Anda di halaman 1dari 3

TUGAS MATA KULIAH SIT

ALTHER GABRIEL LIWE


20062103018

Bussiness Value yang diterapkan di perusahaan PT Pegadaian


Bisnis pergadaian saat ini— era ekonomi digital—kondisinya jauh berbeda. Pasar pergadaian
sudah terbuka dengan masuknya perusahaan pergadaian swasta, perbankan syariah, dan
perusahaan fintech. Sudah ada 18 perusahaan gadai yang memiliki izin. Sama seperti visinya dari
Pegadaian yaitu “Sebagai Solusi Bisnis Terpadu Terutama Berbasis Gadai yang Selalu Menjadi
Market Leader dan Mikro Berbasis Fidusia Selalu Menjadi yang Terbaik Untuk Masyarakat
Menengah ke Bawah”, Pegadaian menjadi perusahaan lembaga keuangan yang paling di minati
dari berbagai kalangan masyarakat.
Pegadaian terus melakukan pembenahan dan terus melakukan pengembangan produk dan
layanan yang berbasis teknologi digital untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan ,
Pegadaian juga melakukan pengembangan channel distribution melalui Agen Pegadaian untuk
meningkatkan inklusi keuangan sesuai dengan visi baru Pegadaian sebagai agen inklusi
keuangan.
Analisis "Growing Interdependence between ability to use information technology and
ability to implement corporate strategies and achive corporate goals" pada perusahaan PT
Pegadaian
Keseluruhan kegiatan perusahaan dapat direprentasikan dengan Pendekatan rantai nilai (value
chain) dibedakan menjadi dua tipe aktivitas bisnis yaitu: aktivitas utama (primary activities) dan
aktivitas pendukung (support activities).

Berdasarkan dari pendekatan diatas dihasilkan asumsi strategi terpilih:


1. Mempertahankan kegiatan bisnis saat ini dan meningkatkan pengembangan teknologi
digital yang lebih baik.
2. Membangun citra produk dan jasa kepada masyarakat memberikan informasi dengan tepat
dan cepat.
3. Menetapkan harga pasar untuk taksiran dan harga lelang barang jaminan sesuai dengan
pertumbuhan ekonomi.
4. Memanfaatkan teknologi saat ini dengan maksimal.
TUGAS MATA KULIAH SIT
ALTHER GABRIEL LIWE
20062103018

5. Memperluas kegiatan literasi dan edukasi mengenai bisnis usaha gadai.


Six strategic bussiness yang diterapkan perusahaan PT Pegadaian
1. Operational excellence
Penerapan tata kelola perusahaan yang baik bukan hanya sekedar strategi dalam
menciptakan nilai tambah untuk memenangkan persaingan usaha, namun lebih dari itu
menjadi suatu kebutuhan bagi perusahaan dalam menjaga eksistensi kesinambungan
bisnis dan membangun hubungan yang baik dengan pihak yang berinteraksi dngan PT
Pegadaian.

2. New product, services, and business model


Prodak dari pegadian sendiri begitu banyak yang terbagi atas pembiayaan, emas dan
aneka jasa. Pegadaian sendiri memiliki standar pelayanannya yang dianut dalam
pedoman standar etika perusahaan.

3. Customer and supplier intimacy


Di era digital ini bisnis gadai masih memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang.
Sehingga, Pegadaian tetap terus menciptakan inovasi baru dengan perluasan segmen
atau distribution channel melalui agen, seperti kerjasama dengan perbankan anggota
Himbara yang mencapai 400.000 agen dan aplikasi Pegadaian Digital Service (PDS).

4. Improved decision making


Rekomendasi SI/TI yang dapat menunjang pelayanan dan kebutuhan nasabah adalah SI
Lelang berbasis online, SI Web Scrapping harga pasar, Aplikasi Sahabat Pegadaian.
Dengan pembanguan SI pada tahun pertama adalah Sistem Informasi Lelang berbasis
online.

5. Competitive advantage
PT Pegadaian mampu bersaing dengan perusahaan perusahaan pembiayaan lainnya di era
moderenisasi.

6. Survival
Produk-produk pegadaian mampu membuat pegadian tetap eksistensi dalam lingkup
perusahaan gadai dan pembiayaan.

"Strategy Triangle" terhadap perusahaan PT Pegadaian

Dalam operasional bisnisnya Perusahaan menghadapi berbagai risiko yang dikelola secara
komprehensif, yang mencakup seluruh aspek risiko (enterprise wide basis). Perusahaan secara
proaktif mengevaluasi dan menyempurnakan kebijakan manajemen risiko yang disesuaikan
dengan perubahan kondisi makro ekonomi, strategi Perusahaan dan mengacu kepada ketentuan
regulator terbaru serta best practices. Melalui pelatihan dan sosialisasi yang terencana kepada
karyawan serta kerjasama dan koordinasi yang baik dengan lini bisnis terkait, Perusahaan
berhasil memitigasi dampak negatif dari ketidakpastian kondisi ekonomi global maupun suasana
politik Indonesia.
TUGAS MATA KULIAH SIT
ALTHER GABRIEL LIWE
20062103018

Penerapan manajemen risiko menjadi tanggung jawab bersama seluruh manajemen dan
karyawan Perusahaan. Kesadaran akan risiko (risk awareness) terus ditanamkan pada setiap
kesempatan di setiap jenjang Perusahaan, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam
rangka membangun budaya sadar risiko. Untuk itu, Perusahaan menggunakan pendekatan Three
Lines of Defense, dimana pengelolaan risiko dilakukan oleh semua unit kerja dan dilakukan
pengawasan oleh Dewan Komisaris dan Direksi. Seluruh unit bisnis dan unit pendukung
berfungsi sebagai First Line of Defense yang mengelola risiko terkait unit kerjanya (risk owner).
Divisi Manajemen Risiko dan Divisi Hukum dan Kepatuhan berfungsi sebagai Second Line of
Defense yang memantau penerapan manajemen risiko secara korporasi. Satuan Pengawasan
Intern (SPI) sebagai Third Line of Defense bertugas memberikan independent assurance
terhadap penerapan manajemen risiko di Perusahaan.