Anda di halaman 1dari 15

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN GEOSAINS PRODI GEOLOGI

LAPORAN PRAKTIKUM MINERAL OPTIK DAN PETROGRAFI

MINGGU 2 : Plane Polarized Light (PPL) dan Cross Polarized Light (XPL)

Disusun oleh :

Azky Ramaniya Sukardi


1806198692
MINOP B
Kamis, 17.00

Asisten Praktikum :
Dinda Savira

DEPOK

2020

A PENJELASAN MENGENAI SIFAT-SIFAT OPTIK


Plane Polarised Light atau yang dapat disingkat dengan istilah “PPL” merupakan pengamatan yang hanya
mengunakan satu polarisator atau dengan kata lain tidak menggunakan analisator.. PPL dapat juga diartikan
sebagai sebuah istilah yang digunakan untuk gelombang yang dipolarisasikan atau dipusatkan ke satu objek
dengan arah perambatan hanya pada satu sumbu saja (Nesse, 1991).
Cahaya merupakan gelombang yang memiliki arah getar ke seluruh penjuru dari sumber
cahaya. Cahaya yang bergetar ke semua arah disebut dengan cahaya tak terpolarisasi (Nesse,
1991). Cahaya dapat dipolarisasikan melalui beberapa cara, yaitu selective absorption, double
refraction, dan scattering. Mikroskop polarisasi menggunakan metode selective absorption yang
mana hanya cahaya dengan orientasi tertentu saja yang dapat melalui suatu medium, sedangkan
sisanya diserap oleh medium tersebut.

Ilustrasi (a) cahaya tak terpolarisasi dan (b) cahaya terpolarisasi (Nesse, 1991)

Berikut adalah sifat-sifat optis mineral penyusun batuan dalam pengamatan PPL:
A. Ukuran mineral
Ukuran mineral adalah seberapa besar mineral yang diamati dibawah mikroskop. Terdapat
cross line pada lensa objektif mikroskop yang memiliki skala tertentu untuk mengukur ukuran
mineral tetapi tidak cukup akurat mengingat ukuran mineral yang sangat kecil. Pengukuran ini
dapat digunakan untuk menentukan mana yang merupakan fenokris dan mana yang merupakan
massa dasar (Chaerul, 2017).
Ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam millimeter (mm) atau dalam
centimeter (cm) dan sebagainya (Judith, 1981: 93). Pengukuran ini dapat dilakukan secara
langsung menggunakan penggaris untuk mineral-mineral yang berukuran besar atau dapat juga
menggunakan skala yang tertera pada cross hair pada bagian lensa okuler mikroskop untuk
mineral yang ukurannya lebih kecil.
B. Bentuk mineral
Bentuk suatu mineral dapat ditentukan berdasarkan batas-batas mineral tersebut, dimana hal
tersebut dapat dingearuhi oleh proses kristalisasi dari mineral tersebut ataupun karena struktur
internal dari atom-atom penyusunnya. Bentuk mineral diamati dengan melihat bidang-bidang
batas ataupun garis batas dari mineral tersebut (Chaerul, 2017).

Bentuk mineral ini dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:


• Euhedral : Suatu mineral dikatakan memiliki bentuk euhedral jika mineral tersebut dibatasi oleh bidang
muka kristalnya sendiri, biasanya merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada awal pembekuan
magma.
• Subhedral : Suatu mineral dikatakan memiliki bentuk subhedral jika mineral tersebut dibatasi oleh
bidang muka kristalnya sendiri dan bidang muka kristal mineral lain.
• Anhedral : Suatu mineral dikatakan memiliki bentuk anhedral jika seluruh tepi mineral dibatasi oleh
bidang muka kristal mineral lain, biasanya merupakan mineral yang terbentuk pada tahap akhir
pembekuan magma.Penjelasan sifat – sifat optik pada pengamatan XPL

Sumber : PPT Praktikum Minop


C. Warna
Warna merupakan pencerminan dari kenampakan daya serap atau absorpsi panjang gelombang dari cahaya
yang masuk pada mineral anisotropik (Chaerul, 2017). Warna merupakan kesan mineral jika terkena cahaya.
Pada dasarnya terdapat dua jenis sifat warna mineral yaitu idiokromatik jika mineral memiliki warna yang tetap
dan allokromatik jika mineral memiliki warna yang bervariasi tergantung pengotornya.

D. Ketembusan Cahaya
Ketembusan cahaya adalah kemampua mineral dalam mentrasmit atau meneruskan cahaya yang masuk.
Dalam pengamatan PPL ada tiga jenis sifat ketembusan cahaya suatu mineral, yaitu:
• Opaque : merupakan mineral-mineral yang tidak dapat mentrasmit cahaya, sehingga pada proses
pengamatan hanya akan terlihat gelap (hitam) dari semua orientasi. Contoh: pirit, galena, kalkopirit,
dll.
• Translucent : merupakan mineral-mineral yang dapat meneruskan cahaya yang masuk, akan tetapi
mineral tersebut tidak tembus pandang dimana hal tersebut dapat dilihat dari warnanya atau
keberadaan dari pengotor. Contoh: tourmaline, kalsedon, dll.
• Transparant : merupakan mineral-mineral yang dapat meneruskan cahaya, dan sekaligus tembus
pandang dimana mineral-mineral tersebut akan menunjukkan kenampakan yang bening atau
colourless pada sayatan tipis. Contoh: Kuarsa, kalsit, muskovit, dll.

Mineral dengan sifat opaque (kanan), translucent (tengah), transparent (kanan) (Dyar et.al., 2008)

E. Belahan
Belahan merupakan kecenderungan suatu mineral untuk pecah di sepanjang bidang yang rata, planar,
dan biasanya bidang tersebut bersifat memantulkan cahaya (Hefferan dan O’Brien, 2010:119). Belahan ini
berkaitan dengan keberadaan dari bidang-bidang lemah pada struktur kristal tersebut. Secara sederhana
belahan pada suatu mineral dapat diidentifikasi berdasarkan tiga aspek yaitu keberadaan permukaan yang
rata dan planar, pemantulan cahaya yang relatif kuat pada bidang tersebut, dan perulangan dari permukaan
yang identik sejajar dengan permukaan tersebut.
Pada pengamatan di bawah mikroskop (metode PPL), belahan dapat dilihat dari adanya rangkaian
retakan-retakan yang sejajar dan sistematis, dimana untuk belahan yang bersifat sempurna akan memiliki
pola yang sejajar dan mudah untuk diketahui. Sementara untuk belahan yang bersifat buruk akan memiliki
ciri khas berupa retakan-retakannn yang berukuran kecil dan membutuhkan pengamatan yang lebih cermat
untuk menemukannya.

Belahan dibagi menjadi tiga yaitu belahan satu arah, belahan dua arah, dan belahan tiga arah.

Sumber : Chaerul, 2017

F. Pecahan
Pecahan merupakan kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur.
Pada dasarnya, identifikasi pecahan dan belahan tidak jauh berbeda yaitu dari adanya retakan-retakan,
namun jika pada belahan retakan tersebut lebih sistematis, pada pecahan retakan tersebut lebih tidak
beraturan dan terkesan berantakan. Selain itu, retakan yang ditimbulkan akibat pecahan ini
tidak dikontrol oleh struktur atom dari mineral tersebut seperti pada belahan.

Sumber : PPT Praktikum Minop

G. Relief
Relief adalah kenampakan mineral yang dilihat dari seberapa menonjolnya ia dengan
sekitarannya. Relief ada disebabkan karena perbedaan indeks refraksi mineral dengan
indeks refraksi lem perekat pada sayatan tipis. Semakin besar perbedaan indeks refraksi,
permukaan mineral akan terlihat kasar. Apabila indeks refraksi sama besar maka permukaan
mineral akan terlihat halus dan jelas (Gribble and Hall, 1985).
sumber: edafologia.ugr.es

H. Pleokroisme
Pleokroisme adalah kenampakan warna mineral yang berubah-ubah ketika sedang berada diantara dua
titik ekstremnya saat mineral diputar. Pleokroisme terjadi karena penyerapan cahaya yang tidak sama
pada mineral karena perbedaan orientasi (Gribble and Hall, 1985).
Secara sederhana, pleokroisme dapat diartikan sebagai perubahan warna mineral ketika stage atau meja
mikroskop diputar. Perubahan warna ini dihasilkan perbedaan tingkat penyerapan cahaya dari tiap sumbu
kristal, sehingga biasanya yang menghasilkan pleokroisme adalah mineral-mineral anisotropik. Secara
umum, pleokroisme dapat dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:
• Trikroik : jika mineral memiliki 3 pleokroisme
• Dikroik : jika mineral memiliki 2 pleokroisme
• Monokroik : jika mineral hanya memiliki 1 pleokroisme (Jelaskan apa yang dimaksud dengan XPL
(Cross Polarized Light), serta jelaskan sifat – sifat optik dari mineral secara teori dan dapat disertai
contoh gambar dari sifat tersebut)

Sumber : ,Modul Praktikum

I. Inklusi
Inklusi adalah penyisipan material asing yang terdapat pada sayatan tipis mineral. Inklusi dibagi
menjadi tiga yaitu inklusi mineral, inklusi fluida, dan inklusi gelas atau lelehan.
Gambar 14 inklusi fluida. sumber: andyyahya.com

Cross polarized light atau XPL adalah sebuah istilah untuk pengamatan mikroskop polarisasi
yang menggunakan polarisator dan analisator yang saling tegak lurus untuk memantulkan cahaya
ke objek. Sifat-sifat optic yang dapat diamati dari pengamatan XPL ini antara lain yaitu:

A. Warna interferensi
Warna interferensi adalah warna dari mineral anisotropic yang diteruskan oleh analisator yang
bergantung pada susunan orientasi kristal yang mempengaruhi arah sinar menembus mineral
(Gribble dan Hall, 1985). Warna interferensi mengacu pada diagram Michel-Levy yang berisikan
kumpulan warna interferensi beserta ordonya.

sumber: researchgate.net

B. Birefringence
Birefringence adalah sifat optic mineral anisotropic ketika indeks biasnya bergantung pada arah sinar polarisasi
yang melewatinya. Dari birefringence ini dihasilkan warna interferensi.
C. Gelapan
Gelapan adalah sifat optic mineral anisotropic ketika mineral menjadi gelap sempurna saat diputar. Selisih sudut
saat mineral menjadi gelap sempurna dan menjadi terang sempurna disebut sudut pemadaman (Gribble dan
Hall, 1985). Berdasarkan sudut gelapannya, gelapan dibagi menjadi tiga, yaitu:

• Gelapan sejajar jika sudut gelapannya 0-5˚


• Gelapan miring jika sudut gelapannya 5-45˚
• Gelapan simetri memiliki sudut gelapan 45˚
D. Kembaran
Kembaran adalah dimana dalam satu mineral terdapat perbedaan sudut pemadaman yang
memiliki kontak planar sehingga terlihat warnanya berselang-seling (Gribble dan Hall, 1985).
Perbedaan tersebut disebabkan karena terjadi interupsi saat proses kristalisasi berlangsung
(Chaerul, 2017).

Sumber : PPT Praktikum MINOP

B DESKRIPSI MINERAL PADA THIN SECTION

1. Mineral Plagioklas
Pada thin section dengan kode P133 untuk PPL memiliki warna colorless. Ukuran mineralnya adalah 3mm.
Mineral ini memiliki relief yang rendah. Form dari mineral ini adalah anhedral. Mineral ini tidak memiliki
belahan . Mineral ini memiliki pecahan. Mineral ini tidak memiliki Pleochroism. Untuk Ketembusan cahaya
dari mineral ini adalah transparent. Mineral ini memiliki inklusi.

Untuk XPL, memiliki warna hitam, abu-abu, putih, dan krem dengan ordonya adalah ordo 1. Mineral ini tidak
memiliki retardation. Mineral ini memiliki extinction dan angle yang simetrical. Mineral ini memiliki twinning
kalsbat-albit. Mineral ini juga memiliki birefringence ordo satu. Dari data diatas bias disimpulkan bahwa
mineral ini adalah Mineral plagioklas.
Ppl,xpl,keeping gips
Sumber ; Dokumentasi pribadi

2. Mineral Amfibol
Pada thin section dengan kode P133 untuk PPL memiliki warna Hijau Tua. Ukuran mineralnya adalah 2 mm.
Mineral ini memiliki relief yang rendah. Form dari mineral ini adalah subhedral. Mineral ini memiliki belahan
. Mineral ini memiliki pecahan. Mineral ini memiliki Pleochroism tetapi lemah. Untuk Ketembusan cahaya
dari mineral ini adalah transluncent. Mineral ini memiliki inklusi tetapi lemah.

Untuk XPL, memiliki warna coklat dengan ordonya adalah ordo 2. Mineral ini tidak memiliki retardation.
Mineral ini memiliki extinction dan angle yang simetrical. Mineral ini tidak memiliki twinning. Mineral ini
juga memiliki birefringence ordo dua. Dari data diatas bias disimpulkan bahwa mineral ini adalah Mineral
Amfibol.

Ppl,xpl,keeping gips
Sumber ; Dokumentasi pribadi

3. Mineral Piroksen
Pada thin section dengan kode P133 untuk PPL memiliki warna Hijau Muda. Ukuran mineralnya adalah 3
mm. Mineral ini memiliki relief yang medium. Form dari mineral ini adalah subhedral. Mineral ini memiliki
belahan . Mineral ini memiliki pecahan. Mineral ini memiliki Pleochroism tetapi lemah. Untuk Ketembusan
cahaya dari mineral ini adalah transluncent. Mineral ini memiliki inklusi.

Untuk XPL, memiliki warna oranye dengan ordonya adalah ordo 2. Mineral ini tidak memiliki retardation.
Mineral ini memiliki extinction dan angle yang simetrical. Mineral ini tidak memiliki twinning. Mineral ini
juga memiliki birefringence ordo dua. Dari data diatas bias disimpulkan bahwa mineral ini adalah Mineral
Amfibol.
Ppl,xpl,keeping gips
Sumber ; Dokumentasi pribadi

C REFERENSI
Chaerul, Muhammad. 2017. Mineral Optik dan Petrografi. Jakarta: YCAB Publisher.
MacKenzie, W.S., Adams, A.E., Brodie, K.H. 2017. Rocks and Minerals in Thin Section. India: Replika Press
Private Limited.
Gribble, C.D., Hall, A.J. 1985. Optical Mineralogy: Principles and Practice. London: George Allen & Unwin
(Publishers) Ltd.
Raith, M.M., Raase, P., Reinhardt, J. 2012. Guide to Thin Section Microscopy. Jerman: University of Bonn.
Nesse, William D. 1991. Introduction to Optical Mineralogy Second Edition. New York: Oxford University Press
Inc.
MacKenzie, W.S., Guilford, C. 1980. Atlas of Rock-forming Minerals in Thin Section. London: Routledge.

D LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai