Anda di halaman 1dari 15

II.

DATA HIDROLOGI UNTUK PERENCANAAN


BANGUNAN AIR

2.1. Pengertian Umum

Pada setiap perencanaan bangunan air akan selalu dilakukan kegiatan analisis
hidrologi dan analisis hidraulika. Seperti telah diuraikan pada bab terdahulu,
pembuatan bangunan air pada sungai yang umumnya merupakan bagian dari suatu
upaya pemanfaatan potensi wilayah sungai, akan menyebabkan adanya perubahan
dalam hal fisik, karakteristik hidrologi maupun lingkungan. Dalam hal ini tentunya
harus diusahakan agar rancangan bangunan air yang akan dibuat semaksimal
mungkin dapat menekan perubahan karakteristik DAS ke arah yang merugikan baik
bagi masyarakat setempat maupun terhadap kesetimbangan lingkungan. Untuk itu
karakteristik hidrologi dan hidraulika yang ada pada saat sebelum bangunan air
dibuat harus diketahui dan dianalisis menggunakan prosedur yang benar untuk dapat
menyajikan data perencanaan yang akurat. Setiap kegiatan dalam rangka
perencanaan bangunan sungai akan selalu diperlukan data hidrologi dan data
hidraulika (Pedoman Perencanaan Hidrologi dan Hidraulika untuk Bangunan di
sungai, 1987).
Informasi penting yang umum dipakai sebagai dasar pertimbangan suatu
rencana pembuatan bangunan sungai adalah karakteristik hidrologi DAS dan
karakteristik hidraulika dari sungai dimana suatu bangunan air akan dibuat. Kedua
hal tersebut saling terkait yang mana perubahan yang dapat terjadi merupakan proses
alami menuju kepada suatu keseimbangan baru. Dalam hal ini sifat-sifat hidarulika
suatu alur sungai akan sangat tergantung kepada proses hidrologi yang ada pada DAS
tersebut.
Contoh yang mudah ditelaah adalah sebuah waduk serbaguna yang besar
dengan konstruksi bendungan yang dibangun pada alur sungai di bagian hulu DAS.
Akibat adanya waduk tersebut maka tipikal aliran sungai di bagian hilir tentunya
akan sangat tergantung kepada pola operasi pelepasan air dari waduk. Demikian pula

14
dengan proses angkutan dan pengendapan sedimen pada alur sungai di bawah waduk
juga akan berubah yang menyebabkan perubahan pada sifat geometri sungai seperti
kemiringan dasar dan kekasaran dasar sungai.
Apabila waduk tersebut juga dimaksudkan untuk pengendalian banjir, tentunya
kapasitas tampungan dan pola operasi waduk harus didasarkan pada seberapa besar
tingkat pengurangan volume aliran banjir yang diinginkan, terutama pada periode
musim banjir. Untuk itu diperlukan analisis perkiraan volume banjir dengan
menggunakan data debit dan hujan ekstrim yang pernah terjadi pada lokasi waduk.
Untuk keperluan irigasi, diharapkan waduk dapat menampung air sebanyak
mungkin untuk digunakan pada musim kemarau dimana kebutuhan suplai air untuk
pertanian meningkat karena curah hujan sudah sangat kecil dan debit sungai juga
berkurang, bahkan tidak jarang dijumpai adanya kekeringan yang cukup panjang.
Beberapa waduk besar terutama di Jawa digunakan untuk keperluan pasok
energi listrik (PLTA). Waduk demikian menghendaki kontinuitas potensi pelepasan
air untuk menggerakkan turbin generator PLTA yang relatif tidak terlalu tergantung
kepada periode musim (penghujan dan kemarau), karena kebutuhan pasok energi
listrik relatif tetap, fluktuasi mungkin hanya terjadi dalam kurun waktu harian, antara
siang dan malam. Secara skematis, ilustrasi singkat terkait dengan persoalan
perlunya data hidrologi dan data hidraulika ini, ditunjukkan pada Gambar 2.1.
Dari sedikit uraian tersebut dapat dipahami bahwa pola penggunaan air sangat
bervariasi, sedangkan sifat ketersediaan air relatif tetap yang dapat diketahui dari
hasil analsis hidrologi pada DAS yang ditinjau. Dalam hal penerapan analisis
hidrologi untuk keperluan rancangan bangunan air, selain prosedur yang benar dan
metode yang sesuai, ketersediaan data hidrologi yang memadai baik dalam hal
jumlah/panjang data maupun kualitas data juga akan sangat menentukan ketelitian
hasil yang didapatkan. Selain itu juga macam data dan cara-cara pengolahan data
dasar untuk disiapkan sebagai masukan dalam hitungan analsis hidrologi juga harus
diperhatikan.

15
Pada bab ini akan diuraikan beberapa macam data dasar hidrologi dan cara atau
metode pengolahan yang umum berlaku untuk keperluan analisis hidrologi,
khususnya dalam kaitannya dengan perencanaan bangunan sungai. Sedikit tentang
data hidraulika juga akan disampaikan untuk menambah pengertian keterkaitan
antara kedua macam data tersebut.

Termasuk dalam kelompok data hidrologi adalah:


a. sifat/karakteristik DAS,
b. curah hujan, penguapan dan infiltrasi,
c. debit atau aliran sungai,
d. koefisien aliran,
e. sedimen (macam bahan, ukuran butir, intensitas angkutan).

Gambar 2.1 dan Tabel 2.1 menyajikan ilustrasi singkat tentang beberapa data
dasar hidrologi dan kegunaanya.
Q (m3/dt)

QB maks. sebelum ada waduk

Waduk serbaguna Areal irigasi

Areal irigasi
B

QB maks. sesudah ada waduk


Pemukiman
rawan banjir

T (jam)

Sistem waduk serbaguna Tipikal perubahan hidrograf banjir

Gambar 2.1. Ilustrasi tentang kegunaan data hidrologi

16
Tabel 2.1. Identifikasi kebutuhan data hidrologi untuk perancangan waduk

Manfaat Target analisis Parameter rancangan Kebutuhan data


hidrologi

Flood Pengurangan volume Hidrograf banjir rancangan Karakteristik DAS


control limpasan banjir dan sebelum dan sesudah ada Hujan DAS
debit puncak waduk Debit sungai di A
Kapasitas tampungan waduk dan B
untuk peredaman banjir
(Flood control storage)

Suplai irigasi Volume tampungan Ketersediaan air (debit anda- Hujan di sub DAS
air waduk pada awal lan) hulu
musim kemarau Kebutuhan air irigasi Hujan efektif di
areal irigasi
Evapotranspirasi
Debit di A
Infiltrasi, perkolasi

PLTA Volume tampungan Inflow andalan Karakteristik DAS


maximum dan mini- Kebutuhan energi listrik Hujan di sub DAS
mum (HWL & LWL hulu
storages) Debit sungai di A
Kapasitas produksi Evaporasi dan
energi listrik evapotranspirasi

2.2. Karakteristik DAS

Setiap bangunan yang dibuat di sungai, baik yang dibangun pada alur atau
bangunan yang melintas di atas alur sungai, harus direncanakan secara baik dengan
memperhatikan karakteristik DAS. Karakteristik DAS yang dimaksudkan dalam hal
ini adalah meliputi tipikal bentuk geometri, luas, keadaan topografi, vegetasi dan tata
guna lahan, karakteristik geoteknik dan sifat fisik tanah.
DAS dibatasi oleh garis di permukaan tanah yang membentuk suatu luasan
dimana limpasan permukaan akibat adanya curah hujan akan mengalir menuju
sebuah sungai. Umumnya nama sebuah DAS ditetapkan dari nama sungai atau
sungai utama pada DAS tertentu. Sebagai contoh kita kenal DAS Serayu di Jawa
Tengah, DAS Citarum di Jawa Barat, DAS Brantas di Jawa Timur, DAS Bengawan

17
Solo yang membentang dari Jawa Tengah sampai ke wilayah Jawa Timur, dan lain-
lain. Dalam kaitannya dengan analisis aliran sungai pada periode debit besar, data
bentuk DAS, topografi, jenis dan distribusi tataguna lahan serta kerapatan jaringan
sungai akan sangat diperlukan untuk menentukan hidrograf banjir rancangan, yaitu
liku perubahan debit terhadap waktu pada saat terjadi aliran banjir.
Pada kejadian hujan yang merata, DAS yang memanjang menghasilkan
hidrograf banjir yang tidak begitu meruncing, karena waktu menuju debit puncak
relatif panjang. Sifat DAS ini ditandai dengan nilai waktu konsentrasi Tc (time of
concentration), yaitu waktu yang diperlukan untuk pengatusan limpasan permukaan
secara menyeluruh menuju alur sungai. Nilai besaran hidrologi ini tergantung dari
kemiringan permukaan dan tataguna lahan DAS serta kerapatan jaringan kuras
(drainage density). Penjelasan lebih rinci tentang hubungan antara karakteristik DAS
dan hidrograf banjir diuraikan pada bab selanjutnya (Bab III).

2.3. Curah Hujan

Data curah hujan merupakan data yang penting, khususnya untuk kasus analisis
pada DAS yang tidak terdapat data aliran, dimana data hujan dapat digunakan untuk
perkiraan debit aliran yang terjadi pada suatu rentang periode waktu tertentu. Data
curah hujan dapat berupa data curah hujan harian atau curah hujan pada periode
waktu yang lebih pendek, misal setiap menit. Data hujan tipe pertama dapat diukur
dengan penakar hujan biasa terdiri dari bejana dan corong seluas 200 cm 2 yang
dipasang setinggi 120 cm dari permukaan tanah. Data hujan untuk periode pendek
didapat dari alat penakar hujan otomatis ARR (automatic rainfall recorder) yang
dapat merekam setiap kejadian hujan selama jangka waktu tertentu. Berdasarkan
mekanisme perekaman data hujan ada tiga jenis ARR, yaitu tipe weighing bucket,
tipping bucket dan float.
Tipe pertama (weighing bucket) dapat merekam jumlah kumulatif hujan secara
kontinyu. Alat ini tidak dilengkapi dengan sistem pengurasan otomatik. Mekanisme
pencatatan data hujan dengan menggunakan alat tipe ini dijelaskan pada Gambar 2.2.

18
Silinder dibungkus
Bucket
kertas berskala
Pan

Pena Pemberat

Gambar 2.2. Alat penakar hujan otomatis tipe weighing bucket


(Sumber: Mengenal Dasar-dasar Hidrologi, J. Martha W dan W. Adidarma, 1982)

Penurunan bucket akibat beban air hujan diteruskan ke pena perekam yang
mencatat data hujan kontinyu pada kertas grafik pembungkus silinder. Silinder
berputar sesuai dengan waktu.
Alat penakar hujan otomatis dengan tipping bucket digunakan untuk
pengukuran khusus. Secara skematis, sistem kerja alat penakar hujan tipe ini
ditunjukkan pada Gambar 2.3.

Saringan
Tipping bucket

Pipa pembuang

Gambar 2.3. Skema alat penakar hujan otomatis Tipping Bucket


(Sumber: Analisis Hidrologi, Sri Harto Br., 1993)

19
Air hujan yang tertampung ke dalam corong akan diteruskan ke saringan
kemudian masuk ke dalam tipping bucket. Kapasitas bucket ini didesain khusus
setara dengan 0.5 mm, sehingga apabila tampungan air hujan tercapai akan terjungkir
(tipping) yang akan diteruskan dengan proses perekaman.
Prinsip mekanisme kerja alat penakar hujan otomatis tipe ketiga yaitu float
adalah dengan memanfaatkan gerakan naik pelampung dalam bejana akibat
tertampungnya curah hujan. Pelampung ini berhubungan dengan sistem pena
perekam di atas kertas berskala yang menghasilkan grafik rekaman data hujan. Alat
ini dilengkapi dengan sistem pengurasan otomatis, yaitu pada saat air hujan yang
tertampung telah mencapai kapasitas receivernya akan dikeluarkan dari bejana dan
pena akan kembali pada posisi dasar kertas rekaman data hujan. Gambar 2.4
menyajikan ilustrasi prinsip kerja alat penakar hujan tipe float.

Corong

Jam pencatat

Kertas perekam
data hujan

Pelampung
Sifon

Gambar 2.4. Alat penakar hujan otomatis tipe float


(Sumber: Mengenal Dasar-dasar Hidrologi, J. Martha W dan W. Adidarma, 1982)

20
Alat penakar hujan tersebut harus dipasang mengikuti ketentuan yang berlaku,
yaitu WMO (World Meteorological Organization) atau aturan nasional yang berlaku
di suatu negara tertentu. Penempatan dan pemasangan alat tersebut pada setasiun
hidrologi harus memenuhi syarat teknis sebagai berikut ini (Sri Harto, 1993).

a. Penakar hujan ditempatkan pada lokasi sedemikian sehingga kecepatan angin di


tempat tersebut sekecil mungkin dan terhindar dari pengaruh penangkapan air
hujan oleh benda lain di sekitar alat penakar hujan.
b. Penempatan setasiun hujan hendaknya berjarak minimum empat kali tinggi
rintangan terdekat.
c. Lokasi di suatu lereng yang miring ke satu arah tertentu hendaknya dihindarkan.
d. Penempatan corong penangkap hujan diusahakan dapat menghindari pengaruh
percikan curah hujan ke dalam dan disekitar alat penakar sebaiknya ditanami
rumput atau berupa kerikil, bukan lantai beton atau sejenisnya.

Dalam pemakaiannya, data curah hujan ini akan diolah untuk memperoleh
intensitas hujan dan curah hujan rata-rata DAS. Untuk menentukan besarnya hujan
rata-rata DAS atau sering dikatakan sebagai hujan DAS, dapat digunakan 3 cara,
yaitu metode Aritmatik, Poligon Thiessen dan cara Isohyet. Masing-masing metode
hitungan curah hujan DAS tersebut secara singkat diuraikan sebagai berikut ini.

1. Metode Aritmatik

Curah hujan rata-rata DAS dapat ditentukan dengan menjumlahkan curah hujan
dari semua tempat pengukuran untuk suatu periode tertentu dan membaginya dengan
banyaknya setasiun pengukuran. Metode ini dapat dipakai pada daerah yang datar
dengan jumlah setasiun hujan relatif banyak, dengan anggapan bahwa di DAS
tersebut sifat curah hujannya adalah merata (uniform). Secara matematis dapat ditulis
sebagai berikut:

21
1 n
P  Pi
n i 1

dengan:

P = curah hujan rata-rata,


P1, P2,..., Pn = curah hujan pada setiap setasiun yang diamati,
n = banyaknya setasiun curah hujan.

Metode ini sangat sederhana dan mudah diterapkan, akan tetapi kurang
memberikan hasil yang teliti mengingat tinggi curah hujan yang sesungguhnya tidak
mungkin benar-benar merata pada pada seluruh DAS. Utamanya di wilayah tropis
termasuk di Indonesia, sifat distribusi hujan menurut ruang sangat bervariasi,
sehingga untuk suatu DAS yang relatif besar, metode Aritmatik tidak cocok untuk
digunakan.

2. Metode Poligon Thiessen

Curah hujan rata-rata didapatkan dengan membuat poligon yang memotong


tegak lurus pada tengah-tengah garis penghubung dua setasiun hujan. Dengan
demikian setiap setasiun penakar hujan akan terletak pada suatu wilayah poligon
tertutup luas tertentu. Cara ini dipandang lebih baik dari cara rerata aljabar
(Aritmatik), yaitu dengan memasukan faktor luas areal yang diwakili oleh setiap
setasiun hujan.
Jumlah perkalian antara tiap-tiap luas poligon dengan besar curah hujan di
setasiun dalam poligon tersebut dibagi dengan luas seluruh DAS akan menghasilkan
nilai curah hujan rata-rata DAS. Prosedur hitungan ini dilukiskan pada persamaan
(2.2) dan Gambar 2.4 berikut ini.

A1 xH 1  A2 xH 2  ......  An xH n
P
Atotal

dimana:

22
P = curah hujan rata-rata,
P1,..., Pn = curah hujan pada setiap setasiun,
A1,..., An = luas yang dibatasi tiap poligon.

Nilai perbandingan antara luas poligon yang mewakili setiap setasiun terhadap
luas total DAS tersebut disebut sebagai faktor bobot Thiessen untuk setasiun
tersebut. Dengan demikian cara ini dipandang lebih baik dari pada cara rerata aljabar,
karena telah memperhitungkan pengaruh letak penyebaran setasiun penakar hujan.
Metode ini cocok untuk menentukan hujan rata-rata dimana lokasi setasiun tidak
banyak dan hujannya tidak merata.

Gambar 2.5. Hitungan hujan rerata DAS dengan metode Poligon Thiessen
(Sumber: Scientific Hydrology, R.L., Bras, 1992)
3. Metode Isohyet

23
Metode ini menggunakan pembagian DAS dengan garis-garis yang
menghubungkan tempat-tempat dengan curah hujan yang sama besar (isohyet).
Curah hujan rata-rata dari daerah aliran sungai didapatkan dengan menjumlahkan
perkalian antara curah hujan rata-rata di antara garis-garis isohyet dengan luas daerah
yang dibatasi oleh garis batas DAS dan dua garis isohyet, kemudian dibagi dengan
luas seluruh DAS.
Cara ini mempunyai kelemahan yaitu apabila dikerjakan secara manual, dimana
setiap kali harus mengambarkan garis isohyet yang tentunya hasilnya sangat
tergantung kepada masing-masing pembuat garis. Unsur subyektivitas ini dapat
dihindarkan dengan penggunaan perangkat lunak komputer yang dapat menghasilkan
gambar garis isohyet berdasarkan sistem interpolasi grid, sehingga hasilnya akan
sama untuk setiap input data di masing-masing setasiun hujan.
Ilustrasi hitungan hujan rerata DAS menggunakan cara ini disajikan pada
Gambar 2.6. Rumus hitungan hujan rerata metode isohyet dapat dituliskan sebagai
berikut:

A1  P1  P2  A2  P2  P3  A  P  Pn 1 
P x  x  ....  n x n
At 2 At 2 At 2

dengan:
P = rata-rata curah hujan,
P1,..., Pn = besaran curah hujan yang sama pada setiap garis isohyet,
At = luas total DAS (A1 + A2 + ... An ).

Dalam praktek pemakaian hitungan hujan DAS tersebut, banyak digunakan


cara kedua, yaitu poligon Thiessen yang dipandang lebih praktis dengan hasil cukup
baik.

24
Gambar 2.6. Hitungan hujan rerata DAS dengan metode Isohyet
(Sumber: Scientific Hydrology, R.L., Bras, 1992)

2.4. Penguapan

2.4.1. Pengertian Umum dan Kegunan Data Penguapan

Penguapan merupakan salah satu proses penting yang terjadi pada daur
hidrologi. Mengingat kuantitas penguapan harian relatif kecil, dalam hal tertentu
dimana penguapan bukan merupakan unsur dominan, jumlah penguapan kadang
tidak terlalu diperhatikan. Misalnya pada kasus analisis debit banjir, besarnya
penguapan dari tampungan air di alur sungai umumnya diabaikan. Akan tetapi untuk
keperluan irigasi, penguapan merupakan data masukan utama untuk hitungan
kebutuhan air irigasi. Pada prinsipnya kebutuhan air irigasi di petak areal tanam
terdiri dari kebutuhan air tanaman (consumptive use) dan kebutuhan untuk
pengelolaan lahan (field management). Kebutuhan air tanaman merupakan jumlah air
yang diperlukan untuk menjaga tanaman agar dapat tumbuh secara sehat. Untuk itu,

25
tanaman harus dijaga agar terjadi keseimbangan dalam melakukan proses fisiologis
pertumbuhan, yang dalam hal ini proses utamanya adalah transpirasi melalui stomata
daun. Apabila ketersediaan lengas tanah pada zona perakaran cukup, diharapkan
tanaman dapat tumbuh dengan baik. Dengan kata lain pemberian air harus
mencukupi jumlah air untuk mengganti evapotranspirasi, yaitu jumlah penguapan
dari tubuh tanaman (transpirasi) dan dari lahan maupun muka air bebas apabila lahan
dalam keadaan tergenang. Jumlah evapotranspirasi nyata tergantung pada jenis
tanaman dan tahap pertumbuhan (growing stage). Untuk keperluan praktis digunakan
nilai evapotranspirasi potensial sebagai nilai acuan untuk menghitung perkiraan
kebutuhan air tanaman dengan mengunakan koefisien tanaman (crop coefficient).
Pada kasus analisis imbangan air di waduk lapangan yang mempunyai luas
tampungan relatif kecil, nilai penguapan harian menjadi masukan penting, terutama
pada musim kemarau. Perhitungan menyangkut perancangan dan pengoperasian
waduk lapangan akan sangat memerlukan data evaporasi yang akurat.

2.4.2. Faktor-faktor Penentu Besarnya Penguapan

Penguapan (evaporation) secara singkat dapat diartikan sutau proses perubahan


dari molekul air dalam bentuk zat cair ke dalam bentuk gas (Sri Harto, 1993). Proses
sebaliknya yang terjadi di atas permukaan air atau di atmosfir adalah pengembunan
atau kondensasi (condensation). Dalam tinjauan secara global, laju penguapan atau
evaporasi umumnya dianggap sebagai laju neto yang dinyatakan sebagai selisih
antara laju evaporasi dan laju kondensasi.
Ada dua faktor utama yang menentukan besarnya laju evaporasi pada
permukaan air terbuka/bebas, yaitu suplai energi untuk menyediakan kalor latent
yang diperlukan untuk proses penguapan dan kemampuan untuk melakukan proses
transport uap air ke atas permukaan air (Chow, dkk., 1988). Dalam hal ini sumber
utama energi panas adalah radiasi matahari dan kapasitas proses transport uap air
tergantung kepada kecepatan angin dan gradien kelembaban udara di atas permukaan
air. Angin dalam hal ini berfungsi memindahkan lapisan udara yang mempunyai
tingkat kelembaban tinggi yang menghambat proses penguapan. Selain itu juga ada

26
parameter kualitas air, yaitu salinitas yang cenderung mengurangi laju penguapan
(Sri Harto, 1993).
Proses penguapan di suatu areal tertentu yang sebenarnya terjadi adalah
evaporasi langsung dari permukaan tanah dan tanaman melalui intersepsi
(interception), serta penguapan air dari tanaman melalui stomata daun yang disebut
dengan proses transpirasi (transpiration). Keseluruhan proses penguapan ini disebut
dengan istilah evapotranspirasi (evapotranspiration) yang jumlahnya akan
tergantung kepada keadaan lengas tanah (soil moisture). Apabila suplai kandungan
air dalam tanah tidak terbatas, dalam pengertian proses transpirasi akan menjamin
tanaman dapat tumbuh secara normal, jumlah evapotranspirasi disebut dengan istilah
evapotranspirasi potensial (potential evapotranspiration).

2.4.3. Pengukuran Evaporasi

Besarnya evaporasi dapat diperkirakan dengan pendekatan teoritis maupun


dengan pengukuran langsung. Cara pertama memerlukan banyak data meteorologi
dan data penunjang lain yang tidak selalu mudah didapatkan. Oleh karena itu
pengukuran langsung di lapangan sering dilakukan untuk keperluan analisis secara
lebih praktis.
Umumnya dikehendaki nilai evaporasi atau evaporasi harian, namun dalam hal
tertentu kadang diinginkan pula informasi distribusi data dalam jam-jaman. Untuk
mengukur besarnya evaporasi dapat digunakan beberapa alat sebagai berikut ini (Sri
Harto, 1993).

1. Atmometer

Alat pengukur evaporasi ini cukup sederhana, berupa bejana berpori yang diisi
air. Besarnya penguapan dalam jangka waktu tertentu, misalnya harian didapatkan
dari nilai selisih pembacaan sebelum dan sesudah percobaan. Beberapa jenis
atmometer antara lain Piche, Livingstone dan Black Bellani.

27
Gambar 2.7. Beberapa jenis atmometer
(Sumber: Analisis Hidrologi, Sri Harto, Br., 1993)

2. Evaporation Pan

Untuk mengukur evaporasi dari muka air bebas dapat digunakan panci
penguapan (evaporation pan). Terdapat tiga macam panci penguapan yang sering
digunakan, yaitu panci penguapan klas A (class A evaporation pan), panci penguapan
tertanam (sunken evaporation pan) dan panci penguapan terapung (floating
evaporation pan). Pada prinsipnya pengukuran evaporasi dengan ketiga macam alat
tersebut sama, yaitu dengan pembacaan tinggi muka air di panci pada dua saat yang
berbeda sesuai dengan interval waktu pengukuran yang diinginkan. Pada setiap
pengamatan umumnya juga dilakukan pengukuran temperatur air. Pan evaporasi
lebih sering digunakan untuk mengukur evaporasi harian yang dinyatakan dalam
mm/hari. Ilustrasi cara pemasangan panci evaporasi klas A ditunjukkan pada Gambar
2.8.

Bejana logam 1.21 m = 14’


Tidak dicat
(galvanize)

25.4 cm = 1”
Rangka kayu

4”

Gambar 2.8. Panci evaporasi klas A


(Sumber: Analisis Hidrologi, Sri Harto, Br., 1993)

28