Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


DENGAN “TB Paru”

Disusun oleh : Hasbunal Nalarsyah


NIM : 201849021

AKADEMI KPERAWATAN DAHRAMA HUSADA KEDIRI


TAHUN 2020/2021
LAPORAN PENDAHULUAN
TUBERCULOSIS
A. TINJAUAN TEORI
1. Pengertian
Tuberculosis paru adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman Mycrobacterium Tuberculosis.Sebagian bersar kuman tuberculosis
menyerang paru tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya (Depkes,
2010).
Tuberkulosis (TB) paru- paru adalah infeksi pada paru- paru dan kadang
pada struktur- struktur disekitarnya, yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis (Saputra, 2010)
Tuberkulosis paru-paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang
parenkim paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (Soemantri,
2008)
Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis yang dapat menyerang pada berbagai organ tubuh mulai dari paru
dan organ di luar paruseperti kulit, tulang, persendian, selaput otak, usus serta
ginjal yang sering disebut dengan ekstrapulmonal TBC (Chandra,2012).

2. Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robet
Koch pada tahun 1882. Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa
minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati dalam suhu 600C dalam
15-20 menit. Fraksi protein basil tuberkulosis menyebabkan nekrosis jaringan,
sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor
terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.(FKUI,2007)
Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan sinar
matahari dan sinar ultraviolet. Ada dua macam mikobakterium tuberculosis yaitu
tipe human dan tipe bovin. Basil tipe bovin berada dalam susu sapi yang
menderita mastitis tuberkulosis usus.
Basil tipe human bisa berada di bercak ludah (droplet) di udara yang berasal
dari penderita TBC terbuka dan orang yang rentan terinfeksi TBC ini bila
menghirup bercak ini. Perjalanan TBC setelah terinfeksi melalui udara. Bakteri
juga dapat masuk ke sistem pencernaan manusia melalui benda/bahan makanan
yang terkontaminasi oleh bakteri. Sehingga dapat menimbulkan asam lambung
meningkat dan dapat menjadikan infeksi lambung. (Wim de Jong, 2005)

3. Patofisiologi
Menurut Somantri (2008), infeksi diawali karena seseorang menghirup basil
Mycobacterium tuberculosis. Bakteri menyebar melalui jalan napas menuju
alveoli lalu berkembang biak dan terlihat bertumpuk. Perkembangan
Mycobacterium tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke area lain dari paru
(lobus atas). Basil juga menyebar melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian
tubuh lain (ginjal, tulang dan korteks serebri) dan area lain dari paru (lobus atas).
Selanjutnya sistem kekebalan tubuh memberikan respons dengan melakukan
reaksi inflamasi. Neutrofil dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan
bakteri), sementara limfosit spesifik-tuberkulosis menghancurkan (melisiskan)
basil dan jaringan normal. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10
minggu setelah terpapar bakteri.Interaksi antara Mycobacterium tuberculosis dan
sistem kekebalan tubuh pada masa awal infeksi membentuk sebuah massa
jaringan baru yang disebut granuloma. Granuloma terdiri atas gumpalan basil
hidup dan mati yang dikelilingi oleh makrofag seperti dinding. Granuloma
selanjutnya berubah bentuk menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian tengah dari
massa tersebut disebut ghon tubercle. Materi yang terdiri atas makrofag dan
bakteri yang menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi yang
berbentuk seperti keju (necrotizing caseosa).Hal ini akan menjadi klasifikasi dan
akhirnya membentuk jaringan kolagen, kemudian bakteri menjadi nonaktif.

Menurut Widagdo (2011), setelah infeksi awaljika respons sistem imun


tidak adekuat maka penyakit akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah
dapat timbul akibat infeksi ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif
kembali menjadi aktif, Pada kasus ini, ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga
menghasilkan necrotizing caseosa di dalam bronkus.Tuberkel yang ulserasi
selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk jaringan parut.Paru-paru yang
terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia,
membentuk tuberkel, dan seterusnya.Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan
sendirinya. Proses ini berjalan terus dan basil terus difagosit atau berkembang
biak di dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang
dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh
limfosit (membutuhkan 10-20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis dan
jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan memberikan
respons berbeda kemudian pada akhirnya membentuk suatu kapsul yang
dikelilingi oleh tuberkel.

4. Manifestasi Klinis
Menurut Wong (2008) tanda dan gejala tuberkulosis adalah:
a. Demam
b. Malaise
c. Anoreksia
d. Penurunan berat badan
e. Batuk ada atau tidak (berkembang secara perlahan selama berminggu–
minggu sampai berbulan – bulan)
f. Peningkatan frekuensi pernapasan
g. Ekspansi buruk pada tempat yang sakit
h. Bunyi napas hilang dan ronkhi kasar, pekak pada saat perkusi
i. Demam persisten
j. Manifestasi gejala yang umum: pucat, anemia, kelemahan, dan penurunan
berat badan

5. Penatalaksanaan
Tuberkulosis paru terutama diobati dengan agens kemoterapi selama periode 6-12
bulan. 5 medikasi garis depan digunakan: isoniasid (INH), rifampin (RIF),
Streptomisin (SM), etambutol (EMB), dan Pirasinamid (PZA).

Pengobatan yang direkomendasikan bagi kasus tuberkulosis paru yang baru


didiagnosa adalah regimen pengobatan beragam, terutama INH, RIF, PZA selama
4 bulan, dengan INH dan RIF dilanjutkan untuk tambahan 2 bulan (totalnya 6
bulan).
6. Pathway

Udara tercemar
mycrobacterium Dihirup individu rentan Kurang informasi
tuberculose

Masuk paru Kurang pengetahuan


Mengalami Sekret susah keluar
perkejuan
reaksi inflamasi /peradangan Hipertermi
a
Gangguan
klasifikasi pertukaran gas
penumpukan eksudat dalam elveoli Resiko infeksi penyebaran
pada orang lain
Mengganggu
perfusi
tuberkel produksi bersin
sekret
berlebih
Sarang primer +
Limfanitis local +

Kompleks Primer

Penyebaran ke organ lain

Saluran pencernaan

Lambung

HCL

Mual muntah,anoreksia

Defisit nutrisi
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. Defisit Nutrisi
SDKI : Defisit Nutrisi
Definis : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
Penyebab :
a. Ketidak mampuan menelan makanan
b. Ketidak mampuan mencerna makanan
c. Ketidak mampuan mengabsorsi nutrient
d. Peningkatan kebutuhan metabolisme
Gejala dan tanda mayor :
Subjektif Objektif
1. berat badan menurun minimal 10% di
bawah rentang ideal

Gejala dan tanda minor


Subjektif Objektif
1. Kram nyeri abdomen 1. Otot penelan lemah
2. Nafsu makan menurun 2.Otot penguyah lemah

Kondisi klinis terkait


1. Kerusakan neuromuskuler
2. Infeksi

2. Siki
Definisi : Mengidentifikasi dan mengelola asupan nutrisi yang seimbang
Tindakan :
a.Identifikasi status nutrisi
b. Identifikasi makanan yang di sukai
c.Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogatik
d. Monitor asupan makanan
Terapeutik

a. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi


b. Berikan makanan tinggi kalori dan protein
c. Berikan suplemen makanan, jika perlu
d. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai

Edukasi

a.Anjurkan posisi duduk jika mampu

Kolaborasi

a.Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan


b.Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrient

3. SLKI
Definisi : Keadekuatan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme
Ekspentasi Membaik
Kriteria Hasil

Menuru Cukup Sedan Cukup Meningka


n menuru g meningka t
n t

Kekuatan 1 2 3 4 5
otot
pengunyah

Kekuatan 1 2 3 4 5
otot
menelan

Porsi 1 2 3 4 5
makanan
yang di
habiskan

Verbelisasi 1 2 3 4 5
keinginana
n untuk
peningkata
n nutrisi

Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


meningkat menurun

Perasaan 1 2 3 4 5
cepat
kenyang

Nyeri 1 2 3 4 5
abdomen

Memburuk Cukup Sedang Cukup Membaik


memburuk membaik

Berat 1 2 3 4 5
badan

Indeks 1 2 3 4 5
massa
tubuh

Frekuensi 1 2 3 4 5
makan

Nafsu 1 2 3 4 5
makan
1. Pola nafas tidak efektif
SDKI : Pola nafas tidak efektif
Definisi : Inspirasi atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat
Penyebab
a.Hambatan upaya bernafas
b.Depresi pusat pernafasaan
c.Sindrom hipoventilasi
d.Gangguan neuromuscular

Gejala dan tanda mayor

Subjektif Objektif
1. Dispnea 1. Penggunaan otot bantu
pernafasaan
2. Fase ekspirasi memanjang
3. Pola nafas abnormal

Gejala dan tanda minor

Subjektif Objektif
1. Ortopnea 1. Pernapasaan pursed-lip

2. Ventilasi Semenit menurun

3. Tekanan ekspirasi munurun

4. Tekanan inspirasi menurun

Kondisi klinis terkait

1. Depresi system saraf pusat


2. Manajemen Jalan nafas
Siki : Manajemen jalan nafas

Definisi : Mengidentifikasi dan mengelola kepatenan jalan nafas

Tindakan :

Observasi

 Monitor pola nafas


 Monitor bunyi nafas
 Monitor sputum

Terapeutik

 Posisi kan semi fowler atau fowler


 Lakukan fisioterapi dada , jika perlu
 Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi

 Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi

 Kolaborasi pemberiaan brokodilator,ekspektoran, mukolitik,jika perlu


3. Pola nafas tidak efektif
SLKI : Pola nafas
Definisi : Inspirasi dan/atau ekspirasi yang memberikan ventilasi adekuat
Ekspentasi membaik
Kriteria Hasil

Menurun Cukup Sedang Cukup Meningkat


menurun meningkat

Ventilasi 1 2 3 4 5
semenit

Tekanan 1 2 3 4 5
ekspirasi

Tekanan 1 2 3 4 5
Inspirasi

Meningkat Cukup Sedan Cukup Menurun


meningkat g menurun

Penggunaan 1 2 3 4 5
otot bantu
nafas

Pemanjangan 1 2 3 4 5
fase
ekspirasi

Pernafasaan 1 2 3 4 5
cuping
hidung

Memburuk Cukup Sedang Cukup Meningkat


Memburuk meningkat

Frekuensi 1 2 3 4 5
nafas

Kedalama 1 2 3 4 5
n nafas

Ekskursi 1 2 3 4 5
dada

DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: FKUI.
Depkes RI., 2010. Pedoman Nasional penanggulangan Tuberculosis. Jakarta :
Gerdunas TB. Edisi 2 hal 4-6
Chandra B, 2012. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Soemantri A, 2008. Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Kencan Prenada Media Group
FORMAT PENGKAJIAN
PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH IV

Nama Mahasiswa : Hasbunal Nalarsyah


Ruang :
Tanggal Pengkajian : 02-03-2021

1. BIODATA
Nama Pasien : Tn.A
Nama Panggilan : Tn.A
Umur : 45
Jenis Kelamin : Pria
Pendidikan : SMA
Diagnosis Medis : TB paru
Tanggal MRS : 25 Februari 2021
Tanggal Pengkajian : 02 Maret 2021
Alamat : Dsn. kujonmanis, Ds,warujayeng, Kec.
Tanjunganom Kab. Nganjuk
Pekerjaan : Wiraswasta

2. KELUHAN UTAMA
Pasien mengatakan sulit untuk bernafas dan kelelahan, pasien
mengatakan merasakan mual saat makan
3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien masuk RS mulai tanggal 25 Pebruari 2021. Pernafasan 30 x/mnt,
dan terdapat haemoptoe, ronchi pada kanan dan kiri paru, produksi
sputum banyak, indeks massa tubuh 16, pucat dan terlihat sesak serta
kelelahan. Pasien terlihat kesulitan untuk bernafas dan terlihat adanya
penggunaan otot bantu pernafasan antara lain adanya retraksi intercostae,
retraksi sternum.Pasien merasa mual muntah ketika makan, dan sering
menolak makanan yang disediakan RS.
4. RIWAYAT PENYAKIT MASALALU
Pasien mengatakan pernah kontak dengan temannya yang terkena tb paru

5. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Pasien mengatakan kalau keluarga nya tidak memiliki riwayat penyakit
tbc

GENOGRAM
Keterangan :

: Pria

: Wanita

:Meninggal

: pasien

: Serumah

6. DATA PSIKOSOSIAL SPIRITUAL


a. Pola Komunikasi : Tn.A mengatakan komunikasi dengan
keluarga seperti biasa
b. Interaksi Sosisal : interaksi dengan keluarga maupun dengan
saudara dan perawat cukup baik, selalu memberikan umpan balik
pada saat di ajak untuk berinteraksi
c. Spiritual : Tn.A beragama islam, dia juga menjalankan ibadah
sholat 5 waktu.

7. POLA SEHARI-HARI (RUMAH DAN RUMAH SAKIT)


a. NUTRISI
Di Rumah Di Rumah Sakit
Pasien mengatakan jarang Pasien sering menolak makanan
makan di rumah karna sering yang di berikan di rumah sakit
merasakan mual dan muntah

b. ISTIRAHAT TIDUR
Di Rumah Di Rumah Sakit
8jam/hari 4-5jam/hari

c. ELIMINASI
 BAB
Di Rumah Di Rumah Sakit
3x/hari 1x/hari

 BAK
Di Rumah Di Rumah Sakit
7x/hari Sering

d. KEBERSIHAN DIRI DAN SEKSUAL


Di Rumah Di Rumah Sakit
Mandi 2x/hari Mandi 1x/hari

8. KEADAAN/PENAMPILAN UMUM PASIEN


Pasien tampak pucat kelelahan, kesulitan bernafas
9. TANDA-TANDA VITAL
Suhu Tubuh : 360C
Denyut Nadi : 90x/menit
Tekana Darah : 120/80
Pernafasan : 30x/menit
TB/BB : 160/44
10. PEMERIKSAAN FISIK
a. Pemeriksaan Kepala Dan Leher
1. Kepala : tidak ada lesi, tidak ada luka, bentuk normal,
pertumbuha rambut merata dan bersih
2. Mata : pupil bereaksi terhadap cahaya, konjungtiva anemis,
3. Hidung : Bentuk hidung normal
4. Mulut : Bentuk normal
5. Telinga : tidak ada cairan pada telinga, bentuk normal dan
simetris, tidak ada luka maupun benjolan pada telinga,
pendengaran normal
6. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid maupun vena
jugularis, tidak ada benjolan, efek menelan normal, tidak ada nyeri,
dan bentuk normal simetris
b. Pemeriksaan Integumen/Kulit dan kuku
Tidak terdapat luka dibagian permukaan tubuh
c. Pemeriksaan Payudara dan Ketiak
Payudara normal tidak ada nyeri, tidak ada benjolan, pertumbuhan
rambut pada ketiak merata tidak ada masalah tidak ada benjolan
pada ketiak maupun luka

d. Pemeriksaan Thorax/Dada
- THORAX
- PARU-PARU
ronchi pada kanan dan kiri paru
- JANTUNG
e. Pemeriksaan Abdomen
Abdomen simetris, perut berbentuk datar, tidak ada lesi, tidak asites,
tidak ada jejas dan luka, peristaltik usus 10x/menit, bunyi tympani,
pasien tampak mual di bagian perut ketika makan , pasien juga
sering mumuntahkan makanan nya
f. Pemeriksaan Kelamin dan Sekitarnya
- GENETALIA
Inspeksi :
-Kebersihan genetalia : tampak bersih
- ANUS
g. Pemeriksaan Musculoskeletal
Inspeksi:
-Persebaran warna kulit ekstremitasatas dan bawah merata-
Ekstremitas atas dan bawah simetris
-Tidak ada kelainan bentuk
-Tidak terdapat lesi pada ektermitas atas dan bawah
- Terpasang infus di bagian ekstremitas atas

Palpasi:
-Tidak terdapat nyeri tekan pada ekstremitas atas dan bawah.
-Saat dilakukan palpasi pada daerah pretibial, kulit dapat kembali
dengan cepat

h. Pemeriksaan Neurologi
i. Pemeriksaan Status Mental

11. PEMERIKSAAN PENUNJANG MEDIS


Pemeriksaaan diagnostic : Rogten Thorak, Ct-Scan, Pemeriksaan
Laboratorium
12. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI
13. HARAPAN PASIEN/KELUARGA SEHUBUNGAN DENGAN
MASALAH
Pasien dan keluarga mengatakan supaya lekas membaik masalah
kesehatan ini
14. DISCHARGE PLANNING
Pasien mengatakan ingin cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas
seperti kehidupan biasanya
ANALISA DATA
NAMA PASIEN : Tn.A
DIAGNOSA MEDIS: TB . Paru
NO KELOMPOK DATA KEMUNGKINAN Masalah
PENYEBAB
1. Ds: Penyebaran ke saluran Defisit
Nutrisi
-Pasien mengatakan pencernaan
sering memutahkan
makanan setelah makan
-Pasien mengatakan Lambung
lemas,dan kelelahan

Do : HCL
-Pasien terlihat pucat
-Pasien terlihat enggan
makan , ketika sudah Mual mutah anoreksia
makan sering
memutahkan
makanananya DEFISIT NUTRISI

-pasien terlihat lemas ,


dan letih
-
2. Ds : Produksi secret Bersihan jalan
nafas tidak efektif
-Pasien Tampak terlihat berlebih
sesak
Do : Sumbatan secret
-Paru Paru kanan kiri
Ronchi
Bersihan jalan
-pasien tampak kesulitan nafas tidak efektif
bernafas
-Pasien hidung dan mulut
bagian dalam tampak ada
sumbatan secret
DAFTAR PRIORITAS MASALAH
NAMA PASIEN : Tn.A
DIAGNOSA MEDIS: TB.Paru
NO DIAGNOSA TANGGAL TANGGAL TTD
URUT KEPERAWATAN MUNCUL TERATASI
1. Defisit nutrisi b.d 25 februari 04 – maret –
faktor psikologis 2021 2021
keeganan untuk
makan d.d berat
badan menurun,
bising usus
meningkat,Nafsu
makan menurun
2. Bersihan Jalan nafas 25 februari 04 – maret –
tidak efektif b.d 2021 2021
spasme jalan nafas d.d
sputum berlebih
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
NAMA PASIEN : Tn.A
DIAGNOSA MEDIS: TB. Paru
N DIAGNOS TUJUAN DAN INTERVENSI DAN TTD
O A KRITERIA TINDAKAN
HASIL
1. Defisit Setelah dilakukan Observasi :
nutrisi tindakan -Identifikasi status
keperawatan selama nutrisi
2x 24 jam -Identifikasi alergi
diharapkan dan intolenransi
Membaik dengan makanan
kriteria hasil : -Identifikasi kalori
- Porsi makan yang dan jenis nutrient
di habis kan
Meningkat (5) Terapeutik
-Verbilisasi - Sajikan makanan
keinginan untuk secara menarik
meningkatkan - berikan makanan
nutrisi meningkat berserat untuk
(5) mencegah konstipasi
-Sikap makanan/ - Berikan makanan
minuman sesuai tinggi kalori dan
dengan tujuan protein
kesehatan meningkat
(5) Edukasi
- - Anjurkan posisi
duduk
- ajarkan diet yang di
programkan

Kolaborasi
-Kolaborasi dengan
ahli gizi
2. Bersihan Setelah dilakukan Observasi
jalan nafas tindakan -Monitor pola nafas
tidak efektif keperawatan selama -Monitor bunyi nafas
2x 24 jam tambahan
diharapkan -monitor sputum
Meningkat dengan ( jumlah,warna,aroma
kriteria hasil : )
-Batuk efektif
meningkat (5) Terapeutik
- Produksi sputum -Posisikan semi
menurun (5) fowler atau fowler
-Frekuensi nafas -berikan minuman
membaik (5) hangat
-Pola nafas -lakukan penghisapan
Membaik (5) lendir kurang dari 15
detik
-Berikan oksigen,jika
perlu

Edukasi
-Anjurkan teknik
batuk efektif

Kolaborasi
-Kolaborasi
pemberian
bronkodilator
CATATAN TINDAKAN KEPERAWATAN
NAMA PASIEN : Tn.A
DIAGNOSA MEDIS:TB.Paru
NO NO TANGGAL JENIS TINDAKAN TTD
DIAGNOSA PELAKSANAA
N
1. 1 03-03-2021 - Berikan makanan
tinggi kalori dan
protein
- Fasilitasi pedoman
diet ( piramida
makanan)
- Berikan makanan
tinggi serat
2. 2 03-03-2021 - Monitor sputum
- Batuk efektif
CATATAN PERKEMBANGAN
NAMA PASIEN : Tn.A
DIAGNOSA MEDIS : Tb.Paru
NO NO TGL/JA CATATAN PERKEMBANGAN TTD
DIAG. M
1. 1. 03-03- S:
2021 -Pasien mengatakan tidak nafsu makan
Jam -Px Mengatakan mual dan muntah saat
08.00 makan

O:
- Pasien tampak menolak makanan
dari rumah sakit

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intevensi
- Identifikasi status nutrisi
- Monitor asupan makanan
- Berikan makanan tinggi kalori dan
protein
- Berikan suplemen makanan

2. 1 04-03- S:
2021 -Pasien mengatakan mulai nafsu
08.00
O:
- Pasien tampak mulai memakan
makanan yang di sajikan di rumah
sakit meski belum di habiskan

A : Masalah teratasi

P : Hentikan intervensi
3 2 03-03- S:
2021 - Pasien mengatakan sulit untuk
09.00 bernafas
- Pasien mengatakan kalau batuk
keluar dahak

O:
- Pasien tampak kesulitan bernafas
- Produksi sputum meningkat

A : Masalah Belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi
-Monitor sputum
-Ajarkan teknik batuk efektif
-Posisikan semi fowler atau fowler