Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI II


PEMBUATAN DAN EVALUASI TABLET SALUT DAN EFFERVESCENT

Disusun Oleh : Kelompok 1

Andra Nurjaya Maulana I1C018005

Katleya Maharani Wiega I1C018007

Lissmy Annisyah Diani I1C018009

Nafadiela Azhari I1C018001

Siti Khairunnisa Tiarahmi I1C018003

Hari/tanggal praktikum : Rabu, 30 September 2020

Dosen Pembimbing : Dr. Tuti Sri Suhesti, M.Sc., Apt.

Dhadhang Wahyu K, M.Sc., Apt

Beti Pudyastuti,M.Sc.,Apt.

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2020
A. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah

1. Mahasiswa dapat menentukan formulasi tablet salut dan tablet effervecent.


2. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan tablet salut dan tablet effervecent.
3. Mahasiswa mampu melakukan uji evaluasi terhadap tablet salut dan tablet effervecent
B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan tablet effervescent adalah baskom,
sendok, mortar, Loyang, ayakan no 18 dan no 24, neraca analitik, oven, dan pencetak tablet.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah vitamin C, NaHCO3, Laktosa, NaCl, Asam Sitrat,
Asam Tatrat, PVP, dan Pewarna Kuning lemon
C. Formula

Tiap tablet mengandung :

Fase Internal : Vitamin C = 50 mg

SDL = 266,45 mg

Avicel 102 = 35 mg

Fase Eksternal : Mg stearate = 3,5 mg

Cab Oxil = 1,05 mg


D. Skema Prosedur Pembuatan dan Evaluasi
a. Skema Pembuatan Tablet Efferfescent

Alat dan Bahan


 Alat : Disiapkan neraca analitik, mortir dan
stamper.
 Bahan : Disiapkan vitamin C, SDL, avicel
102, Mg sterat, dan cab oxil.
Penimbangan

 Ditimbang menggunakan neraca analitik


vitamin C 50 mg, SDL 266,45 mg, avicel
102 sebanyak 35 mg, magnesium stearat 3,5
mg dan cab oxil sebanyak 1,05 mg

Pencampuran

 Dicampurkan kedalam mortir 50 mg vitamin


C dan 266,45 mg SDL
 Digerus sampai homogen selama 5 menit
 Ditambahkan 35 mg avicel 102
 Digerus kembali selama 10 menit
 Ditambahkan 1,05 mgcab oxil dan 3,5 mg
Mg stearat
 Digerus seluruhnya sampai homogen selama
10 menit
Pencetakan

 Dilakukan pencetakan tablet dengan


menggunakan metode cetak langsung

Hasil
b. Skema Evaluasi Tablet

1. Uji Keseragaman Bobot

Tablet

 Ditimbang 10 tablet satu persatu


pada timbangan analitik.
 Dihitung bobot rata-rata dan
standar deviasinya.
 Dilakukan perhitungan hasil uji
keseragaman bobot sesuai
Farmakope Indonesia edisi V.
 Dilakukan penarikan kesimpulan
sesuai dengan persyaratan.

Hasil

2. Uji Keseragaman Ukuran

Tablet

 Disiapkan 5 tablet efferfescent


 Diletakkan satu persatu tablet
diantara penjepit pada jangka
sorong
 Tablet dinyatakan ketat ketika
jangka sorong sudah berbunyi
 Tablet tidak boleh melebihi 3x dan
tidak kurang dari 1 tebal tablet
Hasil
3. Uji Kekerasan Tablet

Tablet

 Diambil satu tablet dan diletakan


pada ujung alat dengan posisi
vertikal.
 Diputar sekrup pada ujung alat
sehingga tablet tertekan.
 Dihentikan pemutaran saat tablet
telah pecah.
 Dilakukan percobaan sebanyak
lima kali.
 Dihitung harga kekerasannya.
 Dilakukan penarikan kesimpulan
sesuai dengan persyaratan.

Hasil
4. Uji Kerapuhan

Tablet

 Diambil 10 tablet lalu dibebas debukan.


 Ditimbang 10 tablet dan dicatat bobotnya
sebagai bobot mula-mula.
 Dimasukkan tablet ke dalam friabilator.
 Dilakukan pengujian selama 4 menit
pada kecepatan 25 rpm.
 Dikeluarkan tablet dari alat dan dibebas
debukan.
 Ditimbang kembali tablet lalu dicatat
sebagai bobot akhir.
 Dihitung persen kerapuhan dengan

Bobot awal−bobot akhir


rumus: x 100%
Bobot awal
 Dilakukan penarikan kesimpulan sesuai
dengan persyaratan.
Hasil
5. Uji Waktu Hancur Tablet

Tablet

 Dimasukkan lima buah tablet ke


dalam tabung disintegration tester.
 Diisi satu tablet pada setiap tabung.
 Dimasukkan ke dalam pengangas air
dengan temperature 37oC.
 Dijalankan alat sampai semua tablet
hancur.
 Dicatat waktunya dari masing- masing
tablet untuk hancur
Hasil
E. Penyajian Data dan Perhitungan Tablet Effervescent
Perhitungan bahan:
Akan dibuat formula untuk 500 tablet, sehingga diperlukan bahan:
 Vitamin C = 50 mg x 500 = 25.000 mg = 25 gram
 SDL = 266,45 mg x 500 = 133.225 mg = 133,225 gram
 Avicel 102 = 35 mg x 500 = 17.500 mg = 17,5 gram
 Mg Stearat = 3,5 mg x 500 = 1.750 mg = 1,75 gram
 Cab Oxil = 1,05 mg x 500 = 525 mg = 0,525 gram
Data Pengamatan:
1. Uji Keseragaman Bobot

Tablet ke- Bobot (gram) Bobot (mg) Penyimpangan (%)


No. 1 0,38 gram 380 mg 7,95%
No. 2 0,36 gram 360 mg 2,27%
No. 3 0,35 gram 350 mg -0,56%
No. 4 0,32 gram 320 mg -9,09%
No. 5 0,39 gram 390 mg 10,79%
No. 6 0,4 gram 400 mg 13,63%
No. 7 0,33 gram 330 mg -6,25%
No. 8 0,31 gram 310 mg -11,93%
No. 9 0,33 gram 330 mg -6,25%
No. 10 0,35 gram 350 mg -0,56%
2. Keseragaman Ukuran

Diameter tidak
1 Diameter tidak
No Diameter (mm) Tebal (mm) kurang dari 1 lebih dari 3 kali
3
tebal tablet
tebal tablet
1 1,14 0,21 0,28 0,63
2 1,12 0,28 0,37 0,84
3 1,13 0,28 0,37 0,84
4 1,13 0,28 0,37 0,84
5 1,15 0,27 0,36 0,81

3. Sudut Diam

Waktu (detik) Diameter Tinggi Rumus Tg A Hasil Tg A


2h 68,86°
5,58 3,5 cm 5 cm TgA
d
5 cm 2h 73,30°
5,31 3 cm TgA
d
5 cm 2h 73,30°
5,04 3 cm TgA
d

4. Kerapuhan Tablet

Bobot Awal (g) Boobot Akhir (g) Kerapuhan %


4,91 g 4,87 g 0,8%
4,75 g 4,73 g 0,4%
4,88 g 4,85 g 0,6%

5. Waktu Larut
Waktu larut (menit)
5,06
5,27
5,43
5,17
4,49
4,25
4,14
4,03

Perhitungan:

1. Uji Keseragaman Bobot

Bobot isi tablet – Bobot rata−ratatablet


Penyimpangan = X 100%
Bobot rata−rata tablet
0,38−0,352
No. 1 = x 100 % = 7,95%
0,352
0,36−0,352
No. 2 = x 100 % = 2,27%
0,352
0,35−0,352
No. 3 = x 100 % = -0,56%
0,352
0,32−0,352
No. 4 = x 100 % = -9,09%
0,352
0,39−0,352
No. 5 = x 100 % = 10,79%
0,352
0,4−0,352
No. 6 = x 100 % = 13,63%
0,352
0,33−0,352
No. 7 = x 100 % = -6,25%
0,352
0,3 1−0,352
No. 8 = x 100 % = -11,93%
0,352
0,33−0,352
No. 9 = x 100 % = -6,25%
0,352
0,35−0,352
No. 10 = x 100 % = -0,56%
0,352
2. Keseragaman Ukuran
1,14
KeseragamanUkuran( No.1)   5,42
0,21
1,12
KeseragamanUkuran( No.2)  4
0,28
1,13
KeseragamanUkuran( No.3)   4,03
0,28
1,13
KeseragamanUkuran( No.4)   4,03
0,28
1,15
KeseragamanUkuran( No.5)   4,26
0,27
3. Sudut Diam
5
• TanA   2,85°  TanA  68,86°
1,75
5
• TanA   3,33°  TanA  73,30°
1,5
5
• TanA   3,33°  TanA  73,30°
1,5

4. Kerapuhan Tablet
W1  W 2
Kerapuhan  x100%
W1
4,91  4,87
Kerapuhan1  x100%  0,8%
4,91
4,75  4,73
Kerapuhan 2  x100%  0,4%
4,75
4,88  4,85
Kerapuhan3  x100%  0,6%
4,88
5. Waktu Larut
5,06  5,27  5,43  5,17  4,49  4,25  4,14  4,04
Rata  rata  4,73
8
F. Pembahasan

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih
atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat
pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelican, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(Depkes RI, 1979).

Tablet terdapat dalam berbagai ragam bentuk, ukuran, bobot, kekerasan, ketebalan, sifat
disolusi dan disintegrasi dan dalam aspek lain, tergantung pada penggunaan yang dimaksudkan
dan metode pembuatannya. Tablet biasanya berbentuk bundar dengan permukaan datar, atau
konveks. Tablet dapat dihasilkan dalam berbagai bentuk, dengan membuat pons dan lubang
kempa (lesung tablet) cetakan yang didesain secara khusus (Siregar, 2010).

Keuntungan dari tablet yaitu beberapa obat tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak,
tergantung pada keadaan amorfnya, fokulasi, atau rendahnya berat jenis. Selain itu, obat yang
sukar dibasahkan, lambat melarut, dosisnya cukupan atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi
melalui saluran cerna atau setiap kombinasi dari sifat diatas, akan sukar atau tidak mungkin
diformulasikan dan diperbaiki dalam bentuk tablet yang masih menghasilkan bioavailabilitas
obat cukup. Kemudian obat yang rasanya pahit, obat dengan bau yang tidak dapat dihilangkan,
atau obat yang peka terhadap oksigen atau kelembapan udara perlu pengapsulan atau
penyelubungan sebelum dikempa (bila mungkin) atau memerlukan penyalutan dulu (Lachman,
2008).

Komposisi tablet terdiri dari bahan pengisi, bahan pengikat, glidant, bahan penghancur,
bahan pelican, anti lekat, bahan pewarna, pengaroma dan pemanis (Swarbrick, 2007). Dalam
pembuatan tablet ada tiga metode yang dapat digunakan yaitu granulasi basah, granulasi kering,
dan kempa langsung. Langkah dari granulasi basah adalah penimbangan, pencampuaran,
granulasi, pengayakan basah, pengeringan, pengayakan kering, pelincir, dan pengempaan
peralatan tergantung dari uraian atau kualitas atas kandungan atau zat aktif, pengisi, dan
penghancur (Gennaro, 1985).Pada granulasi kering, saat proses (penekanan) ketidakmungkinan
mencampurkan beberapa bahan untuk tujuan kelembapan menyebabkan proses pengembangan
pengganti granulasi kering yang dikenal sebagai proses penekanan (Jenkis, 1957). Sedangkan
pada kempa langsung terdiri dari pengempaan tablet secara langsung bahan serbuk tanpa
modifikasi sifat fisik dari bahan itu sendiri. Dahulu pengempaan langsung sebagai metode
pembuatan tablet untuk jumlah kecil dan sifat fisik kimia kristal

Masalah-masalah yang sering timbul pada pembuatan tablet yaitu pitting, capping, dan
laminasi. Pitting mengacu pada terjadinya tanda lubang kecil pada permukaan tablet atau punc
yang dihubungkan dengan pelicin yang tidak cukup atau hambatan suatu permukaan yang keras.
Sedangkan capping dan laminasi mengacu pada kelewatan mekanik yang merusak tablet.
Keretakan akibat laminasi bisa terjadi sepanjang langkah produksi (Jones, 2008). Sifat-sifat
tablet yang ideal atau baik yaitu tablet harus memenuhi spesifikasi keseragaman bobot dan
kekerasan. Untuk evaluasi yang dilakukan pada tablet yaitu berat tablet, ketebalan tablet,
kekerasan tablet, daya hancur, dan disolusi tablet.
Evaluasi tablet perlu dilakukan untuk mengetahui sifat fisika, kimia, dan biologi sediaan
tersebut. Sifat-sifat ini dapat menggambarkan kualitas total dari tablet atau formulasi tablet serta
kondisi penyimpanan kemungkinan tekanan atau keadaan lingkungan luar. Evaluasi tablet
meliputi uji keseragaman bobot, uji keseragaman ukuran, uji waktu hancur, uji kekerasan tablet,
dan uji disolusi (Ulfa, 2018).

Syarat tablet kecuali dinyatakan lain, tablet harus memenuhi syarat :


1. Kemampuan alir dan sudut istirahat
Sifat aliran serbuk yang baik merupakan hal penting untuk pengisian yang seragam
ke dalam lubang cetak mesin tablet dan untuk memudahkan gerakan bahan di sekitar
fasilitas produksi. Sifat aliran dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk partikel, partikel yang
lebih besar dan bulat menunjukkan aliran yang lebih baik. Metode untuk mengevaluasi
sifat aliran granul yang sering digunakan adalah metode corong (langsung) (Sari, 2010).
Kecepatan alir diketahui melalui metode corong. Metode ini paling sederhana untuk
menetapkan kemampuan alir granul secara langsung, yakni kecepatan alir granul dengan
bobot tertentu melalui corong diukur dalam detik. Suatu penutup sederhana ditempatkan
pada lubang keluar corong lalu diisi dengan granul yang telah ditimbang terlebih dahulu.
Ketika penutup dibuka, waktu yang dibutuhkan granul untuk keluar dicatat. Dengan
membagi massa serbuk dengan waktu keluar tersebut, kecepatan alir diperoleh sehingga
dapat digunakan untuk perbandingan kuantitatif granul yang berbeda. Waktu alir adalah
waktu yang dibutuhkan oleh sejumlah granul untuk mengalir dalam suatu alat. Sifat alir
ini dapat digunakan untuk menilai efektivitas bahan pelicin, mudah tidaknya granul
mengalir dan sifat permukaan granul (Voigt, 1994). Metode sudut istirahat telah
digunakan sebagai metode tidak langsung untuk mengukur mampu alir granul karena
hubungannya dengan kohesi antar partikel. Banyak metode yang berbeda untuk
menetapkan sudut istirahat dan salah satunya yang digunakan adalah metode corong
(Sari, 2010).
2. Keseragaman bobot
Pengujian dilakukan menggunakan alat timbangan neraca analitik. Penggunaan
neraca analitik dalam uji keseragaman bobot ini digunakan karena merupakan alat yang
kemungkinan kesalahanya sangat kecil dibandingkan dengan timbangan manual.
Disamping itu angka dari bobot tablet yang dihasilkan akan muncul secara otomatis,
dengan itu dapat meminimalisir kesalahan dalam melihat angka. Ditimbang 20 tablet,
kemudian dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak lebih dari
2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar
dari harga yang ditetapkan dikolom A dan tidak boleh 1 tablet yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan dikolom B. Jika perlu, dapat digunakan
10 tablet dan tidak 1 tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata
yang ditetapkan kolom A dan B (Depkes RI,1979).
3. Kekerasan tablet
Tablet harus mempunyai kekuatan atau kekerasan tertentu serta tahan atas
kerenyahan agar dapat bertahan terhadap berbagai guncangan mekanik pada saat
pembuatan, pengepakan, dan pengapalan. Selain itu tablet juga harus dapat bertahan
terhadap perlakuan berlebihan oleh konsumen. Kekerasan tablet yang cukup serta tahan
penyerbukan dan kerenyahan merupakan persyaratan penting bagi penerimaan konsumen
(Lachman, dkk., 2008). Kekuatan tablet ditentukan oleh besarnya tenaga yang diperlukan
untuk memecah tablet dalam uji kompresi diametri. Untuk melakukan uji ini, sebuah
tablet diletakkan antara dua landasan, landasan kemudian ditekan, dan kekuatan yang
menghancurkan tablet dicatat. Kekerasan kemudian diartikan sebagai kekuatan untuk
menghancurkan tablet.Alat kekerasan tablet atau biasa 14 dikenal hardness tester yang
masih dipakai adalah alat penguji; Monsanto, Strong-Cobb, Pfizer, Erweka, dan
Schleuniger (Lachman, dkk., 2008). Persyaratan : Kekerasan tablet yang baik sebesar 4-
10 kg (Sulaiman, 2007).
4. Kerapuhan tablet
Untuk mengetahui keutuhan tablet karena tablet mengalami benturan dengan dinding
wadahnya. Tablet yang mudah menjadi bubuk, menyerpih dan pecah- pecah pada
penanganannya, akan kehilangan keelokannya serta konsumen enggan menerimanya, dan
dapat menimbulkan pengotoran pada tempat pengangkutan dan pengepakan, juga dapat
menimbulkan variasi pada berat dan keseragaman isi tablet (Lachman, dkk., 2008). Alat
penguji friabilitas untuk laboratorium dikenal sebagai friabilator. Alat ini memperlakukan
sejumlah tablet terhadap gabungan pengaruh goresan dan guncangan dengan memakai
sejenis kotak plastik yang berputar pada kecepatan 25 rpm, menjatuhkan tablet sejauh
enam inci pada setiap putaran. Biasanya tablet yang telah ditimbang diletakkan di dalam
alat itu, kemudian dijalankan sebanyak 100 putaran (Lachman, dkk., 2008).
5. Disolusi
Disolusi adalah proses melarutnya obat (Ansel, 1989). Dua sasaran dalam
mengembangkan uji disolusi in vitro yaitu untuk menunjukkan pelepasan obat dari tablet
kalau dapat mendekati 100% dan laju pelepasan obat seragam pada tiap batch dan harus
sama dengan laju pelepasan dari batch yang telah dibuktikan mempunyai bioavaibilitas
dan efektif secara klinis (Lachman, dkk., 2008). Alat untuk menguji laju disolusi atau
disebut dissolution tester terdiri atas bejana dan tutup, yang berfungsi sebagai wadah
yang mendisolusi zat aktif; pengaduk, motor pemutar pengaduk; termometer; penangas
air yang dilengkapi dengan thermostat (Siregar dan Wikarsa, 2010).
6. Waktu hancur
Menurut Lachman dkk. (2008), jika dikaitkan dengan disolusi maka waktu hancur
merupakan faktor penentu dalam pelarutan obat. Sebelum obat larut dalam media pelarut
maka tablet terlebih dahulu pecah menjadi partikel- partikel kecil sehingga daerah
permukaan partikel menjadi lebih luas. Namun uji ini tidak memberi jaminan bahwa
partikel-partikel akan melepaskan bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang
seharusnya, karena uji waktu hancur hanya menyatakan waktu yang diperlukan tablet
untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan, dan lewatnya seluruh partikel melalui
saringan berukuran mesh-10. Semua tablet harus melalui pengujian daya hancur secara
resmi yang dilaksanakan in vitro dengan alat uji khusus atau biasa disebut disintegration
tester. Secara singkat alat ini terdiri dari rak keranjang yang dipasang 6 pipa gelas yang
ujungnya terbuka, dan diikat secara vertikal (Ansel ,1989).
Tablet bersalut adalah tablet yang disalut dengan zat penyalut yang cocok untuk maksud dan
tujuan tertentu (Depkes RI, 1979). Tablet salut film adalah tablet kempa yang disalut dengan
salut tipis, berwarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di
dalam saluran cerna. Perbedaannya dengan salut gula adalah tablet salut gula merupakan tablet
kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Supaya
dapat menahan bantingan selama proses penyalutan tablet inti harus memiliki resistensi dan
kekerasan yang cukup di dalam panci penyalut yang berputar terus menerus selama proses
berlangsung. Kekerasan yang cukup juga akan berperanan memperlambat penyalut pada waktu
dilakukan penyalutan dan sebaiknya permukaan tablet berbentuk (Voigt, 1984).

Bentuk tablet inti yang ideal untuk disalut ialah: sferis, elip, bikonvek bulat atau
bikonvekoval. Tinggi antara permukaan tablet sedapat mungkin agak rendah. Pada bentuk ini
sesudah dibasahi dengan cairan penyalut, kemungkinan hanya terjadi lengketan pada satu titik
tertentu saja dari sisi tablet dan perlekatan ini hanya akan berlangsung selama periode waktu
relatif singkat karena segera terlepas lagi pada waktu terjadi gerakan panci penyalut (Voigt,
1984). Tablet inti (core) yang akan disalut haruslah memenuhi persyaratan tertentu, karena
selama proses penyalutan akan terjadi gerakan dan bantingan tablet inti secara terus menerus
selama beberapa waktu. Kerapuhan tablet inti harus sekecil mungkin. Kerapuhan yang tinggi
akan menyebabkan terbentuknya partikel halus dan kasar yang akan dapat menempel pada
permukaan tablet selama proses penyalutan, tempelan tersebut dengan sendirinya akan
menyebabkan cacat pada permukaan tablet yang disalut. Tablet inti harus hancur dengan cepat di
dalam lambung atau usus sesudah penyalut terlarut (untuk tablet yang entero soluble). Pada
umumnya tablet inti yang disalut akan hancur lebih lama jika dibandingkan dengan tablet yang
tidak disalut. Perubahan waktu hancur tersebut disebabkan karena pada waktu penyalutan, pori
pada permukaan tablet ditutupi oleh larutan penyalut sehingga akan memperlambat penetrasi
cairan pada waktu hancur (Agoes, 2008).

Tablet effervescent adalah tablet yang dibuat dengan cara dikempa, selain zat aktif juga
mengandung campuran asam (asam sitrat, asam tartrat) dan natrium bikarbonat, yang jika
dilarutkan dalam air akan menghasilkan karbon dioksida (Kemenkes RI, 2014). Tablet
effervescent memiliki beberapa keuntungan diantaranya adalah mudah dalam penggunaannya
karena telah dilarutkan terlebih dahulu kedalam air, rasa menyenangkan karena karbonisasi
membantu menutup rasa zat aktif yang tidak enak, dan tablet dapat dikemas secara individual
sehingga bisa menghindari masalah ketidakstabilan zat aktif dalam penyimpanan. Tablet
effervescent akan menghasilkan buih ketika dimasukan kedalam air yang memberikan rasa yang
enak dan segar karena adanya karbonat yang membantu memperbaiki rasa, selain itu juga
menghasilkan larutan yang jernih dan penyiapan larutan dalam waktu seketika yang mengandung
dosis obat yang tepat membuat sediaan effervescent dapat diterima di masyarakat (Ervina, 2010).

Membuat sediaan tablet effervescent diperlukan zat tambahan yang dapat memperbaiki sifat
fisik. Salah satu bahan tambahan yang diperlukan adalah bahan pengikat. Bahan pengikat
memberikan daya adhesi pada massa serbuk pada tablet kempa serta menambah daya kohesi
yang telah ada pada bahan pengisi (Kemenkes RI, 2014). Bahan pengikat yang umum digunakan
adalah povidon atau polivinilpirolidon (Kemenkes RI, 2014). Granul dengan polivinilpirolidon
memiliki sifat alir yang baik dan daya kompaktibilitas yang lebih baik (Mohandani, 2009).
Dengan sifat alir dan daya kompakbilitas yang lebih baik dapat meminimalkan kemungkinan
terjadinya kegagalan dalam pencetakan tablet. Pembuatan tablet effervescent dibutuhkan bahan-
bahan atau eksipien yang beragam, namun dalam memilih eksipien dituntut kejelian agar
dihasilkan suatu tablet yang bermutu (aman, dapat diterima oleh masyarakat (acceptable), dan
stabil). Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam memilih eksipien seperti sifat fisik dan
kimia dari eksipien hingga proses atau metode pembuatan dengan menghindari interaksi yang
lebih besar, yang mungkin terjadi antara komponen yang ada sehingga dihasilkan suatu
formulasi yang baik.

Studi Bahan dalam Formula


Pada praktikum pembuatan tablet Vitamin C terdapat dua fase bahan yaitu fase internal dan
fase eksternal. Fase internal adalah bahan-bahan ditambahkan ke dalam campuran granul dan
termasuk dalam formula. Sedangkan fase eksternal merupakan bahan-bahan yang ditambahkan
ke alat selama proses penabletan (Mohrle, 1980). Fase internal pada praktikum kali ini adalah
Vitamin C, SDL (Spray Dried Lactose), dan Avicel. Fase eksternal pada praktikum kali ini
adalah Mg Stearat dan Cab Oxil.
a. Vitamin C (Asam askorbat/Ascorbic Acid)
Asam askorbat digunakan sebagai antioksidan dalam farmasi berair formulasi pada
konsentrasi 0,01-0,1% b / v. Asam askorbat telah digunakan untuk mengatur pH larutan
injeksi, dan sebagai tambahan untuk cairan oral. Ini juga banyak digunakan dalam makanan
sebagai antioksidan. Asam askorbat terjadi sebagai bubuk kristal berwarna putih hingga
kuning muda, nonhigroskopis, tidak berbau, atau tidak berwarna dengan tajam, rasanya asam.
Ini secara bertahap menjadi gelap warnanya setelah terpapar cahaya (Rowe et al., 2009).
Nama lain vitamin C adalah asam askorbat, antiskorbut vitamin, acidiumascorbinicum,
cevitamid, cantau, cabion, ascorvit, planacit C,I-ascorbinezuur, 3 okso-L-gulofucanolakton,
asam sevitamat, asam xiloaskorbat, dan phamascorbine (Depkes RI, 1995).

Gambar 1. Struktur Vitamin C (Rowe et al., 2009).

Pemerian dari Vitamin C adalah hablur atau serbuk putih atau agak kuning oleh pengaruh
cahaya lambat laun menjadi warna gelap. Dalam keadaan kering stabil di udara. Dalam
larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu ±190oC. Kelarutan Vitamin C mudah larut dalam
air, agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, eter dan benzene. Kelarutan
dalam air 33 g/100 ml, dalam etanol 2 g/100 ml, dalam gliserol 1 g/100 ml, dalam propilen
glikol 5 g/100 ml, larut dalam dietil eter, kloroform, benzene, eterminyak bumi, minyak,
lemak pelarut. Keasaman (pKa) 4,17 (pertama), 11,6 (detik). Dalam air bersifat asam terhadap
kertas lakmus, reduktor yang mudah teroksidasi karena adanya gugus etanol pada atom C2
dan C3yang mudah melepaskan 2 atom H. Penyimpanan Vitamin C adalah dalam wadah
tertutup baik, terlindung dari cara serta khasiat dan kegunaannya yaitu sebagai antiskorbut
(Depkes RI, 1995).
b. SDL (Spray Dried Lactose)
Laktosa banyak digunakan sebagai pengisi dan pengencer dalam tablet dan kapsul, dan
pada tingkat yang lebih terbatas pada produk yang diliofilisasi. Laktosa juga digunakan
sebagai pengencer dalam bubuk kering inhalasi; tersedia secara komersial yang memiliki sifat
fisik yang berbeda seperti distribusi ukuran partikel dan karakteristik aliran. Laktosa pada
formula tablet berguna sebagai bahan pengisi yang baik karena dapat memberikan massa
granul yang padat pada granulasi basah atau kempa langsung (Rowe et al., 2009). Lactose
atau laktosa merupakan zat tambahan (Depkes RI, 1979). Laktosa sebagai zat pengisi
(Kemenkes RI, 2014).
Pemerian pada laktosa yaitu serbuk atau masa hablur, keras, putih atau putih krem. Tidak
berbau dan rasa sedikit manis. Stabil di udara, tetapi mudah menyerap bau. Kelarutan dari
laktosa yaitu mudah (pelan-pelan) larut dalam air dan lebih mudah larut dalam air mendidih.
Sangat sukar larut dalam etanol; tidak larut dalam kloroform dan dalam eter. Penyimpanan
laktosa yaitu disimpan dalam wadah tertutup baik. Khasiat dan kegunaan laktosa yaitu sebagai
zat tambahan dan sebagai zat pengisi (Depkes RI, 1995).

c. Avicel 102
Avicel berfungsi sebagai adsorben, suspending agent, diluen tablet, dan kapsul juga
sebagai disintegran tablet pada konsentrasi 5-15%. Avicel sering digunakan pada sediaan
farmasi terutama sebagai dieluen namun juga berfungsi sebagai lubrikan dan disintegran
sehingga bermanfaat untuk pembuatan tablet. Ada dua kualitas tablet: Avicel PH 101 dan
Avicel 102. Avicel PH 102 dipilih sebagai eksipien cetak langsung karena memiliki sifat alir
yang baik dan kompresibel (Banker, 1989).
Pemerian dari Avicel 102 yaitu serbuk kristalin dengan partikel berpori; berwarna putih;
tidak berbau; dan tidak berasa. Kelarutan Avicel 102 yaitu praktis tidak larut dalam air,
larutan asam dan sebagian besar pelarut organik. Luas permukaan 1,21 – 1,30 m 2/g (avicel PH
102) dengan bobot jenis 0,337 g/cm3 (baik), 0,478 g/cm3 (tapped), 1,512– 1,668 g/cm3.
Stabilitas Avicel 102 material higroskopis yang stabil. Disimpan di wadah tertutup rapat pada
tempat yang sejuk dan kering. Inkompatibilitasnya inkompatibel dengan agen pengoksidasi
yang kuat. Kegunaan sebagai pengisi atau pengikat pada sediaan tablet dan kapsul,
mempunyai kegunaan sebagai lubrikan dan disentegrant. Konsentrasi Avicel 102 sebagai
pengisi yaitu 20-50% dan sebagai pengahancur 5-15%. Sehingga konsentrasi Avicel 102 yaitu
5-20% (anti lengket) (Rowe et al., 2009).
Sinonim Avicel 102 adalah Microcrystalline Cellulose. Selulosa mikrokristalin banyak
digunakan dalam farmasi, terutama sebagai pengikat/pengencer dalam tablet oral dan
formulasi kapsul di mana itu digunakan baik dalam granulasi basah dan kompresi langsung
proses. Selain penggunaannya sebagai pengikat/pengencer, selulosa mikrokristalin juga
memiliki beberapa pelumas dan disintegran properti yang membuatnya berguna dalam
pembuatan tablet (Rowe et al., 2009). Microcrystalline Cellulose mampu meningkatkan
kemapuan kekompakan tablet dari campuran kompresi serta mampu meningkatkan masa
cetak tablet (Carlin, 2008).
d. Magnesium stearate
Magnesium stearate bersifat hidrofobik dan dapat memperlambat pembubaran obat dari
bentuk sediaan padat; serendah mungkin konsentrasi karena itu digunakan dalam formulasi
tersebut. Pengaruh kadar magnesium stearat pada pemadatan tablet sifat dan kinerja granulasi
yang dipadatkan rol telah diperiksa. Magnesium stearate bersifat hidrofob sehingga
lapisannya menghalangi penetrasi medium cairan untuk menghancurkan tablet dan
pelarutanya (Rowe et al., 2009). Magnesium Stearate digunakan sebagai lubrikan atau bahan
pelicin (Depkes RI, 1995). Fungsi utama dari Magnesium Stearate adalah sebagai lubrikan
yaitu suatu bahan yang berfungsi mempercepat aliran serbuk ke dalam rongga cetakan,
mencegah lekatnya serbuk pada punch dan cetakan, mengurangi pergesekan antara tablet dan
dinding cetakan ketika tablet dikeluarkan dari mesin dan memberikan rupa yang bagus pada
tablet yang sudah jadi (Ansel, 1989).
Pemerian Magnesium stearate hablur halus, putih dan voluminous; bau lemah khas;
mudah melekat di kulit; bebas dari butiran. Kelarutan Magnesium stearate tidak larut dalam
air, dalam etanol, dan dalam eter. Penyimpanan Magnesium stearate disimpan dalam wadah
tertutup baik. Kegunaan Magnesium stearate sebagai antasidum zat tambahan sebagai glidan
(Depkes RI, 1979). Bobot jenis dari Magnesium stearate 0,159 g/cm3 (baik), 0,286 g/cm3
(tapped), 1,092 g/cm3 (true). Stabilitas Magnesium stearate merupakan materil yang stabil,
penyimpanan pada wadah baik, pada tempat yang sejuk dan kering. Inkompatibel dengan
asam kuat, alkali dan garam besi. Kegunaan Magnesium stearate lubrikan dengan konsentrasi
0,25 – 5% pada formulasi kapsul dan tablet (Rowe et al., 2009).
e. Cab Oxil (Cab-O-Sil)
Silikon Dioksida Koloid adalah silika berasap submikroskopis dengan ukuran partikelnya
sekitar 15 nm. Pemerian Silikon Dioksida Koloid warnanya ringan, longgar, berwarna putih
kebiruan, tidak berbau, tidak berasa, bubuk amorf. Silikon dioksida koloid bersifat
higroskopis tetapi menyerap dalam jumlah besar air tanpa mencair. Saat digunakan dalam
sistem berair pada pH 0–7,5, silikon dioksida koloid efektif dalam meningkatkan viskositas
dari sebuah sistem. Namun, pada pH lebih besar dari 7,5 sifat peningkatan viskositas silikon
dioksida koloid berkurang; dan pada pH lebih besar dari 10,7 kemampuan ini hilang
seluruhnya sejak silicon dioksida larut membentuk silikat. Silikon dioksida koloid bubuk
harus disimpan dalam wadah tertutup baik. Khasiat dan kegunaan Silikon Dioksida Koloid
sebagai adsorben; agen anticaking; penstabil emulsi; glidant; agen penangguhan; penghancur
tablet; penstabil termal; viskositas meningkat agen. Koloid Silikon Dioksida juga digunakan
sebagai penghancur tablet dan sebagai zat pendispersi adsorben untuk cairan dalam bubuk
(Rowe et al., 2009).
Pada pembuatan tablet effervescent hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan
bahan yang akan digunakan. Alat-alat yang digunakan adalah baskom, sendok, mortar, loyang,
ayakan dengan nomor mesh 18 dan nomor mesh 24, neraca analitik, oven, dan pencetak tablet.
Sedangkan, bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Vitamin C, SDL (Spray Dried
Lactose), Avicel pH 102, Magnesium stearate, dan Cab Oxil (Cab-O-Sil). Kemudian bahan
disiapkan untuk ditimbang. Vitamin C ditimbang sebanyak 50 mg dengan menggunakan neraca
analitik. Selain itu, SDL (Spray Dried Lactose) ditimbang sebanyak 266,45 mg, Avicel pH 102
sebanyak 35 mg. Masing-masing ditimbang menggunakan neraca analitik. Vitamin C, SDL
(Spray Dried Lactose), dan Avicel pH 102 merupakan bahan fase internal. Fase internal adalah
bahan-bahan ditambahkan ke dalam campuran granul dan termasuk dalam formula (Mohrle,
1980). Magnesium stearate ditimbang sebanyak 3,5 mg dan Cab Oxil (Cab-O-Sil) ditimbang
sebanyak 1,05 mg. Magnesium stearate dan Cab Oxil (Cab-O-Sil) merupakan bahan fase
eksternal. fase eksternal merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke alat selama proses
penabletan (Mohrle, 1980).
Asam askorbat atau vitamin C digunakan sebagai antioksidan dalam farmasi berair
formulasi pada konsentrasi 0,01-0,1% b / v. Selain itu vitamin C memiliki khasiat dan kegunaan
sebagai antiskorbut (Depkes RI, 1995). Laktosa banyak digunakan sebagai pengisi dan
pengencer dalam tablet dan kapsul, dan pada tingkat yang lebih terbatas pada produk yang
diliofilisasi. . Laktosa pada formula tablet berguna sebagai bahan pengisi yang baik karena dapat
memberikan massa granul yang padat pada granulasi basah atau kempa langsung (Rowe et al.,
2009). Khasiat dan kegunaan laktosa yaitu sebagai zat tambahan dan sebagai zat pengisi (Depkes
RI, 1995). Avicel berfungsi sebagai adsorben, suspending agent, diluen tablet, dan kapsul juga
sebagai disintegran tablet pada konsentrasi 5-15%. Avicel sering digunakan pada sediaan farmasi
terutama sebagai dieluen namun juga berfungsi sebagai lubrikan dan disintegran sehingga
bermanfaat untuk pembuatan tablet. Avicel PH 102 dipilih sebagai eksipien cetak langsung
karena memiliki sifat alir yang baik dan kompresibel (Banker, 1989). Khasiat dan kegunaan
laktosa yaitu sebagai zat tambahan dan sebagai zat pengisi (Depkes RI, 1995). Kegunaan Silikon
Dioksida Koloid pada pembuatan tablet yaitu sebagai adsorben; agen anticaking; penstabil
emulsi; glidant; agen penangguhan; penghancur tablet; penstabil termal; viskositas meningkat
agen. Koloid Silikon Dioksida juga digunakan sebagai penghancur tablet dan sebagai zat
pendispersi adsorben untuk cairan dalam bubuk (Rowe et al., 2009). Magnesium Stearate
digunakan pada pembuatan tablet sebagai lubrikan atau bahan pelicin (Depkes RI, 1995). Fungsi
utama dari Magnesium Stearate adalah sebagai lubrikan yaitu suatu bahan yang berfungsi
mempercepat aliran serbuk ke dalam rongga cetakan, mencegah lekatnya serbuk pada punch dan
cetakan, mengurangi pergesekan antara tablet dan dinding cetakan ketika tablet dikeluarkan dari
mesin dan memberikan rupa yang bagus pada tablet yang sudah jadi (Ansel, 1989).
Langkah selanjutnya, setelah bahan-bahan fase internal ditimbang, bahan-bahan tersebut
dicampurkan ke dalam mortir Vitamin C 50 mg dengan SDL (Spray Dried Lactose) 266,45 mg.
Pencampuran ini dilakukan karena laktosa merupakan eksipien yang baik sekali digunakan
dalam tablet yang mengandung zat aktif konsentrasi kecil karena mudah melakukan
pencampuran yang homogen. Harga laktosa lebih murah dari pada bahan pengisi lainnya
(Siregar, 2010). Umumnya formulasi memakai laktosa menunjukkan laju pelepasan obat yang
baik, granulnya cepat kering, dan waktu hancurnya tidak terlalu peka terhadap perubahan pada
kekerasan tablet. Laktosa menghasilkan kompresibilitas yang baik, tidak berbau dan bersifat
inert (Lachman, 1994). Setelah pencampuran vitamin C dan SDL (Spray Dried Lactose) digerus
hingga homogen selama lima menit hal ini dikarenakan dalam waktu lima menit vitamin C dan
laktosa dapat tercampur secara homogen. Lalu, ditambahkan 35 mg avicel pH 102 dan digerus
kembali selama 10 menit. Penggerusan ini bertujuan untuk menghasilkan campuran yang
homogen. Selanjutnya, ditambahkan Cab Oxil (Cab-O-Sil) sebanyak 1,05 mg dan Magnesium
stearate sebanyak 3,5 mg. Kemudian digerus selama sepuluh menit sampai homogen. Setelah
bahan-bahan tercampur maka dilakukan pencetakan tablet dengan menggunakan metode kempa
atau cetak langsung. Metode kempa langsung yaitu pencetakan bahan obat dan bahan tambahan
yang berbentuk serbuk tanpa proses pengolahan awal atau granulasi, kempa langsung
membangkitkan gaya ikatan diantara partikel sehingga tablet memiliki kekompakan yang cukup
(Voigt, 1984).
Pada tahap terakhir pembuatan tablet effervescent yaitu dilakukan uji evaluasi terhadap
tablet. Evaluasi yang dilakukan adalah evaluasi keseragaman bobot. Evaluasi keseragaman bobot
tablet menunjukkan bahwa seluruh formula tablet memenuhi ketentuan yaitu tidak boleh lebih
dari 2 tablet yang bobotnya menyimpang. Evaluasi keseragaman ukuran dengan tujuan uji untuk
mengetahui diameter dan ketebalan tablet yang dihasilkan agar tablet memiliki ukuran yang
sama. Dilakukan dengan menggunakan jangka sorong. Evaluasi atau uji kerapuhan tablet yang
merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan permukaan tablet terhadap
gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan pengiriman. Selain itu, dilakukan evaluasi
atau uji sudut diam. Penetapan sudut diam dilakukan dengan menggunakan corong yang bagian
atas berdiameter 12 cm, diameter bawah 1 cm dan tinggi 10 cm. Granul dimasukkan ke dalam
corong, lalu di alirkan melalui ujung corong dan ditentukan besar sudut diamnya. Evaluasi atau
uji waktu larut juga dilakukan untuk menggambarkan cepat atau lambatnya tablet larut dalam air.
Waktu larut tablet effervescent adalah kurang dari 5 menit (300 detik) pada suhu 25ºC (Dewi et
al., 2014).

Analisis Data

1. Uji Keseragaman Bobot


Uji keseragaman bobot dilakukan untuk melihat keseragaman dosis obat yang masuk
kedalam tubuh sehingga dosis setiap tablet diharapkan sama dan sesuai dengan keamanan
terapi dari sediaan tersebut. Pengujian keseragaman bobot dapat dilakukan dengan
menggunakan neraca analitik.

Tablet ke- Bobot (gram) Bobot (mg) Penyimpangan (%)


No. 1 0,38 gram 380 mg 7,95%
No. 2 0,36 gram 360 mg 2,27%
No. 3 0,35 gram 350 mg -0,56%
No. 4 0,32 gram 320 mg -9,09%
No. 5 0,39 gram 390 mg 10,79%
No. 6 0,4 gram 400 mg 13,63%
No. 7 0,33 gram 330 mg -6,25%
No. 8 0,31 gram 310 mg -11,93%
No. 9 0,33 gram 330 mg -6,25%
No. 10 0,35 gram 350 mg -0,56%

Setelah dilakukan perhitungan bobot rata-rata tablet, diperoleh hasil rata-rata bobot tablet
yaitu sebesar 352 mg. Berdasarkan hasil perhitungan penyimpangan tablet, menunjukkan
bahwa terdapat 1 tablet yang memiliki bobot yang menyimpang dari 5%, dan 2 tablet yang
bobotnya menyimpang dari 10%. Hal ini tidak sesuai dengan literatur, bahwa persyaratan
keseragaman bobot tablet yang ditetapkan untuk tablet dengan bobot lebih dari 300 mg adalah
tidak lebih dari 2 tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari 5%
dan tidak ada satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari 10%.
(Puspita, dkk., 2012).

Bobot rata-rata tablet Penyimpangan bobot rata-rata dalam %


A B
< 25mg 15 30
26 - 150 mg 10 20
151 - 300 mg 7,5 15
> 300 mg 5 10

2. Penetapan kadar Vit C diperoleh : 98,79 %

Hasil evaluasi penepatan kadar vitamin C diperoleh sebesar 98,7%, hasil tersebut
menunjukkan telah memenuhi persyaratan, dimana tablet asam askorbat mengandung asam
askorbat C6H8O6 tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang
tertera pada etiket (Depkes RI, 2014).
3. Keseragaman ukuran

Diameter tidak
Diameter tidak
1
No Diameter (mm) Tebal (mm) kurang dari 1 lebih dari 3 kali
3
tebal tablet
tebal tablet
1 1,14 0,21 0,28 0,63
2 1,12 0,28 0,37 0,84
3 1,13 0,28 0,37 0,84
4 1,13 0,28 0,37 0,84
5 1,15 0,27 0,36 0,81

Berdasarkan evaluasi keseragaman ukuran, menunjukkan bahwa 5 tablet yang di uji


memenuhi persyaratan, yaitu tidak ada diameter tablet yang kurang dari 1 1/3 tebal tablet dan
tidak lebih dari 3 kali tebal tablet. Hal ini sudah sesuai dengan persyaratan keseragaman
ukuran menurut FI edisi III, kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3x dan
tidak kurang dari 4/3 x tebal tablet (Depkes RI, 1979).

4. Sudut Diam

Waktu (detik) Diameter Tinggi Sudut diam


5,58 3,5 cm 5 cm 68,86°
5,31 3 cm 5 cm 73,30°
5,04 3 cm 5 cm 73,30°

Setelah dilakukan evaluasi sudut diam tablet, diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan
literatur, dimana evaluasi tablet menunjukkan hasil yang menyimpang dari persyaratan sudut
diam, dimana nilai dari sudut diam yang dapat diterima yaitu antara 20-40° (Lachman dkk,
1994).

5. Kerapuhan tablet

Bobot Awal (g) Boobot Akhir (g) Kerapuhan %


4,91 g 4,87 g 0,8%
4,75 g 4,73 g 0,4%
4,88 g 4,85 g 0,6%

Dari hasil perhitungan kerapuhan tablet, didapatkan hasil kerapuhan tablet yaitu 0,8% ;
0,4%, dan 0,6%. Hasil tersebut menunjukkan hasil yang sesuai dengang literatur, yang
menyatakan bahwa syarat kerapuhan tablet yang baik yaitu kehilangan bobot kurang dari ≤
0,8% (Voigt, 1994).

6. Waktu Larut

Waktu larut (menit)


5,06
5,27
5,43
5,17
4,49
4,25
4,14
4,03

Berdasarkan evaluasi waktu larut vitamin c, menunjukkan nilai rata-rata waktu larut yaitu
4,73 menit. Hal ini telah sesuai dengan persyaratan bahwa waktu larut tablet effervescent
adalah kurang dari 5 menit (300 detik) pada suhu 25ºC, maka sediaan tersebut memenuhi
persyaratan waktu larut atau memiliki waktu larut yang baik (Dewangga et al, 2017).
KESIMPULAN

Pada praktikum ini kita dapat mengetahui cara pembuatan tablet effervescent dengan
menggunakan metode kempa langsung dan juga mengetahui evaluasi apa saja yang dilakukan
terhadap tablet effervescent. Metode kempa langsung ini merupakan metode yang paling mudah,
praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil
dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Secara umum sifat zat aktif
yang cocok untuk metode kempa langsung adalah zat aktif yang sifat alirnya baik,
kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas
dalam massa tablet.

Evaluasi yang dilakukan terhadap tablet effervescent pada praktikum kali ini yaitu uji
keseragaman bobot, uji keseragaman ukuran, uji kerapuhan tablet, uji sudut diam, uji waktu larut.
Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui dan juga sebagai tolok ukur apakah tablet yang dibuat
layak untuk dipasarkan atau tidak.

Pada praktikum ini juga kita dapat mengenal tablet salut. Tablet bersalut adalah tablet yang
disalut dengan zat penyalut yang cocok untuk maksud dan tujuan tertentu. Ada berbagai macam
dari tablet salut ini seperti tablet salut gula, tablet salut film, dan tablet salut enteric.
DAFTAR REFERENSI

Agoes, G. 2008. Pengembangan Sediaan Farmasi, Edisi Revisi dan Perluasan. Bandung : ITB
Press.

Ansel, Howard C. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim,
Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Banker, G. S. & Anderson, N. R. 1989. Tablets. in: Lachman L. and Lieberman H. A. (Eds). The
Theory and Practice of Industrial Pharmacy. 677-699. Philadelphia: Lea and Febier.

Carlin, B. 2008. Direct Compression and The Role of Filler-Binders. Dalam: Augsburger, L.L.,
Hoag, S.W. (Eds.). Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets, Informa. PP: 173–216.
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Dewangga A., Meirani S., Apriliany R., Darojati U., and Yudha A. 2017. Formulasi Tablet
Effervescent dari Ekstrak Etanol Daun Talas (Colocasia esculenta L.) sebagai Antiseptik
Topikal. Biomedika. Vol. 9 (2).

Dewi, Rosmala., Iskandarsyah., Devi Octarina. 2014. Tablet Effervescent Ekstrak Belimbing
Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan variasi Kadar Pemanis Aspartam. Pharmaceutical
Science & Research. Vol. 1 (2) : 116-133.
Kemenkes RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.

Ervina, A. T. 2010. Formulasi Tablet Effervescent Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc)
Dengan Kombinasi Asam Sitrat Dan Asam Malat Sebagai Sumber Asam Serta Natrium
Karbonat Sebagai Sumber Basa. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Gennaro, Alfonso R. 1985. Remington’s Pharmaceutical Saence. Amerika Serikat : Mack


Publishing.

Jenkins, Glenn L., Frackle, Don E., Breacht, E. A., Sperandio, O. J. 1957. The Art Of
Compounding. London : McCrow Well Book Company Inc.

Jones, David. 2008. Pharmaceutical Dosage From and Design. London : Pharmaceutical Press.

Lachman, L. & Lieberman, H. A. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi Kedua. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Lachman, Leon, Herbert A. L., Joseph L. K. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta :
Universitas Indonesia Press.

Mohandani, I. P. 2009. Pengaruh Kadar Polivinilpirolidon Sebagai Bahan Pengikat Pada Formulasi
Tablet Effervescent Kombinasi Ekstrak Herba Sambiloto dan Dewandaru dengan Bahan
Pengisi Manitol. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Mohrle, R. 1980. Effervescent Tablet, in H.A. Lieberman, L. Lachman and Schwartz, J.B.,
Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet, , Second Edition. Vol. 1 : 225-255. New York :
Marcel Dekker Inc.
Puspita, P. A. P, Dewantara, I. G. N. A, dan Arisanti, C. I. S. 2013. Formulasi Tablet Parasetamol
Kempa Langsung Menggunakan Eksipien Co-Processing Dari Amilum Singkong Partially
Pregelatinized Dan Gom Akasia. Jurnal Farmasi Udayana. Vol. 2 (3).

Rowe R. C., Sheskey, P. J., Queen, M. E. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth
Edition. London: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Assosiation.
Sari, N. P. 2010. Pembuatan dan Karakterisasi Bahan Tablet Vitamin C Menggunakan Kitosan
dan Amylum Manihot sebagai Matriks Melalui Metode Granulasi Basah. Skripsi.
Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pegetahuan Alam Universitas Sumatera
Utara.
Siregar, C. J. P., dan Wikarsa, S. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar Praktis.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sulaiman, T. N. S.. 2007. Teknologi & Formulasi Sediaan Tablet. Yogyakarta : Pustaka
Laboratorium Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada.

Swarbrick, James. 2007. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Amerika Serikat :


Pharmaceutical Inc.
Ulfa, A. M., Nofita, N., & Azzahra, D. 2018. Analisa Uji Kekerasan, Kerapuhan Dan Waktu
Hancur Asam Mefenamat Kaplet Salut Generik Dan Merek Dagang. Jurnal Farmasi
Malahayati. Vol. 1 (2).
Voigt. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi. Penerjemah Dr. Soendani Noerono. Yogyakarta : UGM
Press.
Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi V. Penerjemah Dr. Soendani Noerono.
Yogyakarta: UGM Press.