Anda di halaman 1dari 76

1

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA Tn. Y DENGAN DIAGNOSA FRAKTUR HUMERUS DI
RSUD DR. DORIS SYLVANUS
PALANGKARAYA

Di Susun Oleh:

NAMA : Fredrick Immanuel


NIM : 2018.C.10a.0968.

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2020/2021
2

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan Keperawatan ini di susun oleh :


Nama : Fredrick Immanuel
NIM : 2018.C.10a.0968
Program Studi : S-1 Keperawatan
Judul : Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada Tn. Y
Dengan Diagnos Medis Fraktur Humerus di RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya
Telah melakukan asuhan keperawatan sebagai persyaratan untuk
menyelesaikan Praktik Pra Klinik Keperawatan II (PPK II) Program Studi
Sarjana Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Eka Harap Palangkaraya.

Laporan keperawatan ini telah disetujui oleh :

Pembimbing Akademi Pembimbing Lahan

Mengetahui:
Ketua Program Studi S1 Keperawatan,

Meilitha Carolina, Ners., M.Kep

Kata Pengantar

i
3

Puji syukur  kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkah rahmat dan hidayahNya jugalah penyusunan laporan ini dapat
terselesaikan dalam bentuk yang sederhana.
Walaupun dalam penyusunan laporan ini memenuhi banyak kendala yang
dihadapi namun berkat dukungan dan motivasi dari semua pihak sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan ini.
Didalam menyelesaikan laporan ini masih banyak hambatan dan kendala
yang dihadapi, namun berkat dukungan dan kerja sama yang baik dari semua
pihak hingga penulis dapat menyelsaikan laporan ini tepat pada waktunya. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
terlibat.

Palangka Raya, 16 Okt 2020

Penyusun

ii
4

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. i


KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................3
1.3.1 Tujuan Umum ..............................................................3
1.3.2 Tujuan Khusus...............................................................3
1.4 Manfaat Penulisan..................................................................3
1.4.1 Untuk Mahasiswa..........................................................3
1.4.2 Untuk Klien dan Keluarga.............................................3
1.4.3 Untuk Institusi (Pendidikan dan Rumah Sakit).............3
1.4.4 Untuk IPTEK.................................................................4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Penyakit...........................................................5
2.1.1 Definisi .........................................................................5
2.1.2 Anatomi fisiologi ..........................................................5
2.1.3 Etiologi .........................................................................6
2.1.4 Klasifikasi .....................................................................8
2.1.5 Patofisiologi .................................................................9
2.1.6 Manisfestasi Klinis .......................................................13
2.1.7 Komplikasi ...................................................................15
2.1.8 Pemeriksa Penunjang ...................................................16
2.1.9 Penatalaksanaan Medis.................................................17
2.2 Konsep Dasar Manusia ..........................................................19
2.3 Manajemen Asuhan Keperawatan .........................................23
2.3.1 Pengkajian Keperawatan ..............................................23
2.3.2 Diagnosa Keperawatan .................................................25
2.3.3 Intervensi Keperawatan ................................................25

iii
5

2.3.4 Implementasi Keperawatan ..........................................26


2.3.5 Evaluasi keperawatan ...................................................26
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Pengkajian ..............................................................................27
3.1.1. Identitas Klien ..............................................................27
3.1.2. Riwayat Kesehatan/Perawatan .....................................27
3.1.3. Genogram .....................................................................28
3.1.4 Pemeriksaan fisik...........................................................29
3.2 Tabel Analisa Data..................................................................36
3.3 Rencana Keperawatan ...........................................................38
3.4 Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan...............................40

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan............................................................................42
4.2 Saran......................................................................................42
Daftar Pustaka

iv
1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang
melebihi kekuatan tulang. Fraktur dapat diklasifikasikan menurut garis fraktur
(transversal, spiral, oblik, segmental, komunitif), lokasi (diafise, metafise, epifise)
dan integritas dari kulit serta jaringan lunak yang mengelilingi (terbuka atau
compound dan tertutup).
Fraktur humerus adalah salah satu fraktur yang cukup sering terjadi. Insiden
terjadinya fraktur shaft humerus adalah 1-4% dari semua kejadian fraktur. 2
Fraktur shaft humerus dapat terjadi pada sepertiga proksimal, tengah dan distal
humerus.
Fraktur korpus humeri dapat terjadi semua usia. Pada bayi, humerus sering
mengalami fraktur pada waktu persalinan sulit, atau cedera non-accidental.
Fraktur ini dapat menyembuh dengan cepat dengan pembentukan kalus massif dan
tidak perlu perawatan. Pada orang dewasa, fraktur pada humerus tidak umum
terjadi. Terdapat beberapa jenis fraktur, tetapi dapat dirawat dengan cara yang
sama. Jika perawatan dilakukan dengan baik, maka tidak akan menimbulkan
masalah.
Komplikasi yang sering terjadi pada fraktur korpus humerus adalah cedera
nervus radialis.1-10 Biasanya hanya memar (neuropraksia) yang sembuh
sempurna secara spontan dalam waktu dua sampai empat minggu. Tetapi
kadang-kadang terjadi kerusakan yang permanen.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan,rumusan masalah dari
laporan ini,adalah:Bagaimana asuhan keperawatan yang komprehensif pada
pasien dengan diagnosa penyakit fraktur humerus?

1.3. Tujuan Penulisan


1.3.1. Tujuan Umum
2

Mahasiswa mampu melakukan dan memberikan tentang asuhan


keperawatan pada Tn.Y yang komprehensif dengan diagnosa fraktur
humerus di RSUD dr.Doris Sylavanus Palangka Raya ?
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar Fraktur Humerus
1.3.2.2. Mahasiswa mampu menjelaskan Manajemen Asuhan Keperawatan
Pada pasien Fraktur Humerus
1.3.2.3. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada Tn.Y di RSUD dr.
Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.4. Mahasiswa mampu menentukan diagnosa pada Tn.Y di RSUD dr.
Doris Sylvanus.
1.3.2.5. Mahasiswa mampu menentukan dan menyusun intervensi pada Tn.
Y di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.6. Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada
Tn. Y RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.7. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada Tn. Y di RSUD dr.
Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.8. Mahasiswa mampu menyusun dokumentasi keperawatan.

1.4. Manfaat Penulisan


1.4.1. Manfaat Bagi Penulis
Diharapkan agar mahasiswa dapat menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan dengan menerapkan proses keperawatan dan memanfaatkan
ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program
Studi S1 Keperawatan Stikes Eka Harap Palangka Raya.
1.4.2. Manfaat Bagi Klien dan Keluarga
Diharapkan dapat mengedukasi keluarga untuk dapat selalu menjaga
kesehatannya dan sebagai sumber informasi pada keluarga tentang Fraktur
Humerus.
1.4.3. Manfaat Bagi Institusi
3

Dapat digunakan sebagai informasi bagi institusi pendidikan dalam


pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan dimasa yang akan
datang.
1.4.4. Manfaat Bagi IPTEK.
Dapat berguna sebagai ilmu pengetahuan bagi setiap orang.
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Konsep Penyakit

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang


dan atau tulang rawan yang umumnya [ CITATION Hop11 \l 1033 ]. Sedangkan
fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung [ CITATION DeJ10 \l 1033 ].
Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2009), fraktur humerus adalah salah satu
jenis fraktur yang memerlukan penanganan segera, tanpa penanganan segera dapat
terjadi komplikasi kelumpuhan nervusradial, kerusakan nervus brachial, atau
median.

Dari uraian diatas maka penulis dapat disimpulkan bahwa fraktur humerus
adalah suatu keadaan diskontinuitas pada tulang humerus yang bisa disebabkan
oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung.

2.1.2.Anatomi Fisiologi

2.1.2.1 Tulang Humerus

Humerus (arm bone) merupakan tulang terpanjang dan terbesar


dari ekstremitas superior. Tulang tersebut bersendi pada bagian proksimal
dengan skapula dan pada bagian distal bersendi pada siku lengan dengan
dua tulang, ulna dan radius.3
Ujung proksimal humerus memiliki bentuk kepala bulat (caput
humeri) yang bersendi dengan kavitas glenoidalis dari scapula untuk
membentuk articulatio gleno-humeri. Pada bagian distal dari caput humeri
terdapat collum anatomicum yang terlihat sebagai sebuah lekukan oblik.
Tuberculum majus merupakan sebuah proyeksi lateral pada bagian distal
dari collum anatomicum. Tuberculum majus merupakan penanda tulang
bagian paling lateral yang teraba pada regio bahu. Antara tuberculum
majus dan tuberculum minus terdapat sebuah lekukan yang disebut
sebagai sulcus intertubercularis. Collum chirurgicum merupakan suatu
penyempitan humerus pada bagian distal dari kedua tuberculum, dimana
5

caput humeri perlahan berubah menjadi corpus humeri. Bagian tersebut


dinamakan collum chirurgicum karena fraktur sering terjadi pada bagian
ini.
Corpus humeri merupakan bagian humerus yang berbentuk seperti
silinder pada ujung proksimalnya, tetapi berubah secara perlahan menjadi
berbentuk segitiga hingga akhirnya menipis dan melebar pada ujung
distalnya. Pada bagian lateralnya, yakni di pertengahan corpus humeri,
terdapat daerah berbentuk huruf V dan kasar yang disebut sebagai
tuberositas deltoidea. Daerah ini berperan sebagai titik perlekatan tendon
musculus deltoideus.
Beberapa bagian yang khas merupakan penanda yang terletak pada
bagian distal dari humerus. Capitulum humeri merupakan suatu struktur
seperti tombol bundar pada sisi lateral humerus, yang bersendi dengan
caput radii. Fossa radialis merupakan suatu depresi anterior di atas
capitulum humeri, yang bersendi dengan caput radii ketika lengan
difleksikan. Trochlea humeri, yang berada pada sisi medial dari capitulum
humeri, bersendi dengan ulna. Fossa coronoidea merupakan
suatu depresi anterior yang menerima processus coronoideus ulna
ketika lengan difleksikan. Fossa olecrani merupakan suatu depresi
posterior yang besar yang menerima olecranon ulna ketika lengan
diekstensikan. Epicondylus medialis dan epicondylus lateralis merupakan
suatu proyeksi kasar pada sisi medial dan lateral dari ujung distal humerus,
tempat kebanyakan tendon otot-otot lengan menempel. Nervus ulnaris,
suatu saraf yang dapat membuat seseorang merasa sangat nyeri ketika siku
lengannya terbentur, dapat dipalpasi menggunakan jari tangan pada
permukaan kulit di atas area posterior dari epicondylus medialis.
Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas),
korpus, dan ujung bawah.
2.1.2.1.1 Kaput (Ujung Atas)
Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang
membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan
bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang
6

lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas


dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas
Mayor dan disebelah depan terdapat sebuahmbenjolan lebih kecil yaitu
Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus
intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah
tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.

2.1.2.1.2 Korpus

Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin


pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut
tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah
celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah
medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau
saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.

2.1.2.1.3 Ujung Bawah

Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi


dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi
sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan
ulna dan disebelah luar terdapat kapitulum yang bersendi dengan radius.
Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil
yaitu epikondil lateral dan medial. (Pearce, Evelyn C, 2011).

2.1.3. Etiologi

Kebanyakan fraktur dapat saja terjadi karena kegagalan tulang humerus


menahan tekanan terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan.
Trauma dapat bersifat:

2.1.3.1. Langsung

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan


terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.
7

2.1.3.2. Tidak Langsung

Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah


yang lebih jauh dari daerah fraktur. Yang patah biasanya adalah bagian yang
paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.

2.1.3.3. Kekerasan Akibat Tarikan Otot

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat
berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari
ketiganya, dan penarikan.

2.1.3.4. Tekanan Pada Tulang Berupa :

a) Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral


b) Tekanan membengkok yang meny ebabkan fraktur transversal
c) Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat meny ebabkan fraktur
impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi
d) Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau
memecah
e) Trauma oleh karena remuk
f) Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik
sebagian tulang

2.1.4. Klasifikasi

2.1.4.1 Fraktur suprakondilar humerus

a) Tipe Ekstensi
Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan
bawah dalam posisi supinasi. Hal ini menyebabkan fraktur pada
suprakondilar, fragmen distal humerus akan mengalami dislokasi
keanterior dari fragmen proksimalnya.

b) Tipe Fleksi
8

Trauma terjadi ketika posisi siku dalam keadaan fleksi, sedang lengan
bawah dalam keadaan pronasi. Hal ini megakibatkan fragmen distal
humerus mengalami dislokasi keposterior dari fragmen proksimalnya.
Hal ini akan menyebabkan komplikasi jika terjadi penekanan pada
arteri brakialis yang disebut dengan iskemia volkmanss. Timbulnya
sakit, denyut arteri radialis berkurang, pucat, rasa kesemutan, dan
kelumpuhan.

2.1.4.2 Fraktur interkondilar humerus

Pada fraktur ini bentuk garis patah yang terjadi berupa bentuk huruf Y
atau T. Nampak didaerah sibu tampak jejas pembengkakan, kubiti varus
atau kubiti valgus.

2.1.4.3 Fraktur Batang Humerus

Biasanya terjadi pada penderita dewasa, terjadinya karena trauma


langsung yang menyebabkan garis patah transversal atau kominutif.
Terjadi functio laesa lengan atas yang cedera, untuk menggunakan siku
harus dibantu oleh tangan yang sehat

2.1.4.4 Fraktur Kolom Humerus

Sering terjadi  pada wanita tua karena osteoporosis. Biasanya berupa


fraktur impaksi. Ditandai dengan sakit didaerah bahu tetapi fungsi lengan
masih baik karena fraktur impaksi merupakan fraktur yang stabil.

2.1.5 Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang
lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada
tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.
Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam
korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di
rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang
yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya
9

respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan


leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. ini merupakan dasar penyembuhan
tulang
10
1
1
2
Trauma pada tulang Gerakan pintir mendadak Tekanan yang berulang (kompresi) Keadaan patologis
(Kecelakaan)

FRAKTUR HUMERUS MRS MK : Ansietas

Diskontiunitas tulang Pergeseran fragmen tulang

B I (BREATHING) B 2 (BLOOD) B 3 (BRAIN) B 4 (BLADDER) B 6 (BONE)

Perubahan Perubahan
Perubahan jaringan Perubahan jaringan Pergeseran fragmen Perubahan jaringan
jaringan jaringan sekitar
sekitar sekitar tulang sekitar
sekitar

Inflamasi Laserasi kulit Laserasi kulit


Laserasi kulit Spasme otot Nyeri saat
beraktifitas
Merangsang Terputusnya vena / Ada luka
Terputusnya vena/ Peningkatan tekanan
neurotransmiter arteri terbuka
arteri kapiler Aktivitas
terhambat
Hipotalamus perdarahan Sebagai media
perdarahan Pelepasan histamin masuknya virus
MK : penyebab infeksi
Gangguan
Suplai O2 oleh darah Protein plasma hilang Reseptor nyeri Perdarahan Mobilitas
Fisik MK :
Persepsi nyeri Risiko Infeksi
Kebutuhan O2 Edema Kehilangan volume
Kerusakan
cairan integritas Kulit
Penekanan pembuluh MK : Nyeri Akut
Takipnea, dispnea
darah
MK : Kekurangan
MK: perfusi jaringan Volume Cairan
Ketidakefektifan
Pola Napas
MK : Ketidakefektifan Perfusi
Jaringan Perifer
1

2.1.6. Manifestasi Klinis (Tanda dan Gejala)


Secara umum tanda dan gejala fraktur yang terjadi biasanya seperti menurut
M. Clevo & Margareth, tahun 2012 :
1. Pada tulang traumatik dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri.
Setelah terjadi patah tulang terjadi spasme otot yang menambanh rasa
nyeri. Fraktur patologis mungkin tidak disertai nyeri
2. Bengkak dan nyeri tekan: edema muncul secara cepat dari lokasi dan
ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur
3. Deformitas: Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang
berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi
seperti :
i. Rotasi pemendekan tulang
ii. Penekanan tulang
4. Mungkin tampak jelas posisi tulang dan ekstermitas yang tidak alami
5. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
6. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
7. Tenderness/keempukan
8. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari
tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
9. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya
saraf/perdarahan)
10. Pergerakan abnormal
11. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
12. Krepitas

2.1.6 Komplikasi
2.1.6.1 Komplikasi awal
a) Kerusakan arteri: pecahnya arteri karena trauma bisa di tandai dengan
tidak adanya nadi, CRT menurun, cianosis bagian distal, hematoma yang
lebar dan dingin pada ekstermitas
b) Kompartement syndrom
2

Merupakan  komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot,


tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut.
c) Fat embolism syndrom
Yang paling sering terjadi pada fraktur tulang panjang. Terjadi karena
sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning masuk kealiran darah
dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang ditandai
dengan gangguan pernafasan, takikardi, hipertensi, tachypnea, demam
d) Infeksi: jika  sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada
jaringan.
e) Avaskuler nekrosis
Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa
menyebabkan nekrosis tulang
f) Shock: karena kehilangan banyak darah
2.1.6.2 Komplikasi dalam waktu lama
a) Delayed union
Kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan
tulang untuk menyambung karena penurunan suplai darah ke tulang.
b) Nonunion
Merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi
sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Ditandai
dengan pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi
palsu atau pseudoarthritis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.
c) Malunion
Penyembuhan tulang yang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan
dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan
pembedahan dan reimmobilisasi yang baik.
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa
penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah.

2. Radiologi
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis fraktur
(transversa, spiral atau kominutif) dan pergeseran lainnya dapat terbaca
jelas). Radiografi humerus AP dan lateral harus dilakukan. Sendi bahu dan
3

siku harus terlihat dalam foto. Radiografi humerus kontralateral dapat


membantu pada perencanaan preoperative. Kemungkinan fraktur patologis
harus diingat. CT-scan, bone-scan dan MRI jarang diindikasikan, kecuali
pada kasus dengan kemungkinan fraktur patologis. Venogram/anterogram
menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur
fraktur yang lebih kompleks.

2.1.8 Penatalaksanaan Medis

2.1.8.1 Konservatif
Pada umumnya, pengobatan patah tulang shaft humerus dapat
ditangani secara tertutup karena toleransinya yang baik terhadap angulasi,
pemendekan serta rotasi fragmen patah tulang. Angulasi fragmen sampai
300 masih dapat ditoleransi, ditinjau dari segi fungsi dan kosmetik. Hanya
pada patah tulang terbuka dan non-union perlu reposisi terbuka diikuti
dengan fiksasi interna.
Dibutuhkan reduksi yang sempurna disamping imobilisasi; beban
pada lengan dengan cast biasanya cukup untuk menarik fragmen ke garis
tengah. Hanging cast dipakai dari bahu hingga pergelangan tangan dengan
siku fleksi 90° dan bagian lengan bawah digantung dengan sling disekitar
leher pasien. Cast (pembalut) dapat diganti setelah 2-3 minggu dengan
pembalut pendek (short cast) dari bahu hingga siku atau functional
polypropylene brace selama ± 6 minggu.
Pergelangan tangan dan jari-jari harus dilatih gerak sejak awal.
Latihan pendulum pada bahu dimulai dalam 1 minggu perawatan, tapi
abduksi aktif ditunda hingga fraktur mengalami union. Fraktur spiral
mengalami union sekitar 6 minggu, variasi lainnya sekitar 4-6 minggu.
Sekali mengalami union, hanya sling (gendongan) yang dibutuhkan hingga
fraktur mengalami konsolidasi.
Pengobatan non bedah kadang tidak memuaskan pasien karena pasien
harus dirawat lama. Itulah sebabnya pada patah tulang batang humerus
dilakukan operasi dan pemasangan fiksasi interna yang kokoh.
4

Berikut beberapa metode dan alat yang digunakan pada terapi


konservatif:
a. Hanging cast
Indikasi penggunaan meliputi pergeseran shaft tengah fraktur humerus
dengan pemendekan, terutama fraktur spiral dan oblik. Penggunaan
pada fraktur transversa dan oblik pendek menunjukkan kontraindikasi
relatif karena berpotensial terjadinya gangguan dan komplikasi pada
saat penyembuhan. Pasien harus mengangkat tangan atau setengah
diangkat sepanjang waktu dengan posisi cast tetap untuk efektivitas.
Seringkali diganti dengan fuctional brace 1-2 minggu pasca trauma.
Lebih dari 96% telah dilaporkan mengalami union.
b. Coaptation splint
Diberikan untuk efek reduksi pada fraktur tapi coaptation splint
memiliki stabilitas yang lebih besar dan mengalami gangguan lebih
kecil daripada hanging arm cast. Lengan bawah digantung dengan
collar dan cuff. Coaptation splint diindikasikan pada terapi akut
fraktur shaft humerus dengan pemendekan minimal dan untuk jenis
fraktur oblik pendek dan transversa yang dapat bergeser dengan
penggunaan hanging arm cast. Kerugian coaptation splint meliputi
iritasi aksilla, bulkiness dan berpotensial slippage. Splint seringkali
diganti dengan fuctional brace pada 1-2 minggu pasca trauma.
c. Thoracobranchial immobilization (velpeu dressing)
Biasanya digunakan pada pasien lebih tua dan anak-anak yang tidak
dapat ditoleransi dengan metode terapi lain dan lebih nyaman jadi
pilihan. Teknik ini diindikasikan untuk pergeseran fraktur yang
minimal atau fraktur yang tidak bergeser yang tidak membutuhkan
reduksi. Latihan pasif pendulum bahu dapat dilakukan dalam 1-2
minggu pasca trauma.

d. Shoulder spica cast


Teknik ini diindikasikan pada jenis fraktur yang mengharuskan
abduksi dan eksorotasi ektremitas atas. Kerugian teknik ini meliputi
5

kesulitan aplikasi cast, berat cast dan bulkiness, iritasi kulit,


ketidaknyamanan dan kesusahan memposisikan ektremitas atas.
e. Functional bracing
Memberikan efek kompresi hidrostatik jaringan lunak dan
mempertahankan aligment fraktur ketika melakukan pergerakan pada
sendi yang berdekatan. Brace biasanya dipasang selama 1-2 minggu
pasca trauma setelah pasien diberikan hanging arm cast atau
coaptation splint dan bengkak berkurang. Kontraindikasi metode ini
meliputi cedera massif jaringan lunak, pasien yang tidak dapat
dipercaya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan asseptabilitas
reduksi. Collar dan cuff dapat digunakan untuk menopang lengan
bawah; aplikasi sling dapat menghasilkan angulasi varus (kearah
midline).
2.1.8.2 Tindakan operatif
Pasien kadang-kadang mengeluh hanging cast tidak nyaman,
membosankan dan frustasi. Mereka bisa merasakan fragmen bergerak dan
hal ini kadang-kadang cukup dianggap menyusahkan. Hal penting yang
perlu diingat bahwa tingkat komplikasi setelah internal fiksasi pada
humerus tinggi dan sebagian besar fraktur humerus mengalami union
tanpa tindakan operatif.
Meskipun demikian, ada beberapa indikasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan, diantaranya:
 Cedera multiple berat
 Fraktur terbuka
 Fraktur segmental
 Fraktur ekstensi intra-artikuler yang bergeser
 Fraktur patologis
 Siku melayang (floating elbow) – pada fraktur lengan bawah
(antebrachi) dan humerus tidak stabil bersamaan
 Palsi saraf radialis (radial nerve palsy) setelah manipulasi
 Non-union

Fiksasi dapat berhasil dengan;


6

1. Kompresi plate and screws


2. Interlocking intramedullary nail atau pin semifleksibel
3. External Fixation

Plating menjadikan reduksi dan fiksasi lebih baik dan memiliki


keuntungan tambahan bahwa tidak dapat mengganggu fungsi bahu dan
siku. Biar bagaimanapun, ini membutuhkan diseksi luas dan perlindungan
pada saraf radialis. Plating umumnya diindikasikan pada fraktur humerus
dengan kanal medulla yang kecil, fraktur proksimal dan distal shaft
humerus, fraktur humerus dengan ekstensi intraartikuler, fraktur yang
memerlukan eksplorasi untuk evaluasi dan perawatan yang berhubungan
dengan lesi neurovaskuler, serta humerus non-union.
Interlocking intramedullary nail diindikasi pada fraktur segmental
dimana penempatan plate akan memerlukan diseksi jaringan lunak, fraktur
humerus pada tulang osteopenic, serta pada fraktur humrus patologis.
Antegrade nailing terbentuk dari paku pengunci yang kaku (rigid
interlocking nail) yang dimasukkan kedalam rotator cuff dibawah control
(petunjuk) fluoroskopi. Pada cara ini, dibutuhkan diseksi minimal namun
memiliki kerugian, yaitu menyebabkan masalah pada rotator cuff pada
beberapa kasus yang berarti. Jika hal ini terjadi, atau apabila nail keluar
dan fraktur belum mengalami union, penggantian nailing dan bone grafting
mungkin diperlukan; atau dapat diganti dengan external fixator.
Retrograde nailing dengan multiple flexible rods dapat
menghindari masalah tersebut, tapi penggunaannya lebih sulit, secara luas
kurang aplikatif dan kurang aman dalam mengontrol rotasi dari sisi yang
fraktur.
External fixation mungkin merupakan pilihan terbaik pada fraktur
terbuka dan fraktur segmental energy tinggi. External fixation ini juga
prosedur penyelamatan yang paling berguna setelah intermedullary nailing
gagal. Indikasi umumnya pada fraktur humerus dengan non-union infeksi,
defek atau kehilangan tulang, dengan luka bakar, serta pada luka terbuka
dengan cedera jaringan lunak yang luas.
7

2.2 Manajemen Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan,
untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien
sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan
proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:

2.2.1.1 Anamnesa
a)  Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register,
tanggal MRS, diagnosa medis.
b)        Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri
tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
(1)      Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi
faktor presipitasi nyeri.
(2)         Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan
klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
(3)         Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
(4)        Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien,
bisa berdasarkan  skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit
mempengaruhi kemampuan fungsinya.
(5)        Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari. (Ignatavicius, Donna D, 1995)
c)       Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur,
yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini
bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu,
8

dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka


kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
d)      Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-
penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan
fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit
diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut
maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
(Ignatavicius, Donna D, 1995).
e)       Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan
salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis
yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).
f)        Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam
kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
(Ignatavicius, Donna D, 1995).
g)       Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1)   Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada
dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup
klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme
kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan
apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995).
(2)   Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-
harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu
proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
9

menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi


dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar
matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal
terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan
mobilitas klien.
(3)   Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi
walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces
pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,
kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada
kesulitan atau tidak. (Keliat, Budi Anna, 1991)
(4)   Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini
dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian
dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan
kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 1999).
(5)   Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan
klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang
lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan
klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur
dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(6)   Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.
Karena klien harus menjalani rawat inap  (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(7)   Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan
kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan
aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan
body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(8)   Pola Sensori dan Kognitif
10

Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal
fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada
kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat
fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(9)   Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan
seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri
yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk
jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995).
10)   Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping
yang ditempuh klien bisa tidak efektif (Ignatavicius, Donna D, 1995).
11)   Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan
baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan
keterbatasan gerak klien (Ignatavicius, Donna D, 1995).

2.2.2.2 Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk
mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). Hal ini perlu
untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana
spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih
mendalam.
a)       Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
(1)   Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
(a)    Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung
pada keadaan klien.
(b)   Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada
kasus fraktur biasanya akut.
11

(c)    Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun
bentuk.
(2)   Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
(a)    Sistem Integumen : Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma
meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.
(b)   Kepala : Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
(c)    Leher : Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
(d)   Muka : Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi
maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
(e)    Mata : Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak
terjadi perdarahan)
(f)    Telinga : Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi
atau nyeri tekan.
(g)   Hidung : Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
(h)   Mulut dan Faring : Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan,
mukosa mulut tidak pucat.
(i)     Thoraks : Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
(j)     Paru
(1)   Inspeksi : Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
(2)   Palpasi : Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3)   Perkusi :Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
(4)   Auskultasi : Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.
(k)   Jantung
(1)   Inspeksi : Tidak tampak iktus jantung.
(2)   Palpasi : Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3)   Auskultasi : Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
(l)     Abdomen
(1)   Inspeksi : Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
12

(2)   Palpasi : Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
(3)   Perkusi : Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(4)   Auskultasi : Peristaltik usus normal  20 kali/menit.
(m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
b)       Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai
status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah:
(1)   Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
(a)    Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas
operasi).
(b)   Cape au lait spot (birth mark).
(c)    Fistulae.
(d)   Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
(e)    Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa
(abnormal).
(f)    Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(g)   Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
(2)   Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari
posisi netral (posisi anatomi). Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang
memberikan informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
(a)    Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
(b)   Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama
disekitar persendian.
(c)    Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3
proksimal,tengah, atau distal).
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang terdapat di
permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status
neurovaskuler. Apabila ada benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan
13

permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau  permukaannya,


nyeri atau tidak, dan ukurannya.
(3)   Move (pergeraka terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakan
ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan
lingkup gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan
sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari tiap arah
pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik.
Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak.
Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif.
(Reksoprodjo, Soelarto, 1995)
3)    Pemeriksaan Diagnostik
a)    Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan”
menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi
keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP
atau PA dan lateral. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan
(khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya
superposisi. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi 
kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan.
Hal yang harus dibaca pada x-ray:
(1)   Bayangan jaringan lunak.
(2)   Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau
juga rotasi.
(3)   Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
(4)   Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:
(1)   Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain
tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang
kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga
mengalaminya.
14

(2)   Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh


darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
(3)   Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda
paksa.
(4)   Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara
transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.
b)       Pemeriksaan Laboratorium
(1)   Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
(2)   Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang.
(3)   Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase  (LDH-5),
Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
c)       Pemeriksaan lain-lain
(1)    Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan
mikroorganisme penyebab infeksi.
(2)    Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
(3)    Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan
fraktur.
(4)    Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma
yang berlebihan.
(5)    Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada
tulang.
(6)    MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
(Ignatavicius, Donna D, 1995)

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


2.2.2.1 Nyeri akut b.d pergeseran fragmen tulang SDKI (D.0077 : Hal 172)
2.2.2.2 Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan dan
ketahanan, SDKI (D.0054: Hal 124)
15

2.2.2.3 Resiko Infeksi berhubungan dengan Kerusakan integritas kulit, SDKI


(D.0142 : Hal 304)

2.2.2.4 Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


b/d kurang terpajan terhadap informasi, kurang akurat/lengkapnya informasi yang
ada. SDKI (D.0111: Hal 246)

2.2.3 Intervensi Keperawatan

Diagnosa Tujuan (Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan hasil)
1. Nyeri akut 1)      Menyatakan 1)      Tutup luka - Suhu berubah dan
berhubungan dengan nyeri berkurang  sesegera mungkin, tekanan udara dapat
pergeseran fragmen atau terkontrol kecuali perawatan luka menyebabkan nyeri
tulang SDKI (D.0077 : 2)      Menunjukkan bakar metode hebat pada
Hal 172) ekspresi wajah atau pemejanan pada udara pemajanan ujung
postur tubuh rileks terbuka saraf.
3)      Berpartisipasi 2)      Ubah pasien - Gerakan dan
dalam aktivitas dari yang sering dan latihan menurunkan
tidur atau istirahat rentang gerak aktif kekuatan sendi dan
dengan tepat dan pasif sesuai kekuatan otot tetapi
indikasi tipe latihan
3)      Pertahankan tergantung indikasi
suhu lingkungan dan luas cedera
nyaman, berikan - Pengaturan suhu
lampu penghangat dan dapat hilang karena
penutup tubuh luka bakar mayor,
4)      Kaji keluhan sumber panas
nyeri pertahankan eksternal perlu
lokasi, karakteristik untuk mencegNyeri
dan intensitas (skala 0- hampir selalu ada
10) pada derajat
5)      Dorong ekspresi beratnya,
16

perasaan tentang nyeri keterlibatan


6)      Dorong jaringan atau
penggunaan tehnik kerusakan tetapi
manajemen stress, biasanya paling
contoh relaksasi, nafas berat selama
dalam, bimbingan penggantian
imajinatif dan balutan dan
visualisasi. debridement.ah
7)      Kolaborasi menggigil.
pemberian analgetik - Pernyataan
memungkinkan
pengungkapan
emosi dan dapat
meningkatkan
mekanisme koping.
- Memfokuskan
kembali perhatian,
memperhatikan
relaksasi dan
meningkatkan rasa
control yang dapat
menurunkan
ketergantungan
farmakologi.
- Dapat
menghilangkan
nyeri
2.Resiko Infeksi Tidak ada tanda- 1)      Implementasika - Tergantung tipe
berhubungan dengan tanda infeksi : n tehnik isolasi yang atau luasnya luka
Kerusakan integritas 1)      Menunjukkan tepat sesuai indikasi untuk menurunkan
kulit, SDKI (D.0142 : regenerasi jaringan 2)      Tekankan resiko kontaminasi
Hal 304) 2)      Mencapai pentingnya tehnik cuci silang atau terpajan
penyembuhan tepat tangan yang baik pada flora bakteri
17

waktu pada area luka untuk semua individu multiple.


bakar yang datang kontak ke - Mencegah
pasien kontaminasi silang
3)      Cukur rambut - Rambut media baik
disekitar area yang untuk pertumbuhan
terbakar meliputi 1 bakteri
inci dari batas yang - Infeksi oportunistik
terbakar (misal : Jamur)
4)      Periksa area seringkali terjadi
yang tidak terbakar sehubungan dengan
(lipatan paha, lipatan depresi sistem imun
leher, atau proliferasi
membran mukosa ) flora normal tubuh
5)      Bersihkan selama terapi
jaringan nekrotik yang antibiotik
lepas (termasuk sistematik.
pecahnya lepuh) - Meningkatkan
dengan gunting dan penyembuhan
forcep. - Mencegah
6)      Kolaborasi terjadinya infeksi
pemberian antibiotik
3. Gangguan mobilitas Menyatakan dan 1)     Pertahankan - Meningkatkan
fisik berhubungan menunjukkan posisi tubuh tepat posisi fungsional
dengan penurunan keinginan dengan dukungan atau pada ekstermitas
fungsi tulang, SDKI berpartisipasi dalam khususnya untuk luka dan mencegah
(D.0054: Hal 124) aktivitas, bakar diatas sendi. kontraktor yang
mempertahankan 2)     Lakukan latihan lebih mungkin
posisi, fungsi rentang gerak secara diatas sendi.
dibuktikan oleh konsisten, diawali - Mencegah secara
tidak adanya pasif kemudian aktif progresif,
kontraktor, 3)     Instruksikan dan mengencangkan
mempertahankan Bantu dalam jaringan parut dan
atau meningkatkan mobilitas, contoh kontraktor,
18

kekuatan dan fungsi tingkat walker secara meningkatkan


yang sakit dan atau tepat. pemeliharaan
menunjukkan tehnik fungsi otot atau
atau perilaku yang sendi dan
memampukan menurunkan
aktivitas. kehilangan kalsium
dan tulang.
- Meningkatkan
keamanan ambulasi
4. Defisit 1. Perilaku sesuai 1. Kaji ulang - Memberikan dasar
pengetahuan anjuran meningkat pengetahuan klien pengetahuan,
tentang kondisi, (5) 2. Kaji kesiapan dimana klien dapat
prognosis dan 2. Persepsi yang klien mengikuti membuat pilihan
kebutuhan keliru terhadap program untuk intervensi
pengobatan b/d masalah pembelajaran. selanjutnya
kurang terpajan meningkat (1) 3. Diskusikan - Efektivitas proses
terhadap 3. Perilaku sesuai metode mobilitas pemeblajaran
informasi, dengan dan ambulasi dipengaruhi oleh
kurang pengetahuan sesuai program kesiapan fisik dan
akurat/lengkapn meningkat (5) terapi fisik. mental klien untuk
ya informasi 4. Ajarkan mengikuti program
yang ada. SDKI tanda/gejala klinis pembelajaran.
(D.0111: Hal yang memerlukan - Meningkatkan
246) evaluasi medik partisipasi dan
(nyeri berat, kemandirian klien
demam, dalam perencanaan
perubahan sensasi dan pelaksanaan
kulit distal program terapi
cedera). fisik.
5. Ajarkan klien - Meningkatkan
tentang persiapan kewaspadaan klien
pasca operasi untuk mengenali
(nafas dalam, tanda/gejala dini
19

ambulasi dini). yang memerlukan


intervensi lebih
lanjut.
- Pada pasca operasi
resiko terjadi
seperti pneumonia
hipostatik, nyeri.
meningkatkan
pemahaman
sehingga resiko
komplikasi pasca
dapat berkurang
- Upaya pembedahan
mungkin
diperlukan untuk
mengatasi masalah
sesuai kondisi
klien.

2.3.2 Implementasi Keperawatan


Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dan
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Pada
tahap ini, perawat sebaiknya tidak bekerja sendiri, tetapi perlu melibatkan
secara integrasi semua profesi kesehatan yang menjadi tim perawatan
(Setiadi, 2010).

2.3.3 Evaluasi Keperawatan


Tahap terakhir dari proses keperawatan adalah evaluasi. Tahap
penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana
tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
20

dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan pasien dengan tenaga


kesehatan lainnya.
21

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
2.3 Identitas Mahasiswa
Nama Mahasiswa : Fredrick Immanuel
NIM : 2018.C.10a.0968
Ruang Praktek :-
Tgl Praktek : 16 Okt 2020
Jam Pengkajian : 08:00 WIB

2.4 Pengkajian
2.4.2 Identitas Klien
Nama : Tn.Y
Umur : 40 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Suku/Bangsa : Dayak/Indonesia
Agama : Kristen
Pekerjaan : Buruh Kayu
Pendidikan : SMA
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Jln. Puntun
TGL MRS : 16 Okt 2020
Diagnosa Medis : Fraktur Humerus
2.4.3 Riwayat Kesehatan
2.4.3.1 Keluhan Utama
Pasien mengatakan nyeri di bagian lengan kanan atas.
P : Nyeri timbul Kadang-kadang
Q : Nyeri seperti di Tusuk-tusuk
R : Nyeri di Regio Humerus Dextra
S : Skala nyeri 8
T : Waktu 4 jam
2.4.3.2 Riwayat Penyakit Sekarang
22

Pada saat dilakukan pengkajianklien mengatakan, setelah mengalami


kecelakaan pada tanggal 16 Oktober 2020 jam 07.00 WIB nyeri daerah
lengan atas tangan kanan terus-menerus, rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk
benda tajam, bertambah nyeri pada saat tangan digerakan, nyeri terasa
hanya di sekitar luka dengan skala nyeri 8 (skala 0 – 10), Pasien masih
berunding dengan keluarga terkait rencana tindakan operasi.

2.4.3.3 Riwayat Penyakit Dahulu


Klien mengatakan belum pernah mengalami sakit seperti sekarang
2.4.3.4 Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan di keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit yang
sama seperrti yang dialaminya sekarang
2.4.3.5 Genogram Keluarga

: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Sudah meniinggal
: Serumah

2.4.4 Pemeriksaan Fisik


2.4.4.1 Keadaan umum
Pasien terlihat kesakitan pada lengan bagian kanan atas Luka pasien
tampak panjang ± 9 cm Luka pasien tampak memerah dan terasa panas
23

dan tampak lemah dan kesadaran composmentis. GCS: E = 4 M = 5 V =


5. Pasien terpasang oksigen nasal kanul 2L/m
2.4.4.2 Status Mental
Tingkat kesadaran compos menthis, ekspresi wajah meringis, bentuk
badan simetris, cara berbaring terlentang tidak dapat bergerak bebas,
berbicara bisa, suasana hati gelisah.

2.4.4.3 Tanda-Tanda Vital


Pada saat pengkajian Suhu klien 36.7oC Axilla, Nadi 65x/menit,
Pernapasan 21x/menit dan Tekanan Darah 120/80 mmHg.

2.4.4.4 Pernafasan (Breathing)


Bentuk dada klien teraba simetris, klien memiliki kebiasaan merokok = ±2
bungkus/hari, nafas klien tersengal-sengal cepat pendek, type
pernapasanan klien tampak menggunakan dada, irama pernapasan teratur
dan suara nafas klien vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada Masalah Keperawatan

2.4.4.5 Cardiovasculer (Bleeding)


Terdapat nyeri di bagian dada, cappilary refill ≤2 detik, pasien tidak pucat,
tidak ada peningkatan Vena Jugularis, Bunyi Jantung Lup-Dup, irama
Reguller.
Keluhan lainnya : Tidak Ada Masalah Keperawatan

2.4.4.6 Persyarafan (Brain)


1. Fungsi cerebral/kortikal
- Tingkat Kesadaran Menurut GCS
E : 4  Klien dapat spontan membuka mata
M : 6  Klien dapat bergerak menurut perintah
V : 5  Klien dapat berbicara dengan baik, tidak ada
disorientasi tempat, waktu dan orang.
GCS : 15
Kesadaran compos menthis
- Oraientasi Terhadap Orang, Tempat dan Waktu
Klien merespon ketika dipanggil namanya, klien bisa menyebutkan
nama masing-masing anaknya. Klien mengetahui bahwa ia sedang
dirawat di RS. Doris Sylvanys di Ruang Nusa Indah, klien mengetahui
24

kapan dia dibawa ke RS. Doris Sylvanus untuk berobat oleh


keluarganya.
- Daya Ingat dan Memori
 Klien dapat mengingat tadi pagi pukul 07.00 WIB klien dibawa
ke UGD untuk diperiksa.
 Klien dapat mengingat sebelum dilakukan pemeriksaan fisik
oleh perawat klien dibantu keluarga berjalan ke WC untuk
buang air kecil.
- Bicara
Klien dapat berbicara dengan baik dan berkomunikasi dengan perawat
dan keluarganya dengan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak. Klien
dapat mengulang kata-kata yang diucapkan perawat dan mengerti apa
yang diucapkan perawat.

2. Sistem Saraf Kranial


- Nervus Kranial I : Klien mampu membedakan bau tidak enak dari kopi
dan kayu putih.
- Nervus Kranial II : Klien dapat membaca papan nama perawat dengan
benar pada jarak + 25 cm, lapang pandang klien baik, klien dapat
melihat jari tangan perawat dengan pandangan perifer pada sudut 900C.
- Nervus Kranial III : Reaksi pupil terhadap cahaya miosis, bola mata
dapat digerakan ke dalam dan ke atas, klien dapat mengangkat alis
dengan simetris.
- Nervus Kranial IV : Bola mata dapat bergerak ke bawah dan ke luar
- Nervus Kranial V : Otot messeter dapat diraba saat mengunyah, terasa
pergerakan tangan pada kulit kepala, klien dapat merasakan rangsangan
halus dari tissue pada kulit wajah.
- Nervus Kranial VI : Bola mata klien dapat digerakan ke arah lateral
- Nervus Kranial VII : Klien dapat merasakan rasa kopi dan gula, klien
bisa tersenyum dan mengerutkan dahi.
- Nervus Kranial VIII : Klien mampu mendengarkan gesekan rambut,
dari hasil tes rinne, webber dan swabach tidak ada kelainan.
25

- Nervus Kranial IX : Klien dapat menelan dengan baik


- Nervus Kranial X : Klien dapat berbicara dengan baik, uvula terangkat
ke atas saat klien mengatan “ah”.
- Nervus Kranial XI : Pergerakan rotasi kepala klien baik dapat menahan
tekanan pada kepala, klien dapat menahan tekanan pada bahu dan dapat
mengangkat bahu ke atas dengan baik.
- Nervus Kranial XII : Klien dapat menggerakan lidah ke kiri, kanan, atas
dan bawah
Keluhan lainnya : Klien mengatakan merasa nyeri di bagian tangan
kanan
Masalah Keperawatan: Nyeri akut

2.4.4.7 Eliminasi Uri ((Bladder)


Produksi urine 1200 ml 4x6/hari warna urine kuning jernih, bau urine
amoniak. Eliminasi Tn. Y tidak ada masalah atau lancar keluhan dan
masalah keperawatan.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah.

2.4.4.8 Eliminasi Alvi (Bowel)


Sistem pencernaan, bibir terlihat tampak kering, tidak ada lesi. Gigi lengkap
(atas, bawah, kanan dan kiri) tidak caries, gusi tidak ada peradangan dan
perdarahan, lidah berwana merah muda dan tidak ada peradangan, tidak ada
perdarahan pada mukosa, tidak ada peradangan pada tonsil, tidak ada
keluhan nyeri pada tenggorokan saat menelan. Palpasi abdomen tidak teraba
massa dan tidak ada nyeri tekan pada abdomen. Tidak ada hemoroid pada
rectum. Pasien BAB 1x sehari warna kuning dan lunak konsistensinya.

2.4.4.9 Tulang-Otot-Integumen (Bone)


Pergerakan Tn. Y secara tidak bebas dan terbatas, di bagian tangan kanan
terdapat fraktur di bagian tulang humerus dan ekstremitas bawah normal
pergerakanya. Terdapat peradangan maupun deformitas pada tulang, dan
terdapat patah tulang di bagian tangan kanan.
Keluhan Lainnya : Klien mengeluh susah untuk bergerak dan nyeri
dibagian tangan kanan.
Masalah Keperawatan : Kerusakan mobilitas fisik dan Nyeri Akut

2.4.5 Pola Fungsi Kesehatan


2.4.5.1 Persepsi Klien Dengan Kesehatan dan Penyakit
26

Pasien mengetahui keadaannya yang sedang tidak sehat dan klien


mengetahui tentang penyakitnya.

2.4.5.2 Nutrisi dan Metabolisme


Tinggi badan 160 cm, berat badan sebelum sakit 48 kg, berat badan saat
sakit 45 kg. Tidak kesukaran menelan atau normal.

BB 48 48
Pola Makan Sehari-hari = =
Sesudah =21
Sakit Sebelum Sakit
TB(m) ² (1,5)² 2,25
Frekuensi/hari 3x1 sehari 3-4x1 sehari
21 = BB sedang 18-25
Porsi 1 porsi Rumah Sakit 1-2 porsi
Nafsu makan Baik Baik
Jenis makanan Nasi, lauk, sup, sayur Nasi, sayur, lauk, sayur
dan buah
Jenis minuman Air putih Bebas
Jumlah minuman/cc/24 jam ± 1600cc ± 1800cc
Kebiasaan makan Dibantu perawat dan Mandiri, teratur
keluarga, teratur
Keluhan/masalah Tidak Ada Tidak Ada

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

2.4.5.3 Pola Istirahat dan Tidur


Pasien mengatakan tidur 7 jam/hari dan pasien mengatakan tidak
mengalami gangguan pola tidur.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

2.4.5.4 Kognitif
Pasien dan keluarga sudah mengetahui penyakitnya setelah diberikan
penjelasan dari dokter dan tenaga medis lainnya.
Masalah Keperawatan: Tidak Ada Masalah Keperawatan

2.4.5.5 Konsep diri (Gambaran diri, ideal diri, identitas diri, harga diri,
peran)
Klien mengatakan tidak senang dengan keadaan yang dialaminya saat ini,
klien ingin cepat sembuh dari penyakitnya. Klien adalah seorang ayah,
klien orang yang ramah, klien adalah seorang kepala keluarga.
27

Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.

2.4.5.6 Koping-Toleransi terhadap stress


Klien mengatakan setiap ada masalah pasien selalu menceritakannya
kepada istrinya dan ketika sakit klien mengatakan keluhan sakit kepada
keluarga, perawat dan dokter
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan

2.4.5.7 Nilai Pola Keyakinan


Klien dan keluarga mengatakan tidak ada tindakan medis yang
bertentangan dengan keyakinan yang dianut.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.

2.4.6 Sosial – Spiritual


2.4.6.1 Kemampuan Berkomunikasi
Klien dapat berkomunikasi dengan baik meskipun dengan suara yang
pelan.

2.4.6.2 Bahasa Sehari-hari


Bahasa yang digunakan klien sehari-hari, yaitu bahasa Dayak indonesia.

2.4.6.3 Hubungan Dengan Keluarga


Baik, ditandai dengan perhatian yang diberikan oleh keluarga saat Tn. Y
dirawat di ruangan terlihat keluarga selalu menjenguk.

2.4.6.4 Hubungan Dengan Teman, Keluarga, Petugas Kesehatan dan Orang


Lain.
Klien dapat berinteraksi dengan baik pada orang lain baik itu dengan
lingkungannya sekitar, perawat maupun dokter.

2.4.6.5 Orang Berarti/Terdekat


Klien mengatakan sangat mencintai keluarganya karena selalu
memberikan motivasi kepada pasien.

2.4.6.6 Kegiatan Menggunakan Waktu Luang


Klien mengunakan waktu yang luang dengan berkumpul bersama keluarga
dan beristirahat di rumah.

2.4.7 Data Penunjang (Radiologis, Laboratorium, dan Penunjang Lainnya)

Pemeriksaan laboratorium tanggal dan radiologi 16 okt 2020

NO. TANGGAL JENIS HASIL NILAI NORMAL


28

PEMERIKSAAN
1. 05-10-2016 Laboratorium :
Hb 14,1 % 14-18 gr %
Leukosit 8000 /mm3 4000-10000/mm3
Hematokrit 43 % 40-48 %
Trombosit 254000 150.000-390.000/mm3
2. 05-10-2016 Radiologi :
Fraktur communitive inter condelais os. Humerus dextra.

Penatalaksanaan Medis

No. Terapi medis Dosis Rute indikasi


1.tagal 16 Analgetik 10 mg 3 x Intravena Pereda nyeri
September sehari
2020
2.tagal 17 Ketorolac 3 x 30 Mg Intravena Mengatasi nyeri
September Sehari sedang
2020
3.Tagal 18 Tramadol 100 Mg / 8 jam Intravena Mengatasi nyeri
september akut
2020
5.Tagal 19 Inf RL 100 cc/10 tpm Intravena Digunakan
september sebagai cairan
2020 hidrasi dan
elektrolit
29

Tabel Analisis Data

DATA SUBYEKTIF KEMUNGKINAN MASALAH


DAN DATA PENYEBAB
OBYEKTIF
DS : Kecelakaan Nyeri akut
Pasien mengatakan nyeri
pada lengan bagian
kanan atas. Trauma langsung
P : Nyeri timbul Kadang-
kadang
Q : Nyeri seperti di Terputusnya kontinuitas
tusuk-tusuk tulang
R : Nyeri di regio
humerus dextra
S : Skala nyeri 7 Kerusakan jaringan lunak
T : Waktu 4 jam
DO :
- pasien tampak meringis Kerusakan kompresi saraf
- Ekspresi wajah klien
tampak meringis saat
bergerak.
- Tampak berhati-hati Pelepasan mediator nyeri
bila bergerak.
(histamin, prostagladin,
- Bersikap protektif
(mis.posisi serotonin, lidokain, dll)
menghindar nyeri)
- Skala nyeri sedang (5)
- Klien tampak lemas
TTV :
Impuls ke otak
-TD : 120/80 mmHg
-RR : 20 x /mnt
-N : 65x /mnt
Muncul persepsi nyeri
o
-S : 36 C

DS : Klien mengatakan Patah Tulang Humerus Defisit Pengetahuan


30

cemas akan penyakitnya


bertambah parah
Informasi Tidak Adekuat
DO: klien tampak cemas

- Klien selalu bertanya Defisit pengetahuan


tentang penyakitnya tentang penyakitnya
- Pasien dan keluarga
- Tampak bingung
- Tingkat pendidikan
pasien lulusan SMA
DS : Trauma langsung Gangguan mobilitas
-Pasien mengatakan fisik
susah beraktivitas Terputusnya kontinuitas
tulang
-Pasien mengatakan
aktivitas dibantu
Fraktur
keluarga
DO :
Nyeri
-Gerakan terbatas
-Klien tampak berbaring
Gangguan fungsi tubuh
saja
-Aktivitas klien dibantu
keluarga
TTV :
-TD : 100/70 mmHg
-RR : 20 x /mnt
-N : 70 x /mnt
-S : 36 oC
DS: - perubahan jaringan sekitar Resiko Infeksi
DO :
- Pasien tampak cemas Lasersi kulit
- Luka pasien tampak
panjang ± 9 cm
- Luka pasien tampak ada luka terbuka
memerah dan terasa
31

panas
- Terpasang cairan
infus Nacl 0,9%
dengan tetesan 20 tpm sebagai media masuknya
di tangan sebelah kiri virus penyebab infeksi
- Ekspresi wajah klien
tampak meringis saat
menggerakan tangan
kirinya

Prioritas Masalah
1. Nyeri akut berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang ditandai
dengan Pasien mengatakan “nyeri luka pada bagian lengan atas sebelah
kiri, nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk, skala nyeri 5 (0-10), nyeri terasa
saat bergerak dan nyeri terasa selama 1-2 menit”.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan fungsi tulang
yang ditandai dengan Pasien mengatakan “sulit menggerakkan badan”,
Tingkat kesadaran Pasien compos menthis, gerakan terbatas, gelisah,
Pasien tampak sakit pada luka operasi, ekspresi klien tampak meringis
pada saat menggerakan tangan kiri nya, pada saat makan Pasien tampak di
bantu oleh keluarga, kekuatan otot atas 5 1 ,bawah 5 5,terpasang vacum
drain dan kateter, TD : 120/ 80 mmHg, N: 90 x/mnt, RR : 22 x/mnt, S:
37,0 ℃, skala aktivitas 3.
3. Resiko Infeksi berhubungan dengan Kerusakan integritas kulit ditandai
dengan terdapat luka terbuka dengan panjang ± 9 cm
4. Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan terhadap informasi, kurang
akurat/lengkapnya informasi yang ada ditandai dengan pasien dan
keluarga mengatakan tidak tau perawatan setelah operasi, keluarga
mengatakan belum ada dijelaskan bagaimana cara perawatan pada pasien
32

Rencana Keperawatan
Nama Pasien : Tn. Y

Ruangan :-

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi Rasional


1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukannya tindakan Manajemen nyeri 1. Untuk mengetahui nyeri
dengan pergeseran fragmen keperawatan selama 1 x 7 jam, 1. Identivikasi skala nyeri yang pasien rasakan
tulang diharapkan nyeri yang 2. Kaji TTV sebelum dan sesakit apa
dirasakan pasien berkurang sesudah tindakan 2. Agar konsentrasi pasien
dengan kriteria hasil : 3. Berikan teknik tidak terfokus pada
 Skala nyeri 0   nonfarmakologis (terapi reseptor nyeri
 Klien tidak tampak music) 3. Agar pasien bisa
meringis lagi 4. Ajarkan teknik menggunakan/menerap
 TTV : nonfarmakologis kan teknik

- TD:120/80 mmHg 5. Kolaborasi pemberian tersebut,tanpa

- N: 80x/menit analgetik, jika perlu ketergantukan denga

- RR: 20x/menit obat

- S : 36 oC 4. Kolaborasi agar nyeri


dapat teratasi
33

2. Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukannya tindakan 1)     Pertahankan posisi tubuh 1. Meningkatkan posisi
berhubungan dengan keperawatan selama 1 x 7 jam, tepat dengan dukungan atau fungsional pada
penurunan fungsi tulang diharapkan nyeri yang khususnya untuk luka bakar ekstermitas dan
dirasakan pasien berkurang diatas sendi. mencegah kontraktor
dengan kriteria hasil : 2)     Lakukan latihan rentang yang lebih mungkin
- Klien meningkat dalam gerak secara konsisten, diawali diatas sendi.
aktivitas fisik pasif kemudian aktif 2. Mencegah secara
- Mengerti tujuan dan 3)     Instruksikan dan Bantu progresif,
peningkatan mobilitas dalam mobilitas, contoh tingkat mengencangkan
- Memverbalisasikan walker secara tepat. jaringan parut dan
perasaan dalam kontraktor,
meningkatkan kekuatan meningkatkan
dan kemampuan pemeliharaan fungsi
berpindah otot atau sendi dan
menurunkan kehilangan
kalsium dan tulang.
3. Meningkatkan
keamanan ambulasi
3. Resiko Infeksi berhubungan Setelah dilakukannya tindakan 1. Monitor karakteristik luka 1. Untuk mengetahui jika
dan tanda-tanda infeksi
34

dengan Kerusakan integritas keperawatan selama 1 x 7 jam, 2. Pertahankan teknik steril infeksi bertambah parah
saat melakukan perawatan 2. Untuk menjaga luka agar
kulit diharapkan nyeri yang
luka tetap bersih.
dirasakan pasien berkurang 3. Anjurkan keluarga untuk 3. Untuk mencegah infeksi
menjaga lingkungan agar bertambah parah.
dengan kriteria hasil :
tetap bersih 4. Memberikan pemahaman
- Klien bebas dari tanda 4. Anjurkan prosedur tentang perawatan luka
perawatan luka secara operasi pada pasien dan
dan gejala infeksi
mandiri oleh keluarga keluarga untuk membantu
- Mendeskripsikan proses 5. Kolaborasi dengan dokter proses penyembuhan.
dalam pemberian antibiotik. 5. Untuk mengatasi atau
penularan penyakit,
mencegah infeksi bakteri
faktor yang
mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaannya
- Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
- Jumlah leukosit dalam
batas normal
- Menunjukkan perilaku
35

hidup sehat

4. Defisit pengetahuan Setelah dilakukan tindakkan 1. Kaji ulang pengetahuan 1. Memberikan dasar
tentang kondisi, asuhan keperawatan selama 1 klien pengetahuan, dimana klien
prognosis dan X 24 jam klien memahami 2. Kaji kesiapan klien dapat membuat pilihan
kebutuhan pengobatan tentang proses penyakit dan mengikuti program untuk intervensi
berhubungan dengan tindakan yang akan dilakukan pembelajaran. selanjutnya
kurang terpajan dengan kriteria: klien dapat 3. Diskusikan metode 2. Efektivitas proses
terhadap informasi, mengulang materi yang telah mobilitas dan ambulasi pemeblajaran dipengaruhi
kurang dibahas, lebih kooferatif sesuai program terapi fisik. oleh kesiapan fisik dan
akurat/lengkapnya terhadap tindakan yang akan 4. Ajarkan tanda/gejala mental klien untuk
informasi yang ada dilakukan klinis yang memerlukan mengikuti program
evaluasi medik (nyeri pembelajaran.
berat, demam, perubahan 3. Meningkatkan partisipasi
sensasi kulit distal cedera). dan kemandirian klien
5. Ajarkan klien tentang dalam perencanaan dan
persiapan pasca operasi pelaksanaan program terapi
(nafas dalam, ambulasi fisik.
dini). 4. Meningkatkan
36

kewaspadaan klien untuk


mengenali tanda/gejala dini
yang memerlukan
intervensi lebih lanjut.
5. Pada pasca operasi resiko
terjadi seperti pneumonia
hipostatik, nyeri.
meningkatkan pemahaman
sehingga resiko komplikasi
pasca dapat berkurang
6. Upaya pembedahan
mungkin diperlukan untuk
mengatasi masalah sesuai
kondisi klien.
37

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Tandatangan dan
Hari / Tanggal Jam Implementasi Evaluasi (SOAP)
Nama Perawat
Diagnosa 1 1. Mengidentifikasi skala S : Pasien mengatakan nyeri
Jumat, 16 Oktober 2020 nyeri yang Tn. Y sudah mulai berkurang
08.00 WIB rasakan O : - Skala nyeri pasien 3
2. Melakukan terapi music (ringan) Fredrick Immanuel
3. Mengajarkan teknik -Pasien tampak tenang saat
terapi musik, saat nyeri diberikan terapi music
4. Kolaborasi pemberian -Ekspresi wajah tampak tidak
obat analgetik merasakan sakit
Ketorolac saat pasien A : Masalah teratasi sebagian
merasakan nyeri P : Lanjutkan intervesi
1. Mengidentifikasi skala
nyeri yang Tn. Y
rasakan
2. Melakukan terapi music
3. Mengajarkan teknik
38

terapi musik, saat nyeri


4. Kolaborasi pemberian
obat analgetik
Ketorolac saat pasien
merasakan nyeri
Diagnosa 2 1)     Pertahankan posisi tubuh S : Pasien mengatakan sudah
Jumat, 16 September 2019 tepat dengan dukungan atau mulai bisa melakukan aktivas
08.00 WIB khususnya untuk luka bakar seperti makan dan minum.
diatas sendi. O : - pasien dapat melakukan
2)     Lakukan latihan rentang retan gerak secara pasif dan
gerak secara konsisten, diawali aktif Fredrick Immanuel
pasif kemudian aktif -Pasien sudah bisa duduk
3)     Instruksikan dan Bantu -pasien sudah bisa makan dan
dalam mobilitas, contoh tingkat minum
walker secara tepat.
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervesi

Diagnosa 3 1. Mengukur tanda-tanda vital S = -


2. Memonitor karakteristik O =
Jumat, 16 Oktober 2020
luka dan tanda-tanda infeksi - Tidak tampak kemerahan
08.00 WIB 2. Mempertahankan teknik disekitar balutan luka.
39

steril saat melakukan - Keluarga menjaga


perawatan luka kebersihan dilingkungan
3. Anjurkan keluarga untuk pasien agar tetap bersih
menjaga lingkungan agar - Pasien dan keluarga dapat Fredrick Immanuel
tetap bersih mempraktekkan cara cuci
4. Anjurkan prosedur tangan 6 langkah.
perawatan luka secara - Sudah diberikan injeksi
mandiri oleh keluarga Ceftriaxone 1gr/IV sesuai
5. Mengajarkan pasien dan advis dokter.
keluarga cara cuci tangan 6 - TTV
langkah. TD : 120/80mmHg
6. Kolaborasi dengan dokter N : 90 x/menit
dalam pemberian antibiotic S : 37.0 0C
RR : 22 x/menit
A = Masalah teratasi sebagian
P = Lanjutkan intervensi
1) Observasi tanda-tanda
infeksi
2) Lakukan perawatan
luka setiap 3 hari sekali
post operasi
3) Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian antibiotik
Ceftriaxone 1 gram per
intravena
Diagnosa 4 1. 1. Kaji ulang S : Pasien mengatakan
Rabu, 16 Oktober 2020 pengetahuan klien mengerti dan memahami
40

08.00 WIB 2. Kaji kesiapan klien tanda/gejala tersebut


mengikuti program
O : - Keluarga Tn. Y
pembelajaran. Fredrick Immanuel
Memberikan obat secara teratur
3. Diskusikan metode
mobilitas dan ambulasi - Pasien dan keluarga
kooperatif
sesuai program terapi fisik. mendengarkan
4. Ajarkan tanda/gejala - Pasien miring kanan
kiri secara berkala
klinis yang memerlukan - Keluarga tampak
evaluasi medik (nyeri menjaga kebersihan
dilingkungan pasien
berat, demam, perubahan agar tetap bersih
sensasi kulit distal cedera). - TTV normal :
TD : 120/80 mmHg
5. Ajarkan klien tentang
N : 75x/menit
persiapan pasca operasi
S : 36,50C
(nafas dalam, ambulasi
RR : 20x/menit
dini).
A : Masalah Teratur

P : Intervensi DIhentikan
BAB IV

Penutup

4.1 Kesimpulan

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang


dan atau tulang rawan yang umumnya [ CITATION Hop11 \l 1033 ]. Sedangkan
fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung [ CITATION DeJ10 \l 1033 ].
Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2009), fraktur humerus adalah salah satu
jenis fraktur yang memerlukan penanganan segera, tanpa penanganan segera dapat
terjadi komplikasi kelumpuhan nervusradial, kerusakan nervus brachial, atau
median.

Dari uraian diatas maka penulis dapat disimpulkan bahwa fraktur humerus
adalah suatu keadaan diskontinuitas pada tulang humerus yang bisa disebabkan
oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung.

Jadi kesimpulannya pada pengkajian yang telah dilakukan penulis pada


tanggal 16 Oktober 2020 diperoleh dari hasil pengkajian Tn. Y didapatkan data
objektif klien terpasang nasal canul 2 lpm, respirasi 25x/menit, irama nafas
reguler, pernafasan dada dan perut. Diagnosa utama pada klien Tn. Y yaitu
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi tumor dan
peningkatan sekresi trakeobronkial ditandai dengan batuk berdahak didukung
dengan data subjektif pada Tn. Y adalah terdapat alat bantu nafas nasal canul 2
lpm, adanya pernafasan cuping hidung, bentuk dada simetris, irama nafas ireguler.
Intervensi keperawatan yang diberikan pada klien sudah sesuai dengan standar
diagnosa keperawatan indonesia. Implementasi keperawatan yang dilakukan
adalah dengan memberikan kepatenan jalan nafas dan memposisikan klien
semifowler dan mengamati respon klien.

4.2 Saran
Sehubungan dengan hal di atas maka penulis menyampaikan saran saran
sebagai berikut:
1. Bagi institusi pelayanan kesehatan dalam hal ini adalah RSUD dr. Doris
Syilvanus
Perlunya mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan secara komprehensif.
2. Bagi tenaga kesehatan terutama perawat.
Untuk lebih memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan
dengan pemulihan klien dengan combuatio agar klien tidak kekurangan
informasi.
3. Bagi institusi pendidikan.
Agar dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan
pendidikan yang lebih baik, berkualitas dan professional sehingga dapat
tercipta perawat-perawat yang professional, terampil, dan handal yang
mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif.
4. Bagi penulis dan pembaca.
Semoga karya tulis ini dapat meningkatkan kemampuan belajar penulis
dan pembaca dalam menangani masalah yang muncul pada kasus
combustio khususnya dan dapat memberikan informasi pembaca dan
masyarakat pada umumnya.

42
Daftar Pustaka

- Elizabeth, J. Corwin.2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG


- Price,  Sylvia A and Wilson, Lorraine M. 1988. Patofisiologi. Konsep Klinik
Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC.
- Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan.
Yogyakarta: B First
- Suyono, Slamet. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 3. Balai
Penerbit FKUI : Jakarta.
- Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik.  Edisi 2.
EGC:Jakarta.
- Willkinson Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan, Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran Kozier Fundamental of Nursing
- Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses
keperawatan, Edisi 3, Jakarta: Salemba Medika.
- Carperito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Jakarta: EGC.
LAMPIRAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN

A. Topik : Range Of Motion (ROM)


B. Sasaran
1. Program : Latihan Rentang Ekstremitas Atas Pasien dengan
Fraktur Humerus
2. Penyuluhan : Pasien dan Keluarga Tn.P

C. Tujuan Intruksional Umum


Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 x 20 menit keluarga
Pasien dapat menambah pengetahuan keluarga yang menunggu/menemani
klien di Ruang Muskuloskeletal dan keluarga klien dapat memahami tentang
perawatan untuk meningkatkan kekuatan otot dan sendi ektremitas atas yang
dialami pasien agar tidak terjadi kekakuan dan dapat melakukan tindakan
secara mandiri.

D. Tujuan Insruksional Khusus


Setelah dilakukan penyuluhan selama 20 menit keluarga dapat :
1. Keluarga dapat memahami dan mengetahui definisi dari fraktur
humerus dan Range of Motion (ROM)
2. Keluarga dapat memahami dan mengetahui bagaimana cara ROM post
orif Fraktur Humerus.
3. Keluarga dapat berperan dalam melakukan perawatan terhadap
anggota keluarga yang mengalami fraktur humerus.

E. Materi Penyuluhan (Terlampir)


2. Pengertian Fraktur Humerus
3. Pengertian ROM
4. Tujuan ROM (Range Of Motion)
5. Manfaat ROM (Range Of Motion)
6. Prinsip latihan ROM (Range Of Motion)
7. Jenis-Jenis ROM (Range Of Motion)
8. Indikasi dan Sasaran ROM (Range Of Motion)
9. Macam-macam Gerakan ROM (Range Of Motion)
10. Gerakan ROM Berdasarkan Bagian Tubuh.

F. Matode
1) Ceramah
2) Tanya Jawab
Penyuluhan dilakukan dengan media diskusi secara terbuka, yaitu
dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga. Keluarga
dapat mengajukan pertanyaan setelah penyampain materi selesai
G. Media
1) Leaflet
Leaflet yang digunakan dalam media pendidikan kesehatan ini dalam
bentuk selebaran mengenai informasi pentingnya mengenal kebutuhan
dasar manusia mengatasi nyeri pasien dengan diagnosa medis Fraktur
Humerus.
H. Kegiatan Penyuluhan
Hari/Tanggal : Jumat, 25 Agustus 2020
Pukul : 10.00-10.20 WIB
Alokasi Waktu : 20 menit
Lokasi : RSUD dr, Doris Sylvanus / Ruang Muskuloskeletal
No Kegiatan Waktu Metode
1 Pembukaan : 2 menit 1. Menjawab salam
1) Membuka kegiatan dengan 2. Mendengarkan
mengucapkan salam dan
2) Menjelaskan tujuan dari tujuan memperhatikan
penyuluhan
3) Menyebutkan materi yang
akan diberikan.
4) Kontrak waktu penyampaian
materi
2 Pelaksanaan : 5 menit Diskusi
1. Penyampaian materi dan memperhatikan
penyuluhan
3 Demonstrasi dan mengajarkan 5 menit Memperagakan
ROM (Range Of Motion)
ekstremitas atas pada pasien
4 Evaluasi : 5 menit Tanya jawab
Menanyakan pada peserta tentang
materi yang telah diberikan, dan
meminta kembali peserta untuk
mengulang materi yang telah
disampaikan.
5 Terminasi : 3 menit Mendengar
1. Mengucapkan terimakasih atas Menjawab salam
perhatian peserta
2. Mengucapkan salam penutup
3. Berfoto bersama

I. Tugas Perorganisasian
1) Moderator : Dhea Permatasari Iskandar
a. Membuka acara penyuluhan
b. Memperkenalkan dosen pembimbing dan anggota kelompok
c. Menjelaskan tujuan dan topik yang akan disampaikan
d. Mengatur jalannya acara.
2) Penyaji : Dhea Permatasari Iskandar
1 Menyampaikan materi penyuluhan
2 Mengevaluasi materi yang telah disampaikan
3 Mengucapkan salam penutup
3) Fasilitator : Dhea Permatasari Iskandar
Mendampingi peserta penyuluhan saat kegiatan berlangsung
4) Dokumentasi : Dhea Permatasari Iskandar
Mendokumentasi kegiatan.

J. SETTING TEMPAT
Keterangan:

: Moderator dan Penyaji : Fasilitator

: Peserta

K. Evaluasi
1) Evaluasi Struktur
Tempat dan alat sesuai rencana.
Peran dan tugas sesuai rencana.
Setting tempat sesuai dengan rencana.
2) Evaluasi Proses
Selama kegiatan semua peserta dapat mengikuti seluruh kegiatan.
Selama kegiatan semua peserta aktif.
Bagaimana berlangsungnya proses penyuluhan, ada hambatan atau
tidak ada hambatan, keaktifan keluarga Pasien dalam proses
pembelajaran, tanya jawab bisa hidup atau tidak.
3) Evaluasi Hasil
Keluarga pasien mampu mengetahui tentang penyakit hepatomegali, cara
mengatasi nyeri akibat hepatomegali dan manajemen nyeri nonfarmakologi.

Palangka Raya, 19 September 2020


Mahasiswa,

Dhea Permatasari Iskandar


NIM :2018.C.10a.0964
MATERI SATUAN ACARA PENYULUHAN

1. Pengertian Fraktur Humerus


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, lempeng epiphyseal atau
permukaan rawan sendi. Tulang dikelilingi oleh struktur jaringan lunak, tekanan
fisik yang menyebabkan terjadinya fraktur, dan tekanan fisik juga menimbulkan
pergeseran mendadak pada fragmen fraktur yang selalu menghasilkan cedera
jaringan lunak disekitarnya. Hal ini bisa disebabkan karena : trauma tunggal,
trauma yang berulang- ulang, kelemahan pada tulang atau fraktur patologik
(Hardisman dan Riski, 2014).
Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi di intregritas tulang,
penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan tetapi factor lain seperti proses
degenerative juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Brunner &
Suddarth, 2015).
Fraktur humerus adalah terputusnya hubungan tulang humerus disertai
kerusakan jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, pembuluh darah) sehingga
memungkinkan terjadinya hubungan antara fragmen tulang yang patah dengan
udara luar yang disebabkan oleh cedera dari trauma langsung yang mengenai
lengan atas. (Muttaqin, 2011)
Fraktur humerus adalah Fraktur humerus atau yang dikenal juga dengan
patah tulang lengan atas. Fraktur humerus paling sering terjadi di sepanjang tulang
bagian tengah atau di ujung tulang dekat bahu. Sangat jarang kondisi ini terjadi di
ujung tulang dekat siku. (TIM Riset IDN Medis, 2019)
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa fraktur
merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau
terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan yang
seperti Fraktur humerus yang menghubungkan tulang humerus disertai kerusakan
jaringan lunak (otot, kulit, jaringan saraf, pembuluh darah) sehingga
memungkinkan terjadinya hubungan antara fragmen tulang yang patah dengan
udara luar yang disebabkan oleh cedera dari trauma langsung yang mengenai
lengan atas.
2. Pengertian ROM (Range Of Motion)
ROM (Range of Motion) adalah jumlah maksimum gerakan yang
mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh, yaitu
sagital, transversal, dan frontal. Potongan sagital adalah garis yang
melewati tubuh dari depan ke belakang, membagi tubuh menjadi bagian
kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi dan
membagi tubuh menjadi bagian depan ke belakang. Potongan transversal
adalah garis horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan
bawah.
Mobilisasi sendi disetiap potongan dibatasi oleh ligamen, otot, dan
konstruksi sendi. Beberapa gerakan sendi adalah spesifik untuk setiap potongan.
Pada potongan sagital, gerakannya adalah fleksi dan ekstensi (jari-jari tangan dan
siku) dan hiperekstensi (pinggul). Pada potongan frontal, gerakannya adalah
abduksi dan adduksi (lengan dan tungkai) dan eversi dan inversi (kaki). Pada
potongan transversal, gerakannya adalah pronasi dan supinasi (tangan), rotasi
internal dan eksternal (lutut), dan dorsifleksi dan plantarfleksi (kaki).
Ketika mengkaji rentang gerak, perawat menanyakan pertanyaan dan
mengobservasi dalam mengumpulkan data tentang kekakuan sendi,
pembengkakan, nyeri, keterbatasan gerak, dan gerakan yang tidak sama. Klien
yang memiliki keterbatasan mobilisasi sendi karena penyakit, ketidakmampuan,
atau trauma membutuhkan latihan sendi untuk mengurangi bahaya imobilisasi.
Latihan tersebut dilakukan oleh perawat yaitu latihan rentang gerak pasif. Perawat
menggunakan setiap sendi yang sakit melalui rentang gerak penuh.
Gerakan dapat dilihat sebagai tulang yang digerakkan oleh otot ataupun gaya
eksternal lain dalam ruang geraknya melalui persendian. Bila terjadi gerakan,
maka seluruh struktur yang terdapat pada persendian tersebut akan terpengaruh,
yaitu: otot, permukaan sendi, kapsul sendi, fasia, pembuluh darah dan saraf.
Pengertian ROM lainnya adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan
terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-
masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif.
Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan
menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa
otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005)

3. Tujuan ROM (Range Of Motion)


Adapun tujuan dari ROM (Range Of Motion), yaitu :
Meningkatkan atau mempertahankan fleksibiltas dan kekuatan otot.
Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan.
Mencegah kekakuan pada sendi.
Merangsang sirkulasi darah
Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan kontraktur

4. Manfaat ROM (Range Of Motion)


Adapun manfaat dari ROM (Range Of Motion), yaitu :
1) Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan
pergerakan.
2) Mengkaji tulang, sendi, dan otot
3) Mencegah terjadinya kekakuan sendi 
4) Memperlancar sirkulasi darah
5) Memperbaiki tonus otot
6) Meningkatkan mobilisasi sendi
7) Memperbaiki toleransi otot untuk Latihan

5. Prinsip Latihan ROM (Range Of Motion)


Adapun prinsip latihan ROM (Range Of Motion), diantaranya :
1) ROM harus diulang sekitar 5-8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali
sehari
2) ROM di lakukan perlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan
pasien.
3) Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien,
diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
4) Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher,
jari, lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
5) ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-
bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
6) Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau
perawatan rutin telah di lakukan.

6. Jenis-Jenis ROM (Range Of Motion)


ROM dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1) ROM Aktif
ROM Aktif yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan
menggunakan energi sendiri. Perawat memberikan motivasi, dan membimbing
klien dalam melaksanakan pergerakan sendiri secara mandiri sesuai dengan
rentang gerak sendi normal (klien aktif). Keuatan otot 75 %. Hal ini untuk
melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-
ototnya secara aktif. Sendi yang digerakkan pada ROM aktif adalah sendi di
seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.

2) ROM Pasif
          ROM Pasif yaitu energi yang dikeluarkan untuk latihan berasal dari orang
lain (perawat) atau alat mekanik. Perawat melakukan gerakan persendian klien
sesuai dengan rentang gerak yang normal (klien pasif). Kekuatan otot 50 %.
          Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar, pasien
dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua
latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan
paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008).
          Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan
persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat
mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Sendi yang digerakkan pada ROM
pasif adalah seluruh persendian tubuh atau hanya pada ekstremitas yang terganggu
dan klien tidak mampu melaksanakannya secara mandiri.
7. Indikasi dan Sasaran ROM (Range Of Motion)
1) ROM Aktif :
Indikasi :
Pada saat pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif dan
menggerakkan ruas sendinya baik dengan bantuan atau tidak.
Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan
persendian sepenuhnya, digunakan A-AROM (Active-Assistive ROM,
adalah jenis ROM Aktif yang mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar
apakah secara manual atau mekanik, karena otot penggerak primer
memerlukan bantuan untuk menyelesaikan gerakan).
ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.
ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan
dibawah daerah yang tidak dapat bergerak.
Sasaran :
Apabila tidak terdapat inflamasi dan kontraindikasi, sasaran ROM Aktif
serupa dengan ROM Pasif.
Keuntungan fisiologis dari kontraksi otot aktif dan pembelajaran gerak dari
kontrol gerak volunter.
Sasaran spesifik:
a Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang
terlibat
b Memberikan umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi
c Memberikan rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan
persendian
d Meningkatkan sirkulasi
e Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik

2) ROM Pasif
Indikasi :
Pada daerah dimana terdapat inflamasi jaringan akut yang apabila dilakukan
pergerakan aktif akan menghambat proses penyembuhan
Ketika pasien tidak dapat atau tidak diperbolehkan untuk bergerak aktif
pada ruas atau seluruh tubuh, misalnya keadaan koma, kelumpuhan atau bed
rest total
Sasaran :
Mempertahankan mobilitas sendi dan jaringan ikat
Meminimalisir efek dari pembentukan kontraktur
Mempertahankan elastisitas mekanis dari otot
Membantu kelancaran sirkulasi
Meningkatkan pergerakan sinovial untuk nutrisi tulang rawan serta difusi
persendian
Menurunkan atau mencegah rasa nyeri
Membantu proses penyembuhan pasca cedera dan operasi
Membantu mempertahankan kesadaran akan gerak dari pasien

8. Macam-Macam Gerakan ROM (Range Of Motion)


Ada berbagai macam gerakan ROM, yaitu :
1) Fleksi, yaitu berkurangnya sudut persendian.
2) Ekstensi, yaitu bertambahnya sudut persendian.
3) Hiperekstensi, yaitu ekstensi lebih lanjut.
4) Abduksi, yaitu gerakan menjauhi dari garis tengah tubuh.
5) Adduksi, yaitu gerakan mendekati garis tengah tubuh.
6) Rotasi, yaitu gerakan memutari pusat dari tulang.
7) Eversi, yaitu perputaran bagian telapak kaki ke bagian luar, bergerak
membentuk sudut persendian.
8) Inversi, yaitu putaran bagian telapak kaki ke bagian dalam bergerak
membentuk sudut persendian.
9) Pronasi, yaitu pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan
bergerak ke bawah.
10) Supinasi, yaitu pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan
bergerak ke atas.
11) Oposisi, yaitu gerakan menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan
pada tangan yang sama.
9. Gerakan ROM Berdasarkan Bagian Tubuh
Menurut Potter & Perry, (2005), ROM ekstremitas atas terdiri dari
gerakan pada persendian  sebagai berikut :
1) Leher, Spina, Serfikal
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Menggerakan dagu menempel ke dada, rentang 45°
Ekstensi Mengembalikan kepala ke posisi tegak, rentang 45°
Hiperektens Menekuk kepala ke belakang sejauh rentang 40-
i mungkin, 45°
Fleksi Memiringkan kepala sejauh mungkin rentang 40-
lateral  sejauh mungkin kearah setiap bahu,    45°
Rotasi Memutar kepala sejauh mungkin dalam rentang 180°
gerakan sirkuler,

2) Bahu
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Menaikan lengan dari posisi di samping rentang 180°
tubuh ke depan ke posisi  di atas kepala,
Ekstensi       Mengembalikan lengan ke posisi di rentang 180°
samping tubuh,
Hiperektens Mengerkan lengan kebelakang tubuh, rentang 45-
i siku tetap lurus, 60°
Abduksi Menaikan lengan ke posisi samping di rentang 180° 
atas kepala dengan telapak   tangan jauh
dari kepala,
Adduksi Menurunkan lengan ke samping dan rentang 320°
menyilang tubuh sejauh mungkin,
Rotasi Dengan siku pleksi, memutar bahu rentang 90°
dalam dengan menggerakan lengan sampai ibu
jari menghadap ke dalam dan ke
belakang,
Rotasi luar Dengan siku fleksi, menggerakan lengan rentang 90°
sampai ibu jari ke atas dan samping
kepala,
Sirkumduks Menggerakan lengan dengan lingkaran rentang 360°
i penuh,
3) Siku
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Menggerakkan siku sehingga lengan rentang 150°
bahu bergerak ke depan sendi bahu dan
tangan sejajar bahu,
Ektensi Meluruskan siku dengan menurunkan rentang 150°
tangan,

4) Lengan bawah
Gerakan Penjelasan Rentang
Supinasi Memutar lengan bawah dan tangan rentang 70-
sehingga telapak tangan menghadap ke 90°
atas,
Pronasi Memutar lengan bawah sehingga telapak rentang 70-
tangan menghadap ke bawah, 90°

5) Pergelangan tangan
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Menggerakan telapak tangan ke sisi rentang 80-
bagian dalam lengan bawah, 90°
Ekstensi Mengerakan jari-jari tangan sehingga rentang 80-
jari-jari, tangan, lengan  bawah berada 90°
dalam arah yang sama,
Hipereksten Membawa permukaan tangan dorsal ke rentang 89-
si belakang sejauh mungkin, 90°
Abduksi Menekuk pergelangan tangan miring ke rentang 30°
ibu jari,
Adduksi Menekuk pergelangan tangan miring ke rentang 30-
arah lima jari, 50°

6) Jari- jari tangan


Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Membuat genggaman, rentang 90°
Ekstensi Meluruskan jari-jari tangan, rentang 90°
Hipereksten Menggerakan jari-jari tangan ke belakang rentang 30-
si sejauh mungkin, 60°
Abduksi Mereggangkan jari-jari tangan yang satu rentang 30°
dengan yang lain,
Adduksi Merapatkan kembali jari-jari tangan, rentang 30°

7) Ibu jari
Gerakan Penjelasan Rentang
Fleksi Mengerakan ibu jari menyilang rentang 90°
permukaan telapak tangan,
Ekstensi menggerakan ibu jari lurus menjauh dari rentang 90°
tangan,
Abduksi Menjauhkan ibu jari ke samping, rentang 30°
Adduksi Mengerakan ibu jari ke depan tangan, rentang 30°
Oposisi Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari
-
tangan pada tangan yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

Mubarak, Wahit Iqbal & Cahyani, Nurul. 2007. Kebutuhan Dasar. Jakarta : EGC.
Perry, Potter Peterson. 2015. Keterampilan Dasar dan Prosedur Dasar. Jakarta :
EGC.
Perry, Potter. 2016. Konsep Proses dan Praktik, Fundamental Keperawatan, vol
2, edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer & Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Suddarth & Brunner. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta:
EGC.
Tabunan, Eviana. S. Dkk. 2009. Panduan Praktik Kebutuhan Dasar Manusia I.
Jakarta : Salemba Medika
Tamsuri, A. (2006). Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai