Anda di halaman 1dari 109

Universitas Gadjah Mada

Fakultas Kehutanan

ILMU TANAH HUTAN


Kuliah Minggu 9

JENIS-JENIS TANAH
DI INDONESIA
Klasifikasi Sistem Soil Taxonomi
(USDA) :
 Order / Ordo
 SubOrder
 Greatgroup
 Subgroup
 Family
 Series / Seri
KLASIFIKASI ORDO TANAH (USDA)
1. ENTISOL
2. VERTISOL
3. ALFISOL
4. ANDISOL
5. ULTISOL
6. OXISOL
7. SPODOSOL
8. HISTOSOL
9. ARIDISOL
10. GELISOL
11. INCEPTISOL
Padanan Nama Tanah
menurut Berbagai
Sistem Klasifikasi Tanah
(disederhanakan)
Berdasarkan warnanya tanah-tanah di Indonesia
dibedakan menjadi:
1. Tanah-tanah terang
2. Tanah-tanah gelap
3. Tanah-tanah merah

Tanah yang berwarna terang terjadi karena


didominasi oleh mineral kuarsa
• Podzol/Spodosol
Tanah-tanah Gelap
Warna gelap terjadi karena
- Memiliki batuan induk basalt
- Kandungan Fe yang tereduksi (Fe2+)
- Kandungan bahan organik yang tinggi

Tanah berwarna gelap dikelompokkan dalam


Ordo:
• Vertisol
• Andisol
Tanah-tanah Merah
Tanah merah mayoritas tanah di Indonesia
Krn kandungan Fe yang teroksidasi (Fe3+)
- Fe2O3 (hematit) warna merah
- FeO(OH) (gutit) warna kuning
Tanah merah dikelompokkan dalam Ordo:
• Alfisol (Mediterrranean)
• Ultisol
• Oxisol
• Inceptisol (Jawa barat)
1. ENTISOL
Entisol :
Recent = Baru
Sol = Tanah

Jenis tanah dengan Ordo Entisol :


a. Regosol Pasir pantai
b. Regosol Vulkanik
c. Litosol
d. Aluvial
1.a/b. Regosol
 Jenis tanah ini masih muda
 Belum mengalami diferensiasi horizon, dapat memiliki
lapisan (layers) tetapi bukan horison karena terbentuk
bukan oleh proses pedogenesis tetapi perbedaan endapan
(materi, waktu).
 Tekstur pasir
 Konsistensi lepas-lepas
 pH umumnya netral
 Kesuburan sedang
 Berasal dari bahan induk material vulkanik piroklastis atau
pasir pantai
 Penyebarannya di daerah lereng vulkanik muda dan di
daerah beting pantai dan gumuk-gumuk pasir pantai
1.a. Regosol Pasir Pantai
Contoh : Pantai Selatan Jawa (Parangtritis, Samas)

Sifat :
 Tekstur Pasir (>60%)
 Struktur belum terbentuk
 Drainase dan aerasi baik
 Bahan organik rendah
 Water holding capacity
rendah

Tanaman Cemara Udang pada awal penanamannya

Courtesy: Handojo H Nurjanto


Lahan pantai dipengaruhi oleh angin yang kencang dan
mengandung garam, terkadang terbentuk sand dunes

Contoh tanaman: Cemara udang

 Mengurangi pengaruh angin


pemecah angin (wind break)
 Menambah bahan organik

Sumur renteng Tanaman Cemara Udang

Courtesy: Handojo H Nurjanto


1.b. Regosol Vulkanik
 Terdapat di sekitar gunung api dengan fisiografi vulkanik fan
(Contoh: Sekitar Gunung Merapi)
 Semua bahan vulkanik hasil erupsi gunung berapi berupa debu,
pasir (> 60%), kerikil, batu
 Kaya hara tanaman, kecuali N, tapi belum terlapuk, sehingga
belum tersedia.
 Gelas vulkanik (mudah lapuk), gelas vulkanik ada berarti
masih muda.
 Water holding capacity rendah
 Kelemahan: Slope, erosi, longsor
Regosol volkanik Merapi

Courtesy: Handojo H Nurjanto


1.c. Litosol
 Tanah mineral yang tebalnya 20 cm atau kurang. Di
bawahnya terdapat batuan keras dan padu.
 Dulu disebut “skelettal soil” atau “Roh Boden”
 Belum lama terlapuk dan belum mengalami
perkembangan tanah karena pengaruh iklim lemah,
letusan volkan, topografi miring/bergelombang.
 kadang-kadang merupakan singkapan batuan induk
(outcrop)
 Tanah litosol dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya
di topografi berbukit, pegunungan, lereng miring sampai
curam
 Terdapat di daerah pegunungan kapur dan Karst: Jateng,
Jatim, Madura, NTT, NTB, Maluku, Gunung Kidul
1.d. Tanah Aluvial
 Berasal dari bahan induk aluvium,
 Belum terbentuk struktur , konsistensi dalam keadaan
basah lekat, pH bermacam-macam, kesuburan sedang
hingga tinggi
 Meliputi lahan/dataran banjir, kiri-kanan sungai, hutan
bakau
 Menampakkan ciri morfologi berlapis-lapis
 Fraksi pasir < 60%
 Bahan organik jumlahnya tidak teratur dengan kedalaman
tanah
 Fisiografi yang mendukung
 Lembah sungai
 Dataran pantai
 Bekas danau
 Tanah aluvial dari aliran besar merupakan campuran
dan mengandung cukup hara, sehingga subur
(Sriwijaya, Jakarta, Majapahit).
 Tanah endapan Bengawan Solo dan Sungai pegunungan
Karst (Gunung Sewu  kekurangan P & K)
 Tanah endapan K. Opak, Progo, Glagah dari Gunung
Merapi yang masing muda dan kaya unsur hara dan
subur, produktif.
Tanah aluvial dibagi 6 :

1. Aluvial Gleick (Ag): Tanah aluvial dengan ciri hidromorfik


pada jeluk 50-100 cm
2. Aluvial Tionik (At): Tanah aluvial dengan horison sulfurik
dan sulfidik pada jeluk < 125
3. Aluvial humik (Ah) : Tanah aluvial dengan b.o.  12 kg pada
luas 1m2 sampai jeluk 1 m
4. Aluvial kalkarik (Ak): Tanah aluvial berkapur (‘calcereous’)
pada jeluk 20-50 cm
5. Aluvial distrik (Ad) : Tanah aluvial dengan BS  50% pada
jeluk 20-50 cm
6. Aluvial butrik (Ae) : Tanah aluvial lain
2. Vertisols (Grumusol)
1. Syarat terbentuknya:
a. Iklim kering (curah hujan rendah < 1.500
mm/th, bulan kering > 4 bulan, musim
kemarau dan penghujan tegas).
b. Bahan induk kaya logam-logam alkali
seperti: karst, batuan gamping/kapur,
dolomit, karang (reefs), tuff basa, napal.
c. Topografi relatif datar, elevasi ≤ 300 m dpl
Nama lain Vertisol
Grumusol (grumus = gumpal keras), Margalite soils,
Black earth, Black Cotton Soils, Rendzina (Brown
Grumusol).
Berdasarkan warna:
1. Black Grumusol (banyak humus)
2. Grey Grumusol (banyak Ca)
3. Brown Grumusol (sebagian smektit telah berubah
menjadi kaolinit, Fe2O3 (aerob).
Sifat Kimia Vertisol
1. Reaksi tanah (pH aquades 6 ≤ 8 (Na, dekat pantai),
2. Kejenuhan basanya sangat tinggi (> 80 %). Bahan
induk alkalis dan curah hujan rendah.
3. KPK/KTK (CEC) tinggi (> 80 meq/ 100 g; cmol (+)/
kg tanah)
4. Unsur P kurang tersedia (Ca &/ Mg banyak, Ca3
(PO4)2).
Sifat Fisik Vertisol
1. Lempung tipe 2:1 (smektit: montmorillonit, beidelit,
nontronit dll), dapat mengembang (expanding,
swelling) jika basah (18-20 Å) dan mengerut (shrinking)
(10 Å).

lempung kisi 2 : 1

Tanah Vertisol pada


musim kemarau
Profil Tanah Vertisol
lempung kisi 2 : 1

Sifat Fisik Vertisol


2. NH4+, K+ dll., humus, gliserol dan asam2 organik
dapat masuk di antara kisi2 kristal (interlayer space)
3. Tekstur lempung berat (heavy clay) > 30 %, sukar
diolah (basah sangat lekat/lengket dan kering
gumpal sangat keras), aerasi jelek, drainase lambat –
sangat lambat/ kedap air.
4. Struktur gumpal, pada permukaan tanah jika hujan
pertama jatuh (ada yang sudah nisbi basah ada yang
belum, maka terbentuk struktur bunga kobis
(cauliflower).
Sifat Fisik Vertisol
5. Karena merupakan tanah berat, dapat
mengembang dan mengkerut maka peka
thd erosi dan longsor/rayapan (sliding/ soil creep)

Tanah di KHDTK Getas


Tanah di KHDTK Getas

Tanpa vegetasi penutup (pohon)


akan mudah tererosi
menyisakan batuan induk yang
terfragmentasi
3. Alfisols (Mediterranean Soils)
Persyaratan Tanah Mediteran
1. Sama dengan Vertisols
2. Bedanya: terletak pada topografi yang nisbi miring
(bergelombang – berbukit) dan atau/ nisbi datar
tetapi batuan di bawahnya (parent material)
berlubang-lubang/ berongga-rongga,
pengatusan/drainase cukup baik (well drained).
Beda Vertisol dengan Alfisol
1. Vertisol mineral lempung smectite, Alfisol sebagian
smectite sudah berubah menjadi kaolinite.
2. Sifat kimia Vertisol (pH, CEC, BS, nutrients/
elements) > baik
3. Sifat fisik Vertisol > jelek daripada Alfisol (aerasi
dan drainase > jelek; warna vertisol (kelabu-
kehitaman), Alfisol (merah).
4. ANDISOL (ANDOSOL)

Bahasa Jepang “ando”  hitam kelam


- Tanah andosol : tanah berwarna
hitam kelam,
- BO banyak,
- Lempung amorf (terutama allophan)
 Tanah yang berkembang dari bahan induk
1. volkanik (volkan) muda: abu volkan, gelas
2. volkan, pasir – batuan volkan yang relatif masih
muda (mineral: feldspar, kristobalit, horblende,
amfibol, biotit, augit, hiperstin dll.)
 Di daerah tropis tanah Andosol hanya terdapat pada
> 900 m dpl (> 600 m), di iklim sedang dapat
terbentuk pada ketinggian dekat permukaan laut.
 Kata kunci tanah Andosol: volkanik muda, dingin.
 Muda: 5000 – 10.000 th setelah letusan, dorman.
Ciri morfologi :
 Warna hitam
 Sangat porous
 Sangat gembur
 Tidak lekat
 Struktur lemah/granuler
 Terasa berminyak (smeary) karena ber BO 8-30%
 pH 4,5 – 6,0
 WHC tinggi
 Terasa seperti sabun (soapy) bila di remas
Sifat Fisika Kimia :
1. BS rendah
2. KPK & KPA tinggi
3. Kadar C & N tinggi
4. P rend krn terfiksasi kuat
5. BJ < 0,85

Sifat Mineralogi :
1. Fraksi debu dan pasir halus berupa gelas vulkanik
dengan mineral ferromagnesia
2. Fraksi lempung alofan atau halloisit
Sifat fisik Andosol yang baik
1. WHC tinggi
2. Angka atterberg sangat tinggi
3. Sll jenuh air jika tertutup vegetasi
4. Sngt gembur tapi mudah diolah
5. Permeabilitas sangat tinggi
6. Kapasitas lapang > 15%
 Mekanisme pembentukan alofan : (Egawa, 1965)
karena saling presipitasi isoelektrik gel silika dan
aluminia.
 terjadi jika selama pelapukan gelas terbentuk
Hidroksida aluminium yang amorf bermuatan
positif dan membentuk campuran gel dengan
koloid silika yang elektro negatif.
 andosol ber-BO banyak karena dekomposisi BO
terhambat oleh hidroksida Al yang amorf (Kosaka
et.al. 1962).
5. Oxisols
 Nama Lain:
a. Ferralsol (Ferri = Fe3+ teroksidasi berwarna merah
menurut FAO/ UNESCO ;
b. Lateritik;
c. Latosol;
d. Kaolisol (lempungnya kaolinit).
 Bahan induk:
a. batuan plutonik ultra basik,
b. abu/ bahan volkanik,
c. breksi,
d. andesit,
e. basaltik,
f. batuan beku: asam, intermedier dan atau/ basik
(alkalin)
 Iklim:
a. curah hujan tinggi
b. suhu tinggi sepanjang tahun (tropika humida).
Fisiografi:
a. dataran,
b. perbukitan
c. pegunungan.
Warna:
a. Merah,
b. Merah-kekuningan,
c. Coklat-kemerahan,
d. coklat kelam,
e. Merah-ungu
f. Coklat-ungu.
Perbedaan tsb karena:
a. bahan induk,
b. kandungan humus
c. tingkat oksidasi (aerasi/ drainase)
Sifat Fisik Oxisols
1. Solum dalam (beberapa m).
2. Warna cenderung ke merah.
3. Tekstur ke arah lempung (clay)
4. Struktur gumpal, dan kemantapan agregat tinggi,
tahan thd erosi.
5. Drainase/perimbihan baik (relatively well drained)
dan aerasi bagus (relatively well aerated) = good
aeration.
Sifat Kimia Oxisols
1. pH rendah (< 5), kejenuhan basa rendah < 35 %. Miskin
Ca, Mg dan K
2. KPK rendah (< 16 me/ 100 g tanah); KPK efektif sangat
rendah (≤ 1,5 cmol/ kg lempung)
3. Al3+ dan Mn2+ tertukar sangat tinggi (karena kemasaman
tinggi), dapat meracun tanaman.
4. Unsur P banyak tidak tersedia karena terikat oleh Al dan
Fe yang banyak terlarut.
5. Ketersediaan unsur hara mikro Mo rendah, karena tanah
asam.
6. Sering responsif terhadap pemupukan dengan: fosfat
alam (mineral apatit), bahan kapur dan atau dolomit, S
dan Zn.
Profil Oxisols (Ferralsol)
Profil Oxisol (Ferralsol)
6. Ultisols (Red-Yellow Podsolic)
Podsolik-Merah-Kuning (PMK) = Yellow-Red- Earth,
Lateritic soils, Yellow Earth, tanah kuarsa.
Syarat Pembentukan:
1. Bahan induk: Batuan beku andesit, tuff, batu lapis
(shales), batu pasir (sanstone), batuan lempung
(claystone)
2. Iklim: Tropika basah, curah hujan 2.500 – 3.500 mm/th;
bulan kering pendek.
3. Tidak ada aktifitas volkanik
4. Fisiografi berbukit, elevasi 50 - > 350 m.
Sifat-sifat Ultisols
1. Pelapukan intensif (suhu tinggi, curah hujan tinggi, lama,
jauh dari aktivitas volkanik), tidak ada mineral dapat
lapuk yang ada kuarsa (Quartz, SiO2).
2. Mineral lempung: kaolinit (Al2Si2O5(OH)4, gibsit
(Al(OH)3), Gutit (FeO(OH) warna kuning, hematit (Fe2O3)
warna merah.
3. pH sangat rendah-rendah, berkisar: 3,5 – 5,0.
4. Kejenuhan basa rendah (< 35 %).
5. KPK lempung rendah (< 16 me/ 100 g).
6. Mempunyai horison argilik (iluviasi lempungnya > 20 %
daripada eluviasi).
7. Sering terbentuk plintit (lempung lapuk yang kaya
sesquioksida (Fe2O3 + Al2O3) tidak bersambungan).
8. Tekstur lempung (clay) – geluh berlempung (clay
loam).
9. Konsistensi lekat dan liat dan keras
10. Struktur gumpal (blocky)
11. Pemiabilitas lambat
12. Peka terhadap erosi
13. Warna: kuning, kemerahan, merah-kuning, pucat ke
arah kelabu.
Luas dan Penyebarannya
Luas: 34 – 40 juta ha.
Tersebar di Pulau: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Papua, Papua Barat.
Di Jawa terdapat pula tanah PMK pada daerah terutama
di Jawa Barat, tetapi tidak dapat diklasifikasikan ke
dalam Ultisol karena adanya tambahan material dari
letusan gunung berapi (mineral-mineral dapat lapuk)
Profil Ultisols dari Jambi
Plintit pada horison B-C
Plintit pada ±
70 cm ke bawah
7. Tanah Podzol (Spodosol)
1. Podzol berasal dari kata zola (Rusia, abu); ashy grey
colored soils; acidic reacting top soils.
2. Spodosol karena mempunyai horison spodik (abu
kayu).
3. Bahan induk dari batu lempung (sanstone/shale –
batu pasir (sandstone) kwarsa/quartz = SiO2

Keberadaan Spodosols
1. Di negara-negara temperate, tanah terbentuk di
daerah bersuhu rendah (dingin; 3,6 – 10 oC; curah
hujan 500 – 1.100). Di Indonesia (tropis) terdapat
di daerah tinggi (> 2.000 m dpl.), G. Arfak Papua
(2.400 m dpl; curah hujan bulanan > 100 mm;
curah hujan 2.500 mm/th).
2. Di Indonesia juga terdapat di dataran rendah
(Sumatera, Ba-Bel, Kalimantan, Papua)
Terjadinya Podzolisasi
1. Tanah pasir kwarsa yang sangat permiabel,
2. Miskin logam-logam alkali (Ca, Mg, K, Na)
3. Curah hujan yang tinggi dan merata
4. Vegetasi yang memungkinkan terbentuknya humus
asam (bahan organiknya kadar alkali/basa rendah)

5. Terbentuk pada air tanah yang dangkal


6. Sering menyebabkan terbentuknya hardpan
yang kedap air tanah semakin dangkal
Podzol/Spodozol
di Ketapang KalBar dan Lalan, OKI, Sumatera
Sifat Tanah Podzol
1. Warna pucat – putih dari pasir/debu kuarsa (quartz
= SiO2), sangat miskin hara tersedia.
2. Tidak ada mineral yang dapat lapuk (no wetherable
minerals), tidak ada cadangan unsur hara lagi
3. Mempunyai harkat yang rendah untuk pertanian
dalam arti luas (konservasi)
Spodosols
Spodosol
8. Histosols
(Organosol, peat soil, Organic Soils)
Syarat:
1. Mempunyai horison/ lapisan organik ≥ 40 cm
2. Mempunyai horison histik (horison yang
mempunyai bahan organik > 20 %)
(%BO = % C-organik x 1,724)
Terjadinya tanah gambut (peat soil)
Di daerah tropis:
1. Adanya genangan (kondisi anaerob, defisiensi O2),
2. Dekomposer (jumlah dan aktifitasnya sangat
rendah),
3. Dekomposisinya sangat lambat,
4. Akumulasi seresah > drpd dekomposisi
5. Akumulasi BO, tanah gambut.
Gambut berdasarkan faktor Pembentukan
1. Gambut Ombrogen (dataran rendah, depresi,
cekungan, terisi oleh air).
2. Gambut Topogen (dataran agak tinggi - tinggi,
suhu rendah/ dingin, ada air).
3. Gambut Pegunungan (dataran tinggi, suhu
dingin, seperti temperate (4 musim, dekomposisi
aktif hanya 3 bulan)
4. Peat moss (lumut), negara-negara Scandinavia.
Sifat Kimiawi Gambut
1. Tingkat kemasaman tinggi (pH 3 – 5), humifikasi >
mineralisasi humus (asam humat/ humic acid,
asam fulvat/ fulvic acid)
2. BO > 80 % (C-organik > 58 %)
3. N ± 2 % (N dalam ligno-protein)
4. Miskin oksigen (O2)
5. Miskin Ca, Mg, K &
6. Mo tersedia rendah
Sifat Fisik Gambut
1. Kemampuan menyimpan air sangat tinggi (dapat >
200 – 300 %), tingkat dekomposisi
2. Kalau kering susah dibasahi lagi (hydroproof), kalau
terbakar sulit dipadamkan.
3. Sebagai penyimpan karbon (carbon stock, carbon
sink).
Profil Tanah Gambut
Tingkat Dekomposisi Histosols
1. Fibrist (mentah, tingkat dekomposisinya
sangat/ paling rendah, banyak mengandung
serabut/ serat, warna kuning – terang/ pucat; BJ
< 0,1 g/ cm3.
2. Hemist (1/2 matang, partly decomposed),
tingkat dekomposisi sedang/ peralihan,
serabutnya sedikit, warna coklat muda, BJ 0,07 –
0,18 g/ cm3.
3. Saprist (matang, highly decomposed, warna
coklat tua – kelam/ hitam, BJ ≥ 0,2 g/ cm3.
Hubungan antara faktor pembentuk
(YANG DISEDERHANAKAN)

tanah dan jenis tanah di Indonesia


waktu
Bahan Bahan
induk Andosol Alfisol induk

Volkanik Topografi tinggi


Topografi miring / Vertisol
Suhu rendah aerasi baik Bahan
Regosol organik

Topografi rendah Curah hujan Histosol


Suhu tinggi rendah

Oxisol
Curah hujan
tinggi Ultisol
Organisme ???
Kuarsa Spodosol
Laboratory of Plant Physiology and Forest Soil
Department of Silviculture
Sifat Mineralogi, Fisik dan Kimia
Andosol
Bahan - Mineral alofan
induk - BO tinggi Alfisol
- KPK sangat tinggi
- Mineral primer - Mineral Kaolinit,
montmorilonit Vertisol
- Fe teroksidasi
- KPK tinggi - Mineral montmorilonit,
kaolinit
Regosol - Fe tereduksi
- KPK lebih tinggi
- Mineral primer
- Pasir
- KPK tgt lempung
& BO
- Mineral kaolinit,
Oxisol hematit
- KPK sangat rendah
Bahan
induk - Mineral kaolinit,
Ultisol hematit, gutit
- KPK sangat rendah

Histosol
Spodosol - Kuarsa
- KPK tgt BO
Laboratory of Plant Physiology and Forest Soil
Department of Silviculture
Meliputi sebagian besar lahan di Indonesia :
 dari pantai – pegunungan
 iklim kering – basah
 dari batuan beku, sedimen/malihan

Klasifikasi berdasarkan modifikasi dari :


 USDA Soil toxonomy 1975
 FAO/UNESCO World Soil map legend ’74
 Dudal/Moorman Clasf 1964
a. Latosol, dibagi menjadi :
 Latosol (konsep baru)
 Brunizem
 Trobosol
 Lateritik

Setara dengan :
 Mitosol
 Acid Brown Forest Soil / Inceptisol
 Red Yellow Latosol
 Oxisol
b. Podzolik Merah Kuning, dibagi menjadi :
 Podzolik (konsep baru)
 Arenosol
 Trobosol

Setara dengan :
 Acrisol
 Arenosol
 Red Yellow Latosol
c. Lateritik, menjadi Oxisol saja

d. Mediteran merah kuning menjadi mediteran


LATOSOL
Latosol : tanah-tanah yang telah alami pelapukan
intensif dan perkembangan tanah lanjut, sehingga
terjadi pencucian basa, b.o dan Si, dengan tinggalkan
sesquioksida warna merah
Diusulkan I oleh KELLOGG (1949)
Untuk semua tanah zonal di tropika dan katulistiwa
dengan sifat-sifat :
 Nilai (SiO2/seskuioksida ) fraksi lempung rendah
 KPK rendah
 Lempung kurang aktif (Kaolinit 1:1)
 [Mineral primer] rendah
 [Bahan terlarut] rendah
 Stabilitas agregat tinggi (kompak)
 Warna merah (besi)
Ciri umum morfologi :
 Tekstur lempung – geluh
 Struktur remah – gumpal lemah
 Konsistensi gambar

Warna merah, tergantung :


 Minerologi b . I
 Drainase
 Umur
 Iklim
Latosol dalam :
 Terbentuk dalam iklim humid – tropika tanpa bulan
kering sampai sub humik yang bermusim kemarau
agak lama
 Bervegetasi hutan basah sampai safana
 Topografi dataran bergelompang = berbukit
 Bahan induk hampir semua batuan vulkanik baik tuff
maupun batuan beku.
 Terdapat dari tepi pantai sampai 900 di atas
permukaan laut
 Iklim basah tropika curah hujan 2500 – 7000
Pembagian latosol berdasarkan warnanya :
1. Latosol merah, (mis) tanah Basikaran Pekalongan
 pH netral
 Nilai SiO2 / R2O3 < 0,2
2. Latosol merah kekuningan (mis) tanah Cibinong
 Bahan induk asam seperti granit dan gneis
 Di daerah bergelombang sampai pegunungan
 Banyak ditanami untuk sawah dan ladang
3. Latosol coklat kemerahan (mis) tanah Bogor
 Bahan induk basa seperti basalt, diorit, andesit granik
dan gneiss yang hitam.
 Pelapukan dan pencucian lebih mudah
 Struktur gumpal berselaput lempung, berciri plintit
dan lapisan sesquioksid.
4. Latosol Coklat (mis) tanah Kencana Bogor
 Berasal dari berbagai batuan (Abu vulkan & Vulkanik
basa)
 Daerah berbukit
 Iklim humik sampai tropika
 Ch tinggi, vegetasi hutan basah
 Peralihan latosol coklat kemerahan dan andosol
banyak ditemukan pada gunung api yang masih muda.
5. Latosol coklat kekuningan (mis) Tanah Sukamahi
Bogor
6. Latosol merah – ungu (mis) tanah Pleihari Kal-Sel
 Tekstur lebih kasar karena konkresi Fe sebagai bahan
semua lempung pada horison B (merupakan pasir
hitam)
 Tektur lemah tak beragregat
 Konsistensi gambar
 Bila dehidrasi bersifat irreversible
 Daya permeabilitas besar sekali
Berdasar sifat humusnya latosol dibagi (Cline, 1994) :
1. Low humik latosol
 Warna coklat – merah
 Struktur gumpal – remah
 Tekstur lempung
 Konsistensi teguh
 PH 6-7
 Curah hujan < 100 cm (1000 mm)
 Dataran rendah (<670 m)
 Bulan kering nyata
 Vegetasi rumput pendek
2. Humic latosol :
 Warna merah – coklat
 Struktur granuler
 Bahan organik 10%
 pH < 5
 Ketinggian > 800 m
 Vegetasi hutan lebat yang pendek
3. Peruginous Humic Latosol
 Terkumpul mineral resisten sehingga membentuk
kerak
 pH sangat masam – 6

4. Hydrol Humic Latosol


 Vegetasi hutan lebat
 Tempat tinggi
 Bahan induk basal, andesit atau abu fulkanik
5. Pembentukan kerak/lapisan keras pada latosol (laterit) :
Laterit terbentuk karena bertamahnya kadar besi akibat :
 Penambahan dari luar oleh aliran air
 Karena tercucinya bahan-bahan lain
 Penyusunan kembali
 Bertambah kerasnya laterit karena kristalisasi dan
dehidrasi.
 Usaha memecahkan laterit dan mencegah pengerasannya
dilaksanakan dengan vegetasi.
Tanah Mediteran Merah – Kuning

 Beriklim lautan tengah (mediteranian)


 Musim dingin banyak hujan
 Musim panas kering
 Terkenal dengan terarosa
 Hasil pelarutan batu kapur
 Bila tertutup vegetasi, humus bertindak sebagai koloid
pelindung yang memberi muatan negatif pada misal
besi sehingga Fe mobil.
 Terdapat akumulasi sesquioxid dan silika
 Kadar Fe tinggi : kadar BO rendah
 Biasanya lahan induk kaya kapur
 Mengandung konkresi kapur dan besi
 Tekstur lekat
 Konsistensi teguh
 Reaksi alkalis
 BS tinggi
 Berhorizon argilik
Tanah Lateritik
 Tanah podzolik merah kuning
 Lapisan permukaan sangat tercuci, warna kelabu cerah
sampai kekuningan
 Agregat kurang stabil
 Permeabilitas rendah
 BO rendah
 BS rendah
 pH 4,2 – 4,8
 Terbentuk seperti iklim pada latosol (hanya berbeda
bahan induknya)
 Latosol berasal dari batuan vulkanik basa dan
intermediate
 Podzolik berasal dari batuan beku
 Berlempung kaolinit yang sedikit tercampur gibsit dan
montmorilonit
 Tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jateng dan Jatim
 Tanahnya miskin
 Rehabilitasi hutan sangat lambat
Histosols
(Organosol, peat soil, Organic Soils)
 Syarat:
1. Mempunyai horison/ lapisan organik
 ≥ 40 cm
 2. Mempunyai horison histik (histic horizon),
 horison yang mempunyai bahan organik
 > 20 % (% C-organik x 1,724)
Terjadinya tanah gambut (peat soil)
Di daerah tropis:
1. Adanya genangan (kondisi anaerob, defisiensi O2),
2. Dekomposer (jumlah dan aktifitasnya sangat
rendah),
3. Dekomposisinya sangat lambat,
4. Akumulasi seresah > drpd dekomposisi
5. Akumulasi BO, tanah gambut.
Gambut berdasarkan faktor Pembentukan
1. Gambut Ombrogen (dataran rendah, depresi,
cekungan, terisi oleh air).
2. Gambut Topogen (dataran agak tinggi - tinggi,
suhu rendah/ dingin, ada air).
3. Gambut Pegunungan (dataran tinggi, suhu
dingin, seperti temperate (4 musim, dekomposisi
aktif hanya 3 bulan)
4. Peat moss (lumut), negara-negara Scandinavia.
Sifat Kimiawi Gambut
1. Tingkat kemasaman tinggi (pH 3 – 5), humifikasi >
mineralisasi humus (asam humat/ humic acid,
asam fulvat/ fulvic acid)
2. BO > 80 % (C-organik > 58 %)
3. N ± 2 % (N dalam ligno-protein)
4. Miskin oksigen (O2)
5. Miskin Ca, Mg, K &
6. Mo tersedia rendah
Sifat Fisik Gambut
1. Kemampuan menyimpan air sangat tinggi (dapat >
200 – 300 %), tingkat dekomposisi
2. Kalau kering susah dibasahi lagi (hydroproof), kalau
terbakar sulit dipadamkan.
3. Sebagai penyimpan karbon (carbon stock, carbon
sink).
Tingkat Dekomposisi Histosols
1. Fibrist (mentah, tingkat dekomposisinya
sangat/ paling rendah, banyak mengandung
serabut/ serat, warna kuning – terang/ pucat; BJ
< 0,1 g/ cm3.
2. Hemist (1/2 matang, partly decomposed),
tingkat dekomposisi sedang/ peralihan,
serabutnya sedikit, warna coklat muda, BJ 0,07 –
0,18 g/ cm3.
3. Saprist (matang, highly decomposed, warna
coklat tua – kelam/ hitam, BJ ≥ 0,2 g/ cm3.
Profil Tanah Gambut
Cara Mengetahui Tingkat Dekomposisi
Gambut
1. Cara Van Post (sistem perasan)
a. Fibrist (air perasan warna jernih, sisa perasan
masih tersisa banyak serat yang tertinggal di
tangan)
b. Hemist (air perasan agak kecoklatan, sisa perasan
masih tersisa agak banyak serat yang tertinggal
di tangan)
c. Saprist (air perasan berwarna coklat tua – coklat
kehitaman, sudah hampir tidak ada serat yang
tertinggal di tangan/ sedikit)
Cara Mengetahui Tingkat Dekomposisi
Gambut
2. Nisbah C – N (C/ N ratio)
a. Fibrist, C/N > 30
b. Hemist, C/ N = 30 – 15
c. Saprist, C/ N < 15
3. Analisis dengan Na-pirofosfat, gambut diekstrak
dengan Na-pirofosfat warna yang muncul
dibandingkan dengan baku
4. Asam humat (humic acid) dan asam fulfat (Fulvic
acid).
Penggunaan Gambut
1. Konservasi (plasma nutfah, stok karbon)
2. Kehutanan (Acacia crasicarpa, rengas, jelutung,
meranti rawa, pulai rawa)
3. Perikanan
4. Energi (bahan bakar, briket)
5. Perkebunan (kelapa sawit)
6. Pertanian pangan (padi, jagung, sayur-sayuran,
hortikultura (buah-buahan)
Klasifikasi Histosols
1. Folists, Histosol yang jenuh air selama < 30 hari/
tahun.
a. Cryofolists (mempunyai rezim suhu cryic)
b. Torrifolists (rezim kelembaban tanah aridik atau
Torric),
c. Ustifolist (rezim kelembaban ustik atau xerik)
d. Udifolists (Folists yang lain)

2. Fibrists
a. Cryofibrists, b. Spagnofibrists, c. Haplofibrists
Klasifikasi Histosols
3. Hemists, dikelompokkan menjadi 5 great soil groups:
a.Sulfohemists (ada horison sulfurik sedalam 50 cm),
b. Sulfihemists (bahan sulfidik 100 c dari permukaan),
c. Luvihemists (hemiluvik), d. Cryohemists, e.
Haplohemists.
4. Saprists, a.Sulfosaprists, b. Sulfisarists, c.
Cryosaprists dan d. Haplosaprists
Organosol adalah :
 Tanah organik yang lebih dari separuh lapisan atas
dalam 80 cm adalah tanah organik.
 Tanah organik yang lebih tipis tetapi langsung terletak
di atas batuan atau bahan batuan yang retakan-
retakannya terisi BO.
Gambut :
 Mengandung BO yang sangat banyak sehingga tak
alami perkembangan profil dan horisonisasi.
 Akumulasi sisa-sisa vegetasi yang telah alami
humifikasi tetapi belum alami mineralisasi.
 Humifikasi lebih besar daripada mineralisasi.
 Hasil mineralisasi gambut berwarna hitam karena
proses pembusukan dan penguraian sehingga
membentuk humus.
Proses :
 Pelarutan bahan yang larut
 Penguraian selulosa dengan lambat
 Akumulasi bagian tanpa yang resisten : lignin, malam
(was) akumulasi hars, suberine, cutine sehingga [C]
relatif tinggi.
 Pembentukan protein dan jasad renik yang memecah
selulosa dan hemiselulosa dan hidup atas bantuan
hasil pengurangan  bakteri bertambah banyak.
5. Berdasar susunan bahan analisis :
a. Sedimentary peat (campuran tanaman air seperti : lily,
plankton, dan lain-lain)
b. Fibrous peat (campuran berbagai macam lumut,
spagnum, rumput)
c. Woody peat (campuran pohon-pohon hutan dan
tanaman bawah)

6. Berdasar pembentukan (Polak, 1941)


a. Gambut ombrogen : terpengaruh CH yang airnya
tergenang
b. Gambut topogen : terpengaruh topografi
c. Gambut pegunungan : di daerah tinggi
Susunan Kimia Gambut Ombrogen
dan Gambut Hutan Payau (%)
 Kerugian pembukaan lahan gambut dengan pembakaran
hutan dan gambut :
  (dimaksudkan untuk : membebaskan garam terlarut
dan mempertinggi pH)
a. Reaksi gambut yang kaya kapur menjadi alkalis
b. Hilangnya gambut sebabkan tanah bawah tersembul
c. Lapisan b.o. yang subur di permukaan tanah hilang
terbakar
d. Permukaan gambut menjadi rendah
e. Di musim kemarau sangat membahayakan lingkungan
sekitar
f. Garam-garam yang basah, akibat pembakaran, akan
dilarutkan dan dihanyutkan air hujan.
g. Pada musim kemarau, kepekatan garam air tanah sangat
tinggi sehingga merusakkan tumbuhnya tanaman (Polak,
1948)
Sifat umum gambut :
 b.o. terlalu banyak
 belum alami horisonisasi
 warna coklat kelam hitam sampai hitam
 kadar air tinggi
 bereaksi asam (pH 3-5)
 Sebagai bahan koloid kuat yang mampu ikat air
 Mengandung mineral sesuai dengan kategori termuda
 Kadar C  58%, [H]  5,5%, [O]  34,5% dan [N]  2%
 BJ dan BV rendah
Kriteria tanah gambut : (Dachnowski dalam Kongres
Ilmu Tanah II th 1930 di Leningred)
1. Luas endapan minimal 1 ha, sehingga dapat
digambarkan dalam peta skala 1 : 75.000 s/d 1 :
25.000
2. Tebalnya lebih dari 0,5 m
Klasifikasi tanah organik :
1. Menurut Dachnowskii (1935) membedakan :
 Tanah gambut : ber b.o.  65%
 Tanah bergambut (peaty soil) : kadar b.o : 35% - 65%
 Tanah humus : kadar b.o. = 12% - 35%

2. Berdasar susunan kimia


 Eutrop : lanjut
 Mesotrop : tengah
 Oligotrop : awal

3. Berdasar cuaca
 Supra – aquatic
 Infra – aquatic

Anda mungkin juga menyukai