoa
berdasarkan video tutorial yang menjadi sumber rujukan beserta sumber referensi lainnya.
Berdasarkan penjelasan yang ada di video bahwa alat dan bahan yang dibutuhkan meliputi
seperangkat alat bedah, gelas benda, mikroskop, hemositometer, hand counter, papan bedah,
tikus, NaCl fisiologis, dan zat warna eosin.
Langkah kerja pada praktikum ini yang pertama yaitu membuat larutan stok. Tikus
dibunuh serta dibedah untuk diambil vas diferensnya. Proses pembunuhan tikus dilakukan
dengan cara menaruh tisu yang dibasahi kloroform ke wadah tertutup yang terdapat tikus,
hingga tikus tidak sadarkan diri. Kemudian dilakukan pembuatan larutan NaCl fisiologis di
cawan petri. Setelah pembuatan larutan, kemudian dilakukan pembedahan tikus, tepatnya di
bagian abdomen.untuk mendapatkan bagian testis, dilakukan penekanan pada skrotum
terlebih dahulu. Setelah testis keluar, ambil bagian vas diferensnya sebagai tempat
penyimpanan dan pematangan sperma. Vas deferens tersebut dimasukkan ke dalam larutan
NaCl fisiologis dan dilakukan pengeluaran semen dari vas deferens tersebut. Kemudian
penghitungan konsentrasi spermatozoa dilakukan melalui bilik hitung Neubauer yang
diletakkan pada mikroskop. Setelah penutupan dengan deck glass, selanjutnya pengaturan
posisi preparat agar bilik hitung dapat terlihat jelas pada perbesaran 10x10. NaCl fisiologis
kembali digunakan sebagai larutan pengencer di dalam plat tetes. Larutan stok dihisap dengan
hemositometer hingga menunjukkan tanda 0,5, selanjutnya pengisapan kembali larutan NaCl
fisiologis pengencer hingga menunjukkan tanda 101. Pipet dilepaskan kemudian digoyangkan
agar homogen. Beberapa tetesan darah dibuang, kemudian larutan sperma tersebut dituang ke
atas bilik hitung dan dilakukan pengamatan melalui mikroskop, dan terakhir melakukan
penghitungan.
Selain kegiatan menghitung konsentrasi, pada praktikum ini juga dilakukan
pengamatan morfologi spermatozoa. Adapun langkah kerjanya, pertama meneteskan larutan
stok pada gelas benda yang dilanjutkan dengan penetesan zat warna eosin di atasnya.
Penutupan dengan deck glass dilakukan perlahan, selanjutnya diamati melalui mikroskop
dengan perbesaran 100x. pengamatan dilakukan dengan mengamati bagian ekor, bagian
tengah, dan bagian kepala dari sperma.
Pada saat perhitungan ini, terdapat beberapa kriteria, meliputi sel yang
menyinggung garis kiri dan atas dihitung, sedangkan sel yang menyinggung garis kanan dan
bawah tidak dihitung. Mulai menghitung dari sudut kiri atas, selanjutnya ke kanan, kemudian
turun kebawah dan dari kanan ke kiri; lalu turun lagi ke bawah dan dimulai lagi dari kiri ke
kanan.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan bahwa ketika melakukan praktikum
secara langsung ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: proses persiapan bahan
(larutan stok dan larutan pengencer) dilakukan dengan hati-hati dan memerhatikan
kebersihan, karena akan memengaruhi kejelasan pada bilik hitung yang juga memengaruhi
proses penghitungan dan identifikasi morfologi. Selain itu juga ketelitian indera penglihatan
pada praktikan harus bagus serta pemahaman mengenai morfologi spermatozoa juga harus
baik sehingga akan menghasilkan jumlah hitungan yang akurat.

I. Kesimpulan
 Berdasarkan hasil praktikum perhitungan jumlah spermatozoa bervariasi antar hasil
praktikan. Namun secara keseluruhan didapatkan konsentasi rata-rata spermatozoa
adalah 32.000.000 juta/ml.
 Dengan pengecatan giemsa, spermatozoa normal nampak berbentuk oval dengan
bagian ujung lebih terang dan bagian pangkal dekat leher gelap.
 Kriteria morfologi sperma disebut normal apabila kepala berbentuk oval, akrosom
menutupi sepertiga panjangnya, lebar setengah sampai dengan dua pertiga panjang
kepala. Midpiece berukuran langsing (kurang dari setangah lebar kepala), panjang 2
kali panjang kepala dan berada dalam satu garis panjang sumbu kepala. Ekor
mempunyai batas tegas, berupa garis panjang 9 kali panjang kepala
J. Diskusi dan Jawaban Pertanyaan
1. Jelaskan perjalanan spermatozoa dari tempat pembuatannya (testis) sampai dikeluarkan
dari tubuh hewan jantan!
Jawab : Sperma dibentuk di dalam testis tepatnya di tubulus seminiferus melalui proses
yang disebut spermatogenesis. Setelah keluar dari testis (buah zakar) sperma akan
melalui epididymis, ductus deferens, ejaculatory duct, dan urethra kemudian akan
dikeluarkan dari tubuh melalui penis.
Epididimis merupakan tempat pematangan spermatozoa. Spermatozoa berada dalam
kondisi belum matang ketika meninggalkan testis dan harus menjalani periode
pematangan sekitar 10-15 hari dalam epididimis sebelum akhirnya mampu untuk
membuahi sel telur. Saluran ekor epididimis berlanjut sebagai duktus deferens, yang
berfungsi untuk membawa sperma dari testis ke uretra. Duktus deferens (vas deferens)
merupakan muskuler tube yang mengalami kontraksi peristaltik selama ejakulasi guna
mendorong spermatozoa dari epididimis ke urethra. Masing-masing vas deferens saat
sampai di ampula akan menyatui dengan saluran seminal vesicle dan membentuk saluran
ejakulasi. Saluran ini akan masuk kedalam prostrat dan berakhir di urethra. Urethra
terbentang mulai dari kandung kemih sampai saluran keluarnya di ujung penis.

2. Carilah berbagai abnormalitas morfologi sperma dan penyebabnya!


Jawab : Pada umumnya setiap penyimpangan morfologi dari struktur spermatozoa yang
normal dipandang sebagai abnormal. Abnormalitas spermatozoa dapat diidentifikasi
menjadi dua, yaitu abnormalitas primer dan sekunder. Abnormalitas primer disebabkan
karena kelainan spermatogenesis sejak berada di dalam tubulus seminiferus atau epitel.
Sedangkan abnormalitas sekunder terjadi sesudah spermatozoa meninggalkan tubulus
seminiferus, selama perjalanannya melalui epididimis, ejakulasi, manipulasi, pemanasan,
pendinginan yang terlalu cepat, kontaminasi dengan air, urin atau antiseptika (Hardijanto
dkk, 2010).
Abnormalitas primer meliputi kepala terlampau besar (macrocephalic), kepala
terlampau kecil (microcephalic), kepala pendek melebar, pipih memanjang, piriformis,
kepala rangkap, ekor berganda, bagian melipat, membengkok, membesar, bertaut abaxial
pada pangkal kepala, ekor melingkar, putus, terbelah. Abnormalitas sekunder termasuk
ekor yang putus, kepala tanpa ekor, bagian tengah yang melipat, adanya butiran
protoplasma proksimal atau distal dan akrosom terlepas. Identifikasi tersebut tidak
mutlak dan tidak mempunyai batas yang jelas, karena spermatozoa tanpa ekor dapat pula
disebabkan oleh gangguan patologik, aplikasi panas dan dingin pada testis atau defisiensi
makanan dan beberapa abnormalitas spermatozoa yang bersifat genetik.

K. Daftar Pustaka

Adnan. 2010. Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan. Jurusan Biologi FMIPA UNM.
Makassar.
Ashafahani, E.D., N.I. Wiratmini, & A.A.S.A. Sukmaningsih. 2010. Motilitas Dan Viabilitas
Spermatozoa Tikus (Mus musculus L.) Setelah Pemberian Ekstrak Temu Putih
(Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe.). JURNAL BIOLOGI. XIV (1): 20–23.
Campbell, Jane, B. Reece dan Laurence G. Mitchell. 2003. Biologi Umum Edisi kelima.
Jakarta: Erlangga.
Campbell, Neil. A. Mitchel dan Recee. 2004. Biologi Edisi kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga.
Kusumaswati, D. 2004. Bersahabat Dengan Hewan Coba. Gajah Mada. University Press:
Yogyakarta.
Pratiwi, DA. Biologi 2. Erlangga: Jakarta.
Radiopoero.1998. Zoologi. Erlangga: Jakarta.
Elfira, Dzikri dkk. 2010. Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Mencit (Mus musculus L.)
Setelah Pemberian Ekstrak Temu Putih (Curcuma Zedoaria). Jurnal Biologi.
Denpasar: Universitas Udayana.
Toelihere, M.R. 1985. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Bandung: Angkasa.
Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung: Angkasa.

L. Lampiran

Sperma yang terlihat pada bilik hitung dilihat


dengan menggunakan mikroskop

Anda mungkin juga menyukai