Anda di halaman 1dari 68

MAKALAH MANAJEMEN

PEMASARAN KESEHATAN

Disusun Oleh

Kelas 1B

Qurrotulaini Wahyu Pratiwi 141611101035


Grace Valencia Handoko 141611101066
Aulia Rahma Elnisa 141611101074
Yuliandari Amilia Putri 181611101009
Lulu Roshima Putri 181611101016
Amalia Hayudiarti 181611101017
Nurul Aini Fajrin 181611101018
Fergyansa Wiguna Adhiyaksa 191611101039

Dosen Pembimbing
drg. Surartono Dwiatmoko, MM

PKL MPK ILMU KEDOKTERAN GIGI MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER
PUTARAN 1 2020/2021
PRODUK DAN PASAR/MARKET

PRODUK
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu
keinginan atau kebutuhan. Produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, acara,
orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide. Menurut Kotler dan Armstrong (2001)
dalam Riyono (2016) klasifikasi produk dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Barang Konsumen
Barang konsumen yaitu barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri,
bukan untuk tujuan bisnis. Umumnya barang konsumsi dapat diklasifikasikan menjadi empat
jenis, yaitu:
1) Barang kebutuhan sehari-hari (Convience Goods) adalah barang-barang yang biasanya
sering dibeli konsumen (memiliki frekuensi pembelian tinggi), dibutuhkan dalam waktu
segera, dan memerlukan waktu yang minim dalam pembandingan dan pembeliannya.
2) Barang belanjaan (Shopping Goods) adalah barang-barang yang karakteristiknya
dibandingkan dengan berbagai alternatif yang tersedia oleh konsumen berdasarkan
kesesuaian, kualitas, harga, dan daya dalam proses pemilihan dan pembeliannya.
3) Barang khusus (Speciality Goods) adalah barang-barang dengan karakteristik dan atau
identifikasi yang unik, yang untuknya sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia
senantiasa melakukan usaha khusus untuk pembeliannya.
4) Barang yang tidak dicari (Unsought Goods) adalah barang-barang yang tidak diketahui
konsumen atau walau sudah diketahui namun secara umum konsumen belum terpikir untuk
membelinya.
2. Barang Industri
Barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh industriawan (konsumen antara
atau konsumen bisnis) untuk keperluan selain konsumsi langsung, yaitu: untuk diubah,
diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual kembali oleh produsen, untuk dijual kembali
oleh pedagang tanpa dilakukan transformasi fisik (proses produksi).
Perbedaan dari produk jasa dan produk barang yaitu
Produk Barang Produk Jasa
Definisi Hasil keluaran sebuah sistem Hasil keluaran sebuah sistem
kerja yang terdiri dari bentuk kerja yang terdiri dari
fisik dan/atau informasi yang kumpulan aksi yang
didapatkan konsumen dan dijalankan bagi konsumen
digunakan kemudian tanpa menghasilkan produk
yang dapat digunakan
kemudian. Fungsi atau
manfaat bisa dirasakan
misalnya sebuah pelayanan
dan berhubungan dengan
tingkat kepuasan
Kegunaan bagi Konsumen Kepemilikan dan penggunaan Aksi yang dijalankan bagi
produk konsumen
Distribusi Bisa diperjual belikan karena Tidak melalui proses
ada proses produksi distribusi atau penyimpanan
Kepemilikan Ada pengalihan kepemilikan Tidak ada pengalihan
kepemilikan dari produsen
dan konsumen
Pengendalian Kualitas Bisa dilakukan pengendalian Pengendalian dilakukan saat
sesudah maupun sebelum proses pelayanan berlangsung
Contoh Mobil, mesin fotokopi, buku, Pemeriksaan dan perawatan
kosmetik, peta dan petunjuk oleh dokter, perawatan
jalan. kecantikan, tur guide.

Dalam bidang kesehatan produk barang misalnya alat dan bahan, sedangkan jasa dihasilkan
dari pelayanan kesehatan walaupun dalam prosesnya bisa menimbulkan suatu barang (hasil
perawatan prostodontik, tumpatan logam). Dalam bidang kedokteran gigi yang dijual atau yang
diutamakan adalah servis atau pelayanannya. Tingkat kepuasan sudah bisa dirasakan mulai awal
pelayanan sampai akhir pelayanan.Maka dari itu untuk menjaga kepuasan konsumen harus
menjaga kualitas dari sebuah pelayanan. Menjaga kualitas juga bisa menggunakan sebuah standar
kualitas (SOP, standar bahan, dll). SOP adalah sebuah pedoman untuk melakukan pelayanan.
Selain itu SOP bisa melindungi para pemberi jasa dalam memberikan sebuah pelayanan misalnya
dari tuntutan hukum.

Jenis-jenis barang dapat dibedakan menjadi tiga buah pengklasifikasian:


1. Berdasarkan cara memperolehnya, dibedakan menjadi barang bebas dan juga barang ekonomi
a. Barang Bebas, adalah sarana pemuas kebutuhan yang untuk memperolehnya tidak
diperlukan suatu pengorbanan sumber daya ekonomi. Contoh dari barang bebas antara lain
udara, sinar matahari, air, dan sebagainya.
b. Barang Ekonomi, sarana pemuas kebutuhan dimana untuk memperolehnya dibutuhkan
suatu pengorbanan sumber daya ekonomi. Barang ekonomi dibedakan menjadi barang
konsumsi dan barang produksi. Misalnya pakaian, makanan dan juga rumah.
2. Kegunaan barang yang berhubungan dengan barang lain, dibedakan kedalam barang substitusi
dan barang komplementer, yaitu:
a. Barang Komplementer (Pelengkap)
Barang yang mempunyai kegunaan dalam melengkapi barang lain sehingga dapat
bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan manusia apabila digunakan secara bersma-sama.
Misalnya bensin dengan kendaraan, dan tinta dengan pena.
b. Barang Subtitusi (Pengganti)
Barang yang mempunyai kegunaan untuk menggantikan barang lain, seperti halnya bus
dapat mengggantikan angkutan kereta api, jagung mampu menggantikan beras sebagai
kebutuhan pokok masyarakat.
3. Proses Produksinya, terbagi ke dalam barang mentah, barang setengah jadi, dan juga barang
jadi:
a. Barang Mentah, yaitu barang yang belum mengalami suatu proses produksi (pengolahan),
dan akan dijadikan sebagai bahan yang laku dalam proses produksi. Misalnya kapas, kayu
gelondongan, dan beras.
b. Barang Setengah Jadi, merupakan barang yang telah mengalami proses produksi, namun
belum dapat digunakan dalam memenuhi kebutuhan manusia secara sempurna karena
harus dilakukan proses pengolahan kembali, misalnya kapas menjadi benang, kayu
menjadi papan, dan beras menjadi tepung.
c. Barang Jadi, adalah barang yang telah mengalami proses produksi secara tuntas atau
sempurna dan mampu untuk digunakan dalam memenuhi kebutuhan. Contohnya, kue,
meja, pakaian dan juga kursi.

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Orville, Larreche, dan Boyd dalam Riyono (2016) apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek
dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual
perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Dimensi kualitas produk yaitu:
1. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk.
2. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan
bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian
konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan produk.
4. Conformance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana
karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen
atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
5. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
6. Reliabilty (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan
atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan
maka produk tersebut dapat diandalkan.
7. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat dari
tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
8. Perceived Quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan
pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa
konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi,
persepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan
Negara asal.

Tingkatan produk terdiri dari:


1. Core Benefit
Produk inti memiliki manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan akan dikonsumsi oleh
pelanggan dari setiap produk.
2. Basic Product
Merupakan produk dasar yang mampu memenuhi fungsi produk yang paling dasar (rancangan
produk minimal agar dapat berfungsi).
3. Expected Product
Serangkaian kondisi atau atribut yang diharapkan konsumen. Produk yang diharapkan
merupakan produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan kondisinya secara
normal (layak) diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
4. Augmented Product
Produk pelengkap dan bermanfaat bagi konsumen atau penambah manfaat dan layanan.
Produk pelengkap merupakan berbagai atribut produk yang dilengkapi atau ditambahi berbagai
manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan tambahan kepuasan dan bisa dibedakan
dengan produk pesaing.
5. Potential Product
Produk potensial merupakan segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin
dikembangkan untuk suatu produk di masa mendatang.

Dalam strategi pemasaran, ada beberapa strategi dasar yang berhubungan dengan produk atau
dikenal sebagai strategi produk atau strategi pemasaran produk, diantaranya adalah:
1. Strategy positioning product
Positioning adalah posisi produk (merek) di benak konsumen, artinya adalah bagaimana atau
sebagai apa sebuah produk akan diingat oleh konsumen sasaran. Tujuan strategi positioning
adalah untuk menempatkan merek produk sedemikian rupa sehingga produk tersebut terpisah
atau terbedakan dari yang lain (merek pesaing).
2. Strategy repositioning product
Strategi repositioning produk adalah strategi untuk melakukan positioning ulang suatu merek
produk di pasar sasaran. Strategi ini dijalankan biasanya karena merek produk mengalami
beberapa kejadian berikut, yaitu :
▪ Adanya pesaing yang masuk dengan positioning yang sama persis, berdampingan dengan
merek perusahaan dan pesaing memiliki sumber daya yang cukup kuat sehingga di
kahwatirkan jika dibiarkan akan membawa dampak buruk bagi merek perusahaan.
▪ Adanya perubahan preferensi konsumen, atau terjadi value migration, sehingga value
produk dimata konsumen berubah.
▪ Adanya nicher baru yang lebih potensial yang diikuti dengan sumber daya perusahaan dan
kesempatan untuk masuk ke nicher tersebut.
▪ Telah terjadi kesalahan positioning merek produk sebelumnya.
3. Startegy overlap product
Strategi overlapping produk adalah strategi pemasaran dengan menghadirkan persaingan
dengan merek produk perusahaan yang sudah ada di pasar.Tujuan dari strategi overlapping
ini adalah untuk meningkatkan volume penjualan dengan melayani segmen pasar yang lain.
Bentuk dari overlapping product ini adalah :
▪ Penggunaan merek yang berbeda dengan produk yang sama dengan kualitas yang sama.
▪ Penggunaan merek produk yang berbeda dengan kualitas produk yang sedikit berbeda,
dengan tujuan sebagai second brand.
▪ Penggunaan merek produk yang sama, namun dengan label khusu yang menunjukan
bahwa merek produk tersebut memiliki kekhususan, misal dengan penambahan feature
atau fungsi tertentu.
4. Strategi lingkup product
Strategi lingkup produk adalah strategi yang berhubungan dengan jumlah lini produk dan
banyak item yang ada dalam setiap lini produknya. Secara umum ada tiga macam yaitu :
▪ Strategi produk tunggal, biasanya dengan tujuan untuk mencapai skala ekonomis dan
spesialisasi dengan melayani satu segmen pasar dengan satu jenis produk.
▪ Strategi multi produk, bertujuan untuk menjaga agar selalu ada produk yang eksis dipasar,
startegi banyak diterapkan oleh perusahaan dengan produk yang memiliki life cycle pendek
seperti snack, permen dan liannya.
▪ Strategi system of products, adalah strategi dengan tujuan untuk meningkatkan
ketergantungan konsumen terhadap produk tersebut, atau agar pesaing mengalami
kesulitan untuk masuk.
5. Strategy design product
Strategi desain produk, artinya sebuah strategi yang berhubungan dengan desain atau model
produk tersebut, yaitu model atau desain standard, desain khusus atau customized design dan
desain modifikasi (standard dengan modifikasi khusus). Produk standar, bertujuan untuk
mendapatkan skala ekonomis dari produk standar yang diproduksi secara masal.
a. Produk kustom (customized product), bertujuan untuk melayani permintaan dari pasar
tertentu dengan produk khusus untuk segmen tersebut.
b. Produk modifikasi, adalah produk standar dengan modifikasi khusus, tentunya
penambahan dari standar, dengan harapan bisa melayani pasar tertentu yang tidak sensitif
terhadap harga dan lebih berorientasi pada kualitas produk (diatas standar).
Tujuan dari strategi desain tentu saja untuk memaksimalkan pangsa pasar (market share),
peningkatan laba dan penjualan, melalui perubahan model yang disesuaikan dengan keinginan
pasar khusus (dengan customized product) dan trend yang sedang berkembang.
6. Strategy elimination product
Strategi eliminasi produk adalah staregi untuk menjaga keberlangsungan perusahaan atau
bisnis dengan memangkas atau melakukan treatment khusus terhadap lini produk tertentu.
7. Strategi produk baru
Produk baru adalah produk yang sebelumnya belum pernah ada, produk yang sudah pernah
ada, dan disempurnakan, penambahan lini produk baru, penambahan pada lini produk yang
sudah ada, atau perubahan produk seperti peremajaan (rejuvenasi). Secara umum tujuan dari
strategi produk baru adalah untuk memenuhi kebutuhan (baru) konsumen, memperkuat
reputasi merek produk di pasar serta untuk meningkatkan daya saing merek produk
perusahaan di pasar sasaran. Bentuk strategi produk baru adalah:
▪ Modifikasi atau penyempurnaan produk yang sudah ada.
▪ Produk tiruan atau imitasi baik yang sama persis maupun dengan beberapa
modifikasi.
▪ Produk yang benar-benar baru, atau produk inovasi
8. Strategi diversifikasi
Strategi diversifikasi adalah strategi untuk mengembangkan produk atau pasar yang baru atau
keduanya, dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal, peningkatan
penjualan, peningkatan profitabilitas, dan fleksibilitas produk. Ada tiga bentuk dari strategi
diversifikasi ini, yaitu
▪ Diversifikasi konsentris, dimana perusahaan akan membuat produk baru yang masih
memiliki hubungan dengan produk perusahaan yang sudah eksis di pasar, misal
perusahaan sudah memiliki produk pasta gigi, kemudian melakukan diversifikasi
konsentris dengan membuat produk sikat gigi.
▪ Diversifikasi horizontal, dimana perusahaan akan membuat produk baru yang tidak
ada hubungannya dengan produk yang sudah ada, tetapi perusahaan melakukan
penjualan di target pasar yang sama dengan target pasar produk yang sudah eksis.
Contoh perusahaan sudah memiliki produk pasta gigi di segment pasar A, kemudian
membuat shampo yang juga menyasar segmen pasar A.
▪ Diversifikasi konglomerasi, yaitu saat perusahaan membuat produk yang sama sekali
tidak berhubungan dengan produk yang sudah ada, dan menyasar segmen pasar yang
juga berbeda sama sekali, pada konsep ini tidak ada hubungan antar produk pertama
dengan produk kedua, termasuk teknologi, konsep dan lain sebagainya.

MARKET/PASAR
Berdasar Kamus Umum Bahasa Indonesia, pasar berarti tempat orang berjual beli
sedangkan tradisional dimaknai sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang
kepada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun. Pasar adalah suatu tempat
dimana pembeli dan penjual bertemu untuk membeli atau menjual barang dan jasa atau faktor-
faktor produksi.
Bentuk- bentuk pasar jika dilihat dari bentuk pasar maka persaingan dibagi dalam beberapa bentuk,
yaitu:
a. Monopoli sempurna, yaitu suatu perusahaan tertentu mempunyai kedudukan monopoli
terhadap suatu barang atau jasa tertentu.
b. Oligopoli sempurna, yaitu apabila ada dua atau lebih (tetapi tidak banyak) perusahaan yang
menghasilkan dan menjual komoditi yang pada dasarnya sama. Regulasi pada pasar ini jauh
lebih ketat dari pasar monopolistis misalnya rumah sakit.
c. Oligopoli terdiferensiasi, yaitu apabila dua atau lebih (tidak banyak) perusahaan yang
menghasilkan dan menjual produk terdiferensiasi sebagian, baik dalam mutu, model
maupun pelayanan.
d. Persaingan monopolistik, yaitu cukup banyaknya perusahaan yang bersaing dan masing-
masing mempunyai kemampuan mendeferensiasikan penawarannya. Serta yang biasanya
mempunyai kemampuan pemasaran menjadi pemimpin pasar. Penyempitan dari pasar
persaingan bebas. Banyak regulasi yang harus diurus seperti contohnya di bidang pelayanan
kesehatan dimana perizinan yang diperlukan banyak contohnya klinik
e. Persaingan sempurna, yaitu persaingan terjadi di mana demikian banyak perusahaan yang
menghasilkan dan menjual barang atau jasa, sedangkan pembelinya pun banyak

DAFTAR PUSTAKA

Constantianus,F.2006. Produk Dan Jasa Dalam Kaitannya Dengan Tingkat Kepuasan Konsumen
Sebagai Elemen Dalam Sistem Kerja E-Commerce. Jurnal Sistem Informasi UKM Vol. I
No. 1,: 27-36
Rahmiati,D dan R.Agus.2015. Pengaruh Daya Saing Produk Terhadap Keputusan Pembelian
Produk Ikan Kaleng (Sardines) Merek Maya. Surabaya : e-Jurnal Manajemen Kinerja E-
ISSN(2407-7305)
Riyono dan Gigih Erlik. 2016. Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Promosi Dan Brand Image
Terhadap Keputusan Pembelian Produk Aqua.Semarang :Jurnal Stie Semarang, VOL 8,
NO 2.
Yulianto,E dan Benie Ilman. Simulasi Manajemen Penempatan Barang Pada Gudang Berbasis
3D Menggunakan Metode Block Stacking. Fakultas Teknik, Program Studi Informatika
Universitas Langlangbuana.Bandung
TEORI HARGA DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Harga adalah ukuran terhadap besar kecilnya nilai kepuasan seseorang terhadap produk
yang dibelinya. Harga dapat diartikan sebagai jumlah uang (satuan moneter) dan/atau aspek lain
(nonmoneter) yang mengandung utilitas/kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan
suatu jasa. Sedangkan yang dimaksud dengan teori harga merupakan sebuah teori untuk
memahami sebuah harga itu ditentukan. Dalam mikro ekonomi dijelaskan hukum permintaan,
hukum penawaran dan equilibrium keduanya baik secara individu ataupun pasar secara
keseluruhan.
Harga memiliki dua peranan utama dalam proses pengambilan keputusan para pembeli, yaitu
peranan alokasi dan peranan informasi:
a. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu para pembeli untuk
memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan
daya belinya. Dengan demikian, adanya harga dapat membantu para pembeli untuk
memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis barang dan jasa. Pembeli
membandingkan harga dari berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi
dana yang dikehendaki.
b. Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam mendidik konsumen mengenai faktor-
faktor produk, seperti kualitas. Hal ini terutama bermanfaat dalam situasi di mana pembeli
mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau manfaatnya secara objektif. Persepsi
yang sering berlaku adalah bahwa harga yang mahal mencerminkan kualitas yang tinggi.

Hukum Permintaan
Hukum permintaan (law of demand) menyatakan hubungan negatif antara kuantitas yang
diminta dengan harga produk. Permintaan produk meningkat ketika harga turun, dengan asumsi
faktor-faktor lain tidak berubah. Sebaliknya, semakin tinggi harga produk, semakin rendah kuantitas
yang diminta. Ini terjadi karena berkurangnya utilitas marjinal. Artinya, konsumen menggunakan unit
pertama dari barang ekonomi yang mereka beli untuk melayani kebutuhan mereka yang paling
mendesak terlebih dahulu, dan menggunakan setiap unit tambahan barang untuk melayani tujuan
yang bernilai lebih rendah secara berturut-turut.
Alfred Marshall mengembangkan kurva penawaran dan permintaan untuk menunjukkan titik
di mana pasar berada dalam ekuilibrium. Hukum permintaan adalah dasar dari kurva permintaan.
Hukum Penawaran
Hukum penawaran (law of supply) menyatakan bahwa harga dan kuantitas yang dipasok
secara positif berkorelasi, ceteris paribus. Jika harga suatu barang naik, maka kuantitas yang dipasok
meningkat. Harga yang lebih tinggi mendorong produsen untuk meningkatkan output demi
memperoleh lebih banyak keuntungan. Sebaliknya, jika harga barang turun, kuantitas yang dipasok
turun. Jika diplot untuk masing-masing harga dan kuantitas, hubungan keduanya akan membentuk
kurva penawaran. Kurva memiliki slope positif, yang berarti ada hubungan positif antara kuantitas
dan harga.

Elastisitas Harga (Price Elasticity)


Elastisitas harga (price elasticity) merupakan presentase perubahan jumlah barang yang
diminta atau yang ditawarakan yang disebabkan oleh presentase perubahan harga barang tersebut.
Macam macam elastisitas yaitu:
1. Elastisitas permintaan merupakan derajat kepekaan terhadap kualitas barang yang diminta
berdasarkan harga barang itu sendiri. Jenis-jenis elastisitas permintaan:
a. Inelastis sempurna
Suatu barang dikatakan inelastis sempurna apabila jumlah barang yang diminta tidak
dipengaruhi oleh perubahan harga. Berarti nilai koefisien elastisitasnya adalah nol.
Kurve permintaan barang inelastis sempurna adalah sebagai berikut (Gb. 3.3.a).
b. Elastis sempurna
Suatu barang dikatakan elastis sempurna apabila seluruh barang tersebut yang ada di
pasar bisa habis terbeli pada tingkat harga tertentu. Berarti nilai koefisien elastisitasnya
adalah tak terhingga. Kurve permintaan barang elastis sempurna, digambarkan dalam
Gb. 3.3.b.
c. Elastisitas Tunggal (Unitary Elasticity)
Suatu barang mempunyai elastisitas tunggal, jika perubahan harga 1% menyebabkan
perubahan jumlah barang yang diminta juga sebesar 1%. Berarti, koefisien
elastisitasnya = 1 (Gb. 3.3. c).
d. Elastis
Suatu barang bersifat elastis apabila persentase perubahan jumlah barang yang diminta
melebihi persentase perubahan harganya. Dengan demikian koefisien elastisitasnya
lebih besar dari satu ( > 1) (Gb. 3.3.d).
e. Tidak elastis (Inelastis)
Suatu barang bersifat inelastis apabila persentase perubahan jumlah barang yang
diminta lebih kecil dari persentase perubahan harganya. Koefisien permintaan barang
tersebut berkisar antara nol dan satu (Gb. 3.3.e).
2. Elastisitas penawaran merupakan derajat kepekaan perubahan kuantitas barang yang
disebabkan perubahan harga barang itu sendiri. Elastisitas penawaran juga digolongkan
menjadi lima, yaitu:
a. Elastis sempurna
b. Elastisitas tunggal (unitary elasticity)
c. Elastis
d. Inelastis
Penetapan Harga
Kotler menyebutkan beberapa rincian pada prosedur enam langkah dalam menetapkan harga:
1) Memilih Tujuan dalam Penetapan Harga
Pada awalnya perusahaan harus memposisikan penawaran pada pasar, karena semakin jelas
tujuan perusahaan maka semakin mudah perusahaan menetapkan harga. Tujuan tersebut
adalah:
a. Kemampuan Bertahan
Tujuan ini digunakan saat perusahaan mengalami kondisi yang mendesak seperti
kelebihan kapasitas, persaingan ketat dan keinginan konsumen yang berubah.
b. Laba Saat Ini Maksimum
Biasanya perusahaan menetapkan haga yang akan memaksimalkan laba saat ini.
c. Pangsa Pasar Maksimum
Dengan memaksimalkan pangsa pasar, maka akan semakin tinggi volume penjualan,
biaya unit akan semakin rendah dan laba jangka panjang semakin tinggi.
d. Pemerahan Pasar Maksimum
Pada mulanya harga ditetapkan tinggi dan turun secara perlahan seiring berjalan nya
waktu atau penetapan harga memerah pasar.
e. Kepemimpinan Kualitas Produk
Perusahaan berusahaan menjadi pemimpin kualitas produk di pasar dengan
mengedepankan merek “kemewahan terjangkau” produk dan jasa yang ditentukan oleh
tingkat kualitas anggapan, selera, dan status yang tinggi dengan harga yang dapat
dijangkau konsumen.
Tujuan Lain
Apapun tujuan khususnya, bisnis yang menggunakan harga sebagai alat strategis akan
menghasilkan lebih banyak laba dibandingkan bisnis yang hanya harga atau pasar menetukan
penetapan harga mereka.
2) Menentukan Permintaan
Setiap harga mengarah ke tingkat permintaan yang berbeda dan karena itu akan memiliki
berbagai dampak pada tujuan pemasaran perusahaan. Umum nya permintaan berhubungan
terbalik atau semakin tinggi harga maka akan semakin rendah permintaan. Kadang konsumen
menerima harga mahal untuk mengindikasikan produk yang lebih baik, meskipun jika harga
terlalu tinggi, tingkat permintaan mungkin akan turun.
3) Memperkirakan Biaya
Permintaan menetapkan batas atas harga yang dapat dikenakan perusahaan untuk
memproduksinya karena perusahaan ingin mengenalkan harga yang dapat menutupi biaya
produksi, distibusi, penjualan termasuk tingkat pengembalian yang wajar untuk usaha dan
resjikonya. Jenis – jenis biaya dan tingkat produksinya:
1) Biaya tetap (fixed cost)
Biaya yang tidak bervariasi dengan tingkat produksi atau pendapatan penjualan.
2) Biaya variable (variable cost)
Bervariasi langsung dengan tingkat produksi, disebut variable karena biaya totalnya
bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi.
3) Biaya total (total cost)
Terdiri dari jumlah biaya tetap dan biaya variable untuk tingkat produksi tertentu.
4) Biaya rata – rata (average cost)
Biaya per unit pada tingkat produksi itu, biaya rata – rata sama dengan biaya total dibagi
dengan jumlah produksi
4) Menganalisis Biaya, Harga, dan Penawaran
Pesaing Perusahaan harus mempertimbangkan harga pesaing terdekat jika penawaran dari
perusahaan tidak mengandung fitur yang tidak ditawarkan oleh pesaing terdekat, peusahaan
harus mengevaluasi nilai mereka bagi pelanggan dan menambahkan nilai itu ke harga pesaing.
Jika penawaran pesaing mengandung beberapa fitur yang tidak ditawarkan oleh perusahaan,
perusahaan harus mengurangkan nilai mereka dari harga perusahaan.
5) Memilih metode penetapan harga
Perusahaan memilih metode penetapan harga yang mencakup satu atau lebih dari tiga
pertimbangan, terdapat enam metode dalam penetapan harga, yaitu :
1) Penetapan Harga Markup
Merupakan metode yang biasanya digunakan oleh para pedagang yang usahanya
membeli dan menjual kembali barang tersebut setelah terlebih dahul ditambah biaya-
biaya. Biasanya besar markup adalah keseluruhan biaya operasi dan keuntungan yang
diinginkan. Dalam sistem ini, perusahaan menetapkan harga jual dengan menambah
harga beli dengan persentase.
2) Penetapan Harga Nilai Anggapan
Sekarang semakin banyak jumlah perusahaan yang mendasarkan harga pada nilai
anggapan (perceived value). Perusahaan harus menghantarkan nilai yang dijanjikan oleh
proposisi nilai mereka, dan pelanggan harus dapat menerima nilai ini menjadi nilai
anggapan.
3) Penetapan Harga Nilai
Beberapa perusahaan telah menerapkan penetapan harga nilai (value pricing). Mereka
memenangkan pelanggan setia dengan mengenakan harga yang cukup rendah untuk
penawaran berkualitas tinggi.
4) Penetapan Harga Going Rate
Penetapan harga going – rate (going – rate pricing), perusahaan mendasarkan sebagian
besar harganya pada harga pesaing, mengenakan harga yang sama, lebih mahal, atau
lebih murah dibandingkan harga pesaing utama.
5) Penetapan Harga Jenis Lelang
Penetapan harga jenis lelang tumbuh semakin popular terutama dengan pertumbuhan
Internet. Salah satu tujuan lelang yang utama adalah membuang persediaan berlebih atau
barang bekas.
6) Memilih Harga Akhir
Metode penetapan harga mempersempit kisaran dari mana perusahaan harus memilih harga
akhirnya. Dalam memilih harga itu, perusahaan harus mempertimbangkan faktor – faktor
tambahan, di antaranya:
1) Dampak Kegiatan Pemasar Lain
Harga akhir harus memperhitungkan kualitas dan iklan merek relatif terhadap kompetisi.
Merek dengan kualitas relatif rata – rata tetapi anggaran relatif tinggi mampu
mengenakan harga premium. Merek dengan kualitas relatif tinggi dan iklan relatif tinggi
memperoleh harga tertinggi, begitupun sebaliknnya.
2) Kebijakan Penetapan Harga Perusahaan
Harga harus konsisten dengan kebijakan penetapan harga perusahaan. Pada saat yang
sama, perusahaan tidak menolak untuk menentukan penalti penetapan harga di bawah
keadaan tertentu.
3) Penetapan Harga Berbagi Keuntungan dan Risiko
Penjual mempunyai opsi menawarkan untuk menyerap sebagian atau semua risiko jika
tidak menghantarkan nilai yang dijanjikan secara penuh.
4) Dampak Harga Pada Pihak Lain
Manajemen harus mempertimbangkan reaksi pihak lain terhadap terkontemplasi.
Pemasar harus mengetahui hukum yang mengatur penetapan harga.

DAFTAR PUSTAKA

Hanani, K, N.2014. TEORI EKONOMI MIKRO Pendekatan Grafis dan Matematis. Malang
Indriyo Gitosudarmo.2014. Manajemen Pemasaran. Yogyakarta: IKAPI.
Marius Angipora. 2002.Dasar-dasar Pemasaran.Jakarta:Raja Grafindo,hlm. 274
TEORI PERMINTAAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Permintaan (demand) adalah keinginan terhadap produk spesifik yang didukung oleh
kemampuan dan kesediaan untuk membeli. Permintaan kesehatan sangat berpengaruh pada
pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah suatu perilaku atau
tindakan yang dimiliki oleh individu dalam mencari pelayanan kesehatan, Andersen dkk. 1997
dalam Eriska Haning dkk, 2018. Terpenuhinya kebutuhan konsumen dan sesuai dengan harapan
maka akan berpengaruh pada kepuasan pelanggan. Kepuasan konsumen adalah keseluruhan sikap
yang ditunjukkan oleh konsumen atas perbandingan barang dan jasa yang telah mereka gunakan.
Menurut Grossman, 1972 dalam Erisaka Haning dkk, 2018 konsumen memiliki 2 alasan dalam
hal permintaan terhadap kesehatan yaitu:
a. Kesehatan sebagai komoditas konsumsi, dimana dengan kesehatan itu sendiri konsumen
merasa lebih baik dan dapat melakukan aktivitas fisik dengan leluasa tanpa ada gangguan
dari kesehatan mereka sendiri.
b. Kesehatan sebagai sebuah investasi, dimana kondisi kesehatan akan menentukan jumlah
waktu yang tersedia untuk seseorang yang dapat ia gunakan untuk bekerja dan melakukan
aktivitas lainnya. Sebaliknya, sakit dapat menyebabkan seseorang kehilangan
penghasilannya akibat tidak dapat bekerja selama ia sakit

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Demand Terhadap Pelayanan Kesehatan


1. Kebutuhan Berbasis Fisiologis
Kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis menekankan pentingnya keputusan petugas
medis yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapat pelayanan medis. Keputusan
petugas medis ini akan mempengaruhi penilaian seseorang akan status kesehatannya.
Berdasarkan situasi ini maka demand pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan atau
dikurangi. Faktor-faktor ini dapat diwakilkan dalam pola epidemiologi yang seharusnya
diukur berdasarkan kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, data epidemiologi yang ada
sebagian besar menggambarkan puncak gunung es yaitu demand, bukan kebutuhan
(needs).
2. Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan
Secara sosio-antropologis, penilaian pribadi akan status kesehatan dipengaruhi oleh
kepercayaan, budaya dan norma-norma sosial di masyarakat. Indonesia sebagai negara
Timur sejak dahulu telah mempunyai pengobatan alternatif dalam bentuk pelayanan dukun
ataupun tabib. Pelayanan ini sudah berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat bahwa
demand terhadap pelayaanan pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Sebagai contoh,
untuk berbagai masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar. Di samping itu,
masalah persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang penting. Sebagian masyarakat
sangat memperhatikan status kesehatannya, sebagian lain tidak memperhatikannya.
3. Variabel-Variabel Ekonomi Tarif
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif. Semakin
tinggi tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Sangat penting untuk dicatat
bahwa hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang mempunyai
pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand pasien sangat dipengaruhi oleh
keputusan dokter. Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan,
keharusan untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan yang
membutuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak berperan dalam
mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga bersifat inelastik. Sebagai contoh,
operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. Apabila tidak ditolong segera, maka korban
dapat meninggal atau cacat seumur hidup.
Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan normatif di
masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus rendah agar masyarakat
miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah dengan subsidi yang tidak cukup
dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi orang miskin dan hal ini menjadi masalah
besar dalam manajemen rumah sakit.
4. Penghasilan Masyarakat
Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demand untuk pelayanan kesehatan
yang sebagian besar merupakan barang normal. Akan tetapi, ada pula sebagian pelayanan
kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu adanya kenaikan penghasilan masyarakat
justru menyebabkan penurunan konsumsi. Hal ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di
berbagai kota dan kabupaten. Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi
tidak menyukai pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. Hal ini
diantisipasi oleh rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan
mampu. Masa tunggu dan antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi
dengan menyediakan pelayanan rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Faktor
penghasilan masyarakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam analisis
demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit.
5. Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demand
pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat tidak membayar
langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi kesehatan. Di samping itu,
dikenal pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat
miskin dan orang tua. Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial.
Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand terhadap
pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi kesehatan dengan demand
terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi kesehatan bersifat mengurangi efek
faktor tarif sebagai hambatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit.
Dengan demikian, semakin banyak penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka
demand akan pelayanan kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi.
Peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard. Seseorang yang
tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan pelayanan kesehatan
sebanyak-banyaknya.
6. Variabel-Variabel Demografis dan Umur
Faktor umur sangat mempengaruhi demand terhadap pelayanan preventif dan kuratif.
Semakin tua seseorang sendiri meningkat demand-nya terhadap pelayanan kuratif.
Sementara itu, demand terhadap pelayanan kesehatan preventif menurun. Dengan kata lain,
semakin mendekati saat kematian, seseorang merasa bahwa keuntungan dari pelayanan
kesehatan preventif akan lebih kecil dibandingkan dengan saat masih muda. Fenomena ini
terlihat pada pola demografi di negara-negara maju yang berubah menjadi masyarakat tua.
Pengeluaran untuk pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi.
7. Jenis Kelamin
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demand terhadap pelayanan kesehatan
oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Hasil ini sesuai dengan dua
perkiraan. Pertama, wanita mempunyai insidensi penyakit yang lebih tinggi dibanding
dengan laki-laki. Kedua, karena angka kerja wanita lebih rendah maka kesediaan
meluangkan waktu untuk pelayanan kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki.
Akan tetapi, pada kasus-kasus yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki
tidaklah nyata.
8. Pendidikan
Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demand yang lebih tinggi.
Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran akan status kesehatan,
dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan.
9. Faktor-Faktor Lain
Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan, yaitu pengiklanan,
tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta inflasi. Iklan merupakan faktor
yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas ekonomi untuk meningkatkan
demand. Akan tetapi, sektor pelayanan kesehatan secara tradisional dilarang karena
bertentangan dengan etika dokter dan apabila akan diberikan maka dalam bentuk informasi
mengenai pelayanan rumah sakit. Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional
seperti para tabib, dukun, dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat
kabar dan majalah. Berbagai rumah sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor
pengiklanan sebagai salah satu cara peningkatan demand.

Perbedaan Demand pelayanan kesehatan dan produk secara umum


Komponen pembeda Pelayanan kesehatan Produk secara umum
Pengertian Permintaan untuk sehat Permintaan sesuatu yang
diwujudkan dalam perilaku diinginkan oleh konsumen
mencari pelayanan kesehatan disesuaikan dengan ekonomi
dan terkadang permintaan tsb konsumen
tidak sesuai dengan keuangan
Jenis Demand turunan Demand langsung
Faktor yang paling Insiden penyakit atau provider Harga
mempengaruhi
Pengambilan keputusan Provider = penentu demand Konsumen punya wewenang
kesehatan baik jenis penuh untuk memilih produk
permintaan perawatan dan obat yang diinginkan
,konsumen tidak memiliki
wewenang menentukan jenis
perawatan
Tujuan Profit dan non profit Profit
Pengetahuan konsumen Konsumen pengetahuan masih Pengethauan konsumen setara
dibawah dari provider atau atau lebih dari produsen
dokter

DAFTAR PUSTAKA

Eriska, H dkk. 2018. Analisis Need Dan Demand Pelayanan Kesehatan Pada Puskesmas
Siwalankerto Kota Surabaya Di Era JKN. Surabaya
Trisnantoro, L.2018. Memahami Penggunaan Ilmu Ekonomi dalam Manajemen Rumah Sakit.
UGM PRESS
NEED, WANT, DEMAND DAN SUPPLY DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Kebutuhan (Needs)
Kebutuhan (Needs) merupakan keadaan mendasar manusia terhadap suatu dalam usahanya
untuk mempertahankan keberlangsungan kehidupannya. Kebutuhan harus dipenuhi, dan jika tidak
dipenuhi akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidupnya. Contohnya kebutuhan
udara,air,sandang dan papan. Kebutuhan dibagi menjadi dua, yaitu perceived needs dan expressed
needs. Perceived needs atau kebutuhan yang dirasakan adalah hasrat atau keinginan yang dimiliki
oleh semua orang dimana kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat
keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Sedangkan expressed needs atau
kebutuhan yang diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu untuk
ditunjukkan dalam tindakan (Gunawijaya, 2017).
Abraham Maslow, membagi kebutuhan mendasar manusia dalam lima tingkat yaitu yang
peratama kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis yang merupakan kebutuhan paling mendasar
dan memiliki tingkat prioritas tertinggi didalam kebutuhan. Kebutuhan fisiologis merupakan hal
yang sangat mutlak yang harus terpenuhi oleh manusia untuk mulai bertahan hidup. Kebutuhan
tersebut terdiri dari pemenuhan kebutuhan oksigen dan juga pertukaran gas, kebutuhan akan cairan
(minuman), kebutuhan akan nutrisi (makanan), kebutuhan akan eliminasi, kebutuhan akan istirahat
serta tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, dan kebutuhan akan seksual. Kebutuhan kedua
adalah kebutuhan akan adanya rasa aman dan kebutuhan akan perlindungan yang telah dibagi yaitu
perlindungan fisik dan juga perlindungan psikologis. Kebutuhan akan rasa cinta dan kasih akan
rasa sayang tersebut yaitu kebutuhan untuk dapat memiliki dan dimiliki, antara lain dengan cara
memberi dan saling menerima akan rasa kasih sayang, kehangatan, persahabatan, mendapatkan
tempat dalam keluarga, suatu kelompok social, kebutuhan akan adanya perasaan dihargai oleh
orang lain kebutuhan seperti ini terkait erat dengan adanya keinginan mendapatkan suatu kekuatan,
untuk meraih prestasi, mendapatkan rasa yang percaya diri serta kemerdekaan diri. orang juga
memerlukan pengakuan dari orang lain, dan yang terakhir/ke lima kebutuhan aktualiasasi diri,
merupakan suatu kebutuhan tertinggi dalam hirarki Maslow, berupa suatu kebutuhan untuk ikut
serta pada orang lain/lingkungan guna mencapai potensi diri sepenuhnya. Untuk lebih jelas dapat
dilihat sebagai berikut:
1. Kebutuhan Aktualisasi diri
2. Kebutuhan harga diri
3. Kebutuhan rasa cinta dan kasih sayang
4. Kebutuhan rasa aman dan nyaman
5. Kebutuhan fisiologis (oksigen, makan, minum, eliminasi, tidur, seks)
(Sada, 2017).

Keinginan (Want)
Kotler dan Armstrong mengartikan keinginan (want) sebagai bentuk kebutuhan manusia
yang dipertajam oleh budaya dan kepribadian individual (the form human needs take as shaped by
culture and individual personality). Wants (keinginan) adalah barang atau pelayanaan yang
diinginkan pasien karena dianggap terbaik bagi mereka (misalnya, obat yang bekerja cepat). Wants
bisa sama atau berbeda dengan need(kebutuhan).Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak.
Makan, pakaian, tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar
manusiayangharussenantiasadiusahakanuntukdipenuhi,terlepas dari kemampuan seseorang untuk
membayarnya. Hal ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering sekali dilakukan atas
dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand) (Munadhir, 2017).

Permintaan (Demand)
Permintaan (demand) adalah keinginan terhadap produk spesifik yang didukung oleh
kemampuan dan kesediaan untuk membeli. Permintaan (demand) pelayanan kesehatan adalah
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasien yang disertai juga dengan daya
beli dari pasien. Permintaan kesehatan sangat berpengaruh pada pemanfaatan pelayanan
kesehatan. Banyak faktor yang memengaruhi permintaan konsumen terhadap pelayanan medis
baik dari segi pasien maupun dari pihak pemberi layanan medis. Permintaan kesehatan sangat
berpengaruh pada pemanfaatan pelayanan kesehatan (Haning et al., 2018).
Iman (2017) dalam skripsinya menyebutkan bahwa permintaan (demand) pelayanan
kesehatan adalah pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh customer pelayanan kesehatan, dalam
hal ini adalah pasien. Permintaan tersebut dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter, dan juga
faktor lain seperti pendapatan dan harga obat. Permintaan (demand) pelayanan kesehatan
merupakan keinginan untuk lebih sehat diwujudkan dalam perilaku mencari pertolongan tenaga
kedokteran. Jadi dapat disimpulkan bahwa, Permintaan (demand) pelayanan kesehatan adalah
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasien yang disertai juga dengan daya
beli yang dimiliki oleh pasien tersebut (Iman, 2017).

Penawaran (Supply)
Secara umum, supply terhadap pelayanan kesehatan diartikan dengan penyediaan
pelayanan kesehatan yang disampaikan kepada perorangan atau pasien oleh kombinasi antara
tenaga pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik dan laboratorium klinis)
pada periode tertentu (Susilo dan Mareta, 2017).

Hubungan need, want, demand dan supply


Keinginan (want) adalah kebutuhan (needs) yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian
individu. Want adalah suatu keinginan yang dimiliki seseorang untuk mendapatkan pelayanan
terbaik tanpa meemperhitungkan apakah dia memiliki kemampuan untuk mencapai keinginan
tersebut. Need menggambarkan kebutuhan dasar manusia. Need bisa menjadi Want jika kebutuhan
tadi telah menjurus pada satu keinginan tertentu yang dapat memberikan kepuasan. Demand adalah
keinginan yang didukung daya beli. Dari beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa permintaan (demand) tidak terpisah dari kebutuhan (need) dan keinginan (want).
Kebutuhan (need) berawal dari keinginan (want). Sedangkan permintaan atau demand merupakan
kebutuhan (need) yang telah didukung dengan daya beli (Philip, 2015).

Faktor-Faktor yang mempengaruhi need, want, demand, supply


Need
Pemenuhan kebutuhan setiap individu akan berbeda karena dipengaruhi oleh banyak faktor,
diantaranya:
1. Keadaan Alam
Keadaan alam yang berbeda membuat manusia membutuhkan berbagai barang yang sesuai
dengan kondisi alam tempat ia tinggal. Contohnya, masyarakat yang tinggal di daerah
pegunungan cenderung banyak mengonsumsi sayuran untuk makanan sehari-hari, berbeda
dengan masyarakat di daerah pantai yang lebih sering mengkonsumsi ikan dan hasil laut
untuk memenuhi kebutuhan makanannya sehari-hari.
2. Agama dan Kepercayaan
Ajaran agama yang berbeda dapat mengakibatkan kebutuhan yang berbeda pula. Misalnya,
penganut agama Islam dilarang mengkonsumsi babi, sehingga membutuhkan alternatif
bahan pangan lain sebagai sumber protein hewani. Hal ini tentu berbeda dengan umat
Hindu yang dilarang untuk mengkonsumsi daging sapi, mungkin saja mereka justru
membutuhkan daging babi sebagai sumber protein hewaninya.
3. Adat Istiadat
Adat atau tradisi yang berlaku di masyarakat sangat mempengaruhi kebutuhan masyarakat.
Sebuah adat dan tradisi akan menuntut masyarakatnya untuk memenuhi segala apa yang
dibutuhkan untuk menghargai, patuh, dan menjalani adat istiadat tersebut. Tentu setiap
daerah memiliki adat istiadat berbeda yang mempengaruhi perbedaan kebutuhan.
Masyarakat Arab dalam kesehariannya berpakaian gamis, sehingga permintaan akan gamis
tinggi. Begitu pula dengan Hanbook di Korea dan Kimono di Jepang.
4. Tingkat Peradaban dan Teknologi
Semakin tinggi peradaban suatu masyarakat, yang didukung pula dengan kecanggihan
teknologi maka semakin banyak pula kebutuhan dan semakin tinggi pula kualitas atau mutu
barang yang di butuhkan. Manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhannya agar
mencapai kemakmuran. Manusia menuntut kualitas tinggi dari barang-barang atau jasa
yang di butuhkan. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan peradaban berakibat
keberagaman dan perkembangan kebutuhan. Ketika pertama kali telepon seluler
diperkenalkan pada masyarakat, hanya masyarakat kelas atas yang mampu membeli dan
menggunakannya. Namun, ketika teknologi berkembang sedemikian cepat, permintaan
akan telepon seluler kini semakin bertambah terutama pada smartphone yang memiliki fitur
yang semakin banyak pula.
5. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap keberagaman kebutuhan.
Biasanya tingkat pendidikan akan berbanding lurus dengan tingkat pendapatan yang juga
akan berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan.
6. Penghasilan
Besar kecilnya penghasilan seseorang akan berpengaruh terhadap keberagaman kebutuhan
orang tersebut. Semakin tinggi penghasilan maka kebutuhannya semakin meningkat.
Kebutuhan yang meningkat biasanya juga disertai dengan kualitas yang baik.
7. Umur
Umur seseorang sangat mempengaruhi kebutuhannya. Kebutuhan bayi, balita, anak-anak,
remaja, dewasa hingga lansia tentu berbeda. Bahkan untuk kebutuhan makan pun berbeda
dalam hal jenis, jumlah dan polanya (Mankiw, 2006).
Wants
Faktor yang mempengaruhi wants, sebagai berikut:
1. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan adalah simbol dan fakta yang kompleks yang diciptakan oleh manusia,
diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia
dalam masyarakat yang ada. Faktor kebudayaan terdiri atas 3 yaitu budaya, sub budaya,
dan kelas sosial.

2. Faktor Sosial
Faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga, serta peran sosial dan status
mempengaruhi perilaku pembelian.
3. Faktor Pribadi
Faktor pribadi didefinisikan sebagai krakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan
orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap
lingkungan. Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu: Umur
dan tahap daur hidup, Pekerjaan, Situasi ekonomi, Gaya hidup, dan Kepribadian dan
konsep diri.

4. Faktor Psikologis
Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup
pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh di masa lampau atau antisipasinya pada
waktu yang akan datang. Pilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh
faktor psikologi yang penting. Faktor Psikologi terdiri dari : Motivasi, Persepsi,
Pengetahuan, Keyakinan, dan Sikap (Nailis, 2016).

Demands
Faktor yang mempengaruhi demands, sebagai berikut:
1. Kebutuhan Berbasis Fisiologis
Kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis menekankan pentingnya keputusan petugas
medis yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapat pelayanan medis. Keputusan
petugas medis ini akan mempengaruhi penilaian seseorang akan status kesehatannya.
Berdasarkan situasi ini maka demand pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan atau
dikurangi. Faktor-faktor ini dapat diwakilkan dalam pola epidemiologi yang seharusnya
diukur berdasarkan kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, data epidemiologi yang ada
sebagian besar menggambarkan puncak gunung es yaitu demand, bukan kebutuhan
(needs).
2. Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan
Secara sosio-antropologis, penilaian pribadi akan status kesehatan dipengaruhi oleh
kepercayaan, budaya dan norma-norma sosial di masyarakat. Indonesia sebagai negara
Timur sejak dahulu telah mempunyai pengobatan alternatif dalam bentuk pelayanan dukun
ataupun tabib. Pelayanan ini sudah berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat bahwa
demand terhadap pelayaanan pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Sebagai contoh,
untuk berbagai masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar. Di samping itu,
masalah persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang penting. Sebagian masyarakat
sangat memperhatikan status kesehatannya, sebagian lain tidak memperhatikannya.
3. Variabel-Variabel Ekonomi Tarif
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif. Semakin
tinggi tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Sangat penting untuk dicatat
bahwa hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang mempunyai
pilihan. Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand pasien sangat dipengaruhi oleh
keputusan dokter. Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan,
keharusan untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan yang
membutuhkan penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak berperan dalam
mempengaruhi demand, sehingga elastisitas harga bersifat inelastik.Sebagai contoh,
operasi segera akibat kecelakaan lalu lintas. Apabila tidak ditolong segera, maka korban
dapat meninggal atau cacat seumur hidup. Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang
kontroversial. Pernyataan normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif
rumah sakit harus rendah agar masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang
rendah dengan subsidi yang tidak cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi
orang miskin dan hal ini menjadi masalah besar dalam manajemen rumah sakit.
4. Penghasilan Masyarakat
Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demanduntuk pelayanan kesehatan
yang sebagian besar merupakan barang normal. Akan tetapi, ada pula sebagian pelayanan
kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu adanya kenaikan penghasilan masyarakat
justru menyebabkan penurunan konsumsi. Hal ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di
berbagai kota dan kabupaten. Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi
tidak menyukai pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. Hal ini
diantisipasi oleh rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan
mampu. Masa tunggu dan antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi
dengan menyediakan pelayanan rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Faktor
penghasilan masyarakat dan selera mereka merupakan bagian penting dalam analisis
demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit.
5. Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demand
pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat tidak membayar
langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi kesehatan. Di samping itu,
dikenal pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat
miskin dan orang tua. Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial.
Adanya asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand terhadap
pelayanan kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi kesehatan dengan demand
terhadap pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi kesehatan bersifat mengurangi efek
faktor tarif sebagai hambatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit.
Dengan demikian, semakin banyak penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka
demand akan pelayanan kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi.
Peningkatan demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard. Seseorang yang
tercakup oleh asuransi kesehatan akan terdorong menggunakan pelayanan kesehatan
sebanyak-banyaknya.
6. Variabel-Variabel Demografis dan Umur
Faktor umur sangat mempengaruhi demand terhadap pelayanan preventif dan kuratif.
Semakin tua seseorang sendiri meningkat demand-nya terhadap pelayanan kuratif.
Sementara itu, demand terhadap pelayanan kesehatan preventif menurun. Dengan kata lain,
semakin mendekati saat kematian, seseorang merasa bahwa keuntungan dari pelayanan
kesehatan preventif akan lebih kecil dibandingkan dengan saat masih muda. Fenomena ini
terlihat pada pola demografi di negara-negara maju yang berubah menjadi masyarakat tua.
Pengeluaran untuk pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi.
7. Jenis Kelamin
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demand terhadap pelayanan kesehatan
oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Hasil ini sesuai dengan dua
perkiraan. Pertama, wanita mempunyai insidensi penyakit yang lebih tinggi dibanding
dengan laki-laki. Kedua, karena angka kerja wanita lebihrendah maka kesediaan
meluangkan waktu untuk pelayanan kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki.
Akan tetapi, pada kasus-kasus yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki
tidaklah nyata.
8. Pendidikan
Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demand yang lebih tinggi.
Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran akan status kesehatan,
dan konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan.
9. Faktor-Faktor Lain
Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan, yaitu pengiklanan,
tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta inflasi. Iklan merupakan faktor
yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas ekonomi untuk meningkatkan
demand. Akan tetapi, sektor pelayanan kesehatan secara tradisional dilarang karena
bertentangan dengan etika dokter dan apabila akan diberikan maka dalam bentuk informasi
mengenai pelayanan rumah sakit. Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional
seperti para tabib, dukun, dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat
kabar dan majalah. Berbagai rumah sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor
pengiklanan sebagai salah satu cara peningkatan demand.
Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan faktor lain yang
meningkatkan demand. Fuchs (1998) menyatakan bahwa pada asumsi semua faktor lain
tetap, kenaikan jumlah dokter spesialis bedah sebesar 10% akan meningkatkan jumlah
operasi sebesar 3%. Kehadiran dokter gigi akan meningkatkan demand untuk pelayanan
kesehatan mulut. Keberadaan dokter spesialis THT akan meningkatkan demand untuk
operasi tonsilektomi. Kehadiran dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan
dengan peralatan operasi akan meningkatkan demand untuk pelayanan bedah caesar.
Efek inflasi terhadap demand terjadi melalui perubahan-perubahan pada tarif
pelayanan rumah sakit, jumlah relatif pendapatan keluarga, dan asuransi kesehatan. Faktor
ini harus diperhatikan oleh rumah sakit karena pada saat inflasi tinggi, ataupun pada resesi
ekonomi, demand terhadap pelayanan kesehatan akan dapat terpengaruh. Pada saat krisis
ekonomi di Indonesia, tercatat berbagai rumah sakit di Yogyakarta tidak mengalami
penurunan demand. Justru bangsal-bangsal VIP tidak menurun penghuninya, bahkan
menunjukkan kecenderungan naik. Salah satu dugaan adalah pasien kaya yang biasa pergi
ke Jakarta atau Singapura, mengubah perilakunya untuk mencari penyembuhan pada
rumah sakit di Yogyakarta. Ketika kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)
merebak di Singapura, pengamatan menunjukkan bahwa BOR kelas VIP di sebuah kota
besar di Indonesia ternyata meningkat. Ada kemungkinan penduduk Indonesia yang
demand mencari pengobatan biasa ke Singapura, kemudian mengubahnya ke Indonesia
akibat takut terkena SARS (Trisnantoro, 2018).

Menurut Milss (1990) hubungan antara teori permintaan dengan pelayanan kesehatan di
negara-negara berkembang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1. Pendapatan, dimana ada korelasi antara pendapatan dengan besarnya permintaan
akan pemeliharaan kesehatan, terutama dalam hal pelayanan kesehatan modern.
2. Harga, dimana berperan dalam menentukan permintaan terhadap
pemeliharaan kesehatan.
3. Pencapaian sarana pelayanan kesehatan secara fisik akan menurunkan permintaan.
4. Kemanjuran dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan.

Menurut (Grossman, 1972) konsumen memiliki 2 alasan dalam hal permintaan terhadap
kesehatan yaitu:
1. Kesehatan sebagai komoditas konsumsi, dimana dengan kesehatan itu sendiri
konsumen merasa lebih baik dan dapat melakukan aktivitas fisik dengan
leluasa tanpa ada gangguan dari kesehatan mereka sendiri.
2. Kesehatan sebagai sebuah investasi, dimana kondisi kesehatan akan menentukan
jumlah waktu yang tersedia untuk seseorang yang dapat ia gunakan untuk bekerja
dan melakukan aktivitas lainnya. Sebaliknya, sakit dapat menyebabkan seseorang
kehilangan penghasilannya akibat tidak dapat bekerja selama ia sakit (Haning et
al., 2018).

Supriyanto (2009) menyatakan bahwa kebutuhan individu untuk memanfaatkan


pelayanan kesehatan dipengaruhi secara langsung oleh variabel psikologis meliputi: selera,
persepsi sehat-sakit, harapan, penilaian terhadap provider, dan karakteristik individu yang
meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Faktor tidak langsung
dipengaruhi oleh sosio- ekonomi dan budaya (Damayanti et al., 2017). Permintaan untuk
layanan perawatan kesehatan, menurut Folland, Goodman, dan Stano (2013), ditentukan
berdasarkan status kesehatan, coinurance (kebutuhan jaminan), biaya (biaya tambahan), usia,
jenis kelamin, etnis, tingkat pendidikan, penghasilan, dan waktu (Rachmawati dan Sholihah,
2019).

1. Umur, sesuai dengan piramida penduduk, grafik kejadian sakit menggambarkan


bentuk U shape, dimana kejadian sakit tinggi pada usia bayi dan balita, menurun
dan stabil pada usia produktif dan meningkat kembali pada usia lanjut (lansia).
Hal ini disebabkan oleh bayi dan balita merupakan kelompok yang rentan
terhadap penyakit, sedangkan orang tua kondisi fisik yang sudah menurun jadi
mudah diserang penyakit dan timbulnya penyakit degeneratif.
2. Jenis Kelamin, wanita memiliki kemungkinan memanfaatkan fasilitas kesehatan
yang lebih tinggi daripada pria mulai dari saat mengandung, menyusui dan
berbagai penyakit yang memang hanya diderita oleh wanita. Namun beberapa
penelitian juga menyatakan keinginan dan upaya mendapatkan pelayanan
kesehatan sama saja pada pasien laki-laki dan pasien perempuan.
3. Tingkat Pendidikan, pengetahuan bisa mempengaruhi sikap atau perilaku pribadi
dalam melakukan tindakan tertentu seperti pemanfaatan layanan kesehatan.
Semakin tinggi pendidikan seseorang akan cenderung memiliki kesadaran akan
status kesehatan, sehingga demand terhadap layanan kesehatan juga besar
4. Jenis Pekerjaan/pendapatan, kenaikan pendapatan keluarga akan meningkatkan
demand untuk pelayanan kesehatan. Kadang-kadang akses ke layanan perawatan
kesehatan terhalang oleh keuangan yang tidak memadai, sehingga masyarakat
dengan pendapatan rendah cenderung memiliki keinginan lebih sedikit untuk
mendapat pelayanan kesehatan.
5. Biaya, unsur biaya/harga sifatnya inelastis terhadap pelayanan kesehatan. Tarif
pada pelayanan kesehatan tidak bisa naik atau turun seperti produk lain, karena
menyangkut banyak hal yang sifatnya bukan komersial. Di samping itu, pada
pelayanan rumah sakit, tingkat demand pasien sangat dipengaruhi oleh dokter.
Pada keadaan yang membutuhkan penanganan medis segera maka faktor biaya
mungkin tidak berperan dalam mempengaruhi demand.
6. Pelayanan, persepsi pasien terhadap fasilitas kesehatan akan mempengaruhi
perilaku pemanfaatan pelayanan kesehatan. Hal ini dikarenakan jasa yang
diterima oleh pasien dinilai berdasarkan expected service dan perceived service.
Bila jasa yang diterima sesuai dengan yang diharapkan, maka mutu pelayanan
dipersepsikan baik dan memuaskan, begitu pula sebaliknya.
7. Waktu, waktu yang dihabiskan untuk mengakses layanan perawatan kesehatan
adalah salah satu faktor yang menentukan permintaan layanan perawatan
kesehatan. Waktu adalah variabel penting dalam perawatan kesehatan layanan
karena layanan cepat dan tepat adalah satu dari harapan masyarakat dalam
memanfaatkan layanan kesehatan. Waktu juga berhubungan dengan jarak tempat
tinggal. Semakin jauh jarak antara tempat tinggal dengan rumah sakit akan
menurunkan tingkat permintaan responden terhadap pelayanan rawat jalan di
suatu pelayanan kesehatan. Hal ini dikarenakan jarak jangkau masyarakat
terhadap sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan waktu yang harus
disediakan dan ongkos yang perlu dikeluarkan (Damayanti et al., 2017;
Rachmawati dan Sholihah, 2019).
Supply
Faktor yang mempengaruhi supply terhadap pelayanan kesehatan adalah Man, Money,
Material, Method, Market, Machine, Technology, Time, dan Information. Faktor-faktor dimaksud
dikenal dengan 6M, 2T, dan 1I.
• Man: dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, farmasis, tenaga administrasi, dll
• Money: biaya operasional, biaya investasi dan biaya lain-lain.
• Material: berhubungan dengan logistik pelayanan kesehatan, misalnya obat, suntik, bahan
makanan, dan lain sebagainya.
• Method: SOP rumah sakit, Standart Pelayanan Minimal (SPM), dll.
• Machine: peralatan laboratorium, peralatan unit penunjang, dll
• Market: wilayah kerja pelayanan kesehatan, segmentasi pasar, masyarakat sasaran yang
dibidik berdasarkan proses STP (segmenting, targeting dan posisioning)
• Teknologi: kecanggihan dan kemutakhiran teknologi yang digunakan misalnya finger
print, dan lain sebagainya.
• Time: waktu yang digunakan untuk pelayanan, unit pelayanan.
• Informasi: melalui internet, pamflet dan leaflet. (Janis, 2014)

Supply Induced Demand

Supplier Induced Demand menggambarkan suatu keadaan dimana seorang pengusaha


menetapkan demand konsumennya atau pelanggannya dengan cara tidak berbasis pada need.
Penetapan ini dilakukan dengan basis usaha meningkatkan demand dari tingkat yang seharusnya.
Dengan demikian istilah terjemahannya adalah “pengusaha meningkatkan demand” pelanggannya
atau konsumen. Supplier Induced Demand terjadi akibat tidak seimbangnya informasi yang ada
pada pengusaha dengan konsumennya. Pengusaha meningkatkan demand konsumennya berbasis
pada motivasi ekonomi untuk meningkatkan pendapatannya. Dalam ilmu ekonomi istilah supply
induced demand dapat diartikan pemanfaatan berlebihan atau tidak sesuai dengan kebutuhan
karena keputusan konsumen untuk menggunakan atau tidak menggunakan barang/jasa sangat
dipengaruhi oleh keputusan produsen. Dengan demikian, tidak ada prinsip kesetaraan antara
produsen dan konsumen (Ambar W, 2003).

Kasus di bawah ini dapat dipergunakan untuk menerangkan demand for health dan demand
for health care. Dra. Sartika, wanita berumur 45 tahun merasa sakit di bawah perut. Sebagai
seorang sekretaris direktur perusahaan, dia merasakan bahwa sakit perutnya mengganggu
pekerjaannya sehari-hari. Dia mempunyai keinginan (wants) untuk sehat, bebas dari rasa sakitnya.
Pada titik ini, konsep human capital dari Grossman (1972) sangat relevan. Tanpa mempunyai
kesehatan yang baik, Dra. Sartika tidak dapat bekerja dengan baik. Untuk mencoba mengatasi sakit
yang dirasakannya, Dra. Sartika minum obat pengurang sakit perut yang dijual bebas. Informasi
mengenai obat tersebut di perolehnya dari iklan sebuah acara televisi swasta. Akan tetapi setelah
dua hari minum obat, ternyata rasa sakit perut belum berkurang. Sesuai anjuran iklan televisi, Dra.
Sartika kemudian mendatangi dokter perusahaannya untuk berkonsultasi. Dengan demikian, dari
keinginannya menjadi sehat (dalam model Grossman disebut sebagai demand untuk kesehatan),
Dra. Sartika telah merubah demand akan kesehatan menjadi demand (permintaan) akan pelayanan
tenaga medis, khususnya dokter umum. Pada keadaan ini sudah terjadi demand for health care.
Oleh dokter perusahaan kemudian ia diberi obat, tetapi ternyata rasa sakitnya tidak berkurang.
Selanjutnya, dokter perusahaan merujuk Dra. Sartika ke dokter spesialis penyakit dalam karena
diduga ada kelainan di bagian perutnya. Dengan dikirimnya ke dokter spesialis penyakit dalam,
demand Dra. Sartika telah "meningkat" menjadi demand terhadap pelayanan kedokteran spesialis.
Pada pemeriksaan di tingkat dokter spesialis ini maka ada berbagai kemungkinan yang berkaitan
dengan pemakaian teknologi tinggi, misalnya penggunaan USG atau CT Scan sebagai alat bantu
diagnosis. Berbeda dengan pembelian dan penggunaan barang-barang ekonomi lain, Dra. Sartika
tidak dapat menggunakan USG sesuai dengan keinginannya. Demand terhadap pemeriksaan USG
akan ditentukan berdasarkan needs yang ditetapkan oleh dokter. Pada titik ini terjadi berbagai
kemungkinan. Kemungkinan pertama, berbasis pada need, Dra. Sartika tidak perlu mempunyai
demand terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra. Sartika mungkin merupakan
gejala penyakit psikosomatis akibat stress pekerjaan. Kemungkinan kedua, berbasis pada need,
Dra. Sartika perlu mempunyai demand terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra.
Sartika mungkin merupakan suatu gejala penyakit yang serius (misalnya tumor kandungan).

Pada kemungkinan pertama, terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai Supplier Induced
Demand. Istilah ini menggambarkan suatu keadaan seorang dokter menetapkan demand pasiennya
dengan cara tidak berbasis pada need. Patut ditekankan bahwa keadaan ini bukan suatu "over-
treatment". Supplier Induced Demand terjadi akibat tidak seimbangnya informasi yang ada pada
dokter dengan pasiennya (Rice 1998). Dokter meningkatkan demand pasiennya berbasis pada
motivasi ekonomi untuk meningkatkan pendapatannya. Folland dkk (2001), memberikan suatu
pernyataan bahwa supplier induced demand adalah penyalahgunaan hubungan dokter-pasien oleh
dokter dalam usaha memperoleh keuntungan pribadi dokter. Sebagai gambaran dalam kasus
tersebut, berbasis pada pendidikan dan pengalamannya, dokter lebih menguasai informasi keluhan
sakit perut dibanding Dra. Sartika yang mengeluh. Dokter dalam hal ini bertindak sebagai pemberi
jasa sekaligus bertindak sebagai wakil dari pasien untuk mendapatkan jasa lain, misalnya obat-
obatan, pemeriksaan, atau tindakan dokter lain. Pemahaman pasien mengenai prosedur tindakan
kesehatan sangat terbatas dan dokter mempunyai wewenang untuk bertindak atas nama pasien.
Keadaan informasi yang dimiliki oleh penjual dan pembeli yang tidak seimbang ini serupa dengan
hubungan kerja antara montir mobil dan pemilik mobil yang awam soal mesin dan hubungan
pengacara dengan klien-nya yang awam soal hukum. Akibat ketidakseimbangan pengetahuan ini
maka hubungan kerja dapat disalahgunakan untuk keuntungan dokter, montir, ataupun pengacara.

Supplier induced demand terutama terjadi pada sistem pembayaran fee-for- service.
Apabila tidak terdapat etika yang kuat, maka dengan mudah akan terjadi penyimpangan profesi
seperti diperiksanya Dra. Sartika dengan USG walaupun secara medis tidak ada indikasi untuk
hal tersebut. Pada keadaan ini dokter spesialis yang memberikan perintah agar Dra. Sartika
diperiksa USG mendapat jasa medik atau keuntungan pribadi dari pemeriksaan tersebut,
walaupun dokter menyadari bahwa Dra. Sartika tidak mempunyai need untuk menjalani
pemeriksaan USG.

Dengan bergesernya sifat rumah sakit menjadi suatu lembaga ekonomi, maka risiko
penyimpangan profesi akan semakin tinggi akibat tuntutan investasi. Pada kasus di atas, apabila
pembelian USG dilakukan atas dasar pinjaman kredit bank, maka kaidah-kaidah investasi harus
diperhatikan misalnya melalui payback period. Prinsip bahwa "bangsal rumah sakit harus diisi"
atau “peralatan medik harus digunakan” dapat mendorong terjadinya Supplier Induced
Demand.

Sebaliknya dapat terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai Supplier Reduced Demand.
Istilah ini mencerminkan keadaan bahwa justru dokter atau rumah sakit menetapkan demand di
bawah yang seharusnya. Pada kasus Dra. Sartika seharusnya diperiksa menggunakan USG.
Akan tetapi, mungkin reimburstment asuransi kesehatan yang dimiliki perusahaan tersebut
memberikan ganti rugi di bawah unit-cost pemeriksaan USG. Rumah sakit akan rugi jika
menggunakan USG untuk Dra. Sartika. Secara perhitungan ekonomi, tidak diperiksanya Dra
Sartika dengan USG akan menghindarkan rumah sakit dari kerugian. Dengan demikian, need
Dra. Sartika tidak dapat terwujud sebagai demand. Contoh lain, pada sistem pembiayaan rumah
sakit yang berbasis pada anggaran. Apabila rumah sakit dapat menyelenggarakan pelayanan di
bawah anggaran, misalnya 90% maka 10% sisanya dapat masuk sebagai jasa rumah sakit.
Dengan konsep seperti ini rumah sakit akan mempunyai insentif untuk melakukan Supplier
Reduced Demand.

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, M., Jati, S. P., Arso, S. P. 2017. Analisis Permintaan Masyarakat Terhadap
Pelayanan Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R. Soetijono Blora. Jurnal
Kesehatan Masyarakat (e-Journal). 5(1): 85-94.
Haning, E., Rochmah, T.N. and Aimanah, I.U., 2018. Analisis Need dan Demand Pelayanan
Kesehatan pada Puskesmas Siwalankerto Kota Surabaya di Era JKN. Buletin Penelitian
Sistem Kesehatan, 21(3), pp.172-178.
Iman, P.A.N. 2017. Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Jasa Pelayanan Rumah Sakit (Studi
Kasus Pasien Rawat Inap RSUD Ahmad Yani Di Kota Metro). Universitas Lampung.
Sada, H,J. 2017. KEBUTUHAN DASAR MANUSIA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN
ISLAM. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Al-Tadzkiyyah. Jurnal
Pendidikan Islam. 8[2]: 213-226
Susilo, A. dan Mareta, R. 2017. Analisis Supply Maksimum Pelayanan Kesehatan di UPTD
Puskesmas Ngadiluwih. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. 8(1), 6-10.
Kotler, P. & Armstrong, G., 2016, Principles of Marketing, Global Edition, USA: Pearson
Education, Inc
Rachmawati, L. dan Sholihah, I. F. 2019. The Correlation Between Demand Factors And
Health Care Service Utilization By Contribution Beneficiary Patients. Jurnal
Administrasi Kesehatan Indonesia. 7(2): 185-191.
Ambar W.2003. Utilisasi Pelayanan Kesehatan:Problem Antara Pemeretaan dan Efisiensi (Studi
di Wilayah Pedesaan Kabupaten Purworejo). Program Doktor Administrasi
Publik;Universitas Gadjah Mada.14(1).ISSN: 0853 – 0262.
Nailis, Welly. 2016. Faktor yang Menentukan dan Mempengaruhi Keputusan Konsumen dalam
Menggunakan Analisis Pelumas Kendaraan Bermotor di Kota Palembang. Jurnal
Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 14 No.3 September 2016: 420-436.
Janis, N. 2014-. BPJS Kesehatan, Supply, dan Demand Terhadap Layanan
Mankiw, Gregory. 2006. Principles of Economics. Jakarta: Salemba Empat
Philip Kotler.2015. Manajemen Pemasaran Sudut Pandang Asia.PT Indeks. Jakarta.
Munadhir. 2017. Bahan Ajar Ekonomi Kesehatan. Makassar
Gunawijaya, R. (2017). Kebutuhan Manusia Dalam Pandangan Ekonomi Kapitalis dan Ekonomi
Islam. Jurnal Al-Maslahah, 13(1).

Segmentasi Pasar (Segmenting) dalam Pelayanan Kesehatan

Segmentasi pasar adalah suatu proses untuk membagi-bagi atau


mengelompokkelompokkan konsumen ke dalam kotakkotak yang lebih homogen. Segmentasi
pasar juga dapat diartikan sebagai usaha untuk membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang
dapat dibedakan satu sama lain dalam hal kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang mungkin
akan memerlukan produk-produk dan strategi pemasaran tertentu untuk menjangkaunya. Pada
dasarnya segmentasi pasar merupakan suatu strategi yang didasarkan pada falsafah manajemen
pemasaran yang berorientasi pada konsumen. Dengan melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan
pemasaran dapat dilakukan lebih terarah, dan sumber daya perusahaan di bidang pemasaran dapat
digunakan secara lebih efektif. Tujuan dari segmentasi pasar adalah untuk menghemat usaha-usaha
pemasaran dengan menitik beratkan kepada pembeli yang berminat tinggi untuk membeli. Selain
itu segmentasi dilakukan untuk menghubungkan antara kebutuhan dengan tindakan. Terdapat 5
manfaat yang diperoleh dengan melakukan segmentasi pasar, yaitu :

a. Mendisain produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar Hanya dengan
memahami segmensegmen yang responsif terhadap suatu stimuli, maka perusahaan dapat
mendesign produk sesuai dengankebutuhan/keinginan segmen tersebut. Jadi perusahaan
menempatkan konsumen di tempat utama dalam mendesign produk, dan menyesuaikan produknya
untuk memuaskan konsumen (customer satisfaction at a profit).

b. Menganalisis pasar Dengan segmentasi pasar membantu eksekutif mendeteksi siapa saja yang
akan menggerogoti pasar produknya. Ingatlah pesaing perusahaan bukanlah semata-mata “mereka
yang menghasilkan produk yang sama dengan yang perusahaan sajikan kepada konsumen”.
Pesaing perusahaan adalah mereka yang mampu menjadi alternatif bagi kebutuhan konsumen.

c. Menemukan peluang (niche) Setelah menganalisis pasar, perusahaan yang menguasai konsep
segmentasi yang baik akan sampai pada ide menemukan peluang. Peluang ini tidak selalu sesuatu
yang besar, tapi pada masanya ia akan menjadi besar. Perlu diingat konsumen akan selalu belajar
mengenali sesuatu atau mengikuti orang lain, atau merasa butuh terhadap suatu produk.

d. Menguasai posisi yang superior dan kompetitif Perusahaan yang menguasai segmen dengan
baik umumnya adalah mereka yang paham betul konsumennya dan telah mempelajari
pergeseranpergeseran yang terjadi dalam segmennya.

e. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien, jika perusahaan tahu persis siapa
segmen mereka, maka perusahaan akan tahu bagaimana berkomunikasi yang baik dengan para
pelanggannya.

Tidak ada cara tunggal untuk membuat segmen pasar. Seorang pemasar harus mencoba
variabel segmentasi yang berbeda, sendiri atau dalam kombinasi, mencari cara terbaik untuk
memandang struktur pasar. Terdapat empat variabel utama yang mungkin dipergunakan dalam
mensegmentasi pasar konsumen yaitu:

a.Segmentasi geografik

Segmentasi geografik membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara,
regional, negara bagian, kota atau kompleks perumahan. Sebuah perusahaan mungkin
memutuskan untuk beroperasi dalam satu atau beberapa wilayah geografik ini, atau beroperasi di
semua wilayah, tetapi lebih memperhatikan perbedaan kebutuhan dan keinginan yang dijumpai.

b. Segmentasi demografik

Segmentasi demografik membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti
umur, jenis kelamin, besar keluarga, siklus kehidupan keluarga, pendapatan, pekerjaan,
pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan. Faktor-faktor demografik merupakan dasar paling
populer untuk membuat segmentasi kelompok pelanggan. Salah satu alasan adalah kebutuhan
konsumen, keinginan dan tingkat penggunaan seringkali amat dekat dengan variabel demografik.
Alasan lain adalah variabel demografik lebih mudah diukur ketimbang tipe variabel yang lain.

c. Segmentasi psikografik

Segmentasi psikografik membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada


karakteristik sosial, gaya hidup atau kepribadian. Orang yang berada dalam kelompokdemografik
yang sama dapat saja mempunyai ciri psikografik berbeda.

d. Segmentasi tingkah laku

Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap,


penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa variabel
tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.

(Kotler, 2001)

Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif, yaitu:


• Dapat diukur (measurable)
Ukuran, daya beli, dan profil pasar harus dapat diukur dengan tingkat tertentu.
• Dapat dijangkau (accessible)
Segmen pasar dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
• Cukup besar (substantial)
Segmentasi pasar cukup besar atau cukup memberi laba yang dapat dilayani. Suatu segmen
merupakan kelompok homogen yang cukup bernilai untuk dilayani oleh progam pemasaran
yang sesuai.
• Dapat dibedakan (differentiable)
Differentiable berarti segmen tersebut dapat dibedakan dengan jelas.
• Dapat dilaksanakan (actionable)
Actionable berarti segmen tersebut dapat dijangkau atau dilayani dengan sumber daya yang
dimiliki perusahaan. (Kotler, 2001)

Tingkat Segmentasi Pasar

Menurut Kotler dan Armstrong, ada empat tingkat Tingkat Segmentasi Pasar, sebagai berikut :

1. Pemasaran tanpa Diferensiasi (Massal)


Dengan menggunakan strategi pemasaran tanpa diferensiasi (undifferentiated marketing)
atau pemasaran massal (mass marketing), perusahaan bisa memutuskan untuk mengabaikan
perbedaan segmen pasar dan menargetkan keseluruhan pasar dengan satu penawaran. Strategi
pemasaran massal ini terfokus pada kesamaan kebutuhan konsumen daripada perbedaannya.
Perusahaan merancang produk dan program pemasaran yang sesuai bagi sejumblah besar
konsumen.
2. Pemasaran Terdiferensiasi (Tersegmentasi)
Dengan strategi pemasaran terdiferensiasi (differentiated marketing) atau pemasaran
tersegmentasi (segmented marketing), perusahaan memutuskan untuk menargetkan beberapa
segmen pasar dan merancang penawaranterpisah bagi masing-masing segmen. Akan tetapi
strategi ini juga meningkatkan biaya pelaksanaan bisnis. Biasanya pemasaran jenis ini lebih
mahal untuk mengembangkan dan memproduksi, misalnya, 10 unit dari 10 produk berbeda
daripada 100 unit untuk satu produk. Mengembangkan rencana pemasaran terpisah untuk
segmen berbeda memerlukan riset pemasaran ekstra, peramalan, analisis penjualan,
perencanaan promosi, dan manajemen saluran. Dan usaha meraih segmen pasar berbeda
dengan iklan berbeda meningkatkan biaya promosi. Oleh karena itu, perusahaan harus
mempertimbangkan peningkatan penjualan dibandingkan dengan peningkatan biaya ketika
memutuskan strategi pemasaran terdiferensiasi.
3. Pemasaran Terkonsentrasi (Ceruk)
Strategi cakupan pasar ketiga, pemasaran terkonsentrasi (concentrated marketing) atau
pemasaran ceruk (niche marketing), sesuai untuk perusahaan yang sumber dayanya terbatas.
Alih-alih mengejar pangsa kecil dari pasar yang besar, perusahaan mengejar panfsa besar dari
satu atau beberapa segmen atau ceruk yang lebih kecil. Melalui pemasaran terkonsentrasi,
perusagaan mencapai posisi pasar kuat karena pengetahuan perusahaan yang lebih besar akan
kebutuhan konsumen dalam ceruk yang dilayaninya dan reputasi khusus yang diraihnya. Jika
segmen cukup besar dan menarik beberapa pesaing, ceruk berukuran lebih kecil mungkin
hanya menarik satu atau beberapa pesaing. Pemasaran jenis ini bisa sangat menguntungkan,
tetapi juga melibatkan risiko yang lebih tinggi daripada biasanya. Perusahaan yang bergantung
pada satu atau beberapa segmen untuk semua bisnis mereka akan sangat merugi jika segmen
melesu. Atau pesaing besar bisa memutuskan untuk memasuki segmen yang sama dengan
sumber daya yang lebih besar. Untuk alasa ini, banyak perusahaan lebih suka melakukan
diversifikasi dalam beberapa segmen pasar.
4. Pemasaran Mikro
Pemasaran jenis ini (micro marketing) adalah praktek penghantaran produk dan program
pemasaran untuk memenuhi selera individu dan lokaso tertentu. Alih-alih memandang
konsumen dalam setiap individu, pemasar mikro melihat individu dalan diri setiap konsumen.
Pemasaran mikro mencakup pemasaran lokal dan pemasaran individual.
1) Pemasaran Lokal
Melibatkan penghantaran merek dan promosi khusus untuk kebutuhan dan keinginan
kelompok konsumen lokal, misalnya kota, lingkungan dan bahkan toko tertentu.
2) Pemasaran Individu
Individual marketing menghantarkan produk dan program pemasaran khusus untuk
kebutuhan dan preferensi pelanggan individual. Pemasaran jenisi ini juga disebut “pasar
dari satu pemasaran”, “pemasaran yang disesuaikan”, “dan pemasaran satu-satu”
(Kotler,2001)
Menurut Kotler (1988), ada tiga tahap yang harus dilakukan dalam segmentasi pasar yaitu:

1. Tahap survey (survey stage)


Tahap survey (survey stage) merupakan tahap melakukan eksplorasi, baik melalui focus
group discussion atau dengan wawancara terhadap beberapa kelompok konsumen
untuk memperoleh keterangan mengenai motivasi, sikap, dan perilaku. Wawancara dilakukan
untuk mencari penjelasan, sedangkan pengamatan dilakukan untuk mendapatkan gambaran
tentang motivasi, sikap dan prilaku konsumen. Dengan adanya gambaran awal tentang preferensi
konsumen, peneliti dapat mengenali lebih lanjut dengan menggunakan kuesioner untuk
pengumpulan data tentang, yaitu:

• Atribut produk
• Kesadaran merek
• Pola-Pola pemakaian produk
• Sikap terhadap katagori produk
• Demografis, geograpis, dan psikografis
2. Tahap Analisis (analiysis stage)
Tahap Analisis (analysis stage) merupakan tahap analisis terhadap informasi yang telah
diproleh melalui survey. Analisis dapat dilakukan dengan menerapkan analisis faktor variabel
variabel mana yang berkelorasi tinggi kemudian menerapkan analisis kluster untuk menciptakan
atau mengetahui kelompok kelompok pasar yang secara segnifikan memiliki perbedaan
karakteristik

3. Tahap pembentukan (Profilling stage)


Tahap pembentukan (profilling stage) merupakan tahap untuk mengidentifikasi profil
masing masing kluster yang terentuk. Dengan ini akan teridentifikasi perbedaan masing masing
kluster berdasarkan sikap dan perilaku, demogratif, piskogratif, kemudian masing masing cluster
diberi nama berdasarkan karakteristik yang menonjol.

DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2001. Marketing Management. Prenhallindo. Jakarta.
Kotler, P. (1988), Marketing Mangement: Analysis, Plannirlg Implementation and Conrrol,
Engelwood Cliffs, N.J: Prentice Hall, 6' edition.

Targeting dalam Pelayanan Kesehatan

Target marketing merupakan strategi yang diawali dengan melakukan segmentasi


pasar, kemudian memilih satu atau lebih segmen yang dianggap paling potensial serta
mengembangkan produk dan program pemasaran yang dirancang khusus untuk
segmen tersebut. Target pasar adalah kelompok yang akan dilayani sebagai
konsumen/kepada siapa suatu produk atau jasa dijual, biasanya karakter nya hampir
sama (Swastha, 2015).
Manfaat dari menetapkan target pasar, yaitu (Puspitasari, 2017):

1. Meningkatkan posisi produk dan strategi marketing mix


2. Mempermudah penyesuaian produk dalam pasaran dan memudahkan
strategi bauran pemasaran yang dilaksanakan.
3. Memahami luasnya peluang luasnya pasar sebagai tempat pemasaran produk
baru.

4. Membuat sumber daya perusahaan menjadi efisien dan efektif.

5. Mengantisipasi adanya persaingan dalam bisnis dan usaha.

Kriteria Targeting

Kriteria targeting yang harus dipenuhi perusahaan yaitu sebagai berikut


(Swastha, 2015):
1. Dapat memastikan bahwa segmen pasar yang dijadikan sasaran tersebut cukup
besar serta menguntungkan perusahaan.
2. Hendaknya didasarkan pada keunggulan kompetitif perusahaan. Maksud
keunggulan kompetitif disini sebagai cara dipakai sebagai pengukur apakah
perusahaan mempunyai potensi kekuatan dan keahlian dalam berkompetisi dengan
pesaingnya.
3. Didasarkan menurut situasi persaingannya, maksudnya situasi persaingan secara
langsung ataupun situasi persaingan secara tidak langsung yang sangat
mempengaruhi targeting perusahaan.

Sedangkan kriteria untuk mendapatkan target market optimal, dengan cara


sebagai berikut (Swastha, 2015):
1) Responsif

Kondisi pasar yang telah dipilih dan dijadikan targeting harus responsive pada
produk yang akan diluncurkan. Sedangkan cara untuk memperoleh respons yang
positif perlu mengetahui tantang target market yang sudah tepat dipilih
sebelumnya. Cara mengetahui respon pasar bisa melalui bantuan riset pasar, atau
bisa dengan membuat jajak pendapat yang mengacu pada segmentasi pasar
konsumen.
2) Potensi penjualan

Cara menghitung potensi penjualan bukan hanya atas dasar jumlah populasi,
namun juga ditentukan oleh daya beli serta kemauan konsumen daalam kelompok
pasar. Dengan melakukan persiapan Analisa awal yang matarng tentunya bisa
memperoleh target penjualan yang baik dan memuaskan.
3) Jangkauan Media

Media promosi sangat besar pengaruhnya dalam memaksimalkan pemasaran


suatu produk. Agar dapat mencapai target market yang optimal, diperlukan
perencanaan media iklan yang tepat.
4) Sensitifitas terhadap Pasar

Perlu diadakannya pemantauan kondisi dinamika pasar secara konsisten


sebagai upaya mempertahankan target market.

Faktor yang mempengaruhi target pasar

Ada lima faktor yang perlu diperhatikan sebelum menetapkan target pasar yaitu
(Rismiati dan Suratno, 2001):

1. Ukuran segmen Perkiraan besarnya/ ukuran segmen yang akan dituju


Ini faktor penting untuk memutuskan apakah segmen pasar tersebut cukup berharga
untuk ditindak lanjuti. Perusahaan yang besar akan memilih segmen dengan volume
penjualan besar dan menghindari segmen kecil dan sebaliknya.

2. Pertumbuhan segmen
Walaupun ukuran segmen saat ini kecil bukan tidak mungkin akan berkembang
atau diharapkan dapat berkembang untuk masa mendatang

3. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapai segmen tersebut


Suatu segmen yang tidak cocok dengan kegiatan pemasaran perusahaan seharusnya
tidak "dikejar".

4. Kesesuaian dengan tujuan dan sumber-sumber/ kemampuan perusahaan


Target yang dituju haruslah sesuai dengan tujuan dan sumber-sumber/ kemampuan
yang dimiliki perusahaan.

Adapun proses pelaksanan target pasar yang dilakukan oleh perusahaan, adalah dengan
runtutan berikut ini:

• Mengembangkan acuan pemasaran untuk setiap segmen pasar sasaran yang ditentukan
• Memilih segmen pasar sasaran atau target pasar
• Mengembangkan posisi produk untuk setiap segmen pasar sasaran
• Mengembangkan profil segmen psar yang dihasilkan
• Mengembangkan ukuran atau kriteria daya tarik dari segmen pasar yang ada
• Mengidentifikasi dasar untuk mensegmentasikan pasar

5. Posisi persaingan

Suatu segmen mungkin mempunyai ukuran dan pertumbuhan yang baik tetapi
mempunyai potensi lemah dalam hal laba. Lebih sedikit persaingan lebih aktratif/
menariklah segmen tersebut untuk dimasuki

Strategi Target Pasar

Strategi target pasar adalah pola keputusan di dalam perusahaan untuk menentukan
dan mengungkapkan sasaran, maksud serta tujuan yang menghasilkan kebijakan utama,
dan perencanaan untuk mencapai tujuan sekaligus dalam merinci jangkauan bisnis yang
akan dikejar perusahaan. Dalam rangka pelaksanaan strategi target pasar, terdapat tiga
alternatif strategi target pasar yang dapat diterapkan perusahaan. Pilihan strategi target
pasar perusahaan tersebut, di antaranya meliputi:

1. Differentiated Marketing

Differentiated marketing adalah suatu usaha yang dilakukan perusahaan


dalam rangka mengidentifikasi kelompok – kelompok pembeli tertentu dengan
membagi pasar dalam dua kelompok atau lebih. Untuk hal ini, perusahaan harus
membuat produk yang berbeda – beda untuk masing – masing segmen pasar yang
ada. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah penjualan barang dan jasa, serta
untuk mendapat kedudukan yang kuat di setiap segmen pasarnya.

2. Undifferentiated Marketing

Undifferentiated marketing merupakan suatu usaha perusahaan yang


dilakukan dengan jalan meninjau pasar secara keseluruhan dan memusatkan pada
kemasan – kemasan barang dalam rangka memenuhi keinginan dan kebutuhan
konsumen. Penggunaan strategi target pasar dengan undifferentiated marketing ini
didasarkan pada adanya penghematan ongkos – ongkos, baik dalam bidang
pemasaran maupun ongkos-ongkos perusahaan pada umumnya.

3. Concentrated Marketing

Concentrated marketing merupakan suatu usaha perusahaan yang


dilakukan untuk memusatkan pemasaran produk – produknya pada satu atau
beberapa kelompok pembeli yang dianggap potensial saja. Tujuan strategi target
pasar concentrated marketing adalah agar dapat memusatkan pemasaran pada
segmen pasar yang dilayaninya saja. Dengan begitu, perusahaan dapat memperoleh
penghematan dalam operasi pemasaran, karena adanya spesialisasi dalam hal
produk, harga, promosi, dan distribusi. (Buchari, 2004)

DAFTAR PUSTAKA

Buchari Alma, Prof. Dr. 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung : CV.
Alfabeta.
Puspitasari, Reham. 2017. Marketing Progam Keahlian Bisnis danPemasaran
SMK/MAK.Surakarta : PT Bumi Aksara
Swastha, Basu. 2015. Azas – Azas Marketing. Yogyakarta : LIBERTY
Rismiati dan Ig. Bondan Suratno, 2001. Pemasaran Barang dan Jasa, Kanisius, Yogyakarta
PEMASARAN/MARKETING DAN PEMASARAN KESEHATAN

Pemasaran merupakan segala upaya yang dilakukan dalam menjual produk ataupun jasa,
meliputi proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang
mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan saling mempertukarkan
produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain (Kotler dan Keller, 2009).
Peranan dari pemasaran adalah bagaimana produk dan/ jasa tersebut sesuai dengan
kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen baik secara kualitas maupun harga sehingga
didapatkan kepuasan konsumen. Produsen pun bisa mendapatkan keuntungan dari pembelian yang
berulang. Oleh karena itu dibutuhkan proses produksi yang benar, dimulai dari perencanaan
produk, penentuan harga, penentuan strategi penjualan, promosi, hingga pendistribusian barang
dan jasa yang tepat demi menghasilkan pelayanan yang bermutu (Lestari, 2015).
Pemasaran di fasilitas layanan kesehatan bukan lagi sesuatu yang tabu untuk dilakukan
karena pada dasarnya pemasaran pelayanan kesehatan berpusat dan berorientasi pada pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pasien, dan bukan mengarah kepada komersialisasi konsumen semata
(Sari, 2009). Menurut Cooper P.D dalam Husaini dan Panghiyangani (2016), terdapat 4 konsep
dalam pemasaran, yaitu:
1. Konsep pelayanan: orientasi hanya untuk memberikan pelayanan dan fasilitas yang baik
2. Konsep penjualan: orientasi hanya pada usaha untuk mencapai pemanfaatan fasilitas
dengan memadai
3. Konsep pemasaran: orientasi berusaha untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan pasien
serta menciptakan pelayanan yang memuaskan.
4. Konsep pemasaran social: orientasi pada usaha untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan
permintaan konsumen serta memberikan kepuasan. Konsep pemasaran sosial meyakini
bahwa tugas perusahaan adalah menetapkan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan pasar
sasaran dan memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien
daripada para pesaing dengan cara-cara yang menjaga atau meningkatkan kesejahteraan
konsumen dan masyarakat.

Pemasaran di bidang kesehatan secara khusus memiliki tujuan, antara lain:


• Untuk memperkenalkan fasilitas pelayanan kesehatan pada masyarakat luas
• Menginformasikan sejelas-jelasnya mengenai fasilitas dan kemampuan pelayanan yang
dimiliki oleh fasilitas pelayanan kesehatan pada masyarakat
• Membentuk dan membina citra fasilitas pelayanan kesehatan
• Terjadinya peningkatan penghasilan/laba (Sabarguna, 2004)
Pentingnya rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya untuk melakukan pemasaran
saat ini dipicu oleh sejumlah faktor (Taurany, 2008), yaitu:
• Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengantarkan kita memasuki era pasar
bebas dimana batas geografi tidak lagi menjadi masalah
• Meningkatnya kesadaran pasien akan tingkat kesehatan yang lebih baik, serta
meningkatknya harapan dan kenyamanan atas pelayanan dari fasilitas kesehatan
menyebabkan masyarakat lebih selektif dalam memilih tempat dimana ia akan berobat.
Semakin bebas dan mudahnya mobilitas masyarakat dalam memilih RS atau fasilitas
pelayanan kesehatan lain akan menyebabkan persaingan antar fasilitas pelayanan
kesehatan menjadi semakin ketat
• Banyak pesaing-pesaing baru banyak bermunculan karena regulasi pemerintah di bidang
kesehatan yang memang mendorong bertumbuhnya RS baru, hal tersebut menyebabkan
kekuatan tawar RS yang ada semakin kecil dan kekuatan tawar pelanggan semakin besar
• RS memasuki sebuah mekanisme dimana pelanggan sangat menentukan keberlangungan
hidup RS. Hal ini menyebabkan RS perlu merubah cara pandangnya terhadap pelanggan
sebagai pihak yang menerima begitu saja pelayanan kesehatan yang disajikan RS
• Meningkatnya biaya operasional, jumlah dan kualitas staf-staf RS maupun fasilitas
kesehatan lain menyebabkan RS perlu memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggannya
lebih daripada pesaing agar dapat bertahan dan berkembang dalam intensitas persaingan
yang tinggi.

Menurut Budiarso dalam (Yuliana, 2009), kebijakan pemasaran jasa kesehatan secara khusus
hendaknya mengacu pada beberapa hal yaitu:
1. Pemasaran hendaknya tidak bertentangan dengan kode etik profesi dan jabatan, harus
mengacu pada tujuan pembangunan kesehatan dan tidak bertentangan dengan hukum
2. Pemasaran diterapkan agar pemanfaatan meningkat dan memperluas cakupan pelayanan,
dengan tujuan akhir meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
3. Pemasaran kesehatan harus dilakukan dengan benar, dan tidak boleh dilakukan sama
seperti pemasaran jasa-jasa umum lainnya
4. Rambu-rambu pemasaran jasa kesehatan yang diperkenankan yaitu melalui media cetak
maupun elektronik namun tidak dengan bahasa yang terlalu mengajak, memaksa,
mempengaruhi ataupun menakut-nakuti. Promosi maupun penawaran khusus untuk
program baru tidak boleh terlalu membujuk
Konsumen atau pasien menilai kualitas jasa dalam pemasaran jasa kesehatan dari berbagai sudut
pandang, yaitu dari ketrampilan pemberi jasa, kualitas teknikal (sebagai contoh apakah cara
mencabut gigi cukup baik dan nyaman bagi pasien), dan kualitas fungsionalnya (apakah dokter
gigi mampu memberikan empati kepada pasien). Oleh karena itu, ada beberapa hal harus
diprioritaskan oleh petugas kesehatan demi memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik, yaitu:
1. Selalu berpikir dan bersikap positif kepada pasien
2. Berpenampilan yang meyakinkan, rapi, bersih, dan sopan
3. Selalu siap melayani dan mengantisipasi kebutuhan dan keluhan pasien
4. Selalu siap menerima pasien sebelum pasien datang
5. Selalu memberikan pelayanan yang berkesan positif dan mendalam agar saat pasien
membutuhkan jasa kesehatan maka yang teringat pertama adalah institusi kita
6. Memperhatikan kepuasan pasien, diantaranya selalu ikhlas dan dengan senang hati
memberikan pelayanan, menjelaskan tindakan apa yang akan kita lakukan, mengucapkan
terimakasih saat diberi masukan oleh pasien, dan meminta maaf apabila ada kejadian yang
tidak menyenangkan (Herlina, 2011).

Orientasi Pemasaran Kesehatan


1. Selling orientation → bersifat birokratis,
2. Marketing orientation → memperhatikan kehendak masyarakat.
- Membutuhkan pemilihan kebutuhan
- Environment analysisis: diperlukan agara dapat digunakan dalam strategi marketing
yang akan dibuat
Dalam manajemen pemasaran dikenal dengan 2 (dua) bentuk orientasi yaitu ’selling
orientation’dan ’marketing orientation’. Puskesmas yang selling orientation, sering kali bersifat
birokratis, dan fungsi unit-unit di puskesmas sering ditandai oleh alokasi anggaran kegiatan, tidak
peduli dengan keinginan masyarakat yang mereka layani, mereka tidak mempunyai pandangan
jauh ke depan. Sedangkan puskesmas yang marketing orientation, sangat memperhatikan
kehendak masyarakat, semua unit di puskesmas harus berorientasi pada pasien dan masyarakat,
penuh dedikasi, selalu tanggap pada keinginan masyarakat, dan ada keinginan petugas puskesmas
untuk meningkatkan layanan baik diminta ataupun tidak. Ada kerja sama yang baik antar bagian,
tidak saling bersaing antarbagian, tidak saling mempersulit urusan sehingga yang menanggung
masyarakat. Staf puskesmas yang berorientasi pada selling selalu mengatakan bahwa kegiatan
mereka ialah program kerja, target atau jasa yang ditawarkan, sedangkan staf puskesmas yang
berorientasi pada marketing menyatakan bahwa kegiatan mereka ialah kepuasan pasien dan
masyarakat.

Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran pada dasarnya adalah rencana yang menyeluruh, terpadau dan menyatu
dibidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat
tercapainya tujuan pemasaran dari suatu perusahaan. Dengan kata lain strategi pemasaran adalah
serangkaian tujuan atau sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah kepada usaha-usaha
pemasaran perusahaan dari waktu-kewaktu, pada masing-masing tingkatan dan acuan serta
alokasinya, terutama sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan
persaingan yang selalu berubah.
Strategi pemasaran harus didasarkan atas analisa lingkungan dan internal perusahaan
melalui analisa keunggulan dan kelemahan perusahaan, serta analisa kesempatan dan ancaman
yang akan dihadapi perusahaan dari lingkungannya. Selain itu strategi yang telah dijalankan harus
dinilia kembali, apakah masih sesuai dengan kondisi saat ini.Faktor lingkungan yang dianalisa
dalam penyususnan strategi pemasaran adalah keadaan pasar atau persaingan, perkembangan
teknologi, keadaan ekonomi, peraturan dan kebijakan pemerintah, keadaan sosial budaya dan
keadaan politik. Masing-masing faktor ini dapat menimbulkan adanya kesempatan atau hambatan
bagi pemasaran produk suatu perusahaan. Khusus dalam bidang pemasaran, faktor-faktor
lingkungan atau eksternal adalah faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh pimpinan perusahaan.
Sedangkan faktor internal dalam bidang pemasaran adalah faktor yang dapat dikendalikan oleh
pimpinan perusahaan umumnya dan pimpinan pemasaran khususnya, yang terdiri dari produk,
harga, distribusi, promosi dan pelayanan.
Langkah-langkah taktis dalam memenuhi situasi pasar yaitu sasaran yang didasarkan pada
kemampuan dan situasi organisasi. Cakupannya adalah cakupan misi, sasaran/tujuan, dan fokus
strategi dan termasuk juga dalam hal segmentasi, targeting dan positioning.
Strategi harus spesifik misal penentuan merk atau strategi pelanggan yg akan ditempuh.
1. Strategi yang mencakup berbagai kelompok sasaran: sasaran primer, sekunder, tersier.
Sasaran primer: sasaran pokok yang diharapkan mengubah perilaku. Contoh: puskesmas.
Sasaran sekunder: sasaran yg terlibat dalam pelayanan produk, penyampaian pesan-pesan
secara langsung. Contoh kader posyandu.
Sasaran tersier: sasaran yang terlibat secara tidak langsung, tapi dukungannya dibutuhkan.
Contoh: tokoh masyarakat.
2. Perilaku yang diharapkan dari setiap kelompok sasaran
Sasaran penyuluhan yang responsif dalam menanggapi yang disampaikan penyuluh
diharapkan mampu mengubah perilaku agar lebih baik dalam memperbaiki kesehatan
3. Strategi dalam penggunaan kata-kata. Penting untuk meyakinkan target pemasaran, untuk
melakukan hal-hal yg diharapkan dari pihak produsen. Misal saat melakukan penyuluhan
menggunakan kata yg persuasif, mengajak untuk hidup lebih sehat.

Fungsi pangsa pasar


1. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menguasai pasar
2. Untuk mengetahui kedudukan pasar di persaingan
a. Market leader (penjual tertinggi)
b. Market challenger (produsen yang masuk untuk menantang dan mengambil pasarnya
market leader)
c. Market follower (tidak berniat mengambil pasar, hanya masuk saja ke dalam pasar
untuk berjualan)
d. Market nicher (relung pasar): berusaha mencari celah dari persaingan yang ada. Ada
orang-orang yang memiliki kebutuhan yang berbeda dari yang sudah ada.

DAFTAR PUSTAKA
Herlina. 2011. Buku Panduan Pemasaran Sosial; BAB IV: Langkah-langkah dalam
Mengembangkan Kegiatan Pemasaran Sosial. Fakultas Ilmu Kesehatan UMPAR
Husaini, S.K.M dan Panghiyangani R. 2016. Pemasaran Lembaga dan Layanan Kesehatan.
Dokumentasi Pribadi.
Kotler dan Keller. 2009. Manajemen Pemasaran Edisi 13. Jakarta: Erlangga.
Lestari, S.P. Hubungan Komunikasi Pemasaran Dan Promosi Dengan Keputusan Memilih Jasa
Layanan Kesehatan (Studi Pada Rumah Sakit Islam Lumajang). Jurnal Interaksi, Vol 4 No
2, Juli 2015 : 139 – 147.
Ristrini.2009. Implementasi Manajemen Pemasaran Dalam Rangka Membangun Citra (Image)
Masyarakat Terhadap Puskesmas. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan – Vol. 12 No. 4
Sabarguna, B. S. 2004. PemasaranRumahSakit. Konsorsium RSI.Yogyakarta
Sari, I. D. 2009. Manajemen Pemasaran Usaha Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Taurany H. 2008. Administrasi Rumah Sakit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta:
Universitas Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat.

JENIS – JENIS MARKETING DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Pemasaran yaitu proses termasuk manajemennya yang meliputi kepentingan kelompok


serta perseorangan dalam usaha memenuhi kebutuhannya dengan cara memproduksi serta
menukar produk dengan orang lain (Kotler, 2000), sedangkan American Marketing Association
dalam (Rahmat, 2012) disebutkan bahwa definisi pemasaran adalah suatu proses mulai dari
perencanaan dan pelaksanaan, penentuan harga, promosi serta distribusi. Kegiatan ini mencakup
pertukaran barang dan jasa yang tujuannya memenuhi keinginan organisasi dan perseorangan.
Jenis- jenis marketing
1. Telemarketing
Metode pemasaran langsung face to face lewat e conference. Telemarketing merupakan
salah satu cara mempromosikan produk melalui penggunaan telepon dan pusat panggilan
untuk menarik prospek, menjual kepada pelanggan yang telah ada dan menyediakan
layanan dengan mengambil pesanan dan menjawab pertanyaan melalui telepon.
Telemarketing merupakan sebuah cara dalam bidang pemasaran yang menggunakan
teknologi komunikasi sebagai bagian dari program promosi yang teratur dan terstruktur.
Telemarketing dibagi dalam dua jenis, yaitu Telemarketing Inbound dan Telemarketing
Outbound.
Telemarketing Inbound adalah penggunaan telepon nomor bebas pulsa untuk menerima
pesanan dari iklan, surat langsung, atau katalog (Kotler dan Armstrong, 2012).
Telemarketing Inbound adalah panggilan telepon masuk yang berasal dari pelanggan.
Dapat disimpulkan bahwa Telemarketing Inboundadalah panggilan telepon masuk yang
berasal dari pelanggan dengan niat ingin memesan produk, ataupun hanya menanyakan
mengenai produk, bahkan menanyakan masalah yang dihadapi dalam Proses Keputusan
Pembelian produk. Contoh Telemarketing Inbound adalah pelanggan yang ingin memesan
produk yang telah dipromosikan oleh perusahaan, kemudian pelanggan tersebut menelepon
dan menanyakan mengenai produk yang dipromosikan.
Telemarketing Outbound adalah menggunakan telepon keluar untuk menjual produk
secara langsung kepada pelanggan dengan tujuan penjualan produk, membuat janji temu
dengan pelanggan, dan mempromosikan produk.
2. Internasional marketing
Pemasaran Internasional (IM) atau pemasaran global merujuk kepada pemasaran dilakukan
oleh perusahaan luar negeri atau di seberang perbatasan nasional.
3. Turbo marketing
Turbo Marketing muncul karena adanya tuntutan dari para konsumen terkait sistem
kecepatan dalam hal pelayanannya. Pola ini dipicu karena disebabkan suasana globalisasi
dan digitaliasi dalam segala sektor kehidupan.Seperti halnya di masyarakat saat ini, hampir
semua orang sudah memiliki private number yang terhubung dalam akun media social.
Puncaknya ditahun 2020 tren masyarakat menggunakan whatapp dan aplikasi zoom.
Mereka bisa bertransaksi secara cepat tanpa ada batasan jarak dan waktu. Hal ini juga
sangat terasa bagi dunia pendidikan saat ini bisa mengadakan kegiatan seminar atau diklat
dengan biaya yang jauh lebih murah bila dibandingkan dengan sistem offline dengan
adanya aplikasi zoom.
Turbo marketing merupakan tren saat ini. Mengandung sistem kecepatan layanan (Anisha,
2016) seperti halnya yang banyak dilakukan perusaan modern saat ini seperticontoh
dibukanya mall pelayanan public di Pamekasan tahun 2018. Kegiatannya merupakan
gabungan dari beberapa dinas pemerintah terkait dalam konsep quick response agar
masyarakat bisa terlayani secara cepat dan memuaskan.
Speed of Response (Respon Cepat): harapan pelanggan adalah bagaimana barang ataupun
jasa yang mereka pesan bisa sampai dengan cepat dihadapan mereka. Sedangkan pemilik
usaha harus peka dengan apa yang dialami oleh konsumen. Jangan sampai konsumen putar
balik kendaraan tidak jadi mampir karena lamanya menunggu pelayanan. Harus dicari
solusi terbaik ketika antrian panjang terjadi ditempat usaha kita.
Deft of Response (Respon Cekatan): cekatan identik dengan mahir melakukan sesuatu
pekerjaan. Didalamnya ada unsur ketangkasan kecepatan dan kehandalan sesuai dengan
mental dan fisik pelaku usaha. Oleh sebab itu mereka perlu dan wajib menjaga tubuh agar
selalu prima walaupun terkadang mengalami situasi yang menuntut kesabaran akibat ulah
yang dibuat oleh pelanggan.
4. Word of mouth (WOM)
Mahendrayasa et al, (2014) mengemukakan bahwa, komunikasi dari mulut ke
mulut (word of mouth) mengacu pada pertukaran komentar, pemikiran, atau ide-ide
diantara dua konsumen atau lebih, yang tidak satupun merupakan sumber pemasaran.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, WOM dapat bekerja luas dan bebas oleh siapa saja
dan kepada siapa saja.Di dalam masyarakat word of mouth dikenal juga dengan istilah
komunikasi dari mulut ke mulut. Komunikasi personal ini dipandang sebagai sumber yang
lebih dapat dipercaya atau dapat diandalkan dibandingkan dengan informasi dari
nonpersonal. Word of mouth tidak dapat dibuat-buat atau diciptakan. Karena word of
mouth dilakukan oleh konsumen dengan sukarela atau tanpa mendapatkan imbalan.
Berusaha membuat-buat WOM sangat tidak etis dan dapat memberikan efek yang lebih
buruk lagi, usaha tersebut dapat merusak brand dan merusak reputasi
perusahaan.komunikasi melalui mulut ke mulut tentang kualitas sebuah produk, word of
mouthtidak hanya membawa hal positif dari produk tersebut namun juga membawa hal
negatif dari produk tersebut. Hal negatif yang terjadi di dalam word of mouth juga akan
cepat tersebar seperti berita baik yang terdapat dalam word of mouth. Word of mouth dalam
bidang jasa menyangkut tentang pelayanan kepada konsumennya, konsumen akan puas
jika pelayanan yang diberikan baik sehingga akan menimbulkan word of mouth secara
alami (Solomon, 2007)
5. New wave marketing
Sesungguhnya merupakandekonstruksi terhadap pendekatan marketing tradisional
yang bersifat “vertikal”. Pendekatan vertikal yang dimaksud adalah pendekatan pemasaran
yang menggunakan media massal seperti seperti TV, Radio, Koran, dan sebagainya;
arahnya one-way sehingga tidak memungkinkan terjadinya interaksi intens antara merk
produk dengan konsumen; dan sifatnya “one-to-many” sehingga tidak bisa fokus . Dalam
pendekatan ini konsumen menjadi semacam “obyek penderita” yang dijadikan target
market oleh si marketer.
6. Viral marketing
Viral marketing dan periklanan virus adalah istilah-istilah mengacu pada teknik
pemasaran yang menggunakan jaringan sosial yang sudah ada untuk menghasilkan
peningkatan brand awarenessatau untuk mencapai tujuan pemasaran lainnya (seperti
penjualan produk) melalui replikasi diri proses virus, analog dengan penyebaran virus atau
virus computer. Keuntungan viral marketing antara lain pelayanan yang utama, biaya lebih
rendah, jangkauan lebih luas, lebih efisien dan kesempatan promosi yang berjelanjutan
(Julie Clements, 2007). Produk atau merek mudah dan cepat dikenal oleh
konsumen.Alasan utama untuk meningkatkan popularitas viral marketing yaitu:1.Akses
jaringan yang mudah.2.Biaya promosi yang rendah.3.Lebih cepat tersampaikan ke para
konsumen.
7. Mass marketing
Pemasaran massal adalah strategi cakupan pasar di mana perusahaan memutuskan untuk
mengabaikan perbedaan segmen pasar dan pergi setelah seluruh pasar dengan satu tawaran
8. Bussines to business marketing
Pemasaran Bisnis ke Bisnis (B2B) adalah perusahaanpemasaran langsung utama yang
mengkhususkan diri dalam memimpin generasi, generasi permintaan dan retensi pelanggan
9. Consumer to consumer marketing
Dari mulut ke mulut (juga dikenal sebagai viva voce) mengacu pada komunikasi lisan dan
informasi yang lewat dari orang ke orang
10. Service marketing
Tahap dimana konsumen telah membeli produk atau jasa dalamsatu paket lain seperti
layanan sebelum dan sesudah penjualan.pada tahap ini pula konsumen sudah bisa
mempertimbangkan tingkat kepuasaan mereka
11. Social marketing
Menunjukantanggungjawab sosial untuk peningkatan taraf hidup masyarakat melalui
pendidikanseni budaya kesehatan lingkungandan agama,olahraga dan sebagainya.

Tiga Jenis Unsur Penting Pemasaran RS


1. Internal marketing
Pemasaran jasatidak cukup hanya dengan pemasaran eksternal(4P) tetapi harus diikuti pula
dengan peningkatan kualitas atau keterampilan para personil yang ada dalam perusahaan.
Selain itu, juga harus ada kekompakan atau suatu tim yang tangguh dari personil yang ada
dalam perusahaan tersebut, khususnya dalam menghadapi para pelanggan sehingga
membawa kesan tersendiri yang meyakinkan pelanggan. Hubungan manajemen RS dengan
karyawan untuk memenuhi janji antara produsen dan pelanggan.Bagian- bagian individu
yang ada dalam organisasi. Pelanggan internal ini berpengaruh dalam proses produksi atau
pelayanan, mereka pun harus merasakan kepuasan dalam pelayanan.
2. Eksternal marketing
Strategipemasaran eksternal ini dikenal dengan 4P (product, price, promotion,
place)hubungan antara pusat pelayanan kesehatan dengan pelanggan dalam rangka
penempatan janji atas jasa yang akan ditawarkan kepada pelanggan. Adanya promosi pusat
pelayanan kesehatan (RS dan puskesmas) via online atau offline, program pencitraan RS
(positioning atau branding – membuat nama produk dikenal oleh konsumen).
3. Interaktif marketing
kepuasan konsumentidak hanya terletak pada mutu jasa, misalnya restorannya yang megah
dan makanannya yang bergizi, tetapi juga harus dipadukan dengan melakukan service
quality improvementsupaya peningkatan pelayanan benar-benar meyakinkan.hubungan
antara karyawan dengan pelanggan sebagai pelaksana kegiatan atau pemberi pelayanan
untuk mewujudkan janji yang diberikan ke pelanggan.
• Perfomance about appearance: menunjukkan aspek proffesionalnya, komunikasi
dalam memberikan pelayanan.
• Product knowledge
• Perilaku karyawan
• Kompetensi teknis karyawan (medis dan non medis)

DAFTAR PUSTAKA

Anisha. (2016). Marketing Intelligence, Turbo Marketing dan Mega Marketing.


Bendremer, Ellen. 2003. Top Telemarketing Techniques. New Jersey: The Career Press.
Didin Fatihudin dan Anang Firmansyah. 2019. Pemasaran Jasa (Strategi, Mengukur Kepuasan
Dan Loyalitas Pelanggan).Penerbit Deepublish (Grup Penerbitan Cv Budi Utama)
Julie, C. 2007. Advantages and Disadvantages of Viral Marketing
Kotler, Philip andGary Armstrong. 2012. Principles of Marketing. 14th . New Jersey: Pearson
Education
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran. Alih Bahasa: Bob Sabran.
Jilid I. Edisi ke 13. Jakarta: Erlangga.
Mahendrayasa, Andhanu Catur, Srikandi Kumadji dan Yusri Abdillah. 2014. Pengaruh Word of
Mouth Terhadap Minat Beli serta Dampaknya Pada Keputusan Pembelian. Jurnal
Administrasi Bisnis, Vol. 12 No. 1, pp 1
SB. Handayani dan Ida Martini. 2014. Model Pemasarandiera New Wave Marketing. Jurnal
Ekonomi Manajemen dan Akuntansi
MARKETING MIX DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Marketik mix merupakan suatu istilah yang menggambarkan seluruh unsur pemasaran dan
faktor produksi yang dikerahkan untuk mencapai tujuan perusahaan, misalnya pencapaian profit,
pengembalian modal, peningkatan target penjualan dan sebagainya. Jadi perusahaan dapat
mengembangkan strategi dari semua unsur pemasaran tersebut atau mengkombinasikan variabel-
variabel tersebut ke dalam suatu rencana strategi yang menyeluruh. Kombinasi tersebut tidak
bersifat konstan, melainkan berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi di pasar
Stanton (1996).

Tujuan Marketing Mix


1. Direct marketing adalah suatu bentuk sistem pemasaran interaktif yang dapat
menggunakan satu atau lebih media iklan untuk menghasilkan tanggapan atau transaksi
yang dapat diukur pada suatu lokasi.
2. Periklanan merupakan salah satu bentuk kegiatan penting dalam melakukannya marketing
mix. Tujuan utama dari periklanan ini adalah untuk dapat memberikan informasi tentang
produk (barang/ jasa) kepada target konsumen agar mampu meningkatkan penjualan
3. Promosi Penjualan (Sales Promotion) Kumpulan berbagai alat intensif yang dirancang
untuk mendorong pembelian suatu barang/ jasa.

Menurut Alma (2000:80) hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan


marketing mix adalah sebagai berikut:
1. Marketing mix harus seimbang. Seimbang disini adalah dalam keadaan keseimbangan
yang sebaik mungkin, misalnya diadakan advertensi secara besar-besaran tanpa usaha
memperbaiki kualitas produksinya, maka hasilnya yang dicapai akan kurang memuaskan.
2. Marketing mix tidak boleh statis. Jadi haras dinamis. Misalnya pesaing mulai meniru
strategi marketing mix yang dilaksanakan, maka harus cepat mengatur siasat baru lagi.
Oleh karena itu kreatifitas manajer pemasaran dituntut dalam hal ini.
3. Marketing mix tidak boleh meniru. Dalam melaksanakan marketing mix belum tentu tepat
bila suatu perusahaan meniru begitu saja marketing mix perusahaan lain. Sebab situasi dan
kondisi perasahaan tidak sama, jika dipaksakan untuk meniru maka akan merugikan
perasahaan.
4. Marketing mix harus bertujuan jangka panjang. Dalam melaksanakan marketing mix
sebaiknya diusahakan mencapai tujuan jangka panjang. Hal ini tidak berarti tujuan jangka
pendek diabaikan. Sebab tujuan jangka pendek ada pula yang dipakai untuk mencapai
tujuan jangka panjang. Dengan mengarah pada tujuan jangka panjang dalam menetapkan
marketing mix maka kestabilan perusahaan akan lebih baik.
5. Marketing mix harus didasarkan pada pengalaman. Menetapkan marketing mix
berdasarkan pengalaman-pengalaman lalu pada umumnya akan lebih berhasil
Marketing Mix dalam penelitian ini menggunakan 7 P sebagaimana disarankan Payne
(2000); Prawita (1996) dan Kottler (1997). 7 P tersebut antara lain adalah :
6. Produk
Merupakan sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk dimiliki, digunakan atau dikonsumsi
sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan. Produk disini mencakup obyek fisik
jasa, orang, tempat, organisasi dan gagasan. Menurut Ulus (2013), menyatakan bahwa
produk adalah semua yang diperkenalkan produsen ke konsumen supaya diperhatikan,
dicari, dibeli, digunakan dan dikonsumsi oleh pasar atau konsumen guna pemenuhan
kebutuhan atau keinginan yang bersangkutan.
Produk jasa pelayanan kesehatan adalah objek pemasaran di fasilitas pelayanan kesehatan.
Terjualnya jasa pelayanan yang merupakan produk dari fasilitas pelayanan, akan
memberikan suatu penghasilan yang digunakan untuk membiayai operasional pelayanan
rumah sakit. Kualitas produk jasa pelayanan kesehatan dapat mempengaruhi minat
konsumen, sehingga berpengaruh dalam pemasaran. Rumah sakit yang memiliki produk
jasa pelayanan yang lengkap baisanya akan semakin banyak pasien yang memilih produk
layanan kesehatan di ruma hsakit tersebut.
7. Price
Merupakan nilai yang ditukarkan oleh konsumen atas suatu manfaat yang diperoleh dari
kegiatan konsumsi, penggunaan, atau kepemilikan suatu barang ataupun jasa. Jadi harga
disini tidak selalu berbentuk uang karena harga bisa berbentuk barang, tenaga, waktu, dan
keahlian. Menurut Palmer (2001), strategi harga harus terintegrasi dan konsisten dengan
strategi bauran pemasaran rumah sakit untuk mencapai tujuannya. Kotler dan Keller (2009)
dalam Syachroni (2012), menyatakan bahwa harga adalah elemen bauran pemasaran yang
dapat menentukan profitabilitas dan juga sebagai sinyal untuk mengkomunikasikan
proporsi nilai suatu produk. Hal yang diperhatikan dalam penetapan tarif layanan rumah
sakit adalah biaya operasional, keuntungan, saingan dan perubahan keinginan pasar.
Irmawati (2015), penentuan tarif dari jasa pelayanan rumah sakit perlu memperhatikan
pangsa pasar sasaran, adanya pesaing, situasi pasar, biaya operasional yang efisien dan
efektif agar nilai yang dirasakan dari mamfaat produk jasa pelayanan seimbang atau
memuaskanbagi pasien. Perlu juga diperhatikan tentan gdaftar harga, cara pembayaran,
sistem dan prosedur pembayaran dan lain sebagainya yang akan memberikan kemudahan
untuk konsumen. Tarif jasa pelayanan rumah sakit sebaiknya tidak melebihi harga pasaran,
karena mengakibatkan konsumen enggan menggunakan produk kita. Tarif yang rendah
belum tentu merupakan strategi yang baik, karena bisa menimbulkan kerugian bagi rumah
sakit. Perlu dilakukan pengamatan harga terlebih dahulu sebelum produk masuk pasar.
Semakin murah tarif rumah sakit, maka kecenderungan pasien untuk memilih rumah sakit
tersebut akan semakin meningkat
8. Promotion
Merupakan segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan,
membujuk atau mengingatkan orang-orang tentang produk yang dihasilkan suatu
organisasi, individu ataupun rumah tangga. Swastha dan Irawan (1990) menyatakan bahwa
promosi merupakan arus informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan
seseorang atau organisasi kepada suatu tindakan yang menciptakan pertukaran dalam
pemasaran. Jadi promosi adalah proses komunikasi untuk menciptakan pertukaran.
kegiatan menyampaikan informasi kepada konsumen tentang produk jasa pelayanan rumah
sakit dan mendorong konsumen untuk menggunkan produk jasa pelayanan rumah sakit.
Eavani, F. et al., (2012), promosi adalah unsur penting dalam bauran pemasaran (marketing
mix) karena berpedoman pada proses memberi informasi, membujuk dan mempengaruhi
konsumen untuk membuat pilihan produk yang akan dibeli.
Assauri (2014), promosi merupakan suatu usaha perusahaan untuk mempengaruhi dan
merayu (persuasive communication) calon pembeli, melalui pemakaian segala unsur acuan
pemasaran. Untuk itu perusahaan harus memiliki strategi promosi yang tepat untuk dapat
bersaing. Dapat disimpulkan bahwa strategi promosi ialah kegiatan yang direncanakan
dengan maksud membujuk, merangsang serta mengingatkan konsumen tentang produk
atau jasa yang dijual agar mau membeli produk perusahaan sehingga tujuan untuk
meningkatkan penjualan diharapkan dapat tercapai. Kegiatan promosi di rumah sakit
merupakan bentuk kegiatan komunikasi pemasaran yang berusaha untuk menyebarkan
informasi, mempengaruhi, mengingatkan pasar sasaran agar bersedia menerima, serta
membeli produk yang ditawrkan. Semakin banyak promosi tentang fasilitas rumah sakit,
maka masyarakat cenderung memilih rumah sakit tersebut.
9. Place
Berhubungan dengan proses penyampaian produk kepada konsumen. Suatu produk tidak
akan mempunyai arti apa-apa bagi konsumen apabila tidak disampaikan atau tidak tersedia
pada saat dan tempat yang sesuai. Jadi dalam konsep ini suatu produk harus mempunyai
saluran distribusi yang baik agar mudah diperoleh konsumen. Lokasi merupakan posisi
tempat penawaran jasa, sehingga berada pada tempat dan waktu yang sesuai dengan
kebutuhan konsumen. Semakin dekat lokasi suatu rumah sakit, semakin banyak pasien
yang datang. Letak rumah sakit dan jarak jangkauan yang harus ditempuh, sehingga
berdampak pada perhitungan waktu tempuh untuk mencapainya. Lokasi lebih menekankan
pada tempat layanan perawatan pasien yang membutuhkan pertolongan dalam rangka
penyembuhan penyakit (Kafa, 2013).
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menetapkan lokasi yang strategis
1. Pasien mendatangi pemberi jasa, maka kita harus memperhatikan lokasi fasyankes.
Harus yang strategis dan mudah dijangkau.
2. Faktor pemberi jasa yang mendatangi pasien: lokasi tidak begitu penting tapi
bagaimana komunikasi pemberi jasa harus berkualitas
3. Pemberi jasa dan pasien tidak bertemu langsung: kemampuan peningkatan sarana
prasarana komunikasi
10. Process (Proses)
Menurut Putra dan Sulistyawati (2013), bahwa proses melibatkan seluruh kegiatan yang
dibutuhkan untuk menghasilkan produk jasa pelayanan kesehatan yang terbaik
bagikonsumen. Proses pelayanan yang dipahami oleh pelanggan dan sesuai dengan yang
didinginkan akan menentukan bagaimana kepuasan pelanggannya. Proses difokuskan pada
proses manajemen pelayanan kesehatan. Keputusan yang diambil dalam proses manajemen
akan menentukan keberhasilan marketing. Proses harus diperhatikan agar tiap-tiap bagian
dapat bekerja sesuai dengan SOP. Dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
konsumen sesuai dengan SOP akan mempengaruhi hasil dari pemasaran. Jika SOP yang
dilalui oleh konsumen dalam bertransaksi cukup sederhana dan tidak merugikan, maka
konsumen akan merasa puas serta loyal (Lovelock dan Lauren, 2007).
Ala Eddin, et all (2013), strategi proses pemberian pelayanan medis adalah aktvitas yan
gsangat sensitif dan kritis yang menjadi perhatian utam bagi rumah sakit, seperti ketepatan
waktu untuk memberikan pelayanan. Kepuasan pelayanan yang diberikan kepada
pelanggan atau pasien oleh rumah sakit adalah merupakan perwujudan dari tanggung jawab
sosial dan menyikapai persaingan yang ketat antar rumah sakit dalam memberikan
pelayanan kesehatan.
11. People (Sumber Daya Manusia)
Petugas yang memberikan pelayanan kesehatan adalah elemen yang sangat penting dari
bauran pemasaran jasa pelayanan kesehatan rumah sakit. Petugas yang memberikan
pelayanan kesehatan adalah petugas yang mempunyai kinerja yang baik, bermutu,
profesional dan mempunyai komitmen yang tinggi. Guna mewujudkan petugas yang
profesional dan bermutu haruslah dimulai dari penerimaan karyawan, pendidikan dan
pelatihan terhadap yang berhubungan langsung dengan konsumen, budaya perusahaan
serta yang berhubungan langsung dengan aktivitas pemasaran (Irmawati,2015). People
(Partisipan) Partisipan adalah pegawai dan staf penyedia jasa pelayanan atau semua
komponen yang turut menentukan dan terlibat dalam proses pelayanan secara tidak
langsung maupun langsung diantaranya adalah para tenaga administrasi, dokter, perawat
dan bidan, tenaga kebersihan, satpam dan sopir ambulans.
12. Physical Facility (Fasilitas Fisik)
Fasilitas pelayanan untuk konsumen sangat perlu diperhatikan, karena kualitas pelayanan
seringkali dilihat pelanggan pada bukti fisik atau fasilitas pelayanan yang diberikan.
Lingkungan fasilitas pelayanan membantu membentuk perasaan pelanggan dengan petugas
pelayanan. Semakin baik fasilitas pelayanan yang disediakan, maka semakin meningkat
pula tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh konsumen. Fasilitas pelayanan memiliki
pengaruh positif terhadap kepuasan dan loayalitas konsumen (Foster, 2010).
Bauran lingkungan fisik didefinisikan sebagai suatu keadaan atau kondisi termasuk
didalamnya suasana tempat pelayanan kesehatan sebagai tempat terjadinya proses jasa
layanan. Dalam kenyataannya bauran lingkungan fisik paling mudah dilihat dan dinilai
oleh konsumen karena itu tentunya paling dahulu dinilai oleh konsumen. Yang termasuk
dinilai adalah kondisi ruangan, kebersihan, kenyamanan, ketenangan, pencahayaan,
ventilasi udara, tata letak, pengaturan ruangan, dekorasi dan areal parkir yang luas serta
aman. Semua ini akan dinilai konsumen mulai dari ruang tunggu sampai ruang perawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ala'Eddin, et all. 2013. The Impact of Marketing Mix Strategy on Hospitals Performance
Measured by Patient Satisfaction: An Empirical Investigation on Jeddah Private Sector
Hospital Senior Managers Perspective. International Journal of Marketing Studies; Vol. 5,
No. 6; 2013. Published by Canadian Center of Science and Education
Alma, Bukhari. 2000. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Jakarta: Alfabeta.
Assauri, Sofjan. 2014. Manajemen Pemasaran Dasar, Konsep, dan Strategi. Cetakan Ketiga Belas.
PT RajaGravindo Persada. Jakarta. Lovelock, Chistopher
Foster, 2010. Pengaruh Kinerja Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Loyalitas Penabung, Survei di
Bank Central Asia Cabang Soekarno Hatta Bandung. E-Journal, 2010. Vol. 18 (1).
Irmawati, L.I. 2015. Manajemen Pemasaran di Rumah Sakit, Buku Ajar : Pedoman Praktis SI.
Jakarta : Institut Ilmu Kesehatan – university Press.
Kafa, R. 2013. Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Keputusan Pasien Dalam Memilih Jasa
Rumah Sakit. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam. Vol.8 (1).
Kotler, P., & Armstrong, G. 2011. Principles of Marketing. Pearson. Kotler, P. 2007. Manajemen
Pemasaran . Edisi ke-12. Jakrta : PT. Indeks
Kottler Philip. 1997. Manajemen Pemasaran; Analisis Perencanaan Implementasi dan Kontrol.
Palmer, A. 2001. Principles of Services Marketing (3rd ed.). UK: McGraw-Hill Publishing
Company.
Prentice Hall Primalita, Ratni. 1999. Faktor-Faktor yang Dipertimbangkan Konsumen Dalam
Keputusan Memilih RSU di Kotamadya Padang. Thesis Pascasarjana Universitas
Brawijaya. Malang.
Prentice Hall. Payne, Andrian. 2000. The Essense of Service Marketing.
Stanton, WJ. 1996. Fundamental of Marketing. Kogakusha: Me Grawhill.
Syachroni, A. 2012. Pengaruh Biaya Bauran Promosi Terhadap Volume Penjualan Rumah
Metland Tambun Pada PT. Metropolitan Land Terbuka. Universitas Gunadarma, Jakarta.
Ulus, AA. 2013. Bauran Pemasaran Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Mobil Daihatsu
Pada PT. Astra Internasional Manado. Jurnal MBA. Vol. 1 No. 4.