Anda di halaman 1dari 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kita menyadari bahwa mata pelajaran matematika masih dianggap paling
sulit oleh para siswa. Hal ini terbukti dengan banyaknya siswa yang tidak
senang terhadap mata pelajaran matematika. Akibatnya rendahnya nilai
matematika ujian nasional baik siswa SD, SMP, maupun SMA. Sehingga
banyak siswa yang tidak lulus karena nilai matematikanya rendah dan tidak
dapat mencapai batas minimal kelulusan.
Pembelajaran di sekolah dasar masih banyak yang menggunakan cara-
cara konvensional. Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran dengan
menggunakan metode ceramah. Guru sering kali berceramah panjang lebar
menjelaskan materi yang diajarkan. Guru sering kali memaksakan kepada
siswa untuk mendengarkan ceramah yang diberikan. Akibat guru yang
demikian, maka banyak siswa yang hanya duduk dengan posisi diatas meja
atau hanya tangan berada di bawah meja. Hal ini terjadi karena siswa ingin
mendengarkan ceramah, dan atau agar siswa tidak berbicara sendiri.
Berdasarkan pengalaman pembelajaran dengan model ceramah juga
dilakukan di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Bancer 02 kecamatan Ngraho,
Kabupaten Bojonegoro. Alasan di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Bancer 02
menggunakan model ceramah, karena sudah menjadi kebiasaan selama
bertahun-tahun termasuk pembelajaran mata pelajaran matematika. Padahal
berdasarkan pengamatan model ceramah itu selain tidak efektif, juga
mendatangkan kebosanan, apabila model ceramah yang dilakukan guru tidak
menarik. Akibat lebih lanjut sering kali hasil belajar rendah, siswa kurang
memperhatikan, motivasi kurang, dan tidak berani bertanya. Menurut Sobel
dan Maletsky dalam bukunya Mengajar Matematika (2001:1-2) banyak sekali
guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan
membahas tugas-tugas lalu, memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada
siswa. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari

1
2

dapat dikategorikan sebagai 3 M, yaitu membosankan, membahayakan dan


merusak seluruh minat siswa.
Tabel 1
Hasil Tes Pra Penelitian
NO URUT SISWA NILAI
1 50
2 55
3 65
4 70
5 50
6 70
7 50
8 55
9 55
10 65
11 65
12 55
13 55
14 40
15 50
16 65
17 50
18 55
19 60
20 50
21 55
22 70
JUMLAH 1. 240
RATA-RATA 56,36
NILAI TERENDAH 40
NILAI TERTINGGI 70

Pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa ada 15 siswa hasil tes formatif
belum memenuhi standar minimal KKM. Jumlah nilai dalam satu kelas 1.
240. Rata-rata hanya mencapai 56,36. Nilai terendah 40 dan nilai tertinggi
70.Jadi siswa yang tuntas ada 31% dan siswa yang belum tuntas ada 69%.
Peningkatkan hasil belajar tersebut, perlu menerapkan pembelajaran
alternatif untuk mata pelajaran matematika materi berhitung campuran
melalui tutor sebaya. Alasan menggunakan model itu, agar dapat
meningkatkan hasil belajar siswa.

2
3

Menurut penelitian kelebihan tutor sebaya adalah siswa diajarkan untuk


mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Membuat siswa
yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan
mengeluarkan pendapat secara bebas. Membantu siswa yang kurang mampu
atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Siswa lebih mudah dan
leluasa dalam menyampaikan masalah yang dihadapi sehingga siswa yang
bersangkutan terpacu semangatnya untuk mempelajari materi ajar dengan
baik.
Pembelajaran melalui tutor sebaya, diharapkan dapat meningkatkan
belajar siswa memenuhi batas minimal KKM yang ditetapkan. Menurut hasil
penelitian menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa yang mendapat
pembelajaran matematika dengan melalui tutor sebaya lebih baik
dibandingkan dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa, Endang
Winarni (2008:5).
Penerapkan pembelajaran dengan melalui tutor sebaya ini dilakukan
melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas adalah
sebuah penelitian tentang pembelajaran di kelas yang dilakukan dengan
siklus-siklus (Classroom Action Reaserch).

1.2 Identifikasi Masalah


Bsrdasarkan latar belakang dapat diidentifikasi suatu masalah yang akan
diteliti yaitu:

1. Hasil belajar rendah.


2. Kreatifitas siswa kurang.
3. Motivasi kurang.
4. Siswa tidak berani bertanya.
5. Guru hanya menggunakan metode ceramah.

3
4

1.3 Pembatasan Masalah


Pembatasan masalah diperlukan agar penelitian lebih efektif, efisien, dan
terarah. Penulis hanya meneliti tentang peningkatan hasil belajar melalui
penggunaan tutor sebaya pada mata pelajaran matematika materi berhitung
campuran semester I SD Negeri Bancer 02 Kecamatan Ngraho Kabupaten
Bojonegoro tahun pelajaran 2009/2010.

1.4 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah dapat
dirumuskan permasalahan yaitu : “Bagaimanakah pembelajaran melalui tutor
sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan KKM 60 pada mata
pelajaran matematika siswa kelas IV semester I di SD Negeri Bancer 02
Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro tahun pelajaran 2009/2010 ? “

1.5 Tujuan Penelitian


Tujuan yang hendak dicapai melalui penelitian ini adalah mengetahui
peningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika materi
berhitung campuran kelas IV semester I di SD Negeri Bancer 02 Kecamatan
Ngraho Kabupaten Bojonegoro tahun pelajaran 2009 / 2010 menggunakan
tutor sebaya.

1.6 Manfaat Penelitian


Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.6.1 Bagi siswa
a. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika.
b. Dapat meningkatkan pemahaman siswa bahwa belajar tidak harus
bergantung kepada guru.
1.6.2 Bagi Guru
a. Sebagai evaluasi dalam pelaksanaan pembelajaran matematika.

4
5

b. Sebagai wahana dalam memperbaiki proses belajar mengajar dalam


upaya meningkatkan keterlibatan siswa.
1.6.3 Bagi Sekolah
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah model
upaya meningkatkan hasil beajar dan keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran matematika.

5
6

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran Matematika

2.1.1 Pengertian Matematika


Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathematikos”
secara ilmu pasti, atau “Natheis” yang berarti ajaran, pengetahuan abstrak
dan deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman
keindraan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari kaidah-kaidah tertentu
melalui deduksi (Ensiklopedia Indonesia).
Dalam Garis Besar Program Pembelajaran (GBPP) terdapat
istilah matematika sekolah yang dimaksudnya untuk memberi
penekanan bahwa materi atau pokok bahasan yang terdapat dalam
GBPP merupakan materi atau pokok bahasan yang diajarkan pada
jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (Direkdikdas: 1994).
Soemardjono (2003) menyatakan bahwa ”menurut bahasa latin
matematika berasal dari kata manthanein atau mathema yang berarti
belajar atau hal yang dipelajari sedangkan menurut bahasa Belanda
disebut wiskunde atau ilmu pasti”.

2.1.2 Karakteristik Pembelajaran Matematika


Suherman (2003) karaktersitik pembelajaran matematika di sekolah yaitu
sebagai berikut :
1. Pembelajaran matematika langsung (bertahap)
Materi pembelajaran diajarkan secara berjenjang atau bertarap yaitu
dari hal konkrit ke abstrak, hal yang sederhana ke kompleks atau
konsep mudah ke konsep yang lebih sukar.
2. Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral
Setiap mempelajari konsep baru perlu memperhatikan konsep atau
bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Bahan yang baru selalu
dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari. Pengulangan konsep

6
7

dalam bahan ajar dengan cara mempeluas dan memperdalam adalah


perlu dalam pembelajaran matematika (spiral melebar dan naik).
3. Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif
Matematika adalah deduktif, matematika tersusun secara deduktif,
aksiomatik. Namun demikian harus dapat dipilihkan pendekatan yang
cocok dengan kondisi siswa. Dalam pembelajaran belum sepenuhnya
menggunakan pendekatan tetapi masih campur dengan deduktif.
4. Pembelajaran matematika mengantu kebenaran konsistensi
Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya meruakan
kebenaran konsistensi, tidak bertentangan antara kebenaran suatu
konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila
didasarkan atas pernyataan-pernyataan yang terdahulu yang telah
diterima kebenarannya.

2.1.3 Fungsi dan tujuan pembelajaran matematika


Suherman (2003) fungsi dan tujuan pembelajran matematika yaitu sebagai
berikut :
1. Fungsi pembelajaran matematika
Mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan
dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri,
aljabar dan trigonometri.
Mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan
bahasa model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan
matematika, diagram, dan grafik.
2.Tujuan pembelajaran matematika
Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan.
Misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,
menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi, dan inkonsistensi.
Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi
dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen,
orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta
mencoba-coba.
Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau
mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan,
catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan.

7
8

2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, secara garis
besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
2.2.1 Faktor intern
Sardiman (2006:75) menarik kesimpulan sebagai berikut :
Kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan be
Salah satu faktor dari dalam diri siswa yang menentukan
berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar mengajar adalah
motivasi belajar. Dalam belajar, yang menjamin kelangsungan
dari kegiatan belajar Motivasi belajar adalah merupakan faktor
psikis yang bersifat non intelektual. Seorang siswa yang
mempunyai intelegensi yang cukup tinggi, bisa gagal karena
kurang adanya motivasi dalam belajarnya.
Faktor intern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain:
a. Kondisi fisik/jasmani siswa saat mengikuti pelajaran.
b. Pengalaman belajar matematika dijenjang sebelumnya.
c. Minat, bakat, motivasi dan tingkat intelegensi.

2.2.2 Faktor ekstern

Slameto (2003:96) menarik kesimpulan sebagai berikut :

Faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi belajar


adalah faktor metode pembelajaran. Selain siswa, unsur
terpenting yang ada dalam kegiatan pembelajaran adalah guru.
Guru sebagai pengajar yang memberikan ilmu pengetahuan
sekaligus pendidik yang mengajarkan nilai-nilai, akhlak, moral
maupun sosial dan untuk menjalankan peran tersebut seorang
guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang
luas yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. Seorang guru
dalam menyampaikan materi perlu memilih metode mana yang
sesuai dengan keadaan kelas atau siswa sehingga siswa merasa
tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diajarkan. Dengan
variasi metode dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa.
Sedangkan menurut penulis faktor ekstern yang mempengaruhi belajar
antara lain :
a. Metode dan gaya mengajar guru matematika.
b. Tersedianya fasilitas dan alat penunjang pelajaran matematika.
c. Situasi dan kondisi lingkungan.
8
9

2.3 Pengertian Hasil Belajar


Leo Sutrisno (2008:25) mengemukakan ”hasil belajar merupakan
gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik
bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor
jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar”.
Suyono (2009:8) menyatakan ”hasil belajar dapat dijelaskan dengan
memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”.
Pengertian hasil menunjuk kepada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu
aktivitas yang mengakibatnya berubahnya input secara fungsional”.
Purwanto (1989:3) menyatakan bahwa ”hasil belajar adalah suatu yang
digunakan untuk menilai hasil pelajaran yang telah diberikan kepada dalam
waktu tertentu”.
Slameto (1993:17) menyatakan ”hasil belajar merupakan tolok ukur yang
utama untuk mengetahui keberhasilan belajar seseorang. Seorang yang
prestasinya tinggi dapat dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam belajar”.
Berdasarkan berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah tingkat pengetahuan yang dicapai siswa terhadap materi
yang diterima ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan
pembelajaran di sekolah.

2.4 Pembelajaran Tutor Sebaya


2.4.1 Pengertian Tutor Sebaya
Bayu Mukti (2009:4) mengemukakan “tutor sebaya adalah suatu
pembelajaran yang jadi murid dan yang jadi guru adalah teman sebaya
juga atau umurnya itu sebaya”.
Pengajaran tutor sebaya yang pada dasarnya sama dengan program
bimbingan yang bertujuan memberikan bantuan dari dan kepada siswa
supaya dapat mencapai belajar secara optimal.

Edward L. Dejnozken dan Daven E. Kopel dalam American


Education Engcyclopedia menyebutkan “ tutor sebaya adalah sebuah

9
10

prosedur siswa mengajar siswa lainnya. Tipe satu pengajar dan


pembelajar dari usia yang sama. Tipe dua pengajar yang lebih tua
usianya dari pembelajar. Tipe lain adalah pertukaran usia pengajar”.

Nurita Putranti (2007:2) mengemukakan “tutor sebaya adalah siswa


di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya
yang memiliki tugas untuk membantu kesulitan anggota dalam memahami
materi ajar”.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa
pembelajaran tutor sebaya adalah pembelajaran dimana siswa yang lebih
pandai dari temannya membantu dan mengajari teman lain yang belum
bisa terhadap suatu materi.

2.4.2 Kelebihan dan Kekurangan Tutor Sebaya

1. Kelebihan Tutor Sebaya


a. Anak-anak diajarkan untuk mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan
yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, anak yang
dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang
pandai atau ketinggalan.

b. Siswa lebih mudah dan leluasa dalam menyampaikan masalah yang


dihadapi sehingga siswa yang bersangkutan terpacu semangatnya untuk
mempelajari materi ajar dengan baik.
c. Membuat siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi
untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.
d. Membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima
pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor seraya bagi siswa merupakan
kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan
kebutuhan siswa itu sendiri.

10
11

e. Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan


mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam
menerima pelajaran.

2. Kekurangan Tutor Sebaya dan Cara Mengatasinya


a. Kekurangan Tutor Sebaya
Murid yang menjadi tutor hendaknya diperhatikan segi kemampuan
dalam penguasaan materi dan kemampuan membantu orang lain.
Sawali Tuhusya (2007) menyatakan bahwa “tutor adalah murid yang
tergolong baik dalam prestasi belajarnya dan mempunyai hubungan
social yang baik dengan teman-temannya”. Dalam penggunaan
metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan,
seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan
dari metode tutor sebaya sementara kekurangan tutor sebaya antara
lain:
a.Tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.
b.Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.

b. Cara Mengatasi Kekurangan Tutor Sebaya


Para tutor dilatih untuk mengajar berdasarkan silabus yang telah
ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah hubungan
antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar
dihilangkan.
Muntansir (1985:58) menyatakan ”dalam kegiatan ini tutor dan
guru menjadi semacam staf ahli yang mampu mengatasi kesulitan
yang dihadapi murid, baik dengan cara satu lawan satu maupun
kelompok kecil”.

11
12

2.5 Penelitian yang Relevan


Penelitian upaya peningkatan hasil belajar matematika materi berhitung
campuran melalui tutor sebaya telah diteliti dan dilakukan oleh berbagai pihak
antara lain :
Endang Winarni dengan judul ”Peningkatan Hasil Belajar melalui Tutor
Sebaya Siswa Kelas IV dalam Mata Pelajaran Bahasa Inggris dengan Melalui
Tutor Sebaya” telah berhasil melakukan penelitian bahwa melalui tutor sebaya
dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil belajar siswa, Endang winarni
(2008 :4).
Bagi tutor dengan membimbing atau mengajarkan suatu topik kepada
temannya, maka pengertian terhadap materi itu akan menjadi lebih mendalam
dan kesempatan untuk pengayaan dalam belajar. Sedangkan siswa yang
dibimbing akan lebih cepat mengerti karena bahasa siswa lebih mudah
dimengerti oleh temannya.

2.6 Kerangka Berpikir


Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini direncanakan berbentuk kolaboratif,
artinya melibatkan guru lain untuk mengoptimalkan pembelajaran. Prosedur
penelitian tindakan ini dilakukan dua siklus. Maksudnya, setelah tindakan
pertama selesai dilakukan evaluasi. Bila hasil tindakan pertama belum sesuai
yang diinginkan, maka disusun rencana untuk melakukan tindakan
berikutnya.

12
13

Berikut skema kerangka berpikir :

KONDISI GURU/PENELITI SISWA/YANG DITELITI


AWAL Belum memanfaatkan Hasil belajar siswa dalam
Tutor Sebaya pembelajaran rendah

TINDAKAN Pembelajaran dengan SIKLUS I


menggunakan tutor sebaya Pert 1. Siswa mengerjakan 4
soal secara individual tanpa
tutor dan guru

SIKLUS I
Pert. 2 siswa berkelompok
mengerjakan 5 soal dengan tutor
dan didampingi guru

SIKLUS I
Pert. 3 siswa berkelompok
mengerjakan 5 soal tanpa tutor
dan tanpa didampingi guru

SIKLUS I
Pert 4. Siswa mengerjakan 2 soal
secara individual tanpa tutor dan
guru

SIKLUS II
Pert 1. Siswa berkelompok
mengerjakan 5 soal dengan tutor
tanpa didampingi guru

SIKLUS II
Pert .2. siswa secara individual
meng. Soal 5 tanpa tutor dan guru
Dengan menggunakan tutor
KONDISI sebaya hasil belajar Matematika
SD Bancer 02 kec Ngraho Kab.
AKHIR
Bojonegoro meningkat

13
14

2.7 Hipotesis Tindakan


Berdasarkan refleksi kajian teori, penelitian yang relevan dan kerangka
pemikiran masalah maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :
dengan menggunakan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa
yang ditunjukan oleh pencapaian nilai ketuntasan dengan KKM 60 dari 88%
siswa pada mata pelajaran matematika kelas IV SD Negeri Bancer 02
Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

14
15

BAB III

METODE PENELITIAN
Pembahasan metode penelitian ini dapat dikatakan sebagai pertanggung-
jawaban mengenai metode-metode yang digunakan selama penelitian berlangsung
dari awal sampai akhir.
Bab ini mengemukakan tentang setting dan karakteristik subjek penelitian,
variable yang diselidiki, rencana tindakan, data dan cara pengumpulannya,
indikator kinerja dan analisis data.

3.1 Setting Penelitian


3.1.1 Waktu penelitian

1) Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu Agustus sampai bulan


November 2009.
2) Peneliti memilih pada semester I, karena merupakan waktu yang cukup
baik, dengan alasan waktu untuk melaksanakan penelitian masih
panjang.

3.1.2 Tempat penelitian

Kelas IV semester I SD Negeri Bancer 02, Kecamatan Ngraho, Kabupaten


Bojonegoro.

3.2 Rencana Tindakan


Rencana tindakan yang akan dilaksanakan penulis ada beberapa tahap antara
lain:

3.2.1 Tahap persiapan

a) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

b) Menyiapkan soal evaluasi.

c) Menyiapkan lembar angket.

15
16

d) Lembar observasi

3.2.2 Tahap Pelaksanaan


Guru mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah
dipersiapkan.

3.2.3 Tahap pengamatan

Melakukan pengamatan terhadap tindakan kelas tentang peningkatan


hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hasil pengamatan
sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran
selanjutnya.

3.2.4 Tahap evaluasi


Dalam tahap ini peneliti mengadakan evaluasi setelah semua
kegiatan selesai secara keseluruhan untuk mengetahui ketuntasan belajar
siswa sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan proses pembelajaran
selanjutnya.

3.2.5 Tahap refleksi


Dalam tahap ini peneliti sebagai guru kelas melakukan refleksi
setelah pembelajaran tercapai.

3.3 Data dan Cara Pengumpulannya


3.3.1 Data
Data diperoleh dari siswa kelas IV, sebagai subyek penlitian
sejumlah 22 siswa. Sumber data lain dari guru kelas atau teman sejawat.

3.3.2 Cara Pengumpulan Data


Dalam pengumpulan data penulis menggunakan cara/metode
sebagai berikut:

16
17

a. Observasi

Observasi dilakukan oleh guru dan teman sejawat. Adapun yang


diobservasi ada 2 hal, yaitu guru yang mengajar dan siswa/suasana
kelas. Observasi terhadap guru yang mengajar dapat berfungsi sebagai
alat kontrol, apakah guru tersebut telah melakukan tindakan sesuai
dengan planning (perencanaan), sedangkan observasi siswa dapat
berfungsi untuk mendapatkan informasi tentang minat/suasana kelas
dan kemajuan siswa.
b. Dokumentasi
Penulis menggunakan data tentang nomor induk siswa, hasil dan
laporan tugas siswa serta foto-foto kegiatan belajar siswa.

c. Tes
Tes digunakan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan
proses belajar mengajar yang dilakukan pada akhir kegiatan tiap-tiap
siklus dengan memberikan sejumlah soal tes subjektif/uraian kepada
siswa (subjek penelitian).

d. Angket.
Angket diberikan kepada siswa untuk refleksi setelah pembelajaran
dilaksanakan untuk mengetahui informasi tentang tanggapan siswa
terhadap penggunakan cara baru dalam mengajar.

3.4 Indikator Kinerja


Indikator kinerja yang ingin dicapai penulis adalah harapan terjadinya
peningkatan hasil tes formatif siswa dalam proses pembelajaran yang
ditunjukkan dengan adanya kenaikan nilai hasil belajar siswa di atas KKM
atau sama dengan KKM yaitu 60 dan target ketuntasan belajar 88%.

17
18

3.5 Analisis Data


Analisis data dilakukan sejak tindakan pembelajaran dilaksanakan,
dikembangkan selama proses refleksi sampai dengan proses penyusunan
laporan. Ada dua jenis data yang dipakai oleh penulis yaitu data kuantitatif
dan data kualitatif. Data kualitatif dianalisis dengan diskriptif kualitatif.
Sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan diskriptif komparatif
(perbandingan).

18
19

BAB IV
PELAKSANAAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Awal


Sekolah Dasar Negeri Bancer 02 di kelas IV kecamatan Ngraho,
Kabupaten Bojonegoro sering menggunakan dengan model ceramah . Alasan
di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Bancer 02 menggunakan model ceramah,
karena sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun termasuk
pembelajaran mata pelajaran matematika. Padahal berdasarkan pengamatan
model ceramah itu selain tidak efektif, juga mendatangkan kebosanan, apabila
model ceramah yang dilakukan guru tidak menarik. Akibat lebih lanjut sering
kali hasil belajar rendah, siswa kurang memperhatikan, motivasi kurang, dan
tidak berani bertanya. Sobel dan Maletsky dalam bukunya Mengajar
Matematika (2001:1-2) menyatakan ”banyak sekali guru matematika yang
menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas lalu,
memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa”. Pembelajaran seperti
di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3 M,
yaitu membosankan, membahayakan dan merusak seluruh minat siswa dan
pada umumnya siswa berasal dari lingkungan pedesaan sehingga kurang
memiliki pengalaman.

4.2 Pelaksanaan Siklus


4.2.1 Perencanaan
1) Memberikan pre tes dan tes formatif
2) Merancang skenario pembelajaran sebanyak 6 x pertemuan
3) Membuat lembar observasi untuk mengamati kegiatan siswa dan guru
selama pembelajaran berlangsung.
4) Persiapan alat bantu pembelajaran sesuai dengan pokok bahasan yang
akan disampaikan.
5) Menyiapkan lembar angket.

19
20

4.2.2 Tindakan Siklus I Pertemuan 1


Tindakan ini merupakan suatu rancangan pembelajaran melalui
tutor sebaya dengan upaya meningkatkan hasil belajar , sehingga tujuan
belajar dapat tercapai secara baik. Pada siklus ini memerlukan 1 kali
tatap muka / pertemuan.
Penerapan rancangan tindakan ini oleh guru terhadap siswa melalui
tutor sebaya. Tindakan ini dilaksanakan pada hari Kamis 3 September
2009. Langkah pertama guru memimpin doa, diteruskan mengisi daftar
hadir siswa. Untuk memberi semangat belajar guru memberikan
apersepsi. Apersepsi dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada
pembelajaran pada materi yang lalu. Pembelajaran yang akan diajarkan
memang berbeda dari pembelajaran hari-hari sebelumnya.
Guru berdiri di depan kelas, menjelaskan jenis pembelajaran yang
baru yaitu pembelajaran melalui tutor sebaya. Guru menjelaskan kurang
lebih 5 menit. Setelah siswa memahami cara melakukan pembelajaran
yang baru, maka guru memberi empat soal yang harus dikerjakan
secara individual. Siswa boleh membuka buku pegangan yang dipakai
setiap hari. Pada pembelajaran ini guru tidak menjelaskan cara
mengerjakan. Guru juga tidak mendampingi siswa mengerjakan soal.
Bahkan guru tidak memberi bimbingan dan arahan kepada siswa. Siswa
dibiarkan mandiri dalam mengerjakan soal itu.
Dalam pembelajaran ini diamati oleh pengamat atau guru kolaborasi
dalam penelitian. Beliau mengamati dan mencatat hasil pengamatannya
ke dalam lembar pengamatan yang disediakan sebelumnya. Dalam
pembelajaran ini didokumentasikan dengan menggunakan laptop, baik
membuat vidio maupun mengambil gambar.

a. Observasi Siklus I Pertemuan 1


Pada pembelajaran siklus I suasana kelas sangat ramai. Beberapa
siswa berbicara dengan temannya. Ada yang suaranya keras , ada yang
berbisik-bisik. Berusaha menghindari perhatian guru, yang selalu

20
21

diawasi. Banyak siswa yang merasa kesulitan menjawab soal. Siswa


tetap berusaha mencarai jawaban. Ada yang menanyakan pada
temannya, ada siswa yang bertanya kepada guru. Guru tidak memberi
jawaban, sengaja siswa di biarkan untuk mengerjakan sendiri. Ada juga
siswa yang merasa pusing karena tidak dapat mengerjakan soal itu.
Tabel 2
Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 1

NO BIDANG JUMLAH PERSENTASE


PENGAMATAN
1 Siswa yang aktif parti. dengan 14 64 %
baik
2 Siswa mencatat hasil penjelasan 10 45 %
3 Siswa dapat mengemukakan 4 15 %
pert.
4 Siswa yang bermain-main 5 20 %
5 Siswa yang tuntas belajar 10 45 %

Pada tabel 2 di dalam proses pembelajaran siklus I, siswa belum


menunjukkan partisiptif aktif sesuai yang diharapkan, 14 siswa (64 %)
Pada siklus I masih banyak siswa yang ditemukan bermain pada saat
mengerjakan soal yaitu 5 siswa (20%). Siswa ramai karena merasa
kesulitan mengerjakan dan tidak ada tempat bertanya. Siswa harus
mengerjakan soal sendiri. Namun nampak siswa yang mengemukakan
pendapat/ bertanya 4 siswa (15%), terutama pada siswa yang
mempunyai kemampuan lebih di atas rata-rata kemampuan teman-
temannya. Siswa yang mencatat hasil diskusi 10 siswa (45%) . Siswa
yang mencatat ini termasuk siswa yang unggulan dalam pembelajaran
sehari-harinya. Dan mereka memang terlatih dan terbiasa mencatat hasil
penjelasan atau hasil diskusi. Siswa yang tuntas belajar 10 siswa (45%).

21
22

Tabel 3
Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 1
NO BIDANG PENGAMATAN ADA TIDAK ADA
1 Perencanaan V
2 Apersepsi dan motivasi V
3 Penyampaian tujuan pembelajaran V
4 Penggunaan alat peraga V
5 Variasi metode pembelajaran V
6 Penugasan pada siswa V
7 Bimbingan individual V

Pada tabel 3 menunjukkan bahwa guru dalam pembelajaran telah


mempersiapkan perencanaan. Sebelum kegiatan inti guru mengadakan
apersepsi dan motivasi. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
disampaikan dengan baik. Penggunaan alat peraga tidak ada. Variasi
dalam menggunakan metode dilaksanakan dengan baik. Penugasan
pada siswa sudah dilaksanakan. Bimbingan individual belum dilakukan.
Guru masih memperhatikan siswa secara keseluruhan. Perhatian
diarahkan pada penguasaan seluruh kelas. Dengan harapan kegiatan
belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Tabel 4 (lampiran 3) menunjukkan bahwa jumlah nilai adalah 1. 225.
Rata-rata nilai tes formatif adalah 55,68. Skor tertinggi 70 dan terendah
40. Dengan demikian hasil tes terhadap siklus I pertemuan 1 bahwa
hasil belajar belum memenuhi indikator yang ditetapkan yaitu 60
Tabel 5
Analisis Nilai Tes Formatif Siklus I Pertemuan 1
NO INTERVAL FREKUENSI
1 41-50 11
2 51-60 6
3 61-70 5
4 71-80 0
5 81-90 0
6 91-100 0
Jumlah 22

22
23

Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa skor 41-50 ada 11 siswa. Skor


51-60 ada 6 siswa. Skor 61-70 ada 5 siswa. Skor 71-80, skor 81-90, dan
skor 91-100 ada 0 siswa. Jadi jumlah yang tuntas ada 10 siswa (45%)
dan yang belum tuntas ada 12 siswa (55%).

b. Refleksi Siklus I Pertemuan 1


Tabel 6
Angket Siklus I Pertemuan 1
JAWABAN
NO PERNYATAAN
YA TIDAK
1 Pembelajaran yang telah berlangsung 18 4
bermakna
2 Pembelajaran yang telah berlangsung 15 7
bermanfaat
3 Pembelajaran yang telah berlangsung 9 13
menyenangkan
4 Pembelajaran yang telah berlangsung 14 8
menyulitkan
5 Pembelajaran yang telah berlangsung menarik 5 17

Berdasarkan tabel 6 di atas pada siklus I pertemuan 1 terdapat


beberapa kekurangan , yang nampak yaitu suasana pembelajaran masih
ramai, 14 siswa mengalami kesulitan mengerjakan tes formatif, 13
siswa menyatakan tidak senang, 15 siswa mnyatakan bermanfaat, 5
siswa menyatakan menarik dan hasil tes formatif banyak siswa yang
tidak tuntas. Kekurangan ini dipakai sebagai dasar untuk melakukan
tindakan alternatif pertemuan 2. Tindakan alternatif pertemuan 2 yaitu :
a. Siswa dibagi menjadi 7 kelompok dan tiap kelompok 3 siswa.
b. Guru menunjuk 7 siswa sebagai tutor sebaya.
c. Guru memberi bimbingan dan arahan.

23
24

4.2.3 Tindakan Siklus I Pertemuan 2


Pembelajaran pada siklus 1 pertemuan kedua ini dilaksanakan
Kamis 10 September 2009. Pembelajaran diawali dengan berdoa dan
mengabsen. Berdoa dipimpin oleh guru dengan tertib. Apersepsi
dilakukan dengan memberikan pertanyaan pada materi siklus I
pertemuan 1. Jawaban diajukan secara klasikal kepada siswa.
Pertanyaan harus dijawab siswa secara lisan. Pertemuan 2 ini
membahas indikator ke-2 sesuai rencana yang ditetapkan. Guru
membagi kelompok yang beranggotakan 3 siswa. Anggota kelompok
selalu ada siswa yang pandai sebagai tutor. Tugas tutor adalah
membimbing teman sebaya dalam mengerjakan tugas kelompok yaitu
Lembar Kerja Siswa (LKS). Guru membantu dengan memberikan
bimbingan dan arahan kepada kelompok. Dalam mengerjakan tugas
kelompok ada kesulitan dapat menanyakan kepada tutor untuk
menjelaskan kepada teman sebaya atau guru. Kurang lebih 10 menit
setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan
dilanjutkan tanggapan kepada kelompok lain. Tes formatif dilakukan
setelah semua kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Seluruh
proses pembelajaran dishooting dan diambil gambar dengan
menggunakan laptop.

a. Observasi Siklus I Pertemuan 2


Pembelajaran pada pertemuan ini ada beberapa kelompok yang
merasa kesulitan dalam mengerjakan tugas LKS. Siswa yang menjadi
tutor belum dapat menjelaskan dengan baik. Cara berbicara masih ragu-
ragu. Dalam menjelaskan di hadapan teman belum lancar. Bahasa yang
digunakan belum dikuasai. Guru dengan penuh tenaga dan pikiran
memberi arahan dan bimbingan. Dengan harapan siswa dapat mengerti
dan mengerjakan soal dengan benar.

24
25

Tabel 7
Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 2
NO BIDANG PENGAMATAN JUMLAH PERSENTASE
1 Siswa yang aktif part. dengan 16 73 %
baik
2 Siswa mencatat hasil diskusi 20 90 %
3 Siswa dapat mengem. Pend 4 15 %
4 Siswa yang bermain-main 4 15 %
5 Siswa yang tuntas belajar 11 50 %

Pada table 7 di dalam proses pembelajaran siklus I pertemuan 2,


siswa belum menunjukkan partisiptif aktif sesuai yang diharapkan ada
16 siswa (73%) .Masih banyak siswa yang ditemukan bermain pada
saat diskusi 4 siswa (15%). Namun nampak siswa yang mengemukakan
pendapat/ bertanya 4 siswa (15%). Siswa yang mencatat hasil diskusi
20 siswa (90%). Siswa yang tuntas belajar 11 siswa (50%).
Tabel 8
Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 2

NO BIDANG PENGAMATAN ADA TIDAK ADA


1 Perencanaan V
2 Apersepsi dan motivasi V
3 Penyampaian tujuan pembel. V
4 Penggunaan alat peraga V
5 Variasi metode pembelajaran V
6 Penugasan pada siswa V
7 Bimbingan individual V

Pada tabel 8 di atas menunjukkan bahwa guru dalam pembelajaran


telah mempersiapkan perencanaan. Sebelum kegiatan inti guru
mengadakan apersepsi dan motivasi. Tujuan pembelajaran yang akan
dicapai disampaikan dengan baik. Penggunaan alat peraga tidak ada.
Variasi dalam menggunakan metode dilaksanakan dengan baik.
Penugasan pada siswa sudah dilaksanakan. Bimbingan individual sudah
dilakukan. Guru masih memperhatikan siswa secara keseluruhan.
Perhatian diarahkan pada penguasaan seluruh kelas. Dengan harapan
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.

25
26

Tabel 9 (lampiran 4) menunjukkan bahwa jumlah nilai adalah 1.


350. Rata-rata nilai tes formatif adalah 61,36. Skor tertinggi 90 dan
terendah 50. Dengan demikian hasil tes terhadap siklus I pertemuan 2
bahwa hasil belajar rata-rata sudah memenuhi indikator yang ditetapkan
yaitu 60.
Tabel 10
Analisis Nilai Tes Formatif Siklus I Pertemuan 2
NO INTERVAL FREKUENSI
1 41-50 8
2 51-60 5
3 61-70 6
4 71-80 2
5 81-90 1
6 91-100 0
Jumlah 22

Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa skor 41-50 ada 8 siswa. Skor


51-60 ada 5 siswa. Skor 61-70 ada 6 siswa. Skor 71-80 ada 2 siswa,
skor 81-90 ada 1 siswa, dan skor 91-100 ada 0 siswa. Jadi yang tuntas
ada 12 siswa (55%) dan belum tuntas ada 10 siswa (45%).

b. Refleksi Siklus I Pertemuan 2


Tabel 11
Angket Siklus I Pertemuan 2
JAWABAN
NO PERNYATAAN TIDA
YA
K
1 Pembelajaran yang telah berlangsung bermakna 20 2
2 Pembelajaran yang telah berlangsung bermanfaat 18 4
3 Pembelajaran yang telah berlangsung 13 9
menyenangkan
4 Pembelajaran yang telah berlangsung menyulitkan 7 15
5 Pembelajaran yang telah berlangsung menarik 18 4

26
27

Berdasarkan tabel 11 di atas ada 20 siswa menyatakan bermakna.


Sedangkan pada siklus 1 pertemuan 2 ini siswa masih ramai, tetapi 18
siswa menyatakan bermanfaat, tutor tidak dapat menjelaskan teman
dengan jelas, dalam menjelaskan suaranya tersendat-sendat sehingga ada
7 siswa menyatakan kesulitan , para tutor masih ragu – ragu dalam
menjelaskan sehingga ada 4 siswa menyatakan tidak tertarik. Sedangkan
guru dalam memberi bimbingan dan arahan belum maksimal. Masih ada
siswa yang belum tuntas. Guru melakukan tindakan alternatif pada
pembelajaran siklus I pertemuan 3.
Tindakan alternatif siklus I pertemuan 3 yaitu :
a. Siswa dibagi menjadi 7 kelompok dan tiap kelompok 3 siswa.
b. Guru tidak mendampingi.
c. Guru menjelaskan soal yang belum dipahami.

4.2.4 Tindakan Siklus I Pertemuan 3


Pelaksanaan siklus I pertemuan 3 dilaksanakan pada hari Kamis 8
Oktober 2009. Berdoa dan mengabsen selalu dilakukan sebelum masuk
ke pembelajaran. Untuk memberikan semangat guru memberikan
apersepsi dengan mengajukan pertanyaan pada materi minggu yang lalu.
Guru membagi kelompok menjadi 7 kelompok. Setiap kelompok
beranggotakan 3 siswa. Guru menempatkan siswa yang dianggap pandai
untuk ditempatkan setiap kelompok sebagai tutor pada temannya. Pada
pembelajaran siklus ini guru tidak mendampingi setiap kelompok. Setiap
kelompok mengerjakan tugas kelompok pada LKS yang berisikan 5 soal
Bila kelompok menemui kesulitan dapat menanyakan teman yang pandai
atau teman sebaya. Setelah selesai mengerjakan tugas, maka setiap
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Tanggapan dari kelompok
lain diberikan setelah kelompok tertentu selesai mempresentasikan. Tidak
lupa kurang lebih 25 menit siswa mengerjakan tes formatif. Pembelajaran
didokumentasikan baik vidio maupun foto dengan menggunakan laptop.

27
28

a. Observasi Siklus I Pertemuan 3


Pada pembelajaran siklus I pertemuan 3 siswa dalam mengerjakan
tugas kelompok sudah lancar. Siswa sebagai tutor sudah dapat
menjelaskan dengan baik. Dalam menggunakan bahasa sudah tepat,
suara jelas, dan sebagai siswa dapat mendengarkan dengan tertib.
Pembelajaran cukup tenang dan tertib.
Guru tetap melakukan perhatian kepada siswa. Dengan demikian
siswa dapat dikelola dengan baik. Guru berjalan memperhatikan ke
seluruh kelompok. Walaupun demikian guru tidak memberikan
bimbingan pada setiap kelompok. Dengan teman sebaya diharapkan
dapat saling memberi dan meneriama pendapat.

Tabel 12
Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 3

NO BIDANG JUMLAH PERSENTASE


PENGAMATAN
1 Siswa yang aktif partisipatif 18 85 %
dengan baik
2 Siswa mencatat hasil diskusi 20 90 %
3 Siswa dapat mengemukakan 8 36 %
pendapat
4 Siswa yang bermain-main 2 9%
5 Siswa yang tuntas belajar 19 87 %

Pada tabel 12 di atas dalam proses pembelajaran siklus I pertemuan


3, siswa sudah menunjukkan partisiptif aktif sesuai yang diharapkan,
18 siswa (85%) . Pada siklus ini masih ada siswa yang ditemukan
bermain pada saat diskusi 2 siswa (9%). Namun nampak siswa yang
mengemukakan pendapat/ bertanya 8 siswa (36%). Siswa yang
mencatat hasil diskusi 20 siswa (90%). Siswa yang tuntas belajar 19
siswa (87%).

28
29

Tabel 13
Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 3

NO BIDANG PENGAMATAN ADA TIDAK ADA


1 Perencanaan V
2 Apersepsi dan motivasi V
3 Penyampaian tujuan pembelajaran V
4 Penggunaan alat peraga V
5 Variasi metode pembelajaran V
6 Penugasan pada siswa V
7 Bimbingan individual V

Pada tabel 13 di atas menunjukkan bahwa guru dalam pembelajaran


telah mempersiapkan perencanaan. Sebelum kegiatan inti guru
mengadakan apersepsi dan motivasi. Tujuan pembelajaran yang akan
dicapai disampaikan dengan baik. Penggunaan alat peraga tidak ada.
Variasi dalam menggunakan metode dilaksanakan dengan baik.
Penugasan pada siswa sudah dilaksanakan. Bimbingan individual tidak
dilakukan. Guru masih memperhatikan siswa secara keseluruhan.
Perhatian diarahkan pada penguasaan seluruh kelas. Dengan harapan
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Tabel 14 (lampiran 5) menunjukkan bahwa jumlah nilai adalah 1.
500. Rata-rata nilai tes formatif adalah 68,1. Skor tertinggi 100 dan
terendah 50. Siswa yang belum tuntas 3 siswa. Dengan demikian hasil
tes terhadap siklus I pertemuan 3 bahwa rata-rata hasil belajar sudah
memenuhi indikator yang ditetapkan yaitu 60. Tetaoi masih ada beberapa
siswa yang belum tuntas.
Tabel 15
Analisis Nilai Tes Formatif Siklus I Pertemuan 3
NO INTERVAL FREKUENSI
1 41-50 2
2 51-60 7
3 61-70 6
4 71-80 4
5 81-90 2
6 91-100 1
Jumlah 22

29
30

Tabel 15 di atas menunjukkan bahwa skor 41-50 ada 2 siswa. Skor


51-60 ada 7 siswa. Skor 61-70 ada 6 siswa. Skor 71-80 ada 4 siswa,
skor 81-90 ada 2 siswa, dan skor 91-100 ada 1 siswa. Jadi jumlah siswa
yang tuntas ada 15 siswa (69%) dan yang belum tuntas ada 7 siswa
(31%).

b. Refleksi Siklus I Pertemuan 3

Tabel 16
Angket Siklus I Pertemuan 3
JAWAB
NO PERNYATAAN
YA TIDAK
1 Pembelajaran yang telah berlangsung bermakna 22 -
2 Pembelajaran yang telah berlangsung bermanfaat 22 -
3 Pembelajaran yang telah berlangsung 20 2
menyenangkan
4 Pembelajaran yang telah berlangsung menyulitkan 3 19
5 Pembelajaran yang telah berlangsung menarik 18 4

Berdasarkan tabel 16 pada pembelajaran siklus I pertemuan 3 siswa


dalam mengerjakan tugas kelompok sudah lancar sehingga semua
siswa menyatakan bahwa pembelajaran dengan tutor sebaya bermakna
dan bermanfaat sehingga. Siswa sebagai tutor sudah dapat
menjelaskan dengan baik. Dalam menggunakan bahasa sudah tepat,
suara jelas, dan sebagai siswa dapat mendengarkan dengan tertib
sehingga 20 siswa menyatakan senang, 18 tertarik, dan 19 siswa
menyatakan tidak sulit. Pembelajaran cukup tenang dan tertib. Tetapi
hasil tes ternyata masih ada siswa yang belum tuntas. Aternatif
tindakan siklus I pertemuan 4 antara lain, siswa mengerjakan tugas
secara individual tanpa didampingi tutor dan guru. Sedangkan guru

30
31

hanya mengawasi siswa dalam mengerjakan tugas. Target


menuntaskan siswa 90 %.

4.2.5 Tindakan Siklus I Pertemuan 4


Pembelajaran pada siklus I pertemuan 4 ini dilaksanakan pada hari
Kamis 15 Oktober 2009. Apersepsi dengan mengajukan pertanyaan lisan
dan harus dijawab secara lisan. Pada pertemuan ini melakukan
pembelajaran pada indikator ke-4. Masing-masing siswa diberi 5 soal,
yang harus dijawab secara individual pula. Guru melepas siswa dalam
mengerjakannya. Artinya guru tidak memberi bimbingan dan arahan
siswa, demikian juga tutor tidak membantu. Proses pembelajaran
dishooting dan diambil gambar dengan menggunakan laptop.

a. Observasi Siklus I Pertemuan 4


Pembelajaran siklus I pertemuan 4 siswa cukup tertib. Siswa dapat
mengerjakan dengan tenang. Siswa sudah ada kepercayaan diri untuk
mengerjakan soal yang harus dikerjakan secara individual. Tidak ada
lagi siswa yang ramai, berbicara sendiri, berbisik-bisik, dan bertanya
kepada teman.
Tabel 17
Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus I Pertemuan 4

NO BIDANGPENGAMATAN JUMLAH PERSENTASE


1 Siswa yang aktif partisipatif 19 85 %
dengan baik
2 Siswa mencatat hasil 22 100 %
penjelasan
3 Siswa dapat 10 5%
mengemukakan pertanyaan
4 Siswa yang bermain-main 0 0%
5 Siswa yang tuntas belajar 21 95 %

Di dalam proses pembelajaran siklus I pertemuan 4, siswa


menunjukkan partisiptif aktif adalah 19 siswa (85%). Pada siklus ini
tidak ada siswa bermain pada saat mengerjakan soal. Namun nampak

31
32

siswa yang mengemukakan pendapat/ bertanya 10 siswa (5 %). Semua


siswa yang mencatat hasil penjelasan. Siswa yang tuntas belajar 21
siswa (95%).
Tabel 18
Pengamatan Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 4

NO BIDANG PENGAMATAN ADA TIDAK ADA


1 Perencanaan V
2 Apersepsi dan motivasi V
3 Penyampaian tujuan pembelajaran V
4 Penggunaan alat peraga V
5 Variasi metode pembelajaran V
6 Penugasan pada siswa V
7 Bimbingan individual V

Pada tabel 18 menunjukkan bahwa guru dalam pembelajaran telah


mempersiapkan perencanaan. Sebelum kegiatan inti guru mengadakan
apersepsi dan motivasi. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
disampaikan dengan baik. Penggunaan alat peraga tidak ada. Variasi
dalam menggunakan metode dilaksanakan dengan baik. Penugasan
pada siswa sudah dilaksanakan. Bimbingan individual tidak dilakukan.
Guru masih memperhatikan siswa secara keseluruhan. Perhatian
diarahkan pada penguasaan seluruh kelas. Dengan harapan kegiatan
belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Tabel 19 (lampiran 6) menunjukkan bahwa jumlah nilai adalah 1.
635. Rata-rata nilai tes formatif adalah 74,3. Skor tertinggi 100 dan
terendah 55. Dengan demikian hasil tes terhadap siklus I pertemuan 4
bahwa hasil belajar telah memenuhi indikator yang ditetapkan yaitu 60
tetapi masih ada beberapa siswa yang belum tuntas.

32
33

Tabel 20
Analisis Nilai Tes Formatif Siklus I Pertemuan 4
NO INTERVAL FREKUENSI
1 41-50 0
2 51-60 5
3 61-70 8
4 71-80 4
5 81-90 3
6 91-100 2
Jumlah 22

Tabel 20 di atas menunjukkan bahwa skor 41-50 ada 0 siswa. Skor


51-60 ada 5 siswa. Skor 61-70 ada 8 siswa. Skor 71-80 ada 4 siswa,
skor 81-90 ada 3 siswa, dan skor 91-100 ada 2 siswa. Jadi jumlah yang
tuntas ada 18 siswa (82%) dan yang belum tuntas ada 4 siswa (18%).

b. Refleksi Siklus I Pertemuan 4


Tabel 21
Angket Siklus I Pertemuan 4
SKOR
NO PERNYATAAN
YA TIDAK
1 Pembelajaran yang telah berlangsung bermakna 22 -
2 Pembelajaran yang telah berlangsung 22 -
bermanfaat
3 Pembelajaran yang telah berlangsung 21 1
menyenangkan
4 Pembelajaran yang telah berlangsung 3 19
menyulitkan
5 Pembelajaran yang telah berlangsung menarik 21 1

33
34

Berdasarkan tabel 21 di atas bahwa semua siswa menyatakan


belajar lebih bermakna dan bermanfaat dan 21 siswa hatinya merasa
senang, kesulitan mengerjakan berkurang yaitu 2 siswa, dan siswa 21
menyatakan bahwa pembelajaran menarik. Walaupun nilai rata-rata
kelas meningkat tapi masih ada beberapa siswa yang belum tuntas.
Maka perlu mengambil tindakan alternatif untuk siklus II pertemuan 1.
Alternatif tindakan siklus II pertemuan 1 yaitu siswa berkelompok
beranggotakan 3 siswa, menggunakan tutor sebaya tanpa didampingi
guru, dengan menaikan target ketuntasan 90% sesuai KKM.

4.3 Pelaksanaan Siklus II


4.3.1 Tindakan Siklus II Pertemuan I
Pelaksanaan siklus II pertemuan 1 dilaksanakan pada hari Kamis 22
Oktober 2009. Berdoa dan mengabsen selalu dilakukan sebelum masuk
ke pembelajaran. Pembelajaran pada siklus ini melaksanakan indikator ke-
5. Untuk memberikan semangat guru memberikan apersepsi dengan
mengajukan pertanyaan pada materi minggu yang lalu. Guru membagi
kelompok menjadi 7 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 3 siswa.
Guru menempatkan siswa yang dianggap pandai untuk ditempatkan setiap
kelompok sebagai tutor pada temannya. Pada pembelajaran siklus ini guru
tidak mendampingi setiap kelompok. Setiap kelompok mengerjakan tugas
kelompok pada LKS yang berisikan 5 soal. Bila kelompok menemui
kesulitan dapat menanyakan kepada teman yang pandai atau tutor sebaya.
Setelah selesai mengerjakan tugas, maka setiap kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya. Tanggapan dari kelompok lain
diberikan setelah kelompok tertentu selesai mempresentasikan. Tidak lupa
kurang lebih 25 menit siswa mengerjakan tes formatif. Pembelajaran
didokumentasikan baik vidio maupun foto dengan menggunakan laptop.

34
35

a. Observasi Siklus II Petemuan 1


Pada pembelajaran siklus II pertemuan 1, siswa sudah dapat
melaksanakan tugas kelompok dengan lancar. Para tutor lancar
menjelaskan pada teman kelompok. Kerja sama antara tutor dan anggota
kelompok sudah ada peningkatan yang baik. Kesulitan pada kelompok
dapat di atasi dengan bantuan tutor. Sehingga ada peningkatan pada
kegiatan pembelajaran yang baik. Semua kelompok sudah dapat
memainkan perannya dengan benar. Baik antara tutor dan anggota
kelompok telah terjalin komunikasi yang seimbang. Tukar pendapat
diantara mereka berjalan sesuai dengan kemampuan dan kekurangannya
masing-masing.
Tabel 22
Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan 1

NO BIDANGPENGAMATAN JUMLAH PERSENTASE


1 Siswa yang aktif partisipatif 19 85 %
dengan baik
2 Siswa mencatat hasil penjelasan 22 100 %
3 Siswa dapat mengemukakan 10 5%
pertanyaan
4 Siswa yang bermain-main 0 0%
5 Siswa yang tuntas belajar 21 95 %

Pada tabel 22 di atas proses pembelajaran siklus II pertemuan 1, siswa


menunjukkan partisiptif aktif adalah 19 siswa (85%) . Pada siklus ini
siswa bermain pada saat mengerjakan 0 siswa (0%). Namun nampak siswa
yang mengemukakan pendapat/ bertanya 10 siswa (5%). Siswa yang
mencatat hasil penjelasan 22 (100%). siswa. Siswa yang tuntas belajar 21
siswa (95%).

35
36

Tabel 23
Pengamatan Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan 1

NO BIDANG PENGAMATAN ADA TIDAK ADA


1 Perencanaan V
2 Apersepsi dan motivasi V
3 Penyampaian tujuan pembelajaran V
4 Penggunaan alat peraga V
5 Variasi metode pembelajaran V
6 Penugasan pada siswa V
7 Bimbingan individual V

Pada tabel 23 di atas menunjukkan bahwa guru dalam pembelajaran


telah mempersiapkan perencanaan. Sebelum kegiatan inti guru
mengadakan apersepsi dan motivasi. Tujuan pembelajaran yang akan
dicapai disampaikan dengan baik. Penggunaan alat peraga tidak ada.
Variasi dalam menggunakan metode dilaksanakan dengan baik. Penugasan
pada siswa sudah dilaksanakan sesuai rencana yang ditentukan. Bimbingan
individual tidak dilakukan, karena sesuai rencana tindakan tanpa
didampingi guru. Guru masih memperhatikan siswa secara keseluruhan.
Perhatian diarahkan pada penguasaan seluruh kelas. Dengan harapan
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Tabel 24 (lampiran 7) menunjukkan bahwa jumlah nilai adalah 1.
690. Rata-rata nilai tes formatif adalah 77,72. Skor tertinggi 100 dan
terendah 55. Dengan demikian hasil tes terhadap siklus II pertemuan 1
bahwa rata-rata hasil belajar ada peningkatan 5, 68.
Tabel 25
Analisis Nilai Tes Formatif Siklus II Pertemuan 1
NO INTERVAL FREKUENSI
1 41-50 1
2 51-60 3
3 61-70 7
4 71-80 7
5 81-90 2
6 91-100 3
Jumlah 22

36
37

Tabel 25 di atas menunjukkan bahwa skor 41-50 ada 1 siswa. Skor


51-60 ada 3 siswa. Skor 61-70 ada 7 siswa. Skor 71-80 ada 7 siswa,
skor 81-90 ada 2 siswa, dan skor 91-100 ada 3 siswa. Jadi jumlah yang
tuntas ada 19 siswa (86%) dan yang belum tuntas ada 3 siswa (14%).

c. Refleksi Siklus II Pertemuan 1

Tabel 26
Angket Siklus II Pertemuan 1
JAWABAN
NO PERNYATAAN
YA TIDAK
1 Pembelajaran yang telah berlangsung bermakna 22 -
2 Pembelajaran yang telah berlangsung bermanfaat 22 -
3 Pembelajaran yang telah berlangsung 21 1
menyenangkan
4 Pembelajaran yang telah berlangsung menyulitkan 2 20
5 Pembelajaran yang telah berlangsung menarik 21 1

Pada tabel 26 menunjukkan bahwa pembelajaran dengan tutor sebaya


sebagian besar menyatakan bermakna, bermanfaat, menyenangkan, menarik,
dan tidak menyulitkan. Dari hasil tes formatif ternyata telah mencapai 86%
prosentase ketuntasan. Dengan demikian masih perlu alternatif tindakan
untuk pertemuan 2. Dengan target kentuntasan 88%. Siswa mengerjakan
soal secara individual.

4.3.2 Tindakan Siklus II Pertemuan 2


Pembelajaran pada siklus II pertemuan 2 ini dilaksanakan pada hari
Kamis 29 Oktober 2009. Apersepsi dengan mengajukan pertanyaan lisan
dan harus dijawab secara lisan. Pada pertemuan ini melakukan
pembelajaran pada indikator ke-6. Masing-masing siswa diberi 5 soal,
yang harus dijawab secara individual pula. Guru melepas siswa dalam

37
38

mengerjakannya. Artinya guru tidak memberi bimbingan dan arahan


siswa. Proses pembelajaran dishooting dan diambil gambar dengan
menggunakan laptop.

a. Observasi Siklus II Pertemuan 2


Pada pembelajaran siklus II pertemuan 2, siswa sudah dapat
melaksanakan tugas individual dengan tertib. Siswa mengerjakan sesuai
dengan kemampuannya sendiri. Sehingga ada peningkatan pada kegiatan
pembelajaran yang baik. Ada beberapa siswa yang belum aktif karena ada
kesulitan pada nomor soal tertentu. Guru mengawasi siswa dalam
mengerjakan. Dan selalu mengawasi siswa yang ingin mengerjakan
dengan kerja sama. Guru selalu mencegah siswa yang ingin bertanya
dengan temannya. Dengan demikian guru dapat membandingkan hasil
pengamatan dengan alternaif tindakan berkelompok.
Tabel 27
Pengamatan Aktivitas Siswa Siklus II Pertemuan 2

NO BIDANGPENGAMATAN JUMLAH PERSENTASE


1 Siswa yang aktif partisipatif 22 100 %
dengan baik
2 Siswa mencatat hasil 22 100 %
penjelasan
3 Siswa dapat mengemukakan 20 90 %
pertanyaan
4 Siswa yang bermain-main 0 0%
5 Siswa yang tuntas belajar 21 95 %

Di dalam proses pembelajaran siklus II pertemuan 1, siswa menunjukkan


partisiptif aktif adalah 22 siswa (100%) . Pada siklus ini siswa yang
bermain pada saat mengerjakan 0 siswa (0 %). Tampak siswa yang mampu
mengemukakan pertanyaan 20 siswa (90%). Siswa yang mencatat hasil
penjelasan 22 siswa atau 100 %. Siswa yang tuntas belajar 21 siswa
(90%).

38
39

Tabel 28
Pengamatan Aktivitas Guru Siklus II Pertemuan 2

BIDANG PENGAMATAN ADA TIDAK


NO ADA
1 Perencanaan V
2 Apersepsi dan motivasi V
3 Penyampaian tujuan V
pembelajaran
4 Penggunaan alat peraga V
5 Variasi metode pembelajaran V
6 Penugasan pada siswa V
7 Bimbingan individual V

Pada tabel 28 di atas menunjukkan bahwa guru dalam pembelajaran


telah mempersiapkan perencanaan. Sebelum kegiatan inti guru
mengadakan apersepsi dan motivasi. Tujuan pembelajaran yang akan
dicapai disampaikan dengan baik. Penggunaan alat peraga tidak ada.
Variasi dalam menggunakan metode dilaksanakan dengan baik. Penugasan
pada siswa sudah dilaksanakan sesuai rencana yang ditentukan. Bimbingan
individual belum dilakukan, karena sesuai rencana tindakan tanpa
didampingi guru. Guru masih memperhatikan siswa secara keseluruhan.
Perhatian diarahkan pada penguasaan seluruh kelas. Dengan harapan
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Tabel 29 (lampiran 8) menunjukkan bahwa jumlah nilai adalah 1.
860. Rata-rata nilai tes formatif adalah 85,45. Skor tertinggi 100 dan
terendah 60.Dengan demikian hasil tes terhadap siklus II pertemuan 2
bahwa rata-rata hasil belajar ada peningkatan 7,73.
Tabel 30
Analisis Nilai Tes Formatif Siklus II Pertemuan 2

NO INTERVAL FREKUENSI
1 41-50 0
2 51-60 3
3 61-70 2
4 71-80 7
5 81-90 5
6 91-100 5
Jumlah 22

39
40

Tabel 30 di atas menunjukkan bahwa skor 41-50 ada 0 siswa. Skor


51-60 ada 3 siswa. Skor 61-70 ada 2 siswa. Skor 71-80 ada 7 siswa,
skor 81-90 ada 5 siswa, dan skor 91-100 ada 5 siswa. Jadi jumlah yang
tuntas ada 20 siswa (91%) dan yang belum tuntas ada 2 siswa (9%).

b. Refleksi Siklus II Pertemua 2


Tabel 31
Angket Siklus II Pertemuan 2
JAWABAN
NO PERNYATAAN
YA TIDAK
1 Pembelajaran yang telah berlangsung bermakna 22 -
2 Pembelajaran yang telah berlangsung bermanfaat 22 -
3 Pembelajaran yang telah berlangsung 21 1
menyenangkan
4 Pembelajaran yang telah berlangsung menyulitkan 2 20
5 Pembelajaran yang telah berlangsung menarik 21 1

Pada tabel 31 di atas pembelajaran siklus II pertemuan 2 berjalan


dengan baik. Semua siswa menyatakan bermakna dan bermanfaat. Hanya
ada 1 siswa menyatakan tidak senang. Siswa yang masih kesulitan ada 2.
Namun hasil tes formatif telah melampaui target ketuntasan yaitu 91% dari
target semula yaitu 88%.

4.4 Pembahasan Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menggunakan Tutor


Sebaya
Pada proses pembelajaran diadakan pengamatan tentang aktivitas siswa.
Pengamatan diadakan guru kolaborasi secara keseluruhan siswa. Pengamatan
dilakukan pada aktivitas individual maupun secara kelompok siswa dalam
pembelajaran dengan menggunakan tutor sebaya.

40
41

Pembelajaran melalui tutor sebaya yang dilaksanakan dengan dua siklus,


ada peningkatan yang baik. Untuk siklus I pertemuan 1 siswa masih banyak
yang ramai. Pada pembelajaran siklus I pertemuan 2 belum berjalan lancar.
Terutama kepada siswa yang ditunjuk sebagai tutor. Sebagai tutor ternyata
belum mampu menjelaskan dan berbicara dengan lancar. Siswa belum pernah
menerima pembelajaran melalui tutor sebaya. Suasana pembelajaran ramai
dan ada yang mentertawakan tutor. Para tutor tidak lancar dalam berbicara di
depan teman sebaya. Pada siklus I pertemuan 3 tutor sudah paham tugasnya
sehingga hasil tes meningkat tapi masih siswa yang belum tuntas. Pada siklus
I pertemuan 4 ketuntasan hasil belajar meningkat tapi belum mencapai target
yang diharapkan. Untuk meningkatakan hasil belajar sesuai target ketuntasan
yang di inginkan maka guru mengambil alterntif tindakan pada siklus II.
Proses pembelajaran pada siklus II pertemuan 1 berjalan lancar, suasana
tertib, dan hasil tes formatif telah memenuhi KKM tapi ketuntasan belum
memenuhi target. Pada siklus II pertemuan 2 hasil tes formatif jauh lebih
meningkat sehingga target ketuntasan tercapai 91% bahkan melebihi taget
ketuntasan yang diharapkan yaitu 88%.
Hal positif lain yang dapat didapatkan dari pembelajaran melalui tutor
sebaya adalah peningkatan partisipatif siswa dalam mengikuti pembelajaran. .
Artinya pada pembelajaran melalui tutor sebaya perilaku siswa dalam
pembelajaran lebih baik bila dibandingkan dengan pembelajaran biasa.
Misalnya, pada pembelajaran tutor sebaya ini siswa mulai berani
mengemukakn pendapat, ada semangat yang tinggi, rasa keingintahuan
bertambah, dan siswa tidak merasa bosan selama mengikuti pembelajran.
Peningkatan siswa dalam mencatat hasil dan keberanian siswa dalam
berargumentasi, rasa percaya diri dan rasa kepuasan yang diperoleh setelah
selesai belajar. Siswa merasa bermanfaat dan bermakna terhadap apa yang
baru dilakukan, sehingga merasa bertahan dalam belajar.
Aktivitas siswa dari sebelum tindakan penggunaan tutor sebaya yang pasif
82% dan aktif 18% tapi sesudah tindakan penggunaan tutor sebaya yang pasif

41
42

menurun menjadi 18% dan yang aktif meningkat menjadi 82%. Hal ini dapat
dilihat pada tabel 32.
Tabel 32
Perbandingan prosentase aktivitas siswa sebelum dan sesudah
tindakan kelas
Aktivitas siswa Prosentase
Pasif Aktif
Sebelum tindakan 82% 18%
Sesudah tindakan 18% 82%

Pembelajaran dengan tutor sebaya pada siklus I sampai siklus II ternyata


terdapat peningkatan yang cukup baik. Hasil ketuntasan belajar siklus I selalu
meningkat pada setiap pertemuan yaitu pertemuan 1 tuntas 45% dan belum
tuntas 55%, pertemuan 2 tuntas 55% dan belum tuntas 45%, pertemuan 3
tuntas 69% dan belum tuntas 31%, pertemuan 4 tuntas 82% dan belum tuntas
18%. Hal ini dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini.
Tabel 33
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I
Siklus I Tuntas Belum Tuntas
Pertemuan 1 45% 55%
Pertemuan 2 55% 45%
Pertemuan 3 69% 31%
Pertemuan 4 82% 18%

Perbandingan Ketuntasan Hasil


Belajar Siklus I

100%
Prosentase

80%
60% Tuntas
40% Belum Tuntas
20%
0%
1

4
n

n
ua

ua

ua

ua
m

m
te

te

te

te
er

er

er

er
P

Siklus 1

42
43

Hasil kentuntasan belajar pada siklus II juga selalu meningkat dalam setiap
pertemuan yaitu pertemuan 1 tuntas 86% dan belum tuntas 14% sedangkan
pada pertemuan 2 ketuntusan sudah melebihi target yaitu 91% dan belum
tuntas 9%. Hal ini dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini.

Tabel 34
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II
Siklus I Tuntas Belum Tuntas
Pertemuan 1 86% 14%
Pertemuan 2 91% 9%

Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siklus


II

100%
80%
Prosentase

60% Tuntas
40% Belum Tuntas
20%
0%
Pertemuan 1 Pertemuan 2
Siklus II

Perbandingan ketuntasan hasil belajar dari kondisi awal tuntas 31% dan
belum tuntas 69%, pada siklus I yang tuntas meningkat 51% menjadi 82%
sedangkan yang belum tuntas 18% dan pada siklus II yang tuntas meningkat
6% menjadi 91%. Prosentase ini sudah melebihi target kentutasan hasil belajar

43
44

yang ditentukan yaitu 88%. Hal ini dapat dilihat pada tabel dan grafik di
bawah ini.
Tabel 35
Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar
Keterangan Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Tuntas 31% 82% 91%
Belum Tuntas 69% 18% 9%

Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar

100%
80%
Prosentase

60% Tuntas
40% Belum Tuntas
20%
0%
Kondisi Siklus I Siklus II
Awal

44
45

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa penggunaan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil
belajar siswa dengan KKM 60 yang ditunjukkan dengan peningkatan
prosentase ketuntasan hasil belajar mulai kondisi awal 31% meningkat pada
siklus I menjadi 82% dan pada siklus II meningkat menjadi 91%. Prosentase
pada siklus II ini telah melebihi target ketuntasan yang ditentukan semula
yaitu 88%. Dan dari hasil angket yang diberikan kepada siswa penggunakan
tutor sebaya juga dapat membangkitkan motivasi, meningkatkan kreatifitas
dan keaktifan siswa, serta kemandirina siswa.

5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi di atas, beberapa saran diberikan
pada pihak-pihak terkait yaitu guru kelas, siswa, sekolah dan peneliti
selanjutnya :
1. Bagi guru, dapat meningkatkan cara pembelajaran dengan variasi metode
pembelajaran yang lain.
2. Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajarnya dan keterlibatan siswa
dalam semua mata pelajaran.
3. Bagi sekolah, selalu mendukung cara pembelajaran baru dengan
menyediakan sarana dan prasarana di sekolah.
4. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan
perbandingan dalam pembuatan PTK yang lain.

45
46

Daftar Pustaka

Dejnozken Edward L dan Daven E. Kopel.2000.American Education Encyclopedy


New York.Harper dan Raw, publicer

Direkdiknas.1994.(GBPP)Garis Besar Program Pembelajaran.Jakart:Depdiknas

Muntasir.1985.Tutor Sebaya.(diunduh:http://pakdesoja.blog2.plasa.com/archives)

Mukti Bayu.2009.Tutor Sebaya.(diunduh:http://www.bayumukti.com/23062009)

Purwanto.1989.Hakikat Belajar.(diunduh:http://smpnbilahhula.wordpress.com)

Putranti Nurita.2007.Tutor Sebaya.(diunduh:http://nuritaputranti.wordpress.com)

Sardiman.2006.Hasil Belajar.(diunduh:http://www.SOE/CL.Network/What is
CL)

Slameto.2003.Teori Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi..Salatiga:PT


Rineka Cipta

Sobel dan Maletsky.2001.Mengajar Matematika.Victoria:Deaken University

Soemardjono.2003.Belajar Matematika.(diunduh:http://www.pwcs.edu/stad.html)

Suherman.2006.Kajian Matematika SD.Konsosorium Program PJJ S1 PGSD

Sutrisno Leo.2008.Hasil Belajar.(diunduh:http://smpnbilahhulu.wordpress.com)

Suyono.2008.Bentuk tes dan tingkah laku belajar.(diunduh:http://suyono8.com)

Tuhusya Sawali.2007.Diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya.


(diunduh:http://sawali.info/2007/12/29)

Winarni Endang.2009.Peningkatan Hasil Belajar Melalui Tutor Sebaya Kelas IV


Mata Pelajaran Bahasa Inggris.Semarang

46