Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang pesat sekarang ini,

membuat kita untuk lebih membuka diri dalam menerima perubahan-

perubahan yang terjadi akibat kemajuan dan perkembangan tersebut. Dalam

masa persaingan yang sedemikian ketatnya sekarang ini, menyadari sumber

daya manusia merupakan model utama dalam suatu usaha, maka kualitas

tenaga kerja harus dikembangkan dengan baik. Jadi perusahaan atau instansi

diharapkan memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk lebih mengenal

dunia kerja dengan cara menerima mahasiswa yang ingin mengadakan

praktek belajar klinik.

Puskesmas kabila merupakan suatu pusat kesehatan masyarakat rujukan

se Kabupaten Bone Bolango dan menjadi puskesmas pertama yang

menyelenggarakan posyandu jiwa di Provinsi Gorontalo. Selain dari itu

puskesmas kabila merupakan puskesmas yang paling banyak melakukan

program untuk menunjang dan menjamin kesehatan masyarakat dengan cara

pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Hal ini

diselenggarakan secara terintegrasi, komprehensif dan berkesinambungan

oleh pemerintah, pemerintah daerah dan oleh masyarakat sehingga puskesmas

layak untuk menjadi pusat rujukan dan sangat baik untuk mahasiswa yang

melakukan praktek belajar klinik sehingga banyak ilmu yang didapatkan dan

diimplementasikan.

1
Lahan praktik sebagai sarana belajar mengajar utama untuk mewujudkan

keprofesionalitas mahasiswa dan juga sebagai wahana untuk meningkatkan

keterampilan secara utuh dari seorang mahasiswa yang telah mendapat

pelajaran teori pada proses belajar mengajar di kampus. Jurusan Analis

Kesehatan Fakultas Sains Teknologi Dan Ilmu Kesehatan Universitas Bina

Mandiri Gorontalo dalam mengambil suatu langkah pendekatan dan

pembaruan calon tenaga analis kesehatan dengan masyarakat dilaksanakan

Praktek Belajar Klinik di Puskesmas.

Praktek Belajar Klinik (PBK) merupakan mata kuliah yang bertujuan

untuk melakukan standarisasi dan pengembangan kompetensi melalui

kegiatan praktek belajar klinik pada institusi tempat kerja yang memiliki

relevansi dengan kompetensi laboratorium kesehatan. Konsep praktek belajar

klinik (PBK) Program Studi DIII Analis Kesehatan dilakukan berdasarkan

prasyarat kompetensi yang meliputi kompetensi kimia klinik, bakteriologi,

imunologi dan lain sebagainya.

1.2 Tujuan Praktek Belajar Klinik

Adapun tujuan dalam praktek belajar klinik yaitu sebagai berikut :

1. Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa menyerap pengalaman-

pengalaman ditempat kerja

2. Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa melakukan identifikasi

masalah-masalah ditempat kerja

3. Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa melakukan penentuan

prioritas masalah ditempat kerja

2
4. Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa melakukan kegiatan

pemeriksaan ditempat kerja

1.3 Manfaat Prakter Belajar Klinik

Adapun manfaat dalam praktek belajar klinik ini yaitu :

1. Agar mahasiswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyerap

pengalaman-pengalaman ditempat kerja

2. Agar mahasiswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam melakukan

identifikasi masalah-masalah ditempat kerja.

3. Agar mahasiswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam melakukan

penentuan prioritas masalah ditempat kerja.

4. Agar mahasiswa dapat meningkatkan kemampuannya dalam melakukan

kegiatan pemeriksaan ditempat kerja.

3
BAB II

GAMBARAN UMUM INSTANSI

2.1 Latar Belakang Sejarah Puskesmas Kabila

Puskesmas Kabila adalah salah satu dari 20 Puskesmas yang berada di

Kabupaten Bone Bolango, dengan luas wilayah 193,45 km². Sedangkan

Kecamatan Kabila terdiri dari 5 Kelurahan dan 7 Desa yaitu Kelurahan

Pauwo, Kelurahan Tumbihe, Kelurahan Oluhuta, Kelurahan Oluhuta Utara,

Kelurahan Padengo, Desa Tanggilingo, Desa Dutohe, Desa Dutohe Barat,

Desa Poowo, Desa Poowo Barat, Desa Toto Selatan, Desa Talango.

Dengan Batas Administrasi Kecamatan adalah sebagai berikut:

1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Gorontalo

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Suwawa

3. Sebelah Selatan berbatasan Kecamatan Botupingge

4. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Tilongkabila

2.2 Visi, Misi dan Motto

2.2.1 Visi

Sejalan dengan visi dan misi Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Bolango,

Puskesmas Kabila mempunyai Visi yaitu “Terwujudnya Pelayanan Kesehatan

Yang Berkualitas, Terjangkau Menuju Kecamatan Kabila Sehat”.

2.2.2 Misi

(1.) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang ramah pada

masyarakat;

(2)  Memandirikan masyarakat melalui pendekatan keluarga

4
(3) Mengoptimalkan program puskesmas meliputi kegiatan Upaya

Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan

(UKP). Salah satu produk penting dari sistem informasi kesehatan

yang digunakan untuk menyampaikan informasi situasi kesehatan di

suatu wilayah adalah profil kesehatan.

2.2.3 Motto

Adapun motto dari Puskesmas Kabila yaitu : “Kesehatan Anda Adalah

Tujuan Kami”

2.3 Struktur Organisasi

Selanjutnya susunan struktur organisasi Puskesmas Kabila sebagai berikut :

1. Kepala Puskesmas :

Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Puskesmas :

1) Bertanggung jawab atas seluruh kegitan Puskesmas

2) Memimpin pelaksanaan tugas pokokdan fungsi Puskesmas

3) Membina kerajasama karyawan/karyawati dalam pelaksanaan tugas

sehari-hari

4) Melakukan pengawasan melekat bagi seluruh pelaksanaan kegiatan

program dan pengelolaan keuangan

5) Mengadakan koordinasi dengan Kepala Kecamatan dan Lintas Sektoral

dalam upaya pembangunan kesehatan di wilayah kerja

6) Menjalin kemitraan dengan berbagai pihak dan masyarakat dalam rangka

peningkatan derajat kesehatan masyarakat

7) Menyususn perencanaan kegiatan Puskesmas dibantu oleh staf puskesmas

5
8) Memonitor dan mengevaluasi kegiaan Puskesmas

9) Melaporkan hasil kegiatan program ke Dinas Kesehatan Kota, baik berupa

laporan rutin maupun khusus

10) Membina petugas dalam meningkatkan mutu pelayanan

11) Melakukan supervise dalam pelaksanaan kegiatan di Puskesmas induk,

Pustu, Puskesling, Polindes dan di Masyarakat

2. Kepala tataUsaha

Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Tata Usaha :

1) Melaksanakan pengelolaan ketatausahaan

2) Penyusunan rencana program dan anggaran

3) Penyelenggaraan anggaran rutin

4) Pelayanan Umum dan kepegawaian sesuai tugas teknis organisasi

5) Pengendalian dan pengawasan, evaluasi dan pelaporan.

3. Unit KIA KB

Tugas Pokok dan Fungsi kesehatan keluarga :

1) Melaksanakan Pelayanan Kesehatan bagi Ibu dan Anak

2) Maksanakan kegiatan pemeriksaan/pembinaan kepada ibu hamil, ibu

bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan balita.

3) Melaksanakan kegiatan pelayanan dan konseling Keluarga Berencana.

4) Melaksanakan pemantauan dan pembinaan Status Gizi Masyarakat

5) Melaksanakan Kewaspadaan dan Penanggulangan KLB Gizi

6) Melaksanakan kegiatan lapangan dalam kegiatan Posyandu, Pembinaan

kader kesehatan dan dukun bayi.

6
7) Membantu Kepala Puskesmas dalam menyusun rencana kegiatan.

8) Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat laporan kegiatan.

4. Unit Pelayanan Medis

Uraian tugas pokok dan fungsi Yan Medis

1) Melaksanakan tugas pelayanan kepada pasien Puskesmas.

2) Melaksanakan Perawatan pasien rawat jalan di Puskesmas

3) Melaksanakan Pelayanan Kegawatdaruratan di Puskesmas

4) Membantu manajemen dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi

Puskesmas.

5) Membina petugas dalam meningkatkan mutu pelayanan (QA).

6) Membantu manajemen melakukan supervixi dalam pelaksanaan kegiatan

di Puskesmas induk, Pustu, Puskesling, Polindes, Posyandu dan di

Masyarakat.

7) Menyusun laporan bulanan.

5. Unit Kesehatan Lingkungan

Uraian Tugas Pokok Dan Fungsi Petugas Hygiene Sanitasi (Kesehatan

Lingkungan)

1) Membuat perencanaan kegiatan Kesling (Kesehatan Lingkungan).

2) Melaksanalkan Pemantauan dan Pembinaan Sanitasi Perumahan

3) Melaksanakan pembinaan dan pemeriksaan TTU (Tempat-Tempat Umum)

4) Melaksanakan Peningkatan pengetahuan. kemauan dan kemandirian

masyarakat dalam pengembangan sanitasi dasar

7
5) Melaksanakan Penyuluhan kesehatan lingkungan bersama dengan petugas

lintas program dan lintas sektoral terkait.

6) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan kegiatan kesling.

6. Unit Promosi Kesehatan

Uraian tugas pokok dan fungsi petugas Promosi Kesehatan

1) Mengkoordinir kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan kesehatan

(PKM) dan peningkatan peran serta masyarakat (PSM).

2) Melakukan pendataan Peminaan dan upaya-upaya dalam peningkatan

PHBS

3) (Perilaku Hidup Bersih Sehat) baik untuk individu, kelompok, institusi,

sekolah maupun masyarakat

4) Mendorong dan Pengembangkan Peran aktif masyarakat dalam

pembangunan kesehatan

5) Mendorong dan mengembangkan UKBM.

6) Membina dan mengembangkan Usaha Kesehatan sekolah

7) Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat pelaksanaan kegiatan.

8) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan kegiatan PKM dan PSM.

7. Unit laboratorium

Tugas dan Fungsi Laboratorium

1) Melaksanakan pemeriksaan Penunjang Diagnostik TB dan Malaria

2) Melaksanakan laboratorium Sentinel untuk pemeriksaan Golongan

Darah, HB, Gula Darah, Kolesterol dan Asam Urat

3) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan kegiatan Laboratorium

8
8. Unit Perawatan Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Kerja

Tugas Pokok Dan Fungsi Perawatan Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan

Kerja

1) Melaksanakan Pembinaan Kesehatan Masyarakat Beresiko

2) Melaksanakan Pembinaan, Pemeriksaan Kesehatan dilingkungan Kerja

baik formal maupun informal

9. Unit P2L

Tugas Pokok Dan Fungsi P2L

1) Mengkoordinir kegiatan pemberantasan penyakit menular dan tidak

menular, yang meliputi kegiatan P2 TB, P2 Malaria, P2 DBD, P2 Diare,

P2 ISPA, P2 Kusta, P2 PTM, serta penyakit potensial wabah lainnya.

2) Mengumpulkan data kegiatan pemberantasan penyakit menular dan tidak

menular.

3) Mengkoordinir kegiatan surveilans pemberantasan penyalit dan

mendeteksi adanya KLB (Kejadian Luar Biasa).

4) Mengkoordinir laporan kegiatan pemberantasan penyakit menular dan

tidak menular, laporan adanya KLB (W1), laporan PE dan laporan W2

(Laporan Penyakit Potensial Wabah).

10. Unit Farmasi

Tugas dan Fungsi Farmasi

1) Bertanggung jawab atas kegiatan pelayanan di apotek.

2) Melaksanakan pelayanan pemberian obat di apotek.

9
3) Mencatat petugas gudang obat dalam memonitor obat di apotek

(LPLPO).

4) Bertanggung jawab terhadap gudang obat dalam memonitor obat di Pustu

dan Polindes dan Puskesling.

5) Membantu Kepala Puskesmas dalam membuat perencanaan kebutuhan

obat Puskesmas.

2.4 Sumber Daya manusia

Sumber daya kesehatan merupakan unsur terpenting di dalam peningkatan

pembangunan kesehatan secara menyeluruh, sumber daya kesehatan terdiri

dari tenaga, sarana dan dana yang tersedia untuk pembangunan kesehatan.

Pada tahun 2018, jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Kabila dan

jaringannya sebanyak 32 orang. Jenis tenaga kesehatan dapat dilihat pada

grafik berikut ini:

Grafik 2.1

Rekapitulasi SDM Kesehatan Berdasarkan Jenis Tenaga

Puskesmas Kabila Tahun 2018

10
Dari data tersebut berdasarkan analisis tenaga kesehatan maka tidak dapat

melakukan pengrekrutan calon pegawai negeri sipil. Sehingga kebutuhan

akan ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai belum dapat dilaksanakan,

sehingganya yang hanya bisa dilakukan adalah memaksimalkan tenaga yang

ada dengan melakukan distribusi dan redisposisi serta peningkatan kapasitas

sumber daya tenaga kesehatan.

2.5 Program Pembangunan dan Penambahan Sarana

Puskesmas Kabila memiliki 1 buah Puskesmas, 9 Poskesdes, 24 Posyandu.

Presentase sarana pelayanan kesehatan tersebut dapat dilihat pada bagan di

bawah ini :

Grafik 2.2
Sarana Pelayanan Kesehatan
Di Kecamatan Kabila Tahun 2018

11
BAB III

KEGIATAN PRAKTEK BELAJAR KLINIK

3.1 Pemeriksaan Hematologi

Hematologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari kondisi

normal dan patologis darah yang meliputi struktur darah, komponen darah,

fungsi darah, dan pembentukan darah. Hematologi adalah cabang ilmu

kedokteran yang mempelajari kondisi normal dan patologis darah yang

meliputi struktur darah, komponen darah, fungsi darah dan pembuluh

darah.Pemeriksaan hematologi adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk

mengetahui keadaan darah dan komponen-komponennya. Darah terdiri dari

bagian padat yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit),

trombosit dan bagian cairan yang berwarna kekuningan yang disebut plasma.

Berikut ini adalah pemeriksaan hematologi yang ada dilaboratorium

puskesmas kabila :

3.1.1 Hemoglobin

Kadar hemoglobin menggunakan satuan gram/dl. Kadar hemoglobin

dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak

penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan,

kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan

abnormalitas hemoglobin  bawaan. Kadar hemoglobin yang tinggi dapat

dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok.

Beberapa penyakit seperti radang paru-paru, tumor dan gangguan sumsum

tulang juga bisa meningkatkan kadar hemoglobin.

12
a. Pemeriksaan Haemoglobin Dengan Stik

Pemeriksaan hemoglobin dengan stik adalah suatu proses pengecakan

hemoglobin dalam darah dengan menggunakan alat stik. Haemoglobin

adalah protein yang mengikat zat besi sebagai komponen utama dalam

eritrosit dengan fungsi transportasi O2 dan CO2 serta memberi warna

merah dalam darah.

b. Prosedur Kerja :

1. Petugas mempersilahkan pasien masuk ruangan laboratorium

2. Petugas menerima blanko lembar permintaan pemeriksaan

laboratorium

3. Petugas mencocokan identitas yang tertera pada blanko permnitaan

dengan menanyakan kepada pasien

4. Petugas memberi tahu maksud dan tujuan yang akan kita lakukan

5. Petugas menulis nama, umur, alamat dan permintaan pemeriksa

laboratorium pada buku register laboratorium

6. Petugas mempersiapkan alat dan bahan (alat easy touch), stik

haemoglobin easy touch, lancet, auto click, kapas alcohol.

7. Petugas memasukan stik pada tempatnya hingga bunyi “bip” dan pada

layar muncul kode untuk memasukan darah.

8. Petugas mempersilahkan pasien mengancungkan salah satu jari untuk

di massage sebentar.

9. Petugas memberikan desinfektan pada ujung jari dengan kapas alcohol

13
10. Petugas menusuk ujung jari tengah dengan autoklik yang di dalamnya

sudah terpasang lancet steril. (Oktari, 2016)

c. Interpretasi hasil

Nilai normal dalam menentukan hemoglobin adalah :

1. Laki-laki dewasa : 13,0 - 16,5 g/dl

2. Wanita dewasa : 11,5 - 16,5 g/dl

3. Wanita hamil : 11,0 - 16,5 g/dl

4. Balita : 12,0 - 14,0 g/dl

5. Bayi : 13,5 - 19,5 g/dl

3.2 Pemeriksaan Urinalisis

3.2.1 Protein Urin

Protein urine adalah salah satu prediktor kuat untuk penyakit ginjal

kronik. Proteinuria yang lebih besar mempunyai risiko yang lebih tinggi

dalam progresifitas penyakit ginjal kronik. Proteinuria pada penyakit ginjal

diakibatkan karena peningkatan permeabilitas dan kerusakan barrier

glomerulus, selain itu proteinuria juga disebabkan karena penurunan

reabsorpsi tubular sehingga banyak protein yang lolos ke dalam urine

(Gandasoebrata, 2016).

Prosedur :

1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan

2. Masukan urin dalm tabung reaksi kurang lebih 5 ml

3. Panaskan urin diatas api spirtus kurang dari 30 detik

14
4. Setelah itu masukkan asam asetat 1-3 tetes kedalam urin yang telah

dipanaskan jika terjadi kekeruhan

5. Panaskan kembali hingga mendidih

6. Amati perubahan yang terjadi

3.2.2. HCG Test

HCG (Human Chorionic Gonadotropin) merupakan suatu hormone

yang diproduksi oleh jaringan placenta pada awal kehamilan, hormone ini

akan dikeluarkan melalui urine dan juga dihasilkan bila terdapat proliferasi

yang abnormal pada jaringan epitel korion seperti molahidatidosa (hamil

anggur) atau choriocarsinoma. Adanya HCG dalam urine dapat digunakan

untuk deteksi kehamilan dini.

Prosedur Kerja metode strip test (Renowati, 2018)

Dipersiapkan alat dan bahan serta dikondisikan pada suhu ruang (15-30ᵒ C)

selanjutnya strip test dibuka dan diharapkan untuk sesegera mungkin

digunakan, setelah itu strip test dicelupkan secara vertikal kedalam urin

dengan tanda panah mengarah kebawah dan saat pencelupan urin tidak

boleh melewati garis maksimal dari strip. Setelah itu dicelupkan selama 10-

15 detik, kemudian diangkat dan diletakkan pada tempat datar dan kering

untuk menghindari kontaminasi hasil test diinterpretasikan dalam waktu 3

menit. Hasil yang dibaca lebih dari 3 menit dapat menimbulkan negatif

palsu (Renowati, 2018)

15
3.3 Pemeriksaan Bakteriologi

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit paru yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis. Sampai sekarang penyakit tersebut belum dapat

disembuhkan secara sempurna bahkan sebaliknya jumlah penderita baru dari

hari ke hari semakin meningkat. Diagnosis terhadap TB paru umunya

dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan klinis terlebih dahulu (dari

anamnesis terhadap keluhan penderita dan hasil pemeriksaan fisik penderita),

hasil pemeriksaan foto toraks, hasil pemeriksaan laboratorium dan

pemeriksaan penunjang lainnya. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang

digunakan untuk mendiagnosa TB paru adalah pemeriksaan laboratorium

dibidang mikrobiologi. Diagnosa laboratorium dibidang mikrobiologi

terhadap TB paru dapat ditegakkan dengan ditemukannya Basil Tahan Asam

(BTA) dalam sediaan apus sputum (Denrison, 2016)

Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang atau basil dan bersifat tahan

asam bila diwarnai dengan pewarnaan bakteri Basil Tahan Asam (BTA). M.

tuberculosis memiliki sifat khas, diantaranya tahan terhadap asam sehingga

pencucian asam dan alcohol pada pewarnaan Ziehl Neelzen tidak

melunturkan zat warna pertama yakni carbol fuchsin. M.tuberculosisis juga

bersifat dorman dan aerob, mati pada pemanasan 100°C selama 5-10 menit

atau dengan alcohol 70-95% selama 15-30 detik. Bakteri ini dapat bertahan

hidup lama, terutama ditempat lembab dan gelap, namun tidak tahan terhadap

sinar atau aliran darah (Kalma, 2018).

16
Prosedur kerja Cara Ziehl Neelsen :

1. Siapkan apusan dengan cara mengambil sputum dengan menggunakan

lidi

2. Pengambilan sputum harus didekat api bunsen yang menyala

3. Letakkan sputum yang terdapat pada lidi ke kaca sediaan, sediaan dibuat

tersebar merata, ukuran 2 x 3 cm.

4. Ratakan sediaan dengan membuat spiral-spiral kecil sewaktu apusan

setengah kering dengan menggunakan lidi

5. Biarkan apusan mengering diudara dan kemudian lakukan fiksasi panas

dengan cara seperti biasa

6. Genangi apusan dengan karbol fuksin dan tempatkan diatas beaker berisi

ar pada lempeng panas yang hangat, biarkan preparat diuapi selama 5

menit. Jangan sampai pewarna menguap. Tambahkan kembali pewarna

jika diperlukan. Juga, cegah warna jangan sampai mendidih dengan

mengatur temperature lempeng panas.

7. Bilas dengan air keran. Kaca objek yang dipanaskan harus didinginkan

terlebih dahulu sebelum dibilas

8. Pucatkan dengan asam alkohol, dengan menambahkan pereaksi setetes

demi setetes sampai aliran alkohol hampei jernih dengan warna merah

yang agak tipis.

9. Bilas dengan air keran.

10. Berikan pewarna tandingan metilen blue selama 2 menit

11. Bilas apusan dengan air keran

17
12. Kering anginkam, lalu amati dibawah mikroskop dengan menggunakan

oil merci (Kalma, 2018).

3.4 Pemeriksaan Kimia Darah

Menunjukkan kesehatan umum Anda, membantu melihat masalah-

masalah tertentu, dan mencari tahu apakah pengobatan untuk masalah spesifik

yang sedang Anda alami bekerja dengan baik.Panel tes darah umum ini

mengukur tingkat elektrolit penting dan kimia lainnya.

3.4.1 Kolestrol

Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan berbentuk seperti lilin

yang diproduksi oleh tubuh manusia, terutama di dalam liver

(hati).Kolesterol terbentuk secara alamiah. Dari segi ilmu kimia, kolesterol

merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh dengan

bermacam-macam fungsi, antara lain untuk membuat hormon seks, hormon

korteks adrenal, vitamin D, dan untuk membuat garam empedu yang

membantu usus untuk menyerap lemak. Jadi, bila takarannya pas atau

normal, kolesterol adalah lemak yang berperan penting dalam tubuh.

Namun, jika terlalu banyak, kolesterol dalam aliran darah justru berbahaya

bagi tubuh.

a. Prosedur Pemeriksaan koestrol:

Alat dan bahan:

1. Lancet dan autoclik

2. Kapas alcohol

3. Strip

18
4. Autocek

b. Cara kerja:

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%,

biarkan kering.

3. Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit

supaya rasa nyeri berkurang.

4. Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah tidak

harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika ujung jari

masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena darah akan

diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di atas kulit

sehingga susah ditampung dalam wadah.

5. Teteskan darah pada alat pemeriksaan dan tunggu hingga keluar hasil

c. Interpetasi hasil:

Nilai normal dalam menentukan niai kolestrol adalah 150 – 200 mg/dl,

3.4.2 Pemeriksaan Asam Urat

Asam urat adalah hasil metabolisme purin biasanya akan dikeluarkan

oleh ginjal melalui urin dalam kondisi normal.Namun dalam kondisi

tertentu ginjal tidak mampu mengeluarkan zat asam urat secara seimbang,

sehingga terjadi kelebihan didalam darah. Kelebihan zat asam urat ini

akhirnya menumpuk dan tertimbun pada persendian-persendian dan tempat

lainya termasuk di ginjal itu sendiri dalam bentuk Kristal-kristal.

19
Adapun tujuan pemeriksaan asam urat untuk mengetahui kadar Asam

Urat adalah dalam tubuh biasanya diperlukan pemeriksaan darah. Karena

Asam urat ini dihasilkan dari kerusakan alami sel tubuh, juga dari makanan

yang Anda makan.Ginjal menyaring sebagian besar Asam Urat dalam darah

dan membuang kelebihan Asam Urat melalui air kencing.Beberapa jumlah

asam juga terdapat dalam tinja.Kadar asam urat tinggi dalam darah

menunjukkan bahwa ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat tersebut

dari darah atau jumlah asam yang dihasilkan oleh tubuh terlampau tinggi.

a. Pemeriksaan Asam Urat

Alat dan bahan:

1. Lancet dan autoclik

2. Kapas alcohol

3. Strip

4. Autocek

b. Cara kerja:

1. Siapkan alat dan bahan yang akan di gunakan

2. Dilakukan pengambilan sampel.

3. Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%,

biarkan kering.

4. Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit

supaya rasa nyeri berkurang.

5. Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah tidak

harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika ujung jari

20
masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena darah akan

diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di atas kulit

sehingga susah ditampung dalam wadah.

6. Teteskan darah pada alat pemeriksaan dan tunggu hingga keluar hasil.

c. Interpetasi hasil:

Nilai normal dalam menentukan asam urat adalah :

1. Laki-aki : 3,5 – 8 mg/dl

2. Perempuan : 3,5 – 7 mg/dl

3.4.3 Pemeriksaan Gula Darah

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa, karena

mempunyai sifat dapat memuta cahaya terpolarisasi ke arah kanan.Di alam,

glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah. Darah manusia

normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu

antara 70 – 100 mg tiap 100 ml darah.

Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk

mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam

darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi glukosa menurun, karena

dikonsumsi untuk membutuhkan energi tubuh, pankreas melepaskan

glukagon, hormon yang menargetkan sel-sel di hati, kemudian sel-sel in

mengubah glikogen menjadi glukosa.

a. Alat dan bahan:

1. Lancet dan autoclik

2. Kapas alkohol

21
3. Strip

4. autocek

b. Cara kerja:

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

2. Dilakukan pengambilan sampel.

3. Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%,

biarkan kering.

4. Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit

supaya rasa nyeri berkurang.

5. Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah

tidak harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika

ujung jari masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena darah

akan diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di atas kulit

sehingga susah ditampung dalam wadah.

6. Teteskan darah pada alat pemeriksaan dan tunggu hingga keluar

hasil

c. Interpetasi hasil:

Nilai normal dalam menentukan kadar glukosa darah adalah :

1. Kadar gula darah sewaktu : 80 – 140 mg/dl

2. Kadar gula darah puasa : 80 – 120 mg/dl

3.5 Pemeriksaan Imunoserologi

Imunoserologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berfokus pada

proses identifikasi akan antibodi, yakni protein yang pembuatannya adalah

22
dari sel darah putih yang bereaksi terhadap antigen. Antigen ini diketahui

pula sebagai sebuah jenis protein asing pada tubuh manusia. Jika melihat dari

nama bidang ilmu ini, tentu sudah dapat ditebak juga bahwa fokusnya adalah

lebih kepada sistem kekebalan tubuh.

3.5.1 Pemeriksaan HbsAg

HBsAg merupakan protein selubung terluar VHB, dan merupakan

pertanda bahwa individu tersebut pernah terinfeksi VHB. HbsAg positif

dapat ditemukan pada pengidap sehat (healthy carier), hepatitis B akut

(simtomatik atau asimtomatik), hepatitis B kronik, sirosis hati, maupun

kanker hati primer. Pemeriksaan dan HBsAg biasanya dilakukan untuk

monitoring perjalanan penyakit hepatitis B akut, skrining sebelum dilakukan

vaksinasi, serta untuk skrining ibu hamil pada program pencegahan infeksi

VHB perinatal (Wijayanti, 2016).

Pemeriksaan HBsAg dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu

dengan metode :

a. Imunochromatografi

Prinsip pemeriksaan metode ini adalah bereaksinya

imunochromatografi yang menggunakan membrane berwarna untuk

mendeteksi HbsAg dalam serum, membrane dilapisi dengan anti HBs

pada daerah test (T) dapat bereaksi secara kapilaritas sehingga

membentuk garis merah.

b. Prosedur kerja:

1. Menyiapkan tabung serologi dan letakkan pada rak tabung serologi

23
2. Mengambil serum atau plasma dengan menggunakan climpete

sebanyak 200 ul.

3. Meletakkan pada tabung yang telah diberikan label identitas sesuai

dngan pemilik sampel tersebut.

4. Memasukkan strip dalam tabung secara perlahan-lahan.

5. Tunggu dan biarkan selama 10-15 menit agar serum bereaksi secara

sempurna

c. Interpretasi Hasil :

1. Positif (+) : terbentuk dua garis merah pada area kontrol (C) dan

test.

2. Negatif (-) : berbentuk satu garis pada area kontrol (C)

3. Invalid : tidak terbentuk garis dan hanya satu garis pada area test

(Wijayanti, 2016).

3.5.2 Pemeriksaan Golongan Darah

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena

adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran

sel darah merah. Dengan kata lain, golongan darah ditentukan oleh jumlah

zat (kemudian disebut antigen) yang terkandung di dalam sel darah merah.

Ada dua jenis penggolongan darah yang paling penting, yaitu penggolongan

ABO dan Rhesus (faktor Rh). Selain sistem ABO dan Rh, masih ada lagi

macam penggolongan darah lain yang ditentukan berdasarkan antigen yang

terkandung dalam sel darah merah. Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar

24
46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang

dijumpai.

Gambar 2.1.Pemeriksaan Golongan


Darah
a. Alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan golongan darah :

1. Lancet

2. Autoklik

3. Objek glass

4. Pengaduk

5. Serum anti-A

6. Serum anti-B

7. Serum anti-AB

8. Darah kapiler

b. Cara kerja pemeriksaan golongan darah :

1. Mempersiapkan alat dan bahan.

2. Memijit-mijit ujung jari manis/tengah donor dan kemudian melakukan

desinfeksi dengan kapas alkohol.

3. Menusuk jari manis/tengah dengan posisi vertical, mengggunakan

blood lancet.

25
4. Mengusap darah yang pertama kali keluar dari jari donor dengan kapas

kering.

5. Meneteskan 1 tetes darah yang keluar pada objek glass.

6. Meneteskan 1 tetes (±50 µ) anti-A, anti-B, anti-AB, dan anti-D pada

objek glass.

7. Mengaduk dengan batang pengaduk masing-masing campuran darah

donor dengan antisera dan menggoyang-goyangkan.

8. Mengamati ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis.

c. Interpretasi Hasil Pembacaan Golongan Darah :

1. Golongan Darah A : Aglutinasi pada anti-A karena golongan darah A

mempunyai antigen A dan antibodi B

2. Golongan Darah B  : Aglutinasi pada anti-B karena golongan darah B

mempunyai antigen B dan antibodi A

3. Golongan Darah AB : Aglutinasi pada anti-A dan anti-B karena

golongan darah AB mempunyai antigen A dan B tetapi tidak

mempunyai antibody

4. Golongan Darah O : Tidak terjadi aglutinasi karena golongan darah O

tidak mempunyai antigen A dan B tetapi mempunyai antibodi A dan B

3.5.3 Pemeriksaan HIV

Virus imunodifisiensi manusia (bahasa Inggris: human

immunodeficiency virus; HIV) adalah suatu virus yang dapat menyebabkan

penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem

kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan

26
infeksi. Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan

menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem imun. Untuk mendeteksi

adanya antibodi terhadap antigen Human Imuno Defisiensi Virus (HIV)

Pada Serum Pasien.

Deteksi antibodi HIV pada serum/plasma/darah, terhadap antigen

pada strip. Dimana membrane berbasis immunoassay (strip) untuk

mendeteksi antibody HIV-1, HIV-2 dan subtype O pada serum/plasma atau

darah. Dan pada membrane (strip) telah dilapisi dengan recombinan

Antigen HIV pada garis uji. Dimana pada pemeriksaan diteteskan Buffer

solution yang berfungsi sebagi pencuci lalu diteteskan sampel, kemudian

diteteskan lagi buffer solution yang berfungsi untuk mencuci protein atau

antibody lain yang tidak berikatan dengan antigen pada strip. Lalu

diteteskan Konjugat Protein-A yang berfungsi untuk memberikan warna

garis pada control dan test apabila positif.

1) Alat dan Bahan:

a. Klinipet 20 µl

b. Strip HIV

c. Yellow tip

d. Reagen HIV/ Buffer HIV

2) Cara kerja:

a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. Dilakukan pengambilan sampel.

27
c. Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol

70%, biarkan kering.

d. Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit

supaya rasa nyeri berkurang.

e. Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah

tidak harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika

ujung jari masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena

darah akan diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di

atas kulit sehingga susah ditampung dalam wadah.

f. Pegang penetes secara partikel teteskan 20 µl serum / plasma (20

ul whole Blood), kemudian 4 tetes buffer HIV

g. Hasil dibaca setelah 10 menit (tidak lebih dari 20 menit).

3) Interpretasi hasil

Nilai normal dalam menentukan HIV adalah :

a. Positif   : Bila terbentuk  2 tanda garis warna merah pada strip

yaitu garis control dan pada garis test (T)

b. Negatif : Bila terbentuk 1 tanda garis warna merah pada strip

yaitu pada garis.

c. Invalid : Bila tidak terbentuk garis merah pada strip atau test (T),

atau bila ada tanda garis merah pada garis (T), tapi pada garis

tidak tampak garis merah.

28
3.5.4 Pemeriksaan shypilis

Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan

oleh Treponema pallidum. Penyakit tersebut ditularkan melalui hubungan

seksual, penyakit ini bersifat laten atau dapat kambuh lagi sewaktu-waktu

selain itu bisa bersifat akut dankronis. Penyakit ini dapat cepat diobati bila

sudah dapat dideteksi sejak dini.Kumanyang dapat menyebabkan penyakit

sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembusselaput lendir yang normal

dan mampu menembus plasenta sehingga dapat menginfeksi janin.

Treponema dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka pada

kulit.10-90 hari sesudah Treponema memasuki tubuh, terjadilah luka pada

kulit primer (chancre ataun ulkus durum). Chancre ini kelihatan selama 1-5

minggu dan kemudian sembuh secara spontan. Tes serologik untuk sifilis

biasanya nonreaktif pada waktu mulai timbulnya chancre, tetapi kemudian

menjadi reaktif sesudah 1-4 minggu atau 2-6 minggu sesudah tampak luka

primer, maka dengan penyebaran Treponema pallidum diseluruh badan

melalui jalan darah, timbulah erupsi kulit sebagai gejala sifilis sekunder.

Erupsi pada kulit dapat terjadi spontan dalam waktu 2-6 minggu. Pada

daerahan ogenital ditemukan kondilo mata lata. Tes serologik hampir

seluruh positif selama fasesekunder ini, sesudah fase sekunder, dapat terjadi

sifilis laten yang dapat berlangsung seumur hidup, atau dapat menjadi sifilis

tersier. Pada sepertiga kasus yang tidak diobati, tampak manifestasi yang

nyata dari sifilis tersier.

1) Alat dan Bahan.

29
a. Pipet tetes

b. Strip sypilis

c. Darah lengkap

d. Buffer sypilis

2) Cara kerja

a. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. Dilakukan pengambilan sampel.

c. Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol

70%, biarkan kering.

d. Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit

supaya rasa nyeri berkurang.

e. Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah

tidak harus diperas-peras keluar. Jangan menusukkan lancet jika

ujung jari masih basah oleh alkohol. Hal ini bukan saja karena

darah akan diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di

atas kulit sehingga susah ditampung dalam wadah.

f. Diteteskan darah pada strip shpylis

g. Diteteskan buffer dan didiamkan selama 10 menit

3) Interpretasi hasil

Nilai normal dalam menentukan jumlah Sipilisadalah :

a. Positif   : Bila terbentuk  2 tanda garis warna merah pada strip

yaitu garis control dan pada garis test (T)

30
b. Negatif : Bila terbentuk 1 tanda garis warna merah pada strip

yaitu pada garis.

c. Invalid : Bila tidak terbentuk garis merah pada strip atau test (T),

atau bila ada tanda garis merah pada garis (T), tapi pada garis

tidak tampak garis merah.

31
BAB IV

HASIL PRAKTEK BELAJAR KLINIK I

4.1 Hasil

Adapun hasil kegiatan Praktek Belajar Klinik I di Puksesmas Kabila

selama 21 hari praktek dapat dilihat pada tabel yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Hematologi

Jumlah Pasien
No Jenis Jumlah Keterangan
1 2 3
. pemeriksaan

Hematologi

Normal : 2
1. Hemoglobin 2 - - 2
Abnormal : -

Hasil untuk pemeriksaan hemoglobin pada minggu pertama sebanyak 2

pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 0 pemeriksaan, pada minggu ke-III

sebanyak 0 pemeriksaan, maka untuk total pemeriksaan hemoglobin sebanyak

2 pemeriksaan

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Imunoserologi

Jumlah Pasien
No Jenis Jumlah Keterangan
1 2 3
. pemeriksaan

Imunoserologi

1. Golongan 13 7 6 26
Darah

2. HIV - - - -

32
Normal : 6
3. HbsAg 2 2 2 6
Abnormal : -

Hasil untuk pemeriksaan golongan darah pada minggu pertama sebanyak


13 pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 7 pemeriksaan, pada minggu ke-
III sebanyak 6 pemeriksaan, maka untuk total pemeriksaan golongan darah
sebanyak 26 pemeriksaan. Untuk pemeriksaan HbsAg pada minggu pertama
sebanyak 2 pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 2 pemeriksaan, pada
minggu ke-III sebanyak 2 pemeriksaan, total pemeriksaan 6 pemeriksaan

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Kimia Darah

Jumlah Pasien
No. Jenis Jumlah Keterangan
1 2 3
pemeriksaan

Kimia Darah

Normal : 65
1. Gula Darah 21 56 42 119
Abnormal : 54

Normal : 44
2. Kolestrol 3 53 42 98
Abnormal 54

Normal : 2
3. Asam Urat - 2 2 4
Abnormal : 2

Hasil untuk pemeriksaan gula darah pada minggu pertama sebanyak 21

pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 56 pemeriksaan, pada minggu ke-

III sebanyak 42 pemeriksaan, maka untuk total pemeriksaan gula darah

sebanyak 119 pemeriksaan. Untuk pemeriksaan Kolesterol pada minggu

pertama sebanyak 3 pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 53

pemeriksaan, pada minggu ke-III sebanyak 42 pemeriksaan, total pemeriksaan

33
98 pemeriksaan. Untuk pemeriksaan Asam urat pada minggu pertama

sebanyak 0 pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 2 pemeriksaan, pada

minggu ke-III sebanyak 2 pemeriksaan, total pemeriksaan 4 pemeriksaan.

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Bakteriologi

Jumlah Pasien
No Jenis Jumlah Keterangan
1 2 3
. pemeriksaan

Bakteriologi

Normal : 6
1. BTA 2 5 1 8
Abnormal : 2

Hasil untuk pemeriksaan BTA pada minggu pertama sebanyak 2

pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 5 pemeriksaan, pada minggu ke-III

sebanyak 1 pemeriksaan, maka untuk total pemeriksaan gula darah sebanyak 8

pemeriksaan.

Tabel 4.1.1 Hasil Pemeriksaan Urinalisis

Jumlah Pasien
No. Jenis Jumlah Keterangan
1 2 3
pemeriksaan

. Urinalisisis

34
Negatif : 7
1. Pemeriksaan 2 5 2 9
HCG Positif : 2

Hasil untuk pemeriksaan BTA pada minggu pertama sebanyak 2

pemeriksaan, pada minggu ke-II sebanyak 5 pemeriksaan, pada minggu ke-III

sebanyak 2 pemeriksaan, maka untuk total pemeriksaan gula darah sebanyak 9

pemeriksaan.

35
BAB V

PEMBAHASAN

Praktek Belajar Klinik (PBK) adalah langkah yang sangat efisien untuk

memberi pengetahuan dunia kerja bagi kami khususnya mahasiswa. Dengan

adanya PBK ini kami dapat mempelajari dan memulai langkah awal penyesuaian

ke dunia kerja nantinya. Dengan ini, PBK yang diambil oleh lembaga Yayasan

Bina mandiri Gorontalo khususnya Universitas Bina Mandiri Gorontalo untuk

menempatkan mahasiswa semester 3 di Puskesmas yang ada di kota Gorontalo

yaitu di Puskesmas Kabila yang diikuti selama kurang lebih 21 hari. Di

Puskesmas Kabila, pemeriksaan Laboratorium hampir semua menggunakan

autocheck. Jenis pemeriksaan yang disediakan yaitu pemeriksaan BTA, kimia

darah (asam urat, cholestrol, glukosa), imunoserologi (golongan darah, HIV, dan

Spilis), dan Hematologi (strip (Hb)).

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah organisasi fungsional yang

menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata,

dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif

masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan

masyarakat. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014, Pusat

Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas

pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan

upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan

upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang

36
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Selain itu, menurut Wulansari (2013),

puskesmas adalah unit pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan dan merupakan

Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota.

Upaya pelayanan yang diselenggarakan adalah pelayanan kesehatan masyarakat,

yaitu upaya promotif dan preventif pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas

serta pelayanan medik dasar yaitu upaya kuratif dan rehabilitatif dengan

pendekatan individu dan keluarga melalui upaya perawatan yang tujuannya untuk

menyembuhkan penyakit untuk kondisi tertentu.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 42 tahun 2015, Ahli Teknologi

Laboratorium Medik adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan Teknologi

Laboratorium Medik atau analis kesehatan atau analis medis dan memiliki

kompetensi melakukan analisis terhadap cairan dan jaringan tubuh manusia untuk

menghasilkan informasi tentang kesehatan perseorangan dan masyarakat sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Berdasarkan peraturan menteri kesehatan tersebut dapat diketahui bahwa

tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan laboratorium ialah Ahli

Teknologi Laboratorium Medik atau analis kesehatan atau analis medis. Oleh

karena itu, Universitas Bina Mandiri Gorontalo mengadakan suatu kegiatan yang

wajib dilakukan oleh mahasiswa Program Studi (Prodi) DIII Analis Kesehatan

selaku calon teknisi/pranata laboratorium yaitu berupa kegiatan Praktek Belajar

Klinik I guna untuk memberi mahasiswa akan pengetahuan dan pengalaman

secara langsung di lapangan yang nantinya akan sangat berguna dalam dunia

kerja. Kegiatan Praktek Belajar Klinik I ini dilakukan selama 21 hari kerja sejak

37
tanggal 21 Janurari sampai 14 Februari 2020 dengan Puskesmas yang dijadikan

tempat praktek ialah Puskesmas Kabila yang menjadi puskesmas rujukan

sekabupaten Bonebolango.

Seorang analis kesehatan merupakan profesi kesehatan yang terkenal

memiliki kemampuan dan berketerampilan tinggi dalam melaksanakan dan

mengevaluasi pemeriksaan laboratorium dengan memanfaatkan berbagai

spesimen. Keterampilan khusus yang dimiliki oleh seorang analis kesehatan ialah

mampu melakukan pemeriksaan Hematologi, Kimia Klinik, Mikrobiologi

(Bakteriologi, Virologi, Mikologi), Parasitologi, Imunoserologi, Toksikologi,

Sitohistoteknologi dan Urinalisa. Namun dikarenakan pelayanan laboratorium

yang terbatas, jenis pemeriksaan yang dilakukan di Puskesmas Kabila sebatas

Hematologi, Kimia Klinik, Bakteriologi, Imunoserologi dan Urinalisa. Alat-alat

yang dimiliki oleh Puskesmas Kabila ialah mikroskop, dan Autocheck. Secara

garis besar, pemeriksaan yang dilakukan oleh Puskesmas Kabila ialah

digolongkan menjadi tiga golongan yaitu pemeriksaan penyakit menular,

pemeriksaan penyakit tidak menular dan pemeriksaan umum lainnya.

Pemeriksaan untuk penyakit menular merupakan salah satu golongan

pemeriksaan yang dilakukan laboratorium Kabila untuk mengidentifikasi adanya

penyakit yang memiliki risiko penularan kepada orang lain. Yang termasuk dalam

golongan pemeriksaan ini ialah pemeriksaan BTA, pemeriksaan HIV dan Sifilis

kepada Bumil (Ibu Hamil) dan Caten (Calon Penganten).

Pemeriksaan BTA merupakan pemeriksaan Bakteriologi yang dilakukan

secara kualitatif yang bertujuan untuk mengidentifikasi adanya bakteri Basil

38
Tahan Asam (BTA) dalam sputum (dahak) orang yang diduga terjangkit penyakit

Tuberculosis (TBC). Untuk melakukan pemeriksaan ini, petugas labortaorium

akan memberikan wadah penampung sputum. Setelah itu, diinteruksikan kepada

pasien untuk menampung sputum pada wadah tersebut selanjutnya akan dilakukan

pemeriksaan terhadap sampel tersebut. Metode pemeriksaan yang digunakan ialah

pewarnaan Ziehl Neelsen. Prinsip kerja metode Ziehl Neelsen menurut Arianda

(2015) ialah dinding bakteri yang tahan asam mempunyai lapisan lilin dan lemak

yang sukar ditembus cat, dengan pengaruh fenol dan pemanasan maka lapisan

lilin dan lemak itu dapat ditembus cat basic fuchsin. Hasil pemeriksaan BTA

diinterpretasikan secara semi-kuantitatif yaitu mulai dari Negatif (-), Positif 1

(1+), Positif 2 (2+), dan Positif 3 (3+). Dalam tiga minggu terakhir ini selama

PBK didapatkan kasus BTA positif sebanyak 2 pasien dari 6 pasien.

Pemeriksaan untuk Prolanis merupakan suatu program pemeriksaan yang

ditujukan bagi lansia yang menderita penyakit kronis. Menurut BPJS (2014)

Prolanis adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang

dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan dan

BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS

Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang

optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efsien. Tujuan

Prolanis menurut BPJS (2014) untuk mendorong peserta penyandang penyakit

kronis mencapai kualitas hidup optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar

yang berkunjung ke Faskes Tingkat Pertama memiliki hasil “baik” pada

39
pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi sesuai Panduan

Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit.

Puskesmas Kabila telah menjalankan program Prolanis yang ditujukan

kepada lansia yang terdaftar dalam BPJS. Pemeriksaan laboratorium yang

ditawarkan dalam program Prolanis ini ialah pemeriksaan glukosa darah,

pemeriksaan asam urat dan pemeriksaan kolesterol. Pemeriksaan glukosa darah,

asam urat dan kolesterol merupakan pemeriksaan secara kuantitatif dengan

mengukur seberapa banyak kadar glukosa, asam urat dan kolesterol dalam tubuh.

Sampel yang digunakan ialah sampel darah utuh yang diambil secara pungsi

dermal (Skinpuncture). Pungsi dermal biasanya dilakukan pada jari apabila

pengambilan sampel ialah orang dewasa. Jari yang ideal untuk dilakukan

pengambilan darah kapiler ialah jari tengah dan jari telunjuk. Setelah selesai

menentukan jari yang dilakukan pungsi dermal, jari tersebut kemudian dilakukan

pemijatan. Pemijatan ini bertujuan agar darah pada jari tersebut terkumpul pada

satu titik yaitu pada ujung jari setelah ditekan. Menekan sekitar 2,5 cm dari titik

pungsi dengan sering dapat mengalirkan darah dengan baik dibandingkan

menekannya terlalu dekat dengan titik pungsi. Kemudian, dilakukan proses

desinfeksi pada ujung jari dan biarkan hingga mengering. Desinfektan yang

digunakan ialah alkohol 70%. Dan melakukan proses insisi kapiler. Pada insisi

kapiler, dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan autoclick. Metode yang

digunakan dalam pemeriksaan glukosa, asam urat dan kolesterol ini ialah

Elektrometri/Strip dengan menggunakan alat Autocheck (Elektrometer). Kadar

glukosa, asma urat dan kolesterol akan langsung terbaca pada layar secara

40
otomatis. Nilai rujukan yang digunakan oleh Laboratorium Puskesmas Kabila

yaitu untuk GDS (Glukosa Darah Sewaktu) adalah < 140 mg/dl, untuk asam urat

adalah 3,5-7,5 mg/dl bagi laki-laki dan 3,5-5,7 mg/dl bagi perempuan. Dan untuk

kolesterol adalah 150-200 mg/dl. Dalam tiga minggu terakhir ini selama PBK

tercatat sebanyak 119 pasien melakukan pemeriksaan glukosa darah, sebanyak 4

pasien melakukan pemeriksaan asam urat dan sebanyak 98 pasien melakukan

pemeriksaan kolesterol.

Pemeriksaan umum lainnya yang dilakukan oleh laboratorium puskesmas

Kabila ialah peemriksaan golongan darah, pemeriksaan hematologi, pemeriksaan

HCG (Plano Test) dan pemeriksaan Urinalisa. Pemeriksaan hematologi yang

dilakukan di Puskesmas dilakukan dengan menggunakan metode

Elektrometri/Strip dengan alat Autocheck. Dalam empat minggu terakhir ini

selama PBK tercatat sebanyak 35 pasien melakukan pemeriksaan hemoglobin.

Pemeriksaan HCG (Plano Test) merupakan pemeriksaan yang dilaukan

untuk mengetahui kehamilan. Pemeriksaan ini menggunakan sampel urine wanita

yang diduga telah hamil. Pemeriksaan ini menggunakan metode yang sama

dengan pemeriksaan HIV dan Sifilis yaitu metode immunokromatografi dengan

menggunakan alat rapid test. Hasil pemeriksaan diinterpretasikan dengan Negatif

(-) apabila terdapat garis control, Positif (+) apabila terdapat garis control dan

garis test, dan Invalid apabila terdapat garis test tanpa garis control atau tidak

terdapat kedua garis tersebut. Dalam tiga minggu terakhir ini selama PBK tercatat

sebanyak 9 pasien melakukan pemeriksaan HCG.

41
Pemeriksaan golongan darah dan rhesus merupakan pemeriksaan

imunoserolgi untuk menenetukan golongan darah seseorang. Penetapan golongan

darah dan rhesus terbilang cukup mudah yaitu cukup dengan meneteskan darah

pada slide di dua titik. Tiap tetes darah diberi masing-masing satu sera secara

berurutan yaitu sera anti-A, sera anti-B. Jika terjadi aglutinasi (penggumpalan)

pada sera anti-A maka golongan darah A. Jika terjadi aglutinasi pada sera anti-B

maka golongan darah B. Jika terjadi aglutinasi pada kedua sera anti-A, anti-B

maka golongan darah AB Kemudian jika tidak terjadi aglutinasi pada kedua sera

tersebut maka golongan darah O.

42
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan Praktek Belajar Klinik I yang telah dilaksanakan

oleh mahasiswa DIII Analis Kesehatan Fakultas Sains Teknologi dan Ilmu

Kesehatan Universitas Bina Mandiri Gorontalo di laboratorium Puskesmas

Kabila dapat disimpulkan yaitu:

1. Kegiatan Praktek Belajar Klinik I yang dilakukan di Laboratorium

Puskesmas Kabila berdampak positif terhadap penyaluran ilmu

pengetahuan, memperluas wawasan, meningkatkan kinerja, serta

memantapkan dan menyeimbangkan keterampilan dari mahasiswa DIII

Analis Kesehatan dalam berbagai pemeriksaan laboratorium meliputi

bidang ilmu Hematologi, Imunoserologi, Kimia Klinik, dan Bakteriologi.

2. Kegiatan Praktek Belajar Klinik I memberikan kesempatan kepada

mahasiswa DIII Analis Kesehatan untuk ikut serta berperan dalam

program kesehatan masyarakat yang diselenggarakan oleh Puskesmas

Kabila yaitu berpartisipasi dalam melaukan pemeriksaan untuk

PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) dan program

pemeriksaan lainnya.

3. Kegiatan Praktek Belajar Klinik I dimanfaatkan sebagai sarana dalam

melatih mahasiswa DIII Analis Kesehatan untuk berinteraksi langsung

dengan pasien melalui komunikasi kesehatan sehingga tetap terjalin

43
kesinambungan antara knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan) dan

attitude (sikap).

6.2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan kepada pihak Puskesmas Kabila

ialah sebagai berikut :

1. Untuk Instansi

Diharapkan bagi pihak institusi untuk menambah waktu pelaksanaan

kegiatan praktek belajar klinik sehingga para mahasiswa dapat

mengoptimalkan dan meningkatkan skill lebih kuat lagi sehingga benar-

benar menjadi tenaga kesehatan yang siap dalam berkompetisi.

2. Untuk Puskesmas

Perlu adanya penyediaan Prasarana Laboratorium untuk menunjang

perawatan alat hematologi analyzer Hal ini disampaikan untuk lebih

mempermudah pada saat pemeriksaan karena puskesmas kabila

merupakan puskesmas rujukan se Kabupaten Bonebolango sehingga lebih

menambah nilai kualitas dari puskesmas kabila itu sendiri.

44
DAFTAR PUSTAKA

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. 2014. Panduan Praktis PROLANIS


(Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Jakarta.

Denrison, P. 2016. Perbandingan Pemeriksaan Basil Tahan Asam Metode Direct


Smear dan Metode Imunochromatographi Test Pada Tersangka Penderita
TuberkulosisParu di UP. Kesehatan Paru Masyarakat Dinas Provinsi
Sumatera Utara. Sumatera Utara: Universitas Sari Mutiara Indonesia. Vol 1
No 1.

Gandasoebrata, 2016. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat

Kalma, 2018. Perbandingan Hasil Pemeriksaan Basil Tahan Asam Antara


Spesimen Dahak Langsung Di Periksa Dengan Di Tunda 24 Jam. Makassar :
jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Makassar. Vol 9 No 2

Oktari, A. 2016. Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Metode Slide dengan
Reagen Serum Golongan Darah A,B,O. Bandung : Sekola Tinggi Analis
Bakti Asih Bandung Vol 5 No 2.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 42 Tahun 2015. Izin Dan
Penyelenggaraan Praktik Ahli Teknologi Laboratorium Medik. Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2014. Pusat


Kesehatan Masyarakat. Jakarta.

Renowati, 2018. Uji Kesesuaian Pemeriksaan Kehamilan Mtode Strip Test


dengan Metode Aglutinasi. Padang : Stikes Perintis Padang Vol 1 No 1.
Wijayanti, Ika Budi. 2016. Efektivitas HBsAg – Rapid Screening Test Untuk
Deteksi Dini Hepatitis B. STIKES Kusuma Husada Surakarta. Surakarta.

Wulansari, Puput. 2013. Analisis Kepuasan Pengguna Terhadap Kualitas.


Layanan Dan Bangunan Puskesmas Di Yogykarta. Universitas Atma Jaya
Yogyakarta. Jawa Tengah.

45

Anda mungkin juga menyukai