Anda di halaman 1dari 29

wadhih ad-Dalalah

September 01, 2016

MemahamiTingkat Kejelasan Dalil Nash Syar'i

I.                   Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kitab agung yang dikaruniakan Allah sebagai pedoman ummat Islam di
muka bumi ini. Begitu juga dengan hadits, sebagai penjelas dari bentuk Al-Quran yang masih
bersifat global. Maka, perlunya memahami nas-nash yang terkandung di dalamnya sebagai
peninjau hukum bagi kehidupan kita.
Fuqaha’ menyebutkan,”Min aladzdzil fiqh fahmu istid-laalaat an-nusuush.”, bahwa
termasuk dari nikmatnya ilmu fiqih adalah memahami dalil-dalil nash. Oleh sebab itu, besarnya
perhatian ulama’ dalam memahami beberapa kaidah, diantaranya Kaidah
Ushuliyyah dan Kaidah Fiqhiyyah, sehingga dapat meganalisa dan memahami dalil-dalil nash
yang ada, sehingga menjadi sesuatu yang sangat urgen di kalangan para ulama’ dalam
memahami hukum fiqh.
Kaidah Ushuliyyah Al-Lughawiyyah berperan penting di dalam memahami nash-nash
syar’i. Berbagai macam dari kalangan ulama’ dalam memaknai dan memberikan
tingkatan Kaidah Ushuliyyah al-Lughawiyyah, akan tetapi seluruhnya merujuk kepada satu
makna, yaitu memahami suatu nash berdasarkan apa yang dikehendaki syariat. Dengan begitu,
penulis ingin memaparkan istilah di dalam pembahasan ini sebagaimana yang diperincikan oleh
ulama’ Hanafiyah, yang pada umumnya sepadan dengan keadaan masa kini.

II.                Pembahasan

A.                Definisi Waadhih ad- Dalaalah

Waadhih ad- Dalaalah menurut ahli ushul adalah suatu nash atau lafadz yang jelas dan
menunjukkan arti yang dimaksud dengan bentuknya sendiri tanpa bergantung kepada faktor
eksternal.[1]
Ada beberapa tingkatan lafadz (dalalah) dari sisi kejelasannya yang ditinjau dari
mungkin dan tidaknya untuk dapat ditakwil. Ketika memang suatu lafadz yang tidak perlu untuk
ditakwil, maka dalil tersebut terletak pada tingkatan teratas dari segi kejelasan maknanya,
disebut al- Muhkam (yang ditentukan hukumnya), apabila suatu lafadz tidak perlu untuk
ditakwil, akan tetapi dapat dinaskh, maka dinamakan mufassar (yang ditafsirkan). Apabila
terdapat suatu lafadz yang menerima takwil, takhsis dan naskh, akan tetapi susunan makna dan
maksudnya dapat dipahami dari lafadz tersebut, maka dinamakan nash.Apabila lafadz tersebut
menunjukkan makna yang mudah dipahami secara langsung, akan tetapi bukan menunjukkan
makna yang dimaksud dari susunan kalimat tersebut, maka dinamakan dzahir (yang jelas).
Hukum daripada wadhih ad-dalalah adalah seluruh nash yang terdapat pada wadhih ad-
dalalah wajib diamalkan dengan apa yang terdapat di dalam istilah wadhih ad-dalalah.
Meskipun begitu, nash-nash tersebut tidak sah untuk ditakwil kecuali dengan dalil yang sah.[2]

B.                 Tingkatan Waadhih ad- Dalaalah

            Ulama’ Ushuliyyin membagi tingkatan waadhih ad-dalaalah menjadi empat macam,


diantaranya; dari tingkatan yang terendah, yaitu dzahir, nash, mufassar,
kemudian muhkam. Muhkam adalah dalalah yang paling jelas dan paling tinggi tingkatannya,
selanjutnya; yaitu mufassar, nash, kemudian dzahir. Dari tingkatan yang telah kami paparkan di
atas secara global, maka akan kami paparkan pula tingkatan dalalah dari yang paling rendah
sebagai berikut.

1.                  Dzahir

a)                  Definisi Dzahir

            Dzahir adalah yang paling rendah dalam tingkatan kekuatan dalalahnya.


[3] Dzahir secara bahasa, diambil dari katadzuhuur, yang berarti nampak dan tersingkap.
[4] Menurut madzhab Hanafiyah, dzahir adalah ungkapan yang menunjukkan makna yang jelas.
Akan tetapi, makna asli dari sebuah lafadz tersebut bukanlah yang dimaksud (secara syari’at).
[5]Sedangkan menurut Ushuliyyiin, ialah sesuatu yang menunjukkan arti yang dimaksud dari
lafadz tersebut dengan bentuk lafadznya sendiri tanpa bergantung kepada faktor eksternal.
Namun, bukan berarti memiliki makna asli dari bentuknya sendiri atau memiliki kemungkinan
untuk ditakwil.[6] Dengan kata lain, dzahir adalah lafadz yang dapat dipahami oleh akal, akan
tetapi memungkinkan untuk bisa ditakwil. Misalnya:
‫]؛‬3 :‫ َو َربُاَع ﴾َ[النساء‬ ‫وثَاُل ث‬ ‫ ِم َث ْن َى‬ ‫اَلنِّساَء‬ ‫ ْم ِن‬ ‫لَ َك ُم‬ ‫طاَب‬ َ‫ما‬ ‫ْح ُوا‬
ِ ‫ ﴿فاَنك‬           
             “Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang
saja....”  (QS. An Nisaa’ : 3)
            Secara dzahir, adalah kebolehan untuk menikah. Akan tetapi, makna yang diminta
bukanlah dari segi susunan kalimat di atas, melainkan susunan kalimat di  atas untuk
menjelaskan bolehnya melakukan poligami.[7]
            Begitu juga dengan sabda Rasulullah, ketika ditanya oleh sahabatnya mengenai kesucian
air laut. Secara dzahir, menjelaskan mengenai hukum bangkai laut. Akan tetapi, yang dimaksud
bukanlah dari bentuk asli dari lafadz tersebut, melainkan kepada kesucian air laut. Karena yang
dititikberatkan adalah mengenai kesucian air laut, bukan kehalalan dari bangkai tersebut.
[8] Hadits Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Seorang lelaki bertanya kepada Nabi s.a.w., : Wahai
Rasulullah, kami sedang berlayar di laut, akan tetapi bekal (persediaan) air yang kami bawa
hanya sedikit. Apabila kami berwudhu dengannya, bisa jadi kami akan kehausan lantaran air
tersebut habis. Haruskan kami berwudhu dengan air laut?, kemudian Rasulullah bersabda:
Airnya suci, dan bangkainya halal.” (Hadits ini shahih yang dikeluarkan oleh Ash-habus Sunan).
            Firman Ta’alaa: QS. Al-Baqarah: 275
ْ  ُ‫اللَّه‬ ‫َح َّل‬
[ 275 :‫﴾ [البقرة‬... َ‫اَ ِّلربا‬ ‫ َو َح َّر َم‬ ‫البيَ َع‬ َ ‫وأ‬....﴿            
                  “...padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba...” (QS. Al-
Baqarah (2): 275).
            Secara dzahir, ialah dihalalkannya jual beli dan diharamkannya riba. Karena makna
tersebut  jelas dan mudah dipahami secara langsung dari dua bentuk kalimat ahalla dan harrama,
tanpa disertai kepada qarinah dari jalur eksternal. Akan tetapi, ini bukanlah makna asli dari
bentuk lafadz ayat tersebut, karena maksud asli meniadakan kesamaan antara jual beli dan riba,
serta membantah orang-orang yang mengatakan bahwasanya jual beli itu seperti riba.[9]

b)                  Hukum Dzahir

            Hukum dzahir, seperti yang dipaparkan di dalam kitab Al-Qawaa’iid Al-Ushuuliyyah


‘inda Asy-Syathiby, adalah wajibnya menunaikan makna lafadz tersebut secara bahasa, qath’iy
dan yakin dengan menggunakan makna yang mudah dipahami secara langsung, karena lafadz
tersebut seperti yang dikehendaki syari’at. Maka harus ditunaikan, dan termasuk hujjah. Oleh
karena itu, tidak diperbolehkan memalingkan makna tersebut kepada makna selainnya.[10]
            Abdul Kariim Zaidan di dalam kitabnya, Al-Wajiz fie Ushuulil Fiqh,manambahkan
hukum dzahir dengan diterimanyanaskh di dalam lafadz dzahir hanya pada masa Rasuullah
s.a.w., karena naskh tidak terjadi pada sepeningal beliau s.a.w.[11]
            Seperti ditakwilnya sebuah lafadz yang dzahir, dari makna umum yang mengandung
ihtimal untuk ditakhsis, firman Allah QS. Al-Baqarah: 275
ْ  ُ‫اللَّه‬ ‫َح َّل‬
[ 275 :‫اَ ِّلرباَ ﴾ [البقرة‬ ‫ َو َح َّر َم‬ ‫البيَ َع‬ َ ‫﴿وأ‬            
                Artinya: “...padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba...”
(QS. Al-Baqarah (2): 275).
            Disamping riba (yang masih bersifat umum), Rasuullah s.a.w., melarang pula segala
transaksi yang berbau riba, misalnya jual beli gharar dan jual beli yang tidak sesuai dengan
kebiasaan manusia, pada umumnya.[12]

2.                  Nash
a)                  Definisi Nash

            Nash menurut bahasa, adalah munculnya segala sesuatu yang tampak.[13] Secara istilah,


sesuatu yang menunjukkan  makna yang dimaksud secara asli dari susunan kalimatnya melalui
bentuk lafadznya sendiri, akan tetapi ia mengandung  makna untuk ditakwil[14] atau
bertambahnya kejelasan dalalah daripada dzahir ditinjau dari qarinah yang menyertai lafadz dari
mutakallim sendiri.[15] Abdul Karim Zaidan menambahkan di dalam pengertian nash,
bahwasanya nash dapat menerima takwil dan menerima naskh  hanya pada masa Rasulullah
s.a.w., saja, sehingga wajib menggunakan dalil tersebut selama tidak ada dalil yang menyimpang
(dari dalil nash) dan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh nash.[16]
            Seperti firman Allah:
‫]؛‬3 :‫ َو َربُاَع ﴾َ[النساء‬ ‫وثَاُل ث‬ ‫ ِم َث ْن َى‬ ‫اَلنِّساَء‬ ‫ ْم ِن‬ ‫لَ َك ُم‬ ‫طاَب‬ َ‫ما‬ ‫ْح ُوا‬
ِ ‫﴿فاَنك‬
            Artinya: “Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga, atau
empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang
saja....”  (QS. An Nisaa’ : 3)

b)                  Hukum Nash

            Hukum nash seperti hukum dzahir, yaitu wajib menggunakan dalil tersebut yang mudah
dipahami maknanya secara langsung, baik yang dimaksud secara dzat maupun asli. Akan tetapi,
apabila nash tersebut berupa lafadz yang khusus, maka mengandung makna untuk ditakwil, dan
apabila nash tersebut berupa lafadz yang umum, maka lafadz tersebut mengandung makna untuk
ditakhshish.[17]
Perbedaan dzahir dan  nash
-          Dalalah nash lebih jelas dibanding dzahir bila ditinjau dari segi maknanya
-          Makna nash ialah makna yang asli dari susunan  kalimatnya. Sedangkan makna dzahir ialah
makna yang mengikuti, bukan asli dari susunan kalimatnya.
-          Kandungan ihtimal untuk ditakwil pada nash lebih jauh dari pada ihtimal dzahir untuk ditakwil.
-          Bilamana terjadi pertentangan antara nash dengan dzahir, maka yang dikuatkan
adalah nash daripada dzahir[18]

3.                  Mufassar

a)                  Definisi Mufassar

            Mufassar, lebih tinggi tingkatannya daripada nash, karena tidak ada lagi kemungkinan
adanya takwil. Akan tetapi, mengandung kemungkinan untuk dinaskh hanya pada masa
Rasulullah s.a.w.[19] Imam As-Sarakhsy menjelaskan di dalam kitabnya, Ushuul As-Sarakhsy,
bahwa mufassar adalah lafazh yang menunjukkan suatu hukum dengan petunjuk yang tegas dan
jelas, sehingga petunjuknya itu tidak mungkin ditakwil atau ditakhsis, namun pada masa
Rasullullah masih bisa dinasakh.[20]
            Mufassar terbagi menjadi dua, yaitu mufassar bi nafsihi dan mufassar bi
ghairihi. Mufassar bi nafsihi, secara langsung dari nash itu sendiri. Seperti firman Allah,
[:‫]المعارج‬ ﴾‫﴿إِ َّن ا ِإلنْ َسا َن ُخلِ َق َهلُ ْو ًعا‬          
            Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan dalam kedaan mengeluh.”
            Lafadz  ‫ َهلُ ْو ًعا‬menjelaskan secara global dan sudah Allah tafsirkan secara qath’iy. Dan
firman Allah Ta’alaa mengenaihadd zina, QS. An-Nuur: 2,
2[:‫]النّور‬ ﴾‫ ِم ْن ُه َما ِمائَةُ َج ْل َد ًة‬ ٍ‫احد‬
ِ ‫﴿فَاجلِ ُدوا ُك ُّل و‬          
َ ْ ْ
            Artinya: “…maka cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambuk…”
                 Kemudian dijelaskan pula di dalam hadd qadzaf,
[4 :‫اجلِ ُد ْو ُه ْم ثَ َمانيِن َج ْل َدةً﴾ [النور‬
ْ َ‫﴿ف‬          
            Artinya: “ Maka cambuklah mereka sebanyak delapan puluh kali.”
            Lafadz ُ‫ة‬ َ‫مائ‬ ِ dan ‫ثَ َم انيِن‬ adalah mufassar, karena masing-masing dari lafadz tersebut
menunjukkan jumlah tetentu. Dan jumlah yang sudah ditetapkan di dalam syariat tidak dapat
menarik kemungkinan untuk ditambah ataupun dikurangi. [21]
            Sedangkan mufassar bi ghairihi, menjelaskan arti yang terkait dengan sumber nash
tersebut, seperti sunnah qauliyyah maupun fi’liyyah yang menjelaskan nah yang masih bersifat
mujmal di dalam Al-Qur’an. Contohnya: sholat, haji, dan semisalnya.[22]
            Untuk membedakan dalalah dzahir, nash dan mufassar dengan melihat bahwa
dalalah dzahir dan nash masih memerlukan ihtimal takwil dan takhsis, sedangkan mufassar
sendiri sama sekali tidak membutuhkan ihtimal.

b)                  Hukum Mufassar

            Wajib mengggunakan dalil tersebut secara qath’iy sebagaimana yang telah terperinci,
sebab tidak ada lagi ihtimal untuk ditakwil dan selamanya tidak bisa menerima naskh. Namun,
ada kemungkinan untuk dinaskh apabila lafadz tersebut berupa hukum far’i yang meminta
adanya perubahan.[23] Dengan begitu, lafadz mufassar tidak bisa diartikan secara dzahir maupun
nash secara langsung, sebab tidak menerima takwil maupun takhsis.

4.                  Muhkam

a)                  Definisi Muhkam

            Secara bahasa, muhkam ialah isim maf’ul dari ‫أَحْ َك َم‬ yang berarti  َ‫أَ ْتقَن‬ (meyakinkan).[24]
            Menurut As-Sarakhsi, muhkam adalah menolak adanya takwil dan naskh. Menurut
Ushuliyyin, ialah menunjukkan makna dalalah yang jelas (tegas) dan tidak dapat menerima
takwil (takhsis dan naskh) pada masa Rasulullah s.a.w., dan pada masa setelah berhenti turun
wahyu.[25]
            Muhammad Khudhari Bek, di dalam kitabnya, Ushuul Al-Fiqh mengatakan bahwa
muhkam adalah lafadz yang jelas dalalahnya dari segi maknanya secara wadh’iy tanpa ada
kemungkinan (ihtimal) terhadap sesuatu.[26]
            Dikarenakan nash-nash tersebut sangat berkaitan erat dengan pokok aqidah yang tidak
dapat menerima perubahan, seperti pokok rukun iman dan perintah berbuat baik terhadap kedua
orangtua dan sesama manusia, serta menyambung silaturrahim. Disamping itu, diharamkan
berbuat sesuatu yang dapat mendatangkan dampak buruk, seperti berbuat dzalim dan saling
bermusuhan. Atau berupa hukum far’i yang bersifat juz’iy, yang dijelaskan oleh syariat
berdasarkan ketetapannya dan kesinambungannya.  Sebagaiman hadits tentang isra’ mi’raj, atas
diwajibkannya shalat lima waktu.[27]
            Seperti firman Allah Ta’alaa yang sangat jelas mengenai hukuman bagi penuduh ketika
tidak dapat mendatangkan empat orang saksi:
[4 :‫النّور‬ ]﴾ .‫اد ًة أَبَ ًدا‬
َ ‫﴿ َوالَ َت ْقَبلُ ْوا ل َُه ْم َش َه‬          
            Artinya: “Dan janganlah kamu menerima kesaksiaan mereka selama-lamanya.” (QS. An
Nuur : 4)
            Kalimat larangan ini disertai dengan lafadz ‫أَبَ ًدا‬ , hal ini menunjukkan dalil muhkam yang
tidak dapat dinaskh.[28]

b)                  Hukum Muhkam

            Wajib menggunakan dalil tersebut secara qath’iy tanpa ada keraguan, karena tidak
mengandung makna selainnya dan tidak menerima adanya perubahan secara mutlak, sama
halnya seperti pada masa Rasulullah s.a.w., atau setelahnya. Karena, adanya hukum yang tertera
di dalam Al-Quran dan As-Sunnah sudah menjadi ketetapan  mutlak sepeninggal Rasulullah
s.a.w., tanpa adanya naskh.[29]
            Secara mudahnya, berikut table dari seluruh pembahasan di atas:

C.                   Penutup
            Kesimpulannya, tidaklah seluruh dalil yang dipahami secara langsung atau dengan
sendirinya. Namun, pastinya terdapat makna tersirat yang dikehendaki oleh syari’at supaya tidak
salah merealisasikannya dalam kehidupan. Di samping itu terdapat pula dalil yang diproduksi
secara instan dari sang pembuat syari’at, tanpa ada pemahaman dari akal manusia, sebab
keberadaannya itu di luar batas kemampuan tolak pikir manusia.
            Demikian makalah yang penulis paparkan mengenai Kaidah Ushuliyyah Al-
Lughawiyyah yang meninjau kepada babWadhih Ad-Dalaalah. Penulis berharap kepada
pembaca agar memaklumi dan memaafkan, serta melakukan pembenaran terhadap bahasa
penulisan apabila terdapat kesalahfatalan di dalam penulisan, sehingga dapat mencapai tingkat
kesempurnaan. Sebab tiada gading yang tak retak. Wallaahu A’lam bish Shawaab.

*****

Daftar Pustaka
Al-Qur’anul Karim
Abdul ‘Al, Abdul Hayy. Pengantar Ushul Fiqh.
Abu Zahroh, Muhammad. Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh,
Al-Asyqar, Muhammad Sulaiman Abdullah. Al-Wadhih fie Ushuulil Fiqh lil Mubtadi-          iin.
(Kairo: Daar As-Salaam. Cet: 2. 1425 H/2004 M)
Al-Ghazaly. Al-Mustashfaa min ‘Ilmil Ushuul. ()
Al-Judai’, Abdullah bin Yusuf. Taisir ‘Ilmi Ushuuli Fiqh. (Beirut: Muassasah Ar-  Royaan. Cet:
1. 1418 H)
Al-Karamasty, Yusuf bin Husain. Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh. (t.t: Darul Huda lit   Thabaa’ah.
1404 H/1983 M)
Al-Mariny, Al-Jilaly. Al-Qawaa’id Al-Ushuuliyyah ‘inda Asy-Syathiby min Khilaali            
Kitaabihi Al-Muwaafaqoot. (Kairo: Daar Ibnu ‘Affan. Cet: 1. 1433 H)
As-Sarkhasi, Abu Bakar Ahmad. Ushuul As-Sarkhasi. (Beirut: Darul Kutub Al-     ‘Ilmiyah. Cet:
1. 1414 H/1993 M)
Az-Zarkasyi. Al-Bahrul Muhiith fie Ushuulil Fiqh. (Kairo: Darush Shofwah. Cet: 2.            1413
H/1992 M)
Az-Zuhaily, Wahbah. Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh. (Damaskus: Darul Fikr. Cet: 2.   1419 H/1999
M)
Hasan, Khalid Ramadhan. Mu’jam Ushuul Al-Fiqh. (t.t: Ar-Raudhah. Cet: 1. 1998 M)
Husain, Ahmad Farraj. As-Sarity, dk. Ushuul Al-Fiqh Al-      Islaamy. (Iskandaria:   Muassasah
Ats-Tsaqafah Al-Jami’iyah. 1410 H/1990 M)
Khallaaf, Abdul Wahhaab. Ushuul Al-Fiqh.
Khudhari Bek, Muhammad. Ushuul Al-Fiqh. (Mesir: Maktabah At-Tijariyyah Al-  Kubro. Cet: 6.
1389 H/1969 M)
Zaidan, Abdul Karim. Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh. (Beirut: Muassasah Ar-Risalah. 1987 M)

                 [1] Al- Wajiz fii Ushuul al- Fiqh, Wahbah Az-Zuhaily, hal:175


                 [2] Taisir Ushuul al-Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al-Judai’, hal:293
                 [3] Pengantar usul fiqih, Abdul Hayy Abdul ‘Al, hal: 248
                 [4] Lisanul ‘Arab
                 [5]Al- Qawaa’iid Al-Ushuuliyyah ‘inda Asy-Syatibi, Al-Jilaly Al-Mariniy, hal: 396
                 [6] Ushuul As-Sarkhasi, Imam As-Sarkhasi, 1/163
                 [7] Al- Wajiz fii Ushuul al- Fiqh, Wahbah Az-Zuhaily, hal: 175
                 [8] Al- Wajiz fii Ushuul al- Fiqh, Abdul Karim Zaidan,
                 [9] Al- Wajiz fii Ushuul al- Fiqh, Abdul Karim Zaidan
                 [10] Al-Qawaa’iid Al-Ushuuliyyah ‘inda Asy-Syathiby, 397
                 [11]Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Abdul Karim Zaidan, hal: 340
                 [12] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Wahbah Az-Zuhaily, 176
                 [13] Al-Mustasfa, Imam Al-Ghazaly, 3/85
                 [14] Ushul al-Fiqh, Abdul Wahhaab Khalaf,
                 [15] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, wahbah az-Zuhaily, 176
                 [16] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Abdul Karim Zaidan, 340
                 [17] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, wahbah az-Zuhaily, hal:177
                 [18] Mu’jam Ushuulil Fiqh, Khalid Muhammad Hasan, 312
                 [19] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Al-Karamasty, 3/49
                 [20] Ushuul As-Sarkhasi, Imam As-Sarkhasi
                [21] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Wahbah Az-Zuhaily, 178
                [22] Ushuulul Fiqh Al-Islaamy, Ahmad Farraj Husain, dk, 314
                [23] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Wahbah Az-Zuhaily, 179
                [24] Mu’jam Ushul Fiqh, 254
                [25] Ushul As-Sarakhsi, 165
                [26] Ushuul Fiqh, Muhammad Khudhari Bek, 129
                [27] Taisir ‘ilmi Ushuulil Fiqh, 299-300
                [28] Ushulul Fiqh, Muhammad Abu Zahroh, 122-123
                [29] Al-Wajiiz fie Ushuulil Fiqh, Wahbah Az-Zuhaily, 189
Wadhih Ad Dalalah
Diposkan oleh Eva Lutviana12di 8:06 am
ADSENSE HERE!

Wadhih Ad Dalalah
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Lafadz Dari Segi Kejelasan Artinya


Secara garis besar, lafadz dari segi kejelasan artinya terbagi menjadi dua macam:
a.       Lafadz yang telah terang artinya dan jelas penunjukannya terhadap makna yang dimaksud,
sehingga atas dasar kejelasan itu beban hukum dapat ditetapkan tanpa memerlukan lagi
penjelasan dari luar.
b.      Lafadz yang belum terang artinyadan belum jelas penunjuknnya terhadapa makna yang
dimaksud kecuali adanya penjelasan dari luar lafadz tersebut.

1.      Lafadz  Yang Terang Artinya


Lafadz yang terang artinya terbagi menjadi empat tingkatan yang kekuatan dari segi
kejelasan berbeda. Hal ini dapat dikategorikan kedalam jelas, lebih jelas, sangat jelas dan paling
jelas.[1] Para ulama berbeda pendapat dalam mengatasi tingkatan dilalah lafadz dari segi
kejelasan artinya. Dalam hal ini, dapat di bagi dalam dua kelompok. Golongan pertama, yaitu
golongan Hanafiyah yang membagi lafadz dari segi kejelasan terhadap makna dalam empat
bagian, yaitu zhahir, nash, mufassar dan muhkam.Sedangkan dari segi ketidakjelasannya mereka
membagi menjadi empat macam pula, yaitu khafi, musykil, mujmal dan mutasyabih.
Golongan kedua yaitu jumhur dari kalangan mutakallimin yang dipelopori oleh Asy-
Syafi’i yang membagi lafadz dari segi kejelasannya menjadi dua macam yaitu zhahir dan nash.
Kedua bentuk lafadz ini disebut kalam mubayyan. Sedangkan dari segi ketidakjelasannya dibagi
menjadi dua macam  yaitu mujmal dan mutasyabih.[2]
Bertolak dari adanya perbedaan perbedaan pendapat dari para ulama tersebut, efek
perbedaan ini akan kelihatan ketika terjadi pertentangan. Berikut ini akan kita uraikan penjelasan
tentang keempat tingkatan lafadz tersebut.

a.      Zhahir (‫الظاهر‬ )
 Al-Bazdawi memberikan definisi tentang zhahir sebagai berikut:
‫اسم لك ّل كالم ظهر المرادبه للسّامع بصىيغته‬                                                                                              
Artinya : “suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar,
melalui bentuk lafadz itu sendiri.”
Definisi yang lebih jelas dikemukaan oleh Al-Sarakhsi:
‫ما يعرف المراد منه بنفس السّامع من غير تأ ّمل‬                                                                                          
Artinya : “sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari pendengaran itu sendiri tanpa
harus dipikirkan terlebih dahulu.” [3]
            Zhahir dalam istilah ulama ushul fiqh ialah sesuatu yang menunjukkan terhadap
maksudnya dengan shighotnya itu sendiri, tanpa ketergantungan pemahaman maksudnya itu
kepada sesuatu yang bersifat khariji (eksternal), akan tetapi maksudnya itu bukanlah yang
dikehendaki yang sebenarnya dari susunan kalimatnya, dan ia mengandung kemungkinan takwil.
Sepanjang maksudnya dapat dipahami dari kalimat itu tanpa membutuhkan suatu qorinah
(tanda), namun maksud tersebut bukanlah yang dikehendaki dengan sebenarnya dari susunan
kalimatnya, maka kalimat itu disebut dengan zhahir.
Misalnya adalah firman Allah SWT :
‫ وحرّم الرّبا‬ ‫وأح ّل هللا البيع‬                                                                                                                   
Artinya : “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-
Baqarah: 275)
Ayat tersebut adalah zhahir dalam menghalalkan segala macam jual beli dan menghalalkan
segala macam riba, karena ini adalah makna yang segera dapat difahami dari kedua lafadz  ‫اح ّل‬
‫)وحرّم‬ ) tanpa suatu qorinah. Namu pengertian tersebut tidaklah yang sebenarnya dikehendaki
secara asli dari susunan ayat, karena ayat tersebut sebagaimana telah kami kemukakan disusun
dengan maksud sebenarnya untuk mengadakan persamaan antara jual beli dengan riba., untuk
menolak terhadap orang-orang yang mengatakan :‫إنّمااللبيع‬  ‫مثل الرّبا‬ .
            Contoh lain umpamanya firman Allah dalam surat al-Hasyr : 7
‫ عنه فانتهوا‬ ‫ومآأتاكم ال ّرسول فخذوه ومانهاكم‬                                                                                            
            Artinya : “apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apayang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [4]
            Ayat diatas begitu jelas artinya, yaitu keharusan mentaati apa yang disuruh Rasul baik
mengenai apa yang disuruhnya dan apa yang dilarangnya, karena inilah yang mudah dipahami
secara cepat. Namu maksud sebenarnya dari ayat tersebut adalah keharusan menerima apa-apa
yang diberikan rasul sehubungan dengan harta rampasn perang dan tidak menolak pemberian
Rasul, serta menjauhi apa yang tidak disenangi oleh Rasul.
            Hukum yang zhahir ialah wajib mengamalkan pengertian yang zhahir itu sepanjang tidak
ada dalil  yng menghendaki untuk mengamalkan terhadap yang bukan zhahirnya. Karena yang
asal adalah tidak memalingkan lafadz dari zhahirnya, kecuali apabila ada dalil yang
menghendaki hal itu dan lafadz itu kemungkinan mengandung makna takwil. Artinya
pemalingannya dari pengertian zhahirnya dan menghendaki makna lainnya dari lafadz itu. Jika
lafadz zhahir bersifat umum ia mengandung kemungkinan untuk mentakhsiskannya, dan jika ia
bersifat mutlak maka ia mengandung kemungkinan untuk dibatasi. Dan jika ia merupakan lafadz
yang hakekat maka ia mengandung kemungkinan dikehendaki makna majazi serta lainnya dari
berbaga aspek takwil.

b.      Nash  ( ‫)النص‬
Nash menurut istilah ulama ushul fiqh ialah sesuatu yang menunjukkan terhadap makna
yang dimaksudkan secara asli dari susunan kalimatnya melalui shighatnya itu sendiri, namun ia
mengandung kemungkinan untuk ditakwilkan.[5] Sepanjang makna tersebut adalah yang segera
difahami dari lafadz dan pemahamannya tidak tergantung pada suatu yang bersifat khariji dan
makna tersebut adalah yang dikehendaki secara asli dari susunan kalimatnya maka lafadz
tersebut dianggap sebagai nash terhadap makna itu.
Menurut Ad-Dabusi:
‫ال ّزائدعلى الظّاهر بيانا إذا قوبل به‬                                                                                                           
            Artinya : “sesuatu lafadz yang maknanya lebih jelas daripada zhahir bila ia
dibandingkan dengan lafadz zhahir.”
            Menurut Al-Bazdawi:
‫ الصّيغة‬ ‫مازداد وضوحا على الظّاهر بمعنى المتكلّم ال فىى نفس‬                                                                      
            Artinya : “lafadz yang lebih jelaz maknanya dari pada makna lafadz zhahir ynag diambil
dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri.”  [6]
            Contoh lafadz nash dalam firman Allah surat Al-Baqarah: 275
‫ وحرّم الرّبا‬ ‫ وأح ّل هللا البيع‬.                                                                                                                  
            Secara nash, ayat tersebut bertujuan untuk menyatkan perbedaan antara jual beli dengan
riba sebagai sanggahan terhadap orang yang menganggapnya sama. Hal ini dapat dipahami dari
ungkapan keseluruhan ayat tersebut. Meskipun maksud ayat ini sudah sangat jelas namun dari
ayat ini dapat pula dipahami maksud lain bahkan dalam arti yang lebih jelas yaitu halalnya
hukum jual beli dan haramnya riba. Pemahaman menurut cara yang terakhir ini disebut zhahir.
Contoh lain dalam surat An-Nisa: 3
                                                                                ‫ النّسآء مثنى وثالث ورباع‬ ‫ فانكحوا ماطاب لكم من‬.    
            Artinya: “maka kwinilah wanita-wanita ( lain ) yang kamu senangi; dua, tiga dan
empat.”  [7]
            Ayat tersebut adalah nash mengenai pembatasan jumlah isteri yang terbanyak yaitu
empat orang isteri, karena itu adalah makna yang segera dipahami dari lafadznya dan
dimaksudkan secara asli dari susunan kalimatnya.
            Nash itu dalam penunjukannya terhadap hukum adalah lebih kuat dibandingkan dengan
zhahir, karena penunjukan nash lebih terang dari segi maknanya. Nash itulah yang dituju
menurut ungkapan asal. Sedangkan zhahir bukanlah tujuan langsung dari pihak yang
mengungkapkannya. Oleh karena itu, makna yang dituju secara langsung itu lebih mudah untuk
dipahami dibandingkan dengan makna lainnya yang tidak langsung. Atas dasar itu, apabila
terdapat pertentangan makna antara nash dengan zhahir dalam penunjukannya , maka
didahulukan yang nash, sehubungan dengan ini bila terdapat pertentangan antara arti umum dan
arti khusus, maka yang harus didahulukan pengalamannya adalah yang berdasarkan arti khusus
karena arti kh usus inilah yang dimaksud menurut asal mulanya sedangkan arti umum meskipun
memang dimaksud pula tetapi didalam kerangka pengalaman seluruh satuan arti (afrad)-nya.
Contohnya firman Allah SWT dalam surat An-Nisa: 24 :
 )dihalalkan untukmu selain yang disebutkan bagimu)                        ‫وأح ّل لكم ماوراءذلكم‬
Ayat diatas disebutkan setelah menyebutkan perempuan-perempuan yang tidak boleh dikawini
oleh laki-laki. Hal ini berarti tidak haramnya semua perempuan yang tidak tersebut dalam zhahir
ayat tersebut, termasuk kaein yang kelima. Namu zhahir ayat tersebut bertentangan dengan nash
ayat 3 surat An-Nisa yang secara tegas membatasi perkawinan itu sampai empat orang. Dengan
demikian perkawinan kelima sebagaimana yang dapat dilakukan berdasarkan zhahir ayat
sebelumnya menjadi batal menurut nash ayat ini.
c.       Mufassar  ( ‫سر‬ ّ ‫) المف‬
Al-Uddah merumuskan mufassar sebagai berikut:
‫ما يعرف معناه من لفظه واليفتقر إلى قرينة تفسيره‬                                                                                     
Artinya: “sesuatu lafadz yang dapat diketahui maknanya dari lafadznya sendiri tanpa
memmerlukan qarinah yang menafsirkannya.” [8]
Sedangkan menurut ulama ushul fiqh, mufassar yaitu sesuatu yang menunjukan dengan
sendirinya atas maknanya yang terperinci dengan suatu perincian yang tidak lagi tersisa
kemungkinan takwil. Diantaranya ialah bahwasanya shighatnya menunjukan dengan sendirinya
dengan suatu dalalah yang jelas terhadap makna yang terperincidan didalamnya terdapat sesuatu
yang meniadakan pemungkinan maksud selain maknanya, sebagaimana firman Allah SWT yang
berkenaan dengan orang-orang yang menuduh zina terhadap wanita-wanita terhormat.
‫فاجلدوهم ثمانين جلدة‬                                                                                                             
Artinya: “ maka deralah mereka delapan puluh kali deraan.” (QS. An-Nur:4)
Jumlah tertentu tidak mengandung kemungkinan lebih maupun
kurang.                                        
‫وقاتلواالمشركين كافّة‬                                                                                                                          
            Artinya: “dan perangilah kaum musyrikin itu semua.”  (QS. At-Taubah: 36)
            Kata kaffah (semuanya) meniadakan kemungkinan pentakhshiskan.[9]
            Mufassar ada dua macam, yaitu:
1.      Menurut asalnya, lafadz itu sudah jelas dan terinci sehingga tidak perlu penjelasan lebih lanjut.
Contohnya surat An-Nur:4 yang diatas bahwa bilangan dalam ayat ini jelas dan terurai yaitu
delapan puluh kali dera. Tidak ada kemungkinan untuk dipahami dengan lebih atau kurang dari
bilangan itu.
2.      Asalnya lafadz itu belum jelas (ijmal) dan memberikan kemungkinan beberapa pemahaman
artinya. Kemudian datang dalil lain yang menjelaskan artinya sehingga ia menjadi jelas.
(mubayyan)
‫ومن قتل مؤمنا خطأ فتحريررقبة مؤمنة ودية مسلّمة إلى أهله‬                                                             
Artinya: “orang-orang yang membunuh orang beriman secara tidak sengaja, hendaklah ia
memerdekaan hamba sahaya dan menyerahkan diyat kepada keluarganya.” (QS. An-Nisa: 92)
[10]
            Ayat diatas menyangkut keharusan menyerahkan diyat kepada keluarga korban, tetapi
tidak dijelaskan mengenai jumlah, bentuk dan macam diyat yang harus diserahkan itu. Sesudah
turun ayat ini datang penjelasan dari Nabi dalan sunnah yang merinci keadaan dan cara
membayar diyat itu sehingga ayat diatas menjadi terinci dan jelas artinya.
            Dilalah mufassar wajib diamalkan secara qoth’i sepanjang tidak ada dalil yang me-
nasakh-nya. Lafadz mufassar tidk mungkin dipalingkan artinya dari zhahirnya, karena tidak
mungkin ditakwil dan di takhsis melainkan hanya bisa di nasakh atau diubah apabila ada dalil
yang mengubahnya.
            Dengan demikian mufassar lebih kuat dari pada zhahir dan nash. Oleh sebab itu, apabila
trjadi pertentangan antara ketinganya maka mufassar harus didahulukan.
d.      Muhkam  ( ‫) المحكم‬
Muhkam menurut bahasa diambil dari kata ahkama yang berarti aqtana, yaitu pasti dan
tegas. Sedangkan menurut istilah adalah sebagaimana yang dikemukakan As-Sarkhkasi:
‫ من إحتمال التّأويل ومن أن ير ّد عليه النّسخ‬ž‫فالمحكم ممتنع‬                                                                 
Artinya: “muhkam itu menolak adanya penakwilan dan adanya nash.” [11]
            Muhkam dalam istilah ulama ushil fiqh ialah sesuatu yang menunjukan terhadap
maknanya yang tidak menerima pembatalan dan penggantian dengan sendirinya, dengan suatu
dalalah yang jelas yang tidak lagi tersisa kemungkinan takwil. Nash muhkam tidak mengandung
kemungkinan takwil, artinya memaksudkan makna lain yang tidak zhahir daripadanya, karena
nash tersebut telah diperinci dan ditafsirkan dengan suatu penafsiran yang tidak memberikan
peluang lagi bagi pentakwilan. Ia juga tidak menerima nasakh, baik pada masa kerasulan, pada
masa senggang dari turunnya wahyu maupun sesudahnya. Karena hukum yang diambil dari nash
tersebut mungkin merupakan hukum yang asasi dari kaidah-kaidah agama yang tidak menerima
penukaran, seperti menyembah Allah semata, mengimani kitab-Nya dan rasul-Nya, ataupun
termasuk induk dari hal-hal terpuji yang tidak akan berubah dengan perubahan situasi dan
kondisi, sebagaimana berbakti kepada dua orang tua, bersikap adil, atau hukum yang bersifat
far’i yang juz’i, akan tetapi pembuat hukum menunjukan terhadap pengukuhan syariatnya,
sebagaimana firman Allah SWT mengenai oarang-orang yang menuduh zina wanita-wanita
terhormat:
‫والتقبلوا لهم شهادة ابدا‬                                                                                                                        
            Artinya: “dan jangnlah kamu menerima persaksian mereka selama-lamanya.”(QS. An-
Nur: 4).
dan sabda Rasulullah saw:
‫الجهاد ماض الى يوم القيامة‬                                                                                                                   
            Artinya: “berjihad adalah terus berlangsung sampai hari kiamat.”
            Hukum nash yang muhkam adalah wajib diamalkan secara pasti. Ia tidak mengandung
kemungkinan untuk dipalingkan dari zhahirnya dan penasakhkannya.Dalalah muhkam wajib
diamalkan secara qath’i, tidak boleh dipalingkan dari maksud asalnya dan tidak boleh dihapus.
Oleh sebab itu dalalah muhkam lebih kuat daripada selutuh macam dalalah yang disebut diatas.
Oleh sebab inilah, apabila terjadi pertentangan dengan macam dalil diatas, maka yang harus
didahulukan adalah dalalah muhkam.
BAB III
PENUTUP

Ushul Fiqih adalah ilmu pengetahuan yang objeknya adalah dalil hukum atau sumber
hukum dengan semua seluk beluknya, dan metode penggaliannya. Metode tersebut harus
ditempuh oleh ahli hukum Islam dalam mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya. Seluk beluk
tersebut antara lain menertibkan dalil-dalil dan menilai kekuatan dalil-dalil tersebut
Zhâhir  adalah lafaz yang menunjukkan maknanya dengan menggunakan sighatnya sendiri tanpa
memerlukan qarînah dari luar, tetapi memiliki maksud lain dari maksud ungkapan tersebut yang
merupakan pokok pembicaraannya serta ada kemungkinan untuk ditakwilkan. Nash adalah lafaz
yang dengan sighatnya sendiri menunjukkan makna yang dimaksud secara asli dan langsung
sesuai dengan apa yang diungkapkannya, dan ada kemungkinan ditakwilkan. Mufassar adalah
lafaz yang penunjukannya terhadap maknanya jelas sekali, dan penunjukannya itu hanya dari
lafaznya sendiri tanpa memerlukan qarînah dari luar, serta tidak mungkin
ditakwilkan. Muhkam adalah lafaz yang menujukkan kepada makna yang jelas dan tidak
memerlukan qarînah dari luar sehingga tertutup kemungkinan untuk ditakwilkan, diganti maupun
dibatalkan (nasakh)  oleh Allah dan Rasul-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

            Syarifuddin, Amir, Ushul Fiqh II, cet VI, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.
            Mu’in, Dkk, Qaidah-qaidah Istinbath dan Ijtihad, Jakarta: Departemen Agama, 1986.
            Wahab, Khallaf A, Ilmu Ushul Fiqh, Semarang: Dina Utama, 1994.
            Dahwan, Dkk, Ushul Fiqh II, Jakarta: Departema Agama, 1986.
            Syafe’i, Rahmat, Ilmu Ushul Fiqh, cet III, Bandung: Pustaka setia, 2007.

[1] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Permada Media Group, 2011), hlm. 3
[2] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm. 151
[3] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 2007) hlm. 152
[4] Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang: Dina utama, 1994) hlm. 246
[5] Ibid,  hlm. 247
[6] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm. 154
[7] Ibid, hlm. 247
[8] Amir Syafifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Pernada Media Group, 2011), hlm. 9
[9]  Ibid, hlm. 253
[10] Ibid, hlm. 10
[11] Ibid, hlm. 157
Klasifikasi Lafadz; Dilalah Wadih wa Ghairu Wadih*
Prolog

Syariat Islam sebagai syariat Nabi dan Rasul yang terakhir; Muhammad Saw, memiliki kesempurnaan
sistem baik ditinjau dari aspek teks (al-Qur'an dan al-Hadist) maupun dalam implementasinya dalam
bentuk konteks sosial. Diantara ciri khas sayariat Islam menurut DR. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc.,
dalam bukunya Islam Aplikatif, antara lain menyebutkan; kompherensif dan universal.[2]Kompherensif
beraarti syariat Islam mecakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik ritual (ibadah Mahdloh) maupun
sosial (muamalah temasuk sosio kultural, ekonomi dan civil scoeity ), serta Universal menyangkut segala
aspek kehidupan demikian penerapanaya tanpa batas waktu dan tempat.

Namun menurut salah satu tokoh kiri Islam yang layak kita kritisi dalam salah satu seminarnya
mengemukakan; bahwa dalam persoalan muamalah tidak ada ketentuan yang pasti di mana Allah
menentukan “otoritas kebijakan yang permanen” terhadap bentuk hukum yang wajib dipraktikkan umat
Islam. Yang ada hanyalah nilai-nilai pokok universal dalam Islam sebagaimana juga ada dalam semua
agama. Karena itu jika ingin menetapkan suatu hukum dalam soal muamalah di suatu masyarakat harus
melalui jalan ijtihad tanpa perlu terikat pada sistem hukum yang baku dalam Alquran maupun Sunnah,
sebab dalam hal ini tidak ada “HukumTuhan” dalam arti ma'na lafadznya secara mutlak dan permanen.

Dengan demikian diperlukan suatu instrumen lain untuk menjembataninya, yaitu suatu perangkat yang
menyesuaikan antara ma'na teks dengan konteks yang selalu baru. Dalam hal inil Ushul Fiqhlah yang
menjembatani anatara ketetapan-ketetapan al-Qur'an dan as-Sunnah dalam konteks Nash yang
permanen dan prisipil dengan konteks sosial masyarakat yang selalu berubah-ubah dan bersipat Variable.
Untuk itu dalam pembahasan Syariah muamalah kita kenal istilah Tsawabit wa Muthagoyirat (prinsip
dan Variable). Dalam bidang ekonomi, misalanya yang merupakan prinsip adalah larangan riba,
pengambilan keuntungan, pengenaan Zakat, dll. Sedangkan variable adalah instrumen untuk
melaksanakan prinsip tersebut, misalanya murabahah, mudharabah dan lain-lain yang sesuai dengan
perkembangan sosio kultural dan tuntutan zaman.

Walaupun pada dasarnya Ushul Fiqih merupakan kodivikasi kaidah-kaidah universal yang membantu
untuk mengintisarikan pokok-pokok Syari'ah furuiyah, yang terambil dari dalil-dali nash secara ekplisit
dan terperinci,[3] namun dari sinilah sejatinya ilmu Fiqih terlahir sebagi produk instant dari Usuhul
Fiqh.
Maka bentuk kekhawatiran para liberalis terhadap syariah, dimana mereka menuduh syariat sebagai
perangkat Islam yang memiliki kejumudan tanpa membangun wacana kesepadanan antara teks dengan
kontks rill sosial masyarakat yang terus maju dan berubah-ubah adalah tidak benar adanya. Begitu pula
kekhawatiran mereka terhadap Bibliolatry meminjam istilah T.H. Huxley yang dikutip Ulil Absahar
Abdala dalam sebuah tulisananuya Menghindari Bibliotary, tentang Pentingnya Menyegarkan kembali
pemahaman Islam, yaitu sebuah kecenderungan umat terhadap Holy suprame dalam hal ini (al-Qur'an)
dan al-Hadist, sebagai bentuk "penyembahan teks"—menempatkan teks dalam kedudukan yang
begitu"suprame", begitu tinggi, sehingga mengalahkan pengalaman rill kehidupan manusia yang multi
tradisi dan sosio kultural adalah pernyataan yang sangat tidak logis dan tidak berdasar.[4] 

Demikian dengan Fiqih sebagai instrumen syari'ah, dalam perkembanganya telah menjadi sebuah
disiplin ilmu yang berisikan kodipikasi-kodipikasi syar'iah melalui berbagai kajian serta hasil ijtihad para
ulama yang tentunya memiliki cakupan sangat luas, yaitu mencakup segala ilmu[5], termasuk di
dalamnya akhlak, ibadah dan muamalah.

Diantara beberapa bahasan Ushulul Fiqh, Klasifikasi lafadz merupakan salah satu pembahsan yang cukup
urgen, bahkan dapat disebut sebgai intisari bahasan. Untuk itu perlu kiranya kita mengkaji lebih dalam
lagi terkhusus dalam hal ini, karena pembahasanya sangat berkaitan erat dengan Istinbhatil Ahkam.

Setelah sedikit berapologi dan agar tidak keluar dari esensi bahasan, dalam pembahsaan kali ini kita
masih berkutat pada Klasifikasi Lafadz, Jika kemarin menurut pemakaianya maka kali ini
pengkalisifkasian menurut dilalahnya. Untuk lebih lanjut mari kita simak penguraian di bawah ini
dimana penulis yakin bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan yang harus dikritisi, mudah-
mudahan tidak merasa puas dengan makalah ini dan itu yang sejatinya penulis harapkan. 

1. Klasifikasi Dilalah Wadih 

Ada persamaan kategori pengkalsisfikasian Wadihu Dilalah menurut Wahbah Zuhaili dalam kitabnya
Ushulul fiqh al-Islami dengan Ilmu uhulul Fiqah karya Abdul wahab Khalaf, keduanya
mengklasifikasikan Dilalah wadih kepada empat bagian; 1. Dzhahir 2. Nash 3. Mufassar 4. Muhkam.
Penulis menyimpulkan bahwa keduanya menganut paham Imam Hanafi dalam mengklsifikasikan dilalah
menurut Qoidah Ushulul fiqh. Karena dalam kitab Nuhayat ass-Sul karya imam Jamaluddin Abdurrahim
al-Isnawi yang bermadzhab Syafi'i, pengkalsifikasikan lafadz dalam kitab tersebut sangat dipengaruhi
dengan kaidah ilmu manthiq.

Sebelum memebahas Dilalalah berikut kalsifikasinya secara lebih jauh, terlebih dahulu kita akan
membahas Takwil sebagai perangkat penting sebelum membahas dan mentafsirkan bentuk lafadz-lafadz
dalam ranah dilalah, walaupun penjabaranya hanya bersipat global, hal tersebut agar tidak mengurangi
esensi penjabaran makalah tentang klasifikasi lafadz.

Takwil

Definisi Takwil secara etimologi: Tafsir, sedangkan menurut terminologi para ahli ushul mengartikan
takwil; sebagai pembebasan arti lafadz dari ma'na aslinya ke ma'na yang lain berdasarkan dalil yang
kontradiksi dengan lafadz tersbut, maka seyognyanya pentakwilan (lafadz) harus di barengi dengan suatu
dalil yang berlawanan denganya--demikian karena Al aslu adamuhu, dan konsensi wajib terletak pada
kejelasan lafazdnya tersbebut.
Contoh pentakwilan: Taqyidul muthlaq (pengikatan hal yang muthlak), Takhsisul Amm (pengkhususan
hal yang bersifat global), Sharafahu ann umumahu (pebebasan mana yang global)

Al-majaal Attakwil

Bentuk pentakwilan memasuki dua area dalam nash;


pertama: Nash yang berisikan hukum pentaklifan, dikarenakan keraguan yang tumbuh dalam benak
seorang mujtahid dalam mentakwilkan lafadz dalam memahami ma'na bahasanya untuk selanjutnya
menjadikanya sebuah kesimpulan hukum syara' dari nash tersebut.
Kedua: Nash-nash permanent yang berisikan keyakinan dan I'tikad, sebagimana ayat-ayat yang
membahas sifat-sifat Allah, Ahrufulmiqhoto'ah dll.

Syarat-syarat Takwil
Pertama; suatu lafadz (yang memiliki kontardiksi ma'na) sehingga memrlukan dan menerima
pentakwilan, sebagaiamana dilalah Dzohir dan Nash.
Kedua: Sebgaimana lafad muthlaq yang memerlukan pentakyidan/ikatan atau pemgkhusussan lafadz
Amm.
Penjabaran takwil dicukupkan demikian walaupun sejatinya masih cukup panjang, masih banyak
pembagian-pembagian lain yang belum kami cantumkan, hal tersebut agar tidak mengurangi esensi
penjabaran makalah tentang perangkat-perangkat lafadz.
Klasifikasi Lafadz

Perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan pendapat anatar ulama dalam meng-klasisfikasikan lafadz,
diantara yang penulis ketahui; Syafi'iah[6] dan Hanafiah[7], secara garis besar perbedaan mencolok
diantara keduanya, yaitu dalam methode pengklasifikasian, jika Hanafiah cenderung sistematis dan
sedikit mudah untuk dipahami, sedangkan Syafi'iah cenderung klasik dan manthiqi sehingga sedikit sulit
untuk dipahami.
Namun penulis disini hanya akan mengklasifikasikan lafadz terbatas pada methode Hanafiah, hal
tersebut karena mengikuti silabus kajian yang mengikuti methode Hanafiah. diantaranya terdapat dalam
Ushulul fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili serta Al-Imu Ushulul Fiqh karya Abdullah bin Khalaf.

Terdapat persamaan kategori pengkalsisfikasian Wadih Dilalah menurut Wahbah Zuhaili dalam bukunya
Ushulul fiqh al-Islami dengan Ilmu Ushulul Fiqah karya Abdul Wahab Khalaf. keduanya
mengklasifikasikan Dilalah wadih kepada empat bagian; 1. Dzhahir 2. Nash 3. Mufassar dan 4. Muhkam.
Sehingga ada kemungkinan keduanya menganut paham Imam Hanafi dalam mengambil Qoidah Ushulul
fiqh.

I. Dzohir 

Dzohir secara etimologi; bearti jelas. Sedangkan menurut terminologinya yaitu; setiap lafadz atau kalam
yang memiliki ma'na eksplisit terhadap obyek pembaca melalui konotasi bahasanya tanpa harus
menukilkan ma'na lafadz terhadap hal-hal skunder diluar maksud lafadz tersebut, baik lafdz tersebut
mengandung ma'na yang luas ataupun tidak. Sebagaimana Firman Allah {Ya Ayyuhannasuttaqu
rabbakum}[8] atau ayat lainya { Azani wazzaniatu fajlidu kullu wahiddin minhuma}[9] kedua Ayat diatas
memiliki Dilalah yang cukup jelas sehingga tidak perlu mentakwilkannya secara lebih ekplisit lagi.
ketika maksud suatu ayat dapat dipahami tanpa memerlukan penukilan terhadap ma'na lainya, akan
tetapi bukan merupakan maksud asli dari konotasi bahasanya, maka hal itu dapat mengi'tibarkan kalam
tersebut keapada--maksud kalam tersebut secara eksplisit
Contoh: {Fankihu maa thooba lakum minanannisa mastna wa stulasa wu ruba'a}[10] ayat tersebut secara
jelas menunjukan ke legalan berpoligami dalam memiliki istri, tetapi ma'nanya tidak menunjukan kepada
arti luas dari ayat tersebut karena maksud utama dari konotasi ayat tersebut adalah meminimalisir
jumlah istri dari empat atau satu saja sebagaimana diatas.

Hukum Dzohir

Hukum Dzohir wajib mengamalkan petunjuknya secara yakin dan pasti, baik lapadz tersebut bersifat
umum ataupun khusus terkecuali apabila terdapat dalil lain yang mengeliminasi ke udhulan-ya, baik
mengarah kepada maksud lain atau adanya dalil lain yang menunjukan pendiskualipikasian lafadz yang
dimaksud, sebagaimana lafadz muthlaq yang memerlukan taqyid. Contohnya pada ayat tentang kelegalan
berpoligami yang masih muthlaq {Wa ahallalohu maa wa'roa dzalikum}, ayat tersebut di taqyid dengan
ayat lain {Mastna wa tsulasa wa rubba'a}, dan dalam suatu hadits tentang pelarangan seorang gadis hidup
bersama pamanya.

II. Nash

Nash menurut definisi para ahli ushul: setiap lafadz yang menunjukan kepada ma'na atau maksud asli
lafadz secara jelas, melalui konotasi lafadz tersebut dengan menggunakan perangkat takwil, takhsis dan
menerima nasakh (khusus di masa turunya wahyu).
Contohnya: {wa ahalallohu al-Bai'a wa harroma arriba}[11] disatu pihak ayat tersebut menunjukan
pengingkaran "misal" dan di pihak lain menerangkan perbedaan antara; jual beli dengan riba dari segi
halal dan haramnya.

Maksud ayat tesebut jelas yaitu pelegalan jual beli dan pelarangan riba, sebagai sanggahan terhadap
statemen orang Yahudi terhadap riba yang terdapat pada ayat sebelumnya { Innamal Bai'a mistlu ar-riba}
[12]

Hukum Nash

Nash wajib hukumnya, sebagaimanan hukum Dzohir dengan pertimbangan takwil dan nasakh, meskipun
pentakwilan tidak di sandarkan kepada suatu dalil atau pentakwilanya berada jauh dari ma'na dzohirnya,
kedudukan nash bersifat tetap hukumnya Qat'i dan yakin.
III. Mufassar

Definisi Mufassar yaitu: setiap lafadz yang menunjukan kepada ma'na serta maksud lafadznya secara
dzohir tanpa menyertakan perangkat takwil dan takhsis akan tetapi menerima nasakh (terbatsa pada
masa turunya wahyu berlangsung).
Dalam menerangkan suatu lafadz, Mufasssar terbagi dua bagaian.
Pertama: Bayanu at-Taqrir.
Yaitu suatu keterangan dengan perfikasi takhsisulafdzi, majaz dan takwil apabila berbentuk umum dan
mengubahnya menjadi lafadz muakkad.
Contohnya: {Tholaki nafsiki marrotan wahidatan} lafadz (wahidatan) dalam hadits tersebut menunjukan
kemungkinan pentalaqan lebih dari satu kali, sehingga perlu keterangan lain untuk menafsirkanya. 
kedua: Bayanu at-Tafsir.
Yaitu suatu keterangan dengan menafsirkan ma'nanya yang tersembunyi meliputi lafadz tersebut serta
menjelaskanya sehingga lebih eksplisit.
Contohnya: {Fasajjada al-Malaikat kulluhum ajmaun}" kata mlaikat disini bersifat umum sehingga
memerlukan pengkhususan-- karena perkataan yang didahului alif lam akan bersifat jama'(umum). akan
tetapi kalimat malaikat disini telah bersifat khusus (dengan maksud) sebagaian malaikat tidak
melaksanakan sujud. kalimat (kulluhum) disini menunjukan pembebasan taksis, hal ini menunjukan
bayan taqrir. sedangkan kalimat ( ajmaun) menghilangkan ihtimal pelaksanaan sujud yang berbeda-beda;
hal ini disebut dengan bayan tafsir, menafsirkan kaifiyah sujud, serta membatasi ihtimal perbdaan takwil.

Hukum Mufassar
Kedudukan hukumnya bersifat wajib qoth'i, tanpa memerlukan ihtimal takwil atau takhsis serta nasakh di
masa nabi, dengan syarat apabila hukumnya tersebut bersifat Juz'i; karena masa pemberlakuan nasakh
(penghapusan ma'na nash) terbatas pada saat turunnya wahyu berlangsung, adapun setelah wafatnya
Nabi Muhammmad. Saw dan terputusnya wahyu, kedudukan hukum syara' dalam al-Qur'an dan Sunnah
menjadi ketetapan hukum yang permanen tanpa menerima nasakh dan Ibthol

IV. Muhkam

Muhkam menurut terminologi para ahli Ushul; Yaitu lafadz yang menunjukan kepada ma'nanya melalui
konotasi lafadz tersebut secara jelas dan terperinci tanpa menggunakan takwil, takshsis dan nasakh. Hal
tersebut karena lafadz Mufassar menyangkut permasalahan asasi, seperti halnya Ushulul Iman, Ushulul
fadhail dan Qaidah akhlakiah.
Dalam kitab Ushulul Fiqh Alislami, Wahbah Zuhuaili mengkalsisifikasikan Muhkam kepada dua tema;
Pertama: Almuhkam Lidzatihi, yaitu suatu konsensus hukum yang terambil dari dzat nash tersebut.
Sebagaimana Firman Allah {Innalaha Bii kulli syain Alim} maka sifat alim bagi Allah bersifat qadim azali
yang artinya berdiri sendiri dengan dzatnya ta'ala, maka pembahasannya ini tidak menerima Nasakh,
maupun takwil karena pembahsanya yang bersifat permanen dan tetap mengenai sifat Uluhiyah
Kedua: Al-muhkam Li Ghoirihi, yaitu lafadz yang terhukumi disebabkan perkara lain diluar nash, yaitu
setiap Nash yang terputus penasakhan-nya disebabkan terputusnya (masa penurunan) wahyu kerana
wafatnya Nabi Saw., Maka hukum tersbut (dapat) datang dari perkara lain diluar Nash, hal tersebut
meliputi berbagi macam dilalah wadih yang empat; Dzohir, Nash, Mufassar, dan Al-muhkam.

Hukum Muhkam:

Hukumnya wajib Qoth'i tanpa ada keraguan lagi, dikarenakan tidak ada pertimbangan lain untuk
mem'anainya ke arti yang lain serta tidak pula menerima nasakh dan pembatalan nash secara muthlaq,
baik dimasa turunya wahyu maupun setelah wafatnya Rasul Saw.

Kesimpulan Dilalah Wadih

Setipa Dilalah (Dhohir, Nash, Mufassar dan Muhkam), maka kedudukanya wajib menjadi sebuah
supremasi hukum secara qath'i dan yakin, aka tetapi ke-empatnya memiliki kemungkinan pertimbangan,
yaitu; ketika terjadi pertimbangan ma'na terhadap dalil-dalil yang kontradiksi.
Adapun alternatif pengambilan hukum terhadap dilalah yang memang mengalami kontradisksi, maka
setidaknya kita harus memilih dilalah mana yang paling kuat dari ke-empat macam lafadz tersebut
Karena ke-empatnya memiliki tingkatan hukum serta kekutan ma'na yang berbeda-beda. Adapun
tingkatan hukum yang peling kuat dan jelas menurut tingkatanya adalah: Almuhkam, Mufassar, Nash
dan terakhir Dzohir.
Contoh kontradiksi; antara dzohir dan nash;
Dalam sebuah Ayat {Wa ahllallohu maa waraa'a dzlikum}, dengan ayat lain: {Fankihuu maa Thoaba
lakum min annisa'i mastna wa tsulasa wa rubaa'a}. Kedua ayat tersebut sama-sama menunjukan
kelegalan berpoligami, akan tetapi ayat pertama berbentuk dzohir, tanpa ada batasan jumlah (red;istri),
sedang pada ayat ke-dua berbentuk nash, karena menunjukan batas jumlah istri dalam ber-poligami (satu
sampai empat istri), serta larangan melebihkannya. Secara langsung kedua dilalah ini menunjukan
sebauh kontradiksi ma'na. Adapun caranya dengan mendahulukan nash, dengan alasan nash lebih kuat
dibandingkan dzohir dalam pengamalan dan pengambilan istinbath hukumnya, karena nash bersifat
global mencakup kedua dilalah dengan mempertimbangangkan (lafadz dzohir) sebagai tamtsil terhadap
pertimbangan lain yang sepakat dengan nash. Hal ini sesui dengan kaidah umum ushul fiqh; Al-aqwa
yuqoddimu ala adh'ap i'nda Att-aarud.

Untuk menghemat penulisan, sekian contoh yang penulis sertakan, untuk contoh lebih lanjut kita akan
mencoba membahasnya pada saat diskkusi nanti Insya Allah. Selanjutnya kita akan memebahas judul
berikutnya.

Klasifikasi Dilalah Ghairu Wadih

Para ahli ushul mendefinisikan Dilalah Ghairu Wadih; Setiap Dalil yang tidak menunjukan ma'na asli
lafadz tersebut melalui Sighatu Lafadzi-nya, akan tetapi ma'nanya tersifati (dapat diketahi) melalui
perkara lain diluar konotasi lafadznya.[13] Kalasisfikasi Dilalah Ghairu Wadih terbagi kepada empat
bagian: Khafii, Musykil, Mujmal dan Mutasyabih. Ke-empat bagian ini masing-masing memiliki
kedudukan serta drajat yang berbeda sesuai dengan kategorinya.

Pandangan Umum.

Kategori peng-klasifikasian tingkatan dilalah Ghairu Wadih berdasarkan kesamaran/ketersembunyian


lafadz serta Ma'na yang terkandung di dalamnya. Apabila kesamaranya terdapat pada ma'nanya maka
disebut: Khafa. Sedangkan apabila kesamaranya terdapat pada Lafadz terbagi kepada tiga bagian:
pertama, apabila maksud atau ma'na dari lafadz tersebut masih dapat diketahui melalui akal disebut:
Musykil, kedua, bila diketahuinya dengan dalil Naqli dan tidak dengan akal disebut: Mujmal, ketiga,
apabila maksud lafad yang tersembunyi tidak bisa di ketahui dengan akal maupun dalil naqli disebut;
Mutasyabih. Untuk emnegtahui dalil mutaysabih lebih lanjut akan penulis uraikan dibawah ini.

I. Khafa

Menurut terminologi para Ahli Ushul: Khafa adalah Suatu lafadz yang menunjukan ma'nanya secara jelas,
akan tetapi terdapat beberapa hal yang samar pada sebagian tingkatan ma'nanya yang lain, sehingga
membutuhkan penela'ahan dan pengkajian yang mendalam untuk mengetahuinya.
Contohnya: Lafadz {Assariqu} dalam ayat {wassariqu wa sarriqotu faktau' ayidiyahuma}[14], definisi
Assariqu (mencuri) sangat jelas: yaitu merampas hak milik orang lain berupa harta Haraz[15] dengan
jalan sembunyi-sembunyi.
Pengambilan hukum menjadi samar bila kata sariqah disandingkan dengan kejahatan yang sejenis akan
tetapi terdapat perbedaan dalam cara mengerjakanya, contohnya; Atharar[16] dan Annabasy[17].
Walupun ma'nanya hampir sama ( kegiatan mencuri), namun ada perbedaan cara serta obyek yang
diambil, hal inilah yang menjadikan keraguan dan perselisihan pendapat para ulama apakah ke-tiganya
dikategorikan hukum sraiqoh (potong tangan), ataukah tidak, dalam hal ini perlu pengkajian dalam
menentukan hukumnya.
Diantaranya Imam Syafi'i dan Imam Abu Yusuf sepakat menghukumi ketiganya dengan hukum sariqah,
akan tetapi Imam Hanafi memiliki pendapat lain dalam menghukumi Annabasy, menurutnya kasus
Annabasy ini tidak bisa dikategorikan dengan hukum sariqoh, alasanya; karena (harta) yang terdapat di
pekuburan tidak termasuk harta yang dipelihara/dijaga, dan kafan umumnya termasuk harta yang
sifatnya tidak diingini banyak orang oleh karena itu, penamaanya pun berbeda (tidak sriqu kaffan), maka
hukum Annabasy, masih menurut Hanafi tidaklah sama dengan hukum sariqoh akan tetapi dihukumi
dengan ta'jir.[18] Berbeda halnya dengan Imam Syafi'i dan Imam Yusuf yang mengkategorikanya dengan
hukum Sariqah (dipotong tanganya).

Hukum Khafi:

Wajib mengadakan usaha untuk mengetahui pengertianya serta ma'nanya, apabila terdapat lafadz yang
justru lebih jelas (Atharar: perampokan), maka hukumnya di kembalikan ke asal lafadz aslinya (sariqoh:
pencurian)

II. Musykil

Menurut para ahli Ushul, Musykil adalah: setiap lafad yang tersembunyi ma'nanya disebabkan bentuk
asal lafadznya tersebut, oleh karenanya tidaklah mudah mengetahui ma'nanya kecuali dengan pengkajian
dan perbandingan ma'na/maksud dengan perangkat lain secara seksama.
Contohnya: {wal muthalaqatu Yatarabbasna bi anfusihinna tsalasatu quruuin}[19], lafadz Quru' dari ayat
diatas menjadi batasan waktu Iddah, sedangkan dari segi bahasanya memiliki dua ma'na; Suci atau Haidl.
Maka terdapat perselisihan pendapat. Diantaraya Imam Syafii dan Imam Maliki mengartikan Lafadz
Quru'sebagi Thaharah. sedangkan menurut Imam Hanafi Ma'na Quru' berarti Hadil. walupun Wahbah
Zuhaili dlam kitabya merajihkan pendapat pertama. pada dasarnya keduanya memiliki alasan yang kuat
namun penulis disini tidak bermaksud mencantumkanya semoga dapat ditemukan dalam diskusi nanti.

Hykum Musykil
Wajib mengkaji serta menela'ah lafadz musykil untuk mengetahui maksud serta ma'na lafdz tersebut
serta mengamalkanya, sesuai dengan perbandingan keterangan serta dalil-dalil yang menyertainya.

III. Mujmal

Para ahli ushul mendefinisikan Mujmal; setiap lafadz dimana sighohnya tidak menunjukan kepada ma'na
asli lafadz tersebut tanpa ada pembanding atau konteks yang menjelaskannya, sehingga dengan kata lain
sebab ke abstrakan ma'nanya dikarenakan lafadz bukan maksudnya.

Sebab-sebab dilalah Mujmal;

Pertama: al-Isytirak ma'a adamu al qorinah, kedua: gharabtul isti'mal ketiga: Annaqlu minal ma'na
allughowi ilaa ma'na isthilahi.

Hukum Mujmal:

Penetapan ijtihad ma'na dilalah Mujmal terbatas hanya pada masa turunya wahyu sebab ma'nanya yang
sangat mubham serta tidak ada sighah lafadz atau dalil lain sebagai pembanding untuk menjelaskan
ma'nanaya, maka penafsiran ma'nanya langsung dari Nabi Saw., Tanpa memakai perangkat ijtihad.

IV. Mutasyabih

Definisi Mutasyabih menurut para ahli ushul yaitu: suatu lafadz yang sama sekali tidak menunjukan arti
lafdz tersbut dengan sendirinya, tanpa ada Qrinah-qorinah lain yang membantu menjelaskanya, akan
tetapi mayakininya secara syara' tanpa menafsirkanya lebih lanjut.

Sebgai pengetahuan bahwa lafadz Mutasyabih ini tidaklah terdapat pada ayat-ayat hukum, akan tetapi
lafadz mutasyabih ini terdapat pada tempat/Nash lain, sebgaimana ahruful muqatha'ah pada permulaan
beberapa surat; alif lam, Qaaf, Ahad dll. atau dalam sebagian ayat al-Qur'an yang menjelaskan bahwa
Allah Swt., memiliki perangkat tubuh sebagaimana makhluknya, sebagaimana tercantum dalam beberapa
ayat.
Untuk ahruful Hijaiah al-Muqata'ah, seluruh ulama sepakat bahwa tidak ada man'a yang pasti dan tidak
adapula penafsiran Allah kepada maksud aslinya, untuk itu Allahu a'lamu bimurodihi. Sedangkan untuk
ayat-ayat mutasyabihat terdapat dua perbedaan pendapat, yaitu: ulama salaf dan khalaf dalam
menafsirkan Ma'na ayat tersebut.
Pertama: ulama salaf, mereka lebih cenderung tawaquf dalam mema'nai ayat-ayat tesbut dengan
meyakini sepenuhnya, tanpa ada usaha untuk mentakwilankan lafadz tersebut ke ma'na lainya, hal
tersebut sebagi tindakan kehati-hatian mereka dalam me'ma'nai lafadz tereebut. Landasan ulama salaf
adalah dalam menenntukan wuquf dalam bacaan ayat {wamaa ya'lamu ta'wiluhu illallahu }[20],
Kedua: ulama Khalaf menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan ma'na mazaji sesui dengaan dzohirul
lafadzinya. karena menurut mereka al-Qur'an diturunkan untuk di taddaburi, di kaji dan digali
ma'mananya baik yang dzohir maupun yang tersembunyi. Sebagaimana lafadz {alyad}, dima'nai dengan
Qudrah yang berarti kekuatan, atau {A'yunina} dengan arti Riayatuna yang berarti
penjagaan/pengasuhan. Sebagaimana telah dijelaskan diatas landasan mereka adalah dalam menentukan
wuquf yang berebda dengan ketentuan wuquf ulama salaf {wama ya'lamu ta'wiiluhu illallohu waa
arrsosikhuna fil ilmi}.[21]

Kesimpulan

Dari uraian diatas, sedikitnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa klasisfikasi lafadz memiliki tempat
yang sangat urgen dalam kaidah ushulul fiqh, hal ini dikarenakan keberadaanya yang menjadi titik vokal
dalam pengambilan serta isthinbatul ahkam Ushul Fiqh. Perlu pengkajian lebih, dalam mene'laah ayat-
ayat Al-Qur'an dan Hadist terkhusus nash-nash hukum, karena setiap lafadz tidak serta merta
menunjukan ma'na serta maksud dari konotasi lafadz tersebut, melainkan terdapat berbagai perangkat
lain dalam menentukan ma'na serta maksdunya, diantar perangkat tersebut sebagaiaman telah di uraikan
diatas; Takwil, Nasakh wal mansukh, Tarjih dll, yang semuanya terangkum dalam ranah ijtihad para
ulama dan shalafu sholeh. 

Epilog
Alhamdulillah puji syukur kepada Allah S.W.T, termikasih kepada teman-teman serumah dan
seperjuangan yang telah menyokong, membantu serta mengorbankan ketenangannya disaat proses
penulisan makalah ini. Tanpa mengurangi rasa syukur, sudah seyogyanya kita sebagai "thalib" warisan
para alim ulama agar tidak merasa puas dan cukup terhadap ilmu yang kita miliki, spirit kritis dan
bertanya nampaknya masih sangat perlu dibangun, keduanya adalah instrumen istimewa pembuka
wawasan pemecah kebekuan dan kejumudan. Masih banyak kekurangan dan kesalahan yang perlu di
kritisi dan diluruskan, kurang lebihnya penulis mohon maaf, mudah-mudahan menjadi bekal di
masyarakat serta menjadi amal ibadah di sisi Allah. Aminn

Wallahualam Biishowaab

*Makalah ini di persentasikan dalam acara Kajian Intensif Jama'ah IKASADA, Cabang Kairo pada tanggal
20 Agustus 2008 di rumah kost-an permai, Qta10. 
** Penulis adalah Thalib Azhar yang ingin selalu mempersandingkan dengan harmonis antara teks dan
konteks menjunjung tinggi pesan propethik dan pluralisme tradisi 
2 DR. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., Islam Aplikatif, Gema Insan press, Jakarta, cet I, 2006, hal 69
Al-Wadih fi Ushulul Fiqh, Maktabah Darr el-Salam, Kairo, cet I . Muhammad Abdullah Al-Asyroq, [3]
Tahun 2007 hal 7. 
[4] Ulil Absahr Abdalla, Menggugat Tradisi, diedit oleh Zuhairi Misrawi, Grup Kompas, Jakarta , 2 003,
hal 68-69.
[5]QS. Al-Maidah: 78
[6] Syafi'iah yaitu suatu kelompok menganut madzhab Syafii, 
[7] Hanafiah yaitu suatu kelompok yang menganut Imam Hanafi
[8] QS. Al-Hajjj:1
[9] Ibid.An-Nur: 2
[10] Ibid. An-Nisa:3
[11] QS.Al-Baqarah: 275
[12] Ibid: 275
[13] Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushulul Fiqh, Maktabah Dar el-Trurat, Kairo, cetke I, hal168
[14] QS. Al-Maidah: 38
[15] Haraz; istilah harta yang dilindungi pemiliknya, biasanya di simpan dirumah atau di tempat lainnya 
[16] Atharar merampok; mengambil hak oranglain di saat pemiliknya sedang lalai dengan kelihaian
tanganya 
[17] Annabasy; penncuri kain kafan mayit dari kuburan
Wahbah Zuhauli, Ushulul Fiqh Al-Islami, Maktabah Dar el-Fiqr, Damsyiq, cet I, 1986, hal 338 [18]
[19] QS. Al-Baqarah: 228
[20] QS. Ali Imran: 7
[21]Wahbah Zuhauli, Ushulul Fiqh Al-Islami, Maktabah Dar el-Fiqr, Damsyiq, cet I, 1986, hal 34