Konstruksi rangka batang atau vakwerk adalah konstruksi batang yang terdiri dari susunan batang-batang lurus

yang ujung-ujungnya dihubungkan satu sama lain sehingga berbentuk konstruksi segitiga-segitiga. Sambungan dari ujung-ujung tadi dinamakan titik buhul dan sambungan tersebut dihubungkan dengan perantaraan pelat buhul,seperti terlihat pada gambar 1.

C 3 A 1 4

7 5 E

D 6 B

Pelat Buhul A, B, C, D, E = Titik Buhul

2

Gambar 1 Untuk menghitung suatu rangka batang didasari oleh keadaan-keadaan sebagai berikut: a.Pengaruh gaya luar. Gaya luar atau beban bekerja di titik buhul. b.Titik buhul bersifat sebagai sendi bebas tanpa gesekan. Supaya konstruksi rangka batang stabil maka harus dipenuhi: S = 2 k-r Dimana : S = jumlah batang = 7 K = jumlah titik buhul = 5 R = jumlah reaksi,karena sendi rol = 3 7 = 2.5-3 Jadi konstruksi rangka batang stabil Untuk menyelesaikan konstruksi rangka batang statis tertentu dapat diselesaikan dengan beberapa metode diantaranya :

a. Cara Grafis :
Cremona dan Garis Pengaruh

b. Cara Analitis :
Keseimbangan Titik Buhul dan Ritter

1

Gambar dengan teliti dan betul suatu bagan sistem rangka batang ( hati-hati dalam menentukan skala gambarnya ). Kontrol apakah sudah memenuhi syarat kestabilan konstruksi rangka batang. Kemudian langkah berikutnya menuju pada titik buhul yang hanya mempunyai dua gaya batang yang belum diketahui besarnya. Adapun cara penyelesaian cara cremona ini adalah : a. i. Cremona adalah nama orang yang pertama-tama menguraikan diagram itu : Luigi Cremona ( Itali ). f. h. Kemudian dalam pikiran kita terbayang seolah-olah gayagaya itu mengelilingi rangka batang dan urutannya searah putaran jarum jam. Nyatakan dalam bagan semua gaya luar yang disebabkan oleh muatan serta besarnya reaksi tumpuan. Mulailah lukisan cremona dari dua batang yang belum diketahui besar gaya batangnya. Apabila arah gaya batang menuju pada titik buhul yang ditinjau maka batang itu merupakan batang tekan atau negatif sedangkan bila arah gaya batang itu meninggalkan titik buhul yang ditinjau maka batang itu merupakan batang tarik atau positif. Berilah notasi atau nomor pada tiap-tiap batang. g. Gambarlah vektor gaya-gaya luar tersebut dengan urutan sesuai arah jarum jam. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh dibawah ini : 2 . Tentukan besarnya reaksi tumpuan akibat adanya gaya luar. CARA GRAFIS 1.A. c. Pada metode ini skala gambar sangat berpengaruh terhadap besarnya kekuatan batang karena kalau gambarnya terlalu kecil akan sulit pengamatannya. j. Gambar gaya-gaya luar. Cara cremona Cara cremona ini adalah cara grafis dimana dalam penyelesaiannya menggunakan alat tulis pensil yang runcing dan penggaris siku ( segitiga ). d. e. b.

Soal : Hitung besarnya semua gaya batang.Contoh 1 Diketahui konstruksi rangka batang seperti terlihat apada gambar 2. Q = 10 t/m’ Penyelesaian : 23=40 T 12=60 T A1 4m D7 V8 A2 D2 V3 A3 A4 D3 V4 D4 V5 D5 V6 D6 V7 34=40T 45=40T 56=20T V1 D1 V2 B1 A B2 B3 B4 B5 B6 60= RB = 120 T B7 01= RA = 60 T 4m 16 m Gambar 2 -B1 R -V1 1 +D1 -B5 +A2 = +A3 = +A4 RB 0=2 -B2 = -B3 = -B4 +A5 8m -V2 -V5 +D5 3 +A6 4 +D6 -V7 +A7 -V6 5 6 -D7 -B6 Skala 1 cm ~ 10 ton Gambar 3 Cremona 3 .

Cara garis pengaruh Garis pengaruh gaya reaksi dari sebuah konstruksi rangka batang adalah dengan menganggap muatan satu ton terletak dititik pusat sentrum gaya yang dicari.) ton 60 60 60 60 80 80 60 60 20 120 40 20 2 2. Yang dimaksud titik pusat sentrum adalah titik potong 2 gaya batang lainnya.TABEL Kekuatan Gaya Batang Gaya Batang A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 V1 V2 V3 V4 V5 V6 V7 V8 D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 Tarik ( + ) ton 0 60 60 60 60 20 20 0 0 0 0 60 2 0 0 0 20 2 60 2 Tekan ( . Adapun cara penyelesaiannya adalah : Σ M = 0 dan Σ Kv = 0 Apabila hasil dari perhitungan ketemu besarnya kekuatan gaya batang positif maka gaya batang tersebut adalah gaya tarik. 4 . apabila negatif adalah tekan. Untuk lebih jelasnya lihat contoh 2 pada gambar 4.

4 = 0 ( terhadap C ) bila RA = 1 ton maka A3 = -1 ton.A1 4m V1 D1 V2 B1 D2 A2 V3 I A3 D3 V4 II D D4 B4 II A4 V5 D5 V6 B5 D6 V7 B6 RB = 120 T 8m D7 V8 B7 A B2 C RA = 60 T B3 I 4m 16 m Gambar 4 Irisan I-I A3 .A3 (-) (+) 2 1 1/2 Gambar 6:GP.B3 1 1/2 (-) ½ (-) ½ (+) 1/4 2 2 (+) (-) 1/4 2 Gambar 7:GP. 4 + RA . 60 T 3/4 (+) -1 (-) 1/4 10 ton/m (+) 1/2 Gambar 5:GP.D4 2 2 5 .

4.1/2. Carilah besarnya RA dan RB e.0. Dibawah muatan terbagi rata : q t/m .25 2 +1/2 . b.10-1/2.0. Kekuatan gaya batang dinamakan tarik bila arah gaya meninggalkan titik buhul dan tekan bila arah gaya menuju titik buhul.8.Lihat gambar 5: Kekuatan Batang A3:1/2.25 2 . Gambar dengan betul vakwerk dengan muatannya dan berilah notasi.3/4 = +60 ton : 20 – 5 + 45 = 60 ton Lihat gambar 6: Kekuatan Batang B3:-1/2.10+1/2.10-60. Anggaplah : kekuatan menuju kekanan adalah kekiri keatas kebawah d.5 2 . Contoh 3 : Diketahui konstruksi vakwerk seperti terlihat pada gambar 8.Cara Keseimbangan Titik Buhul Karena gaya.gaya itu berpotongan pada satu titik maka untuk menghitung gaya-gaya yang belum diketahui digunakan: Cara penyelesaiannya adalah : a.4.1.1/4.4. Besarnya gaya = q x luas gambar garis pengaruh dibawah q.10+60.1/2= -60 ton Lihat gambar 7: Kekuatan Batang D4:60. Berapakah besarnya kekuatan gaya batang pada vakwerk tersebut. Cara Analitis 1.8. Pergunakan rumus ΣKh = 0 ΣKv = 0 c. (-) (+) (-) (+) ΣKh = 0 ΣKv = 0 C V1 A a1 E D1 V2 a2 D2 b2 F V3 G a3 H D3 V4 a4 D4 b4 J 45° b1 D b3 I B 6 .10-1/2.10= 0 ton Supaya diingat : Dibawah muatan titik : P .8.0. B.1/2. Besarnya gaya = P x ordinat pada gambar garis pengaruh.

V2 – ½ 2 d 2 = 0 -1 .d2 =½ ΣKh = 0 a1 + a2 + ½ 2 d2 2 = (-) 2 T =0 7 . Apabila hasilnya negatif maka pemisalan kita salah dan gaya batang tersebut kekuatannya tetap negatif atau tekan ( . maka pemisalan kita benar maka hasilnya tetap positif atau tarik ( + ). 3 2 = 0 V2 = 4 – 3 = 1 t ( +/ tarik) V2 ΣKv = 0 -4+ 2 +½ d1 ½ 45° ½ 2 d1 = 0 2 -4+½½ 2 .½ . 2 . 3 2 a1 = (-) 3 T d1 = 3 1 2 2 = (+) 3 2 T Buhul D : -4 + V2 + ½ 2 d1 = 0  -4 + V2 + ½ .2 V2 =4–3=(+)1T ΣKh =0 -½ b2 b2 b2 2 D 4T 2 d1 + b2 = 0 =½ 2 .3 =3T 4 4.1 RB = =1T 4 Catatan : Untuk gaya batang yang belum diketahui besarnya dianggap tarik dulu Bila nanti pada hasil perhitungan hasilnya positif.RA = 3 T P = 4 T Gambar 8 RB Penyelesaian : Dicari RA dan RB ΣMB = 0 ΣMA = 0 Buhul A : V1 A RA = 3 T b1 ΣKv = 0 RA + V1 = 0 V1 = .32=.3 T ( tekan ) ΣKh = 0 b1 = 0 RA = 4.). Buhul C : C 45° V1 d1 ½ d1 2 a1 2 ½ d1 3 ΣKv = 0 V1 – ½ d1 = ½ d1 ΣKh = 0 2 2 a1= ½ d1 2 a1 = .3 2 = (+) 3 T Buhul E : a1 45° ½ ½ 2 V2 a2 ΣKv = 0 2 d2 d2 . 2 .

b3 +½ 2 d4 1 1 2 d4 b3 I ½ 2 d4 b4 2 2 d4 = (+) 2 T Buhul J : a4 ½ 2 d4 J b4 = 1 – ½ b4 = 0 ΣKv = 0 ½ 2 d4 d4 2. 2 . 2 = .a4 ΣKv = 0 -V4 + ½ -1=-½ d4 = ½ ΣKh = 0 + b4 = 0 2 d4 = 0 2 d4 .3 + a2 + ½ a2 = (-) 2 T Buhul F : a2 2 d2 =0 F V3 a3 ΣKv = 0 V3 = 0 ΣKh = 0 a2 + a3 = 0 a3 = (-) 2 T ΣKv = 0 ½ Buhul G : 2 d3 . V5 = (-) 1 T ΣKh = 0 a3 – ½ 2–½ a4 = (-) 1 T 2 d3 d3 V4 Buhul I : V4 d4 2 d3 + a4 = 0 2 .½ = 2 d2 = 0 d2 ½ 2 d3 d3 d3 1 1 d3 ΣKh = 0 ½ b2 ½ 2 d2 ½ 2 2 = (+) 2 T 2 d2 2 d3 b3 b 2 + ½ 2 d 2 + ½ 2 d 3 + b3 = 0 . V5 = 0 V5 = – ½ 2 .V4 – ½ 2 d3 = 0 2 2 ½ V4 = – ½ 2 .½ 2 d4 .b3 b3 = (+) 1 T Buhul H : a3 ½ d3 H a4 ΣKv = 0 . V5 = (-) 1 T 2 V5 8 .3 + 1 + 1 = .

Tabel 7 Gaya Batang a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 v1 v2 v3 v4 v5 d1 d2 d3 d4 Tarik (+) (ton) 0 3 1 0 1 0 3 2 Tekan (-) (ton) 3 2 2 1 3 1 1 ΣKv = ? 0 .V5 + RA = 0 .1 + 1 = 0 (cocok) 2 2 2 2.Buhul B : V5 B RA = 1 T Setelah ketemu semua gaya batangnya lalu dimasukkan dalam tabel gaya batang (tabel 7). disini memotong empat batang. Ambil pada potongan yang pendek supaya mudah penyelesaiannya. 9 . Adapun penyelesaiannya mula-mula vakwerk dipotong dua bagian yaitu pada batang yang akan dicari besarnya gaya batang tersebut. Cara Ritter adalah suatu cara untuk mencari besar gaya batang dengan potongan atau irisan analitis. Cara Ritter ( Nama orang A. Cara ini pada umumnya hanya memotong tiga batang mengingat hanya ada tiga persamaan statika saja yaitu : ΣM ΣKv =0 =0 ΣKh = 0 Walaupun untuk dinding jembatan kereta api bagian atas yaitu Vakwerk K juga bisa diselesaikan. RITTER 1963).

½ RB = 4.mula dianggap tarik dulu tetapi bila nanti pada hasil perhitungan hasilnya positif berarti gaya batang tersebut tarik (+) tetapi bila hasil tekan (-) berarti gaya batang tersebut menuju potongan tersebut. 2 = 0 Berarti kekuatan a3 negatif (tekan) Σ M Cb3 = 0 . Lalu kita cari Σ M Ca3 = 0 .Gaya batang mula. d3. 4 – a3 . Konstruksi rangka batang AB seperti terlihat pada gambar 1 dimuati muatan P = 4 T. bagian kanan yang kita ambil karena lebih mudah daripada bagian kiri.RB . 2 =1T 8 2 d3 b3 2 d3 B RB Kita cari centrum kekuatan batang b3 (ca3) yaitu perpotongan batang a3 dan batang d3. Cara ini baik bila hanya ingin mencari sebagian gaya batang saja.RB . ± a3 d3 A RA P=4 t B RB b3 Mula-mula kita cari dulu besarnya reaksi RA dan RB. 4 = 2 a3 a3 = (-) 2 T 10 . b3 = 0 berarti kekuatan b3 positif (tarik) 2 = . Contoh 4:. 2 – 2 . a3 d3 ½ Ca3 Cb3 Kita cari besarnya RB : ΣMA = 0 . Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat contoh 4 dibawah ini. bagian mana yang akan diambil sehingga mempermudah penyelesaiannya pada gambar diatas. Mula-mula batang dianggap tarik dulu terhadap potongan yang ditinjau seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Disini kita akan mencari besarnya kekuatan batang a3. setelah dapat maka kita lihat letak potongan pada vakwerk. Begitu pula centrum kekuatan batang a3 (ca3) yaitu perpotongan batang b3 dan batang d3. dan b3 dengan cara potongan analitis ( RITTER).2 b3 b3 = (+) 1 T 1 .

d3 = (+) 2 T 11 .Karena a3 dan b3 sejajar maka tidak ada titik potongnya sehingga Cd33 tidak ada. maka dipakai : Σ Kv = 0 RB ½ (tinjau potongan bagian kiri) 2 d3 = 0 Berarti kekuatan d3 positif (tarik).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful