Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN MINGGUAN

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI PANGAN

ACARA VIII
TEKNIK AGITASI PADA PEMBUATAN WINE

OLEH:
KELOMPOK X

GIAN KASWARI (J1A018053)


HERNA MELINDA PUTRI (J1A018055)
I GUSTI AYU PURNAMA RANI SWATI (J1A018057)
INDAH NAHDIAT ISRORI (J1A018059)
INTAN FATIYAH (J1A018060)
KURATUL AINI (J1A018061)

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2020
ACARA VIII
TEKNIK AGITASI PADA PEMBUATAN WINE

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Mikroorganisme memerlukan udara untuk tumbuh. Oleh karena itu,
agitasi sangat diperlukan untuk meningkatkan solubilitas oksigen dalam medium
tumbuh selama proses kultur mikroorganisme. Agitasi atau pengadukan berfungsi
dalam pemindahan oksigen dari fase gas ke sel mikroba. Viskositas medium juga
dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut, sehingga diperlukan agitasi yang
lebih kuat. Penambahan agen antifoaming kemungkinan diperlukan dalam proses
agitasi, karena proses agitasi dapat memunculkan gelembung busa sangat tinggi.
Munculnya gelembung busa ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas
enzim. Kadar oksigen terlarut untuk 7-10 ppm, merupakan kadar oksigen yang
tepat untuk tumbuh mikroorganisme, guna untuk meningkatkan kadar oksigen
terlarut dapat dilakukan dengan aerasi dan agitasi dalam fermentor (Susanti,
2017).
Wine telah lama dikenal dalam peradaban reolitik dan dalam sejarah
peradaban. Zaman modern, wine dikonsumsi terutama oleh mereka yang tinggal
dinegara empat musim. Negara Indonesia, hanya mengonsumsi wine secara
terbatas pada kalangan tertentu saj. Beberapa bukti akan manfaat kesegaran wine
dari buah anggur yaitu dapat menghangatkan tubuh dan mengobati sejumlah
penyakit seperti kanker, jantung, stroke, dan lainnya. Ethanol merupakan penciri
utama wine, namun keunikan kimiawi, kenampakan fisik, cita rasa, aroma, kesan
yang tercipta dimulut, serta efek nutrasetikl dari satu dengan lain wine terletak
pada susunan zat kimia pada setiap wine (Agustina, 2007).
Khamir adalah mikrooorganisme yang melakukan fementasi jus buah
menjadi wine. Khamir yang umum digunakan dalam fermentasi adalah
Saccharomyces sp. Khamir ini akan mengubah gula menjadi alkohol dan CO 2.
Dalam perombakan ini diperlukan pula nutrien yang mendukung pertumbuhan
khamir, jika tidak tersedia pada bahan baku. Bahan yang umum dtambahkan
adalah amonium fosfat sebagai sumber nitrogen. Oleh karena itu, penting
dilakukan praktikum ini untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh agitasi
terhadap pertumbuhan starter dan sifat organoleptik wine nanas.

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan
mempelajari pengaruh agitasi terhadap pertumbuhan starter dan sifat organoleptik
wine nanas.
TINJAUAN PUSTAKA

Wine merupakan minuman beralkohol yang biasanya terbuat dari jus anggur
yang difermentasi. Keseimbangan sifat alani yang terkandung pada buah anggur
menyebabkan buah tersebut dapat difermentasi tanpa penambahan gula, asam,
enzim, ataupun nutrisi lain. Wine dibuat dengan cara memfermentasi jus buah
anggur menggunakan khamir dari tipe tertentu. Yeast tersebut akan
mengkonsumsi kandungan gula yang ada pada buah anggur dan mengubahnya
menjadi alkohol. Perbedaan varietas anggur dan strain khamir yang digunak:an,
tergantung pada tipe dari wine yang akan diproduksi (Yasa, 2001).
Dalam industri pengolahan makanan, buah-buahan biasanya diolah menjadi
manisan dan jus, buah-buahan juga dapat diekstrak dan difermentasi menjadi
wine. Wine adalah minuman beralkohol yang dibuat dari jus buah, terutama
anggur yang difermentasi dengan bantuan yeast atau khamir. Wine yang dibuat
dari buah-buahan dikenal dengan nama fruity wine atau anggur buah (fardiaz,
1989).
Selain menggunakan buah anggur, minuman wine juga dapat dibuat dari
buah-buahan lain yang banyak mengandung gula, seperti apel, berry, lengkeng,
ataupun nenas. Penamaan minuman anggur atau wine yang dibuat dari selain buah
anggur biasanya menyertakan nama buah yang digunakan, seperti wine apel,
ataupun wine berry dan secara umum disebut dengan Fruity wine, sedangkan jika
wine terbuat dari bahan pangan yang mengandung pati, seperti beras dan gandum,
maka wine tersebut lebih dikenal dengan istilah minuman Sake (barley wine atau
rice wine). Minuman wine yang dibuat dari bahan baku jahe dikenal dengan
sebutan Brandy (kanlan, 2009).
Pengolahan wine tidak menggunakan pengaturan pH awal fermentasi
sebagai salah satu faktor penentu daya kerja khamir sebagai starter. pH awal
fermentasi selain untuk kesesuaian adaptasi yeast, juga berfungsi sebagai faktor
penyeleksi pertumbuhan khamir yang diperlukan dalam fermentasi wine. pH pada
proses fermentasi wine sangat mempengaruhi pertumbuhan khamir. Hal ini
menunjukkan bahwa pengaturan pH dan jenis khamir pada dried yeast khusus
wine yang digunakan pada pembuatan wine sangat mempengaruhi karakteristik
wine berupa cita rasa dan kestabilan wine yang diproduksi. Berdasarkan hal
tersebut, penelitian dilaksanakan berdasarkan kombinasi perlakuan antara
berbagai merek dried yeast (Saccharomyces sp.) dengan perlakuan pH awal
fermentasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap karakteristik wine
(Lohenapessy, 2017).
Fermentasi dengan perlakuan agitasi dapat menghasilkan etanol yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kondisi fermentasi tanpa agitasi. Agitasi adalah
adukan atau gerakan turbulensi ringan yang terjadi pada bubuk-bubuk kopi saat
penyeduhan. Proses pengadukan ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik
dengan memakai alat seperti stirrer, maupun tidak. Perlakuan agitasi bertujuan
untuk menghomogenkan media fermentasi (Jayus, 2016).
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa, 24 november 2020 di


laboratorium Mikrobiologo Pangan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri.

Alat dan Bahan Praktikum

a. Alat-alat Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu botol steril
kapas 1 L, erlenmeyer 500 mL, gelas piala 1 L, kain paris, panic tahan karat,
pisau tahan karat, selang plastic diameter 0,5 cm, Shaking incubator dan
kompor, waring blender.
b. Bahan-bahan Praktikum
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu Air
matang (3 L), asam sitrat (300 mL), buah nanas (3 kg), fermifan (1 bungkus),
gula pasir (1 kg), ragi tempe NKL (1 bungkus).

Prosedur Kerja

Buah nanas dicuci bersih, dibelah, dan


dipotong kecil-kecil

Dihancurkan dengan waring blender

Ditambahkan air matang (1:1)

Diperas dengan kain saring

Cairan buah dipanaskan dengan suhu 70oC

Diatur pH filtrate dengan asam sitrat (pH 3-4)


Ditambahkan gula pasir 10 % (b/v)

Dipanaskan pada suhu 70oC selama 20 menit

Dimasukkan dalam botol steril

Didinginkan sampai suhu kamar

Ditambahkan starter

Diinkubasi pada suhu kamar selama 4


minggu menggunakan shaking incubator
dengan kecepatan dan putaran berbeda
(tapa shakng, 150 rpm, 300 rpm)

Dilakukan pengamatan pada minggu ke 2,


3, dan 4. Variable yang diamati meliputi
warna, bau, rasa, dan adanya gelembung

HASIL PENGAMATAN DAN


PERHITUNGAN

Hasil Pengamatan
Tabel 8.1 Hasil Pengamatan Pengaruh Agitasi Terhadap Pembuatan Wine
Parameter
Panelis Jumlah Rerata
Warna Kekompakan Aroma
0 150 200 0 150 200 0 150 200
Rp rpm rpm rpm rpm rpm rpm rpm rpm
m
Arin 1 2 3 1 3 4 3 2 3 22 2.44
Adimah 1 2 3 1 3 4 1 2 3 20 2.22
Diny 1 4 3 1 3 4 3 2 4 25 2.78
Lia 1 3 3 1 3 4 2 3 4 24 2.67
Ayudia 1 3 4 2 3 4 2 3 4 26 2.89
Wiwik 1 3 3 1 3 4 2 3 4 24 2.67
Widi 1 3 3 1 4 4 4 3 3 26 2.89
Sri 1 3 2 3 4 4 3 3 4 27 3.00
Rika 2 3 4 1 4 4 2 4 1 25 2.78
Nora 1 2 1 2 4 4 4 3 4 25 2.78
Ros 1 2 2 2 4 4 2 3 4 24 2.67
Eni 1 3 4 1 3 4 3 4 2 25 2.78
Awan 2 4 3 2 4 4 3 3 2 27 3.00
Ayu 1 2 3 1 3 4 2 3 4 23 2.56
Lina 1 2 3 1 3 4 2 3 1 20 2.22
Mimi 3 3 4 3 5 5 3 3 5 34 3.78
Asri 1 3 4 1 3 4 2 3 3 24 2.67
Dian 1 2 4 1 3 4 2 3 3 23 2.56
Warda 1 2 3 1 3 4 2 3 4 23 2.56
Susi 2 2 3 1 3 4 2 3 4 24 2.67
Jumlah 25 53 62 28 68 81 49 59 66 491
Rerata 1.25 2.65 3.1 1.4 3.4 4.05 2.45 2.95 3.3

Keterangan:

Warna Aroma Kerapatan

1= Kuning muda 1= Jernih/bening 1= Busuk


2= Kuning 2= Tidak keruh 2= Tidak beraroma alkohol
3= Kuning Tua 3= Agak keruh 3= Agak Beraroma alkohol
4= Kuning Kecokelatan 4= Keruh 4= Beraroma alkohol
5= Cokelat 5= Sangat keruh 5= Sangat beraroma alkholol

Hasil Perhitungan
1) Pengamatan Pengaruh Agitasi Terhadap Pembuatan Wine
a. Uji Warna
1. Uji Anova Warna
Tabel 8.2 ANOVA Warna Wine

SK DB JK KT Fhit Ftab Signifikansi


Perlakuan 2 37.23 18.61 40.65 3.15 S
Galat 57 26.1 0.457
Total 59 63.33
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil uji ANOVA Fhit>Ftabel, maka H 0 tersebut
ditolak. Artinya terdapat pengaruh yang berbeda nyata (signifikan)
terhadap warna yang dihasilkan.
2. Uji lanjut BNJ warna
Tabel 8.3 Signifikansi BNJ Warna Wine
Rank Mean name Mean n Non-signikansi Range
1 200 rpm 3,1 20 a
2 150 rpm 2,65 20 a
3 0 rpm 1,25 20 b
Kesimpulan:
1. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 200 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 150 rpm terhadap warna wine yang
dihasilkan, namun berbeda nyata dengan kecepatan 0 rpm terhadap
warna wine yang dihasilkan.
2. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 150 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 200 rpm terhadap warna wine yang
dihasilkan, namun berbeda nyata dengan kecepatan 0 rpm terhadap
warna wine yang dihasilkan.
3. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 0 rpm berbeda nyata dengan
perlakuan kecepatan 200 rpm dan 150 rpm terhadap warna wine
yang dihasilkan.

b. Uji Kekompakan
1. Uji Anova Kekompakan
Tabel 8.4 ANOVA Kekompakan Wine
SK DB JK KT Fhit Ftab Signifikansi
Perlakuan 2 76.3 38.15 131.39 3.15 S
Galat 57 16.55 0.290
Total 59 92.85
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil uji ANOVA Fhit>Ftabel, maka H 0 tersebut
ditolak. Artinya terdapat pengaruh yang berbeda nyata (signifikan)
terhadap Kekompakan yang dihasilkan.
2. Uji lanjut BNJ Kekompakan
Tabel 8.5 Signifikansi BNJ Kekompakan Wine
Rank Mean name Mean n Non-signikansi Range
1 200 rpm 4,05 20 a
2 150 rpm 3,4 20 a
3 0 rpm 1,4 20 b
Kesimpulan:
1. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 200 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 150 rpm terhadap kekompakan wine
yang dihasilkan, namun berbeda nyata dengan kecepatan 0 rpm
terhadap kekompakan wine yang dihasilkan.
2. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 150 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 200 rpm terhadap kekompakan wine
yang dihasilkan, namun berbeda nyata dengan kecepatan 0 rpm
terhadap kekompakan wine yang dihasilkan.
3. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 0 rpm berbeda nyata dengan
perlakuan kecepatan 200 rpm dan 150 rpm terhadap kekompakan
wine yang dihasilkan.

c. Uji Aroma
1. Uji Anova Aroma
Tabel 8.6 ANOVA Aroma Wine

SK DB JK KT Fhit Ftab Signifikansi


Perlakuan 2 7.3 3.65 5.46 3.15 S
Galat 57 38.1 0.668
Total 59 45.4
Kesimpulan:
Berdasarkan hasil uji ANOVA Fhit>Ftabel, maka H 0 tersebut
ditolak. Artinya terdapat pengaruh yang berbeda nyata (signifikan)
terhadap Kekompakan yang dihasilkan.
2. Uji lanjut BNJ Aroma
Tabel 8.7 Signifikansi BNJ Kekompakan Wine
Rank Mean name Mean n Non-signikansi Range
1 200 rpm 3,3 20 a
2 150 rpm 2,95 20 ab
3 0 rpm 2,45 20 b
Kesimpulan:
1. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 200 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 150 rpm terhadap aroma wine yang
dihasilkan, namun berbeda nyata dengan kecepatan 0 rpm terhadap
aroma wine yang dihasilkan.
2. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 150 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 200 rpm dan 0 rpm terhadap aroma
wine yang dihasilkan.
3. Perlakuan agitasi dengan kecepatan 0 rpm tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kecepatan 150 rpm terhadap aroma wine yang
dihasilkan, namun berbeda nyata dengan kecepatan 200 rpm
terhadap aroma wine yang dihasilkan.
PEMBAHASAN

Wine adalah sejenis minuman yang mengandung alkohol 8-15% dan


dibuat dengan cara fermentasi sari anggur atau buah-buahan lain. Karakteristik
dan mutu wine ditentukan oleh komposisi bahan baku, proses fermentasi, dan
perubahan-perubahan yang terjadi baik alami atau disengaja dalam periode setelah
fermentasi selesai. Apabila konsentrasi gulanya kurang dari 14 b/b, harus
ditambahkan gula untuk mengganti kekurangan kandungan gula. Selain
karakteristik buah, nilai pH, kandungan nitrogen, faktor lain yang perlu
diperhatikan selama proses fermentasi adalah konsentrasi awal gula, temperatur
fermentasi, konsentrasi CO2, dan jenis yeast. Strain ragi Saccharomyces
cerevisiae adalah salah satu yang digunakan dalam pembuatan wine (Rankine,
1998).
Proses pembuatan wine membutuhkan pengadukan yang baik atau agitasi
untuk menghasilkan uang yang diinginkan. Keberhasilan suatu proses pengolahan
sering bergantung pada efektivitas pengadukan dan pencampuran zat cair dalam
proses fermentasi. Agitasi merupakan pemberian gerakan tertentu yang
menimbulkan reduksi gerakan pada bahan yang terjadi pada suatu tempat seperti
bejana. Akibat yang ditimbulkan dari operasi pengadukan yaitu terjadinya
pencampuran dari satu atau lebih komponen. Tujuan dari pengadukan yaitu
membuat suspensi, blending, dispersi dan mendorong terjadinya transfer panas
dari bahan ke dinding tangki.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu nanas, gula pasir, starter
atau ragi dan asam sitrat. Nanas merupakan salah satu buah yang kaya akan
karbohidrat serta terdiri atas beberapa gula sederhana misalnya sukrosa, fruktosa
dan glukosa. Selain itu, nenas juga mengandung gula, vitamin A, vitamin C dan
juga mineral. Pada pembuatan wine apabila jumlah kandungan gula pada bahan
baku tidak mencukupi maka sering ditambahkan dengan gula pasir. Dimana
tujuan penambahan gula ini yaitu untuk memperoleh kadar alkohol yang tinggi,
dengan konsentrasi gula optimum 28% dan terbaik 16%. Pada pembuatan wine,
pembentukan alkohol terjadi akibat perombakan gula seperti glukosa dan fruktosa
oleh enzim zymase yang berasal dari khamir Saccharomyces ellipsoidens, S.
apiculatus atau Saccharomyces lainnya yang secara alami terjadi pada buah dan
proses tersebut akan berlangsung lebih cepat pada sari buah. Glukosa digunakan
sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhan khamir dan pembentukan alkohol sebagai
produk feremntasi. Ketika semakin besar jumlah pengurangan glukosa, maka alkohol
yang terbentuk juga akan semakin tinggi. Selain itu, ditambahkan pula asam sitrat
yang berfungsi sebagai pengawet dan untuk mempertahankan warna wine yang
dihasilkan.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan terhadap warna, aroma, dan
kekompakan wine diperoleh hasil yang berbeda-beda pada setiap perlakuan.
Berdasarkan hasil uji ANOVA warna wine diketahui bahwa Fhitung > Ftabel
sehingga Ho ditolak. Artinya terdapat pengaruh yang nyata antara perlakuan
dengan warna wine yang dihasilkan. Karena menghasilkan hasil yang signifikan
maka dilakukan uji lanjut (BNJ). Berdasarkan hasil uji lanjut diketahui bahwa
perlakuan agitasi dengan kecepatan 200 rpm memberikan hasil terbaik dengan
rata-rata tertinggi yaitu 3,1 dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan 150 rpm,
namun berbeda nyata dengan perlakuan 0 rpm. Perlakuan 150 rpm memiliki rata-
rata 2,61 yang memberikan hasil berbeda nyata dengan 0 rpm. Perlakuan 0 rpm
memiliki rerata terendah dengan rata-rata yaitu 1,25. Untuk hasil uji ANOVA
kekompakan wine diketahui bahwa Fhitung > Ftabel sehingga Ho ditolak. Artinya
terdapat pengaruh yang nyata antara perlakuan dengan warna wine yang
dihasilkan. Karena menghasilkan hasil yang signifikan maka dilakukan uji lanjut
(BNJ). Berdasarkan hasil uji lanjut diketahui bahwa perlakuan agitasi dengan
kecepatan 200 rpm memberikan hasil terbaik dengan rata-rata tertinggi yaitu 4,05
dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan 150 rpm, namun berbeda nyata dengan
perlakuan 0 rpm. Perlakuan 150 rpm memiliki rata-rata 3,4 yang memberikan
hasil berbeda nyata dengan 0 rpm. Perlakuan 0 rpm memiliki rerata terendah
dengan rata-rata yaitu 1,4. Untuk hasil uji ANOVA aroma wine diketahui bahwa
Fhitung > Ftabel sehingga Ho ditolak. Artinya terdapat pengaruh yang nyata
antara perlakuan dengan warna wine yang dihasilkan. Karena menghasilkan hasil
yang signifikan maka dilakukan uji lanjut (BNJ). Berdasarkan hasil uji lanjut
diketahui bahwa perlakuan agitasi dengan kecepatan 200 rpm memberikan hasil
terbaik dengan rata-rata tertinggi yaitu 3,3 dan tidak berbeda nyata dengan
perlakuan 150 rpm, namun berbeda nyata dengan perlakuan 0 rpm. Perlakuan 150
rpm memiliki rata-rata 2,95 yang memberikan hasil berbeda nyata dengan 0 rpm.
Perlakuan 0 rpm memiliki rerata terendah dengan rata-rata yaitu 2,45.
Berdasarkan pengamatan dan perhitungan maka dapat diketahui bahwa
kecepatan yang paling baik dalam menghasilkan warna, kekompakan, dan aroma
wine nanas adalah kecepatan 200 rpm. Hal ini sesuai dengan literature Cempaka
(2015) yang menyatakan bahwa agitasi berperan untuk menaikkan kecepatan
kelarutan oksigen, mempercepat transfer nutrien dan oksigen ke dalam sel, serta
menyebar dan menghomogenkan cairan fermentasi, sehingga agitasi perlu
dilakukan untuk mengoptimalkan hasil fermentasi. Semakin besar putaran per
menit pada proses agitasi maka laju pertumbuhan sel akan semakin tinggi,
sehingga hasil fermentasi yang didapatkan akan maksimal. Namun pengadukan
yang terlalu kuat dapat menyebabkan starter mati sehingga dapat menurunkan
kualitas wine.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu wine yakni agitasi, pH, nutrien,
temperatur dan oksigen. Agitasi digunakan untuk menyebar dan
menghomogenkan cairan fermentasi agar media cair lebih homogen pada
fermentasi aerobic. pH dari media sangat mempengaruhi pertumbuhan karena
setiap mikroorganisme mempunyai pH minimal, maksimal dan optimal untuk
pertumbuhannya. Nutrient merupakan makanan yang diperlukan mikroorganisme
untuk pertumbuhannya yang meliputi unsur C, H, P dan K. Temperatur
merupakan salah satu faktor yang penting karena mikroorgaisme mempunyai
temperatur maksimal, optimal dan minimal untuk pertumbuhannya. Oksigen juga
merupakan faktor yang penting karena setiap mikroorganisme memiliki
kemampuan yang berbeda dalam mempergunakan oksigen bebas.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat ditarik


beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Wine adalah sejenis minuman yang mengandung alkohol 8-15% dan dibuat
dengan cara fermentasi sari anggur atau buah-buahan lain.
2. Pada pembuatan wine, pembentukan alkohol terjadi akibat perombakan gula
seperti glukosa dan fruktosa oleh enzim zymase yang berasal dari khamir
Saccharomyces ellipsoidens, S. apiculatus atau Saccharomyces lainnya
3. Tujuan dari agitasi atau pengadukan adalah untuk membuat suspensi, blending,
dispersi dan mendorong terjadinya transfer panas dari bahan ke dinding tangki.
4. Berdasarkan pengamatan dan perhitungan maka dapat diketahui bahwa
perlakuan kecepatan yang paling baik dalam menghasilkan warna,
kekompakan, dan aroma wine nanas adalah kecepatan 200 rpm.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu wine yakni agitasi, pH, nutrien,
temperatur dan oksigen.
Daftar Pustaka

Agustina, 2007. Mikrobiologi Industri. Penerbit Pendi. Yogyakarta.

Cempaka, L., 2015. Pengaruh Variasi Kecepatan Agitasi pada Produksi β-glukan
dari Saccharomyces cerevisiae. Al-Kauniyah Jurnal Biologi. 8(1): 21-26.

Jayus, Jay., Noorvita, Iga, Vivin., Nurhayati, Nurhayati. 2017. Produksi Bioetanol
Oleh Saccharomyces Cerevisiae FNCC 3210 Pada Media Molases
dengan Kecepatan Agitasi dan Aerasi yang Berbeda. Jurnal
Agroteknologi. 10(2): 184-192.

Lohenapessy, Stefani., Gunam, Ida, B, W., Arnata, Wayan, I. 2017. Pengaruh


Berbagai Merek Dried Yeast (Saccharomyces sp.) dan pH Awal
Fermentasi Terhadap Karakteristik Wine Salak Bali. Jurnal Teknologi
Industri dan Hasil pertanian. 22(2): 63-72.

Mataram. Kandan. 2009. Bioindustri. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Rahmadi, anton, dkk. 2008. Bakteri Asam Laktat dan Mandai Cempedak.
Universitas Mulawarman Press. Samarinda.

Rankine, B., 1998. Making Good Wine: A Manual of Winemaking Praktice for
Australia and New Zealand. The Macmillan Company. Australia.

Susanti, R., dan Fidia, F., 2017. Teknologi Enzim. CV Andi Offse t. Yogyakarta.

Yasa, I.W.S. 2001. Teknologi Fermentasi. Universitas Mataram Press.