Anda di halaman 1dari 25

MATERI FILUM ANNELIDA DAN PLATYHELMINTES

Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Keanekaragaman Hewan


yang Diampu Oleh Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc. dan Mardiana Lelitawati, S.Si.,
M.Si.

Offering A/2019

Ahmad Darisa (190341621669)

Aisyah Prastiwi Putri (190341621616)

Laili Nur Hidayah (190341621697)

Laboratorium Struktur Perkembangan dan Taksonomi Hewan


JURUSAN BIOLOGI, PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Annelida berasal dari kata Annulus (cincin) dan sebutan itu cocok
dengan bentuk tubuh yang beruas-ruas (bersegmen) dan memanjang.
Annelida adalah hewan yang memiliki tubuh paling sederhana bila
dibandingkan dengan Plathihelminthes, Nemathelminthes.
Annelida memiliki ciri-ciri tubuh belateral simetri, memiliki tiga
lapisan sel (triploblastik), tubuhnya bulat dan memanjang biasanya dengan
segmen yang jelas baik eksternal internal, disebagian spesies memiliki setae
berupa rambut, dan setiap ruasnya memiliki banyak setea dan ada ennelida
yang memiliki tentakel dan para podia dibagian kepala contohnya pada
Polichaeta. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam
pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri
dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal) (Sutarno,
2009).
Bagian-bagian tubuha pada hewan Annelida ini sudah lengkap
terutama pada pencernaannya terdiri dari mulut, faring, esofagus
(kerongkongan), usus, dan anus. Annelida sudah memiliki pembuluh darah
sehingga memiliki sistem peredaran darah tertutup. Darahnya mengandung
hemoglobin, sehingga berwarna merah. Pembuluh darah yang melingkari
esofagus berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh (Sutarno2009).
Tubuh cacing ini ditutupi kutikula tipis dan lembab yang mengandung
banyak sel-sel kelenjar dan sel sensoris di atas epitel columnar. Dinding
tubuhnya terdiri dari lapisan otot circular, coelom berkembang disebut
schizocoelom. Alat pencernaan lengkap yang memanjang sepanjang tubuhnya
(Sutarno, 2009).
Sistem peredaran darah pada cacing ini peredaran darah tertutup, yang
memanjang dengan cabang-cabang lateral pada setiap ruas. Plasma darah
yang berisi haemoglobin dan amoebocyte yang bergerak bebas. Cacing ini
respirasi yang dilakukan dengan epidermis atau permukaan tubuh. Sistem
respirasi menggunakan sepasang nephiridia pada setiap ruas. Sistem saraf
dengan sepasang ganglia cerebral (otak) dihubungkan ke tali saraf (Sutarno,
2009).
Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut
banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea (Syulasmi,
2013).
Platyhelminthes merupakan cacing yang berbentuk pipih dan
mempunyai tubuh simetri radial. Ukuran tubuh dari cacing ini bervariasi
mulai yang tampak mikroskopis beberapa milimeter hingga berukuran
panjang belasan meter. Sebagian besar cacing pipih tidak berwarna.
Sementara yang hidup bebas ada yang berwarna coklat, abu, hitam atau
berwarna cerah. Warna ini disebabkan karena adanya pigmen pada tubuhnya.
Bagian ujung anterior pada cacing ini berupa kepala. Pada bagian ventralnya
terdapat mulut atau lubang genital. Mulut dan lubang genital ini jelas pada
Turbellaria, tetapi tidak tampak jelas pada Trematoda dan Cestoda (Kastawi,
2005).
Bentuk tubuh Platyhelminthes beragam, dari yang berbentuk pipih
memanjang, seperti pita maupun seperti daun. Bagian tubuhnya ada yang
tertutupi oleh lapisan epidermis bersilia yang tersusun oleh sel-sel sinsitium
pada classis Turbellaria dan ada juga yang tertutup oleh kutikula pada classis
Trematoda dan Cestoda. Kerangka luar dan dalam sama sekali tidak ada
sehingga tubuhnya lunak. Bagian yang keras hanya ditemukan pada kutikula,
duri, dan gigi pencengkram. Tubuhnya tidak mempunyai rongga tubuh
(acoela). Ruangan-ruangan di dalam tubuh yang ada diantara berbagai organ
terisi dengan mesenkim yang biasanya disebut parenkim (Kastawi, 2005).
Platyhelminthes mempunyai alat kelamin yang tidak terpisah
(hermafrodit), artinya dalam satu species terdapat alat reproduksi jantan
maupun betina kecuali pada beberapa familia dari Digenia. Sistem reproduksi
pada kebanyakan cacing pipih sangat berkembang dan kompleks. Pada
kebanyakan cacing pipih telurnya tidak mempunyai kuning telur, tetapi
dilengkapi oleh sel yolk khusus yang tertutup oleh cangkok telur. Pada classis
platyhelminthes ada yang bisa melakukan pembuahan sendiri ada juga yang
tidak dapat melakukan pembuahan sendiri. Yang bisa melakukan pembuahan
sendiri adalah classis Trematoda dan Cestoda, sedangkan pada classis
Turbellaria tidak dapat melakukan pembuahan sendiri (Kastawi, 2005).
Platyhelminthes belum mempunyai alat pernapasan khusus.
Pengambilan oksigen bagi anggota yang hidup bebas dilakukan secara difusi
melalui permukaan tubuhnya sedangkan anggota yang hidup sebagai parasit
bernapas secara anaerob, artinya respirasi berlangsung tanpa oksigen. Hal ini
karena Platyhelminthes yang parasit hidup dalam lingkungan yang
kekurangan oksigen. Cacing ini sudah mulai maju dalam hal sistem
ekskresinya walaupun masih sangat sederhana. Selain itu Platyhelminthes
sudah memiliki alat-alat pencernaan yang mendukung sistem pencernaannya
antara lain terdiri dari mulut, faring, dan usus, walaupun pada classis tertentu
ada yang tidak memiliki mulut yaitu Cestoda (Kastawi, 2005).
Habitat Platyhelminthes adalah di laut, perairan tawar, dan daratan
yang lembap. Platyhelminthes yang hidup tidak parasit biasanya berlindung
dibawah bebatuan, daun, mata air, dan lain-lain. Sedangkan Platyhelminthes
yang parasit membutuhkan beberapa macam inang untuk kelangsungan
hidupnya. Ada yang hidup di ternak mammalia, peredaran darah manusia,
kantung kemih katak, otot babi, unggas, dan beberapa jenis vertebrata lainnya
(Kastawi, 2005)

1.2 Tujuan praktikum


1. Mengetahui secara umum karakteristik dari Phylum Annelida dan
Platyhelmintes
2. Untuk mengenal bebagai macam spesies yang termasuk dalam Phylum
Annaelida dan Platyhelmintes

1.3 Manfaat praktikum


1. Mahasiswa dapat mengethaui karakteristik dari Phylum Annelida dan
Platyhelmintes
2. Mahasiswa dapat mengenal berbagai macam spesies yang termasuk
dalam Phylum Annelida dan Platyhelmintes
BAB II
METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2021 di lingkungan
sekitar tempat tinggal anggota kelompok masing-masing dan secara
online/daring.
2.2 Alat dan Bahan
Tabel 2.2 Alat dan Bahan Praktikum
Alat Bahan
Kamera Hewan Filum Platyhelmithes
Alat tulis Hewan Filum Annelida
Amatan virtual

2.3 Cara Kerja

Dicari dan diamati 1 contoh hewan yang termasuk dalam Filum


Platyhelminthes dan 2 contoh Annelida di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Morfologi dan bagian-bagian tubuh hewan dianalisis

Morfologi dan bagian-bagian tubuh hewan dianalisis

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Filum Platyhelmintes


3.1.1 Pembahasan Spesimen
1. Dugesia tigrina (Pengamatan oleh Aisyah Prastiwi Putri)

Gambar 1. Dugesia tigrina


Sumber: Lana,1994
Kingdom : Animalia
Phyllum : Platyhelminthes
Classis : Turbellaria
Ordo : Tricladida
Familia : Dugesiidae
Genus : Dugesia
Species : Dugesia sp.
Dugesia tigrina merupakan salah satu species
Platyhelminthes yang masuk ke dalam classis Turbellaria. Hewan
ini dikelompokkan ke dalam classis Tubellaria karena memiliki
beberapa karakteristik, yaitu pada permukaan tubuhnya terdapat
silia (rambut getar) yang digunakan untuk bergerak, kemudian di
bagian anterior tubuhnya berbentuk segitiga dan memiliki
sepasang bintik mata yang berfungsi untuk membedakan keadaan
gelap dan terang (Agisni, 2012).
Karakteristik lain pada Dugesia tigrina yang digolongkan
dalam classis Turbellaria yaitu pada umumnya tubuh berpigmen,
memiliki mulut di bagian ventral, tidak memiliki alat penghisap
dan tidak memiliki ruas pada tubuhnya, hal tersebut yang
membedakan anatara classis Turbelaria dengan classis lain dari
Phyllum Platyhelminthes (Syulasmi, Sriyati, Peristiwati, 2011, hal.
21).
Dugesia tigrina ini kami temukan di perairan tawar,
karena memang hewan ini biasanya hidup di kolam, danau, atau
mata air. Manfaat dari hewan ini yaitu dapat dijadikan pakan ikan
dan indikator air bersih (Agisni, 2012).
Berdasarkan hasil pengamatan, Planaria atau Dugesia
tigrina yang kami potong menjadi 3 bagian (anterior, tengah, dan
posterior) menunjukkan bahwa yang lebih cepat beregenerasi
adalah bagian dari anteriornya, hipotesis yang dapat menjelaskan
hal tersebut yaitu pada potongan di bagian anteriornya
kemungkinan terambil faring yang berada di tengah mendekati
bagian anterior, faring tersebut menunjang untuk proses makan
dan nutrisi makanan yang diserap tercukupi, sehingga sel-selnya
lebih cepat beregenerasi. Sedangkan pada bagian posterior yang
tidak memiliki faring, saat beregenerasi bagian tersebut harus
terlebih dahulu membentuk faring untuk menunjang proses makan
dan menyerap nutrisi, sehingga butuh proses yang lebih lama
untuk beregenerasi.
2. Planaria torva (Pengamatan oleh Laili Nur Hidayah)

Gambar 2. Planaria torva


Sumber: Knezovic et al., 2015
Gambar 3. Anatomi Planaria torva
Sumber: Hickman et al, 2008

Gambar 4. Morfologi Planaria torva


Sumber: Hickman et al., 2008
Kingdom : Animalia.
Phylum : Platyhelminthes.
Classis : Tubellaria.
Ordo : Tricladia
Familia : Planariidae
Genus : Planaria
Spesies : Planaria torva
Planaria torva awalnya dijelaskan oleh O.F. Müller pada 1774
dengan nama generik Fasciola. Hewan ini tidak memiliki tentakel.
Kepala berbentuk datar, agak membulat di sisi sampingnya. Hewan ini
memiliki dua mata dengan jarak antara mata lebih kecil dari jarak antara
mata dan margin tubuh. Warna dorsal biasanya berwarna coklat dan sisi
ventral lebih pucat. Hewan ini memiliki garis coklat yang lebih gelap di
sepanjang tubuh. Rata-rata ukuran tubuhnya adalah 10,5 mm dan
panjang faring setengah dari total panjang tubuh (Knezovic et al.,
2015.)
Kebanyakan turbellaria adalah penghuni dasar laut atau air
tawar, hidup di bawah batu atau benda keras lainnya. Planaria dapat
ditemukan di sungai, kolam, dan bahkan mata air panas. Cacing pipih
darat terbatas pada tempat lembab di bawah batu atau batang kayu
(Hickman, 2008).

3. Taenia sagenata (Pengamatan oleh Ahmad Darisa)

Gambar 5: taenia sagenata


Sumber : parasite.org.au

Gambar 6. anatomi Taenia saginata


Sumber : Merriam Webster 2006
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Family : Taeniidae
Genus : Taenia
Species : Taenia saginata
T. saginata umumnya dikenal sebagai cacing pita sapi, adalah
cacing pita zoonotik yang termasuk ordo Cyclophyllidea dan genus
Taenia. Parasit usus pada manusia ini menyebabkan taeniasis (sejenis
kecacingan) dan sistiserkosis pada sapi (sinta.unud.ac.id)
Panjang dan tubuh Taenia terdiri atas rangkaian segmen-
segmen yang masing-masing disebut proglotid (Huges et al., 1993).
Kepala cacing pita disebut skoleks dan memiliki alat isap (sucker) yang
mempunyai tonjolan (rostelum). Larva dari cacing Taenia disebut
matacestoda, menyebabkan penyakit sitiserkosis. Terdapat tiga spesies
penting cacing pita Tenia, yaitu T. solium, T. saginata, T. asiatica
(Flisser et al., 2005).
Cacing dewasa panjangnya dapat mencapai 25 m, tetapi sering
kali yang terukur hanya setengah dari panjangnya.Skoleksnya berbentuk
rhomboid dan mempunyai batil isap tanpa kait-kait. Jumlah proglotid
1000 sampai 2000, yang terdiri dari proglotid muda, proglotid matur,
dan proglotidgrafik. Proglotid-proglotid ini dapat bergerak dalam tinja
ketika specimen dikirim tanpa pengawet. Telurnya berbentuk bulat
sampai sedikit oval, berukuran 31 – 43 μ, mempunyai dinding yang
tebal , bergaris dan berisi embrio berkait enam (onkosfer)
(Setiyani,2019).
Cacing pita Taenia tersebar secara lapang di seluruh dunia
(Grove, 1990). Penyebaran Taenia dan kasus infeksi
dampak Taenia lebih banyak terjadi di daerah tropis karena daerah
tropis memiliki curah hujan yang tinggi dan iklim yang sesuai untuk
perkembangan parasit ini.(Hunter et al 1996) Taeniasis dan sistiserkosis
dampak infeksi cacing pita babi Taenia solium merupakan keliru
satu zoonosis di daerah yang penduduknya banyak mengkonsumsi
daging babi dan tingkat sanitasi anggota yang terkaitnya sedang rendah,
seperti di Asia Tenggara, India, Afrika Selatan, dan Amerika Latin.
Cacing pita Taenia solium dewasa hidup dalam usus manusia
yang merupakan induk semang definitif. Segmen tubuh Taenia yang
telah matang dan mengadung telur keluar secara aktif dari anus manusia
atau secara pasif bersama-sama feses manusia. Bila inang definitif
manusia (manusia) maupun inang antara yaitu babi menelan telur maka
telur yang menetas akan mengeluarkan embrio atau onchosphere yang
kemudian menembus dinding usus. Embrio cacing yang mengikuti
sirkulasi darah limfe berangsur-angsur berkembang menjadi
sistiserkosis yang infekstif di dalam otot tertentu (Sutrija, F 2005).Otot
yang paling sering terserang sistiserkus yaitu jantung, difragma, lidah,
otot pengunyah, daerah esophagus, leher dan otot anar tulang rusuk (E.
C. Bueno, 2007)
Infeksi Taenia dikenal dengan istilah Taeniasis dan
Sistiserkosis (S, Kusumamihardja,1992). Taeniasis adalah penyakit
akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia
yang dapat menular dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya.
Taeniasis pada manusia disebabkan oleh spesies Taenia solium atau
dikenal dengan cacing pita babi, sementara Taenia saginata dikenal juga
sebagai cacing pita sapi (Grove, D. I. 1990)
Kontrol penyakit dampak Taenia di anggota yang terkait
bisa diterapkan melewati peningkatan sarana sanitasi,
pencegahan kebutuhan hidup daging yang terkontaminasi, pencegahan
kontaminasi tanah dan tinja pada makanan dan minuman (Eddi et al
2006) Pembangunan sarana sanitasi, misalnya kakus dan septic tank,
serta penyediaan sumber cairan bersih sangat dibutuhkan. Pencegahan
kebutuhan hidup daging yang terkontaminasi bisa diterapkan melewati
pemusatan pemotongan ternak di rumah potong hewan (RPH) yang
diamati oleh dokter hewan.(Rosintulu, 2008)
3.2 Filum Nemathelmintes
3.2.1 Kedudukan Klasifikasi dari Nemathelminthes atau Nematoda
Nemathelminthes adalah filum yang pernah dipakai pada
Kerajaan Hewan (Animalia). Pengelompokan ini sekarang tidak
digunakan lagi karena polifiletik (Winnepenninckx et al., 1995).
Nemathelminthes digunakan sebagai nama filum untuk berbagai
cacing yang sering disebut sebagai cacing gilig, namun kini nama
filum Nemathelminthes sudah tidak lagi digunakan dan terganti
menjadi filum Nematoda dan filum Nematomorpha.
Pada saat filum Nemathelminthes masih digunakan, kelas
yang ada di bawah filum ini adalah kelas Nematoda, kelas Rotifera,
kelas Gastrotricha, kelas Kinorhyncha, dan kelas Nematomorpha.
Setelah Nemathelminthes tidak lagi digunakan sebagai nama filum,
maka kelas-kelas yang sebelumnya merupkan kelas di bawah
Nemathelminthes kini menjadi filum-filum tersendiri.
Ketika sekarang Nematoda sudah menjadi filum tersendiri,
di bawahnya terdapat kelas Secernentea (Phasmida) dan kelas
Adenophorea (Aphasmida) (Hickman et al., 2008).
3.3 Filum Annelida
3.3.1 Pembahasan Spesimen
1. Nereis virens (Pengamatan oleh Aisyah Prastiwi)

Gambar 7. Nereis virens


Sumber: redpromar.com

Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Classis : Polychaeta
Ordo : Errantia
Familia : Nereididae
Genus : Nereis
Spesies : Nereis virens
Nereis virens merupakan cacing yang tergolong pada
classis Polychaeta karena cacing ini memiliki banyak rambut
(setae). Pada Nereis virens rambut – rambut ini saling berikatan
pada sepasang anggota badan yang disebut parapodia. Cacing ini
merupakan Polychaeta yang tinggal dalam liang panjang pada
batu karang di pesisir pantai. Cacing ini mudah ditemukan saat air
laut mengalami surut.
Tubuh organisme ini rata – rata terdiri dari 200 segmen,
dapat tumbuh dengan panjang sekitar 30 – 40 cm. Pada bagian
kepala memiliki struktur prostomium dan peristomium. Di Pada
prostomium terdapat sepasang kumis (palpus) yang sensitif
terhadap sentuhan dan rasa, sepasang tentakel sensoris, dan dua
pasang mata dorsal yang sensitif terhadap cahaya.
Peristomiumnya terdiri dari mulut ventral, sepasang rahang kitin,
dan empat pasang tentakel sensoris (Hickman, 2008).
Setiap parapodium memiliki dua lobus, terdiri dari
notopodium dorsal dan notopodium ventral yang memiliki setae
dengan banyak pembuluh darah. Parapodia digunakan untuk
merayap dan berenang, dikontrol oleh otot yang menjalar pada
garis ventral tengah hingga parapodia setiap segmen. Cacing ini
berenang dengan pergerakan undulator pada tubuhnya sehingga
dapat berenang dengan kecepatan yang relatif cepat. Pergerakan
undulator ini dapat digunakan pula untuk menyedot air dan
mengeluarkannya dari liang. Cacing ini memangsa binatang kecil
lainnya, dengan menggunakan rahangnya yang terdiri dari kitin,
lalu ditarik dengan mulutnya dan faringnya keluar untuk
memasukkan makannya. Pergerakan makanan pada saluran
pencernaan dengan menggunakan gerak peristaltis (Hickman,
2008).
2. Megascolex sp. (Pengamatan oleh Aisyah Prastiwi Putri)
Gambar 8 Megascolex sp.
(sumber :internet )
Kingdom : Animalia Spesies :
Phylum : Annelida Megascolex sp.
Classis : Oligochaeta Megascolex
Ordo : Haplotaxida merupakan cacing
Familia : Megascoliidae dengan tubuh bulat
Genus : Megascolex memanjang, beruas –
ruas, dan kiltelumnya
rerlihat jelas. Memiliki setae, namun tidak memiliki parapodia,
sucker, dan tentakel. Ciri – ciri demikian menunjukkan cacing ini
tergolong pada classis Oligochaeta. Dibandingkan dengan
Oligochaeta lain yang serupa seperti Lumbricus terrestris, cacing
ini memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih besar. Setiap segmen
pada masing masing cincin melebar pada bagian tengah dari
keseluruhan tubuhnya, memiliki dua pasang mammilae konikal
dan beberapa rambut pada setiap segmen, kecuali pada bagian
dorsal garis mesial. Mammilae konikal adalah struktur kerucut
yang fungsinya belum dikehui. Megascolex sp. memiliki struktur
nefridiofor yang berbeda dibandingkan dengan genus lainnya
(Bahl, 1945).
Jumlah segmen pada Megascolex sp. biasanya terdiri dari
250 – 290 segmen untuk spesimen dengan ukuran 10 inci sampai
32 inci panjangnya. Prostomium pada Megascolex sp. biasanya
memliki warna merah darah, lebar dan tumpul pada ujungna, dan
memiliki celah transversal yang pendek sepanjang garis pada
segmen peristomial. Setae pada Megascolex dibandingkan dengan
Oligochatea lain cenderung pendek, tumpul, dan sedikit
melengkung[ CITATION Alf99 \l 1057 ].

3. Lumbricus terrestis (Pengamatan oleh Laili Nur Hidayah)

Gambar 9. Lumbricus terrestis


Sumber: Savalli, 2014

Gambar 10. Morfologi Lumbricus terretris


Sumber: Hickman et al., 2008

Gambar 11. Anatomi Lumbricus terretris


Sumber: Hickman, 2008
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Classis : Clitellata
Ordo : Opisthopora
Familia : Lumbricidae
Genus : Lumbricus Linnaeus
Spesies : Lumbricus terrestris
Ciri-ciri utama tubuh oligochaete dijelaskan dengan
mengacu pada cacing tanah yang sudah dikenal. Sistem peredaran
darah dan struktur ekskresi yang dijelaskan dalam cacing tanah
adalah ciri khas annelida pada umumnya, tetapi sistem pencernaan
dan saraf memiliki aspek yang spesifik. Cacing tanah menggali di
tanah yang lembab dan kaya, dan biasanya hidup di terowongan
bercabang yang saling berhubungan. Ukurannya berkisar antara
12 sampai 30 cm (Hickman, 2008).
4. Eunice viridis (Pengamatan oleh Ahmad Darisa)

Gambar 12: Eunice viridis


Sumber (Britannica)
Gambar 13 : morfologi dari Eunice viridis
Sumber : (Durmuzz et al, 2016)
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Class : Polychaeta
Ordo : Eunicida
Family : Eunicidae
Genus : Eunice
Spesies :Eunice viridis
Cacing Laut (Eunice viridis) termasuk ke dalam kelas
Polychaeta yang merupakan biota perairan yang berbentuk bulat
dan memanjang serta mempunyai banyak rambut di seluruh
permukaan tubuhnya.(Sangadji, 2007)
Cacing Palolo, salah satu dari berbagai cacing laut
tersegmentasi dari keluarga Eunicidae dan Nereidae (kelas
Polychaeta, phylum Annelida). Cacing
palolo menunjukkan perilaku pemuliaan yang unik: selama
musim kawin, selalu pada waktu yang sama tahun dan pada fase
tertentu bulan, cacing pecah menjadi dua; bagian ekor ("epitoke"),
bantalan sel reproduksi, berenang ke permukaan, di mana ia
melepaskan telur dan sperma. Puluhan ribu epitokes
mengerumuni dan melepaskan gamet secara bersamaan, menarik
ikan predator dan manusia. Bagian depan cacing ("atoke") tetap di
bawah ini di substrat.
Di wilayah Maluku, cacing laut atau laor (Eunice viridis)
oleh masyarakat diolah menjadi makanan dengan proses
penggaraman dan dilanjutkan dengan penjemuran. Laor setelah
ditangkap, diberi garam dan dijemur selama 3 hari. Laor yang
telah dijemur tersebut akan berubah bentuknya seperti saos atau
pasta dengan warna hijau kecoklatan dan mengkilat. Penelitian ini
bertujuan untuk membuat pasta laor yang bermutu dan disukai
dengan berbagai konsentrasi garam, yaitu 5, 10 dan 15 %. Setelah
penggaraman laor dijemur selama 3 hari, kemudian disimpan pada
suhu kamar selama 6 minggu. (Tampubolon dkk 2007)
Cacing palolo identik dengan dua moncong, tiga antena
dan kepala berbentuksekop serta tidak adanya mulut
pengait.Cacing dewasa berukuran sekitar 40 cm danterbagi
menjadi segmen-segmen yang setiap segmenya memiliki kaki
semu seruparambut.Terdapat juga beberapa tentakel sensor yang
tumbuh di bagian kepala.
Palolo jantan berwarna merah kecoklatan sedangkan yang 
betina biru kehijauan.Cacing inihidup di pantai Pasifik bagian
selatan.Cacing ini hidup di bebatuan karang dan
untuk berkembang biak, mereka menumbuhkan ekor khusus yang 
memuat sperma ataupun sel telur. Selama masa
perkembangbiakan, ekor khusus cacing ini pecah dan muncul
ke permukaan air laut lalu melepaskan telur atau sperma berupa
cairan kental.
Panjang tubuhnya antara 5-10 cm dengan diameter 2-10
mm. Pada bagian anterior tubuh terdapat kepala yang dilengkapi
dengan mata, tentakel serta mulut yang berahang. Tubuhnya
berwarna menarik sepertimerah atau campuram warna lain dan
hidup di liangyang digali ke trotoar terumbu karang di luar flat.
Mereka terdiri dari dua bagian yang berbeda.
Bagian depan adalah tersegmentasi dasar dengan mata, mulut, dll, 
diikuti oleh serangkaian segmen yang disebut "epitoke" yang
berisi gamet reproduksi
berwarna bluegreen (betina) atau tan (jantan). Setiap segmen epito
ke beruang kecil yang dapat merasakan eyespot cahaya 
Habitat di laut dalam,bebatauan karang. Reproduksi
external, masing-masing cacing mengeluarkan sel telur dan sel
sperma, pembuahan terjadi secara external yaitu di dalam air
Cacing palolo dikonsumsi menjadi makanan sehari-hari
bagi masyarakat di sekitar kepulauan Fiji, Tonga, Samoa juga
pulau-pulau lain yang tersebar di pasifik bagian selatan.
Penggunaan budaya Penangkapan, Penduduk asli di berbagai
bagian Pasifik - termasuk Vanuatu dan Samoa - menggunakan
bagian reproduksi cacing palolo sebagais umber makanan. Selama
penampilan tahunan singkat mereka di seperempat bulan terakhir
pada bulan Oktober dan November, cacing dengan antusias
berkumpul dengan jaring, dan dimakan mentah atau dimasak
dengan beberapa cara yang berbeda.Di Indonesia, acara
tradisional yang disebut Nyale Festival diadakan antara Februari
dan Maret di pulau Lombok Indonesia. Acara ini berfokus pada
penangkapan cacing ini sebagai umpan dan sebagai kelezatan
untuk konsumsi.
5. Polygordius appendiculatus (Pengamatan oleh Ahmad Darisa)

Gambar 14: Polygordius appendiculatus


Sumber : v3.boldsystems.org
Gambar 15: anatomi Polygordius appendiculatus
Sumber : Lehmacer et al, 2014
Polygordius adalah klade annelida laut yang terutama
terlihat di habitat berbutir kasar. Mereka terkenal karena tubuhnya
yang halus, tidak memiliki chaetae atau segmen yang jelas, dan
mereka menyerupai Nematoda atau Nemertea. Meskipun taksa
Polygordius ditemukan di semua samudra di dunia, tetapi
mengidentifikasi spesifikasinya hanya berdasarkan karakter
morfologis hal ini dapat menjadi tantangan karena penampilan
luarnya yang relatif seragam. Keragaman dalam klade
kemungkinan telah diremehkan. Jika karakter morfologis tidak
mencolok atau bahkan tidak dapat diandalkan, metode molekuler
dapat memberikan kejelasan dalam membatasi spesies ini
Posisi poligordiidae yang sistematis masih dalam
perdebatan. Mereka telah ditugaskan ke berbagai posisi di antara
polychaetes. Analisis molekul terbaru menunjukkan bahwa
mereka mungkin menjadi bagian dari radiasi basal di Annelida,
menunjukkan bahwa karakter morfologis tertentu dapat mewakili
sifat karakter primitif yang diadopsi dari spesies batang annelid.
Untuk menguji hipotesis ini, penyelidikan sistem otot dan saraf
dengan cara pewarnaan imunologis dan pemindaian laser
konfokal mikroskopi dan mikroskopi elektron transmisi
dilakukan. Dengan pengecualian otak, sistem saraf sepenuhnya
basiepidermal dan terdiri dari otak, ikat kerongkongan, daerah
subesofagus, kabel saraf ventral dan beberapa saraf memanjang
yang lebih kecil. Ini terhubung oleh sejumlah besar saraf cincin di
setiap segmen. Kabel saraf ventral terdiri dari bundel neurite
longitudinal yang sangat nyaman, median dan dua yang lebih
besar lateral. Karena ganglia yang berbeda kurang, itu mewakili
tali medullary. Sistem otot terutama terdiri dari serat memanjang,
otot miring yang didistribusikan secara teratur dan septa yang
kuat. Serat memanjang membentuk unit kanan dan kiri yang
dipisahkan di sepanjang garis tengah punggung, masing-masing
dibagi menjadi bagian punggung dan ventral oleh otot-otot
miring. Secara anterior, otot-otot memanjang melewati otak dan
berakhir di prostomium. Tidak ada otot di palps. Berbeda dengan
pengamatan sebelumnya, serat otot melingkar menit yang diatur
secara teratur hadir. Sangat mungkin, organisasi basiepithelial dan
non-ganglionic dari kabel saraf ventral serta sistem saraf
ortogonal mewakili karakter plesiomorphic. Hal yang sama
berlaku untuk predominasi serat otot memanjang.
3.1.2. Fungsi Klitelium Annelida

Klitelum merupakan bagian tubuh cacing yang menebal, terletak


di antara anterior dan posterior, warnanya lebih terang daripada warna
tubuhnya. Klitelum ini berfungsi sebagai alat kopulasi. klitelum tersebut
biasanya terletak di segmen yang ke-13 pada tubuh cacing tanah.
Diantara klitelum ini terdapat lendir yang berfungsi untuk memudahkan
pergerakan pada saat melakukan reproduksi. Selain itu juga berfungsi
melindungi sel-sel sperma yang dikeluarkan oleh lubang alat kelamin
jantan masing-masing (Khairuman, 2009). Jika dilihat dari anatominya,
bagian dalam klitelum ini terdapat alat-alat reproduksi yaitu testis,
vesikula seminalis, dan ovari. Setiap kelas Annelida memiliki perbedaan
dan ciri khas masing-masing, yaitu:
a. Kelas Polychaeta memiliki ciri yang utama adalah setae (rambut )
yang banyak, memiliki parapodia (tempat setae melekat), memiliki
tentakel dibagian kepala, dan kebanyakan hidup dilaut.
b. Kelas Oligochaeta memiliki ciri utama yaitu memiliki klitelium
yang terlihat jelas dan hidup di air laut dan tawar, dan di darat.
c. Kelas Hirudinea memiliki ciri yaitu berbentuk sedikit pipih dan
memanjang, memiliki dua alat penghisap dibagian posterior dan
anterior, dan memiliki pigmen ditubuhnya.
3.1.3. Jumlah Segmen Annelida Menentukan Jenis
(Ahmad)
3.4 Klasifikasi Annelida, Nematoda, dan Platyhelmintes
1. Platyhelminthes
 Kelas Turbellaria
Hidup bebas dengan tubuh lunak dan pipih serta ditutupi
dengan epidermis bersilia yang mengandung sel sekresi dan
badan seperti batang (rhabdites). Mulut terletak di permukaan
perut atau di dekat pusat tubuh. Tidak ada rongga tubuh kecuali
intercellular lacunae di parenkim.
 Kelas Trematoda
Tubuh organisme dewasa ditutupi dengan tegument syncytial
tanpa silia. Tubuh berbentuk seperti daun atau silinder.
Memiliki pengisap oral dan ventral. Perkembangan secara tidak
langsung, dengan inang pertama moluska dan inang terakhir
biasanya vertebrata. Merupakan parasit di semua kelas
vertebrata.
 Kelas Monogera
Tubuh organisme dewasa ditutupi dengan tegument syncytial
tanpa silia. Tubuh berbentuk seperti daun atau silindris. Organ
perlekatan posterior dengan kait, pengisap atau klem, biasanya
dalam kombinasi. Perkembangan langsung dengan inang
tunggal dan biasanya dengan berenang bebas. Larvanya bersilia
dan semuanya bersifat parasit, kebanyakan pada kulit atau
insang ikan.
 Kelas Cestoda
Tubuh organisme dewasa ditutupi dengan tegument syncytial
nonciliated. Bentuk umum tubuhnya seperti tapel dan biasanya
dibagi menjadi serangkaian proglottid. Kelas ini tidak memiliki
organ pencernaan dan merupakan parasit di saluran pencernaan
semua kelas vertebrata.
2. Nematoda
 Kelas Secernentea (Phasmida)
Amfida melingkar di bagian perut dan memiliki tiga kelenjar
esofagus. Memiliki phasmid. Beberapa hidup bebas dan juga
ada yang parasit. Contoh: Caenorhabditis, Ascaris, Enterobius,
Necator, Wuchereria.
 Kelas Adenophorea
Amfida umumnya berkembang dengan baik dan memiliki lima
atau lebih kelenjar esofagus tetapi tidak memiliki phasmid.
Sistem ekskresi tidak memiliki kanal lateral, terbentuk dari sel
tunggal, ventral, kelenjar, atau tidak ada sama sekali. Sebagian
besar hidup bebas, tetapi termasuk beberapa parasit. Contoh:
Dioctophyme, Trichinella, Trichuris.
3. Annelida
 Kelas Polychaeta
Sebagian besar hidup di air asin. Memiliki bentuk kepala
berbeda dengan bantalan mata dan tentakel. Sebagian besar
segmen dengan parapodia (pelengkap lateral) yang
mengandung banyak setae serta clitellum tidak ada. Jenis
kelamin biasanya terpisah namun ada yang tunas aseksual di
beberapa spesies. Contoh: Nereis, Aphrodita, Glycera,
Arenicola, Chaetopterus, Amphitrite, Riftia.
 Kelas Oligochaeta
Tubuh dengan segmentasi yang mencolok dengan setae sedikit
per segmen serta tidak ada parapodia. Organisme hermafrodit
dan tidak ada larva. Habitat biasanya di air tawar. Contoh:
Lumbricus, Stylaria, Aeolosoma, Tubifex.
 Kelas Hirudinida
Tubuh dengan jumlah segmen tetap (biasanya 34; 15 atau 27
dalam beberapa kelompok) dengan banyak annuli serta ada
pengisap oral dan posterior. Memiliki clitellum namun tidak
ada parapodia dan setae tidak ada (kecuali di Acanthobdellida).
Merupakan organisme hermafrodit dengan habitat di darat, air
tawar, dan laut. Contoh: Hirudo, Placobdella, Macrobdella.

DAFTAR PUSTAKA

Agisni, G.I. 2012. Phyllum Platyhelminthes. [Online]. Tersedia di:


gitaintanagisni.blogspot.com. Diakses 10 Maret 2021
Bahl, K. N. 1945. The Enteronephric System in Megascolex ceylonicus and M.
sarasinorum.[Online].//jcs.biologists.org/content/s285/338/177.full.
Bourne, A. g. 1899. On Megascolex coeruleus, Templeton, together with a
Theory of the Course of the Blood in Earthworms dari Journal of Cell
Biology , 49-85.
Durmus, M. Yapici, K. 2016. Hirudo medicinalis - historical and biological
background and their role in microsurgery: Review article.
10.5455/handmicrosurg.217838. (online) diakses tanggal 11 Maret
Flisser A, Vázquez-Mendoza A, Martínez-Ocaña J, Gómez-Colín E, Sánchez
Leyva R, Medina-Santillán R. Evaluation of a self-detection tool for
tapeworm carriers for use in public health. Am J Trop Med
Hyg. 2005;72:510–512
Grove, D. I. 1990. A History of Human Helminthology. United Kingdom: CAB
International.
Hickman CP, Roberts LS, Keen SL, Larson A, I’Anson H, Eisenhour DJ. 2008.
Integrated Principles Of Zoology, Fourteenth Edition. New York:
McGraw-Hil
Hughes, G. et.al.(1993):Seroepidemiological study of Taenia saginata
cysticercosis in Swaziland. Res. Vet. Sci., 55(3):287-291.
Kusumamihardja. S. 1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan
Hewan Piaraan di Indonesia. Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB.
Bogor.
Kusumawati, R., Hidayat, M., dan Retnaningati, D. (2012) Detik-detik Ujian
Nasional Biologi. Klaten : Intan Pariwarna.
Lehmacer, C. fiege, D. Purschke G. 2014. Immunohistochemical and
ultrastructural analysis of the muscular and nervous systems in the
interstitial polychaete Polygordius appendiculatus.
https://link.springer.com/article/10.1007/s00435-013-0203-6. (online)
diakses tanggal 11 maret
Silverstein, 2020. Hirudo Medicinalis.
https://animaldiversity.org/accounts/Hirudo_medicinalis/. (online) diakses
tanggal 11 Maret
Sutarno, Nono, dkk. 2009. Hand Out Zoologi Invertebrata. Bandung: UPI.
Syulasmi,A. Sriyati, S. Peristiwati. 2011. Petunjuk Praktikum Zoologi
Invertebrata. Bandung: Universitas Pendidikan Biologi.
Syulasmi, Ammi,dkk. 2013. Petunjuk Praktikum Zoologi invertebrata. Bandung:
UPI Universitas Pendidikan Biologi..
Winnepenninckx B, Backeljau T, Mackey LY; et al. (1995). "18S rRNA data
indicate that Aschelminthes are polyphyletic in origin and consist of at
least three distinct clades". Mol. Biol. Evol. 12 (6): 1132–7.

Anda mungkin juga menyukai