Anda di halaman 1dari 6

1.

Pengobatan
Penderita stroke akan dapat diselamatkan dari kematian dan cacat
apabila dilakukan pengobatan yang cepat, tepat dan akurat pada
waktu terjadinya serangan, khususnya stroke yang bukan pendarahan.
Berdasarkan data dari hasil penelitian menunjukkan bahwa
penderita yang dalam waktu kurang dari 12 jam setelah serangan
stroke, penyembuhannya lebih baik dibandingkan dengan penderita
yang datang dalam waktu lebih dari 12 jam setelah serangan.
Beberapa rumah sakit telah berdiri unit stroke untuk memberikan
pelayanan khusus yang berkualitas bagi penderita stroke dengan
melibatkan multi displiner dari berbagai bidang kedokteran dan tenaga
kesehatan dan pemberian edukasi kepada pasien.
Pengobatan biasanya diberikan oksigen dan dipasang infuse untuk
memasukkan cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution
diberikan antikoagulan (misalnya heparin), tetapi obat ini tidak
diberikan jika telah terjadi completed stroke. Antikoagulan juga
biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan
tidak pernah diberikan kepada penderita dengan pendarahan otak
karena akan menambah resiko terjadinya pendarahan kedalam otak
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala
lainnya bisa di cegah atau dipulihkan jika obat tertentu yang berfungsi
menghancurkan bekuan darah (misalnya streptokinase atau
plasminogen jaringan) diberikan dalam waktu 3 jam setelah timbulnya
stroke. Pemeriksaan dilakukan sesegera mungkin untuk menentukan
bahwa penyebabnya adalah bekuan darah dan bukan pendarahan,
yang tidak bisa diatasi dengan penghancur bekuan darah. Pada
completed stroke beberapa jaringan otak telah mati, memperbaiki
aliran darah kedaerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan
fungsinya. Pembedahan biasanya tidak dilakukan, tetapi
pengangkatan sumbatan setelah stroke ringan atau transient ischemic
attack, bisa mengurangi resiko terjadinya stroke dimasa yang akan
datang.
Cara untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan didalam otak
pada penderita stroke akut, biasanya diberikan manitol atau
kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat mungkin
memerlukan respirator untuk mempertahankan pernapasan yang
sesuai. Perhatian khusus diberikan kepada fungsi kandung kemih,
saluran pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka dikulit
karena penekanan). Kelainan yang menyertai stroke (misalnya gagal
jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan darah tinggi dan
infeksi paru-paru) harus diobati. Pada serangan stroke, biasanya
terjadi perubahan suasana hati (terutam depresi) yang harus diatasi
dengan obat-obatan atau terapi psikis. (Karel Dourman, 2013).
Terdapat pula penanganan stroke (Lippincott Williams dan Wilkins,
2011), yaitu:
a. Diagnosis medis awal pada tipe stroke yang dipasangkan dengan
penanganan obat baru bisa sangat menurunkan peluang
kelumpuhan jangka panjang yang muncul setelah iskemia.
b. Pembedahan yang dilakukan untuk meningkatkan sirkulasi serebral
bagi penderita stroke trombotik atau embolik meliputi endartektomi
(pembuangan plak dari dinding arteri dalam) atau bypass
mikrovaskular (pembedahan untuk anastomosis pembuluh
ekstrakranial dengan pembuluh ektrakranial).
c. Medikasi yang berguna dalam menangani stroke meliputi:
o Alteplase (activase: activator plasminogen jaringan
rekombinan), yang efektif dalam penanganan darurat stroke
embolik (penderita stroke embolik atau trombotik dan bukan
merupakan kandidat penerima alteplase sebaiknya diberi
aspirin, warfarin, atau heparin)
o Penggunaan aspirin jangka panjang atau ticlopidine (ticlid),
yang digunakan sebagai agens anti-keping darah untuk
mencegah stroke rekuren.
o Antikoagulan (heparin dan wafarin) yang bisa dibutuhkan untuk
menangani Trasient Ischemic Attacj (TIA) yang lambat laun
menjadi parah dan tidak responsive terhadap obat anti-keping
darah.
o Antihepertensif, antiaritmik dan antidiabetik yang bisa digunakan
untuk menangani factor resiko yang berkaitan dengan stroke
rekuren.

2. Pencegahan
Upaya pencegahan berbasis pendekatan factor resiko stroke meliputi:
a. Pencegahan Primer
1. Gaya hidup: reduksi stress, makan rendah garam, lemak dan
kalori, eksersais, no smoking, dan vitamin
2. Lingkungan: kesadaran atas stres kerja, kemungkinan gangguan
pb
3. Biologi: perhatian factor resiko biologis (jenis kelamin, riwayat
keluarga) efek aspirin.
4. Pelayanan kesehatan: health education dan pemeriksaan tensi
b. Pencegahan sekunder
1. Gaya hidup: manajemen stress, makan rendah garam, lemak
dan kalori stop smoking, dan penyesuaian
2. Lingkungan: penggantian kerja jika diperlukan, family counseling
3. Biologi: pengobatan yang patuh dan cegah efek samping
4. Pelayanan kesehatan: pendidikan pasien dan evaluasi penyebab
sekunder
c. Pencegahan tersier
1. Gaya hidup: reduksi stress, exercise sedang, stop smoking
2. Lingkungan: jaga keamanan dan keselamatan (rumah lantai
pertama, pakai wheel-chair) dan family support
3. Biologi: kepauhan berobat, terapi fisik dan speech theraphy
4. Pelayanan kesehatan: Emergency medical technic, asuransi

3. Prognosis
Prognosis stroke dapat dilihat dari 6 aspek yakni: death,
disease, disability, discomfort, dissatisfaction, dan destitution. Keenam
aspek prognosis tersebut terjadi pada stroke fase awal atau pasca
stroke. Untuk mencegah agar aspek tersebut tidak menjadi lebih buruk
maka semua penderita stroke akut harus dimonitor dengan hati-hati
terhadap keadaan umum, fungsi otak, EKG, saturasi oksigen, tekanan
darah dan suhu tubuh secara terus-menerus selama 24 jam setelah
serangan stroke (Asmedi & Lamsudin, 1998).
Harsono (1996) mengatakan bahwa, prognosis dari stroke
dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
a. Tingkat kesadaran: sadar 16% meninggal, somnolen 39%
meninggal, stupor 71% meninggal, dan bila koma 100% meninggal
b. Usia: angka kematian meningkat tajam usia 70 tahun atau lebih
c. Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak (16%) yang meninggal
daripada perempuan (39%)
d. Tekanan darah: Tekanan darah tinggi prognosis jelek
e. Lain-lain: cepat dan tepatnya pertolongan
Dari berbagai penelitian, perbaikan fungsi neurologik dan fungsi
aktivitas hidup sehari-hari pasca stroke menurut waktu cukup
bervariasi. Suatu penelitian mendapatkan perbaikan fungsi paling
cepat pada minggu pertama dan menurun pada minggu ketiga sampai
6 bulan pasca stroke. Hasil akhir yang dipakai sebagai tolok ukur
diantaranya outcome fungsional, seperti kelemahan motorik,
disabilitas, quality of life, serta mortalitas.

4. System surveilans stroke di indonesia


a. Tujuan surveilans stroke adalah agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi
epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
b. Sumber data surveilans stroke
Data dan informasi yang dibutuhkan adalah yang berhubungan
dengan jumlah factor resiko, jumlah angka kesakitan (kasus
stroke), jumlah angka kematian akibat stroke. Beberapa sumber
data dan informasi yang dapat menjadi acuan antara lain: SP2TP
RS dan RR Puskesmas. (Kemenkes, 2013)
Surveilans meliputi:
1. Surveilans factor resiko stroke
2. Surveilans kasus stroke
3. Surveilans angka kematian akibat stroke
DAFTAR PUSTAKA

Masriadi, 2016. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: CV. Trans Info
Media.
Bustan, Najib M. 2015. Manajemen Pengendalian Penyakit Tidak Menular.
Jakarta: Rineka Cipta
Kemenkes RI., 2013. Pedoman Pengendalian Stroke, Jakarta.