Anda di halaman 1dari 64

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada metode penelitian telah dijelaskan tujuan dari penelitian ini yaitu

untuk menganalisis kemampuan literasi matematika, keyakinan matematika, dan

keterampilan sosial. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif. Data kuantitatif

diperoleh dari hasil tes kemampuan literasi matematika, angket keyakinan

matematika, dan angket keterampilan sosial siswa.

Data penelitian ini diperoleh dari 78 orang siswa kelas VIII yang tersebar

pada 2 (dua) SMP Negeri di wilayah pesisir Kabupaten Konawe. Setiap sekolah

sebagai sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas VIII yang diberikan tes

kemampuan literasi, angket keyakinan matematika siswa, dan angket

keterampilan sosial siswa. Data dari sampel penelitian dianalisis secara deskriptif

dan inferensial untuk menjawab permasalahan pada penelitian ini. Pada analisis

deskriptif dikemukakan tentang gambaran masing-masing variabel penelitian

yakni kemampuan literasi matematika, keyakinan matematika siswa, dan angket

keterampilan sosial siswa. Sedangkan pada analisis inferensial mengemukakan

hasil pengujian hipotesis untuk mengungkap pengaruh keyakinan matematika

siswa terhadap kemampuan literasi matematika siswa dan pengaruh keterampilan

sosial siswa terhadap kemampuan literasi matematika siswa.

54
4.1 Analisis Deskriptif

4.1.1 Analisis Literasi Matematika

Literasi matematika adalah salah satu tolak ukur untuk mengukur

kemampuan siswa dalam menganalisis, memberikan alasan, dan menyampaikan

ide secara efektif, merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasikan masalah-

masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi. Untuk mengukur tingkat

kemampuan literasi matematika siswa SMPN kelas VIII di wilayah pesisir

kabupaten Konawe, maka diberikan tes berupa soal-soal literasi matematika.

Adapun hasil tes literasi matematika siswa disajikan pada Lampiran 13.

Dari pengolahan data hasil tes literasi matematika siswa kelas VIII di

wilayah kabupaten Konawe, maka skor literasi matematika mempunyai rentang

nilai antara 0 – 81,25. Dari data tersebut, diperoleh perhitungan-perhitungan

dengan bantuan Microsoft Office Excel sebagaimana disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Hasil Analisis Deskriptif Tes Literasi Matematika Siswa

Deskriptif Tes Literasi Matematika


Rata-rata 40.95
Simpangan Baku 19.57
Nilai Terendah 0
Nilai Tertinggi 81.25
Total Nilai 3193.75
Total Sampel 78
Berdasarkan perhitungan data hasil tes literasi matematika, diperoleh nilai

terendah 0 dan nilai tertinggi 81,25; nilai rata-rata 40,95; standar deviasi 19,57.

Berdasarkan Tabel 1.2, rata-rata dari tes literasi matematika menunjukkan bahwa

siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe memiliki

penguasaan literasi matematika yang rendah. Jumlah siswa yang memiliki hasil

55
tes literasi matematika yang rendah berjumlah 55 orang atau 70.51%. Data

kategori hasil tes literasi matematika siswa kelas VIII SMP di wilayah pesisir

kabupaten Konawe disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Kategori Hasil Penilaian Tes Literasi Matematika

No Kategori Literasi Jumlah Persentase (%)


1 Tinggi 2 2.56
2 Sedang 13 16.67
3 Rendah 63 80.77
Jumlah 78 100

Berdasarkan hasil kategori tes literasi matematika siswa kelas VIII SMPN

di wilayah pesisir kabupaten Konawe, maka diperoleh data bahwa dari jumlah

responden 78 orang dan memiliki kemampuan literasi matematika yang rendah

sebanyak 63 orang atau 80,77%. Kemudian yang memiliki kemampuan literasi

matematika yang sedang berjumlah 13 orang atau 16,67%. Sedangkan yang

memiliki kemampuan literasi matematika yang tinggi berjumlah 2 orang atau

2,56%. Dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VIII SMPN

di wilayah pesisir kabupaten Konawe memiliki kemampuan literasi yang rendah.

4.1.1.1 Analisis Kemampuan Literasi Untuk Setiap Konten

Sesuai desain tes internasional PISA, butir soal literasi matematika dibagi

menjadi empat aspek berdasarkan konten yaitu change and relationship (C1),

space and shape (C2), quantity (C3), dan uncertainty and data (C4). Pada

penelitian ini, tes kemampuan literasi matematika siswa terdiri dari 16 butir soal

56
berbentuk pilihan ganda dimana untuk setiap butir soal mengandung semua unsur

konten yaitu change and relationship, space and shape, quantity, dan uncertainty

and data.

Pada konten change and relationship, terdapat 12 butir soal yang

mengandung konten tersebut. Berikut ini disajikan hasil analisis kemampuan

literasi matematika siswa berdasarkan setiap konten change and relationship.

Analisis deskriptif data literasi matematika siswa SMPN berdasarkan konten

change and relationship disajikan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Konten change and relationship

Analsis Deskriptif Konten Change and


Relationship

Mean 35.79059829
Standard Deviation 20.59315995
Minimum 0
Maximum 75
Sum 2791.666667
Count 78

Berdasarkan tabel 4.3. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konten change and relationship diperoleh nilai

rata-rata 35,79, standar deviasi 20,59, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 75.

Pada konten space and shape terdapat 4 butir soal yang mengandung

konten tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika

siswa berdasarkan setiap konten space and shape. Analisis deskriptif data literasi

matematika siswa SMPN berdasarkan konten space and shape disajikan pada

Tabel 4.4.

57
Tabel 4.4. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Konten Space and Shape

Analsis Deskriptif Konten Space and Shape

Mean 33.65384615
Standard Deviation 25.4271697
Minimum 0
Maximum 100
Sum 2625
Count 78

Berdasarkan tabel 4.4. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konten space and shape diperoleh nilai rata-

rata 33,65, standar deviasi 25,43, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 100.

Pada konten quantity terdapat 13 butir soal yang mengandung konten

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan setiap konten quantity. Analisis deskriptif data literasi matematika

siswa SMPN berdasarkan konten quantity disajikan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Konten Quantity

Analsis Deskriptif Konten Quantity

Mean 37.17948718
Standard Deviation 19.85177792

58
Minimum 0
Maximum 84.61538462
Sum 2900
Count 78

Berdasarkan tabel 4.5. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konten quantity diperoleh nilai rata-rata 37,18,

standar deviasi 19,85, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 84,62.

Pada konten uncertainty and data terdapat 5 butir soal yang mengandung

konten tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika

siswa berdasarkan setiap konten uncertainty and data. Analisis deskriptif data

literasi matematika siswa SMPN berdasarkan konten uncertainty and data

disajikan pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Konten Uncertainty and Data

Analsis Deskriptif Konten Uncertainty and Data

Mean 24.35897436
Standard Deviation 21.53762902
Minimum 0
Maximum 80
Sum 1900
Count 78
Berdasarkan tabel 4.6. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konten uncertainty and data diperoleh nilai

rata-rata 24,36, standar deviasi 21,54, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 80.

59
Berikut menyajikan diagram batang rata-rata nilai literasi matematika

siswa SMP kelas VIII di wilayah pesisir kabupaten Konawe untuk setiap konten

literasi.

Rata-rata Nilai Siswa Tiap Konten

40 35.79 37.18
35 33.65
30
24.36 Rata-rata Nilai Siswa Tiap
25 Konten
20
15
10
5
0
C1 C2 C3 C4

Gambar 4.1. Perbandingan Rata-rata Nilai Literasi Matematika Siswa


Ditinjau Dari Setiap Konten Literasi
Berdasarkan konten yang diujikan, komponen terbaik yang diraih siswa

adalah quantity dengan rata-rata nilai 37,18. Pada perubahan dan hubungan

memperoleh nilai rata-rata 35,79. Pada ruang dan bentuk memperoleh nilai rata-

rata tiap konten adalah 33,65. Sedangkan pada uncertainty and data diperoleh

rata-rata skor 24,36. Bilangan merupakan konten yang paling banyak diselesaikan

oleh siswa. Konten bilangan berkaitan dengan hubungan bilangan dan pola

bilangan. Konten uncertainty and data dan data merupakan konten dengan skor

rata-rata paling rendah dibandingkan dengan konten yang lain. Konten

matematika ini berkaitan dengan pelajaran geometri.

4.1.1.2 Analisis Kemampuan Literasi Untuk Setiap Proses

60
Dalam kerangka PISA disebutkan bahwa terdapat 7 kategori penilaian

proses matematika. Kategori ini meliputi kategori communication, mathematising,

representation, reasoning and argument, divising strategies for solving, using

symbolic, formal and technical language and operation, dan using mathematics

tools.

Pada proses communication terdapat 8 butir soal yang mengandung proses

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan proses communication. Analisis deskriptif data literasi matematika

siswa SMPN berdasarkan proses communication disajikan pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Proses Communication

Analsis Deskriptif Proses Communication

Mean 34.77564103
Standard Deviation 23.02661467
Minimum 0
Maximum 87.5
Sum 2712.5
Count 78

Berdasarkan tabel 4.7. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses communication diperoleh nilai rata-rata

34,78, standar deviasi 23,03, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 87,5.

Pada proses mathematising terdapat 16 butir soal yang mengandung proses

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

61
berdasarkan proses mathematising. Analisis deskriptif data literasi matematika

siswa SMPN berdasarkan proses mathematising disajikan pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Proses Mathematising

Analsis Deskriptif Proses Mathematising

Mean 40.94551282
Standard Deviation 19.5746012
Minimum 0
Maximum 81.25
Sum 3193.75
Count 78

Berdasarkan tabel 4.8. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses mathematising diperoleh nilai rata-rata

40,95, standar deviasi 19,57, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 81,25.

Pada proses representation terdapat 11 butir soal yang mengandung proses

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan proses representation. Analisis deskriptif data literasi matematika

siswa SMPN berdasarkan proses representation disajikan pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN Berdasarkan

Proses Representation

Analsis Deskriptif Proses Representation

Mean 38.5777972
Standard Deviation 18.71689104
Minimum 0

62
Maximum 72.73
Sum 3009.068182
Count 78

Berdasarkan tabel 4.9. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses representation diperoleh nilai rata-rata

38,58, standar deviasi 18,72, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 72,73.

Pada proses reasoning and argument terdapat 5 butir soal yang

mengandung proses tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi

matematika siswa berdasarkan proses reasoning and argument Analisis deskriptif

data literasi matematika siswa SMPN berdasarkan proses reasoning and

argument disajikan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Proses Reasoning and argument

Analsis Deskriptif Proses Reasoning and


Argument

Mean 35.64102564
Standard Deviation 28.76640102
Minimum 0
Maximum 100
Sum 2780
Count 78

Berdasarkan tabel 4.10. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses reasoning and argument diperoleh nilai

rata-rata 35,64, standar deviasi 28,77, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 100.

63
Pada proses divising strategies for solving problem terdapat 8 butir soal

yang mengandung proses tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan

literasi matematika siswa berdasarkan proses divising strategies for solving

problem. Analisis deskriptif data literasi matematika siswa SMPN berdasarkan

proses divising strategies for solving problem disajikan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Proses Divising Strategies for Solving Problem

Analsis Deskriptif Proses divising strategies for solving


problem

Mean 33.81410256
Standard Deviation 18.80230522
Minimum 0
Maximum 62.5
Sum 2637.5
Count 78

Berdasarkan tabel 4.11. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses divising strategies for solving problem

diperoleh nilai rata-rata 33,81, standar deviasi 18,8, nilai minimum 0, dan nilai

maksimum 62,5.

Pada proses using symbolic, formal and technical language and operation

terdapat 12 butir soal yang mengandung proses tersebut. Berikut disajikan hasil

analisis kemampuan literasi matematika siswa berdasarkan proses using symbolic,

formal and technical language and operation. Analisis deskriptif data literasi

matematika siswa SMPN berdasarkan proses using symbolic, formal and

technical language and operation disajikan pada Tabel 4.12.

64
Tabel 4.12. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Proses Using Symbolic, Formal and Technical Language and

Operation

Analsis Deskriptif Proses using symbolic, formal and


technical language and operation

Mean 37.07239316
Standard Deviation 19.07177312
Minimum 0
Maximum 75
Sum 2891.646667
Count 78

Berdasarkan tabel 4.12. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses using symbolic, formal and technical

language and operation diperoleh nilai rata-rata 37,07, standar deviasi 19,07 nilai

minimum 0, dan nilai maksimum 75.

Pada proses using mathematics tools terdapat 7 butir soal yang

mengandung proses tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi

matematika siswa berdasarkan proses using mathematics tools. Analisis deskriptif

data literasi matematika siswa SMPN berdasarkan proses using mathematics tools

disajikan pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Proses Using Mathematics Tools

Analsis Deskriptif Proses Using Mathematics


Tools

Mean 17.94917582
Standard Deviation 17.92983839

65
Minimum 0
Maximum 71.43
Sum 1417.98489
Count 79

Berdasarkan tabel 4.13. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada proses using mathematics tools diperoleh nilai

rata-rata 17,95, standar deviasi 17,93 nilai minimum 0, dan nilai maksimum

71,43.

Berikut menyajikan diagram batang rata-rata nilai literasi matematika

siswa SMP kelas VIII di wilayah pesisir kabupaten Konawe untuk setiap

komponen proses literasi.

Nilai rata-rata skor siswa terhadap proses


45.00 40.95
38.58
40.00 34.78 35.64 33.81 37.07
35.00
30.00 Nilai rata-rata skor siswa
25.00 terhadap proses
20.00 17.95
15.00
10.00
5.00
0.00
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7

Gambar 4.2. Perbandingan Rata-rata Literasi Matematika Siswa Ditinjau


Dari Setiap Proses Literasi
Gambar 4.2. menginformasikan bahwa kemampuan literasi matematika

siswa pada soal kategori mathematising merupakan perolehan tertinggi. Hal itu

mengindikasikan bahwasannya siswa lebih menguasai soal PISA yang dalam

penyelesainnya didominasi oleh proses kemampuan untuk mengubah (transform)

66
permasalahan dari dunia nyata ke bentuk matematika atau justru sebaliknya yaitu

menafsirkan suatu hasil atau model matematika ke dalam permasalahan aslinya.

Pada soal kategori communication, representation, reasoning and argument,

divising strategies for solving, using symbolic, formal and technical language and

operation, dan using mathematics tools, siswa belum mampu merealisasikan

pengetahuannya secara optimal sehingga hasilnya tidak maksimal. Secara rata-

rata perolehan nilai pada soal kategori communication, representation, reasoning

and argument, divising strategies for solving, using symbolic, formal and

technical language and operation, dan using mathematics tools secara berturut-

turut 38,58; 37,07; 35,64; 34,78; 33,81; dan 17,95.

4.1.1.3 Analisis Kemampuan Literasi Untuk Setiap Konteks

Berdasarkan konteks, butir soal literasi matematika terdiri atas empat

domain yakni personal, occupational, societal dan scientific. Konteks personal

mencakup permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Konteks occupational terkait dengan dunia kerja atau profesi. Konteks societal

terkait dengan lingkungan masyarakat. Konteks scientific. berkaitan dengan dunia

akademis.

Pada konteks personal terdapat 8 butir soal yang mengandung konteks

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan konteks personal. Analisis deskriptif data literasi matematika siswa

SMPN berdasarkan konteks personal disajikan pada Tabel 4.14.

67
Tabel 4.14. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Konteks Personal

Analisis Deskriptif Konteks Personal

Mean 35.09615385
Standard Deviation 20.15138449
Minimum 0
Maximum 87.5
Sum 2737.5
Count 78

Berdasarkan tabel 4.14. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konteks personal diperoleh nilai rata-rata

35,10, standar deviasi 20,15, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 87,5.

Pada konteks occupational terdapat 13 butir soal yang mengandung

konteks tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika

siswa berdasarkan konteks occupational. Analisis deskriptif data literasi

matematika siswa SMPN berdasarkan konteks occupational disajikan pada Tabel

4.15.

Tabel 4.15. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Konteks Occupational

Analisis Deskriptif Occupational

Mean 45.9566075
Standard Deviation 20.74366129
Minimum 0
Maximum 84.61538462
Sum 3584.615385
Count 78

68
Berdasarkan tabel 4.15. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konteks occupational diperoleh nilai rata-rata

45,96, standar deviasi 20,74, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 84,62.

Pada konteks societal terdapat 16 butir soal yang mengandung konteks

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan konteks societal. Analisis deskriptif data literasi matematika siswa

SMPN berdasarkan konteks societal disajikan pada Tabel 4.16.

Tabel 4.16. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Konteks Societal

Analisis Deskriptif Konteks societal

Mean 40.94551282
Standard Deviation 19.5746012
Minimum 0
Maximum 81.25
Sum 3193.75
Count 78

Berdasarkan tabel 4.16. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konteks societal diperoleh nilai rata-rata

40,95, standar deviasi 19,57, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 81,25.

Pada konteks scientific terdapat 3 butir soal yang mengandung konteks

tersebut. Berikut disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan konteks scientific Analisis deskriptif data literasi matematika siswa

SMPN berdasarkan konteks scientific disajikan pada Tabel 4.17.

69
Tabel 4.17. Analisis Deskriptif Data Literasi Matematika SMPN

Berdasarkan Konteks Scientific

Analisis Deskriptif Konteks Scientific

Mean 10.25641026
Standard Deviation 18.84675981
Minimum 0
Maximum 66.66666667
Sum 800
Count 78

Berdasarkan tabel 4.17. dapat dilihat bahwa siswa SMPN Satu Atap 1

Soropia dan SMPN 1 Soropia pada konteks Scientific diperoleh nilai rata-rata

10,26, standar deviasi 18,85, nilai minimum 0, dan nilai maksimum 66,67.

Berikut menyajikan diagram batang rata-rata nilai literasi matematika

siswa SMP kelas VIII di wilayah pesisir kabupaten Konawe untuk setiap konteks

literasi.

Nilai rata-rata skor siswa untuk Komponen


konteks
50.00 45.96
45.00 40.95
40.00 35.10
35.00 Nilai rata-rata skor siswa
30.00 terhadap konteks
25.00
20.00
15.00 10.26
10.00
5.00
0.00
K1 K2 K3 K4

70
Gambar 4.3. Perbandingan Rata-rata Literasi Matematika Siswa Ditinjau

Dari Setiap Konteks Literasi

Gambar 4.3. menunjukkan bahwa siswa lebih memahami soal literasi yang

berkaitan dengan dunia kerja atau profesi. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai rata-

rata yang tinggi diperoleh siswa pada konteks pekerjaan dibandingkan ketiga

konteks lainnya. Konteks keilmuan merupakan konteks yang paling rumit

diselesaikan siswa dalam penelitian ini. Konteks keilmuan berkaitan dengan

kegiatan ilmiah yang lebih bersifat abstrak dan menuntut pemahaman dan

penguasaan teori dalam melakukan pemecahan masalah matematika. Konteks

pribadi berhubungan langsung dengan kegiatan pribadi siswa sehari-hari, baik

kegiatan diri sendiri, kegiatan dengan keluarga, maupun kegiatan dengan teman

sebayanya yang memerlukan pemecahan secepatnya. Konteks umum berkaitan

dengan penggunaan pengetahuan matematika dalam kehidupan bermasyarakat

baik lokal, nasional, maupun global dalam kehidupan sehari-hari. Adapun hasil

tes kemampuan literasi matematika siswa disajikan pada lampiran 13.

4.1.2 Analisis Keyakinan Matematika Siswa

Data keyakinan matematika dikumpulkan dan dianalisis untuk

mengetahui kategori keyakinan matematika siswa. Data keyakinan matematika

diperoleh melalui tes yang valid dan reliabel. Tes keyakinan matematika terdiri

dari 28 butir pernyataan yang terdiri dari 14 pernyataan positif dan 14 pernyataan

negatif. Adapun hasil tes angket keyakinan matematika disajikan pada lampiran

14. Deskripsi indikator keyakinan matematika siswa adalah sebagai berikut.

1. Keyakinan tentang matematika sebagai disiplin ilmu

71
Keyakinan tentang matematika sebagai disiplin ilmu dinilai dari 4 item

pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 1 dan 15, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 8 dan 22. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data

tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.18.

Tabel 4.18. Persentase Nilai Indikator Keyakinan Tentang Matematika


Sebagai Disiplin Ilmu

%/ Indikator
Item

Item 1 78.85

Item 8 76.28

Item 15 76.6

Item 22 74.36

Rata-rata 76.52
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.18, maka diperoleh data tanggapan responden

keyakinan tentang matematika sebagai disiplin ilmu. Jika dilihat dari Tabel

kategori skor responden, maka dari rata-rata semua item tentang keyakinan

tentang matematika sebagai disiplin ilmu termasuk kategori baik yaitu 76,52%.

2. Keyakinan tentang matematika sebagai suatu aktivitas sosial

72
Keyakinan tentang matematika sebagai suatu aktivitas sosial dinilai dari

4 item pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan

negatif. Pernyataan positif yaitu item 2 dan 16, sedangkan pernyataan negatif

yaitu item 9 dan 23. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh

data tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.19.

Tabel 4.19. Persentase Nilai Indikator Keyakinan Tentang Matematika


Sebagai Suatu Aktivitas Sosial

%/ Indikator
Item

Item 2 80.77

Item 9 79.17

Item 16 80.45

Item 23 82.05

Rata-rata 80.61
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.19, maka diperoleh data tanggapan responden

keyakinan tentang matematika sebagai suatu aktivitas sosial. Jika dilihat dari

Tabel kategori skor responden, maka dari rata-rata semua item keyakinan

73
tentang matematika sebagai suatu aktivitas sosial, menunjukkan kategori baik

yaitu 80,61%.

3. Keyakinan siswa terhadap kemampuan diri sendiri

Keyakinan siswa terhadap kemampuan diri sendiri dinilai dari 4 item

pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 3 dan 17, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 10 dan 24. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data

tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.20.

Tabel 4.20. Persentase Nilai Indikator Keyakinan Siswa Terhadap


Kemampuan Diri Sendiri

%/ Indikator
Item

Item 3 78.21

Item 10 78.53

Item 17 80.45

Item 24 82.08

Rata-rata 79.82
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

74
Berdasarkan Tabel 4.20, maka diperoleh data tanggapan responden

Keyakinan siswa terhadap kemampuan diri sendiri. Jika dilihat dari Tabel

kategori skor responden, maka dari rata-rata semua item keyakinan siswa

terhadap kemampuan diri sendiri menunjukkan kategori baik yaitu 79,82.

4. Keyakinan Tentang Pengajaran Matematika Secara Umum

Keyakinan tentang pengajaran matematika secara umum dinilai dari 4

item pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 4 dan 18, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 11 dan 25. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data

tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.21.

Tabel 4.21. Persentase Nilai Indikator Keyakinan Tentang Pengajaran


Matematika Secara Umum

%/ Indikator
Item

Item 4 75

Item 11 71.15

Item 18 69.87

75
Item 25 72.12

Rata-rata 72.04
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.21, maka diperoleh data tanggapan responden

keyakinan tentang pengajaran matematika secara umum . Jika dilihat dari

Tabel kategori skor responden, maka dari rata-rata semua keyakinan tentang

pengajaran matematika secara umum, menunjukkan kategori cukup yaitu

72,04%.

5. Keyakinan siswa terhadap proses pembelajaran matematika

Keyakinan siswa terhadap proses pembelajaran matematika dinilai dari 4

item pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 5 dan 19, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 12 dan 26. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data

tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.22.

Tabel 4.22. Persentase Nilai Indikator Keyakinan Siswa Terhadap Proses


Pembelajaran Matematika

%/ Indikator
Item

Item 5 69.23

76
Item 12 74.36

Item 19 74.68

Item 26 74.68

Rata-rata 73.24
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.22, maka diperoleh data tanggapan responden

tentang keyakinan siswa terhadap proses pembelajaran matematika. Jika dilihat

dari Tabel kategori skor responden, maka dari rata-rata item keyakinan siswa

terhadap proses pembelajaran matematika menunjukkan kategori cukup yaitu

73,24 %.

6. Keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika

Keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika dinilai dari 4 item

pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 6 dan 20, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 13 dan 27. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data

tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.23.

Tabel 4.23. Persentase Nilai Indikator Keyakinan siswa terhadap


karakteristik matematika

77
%/ Indikator
Item

Item 6 71.15

Item 13 70.51

Item 20 70.51

Item 27 75.32

Rata-rata 71.87
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.23, maka diperoleh data tanggapan responden

tentang keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika. Jika dilihat dari

Tabel kategori skor responden, maka dari rata-rata item sikap siswa tentang

keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika menunjukkan kategori

cukup yaitu 71,87.

7. Keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika

Keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika dinilai dari 4 item

pernyataan yang terdiri dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 7 dan 21, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 14 dan 28. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data

tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.24.

78
Tabel 4.24. Persentase Nilai Indikator Keyakinan Siswa Terhadap
Kegunaan Matematika

%/ Indikator
Item

Item 7 70.19

Item 14 73.72

Item 21 73.08

Item 28 72.76

Rata-rata 72.44
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.24, maka diperoleh data tanggapan responden

tentang keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika. Jika dilihat dari Tabel

kategori skor responden, maka dari rata-rata item keyakinan siswa terhadap

kegunaan matematika kategori cukup yaitu 72,44.

Berikut menyajikan histogram persentase rata-rata nilai keyakinan

matematika siswa SMP kelas VIII di wilayah pesisir kabupaten Konawe untuk

setiap indikator.

79
Persentase Rata-rata Tiap Indikator
82.00 80.61
79.82
80.00
78.00 76.52
76.00
Persentase Rata-rata Tiap
74.00 73.24 Indikator
72.04 71.87 72.44
72.00
70.00
68.00
66.00
I1 I2 I3 I4 I5 I6 I7

Gambar 4.4. Persentase Rata-rata Nilai Keyakinan Matematika

untuk Setiap Indikator

Berdasarkan gambar 4.4. Nampak bahwa indikator 2 (I2) yaitu keyakinan

matematika sebagai suatu aktivitas sosial adalah indikator tertinggi dengan rata-

rata nilai 80,61%, dan indikator yang paling rendah adalah indicator 6 (I6) yaitu

keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika dengan rata-rata nilai 71,87.

Dari pengolahan data hasil tes keyakinan matematika siswa kelas VIII di

wilayah pesisir kabupaten Konawe , maka skor keyakinan matematika siswa kelas

VIII di wilayah pesisir kabupaten Konawe mempunyai rentang nilai antara 52,68

- 93,75. Dari data tersebut, diperoleh perhitungan menggunakan SPSS disajikan

padaTabel 4.25.

Tabel 4.25. Hasil Analisis Deskriptif Keyakinan Matematika

Analisis Deskriptif gabung

Mean 75.21749

Standard Error 1.066196

Median 75

80
Mode 87.5

Standard Deviation 9.416389

Sample Variance 88.66837

Kurtosis -0.4959

Skewness -0.18538

Range 41.07143

Minimum 52.67857

Maximum 93.75

Sum 5866.964

Count 78

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian angket keyakinan

matematika siswa, maka diperoleh nilai terendah yaitu 52,68 dan nilai tertinggi

yaitu 93,75; nilai rata-rata yaitu 75,22; standar deviasi 9,42. Hal ini menunjukkan

bahwa kategori hasil angket keyakinan matematika siswa kelas VIII SMP di

wilayah pesisir kabupaten Konawe dalam kategori sedang karena jumlah siswa

yang memiliki hasil angket keyakinan matematika dalam kategori sedang

berjumlah 50 orang atau 64,10%. Untuk lebih jelasnya data hasil penilaian angket

keyakinan matematika siswa kelas VIII SMP di wilayah pesisir kabupaten

Konawe disajikan pada Tabel 4.26.

Tabel 4.26. Kategori Hasil Penilaian Angket Keyakinan Matematika

No Kategori KYM Jumlah Persentase (%)


1 Tinggi 22 28.21
2 Sedang 50 64.10
3 Rendah 6 7.69

81
Jumlah 78 100.00
Sumber: Data primer diolah Tahun 2020.

Berdasarkan hasil kategori angket keyakinan matematika siswa kelas VIII

SMP di wilayah pesisir kabupaten Konawe, maka diperoleh data bahwa dari

jumlah responden 78 orang dan memiliki keyakinan matematika yang sedang

sebanyak 50 orang atau 64,10%. Kemudian jumlah responden yang memiliki

keyakinan yang tinggi berjumlah 22 orang atau 28,21%. Kemudian yang memiliki

keyakinan matematika yang rendah berjumlah 6 orang atau 7,69%. Dari data

tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VIII SMPN di wilayah

pesisir kabupaten Konawe memiliki keyakinan matematika yang sedang.

4.1.3 Analisis Keyakinan Matematika Per Sekolah

Berikut ini analisis keyakinan matematika siswa pada setiap sekolah yang

dijadikan sampel penelitian yaitu SMPN Satap Satu Soropia dan SMPN 1

Soropia. Deskripsi data keyakinan matematika siswa berdasarkan setiap sekolah

disajikan pada Tabel 4.27.

Tabel 4.27. Deskripsi Data Keyakinan Matematika Siswa SMP di Wilayah


Pesisir Kabupaten Konawe.

Indikator SMPN Satap Satu Soropia SMPN 1 Soropia


1 72.09 79.30
2 78.34 82.03
3 78.54 80.6
4 72.08 72.01
5 71.25 74.48
6 72.08 71.74
7 72.5 72.40
∑ Rata-Rata 73.84 76.08
Sumber: data primer diolah Tahun 2020.

82
Berdasarkan Tabel 4.27, rata-rata skor keyakinan matematika yang

diperoleh dari aspek 1 secara berturut-turut nilainya sebesar 72,09 dan 79,30

termasuk dalam ketegori cukup untuk SMPN Satap satu Soropia dan dalam

kategori baik untuk SMPN 1 Soropia. Pada aspek 2 termasuk kategori baik

dengan nilai rata-rata secara berturut-turut 78,34 dan 82,03. Rata-rata yang

diperoleh dari aspek 3 secara berturut-turut 78,54 dan 80,6 sehingga termasuk

kategori baik. Sedangkan keyakinan matematika pada indikator 4, 5, 6 dan 7

dalam kategori cukup dengan rata-rata nilai keyakinan matematika yang diperoleh

dari indikator 4,5,6 dan 7 nilainya < 76.

Gambar 4.5. berikut menyajikan histogram perbandingan rata-rata nilai

keyakinan matematika siswa SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe.

Perbandingan Rata-Rata Nilai Keyakinan Matemati ka


Siswa SMPN di Wilayah Pesisir Kabupaten Konawe
84.00
82.03
82.00
Rata-rata nilai keyakinan matematika siswa

80.6
80.00 79.3

78.00

76.00
74.48
74.00
72.01 72.4
71.74
72.00

70.00

68.00

66.00

64.00
Aspek 1 Aspek 2 Aspek 3 Aspek 4 Aspek 5 Aspek 6 Aspek 7

Indikator Keyakinan Maematika Siswa

SMP Negeri satap Satu Soropia SMP Negeri 1 Soropia

83
Gambar 4.5 Perbandingan Rata-Rata Nilai Keyakinan Matematika Siswa
SMPN di Wilayah Pesisir Kabupaten Konawe
Berdasarkan gambar 4.5, menunjukkan bahwa nilai rata-rata keyakinan

matematika siswa untuk setiap SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe yang

diwakili SMPN Satap satu Soropia dan SMPN 1 Soropia dalam kategori cukup.

Tingkatan tertinggi sampai tingkatan terendah terkait keyakinan matematika

secara berturut-turut nilainya sebesar 82,03 dan 71,25.

4.1.4 Analisis Literasi untuk Setiap Kategori Keyakinan Matematika

4.1.4.1 Analisis Literasi Matematika dengan Keyakinan Matematika Tinggi

Berikut ini disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan setiap kategori keyakinan matematika. Siswa yang memiliki

keyakinan matematika yang tinggi berjumlah 22 orang. Deskripsi data literasi

matematika siswa berdasarkan kategori keyakinan matematika disajikan pada

Tabel 4.28.

Tabel 4.28. Hasil Analisis Deskriptif Literasi Matematika dengan KYM

Tinggi

Analisis Deskriptif KLM dengan


KYM Tinggi
Rata-rata 59.38
Simpangan Baku 12.31258309
Nilai Terendah 37.5
Nilai Tertinggi 81.25
Jumlah Nilai 1306.25
Jumlah Sampel 22

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian tes literasi matematika, maka

diperoleh nilai skor terendah yaitu 37,5 dan nilai tertinggi yaitu 81,25; nilai skor

rata-rata yaitu 59,38; standar deviasi 12,31. Hal ini menunjukkan bahwa kategori

84
hasil tes literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten

Konawe untuk keyakinan matematika yang tinggi dalam kategori sedang karena

jumlah siswa yang memiliki hasil tes literasi matematika dalam kategori sedang

berjumlah 13 orang atau 59,09%. Untuk lebih jelasnya data hasil penilaian tes

literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe

disajikan pada Tabel 4.29.

Tabel 4.29. Kategori Literasi Matematika Menurut KYM Tinggi

No Kategori Literasi Jumlah Persentase


(%)
1 Tinggi 2 9.09
2 Sedang 13 59.09
3 Rendah 7 31.82
Jumlah 22 100
Sumber: data primer diolah 2020.

Berdasarkan hasil kategori tes literasi matematika untuk kategori

keyakinan matematika yang tinggi, maka diperoleh data bahwa dari jumlah

responden 22 orang, siswa yang memiliki kemampuan literasi matematika yang

tinggi berjumlah 2 orang atau 9,09%. Kemudian jumlah responden yang memiliki

kemampuan literasi matematika sedang berjumlah 13 orang atau 59,09%

sedangkan yang memiliki kemampuan literasi matematika rendah berjumlah 7

orang atau 31,82%. Dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang

memiliki tingkat keyakinan matematika yang tinggi memiliki kemampuan literasi

matematika yang sedang.

4.1.4.2 Analisis Literasi Matematika Dengan Keyakinan Matematika Sedang

85
Berikut kemampuan literasi matematika siswa berdasarkan keyakinan

matematika siswa kategori sedang. Siswa yang memiliki keyakinan matematika

yang sedang berjumlah 50 orang. Deskripsi data literasi matematika siswa

berdasarkan kategori keyakinan matematika disajikan pada Tabel 4.30.

Tabel 4.30 Hasil Analisis Deskriptif Literasi Matematika dengan KYM


Sedang

Analisis Deskriptif KLM Terhadap


KYM Sedang
Rata-rata 36,13
Simpangan Baku 16,03617164
Nilai Terendah 0
Nilai Tertinggi 56,25
Jumlah Nilai 1806,25
Jumlah Sampel 50

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian tes literasi matematika, maka

diperoleh nilai terendah yaitu 0 dan nilai tertinggi yaitu 56,25; nilai rata-rata yaitu

36,13; standar deviasi 16,04. Hal ini menunjukkan bahwa kategori hasil tes

literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe

untuk keyakinan matematika sedang dalam kategori rendah karena jumlah siswa

yang memiliki hasil tes literasi matematika dalam kategori rendah berjumlah 50

orang atau 100%. Data hasil penilaian tes literasi matematika siswa kelas VIII

SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe disajikan pada Tabel 4.31.

86
Tabel 4.31. Kategori Literasi Matematika Menurut KYM Sedang

No Kategori Jumlah Persentase (%)


Literasi
1 Tinggi 0 0,00
2 Sedang 0 0,00
3 Rendah 50 100,00
Jumlah 50 100
Sumber: Data Primer diolah 2020.

Berdasarkan hasil kategori tes literasi matematika siswa kelas VIII SMP di

wilayah pesisir kabupaten Konawe, maka diperoleh data bahwa dari jumlah

responden 50 orang, yang memiliki kemampuan literasi matematika dalam

kategori rendah juga berjumlah 50 orang. Dari data tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa siswa yang memiliki tingkat keyakinan matematika yang

sedang memiliki kemampuan literasi matematika yang rendah.

4.1.4.3 Analisis Literasi Matematika Dengan Keyakinan Matematika Rendah

Berikut kemampuan literasi matematika siswa berdasarkan kategori

keyakinan matematika siswa yang rendah. Siswa yang memiliki keyakinan

matematika yang rendah berjumlah 6 orang. Deskripsi data literasi matematika

siswa berdasarkan kategori keyakinan matematika rendah disajikan pada Tabel

4.32.

Tabel 4.32. Hasil Analisis Deskriptif Literasi Matematika dengan KYM


Rendah

Analisis Deskriptif KLM Terhadap KYM


Rendah
Rata-rata 13,54166667

87
Simpangan Baku 10,7650089
Nilai Terendah 0
Nilai Tertinggi 25
Jumlah Nilai 81,25
Jumlah Sampel 6

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian tes literasi matematika, maka

diperoleh nilai terendah yaitu 0 dan nilai tertinggi yaitu 25; nilai rata-rata skor

yaitu 13,54; standar deviasi 10,77. Hal ini menunjukkan bahwa kategori hasil tes

literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe

untuk keyakinan matematika yang rendah dalam kategori rendah karena jumlah

siswa yang memiliki hasil tes literasi matematika dalam kategori sangat kurang

berjumlah 6 orang atau 100%. Data hasil penilaian tes literasi matematika siswa

kelas VIII SMP di wilayah pesisir kabupaten Konawe disajikan pada Tabel 4.33.

Tabel 4.33. Kategori Literasi Matematika Menurut KYM Rendah

No Kategori Jumlah Persentase (%)


Literasi
1 Tinggi 0 0,00
2 Sedang 0 0,00
3 Rendah 6 100,00
Jumlah 6 100
Sumber: Data Primer diolah Tahun 2020.

Berdasarkan hasil kategori tes literasi matematika siswa kelas VIII SMPN

di wilayah pesisir kabupaten Konawe, maka diperoleh data bahwa dari jumlah

responden 6 orang, yang memiliki kemampuan literasi matematika rendah juga

berjumlah 6 orang dengan persentase 100%. Dari data tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa siswa yang memiliki tingkat keyakinan matematika yang

rendah memiliki kemampuan literasi matematika yang rendah.

88
4.1.5 Analisis Keterampilan Sosial Siswa

Data keterampilan sosial dikumpulkan dan dianalisis untuk mengetahui

kategori keterampilan siswa. Data keterampilan sosial diperoleh melalui tes yang

valid dan reliabel. Tes keterampilan sosial terdiri dari 38 butir pernyataan yang

terdiri dari 19 pernyataan positif dan 19 pernyataan negatif. Adapun hasil tes

angket keterampilan sosial dapat dilihat pada lampiran 15. Deskripsi indikator

keterampilan sosial siswa adalah sebagai berikut.

1. Keterampilan berhubungan dengan orang lain

Keterampilan berhubungan dengan orang lain dinilai dari 8 item

pernyataan yang terdiri dari 4 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 1, 2, 5, dan 8, sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 3, 4, 6, dan 7. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh

data tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.34.

Tabel 4.34. Nilai Persentase Indikator Keterampilan Berhubungan dengan


Orang Lain

%/ %/
Item Item
Indikator Indikator
Item 1 83.33 Item 5 69.23
Item 2 80.51 Item 6 76.92
Item 3 79.23 Item 7 77.95
Item 4 78.97 Item 8 75.9
Rata-rata 77,76
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.25, maka diperoleh data tanggapan responden

mengenai keterampilan berhubungan dengan orang lain. Jika dilihat dari Tabel

kategori nilai responden, maka dari rata-rata semua item keterampilan

berhubungan dengan orang lain termasuk kategori baik yaitu 77,76%.

89
2. Keterampilan manajemen diri

Keterampilan manajemen diri dinilai dari 4 item pernyataan yang terdiri

dari 2 pernyataan positif dan 2 pernyataan negatif. Pernyataan positif yaitu

item 9 dan 12, sedangkan pernyataan negatif yaitu item 10 dan 11. Berdasarkan

penelitian yang dilakukan, maka diperoleh data tanggapan responden disajikan

pada Tabel 4.35

Tabel 4.35 Nilai Persentase Indikator Keterampilan Manajemen diri

Item % / Indikator
Item 9 71,28
Item 10 70,00
Item 11 76,67
Item 12 76,92
Rata-rata 73,72
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.35, maka diperoleh data tanggapan responden

mengenai keterampilan manajemen diri. Jika dilihat dari Tabel kategori nilai

responden, maka dari rata-rata semua item keterampilan manajemen diri ,

menunjukkan kategori cukup yaitu 73,72%.

3. Keterampilan akademik

Keterampilan akademik dinilai dari 14 item pernyataan yang terdiri dari

7 pernyataan positif dan 7 pernyataan negatif. Pernyataan positif yaitu item 13,

15, 17, 18, 20, 22, dan 38 sedangkan pernyataan negatif yaitu item 14, 16, 19,

21, 23, 24, dan 25. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh

data tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.36.

Tabel 4.36. Nilai Persentase Indikator Keterampilan Akademik

Item %/ Item %/

90
Indikator Indikator
Item 13 72,82 Item 20 74,87
Item 14 72,05 Item 21 76,41
Item 15 78,72 Item 22 72,82
Item 16 79,23 Item 23 77,44
Item 17 73,33 Item 24 80,77
Item 18 72,31 Item 25 74,36
Item 19 73,08 Item 38 73,59
Rata-rata 75,13
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.36, maka diperoleh data tanggapan responden

keterampilan akademik. Jika dilihat dari Tabel kategori nilai responden, maka

dari rata-rata semua item keterampilan akademik berada dalam kategori cukup

yaitu 75,13%.

4. Keterampilan mematuhi aturan

Keterampilan mematuhi aturan secara umum dinilai dari 6 item

pernyataan yang terdiri dari 3 pernyataan positif dan 3 pernyataan negatif.

Pernyataan positif yaitu item 26, 27, dan 31 sedangkan pernyataan negatif yaitu

item 28, 29, dan 30. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh

data tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.37.

Tabel 4.37. Persentase Nilai Indikator Keterampilan Mematuhi Aturan

Item % / Indikator
Item 26 75,38
Item 27 80,51
Item 28 75,9
Item 29 74,62
Item 30 80,26
Item 31 76,15
Rata-rata 77,14
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

91
Berdasarkan Tabel 4.37, maka diperoleh data tanggapan responden

tentang keterampilan mematuhi aturan. Jika dilihat dari Tabel kategori nilai

responden, maka dari rata-rata semua ketarampilan mematuhi aturan,

menunjukkan kategori baik yaitu 77,14%.

5. Keterampilan menyatakan pendapat

Keterampilan sosial dimensi keterampilan menyatakan pendapat dinilai

dari 6 item pernyataan yang terdiri dari 3 pernyataan positif dan 3 pernyataan

negatif. Pernyataan positif yaitu item 34, 35, dan 36, sedangkan pernyataan

negatif yaitu item 32, 33, dan 37. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka

diperoleh data tanggapan responden disajikan pada Tabel 4.38.

Tabel 4.38. Persentase Nilai Indikator Keterampilan Menyatakan Pendapat

Item % / Indikator
Item 32 78,97
Item 33 82,31
Item 34 85,13
Item 35 83,08
Item 36 83,03
Item 37 81,28
Rata-rata 82,3
Sumber : Data primer diolah Tahun 2020

Berdasarkan Tabel 4.38, maka diperoleh persentase nilai indikator

keterampilan menyatakan pendapat. Jika dilihat dari Tabel kategori nilai

responden, maka dari rata-rata item keterampilan menyatakan pendapat

kategori baik yaitu 82,30 %. Berikut disajikan histogram persentase nilai rata-

rata tiap indikator keterampilan sosial.

92
Persentase Nilai Rata-rata Tiap Indikator
Keterampilan Sosial
84
82
82.3
80
78
Axis Title

77.76 77.58
76
74 75.13
73.72
72
70
68
I1 I2 I3 I4 I5
Axis Title

Persentase Nilai Rata-rata Tiap Indikator Keterampilan Sosial

Gambar 4.6.Persentase Nilai Rata-rata untuk Setiap Indikator

Keterampilan Sosial

Berdasarkan gambar 4.6. Nampak bahwa Indikator keterampilan sosial

tertinggi yaitu pada indikator 5 mengenai keterampilan menyatakan pendapat

dengan nilai rata-rata 82,3. Sedangkan indikator terendah yaitu pada indikator 2

mengenai manajemen diri dengan nilai rata-rata 73,72.

Dari pengolahan data hasil tes keterampilan sosial siswa kelas VIII di

wilayah pesisir kabupaten Konawe , maka nilai keterampilan sosial siswa kelas

VIII di wilayah pesisir kabupaten Konawe mempunyai rentang nilai antara 62,63

– 88,42. Dari data tersebut, diperoleh perhitungan menggunakan SPSS disajikan

pada Tabel 4.39.

Tabel 4.39 Hasil Analisis Deskriptif Keterampilan Sosial

Keterampilan Sosial

Rata-rata 76.98381

Simpangan Baku 5.880214

93
Nilai Terendah 62.63158

Nilai Tertinggi 88.42105

Total Nilai 6004.737

Total Sampel 78

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian angket keterampilan sosial

siswa, maka diperoleh nilai terendah yaitu 62,63 dan nilai tertinggi yaitu 88,42;

nilai rata-rata yaitu 76,98; standar deviasi 5,88. Hal ini menunjukkan bahwa

kategori hasil angket keterampilan sosial siswa kelas VIII SMP di wilayah pesisir

kabupaten Konawe dalam kategori sedang karena jumlah siswa yang memiliki

hasil angket keterampilan sisoal dalam kategori sedang berjumlah 56 orang atau

71,79%. Untuk lebih jelasnya data hasil penilaian angket keterampilan sosial

siswa kelas VIII SMP di wilayah pesisir kabupaten Konawe disajikan pada Tabel

4.40.

Tabel 4.40. Kategori Hasil Penilaian Angket Keterampilan Sosial Siswa

Kategori
Jumla
No Keterampilan Sosial Persentase (%)
h
Siswa
1 Tinggi 22 28,21
2 Sedang 56 71,79
3 Rendah 0 0,00
Jumlah 78 100,00
Sumber: Data primer diolah Tahun 2020.

Berdasarkan hasil kategori angket keterampilan sosial siswa kelas VIII

SMP di wilayah pesisir kabupaten Konawe, maka diperoleh data bahwa dari

jumlah responden 78 orang, yang memiliki keterampilan sosial tinggi sebanyak 22

orang atau 28,21%. Kemudian jumlah responden yang memiliki keterampilan

94
sosial yang sedang berjumlah 56 orang atau 71,79%. Sedangkan yang memiliki

keterampilan sosial yang rendah tidak ada atau 0%. Dari data tersebut, maka dapat

disimpulkan bahwa siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe

memiliki keterampilan sosial yang sedang.

4.1.6 Analisis Keterampilan Sosial Siswa Per Sekolah

Berikut ini analisis keterampilan sosial siswa pada setiap sekolah yang

dijadikan sampel penelitian yaitu SMPN Satap Satu Soropia dan SMPN 1

Soropia. Deskripsi data keyakinan matematika siswa berdasarkan setiap sekolah

disajikan pada Tabel 4.41.

Tabel 4.41. Deskripsi Data Keterampilan Sosial Siswa SMP di Wilayah


Pesisir Kabupaten Konawe.

SMPN Satap Satu


Indikator SMPN 1 Soropia
Soropia
1 76.25 78.70
2 71.47 75.31
3 74.83 76.14
4 76.11 77.78
5 81.45 82.29
∑ Rata-Rata 76.02 78.04
Sumber: data primer diolah Tahun 2020.

Berdasarkan Tabel 4.41, rata-rata nilai keterampilan sosial siswa yang

diperoleh dari indikator 1 secara berturut-turut nilainya sebesar 76,25 dan 78,70

termasuk dalam ketegori baik. Pada indikator 2 termasuk kategori cukup dengan

nilai rata-rata secara berturut-turut 71.47 dan 75,41 . Rata-rata yang diperoleh

dari indikator 3 secara berturut-turut 74,83 dan 76,14 sehingga termasuk kategori

cukup untuk SMP Negeri Satap Satu Soropia dan kategori baik untuk SMP Negeri

1 Soropia. Sedangkan keterampilan sosial siswa pada indikator 4, dan 5 dalam

95
kategori baik dengan rata-rata nilai keterampilan sosial yang diperoleh dari

indikator 4, dan 5 nilainya >76.

Gambar 4.7. berikut menyajikan histogram perbandingan rata-rata nilai

keterampilan sosial siswa SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe.

Perbandingan Rata-Rata Nilai Keterampilan Sosial


Siswa SMPN di Wilayah Pesisir Kabupaten Konawe
84
82.29
82 81.45
Nilai Rata-ra Keterampilan Sosial

80
78.70
77.78
78
76.25 76.14 76.11
76 75.31
74.83
74

72 71.47

70

68

66
Indikator 1 Indikator 2 Indikator 3 Indikator 4 Indikator 5
Indikator Keterampilan Sosial

SMPN Satap Satu Soropia SMPN 1 Soropia

Gambar 4.7 Perbandingan Rata-Rata Nilai Keterampilan Sosial Siswa


SMPN di Wilayah Pesisir Kabupaten Konawe
Berdasarkan gambar 4.7, menunjukkan bahwa nilai rata-rata keterampilan

siswa untuk setiap SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe yang diwakili

SMPN Satap satu Soropia dan SMPN 1 Soropia dalam kategori baik. Tingkatan

tertinggi sampai tingkatan terendah terkait keterampilan sosial secara berturut-

turut nilainya sebesar 71,47 - 82,29.

96
4.1.7 Analisis Literasi untuk Setiap Kategori Keterampilan Sosial Siswa

4.1.4.1 Analisis Literasi Matematika Dengan Keterampilan Sosial Tinggi

Berikut ini disajikan hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa

berdasarkan setiap kategori keterampilan sosial. Siswa yang memiliki

keterampilan sosial yang tinggi berjumlah 22 orang. Deskripsi data literasi

matematika siswa berdasarkan kategori keterampilan sosial disajikan pada Tabel

4.42.

Tabel 4.42. Hasil Analisis Deskriptif Literasi Matematika dengan

Keterampilan Sosial Tinggi

Analisis Deskriptif KLM terhadap


KTS Tinggi
Rata-rata 59,65909
Simpangan Baku 11,84713
Nilai Terendah 37,5
Nilai Tertinggi 81,25
Total Nilai 1312,5
Total Sampel 22

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian tes literasi matematika, maka

diperoleh nilai skor terendah yaitu 37,5 dan nilai tertinggi yaitu 81,25; nilai skor

rata-rata yaitu 59,66; standar deviasi 11,85. Hal ini menunjukkan bahwa kategori

hasil tes literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten

Konawe untuk keterampilan sosial yang tinggi dalam kategori sedang karena

jumlah siswa yang memiliki hasil tes literasi matematika dalam kategori sedang

berjumlah 13 orang atau 59,09%. Untuk lebih jelasnya data hasil penilaian tes

literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe

disajikan pada Tabel 4.43.

97
Tabel 4.43. Kategori Literasi Matematika Menurut KTS Tinggi

Jumla
No Kategori Literasi h Persentase (%)
1 Tinggi 2 9,09
2 Sedang 13 59,09
3 Rendah 7 31,82
Jumlah 22 100
Sumber: data primer diolah 2020.

Berdasarkan hasil kategori tes literasi matematika untuk kategori

keterampilan sosial yang tinggi, maka diperoleh data bahwa dari jumlah

responden 22 orang, siswa yang memiliki kemampuan literasi matematika yang

tinggi berjumlah 2 orang atau 9,09%. Kemudian jumlah responden yang memiliki

kemampuan literasi matematika sedang berjumlah 13 orang atau 59,09%

sedangkan yang memiliki kemampuan literasi matematika rendah berjumlah 7

orang atau 31,82%. Dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa siswa yang

memiliki tingkat keterampilan sosial yang tinggi memiliki kemampuan literasi

matematika yang sedang.

4.1.4.2 Analisis Literasi Matematika Dengan Keterampilan Sosial Sedang

Berikut kemampuan literasi matematika siswa berdasarkan keterampilan

sosial siswa kategori sedang. Siswa yang memiliki keterampilan sosial yang

sedang berjumlah 56 orang. Deskripsi data literasi matematika siswa berdasarkan

kategori keterampilan sosial disajikan pada Tabel 4.44.

Tabel 4.44. Hasil Analisis Deskriptif Literasi Matematika dengan


Keterampilan Sosial Sedang

Analisis Deskriptif KLM


Terhadap KTS Sedang
Rata-rata 33,59375
Simpangan Baku 16,96263

98
Nilai Terendah 0
Nilai Tertinggi 56,25
Total Nilai 1881,25
Total Sampel 56

Berdasarkan perhitungan data hasil penilaian tes literasi matematika, maka

diperoleh nilai terendah yaitu 0 dan skor tertinggi yaitu 56,25; nilai rata-rata yaitu

33,59; standar deviasi 16,96. Hal ini menunjukkan bahwa kategori hasil tes

literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe

untuk keterampilan sosial sedang dalam kategori rendah karena jumlah siswa

yang memiliki hasil tes literasi matematika dalam kategori sangat kurang

berjumlah 56 orang atau 100%. Data hasil penilaian tes literasi matematika siswa

kelas VIII SMPN di wilayah pesisir kabupaten Konawe disajikan pada Tabel 4.45.

Tabel 4.45. Kategori Literasi Matematika Menurut KYM Sedang

Jumla
No Kategori Literasi h Persentase (%)
1 Tinggi 0 0,00
2 Sedang 0 0,00
3 Rendah 56 100
Jumlah 56 100
Sumber: Data Primer diolah 2020.

Berdasarkan hasil kategori tes literasi matematika siswa kelas VIII SMP di

wilayah pesisir kabupaten Konawe, maka diperoleh data bahwa dari jumlah

responden 56 orang, yang memiliki kemampuan literasi matematika rendah juga

berjumlah 56 orang. Dari data tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa siswa

yang memiliki tingkat keterampilan sosial yang sedang memiliki kemampuan

literasi matematika yang rendah.

4.2 Analisis Inferensial

99
4.2.1 Analisis Regresi / Uji Hipotesis Keyakinan Matematika Terhadap

Kemampuan Literasi Matematika

Untuk membuktikan hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian

ini, digunakan analisis regresi linear sederhana dengan hasil analisis sebagai

berikut:

Tabel 4.46. Hasil Analisis Regresi

Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) -95.074 8.914 -10.666 .000

Keyakinan 1.808 .118 .870 15.377 .000

a. Dependent Variable: Literasi

Model Summary

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate

1 .870a .757 .754 9.717

a. Predictors: (Constant), Keyakinan

ANOVAa

Sum of
Model df Mean Square F Sig.
Squares

1 Regression 22327.498 1 22327.498 236.461 .000b

Residual 7176.207 76 94.424

100
Total 29503.706 77

a. Dependent Variable: Literasi

b. Predictors: (Constant), Keyakinan

Berdasarkan hasil-hasil perhitungan seperti pada tabel tersebut, maka

dapat dikemukakan penjelasan bahwa Literasi Matematika (Y) = a + b Keyakinan

matematika (X), apabila nilai pada tabel di atas disubtitusikan maka diperoleh

persamaan sebagai berikut:

Literasi Matematika (Y) = -95,074 + 1,808 Keyakinan Matematika (X)

1. Konstanta sebesar -95,074, artinya jika keyakinan matematika tidak ada maka

literasi matematika siswa juga tidak ada.

2. Koefisien regresi X sebesar 1,808 artinya setiap kenaikan satu satuan

keyakinan matematika akan meningkatkan literasi matematika sebesar 1,808.

3. Nilai R2(R-Square) sebesar 0,757 menunjukkan hubungan variabel literasi

matematika dengan keyakinan matematika adalah 75,7% sehingga hubungan

variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model sebesar 24,3%.

Hipotesis:

Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan keyakinan matematika terhadap

literasi matematika siswa.

H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan keyakinan matematika terhadap

literasi matematika siswa.

Dengan kriteria pengujian :

- H0 diterima jika signifikansi ¿ α =¿0,05

101
- H0 ditolak jika signifikansi ≤ α =¿0,05

Hasil uji diatas dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh

adalah 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansiα = 0,05. Dengan demikian H0

ditolak, yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan keyakinan matematika

terhadap literasi matematika.

4.2.2 Analisis Regresi / Uji Hipotesis Keterampilan Sosial Terhadap

Kemampuan Literasi Matematika

Untuk membuktikan hipotesis penelitian yang diajukan dalam penelitian

ini, digunakan analisis regresi linear sederhana dengan hasil analisis sebagai

berikut:

Tabel 4.47. Hasil Analisis Regresi


Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Model t Sig.
B Std. Error Beta

1 (Constant) -130.003 21.962 -5.919 .000

Keterampila
2.221 .284 .667 7.806 .000
n

a. Dependent Variable: Literasi

Model Summary

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate

1 .667a .445 .438 14.678

a. Predictors: (Constant), Keterampilan

102
ANOVA

Sum of Mean
Model df F Sig.
Squares Square

1 Regression 13129.037 1 13129.037 60.936 .000b

Residual 16374.669 76 215.456

Total 29503.706 77

a. Dependent Variable: Literasi

b. Predictors: (Constant), Keterampilan


Berdasarkan hasil-hasil perhitungan seperti pada tabel tersebut, maka

dapat dikemukakan penjelasan bahwa Literasi Matematika (Y) = a + b

keterampilan sosial (X), apabila nilai pada tabel di atas disubtitusikan maka

diperoleh persamaan sebagai berikut:

Literasi Matematik (Y) = -130,003 + 2,221 Keterampilan sosial (X)

1. Konstanta sebesar -130,003, artinya jika keterampilan sosial matematika tidak

ada maka literasi matematika siswa juga tidak ada.

2. Koefisien regresi X sebesar 2,221 artinya setiap kenaikan satu satuan

keterampilan sosial akan meningkatkan literasi matematika sebesar 2,221.

3. Nilai R2(R-Square) sebesar 0,445 menunjukkan hubungan variabel literasi

matematika dengan keterampilan sosial adalah 44,5% sehingga hubungan

variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model sebesar 55,5%.

Hipotesis:

Ho : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan keterampilan sosial terhadap

literasi matematika siswa.

103
H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan keterampilan sosial terhadap literasi

matematika siswa.

Dengan kriteria pengujian :

- H0 diterima jika signifikansi ¿ α =¿0,05

- H0 ditolak jika signifikansi ≤ α =¿0,05

Hasil uji diatas dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi yang diperoleh

adalah 0,000 lebih kecil dari taraf signifikansiα = 0,05. Dengan demikian H0

ditolak, yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan keterampilan sosial

terhadap literasi matematika.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Analisis Kemampuan Literasi Matematika

Hasil analisis kemampuan literasi matematika siswa menunjukkan bahwa

kemampuan literasi matematika siswa kelas VIII SMPN di wilayah pesisir

kabupaten Konawe yang terdiri dari SMPN Satu Atap 1 Soropia dan SMPN 1

Soropia yang berjumlah 78 dalam kategori rendah. Hasil kategori tes literasi

matematika siswa kelas VIII SMP di wilayah pesisir kabupaten Konawe, siswa

yang memiliki kemampuan literasi matematika yang rendah sebanyak 63 orang

atau 80,77%. Siswa yang memiliki kemampuan literasi matematika sedang

berjumlah 13 orang atau 16,67%. Sedangkan siswa yang memiliki kemampuan

literasi matematika tinggi berjumlah 2 orang atau 2,56%.

Dalam kerangka PISA siswa dituntut untuk merefleksikan dan

mengevaluasi materi yang telah dipelajarinya, bukan hanya sekedar menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang memiliki jawaban yang benar dan tunggal tetapi juga

104
melakukan penalaran, serta menarik kesimpulan (Pulungan, 2014: 77).

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka tes literasi matematika PISA

dikembangkan berdasarkan, konten : space and shape (bentuk dan ruang),

change and relatinship (perubahan dan hubungan), quantity (kuantitas) dan data

dan uncertainty (data dan ketidakpastian). Selain itu dikembangkan juga

berdasarkan konteks kehidupan nyata serta proses literasi menurut PISA.

Konteks yang dikembangkan PISA yaitu personal (pribadi), occupational

(pekerjaan), societal (sosial) dan scientific (ilmu pengetahuan), sedangkan proses

menurut PISA yaitu communication; mathematising; representatio;, reasoning

and argumen;, Devising strategies for solving problems; using symbolic, formal

and technical language and operation;, using mathematics tools.

Berdasarkan komponen konten yang diujikan, aspek terbaik yang

diraih siswa adalah (quantity) dengan nilai rata-rata 37,18. Hal ini menunjukkan

bahwa dari keempat komponen konten, konten quantity adalah konten yang paling

banyak diselesaikan oleh siswa dalam menyelesaikan soal literasi yang berkaitan

dengan hubungan bilangan dan pola bilangan, antara lain kemampuan untuk

memahami ukuran, pola bilangan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan

bilangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghitung dan mengukur benda

tertentu walaupun belum optimal. Sedangkan rata-rata nilai terendah adalah

uncertainty and data yaitu 24,36. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih belum

mampu untuk menyelesaikan soal yang berhubungan dengan statistik lebih

tepatnya dalam interpretasi penyajian data.

105
Berdasarkan komponen proses yang diujikan, aspek terbaik yang diraih siswa

adalah mathematising dengan nilai rata-rata 40,95. Hal ini menunjukkan bahwa untuk

komponen proses, siswa lebih cenderung dapat menyelesaikan soal literasi yang

melibatkan kemampuan untuk mengubah (transform) permasalahan dari dunia

nyata ke bentuk matematika atau justru sebaliknya dan menafsirkan suatu hasil

atau model matematika ke dalam permasalahan aslinya walaupun belum optimal.

Sedangkan komponen proses terendah dengan nilai rata-rata 17,95 yaitu aspek

using mathematics tools. Hal ini berarti siswa belum mampu menyelesakan soal

literasi dengan melibatkan kemampuan menggunakan alat-alat matematika,

misalnya melakukan pengukuran, operasi dan sebagainya.

Berdasarkan komponen konteks yang diujikan, aspek terbaik yang diraih siswa

adalah konteks occupational dengan nilai rata-rata 45,96. Hal ini mengindikasikan

bahwa dari keempat komponen konteks, konteks occupational adalah konteks yang

paling banyak diselesaikan oleh siswa. Dengan kata lain siswa lebih cenderung dapat

menyelesaikan soal literasi yang yang berkaitan dengan kehidupan siswa di sekolah

atau lingkungan tempat siswa bekerja. Pengetahuan siswa tentang konsep

matematika diharapkan dapat membantu untuk merumuskan, melakukan

klasifikasi masalah, dan memecahkan masalah tersebut walaupun belum optimal.

Sedangkan komponen konteks terendah dengan nilai rata-rata 10,26 yaitu konteks

scientific. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum mampu

menyelesaikan soal literasi matematika yang berkaitan dengan kegiatan ilmiah

yang lebih bersifat abstrak dan menuntut pemahaman dan penguasaan teori dalam

melakukan pemecahan masalah matematika.

106
Soal yang paling sulit untuk siswa kerjakan yaitu soal pada nomor 4, 7, 8,

10, 11, 14, dan 15 dan dengan nilai rata-rata secara berturut 14,1; 7,69; 8,97;

8,97; 28,21; 17,95, dan 21,79 yaitu pada materi bangun ruang dan statistik/

penyajian data. Pada materi bangun ruang, nampak bahwa siswa belum mampu

untuk mengubah satuan ukur dan mencari volume dari bangun ruang tersebut.

Sedangkan pada materi statistik/ penyajian data, nampak bahwa siswa belum

mampu untuk membaca tabel dan diagram.

Berdasarakan deskripsi dari rata-rata nilai konten, proses, dan konteks serta

materi, terlihat bahwa deskripsi nilai perolehan siswa jika ditinjau dari komponen

konten, proses, konteks dan jika ditinjau dari segi materi, maka keduanya

berbanding lurus atau berhubungan. Nampak bahwa untuk komponen konten rata-

rata nilai terendah adalah konten uncertainty data dimana konten uncertainty data

ini mencakup materi statistik/ penyajian data. Pada komponen proses yang

terendah adalah using mathematics tools dimana proses using mathematics tools

ini mencakup materi statistik/ penyajian data dan bangun ruang. Pada komponen

konteks, nilai rata-rata siswa terendah adalah konteks scientific dimana konteks

scientific mancakup materi statistik/ penyajian data dan bilangan.

Secara rata-rata siswa hanya mampu mengerjakan soal nomor 2, 3, 9, dan 10

yaitu materi perbandingan, sistem persamaan linear dua variabel, dan bilangan

bulat dengan nilai tiap nomor secara berturut-turut 84,6; 83,3; 80,8; 96,2. Hal ini

menunjukkan bahwa sebagian besar siswa sudah mampu mengerjakan soal literasi

matematika yang mencakup materi perbandingan, sistem persamaan linear dua

variabel, dan bilangan bulat (lampiran 13).

107
Berdasarakan deskripsi dari rata-rata nilai konten, proses, dan konteks serta

materi, terlihat bahwa deskripsi nilai perolehan siswa jika ditinjau dari komponen

konten, proses dan konteks dan jika ditinjau dari segi materi, maka keduanya

berbanding lurus atau berhubungan. Nampak bahwa untuk komponen konten rata-

rata nilai tertinggi adalah konten quantity dimana konten quantity ini mencakup

materi perbandingan dan bilangan bulat. Pada komponen proses yang tertinggi

adalah mathematising dimana proses mathematising ini mencakup materi

perbandingan, sistem persamaan linear dua variabel dan bilangan bulat. Pada

komponen konteks, rata-rata nilai siswa tertinggi adalah konteks occupational

dimana konteks occupational mancakup materi perbandingan, sistem persamaan

linear dua variabel dan bilangan bulat.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VIII SMPN di

wilayah pesisir Kabupaten Konawe memiliki kemampuan literasi rendah. Sejalan

dengan peneliti sebelumnya Arny Kurniawati (2017 : 95) bahwa berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan di SMP pesisir Konawe Utara menyatakan bahwa

kemampuan literasi matematika siswa SMP pesisir rendah.

4.3.2 Analisis Keyakinan Matematika

Hasil analisis keyakinan matematika siswa menunjukkan bahwa

kemampuan keyakinan matematika yang dimiliki oleh siswa kelas VIII SMP di

wilayah pesisir kabupaten Konawe yang terdiri dari SMPN Satu Atap 1 Soropia

dan SMPN 1 Soropia yang berjumlah 78 dalam kategori sedang. Angket untuk

mengukur keyakinan matematika menggunakan 7 indikator keyakinan

matematika. indikator keyakinan matematika yang digunakan yaitu keyakinan

108
matematika sebagai disiplin ilmu, keyakinan tentang matematika sebagai suatu

aktivitas sosial, keyakinan siswa terhadap kemampuan diri sendiri, keyakinan

tentang pengajaran matematika secara umum, keyakinan siswa terhadap proses

pembelajaran matematika, keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika,

keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika . Hal ini sejalan dengan pendapat

(Markovits & Forgasz, 2017) menyatakan bahwa salah satu aspek afektif yang

bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika adalah keyakinan matematika

karena itu mempengaruhi perspektif mereka dalam matematika dan pembelajaran

matematika, begitu juga dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika

dan cara mereka memecahkan masalah. Sejalan dengan pendapat Goldin

(2002:67) yang mengemukakan bahwa keyakinan matematika berperan utama

pada saat seseorang mengerjakan dan menggunakan matematika.

Dari indikator keyakinan matematika tersebut, rata-rata jawaban

responden secara berturut-turut yaitu 76,52; 80,61; 79,82; 72,04; 73,24; 71,87 dan

72,44. Nampak bahwa keyakinan matematika dengan rata-rata nilai tiap indikator

tertinggi yaitu pada indikator 2 dengan nilai rata-rata 80,61 termasuk dalam

kategori baik, yang terdapat pada nomor 2, 9, 16, dan 23. Pada indikator 2

mengkaji mengenai keyakinan tentang matematika sebagai suatu aktivitas sosial.

Artinya bahwa siswa memiliki keyakinan tentang matematika sebagai suatu

aktivitas sosial yang baik. Untuk nilai rata-rata terendah tiap indikator yaitu pada

indikator 6 dengan nilai rata-rata 71,87 termasuk dalam kategori cukup, yang

terdapat pada nomor 6, 13, 20, dan 27. Pada indikator 6, mengkaji mengenai

109
keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika. Hal ini berarti siswa memiliki

keyakinan matematika yang cukup baik.

Pada indikator 1 dan indikator 3 dengan nilai rata-rata tiap indikator 76,52

dan 79,82 termasuk kategori baik. Pada indikator 1 mengkaji tentang keyakinan

matematika sebagai disiplin ilmu, dan pada indikator 3 mengkaji keyakinan siswa

terhadap kemampuan diri sendiri. Hal ini berarti siswa memiliki keyakinan

tentang matematika sebagai disiplin ilmu dan keyakinan siswa terhadap

kemampuan diri sendiri yang baik. Sedangkan pada indikator 4, 5, dan 7 dengan

nilai rata-rata 72,04; 73,24, dan 72,44 termasuk dalam kategori cukup. Pada

indikator tersebut mengkaji keyakinan tentang pengajaran matematika secara

umum, keyakinan siswa terhadap proses pembelajaran matematika, dan keyakinan

siswa terhadap kegunaan matematika. Artinya siswa memiliki keyakinan tentang

pengajaran matematika secara umum, keyakinan siswa terhadap proses

pembelajaran matematika, dan keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika

yang cukup baik.

4.3.3 Analisis Kemampuan Literasi Menurut Kategori Keyakinan

Matematika.

Hasil analisis kemampuan literasi matematika menurut kategori keyakinan

matematika menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil kategori tes

literasi matematika, siswa yang memiliki tingkat keyakinan matematika yang

tinggi memiliki kemampuan literasi matematika sedang. Siswa yang memiliki

kemampuan literasi matematika sedang berjumlah 13 dari 22 siswa. Keyakinan

matematika sedang mengindikasikan siswa memiliki keyakinan matematika

110
sebagai disiplin ilmu, keyakinan tentang matematika sebagai suatu aktivitas

sosial, keyakinan siswa terhadap kemampuan diri sendiri, keyakinan tentang

pengajaran matematika secara umum, keyakinan siswa terhadap proses

pembelajaran matematika, keyakinan siswa terhadap karakteristik matematika,

keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika. Dengan terpenuhinya 7 indikator

tersebut, siswa memiliki kemampuan untuk menyusun pertanyaan, merumuskan,

memecahkan dan menafsirkan. Sehingga soal-soal yang terkait literasi dapat

dikerjakan walaupun hasil tes belum menunjukkan kemampuan literasi

matematika yang tinggi.

Siswa yang memiliki tingkat keyakinan matematika yang sedang memiliki

kemampuan literasi matematika yang rendah. Siswa yang memiliki kemampuan

literasi matematika yang rendah berjumlah 50 dari 50 siswa. Keyakinan

matematika yang rendah menunjukkan bahwa siswa belum memiliki keyakinan

terhadap semua aspek keyakinan matematika. Dari 7 indikator keyakinan

matematika, hanya 3 indikator yang dimiliki oleh siswa yaitu keyakinan

matematika sebagai disiplin ilmu, keyakinan tentang matematika sebagai suatu

aktivitas sosial, keyakinan siswa terhadap kemampuan diri sendiri. Sedangkan

aspek lain belum dimiliki oleh siswa. Hal ini mempengaruhi kemampuan dalam

menyusun pertanyaan, merumuskan, memecahkan dan menafsirkan. Sehingga

ketika diberikan tes, siswa mengalami kendala untuk menyelesaikan soal-soal

terkait literasi matematika.

Siswa yang memiliki tingkat keyakinan matematika yang rendah memiliki

kemampuan literasi matematika yang rendah. Siswa yang memiliki kemampuan

111
literasi matematika yang berjumlah 6 dari 6 siswa. Artinya bahwa siswa

menunjukkan keyakinan yang rendah terhadap 7 indikator keyakinan matematika

yang meliputi keyakinan matematika sebagai disiplin ilmu, keyakinan tentang

matematika sebagai suatu aktivitas sosial, keyakinan siswa terhadap kemampuan

diri sendiri, keyakinan tentang pengajaran matematika secara umum, keyakinan

siswa terhadap proses pembelajaran matematika, keyakinan siswa terhadap

karakteristik matematika, keyakinan siswa terhadap kegunaan matematika. Hal ini

menyebabkan siswa tidak mampu mengembangkan kemampuan literasi

matematika dengan baik. Sehingga ketika diberikan tes kepada siswa, maka siswa

kesusahan dalam menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan literasi

matematika.

4.3.4 Pengaruh Keyakinan Matematika terhadap Literasi Matematika

Berdasarkan hasil uji statistik, yakni kontribusi keyakinan matematika

terhadap hasil kemampuan literasi matematika siswa diperoleh nilai koefisien

korelasi X sebesar -95,074. Artinya setiap ada kenaikan 1% keyakinan

matematika maka kemampuan literasi matematika siswa bertambah sebesar 1,808.

Karena nilai koefisien regresi bernilai positif (+), maka dengan demikian dapat

dikatakan keyakinan matematika (X) berpengaruh positif terhadap literasi

matematik (Y). Sehingga persamaan regresinya adalah Y = -95,075 + 1,808 X.

Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 lebih kecil dari taraf

signifikansi α =¿0,05. Dengan demikian H0 ditolak, yang artinya terdapat

pengaruh yang signifikan keyakinan matematika terhadap literasi matematika.

112
Keyakinan matematika siswa merupakan struktur afektif yang dimiliki

seseorang yang berkenaan dengan pandangannya terhadap matematika. Oleh

karena itu, keyakinan matematika berpengaruh terhadap literasi karena keyakinan

matematika merupakan salah satu pondasi bagi seseorang dalam mengerjakan

soal-soal matematika. Ketika seseorang memiliki keyakinan yang tinggi, maka

akan berpengaruh terhadap kemampuan menyusun pertanyaan, merumuskan,

memecahkan dan menafsirkan. Kemampuan ini merupakan kemampuan literasi

matematika.

4.3.5 Analisis Keterampilan Sosial

Hasil analisis keterampilan sosial siswa menunjukkan bahwa kemampuan

keterampilan sosial yang dimiliki oleh siswa kelas VIII SMP di wilayah pesisir

kabupaten Konawe yang terdiri dari SMPN Satu Atap 1 Soropia dan SMPN 1

Soropia yang berjumlah 78 dalam kategori sedang. Angket untuk mengukur

keterampilan sosial menggunakan 5 indikator keterampilan sosial. indikator

keterampilan sosial yang digunakan yaitu keterampilan berhubungan dengan

orang lain, keterampilan manajemen diri, keterampilan akademik, keterampilan

mematuhi aturan dan keterampilan menyatakan pendapat. Hal ini sejalan dengan

peneliti sebelumnya Izzati (2016) menyimpulkan bahwa keterampilan sosial

berpengaruh terhadap kemampuan komunikasi matematis mahasiswa.

Keterampilan sosial memberikan pengaruh sebesar 68.4% terhadap kemampuan

komunikasi matematis mahasiswa dan sisanya sebesar 31,6% dipengaruhi oleh

113
faktor lain diluar keterampilan sosial. Setiap penambahan (peningkatan) skala

keterampilan sosial akan mempengaruhi kemampuan komunikasi matematis

mahasiswa sebesar 1.324.

Dari indikator keterampilan sosial tersebut, rata-rata jawaban responden

secara berturut-turut yaitu 77,76; 73,72; 75,13; 77,58, dan 82,30. Nampak bahwa

keterampilan sosial dengan nilai rata-rata tiap indikator tertinggi yaitu pada

indikator 5 dengan nilai rata-rata 82,30 termasuk dalam kategori baik, yang

terdapat pada nomor 26, 27, 28, 29, 30. 31, 32, 33, 34, 35, 36, dan 37. Pada

indikator 5 mengkaji mengenai keterampilan menyatakan pendapat. Artinya

bahwa siswa memiliki keterampilan menyatakan pendapat yang baik. Untuk nilai

rata-rata terendah tiap indikator yaitu pada indikator 2 dengan nilai rata-rata 73,72

termasuk dalam kategori cukup, yang terdapat pada nomor 9, 10, 11, dan 12. Pada

indikator 2, mengkaji mengenai keterampilan manajemen diri. Hal ini berarti

siswa memiliki keterampilan manajemen diri yang cukup baik. Pada indikator 1

dan 4 dengan nilai rata-rata 77,76 dan 77,58 dalam kategori baik. Pada indikator 1

dan 4 mengkaji mengenai keterampilan berhubungan dengan orang lain dan

keterampilan mematuhi aturan. Hal ini berarti siswa memiliki keterampilan

berhubungan dengan orang lain dan keterampilan mematuhi aturan yang baik.

Sedangkan pada indikator 3 dengan nilai rata-rata 75,13 dalam kategori

cukup.Pada indikator 3 mengkaji keterampilan akademik. Artinya siswa memiliki

keterampilan akademik yang cukup baik.

4.3.6 Analisis Kemampuan Literasi Menurut Kategori Keterampilan

Sosial.

114
Hasil analisis kemampuan literasi matematika menurut kategori

keterampilan sosial menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil

kategori tes literasi matematika, siswa yang memiliki tingkat keterampilan sosial

yang tinggi memiliki kemampuan literasi matematika sedang. Siswa yang

memiliki kemampuan literasi matematika sedang berjumlah 13 dari 22 siswa.

Keterampilan sosial sedang mengindikasikan siswa memiliki keterampilan

berhubungan dengan orang lain, keterampilan manajemen diri, keterampilan

akademik, keterampilan mematuhi aturan dan keterampilan menyatakan pendapat.

Dengan terpenuhinya 5 indikator tersebut, siswa memiliki kemampuan untuk

menyusun pertanyaan, merumuskan, memecahkan dan menafsirkan. Sehingga

soal-soal yang terkait literasi dapat dikerjakan walaupun hasil tes belum

menunjukkan kemampuan literasi matematika yang tinggi.

Siswa yang memiliki tingkat keterampilan sosial yang sedang memiliki

kemampuan literasi matematika yang rendah. Siswa yang memiliki kemampuan

literasi matematika yang rendah berjumlah 56 dari 56 siswa. Keterampilan sosial

yang rendah menunjukkan bahwa siswa belum memiliki keterampilan sosial pada

semua aspek keterampilan sosial. Dari 5 indikator keyakinan matematika, hanya 3

indikator yang dimiliki oleh siswa yaitu keterampilan berhubungan dengan orang

lain, keterampilan mematuhi aturan dan ketarampilan menyatakan pendapat

sedangkan indikator lain belum dimiliki oleh siswa. Hal ini mempengaruhi

kemampuan dalam menyusun pertanyaan, merumuskan, memecahkan dan

menafsirkan. Sehingga ketika diberikan tes, siswa mengalami kendala untuk

menyelesaikan soal-soal terkait literasi matematika.

115
4.3.7 Pengaruh Keterampilan Sosial terhadap Literasi Matematika

Berdasarkan hasil uji statistik, yakni kontribusi keterampilan sosial

terhadap hasil kemampuan literasi matematika siswa diperoleh nilai koefisien

korelasi X sebesar -130.003. Artinya setiap ada kenaikan 1% keterampilan sosial

maka kemampuan literasi matematika siswa bertambah sebesar 2,221. Karena

nilai koefisien regresi bernilai positif (+), maka dengan demikian dapat dikatakan

keterampilan sosial (X) berpengaruh positif terhadap literasi matematika (Y).

Sehingga persamaan regresinya adalah Y = -130.003 + 2,221 X.

Nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0,000 lebih kecil dari taraf

signifikansi α =¿0,05. Dengan demikian H0 ditolak, yang artinya terdapat

pengaruh yang signifikan keterampilan sosial terhadap literasi matematika.

Keterampilan sosial siswa merupakan struktur afektif yang dimiliki

seseorang yang berkenaan dengan pandangannya terhadap matematika. Oleh

karena itu, keterampilan sosial berpengaruh terhadap literasi karena keterampilan

sosial merupakan salah satu pondasi bagi seseorang dalam mengerjakan soal-soal

matematika. Ketika seseorang memiliki keterampilan sosial yang tinggi, maka

akan berpengaruh terhadap kemampuan menyusun pertanyaan, merumuskan,

memecahkan dan menafsirkan. Kemampuan ini merupakan kemampuan literasi

matematika.

Kemampuan literasi matematika berkaitan dengan bagaimana seorang

siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam masalah dunia nyata atau

kehidupan sehari-hari, sehingga pengetahuan tersebut dapat dirasa lebih

bermanfaat secara langsung oleh siswa. Selain kemampuan literasi matematika,

116
terdapat aspek afektif yang turut memberikan kontribusi terhadap keberhasilan

siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yaitu keyakinan matematika

(belief in mathematic) dan keterampilan sosial.

Keyakinan matematika dan keterampilan sosial siswa merupakan prasyarat

yang penting untuk kemampuan literasi matematika. Karena faktanya, sangat

jarang terjadi dimana kemampuan literasi diterapkan dan digunakan oleh

seseorang yang tidak mempunyai keyakinan matematika dan keterampilan sosial.

Sehingga dapat disimpulkan Literasi matematika mempunyai hubungan positif

yang signifikan dengan keyakinan matematika dan keterampilan sosial.

117