Anda di halaman 1dari 4

Menurut Farmakope Indonesia IV (1995) gel merupakan sistem

semisolid terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik kecil atau

molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Jika massa gel terdiri

dari partikel kecil yang terpisah sistem gel disebut sistem dua fase, atau biasa

disebut juga magma. Jika makromolekul organik tersebar rata dalam suatu cairan

maka sistem gel disebut sistem satu fase. Makromolekul sintetis yang menyusun

gel fase tunggal antara lain adalah carbopol.

Polimer gel tersusun dari jaringan monomer tiga dimensi yang saling

berikatan dan mengembang di dalam solven hingga batas konsentrasi tertentu. Gel

dapat dikatakan berada di fase intermediet antara sediaan liquid dan solid. Gel

tersusun dari fase terdispersi yaitu polimer, serta fase pendispers yaitu air atau

solven lain. Sistem gel dapat berbentuk jernih ataupun keruh, karena penyusunnya

mungkin tidak terlarut sempurna dan dapat membentuk agregat. Konsentrasi

penyusun gelling agent dalam sediaan adalah kurang dari 10%, biasanya 0,5-2.0%

(Troy dan Beringer, 2006).

Gel merupakan sistem dispersi yang banyak tersusun dari air dan sangat

rentan terhadap terjadinya isu instabilitas baik fisik, kimia, maupun mikrobial.

Instabilitas fisik yang umum terjadi pada gel adalah sineresis yakni keluarnya

medium dispersi dari sistem karena kontraksi dari sistem polimer gel. Sineresis

dapat terjadi karena faktor perubahan suhu penyimpanan yang ekstrim seperti

yang dialami saat proses cycling test. Pada proses pembekuan saat cycling test

terjadi penurunan tekanan osmotik pada sistem dan perubahan bentuk molekul. Molekul yang
mengkerut ini memaksa keluarnya medium dari sistem matriks gel

(Gad, 2008). Sineresis biasanya terjadi pada sediaan dengan konsentrasi gelling

agent yang rendah. Fenomena sineresis menunjukkan sediaan tidak stabil secara

termodinamika (Kaur dan Guleri, 2013).

Hand sanitizer mengandung bahan antiseptik seperti alkohol atau

isopropanol, serta pelembab untuk meminimalisir terjadinya iritasi pada kulit.

Hand sanitizer digunakan untuk membersihkan tangan pada keadaan yang tidak

memungkinkan untuk mencuci tangan (Simonne, 2005). Hand sanitizer memiliki


banyak keunggulan yang disukai seperti waktu aplikasi yang singkat, kerja yang

efektif, nyaman, dan meningkatnya kepatuhan pengguna. Sediaan hand sanitizer

dapat diformulasikan dalam bentuk gel maupun cairan (Traore dkk, 2007).

Bakteri yang ada di tangan dibagi menjadi dua jenis yaitu bakteri resident

dan bakteri transient. Bakteri resident adalah bakteri yang tinggal dan berkoloni

di kulit dan biasa ditemui pada lapisan stratum korneum kulit. Sebagai flora

normal, bakteri ini memiliki peran protektif dengan melakukan kompetisi nutrisi

dengan bakteri patogen. Bakteri transient biasa didapatkan melalui kontak dengan

permukaan benda asing. Bakteri ini mungkin tidak dapat berkoloni di tangan dan

lebih mudah dihilangkan dibandingkan bakteri resident. Bakteri transient dapat

bersifat patogenik dan menyebabkan infeksi. Hand sanitizer bekerja membunuh

mikroorganisme transient yang hidup di permukaan tangan dan menjaga bakteri

resident untuk hidup setelah penggunaan (WHO, 2005).

WHO (2005) merekomendasikan menjaga kebersihan tangan rutin dengan

dua cara, yaitu dengan mencuci tangan dan dengan mengaplikasikan sediaan

antiseptik tangan mengandung alkohol yang dapat berupa gel ataupun cairan.

Sediaan hand sanitizer yang mengandung alkohol telah terbukti mampu

mengurangi infeksi bakteri pada gastrointestinal di berbagai kalangan konsumen

(Reynolds dkk, 2006).

Gelling agent merupakan suatu agen biasanya berupa polimer yang

berperan menjaga konsistensi bentuk gel. Gelling agent dapat terbuat dari polimer

alami yang berasal dari polisakarida anionik seperti gummi arabicum, polimer

semi sintetik seperti turunan selulosa, ataupun polimer sintetik seperti carbopol.

Karakteristik yang harus dimiliki oleh suatu gelling agent antara lain inert, aman, dan tidak bersifat
reaktif terhadap komponen formulasi lainnya (Gibson, 2009),

serta ekonomis, mudah didapatkan, mampu membentuk massa gel yang jernih,

dan memiliki organoleptis yang bisa diterima oleh konsumen (Gad, 2008)

Humektan merupakan senyawa higroskopis yang mampu menarik air

sehingga mampu mempertahankan kelembapan pada aplikasi sediaan di kulit.

Humektan yang baik memiliki sifat yang mampu menarik kelembapan dari udara,
nontoksik, dan nonreaktif dengan bahan lain dalam sediaan. Salah satu humektan organik yang
sering digunakan dalam formulasi sediaan kosmetik yaitu propilen

glikol (Schueller dan Romanowski, 1999).

LANDASAN TEORI

Hand sanitizer merupakan sediaan antiseptik yang dapat digunakan

untuk membersihkan tangan dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk

mencuci tangan (Simonne, 2005). Hand sanitizer bekerja membunuh

mikroorganisme transient yang ada di permukaan kulit tangan. Sediaan ini disukai

karena praktis dan singkat dalam pengaplikasiannya, kerja yang efektif, dan

nyaman bagi penggunanya (Traore, dkk.2007).

Formulasi sediaan hand sanitizer menggunakan bahan aktif alkohol

mulai digantikan dengan bahan aktif alami karena alkohol dapat menyebabkan

iritasi dan kekeringan pada aplikasi yang berulang pada kulit (Retnosari dan

Isadiartuti, 2006). Minyak atsiri jeruk bergamot (Citrus bergamia) dapat

dimanfaatkan sebagai alternatif zat aktif sediaan hand sanitizer karena aktivitas

antimikroba yang dimilikinya. Minyak atsiri jeruk bergamot diketahui memiliki

kemampuan antifungi terhadap jamur Candida sp. (Romano dkk, 2005), serta

aktivitas antibakteri terhadap bakteri Campylobacter jejuni, Escherichia coli,

Listeria monocytogenes, Bacillus cereus, dan Staphylococcus aureus (Fisher dan

Phillips, 2006). Aktivitas antimkroba tersebut diketahui berasal dari senyawa

linalool yang terdapat di dalam minyak atsiri jeruk bergamot (Fisher dan Phillips,

2006).

Sediaan hand sanitizer dapat diformulasikan menjadi bentuk sediaan gel.

Gel merupakan sistem semisolid terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel

anorganik kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan

(Dirjen POM, 1995). Konsistensi sediaan gel disusun oleh suatu polimer yang mengembang dalam
solven hingga batas konsentrasi tertentu, atau yang biasa

dikenal dengan istilah gelling agent. Salah satu polimer yang dipakai untuk

gelling agent adalah Carbopol yang tersusun dari monomer asam akrilik.

Carbopol sebagai gelling agent akan meningkatkan viskositas sediaan dari sediaan

gel yang terbentuk (Troy dan Beringer, 2006). Senyawa humektan juga

ditambahkan pada sediaan gel untuk mempertahankan kelembapan dan


kandungan air pada sediaan (Allen dan Howard, 2014). Humektan bersifat

higroskopis dan bersifat menurunkan viskositas dari sediaan gel yang terbentuk

(Schueller dan Romanowski, 1999).