Anda di halaman 1dari 96

ILMU KEDOKTERAN GIGI MASYARAKAT

TUGAS DISKUSI MANAJEMEN PEMASARAN DI PELAYANAN


KESEHATAN

drg. Surartono Dwiatmoko, M.M

KELOMPOK 3A

1. Dimas Ananta .K. (091611101091)


2. Arwinda Hening .P. (141611101010)
3. Zulfah Al-Fa’izah (141611101017)
4. Anindhita Virliana .J. (141611101029)
5. An-Nisaa Dejand .F. (141611101034)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2020

1
PERTEMUAN 1
PERTANYAAN :
1. Pengertian Produk
2. Lima Tingkatan Produk
3. Klasifikasi Produk menurut Kotler
Menurut Kotler (2002), ”barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk
kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan
bisnis”.
4. 4 Jenis barang konsumen
5. Kualitas produk
6. Dimensi Kualitas Produk
7. Perbedaan Barang dan Jasa

JAWAB :
Dimas Ananta (09-91)
Pengertian Produk
a. Menurut Kotler product is anything that can be offered to a market for attention,
acquisition, use or consumption and that might satisfy a want or need”. Artinya
produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian,
dibeli, dipergunakan dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
konsumen.
b. Menurut Stanton, (1996:222), “A product is asset of tangible and intangible attributes,
including packaging, color, price quality and brand plus the services and reputation of
the seller”. Artinya suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata
maupun tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk
ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.
c. Menurut Tjiptono (1999:95) secara konseptual produk adalah pemahaman subyektif
dari produsen atas “sesuatu” yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai
tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai
dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli.

(Menambahkan No 1 Zulfah NIM: 14-17)


Definisi produk menurut Kotler dan Armstrong (2000) adalah sebagai berikut:

2
Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat perhatian, dibeli,
dipergunakan, atau dikonsumsi dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan.

(Arwinda 14-10)
Lima Tingkatan Produk:
a. Core benefit (namely the fundamental service of benefit that costumer really buying)
yaitu manfaat dasar dari suatu produk yag ditawarkan kepada konsumen.
b. Basic product (namely a basic version of the product) yaitu bentuk dasar dari suatu
produk yang dapat dirasakan oleh panca indra.
c. Expected product (namely a set of attributes and conditions that the buyers normally
expect and agree to when they purchase this product) yaitu serangkaian atribut-atribut produk
dan kondisi-kondisi yang diharapkan oleh pembeli pada saat membeli suatu produk.
d. Augmented product (namely that one includes additional service and benefit that
distinguish the company’s offer from competitor’s offer) yaitu sesuatu yang membedakan
antara produk yang ditawarkan oleh badan usaha dengan produk yang ditawarkan oleh
pesaing.
e. Potential product (namely all of the argumentations and transformations that this
product that ultimately undergo in the future) yaitu semua argumentasi dan perubahan bentuk
yang dialami oleh suatu produk dimasa datang

Klasifikasi Produk menurut Kotler


- Berdasarkan wujudnya
- Berdasarkan aspek daya tahannya
- Berdasarkan tujuan konsumsi
(Zulfah 14-17 Menjawab no 3)
Banyak klasifikasi suatu produk yang dikemukakan ahli pemasaran, diantaranya pendapat
yang dikemukakan oleh Kotler. Menurut Kotler (2002,p.451), produk dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama,
yaitu :
a) Barang : Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau
disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
b) Jasa : Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual
(dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan
sebagainya. Kotler (2002, p.486) juga mendefinisikan jasa sebagai berikut : “ Jasa adalah

3
setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang
pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya
dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.
2. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Barang tidak tahan lama (nondurable goods): Barang tidak tahan lama adalah barang
berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan
kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun.
Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng dan sebagainya.
b. Barang tahan lama (durable goods) : Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang
biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian
normal adalah satu tahun lebih). Contohnya lemari es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain.
3. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu didasarkan pada siapa konsumennya dan untuk apa
produk itu dikonsumsi, maka produk diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a) Barang konsumsi (consumer’s goods) : Barang konsumsi merupakan suatu produk yang
langsung dapat dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat
dari produk tersebut.
b) Barang industri (industrial’s goods) : Barang industri merupakan suatu jenis produk yang
masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu.
Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali.

(Anindhita 14-29 menambahkan)


Produk industri dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian:
1. Bahan Baku dan Suku Cadang (Materials and Parts); yaitu produk yang dibutuhkan
untuk proses produksi sehingga menghasilkan produk baru yang lebih bermanfaat. Jenis
produk ini dibagi dua, yaitu; bahan mentah dan bahan jadi/ suku cadang. Contoh bahan
mentah; kayu (menjadi lemari, kursi, meja), gandum (menjadi roti), dan lain sebagainya.
Contoh bahan jadi dan suku cadang; benang, komponen kendaraan (ban, velg, dan lainnya),
dan lain sebagainya.
2. Barang Modal (Capital Items); yaitu produk yang dapat memudahkan produsen untuk
mengelola dan mengembangkan produk jadi serta memiliki daya tahan yang sangat lama.
Beberapa contohnya; bangunan kantor, pabrik, mesin produksi, komputer, dan lain
sebagainya.
3. Perlengkapan dan Layanan Bisnis (Supplies and Services); yaitu produk yang dapat
memudahkan pengelolaan produk jadi serta memiliki daya tahan yang lama. Beberapa contoh

4
supplies; bahan bakar mesin, oli pelumas, alat tulis kantor, dan lain sebagainya. Sedangkan
contoh business services; periklanan produk, konsultasi hukum, perawatan peralatan, dan lain
sebagainya.
Menurut Kotler (2002), ”barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk
kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan
bisnis”.

(Anindhita 14-29)
4 Jenis barang konsumen
1. Convenience Goods
Convenience goods adalah barang yang pada umumnya mempunyai frekuensi pembelian
yang tinggi (dapat dikatakan sering dibeli), barang tersebut dibutuhkan segera oleh
konsumen, dan memerlukan usaha yang minimum dalam pembeliannya.
Sebagai contoh kebutuhan sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, permen, ditergen, baterai,
surat kabar, dan rokok. Dalam hal iniconvenience goods masih dapat dikelompokkan lagi
menjadi tiga kelompok, yaitu :
a. Staples merupakan produk/barang yang dibeli konsumen (pembeli) secara rutin.
Sebagai contohnya adalah sabun, pasta gigi.
b. Impuls good adalah barang-barang yang dibeli tanpa adanya perencanaan terlebih
dahulu ataupun usaha-usaha untuk mencari barang tersebut. Biasanya barang-barang
seperti ini tersedia dan dipajang dalam banyak tempat yang tersebar. Kita
dapat mengambil contoh adalah permen, dan coklat.
c. Emergency goods merupakan barang yang dibeli oleh konsumen apabila suatu
kebutuhan tersebut dirasakan mendesak. Sebagai contoh payung dan jas hujan dirasa
sangat dibutuhkan disaat musim hujan.
2. Shopping Goods
Shopping goods merupakan barang-barang yang dibeli oleh konsumen dimana dalam proses
pembelian dan pemilihannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang
ada. Dalam hal ini biasanya konsumen mempunyai kriteria diantaranya harga, kualitas, dan
model masing-masing barang.
Adapun contohnya seperti peralatan rumah tangga, dan juga pakaian. Dalam shopping
goods masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Homogeneous shopping goods adalahbarang-barang yang dianggap oleh konsumen
yang mempunyai kualitas yang hampir sama namun berbeda jauh dalam hal harga.

5
Dengan begitu konsumen akan mencari harga yang termurah dengan cara
membandingkan harga di satu toko dengan toko lainnya.
2. Heterogeneous shopping goodsmerupakan barang-barang yang dianggap oleh
konsumen (pembeli) yang mempunyai aspek karakteristik/ciri-ciri lebih penting
dibandingkan dengan aspek harga. Atau boleh dikatakan bahwa konsumen
mempersepsikannya berbeda dalam hal kualitas dan atribut.
3. Specialty Goods
Specialty goods merupakan barang-barang yang mempunyai karakteristik dan
identifikasi merk yang unik dalam sekelompok konsumen mau melakukan usaha yang
lebih untuk dapat membelinya. Biasanya barang-barang seperti ini merupakan barang-
barang mewah dengan merk dan model yang spesifik.
Sebagai contoh adalah mobil lamborghini, pakaian dengan perancang terkenal, dan
masih banyak lagi barang-barang mewah lainnya.
4. Unsought Goods
Unsought goods adalah barang-barang yang belum dikenal ataupun belum diketahui
oleh konsumen (pembeli) ataupun sudah diketahui oleh konsumen namun belum
terpikirkan oleh konsumen untuk membelinya. Adapun klasifikasi dari Unsought
goods, yaitu :
1. Regularly unsought products barang-barang yang sebetulnya sudah ada (tersedia) dan
diketahui oleh konsumen, akan tetapi belum terpikirkan untuk membelinya. Sebagai
contohnya adalah batu nisan, asuransi jiwa, dan juga tanah kuburan.
2. New unsought products merupakan barang-barang yang benar-benar baru dan belum
diketahui oleh konsumen. Biasanya barang ini merupakan hasil dan pengembangan produk
baru,sehingga belum banyak konsumen yang mengetahuinya.

6. Kualitas produk
-Definisi (An Nisaa 14-34)
• - Menurut Kotler dan Keller (2012), kualitas produk adalah kemampuan suatu barang
untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang
diinginkan pelanggan.
• - Menurut Kotler dan Armstrong (2012), kualitas produk adalah kemampuan sebuah
produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas,
reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk, juga atribut
produk lainnya

6
Manfaat Kualitas Produk Menurut Ariani (2003), terdapat beberapa manfaat yang diperoleh
dengan menciptakan kualitas produk yang baik, yaitu:
1. Meningkatkan reputasi perusahaan.
2. Meningkatkan pangsa pasar.
3. Adanya tanggung jawab produk.
4. Untuk menciptakan minat produk yang menarik bagi konsumen

(Menjawab No 6 Zulfah 14-17)


Menurut Kotler (2010:361) Dimensi product ada 9 :
1. bentuk (Form)
produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan bentuk, ukuran, atau
struktur fisik produk.
2. Ciri-ciri produk (Features)
karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang
berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
3. Kinerja (Performance)
berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakterisitik utama yang
dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
4. ketepatan/kesesuaian (Conformance)
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan sebelumnya
berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan derajat ketepatan antara
karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas standar yang telah ditetapkan.
5. Ketahanan (durabillity)
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan.
6. Kehandalan (reliabillity)
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan
fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu
pula.
7. Kemudahan perbaikan (repairabillity)
Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya produk akan mudah
diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak.
8. gaya (Style)
Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk.

7
9. desain (design)
Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan dan fungsi produk
terhadap keinginan konsumen.

Dimas Ananta (09-91)


Dimensi Kualitas Produk
Menurut Mullins, Orville, Larreche, dan Boyd (2005, p.422) apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek
dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual
perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari :
1. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk
2. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan
bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian
konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan produk.
3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana
karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen
atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
4. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
5. Reliabilty (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan
atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan
maka produk tersebut dapat diandalkan.
6. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat dari
tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
7. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan
pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa
konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi,
persepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan
penilaian konsumen
8. bentuk (Form) produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.
9. Kemudahan perbaikan (repairabillity) Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk
jika rusak. Idealnya produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak. (An
Nisaa 14-34)

8
Perbedaan Barang dan Jasa
Arwinda (14-10)
Barang adalah komoditas atau produk berwujud yang dapat dikirim atau dijual ke pelanggan
sehingga melibatkan pengalihan kepemilikan dari penjual ke pembeli. Di sisi lain, layanan
atau jasa adalah kegiatan tidak berwujud yang dapat diidentifikasikan secara terpisah dan
memberikan kepuasan dari suatu keinginan. Salah satu perbedaan utama dari Barang dan Jasa
adalah Barang adalah produk yang diproduksi sedangkan Jasa adalah kegiatan yang
dilakukan.
• Menurut Fandy, barang adalah produk yang berwujud fisik sehingga dapat dilihat,
disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dan perlakuan fisik lainnya..
• Pengertian Jasa menurut Kotler dalam jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang
dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan
tidak mengakibatkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksi jasa mungkin berkaitan
dengan produk fisik atau tidak.
Perbedaan Barang dan Jasa
Berikut ini adalah Perbedaan utama antara Barang dan Jasa :
1. Barang adalah komoditas atau produk yang siap dibeli oleh pelanggan dengan
harga tertentu, sedangkan Layanan (jasa) adalah manfaat atau fasilitas yang disediakan
oleh pihak lain.
2. Barang adalah sesuatu yang berwujud atau tanjibel (tangiable) yaitu sesuatu yang dapat
dilihat atau disentuh, sedangkan layanan (jasa) adalah produk yang tidak berwujud
(intangiable).
3. Ketika pelanggan membeli barang dengan harga tertentu, kepemilikan barang tersebut akan
berpindah tangan dari penjual ke pembeli. Sebaliknya, kepemilikan jasa atau layanan tidak
dapat dipindahtangankan.
4. Sulit untuk melakukan evaluasi terhadap jasa atau layanan karena setiap penyedia layanan
memiliki pendekatan yang berbeda dalam melaksanakan layanan sehingga sulit sulit untuk
menilai layanan mana yang lebih baik. Sedangkan evaluasi terhadap barang relatif lebih
mudah untuk dilakukan.
5. Barang dapat dikembalikan ataupun ditukar apabila tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan. Namun layanan atau jasa tidak mungkin untuk dikembalikan atau ditukar
apabila telah disediakan.

9
6. Barang dapat disimpan untuk penggunaan di masa mendatang, tetapi layanan atau jasa
sangat terikat pada waktu dan tidak dapat disimpan sebagai persediaan.
7. Barang diproduksi terlebih dahulu kemudian diperdagangkan dan akhirnya dikonsumsi.
Sedangkan jasa atau layanan diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang sama.
8. Barang dapat berpisah dengan alat produksinya setelah menjadi produk jadi,sedangkan
Layanan atau jasa tidak dapat dipisahkan dari penyedianya.

JAWABAN MENURUT REFERENSI


1. Pengertian Produk
Dimas Ananta (09-91)
Produk memiliki arti penting bagi perusahaan karena tanpa adanya produk,
perusahaan tidak akan dapat melakukan apapun dari usahanya. Pmebeli akan membeli produk
kalau merasa cocok, karena itu produk harus disesuaikan dengan keinginan ataupun
kebutuhan pembeli agar pemasaran produk berhasil. Dengan kata lain, pembuatan produk
lebih baik diorientasikan pada keinginan pasar atau selera konsumen. Menurut Kotler dan
Amstrong (Budiharja dan Riyono, 2016) adalah ”Segala sesuatu yang dapat ditawarkan
kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan”.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Siburian (2016) menjelaskan kualitas produk
sebagai “the ability of a product to perform its functions, it includes the product’s overall
durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes”.
Artinya kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi
produk juga atribut produk lainnya.

2. Zulfah Al-Faizah (14-17)


Produkmerupakan Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat
perhatian, dibeli, dipergunakan, atau dikonsumsi dan yang dapat memuaskan
keinginan atau kebutuhan.
Dapus:
Kotler, Plilip. 2000. Manajemen Pemasaran. Edisi Mileinium. Jakarta : PT. Indeks
Kelompok Gramedia.

10
3. Lima Tingkatan Produk
Lima Tingkatan Produk: (Arwinda 14-10)
a. Core benefit (namely the fundamental service of benefit that costumer really
buying) yaitu manfaat dasar dari suatu produk yag ditawarkan kepada
konsumen.
b. Basic product (namely a basic version of the product) yaitu bentuk dasar dari
suatu produk yang dapat dirasakan oleh panca indra.
c. Expected product (namely a set of attributes and conditions that the buyers
normally expect and agree to when they purchase this product) yaitu
serangkaian atribut-atribut produk dan kondisi-kondisi yang diharapkan oleh
pembeli pada saat membeli suatu produk.
d. Augmented product (namely that one includes additional service and benefit
that distinguish the company’s offer from competitor’s offer) yaitu sesuatu
yang membedakan antara produk yang ditawarkan oleh badan usaha dengan
produk yang ditawarkan oleh pesaing.
e. Potential product (namely all of the argumentations and transformations that
this product that ultimately undergo in the future) yaitu semua argumentasi
dan perubahan bentuk yang dialami oleh suatu produk dimasa datang
(Kotler,2016).
4. Klasifikasi Produk menurut Kotler
Zulfah Al-Faizah (14-17)
Banyak klasifikasi suatu produk yang dikemukakan ahli pemasaran,
diantaranya pendapat yang dikemukakan oleh Kotler. Menurut Kotler (2002,p.451),
produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu :
1. Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok
utama, yaitu :
a) Barang : Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat,
diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik
lainnya.
b) Jasa : Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk
dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan,
hotel dan sebagainya. Kotler (2002, p.486) juga mendefinisikan jasa sebagai
berikut : “ Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh
satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
11
mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya dapat dikaitkan atau tidak
dikaitkan dengan suatu produk fisik.
2. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu :
a. Barang tidak tahan lama (nondurable goods) : Barang tidak tahan lama adalah
barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali
pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal
kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng dan
sebagainya.
b. Barang tahan lama (durable goods) : Barang tahan lama merupakan barang
berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur
ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contohnya lemari
es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain.
3. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu didasarkan pada siapa konsumennya dan
untuk apa produk itu dikonsumsi, maka produk diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a) Barang konsumsi (consumer’s goods) : Barang konsumsi merupakan suatu
produk yang langsung dapat dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut
untuk memperoleh manfaat dari produk tersebut.
b) Barang industri (industrial’s goods) : Barang industri merupakan suatu jenis
produk yang masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu
manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan
kembali (Kotler,2002).
(Anindhita 14-19)
Produk Industri
Definisi produk industri adalah semua produk yang dibeli oleh suatu produsen yang
digunakan sebagai bahan baku untuk proses produksi sehingga menghasilkan produk baru.
Dengan kata lain, produksi industri khusus untuk digunakan dalam proses produksi
Produk industri dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian:
1. Bahan Baku dan Suku Cadang (Materials and Parts); yaitu produk yang
dibutuhkan untuk proses produksi sehingga menghasilkan produk baru yang lebih
bermanfaat. Jenis produk ini dibagi dua, yaitu; bahan mentah dan bahan jadi/ suku
cadang. Contoh bahan mentah; kayu (menjadi lemari, kursi, meja), gandum
(menjadi roti), dan lain sebagainya. Contoh bahan jadi dan suku cadang; benang,
komponen kendaraan (ban, velg, dan lainnya), dan lain sebagainya.
12
2. Barang Modal (Capital Items); yaitu produk yang dapat memudahkan produsen
untuk mengelola dan mengembangkan produk jadi serta memiliki daya tahan yang
sangat lama. Beberapa contohnya; bangunan kantor, pabrik, mesin produksi,
komputer, dan lain sebagainya.
3. Perlengkapan dan Layanan Bisnis (Supplies and Services); yaitu produk yang
dapat memudahkan pengelolaan produk jadi serta memiliki daya tahan yang lama.
Beberapa contoh supplies; bahan bakar mesin, oli pelumas, alat tulis kantor, dan
lain sebagainya. Sedangkan contoh business services; periklanan produk,
konsultasi hukum, perawatan peralatan, dan lain sebagainya (Kotler,2002).

Menurut Kotler (2002), ”barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk
kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan
bisnis”.
5. 4 Jenis barang konsumen
(Anindhita 14-29)
Menurut Philips Kotler 4 jenis barang konsumen :
1. Convenience Goods
Convenience goods adalah barang yang pada umumnya mempunyai frekuensi
pembelian yang tinggi (dapat dikatakan sering dibeli), barang tersebut dibutuhkan segera oleh
konsumen, dan memerlukan usaha yang minimum dalam pembeliannya.
Sebagai contoh kebutuhan sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, permen, ditergen, baterai,
surat kabar, dan rokok. Dalam hal ini convenience goods masih dapat dikelompokkan lagi
menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Staples merupakan produk/barang yang dibeli konsumen (pembeli) secara rutin.
Sebagai contohnya adalah sabun, pasta gigi.
2. Impuls good adalah barang-barang yang dibeli tanpa adanya perencanaan terlebih
dahulu ataupun usaha-usaha untuk mencari barang tersebut. Biasanya barang-barang
seperti ini tersedia dan dipajang dalam banyak tempat yang tersebar. Kita dapat
mengambil contoh adalah permen, dan coklat.
3. Emergency goods merupakan barang yang dibeli oleh konsumen apabila suatu
kebutuhan tersebut dirasakan mendesak. Sebagai contoh payung dan jas hujan dirasa
sangat dibutuhkan disaat musim hujan.

13
2. Shopping Goods
Shopping goods merupakan barang-barang yang dibeli oleh konsumen dimana dalam proses
pembelian dan pemilihannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang
ada. Dalam hal ini biasanya konsumen mempunyai kriteria diantaranya harga, kualitas, dan
model masing-masing barang.
Adapun contohnya seperti peralatan rumah tangga, dan juga pakaian. Dalam shopping
goods masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Homogeneous shopping goods adalah barang-barang yang dianggap oleh konsumen
yang mempunyai kualitas yang hampir sama namun berbeda jauh dalam hal harga.
Dengan begitu konsumen akan mencari harga yang termurah dengan cara
membandingkan harga di satu toko dengan toko lainnya.
2. Heterogeneous shopping goods merupakan barang-barang yang dianggap oleh
konsumen (pembeli) yang mempunyai aspek karakteristik/ciri-ciri lebih penting
dibandingkan dengan aspek harga. Atau boleh dikatakan bahwa konsumen
mempersepsikannya berbeda dalam hal kualitas dan atribut.
3. Specialty Goods
Specialty goods merupakan barang-barang yang mempunyai karakteristik dan identifikasi
merk yang unik dalam sekelompok konsumen mau melakukan usaha yang lebih untuk dapat
membelinya. Biasanya barang-barang seperti ini merupakan barang-barang mewah dengan
merk dan model yang spesifik.
Sebagai contoh adalah mobil lamborghini, pakaian dengan perancang terkenal, dan masih
banyak lagi barang-barang mewah lainnya.
4. Unsought Goods
Unsought goods adalah barang-barang yang belum dikenal ataupun belum diketahui oleh
konsumen (pembeli) ataupun sudah diketahui oleh konsumen namun belum terpikirkan oleh
konsumen untuk membelinya. Adapun klasifikasi dari Unsought goods, yaitu :
1. Regularly unsought products barang-barang yang sebetulnya sudah ada (tersedia)
dan diketahui oleh konsumen, akan tetapi belum terpikirkan untuk membelinya.
Sebagai contohnya adalah batu nisan, asuransi jiwa, dan juga tanah kuburan.
2. New unsought products merupakan barang-barang yang benar-benar baru dan belum
diketahui oleh konsumen. Biasanya barang ini merupakan hasil dan pengembangan
produk baru, sehingga belum banyak konsumen yang mengetahuinya.

14
6. Kualitas produk
Kualitas Produk (An-Nisaa 14-34)
Definisi
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) kualitas produk adalah kemampuan sebuah
produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.
Menurut Tjiptono (2012), kualitas produk adalah tingkat mutu yang diharapkan dan
pengendalian keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan
konsumen.
Manfaat Kualitas Produk
Menurut Ariani (2003), terdapat beberapa manfaat yang diperoleh dengan menciptakan
kualitas produk yang baik, yaitu:
1. Meningkatkan reputasi perusahaan. Perusahaan atau organisasi yang telah
menghasilkan suatu produk atau jasa yang berkualitas akan mendapatkan predikat
sebagai organisasi yang mengutamakan kualitas, oleh karena itu, perusahaan atau
organisasi tersebut dikenal oleh masyarakat luas dan mendapatkan nilai lebih di mata
masyarakat.
2. Menurunkan biaya. Untuk menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas
perusahaan atau organisasi tidak perlu mengeluarkan biaya tinggi. Hal ini disebabkan
perusahaan atau organisasi tersebut berorientasi pada (customer satisfaction), yaitu
dengan mendasarkan jenis, tipe, waktu, dan jumlah produk yang dihasilkan sesuai
dengan harapan dan kebutuhan konsumen.
3. Meningkatkan pangsa pasar. Pangsa pasar akan meningkat bila minimasi biaya
tercapai, karena organisasi atau perusahaan dapat menekan harga, walaupun kualitas
tetap menjadi yang utama.
4. Dampak internasional. Bila mampu menawarkan produk atau jasa yang berkualitas,
maka selain dikenal di pasar lokal, produk atau jasa tersebut juga akan dikenal dan
diterima di pasar internasional.
5. Adanya tanggung jawab produk. Dengan semakin meningkatnya persaingan
kualitas produk atau jasa yang dihasilkan, maka organisasi atau perusahaan akan
dituntut untuk semakin bertanggung jawab terhadap desain, proses, dan
pendistribusian produk tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

15
6. Untuk penampilan produk. Kualitas akan membuat produk atau jasa dikenal, dalam
hal ini akan membuat perusahaan yang menghasilkan produk juga akan dikenal dan
dipercaya masyarakat luas.
7. Mewujudkan kualitas yang dirasakan penting. Persaingan yang saat ini bukan lagi
masalah harga melainkan kualitas produk, hal inilah yang mendorong konsumen
untuk mau membeli produk dengan harga tinggi namun dengan kualitas yang tinggi
pula.

Zulfah Al-Faizah (14-17)


Untuk menentukan kualitas produk, Menurut Kotler (2010:361) Dimensi product ada
9:
1. bentuk (Form)
produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan bentuk,
ukuran, atau struktur fisik produk.
2. Ciri-ciri produk (Features)
karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi
dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
3. Kinerja (Performance)
berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakterisitik
utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
4. ketepatan/kesesuaian (Conformance)
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan derajat
ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas standar
yang telah ditetapkan.
5. Ketahanan (durabillity)
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan.
6. Kehandalan (reliabillity)
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan
dalam kondisi tertentu pula.
7. Kemudahan perbaikan (repairabillity)

16
Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya produk
akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak.
8. gaya (Style)
Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk.
9. desain (design)
Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan dan
fungsi produk terhadap keinginan konsumen (Kotler, Philip, 2010).
7. Dimensi Kualitas Produk
(An Nisaa 14-34)
Kualitas produk memiliki dimensi yang dapat digunakan untuk menganalisis
karakteristik dari suatu produk. Menurut David Garvin dalam buku Fandy Tjiptono
(2016:134) kualitas produk memiliki delapan dimensi sebagai berikut:
1. Performance (kinerja), merupakan karakteristik operasi pokok dari produk inti (core
product) yang dibeli.
2. Features (fitur atau ciri-ciri tambahan), yaitu karaktersitik sekunder atau pelengkap.
3. Reliability (reliabilitas), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal
dipakai.
4. Confermance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana
karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.
5. Durability (daya tahan), yaitu berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat
digunakan.
6. Serviceability, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, kemudahan direparasi; serta
penanganan keluhan secara memuaskan.
7. Esthetics (Estetika), yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
8. Perceived Quality (kualitas yang dipersepsikan), yaitu citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya

8. Perbedaan Barang dan Jasa


Perbedaan barang dan jasa (Arwinda 14-10) :
Barang adalah komoditas atau produk berwujud yang dapat dikirim atau dijual
ke pelanggan sehingga melibatkan pengalihan kepemilikan dari penjual ke pembeli.
Di sisi lain, layanan atau jasa adalah kegiatan tidak berwujud yang dapat
diidentifikasikan secara terpisah dan memberikan kepuasan dari suatu keinginan.

17
Salah satu perbedaan utama dari Barang dan Jasa adalah Barang adalah produk yang
diproduksi sedangkan Jasa adalah kegiatan yang dilakukan.
• Menurut Fandy, barang adalah produk yang berwujud fisik sehingga dapat dilihat,
disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dan perlakuan fisik lainnya..
• Pengertian Jasa menurut Kotler dalam jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang
dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksi jasa
mungkin berkaitan dengan produk fisik atau tidak.
Perbedaan Barang dan Jasa
Berikut ini adalah Perbedaan utama antara Barang dan Jasa :
2. Barang adalah komoditas atau produk yang siap dibeli oleh pelanggan dengan
harga tertentu, sedangkan Layanan (jasa) adalah manfaat atau fasilitas yang
disediakan oleh pihak lain.
3. Barang adalah sesuatu yang berwujud atau tanjibel (tangiable) yaitu sesuatu yang
dapat dilihat atau disentuh, sedangkan layanan (jasa) adalah produk yang tidak
berwujud (intangiable).
4. Ketika pelanggan membeli barang dengan harga tertentu, kepemilikan barang tersebut
akan berpindah tangan dari penjual ke pembeli. Sebaliknya, kepemilikan jasa atau
layanan tidak dapat dipindahtangankan.
5. Sulit untuk melakukan evaluasi terhadap jasa atau layanan karena setiap penyedia
layanan memiliki pendekatan yang berbeda dalam melaksanakan layanan sehingga
sulit sulit untuk menilai layanan mana yang lebih baik. Sedangkan evaluasi terhadap
barang relatif lebih mudah untuk dilakukan.
6. Barang dapat dikembalikan ataupun ditukar apabila tidak sesuai dengan apa
yang diinginkan. Namun layanan atau jasa tidak mungkin untuk dikembalikan atau
ditukar apabila telah disediakan.
7. Barang dapat disimpan untuk penggunaan di masa mendatang, tetapi layanan atau
jasa sangat terikat pada waktu dan tidak dapat disimpan sebagai persediaan.
8. Barang diproduksi terlebih dahulu kemudian diperdagangkan dan akhirnya
dikonsumsi. Sedangkan jasa atau layanan diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang
sama.
9. Barang dapat berpisah dengan alat produksinya setelah menjadi produk
jadi,sedangkan Layanan atau jasa tidak dapat dipisahkan dari penyedianya
(Oktavianti, 2018).
18
DAFTAR PUSTAKA
Ariani, D.W.2003. Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif. Ghalia Indonesia. Bogor.
Fandy Tjiptono dan Gregorius chandra. 2016.Service, Quality & Satisfaction.
Andi. Yogyakarta.
Budiharja, Gigih Erlik dan Riyono. 2016. Pengaruh Kualitas Produk, Harga, Promosi, dan
Brand Image terhadap Keputusan Pembelian ProdukAqua. JURNAL STIE
SEMARANG, VOL8, NO2, Edisi Juni 2016 (ISSN:2252-826).
Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran, Edisi Millenium, Jilid 2, PT Prenhallindo,
Jakarta
Kotler, Philip.2015. Manajemen Pemasaran Sudut Pandang Asia. PT Indeks. Jakarta.
Kotler, Philip. 2010. Manajemen Pemasaran. Edisi tiga belas Bahasa Indonesia.Jilid 1 dan
2. Jakarta : Erlangga.
Kotler, Philip and Kevin Lane Keller. 2016. Marketing Managemen. 15th Edition.
Pearson Education,Inc.
Oktavianti, Santi. 2018. Analisis Tingkat Kualitas Produk dan Tingkat Pelayanan Kentucky
Fried Chicken (KFC) Cabang Palembang Trade Centre. Jurnal Manajemen dan
Bisnis Sriwijaya. 16(4) : 203-211.
Siburian, P.S.,A, & Z A , S. Z. (2016). Jurnal Ekonomi dan Manajemen. Pengaruh Kualitas
Produk dan Kualitas Layanan terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor
Honda, 13 (2), 1-20
Tjiptono, Fandy. 2012. Strategi Pemasaran. Andi.Yogyakarta.
.

19
PERTEMUAN 2
PERTANYAAN :
1. Demand – Supply YanKes
2. Menjelaskan Neess, Wants, Demands,Supply
3. Hubungan dari 4 poin di atas
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi
5. Supply induced demands

An Nisaa (14-34)
Needs (kebutuhan)
Kebutuhan adalah keadaan mendasar manusia terhadap suatu dalam usahanya untuk
mempertahankan keberlangsungan kehidupannya.Kebutuhan harus dipenuhi, dan jika tidak
dipenuhi akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidupnya. Contohnya kebutuhan
udara,air,sandang dan papan.
Macam Kebutuhan :
1. berdaskan intensitas (primer, sekunder,tersier)
2. berdasarkan bentuk dan sifatnya (jasmani, rohani)
3. berdasarkan waktu pemenuhannya (sekarang, masa depan, tidak tentu,
sepanjang waktu)
4. berdasarkan subjeknya (individu, kelompok)
5. Pemenuhan kebutuhan dipengaruhi kemauan, kemampuan, akses.
Arwinda (14-10)
Wants (keinginan)
Sedangkan keinginan (want) diartikan sebagai hasrat terhadap pemenuhan yang lebih
lanjut setelah merasakan kebutuhan. Keinginan biasanya bersifat subjektif dan bersifat
individual.

Dimas ananta (09-91)


Demands
Dalam ekonomi kesehatan, secara umum demand terhadap pelayanan kesehatan
diartikan sebagai barang atau jasa yang benar-benar dibeli (realisasi penggunaan) oleh pasien.
Istilah demand dibedakan dengan istilah need dan want.
Need adalah barang atau jasa yang dipandang terbaik oleh pemberi jasa layanan
kesehatan (dhi. dokter) untuk digunakan dalam rangka memperbaiki kesehatan
pasien, sedangkan want adalah barang atau jasa yang diinginkan (diminta) oleh pasien,
misalnya obat yang murah, obat yang bekerja cepat, dsb. Pembedaan dimaksud dianggap

20
penting khususnya dalam ilmu ekonomi kesehatan dan kesehatan masyarakat dengan tujuan
untuk memperkecil gap (perbedaan) antara need dan want.

Zulfah A.F (14-17)


Supply
Penawaran (supply) diartikan sejumlah barang, produk atau komoditi yang tersedia
dalam pasar yang siap untuk di jual kepada konsumen yang membutuhkannya. Penawaran
juga dapat diartikan sebagai sejumlah barang (goods), jasa (service) atau komoditi yang
tersedia di pasar dengan harga tertentu pada waktu tertentu. Supply terhadap pelayanan
kesehatandiartikan dengan penyediaan pelayanan kesehatan yang disampaikan kepada pasien
oleh kombinasi antara tenaga pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan (rumah sakit, klinik
dan laboratorium klinis).

Anindhita (14-29)
Hubungan 4 poin di atas
Permintaan (demand ) tidak terpisah dari kebutuhan (need ) dan keinginan (want).
Kebutuhan (need ) berawal dari keinginan (want ). Sedangkan permintaan atau demand
merupakan kebutuhan (need ) yang telah didukung dengan daya beli, penawaran
(supply) merupakan sejumlah barang, produk atau komoditi yang tersedia dalam pasar yang
siap untuk di jual kepada konsumen yang membutuhkannya.

Arwinda(14-10)
Hubungan
1. Kebutuhan (needs) dimana manusia merasa kekurangan. Kebutuhan (needs) adalah
keinginan manusia atas barang dan jasa yang perlu dipenuhi untuk mempertahankan
kelangsungan hidup. Needs menggambarkan kebutuhan dasar manusia seperti pangan,
sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan lainnya.
Needs menjadi wants jika kebutuhan tadi telah menjurus pada satu keinginan tertentu
yang dapat memberikan kepuasan. Kebutuhan dibagi menjadi dua, yaitu perceived
needs dan expressed needs.Perceived needs atau kebutuhan yang dirasakan adalah
hasrat atau keinginan yang dimiliki oleh semua orang dimana kebutuhan ini
menunjukkan kesenjangan antara tingkat keterampilan/kenyataan yang nampak
dengan yang dirasakan. Sedangkan expressed needsatau kebutuhan yang
diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu untuk ditunjukkan
dalam tindakan.

21
2. Keinginan (wants) adalah kebutuhan (needs) yang dibentuk oleh budaya dan
kepribadian individu.
3. Permintaan (demand) adalah keinginan yang didukung daya beli. Demand atau
permintaan adalah jumlah dari suatu barang yang mau dan mampu dibeli pada
berbagai kemungkinan harga, selama jangka waktu tertentu, dengan anggapan
berbagai hal lain tetap sama (ceteris paribus). Mau dan mampu disini memiliki arti
betapapun orang berkeinginan atau membutuhkan sesuatu, kalau ia tidak mempunyai
uang atau tidak bersedia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli, maka
keinginan itu tetap keinginan dan belum disebut permintaan. Namun ketika
keinginan/kebutuhan itu disertai kemauan dan kemampuan untuk membeli dan
didukung oleh uang yang secukupnya untuk membayar harga disebut permintaan.
Baik need,want,demand dan supply saling mempengaruhi untuk membentuk suatu
keseimbangan ekonomi.

Dimas ananta (09-91)


Hubungan
Dalam pelayanan kesehatan demand harus berdasarkan atas needs dan juga memperhatikan
dari wants

An Nisaa (14-34)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
a. Supply
• Man : dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, farmasis, tenaga administrasi, dll
• Money : biaya operasional, biaya investasi dan biaya lain-lain.
• Material : berhubungan dengan logistik pelayanan kesehatan, misalnya obat, suntik,
bahan makanan, dan lain sebagainya.
• Method : SOP rumah sakit, Standart Pelayanan Minimal (SPM), dll.
• Machine : peralatan laboratorium, peralatan unit penunjang, dll
• Market : wilayah kerja pelayanan kesehatan, segmentasi pasar, masyarakat sasaran yang
dibidik berdasarkan proses STP (segmenting, targeting dan posisioning)
• Teknologi : kecanggihan dan kemutakhiran teknologi yang digunakan misalnya finger
print, dan lain sebagainya.
• Time : waktu yang digunakan untuk pelayanan, unit pelayanan.
• Informasi : melalui internet, pamflet dan leaflet.

22
Dimas ananta (09-91)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Menurut Fuchs (1998), Dunlop dan Zubkoff (1981) faktor-faktor yang mempengaruhi
demand pelayanan kesehatan antara lain: kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis; penilaian
pribadi akan status kesehatannya; variabel-variabel ekonomi seperti tarif, ada tidaknya sistem
asuransi, dan penghasilan; variabel-variabel demografis dan organisasi. Di samping faktor-
faktor tersebut terdapat faktor lain misalnya, pengiklanan, pengaruh jumlah dokter dan
fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengaruh inflasi. Faktor-faktor ini satu sama lain saling
terkait secara kompleks.

Anindhita (14-29)
Supply induced demands
Supply induced demand adalah penyalahgunaan hubungan dokter-pasien oleh dokter
dalam usaha memperoleh keuntungan pribadi dokter. Istilah ini menggambarkan suatu
keadaan seorang dokter menetapkan demand pasiennya dengan cara tidak berbasis pada need.
Supply induced demand yaitu pemberian pelayanan melebihi kebutuhan pasien sehingga
terjadi peningkatan biaya kesehatan. Istilah ini menggambarkan suatu keadaan seorang dokter
menetapkan demand pasiennya dengan cara tidak berbasis pada need. Dokter meningkatkan
demand pasiennya berbasis pada motivasi ekonomi untuk meningkatkan pendapatannya.

Zulfah A.F(14-17)
Supply induced demands
Supply Induced Demand mencerminkan keadaan bahwa justru dokter atau rumah
sakit yang menetapkan demand di bawah yang seharusnya. contoh pada kasus reimburstment
asuransi kesehatan yang dimiliki perusahaan apabila dilakukan seperti tanpa asuransi, maka
RS akan rugi. sehingga ada pelayanan yang tidak sesuai dengan needs pasien, untuk
menghindarkan rumah sakit dari kerugian

23
JAWABAN MENURUT REFERENSI
1. Menjelaskan Neess, Wants, Demands,Supply
An Nisaa (14-34)

Needs (kebutuhan)
• Kebutuhan adalah keadaan mendasar manusia terhadap suatu dalam usahanya untuk
mempertahankan keberlangsungan kehidupannya.Kebutuhan harus dipenuhi, dan jika
tidak dipenuhi akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidupnya. Contohnya
kebutuhan udara,air,sandang dan papan. (Gunawijaya,2017)
• Kebutuhan dibagi menjadi dua, yaitu perceived needs dan expressed needs. Perceived
needs atau kebutuhan yang dirasakan adalah hasrat atau keinginan yang dimiliki oleh
semua orang dimana kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat
keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Sedangkan expressed
needs atau kebutuhan yang diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang
mampu untuk ditunjukkan dalam tindakan (Gunawijaya, 2017).

Arwinda (14-10)

Wants (keinginan) adalah barang atau pelayanaan yang diinginkan pasien karena
dianggap terbaik bagi mereka (misalnya, obat yang bekerja cepat). Wants bisa sama atau
berbeda dengan need(kebutuhan). Sehat dan pelayanan kesehatan sebagai hak. Makan,
pakaian, tempat tinggal dan hidup sehat adalah elemen kebutuhan dasar manusia yang harus
senantiasa diusahakan untuk dipenuhi, terlepas dari kemampuan seseorang untuk
membayarnya. Hal ini menyebabkan distribusi pelayanan kesehatan sering sekali dilakukan
atas dasar kebutuhan (need) dan bukan atas dasar kemampuan membayar (demand)
(Munadhir, 2017).

Dimas Ananta (09-91)

Kebutuhan (needs) adalah keinginan manusia atas barang dan jasa yang perlu
dipenuhi untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Needs menggambarkan kebutuhan
dasar manusia seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan lainnya.
Kebutuhan antara manusia bisa saja tidak sama tergantung faktor yang memengaruhinya .
Needs dalam pelayanan kesehatan kuantitas barang atau pelayanan secara objektif dipandang
terbaik untuk digunakan memperbaiki kondisi kesehatan pasien. Need biasanya ditentukan

24
oleh dokter, tetapi kualitas pertimbangan dokter tergantung pendidikan, peralatan, dan
kompetensi dokter (Haning dkk, 2018).
Wants (Keinginan) merupakan suatu hal yang ingin kita miliki, namun apabila kita
tidak berhasil mendapatkannya maka kelangsungan hidup kita sebagai manusia tidak akan
terancam. Wants dalam pelayanan kesehatan adalah keinginan seseorang untuk menjadi lebih
sehat dalam hidup. Keinginan ini didasarkan pada penilaian diri terhadap status kesehatannya
(Haning dkk, 2018)
Permintaan (demand) adalah keinginan terhadap produk spesifik yang didukung oleh
kemampuan dan kesediaan untuk membeli. Demand dalam pelayanan kesehatanadalah
barang atau pelayanan yang sesungguhnya dibeli oleh pasien. Permintaan tersebut
dipengaruhi oleh pendapat medis dari dokter, dan juga faktor lain seperti pendapatan dan
harga obat. Permintaan kesehatan sangat berpengaruh pada pemanfaatan pelayanan
kesehatan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah suatu perilaku atau tindakan yang
dimiliki oleh individu dalam mencari pelayanan kesehatan. Pemanfaatan pelayanan kesehatan
merupakan hal penting dalam masyarakat yang bertujuan untuk membantu dalam
menentukan status kesehatan (Haning dkk, 2018).

Zulfah A.F (14-17)

Supply Secara umum adalah jumlah keseluruhan barang atau jasa yang akan
ditawarkan atau dijual oleh produsen dalam berbagai macam tingkat harga. Supply terhadap
pelayanan kesehatan diartikan dengan penyediaan pelayanan kesehatan yang disampaikan
kepada pasien oleh kombinasi antara tenaga pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan
(rumah sakit, klinik dan laboratorium klinis) ( Janis, 2018).

2. Hubungan dari 4 poin di atas


Anindhita (14-29)

Keinginan (Want) adalah kebutuhan (Needs) yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian
individu. Want adalah suatu keinginan yang dimiliki seseorang untuk mendapatkan
pelayanan terbaik tanpa meemperhitungkan apakah dia memiliki kemampuan untuk
mencapai keinginan tersebut. Need menggambarkan kebutuhan dasar manusia. Need bisa
menjadi Want jika kebutuhan tadi telah menjurus pada satu keinginan tertentu yang dapat
memberikan kepuasan. Demand adalah keinginan yang didukung daya beli. Dari beberapa
pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa permintaan (demand ) tidak terpisah dari

25
kebutuhan (need ) dan keinginan (want ). Kebutuhan (need ) berawal dari keinginan (want ).
Sedangkan permintaan ataudemand merupakan kebutuhan (need ) yang telah didukung
dengan daya beli (Philip, 2015)

Arwinda (14-10)

1. Kebutuhan (needs) dimana manusia merasa kekurangan. Kebutuhan (needs) adalah


keinginan manusia atas barang dan jasa yang perlu dipenuhi untuk mempertahankan
kelangsungan hidup. Needs menggambarkan kebutuhan dasar manusia seperti pangan,
sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan lainnya. Needs menjadi wants jika
kebutuhan tadi telah menjurus pada satu keinginan tertentu yang dapat memberikan
kepuasan. Kebutuhan dibagi menjadi dua, yaitu perceived needs dan expressed
needs.Perceived needs atau kebutuhan yang dirasakan adalah hasrat atau keinginan yang
dimiliki oleh semua orang dimana kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat
keterampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Sedangkan expressed
needsatau kebutuhan yang diekspresikan yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu
untuk ditunjukkan dalam tindakan.
2. Keinginan (wants) adalah kebutuhan (needs) yang dibentuk oleh budaya dan kepribadian
individu.
3. Permintaan (demand) adalah keinginan yang didukung daya beli. Demand atau
permintaan adalah jumlah dari suatu barang yang mau dan mampu dibeli pada berbagai
kemungkinan harga, selama jangka waktu tertentu, dengan anggapan berbagai hal lain tetap
sama (ceteris paribus). Mau dan mampu disini memiliki arti betapapun orang berkeinginan
atau membutuhkan sesuatu, kalau ia tidak mempunyai uang atau tidak bersedia mengeluarkan
uang sebanyak itu untuk membeli, maka keinginan itu tetap keinginan dan belum disebut
permintaan. Namun ketika keinginan/kebutuhan itu disertai kemauan dan kemampuan untuk
membeli dan didukung oleh uang yang secukupnya untuk membayar harga disebut
permintaan.

Baik need,want,demand dan supply saling mempengaruhi untuk membentuk suatu


keseimbangan ekonomi (Munadhir, 2017)

26
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi
An Nisaa (14-34)
a. Kebutuhan (Need)
Pemenuhan kebutuhan setiap individu akan berbeda karena dipengaruhi oleh banyak
faktor, diantaranya:
1) Keadaan Alam
Keadaan alam yang berbeda membuat manusia membutuhkan berbagai barang yang
sesuai dengan kondisi alam tempat ia tinggal. Contohnya, masyarakat yang tinggal di
daerah pegunungan cenderung banyak mengonsumsi sayuran untuk makanan sehari-
hari, berbeda dengan masyarakat di daerah pantai yang lebih sering mengkonsumsi
ikan dan hasil laut untuk memenuhi kebutuhan makanannya sehari-hari.
2) Agama dan Kepercayaan
Ajaran agama yang berbeda dapat mengakibatkan kebutuhan yang berbeda pula.
Misalnya, penganut agama Islam dilarang mengkonsumsi babi, sehingga
membutuhkan alternatif bahan pangan lain sebagai sumber protein hewani. Hal ini
tentu berbeda dengan umat Hindu yang dilarang untuk mengkonsumsi daging sapi,
mungkin saja mereka justru membutuhkan daging babi sebagai sumber protein
hewaninya.
3) Adat Istiadat
Adat atau tradisi yang berlaku di masyarakat sangat mempengaruhi kebutuhan
masyarakat. Sebuah adat dan tradisi akan menuntut masyarakatnya untuk memenuhi
segala apa yang dibutuhkan untuk menghargai, patuh, dan menjalani adat istiadat
tersebut. Tentu setiap daerah memiliki adat istiadat berbeda yang mempengaruhi
perbedaan kebutuhan. Masyarakat Arab dalam kesehariannya berpakaian gamis,
sehingga permintaan akan gamis tinggi. Begitu pula dengan Hanbook di Korea dan
Kimono di Jepang.
4) Tingkat Peradaban dan Teknologi
Semakin tinggi peradaban suatu masyarakat, yang didukung pula dengan kecanggihan
teknologi maka semakin banyak pula kebutuhan dan semakin tinggi pula kualitas atau
mutu barang yang di butuhkan. Manusia akan berusaha untuk memenuhi
kebutuhannya agar mencapai kemakmuran. Manusia menuntut kualitas tinggi dari
barang-barang atau jasa yang di butuhkan. Hal ini membuktikan bahwa
perkembangan peradaban berakibat keberagaman dan perkembangan kebutuhan.
27
Ketika pertama kali telepon seluler diperkenalkan pada masyarakat, hanya masyarakat
kelas atas yang mampu membeli dan menggunakannya. Namun, ketika teknologi
berkembang sedemikian cepat, permintaan akan telepon seluler kini semakin
bertambah terutama pada smartphone yang memiliki fitur yang semakin banyak pula.
5) Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap keberagaman kebutuhan.
Biasanya tingkat pendidikan akan berbanding lurus dengan tingkat pendapatan yang
juga akan berbanding lurus dengan tingkat kebutuhan.
6) Penghasilan
Besar kecilnya penghasilan seseorang akan berpengaruh terhadap keberagaman
kebutuhan orang tersebut. Semakin tinggi penghasilan maka kebutuhannya semakin
meningkat. Kebutuhan yang meningkat biasanya juga disertai dengan kualitas yang
baik.
7) Umur
Umur seseorang sangat mempengaruhi kebutuhannya. Kebutuhan bayi, balita, anak-
anak, remaja, dewasa hingga lansia tentu berbeda. Bahkan untuk kebutuhan makan
pun berbeda dalam hal jenis, jumlah dan polanya (Mankiw, 2006).

b. Supply
Faktor yang mempengaruhi supply terhadap pelayanan kesehatan adalah Man, Money,
Material, Method, Market, Machine, Technology, Time, dan Information. Faktor-faktor
dimaksud dikenal dengan 6M, 2T, dan 1I.
• Man : dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, farmasis, tenaga administrasi, dll
• Money : biaya operasional, biaya investasi dan biaya lain-lain.
• Material : berhubungan dengan logistik pelayanan kesehatan, misalnya obat, suntik,
bahan makanan, dan lain sebagainya.
• Method : SOP rumah sakit, Standart Pelayanan Minimal (SPM), dll.
• Machine : peralatan laboratorium, peralatan unit penunjang, dll
• Market : wilayah kerja pelayanan kesehatan, segmentasi pasar, masyarakat sasaran
yang dibidik berdasarkan proses STP (segmenting, targeting dan posisioning)
• Teknologi : kecanggihan dan kemutakhiran teknologi yang digunakan misalnya finger
print, dan lain sebagainya.
• Time : waktu yang digunakan untuk pelayanan, unit pelayanan.
• Informasi : melalui internet, pamflet dan leaflet.(Janis, 2014)

28
Dimas ananta (09-91)

Wants
1.Faktor Kebudayaan
Kebudayaan adalah simbol dan fakta yang kompleks yang diciptakan oleh manusia,
diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia
dalam masyarakat yang ada. Faktor kebudayaan terdiri atas 3 yaitu budaya, sub budaya, dan
kelas sosial.
2. Faktor Sosial
Faktor sosial seperti kelompok referensi, keluarga, serta peran sosial dan status
mempengaruhi perilaku pembelian.
3. Faktor Pribadi
Faktor pribadi didefinisikan sebagai krakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan
orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap
lingkungan. Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu : Umur
dan tahap daur hidup, Pekerjaan, Situasi ekonomi, Gaya hidup, dan Kepribadian dan konsep
diri.
4. Faktor Psikologis
Faktor psikologis sebagai bagian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup pada
waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh di masa lampau atau antisipasinya pada waktu
yang akan datang. Pilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh faktor
psikologi yang penting. Faktor Psikologi terdiri dari : Motivasi, Persepsi, Pengetahuan,
Keyakinan, dan Sikap ( Nailis, 2016).

Demands
1. Kebutuhan Berbasis Fisiologis
Kebutuhan berbasis pada aspek fisiologis menekankan pentingnya keputusan petugas medis
yang menentukan perlu tidaknya seseorang mendapat pelayanan medis. Keputusan petugas
medis ini akan mempengaruhi penilaian seseorang akan status kesehatannya. Berdasarkan
situasi ini maka demand pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan atau dikurangi. Faktor-
faktor ini dapat diwakilkan dalam pola epidemiologi yang seharusnya diukur berdasarkan
kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, data epidemiologi yang ada sebagian besar
menggambarkan puncak gunung es yaitu demand, bukan kebutuhan (needs).

29
2. Penilaian Pribadi akan Status Kesehatan
Secara sosio-antropologis, penilaian pribadi akan status kesehatan dipengaruhi oleh
kepercayaan, budaya dan norma-norma sosial di masyarakat. Indonesia sebagai negara Timur
sejak dahulu telah mempunyai pengobatan alternatif dalam bentuk pelayanan dukun ataupun
tabib. Pelayanan ini sudah berumur ratusan tahun sehingga dapat dilihat bahwa demand
terhadap pelayaanan pengobatan alternatif ada dalam masyarakat. Sebagai contoh, untuk
berbagai masalah kesehatan jiwa peranan dukun masih besar. Di samping itu, masalah
persepsi mengenai risiko sakit merupakan hal yang penting. Sebagian masyarakat sangat
memperhatikan status kesehatannya, sebagian lain tidak memperhatikannya.
3. Variabel-Variabel Ekonomi Tarif
Hubungan tarif dengan demand terhadap pelayanan kesehatan adalah negatif. Semakin tinggi
tarif maka demand akan menjadi semakin rendah. Sangat penting untuk dicatat bahwa
hubungan negatif ini secara khusus terlihat pada keadaan pasien yang mempunyai pilihan.
Pada pelayanan rumah sakit, tingkat demand pasien sangat dipengaruhi oleh keputusan
dokter. Keputusan dari dokter mempengaruhi length of stay, jenis pemeriksaan, keharusan
untuk operasi, dan berbagai tindakan medik lainnya. Pada keadaan yang membutuhkan
penanganan medis segera, maka faktor tarif mungkin tidak berperan dalam mempengaruhi
demand, sehingga elastisitas harga bersifat inelastik.Sebagai contoh, operasi segera akibat
kecelakaan lalu lintas. Apabila tidak ditolong segera, maka korban dapat meninggal atau
cacat seumur hidup. Masalah tarif rumah sakit merupakan hal yang kontroversial. Pernyataan
normatif di masyarakat memang mengharapkan bahwa tarif rumah sakit harus rendah agar
masyarakat miskin mendapat akses. Akan tetapi tarif yang rendah dengan subsidi yang tidak
cukup dapat menyebabkan mutu pelayanan turun bagi orang miskin dan hal ini menjadi
masalah besar dalam manajemen rumah sakit.
4. Penghasilan Masyarakat
Kenaikan penghasilan keluarga akan meningkatkan demanduntuk pelayanan kesehatan yang
sebagian besar merupakan barang normal. Akan tetapi, ada pula sebagian pelayanan
kesehatan yang bersifat barang inferior, yaitu adanya kenaikan penghasilan masyarakat justru
menyebabkan penurunan konsumsi. Hal ini terjadi pada rumah sakit pemerintah di berbagai
kota dan kabupaten. Ada pula kecenderungan mereka yang berpenghasilan tinggi tidak
menyukai pelayanan kesehatan yang menghabiskan waktu banyak. Hal ini diantisipasi oleh
rumah sakit-rumah sakit yang menginginkan pasien dari golongan mampu. Masa tunggu dan
antrian untuk mendapatkan pelayanan medis harus dikurangi dengan menyediakan pelayanan
rawat jalan dengan perjanjian misalnya. Faktor penghasilan masyarakat dan selera mereka
30
merupakan bagian penting dalam analisis demand untuk keperluan pemasaran rumah sakit.
5. Asuransi Kesehatan dan Jaminan Kesehatan
Pada negara-negara maju, faktor asuransi kesehatan menjadi penting dalam hal demand
pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat masyarakat tidak membayar
langsung ke pelayanan kesehatan, tetapi melalui sistem asuransi kesehatan. Di samping itu,
dikenal pula program pemerintah dalam bentuk jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin
dan orang tua. Program pemerintah ini sering disebut sebagai asuransi sosial. Adanya
asuransi kesehatan dan jaminan kesehatan dapat meningkatkan demand terhadap pelayanan
kesehatan. Dengan demikian, hubungan asuransi kesehatan dengan demand terhadap
pelayanan kesehatan bersifat positif. Asuransi kesehatan bersifat mengurangi efek faktor tarif
sebagai hambatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada saat sakit. Dengan
demikian, semakin banyak penduduk yang tercakup oleh asuransi kesehatan maka demand
akan pelayanan kesehatan (termasuk rumah sakit) menjadi semakin tinggi. Peningkatan
demand ini dipengaruhi pula oleh faktor moral hazard. Seseorang yang tercakup oleh asuransi
kesehatan akan terdorong menggunakan pelayanan kesehatan sebanyak-banyaknya.
6. Variabel-Variabel Demografis dan Umur
Faktor umur sangat mempengaruhi demand terhadap pelayanan preventif dan kuratif.
Semakin tua seseorang sendiri meningkat demand-nya terhadap pelayanan kuratif. Sementara
itu, demand terhadap pelayanan kesehatan preventif menurun. Dengan kata lain, semakin
mendekati saat kematian, seseorang merasa bahwa keuntungan dari pelayanan kesehatan
preventif akan lebih kecil dibandingkan dengan saat masih muda. Fenomena ini terlihat pada
pola demografi di negara-negara maju yang berubah menjadi masyarakat tua. Pengeluaran
untuk pelayanan kesehatan menjadi sangat tinggi.
7. Jenis Kelamin
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa demand terhadap pelayanan kesehatan
oleh wanita ternyata lebih tinggi dibanding dengan laki-laki. Hasil ini sesuai dengan dua
perkiraan. Pertama, wanita mempunyai insidensi penyakit yang lebih tinggi dibanding dengan
laki-laki. Kedua, karena angka kerja wanita lebihrendah maka kesediaan meluangkan waktu
untuk pelayanan kesehatan lebih besar dibanding dengan laki-laki. Akan tetapi, pada kasus-
kasus yang bersifat darurat perbedaan antara wanita dan laki-laki tidaklah nyata.
8. Pendidikan
Seseorang dengan pendidikan tinggi cenderung mempunyai demand yang lebih tinggi.
Pendidikan yang lebih tinggi cenderung meningkatkan kesadaran akan status kesehatan, dan
konsekuensinya untuk menggunakan pelayanan kesehatan.
31
9. Faktor-Faktor Lain
Berbagai faktor lain yang mempengaruhi demand pelayanan kesehatan, yaitu pengiklanan,
tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan, serta inflasi. Iklan merupakan faktor
yang sangat lazim digunakan dalam bisnis komoditas ekonomi untuk meningkatkan demand.
Akan tetapi, sektor pelayanan kesehatan secara tradisional dilarang karena bertentangan
dengan etika dokter dan apabila akan diberikan maka dalam bentuk informasi mengenai
pelayanan rumah sakit. Patut dicatat bahwa pelayanan kesehatan tradisional seperti para
tabib, dukun, dan pengobatan alternatif sudah lazim melakukan iklan di surat kabar dan
majalah. Berbagai rumah sakit di Indonesia telah memperhatikan faktor pengiklanan sebagai
salah satu cara peningkatan demand.
Tersedianya dokter dan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan faktor lain yang
meningkatkan demand. Fuchs (1998) menyatakan bahwa pada asumsi semua faktor lain
tetap, kenaikan jumlah dokter spesialis bedah sebesar 10% akan meningkatkan jumlah
operasi sebesar 3%. Kehadiran dokter gigi akan meningkatkan demand untuk pelayanan
kesehatan mulut. Keberadaan dokter spesialis THT akan meningkatkan demand untuk operasi
tonsilektomi. Kehadiran dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dengan peralatan
operasi akan meningkatkan demand untuk pelayanan bedah caesar.
Efek inflasi terhadap demand terjadi melalui perubahan-perubahan pada tarif pelayanan
rumah sakit, jumlah relatif pendapatan keluarga, dan asuransi kesehatan. Faktor ini harus
diperhatikan oleh rumah sakit karena pada saat inflasi tinggi, ataupun pada resesi ekonomi,
demand terhadap pelayanan kesehatan akan dapat terpengaruh. Pada saat krisis ekonomi di
Indonesia, tercatat berbagai rumah sakit di Yogyakarta tidak mengalami penurunan demand.
Justru bangsal-bangsal VIP tidak menurun penghuninya, bahkan menunjukkan
kecenderungan naik. Salah satu dugaan adalah pasien kaya yang biasa pergi ke Jakarta atau
Singapura, mengubah perilakunya untuk mencari penyembuhan pada rumah sakit di
Yogyakarta. Ketika kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) merebak di
Singapura, pengamatan menunjukkan bahwa BOR kelas VIP di sebuah kota besar di
Indonesia ternyata meningkat. Ada kemungkinan penduduk Indonesia yang demand mencari
pengobatan biasa ke Singapura, kemudian mengubahnya ke Indonesia akibat takut terkena
SARS (Trisnantoro, 2018).

Supply
Faktor yang mempengaruhi supply terhadap pelayanan kesehatan adalah Man, Money,
Material, Method, Market, Machine, Technology, Time, dan Information. Faktor-faktor
32
dimaksud dikenal dengan 6M, 2T, dan 1I. Penjelasan dan contoh dari faktor dimaksud adalah
sebagaimana berikut.
• Man Sumber daya manusia yang menyediakan layanan kesehatan baik langsung
maupun tidak langsung. Contoh: dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, farmasis,
tenaga administrasi, dan lain sebagainya.
• Money Biaya yang muncul dalam penyediaan layanan kesehatan. Contoh: biaya
operasional, biaya investasi dan biaya lain-lain.
• Material Material yang berhubungan dengan logistik pelayanan kesehatan. Misal:
obat, alat suntik, bahan dasar obat, dan lain sebagainya.
• Method Manual atau SOP yang ada pada fasilitas layanan kesehatan (rumah sakit,
klinik dan laboratorium klinis). Misal: Standar Pelayanan Minimal (SPM), prosedur
tindakan medis dan lain-lain.
• Machine Peralatan yang digunakan dalam penyediaan layanan kesehatan.
Misal: peralatan laboratorium, peralatan medis (utama dan penunjang) seperti dental
chair, dan lain-lain.
• Market Wilayah kerja pelayanan kesehatan.
• Teknologi Teknologi yang digunakan dalam pemberian layanan kesehatan.
• Time Waktu yang digunakan dalam pemberian layanan kesehatan.
• Informasi Informasi terkait dengan layanan kesehatan dalam bentuk media internet,
pamflet dan leaflet (Janis, 2018).

4. Supply induced demands


Anindhita (14-29)

Supplier Induced Demand menggambarkan suatu keadaan dimana seorang pengusaha


menetapkan demand konsumennya atau pelanggannya dengan cara tidak berbasis pada need.
Penetapan ini dilakukan dengan basis usaha meningkatkan demand dari tingkat yang
seharusnya. Dengan demikian istilah terjemahannya adalah “pengusaha meningkatkan
demand” pelanggannya atau konsumen. Supplier Induced Demand terjadi akibat tidak
seimbangnya informasi yang ada pada pengusaha dengan konsumennya. Pengusaha
meningkatkan demand konsumennya berbasis pada motivasi ekonomi untuk meningkatkan
pendapatannya. Dalam ilmu ekonomi istilah supply induced demand dapat diartikan
pemanfaatan berlebihan atau tidak sesuai dengan kebutuhan karena keputusan konsumen
untuk menggunakan atau tidak menggunakan barang/jasa sangat dipengaruhi oleh keputusan

33
produsen. Dengan demikian, tidak ada prinsip kesetaraan antara produsen dan konsumen
(Ambar W, 2003).

Zulfah A.F (14-17)

Fenomena SID (Supply Induced Demand) mengglobal dalam praktik layanan


kesehatan, dan terbukti empiris di banyak negara (De Jaegher and Jegers, 2000, Labelle et al.,
1994, Carlsen and Grytten, 2000, Azzahrazade, 2016, Van Doorslaer and Geurts, 1987),
termasuk Indonesia (Hidayat and Pokhrel, 2010, Azzahrazade, 2016). Analisis data
Indonesian Family Life Survei mendeteksi fenomena SID di perkotaan yang memiliki tingkat
kompetisi provider lebih tinggi dibandingkan di pedesaan (Hidayat and Pokhrel, 2010). Studi
(Azzahrazade, 2016) dengan data Susenas dan Podes 2012 mengklarifikasi SID di Indonesia.
Dari hasil analisis yang dilakukan dengan two-part (atau hurdle) model, Azahrazzade (2016)
menemukan angka probabilitas dokter yang mendorong kunjungan pasien rawat jalan
semakin tinggi seiring naiknya kompetisi dokter yang diukur dengan rasio dokter terhadap
populasi.
Fenomena SID memang semakin menonjol ketika kompetisi provider semakin
menguat (Léonard et al., 2009), dan terjadi dalam sistem kesehatan yang mengandalkan
mekanisme pasar. Ini contoh anomali dari asumsi ekonomi yang menyatakan “kompetisi dan
mekanisme pasar mendorong efisiensi”. Aplikasi asumsi ini pada kesehatan ternyata
menelorkan hasil sebaliknya, inefisiensi. Ketika terjadi over-supply, misalnya, kondisi
ekuilibrium penawaran dan permintaan pada pasar kesehatan terjadi bukan disebabkan oleh
turunnya harga layanan sebagaimana asumsi ekonomi yang berlaku pada pasar non-
kesehatan, namun karena kenaikan harga. Knsumen kesehatan tetap membelinya karena
supplier (dokter) berperan tidak hanya sebagai penyedia jasa tetapi juga sebagai advisor.
Wujud konkrit SID bervariasi, tergantung dari pola bayar apa yang digunakan untuk
membayar provider. Ketika pembayaran provider dilakukan dengan Diagnosis Related
Groups (DRGs), wujud SID dapat berupa pemulangan dini pasien yang masih membutuhkan
perawatan, atau bloody discharge (Qian et al., 2011) dengan harapan pasien berobat kembali.
Bloody discharge juga terjadi akibat alokasi dana DRGs untuk perawatan pasien sudah
terserap semua. Pada pelayanan rawat jalan, kaveat DRGs dapat berupa pemecahan kasus
menjadi beberapa kunjungan yang mendorong lahirnya readmisi (Bjorvatn, 2013). Tidak
heran jika DRGs, kecuali Indonesia, tidak lazim digunakan untuk membayar provider yang
memberikan layanan rawat jalan. Altrnatifnya discount on charge yang digunakan di

34
sejumlah negara, atau ambulatory payment classifications yang dipakai oleh program
medicare di Amerika (Hidayat B, 2016).

35
DAFTAR PUSTAKA

Ambar W.2003. Utilisasi Pelayanan Kesehatan:Problem Antara Pemeretaan dan Efisiensi


(Studi di Wilayah Pedesaan Kabupaten Purworejo). Program Doktor
Administrasi Publik;Universitas Gadjah Mada.14(1).ISSN: 0853 – 0262.
Bjorvatn, A. 2013. Hospital readmission among elderly patients. The European Journal of
Health Economics, 14, 809-820.
Gunawijaya, R. (2017). Kebutuhan Manusia Dalam Pandangan Ekonomi Kapitalis dan
Ekonomi Islam. Jurnal Al-Maslahah, 13(1).
Haning, Eriska dkk. 2018. Analisis Need dan Demand Pelayanan Kesehatan pada Puskesmas
Silawankerto Kota Surabaya di Era JKN. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan – Vol. 21 No. 3 Juli 2018: 172–179
Hidayat B. 2016. Terapi Sistemik Defisit JKN: Bahan Refleksi Bagi Semua Pihak. Jurnal
Ekonomi Kesehatan Indonesia.Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan
Kesehatan, FKMUIVolume 1, Nomor 1
Janis, N. 2014-. BPJS Kesehatan, Supply, dan Demand Terhadap Layanan
Kesehatan. Depkeu:Jakarta.
Janis, Novijan. 2018. BPJS Kesehatan, Supply, dan Demand Terhadap Layanan Kesehatan.
Léonard, C., Stordeur, S. & Roberfroid, D. 2009. Association between physician density and
health care consumption: A systematic review of the evidence. Health
Policy, 91, 121-134.
Mankiw, Gregory. 2006. Principles of Economics. Jakarta: Salemba Empat
Munadhir. 2017. Bahan Ajar Ekonomi Kesehatan. Makassar
Nailis, Welly. 2016. Faktor yang Menentukan dan Mempengaruhi Keputusan Konsumen
dalam Menggunakan Analisis Pelumas Kendaraan Bermotor di Kota
Palembang. Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya Vol. 14 No.3 September
2016: 420-436.
Philip Kotler.2015. Manajemen Pemasaran Sudut Pandang Asia.PT Indeks. Jakarta.
Qian, X., Russell, L. B., Valiyeva, E. & Miller, J. E. 2011. ‘Quicker And Sicker’ Under
Medicare’s Prospective Payment System For Hospitals: New Evidence On
An Old Issue From A National Longitudinal Survey. Bulletin of Economic
Research, 63, 1-27.
Trisnantoro, Laksono. 2017. Memahami Penggunaan Ilmu Manajemen dalam Manajemen
Rumah Sakit. Gajah Mada University Press 2017.

36
PERTEMUAN 3

1. Pasar
a. Pengertian
b. Fungsi
c. Struktur
2. Pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar persaingan monopolistik,
pasar oligopoli
3. Hukum permintaan dan Hukum penawaran
4. Kurva permintaan, Kurva penawaran
5. Elastisitas Permintaan Dan Penawaran

1. Pasar:
a. Pengertian
(Dimas 09-91)
Dari pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, maka dapat diambil
pengertian bahwa pasar merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran
barang dan jasa, tidak harus berwujud tempat seperti dalam pengertian sehari-hari.
Pasar dapat memiliki bentuk yang konkrit/terpusat atau abstrak/ tidak terpusat.
Karakteristik yang paling penting agar sesuatu dapat disebut sebagai pasar adalah
adanya pembeli dan penjual serta barang atau jasa yang diperjual belikan.

(Anindhita 14-29)
Menurut William J . Stanton pada tahun 1993
Mengatakan bahwa pasar adalah sekumpulan orang-orang yang
mempunyai keinginan untuk puas, uang untuk belanja , dan kemauan untuk
membelanjakan.

b. Fungsi
(Anindhita 14-29)
Fungsi Pasar
Pasar sangat penting dalam roda perekonomian sebuah negara, oleh karena itu
munculah fungsi utama pasar yaitu antara lain.

37
1. Fungsi Pembentukan Harga
Fungsi pembentukan harga. yang artinya pasar yaitu suatu tempat dalam
menentukan harga (nilai) suatu barang karna pasar adalah tempat bertemunya sih
penjual dan sih pembeli yang saling berinteraksi atau saling tawar menawar yang
sehingga memunculkan sebuah kesepatakan sebuah harga (nilai) barang tersebut.
2. Fungsi Distribusi
Fungsi Distribusi. yaitu suatu pasar yang memudahkan suatu kegiatan
produsen dalam mendistribusikan suatu barang kepada konsumen atau pembeli yang
secara langsung.
3. Fungsi Promosi
Fungsi Promosi. yaitu suatu tempat yang paling cocok bagi produsen dalam
memperkenalkan atau mempromosikan barangnya kepada konsumen.
4. Fungsi Penyerapan Tenaga Kerja
Selain pedagang dan pembeli, di pasar banya terdapat pihak lain yang terlibat
dalam suatu kegiatan ekonomi. yaitu tukang sapu, tukang sampah, ojek, tukang parkir,
dll. Oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa pasar juga mempunyai fungsi sebagai tempat
penyerapan tenaga kerja.

c. Struktur
(Anisa 14-34)
• Definisi :
Penggolongan produsen kepada
beberapa bentuk pasar berdasarkan pada ciri-ciri seperti jenis produk yang
dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar ata
u masuk ke dalam industri dan peranan iklan dalam kegiatan industri.
• Perilaku penjual dan pembeli di pasar dipengaruhi oleh struktur pasar yang
dihadapi penjual dan pembeli.
• Dimensi struktur pasar yang mempengaruhi perilaku penjual dan pembeli
adalah:
1. Jumlah dan luas distribusi penjual di pasar
2. Jenis produk apakah homogen atau heterogen
3. Kemampuan penjual untuk mempengaruhi pasar
4. Pengetahuan penjual dan pembeli akan pasar yang dihadapinya
5. Mudah tidaknya perusahaan untuk keluar masuk pasar.
38
(Dimas 09-91)
Menambahkan
Struktur pasar sebagai karakteristik organisasi pasar yang mempengaruhi sifat
kompentisi atau persaingan dan harga di dalam pasar. Bentuk pasar dikatakan persaingan
sempurna apabila ada banyak penjual dan pembeli serta produknya homogen. Apabila
hanya ada satu penjual di dalam pasar, maka dinamakan monopoli, namun, bila sedikit
perusahaan besar memberi barang dipasar maka dikatakan oligopoli. Oligopoli ada dua
macam, jika produknya homogen dapat dikatakan sebagai oligopoli murni, sedangkan
jika produknya berbeda maka dikatakan oligopoli berbeda.

2. Pasar persaingan sempurna


(Zulfah 14-17)
Pasar persaingan sempurna merupakan salah satu jenis pasar dalam struktur pasar.
Pasar persaingan sempurna termasuk kedalam jenis pasar yang dapat dikatakan sempurna
karena di dalam pasar tersebut terdapat banyak penjual yang menjual satu jenis produk
tertentu. Dapat dikatakan sempurna karena di dalam pasar penjual sama-sama menjual
barang sejenis dan tidak ada persaingan harga didalamnya serta para penjual dapat bebas
keluar masuk pasar karena di dalam pasar persaingan sempurna tidak ada penghalang
atau barriers.
Pasar persaingan sempurna memiliki lima ciri yaitu diantaranya :
1. Terdapat banyak penjual dan pembeli di dalam pasar.
2. Barang yang dijual bersifat homogen atau satu jenis.
3. Penjual Tidak dapat mempengaruhi harga atau penjual sebagai price taker.
4. Informasi di dalam pasar yang jelas dan sempurna.
5. Kemudahan bagi penjual untuk keluar masuk pasar.

Anindhita 14-29 menambahkan


6. Tidak ada biaya transportasi dan periklanan.
7. Bebas dari campur tangan Pemerintah.
8. Harga untuk suatu produk seragam di pasar diputuskan oleh permintaan dan
penawaran pelaku pasar. Tidak ada perusahaan yang dapat mempengaruhi harga, itulah
sebabnya mengapa perusahaan-perusahaan dalam Pasar Persaingan Sempurna
menjadi Price Taker.

39
9.Setiap perusahaan mendapatkan laba secara normal sehingga tidak ada keuntungan dan
kerugian yang berlebihan.

Pasar monopoli,
(Zulfah 14-17)
Berbeda dengan pasar persaingan sempurna, pasar monopoli merupakan kebalikan
dari pasar tersebut di dalam pasar monopoli hanya terdapat satu penjual untuk satu jenis
barang tertentu. Pada umumnya produsen monopoli memperoleh laba melebihi normal
karena adanya hambatan masuk ke dalam pasar serta di dalam pasar monopoli produsen
adalah sebagai price maker. Berikut merupakan ciri-ciri dari pasar monopoli :
1. Hanya ada satu penjual
2. Penjual dapat mempengaruhi harga pasar (Price Maker)
3. Terdapat hambatan untuk masuk ke dalam pasar bagi calon produsen baru ( Barriers to
entry).

Pasar persaingan monopolistik


(Arwinda 14-10)
Pasar persaingan monopolistis adalah suatu pasar dimana terdapat banyak produsen
yang menghasilkan barang yang berbeda corak (Differentiated Product) dan pada
dasarnya adalah pasar yang berada diantara dua pasar yang ekstrem, yaitu persaingan
sempurna dan monopoli.
Ciri-ciri Pasaer Persaingan Monopolistis:
• Terdapat banyak penjual
• Sifat produk berbeda corak
• Perusahaan mempunyai sedikit kekuasaan dalam mempengaruhi harga
• Kemudahan dalam memasuki industri
• Persaingan promosi penjualan sangat aktif
Keuntungan Pasar Monopolistik
1. Banyaknya produsen dalam pasar sehingga konsumen memiliki banyak alternatif
produk.
2. Produsen dapat bebas keluar dan masuk pasar karena tidak ada hambatan yang
berarti (tidak ada barriers to entry).
3. Inovasi yang dapat dilakukan, mulai dari proses produksi atau mengembangkan cara baru
untuk menarik konsumen.
40
Kekurangan Pasar Monopolistik :
1. Banyaknya produsen dalam pasar membuat persaingan yang ketat.
2. Karena produsen harus selalu mengembangkan inovasi agar dapat bersaing, akan muncul
biaya inovasi yang akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui harga produk.
3. Besarnya biaya persaingan yang harus dikeluarkan seperti iklan dan insentif.

Pasar oligopoli
Pasar oligopoli adalah pasar yang hanya terdiri dari beberapa produsen saja. Jika hanya
dua perusahaan disebut dengan duopoli.
Ciri-ciri Pasar Oligopoli
• Menghasilkan barang standar maupun barang yang berbeda coraknya
• Kemampuan menentukan harga ada kalanya kuat ada kalanya lemah
• Pada umumnya memerlukan promosi (iklan).

Kelebihan:
a. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan terhadap barang yang ingin dikonsumsinya
b. Persaingan antar produsen dapat memberikan keuntungan bagi konsumen, terutama
karena akan meningkatkan kesadaran produsen untuk memuaskan kebutuhan konsumen
c. Perusahaan umumnya terus melakukan inovasi sehingga produk semakin berkembang
Kekurangan:
• Perang harga antar produsen sering terjadi
• Produsen menggelontorkan banyak dana untuk iklan dan promosi agar produknya
dapat dibedakan dengan produk dari produsen lainnya.
• Pemborosan sumber daya ekonomi

(Anisa 14-34)
Pasar produk homogen dan terdiferensiasi
Pasar Homogen
• Pasar dimana penjual menyediakan barang ataupun jasa namun barang atau jasa yang
ditawarkan oleh penjual dalam pasar ini bersifat sama dan sejenis, sehingga rata-rata
semua pembeli yang datang yaitu pembeli yang hanya membutuhkan barang atau jasa
yang sama.

41
Pasar Terdiferensiasi.
• Produk terdiferensiasi adalah produk dapat dibedakan oleh konsumen dengan melihat
siapa produsennya. Barang-barang tersebut dapat dibedakan oleh kualitas barangnya,
model, bentuk, warna, bahkan oleh kemasan, merek dan pelayanannya.
• Termasuk bagian dari struktur pasar monopolistic namun produk yang dihasilkan
tidak homogen melainkan terdiferensiasi (differentiated product), namun perbedaan
barang antar satu produk dengan produk yang lain tidak terlalu besar. Diferensiasi ini
mendorong perusahaan untuk melakukan persaingan non harga.

Market share/Pangsa pasar


(Arwinda 14-10)
Pangsa Pasar /market share adalah sebuah strategi pemasaran yang mencakup sasaran
pasar yang luas menjadi kumpulan dari beberapa bagian kecil diantaranya konsumen,
bisnis dan negara yang memiliki kebutuhan umum atau suatu kepentingan dan
mempunyai prioritas dan kemudian merancang suatu strategi untuk menjadikannya
sasaran. Biasanya pangsa pasar dipakai guna menganalisa target pasar sebuah produk
yang tergantung pada permintaan yang spesifik serta sesuai dengan segmentasi produk.
Pangsa pasar ( Market Share ) menurut william dapat diartikan sebagai bagian pasar yang
dikuasai oleh suatu perusahaan, atau prosentasi penjualan suatu perusahaan terhadap total
penjualan para pesaing terbesarnya pada waktu dan tempat tertentu

Dimas (09-91) menambahkan


Pangsa pasar merupakan bagian dari pasar yang dapat dicapai oleh perusahaan.
Pangsa pasar dapat menjadi salah satu dari indikator meningkatnya kinerja pemasaran
suatu perusahaan. Seperti misalnya sebuah perusahaan pada tahun 2007 mempunyai
target pangsa pasarnya sebesar 13% dengan biaya promosi sebesar Rp. 35 juta untuk
membantu mencapai targetnya tersebut, lalu pangsa pasar yang dicapainya mencapai
14%, maka hal tersebut menandakan kinerja dari perusahaan yang baik.Jika pada tahun
2007 tersebut pangsa pasar yang dicapainya hanya sebesar 12% saja, maka itu
menunjukan kinerja pemasaran yang kurang baik sebab perusahaan menghadapi masalah
efesiensi dan masalah efektivitas.

42
(Zulfah 14-17)
Market share atau pangsa pasar adalah bagian dari seluruh permintaan atas suatu
barang yang mencerminkan golongan konsumen berdasarkan ciri khasnya (market
segment). Penggolongan konsumen dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat
penghasilan, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan status sosial. Tujuan pangsa pasar
merupakan indikator kunci dari daya saing pasar-yaitu, seberapa baik perusahaan
melakukan dibandingkan dengan pesaingnya.

Permintaan dan Penawaran


(Zulfah 14-17)
Penawaran dan Permintaan dalam ilmu ekonomi, adalah penggambarkan atas
hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang.
Model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang
terjual di pasar. Model ini sangat penting untuk melakukan analisis ekonomi mikro
terhadap perilaku serta interaksi para pembeli dan penjual. Permintaan dan penawaran
juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagai model dan teori ekonomi lainnya. Model
ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi
sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang
ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan
kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat
mengubah keseimbangan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya
pergeseran dari permintaan atau penawaran.
- Teori Permintaan (Zulfah 14-17)
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu dibeli oleh
konsumen, pada berbagai tingkat harga, dan pada waktu tertentu. Beberapa faktor yang
mempengaruhi permintaan adalah harga barang itu sendiri, harga barang lain yang
berkaitan, tingkat pendapatan, selera konsumen serta ekspektasi/perkiraan.
(Arwinda 14-10)
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan
• Perilaku/selera konsumen
• Ketersediaan dan perubahan harga barang sejenis pengganti dan pelengkap
• Pendapatan/penghasilan konsumen
• Perkiraan harga di masa depan
• Banyaknya/intensitas kebutuhan konsumen
43
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penawaran
• Biaya produksi dan tekonologi yang digunakan
• Tujuan dari perusahaan
• Pajak
• Ketersediaan dan perubahan harga barang pengganti atau pelengkap
• Prediksi/perkiraan harga barang di masa depan
Hukum permintaan
Dimas Ananta (09-91)
Hukum Permintaan (the low of demand) pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis
yang menyatakan : “Hubungan antara barang yang diminta dengan harga barang tersebut
dimana hubungan berbanding terbalik yaitu ketika harga meningkat atau naik maka
jumlah barang yang diminta akan menurun dan sebaliknya apabila harga turun jumlah
barang meningkat
Hukum penawaran adalah makin tinggi harga suatu barang, makin banyak jumlah barang
yang ditawarkan oleh para penjual dan sebaliknya makin rendah harga suatu barang,
makin sedikit jumlah barang yang ditawarkan.Penawaran dan permintaan bertemu dalam
satu titik disebut equilibrium atau keseimbangan terdiri dari harga dan kuantitas.

(Anisa 14-34)
Elastisitas Permintaan Dan Penawaran
Elastisitas merujuk pada derajat respon permintaan atau penawaran yang berpengaruh
pada perubahan harga. Derajat ini menunjukkan sejauh mana permintaan dan penawaran
bereaksi atas perubahan harga suatu produk. Elastisitas permintaan adalah pengaruh
perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah barang yang diminta atau tingkat
kepekaan perubahan jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harga
barang. Elastisitas penawaran adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya
jumlah barang yang ditawarkan atau tingkat kepekaan perubahan jumlah barang yang
ditawarkan terhadap perubahan harga barang.

Rumus elastisitas
Elastisitas = (% perubahan kuantitas : % perubahan harga)
Bila angka elastisitas lebih atau sama dengan 1, maka kurvanya dianggap sebagai kurva
yang elastis. Namun bila kurang dari dari 1, kurva tersebut dianggap sebagai tidak elastis.

44
Bila digambarkan melalui grafis, elastisitas ini dapat ditunjukkan melalui kurva
permintaan dan penawaran. Kurva yang lebih elastis akan berbentuk horizontal,
sedangkan yang tidak elastis akan lebih miring atau cenderung vertikal.

Anindhita (14-29)
Faktor yang memengaruhi elastisitas
1. Adanya barang pengganti
Pada umumnya semakin banyak barang pengganti yang tersedia di pasaran, maka
permintaan akan barang tersebut semakin elastis. Misal bila harga secangkir kopi favorit
konsumen naik, maka akan ada kecenderungan konsumen beralih pada merek atau
secangkir minuman lain yang lebih murah.
Namun bila kenaikan harga tersebut berasal dari harga bubuk/biji kopi yang memang
naik, maka bisa jadi tidak ada perubahan terhadap penjualan kopi, karena konsumen akan
kesulitan untuk mencari pengganti kafein.
2. Kebutuhan
Seperti yang telah kami bahas, bila suatu produk dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari,
konsumen akan tetap membelinya meski harganya naik. Misalnya bila seseorang perlu
naik motor untuk berangkat ke kerja setiap hari, maka meski harga bahan bakar naik, ia
akan tetap membelinya karena bahan bakar merupakan kebutuhan yang tidak dapat
diganti.
3. Waktu
Kita ambil contoh seorang perokok berat yang dapat menghabiskan satu pak rokok setiap
harinya. Meski harga rokok yang biasa mereka beli naik, mereka akan cenderung tetap
membelinya sebagai konsumsi sehari-hari.

45
Jawaban sesuai referensi :

I. Pasar (Pengertian, Fungsi, Struktur)

Menurut para ahli dibidang pemasaran, seperti yang dikemukakan oleh Kotler (1997),
mengenai definisi pasar adalah “ Pasar yaitu terdiri dari semua pelanggan potensial yang
memliki kebutuhan atau keingingan tertentu yang sama, yang mungkin bersedia dan mampu
melaksanakan pertukaran untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan itu”. Pasar merupakan
tempat pertemuan antara penjual dan pembeli. Dalam ilmu ekonomi pengertian pasar lebih
luas daripada hanya sekedar tempat pertemuan antara penjual dan pembeli untuk mengadakan
transaksi jual beli-barang/jasa. Pasar mencakup keseluruhan permintaan dan penawaran,
seluruh kontak atau interaksi antara penjual dan pembeli untuk mempertukarkan barang dan
jasa. Fungsi pasar ialah sebagai mata rantai yang mempertemukan penjual (yang mempunyai
barang/jasa dan menginginkan uang) dengan pembeli (yang mempunyai uang dan
menginginkan barang/jasa). Penjual dan pembeli tidak perlu bertemu muka: dapat melalui
surat, telepon atau e-mail, melalui iklan di surat kabar atau dengan bantuan perantara, asal
saja keinginan pihak yang satu dapat diketahui oleh pihak yang lain (Indrawati dan Yovita,
2014).

Fungsi pasar
Menurut Fuad dkk (2000 : 10) memiliki tiga fungsi yaitu sebagai berikut :
1. Pembentukan nilai harga
Pasar berfungsi untuk pembentukan harga karena pasar merupakan tempat bertemunya
penjual dan pembeli yang kemudian saling menawar dan akhirnya membuat kesepakatan
suatu harga. Harga atau nilai ini merupakan suatu hasil dari proses jual beli yang
dilakukan di pasar.
2. Pendistribusian
Pasar mempermudah produsen untuk mendistribusikan barang dengan para konsumen
secara langsung. Pendistribusian barang dari produsen ke konsumen akan berjalan lancar
apabila pasa berfungsi dengan baik.
3. Promosi
Pasar merupakan tempat yang paling cocok bagi produsen untuk memperkenalkan
produknya kepada konsumen. Karena pasar akan selalu dikunjungi oleh banyak orang
meskipun tidak diundang.

46
Struktur Pasar
Struktur pasar yang biasanya didefenisikan oleh rasio kosentrasi pasar dan pangsa pasar.
Secara umum keadaan struktur pasar dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar, yaitu
struktur pasar persaingan sempurna dan struktur pasar persaingan tidak sempurna.
Selanjutnya, struktur pasar persaingan tidak sempurna dapat terdiri dari struktur pasar
persaingan monopolistik, oligopoli dan monopoli ( Revida dan Septiarini, 2017).

Perilaku penjual dan pembeli di pasar dipengaruhi oleh struktur pasar yang
dihadapi penjual dan pembeli.
Dimensi struktur pasar yang mempengaruhi perilaku penjual dan pembeli adalah:
1. Jumlah dan luas distribusi penjual di pasar
2. Jenis produk apakah homogen atau heterogen
3. Kemampuan penjual untuk mempengaruhi pasar
4. Pengetahuan penjual dan pembeli akan pasar yang dihadapinya
5. Mudah tidaknya perusahaan untuk keluar masuk pasar. (Adiningsih dan Kadarusman,
2008).
Struktur pasar memiliki pengertian penggolongan produsen kepada
beberapa bentuk pasar berdasarkan pada ciri-ciri seperti jenis produk yang
dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar atau masuk ke
dalam industri dan peranan iklan dalam kegiatan industri. Pada analisa ekonomi dibedakan
menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna (yang meliputi
monopoli, oligopoli, monopolistik dan monopsoni) (Teguh, 2010).

II. Pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, oligopoli, monopolistik, dan


monopsoni.

Pasar Persaingan sempurna


Pasar persaingan sempurna merupakan salah satu jenis pasar dalam struktur
pasar. Pasar persaingan sempurna termasuk kedalam jenis pasar yang dapat
dikatakan sempurna karena di dalam pasar tersebut terdapat banyak penjual yang
menjual satu jenis produk tertentu. Dapat dikatakan sempurna karena di dalam pasar
penjual sama-sama menjual barang sejenis dan tidak ada persaingan harga
didalamnya serta para penjual dapat bebas keluar masuk pasar karena di dalam pasar
persaingan sempurna tidak ada penghalang ataubarriers.
Pasar persaingan sempurna memiliki lima ciri yaitu diantaranya :

47
1. Terdapat banyak penjual dan pembeli di dalampasar.
2. Barang yang dijual bersifat homogen atau satujenis.
3. Penjual Tidak dapat mempengaruhi harga atau penjual sebagai price taker.
4. Informasi di dalam pasar yang jelas dansempurna.
5. Kemudahan bagi penjual untuk keluar masukpasar.

Pasar persaingan sempurna memiliki dua keseimbangan yaitu keseimbangan


jangka pendek dan keseimbangan jangka panjang. Keseimbangan jangka pendek
adalah rekonstruksi dari marjinal cost yang dimulai dari titik beku usaha (shut down
point ) hingga perusahaan mendapatkan laba. Kondisi keseimbangan tercapai ketika
produsen memperoleh laba maksimum sebesar bidang yang diarsir. Syarat untuk
memperoleh laba maksimum produsen harus menghasilkan output ketika MR=MC.
MC berlereng positif di titik A pada harga P0 dan jumlah output Q0.
Jika produsen berproduksi pada harga P1 dan jumlah Output Q1, maka
produsen akan memperoleh laba sebesar 0 atau produsen berada titik impas. Jika
produsen berproduksi pada harga P2 dan jumlah output Q2 maka produsen akan
memperoleh kerugian sebesar biaya tetap.

PasarMonopoli
Berbeda dengan pasar persaingan sempurna, pasar monopoli merupakan
kebalikan dari pasar tersebut di dalam pasar monopoli hanya terdapat satu penjual
untuk satu jenis barang tertentu. Pada umumnya produsen monopoli memperoleh
laba melebihi normal karena adanya hambatan masuk ke dalam pasar serta di
dalam pasar monopoli produsen adalah sebagai price maker. Berikut merupakan
ciri-ciri dari pasar monopoli:
1. Hanya ada satupenjual
2. Penjual dapat mempengaruhi harga pasar ( PriceMaker)
3. Terdapat hambatan untuk masuk ke dalam pasar bagi calon produsen baru (
Barriers toentry).

Pasar Persaingan Monopolistis


Pasar persaingan monopolistis adalah suatu pasar dimana terdapat banyak produsen
yang menghasilkan barang yang berbeda corak (Differentiated Product) dan pada
dasarnya adalah pasar yang berada diantara dua pasar yang ekstrem, yaitu persaingan
sempurna dan monopoli. Pada pasar persaingan monopolistik terdapat adanya unsur

48
kompetisi yang didasarkan kenyataan bahwa terdapat banyak perusahaan /
produsen di mana tindakan satu produsen akan mempengaruhi produsen yang lain.
Tetapi juga terdapat unsur monopoli di mana perusahaan memproduksi barang yang
homogen tapi masing-masing mempunyai perbedaan yang signifikan sehingga
konsumen punyapilihan (Nasution, 2012).
Ciri – ciri Persaingan Monopolistik:
1. Terdapat banyak perusahaan dalam industritersebut
2. Tindakan / keputusan yang diambil oleh suatu perusahaan akan
mempengaruhi perusahaan yang lain.
3. Kurva permintaan perusahaan pesaing adalah berslope negatif dan
cukupelastis
4. Meski jenis produknya sama tapi tidak homogen, terdapat perbedaan yang
menyebabkan konsumen mempunyaipilihan
5. Persaingan yang dilakukan bukan dalam bentuk harga
6. Tidak terdapat rintangan untuk keluar masukpasar

Pasar Monopolistik memiliki ciri-ciri: Produknya homogen, jumlah produsen


sangat banyak dan pengaruh terhadap harga tidak ada/tidak perlu bersaing karena
produsen tidak bisa mempengaruhi harga. Produknya sama tapi dibedakan dengan
merk, kemasan hanya sedikit produsen dan masing- masing berpengaruh atas
segmen Persaingan yang terjadi bukan bersifat harga, tapi cenderung iklan Unsur
terpenting dalam Pasar Persaingan Monopolistikadalah:

1. Produsen jumlahnya cukup banyak, dengan barang yang homogen tapi


mempunyai diferensiasi produk (Rosyidi,2006:452). Diferensiasi ini yang
akan diunggulkan oleh perusahaan untuk menarik pangsa pasar. Misalnya
lokasi, fasilitas pembayaran , periklanan dan lain- lain, yang sifatnya
bukanharga.
2. Rintangan masuk dalam pasar adalah karena faktor finansial.
3. Kecenderungan pasar persaingan monopolistik yang produsennya banyak
menyebabkan tingkat kapasitas produksinya rendah/tidak bekerja
denganoptimal sehingga untuk meraih keuntungan dengan menetapkan harga
yang relatif tinggi (Misalnya banyaknya apotik pada satu kota tertentu)
(Nasution, 2012).

Karena itu maka perusahaan yang ada dalam pasar persaingan monopolistik banyak

49
yang melakukan diferensiasi produk agar mampu bertahan dan memperoleh
keuntungan dalam jangka panjang. Misalnya dengan penciptaan barang yang sama
tapi dengan type, style, merk dan harga yang berbeda untuk menjangkau
hampirsemua pangsa pasar yang ada. (Misalnya Pasar Sabun ( Lux, Giv, Lifebouy ),
Pasar Shampo (Clear, Sunsilk, Pantene) dan lain- lain) (Nasution, 2012).
Advertensi merupakan hal yang paling pokok dalam pasar persaingan
monopolistik. Advertensi dan promosi penjualan mencoba membujuk konsumen
dengan mencocokkan permintaan dengan produk yang ditawarkan penjual
sementara. Diferensiasi produk berusaha menohok selera yang dimilikinya dengan
penganekaragaman jenis barang. Tujuan Iklan adalah:
a. Membedakan produk perusahaan dengan perusahaan lain untuk jenis barang
yang sama dan menimbulkan kefanatikkan atau kesetiaan terhadap
merktertentu.
b. Membuat kurva menjadi kurang elastis ( in elastis ) atau semakin curam
yang artinya perubahan terhadap harga tidak akan memberikan pengaruh
yang terlalu besar terhadap permintaan akanbarang (Nasution, 2012).
Pasar Oligopoli
Pasar oligopoli adalah pasar yang hanya terdiri dari beberapa produsen saja. Jika
hanya dua perusahaan disebut dengan duopoli. Kondisi pasar oligopoli ini pada dasarnya
dapat terjadi karena 2 (dua) hal, yaitu: pertama, bertujuan untuk membatasi persaingan
diantara para produsen-produsen. Kedua, karena terjadi secara alamiah, hal ini
dikarenakan biasanya pasar oligopoli ini terbentuk pada industri yang membutuhkan
capital intensive, dan keahlian tertentu. Hal ini dikarenakan dapat membahayakan
persaingan di pasar, dimana produsen-produsen yang mempunyai kekuatan pasar mampu
mengendalikan harga pasar, maka oleh karenanya diterbitkan Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,
dimana dalam Undang-Undang tersebut oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori
perjanjian yang dilarang. Walaupun dalam prakteknya tindakan oligopoli yang
membahayakan persaingan sering tidak didahului oleh adanya perjanjian tertulis atau lisan
antara mereka layaknya kartel atau perjanjian penetapan harga namun bisa saja terjadi
dengan keterkaitan reaksi para oligopolis dalambertindak (Bhakti, 2017).

Pasar oligopoli bukanlah merupakan hal yang luar biasa, oligopoli terjadi hampir di
semua negara. Secara sederhana oligopoli ditafsirkan sebagai kondisi suatu pasar di mana

50
hanya terdapat sedikit penjual, dan masing-masing menjual barang yang sama dengan
yang lain.Kondisi pasar yang oligopoli ini menyebabkan tindakan salah satu produsen
dalam pasar dapat mempengaruhi keuntungan produsen yang lain. Artinya, produsen akan
saling terkait satu sama lain dengan cara yang berbeda dengan produsen yang
berkompetisi dalam sebuah pasar persaingan sempurna (Bhakti, 2017).
Sedangkan menurut ilmu ekonomi oligopoli merupakan salah satu bentuk struktur
pasar, dimana di dalam pasar tersebut hanya terdiri dari sedikit produsen, dan setiap
produsen yang ada di dalam pasar tersebut memiliki kekuatan yang (cukup) besar untuk
mempengaruhi harga pasar sehingga perilaku setiap produsen akan mempengaruhi
perilaku produsen lainnya didalampasar (Bhakti, 2017).
Ciri-ciri Pasar Oligopoli
• Menghasilkan barang standar maupun barang yang berbeda coraknya
• Kemampuan menentukan harga ada kalanya kuat ada kalanya lemah
• Pada umumnya memerlukan promosi (iklan).
Kelebihan:
a. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan terhadap barang yang ingin dikonsumsinya
b. Persaingan antar produsen dapat memberikan keuntungan bagi konsumen, terutama
karena akan meningkatkan kesadaran produsen untuk memuaskan kebutuhan
konsumen
c. Perusahaan umumnya terus melakukan inovasi sehingga produk semakin berkembang
Kekurangan:
a. Perang harga antar produsen sering terjadi
b. Produsen menggelontorkan banyak dana untuk iklan dan promosi agar produknya
dapat dibedakan dengan produk dari produsen lainnya.
c. Pemborosan sumber daya ekonomi

III. Pasar produk homogen dan terdiferensiasi


Pasar Homogen
Pasar dimana penjual menyediakan barang ataupun jasa dan pembeli adalah yang
membutuhkan barang atau jasa tersebut. namun barang atau jasa yang ditawarkan oleh
penjual dalam pasar ini bersifat sama dan sejenis, sehingga rata-rata semua pembeli yang
datang yaitu pembeli yang hanya membutuhkan barang atau jasa yang sama. (Rahardjy dan
Manurung, 2008)

51
Pasar Terdiferensiasi.
Produk terdiferensiasi adalah produk dapat dibedakan oleh konsumen dengan melihat siapa
produsennya. Barang-barang tersebut dapat dibedakan oleh kualitas barangnya, model,
bentuk, warna, bahkan oleh kemasan, merek dan pelayanannya.
Termasuk bagian dari struktur pasar monopolistic namun produk yang dihasilkan tidak
homogen melainkan terdiferensiasi (differentiated product), namun perbedaan barang antar
satu produk dengan produk yang lain tidak terlalu besar. Diferensiasi ini mendorong
perusahaan untuk melakukan persaingan non harga. (Rahardjy dan Manurung, 2008).

IV. Pangsa pasar


Pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 merumuskan pengertian
“pasar” adalah lembaga ekonomi di mana para pembeli dan penjual baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat melakukan transaksi perdagangan barang dan atau jasa
.Department of Justice and the Federal Trade Commission USA mendefinisikan “pasar”
sebagai “a product or group of products and a geographic area in which it is producer or sold
such that a hypothetical profit-maximising firm, not subject to price regulation, that wasthe
only present and future producer or seller of thoseproductsinthatarealikelywouldimposeat
least a ‘small but significant transitory’ increase in price, assuming the terms of sale of all
other products are held constant”. Pengertian “pangsa pasar” menurut ketentuan Pasal 1
angka 13 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah persentase nilai jual atau beli barang
atau jasa tertentu yang dikuasai olehpelakuusahapadapasarbersangkutandalam tahun kalender
tertentu.Pangsa Pasar /market share adalah sebuah strategi pemasaran yang mencakup sasaran
pasar yang luas menjadi kumpulan dari beberapa bagian kecil diantaranya konsumen, bisnis
dan negara yang memiliki kebutuhan umum atau suatu kepentingan dan mempunyai prioritas
dan kemudian merancang suatu strategi untuk menjadikannya sasaran. Biasanya pangsa pasar
dipakai guna menganalisa target pasar sebuah produk yang tergantung pada permintaan yang
spesifik serta sesuai dengan segmentasi produk.
Pangsa pasar ( Market Share ) menurut william dapat diartikan sebagai bagian pasar
yang dikuasai oleh suatu perusahaan, atau prosentasi penjualan suatu perusahaan terhadap
total penjualan para pesaing terbesarnya pada waktu dan tempat tertentu.
(Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999)
Market share atau pangsa pasar merupakan bagian dari seluruh permintaan atas suatu
barang yang mencerminkan golongan konsumen berdasarkan ciri khasnya (market segment).
Penggolongan konsumen dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat penghasilan, usia, jenis
52
kelamin, pendidikan, dan status sosial.Tujuan Pangsa pasar merupakan indikator kunci dari
daya saing pasar-yaitu, seberapa baik perusahaan melakukan dibandingkan dengan
pesaingnya. Tujuan Pangsa pasar merupakan indikator kunci dari daya saing pasar-yaitu,
seberapa baik perusahaan melakukandibandingkandenganpesaingnya.

v. Permintaan dan Penawaran


Teori penawaran dan permintaan dalam ilmu ekonomi, adalah
penggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan
penjual dari suatu barang. Model penawaran dan permintaan digunakan untuk
menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Model ini sangat penting
untuk melakukan analisis ekonomi mikro terhadap perilaku serta interaksi para
pembeli dan penjual. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagai model dan
teori ekonomi lainnya. Model ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang
kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitasyang diminta
oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah
keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi
kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan, yang
kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan
atau penawaran.
- Teori Permintaan
Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang ingin dan mampu dibeli
olehkonsumen, pada berbagai tingkat harga, dan pada waktu tertentu. Beberapa
faktor yang mempengaruhi permintaan adalah harga barang itu sendiri, harga barang
lainyang berkaitan, tingkat pendapatan, selera konsumen serta ekspektasi/perkiraan.
Faktor yang mempengaruhi permintaan seseorang atau suatu masyarakat akan suatu
barang ditentukan oleh beberapahal. Diantara faktor-faktor tersebut yang terpenting
adalah :
1. Harga barang itu sendiri, Jika harga suatu barang semakin murah, maka
permintaan terhadap barang itubertambah.
2. Harga barang-barang lain yang bersifat substitutif terhadap barangtersebut
Berpengaruh apabila terdapat 2 barang yang saling terkait yang
keterkaitannya dapat bersifat subtitusi (pengganti) dan bersifat komplemen
(penggenap).

53
3. Pendapatan rumah-tangga atau pendapatan masyarakat dapat
mencerminkan daya beli. Makin tinggi tingkat pendapatan, daya beli makin
kuat, sehingga permintaan terhadap suatu barangmeningkat.

VI. Hukum penawaran dan Kurva Penawaran

Hukum penawaran menunjukkan hubungan harga dengan jumlah barang yang ditawarkan.
Hukum penawaran berbunyi ”jika harga barang turun, maka jumlah barang yang ditawarkan
turun, dan sebaliknya, jika harga barang naik, maka jumlah barang yang ditawarkan naik.”
Sehingga hubungan antara harga dan jumlah barang yang ditawarkan adalah hubungan
positif. Hal tersebutlah menyebabkan mengapa bentuk kurva permintaan turun dari kiri atas
ke kanan bawah seperti gambar berikut ini.

Gambar 1

Gambar 1 menjelaskan bahwa pada saat harga P1, jumlah barang yang ditawarkan sebanyak
Q1. Saat harga turun menjadi P2, maka jumlah barang yang ditawarkan turun menjadi Q2.
Gambar kurva penawaran di atas berupa garis linear/lurus. Namun, masih terdapat beberapa
bentuk kurva penawaran yang lain seperti berikut ini.

54
Gambar 2

Kurva penawaran non linear pada Gambar 2 di atas berupa garis lengkung yang naik dari kiri
bawah ke kanan atas. Pada saat harga P1, maka jumlah barang yang ditawarkan Q1 dan pada
saat harga turun menjadi P2, maka jumlah yang ditawarkan menjadi Q2.

Hukum penawaran hanya berlaku pada keadaan cateris paribus. Cateris paribus adalah
keadaan di mana faktor yang mempengaruhi jumlah penawaran hanyalah faktor harga
sedangkan faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan yang lain dianggap given
(tetap/tidak berubah). Selain harga adalah given (tetap/tidak berubah). Faktor yang dianggap
given tersebut di antaranya: teknik produksi, harga barang lain, jumlah penjual di pasar, harga
sumber, dan perkiraan harga yang akan datang ( Hafid, 2015).

VII. Elastisitas Permintaan Dan Penawaran


Elastisitas merujuk pada derajat respon permintaan atau penawaran yang berpengaruh pada
perubahan harga. Derajat ini menunjukkan sejauh mana permintaan dan penawaran bereaksi
atas perubahan harga suatu produk.

Elastisitas permintaan adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah
barang yang diminta atau tingkat kepekaan perubahan jumlah barang yang diminta terhadap
perubahan harga barang.

Elastisitas penawaran adalah pengaruh perubahan harga terhadap besar kecilnya jumlah
barang yang ditawarkan atau tingkat kepekaan perubahan jumlah barang yang ditawarkan
terhadap perubahan harga barang.

55
Rumus elastisitas
Elastisitas = (% perubahan kuantitas : % perubahan harga)
Bila angka elastisitas lebih atau sama dengan 1, maka kurvanya dianggap sebagai kurva yang
elastis. Namun bila kurang dari dari 1, kurva tersebut dianggap sebagai tidak elastis.

Bila digambarkan melalui grafis, elastisitas ini dapat ditunjukkan melalui kurva permintaan
dan penawaran. Kurva yang lebih elastis akan berbentuk horizontal, sedangkan yang tidak
elastis akan lebih miring atau cenderung vertikal. (Basuki dan Prawoto, 2014)

Jenis Elastisitas Permintaan


Elastisitas dari permintaan terdiri atas lima macam, seperti ditunjukkan pada grafik yaitu:
1. Permintaan elastis;
2. Permintaan inelastis;
3. Permintaan uniter;
4. Permintaan elastis sempurna
5. Permintaan inelastis sempurna.

1. Permintaan Inelastis Sempurna (E = 0). Permintaan inelastis sempurna terjadi


bilamana perubahan harga yang terjadi tidak ada pengaruh nya terhadap jumlah
56
permintaan E = 0, artinya bahwa perubahan sama sekali tidak ada pengaruhnya
terhadap jumlah permintaan. Contoh: obat-obatan pada waktu sakit. Pada kurva in
elastisitas sempurna, kurvanya akan sejajar dengan sumbu Y atau P.
2. Permintaan Inelastis (E < 1). Permintan inelastis terjadi jika perubahan harga
kurang berpengaruh pada perubahan permintaan E < 1, artinya perubahan harga hanya
diikuti perubahan jumlah yang diminta dalam jumlah yang relatif lebih kecil. Contoh:
permintaan terhadap beras.
3. Permintaan Elastis uniter (E = 1). Permintaan elastis uniter terjadi jika perubahan
permintaan sebanding dengan perubahan harga E = 1, artinya perubahan harga diikuti
oleh perubahan jumlah permintaan yang sama. Contoh: barang-barang elektronik.
4. Permintaan Elastis (E > 1). Permintaan elastis terjadi jika perubahan permintaan
lebih besar dari perubahan harga E > 1, artinya perubahan harga diikuti jumlah
permintaan dalam jumlah yang lebih besar. Contoh: barang mewah.
5. Permintaan Elastis sempurna ( E = ~ ). Permintaan elastis sempurna terjadi jika
perubahan permintaan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perubahan harga.
Kurvanya akan sejajar dengan sumbu Q atau X. E = ~ artinya bahwa perubahan harga
tidak diakibatkan oleh naik-turunnya jumlah permintaan. Contoh: bumbu dapur.

Elastisitas penawaran terdiri atas lima macam, seperti ditunjukkan pada grafik yaitu:
1. Penawaran elastis sempurna
2. Penawaran elastis;
3. Penawaran elastis uniter;
4. Penawaran inelastis;
5. Penawaran inelastis sempurna.

57
1. Penawaran Elastis sempurna ( E = ~ ). Penawaran elastisitas sempurna terjadi jika
harga suatu barang tidak berubah, akan tetapi penyediaan dari barang berubah, atau
dengan kata lain, penawaran elastis sempurna terjadi jika perubahan penawaran tidak
dipengaruhi sama sekali oleh perubahan harga, sehingga nilai koefisiennya tidak
terhingga. Barang-barang yang bersifat elastis sempurna adalah barang yang pada
harga tertentu penawarannya terus mengalami perubahan. Ini terjadi karena
pertambahan jumlah produsen, penggunaan mesin-mesin modern dan lain-lain.
Contoh: VCD, buku gambar, dan lain-lain.
2. Penawaran Elastis (E > 1). Penawaran elastis terjadi jika perubahan harga diikuti
dengan jumlah penawaran yang lebih besar. Atau dengan kata lain, penawaran elastis
terjadi jika persentase perubahan penawaran barang lebih besar dari persentase
perubahan harga atau apabila nilai koofisiennya > 1. Contoh: barang yang memiliki
sifat penawaran elastis adalah barang-barang produksi pabrik yang tidak bergantung
pada masa panen dan musim. Contohnya adalah produk mie instan yang dapat
diproduksi tanpa bergantung pada musim.
3. Penawaran Elastis uniter (E = 1). Penawaran elastis uniter terjadi jika perubahan
harga sebanding dengan perubahan jumlah penawaran. Atau bisa dikatakan elastisitas
uniter jika persentase perubahan harga sama dengan persentase perubahan penawaran
atau jika nilai koofisiennya = 1. Penawaran bisa terjadi pada berbagai macam barang
yang terjadi pada saat tertentu saja (secara kebetulan). Contoh: cabe, tomat, dan
barang sejenisnya yang bisa dipanen atau dijual meski belum siap panen dan disimpan
dalam waktu tertentu. Jika terjadi kenaikan harga, maka produsen akan menyegerakan
panen walaupun produk tersebut belum siap panen.
4. Penawaran Inelastis (E < 1). Penawaran inelastis terjadi jika perubahan harga
kurang berpengaruh pada perubahan penawaran. Atau dengan kata lain penawaran
tidak elastis terjadi jika persentase perubahan penawaran barang lebih kecil dari
persentase perubahan harga atau jika nilai koofisiennya < 1. Barang-barang hasil
pertanian memiliki sifat penawaran inelastis karena produk pertanian dibatasi oleh
masa panen dan musim. Contoh: buah durian dimana penawaran untuk produk
tersebut sangat bergantung musim panennya.
5. Penawaran inelastis sempurna (E = 0). Penawaran inelastis sempurna dapat terjadi
jika perubahan harga tidak dapat mempengaruhi jumlah penawaran atau jika nilai
kofisiennya adalah 0. Barang yang sifat penawarannya inelastis sempurna adalah

58
barang yang jumlahnya tidak bisa ditambah walau harga mengalami kenaikan,
contohnya tanah. Ini terjadi pada barang yang kapasitas produksinya sudah optimum.

Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas Penawaran (Supply)

Ada dua faktor yang dianggap sebagai faktor yang penting di dalam menentukan elastisitas
penawaran, yaitu: sifat dari perubahan biaya produksi dan jangka waktu dimana penawaran
tersebut dianalisis (Sukirno, 2010).

A. Sifat Perubahan Biaya Produksi


Bagaimana biaya produksi akan berubah sekiranya harus dilakukan pertambahan
produksi, sangat besar pengaruhnya kepada elastisitas penawaran. Penawaran akan
bersifat tidak elastis apabila kenaikan penawaran hanya dapat dilakukan dengan
mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Tetapi jika penawaran dapat ditambah dengan
mengeluarkan biaya tambahan yang tidak terlalu besar, penawaran akan bersifat
elastis. Apakah biaya produksi akan meningkat dengan cepat atau akan mengalami
pertambahan yang sedikit saja, apabila produksi ditambah, 15 tergantung kepada
banyak faktor. Salah satu faktornya yang penting adalah sampai dimana tingkat
penggunaan kapasitas alat produksi yang dimiliki perusahaan. Apabila kapasitasnya
telah mencapai tingkat yang tinggi, investasi baru haruslah dilakukan untuk
menambah produksi. Dalam keadaan ini kurva penawaran akan menjadi tidak elastis,
terutama apabila faktor produksi yang diperlukan untuk menaikkan produksi sangat
sukar diperoleh.
B. Jangka Waktu Analisis
Di dalam menganalisis pengaruh waktu kepada elastisitas penawaran, biasanya
dibedakan tiga jenis jangka waktu, yaitu: masa amat singkat, jangka pendek dan
jangka panjang. Jangka waktu yang dimaksud disini adalah lamanya waktu produksi
yang juga dipengaruhi oleh faktor penyediaan sumber daya (resources).
1) Masa Amat Singkat
Yang dimaksudkan dengan masa amat singkat adalah jangka waktu di mana
para penjual tidak dapat menambah penawarannya. Dalam waktu
satu/beberapa hari saja semua input tetap; oleh karena itu, para
produsen/penjual tidak dapat segera menambah jumlah yang ditawarkan,
meskipun konsumen bersedia membayar harga yang tinggi. Jumlah barang
yang ditawarkan tergantung dari banyaknya persediaan yang ada pada saat itu.

59
Dengan demikian penawarannya bersifat tidak elastis sempurna. Contohnya
pada toko roti, dalam 1 hari toko roti tersebut menetapkan untuk memproduksi
100 roti. Ketika roti sudah habis dan ada pembeli yang mau untuk membeli
roti, maka produsen tidak dapat memenuhi meskipun konsumen bersedia
membayar lebih, sebab sumber daya untuk membuat roti dalam 1 hari hanya
disiapkan untuk 100 roti saja.
2) Jangka Pendek Di dalam jangka pendek kapasitas alat-alat produksi yang ada
tidak dapat ditambah. Tetapi setiap perusahaan masih dapat menaikkan
produksi dengan kapasitas yang tersedia itu dengan cara menggunakan faktor
produksi, termasuk barang modal, secara lebih intensif. Antara lain caranya
adalah memperpanjang jam kerja, memperbaiki manajemen produksi,
menggunakan tenaga kerja lebih efektif dan sebagainya. Usaha ini akan dapat
menambah produksi barang yang ditawarkan. Tetapi tidak cukup lama untuk
memperbesar kapasitas produksi yang ada (areal pertanian, modal tetap seperti
bangunan pabrik, mesin-mesin, dll). Dalam keadaan demikian penawaran
dapat elastis, dapat juga inelastis, tergantung jenis barang dan proses
produksinya. Kalau memperbesar produksi menyebabkan biaya naik dengan
cepat, maka penawaran akan bersifat tidak elastis (inelastic). Tetapi kalau
biaya produksi hampir tidak naik dengan pertambahan produksi, maka
penawaran akan bersifat elastis. Umumnya, hasil pertanian suplainya inelastic,
sedang hasil pabrik lebih elastis. Contohnya pada saat musim pemilu, maka
penawaran terhadap kaos bersablon akan meningkat. Produsen bersedia
menerima pesanan dengan jumlah besar karena konsumen mau membayar
lebih untuk barang pesanannya. Produsen kaos sablon akhirnya
memperpanjang jam kerja karyawannya hingga malam hari untuk menambah
produksi kaos sablonnya dan memenuhi pesanan konsumen.
3) Jangka Panjang Diartikan jangka waktu yang cukup lama hingga para
produsen dapat menambah kapasitas produksi dengan menambah modal tetap
(pabrik baru, mesin, perluasan areal pertanian, dan sebagainya) untuk
menyesuaikan produksi dengan permintaan masyarakat. Makin lama jangka
waktu, makin elastis penawaran. Dalam jangka panjang, perkembangan teknik
produksi di sektor industri dan produksi secara besar malah dapat
menyebabkan harga turun, sehingga barang yang dulu dipandang barang
mewah dan mahal menjadi barang kebutuhan biaya yang terbeli juga oleh
60
orang banyak. Produksi dan jumlah barang yang ditawarkan dapat dengan
mudah ditambah dalam jangka panjang, oleh karena itu, penawaran bersifat
elastis. Contohnya kalkulator, produksi dan jumlah kalkulator yang ditawarkan
dapat dengan mudah ditambah dalam jangka panjang.
C. Faktor Lain
Adapun beberapa faktor lain yang bisa mempengaruhi elastisitas penawaran, yaitu:
1) Jenis Produk Elastisitas penawaran juga dipengaruhi oleh jenis produk. Contohnya,
kurva penawaran produk pertanian umumnya inelastis, sebab produsen tidak mampu
memberikan respons yang cepat terhadap perubahan harga karena sangat dibatasi
masa panen dan musim. Jika harga beras naik 10%, petani harus menanam dahulu dan
baru 3-4 bulan kemudian dapat memanen hasil. Yang perlu diketahui, khusus pada
awal panen barang pertanian masih bersifat elastis karena hasil panen masih
melimpah. Sifat elastis berangsur-angsur berubah menjadi inelastis berakhirnya masa
panen. Sementara kurva penawaran produk industri umumnya elastis, sebab mampu
merespon cepat terhadap perubahan harga, produsen dapat leluasa untuk menambah
atau mengurangi produk. Bila harga tekstil meningkat, pabrik tekstil akan
memperpanjang jam kerja mesin, menambah pekerja harianatau memberi kesempatan
lembur.
2) Kemampuan penjual/produsen merubah jumlah produksi. Ini berkaitan dengan
biaya dan kapasitas produksi. Penawaran akan cenderung tidak elastis apabila salah
satu dari berbagai hal berikut terjadi:
a) Biaya produksi untuk menaikkan jumlah penawaran besar. Misalnya jika produksi
saat ini telah mencapai skala ekonomis dan biaya rata-rata minimal, maka
penambahan satu unit produksi akan menambah biaya rata-rata dan mengakibatkan
produksi berada dalam skala tidak ekonomis.
b) Atau kapasitas produksi telah terpakai penuh, sehingga penambahan kapasitas akan
memerlukan pabrik/mesin baru, misalnya, yang membutuhkan investasi besar.
Sementara penawaran akan cenderung elastis jika yang terjadi adalah sebaliknya.
3) Sifat Ketahanan Barang
Makin tahan sesuatu barang disimpan dalam gudang makin besar elastisitas
penawarannya dibandingkan barang yang tidak tahan untuk disimpan lebih lama.
Buah-buahan dan ikan segar tentunya mempunyai elastisitas yang lebih kecil
dibandingkan buah-buahan dalam kaleng ataupun ikan yang sudah diolah dan
dikemas. Apabila suatu barang tidak tahan lama (mudah rusak/ membusuk) seperti
61
halnya hasil pertanian, maka barang tersebut cenderung memiliki penawaran yang
inelastis. Barang tersebut biasanya tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga.
Sebagai contoh, peningkatan harga sayuran tidak serta merta mengakibatkan
perubahan (kenaikan) jumlah barang yang ditawarkan.
4) Sifat alamiah suatu barang
Produk primer memiliki elastisitas yang rendah (inelastis) dibandingkan dengan
produk manufaktur yang memiliki elastisitas penawaran yang tinggi (elastis) relatif
terhadap perubahan harga. Contoh harga penawaran beras lebih rendah daripada meja.
5) Tingkat teknologi
Teknologi dapat mempengaruhi jumlah penawaran, makin canggih teknologi yang
digunakan maka semakin tinggi jumlah penawarannya. Patung Asmat dibuat dengan
teknologi yang sederhana dan menggunakan keahlian tangan manusia. Patung Asmat
tidak dibuat dengan menggunakan teknologi modern. Dengan demikian, penawaran
patung Asmat bersifat inelastis. Walaupun harga naik sangat tinggi, jumlah yang
ditawarkan masih terbatas karena tingkat teknologi yang sederhana.
6) Kapasitas produksi
Bila kapasitas produksi (kemampuan memproduksi) suatu barang belum digunakan
sepenuhmya (belum optimal) maka sifat penawaran barang tersebut elastis karena
produsen masih sanggup menambah jumlah produksi. Akan tetapi, bila kapasitas
produksi sudah optimal maka sifat penawarannya inelastis bahkan bisa inelastis
sempurna, karena jumlah produksi tidak dapat ditambah lagi.
7) Jumlah produsen
Semakin banyak jumlah produsen maka semakin tinggi penawaran suatu barang,
demikian sebaliknya. Sebagai contoh adalah perusahaan mie instan, semakin banyak
perusahaan yang memproduksi mie instan, maka semakin banyak jumlah mie instan
yang ditawarkan di pasaran.
8) Kemudahan substitusi faktor produksi/input.
Semakin tinggi mobilitas mesin (atau kapital lainnya) dan tenaga kerja, semakin
elastis penawaran. Semakin elastis mobilitas kapital dan tenaga kerja, semakin mudah
produsen memenuhi perubahan permintaan yang terjadi. Ini karena kapital dan tenaga
kerja lebih fleksibel, sehingga dapat ditambah atau dikurangi sewaktuwaktu
dibutuhkan.

62
DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, Sri dan Kadarusman. 2008. Teori Ekonomi Mikro: Edisi Kedua. BPFE.
Yogyakarta.
Basuki, A. T., Prawoto, N. 2014. Pengantar Teori Ekonomi. Mitra Pustaka Mandiri.
Yogyakarta.
Bhakti, Rizki Tri Anugrah. 2017. Analisis Yuridis Dampak Terjadinya Pasar Oligopoli Bagi
Persaingan Usaha Maupun Konsumen di Indonesia. Jurnal Cahaya Keadilan.
3(2) : 64-78.
Fuad, M, dkk. 2000. Pengantar Bisnis. PT Gramedia. Jakarta.
Hafid, Abdul. 2015. Konsep Penawaran dalam Perspektif Islam. JEBIS. 1(2): 203-2016.
Indrawati, Toti. dan Yovita, Indri. 2014. Analisis Sumber Modal Pedagang Pasar Tradisional
di Kota Pekanbaru. Jurnal Ekonomi. 22(1): 1-8.
Kotler, Philip.1997. Manajemen Pemasaran: Edisi Bahasa Indonesia Jilid Satu. Prentice
Hall. Jakarta.
Nasution, Yenni Samri Juliati. 2012. Mekanisme Pasar dalam Perspektif Ekonomi Islam.
Media Syari’ah. 14(1) : 245-275
Nugroho, J. Setiadi. 2003. Perilaku Konsumen Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan
Penelitian Pemasaran. Kencana. Jakarta.
Teguh, M. 2010. Ekonomi Industri : Cetakan ke-1. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Rahardjy, P., & Manurung, M. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi:(Mikroekonomi dan
Makroekonomi). Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Univ. Indonesia.
Revida, Rachma. dan Septiarini, Dina, Fitrisia. 2017. Analisis Struktur Pasar dan Pengaruh
Perilaku Pasar Terhadap Kinerja Pasar pada Bank Umim Syariah di
Indonesia dan Malaysia pada Tahun 2011-2015. Jurnal Ekonomi Syariah
Teori dan Terapan. 4(5): 367-380.
Sukirno, Sadono. 2010. Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Lembaga Penerbit FE UI. Jakarta.
Sukirno, S. 2011. Mikroekonomi Teori Pengantar: Edisi Ketiga. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.

63
PERTEMUAN 4

Pemasaran
Pemasaran kegiatan analisis, perencanaan, pengimplementasian dan pengendalian
dari program yang dirancang secara hati-hati untuk pertukaran nilai dengan target pasar untuk
mencapai tujuan organisasi target pasar dengan harga, komunikasi dan distribusi yang efektif
Pemasaran di bidang kesehatan, memiliki Tujuan
• untuk memperkenalkan faskes pada masyarakat luas,
• menginformasikan sejelas-jelasnya mengenai fasilitas dan kemampuan pelayanan yang
dimiliki oleh faskes pada masyarakat ,
• membentuk dan membina citra faskes
• terjadinya peningkatan penghasilan/laba
Faktor yang membuat pemasaran penting dilakukan oleh faskes:
1. perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
2. Semakin bebas dan mudahnya mobilitas masyarakat untuk memilih faskes untuk berobat
3. persaingan antar penyedia layanan kesehatan semakin ketat
(Anisa 14-34)

Segmenting
(Anindhita 14-29)
Segmenting merupakan proses yang dilakukan oleh perusahaan/pelayanan kesehatan di
rumah sakit dalam menetapkan pasar suatu produk atau jasa ke dalam beberapa
segmen/kelompok, dengan ditetapkannya segmentasi pasar, maka system pemasaran pada
perusahaan/pelayanan kesehatan di rumah sakit akan lebih terarah, efektif dan efisien
sehingga dapat memberikan tingkat kepuasan pelayanan kepada konsumen. Dalam
segmenting ini pasar dibagi menjadi kelompok-kelompok konsumen yang lebih homogen,
dimana tiap kelompok konsumen dapat dipillih sebagai target pasar untuk dicapai perusahaan
melalui strategi bauran pemasarannya
Dasar segmentasi

Segementasi geografik
Wilayah, ukuran kota, kepadatan penduduk, iklim
Segmentasi demografik

64
Usia, jenis kelamin, siklus hidup keluarga, penghasilan, pekerjaan, Pendidikan agama, ras,
kewarganegaraan.
Segmentasi psikografik
kelas social, gaya hidup, kepribadian
Segmentasi perilaku
Peristiwa, Manfaat, Status pemakai, Tingkat pemakaian, Status kesetiaan, Tahap kesiapan
membeli, Sikap terhadap produk

Segmentasi pasar mempunyai beberapa peran penting antara lain:


1. Segmentasi pasar memudahkan perusahaan dalam mengalokasikan SDM yang sesuai
dengan pasar.
2. Pengelompokkan pasar sesuai segmennya akan memberikan kemudahan pada
organisasi/institusi dalam menentukan segmen pasar yang akan dilayani.
3. Pengetahuan segmentasi pasar memberikan gambaran kepada perusahaan tentang peta
kompetisi perusahaan dan akhirnya menentukan posisi pasar perusahaan tersebut
Positioning
Perusahaan menyusun penawaran pasar untuk menempatkan posisi bersaing
dengancompetitor yang dapat tertanam di benak konsumen.
Langkah diferensiasi dan positioning terdiri dari tiga tahap:
- Mengidentifikasi sekumpulan keunggulan kompetitif yang berbeda di mana untuk
membangun posisi.
- Memilih keunggulan kompetitif yang tepat.
- Dan memilih strategi positioning secara keseluruhan.
Faktor-faktor yang memengaruhi positioning adalah strategi produk/jasa, harga, tempat, dan
promosi.
Kemampuan manajemen dalam menentukan posisi produknya dikalangan masyarakat sangat
menentukan keberhasilan dalam mendapatkan profit. Penentuan posisi produk secara tepat
akan memberikan gambaran secara tepat tentang kedudukan produk di pasarnya dalam peta
persaingan dengan produk lainnya.
Untuk mengetahui posisi suatu produk dapat dilakukan dengan cara : (1) mengetahui atribut
dominan yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih produknya, (2) mengetahui
posisi atribut produk sendiri apabila dibandingkan atribut yang sama dengan produk pesaing,
(3) mengetahui jumlah penjualan dan pangsa pasar produk, (4) mengetahui kedudukan
produk dan produk pesaing di pasaran yang sama.
65
Posisi produk sangat penting dalam sebuah pemasaran, sehingga perlu dilakukan analisis
yang lebih dalam, sehingga posisi produk yang dipasarkan mendapatkan tempat terbaiknya
disetiap segmen yang telah ditetapkan. Jika produk memiliki posisi yang bagus disetiap
segmen yang telah ditetapkan maka proses pemasaran akan menjadi lebih mudah.
Hasil penelitian Henry5 mengatkan bahwa dalam menentukan posisi sebuah produk yang
dipasarkan menggunakan analisis SWOT (strength,weakness.opportuniyt,threat) sehingga
bisa dilihat hasil yang optimal.
(Arwinda 14-10)

Targeting
- Tahapan selanjutnya setelah segmentasi pasar adalah penentuan keputusan target pasar
perusahaan/institusi kesehatan. Target pasar harus mempertimbangkan dua faktor yaitu
sumber daya yang dimiliki perusahaan dan daya tarik pasar secara keseluruhan.
- lima pola yang dapat dipertimbangkan dalam menetapkan target market perusahaan
yaitu :
1. Single Segment Concentration.
Single Segment Concentration mempunyai pengertian bahwa dalam suatu perusahaan dipilih
hanya satu segmen tertentu saja yang dianggap paling menguntungkan perusahaan sehingga
perusahaan dapat mencapai posisi yang optimal. Perusahaan berkonsentrasi hanya pada
segmen pasar tersebut sehingga diperoleh keuntungan. Kelemahan dari model ini yaitu
Memungkinan resiko yang ditanggung perusahaan cukup besar jika memilih satu segmen
saja.
2. Selective Specialization.
Selective Specialization dimaksudkan sebagai tindakan suatu perusahaan untuk memilih
beberapa segmen, walaupun di antara segmen tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan,
tetapi diharapkan masing–masing segmen tersebut dapat memberikan keuntungan pada
perusahaan. Strategi ini lebih banyak dipakai, dengan pertimbangan apabila satu segmen
tidak produktif, maka perusahaan diasumsikan akan dapat keuntungan dari segmen lainnya.
3. Product Specialization.
Spesialisasi suatu produk dimaksudkan bahwa perusahaan menghasilkan suatu produksi yang
spesifik dan mempunyai ciri khas yang mempunyai keunggulan dibandingkan produk lain.
Resiko dari spesialisasi produk ini yaitu jika terjadimasalah dalam produksi maka akan
merugikan perusahaan.
66
4. Market Specialization
Spesialisasi pemasaran dimaksudkan sebagai usaha dari suatu perusahaan untuk
memproduksi berbagai bentuk produk dan berupaya untuk melayani berbagai kebutuhan
pihak pembeli. Perusahaan mengembangkan reputasi yang baik dan kuat terhadap semua
lapisan masyarakat.
5. Full Market Coverage.
Strategi ini mengharapkan perusahaan dapat memenuhi kebutuhan semua kelompok
masyarakat, tetapi hal ini hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang besar dengan cara
diferensiasi kepuasan konsumen. Metode ini dapat memuaskan konsumen, tapi tentunya juga
meningkatkan biaya perusahaan
(Zulfah 14-17)

Marketing Mix/Bauran pemasaran


Dimas (09-91)

Bauran Pemasaran adalah unsur-unsur pemasaran yang saling terkait, dibaurkan, diorganisasi
dan digunakan dengan tepat, sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan pemasaran yang
efektif, sekaligus memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Konsep bauran pemasaran tradisional (traditional marketing mix) terdiri dari 4P
yaitu product (produk), price (harga), promotion (promosi), place (tempat atau lokasi).
Sementara itu, untuk pemasaran jasa perlu bauran pemasaran yang diperluas (expanded
marketing for services) dengan penambahan unsur non-traditional marketing mix,
yaitu people (orang) , process (proses) dan physical evidence (bukti fisik), sehingga menjadi
tujuh unsur (7P)

7P
1. Produk adalah konsep keseluruhan atas objek atau proses yang memberikan berbagai nilai
bagi para pasien. Adapun yang menjadi subkatagori dari produk tersebut adalah barang dan
jasa. Sedangkan pengertian jasa itu sendiri adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain. Pada dasarnya jasa tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan pemilikan apapun. Produk jasa mungkin berkaitan dengan produk fisik atau
tidak.
2. Price

67
Harga merupakan sejumlah uang yang dikenakan atas sebuah produk atau pelayanan jasa,
atau sejumlah nilai yang ditukarkan pasien untuk keuntungan atau penggunaan atas sebuah
pelayanan jasa di bidang kebidanan dan kandungan. Seorang pasien tentunya
mempertimbangkan value atau keuntungan yang mungkin akan didapatnya bila memilih
salah satu dari berbagai rumah sakit penyedia layanan jasa yang tersedia dengan biaya yang
ditetapkan oleh rumah sakit tersebut.
3. Promotion (Promosi)
Promosi adalah arus informasi atau persuasi arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang/
organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran
4. Place (Saluran Distribusi)
Saluran distribusi didefinisikan sebagai kenyamanan atau kemudahan untuk memperoleh
akses pelayanan. Saluran distribusi ini meliputi lokasi yang strategis dan kemudahan
dijangkau.
Memperhitungkan tempat sebagai pasar.
5. People (Partisipan)
Partisipan adalah pegawai dan staf penyedia jasa pelayanan atau semua komponen yang turut
menentukan dan terlibat dalam proses pelayanan secara tidak langsung maupun langsung
diantaranya adalah para tenaga administrasi, dokter, perawat dan bidan, tenaga kebersihan,
satpam dan sopir ambulans.
6. Process (Proses)
Bauran proses menyangkut segala sesuatu yang mencerminkan bagaimana pelayanan yang
diterima oleh konsumen. Perusahaan atau suatu tempat pelayanan akan memberikan segala
cara pelayanan yang terbaik untuk menarik perhatian konsumen. Pelayanan prima yang
memperhatikan kebutuhan pasien adalah salah satu proses yang ditawarkan faskes pada
pasien. Semua ini akan sangat berpengaruh pada persepsi masyarakat terhadap tempat
layanan tersebut.
7. Physical evidence (Lingkungan fisik)
Bauran lingkungan fisik didefinisikan sebagai suatu keadaan atau kondisi termasuk
didalamnya suasana tempat pelayanan kesehatan sebagai tempat terjadinya proses jasa
layanan

PerMenKes 1787/2010 tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan


UU 20/2014 tentang Perlindungan Konsumen

68
Sumber dengan Referensi
Annisa (14-34)
1. Pemasaran
Pemasaran kegiatan analisis, perencanaan, pengimplementasian dan pengendalian dari
program yang dirancang secara hati-hati untuk pertukaran nilai dengan target pasar untuk
mencapai tujuan organisasi target pasar dengan harga, komunikasi dan distribusi yang
efektif (Sabarguna, 2004).
Pemasaran di bidang kesehatan, memiliki tujuan yaitu:
• Untuk memperkenalkan faskes pada masyarakat luas,
• Menginformasikan sejelas-jelasnya mengenai fasilitas dan kemampuan pelayanan yang
dimiliki oleh faskes pada masyarakat
• Membentuk dan membina citra faskes
• Terjadinya peningkatan penghasilan/laba
(Sabarguna, 2004)

Pentingnya RS melakukan pemasaran saat ini dipicu oleh sejumlah faktor, yaitu :

• Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengantarkan kita


memasuki era pasar bebas dimana batas geografi tidak lagi menjadi masalah.
• Semakin bebas dan mudahnya mobilitas masyarakat untuk memilih RS
dimana ia akan berobat menyebabkan persaingan antara RS menjadi semakin
ketat.
• Banyak pesaing-pesaing baru banyak bermunculan karena regulasi pemerintah
di bidang kesehatan yang memang mendorong bertumbuhnya RS baru , hal
tersebut menyebabkan kekuatan tawar RS yang ada semakin kecil dan
kekuatan tawar pelanggan semakin besar.
• RS memasuki sebuah mekanisme dimana pelanggan sangat menentukan
keberlangungan hidup RS. Hal ini menyebabkan RS perlu merubah cara
pandangnya terhadap pelanggan sebagai pihak yang menerima begitu saja
pelayanan kesehatan yang disajikan RS.
• RS perlu memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggannya lebih daripada
pesaing agar dapat bertahan dan berkembang dalam intensitas persaingan yang
tinggi.
(Taurany, 2008)

69
Aninditha (14-29)
2. Segmenting

Segmentasi pasar adalah suatu proses untuk membagi-bagi atau


mengelompokkelompokkan konsumen ke dalam kotakkotak yang lebih homogen.
Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai usaha untuk membagi pasar ke dalam
kelompok-kelompok yang dapat dibedakan satu sama lain dalam hal kebutuhan, karakteristik,
atau perilaku yang mungkin akan memerlukan produk-produk dan strategi pemasaran tertentu
untuk menjangkaunya. Pada dasarnya segmentasi pasar merupakan suatu strategi yang
didasarkan pada falsafah manajemen pemasaran yang berorientasi pada konsumen. Dengan
melaksanakan segmentasi pasar, kegiatan pemasaran dapat dilakukan lebih terarah, dan
sumber daya perusahaan di bidang pemasaran dapat digunakan secara lebih efektif. Tujuan
dari segmentasi pasar adalah untuk menghemat usaha-usaha pemasaran dengan menitik
beratkan kepada pembeli yang berminat tinggi untuk membeli. Selain itu segmentasi
dilakukan untuk menghubungkan antara kebutuhan dengan tindakan. Terdapat 5 manfaat
yang diperoleh dengan melakukan segmentasi pasar, yaitu :

a. Mendisain produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar Hanya dengan
memahami segmensegmen yang responsif terhadap suatu stimuli, maka perusahaan dapat
mendesign produk sesuai dengankebutuhan/keinginan segmen tersebut. Jadi perusahaan
menempatkan konsumen di tempat utama dalam mendesign produk, dan menyesuaikan
produknya untuk memuaskan konsumen (customer satisfaction at a profit).

b. Menganalisis pasar Dengan segmentasi pasar membantu eksekutif mendeteksi siapa saja
yang akan menggerogoti pasar produknya. Ingatlah pesaing perusahaan bukanlah semata-
mata “mereka yang menghasilkan produk yang sama dengan yang perusahaan sajikan kepada
konsumen”. Pesaing perusahaan adalah mereka yang mampu menjadi alternatif bagi
kebutuhan konsumen.

c. Menemukan peluang (niche) Setelah menganalisis pasar, perusahaan yang menguasai


konsep segmentasi yang baik akan sampai pada ide menemukan peluang. Peluang ini tidak
selalu sesuatu yang besar, tapi pada masanya ia akan menjadi besar. Perlu diingat konsumen
akan selalu belajar mengenali sesuatu atau mengikuti orang lain, atau merasa butuh terhadap
suatu produk.

70
d. Menguasai posisi yang superior dan kompetitif Perusahaan yang menguasai segmen
dengan baik umumnya adalah mereka yang paham betul konsumennya dan telah mempelajari
pergeseranpergeseran yang terjadi dalam segmennya.

e. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien, jika perusahaan tahu persis siapa
segmen mereka, maka perusahaan akan tahu bagaimana berkomunikasi yang baik dengan
para pelanggannya.

Tidak ada cara tunggal untuk membuat segmen pasar. Seorang pemasar harus
mencoba variabel segmentasi yang berbeda, sendiri atau dalam kombinasi, mencari cara
terbaik untuk memandang struktur pasar. Terdapat empat variabel utama yang mungkin
dipergunakan dalam mensegmentasi pasar konsumen yaitu:

a.Segmentasi geografik

Segmentasi geografik membagi pasar menjadi beberapa unit secara geografik seperti negara,
regional, negara bagian, kota atau kompleks perumahan. Sebuah perusahaan mungkin
memutuskan untuk beroperasi dalam satu atau beberapa wilayah geografik ini, atau
beroperasi di semua wilayah, tetapi lebih memperhatikan perbedaan kebutuhan dan keinginan
yang dijumpai.

b. Segmentasi demografik

Segmentasi demografik membagi pasar menjadi kelompok berdasarkan pada variabel seperti
umur, jenis kelamin, besar keluarga, siklus kehidupan keluarga, pendapatan, pekerjaan,
pendidikan, agama, ras, dan kebangsaan. Faktor-faktor demografik merupakan dasar paling
populer untuk membuat segmentasi kelompok pelanggan. Salah satu alasan adalah kebutuhan
konsumen, keinginan dan tingkat penggunaan seringkali amat dekat dengan variabel
demografik. Alasan lain adalah variabel demografik lebih mudah diukur ketimbang tipe
variabel yang lain.

c. Segmentasi psikografik

Segmentasi psikografik membagi pembeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan pada


karakteristik sosial, gaya hidup atau kepribadian. Orang yang berada dalam
kelompokdemografik yang sama dapat saja mempunyai ciri psikografik berbeda.

d. Segmentasi tingkah laku

71
Segmentasi tingkah laku mengelompokkan pembeli berdasarkan pada pengetahuan, sikap,
penggunaan atau reaksi mereka terhadap suatu produk. Banyak pemasar yakin bahwa
variabel tingkah laku merupakan awal paling baik untuk membentuk segmen pasar.
(Kotler, 2001)

Arwinda (14-10)

3. Positioning

Perusahaan menyusun penawaran pasar untuk menempatkan posisi bersaing


dengancompetitor yang dapat tertanam di benak konsumen.
Langkah diferensiasi dan positioning terdiri dari tiga tahap:
- Mengidentifikasi sekumpulan keunggulan kompetitif yang berbeda di mana untuk
membangun posisi.
- Memilih keunggulan kompetitif yang tepat.
- Dan memilih strategi positioning secara keseluruhan.
Faktor-faktor yang memengaruhi positioning adalah strategi produk/jasa, harga, tempat, dan
promosi (Widjaya, 2017). Kemampuan manajemen dalam menentukan posisi produknya
dikalangan masyarakat sangat menentukan keberhasilan dalam
mendapatkan profit. Penentuan posisi produk secara tepat akan memberikan gambaran secara
tepat tentang kedudukan produk di pasarnya dalam peta persaingan dengan produk lainnya
(Widjaya, 2017). Bauran pemasaran dari produk, harga, promosi, dan distribusi adalah istilah
di mana perusahaan mewujudkan strateginya dari sebuah pernyataan tujuan untuk berusaha di
pasar (Mudayana, 2010).
Untuk mengetahui posisi suatu produk dapat dilakukan dengan cara : (1) mengetahui
atribut dominan yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih produknya, (2)
mengetahui posisi atribut produk sendiri apabila dibandingkan atribut yang sama dengan
produk pesaing, (3) mengetahui jumlah penjualan dan pangsa pasar produk, (4) mengetahui
kedudukan produk dan produk pesaing di pasaran yang sama (Mudayana, 2010).
Posisi produk sangat penting dalam sebuah pemasaran, sehingga perlu dilakukan
analisis yang lebih dalam, sehingga posisi produk yang dipasarkan mendapatkan tempat
terbaiknya disetiap segmen yang telah ditetapkan. Jika produk memiliki posisi yang bagus
disetiap segmen yang telah ditetapkan maka proses pemasaran akan menjadi lebih mudah.
Hasil penelitian Henry5 mengatkan bahwa dalam menentukan posisi sebuah produk yang

72
dipasarkan menggunakan analisis SWOT (strength,weakness.opportuniyt,threat) sehingga
bisa dilihat hasil yang optimal(Mudayana, 2010).

Zulfah (14-17)

4. Targeting
Tahapan selanjutnya setelah segmentasi pasar adalah penentuan keputusan
target pasar perusahaan/institusi kesehatan. Target pasar harus mempertimbangkan dua
faktor yaitu sumber daya yang dimiliki perusahaan dan daya tarik pasar secara
keseluruhan. Lima pola yang dapat dipertimbangkan dalam menetapkan target market
perusahaan yaitu :
1. Single Segment Concentration.
Single Segment Concentration mempunyai pengertian bahwa dalam suatu perusahaan dipilih
hanya satu segmen tertentu saja yang dianggap paling menguntungkan perusahaan sehingga
perusahaan dapat mencapai posisi yang optimal. Perusahaan berkonsentrasi hanya pada
segmen pasar tersebut sehingga diperoleh keuntungan. Kelemahan dari model ini yaitu
Memungkinan resiko yang ditanggung perusahaan cukup besar jika memilih satu segmen
saja.
2. Selective Specialization.
Selective Specialization dimaksudkan sebagai tindakan suatu perusahaan untuk memilih
beberapa segmen, walaupun di antara segmen tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan,
tetapi diharapkan masing–masing segmen tersebut dapat memberikan keuntungan pada
perusahaan. Strategi ini lebih banyak dipakai, dengan pertimbangan apabila satu segmen
tidak produktif, maka perusahaan diasumsikan akan dapat keuntungan dari segmen lainnya.
3. Product Specialization.
Spesialisasi suatu produk dimaksudkan bahwa perusahaan menghasilkan suatu produksi yang
spesifik dan mempunyai ciri khas yang mempunyai keunggulan dibandingkan produk lain.
Resiko dari spesialisasi produk ini yaitu jika terjadimasalah dalam produksi maka akan
merugikan perusahaan.
4. Market Specialization
Spesialisasi pemasaran dimaksudkan sebagai usaha dari suatu perusahaan untuk
memproduksi berbagai bentuk produk dan berupaya untuk melayani berbagai kebutuhan
pihak pembeli. Perusahaan mengembangkan reputasi yang baik dan kuat terhadap semua
lapisan masyarakat.

73
5. Full Market Coverage.
Strategi ini mengharapkan perusahaan dapat memenuhi kebutuhan semua kelompok
masyarakat, tetapi hal ini hanya dapat dilakukan oleh perusahaan yang besar dengan cara
diferensiasi kepuasan konsumen. Metode ini dapat memuaskan konsumen, tapi tentunya juga
meningkatkan biaya perusahaan

Dimas (09-91)

5. Marketing Mix/ Bauran Pemasaran


Pengertian bauran pemasaran adalah sebagai berikut : Bauran pemasaran adalah
perangkat alat pemasaran ayng digunakan perusahaan untuk mengejar tujuan perusahaannya.
Maka dapat disimpulkan bauran pemasaran merupakan satu perangkat yang terdiri dari
produk, harga, promosi dan distribusi, yang didalamnya akan menentukan tingkat
keberhasilan pemasaran dan semua itu ditujukan untuk mendapatkan respon yang diinginkan
dari pasar sasaran.
a. Produk (Product)
Intensitas kompetisi di pasar memaksa perusahaan untuk mengupayakan adaptasi
produk yang tinggi guna meraih keunggulan yang kompetitif atas pesaing, karena adaptasi
produk dapat memperluas basis pasar lokal dan ditingkatkan untuk preferensi lokal tertentu.
Konsumen semakin banyak memiliki alternatif dan sangat hati-hati dalam menentukan
keputusan untuk melakukan pembelian dengan mempertimbangkan faktor-faktor kebutuhan,
keunggulan produk, pelayanan dan perbandingan harga sebelum memutuskan untuk
membeli. Dari faktor-faktor tersebut, keunggulan produk termasuk ke dalam pertimbangan
utama sebelum membeli. Keunggulan kompetitif suatu produk merupakan salah satu faktor
penentu dari kesuksesan produk baru, dimana kesuksesan produk tersebut diukur dengan
parameter jumlah penjualan produk.
b. Harga (Price)
Definisi harga adalah sejumlah uang (ditambah beberapa produk) yang dibutuhkan
untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Dari definisi di atas
dapat diketahui bahwa harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk layanan yang
diberikan oleh penjual. Banyak perusahaan mengadakan pendekatan terhadap penentuan
harga berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya. Adapun tujuan tersebut dapat berupa
meningkatkan penjualan, mempertahankan market share, mempertahankan stabilitas harga,
mencapai laba maksimum dan sebagainya.
74
c. Tempat (Place)
Lokasi atau tempat seringkali ikut menentukan kesuksesan perusahaan, karena lokasi
erat kaitannya dengan pasar potensial sebuah perusahaan. Disamping itu, lokasi juga
berpengaruh terhadap dimensi-dimensi strategi seperti flexibility, competitive, positioning,
dan focus. Fleksibelitas suatu lokasi merupakan ukuran sejauh mana suatu perusahaan dapat
bereaksi terhadap perubahan situasi ekonomi. Keputusan pemilihan lokasi berkaitan dengan
komitmen jangka panjang terhadap aspek-aspek yang sifatnya kapital intensif, maka
perusahaan benar-benar harus mempertimbangkan dan menyeleksi lokasi yang responsif
terhadap situasi ekonomi, demografi, budaya, dan persaingan di masa mendatang.
d. Promosi (Promotion)
Promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran yang merupakan aktivitas
pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau
meningatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli,
dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan.
e. Orang
Terdapat empat criteria peranan atau pengaruh dari aspek people yang mempengaruhi
pelanggan, yaitu peran: Contractors: people disini berinteraksi langsung dengan konsumen
dalam frekuensi yang cukup sering dan sangat mempengaruhi keputusan konsumen untuk
membeli. Modifier: people tidak secara langsung mempengaruhi konsumen tetapi cukup
sering berhubungan dengan konsumen, misalnya: repsionis. Influencers: people
mempengaruhi konsumen dalam keputusan untuk membeli tetapi tidak secara langsung
kontak dengan konsumen. Isolated: people tidak secara langsung ikut serta dalam marketing
mix dan juga tidak sering bertemu dengan konsumen. Misalnya: karyawan bagian
administrasi penjualan, SDM dan data processing.
f. Proses
Membedakan proses dalam dua cara, yaitu : Complexity, dalam hal ini berhubungan
dengan langkah langkah dan tahap dalam proses. Divegernce, berhubungan dengan adanya
perubahan dalam langkah tahap proses. Obyek utama dari pemasaran adalah
mengidentifikasikan kebutuhan dan keinginan pasar. Oleh karena itu jasa harus didesain
untuk memenuhi keinginan tersebut. Desain jasa tersebut disampaikan. Proses mencerminkan
bagaimana semua elemen bauran pemasaran dikoordinasikan untuk menjamin kualitas dan
konsistensi jasa diberikan kepada pelanggan. Dengan demikian, pemasar harus dilibatkan
ketika desain proses jasa dibuat, karena pemasar juga sering terlibat dalam pengawasan
kualitas jasa. Lupiyoadi.
75
g. Bukti Fisik
Perusahaan melalui tenaga pemasarnya menggunakan tiga cara dalam mengelola
bukti fisik yang strategis, yaitu sebagai berikut : An attention-creating medium. Perusahaan
jasa melakukan diferensiasi dengan pesaing dan membuat sarana fisik semenarik mungkin
untuk menjaring pelanggan dari target pasarnya. As a message-creating medium.
Menggunakan simbol atau isyarat untuk mengkomunikasikan secara intensif kepada audiens
mengenai kekhususan kualitas dari produk jasa. As effect-creating medium. Baju seragam
yang berwarna, bercorak, suara dan desain untuk menciptakan sesuatu yang lain dari produk
jasa yang ditawarkan.
(Selang, 2013)
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1787/MENKES/PER/XII/2010
TENTANG
IKLAN DAN PUBLIKASI PELAYANAN KESEHATAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa masyarakat sebagai pengguna pelayanan kesehatan perlu diberikan
perlindungan dari informasi berupa iklan dan publikasi pelayanan kesehatan
yang menyesatkan;
b. bahwa materi iklan dan publikasi pelayanan kesehatan yang diberikan oleh
fasilitas pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit sebagaimana ketentuan
Pasal 29 huruf l, huruf m, huruf n, dan Pasal 30 ayat (1) huruf g Undang-
Undang Nomor 44 tentang Rumah Sakit, dan tenaga kesehatan harus bersifat
informatif, edukatif, dan bertanggung jawab;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan
huruf b, perlu mengatur Iklan dan Publikasi Pelayanan Kesehatan dengan
Peraturan Menteri Kesehatan;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3821);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4252);
76
3. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4844);

5. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
6. Undang–Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG IKLAN DAN
PUBLIKASI PELAYANAN KESEHATAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

77
1. Iklan Pelayanan Kesehatan adalah kegiatan komunikasi persuasif atau pengenalan/promosi
tentang kebijakan, program, dan/atau pelayanan kesehatan dalam bentuk gambar, suara,
dan/atau tulisan dengan tujuan menarik minat dan memudahkan masyarakat.
2. Publikasi Pelayanan Kesehatan adalah kegiatan komunikasi melalui penyebaran informasi
dan/atau pengumuman/pernyataan untuk memperkenalkan/mempromosikan kebijakan
dan/atau program pembangunan kesehatan maupun jasa pelayanan kesehatan di berbagai
media.
3. Iklan adalah informasi yang bersifat komersial dan layanan masyarakat tentang tersedianya
jasa, barang, dan gagasan yang dapat dimanfaatkan oleh khalayak dengan atau tanpa imbalan
kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan.
4. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang
dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat termasuk swasta.
5. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
6. Pelayanan kesehatan adalah suatu kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang meliputi
promosi kesehatan, pencegahan penyakit, kuratif dan rehabilitatif.
7. Media adalah alat dan/atau sarana komunikasi massa yang meliputi media cetak, media
elektronik, maupun media luar ruang.
8. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang kesehatan.
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 2
Ruang lingkup pengaturan ini meliputi iklan dan publikasi pelayanan kesehatan termasuk
pelayanan kesehatan tradisional dan pengobatan komplementeralternatif.
BAB III
PENYELENGGARAAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 3
(1) Fasilitas pelayanan kesehatan dapat menyelenggarakan iklan dan/atau publikasi pelayanan
kesehatan melalui media.
78
(2) Penyelenggaraan iklan dan/atau publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
sesuai dengan etika iklan dan/atau publikasi yang diatur dalam kode etik rumah sakit
indonesia, kode etik masing-masing tenaga kesehatan, kode etik pariwara, dan ketentuan
peraturan perundangundangan.
Bagian Kedua
Persyaratan
Pasal 4
(1) Fasilitas pelayanan kesehatan dalam menyelenggarakan iklan dan/atau
publikasi harus memenuhi syarat meliputi:
a. memuat informasi dengan data dan/atau fakta yang akurat;
b. berbasis bukti;
c. informatif;
d. edukatif; dan
e. bertanggung jawab.
(2) Iklan dan/atau publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
dilakukan melalui media cetak, media elektronik, dan media luar ruang
wajib mencantumkan nama dan alamat fasilitas pelayanan kesehatan serta
tanggal publikasi.
Pasal 5
Iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan tidak diperbolehkan apabila
bersifat:
a. menyerang dan/atau pamer yang bercita rasa buruk seperti merendahkan kehormatan dan
derajat profesi tenaga kesehatan;
b. memberikan informasi atau pernyataan yang tidak benar, palsu, bersifat menipu dan
menyesatkan;
c. memuat informasi yang menyiratkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan tersebut dapat
memperoleh keuntungan dari pelayanan kesehatan yang tidak dapat dilaksanakan oleh
fasilitas pelayanan kesehatan lainnya atau menciptakan pengharapan yang tidak tepat dari
pelayanan kesehatan yang diberikan;
d. membandingkan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan fasilitas pelayanan kesehatan
tersebut dengan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, atau mencela mutu pelayanan
kesehatan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya;

79
e. memuji diri secara berlebihan, termasuk pernyataan yang bersifat superlatif dan
menyiratkan kata “satu-satunya” atau yang bermakna sama mengenai keunggulan, keunikan
atau kecanggihan sehingga cenderung bersifat menyesatkan;
f. memublikasikan metode, obat, alat dan/atau teknologi pelayanan kesehatan baru atau non-
konvensional yang belum diterima oleh masyarakat kedokteran dan/atau kesehatan karena
manfaat dan keamanannya sesuai ketentuan masing-masing masih diragukan atau belum
terbukti;
g. mengiklankan pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang fasilitas pelayanan
kesehatannya tidak berlokasi di negara Indonesia;
h. mengiklankan pelayanan kesehatan yang dilakukan tenaga kesehatan dan/atau fasilitas
pelayanan kesehatan yang tidak memiliki izin;
i. mengiklankan obat, makanan suplemen, atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar
atau tidak memenuhi standar mutu dan keamanan;
j. mengiklankan susu formula dan zat adiktif;
k. mengiklankan obat keras, psikotropika dan narkotika kecuali dalam majalah atau forum
ilmiah kedokteran;
l. memberi informasi kepada masyarakat dengan cara yang bersifat mendorong penggunaan
jasa tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut;
m. mengiklankan promosi penjualan dalam bentuk apa pun termasuk pemberian potongan
harga (diskon), imbalan atas pelayanan kesehatan dan/atau menggunakan metode penjualan
multi-level marketing;
n. memberi testimoni dalam bentuk iklan atau publikasi di media massa; dan
o. menggunakan gelar akademis dan/atau sebutan profesi di bidang kesehatan.
Pasal 6
Iklan dan/atau publikasi mengenai obat dalam pelayanan kesehatan dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 7
(1) Iklan pelayanan kesehatan dapat dilakukan di semua media.
(2) Publikasi pelayanan kesehatan dapat dilakukan di semua media dalam bentuk antara lain
berita, banner, tulisan berjalan, artikel, atau features.
Pasal 8
(1) Tenaga kesehatan dilarang mengiklankan atau menjadi model iklan obat, alat kesehatan,
perbekalan kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan kecuali dalam iklan layanan
masyarakat.
80
(2) Tenaga kesehatan dapat melakukan publikasi atas pelayanan kesehatan dan penelitian
kesehatan dalam majalah kesehatan atau forum ilmiah untuk lingkungan profesi.
Pasal 9
(1) Iklan layanan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) adalah iklan
promosi kesehatan yang bertujuan untuk mengubah masyarakat untuk berperilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) atau mendukung program pemerintah dan tidak bersifat komersiil.
(2) Program pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a. program pengentasan masalah kesehatan yang bersifat permanen di
daerah tertinggal, daerah perbatasan, kepulauan terluar, dan daerah
kurang diminati;
b. program pemberantasan penyakit;
c. program keluarga berencana;
d. program promotif dan preventif saintifikasi jamu; dan/atau
e. program peduli kemanusiaan dan bencana.
(3) Iklan layanan masyarakat tidak boleh memperlihatkan merek dagang, alat kesehatan,
perbekalan kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Pasal 10
Iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan oleh fasilitas kesehatan melalui internet, tidak
boleh digunakan sebagai sarana konsultasi medis jarak jauh (telemedicine).
BAB IV
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Pasal 11
(1) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan,
Menteri dapat membentuk Tim Penilaian dan Pengawasan Iklan dan Publikasi Pelayanan
Kesehatan di lingkungan Kementerian Kesehatan.
(2) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas melakukan penilaian dan pengawasan
atas materi iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan sebelum dan setelah ditayangkan.
(3) Dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tim berwenang untuk:
a. memberi konsultasi atas materi iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan yang akan
ditayangkan.
b. menerima, menelaah, dan memeriksa laporan pengaduan dari masyarakat mengenai iklan
dan publikasi pelayanan kesehatan;
c. memanggil dan meminta keterangan saksi dan/atau pelapor;
d. memeriksa dokumen, bukti informasi, dan teknologi atau bukti-bukti lainnya;
81
e. merujuk tenaga kesehatan dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang melakukan
pelanggaran atas ketentuan peraturan ini ke Majelis Kehormatan Etik Profesi, Majelis
Disiplin Profesi, dan/atau Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia; dan
f. memberi rekomendasi kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk untuk mengambil
tindakan administratif.
(4) Tim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaporkan hasil penilaian dan pengawasan
kepada Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
(5) Menteri atau pejabat yang ditunjuk menindaklanjuti laporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan susunan keanggotaan Tim sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 12
(1) Pelaksanaan penilaian dan pengawasan iklan dan publikasi pelayanan kesehatan di daerah
dilakukan oleh dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dalam bidang
kesehatan di tingkat provinsi.
(2) Dalam rangka penilaian dan pengawasan iklan dan publikasi pelayanan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dinas dapat berkonsultasidengan Tim sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penilaian dan pengawasan iklan dan
publikasi pelayanan kesehatan di daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
kepala dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dalam bidang kesehatan di
tingkat provinsi.
Pasal 13
Penilaian dan pengawasan iklan dan/atau publikasi obat dilakukan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 14
(1) Berdasarkan penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 12, Menteri
dan/atau kepala dinas yang menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dalam bidang
kesehatan di tingkat provinsi, dapat memerintahkan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan
dan/atau tenaga kesehatan untuk mengubah, menarik, menghilangkan atau menghentikan
iklan dan/atau publikasi pelayanan kesehatan yang melanggar ketentuan Peraturan ini dalam
jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja.
(2) Dalam hal fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan tidak mengubah,
menarik, menghilangkan, dan/atau menghentikan iklan dan/atau publikasi sebagaimana
82
dimaksud pada ayat (1), Menteri dan/atau kepaladinas yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan daerah dalam bidangkesehatan di tingkat provinsi, dapat mengambil tindakan
administratif.
(3) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilaksanakan dalam
jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja.
(4) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
berupa:
a. pencabutan surat izin operasional/surat izin praktik/surat izin kerja/surat izin profesi untuk
sementara waktu paling lama 1 (satu) tahun; dan
b. pencabutan surat izin operasional/surat izin praktik/surat izin kerja/surat izin profesi untuk
selamanya.
(5) Selain tindakan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tenaga kesehatan
dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan yang melanggar dapat dikenakan sanksi yang
ditetapkan oleh Majelis Kehormatan Etik Profesi, Majelis Disiplin Profesi, dan/atau Majelis
Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia.
Pasal 15
Dalam mengambil tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Menteri dan kepala dinas
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dalam bidang kesehatan di tingkat
provinsi dapat melibatkan organisasi profesi terkait sesuai dengan tugas, fungsi, dan
kewenangan masing-masing.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 16
Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

(Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010)

UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014

83
TENTANG

STANDARDISASI DAN PENILAIAN

KESESUAIAN DENGAN RAHMAT

TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa Pemerintah Negara Republik Indonesia dibentuk untuk


melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia;
b. bahwa dalam rangka melindungi kepentingan negara,
keselamatan, keamanan, dan kesehatan warga negara serta
perlindungan flora, fauna, dan pelestarian fungsi lingkungan
hidup diperlukan standardisasi dan penilaian kesesuaian;
c. bahwa standardisasi dan penilaian kesesuaian merupakan
salah satu alat untuk meningkatkan mutu, efisiensi
produksi, memperlancar transaksi perdagangan,
mewujudkan persaingan usaha yang sehat dan transparan;
d. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang standardisasi dan penilaian kesesuaian yang ada
belum selaras sebagai landasan hukum bagi
penyelenggaraan kegiatan standardisasi dan penilaian
kesesuaian;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d perlu
membentuk Undang-Undang tentang Standardisasi dan
Penilaian Kesesuaian;

Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA


dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

84
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG STANDARDISASI


DAN PENILAIAN KESESUAIAN.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Standardisasi adalah proses merencanakan, merumuskan,
menetapkan, menerapkan, memberlakukan,
memelihara, dan mengawasi Standar yang dilaksanakan
secara tertib dan bekerja sama dengan semua Pemangku
Kepentingan.
2. Penilaian Kesesuaian adalah kegiatan untuk menilai
bahwa Barang, Jasa, Sistem, Proses, atau Personal telah
memenuhi persyaratan acuan.
3. Standar adalah persyaratan teknis atau sesuatu yang
dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun
berdasarkan konsensus semua pihak/Pemerintah/
keputusan internasional yang terkait dengan
memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan,
lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, pengalaman, serta perkembangan masa kini dan
masa depan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-
besarnya.
4. Badan Standardisasi Nasional yang selanjutnya disingkat
BSN adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang
bertugas dan bertanggung jawab di bidang Standardisasi
dan Penilaian Kesesuaian.

5. Komite Akreditasi Nasional yang selanjutnya disingkat


KAN adalah lembaga nonstruktural yang bertugas dan
bertanggung jawab di bidang Akreditasi Lembaga
Penilaian Kesesuaian.
6. Lembaga Penilaian Kesesuaian yang selanjutnya disingkat
LPK adalah lembaga yang melakukan kegiatan Penilaian
Kesesuaian.
7. Standar Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat
SNI adalah Standar yang ditetapkan oleh BSN dan berlaku
di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
8. Akreditasi adalah rangkaian kegiatan pengakuan formal
oleh KAN, yang menyatakan bahwa suatu lembaga,
institusi, atau laboratorium memiliki kompetensi serta
berhak melaksanakan Penilaian Kesesuaian.
9. Sertifikasi adalah rangkaian kegiatan Penilaian Kesesuaian

85
yang berkaitan dengan pemberian jaminan tertulis bahwa
Barang, Jasa, Sistem, Proses, atau Personal telah
memenuhi Standar dan/atau regulasi.
10. Tanda SNI adalah tanda sertifikasi yang ditetapkan oleh
BSN untuk menyatakan telah terpenuhinya persyaratan
SNI.
11. Tanda Kesesuaian adalah tanda sertifikasi selain Tanda
SNI yang ditetapkan kementerian dan/atau lembaga
pemerintah nonkementerian atau ditetapkan berdasarkan
perjanjian saling pengakuan antar subjek hukum
internasional.
12. Barang adalah setiap benda, baik berwujud maupun tidak
berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, baik
dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, dan
dapat diperdagangkan, dipakai, digunakan, atau
dimanfaatkan oleh konsumen atau Pelaku Usaha.
13. Jasa adalah setiap layanan dan unjuk kerja berbentuk
pekerjaan atau hasil kerja yang dicapai, yang disediakan
oleh satu pihak ke pihak lain dalam masyarakat untuk
dimanfaatkan oleh konsumen atau Pelaku Usaha.
14. Sistem adalah perangkat unsur yang secara teratur saling
berkaitan untuk menjalankan suatu kegiatan.
15. Proses adalah rangkaian tindakan, perbuatan, atau
pengolahan yang mengubah masukan menjadi keluaran.
16. Personal adalah perseorangan yang bertindak untuk diri
sendiri yang berkaitan dengan pembuktian kompetensi.
17. Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan
usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan
badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau
melakukan kegiatan dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama
melalui perjanjian, menyelenggarakan kegiatan usaha
dalam berbagai bidang ekonomi.
18. Pemangku Kepentingan adalah pihak yang mempunyai
kepentingan terhadap kegiatan Standardisasi dan Penilaian
Kesesuaian, yang terdiri atas unsur konsumen, Pelaku
Usaha, asosiasi, pakar, cendekiawan, kementerian,
lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau Pemerintah
Daerah.
19. Program Nasional Perumusan Standar yang selanjutnya
disingkat PNPS adalah usulan rancangan SNI dari
Pemangku Kepentingan yang akan dirumuskan secara
terencana, terpadu, dan sistematis.
20. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah
adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang

86
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
21. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati atau walikota,
dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah.

Pasal 2
Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian
dilaksanakan berdasarkan asas:
a. manfaat;
b. konsensus dan tidak memihak;
c. transparansi dan keterbukaan;
d. efektif dan relevan;
e. koheren;
f. dimensi pembangunan nasional; dan
g. kompeten dan tertelusur.
Pasal 3
Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian bertujuan:
a. meningkatkan jaminan mutu, efisiensi produksi, daya
saing nasional, persaingan usaha yang sehat dan
transparan dalam perdagangan, kepastian usaha, dan
kemampuan Pelaku Usaha, serta kemampuan inovasi
teknologi;
b. meningkatkan perlindungan kepada konsumen, Pelaku
Usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya, serta negara,
baik dari aspek keselamatan, keamanan, kesehatan,
maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
c. meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi
transaksi perdagangan Barang dan/atau Jasa di dalam
negeri dan luar negeri.

Pasal 4
Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian berlaku terhadap
Barang, Jasa, Sistem, Proses, atau Personal.

Pasal 5
(1) Kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian
Kesesuaian mencakup aspek legalitas, kelembagaan,
kaidah, dan pedoman.
(2) Kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian

87
Kesesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengatur dasar rencana pelaksanaan kegiatan
Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian agar Pemangku
Kepentingan turut berpartisipasi.
(3) Kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian
Kesesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) disusun oleh BSN berdasarkan rencana pembangunan
nasional.
(4) Kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian
Kesesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
ditetapkan oleh menteri yang mengoordinasikan.
Pasal 6
Kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 menjadi dasar dalam
perencanaan, perumusan, penetapan, penerapan, pemberlakuan,
pemeliharaan, dan pengawasan SNI serta kegiatan Penilaian
Kesesuaian.

Pasal 7
Kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 wajib menjadi acuan bagi
kebijakan Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian di setiap
sektor.

BAB II KELEMBAGAAN

Pasal 8
(1) Pemerintah melaksanakan tugas dan tanggung jawab di
bidang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian.
(2) Tugas dan tanggung jawab di bidang Standardisasi dan
Penilaian Kesesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan oleh BSN.
(3) BSN berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab
kepada Presiden melalui menteri yang mengoordinasikan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan organisasi,
tugas, dan fungsi BSN diatur dengan Peraturan Presiden.

Pasal 9
(1) Pemerintah melaksanakan tugas dan tanggung jawab di
bidang Akreditasi LPK.
(2) Tugas dan tanggung jawab di bidang Akreditasi LPK
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
KAN.
(3) KAN berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab

88
kepada Presiden melalui Kepala BSN.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan organisasi,
tugas, dan fungsi KAN diatur dengan Peraturan Presiden.

BAB III STANDARDISASI


Bagian Kesatu Perencanaan

Pasal 10
(1) Perencanaan perumusan SNI disusun dalam suatu PNPS.
(2) PNPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat
program perumusan SNI dengan judul SNI yang akan
dirumuskan beserta pertimbangannya.
(3) PNPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
dengan memperhatikan:
a. kebijakan nasional Standardisasi dan Penilaian Keses
b. perlindungan konsumen;
c. kebutuhan pasar;
d. perkembangan Standardisasi internasional;
e. kesepakatan regional dan internasional;
f. kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi;
g. kondisi flora, fauna, dan lingkungan hidup;
h. kemampuan dan kebutuhan industri dalam negeri;
i. keyakinan beragama; dan
j. budaya dan kearifan lokal.
(4) Penyusunan PNPS sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilakukan setiap tahun oleh BSN bersama-sama dengan
Pemangku Kepentingan.
(5) Dalam rangka meningkatkan mutu Barang dan/atau Jasa
unggulan daerah, Pemerintah Daerah dapat mengajukan
rencana perumusan SNI kepada BSN.
(6) PNPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
dengan Keputusan Kepala BSN.

Pasal 11
Ketentuan lebih lanjut mengenai perencanaan diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah.
Bagian
Kedua
Perumus
an

89
Pasal 12
(1) Perumusan SNI didasarkan pada PNPS sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10.
(2) Perumusan SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dengan memperhatikan waktu penyelesaian
yang efektif dan efisien.
(3) Dalam hal keadaan luar biasa atau terjadinya bencana
alam, atau untuk kepentingan nasional, kementerian
dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian dapat
mengusulkan perumusan SNI yang tidak termasuk dalam
PNPS pada tahun berjalan.
(4) Usulan perumusan SNI sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) disampaikan kepada BSN dengan disertai penjelasan
yang mendukung.

Pasal 13
(1) SNI dirumuskan dengan memperhatikan ketersediaan
sumber daya, kepentingan nasional, hasil penelitian,
inovasi, dan/atau pengalaman.
(2) Dalam hal terdapat standar internasional, SNI dirumuskan
selaras dengan standar internasional melalui:
a. adopsi standar internasional dengan
mempertimbangkan kepentingan nasional untuk
menghadapi perdagangan global; atau
b. modifikasi standar internasional disesuaikan dengan
perbedaan iklim, lingkungan, geologi, geografis,
kemampuan teknologi, dan kondisi spesifik lain.
(3) Untuk kepentingan nasional, SNI dapat dirumuskan tidak
selaras dengan standar internasional.

Pasal 14
(1) Perumusan SNI dilaksanakan oleh BSN.
(2) Hasil perumusan SNI sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) berupa rancangan SNI.

(3) Dalam melaksanakan perumusan SNI


sebagaimana dimaksud pada ayat (1), BSN membentuk
komite teknis.
(4) Komite teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terd
a. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah;
b. Pelaku Usaha dan/atau asosiasi terkait;
c. konsumen dan/atau asosiasi terkait; dan
d. pakar dan/atau akademisi.

90
(5) Pembentukan dan ruang lingkup serta susunan
keanggotaan komite teknis ditetapkan dengan Keputusan
Kepala BSN.

Pasal 15
(1) BSN melakukan jajak pendapat atas rancangan SNI
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) yang
dirumuskan oleh komite teknis.
(2) Masyarakat dapat memberikan masukan terhadap
rancangan SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat
menjadi bahan pertimbangan bagi komite teknis.

Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai perumusan diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Bagian
Ketiga
Penetapa
n

Pasal 17
Rancangan SNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat
(2) ditetapkan menjadi SNI dengan Keputusan Kepala BSN.

Pasal 18
SNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dipublikasikan
melalui sistem informasi Standardisasi dan Penilaian
Kesesuaian.
Pasal 19
(1) Setiap orang dilarang memalsukan SNI atau membuat SNI
palsu.
(2) Setiap orang dilarang
memperbanyak, memperjualbelikan, atau menyebarkan
SNI tanpa persetujuan BSN.

Bagian
Keempat Penerapan dan
Pemberlakuan

91
P
a
r
a
g
r
a
f

U
m
u
m

Pasal 20
(1) Penerapan SNI dilakukan dengan cara menerapkan
persyaratan SNI terhadap Barang, Jasa, Sistem, Proses,
atau Personal.
(2) Penerapan SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan secara sukarela atau diberlakukan secara
wajib.
(3) Penerapan SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dibuktikan melalui pemilikan sertifikat dan/atau
pembubuhan Tanda SNI dan/atau Tanda Kesesuaian.

Paragraf 2
Penerapan SNI secara
Sukarela

Pasal 21
(1) SNI dapat diterapkan secara sukarela oleh Pelaku Usaha,
kementerian dan/atau lembaga pemerintah
nonkementerian, dan/atau Pemerintah Daerah.
(2) Pelaku Usaha, kementerian dan/atau lembaga pemerintah
nonkementerian, dan/atau Pemerintah Daerah yang telah
mampu menerapkan SNI dapat mengajukan Sertifikasi
kepada LPK yang telah diakreditasi oleh KAN.

92
(3) LPK yang telah diakreditasi oleh KAN memberikan
sertifikat kepada pemohon sertifikat.

Pasal 22
(1) Pelaku Usaha yang telah mendapatkan sertifikat
berkewajiban membubuhkan Tanda SNI dan/atau Tanda
Kesesuaian pada Barang dan/atau kemasan atau label.
(2) Pelaku Usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilarang:
a. membubuhkan Tanda SNI dan/atau Tanda Kesesuaian
pada Barang dan/atau kemasan atau label di luar
ketentuan yang ditetapkan dalam sertifikat; atau
b. membubuhkan nomor SNI yang berbeda dengan
nomor SNI pada sertifikatnya.
(3) Pelaku Usaha yang menerapkan SNI secara sukarela yang
memiliki sertifikat dan telah berakhir masa berlaku,
dicabut, atau dibekukan sertifikatnya dilarang
membubuhkan Tanda SNI dan/atau Tanda Kesesuaian
pada Barang dan/atau kemasan atau label.
(4) Pelaku Usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), atau ayat (3) dikenai
sanksi administratif.
(5) Ketentuan mengenai tata cara pengenaan dan jenis sanksi
administratif diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah.

Pasal 23
Ketentuan lebih lanjut mengenai penerapan SNI secara sukarela
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Paragraf 3
Pemberlakuan SNI secara
Wajib

Pasal 24
(1) Dalam hal berkaitan dengan kepentingan keselamatan,
keamanan, kesehatan, atau pelestarian fungsi lingkungan
hidup, kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian
berwenang menetapkan pemberlakuan SNI secara wajib
dengan Peraturan Menteri atau Peraturan Kepala Lembaga

93
Pemerintah Nonkementerian.
(2) Pelaku Usaha, kementerian/lembaga pemerintah
nonkementerian, dan/atau Pemerintah Daerah wajib
melaksanakan Peraturan Menteri atau Peraturan Kepala
Lembaga Pemerintah Nonkementerian tentang
pemberlakuan SNI secara wajib.

Pasal 25
(1) Pelaku Usaha, kementerian/lembaga pemerintah
nonkementerian, dan/atau Pemerintah Daerah wajib
memiliki sertifikat SNI yang diberlakukan secara wajib
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1).
(2) Pelaku Usaha yang tidak memiliki sertifikat atau memiliki
sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetapi habis
masa berlakunya, dibekukan sementara, atau dicabut
dilarang:
a. memperdagangkan atau mengedarkan Barang;
b. memberikan Jasa; dan/atau
c. menjalankan Proses atau Sistem,
yang tidak sesuai dengan SNI atau penomoran SNI.
(3) Pelaku Usaha yang memiliki sertifikat
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang:
a. memperdagangkan atau mengedarkan Barang;
b. memberikan Jasa; dan/atau
c. menjalankan Proses atau Sistem,
yang tidak sesuai dengan SNI atau penomoran SNI.
(4) Pelaku Usaha yang mengimpor Barang dilarang
memperdagangkan atau mengedarkan Barang yang tidak
sesuai dengan SNI atau penomoran SNI.
Pasal 26
(1) Setiap orang yang tanpa hak dilarang menggunakan
dan/atau membubuhkan Tanda SNI dan/atau Tanda
Kesesuaian.
(2) Setiap orang dilarang memalsukan Tanda SNI dan/atau
Tanda Kesesuaian atau membuat Tanda SNI dan/atau
Tanda Kesesuaian palsu.

Bagian
Kelima
Pemelih
araan

Pasal 27

94
Pemeliharaan SNI dilakukan
untuk:
a. menjaga kesesuaian SNI terhadap kepentingan nasional
dan kebutuhan pasar;
b. mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan
teknologi;
c. menilai kelayakan dan kekiniannya; dan
d. menjamin ketersediaan SNI.

Pasal 28
(1) Pemeliharaan SNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
dapat dilakukan melalui kaji ulang SNI.
(2) Kaji ulang SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun
setelah ditetapkan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara kaji ulang SNI
diatur dengan Peraturan Kepala BSN.

Bagian
Keenam Penelitian dan
Pengembangan

Pasal 29
Dalam rangka perencanaan, perumusan, penerapan dan pemberlakuan, serta
pemeliharaan SNI, BSN dan/atau kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian
lainnya secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dapat melakukan kegiatan
penelitian dan pengembangan Standardisasi.

(Undang-Undang No.20 Tahun 2014)

95
DAFTAR PUSTAKA

Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2001. Marketing Management. Prenhallindo. Jakarta.
Mudayana, Ahmad Ahid. 2010. Analisis Strategi Pemasaran Produk Laparoscopy di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kes Mas. 4(2) : 76-143.
Nugroho, J. Setiadi. 2003. Perilaku Konsumen Konsep dan Implikas iuntuk Strategi dan
Penelitian Pemasaran. Kencana. Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1787/Menkes/Per/XII/2010 Iklan
dan Publikasi Pelayanan Kesehatan. Kemenkes RI. Jakarta.
Sabarguna, B. S. 2004. Pemasaran Rumah Sakit. Konsorsium RSI. Yogyakarta.
Selang, Christian, A.D. 2013. Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Pengaruhnya Terhadap
Loyalitas Konsumen pada Fresh Mart Bahu Mall Manado. Jurnal
EMBA.1(3): 71-80.
Taurany H. 2008. Administrasi Rumah Sakit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Universitas Indonesia : Fakultas Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
Undang-Undang No.20 Tahun 2014 tentang Perlindungan Konsumen. Peraturan Presiden
Republik Indonesia. Jakarta.
Widjaya, Pieter Gunawan. 2017. Analisis Segmenting, Targeting, Positioning, dan Marketing
Mix pada PT. Murni Jaya. Agora. 5(1) : 1-8.

96