Anda di halaman 1dari 66

LAPORAN DISKUSI

MANAJEMEN PEMASARAN DALAM PELAYANAN


KESEHATAN

Oleh :
Kelompok 1C
Maurany Annisa Haque (191611101008)
Magdaleni Hasna Nursetya (191611101040)
Muhammad Idris Kamali (191611101041)
Husna Afifah (191611101042)
Shela Annisa’ Agustina (191611101086)
Layla Besty Liestia (191611101088)
Irene Fransiska (191611101089)
Moch. Bahrul Ulum (191611101090)

Dosen Pembimbing :
drg. Surartono Dwiatmoko, M.M

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2020
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................... i
DAFTAR ISI ....................................................................................... ii
Produk dan Pasar/Market ..................................................................... 1
Teori Harga dalam Pelayanan Kesehatan ............................................ 7
Teori Permintaan dalam Pelayanan Kesehatan .................................... 11
Need, Demand, Want, dan Supply dalam Pelayanan Kesehatan ......... 15
Segmentasi Pasar (Segmenting) dalam Pelayanan Kesehatan ............. 21
Targeting dalam Pelayanan Kesehatan ................................................ 23
Pemasaran/Marketing dan Pemasaran Kesehatan ................................ 26
Market Share ........................................................................................ 33
Jenis – jenis Marketing dalam Pelayanan Kesehatan ........................... 37
Marketing Mix dalam Pelayanan Kesehatan........................................ 38
Konten dan Pengelolaan Media Sosial, Penggunaan Aplikasi TI, dan
Telemedicine dalam Pelayanan Kesehatan .......................................... 46
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 60

ii
PRODUK DAN PASAR/MARKET

A. Pengertian produk
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan, dimiliki, dipergunakan atau
dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan konsumen, termasuk di
dalamnya fisik, jasa, orang, tempat organisasi dan gagasan (Philip, 1997).

B. Lima tingkatan produk


1. Produk utama atau inti (core benefit), yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan
akan dikonsumsi pelanggan setiap produk.
2. Produk generic, produk dasar yang memenuhi fungsi produk paling dasar/rancangan
produk minimal dapat berfungsi.
3. Produk harapan (expected product) yaitu produk formal yang ditawarkan dengan
berbagai atribut dan kondisinya secara normal diharapkan dan disepakati untuk dibeli.
4. Produk pelengkap (augmented product) yaitu berbagai atribut produk yang
dilengkapi/ditambahi berbagai manfaat dan layanan sehingga dapat menentukan
tambahan kepuasan dan dapat dibedakan dengan produk asing.
5. Produk potensial yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin
dikembangkan untuk suatu produk di masa yang akan datang.

C. Klasifikasi produk
Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama,
yaitu
1. Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau
disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
2. Jasa merupakan aktivitas, manfaat dan kepuasan yang ditawarkan untuk dijual
(dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel
dan sebagainya.
Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1. Barang Tidak Tahan Lama: yaitu semua barang yang memiliki wujud yang dapat
habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian.

1
2. Barang Tahan Lama: yaitu semua barang yang memiliki wujud yang dapat
bertahan lama meskipun digunakan berulang kali.
Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu:
1. Barang Konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen
akhir (individu atau rumah tangga), dan bukan untuk kepentingan bisnis.
2. Barang industri adalah barang yang di konsumsi oleh industriawan (konsumen
antara atau konsumen bisnis). Barang industri digunakan untuk keperluan selain
di konsumsi langsung yaitu: untuk diolah menjadi barang lain atau untuk dijual
kembali.
Jenis barang konsumen dibedakan menjadi empat jenis :
a. Convenience Goods: merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi
pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera dan
memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembelianya.
b. Shopping Goods: adalah barang yang proses pemilihan dan pembelianya,
dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria
pembanding meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing. Contohnya: alat
rumah tangga, pakaian, dan kosmetik.
c. Speciality Goods: adalah barang yang memiliki karakteristik atau identifikasi
merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha
khusus untuk membelinya. Umumnya jenis barang ini terdiri atas barang-barang
mewah, dengan merek dan model yang spesifik, seperti mobil jaguar dan pakaian
desain terkenal.
d. Unsought Goods: adalah barang yang tidak diketahui oleh konsumen atau
kalaupun sudah diketahui oleh konsumen, konsumen belum tentu tertarik untuk
membelinya. Contohnya: batu nisan, ensiklopedi, dan tanah pekuburan.

D. Perbedaan Barang dan Jasa


Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau
disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya. Jasa
merupakan aktivitas, manfaat dan kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi
pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya.

2
E. Pasar
Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk bertransaksi barang
atau jasa atau tempat bertemunya permintaan dan penawaran sehingga dapat menetapkan
harga. Dengan adanya pasar masyarakat akan menjadi lebih mudah dalam berinteraksi.

F. Struktur Pasar
Struktur pasar adalah berbagai hal yang dapat memengaruhi tingkah laku dan
kinerja perusahaan, skala produksi dan jenis produksi. Dalam menyeimbangkan suatu
harga pasar memiliki berbagai cara, kelemahan, dan kelebihan masing-masing sesuai
struktur pasar.
Faktor-faktor yang membedakan bentuk pasar
a. Ciri-ciri barang yang dihasilkan
b. Banyaknya perusahaan dalam industri
c. Tingkat kesulitan perusahaan baru dalam memasuki industri
d. Besarnya kekuasaan perusahaan di dalam pasar
Bentuk-bentuk pasar
1. Pasar persaingan sempurna
2. Pasar monopoli
3. Pasar persaingan minopolistik
4. Pasar oligopoli

G. Pasar Persaingan Sempurna


Pasar Persaingan Sempurna yaitu pasar dimana dalam suatu industri terdapat
sangat banyak penjual maupun pembeli dan produk yang diperdagangkan bersifat
homogen sempurna.
Pasar pesaingan sempurna merupakan struktur pasar yang paling ideal, karena
dianggap sistem pasar ini adalah akan menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi
barang atau jasa yang tinggi (optimal) efisiensinya. Jadi pasar persaingan sempurna ini

3
adalah pasar yang di mana antara penjual dan pembeli tidak dapat mempengaruhi harga,
atau hanya sebagai price taker dan harga yang ada di pasar itu merupakan hasil
kesepakatan dan interaksi antara permintaan dan penawaran.
Ciri-ciri pasar persaingan sempurna
• Perusahaan hanya bertindak sebagai pengambil harga (price taker)
• Perusahaan mudah keluar masuk industri
• Produk yang dihasilkan semua perusahaan bersifat homogen
• Terdapat banyak perusahaan di pasar
• Pembeli memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai pasar
Setiap perusahaan hanya bertindak sebagai pengambil harga (price taker) bukan
penentu harga (price maker). Harga ditetapkan berdasarkan interaksi kekuatan penawaran
(supply) dan permintaan (demand) pasar.
Kelebihan persaingan sempurna
• Memaksimumkan efisiensi
• Kebebasan bertindak dan memilih
Kekurangan persaingan sempurna
• Tidak inovatif (sebab teknologi mudah dicontoh dengan mudah)
• Menimbulkan ongkos sosial (agar tercapai efisiensi biasanya mengabaikan
kepentingan sosial)
• Membatasi pilihan konsumen (sebab produk homogen)
• Biaya produksi mungkin saja lebih tinggi (tidak menikmati skala ekonomis)
• Tidak selalu memeratakan distribusi pendapatan

H. Monopoli
Monopoli adalah suatu bentuk pasar dimana dalam sebuah industri hanya terdapat
sebuah perusahaan dan produk yang dihasilkan tidak memiliki pengganti yang sempurna.
Jadi pasar monopoli adalah kebalikan dari pasar persaingan sempurna, di mana
perusahaan monopoli dapat mengendalikan harga secara utuh tanpa adanya persaingan
dengan perusahaan lainnya. Dalam pasar monopoli penjual disebut sebagai penentu harga
(price maker).

4
Adapun jenis pasar monopoli berdasarkan sebab terjadinya, yaitu:
• Monopoli karena adanya undang-undang
• Monopoli karena sumber ekonomi dikuasai oleh satu orang
• Monopoli karena skala produksi ekonomis (Economies of Scale).
Ciri-ciri pasar monopoli
• Dalam industri hanya terdapat sebuah perusahaan
• Produk yang dihasilkan tidak memiliki pengganti yang sempurna
• Perusahaan baru sulit memasuki industri
• Perusahaan memiliki kemampuan menentukan harga (price maker)
• Promosi iklan kurang diperlukan
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya monopoli
• Memiliki sumberdaya yang unik
• Perusahaan menikmati skala ekonomis
• Mendapatkan hak monopoli dari pemerintah: Hak paten, hak cipta dan Hak usaha
ekslusif

I. Persaingan Monopolistis
Persaingan Monopolistis adalah suatu pasar dimana terdapat banyak produsen yang
menghasilkan barang yang berbeda corak (Differentiated Product) dan pada dasarnya
adalah pasar yang berada diantara dua pasar yang ekstrem, yaitu persaingan sempurna
dan monopoli.
Ciri-ciri Persaingan Monopolistis
• Terdapat banyak penjual
• Sifat produk berbeda corak
• Perusahaan mempunyai sedikit kekuasaan dalam mempengaruhi harga
• Kemudahan dalam memasuki industri
• Persaingan promosi penjualan sangat aktif

J. Pasar oligopoli
Pasar oligopoli adalah pasar yang hanya terdiri dari beberapa produsen saja. Jika
hanya dua perusahaan disebut dengan duopoli.

5
Ciri-ciri Pasar Oligopoli
• Menghasilkan barang standar maupun barang yang berbeda coraknya
• Kemampuan menentukan harga ada kalanya kuat ada kalanya lemah
• Pada umumnya memerlukan promosi (iklan)
Barang yang dihasilkan :
• Barang standar, banyak dijumpai pada industri oligopoli yang menghasilkan
bahan mentah (misal aluminium) dan bahan baku (misal semen, bahan bangunan
• Barang berbeda corak (differentiated product), pada umumnya dijumpai pada
industri yang menghasilkan barang akhir (rokok, shampo)

6
TEORI HARGA PADA PELAYANAN KESEHATAN

1. Definisi Harga

Pengertian harga dan peran harga menurut Philip Kotler, harga adalah suatu unsur
bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, unsur-unsur lainnya menghasilkan
biaya. Harga adalah unsur bauran pemasaran yang paling mudah disesuaikan, ciri- ciri
produk, saluran, bahkan promosi membutuhkan lebih banyak waktu. Harga juga
mengomunikasikan posisi nilai yang dimaksudkan perusahaan tersebut kepada pasar
tentang produk dan mereknya (Kotler, 2005)
Menurut Kotler dan Amstrong, harga adalah sejumlah uang yang dibayarkan
untuk produk atau jasa atau jumlah dari seluruh nilai yang di tukarkan konsumen untuk
memiliki atau menggunakan manfaat dari suatu barang dan jasa. Harga yang dimaksud
disini adalah harga yang dihasilkan dari harga pokok dan margin yang disepakati kedua
belah pihak. Unsur-unsur bauran pemasaran yang dimaksud adalah harga, produk, saluran
dan promosi, yaitu apa yang dikenal dengan istilah 4p (Price, Product, Place dan
Promotion). Harga bagi suatu usaha atau badan usaha menghasilkan pendapatan (income)
(Kotler dan Amstrong, 2001).
Harga ialah sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa atau
sejumlah nilai yang konsumennya untuk mendapatkan manfaat dari atau memiliki atau
menggunakan jasa. Biasanya para pemasar menetapkan harga untuk kombinasi antara
(Tjiptono, 2004) :
a. Barang atau jasa spesifik yang menjadi objek transaksi.
b. Sejumlah layanan pelengkap (seperti pengiriman, instalasi, pelatihan, reparasi,
pemeliharaan, dan garansi).
c. Manfaat pemuasan kebutuhan yang diberikan oleh produk yang bersangkutan.

2. Strategi Penetapan Harga

Terdapat beberapa strategi yang digunakan dalam menetapkan harga (Kotler dan
Amstrong, 2005) :

7
a. Penetapan Harga Jual
Keputusan penetapan harga seperti halnya keputusan bauran pemasaran yang
lainnya, harus berorientasi pada pembeli yang efektif, mencakup memahami
seberapa besar nilai yang ditempatkan konsumen atas manfaat yang mereka
terima dari produk dan penetapan harga yang sesuai dengan nilai pembeli.
b. Elastisitas Harga
Seberapa responsif permintaan terhadap suatu perubahan harga jika permintaan
hampir berubah karena sedikit perubahan harga maka permintaan tersebut tidak
elastis atau inelastis. Jika permintaan berubah banyak, maka perubahan tersebut
elastis. Semakin tidak elastis suatu permintaan, semakin besar penjual menaikkan
harga.
c. Perbandingan Harga Pesaing
Faktor lain yang mempengaruhi keputusan harga perusahaan adalah harga pesaing
dan kemungkinan reaksi pesaing atau tindakan penetapan harga yang dilakukan
perusahaan. Seorang konsumen cenderung membeli suatu produk akan
mengevaluasi serta nilai dari perbandingan sejenis lainnya.

3. Keterjangkauan Harga

Keterjangkauan harga adalah harga sesungguhnya dari suatu produk yang tertulis
di suatu produk yang harus dibayarkan oleh pelanggan. Artinya pelanggan cenderung
melihat harga akhir dan memutuskan apakah akan menerima nilai yang baik seperti yang
diharapkan. Harapan pelanggan dalam melihat harga yaitu (Hermann et al, 2007):
a. Harga yang ditawarkan mampu dijangkau oleh pelanggan secara financial.
b. Penentuan harga harus sesuai dengan kualitas produk sehingga pelanggan dapat
mempertimbangkan dalam melakukan pembelian
c. Diskon / Potongan Harga
Diskon merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli
sebagai penghargaan atas aktifitas yang tertentu dari pembeli yang
menyenangkan bagi penjual.
d. Cara Pembayaran

8
Cara pembayaran sebagai prosedur dan mekanisme pembayaran suatu produk /
jasa sesuai ketentuan yang ada. Kemudahan dalam melakukan pembayaran dapat
dijadikan sebagai salah satu pertimbangan bagi nasabah dalam melakukan
keputusan pembelian.

4. Peran harga
Harga berperan penting secara makro (bagi perekonomian secara umum) dan
secara mikro (bagi konsumen dan perusahaan), adapun peran harga adalah (Tjiptono,
2004) :
a. Bagi Perekonomian, harga produk mempengaruhi upah, sewa, bunga, dan laba.
Harga merupakan regulator dasar dalam sistem perekonomian, karena harga
berpengaruh terhadap alokasi faktor-faktor produksi, seperti tenaga kerja, tanah,
modal, waktu dan kewirausahaan (entrepreneurship).
b. Bagi Konsumen, dalam penjualan ritel, ada segmen pembeli yang sangat sensitif
terhadap faktor harga (menjadikan harga sebagai satu-satunya pertimbangan
membeli produk) dan ada pula yang tidak. Mayoritas konsumen sensitif terhadap
harga, namun juga mempertimbangkan faktor lain (seperti citra merek, lokasi
toko, layanan, nilai, fitur produk, dan kualitas).
c. Bagi Perusahaan, dibandingkan dengan bauran pemasaran lainnya (produk,
distibusi dan promosi) yang membutuhkan pengeluaran dana dalam jumlah besar,
harga merupakan satu-satunya elemen bauran pemasaran yang mendatangkan
pendapatan. Harga produk adalah determinan utama bagi permintaan pasar atas
produk bersangkutan. Harga mempengaruhi posisi bersaing dan pangsa pasar bagi
perusahaan.

5. Indikator Harga
Indikator Harga (Goenadhi, 2011) :
a. Harga terjangkau daya beli konsumen, dimana konsumen membeli suatu produk
yang memiliki harganya terjangkau sehingga mudah dicapai atau dibeli.
b. Harga bersaing dengan merek lain, yaitu konsumen biasanya membedabedakan
harga produk yang mau dibeli.

9
c. Pemberian diskon atau potongan harga, pihak manajemen perusahaan atau
produsen memberikan potongan terhadap konsumen pada pemebelian produk
yang di inginkan.

6. Pada saat membuka layanan kesehatan, membuat unit cost

10
TEORI PERMINTAAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN

1. Teori Permintaan
Permintaan adalah keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai
tingkat harga selama periode waktu tertentu. Definisi permintaan agar lebih akurat
dapat dimasukkan dimensi geografis, misalnya ketika berbicara tentang permintaan
akan pakaian di Jakarta, maka akan berbicarakan tentang berapa jumlah pakaian yang
akan dibeli pada berbagai tingkat harga dalam satu periode waktu tertentu, perbulan atau
pertahun, di Jakarta. Beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan adalah harga
barang itu sendiri, harga barang lain, pendapatan konsumen, selera atau preferensi
konsumen, jumlah penduduk, perkiraan di masa yang akan datang, distribusi
pendapatan, dan usaha-usaha produsen yang meningkatkan penjualan (Raharja dan
Manurung, 2002).
Sementara menurut Suryawati dalam bukunya Teori Ekonomi Mikro, permintaan
didefinisikan sebagai banyaknya suatu komoditi yang ingin dibeli dan dapat dibeli oleh
konsumen pada berbagai tingkat harga pada suatu saat tertentu (Suryawati, 2003).

Teori Demand for Health


Teori Demand for Health dari Grossman berakar dari teori Human Capital modern
yang dicetuskan oleh Garry Bekker. Teori tersebut menyatakan bahwa produktifitas
manusia ditentukan oleh human capital sebagai stock of knowledge dan stock of skill.
Dari teori tersebut, kemudian Grosmmen mengembangkan teori Health Capital yang
menurut Grossman merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari faktor kesehatan.
Dari teori, Grossman menggambarkan demand for health (permintaan kesehatan) dan
demand for medical care (permintaan pelayanan kesehatan) dengan pendekatan human
capital (Mullner, 2009).
Grossman menyatakan bahwa yang diinginkan masyarakat adalah kesehatan,
bukan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan derivat demand
(kebutuhan turunan) yang berfungsi sebagai input untuk menghasilkan kesehatan.
Masyarakat memenuhi kebutuhan kesehatan secara aktif, menghasilkannya,
menggunakan waktu untuk usaha-usaha peningkatan kesehatan, sekaligus menggunakan

11
pelayanan kesehatan. Dengan demikian, kesehatan dapat dianggap sebagai bahan
konsumsi sekaligus investasi. Kesehatan merupakan bahan investasi karena bersifat
tahan lama serta tidak terdepresiasi dengan segera (Grossman, 1972) & (Grossman,
2000).
Grossman menyatakan bahwa konsumen sesungguhnya mempunyai cukup
informasi yang memungkinannya melakukan pilihan kondisi kesehatannya secara
rasional, baik pada masa sekarang maupun di masa mendatang. Permintaan terhadap
pelayanan kesehatan akan diturunkan dari persepsi seseorang terhadap level optimal
kesehatannya. Akibatnya, permintaan pelayanan kesehatan muncul karena orang
tersebut ingin menjembatani kesenjangan antara status kesehatan saat ini dengan status
kesehatan yang diinginkannya. Dengan adanya keinginan tersebut maka seseorang
terdorong untuk mencari pelayanan kesehatan (Grossman, 1972). Setiap orang akan
memaksimalkan manfaat yang diperolehnya dari jasa pelayanan kesehatan dan
konsumsi barang lainnya pada setiap tahun kehidupannya. Optimalisasi ini akan
menyebabkan terjadinya kesamaan antara the marginal return on the asset dengan
marginal cost. Keuntungan yang diperoleh individu terdiri atas marginal physical return
dan marginal monetary return. Monetary return ditentukan oleh tiga komponen, yaitu :
upah harian, produk marjinal kesehatan yang dihitung dalam jumlah hari sehat yang
dihasilkan oleh satu unit stok kesehatan dan biaya marjinal dari gross investment di
bidang kesehatan yang dibeli pada periode sebelumnya termasuk biaya waktu dan uang.
Grossman mendukung asumsi ekonomi makro, bahwa produk marjinal kesehatan akan
menurun secara asimtomatis menuju nol sejalan dengan peningkatan kesehatan. Hal ini
ditunjukkan oleh Grossman pada return kesehatan yang diukur dengan hari sehat
(healthy days) dengan batas 365 hari pertahunnya (Grossman, 1972).
Di sisi lain, kesehatan juga akan mengalami depresiasi seiring belanjutnya usia,
sehingga mengalami penyusutan setiap tahunnya. Oleh karena itu kebutuhan individu
terhadap kesehatan maupun pelayanan kesehatan juga berbeda-beda. Dalam penelitian
yang dilakukan oleh Grossman, dijelaskan bahwa kesehatan memiliki hubungan
terhadap age (usia), wage (upah), dan education (pendidikan). Penelitian ini menelusuri
adanya pergerakan yang meningkat pada kurva supply dalam upaya meningkatkan rate
of depreciation stock of health (tingkat penyusutan stok kesehatan) terhadap age (usia).

12
Hasil ini menjelaskan bahwa rate of depreciation dan pengeluaran untuk pelayanan
kesehatan akan meningkat bersamaan dengan usia, serta adanya pergerakan yang
meningkat pada kurva demand dalam upaya meningkatkan rate wage (tingkat upah) dan
education (pendidikan) atau permintaan terhadap kesehatan dan pelayanan kesehatan
memiliki hubungan positif dengan wage rate, serta pendidikan akan meningkatkan
permintaan terhadap kesehatan (Galama & Kapteyn, 2011).
Ketersediaan kesehatan yang optimal kemudian dapat dilakukan uji untuk
mengetahui pengaruh usia dan income terhadapnya. Hal ini dengan memperhatikan
aspek usia dan mengasumsikan bahwa tingkat upah, marginal product dari ketersediaan
kesehatan dan biaya marginal dari gross investment adalah independen terhadap usia.
Pengaruh yang diasumsikan dari peningkatan usia adalah dengan meningkatnya tingkat
depresiasi kesehatan. Ini tidak berarti bahwa orang yang lebih tua akan menjadi kurang
sehat dibandingkan yang muda usia, tetapi untuk orang tertentu tingkat depresiasi
kesehatannya pertahun akan menjadi lebih besar ketika usianya lebih tua (Grossman,
1972).
Peningkatan depresiasi menyebabkan seseorang memilih status kesehatan yang
lebih rendah demi meningkatkan produk marginal kesehatan, juga menyamakan hasil
marginal dengan biaya yang lebih tinggi. model Grossman mengatakan bahwa ketika
dihadapkan pada depresiasi kesehatan yang diketahui sudah cenderung naik, seseorang
akan memilih status kesehatan yang lebih rendah pada setiap tahun berurutan (successive
year). Hal itu akan mendorong orang tersebut terpaksa harus memilih usia hidupnya
sendiri, mengingat status kesehatannya yang optimal pada akhirnya akan turun hingga
dibawah life-supporting minimal yang diperlukan. Pengaruh tingkat upah kepada status
kesehatan dan demand pelayanan kesehatan akan terdiri dari dua unsur, yaitu a) produk
marginal kesehatan yang dihitung dari healthy days. Perhitungan ini akan memiliki arti
jika dinilai pada tingkat upah yang lebih tinggi; dan b) waktu yang dimiliki yang juga
merupakan input bagi pelayanan kesehatan. Jika tingkat upah naik maka biaya pelayanan
akan naik. Penekanan public policy adalah perlunya penyediaan informasi kesehatan
yang memadai bagi masyarakat serta informasi dari penyedia pelayanan kesehatan
tentang pengaruh setiap pelayanan (Grossman, 1972).
Hubungan antara teori permintaan dengan pelayanan kesehatan di negara-negara

13
berkembang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) pendapatan, dimana ada korelasi
antara pendapatan dengan besarnya permintaan akan pemeliharaan kesehatan, terutama
dalam hal pelayanan kesehatan modern. (2) harga, dimana berperan dalam menentukan
permintaan terhadap pemeliharaan kesehatan. (3) pencapaian sarana pelayanan
kesehatan secara fisik akan menurunkan permintaan. (4) kemanjuran dan kualitas
pelayanan kesehatan yang diberikan. Nilai guna pelayanan kesehatan dapat dilihat dari
kualitas pelayanan (mutu layanan) kesehatan yang akan berdampak pada kepuasan
pelanggan (Haning dkk, 2018).

14
NEED, DEMAND, WANT DAN SUPLY DALAM PELAYANAN
KESEHATAN

Kualitas pelayanan kesehatan bersifat multi dimensi. Ditinjau dari pemakai jasa
pelayanan kesehatan (health consumer) maka pengertian kualitas pelayanan lebih terkait
pada ketanggapan petugas memenuhi kebutuhan pasien, kelancaran komunikasi antara
petugas dengan pasien, keprihatinan serta keramahtamahan petugas dalam melayani
pasien, kerendahan hati dan kesungguhan (Supriyanto & Wulandari, 2003)
Kebutuhan (needs) adalah keinginan manusia atas barang dan jasa yang perlu
dipenuhi untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Needs menggambarkan kebutuhan
dasar manusia seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan
lainnya. Menurut (Shaikh & Hatcher, 2005) kebutuhan antara manusia bisa saja tidak
sama tergantung faktor yang memengaruhinya. Permintaan (demand) adalah keinginan
terhadap produk spesifik yang didukung oleh kemampuan dan kesediaan untuk membeli.
Permintaan kesehatan sangat berpengaruh pada pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah suatu perilaku atau tindakan yang dimiliki oleh
individu dalam mencari pelayanan kesehatan (Andersen et al., 1997).
Pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan hal penting dalam masyarakat yang
bertujuan untuk membantu dalam menentukan status kesehatan. Terpenuhinya kebutuhan
konsumen dan sesuai dengan harapan maka akan berpengaruh pada kepuasan pelanggan.
Kepuasan konsumen adalah keseluruhan sikap yang ditunjukkan oleh konsumen atas
perbandingan barang dan jasa yang telah mereka gunakan (Mowen & Minor, 2002).
Menurut (Grossman, 1972) konsumen memiliki 2 alasan
dalam hal permintaan terhadap kesehatan yaitu: (a) kesehatan sebagai komoditas
konsumsi, dimana dengan kesehatan itu sendiri konsumen merasa lebih baik dan dapat
melakukan aktivitas fisik dengan leluasa tanpa ada gangguan dari kesehatan mereka
sendiri. (b) kesehatan sebagai sebuah investasi, dimana kondisi kesehatan akan
menentukan jumlah waktu yang tersedia untuk seseorang yang dapat ia gunakan untuk
bekerja dan melakukan aktivitas lainnya. Sebaliknya, sakit dapat menyebabkan seseorang
kehilangan penghasilannya akibat tidak dapat bekerja selama ia sakit. Grossman

15
menguraikan bahwa demand untuk kesehatan memiliki beberapa hal yang membedakan
dengan pendekatan tradisional demand dalam sektor lain:
1. Yang diinginkan masyarakat atau konsumen adalah kesehatan, bukan pelayanan
kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan derived demand sebagai input untuk
menghasilkan kesehatan. Dengan demikian, demand untuk pelayanan rumah sakit
umumnya berbeda dengan demand untuk pelayanan hotel.
2. Masyarakat tidak membeli kesehatan dari pasar secara pasif. Masyarakat
menghasilkannya, menggunakan waktu untuk usaha-usaha peningkatan kesehatan, di
samping menggunakan pelayanan kesehatan.
3. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan investasi karena tahan lama dan tidak
terdepresiasi dengan segera.
4. Kesehatan dapat dianggap sebagai bahan konsumsi sekaligus sebagai bahan investasi.
Awal pembahasan mengenai demand terhadap kesehatan dapat dilakukan melalui
pengertian tentang keinginan (wants), permintaan (demand), dan kebutuhan (needs).
Pengertian ini dibutuhkan meng-ingat demand dalam pelayanan kesehatan merupakan
suatu hal yang agak berbeda dibandingkan dengan demand untuk komoditi atau
pelayanan lain. Berdasarkan model Grossman, keinginan seseorang bekerja
menghasilkan pendapatan membutuhkan modal, antara lain kesehatan. Dalam istilah
sosial disebut dengan keinginan untuk sehat. Dengan konsep keinginan ini seseorang
dapat menilai dirinya sendiri. Kasus di bawah ini dapat dipergunakan untuk menerangkan
demand for health dan demand for health care.
Dra. Sartika, wanita berumur 45 tahun merasa sakit di bawah perut. Sebagai
seorang sekretaris direktur perusahaan, dia merasakan bahwa sakit perutnya mengganggu
pekerjaannya sehari-hari. Dia mempunyai keinginan (wants) untuk sehat, bebas dari rasa
sakitnya. Pada titik ini, konsep human capital dari Grossman (1972) sangat relevan.
Tanpa mempunyai kesehatan yang baik, Dra. Sartika tidak dapat bekerja dengan baik.
Untuk mencoba mengatasi sakit yang dirasakannya, Dra. Sartika minum obat
pengurang sakit perut yang dijual bebas. Informasi mengenai obat tersebut di perolehnya
dari iklan sebuah acara televisi swasta. Akan tetapi setelah dua hari minum obat, ternyata
rasa sakit perut belum berkurang. Sesuai anjuran iklan televisi, Dra. Sartika kemudian
mendatangi dokter perusahaannya untuk berkonsultasi. Dengan demikian, dari

16
keinginannya menjadi sehat (dalam model Grossman disebut sebagai demand untuk kese-
hatan), Dra. Sartika telah merubah demand akan kesehatan menjadi demand (permintaan)
akan pelayanan tenaga medis, khususnya dokter umum. Pada keadaan ini sudah terjadi
demand for health care. Oleh dokter perusahaan kemudian ia diberi obat, tetapi ternyata
rasa sakitnya tidak berkurang. Selanjutnya, dokter perusahaan merujuk Dra. Sartika ke
dokter spesialis penyakit dalam karena diduga ada kelainan di bagian perutnya. Dengan
dikirimnya ke dokter spesialis penyakit dalam, demand Dra. Sartika telah "meningkat"
menjadi demand terhadap pelayanan kedokteran spesialis. Pada pemeriksaan di tingkat
dokter spesialis ini maka ada berbagai kemungkinan yang berkaitan dengan pemakaian
teknologi tinggi, misalnya penggunaan USG atau CT Scan sebagai alat bantu diagnosis.
Berbeda dengan pembelian dan penggunaan barang-barang ekonomi lain, Dra. Sartika
tidak dapat menggunakan USG sesuai dengan keinginannya. Demand terhadap
pemeriksaan USG akan ditentukan berdasarkan needs yang ditetapkan oleh dokter. Pada
titik ini terjadi berbagai kemungkinan. Kemungkinan pertama, berbasis pada need, Dra.
Sartika tidak perlu mempunyai demand terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada
pada Dra. Sartika mungkin merupakan gejala penyakit psikosomatis akibat stress
pekerjaan. Kemungkinan kedua, berbasis pada need, Dra. Sartika perlu mempunyai
demand terhadap pemakaian USG. Sakit perut yang ada pada Dra. Sartika mungkin
merupakan suatu gejala penyakit yang serius (misalnya tumor kandungan).
Pada kemungkinan pertama, terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai Supplier
Induced Demand. Istilah ini menggambarkan suatu keadaan seorang dokter menetapkan
demand pasiennya dengan cara tidak berbasis pada need. Patut ditekankan bahwa keadaan
ini bukan suatu "over-treatment". Supplier Induced Demand terjadi akibat tidak
seimbangnya informasi yang ada pada dokter dengan pasiennya (Rice 1998). Dokter
meningkatkan demand pasiennya berbasis pada motivasi ekonomi untuk meningkatkan
pendapatannya. Folland dkk (2001), memberikan suatu pernyataan bahwa supplier
induced demand adalah penyalahgunaan hubungan dokter-pasien oleh dokter dalam
usaha memperoleh keuntungan pribadi dokter.
Sebagai gambaran dalam kasus tersebut, berbasis pada pendidikan dan
pengalamannya, dokter lebih menguasai informasi keluhan sakit perut dibanding Dra.
Sartika yang mengeluh. Dokter dalam hal ini bertindak sebagai pemberi jasa sekaligus

17
bertindak sebagai wakil dari pasien untuk mendapatkan jasa lain, misalnya obat-obatan,
pemeriksaan, atau tindakan dokter lain. Pemahaman pasien mengenai prosedur tindakan
kesehatan sangat terbatas dan dokter mempunyai wewenang untuk bertindak atas nama
pasien. Keadaan informasi yang dimiliki oleh penjual dan pembeli yang tidak seimbang
ini serupa dengan hubungan kerja antara montir mobil dan pemilik mobil yang awam soal
mesin dan hubungan pengacara dengan klien-nya yang awam soal hukum. Akibat
ketidakseimbangan pengetahuan ini maka hubungan kerja dapat disalahgunakan untuk
keuntungan dokter, montir, ataupun pengacara.
Supplier induced demand terutama terjadi pada sistem pemba-yaran fee-for-service.
Apabila tidak terdapat etika yang kuat, maka dengan mudah akan terjadi penyimpangan
profesi seperti diperiksanya Dra. Sartika dengan USG walapun secara medis tidak ada
indikasi untuk hal tersebut. Pada keadaan ini dokter spesialis yang memberikan perintah
agar Dra. Sartika diperiksa USG mendapat jasa medik atau keuntungan pribadi dari
pemeriksaan terse-but, walaupun dokter menyadari bahwa Dra. Sartika tidak mempunyai
need untuk menjalani pemeriksaan USG.
Pada kasus di atas, apabila pembelian USG dilakukan atas dasar pinjaman kredit bank,
maka kaidah-kaidah investasi harus diperhatikan misalnya melalui payback period.
Prinsip bahwa "bangsal rumah sakit harus diisi" atau “peralatan medik harus digunakan”
dapat mendorong terjadinya Supplier Induced Demand.
Sebaliknya dapat terjadi suatu keadaan yang disebut sebagai Supplier Reduced Demand.
Istilah ini mencerminkan keadaan bahwa justru dokter atau rumah sakit menetapkan
demand di bawah yang seharusnya. Pada kasus Dra. Sartika seharusnya diperiksa
menggu-nakan USG. Akan tetapi, mungkin reimburstment asuransi kesehatan yang
dimiliki perusahaan tersebut memberikan ganti rugi di bawah unit-cost pemeriksaan
USG. Rumah sakit akan rugi jika menggunakan USG untuk Dra. Sartika. Secara
perhitungan ekonomi, tidak diperik-sanya Dra Sartika dengan USG akan menghindarkan
rumah sakit dari kerugian. Dengan demikian, need Dra. Sartika tidak dapat terwujud
sebagai demand. Contoh lain, pada sistem pembiayaan rumah sakit yang berbasis pada
anggaran. Apabila rumah sakit dapat menyeleng garakan pelayanan di bawah anggaran,
misalnya 90% maka 10% sisanya dapat masuk sebagai jasa rumah sakit. Dengan konsep

18
seperti ini rumah sakit akan mempunyai insentif untuk melakukan Supplier Reduced
Demand.
Dalam ekonomi kesehatan, secara umum demand terhadap pelayanan kesehatan
diartikan sebagai barang atau jasa yang benar-benar dibeli (realisasi penggunaan) oleh
pasien. Istilah demand dibedakan dengan istilah need dan want. Need adalah barang atau
jasa yang dipandang terbaik oleh pemberi jasa layanan kesehatan (dhi. dokter) untuk
digunakan dalam rangka memperbaiki kesehatan pasien, sedangkan want adalah barang
atau jasa yang diinginkan (diminta) oleh pasien, misalnya obat yang murah, obat yang
bekerja cepat, dsb. Pembedaan dimaksud dianggap penting khususnya dalam 3 ilmu
ekonomi kesehatan dan kesehatan masyarakat dengan tujuan untuk memperkecil gap
(perbedaan) antara need dan want. Dengan peraturan perundang-undangan, Pemerintah
dapat memengaruhi keputusan dokter agar mengakomodasi keinginan pasien.
Selanjutnya dengan pendidikan kesehatan, Pemerintah dapat memengaruhi pasien untuk
mempertimbangkan keputusan dokter. Secara umum, demand diukur dengan tingkat
keterpakaian tempat tidur (bed occupancy), jumlah kunjungan, jumlah tes diagnostik, dan
sebagainya.
Demand terhadap pelayanan kesehatan secara dominan sangat dipengaruhi
beberapa faktor yaitu tarif (harga), penghasilan pasien, preferensi pasien, dan barang
alternatif (ketersediaan dan harga). Hubungan faktor-faktor dimaksud dengan permintaan
terhadap pelayanan kesehatan sangat variatif. Harga pelayanan kesehatan mempunyai
hubungan negatif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan, semakin tinggi harga
maka demand terhadap pelayanan kesehatan semakin menurun. Hubungan serupa juga
terjadi antara ketersediaan barang alternatif dan demand terhadap pelayanan kesehatan.
Sedangkan penghasilan dan preferensi pasien serta harga barang alternatif memiliki
hubungan yang positif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan. Sudibyo Supardi
dalam sebuah karya ilmiah di bidang kesehatan mengutip pernyataan Nico S. Kalangie
yang menjelaskan bahwa demand terhadap pelayanan kesehatan pada masyarakat
Indonesia dipenuhi melalui tiga cara yaitu pengobatan sendiri di rumah, pengobatan
tradisional, dan pengobatan dengan tenaga medis professional (Haning dkk, 2018).
Pengobatan dengan tenaga medis profesional adalah pengobatan dengan petunjuk
dari tenaga kesehatan yang dilakukan di poliklinik, puskesmas dan rumah sakit.

19
Sedangkan yang diartikan dengan pengobatan sendiri di rumah adalah pengobatan tanpa
petunjuk tenaga kesehatan (dokter/perawat/tenaga ahli kesehatan lainnya). Ada pun
pengobatan tradisional merupakan bentuk pengobatan yang menggunakan cara, alat atau
bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan medis modern baik yang dilakukan
sendiri atau dengan petunjuk tenaga kesehatan tradisional. Demand (realisasi
penggunaan) terhadap pelayanan kesehatan pada masyarakat Indonesia dengan
menggunakan tenaga medis profesional saat ini masih sangat rendah (Haning dkk, 2018).

20
SEGMENTASI PASAR (SEGMENTING) DALAM PELAYANAN
KESEHATAN

A. Pengertian Segmentasi Pasar


Segmentasi pasar adalah suatu proses menempatkan konsumen ke dalam sub
kelompok yang memiliki respons yang sama terhadap suatu program pemasaran
(Cravens,1996). Menurut Lupiyoadi dan Hamdani (2008), segmentasi pasar adalah
membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibedakan menurut kebutuhan,
karakteristik, atau tingkah laku, yang mungkin membutuhkan produk yang berbeda.
Sedangkan Menurut Swastha dkk. (1997), segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-
bagi pasar yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar yang
bersifat homogen. Berdasarkan definisi diatas, segmentasi pasar dapat diartikan sebagai
proses membagi pasar yang heterogen ke dalam kelompok-kelompok yang lebih
homogen, yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakteristik dan respons terhadap
program pemasaran.

B. Penentuan Segmentasi Pasar


Langkah dalam menentukan segmentasi pasar secara garis besar adalah:
1) Pengumpulan data, Yaitu dengan melakukan penelitian berupa survey, diskusi
dan juga teknik lainnya, untuk mendapatkan variabel pada tiap jenis segmentasi.
2) Analisis, Setelah semua data didapat Anda dapat mengolah data tersebut dan
menganalisis hasil dari pengumpulan data yang akan disesuaikan dengan strategi
pemasaaran.
3) Penyusunan, Tahap ini adalah Anda mengelompokkan hasil dari analisis dan pada
tahap ini hasil akan tersaring, manakah produk yang sesuai dan juga mana pasar
yang sesuai.

Tiga pola yang berbeda dapat muncul :


1) Pilihan homogen. Sebuah pasar dimana semua pasien sacara kasar memiliki
pilihan yang sama. Pasar menunjukkan segmen yang tidak alami, paling tidak

21
sejauh atribut (kecanggihan medis dan pelayanan perawatan) diperhatikan. Kita
akan memprediksi bahwa rumah sakit akan memperklakukan secara sama kedua
atribut tersebut karena keduanya merupakan hal penting bagi pasien
2) Pilihan yang menyebar. Pada kondisi yang ekstrim , pilihan pasien mungkin
menyebar rata, tanpa konsentrasi atau terpusat
3) Pilihan yang mengelompok. Kemungkinan lain adalah munculnya kelompok-
kelompok pilihan yang jelas disebut segmen pasar alami. Kita akan memprediksi
bahwa rumah sakit mengkelompokkannya kedalam tiga kelompok dasar
pelayanan dari ketiga tipe pasien (Suprihanto, 1999).

C. Dasar – dasar Segmentasi Pasar


Menurut Kotler dan Susanto (2000) dasar-dasar segmentasi pasar terbagi atas
empat yaitu :
1) Segmentasi Geografis
Segmentasi geografis meminta pembagian pasar menjadi unit-unit geografis yang
berbeda, seperti negara, negara bagian, wilayah, provinsi, kota atau RT
2) Segmentasi Demografis
Segmentasi demografis terdiri dari pembagian pasar menjadi kelompokkelompok
dengan dasar variabelvariabel demografis seperti usia, jenis kelamin, ukuran
keluarga, siklus hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan.
3) Segmentasi Psikografis
Dalam segmentasi psikografis, pembeli dibagi menjadi kelompok yang berbeda
berdasarkan kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.
4) Segmentasi Tingkah laku
Dalam segmentasi perilaku, pembeli dibagi menjadi kelompok-kelompok
berdasarkan pengetahun, sikap, pemakaian, atau tanggapan mereka terhadap suatu
produk. Banyak pemasar percaya bahwa variabel perilaku tersebut merupakan
titik awal terbaik bagi pembangunan segmen pasar

22
TARGETING DALAM PELAYANAN KESEHATAN

A. Pengertian
Dalam proses pemasaran, segmentasi tidak berdiri sendiri. Philip Kotler
(1997) (dalam Kasali, 2003) menandaskan bahwa segmentasi merupakan satu
kesatuan dengan targeting dan positioning. Kotler menyingkat hubungan ini
sebagai STP (Segmentasi, Targeting, Positioning). Menurut Kasali (2003),
targeting adalah proses menetapkan target pasar yang merupakan tahap
selanjutnya setelah analisis segmentasi. Produk dari targeting adalah target pasar
sasaran pasar, yaitu satu atau beberapa segmen pasar yang akan menjadi fokus
kegiatan kegiatan pemasaran. Kadang-kadang targeting juga disebut sebagai
selecting karena marketer harus menyeleksi.
Targeting memang bertujuan untuk mencocokkan target pasar dengan
strategi yang akan diambil. Perusahaan tidak mungkin mengambil semua segmen
pasar sekaligus, karena sumber daya perusahaan terbatas sehingga
mengalokasikannya harus efektif. Pengalokasian sumber daya ini juga bisa
membuat target pasar terlayani dengan lebih baik. Dengan demikian, tujuan yang
hendak dicapai pun dapat dilakukan secara efisien dan efektif (Kertajaya, 2015).
Kriteria dalam proses targeting adalah sebagai berikut
a. Mempertimbangkan ukuran dan tingkat portabilitas dari suatu pasar baik saat
ini maupun di masa yang akan datang
b. Mempertimbangkan daya saing yang dimiliki perusahaan
c. Memperhatikan situasi kompetisi di pasar yang hendak dituju.
B. Penentuan Targeting berdasarkan pasar
Dalam menentukan targeting juga harus membedakan pasarnya, antara
pasar jangka pendek atau pasar masa depan dan pasar primer atau pasar sekunder.
Pengetahuan ini akan membantu mendeteksi perubahan-perubahan pasar pilihan
strategi. Pasar sasaran jangka pendek adalah pasar yang ditekuni hari ini dan
direncanakan akan dijangkau dalam waktu dekat, misalnya tahun depan. Pasar
masa depan adalah pasar tiga sampai lima tahun dari sekarang. Karena segmentasi
pasar adalah sesuatu kedinamisan yang berubah dari waktu ke waktu maka

23
perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang berorientasi pada riset. Dengan
riset kita memiliki gambaran seperti apa keinginan konsumen lima tahun dari
sekarang, persaingan yang akan muncul, dan teknologi-teknologi apa yang akan
mempengaruhi perilaku konsumen dan lahirnya segmen-segmen baru
(Kasali, 2003).
Sedangkan pasar primer adalah pasar utama produk yang terdiri dari
konsumen-konsumen yang sangat penting bagi kelangsungan hidup perusahaan,
pelanggan loyal/fanatik yang mungkin jumlahnya tidak banyak. Pasar sekunder
sebaliknya adalah pasar yang terdiri dari konsumen konsumen yang sering
dianggap tidak penting tapi jumlahnya cukup besar. Adakalanya meski tidak
begitu penting pasar ini tidak dapat diabaikan (Hiebing dan Cuper,1997 dalam
Kasali, 2003)
C. 5 pola pertimbangan targeting
Tahapan selanjutnya setelah segmentasi pasar adalah penentuan keputusan
target pasar perusahaan. Target pasar harus mempertimbangkan dua faktor yaitu
sumber daya yang dimiliki perusahaan dan daya tarik pasar secara keseluruhan.
(Kotler, 2002), menyebutkan ada lima pola yang dapat dipertimbangkan dalam
menetapkan target market perusahaan yaitu
1. Single Segment Concentration
Single Segment Concentration mempunyai pengertian bahwa dalam suatu
perusahaan dipilih hanya satu segmen tertentu saja yang dianggap paling
menguntungkan perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai posisi yang
mantap. Perusahaan berkonsentrasi hanya pada segmen pasar tersebut
sehingga diperoleh keuntungan. Kelemahan dari model ini yaitu kemungkinan
resiko yang ditanggung perusahaan cukup besar jika memilih satu segmen
saja.
2. Selective Specialization
Selective Specialization dimaksudkan sebagai tindakan suatu perusahaan
untuk memilih beberapa segmen, walaupun di antara segmen tersebut tidak
menunjukkan adanya hubungan, tetapi diharapkan masing–masing segmen
tersebut dapat memberikan keuntungan pada perusahaan. Strategi ini lebih

24
banyak dipakai, dengan pertimbangan apabila satu segmen tidak produktif,
maka perusahaan diasumsikan akan dapat keuntungan dari segmen lainnya.
3. Product Specialization
Spesialisasi suatu produk dimaksudkan bahwa perusahaan menghasilkan
suatu produksi yang spesifik dan mempunyai ciri khas yang mempunyai
keunggulan dibandingkan produk lain. Resiko dari spesialisasi produk ini
yaitu jika terjadi masalah dalam produksi maka akan merugikan perusahaan.
4. Market Specialization
Spesialisasi pemasaran dimaksudkan sebagai usaha dari suatu perusahaan
untuk memproduksi berbagai bentuk produk dan berupaya untuk melayani
berbagai kebutuhan pihak pembeli. Perusahaan mengembangkan reputasi
yang baik dan kuat terhadap semua lapisan masyarakat.
5. Full Market coverage
Strategi ini mengharapkan perusahaan dapat memenuhi kebutuhan semua
kelompok masyarakat, tetapi hal ini hanya dapat dilakukan oleh perusahaan
yang besar dengan cara diferensiasi kepuasan konsumen. Metode ini dapat
memuaskan konsumen, tapi tentunya juga meningkatkan biaya perusahaan.

25
PEMASARAN/MARKETING DAN PEMASARAN KESEHATAN

A. Pengertian Pemasaran
Pemasaran yaitu proses termasuk manajemennya yang meliputi
kepentingan kelompok serta perseorangan dalam usaha memenuhi kebutuhannya
dengan cara memproduksi serta menukar produk dengan orang lain (Kotler,
2002), sedangkan American Marketing Association disebutkan bahwa definisi
pemasaran adalah suatu proses mulai dari perencanaan dan pelaksanaan,
penentuan harga, promosi serta distribusi. Kegiatan ini mencakup pertukaran
barang dan jasa yang tujuannya memenuhi keinginan organisasi dan
perseorangan.
Pemasaran mempunyai pengertian yang luas dan bukannya hanya
diartikan sebagai kegiatan penjualan barang dan jasa. Pemasaran bertujuan untuk
memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen, karena itu diadakanlah suatu
sistem penjualan yang saling berinteraksi (Philip Kotler dan Gary Armstrong,
2004). Kegiatan pemasaran mencakup perencanaan, pendistribusian, promosi
barang dan jasa yang diselenggarakan oleh perusahaan. Begitu luas serta
kompleknya pemasaran maka sudah seharusnya dikelola dengan baik serta lebih
serius. Hal itulah yang menyebabkan lahirnya ilmu manajemen pemasaran.
Cara terpenting untuk mencapai tujuan organisasi adalah dengan lebih
mengefektifkan perusahaan dibandingkan pesaing-pesaingnya dalam hal
produksi, pendistribusian dan promosi kepada sasaran. Empat pilar yang
mempengaruhi pemasaran adalah kebutuhan pelanggan, sasaran, pemasaran
secara terpadu dan kemauan menghasilkan laba (Kotler, 2002). Orientasi konsep
pemasaran modern adalah selalu memperhatikan kepentingan konsumen.
Konsumen bersedia membeli produk yang dapat memuaskan dan sesuai dengan
kebutuhan serta dapat mensejahterakannya (Kotler, 2002)

26
B. Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran adalah kegiatan atau cara yang dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat (Fandy Tjiptono, 2005). Selanjutnya menurut peneliti lain
bahwa ada lima macam pengembangan strategi pemasaran yaitu memposisikan
penawaran pasar, mengembangkan produk baru, mengelola strategi pemasaran,
mengelola strategi siklus hidup produk serta merancang dan mengelola pemasaran
global (Kotler, 1998). Secara garis besarnya menurut (Kotler, 1998) strategi
pemasaran mempunyai tiga tahapan yaitu
1. Segmentasi
Ilmu pemasaran menyebutkan bahwa diperlukan adanya aktivitas
pengelompokkan pada pasar yang heterogen agar tercipta pasar yang
homogen. Kesamaannya meliputi kesamaan dalam keinginan, geografi, gaya
hidup, serta perilaku dalam pembelian. Hal ini merupakan cara kreatif
memandang pasar karena dapat merupakan suatu seni dalam mengidentifikasi
dan menggunakan peluang. Fakta dan pengertian di atas menyebabkan
segmentasi mempunyai peran penting dalam penentuan kebijakan seorang
pemimpin (Kotler, 2002)
Segmentasi pasar mempunyai beberapa peran penting antara lain
• Segmentasi pasar memudahkan perusahaan dalam mengalokasikan
SDM yang sesuai dengan pasar.
• Pengelompokkan pasar sesuai segmennya akan memberikan
kemudahan pada organisasi/institusi dalam menentukan segmen pasar
yang akan dilayani.
• Pengetahuan segmentasi pasar memberikan gambaran kepada
perusahaan tentang peta kompetisi perusahaan dan akhirnya
menentukan posisi pasar perusahaan tersebut.
2. Targeting
Tahapan selanjutnya setelah segmentasi pasar adalah penentuan keputusan
target pasar perusahaan. Target pasar harus mempertimbangkan dua faktor
yaitu sumber daya yang dimiliki perusahaan dan daya tarik pasar secara

27
keseluruhan. (Kotler, 2002), menyebutkan ada lima pola yang dapat
dipertimbangkan dalam menetapkan target market perusahaan yaitu :
• Single Segment Concentration.
Single Segment Concentration mempunyai pengertian
bahwa dalam suatu perusahaan dipilih hanya satu segmen tertentu
saja yang dianggap paling menguntungkan perusahaan sehingga
perusahaan dapat mencapai posisi yang mantap. Perusahaan
berkonsentrasi hanya pada segmen pasar tersebut sehingga
diperoleh keuntungan. Kelemahan dari model ini yaitu
kemungkinan resiko yang ditanggung perusahaan cukup besar jika
memilih satu segmen saja.
• Selective Specialization.
Selective Specialization dimaksudkan sebagai tindakan
suatu perusahaan untuk memilih beberapa segmen, walaupun di
antara segmen tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan,
tetapi diharapkan masing–masing segmen tersebut dapat
memberikan keuntungan pada perusahaan. Strategi ini lebih
banyak dipakai, dengan pertimbangan apabila satu segmen tidak
produktif, maka perusahaan diasumsikan akan dapat keuntungan
dari segmen lainnya.
• Product Specialization.
Spesialisasi suatu produk dimaksudkan bahwa perusahaan
menghasilkan suatu produksi yang spesifik dan mempunyai ciri
khas yang mempunyai keunggulan dibandingkan produk lain.
Resiko dari spesialisasi produk ini yaitu jika terjadi masalah dalam
produksi maka akan merugikan perusahaan.
• Market Specialization
Spesialisasi pemasaran dimaksudkan sebagai usaha dari
suatu perusahaan untuk memproduksi berbagai bentuk produk dan
berupaya untuk melayani berbagai kebutuhan pihak pembeli.

28
Perusahaan mengembangkan reputasi yang baik dan kuat terhadap
semua lapisan masyarakat.
• Full Market Coverage.
Strategi ini mengharapkan perusahaan dapat memenuhi
kebutuhan semua kelompok masyarakat, tetapi hal ini hanya dapat
dilakukan oleh perusahaan yang besar dengan cara diferensiasi
kepuasan konsumen. Metode ini dapat memuaskan konsumen, tapi
tentunya juga meningkatkan biaya perusahaan.

3. Positioning
Posisi/Positioning Pengertian positioning adalah sebagai suatu cara untuk
mengkomunikasikan pada konsumen tentang merk, nama, institusi atau
perusahaan kita agar mendapat posisi yang baik di hati dan pikiran mereka,
sehingga mereka memutuskan untuk memilih kita. Positioning merupakan
strategi berkomunikasi agar dapat memasuki jendela otak konsumen sehingga
produk, merk dan nama institusi kita mengandung arti tertentu (Kasali, 2003).
Terdapat empat kajian yang dapat dilakukan perusahaan untuk
menentukan positioning, seperti disebutkan oleh (Kotler, 2002), yaitu
a. Customer merupakan suatu kajian terhadap cara pandang konsumen
terhadap perusahaan. Positioning harus menggambarkan keunggulan
perusahaan di mata konsumen. Positioning menjadi hal yang sangat
penting ketika konsumen akan memutuskan untuk membeli.
b. Company adalah faktor untuk menentukan positioning yang didasarkan
atas kajian pada kapabilitas perusahaan. Positioning harus menampilkan
keunggulan serta kekuatan yang dimiliki perusahaan. Faktor ini
menjadikan perusahaan tersebut dapat dipercaya atau tidak.
c. Competitor merupakan suatu kajian terhadap para pesaing perusahaan.
Perusahaan seharusnya memiliki produk unik yang tidak dimiliki oleh
para pesaing lainnya.
d. Change merupakan suatu kajian terhadap perubahan lingkungan dari
perusahaan. Perusahaan harus selalu konsisten untuk memberikan persepsi

29
dan identitas perusahaan di pikiran konsumen. Konsep ini didasarkan atas
pertimbangan bahwa perubahan terhadap identitas perusahaan akan
membingungkan konsumen dan proses positioning menjadi terhambat.
C. Pemasaran Jasa
Jasa adalah benda abstrak yang tidak dapat dilihat gambaran produknya.
Jasa tidak dapat dilihat wujudnya, hanya dapat dirasakan oleh pihak- pihak yang
berinteraksi langsung yaitu konsumen dan produsen. Indikator pengukuran jasa
adalah kepuasan pihak konsumen. Pemasaran jasa merupakan hal yang sangat
kompleks. Kompleksitas tersebut disebabkan karena banyak hal yang berperan
diantaranya lingkungan fisik, sistem internal organisasi, tagihan, pembayaran,
kontak personal, iklan dan tentunya yang paling berpengaruh adalah komentar
dari mulut ke mulut (Philip Kotler dan Gary Armstrong, 2004).
Konsep pemasaran jasa melibatkan banyak elemen yaitu elemen
pemasaran internal, pemasaran eksternal dan pemasaran interaktif (Kotler, 2002).
Pemasaran internal dimaksudkan sebagai tugas perusahaan untuk melatih dan
memotivasi karyawannya agar diberikannya pelayanan prima untuk masyarakat.
Pemasaran interaktif mencerminkan terjadinya interaksi aktif antara pihak
konsumen dan karyawan. Jika interaksi tersebut berjalan baik maka konsumen
menjadi puas dan konsumen akan mengulangi lagi untuk membeli jasa di tempat
asalnya. Pemasaran eksternal mencerminkan aktivitas rutin yang dilakukan oleh
perusahaan yang meliputi kegiatan mulai dari tahapan mempersiapkan,
melakukan promosi jasa kepada konsumen, penentuan harga serta langkah-
langkah distribusi.
Kegiatan pemasaran jasa bersifat sangat dinamis dan sensitif sehingga
perusahaan harus selalu berinovasi dan berkreasi serta terus menerus
memperhatikan dan menyesuaikan produk jasa yang dihasilkan dengan kebutuhan
konsumen karena keinginan dan pengaruh lingkungan yang selalu dinamis.
Pertimbangan tersebut menjadikan proses pemasaran jasa harus selalu mengkaji
strategi pemasaran yang meliputi segmentasi, target pasar dan posisi, serta
peluang – peluang pasar, kemudian merumuskan bauran pemasaran (marketing 7

30
mix) sehingga akan membantu tercapainya tujuan dari pemasaran jasa tersebut
(Kotler, 2002).
D. Pemasaran Jasa Kesehatan
Konsumen atau pasien menilai kualitas jasa dalam pemasaran jasa
kesehatan dari berbagai pandangannya meliputi ketrampilan pemberi jasa,
kualitas teknikal (misalnya apakah cara menolong persalinan cukup baik dan
nyaman bagi pasien) dan yang terpenting biasanya adalah kualitas fungsionalnya
(apakah bidan menunjukan perhatian, empati sehingga pasien percaya). Hal ini
memaksa seorang petugas kesehatan haruslah mulai berbenah dan melayani
pasien dengan sebaik baiknya. (Herlina, 2011), menyatakan ada beberapa hal yang
dapat ditekankan untuk diprioritaskan pada petugas kesehatan yaitu :
a. Selalu berpikir dan bersikap positif terhadap pasien.
b. Berpenampilan yang meyakinkan rapi, bersih, ramah dan sopan.
c. Selalu siap mengantisipasi kebutuhan dan keluhan pasien.
d. Selalu siap menerima pasien sebelum pasien datang.
e. Selalu memberikan pelayanan yang berkesan positif dan mendalam bagi
pasien sehingga ketika pasien membutuhkan jasa kesehatan maka yang
pertama teringat adalah institusi kita.
f. Mengutamakan kepuasan pasien. Selalu ikhlas dan dengan senang hati
memberikan pelayanan. Jelaskan tindakan apa yang akan kita lakukan pada
pasien, selalu berterimakasih jika diberi masukan/keluhan oleh pasien, dan
minta maaf jika ada kejadian yang tidak menyenangkan. Hal –hal seperti ini
akan diceritakan pasien kepada lingkungannya.

Menurut Budiarso dalam (Yuliana, 2009), kebijakan pemasaran jasa


kesehatan hendaknya mengacu pada beberapa hal yaitu :
a. Pemasaran hendaknya tidak bertentangan dengan kode etik profesi dan
jabatan, mengacu pada tujuan pembangunan kesehatan dan tentunya tidak
bertentangan dengan hukum.

31
b. Pemasaran diterapkan agar pemanfaatan meningkat, meluaskan cakupan
pelayanan, yang pada akhirnya akan mengakibatkan terjadinya peningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
c. Pemasaran kesehatan harus dilakukan secara benar dan tidak boleh dilakukan
seperti pemasaran jasa jasa umum lainnya.

Ada beberapa rambu-rambu pemasaran jasa kesehatan yang diperkenankan


yaitu :
a. Melalui majalah kesehatan dan buku telepon tapi tidak dengan bahasa
mengajak, memaksa, mempengaruhi ataupun menakut-nakuti.
b. Promosi melalui brosur dan leaflet diperkenankan serta penawaran khusus
untuk program baru tanpa membujuk.

32
MARKET SHARE

Pengertian Pangsa Pasar (Marketshare)


Pangsa pasar menjelaskan penjualan suatu perusahaan (dalam unit atau rupiah) di
pasar produk tertentu, sebagai suatu persentase, tentang volume total penjualan dalam
suatu industri pasar atau area produk tertentu. Dalam Pengertian sempit Market share
adalah perbandingan volume penjualan industri baik dalam unit maupun dalam rupiah.
Jadi pangsa pasar atau market share adalah keseluruhan pasar yang berhasil dikuasai oleh
perusahaan untuk menjual produk yang ditawarkan (Gunara, 2007).

Perhitumgan Market Share


Perhitungan pangsa pasar dapat dihitung dengan satuan unit/moneter. Data pangsa
pasar digunakan untuk mengevaluasi kemampuan pemasaran perusahaan. kenaikan suatu
jumlah penjualan harus juga memperhatikan jumlah industrinya. Dengan menggunakan
perhitungan pangsa pasar, maka dapat diketahui kedudukan produk dalam suatu pasar dan
seberapa pasar yang diwakili oleh perusahaan dibandingkan dengan jumlah pesaing
dalam prosuk yang sama. sehingga perusahaan dapat menentukan langkah-langkan
kebijakan untuk memperluas pangsa pasar.

Oleh karena itu, kegiatan perusahaan yang dilaksanakan untuk meningkatkan


market share harus diarahkan kepada langganan guna menarik dan mendorong mereka

33
melakukan pembelian serta kepada calon konsumen dan pelanggan yang sudah ada, agar
mereka tidak beralih ke produk lain. Permintaan perusahaan merupakan suatu fungsi yang
dinamakan "company demand function" atau dinamakan juga "sales response function".
Permintaan perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor permintaan pasar dan pengaruh-
pengaruh terhadap market share (Kotler dan Keller, 2008).

Perusahaan yang menaikkan pangsa pasar (market share) mempunyai manfaat sebagai
berikut:
(Kotler dan Keller, 2008)
1) Perusahaan yang meningkatkan kualitas produk mereka relatif terhadap pesaing
menikmati kenaikan pangsa pasar yang lebih besar dari pada mereka yang tingkat
kualitasnya tetap atau menurun.
2) Perusahaan yang meningkatkan pengeluaran pemasaran lebih cepat dari tingkat
pertumbuhan pasar umumnya mencapai kenaikan pangsa pasar. Kenaikan
pengeluaran wiraniaga efektif dan menghasilkan kenaikan pangsa pasar terutama
untuk perusahaan barang konsumsi. Peningkatan pengeluaran iklan menghasilkan
kenaikan pangsa pasar terutama untuk perusahaan barang konsumsi. Peningkatan
pengeluaran promosi penjualan efektif dalam menghasilkan kenaikan pangsa pasar
untuk semua jenis perusahaan.
3) Perusahaan yang memotong harga mereka jauh lebih besar dari para pesaing tidak
mencapai kenaikan pangsa pasar yang berarti. Kemungkinan, banyak pesaing yang
memotong harganya sebagian, dan yang lain menawarkan nilai lain kepada pembeli,
sehingga pembeli tidak banyak beralih ke pemotongan harga.
4) Kebijaksanaan pemasaran harus dapat menentukan gambaran yang jelas dan terarah
tentang apa yang akan dilakukan oleh perusahaan di dalam menggunakan setiap
kesempatan atau peluang-peluang yang ada pada beberapa pasar sebagai sasaran
penjualan. Kebijaksanaan pemasaran merupakan rencana yang menyalurkan, terpadu
dan menyatu dalam bidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan
yang akan dijalankan.

Ada 4 jenis dalam mendefinisikan dan mengukur pangsa pasar yang ada dalam

34
suatu pasar. Ukuran pangsa pasar tersebut antara lain :
1) Pangsa pasar keseluruhan : Pangsa pasar keseluruhan adalah penjualan suatu
perusahaan yang penjualnya dinyatakan sebagai persentase dari penjualan pasar
secara total atau secara keseluruhan dalam suatu industri. Diperlukan dua keputusan
untuk menggunakan ukuran ini, yaitu apakah proses perhitungan pangsa pasar akan
menggunakan perhitungan dalam unit penjualan atau dalam pendapatan penjualan
(satuan mata uang) untuk menyatakan pangsa pasar.
2) Pangsa pasar yang dilayani : Pangsa pasar yang dilayani adalah persentase dari total
penjualan terhadap pasar yang telah dilayani oleh suatu perusahaan, pasar yang
dilayani adalah semua pembeli yang dapat dan ingin membeli produknya.
3) Pangsa pasar relatif (untuk 3 pesaing puncak) : Pangsa pasar relatif jenis ini hanya
menyatakan persentase penjualan suatu perusahaan dari penjualan gabungan 3
perusahaan pesaing terbesar dalam bidang yang sama
4) Pangsa Pasar Relatif (terhadap pesaing atau pemimpin): Beberapa perusahaan
melihat pangsa pasar mereka sebagai presentase dari penjualan pesaing pemimpin.
Perusahaan yang memiliki pangsa pasar lebh besar 100% disebut sebagai pimpinan
pasar, sementara perusahaan yang memiliki pangsa pasar tepat 100% berarti
perusahaan tersebut mempimpin pasar yang ada bersama-sama

Posisi industri atau perusahaan dalam market share


Menurut Djaslim Saladin (2006) ada empat bentuk posisi perusahaan, yaitu:
1. Pemimpin pasar (market leader), menguasai 40% pasar
2. Penantang pasar (market challengers),menguasai 30% pasar
3. Pengikut pasar (market followers), menguasai 20% pasar
4. Perelung pasar (market nichers), menguasai 10% pasar

1. Market Leader

Market leader atau pemimpin pasar adalah “suatu perusahaan memegang bagian pasar
terbesar dalam pasar produk yang relevan, dimana perusahaan lain mengikuti

35
tindakan-tindakannya dalam perubahan harga, pengenalan produk baru, pencakupan
saluran dan intensitas promosi”.
Karakteristik dari pemimpin pasar:
• Memiliki pangsa pasar terbesar (40%) dalam pasar produk yang relevan.
• Lebih unggul dari perusahaan lain dalam hal pengenalan produk baru,
perubahan harga, cakupan saluran distribusi, dan intensitas promosi.
• Merupakan pusat orientasi para pesaing (diserang, ditiru dan dijauhi)
2. Market Challenger
Market Challenger dapat dikatakan perusahaan pesaingan yang selalu menyerang
Market Leader untuk memperluas pangsa pasarnya. Market Challenger adalah
perusahaan runner up dibawah Market Leader.

Jenis perusahaan yang diserang:


• Perusahaan pemimpin besar
• Perusahaan setara/sebanding yang tidak berjalan dengan normal dan
kekurangan dana.
• Perusahaan kecil lokal dan regional yang tidak berjalan dengan baik dan
kekurangan dana.
3. Market Follower
Market Follower adalah perusahaan yang mengambil sikap tidak mengusik Market
Leader dan hanya puas dengan cara menyesuaikan diri terhadap kurang lebih dari
kondisi pasar.
4. Relung Pasar (market nicher)
Posisi persaingan pasar yang terakhir adalah relung pasar atau market nicher.
Perusahaan yang berada di posisi ini biasanya mereka menargetkan pasar yang
sempit dan tidak terlalu banyak persaingan. Biasanya bisnis yang seperti ini
menyasar pada segmen hobi ataupun pada minat-minat tertentu.

36
JENIS-JENIS MARKETING DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Jenis-jenis pemasaran dalam Pelayanan Kesehatan (Buchari, 2005):


1. Eksternal marketing
Eksternal marketing adalah Hubungan antara Manajemen pelayanan kesehatan
dengan Pelanggan dalam rangka penempatan janji tentang jasa yang akan ditawarkan
kepada pelanggan yaitu kegiatan memasarkan barang atau jasa yang memberi
kepuasan konsumen. Seperti contoh memberikan kepuasan layanan kepada
pelanggan yaitu kebersihan terjaga (disapu, dipel oleh pegawai puskesmas, bukan
hanya menempel pengumuman ”Jagalah Kebersihan”, tapi pegawainya harus aktif
mengawasi dan bertindak membersihkan. Jaga jangan sampai antrian panjang,
caranya menambah pegawai pada jam-jam sibuk. Ini bukan berarti menambah
pegawai baru, tapi intensifkan, perbantukan pegawai pada bagian lain. Berikan
layanan ramah, terampil serta informasi yang jelas sehingga tidak membuat
konsumen bingung di puskesmas.
2. Internal marketing,
Hubungan antara Manajemen Rumah Sakit dengan karyawan dalam mewujudkan
janji yang telah ditetapkan antara perusahaan dengan pelanggan. Memberikan
latihan-latihan pada karyawan puskesmas yang langsung menghadapi
consumen/pasien paling depan, agar selalu ramah, murah senyum, serta informatif,
bagaimanapun rewelnya konsumen. Tanamkan perasaan mendalam pada karyawan,
bahwa tugas utamanya adalah memberikan kepuasan kepada consumen/ pasien.
3. Interactive marketing
Artinya bagaimana terjadi interaksi yang memuaskan antara karyawan dengan
konsumen/pasien dan masyarakat, sehingga konsumen menjadi yakin. Orang tidak
begitu saja yakin kepada puskesmas yang memiliki peralatan canggih (technical
quality), tapi lebih yakin lagi pada dokter yang memperlihatkan perhatian serius
dalam mengobati pasien, sehingga meyakinkan pasien akan sembuh (functional
qualit). Jadi di sini merupakan interaktif marketing antara provider dengan
konsumernya (Kotler dan Gary, 1991).

37
MARKETING MIX DALAM PELAYANAN KESEHATAN

A. Pengertian
Pemasaran (marketing) adalah kegiatan sosial dan manjerial yang melibatkan
beberapa orang atau kelompok masyarakat dalam memperoleh apa yang mereka
inginkan dengan memproduksi, menawarkan, dan menukarkan produk yang bernilai
kepada pihak lain. Strategi pemasaran adalah alat fundamental yang terencana untuk
mewujudkan tujuan industri dengan mengembangkan keunggulan dalam persaingan
yang berkelanjutan melalui pasar sasarannya dan program pemasaran yang
dilaksanakan untuk melayanani pasar sasaran. Syachroni (2012), menyatakan bahwa
tujuan dari strategi pemasaran adalah mengembangkan dan menciptakan peluang
pada masa yang akan datang dan mengeksploitasinya.
Marketing Mix (Bauran Pemasaran Jasa) Bauran pemasaran adalah
penggabungan dari beberapa variabel dengan tujuan mendapatkan respon dari pasar
sasaran (Philip Kotler dan Gary Armstrong, 2004). Marketing mix adalah inti dari
strategi pemasaran perusahaan dimana unsur-unsur pemasaran yang saling terkait
dibaurkan, diorganisir, dan digunakan dengan tepat, sehingga tujuan perusahaan dapat
dicapai secara efektif dalam mewujudkan kebutuhan dan keinginan konsumen
(Syachroni, 2012). Menurut Kotler, P., (2002), bahwa bauran pemasaran (marketing
mix) adalah salah satau sarana pemasaran yang dimamfaatkan oleh perusahaan secara
simultan untuk mewujudkan tujuan di pasar sasaran. Strategi marketing mix atau
bauran pemasaran, adalah pengabungan dari beberapa faktor penting yang ada dalam
pasar sasaran. Faktor penting tersebut terdiri atas: product(produk), price (harga),
promotion (promosi), place (tempat), people (orang), process (proses), dan physical
facility(fasislitas fisik).
Terdapat 4 element utama dalam marketing mix untuk industri barang yang biasa
disebut sebagai 4P's yaitu :
a. Product (Produk/barang)
b. Price (Harga)
c. Place (Tempat/lokasi)

38
d. Promotion (Promosi)
Sedangkan dalam marketing mix untuk industri jasa terdapat 7 element utama yang
biasa disebut sebagai 7P's yaitu:
a. Product (Produk/barang)
b. Price (Harga)
c. Place (Tempat/lokasi)
d. Promotion (Promosi)
e. People (Orang)
f. Physical Evidence (Bukti fisik)
g. Process (Proses)

Yang harus dipertimbangkan


Menurut Alma (2000:80) hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan
marketing mix adalah sebagai berikut:
1. Marketing mix harus seimbang. Seimbang disini adalah dalam keadaan
keseimbangan yang sebaik mungkin, misalnya diadakan advertensi secara besar-
besaran tanpa usaha memperbaiki kualitas produksinya, maka hasilnya yang
dicapai akan kurang memuaskan.
2. Marketing mix tidak boleh statis. Jadi haras dinamis. Misalnya pesaing mulai
meniru strategi marketing mix yang dilaksanakan, maka harus cepat mengatur
siasat baru lagi. Oleh karena itu kreatifitas manajer pemasaran dituntut dalam hal
ini.
3. Marketing mix tidak boleh meniru. Dalam melaksanakan marketing mix belum
tentu tepat bila suatu perusahaan meniru begitu saja marketing mix perusahaan
lain. Sebab situasi dan kondisi perasahaan tidak sama, jika dipaksakan untuk
meniru maka akan merugikan perasahaan.
4. Marketing mix harus bertujuan jangka panjang. Dalam melaksanakan marketing
mix sebaiknya diusahakan mencapai tujuan jangka panjang. Hal ini tidak berarti
tujuan jangka pendek diabaikan. Sebab tujuan jangka pendek ada pula yang
dipakai untuk mencapai tujuan jangka panjang. Dengan mengarah pada tujuan

39
jangka panjang dalam menetapkan marketing mix maka kestabilan perusahaan
akan lebih baik.
5. Marketing mix harus didasarkan pada pengalaman. Menetapkan marketing mix
berdasarkan pengalaman-pengalaman lalu pada umumnya akan lebih berhasil

B. Unsur Marketing Mix


1. Product (Produk)
Produk adalah kualitas pelayanan yang diterima oleh konsumen. Suatu
unsur penting dalam proses pemasaran. Unsur ini bersifat mempengaruhi unsur
pemasaran lainnya. Jika seorang konsumen berbelanja suatu produk maka hal ini
bukanlah semata-mata hanya untuk memilikinya tapi karena keinginan dan untuk
memenuhi kebutuhan. Produk merupakan sesuatu yang ditawarkan ke pasar
untuk dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan
dan kebutuhan. Produk disini mencakup obyek fisik jasa, orang, tempat,
organisasi dan gagasan. Menurut Ulus (2013), menyatakan bahwa produk adalah
semua yang diperkenalkan produsen ke konsumen supaya diperhatikan, dicari,
dibeli, digunakan dan dikonsumsi oleh pasar atau konsumen guna pemenuhan
kebutuhan atau keinginan yang bersangkutan (Ulus, 2013). Kafa (2013), produk
adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar pontensialnya untuk
memuaskan keinginan dan kebutuhan. Bagi rumah sakit merupakan upaya
penawaran jasa untuk tercapainya harapan sembuh bagi pasien yang dirawat di
rumah sakit.
Menurut Kotler dan Amstrong (2011), produk adalah semua yang
ditawarkan kepasar agar mendapat perhatian untuk dibeli, digunakan dan
memuaskan keinginan konsumen. Bagi rumah sakit adalah upaya jasa yang
ditawarkan untuk mencapai harapan sembuh pada pasien. Rumah sakit biasanya
menawarkan berbagai produk layanan kesehatan kepada sejmlah pelanggan dan
pasien untuk memuaskan berbagai kebutuhan pelanggan dan pasien (Kotler,
2011). Produk jasa pelayanan kesehatan adalah objek pemasaran di fasilitas

40
pelayanan kesehatan. Terjualnya jasa pelayanan yang merupakan produk dari
fasilitas pelayanan, akan memberikan suatu penghasilan yang digunakan untuk
membiayai operasional pelayanan rumah sakit. Kualitas produk jasa pelayanan
kesehatan dapat mempengaruhi minat konsumen, sehingga berpengaruh dalam
pemasaran. Rumah sakit yang memiliki produk jasa pelayanan yang lengkap
baisanya akan semakin banyak pasien yang memilih produk layanan kesehatan
di rumah sakit tersebut.

2. Price
Price merupakan nilai yang ditukarkan oleh konsumen atas suatu manfaat
yang diperoleh dari kegiatan konsumsi, penggunaan, atau kepemilikan suatu
barang ataupun jasa. Jadi harga disini tidak selalu berbentuk uang karena harga
bisa berbentuk barang, tenaga, waktu, dan keahlian.
Menurut Palmer (2001), strategi harga harus terintegrasi dan konsisten
dengan strategi bauran pemasaran rumah sakit untuk mencapaitujuannya. Kotler
dan Keller (2009) dalam Syachroni (2012), menyatakan bahwa harga adalah
elemen bauran pemasaran yang dapat menentukan profitabilitas dan juga sebagai
sinyal untuk mengkomunikasikan proporsi nilai suatu produk. Hal yang
diperhatikan dalam penetapan tarif layanan rumah sakit adalah biaya operasional,
keuntungan, saingan dan perubahan keinginan pasar. Irmawati (2015), penentuan
tarif dari jasa pelayanan rumah sakit perlu memperhatikan pangsa pasar sasaran,
adanya pesaing, situasi pasar, biaya operasional yang efisien dan efektif agar nilai
yang dirasakan dari mamfaat produk jasa pelayanan seimbang atau
memuaskanbagi pasien. Perlu juga diperhatikan tentang daftar harga, cara
pembayaran, sistem dan prosedur pembayaran dan lain sebagainya yang akan
memberikan kemudahan untuk konsumen.
Kafa (2013), menyatakan bahwa tarif merupakan biaya yang dibebankan
atas produk atau jumlah dari nilai yang ditukar konsumen atas mamfaat karena
menggunakan produk. Tarif merupakan informasi yang harus disampaikan,
sehingga pasien dapat membandingkan antara pelayanan dengan besarnya tarif.

41
Tarif jasa pelayanan rumah sakit sebaiknya tidak melebihi harga pasaran, karena
mengakibatkan konsumen enggan menggunakan produk kita. Tarif yang rendah
belum tentu merupakan strategi yang baik, karena bisa menimbulkan kerugian
bagi rumah sakit. Perlu dilakukan pengamatan harga terlebih dahulu sebelum
produk masuk pasar. Semakin murah tarif rumah sakit, maka kecenderungan
pasien untuk memilih rumah sakit tersebut akan semakin meningkat.
3. Promotion
Promosi merupakan kegiatan menyampaikan informasi kepada konsumen
tentang produk jasa pelayanan rumah sakit dan mendorong konsumen untuk
menggunkan produk jasa pelayanan rumah sakit. Eavani, F. et al., (2012),
promosi adalah unsur penting dalam bauran pemasaran (marketing mix) karena
berpedoman pada proses memberi informasi, membujuk dan mempengaruhi
konsumen untuk membuat pilihan produk yang akan dibeli. Promosi dilakukan
untuk memperkenalkan suatu produk kepada konsumen.
Promosi dapat dilakukan dengan bauran komunikasi atau pesan-pesan
yang disampaikan oleh perusahaan kepada konsumen. Proses promosi dapat
berupa publikasi atau dapat juga berupa bonus yang diberikan kepada konsumen.
Assauri (2014), promosi merupakan suatu usaha perusahaan untuk
mempengaruhi dan merayu (persuasive communication) calon pembeli, melalui
pemakaian segala unsur acuan pemasaran. Untuk itu perusahaan harus memiliki
strategi promosi yang tepat untuk dapat bersaing. Dapat disimpulkan bahwa
strategi promosi ialah kegiatan yang direncanakan dengan maksud membujuk,
merangsang serta mengingatkan konsumen tentang produk atau jasa yang dijual
agar mau membeli produk perusahaan sehingga tujuan untuk meningkatkan
penjualan diharapkan dapat tercapai.
Kegiatan promosi di rumah sakit merupakan bentuk kegiatan komunikasi
pemasaran yang berusaha untuk menyebarkan informasi, mempengaruhi,
mengingatkan pasar sasaran agar bersedia menerima, serta membeli produk yang
ditawrkan. Semakin banyak promosi tentang fasilitas rumah sakit, maka
masyarakat cenderung memilih rumah sakit tersebut.

42
Strategi marketing mix ini berfokus pada masalah promosi bisnis, seperti
bagaimana cara memasarkan produk, media apa yang digunakan, dan sebagainya.
Promosi merupakan salah satu strategi marketing yang memiliki tujuan, antara
lain:
a. Mengidentifikasi dan menarik konsumen baru.
b. Mengomunikasikan produk baru.
c. Meningkatkan jumlah konsumen untuk produk yang telah dikenal secara
luas.
d. Menginformasikan kepada konsumen tentang peningkatan kualitas
produk.
e. Mengajak konsumen untuk mendatangi tempat penjualan produk.
f. Memotivasi konsumen agar memilih atau membeli suatu produk.
4. Place
Place merupakan posisi tempat penawaran jasa, sehingga berada pada
tempat dan waktu yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Contoh lokasi rs, jd
lokasi rs adalah letak rumah sakit dan jarak jangkauan yang harus ditempuh,
sehingga berdampak pada perhitungan waktu tempuh untuk mencapainya.
Semakin dekat lokasi suatu rumah sakit, semakin banyak pasien yang datang
(Kafa,2013). Place berhubungan dengan proses penyampaian produk kepada
konsumen. Suatu produk tidak akan mempunyai arti apa-apa bagi konsumen
apabila tidak disampaikan atau tidak tersedia pada saat dan tempat yang sesuai.
Jadi dalam konsep ini suatu produk harus mempunyai saluran distribusi yang baik
agar mudah diperoleh konsumen. Saluran distribusi ini meliputi lokasi yang
strategis dan kemudahan dijangkau.
5. People
Personal traits atau beberapa ahli menyebut ahli menyebut dengan people
atau participant merupakan kemampuan dari masing-masing personil dari
penyedia jasa yang akan menentukan kelancaran proses pelayanan karena dalam
pemasaran jasa terjadi interaksi langsung antara konsumen dengan
personilpersonil dari perusahaan penyedia jasa. Petugas yang memberikan
pelayanan kesehatan adalah petugas yang mempunyai kinerja yang baik,

43
bermutu, profesional dan mempunyai komitmen yang tinggi. diantaranya adalah
para tenaga administrasi, dokter, perawat dan bidan, tenaga kebersihan, satpam
dan sopir ambulans. Guna mewujudkan petugas yang profesional dan bermutu
haruslah dimulai dari penerimaan karyawan, pendidikan dan pelatihan terhadap
yang berhubungan langsung dengan konsumen, budaya perusahaan serta yang
berhubungan langsung dengan aktivitas pemasaran (Irmawati,2015).
6. Process
Menurut Putra dan Sulistyawati (2013), bahwa proses melibatkan seluruh
kegiatan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk jasa pelayanan kesehatan
yang terbaik bagi konsumen. Proses pelayanan yang dipahami oleh pelanggan
dan sesuai dengan yang didinginkan akan menentukan bagaimana kepuasan
pelanggannya.
Proses difokuskan pada proses manajemen pelayanan kesehatan.
Keputusan yang diambil dalam proses manajemen akan menentukan
keberhasilan marketing. Proses harus diperhatikan agar tiap-tiap bagian dapat
bekerja sesuai dengan SOP. Dengan meningkatkan pelayanan kesehatan kepada
konsumen sesuai dengan SOP akan mempengaruhi hasil dari pemasaran. Jika
SOP yang dilalui oleh konsumen dalam bertransaksi cukup sederhana dan tidak
merugikan, maka konsumen akan merasa puas serta loyal (Lovelock dan Lauren,
2007)
7. Physical evidence
Physical evidence atau bukti phisik dari perusahaan jasa adalah tempat
dimana pemberi jasa dan konsumen berinteraksi. Bauran lingkungan fisik
didefinisikan sebagai suatu keadaan atau kondisi termasuk didalamnya suasana
tempat pelayanan kesehatan sebagai tempat terjadinya proses jasa layanan Jadi
bukti phisik sangat diperlukan dalam pemasaran jasa mengingat jasa tidak
memiliki wujud. Bukti phisik ini akan mempengaruhi penilaian konsumen
terhadap kualitas jasa yang diberikan. Dalam kenyataannya bauran lingkungan
fisik paling mudah dilihat dan dinilai oleh konsumen karena itu tentunya paling
dahulu dinilai oleh konsumen. Yang termasuk dinilai adalah kondisi ruangan,
kebersihan, kenyamanan, ketenangan, pencahayaan, ventilasi udara, tata letak,

44
pengaturan ruangan, dekorasi dan areal parkir yang luas serta aman. Semua ini
akan dinilai konsumen mulai dari ruang tunggu sampai ruang perawatan.
Lingkungan fasilitas pelayanan membantu membentuk perasaan pelanggan
dengan petugas pelayanan. Semakin baik fasilitas pelayanan yang disediakan,
maka semakin meningkat pula tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh
konsumen. Fasilitas pelayanan memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan dan
loayalitas konsumen (Foster, 2010).

45
KONTEN DAN PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL, PENGGUNAAN
APLIKASI TI, DAN TELEMEDICINE DALAM PELAYANAN
KESEHATAN

A. Definisi

Social media marketing adalah suatu bentuk pemasaran langsung maupun tidak
langsung yang digunakan untuk membangun kesadaran, pengakuan, daya ingat, dan
tindakan untuk merek, bisnis, produk, orang, atau entitas lainnya yang dilakukan dengan
menggunakan alat dari web sosial. Tujuan umum dari pemasaran media sosial adalah
membangun hubungan, membangun merek, publisitas, promosi, dan riset pasar (Genelius
,2011).
Perkembangan media sosial telah berdampak pada cara berkomunikasi
perusahaan. Munculnya web 2.0 bahkan web 3.0 telah mendorong perusahaan untuk
berbagi informasi secara lebih terbuka dengan pelanggannya, sehingga berkembanglah
pemahaman mengenai pentingnya social media marketing (Priansa, 2017).
Social media marketing adalah bentuk pemasaran langsung atau tidak langsung
yang digunakan untuk membangun kesadaran, pengakuan, ingat dan tindakan untuk
merek, bisnis, produk, orang atau badan lain dan digunakan menggunakan alatalat dari
web sosial, seperti blogging, mikrobloging, jejaring sosial, bookmark sosial, dan konten.
Social media marketing menawarkan kesempatan besar untuk pengusaha, usaha kecil,
perusahaan menengah, dan perusahaan besar untuk membangun merek dan bisnis mereka
(Genelius, 2011).
Penggunaan media sosial untuk pemasaran meliputi, seluruh interaksi dan
perubahan sistem informasi terbaru yang terus menerus harus dikendalikan,
direncanakan, dikelola untuk mendapatkan hasil yang optimal. Secara teori seperti yang
dikemukakan Pakuningjat, pengelolaan media sosial secara teknis yang terpenting pada
dasarnya adalah mengatur perencanaan, aktivasi dan pengawasan serta optimalisasi.
Pemasaran produk melalui media sosial merupakan tantangan tersendiri, karena calon
konsumen tidak melihat secara langsung kondisi fisik produk, oleh sebab itu diperlukan
adanya pengelolaan dalam melakukan pemasaran melalui media sosial.

46
B. Proses pengelolaan media sosial
Proses pengelolaan media sosial dimulai dari perencanaan, aktivasi dan
pengawasan serta optimaliasi yang sesuai dengan teori Paramitha (2015). Berikut adalah
rincian proses pengelolaan media sosial :
1. Perencanaan Usaha dimulai dari pemilihan strategi komunikasi pemasaran melalui
media sosial karena pola interaksi masyarakat saat ini yang lebih sering
menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Pada proses perencanaan juga
menentukan siapa yang akan menjadi target konsumen. Target konsumen yang
dipilih adalah generasi millennial yang menggunakan media sosial. Pemilihan target
konsumen mempengaruhi bentuk media sosial yang akan digunakan, konten yang
akan dibangun dan informasi yang akan disampaikan. Pemilik usaha melakukan
pengamatan terlebih dahulu mengenai media sosial yang paling banyak digunakan,
seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Berdasarkan pengamatan tersebut media
sosial yang terpilih dan cocok untuk pemasaran adalah Instagram. Konten yang
dibangun dan informasi yang akan disampaikan di Instagram menyesuaikan dengan
trend dan karakteristik pengguna media sosial Instagram.
2. Aktivasi dan Pengawasan Pada tahap ini menentukan informasi yang akan
disampaikan dan menentukan konten pembeda apa yang membedakannya dari usaha
sejenis yang melakukan pemasaran melalui media social seperti instagram.
Informasi yang disampaikan terdiri dari informasi produk atau pealyanan , cara
pendaftaran dan pemesanan, manfaat, jenis-jenis produk dan pelayanan, kualitas dan
pelayanan yang ditawarkan. Hal pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan
konten adalah menentukan tema kemudian membuat konten (gambar atau video)
yang sesuai. Pada satu tema, content creator membuat beberapa konten (gambar atau
video) yang kemudian diberikan kepada WA sebagai decision maker untuk dinilai.
Dari beberapa konten yang dibuat oleh content creator tidak semua akan diunggah
dimedia sosial. Konten yang akan diunggah adalah konten yang menurut penilaian
decision maker bagus, menarik dan sesuai dengan pesan yang akan disampaikan
bersama dengan gambar atau video. Proses selanjutnya yang masih termasuk dalam
tahap aktivasi dan pengawasan adalah cara tim mengelola dan menempatkan pesan-
pesan ke dalam media sosial. Sebelum mengunggah konten yang berisi pesan di

47
media sosial dibandingkan kembali dengan penawarann lain yang sudah ada di media
sosial kemudian didiskusikan kembali. Fitur Instagram yang digunakan untuk
menyampaikan pesan adalah insta story dan unggah foto. Pesan merupakan
rangkaian kata yang menjadi informasi dan disertai gambar atau video.
3. Optimalisasi Tahap akhir pengelolaan media sosial adalah optimalisasi. Pada proses
ini dilakukan evaluasi konten. Evaluasi ini dilakukan oleh pemilik usaha dan admin
Instagram. Pada umumnya, proses untuk evaluasi agar dapat terukur, digunakan SEO
(Search Engine Optimization).

PENGGUNAAN APLIKASI TI DAN TELEMEDICINE


A. DEFINISI

Telemedika adalah perubahan dan tantangan terbesar yang akan mempengaruhi


penyediaan layanan kesehatan secara mendalam pada abad ke 21 ini. Hal ini adalah
sebuah kegiatan multidisiplin ilmu yang membutuhkan keahlian dari bidang
telekomunikasi, perawatan kesehatan dan teknologi informasi. Teknologi telemedika
dapat membantu penderita penyakit serta lembaga kesehatan untuk saling berbagi
informasi dengan mudah dan cepat. Dewasa ini kemajuan dunia Information and
Communication Technology (ICT) yang berbasis komputer telah berkembang dan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia kesehatan. Penggunaan teknologi pada
dunia kesehatan seperti sistem pelaporan dan dokumentasi, registrasi, pembayaran, sistem
pelayanan kesehatan langsung seperti monitoring pasien dan pemberian obat, menjadi
lebih mudah, cepat dan akurat dengan adanya perkembangan teknologi yang ada.
Selama ini baik di puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) maupun rumah sakit
di Indonesia pada khususnya, pelayanan rekam medisnya masih dilakukan secara manual
yaitu berbasis kertas (paper based document). Hal tersebut secara tidak langsung akan
membebani kinerja tim medis yang seharusnya hanya memeriksa dan merawat pasien,
namun mereka juga harus campur tangan masalah manajemen data rekam medis. Hal
tersebut menyebabkan tim medis tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan pada
akhirnya sering muncul kasus atas keluhan pasien mengenai buruknya pelayanan suatu
pusat kesehatan masyarakat.
Telemedika di Indonesia sudah berkembang cukup signifikan belakangan ini.

48
Penggunakan telemedika di Indonesia telah dimulai sejak tahun 90an. Pada era tersebut,
perkembangan dunia telemedika masih menggunakan teknologi telepon standar. Di era
sekarang telemedika sudah berkembang lebih pesat. Penggunaan ICT dalam dunia
telemedika tidak terbatas pada saat pasien di rawat di ruangan. Makin berkembangnya
dunia telemedika dan makin banyaknya pemilik ICT dan alat pendukungnya, makin
luasnya area jangkauan ICT dalam dunia telemedika merupakan suatu tantangan dan
sekaligus peluang dalam mendukung upaya pelayanan kesehatan bagi pasien.

B. TERMINOLOGI
Telemedika adalah praktik kesehatan dengan memakai komunikasi audio visual
dan data. termasuk perawatan, diagnosis, konsultasi dan pengobatan serta pertukaran data
medis dan diskusi ilmiah jarak jauh. Telemedika memiliki cakupan yang luas, meliputi
penyediaan pelayanan kesehatan (termasuk klinis, pendidikan dan pelayanan
administrasi) jarak jauh, melalui transfer informasi (audio, video, grafik), dengan
menggunakan perangkat–perangkat telekomunikasi (audio-video interaktif dua arah,
komputer, dan telemetri) dengan melibatkan dokter, pasien dan pihak-pihak lain.
Menurut Fong, istilah telemedika berasal dari deskripsi sederhana yaitu kata 'tele'
yang berarti jarak atau jauh dari bahasa Yunani, sehingga telemedika adalah memberikan
pelayanan kesehatan dari jarak jauh.

A. Tipe-Tipe Telemedika
Benang merah dari semua aplikasi telemedika adalah seorang klien dari beberapa
jenis (seperti pasien atau para pekerja kesehatan) memperoleh pendapat dari seseorang
yang memiliki keahlian lebih di dalam bidang nya yang relevan, ketika pihak-pihak
tersebut dipisahkan dalam ruang, dalam waktu maupun keduanya. Telemedika dapat
diklasifikasikan atas dasar :

• Interaksi antara klien dan ahli, dan


• Jenis informasi yang ditranmisikan

49
Jenis interaksi biasanya diklasifikasikan sebagi proses perekaman yang dilalukan
real-time atau tersinkronisasi. Pada saat terdahulu, informasi diperoleh dan disimpan
dalam beberapa format, sebelum dikirim, oleh sarana yang tepat, untuk interpretasi
seorang ahli pad beberapa waktu kemudian. Email adalah metode untuk penyimpanan
dan pengintegrasian. Secara kontras, dalam interaksi realtime, tidak ada penundaan yang
cukup antara informasi yang dikumpulkan, ditransmisikan dan ditampilkan. Komunikasi
interaktif antara masing-masing individu pada suatu tempat sangat dimungkinkan. Video
Conference adalah metode yang paling umum dari sebuah interaksi realtime.

Gambar 1. Klasifikasi sistem untuk bagian telemedika

Informasi yang ditransmisikan antara dua buah lokasi dapat berwujud dalam
berbagai bentuk, diantaranya adalah data dan teks, audio, gambar dan video.
Mengkombinasikan tipe interaksi dan tipe dari informasi untuk ditransmisikan
menjadikan telemedika diklasifikasikan seperti gambar 1. Pada beberapa aplikasi, seperti
teleradiologi, sebuah teknik yang melibatkan transmisi dari radiograf digital antara
institusi satu dengan yang lain, hal ini dimungkinkan untuk sebuah interaksi untuk
dilakukan dalam perekaman sebelumnya maupun secara realtime; persyaratan terakhir
dimana seorang ahli bersedia untuk memberikan opini nya sebagai sebuah gambar yang
diambil dan ditransmisikan.

Menurut relasi diantara para petugas kesehatan satu dengan yang lain dan pasien,
Nakajima, et. al telah mendefinisikan klasifikasi metode untuk dunia telemedika.
Pengklasifikasian sesuai dari titik awal dari relasi antara sebuah kegiatan operasi medis
dan hukum yang berlaku. Pengklasifikasian dibagi menjadi :
• Dokter dengan dokter (opini kedua) Perawat dengan dokter (Telekonsultasi)
• Pasien dengan dokter (Perawatan pasien secara langsung atau observasi medis

50
jarak jauh
• Pasien dengan perawat (Telehomecare)
• Pasien dengan apoteker (Telefarmasi)

Gambar1. Klasifikasi Telemedika


Istilah dari opini kedua merujuk pada pertanyaan sang dokter untuk saran dan
konsultasi dengan seorang spesialis kesehatan dengan menggunakan jalur telekomunikasi
seperti telepatologi dan teleradiologi. Opini kedua dapat termasuk didalam nya pengertian
yang lebih luas dari istilah konsultasi. Sementara itu, Pelayanan Pasien Secara Langsung
(Direct Patient Care atau DPC) atau Observasi Medis Jarak Jauh (Remote Medical
Observation atau RMO) didefinisikan sebagai penggunaan jalur telekomunikasi secara
langsung untuk memeriksa seorang pasien. Aplikasi DPC atau RMO diperbolehkan
selama memenuhi persyaratan yang ada. Sebagai contoh, DPC di Jepang
dipertimbangkan sebagai layanan penyembuhan medis ketika dua kondisi berikut
diadakan, yaitu seorang pasien dalam keadaan stabil dengan penyakit kronis dilakukan
pemeriksaan ulang dan pasien berada di pulau terpencil atau di area yang terisolasi atau
dalam keadaan darurat dan disana tidak terdapat alternatif lain. Aturan dasar yang
diaplikasikan dalam pemeriksaan dan hubungan dokter-pasien adalah bahwa dokter
mengadakan pemeriksaan pasien dengan bertatap muka. Lebih lanjut, DPC melalui
penggunaan jalur telekomunikasi tersebut dipertimbangkan untuk melengkapi
pemeriksaan dengan bertatap muka. Sebagai tambahan pada klasifikasi yang telah

51
dispesifikan diatas, seorang perawat berusaha untuk memeriksa status kesehatan dari
pasien home-care yang diklasifikasikan sebagai telehomecare dan layanan yang berelasi
pada semua aspek dari resep dan layanan antar obat diklasifikasikan sebagai layanan
telefarmasi.

C. PERKEMBANGAN TELEMEDIKA
Penggunaan telemedika menawarkan peluang yang sangat besar secara umum,
telemedika dapat menjadi lebih bermanfaat bagi negara berkembang dimana akses pada
palayanan dasar mendapat perhatian terutama. Salah satu peluang terbesar dibidang
telemedika saat ini adalah bertambah besarnya akses pada layanan kesehatan.
Menyediakan akses layanan kesehatan bagi populasi negara – negara berkembang sangat
memiliki potensi yang besar untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi
sebelumnya dan secara positif berdampak pada pelayanan kesehatan selanjutnya.
Berbagai perkembangan teknologi telemedika telah dilakukan cukup lama, bahkan saat
ini pengembangannya masih terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Pengembangan
telemedika di dunia telah berpengaruh pada layanan kesehatan saat ini, dan bahkan sangat
memengaruhi perkembangan telemedika di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

a) Perkembangan Telemedika di Dunia

Perkembangan telemedika telah denganjelas terjadi sekitar 20-30 tahun terakhir


seiring dengan adanya kemajuan dalam bidang teknologi informasi di dunia. Sejarah awal
telemedika jauh lebih tua dari perkembangan telemedika saat ini. Aktivitas medis
dilakukan dengan adanya perbedaan jarak, dan dengan berbagai informasi yang
ditransmisikan di dalamnya.

Telemedika dalam bentuk modern dimulai pada tahun 1960-an dalam bagian
besar yang didorong oleh kemajuan teknologi di sektor kemiliteran dan ruang angkasa,
serta adanya beberapa individu yang menggunakan berbagai peralatan teknologi
komersial yang tersedia. Contoh tonggak awal dari perkembangan telemedika termasuk
didalamnya adalah penggunaan televisi untuk memfasilitasi antara spesialis di lembaga
psikiatri dandokter umum di sebuah rumah sakit jiwa milik negara, dan ketentuan nasihat
dari ahli kesehatan dari rumah sakit untuk pendidikan ke pusat medis bandara.

52
Kemajuan terbaru, peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan teknologi informasi oleh
populasi di dunia secara umum telah telah menjadi pengaruh besar dari dunia telemedika
dilebih dari satu dekade yang lalu, secara cepat telah menciptakan kemungkinan baru
untuk layanan kesehatan. Penggantian dari form isian analog untuk mengkomunikasikan
dengan metode digital, dikombinasikan dengan penurunan drastis terhadap biaya dari
teknologi informasi dan komunikasi, telah memicu ketertarikan yang luas di dalam
pengaplikasian telemedika diantarakesehatan untuk membayangkan dan
mengimplementasikan langkah baru dan lebih efisien dalam menyediakan pelayanan.
Perkenalan dan pempopuleran dari penggunaan internet telah secara lebih maju
mempercepat langkah perkembangan dunia teknologi dan informasi, begitupula
mengembangkan cakupan dari telemedika untuk mencakup aplikasi berbasis web (seperti
email, telekonsultasi dan seminar melalui internet) dan pendekatan multimedia (seperti
penggambaran digital dan video). Perkembangan-perkembangan ini telah memimpin
pembuatan dari permadani aplikasi telemedika yang kaya yang dunia akan gunakan.

b) Perkembangan Telemedika di Indonesia

Di Indonesia sudah mulai menggunakantelemedika sejak tahun 90an, dan saat ini
telah mengalami perkembangan yang signifikan. Berkembangnya beragam aplikasi
sistem telemedika berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia
semakin mempermudah penyelesaian masalah nyata yang dihadapi dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan masyarakat. Namun, sejauh ini banyak aplikasi telemedika yang
dikembangkan di Indonesia hanya digunakan untuk keperluan pendidikan dan belum
diterapkan di bidang medis pemerintahan. Berikut ini merupakan pembahasan singkat
tentang beberapa sistem telemedika dan e-health serta beragam aplikasinya yang telah
dilakukan dan dikembangkan di Indonesia.

1) Telenursing
Telenursing adalah penggunaan teknologi dalam keperawatan untuk
meningkatkan perawatan bagi pasien. Telenursing memudahkan dalam
memperoleh pelayanan kesehatan jarak jauh melalui video conference, video
phone, dan sebagainya sehingga dapat dijangkau oleh pasien dengan kendala jarak

53
jauh, pasien lansia, pasien penyakit kronis yang dirawat dirumah, dan lain-lain.
Penerapan telenursing paling banyak adalah melalui telepon dalam triase dan
home care. Dalam praktek telenursing, perawat tetap melaksanakan tahapan
proses keperawatan yaitu perawat terus mengkaji pasien, menentukan dignosis
keperawatan, merencanakan intervensi dan mengevaluasi hasil asuhan
keperawatan, yang dilakukan dengan menggunakan teknologi moderen seperti
internet, komputer, telepon, alat penilaian digital dan peralatan telemonitoring.
Telenursing dalam keperawatan banyak diterapkan di negara-negara maju
seperti Amerika, Kanada, Australia dan Inggris, sementara penerapan telenursing
di Indonesia masih terbatas di bidang pendidikan. Hal ini lebih disebabkan karena
infrastruktur yang belum memadai, di Indonesia belum memiliki kompetensi
telehealth sebagai aspek legal dalam memberikan perawatan kepada pasiendan
belum adanya sistem keamanan yang menjamin kerahasiaan data pasien dalam
penerapan telenursing. Di Indonesia, telenursing sejauh ini dikembangkan untuk
keperluan pendidikan.

2) Sistem Telemedika Puskesmas


Sejak tahun 1997, Program Studi Teknik Biomedis - Institut Teknologi
Bandung (ITB) telah memusatkan usahanya dalam pengembangan dan
implementasi ICT berbasis telemedika dan e-health systems untuk pelayanan
kesehatan masyarakat. Sistem telemedika ini terdiri dari beberapa PC sebagai
stasiun medis yang tehubung dengan suatu jaringan lokal (LAN) atau internet.
Sistem telemedika puskesmas ini berfungsi untuk melakukan pencatatan dan
pelaporan data, telekonsultasi, telekoordinasi, telediagnosis sederhana pada
suatum puskesmas[1.

3) Sistem Telemedika untuk Pengelolaan Wabah


Untuk membantu pelaksanaan pengelolaan (manajemen) wabah (outbreak
management, biosurveillance), dapat digunakan sistem e-health: berbasis web
(internet), berbasis jaringan telepon selular, dankombinasi keduanya. Sistem
telemedika manajemen wabah ini terdiri dari sebuah stasiun monitor (komputer
dengan perangkat lunak aplikasi dan basis data), sejumlah stasiun pelapor, dan

54
jaringan telekomunikasi berupa jaringan internet dan/atau jaringan telepon selular

Gambar2. Diagram blok sederhana sistem ehealthberbasis web, untuk pengelolaan


wabah
4) Sistem Resep Elektronik (e-Prescription System)
Perangkat keras sistem resepelektronik dapat terdiri atas sebuah
komputer PC sampai ke suatu jaringan komputer dengan sejumlah PC yang
terhubung dalam suatu jaringan lokal (local area network, LAN). Gambar
4menunjukkan diagram blok sistem resep elektronik dengan 8 buah komputer,
yang telah digunakan di puskesmas Babakan Sari di Bandung. Sistem resep
elektronik ini pada dasarnya berfungsi sebagai sistem pencatatan, pengolahan dan
pelaporan data pasien dan data obat (electronic medical record = EMR),
diintegrasikan dengan suatu modul perangkat lunak resep elektronik. Perangkat
lunak modul resep elektronik terutama berfungsi untuk: memberikan informasi
farmakologi tentang setiap obat yang tersedia, melakukan test reaksi obat
merugikan, melakukan test duplikasi obat, membantu perhitungan dosis obat,
melakukan proses administrasi penggunaan dan pelaporan obat.

55
Gambar3. Sistem Registrasi & Identifikasi Pasien Berbasis Biometrik
5) Sistem e-Health untuk Manajemen Penyakit TBC
Sistem e-health untuk manajemen penyakit TBC ini dikembangkan
berbasis internet dan mobile phone yang dapat digunakan untuk mengelola pasien
TBC di puskesmas atau di rumah sakit. Sistem e-health berupa modul perangkat
lunak ini dikembangkan dengan tiga fungsi utama, yaitu: pencatatan dan
pelaporan data pasien TBC, basis data pasien TBC berbasis web,dan system
pengiriman pesan singkat melalui jaringan telepon selular sebagai pengingat
jadwal pengobatan pasien selama 6 bulan. Perangkat keras system ini terdiri dari
computer dan mikroskop digital sederhana. Prosedur baku penanganan TBC yaitu
DOTS (directly observed treatment short-course) digunakan untuk mendukung
proses diagnosis dan terapi pasien TBC. Dengan adanya system ini diharapkan
dapat mengurangi jumlah pasien TBC yang tidak melanjutkan pengobatannya
karena beberapa faktor yang mempengaruhi, sehingga pasien TBC dapat
mengikuti sampai tahap akhir terapi pengobatannya.

6) Sistem m-Health (Mobile e-Health)


Sistem ehealth jenis ini mengutamakan penggunaan jaringan telepon
selular, yang di banyak negara makin berkembang pesat, dengan jumlah pengguna
yang terus meningkat, serta biaya yang makin terjangkau. Peningkatan jumlah dan
jenis aplikasi telepon selular di sisi teknologi, dapat memberikan berbagai jenis
inovasi untuk pengembangan aplikasi pelayanan kesehatan masyarakat. Kunci

56
utama pengembangan system m- health ini adalah: pemahaman yang baik tentang
pelayanan kesehatan berikut permasalahannya, fasilitas (features) teknologi dan
infrastruktur jaringan yang tersedia, kerjasama sinergis berbagai pihak, serta
inovasi yang dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan. Berbagai jenis
aplikasi yang telah dikembangkan berbagai fihak misalnya: portable &
ambulatory ECG, EEG, temperatur; berbagai aplikasi berbasis SMS, sistem
pencatatan & pelaporan dan monitoring. Selain itu, juga berbagai jenis aplikasi
sistem m-Health untuk pengelolan kesehatan ibu dan anak, serta Sistem Informasi
Pelayanan Kesehatan Masyarakat (SIPKM).
7) Sistem e-Psychology (Cyber Psychology)

Berbagai jenis sistem komunikasi berbasis internet yang bersifat interaktif


makin banyak tersedia secara “gratis” (misalnya: e-mail, Yahoo Messenger,
Skype). Tergantung pada jenis aplikasi dan situasi pada saat tertentu, fasilitas
tersebut dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan beberapa macam konsultasi
psikologi dalam batas-batas tertentu. Tahap awal uji-coba sistem e- psychology
telah dilakukan dengan hasil yang cukup baik, meskipun langkah perbaikan lebih
lanjut perlu dilakukan.

c) TREN MASA DEPAN TELEMEDIKA

Berkembangnya jenis perawatan, semakin bertambahnya populasi manusia


dan bertambahnya masyarakat dunia yang mengalami penyakit kronis menyebabkan
dibutuhkannya sumber daya yang banyak agar dapat menanggulangi (menutupi)
kebutuhan tersebut. Dengan adanya teknologi telemedika yang terbaru dapat
membantu petugas medis dalam merawat, memberikan pelayanan medis dan
menanggulangi masalah tersebut. Perbaikan teknologi telemedika disarankan agar
mendapatkan framework yang lebih baik sehingga menghasilkan pengetahuan yang
relevan dan mendapatkan solusi yang lebih spesifik. Alasan - alasan tersebut
merupakan bukti bahwa telemedika sangat memiliki peluang untuk dikembangkan
sehingga kedepannya akan banyak sekali aplikasi dari teknologi telemedika yang akan
muncul.

57
Untuk mengetahui kesehatan dari seorang pasien dapat dilakukan observasi
mudah dengan melakukan obseravsi kegiatan rutin sehari - hari dari pasien. Aplikasi
ODL mendukung kegiatan observasi tersebut. Sehingga setiap pasien memiliki data
kesehatan secara personal (Personal Health Record). Dalam aplikasis store and
forward, lebih banyak menggunakan media seperti, gambar, audio, dan video.
Observasi kehidupan sehari -hari dan data klink pasien akan diambil dan disimpan di
dalam komputer atau mobile device si pasien. Nantinya data tersebut akan
ditransmisikan secara aman ke lokasi pihak spesialis yang akan mempelajari data
tersebut. Aplikasi Real-Time mungkin yang menjadi tren saat ini. Aplikasi ini
memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah secara langsung menggunakan audio
dan video dalam komunikasi tersebut. Video call dan tele- conference merupakan
beberapa bentuk dari aplikasi real-time ini.
Dari penjelasan di atas, beberapa contoh aplikasi Telehealth di masa depan
memungkinkan alat observasi ditempatkan ke dalam tubuh si pasien sehingga
mendapatkan hasil observasi (informasi kesehatan pasien) lebih cepat dan tepat.
Ilmuwan Universitas Stanford telah mendemonstrasikan sebuah alat yang cukup
kecil ‘berenang’ melalui vena. US Food and Drug Administration juga membenarkan
bahwa microchip dapat ditambahkan ke dalam pil sehingga dapat melakukan
pengawasan secara langsung kepada pasien. Berdasarkan informasi yang didapat,
Telenursing merupakan tren dan isu pelayanan keperawatan di Indonesia di tahun
2020 mendatang. Telenursing telah diterapkan di negara maju dan menurut beberapa
penelitian menunjukan bahwa, Telenursing dapat meningkatkan kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan melalui
telenursing dinilai lebih efektif dan efisien karena pesatnya perkembangan dan
kemudahan akses teknologi informasi saat ini, sehingga kualitas dari pelayanan
kesehatan yang profesional dapat dirasakan oleh masyarakat.
Penerapan telemedika di Indonesia dirasa membutuhkan waktu yang cukup
lama. Hal tersebut timbul karena terdapat beberapa kendala yang harus diselesaikan
secara matang, seperti infrastuktur, aspek legal dan keamanan. Infrastruktur untuk
beberapa daerah kecil di Indonesia masih dirasa belum memadai, seperti akses
jaringan listrik yang belum teratur. Meninjau dari belum memadainya pengadaan

58
infrastruktur secara umum, maka begitupun yang terjadi dalam hal kurang
memadainya infrastruktur bagi telemedika. Untuk aspek legal, di Indonesia masih
belum memiliki undang – undang yang pasti mengatur penggunaan telemedika,
namun yang ada saat ini hanya pengaturan undang – undang terkait telematika secara
umum. Masalah keamanan pun menjadi pertimbangan, dikarenakan kemungkinan
pencurian data pasien yang dapat dilakukan melalui media internet sangatlah besar.

59
DAFTAR PUSTAKA

Alex S. Nitisemito. (1995). Marketing. Yogyakarta: Ghalia Indonesia

Alma, Bukhari. 2000. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Jakarta: Alfabeta

Assauri, Sofjan. 2014. Manajemen Pemasaran Dasar, Konsep, dan Strategi. Cetakan
Ketiga Belas. PT RajaGravindo Persada. Jakarta

Ayuningtyas, Dumilah. 2014. e-book Buku Kebijakan Kesehatan, Prinsip dan Praktik.
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Basu Swastha DH, Irawan. (1997) Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty

Budi S, dkk. 2015.Perkembangan dan Masa Depan Telemedika di Indoesia. Departemen


Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Universitas Gajah Mada.Yogyakarta

Buchari A, 2005. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, Alfabeta, Bandung

Cravens, David W. 1996. Pemasaran Strategis. Jakarta : Erlangga

Eavani, F et al (2012), Marketing mix: a critical review of the concept. Elixir International
Journal, vol.49, Iran

Foster, 2010. Pengaruh Kinerja Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Loyalitas Penabung,
Survei di Bank Central Asia Cabang Soekarno Hatta Bandung. E-Journal, 2010.
Vol. 18 (1)

Galama, T., & Kapteyn, A. 2011. Grossman’s Missing Health Threshold. Journal Of
Health Economics, 30, 1044–1056

Genelius, Susan. 2011. 30-Minute Social Media Marketing. United States: McGraw-Hill

60
Companies

Goenadhi, Lydia. 2011. “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam


Keputusan Pembelian Mobil Toyota Avanza di Kota Banjarmasin”. Jurnal
Manajemen dan Akutansi, Vol. 12, No.2

Grossman, M. 1972. On The Concept Of Health Capital And The Demand For Health.
The Journal Of Political Economy 80(2):223–255

Grossman, M. 2000. The Human Capital Model. In Handbook Of Health Economics

Gunara T. 2007. Marketing Muhammad“Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi
Muhammad saw”. Bandung: Masania Prima, 31

Haning, Eriska, Ira Ummu Aimanah, Thinni Nurul Rochmah. 2018. Analisis Need dan
Demand Pelayanan Kesehatan Pada Puskesmas Siwalankerto Kota Surabaya di
Era Jkn. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 21(3): 172–179

Herlina, N., Adhani, R. and Heriyani, F. 2016. Gambaran Dan Permintaan Pasien
Terhadap Fasyankes Gigi Di Puskesmas Kota Banjarmasin, JurnalKedokteran
Gigi, I(1), pp. 75–82.

Hermann, et, al. 2007. The Social Influence Of Brand Community : Evidence From
European Car Clubs. Journal Marketing . Vol 69, 1

Irmawati, L.I. 2015. Manajemen Pemasaran di Rumah Sakit, Buku Ajar : Pedoman
Praktis SI. Jakarta : Institut Ilmu Kesehatan – university Press

Kafa, R. 2013. Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Keputusan Pasien Dalam
Memilih Jasa Rumah Sakit. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam. Vol.8 (1)

61
Kasali, R. 2003. Manajemen Public Relations. Grafiti, Jakarta.Kotler, P. and N Lee.
2005. Corporate Social Responsibility: Doing The Most Good for Your Company
and Your Cause. John Wiley & Sons Inc, New Jersey.

Kertajaya, Hermawan. 2015. Tourism Marketing 3.0. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama.

Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan


Pengendalian. Terjemahan Adi Zakaria Afiff. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia

Kotler P and Gary A, 1999. Principles of Marketing, Prentice Hall International Inc, New
Jersey

Kotler, Philip. Susanto A.B. 2000. Manajemen Pemasaran di Indonesia, Edisi pertama,
Jakarta: Salemba Empat

Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 2001. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi kedelapan
jilid 2. Jakarta : Erlangga. hal. 14

Kotler, Philip. K.L. Keller. 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga

Kotler,Philip., G. Armstrong. 2004. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga

Kotler Philip, Manajemen Pemasaran, Edisi kesebelas, Jilid 2. Jakarta: Gramedia, 2005.
hal.139.

Kotler, Philip dan Amstrong, Gary. 2005. Dasar – dasar Pemasaran. Jakarta : Prehallindo.
Hal 452

Kotler P dan Keller K L. 2008. Manajemen Pemasaran Edisi Ketiga Belas Jilid 1. Jakarta:
Erlangga, 332

62
Kotler, P., & Armstrong, G. (2011). Principles of Marketing. Pearson

Lupiyoadi, Rambat dan A. Hamdani. 2008. Manajemen Pemasaran Jasa. Yogyakarta: PT


Salemba Empat

Lovelock, Chistopher & Lauren, 2007. Manajemen Pemasaran. Edisi Ke-12. Jakarta,
PT.Indeks.

Mandala Manurung Dan Prathama Rahardja. 2002. Pengantar Ilmu Ekonomi. Jakarta:
LPFE-UI

Mullner, R. M. 2009. Grossman, Michael. In Encyclopedia Of Health Services Research

Pakuningjati, Anindita Lintang. 2015. Penglolaan Media Sosial dalam Mewujudkan


Good Governance (Studi Kasus Pengelolaan Media Sosial LAPOR! Sebagai
Sarana Aspirasi dan Pengaduan Rakyat secara Online oleh Deputi I Kantor Staf
Presiden) [Skripsi] Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta

Palmer, A. 2001. Principles of Services Marketing (3rd ed.). UK: McGraw-Hill


Publishing Company. Eavani, F et al (2012), Marketing mix: a critical review of
the concept. Elixir International Journal, vol. 49, Iran

Panglaykim, J. (1993). Pemasaran (Marketing) dan Bisnis. Yogyakarta: Andi Offset

Priansa, Donni Juni. 2017. Komunikasi Pemasaran Terpadu pada era media sosial. CV.
Pustaka Setia: Bandung

63
Radiosunu. (1993). Manajemen Pemasaran, Suatu Pendekatan Analisis.
Yogyakarta: BPFE.

Saladin D. 2006. Manajemen Pemasaran. Bandung: Linda Karya

Suprihanto, John. 1999. Segmentasi Pelayanan Kesehatan: Suatu Tinjauan Teoritis.


Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2(4): 163-169

Suryawati Dan Maryati. 2003. Sosiologi 1. Jakarta : Erlangga

Swastha, Basu dan Irawan. 1997. Manajemen Pemasaran Modern. Cetakan Kelima.
Yogyakarta:Liberty

Syachroni, A. 2012. Pengaruh Biaya Bauran Promosi Terhadap Volume Penjualan


Rumah Metland Tambun Pada PT. Metropolitan Land Terbuka. Universitas
Gunadarma, Jakarta.

Tjiptono, Fandi. 2004. Pemasaran Jasa. Malang : Bayumedia Publishing. 178

Ulus, AA. 2013. Bauran Pemasaran Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian


Mobil Daihatsu Pada PT. Astra Internasional Manado. Jurnal MBA. Vol. 1
No. 4

Yuliana. 2009. “Analisis Pengaruh Citra Rumah Salit dan Kepuasan terhadap
Loyalitas Pelanggan Study Kasus pada RS. PKU Muhammadiyah Delanggu
Klaten”. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta