Anda di halaman 1dari 109

AWARENESS

ISO 45001:2018 &


SMK3 PP 50 TAHUN 2012
23 September 2020

Mirta Dwi Rahmah, S.K.M., M.K.K.K.


COURSE OBJECTIVE AND OUTLINE
Peserta diharapkan…
1. Memahami konsep ISO 45001:2018
2. Mampu menyiapkan, melaksanakan dan
memelihara Sistem Manajemen Kesehatan,
Keselamatan Kerja (K3)

Course Outline :
1. Latar Belakang ISO 45001:2018
2. Struktur system ISO 45001:2018
3. Pengendalian Bahaya dan Risiko
4. Tips bagaimana membangun system dan cara
penanganan Audit ISO 45001:2018
BRAINSTORMING
MENGAPA PERLU MENERAPKAN SMK3
DI PERUSAHAAN
Kebutuhan Pengakuan
Setiap perusahaan membutuhkan pengakuan, terutama
image positif dari pihak lain untuk menjalankan dan
mempertahankan bisnisnya

Kebutuhan Kesehatan
Kebutuhan kesehatan yang dimaksud yaitu bagaimana
perusahaan tersebut dapat bersaing dan mendatangkan
keuntungan sesuai yang diharapkan. Salah satu caranya
Insert
ialah dengan the Sub Title
menerapkan program SMK3
of Your Presentation

Kebutuhan Keselamatan
Perusahaan membutuhkan keselamatan supaya aset-aset
perusahaan terlindungi dan tidak terjadi hal-hal yang
dapat merugikan perusahaan. Hal-hal di atas
menunjukkan, bahwa penerapan SMK3 di suatu
perusahaan bukan lagi sekedar kewajiban, tapi menjadi
suatu kebutuhan
Pengenalan Konsep
Sistem Manajemen K3 (SMK3)
APA ITU SMK3

Sistem Manajemen Keselamatan dan


Kesehatan Kerja (SMK3)
adalah bagian dari sistem manajemen
perusahaan secara keseluruhan dalam
rangka pengendalian risiko yang
berkaitan dengan kegiatan kerja guna
terciptanya tempat kerja aman, efisien
dan produktif.
(PP 50/2012)
DATA KECELAKAAN KERJA

http://www.tribunnews.com/nasional/2019/01/17/3-langkah-menaker-tekan-angka-kecelakaan-kerja.)
DATA KECELAKAAN KERJA
kerugian akibat kecelakaan kerja berakibat

TEORI KECELAKAAN KERJA


pada kedua pihak; perusahaan dan pekerja

keselamatan
Accident Ratio (Bird, Frank E., 1996, USA) kerja adalah
hak pekerja dan
kewajiban
perusahaan
Data dilaporkan
dan tercatat
1 Kematian/ Kec.Serius
a.k.a near miss

kecelakaan
terjadi tapi
10
Kecelakaan tidak
menimbulkan
kerugian

unsafe act and


condition
Nyaris Celaka
600
akibat pekerja
yang • Perbuatan & Kondisi
melakukan
prilaku tidak 1.000 Tidak Aman
aman
Contoh Unsafe Action, Unsafe Condition & Nearmiss
Contoh 1
unsafe condition
e.g.
mesin sudah tua
tempat kerja yang tidak baik
unsafe act :

sumber dari
prilaku pekerja unsafe
(pengetahuan condition
pekerja yang
kurang, kondisi dimana
pekerja bisa
mendapatkan
unsafe act potensi
kecelakaan
ketika akan bekerja, (ada lubang
seharusnya pekerja tanpa
sudah dalam kondisi pengamanan
siap termasuk dengan atau tanda
alat pelindung diri yang peringatan)
lengkap dan baik
asumsi: perusahaan
sudah menerapkan
SMK3
Contoh 2

unsafe act

tidak pakai alat


pelindung diri
yang sesuai ->
sarung tangan

near miss

kecalakaan
sudah terjadi,
namun tidak
menimbulkan
kerugian pada
pekerja
LATIHAN 3
Contoh 3 unsafe act

unsafe act
Contoh 4
FENOMENA GUNUNG ES
Biaya Langsung
1. Biaya Pengobatan & Perawatan.
Rp. 1 Juta 2. Biaya Kompensasi (Asuransi).
Biaya Tidak Langsung
1. Kerusakan Bangunan.
2. Kerusakan Alat dan Mesin.
3. Kerusakan Produk dan Bahan/Material.
Rp. 5 – 50 Juta 4. Gangguan/Terhentinya Produksi.
5. Biaya Administrasi.
6. Pengeluaran Sarana dan Prasarana Darurat.
7. Waktu untuk Investigasi.
8. Pembayaran Gaji untuk Waktu Hilang .
9. Biaya Perekrutan dan Pelatihan.
Rp. 5 – 3Juta
10. Biaya Lembur.
11. Biaya Ekstra Pengawas.
12. Waktu untuk Administrasi.
13. Penurunan Kemampuan Tenaga Kerja yang
Kembali karena Cedera.
14. Kerugian Bisnis dan Nama Baik.
DEFINISI BAHAYA DAN RISIKO
Sumber, situasi, kondisi, tindakan yang
BAHAYA berpotensi merugikan manusia, atau
menimbulkan sakit penyakit, atau kombinasi
(Hazard) dari keseluruhannya

Kombinasi dari kemungkinan terjadinya


kejadian bahaya atau pajanan dgn
RISIKO keparahan suatu cedera, atau sakit
penyakit.
(Risk)
Dapat disebabkan oleh kejadian atau
pajanan.
DEFINISI BAHAYA & RISIKO

a. Bekerja diketinggian tidak


menggunakan peralatan yang
BAHAYA tepat seperti scaffolding dan
bodyharness.
b. Maksimal 1,8 meter, harus
menggunakan scaffolding dan
bodyharness
RISIKO

Terjatuh dari ketinggian hingga


menyebabkan kaki patah
DEFINISI BAHAYA & RISIKO

BAHAYA Mengemudi dengan


kecepatan tinggi
(Hazard)

Menabrak mobil lain


RISIKO hingga dapat
menyebabkan
(Risk) kematian
BAHAYA DAN RISIKO

Bisa berasal dari:


a. Alat / peralatan (mis. Benda berputar, listrik)
b. Situasi (mis. Bekerja di ketinggian)
c. Perbuatan / perilaku (mis. Mengangkat benda berat tdk sesuai SOP)
JENIS BAHAYA

a. Fisika, mencakup : bising, suhu, penerangan, ventilasi yang


kurang, tekanan udara, kelembaban, tersengat listrik, dst.
b. Kimia mencakup : Gas, uap, cairan, bau, dst.
c. Biologi mencakup : Bakteri, Virus, cacing, serangga, dll
d. Ergonomi mencakup : posisi tubuh yang salah, peralatan
yang tidak sesuai, posisi kerja yang monoton, cara kerja
berulang terus-menerus, beban kerja melampaui batas, dst.
e. Psikososial mencakup : suasana kerja yang tidak nyaman,
kerja yang terpaksa, Pikiran tertekan, dll
BAHAYA FISIKA
BAHAYA KIMIA
BAHAYA BIOLOGI
BAHAYA ERGONOMI
BAHAYA PSIKOSOSIAL
HIRARKI PENGENDALIAN (1)
bahayanya
Eliminasi dihilangkan

• Merupakan metode pengendalian risiko


yang PALING EFEKTIF. Karena mencegah
adanya bahaya sebelum bahaya
terbentuk.
• Menghilangkan potensi bahaya dilakukan
pada saat desain, tujuannya adalah untuk
menghilangkan kemungkinan kesalahan
manusia dalam menjalankan suatu sistem
karena adanya kekurangan pada desain.
HIRARKI PENGENDALIAN (2)
Substitusi
• Mengganti bahan, proses, operasi ataupun peralatan dari yang
berbahaya menjadi lebih tidak berbahaya.
• Contoh pengendalian risiko dalam bentuk ELIMINASI :
➢ Mengganti peralatan yang rusak
➢ Mengganti peralatan dan mesin yang berbahaya
➢ Mengganti bahan kimia dengan waterbase
➢ Mengganti bahan baku padat yang menimbulkan debu menjadi
bahan yang cair atau basah
HIRARKI PENGENDALIAN (3)
Rekayasa Teknik (Engineering Control)
• Fokus pada sumber bahaya, bukan orang, dengan cara menghilangkan atau
mengurangi tingkat bahaya.
• Pengendalian ini terpasang dalam suatu unit sistem mesin atau peralatan.
Contoh pengendalian risiko dalam bentuk REKAYASA TEKNIK :
➢ penutup mesin / machine guard
➢ Pembuatan Scaffolding
➢ ventilation system
➢ Sensor
➢ Pemakaian Trolley
HIRARKI PENGENDALIAN (4)

Administratif (Administrative Control)


• Fokus pada orang, dengan cara:
➢ Dokumentasi : Prosedur, instruksi kerja
➢ Pelatihan, kesadaran (safety briefing, safety
induction)
➢ Poster (safety sign)
➢ Pemisahan lokasi
➢ Pergantian shift kerja
➢ Rotasi kerja
➢ Pembentukan sistem kerja
• Tidak Menghilangkan sumber bahaya secara langsung,
hanya memberikan petunjuk kerja yang sesuai.
• SANGAT TERGANTUNG PADA ORANG.
HIRARKI PENGENDALIAN

Alat Pelindung Diri (APD)


Seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi
seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi
bahaya/kecelakaan kerja.
PENGENDALIAN BAHAYA & RISIKO
WORKSHOP
CONTOH
Form Identifikasi Bahaya dan Risiko

RENCANA
NO AKTIVITAS BAHAYA RISIKO
PENGENDALIAN

1. Melakukan aktifitas Bekerja Terjatuh hingga E : N/A


pengecatan diatas diketinggian menyebabkan S : N/A
ketinggian 8 meter dengan kematian RE : N/A
menggunakan Scaffolding Adm : PJSM, Checklist
Scaffolding, Tag
Scaffolding, Prosedur
bekerja diketinggian,Cek
Kesehatan Pekerja,
Pengawasan yang ketat
APD : Safety Bodyharness,
Safety Shoes, Sarung
Tangan, Masker dan
Helmet
INSTRUKSI

IDENTIFIKASI BAHAYA RISIKO


1. Amati aktifitas berdasarkan gambar setelah ini, (minimal 3 aktifitas)
2. Identifikasi lah secara BERURUTAN, dimulai dari Aktivitas, Bahaya, Risiko,
dan Rencana Pengendalian
3. Kumpulkan kepada panitia pelaksana setelah selesai kegiatan
4. Waktu mengerjakan adalah 15 menit
5. Kerjakan di Form yang sudah disediakan oleh panitia.
STUDY CASE
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN & KESEHATAN
KERJA (SMK3) Versi ISO 45001:2018
PERUBAHAN PENTING OHSAS 18001 KE ISO 45001

1. Struktur tingkat tinggi (High Level Structure)


2. Perbedaan Tujuan OHSAS 18001 dan ISO 45001
3. Informasi terdokumentasi
4. Kepemimpinan Top Manajemen makin kuat
5. Harus memahami Organisasi dan Konteksnya
6. Partisipasi dan Konsultasi dari Karyawan
7. Adanya risk and Opportunity
8. Adanya klausul Management Of Change dan Improvement
9. K3 dalam procurement (Outsourching dan Contractor)
10. Klausul Improvement
11. Perbedaan Istilah dan Definisi
setelah 3 tahun harus
re-certification

standar
PERBEDAAN ISO 45001:2018 & SMK3 PP 50/2012
internasional bagi perusahaan dengan tingkat resiko tinggi
dan jumlah karyawan lebih dari 100 orang
ISO 45001:2018 SMK3 PP 50/2012
Sukarela Wajib (UU No.13/2003 & Permenaker 05/MEN/1996 )
Dilakukan audit pengawasan maksimal 1 Tahun Tidak dilakukan kembali audit (pengawasan setelah
sekali, dalam 3 tahun masa berlaku sertifikat dilakukan sertifikasi
ISO 45001 menggunakan sistem Kualitatif PP 50/2012 menggunakan system Kuantitatif
Dikeluarkan oleh Badan Sertifikasi Sertifikat dikeluarkan oleh Kemenaker RI
Audit pemenuhan regulasi tergantung dari penilaian Audit pemenuhan lebih detail
auditor
Auditor ditunjuk oleh Badan Sertifikasi Auditor ditunjuk oleh Kemenaker RI melalui SKP
Auditor bisa sebagai karyawan maupun Outsourching Auditor wajib terdaftar sebagai karyawan Lembaga
Penilaian, tidak bisa Outsorching
Audit dilakukan oleh Badan Sertifikasi yang pedoman Audit dilakukan oleh Lembaga Penilaian Audit yang
auditnya mengacu kepada ISO 19011 ditunjuk oleh Kemenaker RI dan Pedoman Audit
menggunakan Permenaker 26 Tahun 2014
APA ITU ISO
a. Adalah “non-governmental organization” yang
didirikan tahun 1947 dengan kantor pusat di
Geneva-Swiss.
b. Adalah federasi dunia dari badan standardisasi
nasional dari lebih 170 negara
c. Misi ISO adalah untuk mempromosikan
pengembangan standardisasi didalam bidang
intelektual, scientific, tekhnologi dan ekonomi.
d. ISO standard adalah “market driven”. Dimana
standard yang dikembangkan berdasarkan
consensus internasional beberapa ahli dari
bagian yang memerlukan standard.
APA ITU ISO 45001:2018

a. ISO 45001:2018 adalah standar


internasional pertama di dunia yang
menetapkan persyaratan atau
pedoman untuk sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja
(SMK3).
b. Menentukan persyaratan khusus untuk
menjalan sistem manajemen K3.
c. Berlaku untuk semua tipe dan jenis dari
sebuah organisasi.
PERKEMBANGAN ISO 45001
ISO 45001:2018
(1st issue)

OHSAS 18001:2007
(2nd issue)

2018
OHSAS 18001:1999
(1st issue)
2007
1999
P-D-C-A MODEL

bedanya
dengan ISO
9001
JADWAL PERUBAHAN ISO 45001:2018
HIGH LEVEL STRUCTURE ISO 45001

PLAN DO CHECK ACTION


4 9
5 6 7 8 10
Context of Performance
Leadership Planning Support Operation Improvement
organization Evaluation
6.1 8.1 9.1 Monitoring,
4.1 Understanding 5.1
Actions to address 7.1 Operational measurement, 10.1
organization and its Leader and
risk and Resources planning and analysis and General
context Commitment
opportunities control evaluation
10.2
4.2 Understanding 6.2 9.1.1 Incident,
See Next Slide
the needs and 5.2 OHS Policy OHS Objective and General Nonconformity and
7.2 Competence
expectations of Planning to Achieve corrective action
interested parties Them
9.1.2 10.3
5.3
4.3 Determining the Evaluation of Continual
Organizational 7.3
scope of the compliance improvement
Roles, Awareness
OHS MS responsibilities and
authorities
9.2 Internal Audit
4.4
5.4 Consultation
OH&S Management
and participation of 7.4 Communication
System
workers
9.3 Management
review
7.5
Documented
information
7
Support

7.5 Documented
7.1 Resources 7.2 Competence 7.3 Awareness 7.4 Communication
information

7.4.1
General

7.4.2
Internal
Communication

7.1.4 External
Communication
8 Operasional

8.1 Operational Planning and 8.2 Emergency Preparedness and


control Response

81.1 Eliminating hazards and


reducing OHS Risk

8.1.3 Manajement of change

8.1.4 Procurement
4. CONTEXT ORGANIZATION
4.1 MEMAHAMI ORGANISASI DAN KONTEKSNYA
❑ Organisasi harus menetapkan masalah eksternal dan internal yang
relevan dengan tujuan dan yang mempengaruhi kemampuannya
untuk mencapai hasil yang diharapkan dari sistem manajemen OH &
S-nya

Isu Internal Isu Eksternal


• Nilai Organisasi • Politik
• Budaya • Ekonomi
• People • Sosial
• Struktur Organisasi • Teknologi
• Kompetensi • Hukum
• dll • dll
4.2 MEMAHAMI KEBUTUHAN DAN HARAPAN PIHAK-PIHAK YANG
BERKEPENTINGAN
✓ Organisasi harus menetapkan:
✓ Pihak-pihak lain yang berkepentingan, selain para pekerja, yang
relevan dengan sistem manajemen OH & S
✓ Kebutuhan dan harapan (persyaratan) dari pekerja dan pihak-
pihak lain yang berkepentingan yang relevan;
✓ Kebutuhan dan harapan yang menjadi persyaratan hukum
berlaku dan persyaratan lainnya.

VENDOR/
OWNER KARYAWAN LSM
SUBCONT

PEMERINTAH Outsourcing OTHER


4.3 MENENTUKAN LINGKUP SISTEM MANAJEMEN
Organisasi harus menentukan batas-batas
dan penerapan sistem manajemen OH & S
untuk menetapkan ruang lingkup. Ketika
membuat Ruang lingkup ini, organisasi
harus:
• Mempertimbangkan isu-isu eksternal dan
internal dimaksud dalam 4.1;
• Meperhitungkan persyaratan yang
dimaksud dalam 4.2;
• Mempehitungkan aktivitas terencana
ataupun aktifitas yang dilakukan.

Ruang lingkup harus tersedia sebagai


informasi terdokumentasi.
4.4 SISTEM MANAJEMEN OH & S

• Organisasi harus menetapkan, menerapkan, memelihara dan terus


meningkatkan sistem manajemen OH & S, termasuk proses yang
diperlukan dan interaksi tersebut, sesuai dengan persyaratan Standar
ini.
5. KEPEMIMPINAN & PARTISIPASI
PEKERJA
5.1 KEPEMIMPINAN DAN KOMITMEN
❑ Mengambil tanggung jawab & akuntabilitas
untuk efektivitas sistem manajemen K3 memastikan bahwa :
❑ Mengkomunikasikan pentingnya manajemen ❑ Kebijakan K3 dan tujuan OH & S
OH & S yang efektif dan sesuai persyaratan ditetapkan dan kompatibel dengan
SMK3 arah strategis
❑ Mengarahkan dan mendukung personil untuk ❑ Iintegrasi proses sistem manajemen
berkontribusi pada ke efektifan SMK3 OH & S dan persyaratan dalam
❑ mendukung peran manajemen yang relevan proses bisnis organisasi
lainnya untuk menunjukkan kepemimpinan ❑ Sumber daya yang dibutuhkan untuk
mereka yang berlaku untuk bidang tanggung sistem manajemen K3 yang tersedia;
jawab mereka. ❑ Sistem manajemen K3 mencapai hasil
yang dimaksudkan;
❑ mengarahkan dan orang untuk
berkontribusi pada efektivitas sistem
manajemen K3 yang mendukung;

Pimpinan puncak harus


menunjukkan kepemimpinan dan
komitmen terhadap SMK3
5.2 KEBIJAKAN OH&S
• Pimpinan puncak harus menetapkan, menerapkan dan memelihara
kebijakan K3, dalam konsultuasi dengan para pekerja disemua
tingkatan organisasi
• Kebijakan K3 harus mencakup
✓ Komitmen untuk menyediakan kondisi kerja yang aman dan sehat
untuk pencegahan cedera yang berhubungan dengan pekerjaan
dan kesehatan yang buruk dan sesuai dengan tujuan, ukuran dan
konteks organisasi dan sifat spesifik risiko OH & S dan OH & S
peluang
✓ komitmen untuk memenuhi persyaratan hukum yang berlaku dan
persyaratan lainnya
✓ komitmen untuk kontrol risiko OH & S menggunakan hirarki kontrol
✓ komitmen untuk perbaikan berkesinambungan dari sistem
manajemen OH & S (lihat 10.2) untuk meningkatkan kinerja OH & S
✓ komitmen untuk partisipasi, yaitu keterlibatan pekerja, dan di
mana mereka berada, perwakilan pekerja, dalam proses
pengambilan keputusan dalam sistem manajemen OH & S
5.3 PERAN ORGANISASI TANGGUNG JAWAB, DAN WEWENANG
ORGANISASI

Pimpinan puncak harus memastikan bahwa


tanggung jawab dan wewenang untuk peran
yang relevan ditugaskan, dikomunikasikan dan
dipahami dalam organisasi.

Manajemen puncak harus menetapkan


tanggung jawab dan wewenang untuk:
a. memastikan bahwa sistem manajemen OH
& S sesuai persyaratan Standar ini;
b. melaporkan kinerja sistem manajemen OH &
S ke manajemen puncak
5.4 KONSULTASI DAN PARTISIPASI PEKERJA
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses-proses
konsultasi dan partisipasi pekerja di semua tingkatan dan fungsi yang berlaku, dan,
apabila ada, perwakilan pekerja, dalam pengembangan, perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi kinerja dan tindakan perbaikan SMK3.
Organisasi harus:

a) Menyediakan mekanisme, waktu, pelatihan dan sumber daya yang diperlukan


untuk konsultasi dan partisipasi;
b) Menyediakan akses yang cepat ke informasi yang jelas, dapat dimengerti dan
relevan tentang SMK3;
c) Menentukan dan menghilangkan gangguan atau hambatan untuk berpartisipasi
dan meminimalkan gangguan yang tidak dapat dihilangkan;
d) Menekankan adanya konsultasi pekerja non-manajerial
e) Menekankan pastisipasi konsultasi pekerja non-manajerial
6. PERENCANAAN
6.1 TINDAKAN PENGELOLAAN RISIKO DAN PELUANG
6.1.1 Umum
Ketika merencanakan untuk sistem manajemen OH & S, organisasi harus
mempertimbangkan isu-isu dimaksud dalam 4.1 (konteks), persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam 4,2 (pihak yang berkepentingan) dan 4,3 (lingkup
sistem manajemen OH & S) dan menentukan risiko dan peluang yang perlu
ditangani untuk:
a) memberikan jaminan bahwa sistem manajemen OH & S dapat mencapai hasil
yang dimaksudkan (s);
b) mencegah, atau mengurangi, efek yang tidak diinginkan;
c) mencapai perbaikan berkelanjutan

Organisasi harus menilai risiko dan mengidentifikasi peluang yang relevan dengan
hasil yang diharapkan dari sistem manajemen OH & S berhubungan dengan
perubahan organisasi, proses, atau sistem manajemen OH & S. Dalam kasus
perubahan yang direncanakan, permanen atau sementara, penilaian ini harus
dilakukan sebelum perubahan diimplementasikan
6.1 TINDAKAN UNTUK MENGATASI RISIKO DAN PELUANG
6.1.2 Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko OH & S
6.1.2.1 Identifikasi Bahaya
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses untuk identifikasi
proaktif on-akan bahaya yang timbul. Proses ini harus memperhitungkan tetapi tidak
terbatas pada:
a. activitas rutin dan non-rutin
b. situasi darurat
c. faktor manusia/orang
d. perubahan aktual atau diusulkan dalam operasi organisasi, proses, kegiatan dan
sistem manajemen OH & S
e. perubahan dalam pengetahuan, dan informasi tentang, bahaya
f. insiden terakhir, internal atau eksternal untuk organisasi, termasuk keadaan
darurat, dan penyebabnya
g. bagaimana pekerjaan diatur dan faktor sosial, termasuk beban kerja, jam kerja,
kepemimpinan dan budaya dalam organisasi
h. Isu-isu lain seperti desain area kerja, proses, installasi mesin, aktifitas dibawah
kendali organisasi, dan situasi yang tidak dikendalikan oleh organisasi
6.1 TINDAKAN UNTUK MENGATASI RISIKO DAN PELUANG
6.1.2.2 Penilaian risiko OH & S dan risiko lainnya terkait sistem
manajemen SMK3 lainnya
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses
untuk
a) menilai risiko OH&S dari identifikasi bahaya dengan
mempertimbangkan persyaratan hukum yang berlaku dan
persyaratan lain dan efektivitas kontrol yang ada;
b) mengidentifikasi dan menilai risiko yang berkaitan dengan penentuan ,
pelaksanaan, operasi dan pemeliharaan sistem manajemen OH & S
yang dapat terjadi dari isu-isu yang diidentifikasi dalam 4.1 dan
kebutuhan dan harapan diidentifikasi dalam 4.2.
6.1 TINDAKAN UNTUK MENGATASI RISIKO DAN PELUANG
6.1.2.3 Penilaian peluang K3 dan peluang SMK3 lainnya

Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses


untuk mengidentifikasi:
Peluang untuk meningkatkan kinerja OH & S dengan
mempertimbangkan:
1. perubahan yang direncanakan organisasi, proses atau kegiatan ;
2. peluang untuk menghilangkan atau mengurangi risiko OH & S;
3. peluang untuk menyesuaikan kerja , kerja organisasi dan lingkungan
kerja untuk pekerja;

Peluang untuk meningkatkan sistem manajemen OH & S


6.1.3 PENENTUAN PERSYARATAN HUKUM YANG BERLAKU DAN PERSYARATAN
LAINNYA
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses untuk
a) menentukan dan memiliki akses ke up-to-date persyaratan hukum dan
persyaratan lainnya yang diikuti organisasi yang berlaku untuk bahaya dan risiko
OH & S;
b) menentukan bagaimana persyaratan hukum dan persyaratan lainnya yang
berlaku untuk organisasi dan apa yang perlu dikomunikasikan (lihat 7.4)
c) mengambil persyaratan hukum dan persyaratan lain pada saat penetapan,
penerapan, pemeliharaan dan terus meningkatkan sistem manajemen OH & S
6.1.4 PERENCANAAN UNTUK MENGAMBIL TINDAKAN
Organisasi harus merencanakan:

Tindakan untuk:
1) mengatasi risiko dan peluang (lihat 6.1.2.3 dan 6.1.2.4);
2) mengatasi persyaratan hukum yang berlaku dan persyaratan lainnya (lihat
6.1.3);
3) mempersiapkan, dan menanggapi, situasi darurat (lihat 8.6);
Dan bagaimana
1) mengintegrasikan dan menerapkan tindakan ke dalam proses sistem
manajemen OH & S atau proses bisnis lainnya;
2) mengevaluasi efektivitas tindakan ini
Organisasi harus memperhitungkan hirarki kontrol (lihat 8.1.2) dan hasil dari sistem
manajemen OH & S (lihat 10.2.2) ketika merencanakan untuk mengambil tindakan

Ketika merencanakan tindakan ini, organisasi harus mempertimbangkan praktik


terbaik, pilihan teknologi, financial, operasional dan persyaratan bisnis dan kendala
6.2 TUJUAN OH & S DAN PERENCANAAN UNTUK MENCAPAINYA
6.2.1 Sasaran K3
Organisasi harus menetapkan tujuan atau sasaran K3 pada fungsi dan
tingkat relevan untuk memelihara dan meningkatkan sistem manajemen
OH & S dan untuk mencapai perbaikan berkelanjutan kinerja OH & S
Tujuan OH&S harus :
a. konsisten dengan OH & S kebijakan
b. mempertimbangkan persyaratan hukum yang berlaku dan persyaratan
lainnya;
c. memperhitungkan hasil penilaian risiko OH & S dan OH & S peluang
d. memperhitungkan output dari konsultasi dengan pekerja, dan bila ada,
perwakilan pekerja;
e. dapat diukur (jika memungkinkan) atau mampu evaluasi;
f. dipantau;
g. secara jelas dikomunikasikan
h. diperbaharui kesesuainnya .
6.2.2 Perencanaan untuk mencapai tujuan OH & S
Ketika merencanakan bagaimana mencapai nya tujuan OH & S ,
organisasi harus menetapkan:
a. apa yang akan dilakukan;
b. sumber daya apa yang akan diperlukan;
c. yang akan bertanggung jawab;
d. ketika akan selesai;
e. bagaimana akan diukur melalui indikator (jika memungkinkan) dan
dipantau, termasuk frekuensi;
f. bagaimana hasil akan dievaluasi;
g. bagaimana tindakan untuk mencapai tujuan OH & S akan
diintegrasikan ke dalam proses bisnis organisasi
7. Dukungan
7.1 SUMBER DAYA
Organisasi harus menetapkan dan menyediakan sumber daya yang
dibutuhkan untuk pembentukan, implementasi, pemeliharaan dan
perbaikan berkesinambungan dari sistem manajemen OH & S
7.2 KOMPETENSI
Organisasi harus:
a. menentukan kompetensi yang diperlukan pekerja yang
mempengaruhi atau dapat mempengaruhi nya OH & S kinerja;
b. memastikan bahwa para pekerja yang kompeten atas dasar
pendidikan, induksi, pelatihan, atau pengalaman;
c. mana yang berlaku, mengambil tindakan untuk memperoleh
kompetensi yang diperlukan, dan mengevaluasi efektivitas dari
tindakan yang diambil;
d. menyimpan informasi didokumentasikan tepat sebagai bukti
kompetensi.
7.3 KEPEDULIAN
Pekerja harus peduli :
a. Kebijakan OH&S
b. kontribusi mereka terhadap efektivitas sistem OH & S manajemen,
termasuk keuntungan dari peningkatan OH & S kinerja;
c. implikasi dari tidak sesuai dengan persyaratan sistem manajemen
OH & S, termasuk konsekuensi, aktual atau potensial, aktivitas
kerja mereka;
d. informasi dan hasil investigasi insiden yang relevan;
e. OH & S bahaya dan risiko yang relevan untuk mereka
7.3 INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Organisasi harus menentukan kebutuhan informasi internal dan eksternal


dan komunikasi yang relevan dengan sistem manajemen OH & S termasuk:
a. apa yang akan diinformasikan dan komunikasi;
b. kapan harus menginformasikan dan berkomunikasi;
c. siapa menginformasikan dan dengan siapa berkomunikasi:
d. internal antara berbagai tingkatan dan fungsi organisasi;
e. dengan kontraktor dan pengunjung ke tempat kerja
f. dengan pihak eksternal atau berkepentingan lainnya;
g. bagaimana untuk menginformasikan dan berkomunikasi;
h. bagaimana hal itu akan menerima, memelihara informasi
didokumentasikan, dan menanggapi komunikasi yang relevan
7.3 INFORMASI DOKUMENTASI
7.3.1 Umum
Sistem manajemen OH & S organisasi meliputi:

a. Didokumentasikan informasi yang diperlukan oleh standar ini;

b. Didokumentasikan informasi ditentukan oleh organisasi yang diperlukan untuk


efektivitas sistem manajemen OH & S.

CATATAN Luasnya informasi didokumentasikan untuk sistem manajemen OH & S


dapat berbeda dari satu organisasi ke yang lain tergantung:
• Ukuran organisasi dan jenisnya kegiatan, proses, produk dan jasa;
• Kompleksitas proses dan interaksinya;
• Kompetensi personil/orang
7.3 INFORMASI DOKUMENTASI (2)

7.3.2 Membuat dan Memperbaharui


Ketika membuat dan memperbarui informasi terdokumentasi organisasi harus
memastikan dengan tepat:

a. identifikasi dan deskripsi (mis judul, tanggal, penulis, atau nomor referensi);
b. Format (bahasa misalnya, versi software, grafis) dan media (misalnya kertas,
elektronik);
c. Review dan disetujui untuk kesesuaian dan kecukupan
7.3 INFORMASI DOKUMENTASI (3)
❑ Untuk kontrol informasi terdokumentasi, organisasi harus menangani
kegiatan-kegiatan berikut yang berlaku:
▪ Distribusi, akses, pengambilan dan penggunaan;
▪ Penyimpanan dan pelestarian, termasuk pelestarian
keterbacaan;
▪ Pengendalian perubahan (misalnya kontrol versi);
▪ Retensi dan disposisi.
❑ Informasi terdokumentasi dari
eksternal ditentukan oleh organisasi
yang akan diperlukan untuk
perencanaan dan operasi SML harus
diidentifikasi, yang sesuai, dan
dikendalikan
8. OPERASIONAL
8.1 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN OPERASIONAL (1)
8.1.1 Umum
Organisasi harus merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan proses
yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen OH & S, dan
untuk melaksanakan tindakan ditentukan dalam 6.1 Klausul 6, oleh:
a) Menetapkan kriteria untuk proses;
b) melaksanakan pengendalian proses sesuai dengan kriteria;
c) menjaga informasi didokumentasikan sejauh yang diperlukan untuk memiliki
keyakinan bahwa proses telah dilakukan seperti yang direncanakan;
d) menentukan situasi di mana tidak adanya informasi yang didokumentasikan
dapat menyebabkan penyimpangan dari OH & S kebijakan dan tujuan OH &
S;
e) mengadaptasi bekerja untuk pekerja
Pada tempat kerja multi-pekerja, organisasi harus menerapkan proses untuk
mengkoordinasikan bagian-bagian yang relevan dari sistem manajemen OH & S
dengan organisasi lain
8.1 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN OPERASIONAL (2)
8.1.2 Hirarki Kontrol
Organisasi harus menetapkan proses dan menentukan kontrol untuk mencapai
pengurangan risiko OH & S menggunakan hierarki berikut:

a) menghilangkan bahaya;
b) pengganti dengan kurang berbahaya bahan, proses, operasi atau peralatan;
c) menggunakan kontrol rekayasa;
d) menggunakan kontrol administratif;
e) menyediakan dan memastikan penggunaan alat pelindung diri yang
memadai.
8.1.3 MANAJEMEN PERUBAHAN
Organisasi harus menetapkan proses untuk pelaksanaan dan pengendalian
perubahan yang direncanakan yang berdampak OH & S kinerja seperti:

a. produk baru, proses atau jasa;


b. perubahan untuk proses kerja, prosedur, peralatan, atau struktur organisasi;
c. perubahan persyaratan hukum yang berlaku dan persyaratan lainnya;
d. perubahan pengetahuan atau informasi tentang bahaya dan terkait risiko OH & S;
e. perkembangan pengetahuan dan teknologi.
Organisasi harus mengendalikan perubahan sementara dan permanen untuk
mempromosikan OH & S peluang dan untuk memastikan mereka tidak memiliki
dampak yang merugikan OH & S kinerja.

Organisasi harus meninjau konsekuensi dari perubahan yang tidak diinginkan,


mengambil tindakan untuk menurunkan efek , yang diperlukan, termasuk mengambil
peluang potensial
8.1.4 PROCUREMENT (1) pengadaan

8.1.4.1 Umum
Organisasi harus membuat, menerapkan, dan memelihara proses untuk mengendalikan
pengadaan produk dan layanan untuk memastikan kesesuaiannya dengan sistem
manajemen K3.

8.1.4.2 Kontraktor
Organisasi harus menetapkan proses untuk mengidentifikasi dan mengkomunikasikan
bahaya dan untuk mengevaluasi dan kontrol, risiko OH & S, yang ditimbulkan dari:
a. kegiatan kontraktor dan operasi untuk pekerja organisasi;
b. kegiatan organisasi dan operasi untuk pekerja kontraktor;
c. kegiatan kontraktor dan operasi kepada pihak lain yang berkepentingan di tempat
kerja;
d. kegiatan dan operasi untuk kontraktor kontraktor pekerja

Organisasi harus menetapkan dan memelihara proses untuk memastikan bahwa


persyaratan sistem manajemen OH & S organisasi dipenuhi oleh kontraktor dan pekerja
mereka. Proses ini harus mencakup kriteria OH & S untuk pemilihan kontraktor
8.1.4 PROCUREMENT (2)
8.1.4.3 Outsourcing
Organisasi harus memastikan bahwa proses outsourcing mempengaruhi
sistem manajemen OH & S yang dikendalikan. Jenis dan tingkat
pengendalian yang akan diterapkan untuk proses-proses ini harus
ditetapkan dalam sistem manajemen OH & S.

CATATAN Koordinasi dengan penyedia eksternal dapat membantu


organisasi untuk mengatasi dampak outsourcing terhadap kinerja K3
8.2 KESIAPSIAGAAN DAN TANGGAP DARURAT
Organisasi harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara proses yang diperlukan
untuk mempersiapkan dan menanggapi potensi situasi darurat, sebagaimana
diidentifikasi dalam termasuk:
a. menetapkan ERP terhadap situasi darurat, termasuk penyediaan pertolongan
pertama;
b. memberikan pelatihan untuk respons yang direncanakan
c. secara berkala menguji dan melaksanakan kemampuan respons yang direncanakan;
d. mengevaluasi kinerja dan, jika perlu, merevisi respons yang direncanakan, termasuk
setelah pengujian dan, khususnya, setelah terjadinya situasi darurat.
e. mengkomunikasikan dan memberikan informasi yang relevan kepada semua pekerja
tentang tugas dan tanggung jawab mereka
f. mengkomunikasikan informasi yang relevan kepada kontraktor, pengunjung, layanan
tanggap darurat, otoritas pemerintah dan, jika sesuai, masyarakat setempat;
g. Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan semua pihak yang
berkepentingan yang relevan dan memastikan keterlibatan mereka, sebagaimana
mestinya, dalam pengembangan respons yang direncanakan.

Organisasi harus memelihara dan menyimpan informasi yang terdokumentasi tentang


proses dan rencana untuk menanggapi situasi darurat potensial.
9. EVALUASI KINERJA
9.1 PEMANTAUAN, PENGUKURAN, ANALISIS DAN EVALUASI
9.1.1 Umum
Organisasi harus menetapkan, menerapkan dan memelihara proses pemantauan,
pengukuran dan evaluasi
Organisasi harus menetapkan:
a) apa yang perlu dipantau dan diukur, termasuk:
1. persyaratan hukum yang berlaku dan persyaratan lainnya;
2. kegiatan dan operasi yang berhubungan dengan identifikasi bahaya dan
risiko OH & S; risiko, dan peluang OH & S
3. kemajuan menuju pencapaian sasaran K3 organisasi
4. efektivitas pengendalian operasional dan lainnya
b) kriteria yang organisasi akan mengevaluasi nya OH & S kinerja
c) metode untuk pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi, sebagaimana
berlaku, untuk memastikan hasil yang sah
d) ketika pemantauan dan pengukuran harus dilakukan;
e) ketika hasil dari pemantauan dan pengukuran harus dianalisis, dan dievaluasi dan
dikomunikasikan

Organisasi harus memastikan, sebagaimana berlaku, bahwa pemantauan dan


pengukuran peralatan dikalibrasi atau diverifikasi dan digunakan dan dipelihara
sesuai.
9.1.2 EVALUASI KEPATUHAN

Organisasi harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara proses untuk


mengevaluasi kepatuhan terhadap persyaratan hukum dan persyaratan
lainnya (lihat 6.1.3).
Organisasi harus:
a. menentukan frekuensi dan metode untuk evaluasi kepatuhan;
b. mengevaluasi kepatuhan dan mengambil tindakan jika diperlukan (lihat
10.2);
c. memelihara pengetahuan dan pemahaman tentang status
kepatuhannya dengan persyaratan hukum dan persyaratan lainnya;
d. menyimpan informasi yang terdokumentasi dari hasil evaluasi kepatuhan.
9.2 AUDIT INTERNAL (1)
9.2.1 General
Organisasi harus melakukan audit internal pada interval yang direncanakan
untuk memberikan informasi apakah sistem manajemen K3 sesuai dengan:
1. persyaratan organisasi sendiri untuk sistem manajemen K3, termasuk kebijakan
K3 dan sasaran K3;
2. persyaratan dokumen ini;
3. diimplementasikan dan dipelihara secara efektif.
9.2 AUDIT INTERNAL (2) cross-audit

yang audit
9.2.2 Program Internal Audit berasal dr divisi
yng beda
biar objektif dan
Organisasi harus: netral
a. merencanakan, menetapkan, menerapkan dan memelihara program audit
termasuk frekuensi, metode, tanggung jawab, konsultasi, persyaratan
perencanaan dan pelaporan, yang akan mempertimbangkan pentingnya
proses yang bersangkutan dan hasil audit sebelumnya;
b. menetapkan kriteria dan ruang lingkup audit untuk setiap audit;
c. memilih auditor dan melakukan audit untuk memastikan objektivitas dan
ketidakberpihakan proses audit;
d. memastikan bahwa hasil audit dilaporkan kepada manajer terkait; memastikan
bahwa hasil audit yang relevan dilaporkan kepada pekerja, dan, jika ada,
perwakilan pekerja, dan pihak berkepentingan terkait lainnya;
e. mengambil tindakan untuk mengatasi ketidaksesuaian dan terus meningkatkan
kinerja K3
f. menyimpan informasi yang terdokumentasi sebagai bukti pelaksanaan
program audit dan hasil audit.
9.2 MANAGEMENT REVIEW
Manajemen puncak harus meninjau sistem manajemen K3 organisasi, pada interval
yang direncanakan, untuk memastikan kesesuaian, kecukupan, dan efektivitasnya
yang berkelanjutan. Tinjauan manajemen harus mencakup pertimbangan:
a. status tindakan dari tinjauan manajemen sebelumnya;
b. perubahan dalam masalah eksternal dan internal yang relevan dengan sistem
manajemen OH&S, termasuk:
1. kebutuhan dan harapan pihak yang berkepentingan
2. persyaratan hukum dan persyaratan lainnya
3. risiko dan peluang
3. Sejauh mana kebijakan K3 dan sasaran K3 telah tercapai informasi tentang
kinerja K3, termasuk tren dalam:
1. insiden, ketidaksesuaian, tindakan korektif dan peningkatan berkelanjutan;
2. hasil pemantauan dan pengukuran;
3. hasil evaluasi kepatuhan dengan persyaratan hukum dan persyaratan
lainnya;
4. hasil audit;
5. konsultasi dan partisipasi pekerja;
6. risiko dan peluang;
9.2 MANAGEMENT REVIEW
e) kecukupan sumber daya untuk memelihara sistem manajemen K3 yang efektif
f) komunikasi yang relevan dengan pihak-pihak yang berkepentingan
g) peluang untuk perbaikan berkelanjutan.

Output dari tinjauan manajemen harus mencakup keputusan yang terkait dengan:
- kesesuaian yang berkelanjutan, kecukupan dan efektivitas sistem manajemen K3
dalam mencapai hasil yang diharapkan;
- peluang peningkatan berkelanjutan;
- setiap kebutuhan untuk perubahan pada sistem manajemen OH&S;
- sumber daya yang dibutuhkan;
- tindakan, jika perlu;
- Peluang untuk meningkatkan integrasi OH & sistem manajemen dengan proses
bisnis lainnya;
- setiap implikasi untuk arah strategis organisasi.
Manajemen puncak harus mengkomunikasikan output yang relevan dari tinjauan
manajemen kepada pekerja, dan, jika ada, perwakilan pekerja (lihat 7.4).
Organisasi harus menyimpan informasi yang didokumentasikan sebagai bukti dari
hasil tinjauan manajemen.
10. IMPROVEMENT
10.1 GENERAL
Organisasi harus menentukan peluang untuk perbaikan (lihat Klausul 9)
dan menerapkan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang
diinginkan dari sistem manajemen K3.
10.2 INSIDEN, KETIDAKSESUAIAN DAN TINDAKAN KOREKTIF
Organisasi harus menetapkan, menerapkan, dan memelihara suatu proses, termasuk
melaporkan, menginvestigasi dan mengambil tindakan, untuk menentukan dan mengelola
insiden dan ketidaksesuaian. Ketika insiden atau ketidaksesuaian terjadi, organisasi harus:
a. bereaksi secara tepat waktu terhadap insiden atau ketidaksesuaian dan, sebagaimana
berlaku:
1) mengambil tindakan untuk mengendalikan dan memperbaikinya;
2) berurusan dengan konsekuensinya;
b. mengevaluasi, dengan partisipasi pekerja (lihat 5.4) dan keterlibatan pihak berkepentingan
terkait lainnya, perlunya tindakan korektif untuk menghilangkan akar penyebab insiden
atau ketidaksesuaian, agar tidak berulang atau terjadi di tempat lain, oleh:
1) menyelidiki insiden atau meninjau ketidaksesuaian;
2) menentukan penyebab insiden atau ketidaksesuaian;
3) menentukan apakah insiden serupa telah terjadi, jika ada ketidaksesuaian, atau jika
mereka berpotensi terjadi;
c. mengkaji penilaian risiko K3 yang ada dan risiko lainnya, sebagaimana sesuai (lihat 6.1);
d. menentukan dan menerapkan tindakan apa pun yang diperlukan, termasuk tindakan
korektif, sesuai dengan hierarki kontrol (lihat 8.1.2) dan manajemen perubahan (lihat 8.1.3);
e. menilai risiko K3 yang terkait dengan bahaya baru atau yang berubah, sebelum mengambil
tindakan;
10.2 INSIDEN, KETIDAKSESUAIAN DAN TINDAKAN KOREKTIF
f. meninjau efektivitas tindakan yang diambil, termasuk tindakan korektif;
g. membuat perubahan pada sistem manajemen K3, jika perlu.
Tindakan korektif harus sesuai dengan efek atau efek potensial dari
insiden atau ketidaksesuaian yang ditemui.

Organisasi harus menyimpan informasi yang terdokumentasi sebagai bukti


dari:
- sifat insiden atau ketidaksesuaian dan tindakan selanjutnya yang diambil;
- hasil dari setiap tindakan dan tindakan korektif, termasuk keefektifannya.

Organisasi harus mengomunikasikan informasi yang terdokumentasi ini


kepada pekerja yang relevan, dan, jika ada, perwakilan pekerja, dan
pihak berkepentingan terkait lainnya.
10.3 PERBAIKAN TERUS MENERUS

Organisasi harus terus meningkatkan kesesuaian, kecukupan, dan


efektivitas sistem manajemen K3, dengan:
a. meningkatkan kinerja K3;
b. mempromosikan budaya yang mendukung sistem manajemen K3;
c. mempromosikan partisipasi pekerja dalam melaksanakan tindakan untuk
perbaikan berkelanjutan dari sistem manajemen K3;
d. mengomunikasikan hasil yang relevan dari peningkatan berkelanjutan
kepada pekerja, dan, jika ada, perwakilan pekerja;
e. memelihara dan menyimpan informasi yang terdokumentasi sebagai
bukti peningkatan yang berkelanjutan.
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN & KESEHATAN
KERJA (SMK3) Versi SMK3 PP 50/2012
DASAR HUKUM
Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
BAB II
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Bagian Kesatu
UMUM
PASAL 5

1. Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 di perusahaannya


2. Kewajiban sebagaimana disebutkan pada ayat (1) berlaku bagi perusahaan :
• Mempekerjakan pekerja / buruh paling sedikit 100 (seratus) orang; atau
• Mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi
Lanjutan…
Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
BAB II
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Bagian Kesatu
UMUM
PASAL 5

3. Ketentuan mengenai tingkat potensi bahaya tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b,
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan
4. Pengusaha dalam menerapkan SMK3 wajib berpedoman pada Peraturan Pemerintah ini dan
ketentuan peraturan perundang-undangan serta dapat memperhatikan konvensi atau standar
internasional.
MODEL SISTEM MANAJEMEN K3 PP 50/2012
ELEMEN AUDIT SMK3 – PP No. 50 Tahun 2012
Elemen Audit 1 – Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen
1.1 Kebijakan K3
1.2 Tanggung Jawab dan Wewenang untuk Bertindak
1.3 Tinjauan Ulang dan Evaluasi
1.4 Keterlibatan dan Konsultasi Tenaga Kerja

Elemen Audit 2 – Strategi Pendokumentasian


2.1 Perencanaan Strategi K3
2.2 Manual SMK3
2.3 Peraturan Perundangan dan Persyaratan Lainnya
2.4 Penyebarluasan Informasi K3

Elemen Audit 3 – Peninjauan Ulang Perancangan dan Kontrak


3.1 Pengendalian Perancangan
3.2 Peninjauan Ulang Kontrak

Elemen Audit 4 – Pengendalian Dokumen


4.1 Persetujuan, Pengeluaran, dan Pengendalian Dokumen
4.2 Perubahan dan Modifikasi Dokumen
ELEMEN AUDIT SMK3 – PP No. 50 Tahun 2012
Elemen Audit 5 – Pembelian
5.1 Spesifikasi Pembelian Barang dan Jasa
5.2 Sistem Verifikasi untuk Barang dan Jasa yang
dibeli
5.3 Kontrol Barang dan Jasa yang dipasok Pelanggan
5.4 Kemampuan Telusur Produk
Elemen Audit 7 – Standar Pemantauan
7.1 Pemeriksaan Bahaya
Elemen Audit 6 – Keamanan Bekerja
7.2 Pemantauan K3L Kerja
6.1 Sistem Kerja
7.3 Peralatan Inspeksi, Pengujian dan
6.2 Pengawasan
Pengukuran
6.3 Seleksi dan Penempatan Personil
7.4 Pemantauan Kesehatan
6.4 Area Terbatas
6.5 Pemeliharaan, Perbaikan dan Perubahan Sarana
Produksi
6.6 Pelayanan
6.7 Kesiapan untuk menangani Keadaan Darurat
6.8 P3K
6.9 Rencana dan Pemulihan Keadaan Darurat
ELEMEN AUDIT SMK3 – PP No. 50 Tahun 2012
Elemen Audit 8 – Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan
8.1 Pelaporan Bahaya
8.2 Pelaporan Insiden
8.3 Pemeriksaan dan Pengkajian Kecelakaan
8.4 Penanganan Masalah

Elemen Audit 9 – Pengelolaan Material dan Perpindahannya


9.1 Penanganan secara Manual dan Mekanis
9.2 Sistem Pengangkutan, Penyimpanan, dan Pembuangan
9.3 Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya
ELEMEN AUDIT SMK3 – PP No. 50 Tahun 2012
Elemen Audit 10 – Pengumpulan dan Penggunaan Data
10.1 Catatan K3
10.2 Data dan Laporan K3

Elemen Audit 11 – Audit Sistem Manajemen K3

Elemen Audit 12 – Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan


12.1 Strategi Pelatihan
12.2 Pelatihan bagi Manajemen dan Supervisor
12.3 Pelatihan bagi Tenaga Kerja
12.4 Pelatihan untuk Pengenalan bagi Pengunjung dan Kontraktor
12.5 Pelatihan Keahlian Khusus
SUB SIKLUS – 1
PRA PERENCANAAN
PRA PERENCANAAN : KOMITMEN DAN KEBIJAKAN
Komitmen dalam SMK3, meminta dalam bentuk
MANUAL, yang meliputi :

1. Ruang Lingkup
2. Kebijakan K3
3. Tujuan K3
4. Rencana K3
5. Prosedur K3
6. Instruksi kerja K3
7. Formulir K3
8. Catatan Kerja K3
9. Job Description terkait K3 untuk semua tingkatan
dalam perusahaan.
PRA PERENCANAAN : KOMITMEN DAN KEBIJAKAN

KEBIJAKAN K3 harus berisi :

1. Sesuai Sifat dan Skala Perusahaan


2. Komitmen Penyempurnaan berkelanjutan &
pencegahan Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan
Kecelakaan Akibat Kerja (KAK).
3. Komitmen mematuhi perundang-undangan dan
persyaratan lainnya
4. Kerangka Kerja dan sasaran K3;
PRA PERENCANAAN : KOMITMEN DAN KEBIJAKAN
Kebijakan K3 harus memperhatikan masukan dari buruh dan/atau pekerja

Kebijakan K3 khusus diperbolehkan untuk masalah K3 bersifat khusus

Penetapan KEBIJAKAN K3, harus :


• Disahkan oleh pucuk pimpinan
• Tertulis, tertanggal dan ditandatangani
• Secara jelas menyatakan tujuan dan sasaran K3
• Dijelaskan dan disebarluaskan kepada tamu, kontraktor/sub, pemasok, pelanggan
• Terdokumentasi dan terpelihara dengan baik
• Bersifat dinamis
• Ditinjau ulang secara berkala
SUB SIKLUS – 2
PERENCANAAN
PERENCANAAN : IDENTIFIKASI BAHAYA RISIKO

Identifikasi BAHAYA RISIKO harus memperhatikan :


Identifikasi
1. Aktivitas seluruh pekerja, tamu dan kontraktor Bahaya
2. Perilaku, Kemampuan dan Faktor Manusia
3. Infrastruktur, fasilitas, peralatan, mesin, material, proses,
Identifikasi
desain area kerja (dari dalam maupun dari luar) Risiko
4. Perencanaan/pengembangan baru
5. Peraturan perundangan dan persyaratan lainnya Identifikasi
Pengendalian
6. Kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan yg ada
7. Kondisi Rutin, Non Rutin dan Darurat
8. Modifikasi yang dilakukan, baik sementara maupun tetap Tentukan
Nilai
Risiko
TIPS MEMBANGUN SISTEM SMK3 DI PERUSAHAAN
1. Pelatihan pengenalan dan fundamental ISO 45001:2018, & SMK3 PP 50/2012
2. Gap Analysis (gunakan Checklist)
3. Adakan meeting/rapat K3 diperusahaan dengan pimpinan tertinggi dan jajarannya.
4. Tetapkan Kebijakan, isu internal & Eksternal, pemangku kepentingan, Risk Assessment
untuk K3 seperti HIRADC
5. Membuat Sign, Poster, Kampanye K3, dan Promosi K3 kepada semua karyawan
6. Tetapkan OTP K3
7. Memuali membuat dokumentasi (Manual, Prosedur, Dokumen terkait.
8. Implementasi dilapangan segera dilakukan
9. Semua bukti pelaksanaan K3 disimpan dan dikumpulkan secara rapi
10. Pelatihan dan Pelaksanaan Audit Internal
11. Pelaksanaan Tinjauan Manajemen
12. Mengajukan Audit ISO 45001:2018 ke Badan Sertifikasi atau SMK3 PP 50/2012 ke
Kemenaker RI
THANK YOU
PT SAFF SUPRIMA UTAMA
The CEO Building Level 12
Jl. TB Simatupang No. 18C Cilandak Jakarta
+62 21 304 90 111